You are on page 1of 36

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

Tn. N DENGAN POST OPERASI CA COLON
RUANG ICU RSUD BANYUMAS
STASE KEPERAWATAN GAWAT DARURAT DAN KRITIS

DISUSUN OLEH :
YULIA NUR CAHYANI (I4B017040)
INTAN NURDIANA (I4B017006)
FISKA AFIFAH (I4B017039)
PUTRI SEPTIANA (I4B017042)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
PROFESI NERS
2018

LAPORAN PENDAHULUAN

I. Konsep Ca Colon
1.1 DEFINISI
Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang
tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis
lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan
(invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan
yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di
gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Gale, 2000 : 177).
Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal/neoplasma
yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker, 2001 : 72). Kanker
kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan
menginvasi jaringan sekitarnya . Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya
sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle &
Langman, 2000 : 805).
1.2 ETIOLOGI
Terdapat empat etiologi utama kanker kolon (Davey, 2006 : 334) yaitu :
A. Diet
Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang rendah serat
(sayur-sayuran, buah-buahan), kebiasaan makan makanan berlemak
tinggi dan sumber protein hewani.
B. Kelainan kolon
- Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma.
- Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna menjadi
karsinoma.
- Kondisi ulserative : Penderita colitis ulserativa menahun mempunyai
risiko terkena karsinoma kolon.

C. Genetik

Anak yang berasal dari orangtua yang menderita karsinoma kolon
mempunyai frekuensi 3 ½ kali lebih banyak daripada anak – anak yang
orangtuanya sehat (FKUI, 2001 : 207).
1.3 TANDA GEJALA
Berikut ini beberapa gejala yang dapat dirasakan penderita kanker usus besar, di
antaranya:
 Adanya darah pada kotoran atau bahkan pendarahan di anus.
 Berubahnya tekstur kepadatan kotoran.
 Menurunnya berat badan.
 Tubuh terasa lelah.
 Nyeri atau kram pada bagian perut.
 Perut kembung.
 Meningkatnya frekuensi buang air besar atau diare.
 Konstipasi.
 Hilang nafsu makan.
Tidak semua gejala tersebut akan dirasakan penderita. Sebagian ada yang menjadi
sering buang air besar dengan disertai darah pada kotorannya dan sebagian ada
yang tidak disertai darah, namun merasakan nyeri pada perutnya. Segera temui
dokter jika Anda merasakan gejala-gejala kanker usus besar, terutama jika
mengalami diare bergantian dengan konstipasi selama lebih dari tiga minggu.
Harap waspada juga jika usia Anda telah mencapai 50 tahun ke atas dan merasakan
gejala-gejala tersebut.
Penyebab kanker usus besar
Pertumbuhan sel di area tubuh tertentu yang tidak terkendali dan bersifat merusak
merupakan penyebab kanker. Pada penyakit kanker usus besar, pertumbuhan
tersebut bermula di dalam gumpalan sel pada lapisan usus bagian dalam, kemudian
menjalar dan menghancurkan sel-sel lain di dekatnya, atau bahkan hingga ke
beberapa area tubuh lainnya. Pada awalnya, sel-sel yang diproduksi lapisan usus
bersifat tidak berbahaya dan memiliki manfaat untuk menjaga kenormalan fungsi
tubuh. Namun belum diketahui apa yang memicu sel-sel tersebut rusak, berubah

Meski penyebab kanker usus besar tidak diketahui. Tahapan perkembangan kanker usus besar Ada empat tahapan yang menentukan tingkat keparahan penyakit kanker usus besar. Pada tahap ini kanker sudah mulai tumbuh di dalam usus besar. Pada tahap ini kanker telah makin jauh menyebar dan menyerang .  Stadium 3.menjadi sel kanker dan tumbuh secara tidak terkendali.  Merokok  Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.  Berusia 60 tahun ke atas.  Stadium 2.  Menderita penyakit gangguan pencernaan. Pada tahap ini kelenjar getah bening yang letaknya berdekatan dengan usus besar telah digerogoti oleh kanker. Pada tahap ini kanker telah menyebar ke seluruh dinding usus besar. bahkan menembusnya. yang menderita kanker usus besar.  Mengonsumsi minuman beralkohol. misalnya orang tua atau saudara kandung. beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit tersebut.  Memiliki kerabat dekat.  Menderita suatu masalah genetika yang menyebabkan tumbuhnya gumpalan-gumpalan sel atau polip di dalam usus besar. namun belum menyebar karena masih terhalang dinding usus. di antaranya:  Terlalu banyak mengonsumsi daging merah dan  Kekurangan serat.  Menderita sindrom Lynch. di antaranya:  Stadium 1.  Menderita diabetes. Kondisi ini disebut familial adenomatous polyposis (FAP).  Stadium 4. salah satunya adalah kolitis ulseratif atau radang kronis di usus besar. Ini merupakan tingkat paling parah dari penyebaran kanker usus besar.  Kurang berolahraga.

