You are on page 1of 5

Etiologi

a. Terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan
b. Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan
c. Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang

Manifestasi Klinik
Tergantung seberapa parah tenggelamnya, misalnya seberapa lama tenggelamnya
a. Koma
b. Peningkatan edema paru
c. Kolaps sirkulasi
d. Hipoksemia
e. Asidosis
f. Timbulnya hiperkapnia

Kondisi Umum dan Faktor Resiko Pada Kejadian Korban Tenggelam
a. Pria lebih beresiko untuk mengalami kejadian tenggelam terutama dengan usia 18-24 tahun
b. Kurang pengawasan terhadap anak terutama yang berusia 5 tahun ke bawah
c. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air
d. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat dan air yang sangat dalam
e. Ditenggelamkan dengan paksa oleh orang lain dengan tujuan membunuh,kekerasan atau
permainan di luar batas.

Komplikasi
a. Ensefalopati Hipoksik
b. Tenggelam sekunder
c. Pneumonia aspirasi
d. Fibrosis interstisial pulmoner
e. Disritmia ventricular
f. Gagal Ginjal
g. Nekrosis pancreas
h. Infeksi

Asuhan Keperawatan Pada Korban Tenggelam
Pengkajian
1) Kaji adanya respirasi spontan
2) Kaji tingkat kesadaran
3) Kaji suhu inti tubuh
Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan pertukaran gas
2) Bersihan jalan nafas tidak efektif
3) Perubahan perfusi jaringan otak
4) Pola nafas tidak efektif
5) Penurunan curah jantung
6) Kelebihan volume cairan
7) Resiko tinggi cedera
8) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Kaji kapasitas anak untuk mentolerir makanan melalui selang nasogastrik atau per-oral ( periksa adanya sisa dan muntah ) c. tanpa memperhitungkan hasil akhirnya. Tenggelam juga mengakibatkan hipotermia. korban akan menahan napasnya. peningkatan denyut apeks. Hisap dan jalan napas seperlunya b. pupil dilatasi) 4) Pantau dan pertahankan keseimbangan cairan a. Lakukan pengkajian pernapasan (frekuensinya tergantung pada keadaan) b. Pasang selang nasogastrik (untuk mencegah aspirasi muntahan) 2) Pantau dan catat respons anak terhadap terapi oksigen a. yang mengakibatkan henti jantung dan relaksasi jalan napas sehingga paru-paru memungkinkan untuk terisi oleh sejumlah besar air (mati tenggelam basah). Pantau tekanan vena sentral (CVP) dan jalur arteri d. Pantau penggunaan pernapasan tekanan positif intermiten (IPPB) atau tekanan akhir ekspiratori posisti (PEEP) 3) Pantau dan catat tingkat fungsi neurologik anak a. Selanjutnya terjadi laringospasme. dan beberapa orang akan menelan sejumlah kecil air.peningkatan tekanan darah. Lakukan pengkajian neurologik (frekuensinya tergantung status) b. hipoksia merupakan konsekuensi fisiologis yang paling penting untuk cedera tenggelam dan memengaruhi seluruh system organ. Sediakan kasur pendingin (mencegah menggigil) c. Kejadian fisiologis yang terjadi setelah tenggelam adalah berurutan. Pantau suhu b. Mati tenggelam didefenisikan sebagai kematian karena asfiksia akibat tenggelam atau dalam 24 jam tenggelam. Catat asupan dan haluaran b. Jaga kepatenan dan lakukan perawatan kateter Foley c. dan jumlah yang hampir mati tenggelam diperkirakan tiga sampai empat kali lipat dari jumlah mati tenggelam. Naikkan jumlah dan jenis asupan nutrisi Patofisiologi Setiap tahun antara 4000 dan 5000 orang mati tenggelam di Amerika Serikat. Pertahankan restriksi cairan dengan adanya edema serebri 5) Pantau dan pertahankan pengaturan suhu homeostatik (penurunan dan kebutuhan oksigen) a.Intervensi Keperawatan 1) Buat dan pertahankan jalan napas yang paten. muntah. Pantau penggunaan ventilator dan alat respirasi lainnya. Mati tenggelam sekunder merujuk pada kasus-kasus yang berhasil diresusitasi tetapi kemudian mati dalam waktu lebih dari 24 jam setelah tenggelam karena disfungsi paru progresif. yang mengarah pada hipoksia. Hampir mati tenggelam terjadi bila anak bertahan lebih dari 24 jam setelah tenggelam. a. kemudian mengaspirasi muntahan. Observasi dan catat tanda-tanda TIK (letargi. Setelah pada awalnya panic dan berjuang. c. Area permukaan tubuh anak yang relative luas mengarah pada suatu penurunan suhu tubuh yang relative cepat bila anak berada pada air dingin. penurunan frekuensi napas. . Kaji kemampuan anak untuk mendapatkan asupan nutrisi melalui selang nasogastrik atau oral (NG po) b. Berikan antipiretik 6) Berikan dan pertahankan asupan nutrisi yang adekuat a. Tanpa memerhatikan apakah korban mengaspirasi air.

