You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa adalah bagian dari kesehatan secara menyeluruh,

bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi pemenuhan kebutuhan

perasaan bahagia, sehat, serta mampu menangani tantangan hidup. Secara

medis, kesehatan jiwa diterjemahkan sebagai suatu kondisi yang

memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang

optimal dari seseorang. Perkembangan tersebut berjalan selaras dengan

keadaan orang lain (Febriani, 2008).

World Health Organization (WHO) (2012) menyebutkan bahwa

prevalensi masalah kesehatan jiwa saat ini cukup tinggi, 25% dari

penduduk dunia pernah menderita masalah kesehatan jiwa, 1% diantaranya

adalah gangguan jiwa berat. Potensi seseorang mudah terserang gangguan

jiwa memang tinggi, setiap saat 450 juta orang diseluruh dunia terkena

dampak permasalahan jiwa, saraf, maupun perilaku. Salah. (Hawari,

2012).

Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak

mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat

halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh. Psikotik yang dibahas pada

modul ini yaitu psikotik akut dan kronik

Secara umum, penderita psikotik dipicu oleh ketidakmampuan

seseorang untuk menyelesaikan masalah yang diterima oleh seorang

1

05). Semakin tinggi dukungan keluarga. memperlakukan dan merespons masalah yang dihadapi sangat berbeda antara satu orang dengan orang lain.maka semakin tinggi pula keberfungsian social pasien. Hasil analisis penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa baik kognitif dan psikomotor sebelum memberikan terapi edukasi keluarga setara (p>0. Bali.7 per mil. Hasil Riskesdas (2015) Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia 1.Sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga. sehingga tingkatan keparahan psikotik yang diderita sangat beragam meskipun sama-sama ditimpa oleh masalah yang sama Berdasarkan Hasil penelitian yang di lakukan oleh Ambari (2010) tentang hubungan antara dukungan keluarga dengan keberfungsian social pada gangguan jiwa.manusia. semakin rendah pula keberfungsian social pasien gangguan jiwa. Penelitian di lakukan oleh Wahyuningsih (2009) mengenai pengaruh edukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat klien RSUD Banyumas ruang samiaji dan Yudistira terhadap 48 responden (keluarga dengan anggota keluarga gangguan jiwa) yaitu 24 kelompok intervensi dan 24 kelompok control. Proporsi rumah tangga yang pernah memasung penderita gangguan jiwa 2 . berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan maka dapat di simpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan keberfungsian social pada pasien gangguan jiwa di rumah. Aceh. Sulawesi Selatan. Gangguan jiwa berat terbanyak di Dearah Istimewa Yogyakarta. Cara mengendalikan. dan Jawa Tengah.

2%). 2015). dan meningkat pada tahun 2016 jumlah menjadi 60 orang yaitu terdiri dari pasien gangguan jiwa psikotik sebanyak 45 orang halusinasi 5 orang prilaku kekerasan 5 orang harga diri rendah 3 orang skizofrenia 2 orang baik yang ditemukan oleh petugas kesehatan 3 . Data Sekunder pada Puskesmas Pelitakan Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat.0 persen.5%). Sulawesi Selatan. Jawa Barat. setiap tahunnya mengalami peningkatan dalam kasus penemuan penderita gangguan jiwa. pada tahun 2015 terjadi peningkatan ditemukannya kasus penderita gangguan jiwa sebanyak 212 penderita dan pada tahun 2016 dengan semakin berjalannya program jiwa di Puskesmas meningkat menjadi 223 penderita gangguan jiwa (Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali Mandar.1% (Dinkes Prov.5% dan Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk umur ≥15 tahun yaitu 6. DI Yogyakarta. Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia 6. serta pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah (19. dan Nusa Tenggara Timur (Depkes RI. tahun 2013 penderita gangguan jiwa sebanyak 50 orang. Prevalensi ganggaun jiwa berat Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2015 yaitu mencapai 1. 2015) Sedangkan jumlah penderita gangguan jiwa pada tahun 2014 terdapat 185 penderita gangguan jiwa.berat 14. Provinsi dengan prevalensi ganguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah. 2016). Sulawesi Barat.3 % dan terbanyak pada penduduk yang tinggal di perdesaan (18.