. kolon terdiri dari kolon menanjak (ascending). b.kolon sigmoid. Anatomi Fisiologi Kolon Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain ( paling sering ke hati). Patologi Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma. Penentuan tingkat keparahan kanker usus besar bisa dilakukan melalui diagnosis. Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam sturktur sekitarnya. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan. Hal ini berguna dalam membantu dokter untuk memberikan pengobatan yang tepat. yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). polip dapat diangkat dengan mudah.4 PATOFISIOLOGI a. organ-organ tubuh lainnya. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. 2. sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan "kolon kiri". 1. kolon melintang (transverse). Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. Pada mamalia. dan rektum. Melalui aliran darah. Pada stadium awal.Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu : 1. misalnya paru-paru dan hati.Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan "kolon kanan". seperti ke dalam kandung kemih. seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakkan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar (Davey. Tetapi. Kanker kolon dan rektum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). kolon menurun(descending). biasanya ke hati karena kolon mengalirakan darah ke system portal. 2006 : 335). 3.

2000 :177). Penyebaran ke luka jahitan. d. Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas penyakit. f. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis. Nilai hemoglobin dan hematocrit biasanya turun dengan indikasi anemia. Ultrasonografi (USG) : Sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon. c. Penyebaran secara transperitoneal 5. Enema barium secara umum di lakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy. dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. 4. meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. e.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG a. insisi abdomen atau lokasi drain. Tes ini menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut. 1. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder. Laboratorium : Pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan. Endoskopi : Pemeriksaan endoskopi perlu di lakukan baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi. b. Hasil tes Gualac positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan pada GI Tract. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Radiologis : Pemeriksaan radiologis yang dapat di lakukan antara lain adalah foto dada dan foto kolon (barium enema). Pasien harus menghindari daging. Gambar histopatologis karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiansi sel. makanan yang mengandung peroksidase (tanaman lobak dan gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feces spesimen. serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale. Histopatologi :Biopsy di gunakan untuk menegakkan diagnosis. tetapi digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kanker ke kelenjar .

6 KOMPLIKASI Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melelui penyebaran metastase yang termasuk : .Perforasi usus besar yang disebabkan peritonitis . tetapi tidak . getah bening di abdomen dan hati. a. urinary bladder.Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali.7 KLASIFIKASI Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut: A : Kanker hanya terbatas pada mukosa dan belum ada metastasis. D : kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang luas dan tidak dapat di operasi lagi. B2 : kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria.Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina . B1 : kanker telah meinfiltrasi lapisan muskularis mukosa. 1.8 PENATALAKSANAAN Bila sudah pasti karsinoma kolon.Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya ( Uterus. Pembedahan (operasi) Operasi adalah penanganan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan masih belum metastasis . C1 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak satu sampai empat buah C2 : kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari lima buah.Pembentukan abses . 1.dan ureter ) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker. 1. maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai berikut .

Diagnosa dan Fokus Intervensi Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Post operasi kanker kolon (Wilkinson. merusak genetik sehingga membunuh kanker. sel kulit. sel dinding lambung dan usus. menjamin semua sel kanker telah terbuang. c. dapat masuk ke dalam sirkulasi darah. sel darah. Obat chemotherapy ini ada kira-kira 50 jenis. perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan. Kolostomi Kolostomi merupakan tindakan pembuatan lubang (stoma) yang dibentuk dari pengeluaran sebagian bentuk kolon (usus besar) ke dinding abdomen (perut). Penyinaran (Radioterapi) Terapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X. c) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. dan kondisi pasca anastesi. atau sinar gamma. stoma ini dapat bersifat sementara atau permanen. DAFTAR PUSTAKA . b) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik/nyeri. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas. II. Kemotherapy Chemotherapy memakai obat anikanker yang kuat. dan penurunan kekuatan/tahanan. d) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka pembedahan. sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. pada umumnya lebih dari satu macam obat. Biasanya di injeksi atau di makan. di fokuskan untuk merusak daerah yang di tumbuhi tumor. karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus. terapi pembatasan aktivitas. antara lain sel kanker. d. b. 2006 : 621) meliputi : a) Pola nafas. Terapi radiasi merusak se-sel yang pembelahan dirinya cepat. tidak efektif berhubungan dengan imobilitas.

