You are on page 1of 19

CREEPING ERUPTION

I. PENDAHULUAN

Creeping eruption atau yang disebut juga cutaneus larva migrans,
dermatosis linearis migrans, sandworms disease adalah kelainan kulit
yang merupakan peradangan berbentuk linear atau berkelok- kelok,
menimbul dan progresif, disebabkan oleh invasi larva cacing tambang
yang berasal dari anjing dan kucing. Penyakit ini banyak terdapat di
daerah tropis atau subtropis yang hangat dan lembab, misalnya di Afrika,
Amerika Selatan dan Barat, Asia Tenggara begitu juga Indonesia. 1-3
Penyebab kelainan ini adalah Ancylostoma braziliense dan
Ancylostoma caninum. Manusia terinfeksi melalui kontak kulit dengan
tanah yang terkontaminasi ini. Manusia merupakan hospes aksidental di
mana larva jarang sekali namun dapat ditemukan infiltrat paru yang
disebut sindrom loeffler. 1-3
Creeping itch atau rasa gatal yang menjalar, merupakan
karakteristik utama dari creeping eruption. Mula-mula akan timbul papul,
kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau
berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan berwarna
kemerahan. Faktor resiko utama penyakit ini adalah kontak dengan tanah
lembab atau berpasir, yang telah terkontaminasi dengan feses anjing atau
kucing. 1-3

II. EPIDEMIOLOGI

Creeping eruption adalah penyakit yang terdapat pada daerah
tropis atau subtropis yang hangat dan lembab. Penyakit ini dapat
mengenai semua jenis kelamin dan umur. Creeping eruption merupakan
urutan kedua diantara infeksi cacing kremi dinegara maju. Misalnya di
Afrika, Amerika Selatan dan Barat, terutama Amerika Serikat bagian

1

Frekuensi penyebaran Cutaneus Larvae Migrans di Amerika Serikat Sumber : www. tenggara. Asia Tenggara. Pada beberapa kasus 2 . yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. ETIOLOGI Creeping eruption biasanya ditujukan untuk lesi yang diakibatkan cacing tambang dengan hospes non-manusia. Di Asia Timur umumnya disebabkan oleh gnathostoma babi dan kucing. Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan kucing. berjemur matahari 1 jam per hari.5 minggu berada di perkemahan. dan banyak dijumpai di Indonesia. Karibia.cdc. 17 dari 22 orang yang terkena ternyata tidak mengenakan sandal pada saat bermain pasir.4-6 Infestasi lebih sering ditemukan saat ini karena tingginya mobilitas dan tamasya.7%) terdiri dari anak-anak dan dewasa.gov/eid/article/15 III. Amerika Pusat. Dilaporkan 22 orang (33. India. 2. menderita CLM setelah 2. Ancylostoma braziliense adalah penyebab tersering. Florida pada tahun 2006. Banyak yang mengakui adanya kucing yang berkeliaran dalam jumlah cukup banyak di sekitar perkemahan. Dari analisis didapatkan 22 orang tersebut bermain di kotak pasir selama minimal 1 jam per hari. Dilaporkan adanya outbreak insiden CLM di perkemahan anak-anak di Miami. 7 Gambar 1.

telur bisa menetas dan tumbuh cepat menjadi larva rhabditiform. misalnya Castrophilus (the horse bot fly) dan cattle fly.luciddiagnostics.in/ldadmin/ancylostoma-braziliense Siklus hidup Ancylostoma braziliense terjadi pada binatang dan serupa dengan Ancylostoma duodenale pada manusia. 1. Selain itu dapat pula disebabkan oleh larva dari beberapa jenis lalat.6 Gambar 2 : Nematoda dewasa Ancylostoma Braziliense Sumber : http://www. Strongyloides stercoralis. Awalnya larva makan bakteri yang ada di tanah dan berganti dulu dua kali sebelum menjadi bentuk infektif (larva 3 .3.luciddiagnostics.ditemukan Echinococcus. Dermatobia maxiales dan Lucilia caesar. Jenis-jenis cacing tambang (hookworm) Sumber : http://www. Siklus hidup parasit dimulai saat telur keluar bersama kotoran binatang ke tanah berpasir yang hangat dan lembab. Pada kondisi kelembaban dan temperatur yang menguntungkan.in/ldadmin/ancylostoma-braziliense Gambar 3.