f. CT scan d. hematokrit. Nilai gas darah arteri – untuk mendeteksi asidosis respiratorik dan asidosis metabolic c. Anak prasekolah dan remaja memiliki risiko tertinggi mati tenggelam dan hampir mati tenggelam c. baik saat diangkatnya tubuh dari air dan dimulainya pemeriksaan pasca mati. tingkat hipotermia. e. Anak-anak yang lebih muda paling sering mati tenggelam di kolam renang. yang mengakibatkan bradikardia dan pengaliran darah jauh dari perifer dan dengan demikian meningkatkan sirkulasi serebral dan koroner. BUIH/ BUSA PADA SALURAN PERNAFASAN . h. respons fisiologis dari korban. toilet. Uji laboratorium dan diagnostic a. Kerusakan otak ireversibel biasanya terjadi setelah 4 sampai 6 menit tenggelam. Insidens tertinggi terjadi selama bulan-bulan musim panas. tetapi beberapa anak mengalami pemulihan penuh setelah periode waktu lebih lama (10 sampai 30 menit) pada air yang sangat dingin. dan lamanya waktu sampai diberikan resusitasi jantung – paru yang efektif. Laki-laki lima kali lipat lebih banyak kemungkinannya untuk mati tenggelam daripada perempuan. hot tub. bathtub. di akhir minggu. dan di ember. dan di laut saat berperahu atau menyelam. Kultur dan sensitivitas darah – untuk mendeteksi adanya infeksi pernapasan yang tumpang tindih. Prognosis dipengaruhi oleh berbagai faktor. 2. hemoglobin – untuk menentukan derajat hemodilusi atau hemokonsentrasi dan perlunya resusitasi cairan. Sebagian besar mati tenggelam terjadi di kolam renang rumah. e. Anak yang lebih tua paling sering mati tenggelam di danau. Hitung darah lengkap. Klirens kreatinin – untuk menentukan fungsi ginjal h. seperti lamanya tenggelam. Insidens a. 40% korban berusia kurang dari 4 tahun d. Tenggelam adalah penyebab kematian utama kedua karena kecelakaan pada anak-anak b. atau ada kaitannya dengan ingesti alcohol. Elektroensefalogram – untuk mengkaji aktivitas kejang dan membuktikan adanya kematian otak. Pemeriksaan foto toraks – temuan bervariasi (dari infiltrate parenkim tersebar sampai edema pulmonal luas b. g. sungai. TANDA –TANDA YANG DITEMUKAN PADA OTOPSI Saat otopsi banyak keterlambatan. Morbiditas dan kematian berkaitan langsung dengan derajat kerusakan neural. Kadar nitrogen urea darah – untuk menentukan fungsi ginjal g. f.Hipotermia berat pada anak yang lebih muda dapat melindungi otak bila reflex menyelam terjadi. dan diantara jam 4 dan jam 6 sore.