US : ELSEVIER 2004 Nursing Intervention Classificatio (NIC) US : ELSEVIER Brunner and Suddart . Sylvia Anderson.Buku Ajar Ilmu Bedah .2002.Diagnosa Keperawatan: definisi dan klasifikasi 2009-2011 Jakarta :EGC Price.00 . Jakarta.T.R. Sjamsuhidajat. Lorraine Mc Carty.2010.Nursing Outcomes Classification (NOC). EGC.Heather.Jakarta : EGC ASUHAN KEPERAWATAN POST CA COLON Tanggal masuk : 4 Januari 2018 Jam : 15. 1995. Wilson.Brown.Sandra Clark.2004.1997.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Jakarta : EGC Herdman.

tidak ada retraksi dinding dada C. nadi teraba kuat 104x/menit. GCS 15 (E4 M6 V5). Circulation : Akral teraba panas.Tanggal pengkajian : 5 Januari 2018 Jam : 08. pergerakan dada simetris. Airway : Tidak ada sumbatan jalan nafas. M Jenis kelamin : Laki-laki Usia : 35 Tahun Pendidikan : SD Suku Bangsa : Jawa Pekerjaan : Petani Agama : Islam Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Pendidikan : SMA Agama : Islam Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Diagnosa : Post OP Ca Rektum Suku : Jawa No.30 Ruang : ICU I. capillary refill <2 detik. tidak terdapat perdarahan. RM : 831758 Alamat : Kalidesel. Breathing : SaO2 100%. tidak ada lebam. PENGKAJIAN PRIMER . N Penanggung Jawab Usia : 57 Tahun Nama : Ny. PENGKAJIAN PRIMER A. terpasang binasal kanul. IDENTITAS KLIEN Nama : Tn. tidak adad wheezing dan suara nafas ronkhi B. RR 24x/menit. bunyi nafas vesikuler. TD : 100/60 mmHg. Disability : Kesadaran : composmentis. Wonosobo II. S: 38. respon pupil isokor. D. Watumalang. 06/03.2°C. kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah (5:5/5:5) III. tidak ada stridor.

tidak ada riwayat penyakit DM. Keluhan Utama : Badan lemas 2. dengan keluhan nyeri dan mengeluarkan darah saat BAB dan dari hasil pemeriksaan sebelumnya pasien didiagnosa Kanker Rectum. 5. Riwayat Penyakit Sekarang : Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien datang melalui IGD pada tanggal 3 Januari 2018 pukul WIB. maupun hipertensi. 3. minuman maupun obat. sejak sakit 3 bulan yang lalu pasien sudah berhenti melakukan pekerjaan. Wonosobo. Jantung. 7. . Pasien terpasang ventilator. Wawancara 1. 8. Riwayat pekerjaan pasien : Pasien bekerja sebagai petani.A. Setelah dilakukan endoskopi. Riwayat penyakit keluarga : Keluarga pasien mengatakan bahwa tidak ada keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang sama sebelumnya. dan pasien masuk ICU pukul 15. Riwayat geografi : Pasien tinggal di desa kalidesel 06/03. DC dan drain. Saat kontrol kedua pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke RSUD Banyumas. Riwayat Penyakit Dahulu : Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien pernah dirawat di rumah sakit dan melakukan operasi satu bulan yang lalu karena hemoroid. pasien didiagnosa memiliki Ca Rectum. 6. Selain itu. 4. Kebiasaan sosial : Keluarga pasien mengatakan pasien tidak pernah memiliki masalah dalam kehidupan sosial sehari-hari. Watumalang. Tanggal 4 Januari 2018 dilakukan operasi pengangkatan jaringan dan pembuatan kolostomi.00 WIB. Riwayat alergi : Keluarga pasien mengatakan tidak memiliki alergi baik makanan.

tidak ada benjolan 2) Dada Paru-paru Inspeksi Tidak terdapat luka pada dada. tidak ada nyeri tekan Leher Tidak ada peningkatan JVP. sklera tidak ikterik Hidung Simetris bilateral. tidak ada nyeri tekan. Kebiasaan merokok : Keluarga pasien mengatakan pasien merokok. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : Cukup. tidak ada lebam Auskultasi Bunyi S1 dan S2 “lup. dup” Palpasi Teraba point maximal impuls Perkusi Pekak . 9. dan tidak ada nyeri tekan Perkusi Sonor Jantung Inspeksi Terlihat iktus kordis. tterlihat lemah Kesadaran : Komposmentis 1) Kepala dan leher Kepala Mesochepal. tidak kotor.. terdapat retraksi dinding dada Auskultasi Suara nafas vesikuler Palpasi Tidak ada krepitasi. agak kotor Mata Simetris. jenis rokok yang digunakan . konjuctiva anemis. B. tidak ada polip Mulut Mukosa bibir kering Telinga Simetris.. rambut hitam.

7) Sistem persyarafan . tidak ada edema. mukosa bibir merah muda. akral teraba dingin. pucat. 5) Genitalia Pasien berjenis kelamin laki-laki. akral teraba panas.3) Abdomen Inspeksi Terdapat luka jahitan pada abdomen bawah. tidak ikterik. kekuatan otot baik. capilary refill <2 detik. teraba dingin dan pucat. turgor kulit kering. balutan bersih dan terdapat kolostomi pada abdomen kiri bawah. kolostomi bersih dan tidak ada kotoran Auskultasi Bising usus 8 x/menit Palpasi Terdapat nyeri tekan pada abdomen bawah Perkusi Pekak 4) Ekstremitas Ekstremitas atas : Tidak ada kesemutan.2°C. kekuatan otot baik. pasien terpasang kateter sudah 1 hari. S: 38. 6) Sistem integumen Warna kulit merata. Ekstremitas bawah : Tidak ada kesemutan maupun edema. Genitalia bersih.