Kemudian menembus sampai ke alveoli dan trakea dimana kemudian tertelan. Hospes normal cacing tambang ini adalah kucing dan anjing. Siklus hidup pada hospes alami Ancylostoma braziliense Sumber : http://www. larva mampu penetrasi sampai ke dermis dan ditranspor melalui sistem limfatik dan vena sampai ke paru-paru. Telur cacing diekskresikan kedalam feses.6 pada tanah selama beberapa minggu. Kemudian terjadi pergantian bulu dua kali sehingga menjadi bentuk infektif (larva stadium tiga).5. Manusia yang berjalan tanpa alas kaki 4 .ah. Di usus terjadi pematangan secara seksual. Pada hospes alami binatang. stadium tiga). PATOGENESIS Creeping eruption disebabkan oleh berbagai spesies Uncinaria (cacing tambang) binatang yang didapat dari kontak kulit langsung dengan tanah yang terkontaminasi feses anjing atau kucing. dan siklus baru dimulai saat telur diekskresikan. kemudian menetas pada tanah berpasir yang hangat dan lembab.com/companionanimal/cat/parasiticworms/typesofworms/cat_p arasitic_worms_hookworms IV. Larva yang infektif dapat tetap hidup 2. Gambar 4.novartis.

Meskipun larva tidak bisa mencapai intestinum untuk melengkapi siklus hidup. larva melepas kutikelnya. Larva ini tinggal di kulit berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal. Enzim proteolitik yang disekresi larva menyebabkan inflamasi sehingga terjadi rasa gatal dan progresi lesi. Setelah penetrasi stratum korneum. Larva stadium tiga menembus kulit manusia dan bermigrasi beberapa sentimeter perhari. Gambar 5 : Siklus Hidup Ancylostoma Braziliense Sumber : http://www. larva sering kali migrasi ke paru-paru sehingga 5 . Setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit. Larva bermigrasi pada epidermis tepat di atas membran basalis dan jarang menembus ke dermis. fisura atau kulit intak. Biasanya migrasi dimulai dalam waktu beberapa hari. Sehingga penyakit ini menetap di kulit saja.com/books/soil-contamination/soil-transmitted- helminthic-zoonoses-in-humans-and-associated-risk-factors Manusia merupakan hospes aksidental dan larva tidak mempunyai enzim kolagenase yang cukup untuk penetrasi membran basalis sampai ke dermis. Hal ini menginduksi reaksi inflamasi eosinofilik setempat. biasanya antara stratum germinativum dan stratum korneum.intechopen.terinfeksi secara tidak sengaja oleh larva dimana larva menggunakan enzim protease untuk menembus melalui folikel.