OVERINFLASI PADA PARU-PARU Bagian dari seluruh paru-paru yang berisi air dapat terjadi overinflasi. yang sangat sedikit dan tidak spesifik pastinya. seperti hipertensi. nama lain untuk kondisi ini adalah emfisema aquosum. Cairan edem dalam bronkus yang kolpas. Teksturnya lebih pucat dan berkrepitasi. Pada umumnya berat paru-paru yang tenggelam adalah sekitar 600-700 gram.menyokong paru pada posisi inspirasi. Busa tersebut merupakan cairan edema dari paru-paru. Paru-paru sendiri pastinya akan terisi air dan cairan busa akan menetes dari bronkus ketika paru-paru di tekan dan dari potongan permukaan paru ketika dipotong dengan pisau. Yang paling bermanfaat adalah dengan ditemukannya cairan busa pada saluran pernafasan. lagi-lagi sama dengan asma. tetapi sekarang bulla jarang ada. paru-paru tidak tenggelam adalah 370-540 gram. bronkus utama dan alveoli. akan terlihat menetes pada mulut dan lubang hidung. Bagian superfisialnya mirip dengan asma. memasuki rongga torak ketika sternum dibuka. Biasanya busa berwarna putih. berbeda dengan pembenaman. Area itu kadang luas dan intensif. Copeland (1985) mengemukakan bahwa berat paru-paru orang mati bukan tenggelam dengan mati tenggelam dalam air asin atau air tawar adalah tidak ada perbedaan yang signifikan.Tanda-tanda positif dari tenggelam. Pada tenggelam dapat cukup membentuk tanda pada permukaan lateral dari paru-paru dengan tekanan pada iga. Sekarang sering dari elemen distensi yang berlebihan disebabkan oleh valvular action dari obstruksi bronchial. Normalnya bare area lebih dari jantung yang tertutupi dan paru-paru yang menonjol keatas bertemu di midline untuk menghilangkan mediastinum anterior. Untuk diingat rata-rata berat paru keduanya 1411 gram bandingkan dengan 994 sebagai control. Jika badan dalam air kurang dari 24 jam setelah itu berat paru-paru menurun tetapi transudat pleural naik. Gambaran ini hampir mirip dengan edem akibat gagal jantung kiri yang sering terlihatpada kematian akibat penyakit jantung. Kombinasi dari berat paru-paru dan transudat lebih dari 75% pada kasus berkisar antara 1000-2200 gram diatas 30 hari. Pre-existing emfisema yang sebenarnya sebagian berupa distensi dari tenggelam. dapat dilihat dan diraba cekungan setelah membuka organ dalam torax. tetapi dapat juga berwarnamerah muda atau merah. yang mengandung campuran eksudat protein dan surfaktan dengan air yang masuk. ini normal pada kematian. Kingsholm menemukan bahwa 7% dari kasus tenggelam dengan paru-paru yang kering dengan kombinasi berat paru-paru kurang dari berat diatas dalam kilogram. edema generalisata dan distensi ada untuk . Terdapat beberapa area perdarahan intrapulmoner yang memberikan warna merah pada cairan edem. Buih dapat meluas sampai trakea. dimana pada tubuh yang masih segar. Sekitar 10-20% tidak diragukan mati tenggelam pada kasus dengan paru-paru yang kering dengan tidak ada pertambahan berat. karena adanya sedikit campuran darah akibat perdarahan intra pulmonal. Ini adalah satu dari ciri positif dari kasus tenggelam untuk menuntun otopsi.

Itu dapat terjadi pada kematian bukan tenggelam atau kasus tenggelam tapi tidak ada perdarahan. Tetapi kadang ini tidak serasi dengan penelitian banyak ahli patologi (niles). Secara umum tanda otopsi subyektif dan tidak dapat dipercaya. Perdarahan dalam telinga tengah tanda positif dari tenggelam tetapi penulis meneliti. Sebab ini adalah subyektif dan tidak spesifik. pada penelitian jarang digunakan. Bagian yang kabur hasil dari penyebaran hemolisis. . yang sebenarnya setiap otopsi tidak tau apa sebab kematiannya.meminimalkan tonjolan. berpisah dengan beberapa bintik non spesifik yang dapat ditemukan pada fissura dan sekitar hillum. Banyak ahli patologi mempunyai pendapat bahwa sisa darah lebih cair dalam kasus tenggelam. Tetapi ini bukan tanda pasti. Ini karena tekanan hidrostatik dalam telinga. spesifik pada sisi kanan. pasir atau rumput. Jantung dan vena besar kadang dilatasi dan berisi cairan darah. beberapa dapat berada dekat lapisan pleural dan dapat lebih terlihat mengaburkan benjolan pada eksterior paru-paru. dan ahli patologi meneliti ini dan menyatakan terjadihemodilusi pada tenggelam dalam air tawar. sama dengan adanya benda asing dalam trakea. banyak kasus dengan kematian badan terbenam dalam air menampakkan air berlebih dalam perut. hasilnya total tidak dapat dipercaya. ORGAN LAIN DALAM KASUS TENGGELAM Tidak ada yang dapat dipercaya pada perubahan pada tenggelam pada saat otopsi. Banyak kasus tenggelam menunjukan perut tidak berisi air. Dalam kasus tenggelam kadang tanpa perdarahan petekie subpleural. Perut dapat berisi air atau benda asing dalam air seperti lumpur. Batasannya sifat esofagus dan sfingter kardiak tidak dalam proses tenggelam.