alamiah. tidak pelo Fungsi intelektual a) Orientasi waktu Tidak mengetahui pagi.. sore. WIB) Status mental a) Tingkat kesadaran Komposmentis b) GCS E 4 M 6 V 5 : 15 c) Gaya bicara Gaya bicara normal. dan hari Mengetahui sedang di rumah sakit b) Orientasi tempat Mengenali orang c) Orientasi orang Daya pikir a) Spontan. cemas dan apatis b) Pemarah c) Cemas d) Apatis 8) Aktivitas dan latihan Bathing Dressing Toileting Tansfering Continence Feeding KATZ T T T T T T T Keterangan : T : Tergantung 9) Nutrisi dan cairan ... jam. masuk akal Pasien tidak mengalami gangguan daya pikir b) Kesulitan berfikir c) Halusinasi Status emosional a) Alamiah dan datar Pasien tidak pemarah. siang. Pemeriksaan 05/01/2018 (.

26 % 4. Pasien terlihat menyembunyikan dan menutupi stoma.53 % 19. warna tidak jernih.72 10^3/uL 3.70 RBC 3. Intake cairan dalam 7 jam: .Drain : 200 ml .9-14.65 10^6/uL 4.00-7.2 .Oral : 500ml Output cairan dalam 7 jam : .00-1.NaCl (kanan) :150 ml diganti clinimix : 320ml .7 EOS .69 HGB 8. III.019 % 0. Pasien menanyakan banyak hal mengenai stoma dan terlihat khawatir tentang stoma yang terpasang.40-12. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. keruh kecoklatan.70-10. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal WBC 9.70 g/dL 12.008 % 6.0-48. urin sedikit (400ml).06-4.7 LYM 1.Infus NaCl (kiri) : 700 ml .Urin : 220 ml 10) Pola eliminasi Pasien terpasang kateter.3-73. 11) Kenyamanan Pasien mengeluh tidak nyaman pada stoma yang terpasang di perutnya.1 NEU 6.91 % 39.30 BASO .3 MONO 1.

9 g/dL 31. berbenjol-benjol.4 RDW 15.1 % 37.0 MCH 23. rektum proksimal dalam batas normal Sigmoid : mukosa normal tidak didapatkan tumor IV.52 fL 6. HCT 28. Obat 2 x 40mg IV juga digunakan untuk mengobati .1-96. rapuh Rektum : tampak masa lanjutan dari anus s/d ± 4-5cm.8-35.0-31. PROGRAM TERAPI Nama obat Fungsi Dosis Rute Meropenem Antibiotik yang digunakan untuk 2 x 1 gr IV mengobati berbagai jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri Ranitidin Mengurangi produksi asam lambung 2 x 50 mg IV Cefazoline Antibiotik yang mencegah infeksi 2 x 1 gr IV bakteri Omeprazole Menurunkan kadar asam lambung 2 x 40 mg IV Asam Menghentikan kondisi perdarahan 3 x 500 mg IV tranexamat Metronidazole Antibiotik untuk infeksi akibat bakteri 3 x 500 mg IV Tramadol Pereda rasa sakit 1 x 50 mg IV Furosemid Mengobati tekanan darah tinggi.2 % 11.2 MCHC 30.0 fL 81. Pemeriksaan diagnostik ( Endoskopi ) Colon : tampak masa keluar dari dubur.90-10.5 PLT 119 10^3/uL 155-366 MPV 7.8 pg 27.5-14.6 2.7-53.7 MCV 77.

V.2°C  Urin 220ml/7 jam  Warna tidak jernih. keruh kecoklatan. pembengkakan karena penumpukan cairan di dalam tubuh. Kehilangan cairan Defisit volume cairan aktif Do :  TD :100/60 mmHg  N: 104x/menit  S:38. Ds : Pembedahan Gangguan citra tubuh  Pasien mengatakan tidak nyaman dengan stoma yang ada diperutnya Do :  Pasien terlihat memantau tubuhnya terus-menerus  Pasien terlihat menyembunyikan stoma di perutnya Ds : .  membran mukosa bibir kering  turgor kulit kering. ANALISA DATA Data Etiologi Masalah Ds : . prosedur invasif Resiko infeksi .

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Do :  Pasien telah dilakukan prosedur invasif post op kolonostomi. keadaan balutan dan luka jahitan bersih. Resiko infeksi ditandai dengan adanya prosedur invasif .. Gangguan citra tubuh b. balutan infus bersih dan kering. keadaan kateter bersih.d kehilangan cairan aktif 2. VI. tanggal 4 januari 2018. Defisit volume cairan b.d pembedahan 3.  Pasien terpasang infus sejak tanggal 3 januari 2018.  Pasien terpasang kateter sudah 2 hari.