Lebar 6 . Masuknya larva kekulit dapat menimbulkan erupsi yang tidak spesifik.5 V. dapat berupa sensasi tingling atau prickling selama 30 menit sejak larva masuk kulit. merah dan gatal. Terowongan ini membentuk garis yang semakin panjang sesuai dengan gerakan larva yang ada didalamnya. menimbul dengan diameter 2-3 mm. yakni lesi berbentuk linear. akan terbentuk terowongan sempit di intrakutan yang menimbul dengan diameter 2-3 mm dengan panjang 3-4 cm dan berwarna kemerahan. 1 Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok. Dalam beberapa hari berikutnya. polisiklik. Penyakit ini self- limited dengan kematian larva dalam waktu sebulan atau dua bulan. Larva dapat tidur selama beberapa minggu atau bulan atau segera memulai aktifitasnya. Pada pasien dengan keterlibatan paru-paru didapatkan larva dan eosinofil pada sputumnya. serpiginosa. terjadi infiltrat pada paru. dan berwarna kemerahan. Mula-mula akan timbul papul. Terjadi rasa gatal pada ujung lesi yang bertambah panjang karena terdapat larva. menimbul dan membentuk terowongan (burrow).2. GAMBARAN KLINIS Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Larva filariform pada manusia tidak berkembang menjadi dewasa.3. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari. kemudian diikuti bentuk yang khas. Kemudian jaringan kulit yang ditembus larva filariform berubah menjadi papul keras. Kebanyakan larva tidak mampu menembus lebih dalam dan mati setelah beberapa hari sampai beberapa bulan. infeksi larva terbatas hanya pada lapisan epidermis. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut telah ada di kulit selama beberapa jam atau hari. mencapai panjang beberapa cm. yang menyebabkan kelainan berupa garis merah berbentuk serpiginosa yang disebut creeping eruption.

juga di bagian tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada. Pada kasus creeping eruption bisa terjadi sindrom loeffler dan myositis namun jarang dijumpai.6. paha. anus. tangan. 7 .com/blogs/skin-disorders/cutaneous-larva-migrans/ Tempat predileksi adalah di tungkai.7 VI.7 bisa tunggal atau multipel. lesi berkisar antara 3mm dan panjang bervariasi mencapai 15-20 cm. sangat gatal dan bisa juga nyeri. Sering terjadi ekskoriasi dan infeksi sekunder oleh bakteri.7 Tanda dan gejala sistemik (mengi. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Tanda sistemik termasuk eosinofilia perifer dan peningkatan kadar IgE. urtikaria) pernah dilaporkan pada pasien dengan infeksi ekstensif. Larva bisa bermigrasi ke usus halus dan menyebabkan enteritis eosinofilik. Sepanjang garis yang berkelok-kelok terdapat vesikel kecil yang sewaktu-waktu memungkinkan terjadinya infeksi sekunder jika kulit digaruk. 6.dermatalk. plantar. 6. Gambar 6. bokong. Gambaran khas creeping eruption Sumber : http://www. Lesi 1. batuk kering. Biopsi Kulit Biopsi kulit yang diambil tepat di atas lesi menunjukkan larva (tes periodic asam schiff positif) di terowongan suprabasilar.

org:id B. peningkatan kadar IgE. 9 VII. 9 Gambar 7. menimbul. Bila infeksi ekstensif bisa dijumpai tanda sistemik berupa eosinofilia perifer. yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok-kelok. spongiosis dengan vesikel intraepidermal.cambridge. DIAGNOSIS Diagnosis creeping eruption ditegakkan berdasarkan atas gambaran klinis. Pemeriksaan Serologi Pemeriksaan IgE serum dan eosinophil biasanya didapatkan meningkat dari normal yang menandakan adanya infeksi parasit. sindrom loeffler (infiltrate paru yang berpindah-pindah).org/resource/id/urn:cambridge. dan terdapat papul atau vesikel di atasnya. 8 . riwayat pajanan epidemiologi dan ditemukan lesi yang khas. Bentuk khas. nekrosis keratinosit dan infiltrat kronis oleh eosinofil pada lapisan epidermis dan dermis bagian atas.3. Gambaran histopatologi pada biopsi kulit Sumber: https://static.9. terowongan pada membrane basalis.10 eosinofilia perifer dan peningkatan IgE. Hanya sedikit pasien yang menunjukkan 1. Biopsi spesimen diambil pada ujung jalur yang mungkin mengandung larva tetapi biopsi kurang mempunyai arti karena larva sulit ditemukan.