Beberapa penderita telah di pulangkan tetapi menjalani pengobatan secara berkala dengan pengawasan petugas kesehatan dalam hal ini Puskesmas Pelitakan.sehingga keluarga hanya merawat klien di rumah dengan pengetahuan yang masih kurang dan kemampuan merawat penderita yang masih kurang juga. Jumlah penderita gangguan jiwa sebanyak 60 orang yaitu gangguan jiwa psikotik sebanyak 45 0rang. Kurang Pengetahuan keluarga tersebut dalam merawat klien gangguan jiwa di sebabkan keluarga kurang mendapatkan informasi baik dari petugas kesehatan sendiri maupun dari yang lainnya tentang gangguan jiwa serta cara perawatan dan memperlakukan gangguan jiwa di rumah sehingga keluarga masih kurang pengetahuan tentang gangguan jiwa dan cara perawatan penderita gangguan jiwa di rumah. prilaku kekerasan 8 orang . keluarga lebih memilih untuk merawat sendiri anggota keluarganya dengan pertimbangan bahwa 4 .maupun yang dilaporkan oleh masyarakat (Program Kesji PKM Pelitakan 2016). Pada dasarnya keluarga memiliki motivasi yang tinggi agat keluarganya yang menderita gangguan jiwa dapat sembuh kembali seperti semula. skizofrenia 4 orang telah dirujuk dan di rawat di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Makassar. Di Puskesmas Pelitakan tersebut diatas penderita gangguan jiwa telah di rujuk ke Rumah Sakit Khusus Daerah Makassar Provinsi Sulawesi Selatan untuk menjalani pengobatan dan perawatan. skizofrenia 7 orang yang dilaporkan di Puskemas Pelitakan 10 diataranya yaitu prilaku kekerasan 6 orang. sedangkan 50 penderita keluarganya menolak untuk ke RSKD Makassar.

Dari keseluruhan penderita diaporkan bahwa tidak adanya lagi tindakan pemasungan atau mengisolasi penderita gangguan jiwa.anggota keluarganya yang menderita gangguan jiwa tidak melakukan tindakan kekerasan ataupun melukai orang lain. (Program Kesehatan Jiwa PKM Pelitakan. seperti. 5 .waham. berbicara sendiri dan tertawa. keluarga dalam berkomunikasi dengan klien masih kasar atau tidak sesuai yang disebabkan juga karena kurangnya pengetahuan keluarga dalam memperlakukan dan merawat penderita gangguan jiwa dirumah. Kondisi ini juga dikarenakan perilaku keluarga dalam merawat anggota keluarga yang masih kurang baik misalnya tidak dilibatkan dalam kegiatan keluarga. menarik diri meskipun telah di pulangkan dari rumah sakit jiwa. meskipun demikian petugas kesehatan melakukan pemeriksaan. 2016). Berdasarkan hasil observasi yang di lakukan bersama petugas kesehatan jiwa dari puskesmas Pelitakan yang di lakukan dengan berkunjung langsung ke rumah penderita gangguan jiwa guna mengevaluasi tingkat perkembangan penderita dan menilai kemampuan keluarga dalam merawat penderita gangguan jiwa tersebut.gangguan psikotik yang terdapat gejala seperti halusinasi . Hasil kunjungan awal dari 10 terdapat 8 penderita yang masih dirawat secara intensi oleh keluarga dikarenakan penderita masih sering menunjukkan menunjukan adanya gejala atau tanda dari gangguan jiwa yang belum dapat di kontrol secara baik. observasi secara berkala ke rumah penderita untuk memberikan bimbingan dan perawatan kepada pasien dan keluarganya.

3. masyarakat dan petugas kesehatan sendiri.1 Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh penyuluhan perawatan Ganggua jiwa Psikotik terhadap tingkat pengetahuan Kepala keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa Psikotik di Wilayah Kerja Puskesmas Pelitakan Kabupaten Polewali Mandar. 1.3 Tujuan Penelitian 1. Penderita gangguan jiwa tersebut sudah selayaknya menjadi perhatian masyarakat sebab penyelesaian masalah gangguan jiwa bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan namun juga perlu keterlibatan aktif semua pihak dalam hal ini keluaga. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Penyuluhan Perawatan Gangguan Jiwa Psikotik Terhadap Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Pelitakan Kabupaten Polewali Mandar” 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : “Apakah ada Pengaruh Penyuluhan Perawatan Gangguan Jiwa Psikotik Terhadap Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga Dalam di Wilayah Kerja Puskesmas Pelitakan Kabupaten Polewali Mandar?”. 6 .

1. 2.4. 1. 1.2 Manfaat Praktis 1. adalah : 1.3. Mengetahui tingkat pengetahuan keluarga dalam merawat gangguan jiwa Psikotik sebelum pemberian penyuluhan perawatan gangguan jiwa Psikotik.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini. Mengetahui tingkat pengetahuan Kepala Keluarga Dalam Merawat Gangguan Jiwa Psikotik setelah pemberian penyuluhan perawatan Gangguan jiwa Psikotik. Bagi mahasiswa mahasiswi. 3.1 Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan terutama untuk Kepala keluarga dan masyarakat luas dalam memperlakukan penderita gangguan jiwa Psikotik secara layak dan penelitian ini marupakan literatur bagi semua pihak. Mengetahui Pengaruh Penyuluhan Perawatan gangguan Jiwa Psikotik Terhadap Tingkat Pengetahuan Kepala Keluarga Dalam Merawat Gangguan Jiwa Psikotik. 7 .4. khususnya pada mahasiswa mahasiswi dan peneliti selanjutnya.2 Tujuan Khusus 1. penelitian ini dapat menjadi referensi dan bahan kajian dalam menyimpulkan cara-cara untuk pengembangan pendidikan kesehatan melalui asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa psikotik.

penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivator bagi peneliti selanjutnya untuk terus melalukan penelitian dengan metode yang lebih baik. 8 .2. hasil yang sempurna dan mendalam.