.

Kolaborasi pemberian cairan IV 1.Mengetahui status Indikator A T terpenuhinya cairan pasien 4.Mengetahui status hidrasi secara aktif diharapkan volume cairan pasien (kelmbaban membran mukosa. nadi pasien dalam batas normal. Monitor intake makanan/cairan . TTV dalam batas 4 5 6. Tidak ada tanda-tanda 3 4 7. Monitor tanda-tanda vital rentang normal NOC : Fluid Balance 3. Kolaborasi dengan dokter dehidrasi (pemenuhan transfusi darah) Keterangan : 1 : Sangat buruk . RENCANA KEPERAWATAN Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional Defisit volume cairan Setelah dilakukan tindakan NIC : Fluid Management b. TD ortostatik) hasil : . 1.Mengetahui TTV dalam 2.VII. Monitor status hidrasi . Dorong masukkan oral dibutuhkan untuk 2.Peran keluarga sangat output yang sesuai 5. Dorong keluarga untuk meningkatkan intake cairan normal membantu pasien makan 3. dengan kriteria adekuat. Mempertahankan urin 3 4 .d kehilangan cairan keperawatan selama 3x24 jam.

. Mendeskripsikan 3 4 lain secara faktual perubahan . Jelaskan tentang pengobatan.d pembedahan keperawatan selama 3x24 jam. Fasilitasi kontak dengan individu 3. Body image positif 3 4 perasaannya . kekuatan profesional 5. Monitor frekuensi mengkritik .Mengetahui seberapa sering diharapkan persepsi pasien terhadap dirinya pasien mengkritik dii sendiri tubuh menjadi baik.Memberikan dorongan perawatan. Dorong pasien mengungkapkan 1. dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi arti pengurangan pasien mengidentifikasi melalui pemakaian alat bantu. kemajuan dan prognosis yang positif pasa pasien NOC :Body Image penyakir dapat mengurangi frekuensi Indikator A T pasien mengkritik drinya 3. Mampu 3 4 4. 2 : Buruk 3: Sedang 4 : Baik 5 : Sangat baik Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan tindakan NIC : Body image enhancement b.Dukungan keluarga mampu menambah kepercayaan diri 2. 1.

Cuci tangan setiap sebelum dan menurunkan resiko infeksi NOC : Risk Control sesudah tindakan keperawatan (pasien.Cuci tangan dapat 3.Teknik isolasi mampu prosedur invasif diharapkan resiko infeksi pada mencegah penyebaran infeksi pasien tidak terjadi. dengan kriteria 2. fungsi tubuh 4. Pertahankan lingkungan aseptik pengunjung) selama pemasangan alat . 1. Pertahankan teknik isolasi . Mempertahankan 4 5 interaksi sosial Keterangan : 1 : Sangat buruk 2 : Buruk 3: Sedang 4 : Baik 5 : Sangat baik Resiko infeksi ditandai Setelah dilakukan tindakan NIC : Infection Control dengan adanya keperawatan selama 3x24 jam. Batasi pengunjung bila perlu hasil : . tenaga kesehatan dan Indikator A T 4.

Intake nutrisi yang cukup tandad gejala infeksi dapat meningkatkan 6. 1. Baik 5. Menunjukkan 5 5 perilaku hidup sehat Keterangan : 1. Sangat buruk 2. Sedang 4. Buruk 3. Sangat baik . Berikan terapi antibiotik bila pertahanan tubuh pasien 2. Pasien bebas dari 5 5 5. Jumlah leukosit 5 5 dalam batas normal 4.Antibiotik dapat mencegah 7. Tingkatkan intake nutrisi . Dorong istirahat mencegah timbulnya dan mengobati infeksi infeksi 3. Menunjukkan 5 5 perlu kemampuan cara untuk .

N: 76.1.00 1.3 9.00 1 7.1. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: Obat masuk melalui IV Intan (injeksi Asam Traneksamat 500 mg. dan Drip Metronidazole 500 mg) 11. 5 januari 08. nadi adekuat. Memonitor status hidrasi (kelmbaban membran O: Membran mukosa terlihat kering. TD ortostatik) Nadi 80x/m 09. Memonitor frekuensi mengkritik dirinya S: Pasien mengatakan malu terdapat Yulia stoma di perutnya 09.00 2 6.00 1 2.00 2 5. Yulia RR: 18 09. N: 76x/m. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 125/90. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 125/90. S: 36. Mendorong pasien mengungkapkan perasaannya S: Pasien mengatakan takut orang Yulia didekatnya akan merasa bau 10. Intan mukosa. RR: 22. S: 36. Intan 2018 RR: 20 08.00 1 3. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 120/90.00 1 4. N: 76x/m. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 110/60. Memonitor intake makanan/cairan O: Intan 08.6.00 1 1. IMPLEMENTASI No Hari/Tanggal Jam Dx Implementasi Respon Paraf Jumat. Mendorong masukkan oral O: Pasien terlihat hanya ingin sedikit Intan makan 10.00 1 8. Intan RR: 18 10. S:36 Yulia . S: 36.VIII.00 1 10. N: 80x/m.

