You are on page 1of 2

Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan agar Lesbian, Gay, Biseksual dan

Transgender (LGBT) bisa dipidana. Atas hal tersebut, Ketua Komunitas Sarjana Hukum
Muslim Indonesia (KSHUMI), Chandra Purna Irawan mengatakan LGBT sangatlah
bertentangan dengan aturan hukum di Indonesia. Dan juga bertentangan dengan norma-
norma agama.

“Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bertentangan dengan hukum, norma
agama dan kesusilaan,”ujar Chandra dalam rilis yang diterima Kiblat.net, Jumat (15/12/17).

“Tidak dibenarkan apabila kaum LGBT menjadi legal di Indonesia. Dan melarang segala
bentuk praktik LGBT berdasar ketentuan hukum, perundang-undangan, nilai-nilai agama,
kesusilaan, ketertiban dan kepentingan umum yang jelas diatur dalam Pancasila dan UUD
1945,” sambungnya.

Menurutnya, keberadaan LGBT di Indonesia tidak sesuai pasal yang ada. Tepatnya pasal 1
Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 mengenai perkawinan.

‘Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai
suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang MahaEsa’.

“Dan ketentuan serupa mengenai isi kartu penduduk yang ditetapkan dalam Undang-Undang
Administrasi Kependudukan UU No. 23/2006,” tukas Chandra.

Jakarta - Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) mengatakan sejauh ini belum ada usulan
untuk memasukkan unsur pemidanaan LGBT di RKUHP. Kemenkum HAM pun saat ini sedang
mengkaji putusan MK yang menyerahkan pengaturan LBGT tersebut kepada DPR dan pemerintah.

"Sejauh ini mengacu di RKUHP itu belum diatur (peraturan LGBT), tapi yang jelas keputusan MK
menjadi pertimbangan," kata Dirjen Perancangan Peraturan Perundang-undangan Kemenkum HAM,
Dhahana Putra, di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (20/12/2017).

Dhahana menjelaskan belum dimasukkannya unsur LGBT di RKUHP bisa jadi karena
putusan MK baru saja keluar. Di sisi lain, RKUHP telah melalui proses pembahasan yang
sangat panjang dan pembahasan pemerintah-DPR pun hampir selesai.

"Ya pertama gini ya, RKUHP kan disusun secara lama ya sejak tahun 1963 dan dibahas
waktu yang cukup lama juga. Nah satu sisi bahwa tindak pidana pemerkosaan jelas siapa pun
orangnya, baik sesama jenis maupun lawan jenis, itu termasuk tindak pidana. Ya kan? Jadi
kita tidak mengkategorikan ini laki-laki, perempuan sesama jenis nggak. Jadi namanya ada
satu tindak pidana yang dilakukan dengan pemerkosaan itu termasuk tindak pidana,"
tuturnya.

Perlu diketahui, Mahkamah Konstitusi (MK) menolak mengadili gugatan soal LGBT dan
kumpul kebo. MK menyerahkannya kepada DPR dan pemerintah untuk mengatur hal tersebut
dalam sebuah undang-undang.

Sebelumnya, Komisi III DPR sedang merampungkan RUU KUHP terkait LGBT dan kumpul
kebo. RUU tersebut diperkirakan dapat disahkan pada masa sidang mendatang.

"Memang sekarang ini Komisi III sedang membahas RUU KUHP, jadi melakukan perubahan
dan menggantikan KUHP yang sekarang menjadi KUHP yang baru. Sudah hampir selesai
(pembahasannya), dan kita berharap masa sidang yang akan datang sudah disahkan," kata
anggota Komisi III Taufiqulhadi, Senin (18/12).

Taufiq menyebut undang-undang terkait kaum LGBT dan kumpul kebo memang harus
masuk KUHP. Itu agar memperkuat undang-undang yang ada terkait hal tersebut.

"UU LGBT itu kan tidak ada di dalam KUHP. Sudah ada (undang-undangnya), jadi kami
memperkuat bahwa zina itu harus masuk dalam KUHP mendatang," ujarnya.
(knv/rvk)
lgbt mahkamah konstitusi