sprei. adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan. DIAGNOSIS BANDING A.8. misalnya pakaian. Dengan melihat adanya terowongan harus dibedakan dengan scabies. berbentuk garis lurus atau berkelok.11 9 . tidur bersama dan hubungan seksual. misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Scabies pada pergelangan tangan dan sela-sela jari Sumber : http://scabiesrashpictures. Dan melalui kontak tidak langsung (melalui 8-12 benda).VIII.org/Scabies-Mites-Pictures. merupakan hal yang paling diagnostik. hominis dan produknya. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok. bantal dan lain-lain. handuk.3.php Scabies memiliki gejala klinis seperti pruritus nocturnal. misalnya berjabat tangan. Gambar 8. Scabies Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitasi terhadap Sarcoptes scabiei var. Pada scabies terowongan yang terbentuk tidak akan sepanjang seperti pada creeping eruption. Cara penularan bisa melalui kontak langsung (kontak dengan kulit). pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel (Gambar 8). rata-rata panjang 1 cm. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Menemukan tungau.

Medikamentosa 10 . Berapa lama penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya tergantung spesies larva yang menginfeksi. Reaksi bulosa sering terjadi pada kaki anak-anak. Kelainan kulit disebabkan oleh masuknya zat farmakologis aktif dan sensitasi antigen dari hewan tersebut. Gigitan serangga Sumber : https://www. Pada beberapa kasus. terapi yang efektif dapat mempercepat penyembuhan penyakit ini. 12-5 Gambar 9.rd. Tetapi. Pada permulaan timbulnya creeping eruption akan ditemukan papul yang menyerupai insect bite (Gambar 9).com/wp-content/uploads/2017/06/01-bee-What-Bit-Me- How-to-Identify-8-of-the-Most-Common-Bug-Bites_613409141-kanoksak- neamsum-380x254. PENATALAKSANAAN Cutaneous larva migrans ini adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri. Dalam beberapa menit akan muncul papul persisten yang seringkali disertai central hemmoragic punctum. Adapun terapi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut: A. Insect bite Insect bite merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh gigitan dari hewan.jpg IX. B. lesi akan sembuh tanpa terapi dalam 4 sampai 8 minggu.

1-3 Untuk dosis orang dewasa :  Dengan dosis 25-50 mg/kgBB/hari. Untuk kasus yang lebih berat dapat diberikan obat peroral. misalnya tiabendazol ternyata efektif. Pengobatan Sistemik (Oral) a. Tiabendazol Merupakan drugs of choice. tiap 12 jam. Tidak lebih dari 3 gr/hari. Antihistamin membantu mengurangi rasa gatal. Merupakan antihelminthes heterosiklik generasi ketiga. larva akan mati dan diabsorbsi. selama 2-5 hari Untuk dosis anak-anak :  Dengan dosis 25-50 mg/kgBB/hari setiap 12 jam. Tiabendazol lebih toksik daripada benzimidazol dan ivermectin sehingga lebih dipilih agen yang lain. Sejak tahun 1963 telah diketahui bahwa antihelminthes berspektrum luas. Menghambat enzim fumarat reductase sehingga menginhibisi pembentukan mikrotubuli. Pengobatan oral untuk lesi yang luas atau gagal dengan topikal. Meskipun penyakit ini self-limited. Jika perlu dapat diberikan secara topikal. Obat ini sukar didapat. Pengobatan topikal ditujukan untuk lesi awal yang terlokalisasi.1-3 1. Akan terjadi gangguan uptake glukosa dan inhibisi malat dehidrogenase. Jika dibiarkan saja tanpa pengobatan. Efek 11 . Jika terjadi infeksi sekunder oleh bakteri dapat diberikan antibiotik. rasa gatal yang hebat dan resiko infeksi sekunder memaksa seseorang untuk berobat. Untuk kasus yang ringan biasanya tidak memerlukan pengobatan. Anti-Helmintes 1.