Memonitor tanda-tanda vital O:TD: 120/80.S:37. R: 21.2 Putri 22. RR : 21.S:36. Memonitor tanda-tanda vital O:TD: 115/74. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 118/77.1 Intan 14. RR: 21.00 1 26.00 1 20.00 1 15. RR: 22.00 1. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 117/74.00 1 14.00 1 (injeksi Cefazoline 1 gram.2 Fiska 21.1 Fiska 16.2 Fiska 17.3 12.00 1 13. RR: 21. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 120/80.00 1 21. RR.00 1 18. Mendorong keluarga untuk membantu pasien S: Keluarga mengatakan pasien Yulia makan susah makan 12. RR: 21.00 1 25. Memonitor tanda-tanda vital O: TD:105/50. Melakukan kolaborasi dengan dokter O: Transfusi darah masuk 3 kolf Fiska (pemenuhan transfusi darah) 19.00 1 23. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 110/75. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 110/65.5 Fiska 18. Memberikan terapi farmakologi sesuai resep O: Obat masuk IV Yulia 12.11. RR: 21.6 Putri . S:36. N: 84. N: 82. N: 78.00 1 24. 21.00 1 22. N: 80. S:36. N: 80. Mendorong istirahat S: Pasien mengatakan mau Yulia beristirahat 13. RR: 22. injeksi Omeprazole 40 mg) 12. N: 78.S:37 Fiska 20.S:36. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 115/70. Memonitor tanda-tanda vital O:TD: 125/83. RR: 20. N: 80.S:37. N: 82. N: 84. S:36 Intan 15. Memonitor tanda-tanda vital O: TD:115/60. S:36. dan Drip Metronidazole 500 mg) 18. N: 78.8 Fiska 18.3 19.00 1. injeksi Ranitidine 50 Yulia mg. N: 76. S:36.00 1 16. RR: 22. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk melalui IV Fiska (injeksi Asam Traneksamat 500 mg.00 1 11.S:37 Putri 23.00 1 17.

00 1 3. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 124/75. injeksi Ranitidine 50 mg. S: Putri 36. 6 Januari 08. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 132/70. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 145/80. S: Pasien mengatakan mengerti Yulia kemajuan dan prognosis penyakir dengan penjelasan perawat . N: 80. Memonitor intake cairan O: Yulia 09.00 1 34.6 Putri 03. RR:21.00 1 33.00 1 31. Memberikan terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk IV Putri (injeksi Cefazoline 1 gram. N: 80. N: 74. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 126/84. Memonitor status hidrasi (kelmbaban membran O: Membran mukosa terlihat kering. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 120/80.00 1 35. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 120/77. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 125/77. RR:22.00 1 28.00 1 1.5 Putri 02. RR: 18.3 30.00 1 32. N:66. N: 66x/m. RR:20.36. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 145/88. N: 70. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 140/70.6 Putri 07. TD ortostatik) Nadi 66x/m 08. 00. dan Drip Metronidazole 500 mg) 02.00 1.S:36.9 Putri 05. N: 74.00 1 4.00 1 29. S:36.2 Yulia 09.00 2 5. RR: 21. N: 80. RR: 21. N: 56. nadi adekuat.3 27. S:36. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk IV Putri (injeksi Asam Traneksamat 500 mg. perawatan.S.S:36.00 1 2.S:36. Menjelaskan tentang pengobatan.S:36. RR: 20.00 1 36. Fiska 2018 mukosa. injeksi Omeprazole 40 mg) 00.6 Putri 06.00 1. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 140/90.S:36. RR: 21. N: 60.7 Putri 01.8 Putri 04.5 Sabtu. S:36.2 Yulia RR: 26 08. RR:26.

00 2 6.00 1. Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah O: tindakan keperawatan O: Fiska 13. RR: 20. RR:26. RR:29. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 140/90.S:35. Mamfasilitasi kontak dengan individu lain O: keluarga terlihat menjenguk Yulia pasien 12.S:36.3 7.2 14.3 11.00 1.00 3 15.N:65. 10. RR:19. injeksi Ranitidine 50 mg. Mengidentifikasi arti pengurangan melalui O: Fiska pemakaian alat bantu.09. Mempertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat O: TD: 123/60.00 3 13. Memonitor tanda-tanda vital O: TD:147/98.S:36. N:62.00 3 10.00 1 9. Membatasi pengunjung bila perlu O: keluarga terlihat mengunjungi Fiska pasien dengan cara bergantian 13. N:62.00 1 12.S:35. RR:25. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 145/95.8 Yulia 13. Memonitor tanda-tanda vital S: Pasien mengatakan akan Yulia 13.00 1 16. Memonitor tanda-tanda vital Yulia .2 Fiska 10.S:36. N:59. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk IV Fiska (injeksi Asam Traneksamat 500 mg. Memberikan terapi farmakologi sesuai resep O:obat masuk IV Fiska (injeksi Meropenem 1 gram.2 Yulia 11. injeksi Omeprazole 40 mg) 12.00 1 18.00 3 14.N:58. Mendorong istirahat beristirahat O: TD: 120/64.2 Fiska 12.00 3 17.00 2 8. dan Drip Metronidazole 500 mg) 11.