Ivermectin Antiparasit semisintetik makrosiklik yang berspektrum luas terhadap nematoda. Obat ini tidak boleh digunakan untuk ibu hamil atau yang 1-3 menderita penyakit hati maupun ginjal. pusing. nausea dan muntah. Tiabendazol pada anak di bawah 15 kg masih terbatas penggunaaannya. 1-3 Untuk dosis dewasa :  12 mg atau 200 ug/kgBB dosis tunggal Untuk dosis anak-anak :  <5tahun : 150 ug/kgBB dosis tunggal  >5 tahun : sama dengan dewasa Efek samping mencakup kelelahan. pruritus. samping yang sering berupa pusing. Albendazol 12 . Mungkin merupakan drug of choice karena keamanan. diare. Permasalahan yang lebih jarang seperti nyeri epigastrium. anoreksia. Hindari penggunaan bersama obat yang meningkatkan aktivitas GABA seperti barbiturat. kram abdomen. mengantuk.1-3 3. benzodiazepine dan asam valproat. nausea. nyeri kepala. Pernah dilaporkan kerusakan hati yang ireversibel dan sindrom Steven Johnson. dan simtom neuroleptik. Cara kerjanya dengan menghasilkan paralisis flaksid melalui pengikatan kanal klorida yang diperantarai glutamat. muntah. nyeri perut dan bercak kemerahan. Ivermectin tidak boleh diberikan pada ibu hamil. toksisitas rendah dan dosis tunggal. 2.

sekali sehari. Untuk dosis dewasa :  400 mg per oral. 1-3 4. sakit kepala. Untuk dosis dewasa :  200 mg per oral. Mebendazol Antihelmintes spektrum luas yang menginhibisi perakitan mikrotubuli dan memblok uptake glukosa sehingga terjadi deplesi cadangan glikogen parasit. pusing. lesu dan insomnia. Antihelmintes bersepektrum luas yang mengganggu uptake glukosa dan agregasi mikrotubuli. Pada pemakaian jangka panjang harus dicek darah dan fungsi hati. nausea. Bisa terjadi gejala ringan distres epigastrium. Sebagai alternatif pengganti tiabendazol. Kemanan pada ibu hamil dan anak kurang dari 2 tahun masih belum diketahui. selama 3 hari atau  2x200 mg sehari selama 5 hari Untuk dosis anak-anak :  <2tahun : 200 mg/hari selama 3 hari dan diulang 3 minggu kemudian jika perlu  >2 tahun : sama seperti dewasa Bila digunakan 1-3 hari. albendazol hampir bebas efek samping. Tidak boleh diberikan pada orang yang hipersensitif terhadap benzimidazol lainnya atau orang dengan sirosis. 2 kali sehari selama 4 hari Untuk dosis anak-anak :  <2 tahun : tidak disarankan  >2 tahun : seperti dewasa 13 . diare.

Dapat juga digunakan solutio tiobendazol 2% dalam 14 . agranulositosis. dan Wook Mok Sohn mendapatkan bahwa ivermectin dosis tunggal 12 mg pada studi acak 21 pasien didapat hasil lebih efektif daripada albendazol 400mg dosis tunggal. Pada anak kurang dari 2 tahun harus berhati-hati karena masih kurangnya penelitian. diaplikasi 4 kali sehari selama satu minggu. muntah. Bisa terjadi nausea. alopesia dan peningkatan enzim hati. Anti-Pruritus 1 Antihistamin membantu mengurangi rasa gatal. Kadar plasma bias berkurang pada penggunaan bersama karbamazepin atau fenitoin. Mebendazol teratogenik pada binatang sehingga tidak disarankan untuk ibu hamil. mengurangi lesi multipel dan infeksi folikel oleh cacing tambang. 1-3 b. Antibiotik 1 Jika terjadi infeksi sekunder disebabkan oleh bakteri. B. Pengobatan Topikal Obat pilihan berupa tiobendazol topikal 10%. c. untuk melokalisir lesi. Namun ivermectin dan tiabendazol sukar didapat sehingga disarankan pengobatan dengan albendazol dosis tunggal. Efek samping yang jarang berupa reaksi hipersensitivitas. diare dan nyeri abdominal. Harus berhati-hati pada orang dengan sirosis. Hasil studi yang dilakukan Tae Hyeung Kim. Meningkat ada penggunaan bersama simetidin. Tiabendazol juga merupakan pengobatan yang efektif untuk CLM. Byeung Song Lee. Obat ini perlu diaplikasikan di sepanjang lesi dan pada kulit normal di sekitar lesi. Topikal tiobendazol adalah pilihan terapi pada lesi yang awal.