N: 88x/m 09.00 1 21.9 Intan Minggu. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: Obat masuk IV Fiska (injeksi Asam Traneksamat 500 mg. RR:20.00 1 20. 15.RR:21.S:35.S:35.00 1 3.6 Intan 19. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: pasien masuk IV Intan (injeksi Asam Traneksamat 500 mg.RR:22.RR:20.5.00 1 24. N: 60.00 1 8.N:81. TD ortostatik) TD: 150/88.N:80.N:60. Memonitor status hidrasi (kelmbaban membran O: Membran mukosa terlihat lembab. dan Drip Metronidazole 500 mg) 18. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 150/88.00 2 22.RR:20 Fiska 10.00 1 7. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:140/88. mendorong istirahat S: Pasien mengatakan akan Fiska . Memonitor tanda-tanda vital O:TD:150/90.7.N:56.00 1 19.RR:20.S:35.00 1.S:35. Fiska mukosa.00 1. Memonitor tanda-tanda vital O: TD:155/80.N:62. Fiska Januari 2018 RR: 20 08.3 23.8 Intan 20.S:35.00 1 2.00 1 1. Memonitor tanda-tanda vital O: TD: 156/80.5.8 Intan 17.00 1 5. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:155/86. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:148/76. nadi adekuat.N:58.00 1 26.S:36.8 Intan 18. S: 36.3 6.8 Intan 16. Melakukan kolaborasi pemberian cairan IV O: Fiska 09. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:127/75.00 1 25. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:130/70.N:58. dan Drip Metronidazole 500 mg) 10. Meningkatkan intake nutrisi S: pasien mengatakan hanya ingin Intan makan sedikit saja 18.S:36.S:35. N: 88x/m.RR:21 Fiska 10. 7 08.RR:18. Memonitor intake cairan O: Fiska 08.00 1 4.

N:78.RR:19 Fiska 15.00 2 19.S:36. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:124/88.RR:20 Fiska 12.S:36.8.9 Yulia 18.00 1 11.S:36.00 1 13.00 1 18. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:120/77. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:145/87.00 1 15.00 1 20. Memonitor tanda-tanda vital O: TD:170/100.S:36.S:36.S:37. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:160/90.3 10. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:132/78. Memonitor tanda-tanda vital O: TD:150/90. Memberikan terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk IV Fiska (injeksi Meropenem 1 gram.N:75.4 Intan 18.4.6.RR:20 Intan 20.00 1 14.N:80.RR:20 Fiska 14.N:89.8.5.RR:19 Yulia 17. Memonitor tanda-tanda vital O:TD: 117/74. Membatasi pengunjung bila perlu O: Keluarga pasien terlihat Fiska menjenguk secara bergantian 13.RR:19.00 2 12. Memberikan terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk IV Yulia 19.00 2 21. Meningkatkan intake nutrisi S: Keluarga pasien mengatakan Intan pasien sudah mulai mau makan 18.RR:21 Fiska 13.S:36. N:74.1.N:74. injeksi Omeprazole 40 mg) 12. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:138/86.00 1 17.N:75.7.00 1.RR:21 Intan .S:36.00 1 9. S:36. Memberika terapi farmakologi sesuai resep O: obat masuk IV.00 1 16.00 1 22.N:77.N: 77.RR:20.N:87. injeksi Ranitidine 50 mg. beristirahat 11.RR:22 Yulia 16. dan Drip Metronidazole 500 mg) 18.00 1 23. Intan (injeksi Asam Traneksamat 500 mg.7.S:36. Memonitor tanda-tanda vital O:TD:118/78.

5 Januari Defisit volume cairan b.IX.Memonitor status hidrasi (kelmbaban membran mukosa. membran mukosa terlihat kering. N: 60. RR: 20. Jumat. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi 3 4 4 P: Melanjutkan Intervensi I: . EVALUASI NO Hari/ Tanggal DIAGNOSA KEPERAWATAN EVALUASI (SOAP) PARAF 1.d S: Keluarga pasien mengatakan pasien susah makan Putri 2018 kehilangan cairan secara aktif. TD ortostatik) . O: Transfusi darah masuk 3 kolf dan tidak ada tanda-tanda alergi. nadi adekuat. Mempertahankan urin output yang 3 4 4 sesuai 2. TTV dalam batas normal 4 4 5 3. pasien terlihat hanya makan sedikit. pasien tampak sedih A: Masalah gangguan citra tubuh teratasi sebagian dengan kriteria .d S: Pasien mengatakan takut orang didekatnya akan merasa bau. Putri pembedahan Pasien mengatakan malu terdapat stoma di perutnya O: Pasien terpasang stoma di perut bagian kiri. TD: 132/70. S: 36. A: Masalah defisit volume cairan teratasi sebagian dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1.Memonitor intake cairan Gangguan citra tubuh b.

RR: 20. Mempertahankan interaksi sosial 4 5 5 P: Melanjutkan intervensi I: . Menunjukkan kemampuan cara 5 5 5 untuk mencegah timbulnya infeksi 3. perawatan. Pasien bebas dari tandad gejala 5 5 5 infeksi 2.Menjelaskan tentang pengobatan. hasil: Indikator A Saat ini T 1.Mengidentifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu. Resiko infeksi ditandai dengan S: . Putri adanya prosedur invasif O: TD: 132/70. Mampu mengidentifikasi kekuatan 3 3 4 profesional 3. Jumlah leukosit dalam batas normal 5 5 5 . S: 36. Body image positif 3 3 4 2.5 A: Masalah resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1. kemajuan dan prognosis penyakir . N: 60. Mendeskripsikan secara faktual 3 4 4 perubahan fungsi tubuh 4.

Tidak ada tanda-tanda dehidrasi 3 4 4 P: Melanjutkan Intervensi I: .Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan . makan pasien masih sedikit. Sabtu. Mempertahankan urin output yang 3 4 4 sesuai 2.Mempertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat. 6 Januari Defisit volume cairan b. O: Membran mukosa pasien masih terlihat kering. Menunjukkan perilaku hidup sehat 5 5 5 P: Melanjutkan intevensi I: . Intan 2018 kehilangan cairan secara aktif. S:35.d S: . TTV dalam batas normal 4 4 5 3. RR:18. 2. N:58.Memonitor intake cairan . .Dorong pasien untuk makan Gangguan citra tubuh b. TD:155/86.d S: . Intan pembedahan O: Pasien tampak lebih tenang.9 A: Masalah defisit volume cairan teratasi sebagian dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1. 4.

A: Masalah resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1. Jumlah leukosit dalam batas normal 5 5 5 4. Mendeskripsikan secara faktual 3 4 4 perubahan fungsi tubuh 4. Menunjukkan kemampuan cara 5 5 5 untuk mencegah timbulnya infeksi 3.lingkungan pasien bersih. Intan adanya prosedur invasif O: Tidak ada tanda-tanda infeksi. Body image positif 3 3 4 2. Menunjukkan perilaku hidup sehat 5 5 5 P: Melanjutkan intevensi I: . A: Masalah gangguan citra tubuh belum teratasi dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1. Mampu mengidentifikasi kekuatan 3 4 4 profesional 3. Pasien bebas dari tanda gejala 5 5 5 infeksi 2. Mempertahankan interaksi sosial 4 5 5 P: Melanjutkan intervensi I: Memfasilitasi pasien kontak dengan individu lain Resiko infeksi ditandai dengan S: .

A: Masalah gangguan citra tubuh teratasi dengan kriteria hasil: . 7 Januari Defisit volume cairan b. . 3.d S: . pasien tampak mulai menerima keadaan. nadi adekuat. Minggu.RR:21 A: Masalah defisit volume cairan teratasi dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1. Mempertahankan urin output yang 3 4 4 sesuai 2.Monitor intake makanan/cairan Gangguan citra tubuh b. O: Membran mukosa terlihat lembab TD: 117/74. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi 3 4 4 P: Melanjutkan Intervensi I: .Monitor tanda-tanda vital .d S: Keluarga pasien mengatakan pasien sudah mulai mau makan lebih Yulia 2018 kehilangan cairan secara aktif.Mempertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat.Monitor status hidrasi (kelmbaban membran mukosa. TTV dalam batas normal 4 5 5 3.N:75. Yulia pembedahan O: Keluarga pasien terlihat menjenguk secara bergantian. TD ortostatik) .Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan . banyak.S:36.7.

Indikator A Saat ini T 1. Mendeskripsikan secara faktual 3 4 4 perubahan fungsi tubuh 4. Jumlah leukosit dalam batas normal 5 5 5 4. Body image positif 3 4 4 2. Pasien bebas dari tandad gejala 5 5 5 infeksi 2. Mampu mengidentifikasi kekuatan 3 4 4 profesional 3. Mempertahankan interaksi sosial 4 5 5 P: Melanjutkan intervensi I: Memfasilitasi pasien kontak dengan individu lain Resiko infeksi ditandai dengan S: . A: Masalah resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil: Indikator A Saat ini T 1.Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan . Menunjukkan kemampuan cara 5 5 5 untuk mencegah timbulnya infeksi 3. Yulia adanya prosedur invasif O: Tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka jahitan dan stoma. Menunjukkan perilaku hidup sehat 5 5 5 P: Melanjutkan intevensi I: .

Mempertahankan lingkungan aseptik pada pasien ..