pembesaran KGB dan reaksi alergi. Bedah beku Cara terapi ialah dengan bedah beku atau krioterapi yakni menggunakan etil klorida atau dry ice dengan penekanan 45 detik sampai 1 menit. Keamanan pengobatan ini selama kehamilan masih belum diketahui. sakit kepala. dosis sehari 400 mg sebagai obat dosis tunggal. oral atau tiabendazole topikal merupakan terapi yang direkomendasikan. Namun pengobatan ini mempunyai efek samping seperti nausea. dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan di sekitarnya. Seluruh terowongan harus dibekukan karena parasit diperkirakan berada dalam terowongan. 15 . Obat lain ialah albendazol. Demikian pula pengobatan secara oklusi selama 34-48 jam telah dicoba oleh Davis. Penggunaan NO 2 cair juga pernah dicoba. 1-3 Eyster mencoba pengobatan topikal solusio tiobendazol dalam DMSO dan ternyata efektif. Cara beku dengan menyemprotkan kloretil sepanjang lesi. Terapi ini efektif bila epidermis terkelupas bersama parasit. DMSO (dimetil sulfoksida) atau tiobendazol topikal ditambah kortikosteroid topikal yang digunakan secara oklusi dalam 24-48 jam. Cara tersebut di atas agak sulit karena kita tidak mengetahui secara pasti di mana larva berada. Cara ini bersifat 3 traumatik dan hasilnya kurang dapat dipercaya. pusing. anoreksia. 2 hari berturut-turut. 1-3 C. diare.

Creeping eruption bisa dicegah dengan 1-3 mudah dengan memakai alas kaki yang memadai setiap saat. KOMPLIKASI Ekskoriasi dan infeksi sekunder oleh bakteri akibat garukan. Pengobatan cacing tambang untuk kucing dan anjing merupakan hal yang utama untuk mencegah creeping eruption. Menghindari kontak kulit langsung dengan tanah yang tercemar kotoran binatang.7 16 . 6. Bisa juga terjadi selulitis dan reaksi alergi. Infeksi umum disebabkan oleh streptococcus pyogenes. Kotoran binatang harus dipindahkan secara benar dari area aktivitas manusia. Cara melakukan krioterapi Sumber : http://fabulouslyaverage. X.com /cryotherapy -age-spots-uncovered D. Pemakaian sepatu tertutup pada area dimana banyak terdapat penyakit cacing tambang. Edukasi Infeksi cacing tambang binatang dapat dicegah dengan meningkatkan sistem sanitasi yang baik terutama yang terkait dengan feses. Gambar 10. Memperhatikan kebersihan dan menghindari kontak yang terlalu banyak dengan hewan-hewan yang merupakan karier cacing tambang.

dimana larva akan mati dan lesi membaik dalam waktu 4-8 minggu. Orang yang beresiko terinfeksi adalah mereka yang sering berhubungan dengan tanah berpasir dan tidak memakai alas kaki. papul eritematosa. PROGNOSIS Prognosis penyakit ini biasanya baik dan merupakan penyakit self- limited. Penatalaksanaan yang baik adalah edukasi mengenai pencegahan. KESIMPULAN Creeping eruption merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh larva cacing tambang binatang dan bersfiat self-limited. Penyebab tersering adalah Ancylostoma braziliense. DAFTAR PUSTAKA 17 .XI. Manusia terinfeksi melalui kontak kulit dengan tanah yang terkontaminasi ini. Ditemukan eosinofilia perifer dan peningkatan kadar IgE. kadang disertai rasa nyeri. digunakan antihelminthes berspektrum luas. Tiabendazol 50 mg/kgBB dalam 2 dosis. Ivermectin dosis tunggal 12 mg. Dapat terjadi ekskoriasi dan infeksi sekunder yang umumnya disebabkan oleh Streptococcus pyogenes. Tempat pedileksi di bagian tubuh mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada. Albendazol 400 mg dosis tunggal. 5 XII. Penyebab penyakit ini adalah Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Dengan pengobatan progresi lesi dan rasa gatal akan hilang dalam waktu 48 jam. Penyakit ini sering dijumpai di daerah tropis dan subtropis. Manusia merupakan hospes aksidental di mana larva jarang sekali namun dapat ditemukan infiltrat paru yang disebut sindrom loeffler. Pengobatan dapat diberikan antiheliminthes topikal maupun oral. Gejala klinis yang timbul berupa gatal. serta lesi khas yang berbentuk linear berkelok-kelok.

2009. 252-8. Dermatologic conditions of the ill returned traveler: an analysis from the Geosentinel Surveillance Network. Kementrian Kesehatan RI. P. 125-6. Langley RG. Handoko RP. Dalhouse University Halifax Canada. 2007. Widyastuti SK. 3. Borda LJ. 5. p. Creeping eruption. Griffith RD. Pruritic. Cutaneous larva migrans. 2016. 7. Hookworm-related cutaneous larva migrans with exceptional multiple cutaneous entries. Thappa D. University College London. Schwartz E. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 122-4. 2015. Jorizzo JL. 4. Sonnenburg F. 2nd ed. elson DM. Lederman ER. Cutaneus larva migrans. Department of Medical Microbiology. 8. In: Bolognia JL. Virginia School of Medicine. Barry M. Medscape. Loutan L. editors.JAMC. 2. 6. 2017. Scabies. Skabies. 2008: p. CMAJ. pada kucing di Jawa. 2002: p. Indian Journal of Dermatology. Karthikeyan K. In. Bolognia JL. In: Djuanda A. 2010. 5 ed. 2004 12. Universitas Udayana. Hairani B. editor. 18 . Webb AN. Disertasi. Rapini RP. 9. Elyazar IRF.51-2. Badan Litbang Kesehatan. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008. 2011 10. Keystone JS. 9-10. Aisah S. Clinical picture of cutaneous larva migrans. USA: Mosby. Edisi ke-5. Peris K. Erawan IGMK. Micantonio T. Weld LH. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Cutaneus larva migrans. Canada: Internal Society For Infectious Disease. Disertasi. Journal of Clinical & Investigative Dermatology. Serpiginous eruption in a returning traveller. Department of Pathology and Laboratory Medicine. Keberadaan telur dan larva cacing tambang pada tanah di lingkungan des Sepunggur dan desa Gunung Tinggi Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan tahun 2014. Kallis PJ. Bali: Fakultas Kedokteran Hewan. Suartha IN. 11. p. Disertasi. Kalimantan Selatan: Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu. Purdy KS. editor. Ilmu Penyakit kulit dan kelamin. Gillespie SH. Dermatology. In: Djuanda A.1. Prevalensi dan intensitas infeksi ancylostoma spp. editor. 2007.

Oklahoma: Departemen of Emergency Medicine. Insect bite. 15. Medscape. p. 14. 2010. 224-32. In: Alcock J. Scabies. Georgetown. editor. Budimulja U. editor. 3th ed: Blackwell. In: Taylor S. 2002. 2011. 2001. editors. 92-3. Hunter J. Dahl M.13. In: Arenas R. Clinical dermatology. Tropical dermatology. 19 . Insect bites. Mikosis: Insect Bite. Larva migrans. Savin J. University of Oklahoma School od Community Medicine. 2-8. 5th ed. 16. p. p. Arenas R. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Estrada R. In: Djuanda A. Burns BD. Texas: Landes Bioscience. Infestation: Insect Bite. editor.