You are on page 1of 10

LAPORAN PENDAHULUAN

“CLOSE FRACTURE CRURIS”

Disusun untuk memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Emergency
di Ruang IGD Rumah Sakit Tentara dr.Soepraoen

Disusun Oleh :
Wahyu Nur Indahsah
170070301111084
Kelompok 2B

PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan ditentukan sesuai dengan jenisnya. 2. Fraktur Terbuka (Compound Fracture). b. Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Syamsuhidayat. 2005). Trauma lansung : kecelakaan lalu lintas . misalnya mal-union. Fraktur tertutup adalah fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan / tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. delayed union. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. Kominutif : fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen f. Fraktur Tertutup (Simple Fracture). Patologik : fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya. b.sedang sisi lainnya membengkak. Etiologi Smeltzer & bare (2002) menyebutkan penyebab fraktur dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : a. Fraktur dengan komplikasi (Complicated Fracture). Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. c. Depresi : fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam g. dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat. atau from without (dari luar). Kompresi : Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang) h. Sedangkan cruris adalah tungkai bawah yang terdiri dari dua tulang panjang yaitu tulang tibia dan fibula. dapat berbentuk from within (dari dalam). 3. Fraktur dengan komplikasi adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi. Greenstick : fraktur dimana salah satu sisi tulang patah. d. 2002). Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat di absorbsinya (Smeltzer & Bare. 2005). non-union. Transversal : fraktur sepanjang garis tengah tulang e. Sehingga fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang pada tulang tibia dan fibula sinistra dan atau dextra. dan infeksi tulang Jenis-jenis fraktur: a. Klasifikasi Fraktur a.Jadi berdasarkan pengertian diatas fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang c. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit.

Proses penyakit (osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis) d. c. 4. Trauma tidak lansung : jatuh dengan ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang. Secara spontan di sebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran e. Serta kelainan bawaan sejak lahir. dimana tulang seseorang sangat rapuh sehingga mudah patah. Patofisiologi . b.

Manifestasi Klinis .5.

deformitas dan metalikment. teraba adanya derik tulang. Pemeriksaan Laboratorium  Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.  Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur. Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.  Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. Pemeriksaan lain-lain  Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan. Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit. Aspartat Amino Transferase (AST). pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2.  Enzim otot seperti Kreatinin Kinase. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat. c. a. c. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya. .5 cm. d. maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera. Laktat Dehidrogenase (LDH-5). b. 6. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. b. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.  Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. Pemendekan tulang. e.5 sampai 5. Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang. Pemeriksaan Diagnostik a.

b. dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. d. Stadium Empat-Konsolidasi Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut. Stadium Satu Pembentukan Hematoma Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. c. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. Ada lima stadium penyembuhan tulang. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur. Stadium Dua-Proliferasi Seluler Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai. Stadium Tiga (Pembentukan Kallus) Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago. bila diberikan keadaan yang tepat. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.  Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. Ini adalah . tergantung frakturnya. 7. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang.  Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.1 Proses Penyembuhan Tulang Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. anyaman tulang berubah menjadi lamellar.  MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. yaitu: a.`endosteum. Penatalaksanaan Medis 7.

restorasi fragment fraktur sehingga didapat posisi yang dapat diterima. iga. deformitas serta perubahan osteoartritis dikemudian hari. c. pemeriksaan klinik dan radiologis. proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.2 Empat prinsip penanganan fraktur a. fraktur impaksi dari humerus. d. Recognition: mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis. 7. Fraktur yang tidak memerlukan reduksi seperti fraktur klavikula. angulasi <5>. Posisi yang baik adalah: alignment yang sempurna dan aposisi yang sempurna.3 Pemilihan alat fiksasi Pemilihan alat fiksasi tergantung lokasi fraktur. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan: lokasi. dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. Telescoping nail fixation : Dengan status minimal weight bearing sampai partial weight bearing selama 6 minggu sampai 3 bulan. 7. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan. Fraktur intrakapsular dengan impaksi tanpa displasemen dapat disembuhkan cukup dengan bed rest saja. e. rongga sumsum dibentuk. b. immobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna meliputi pembalut gips. Selama beberapa bulan atau tahun. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin. menentukan teknnik yang sesuai untuk pengobatan. Stadium Lima-Remodelling Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi. Reduction: reduksi fraktur apabila perlu. potensial nekrosis avascular pada kepala sendi femur. bentuk fraktur. komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan. dan fiksasi interna meliputi inplan logam seperti screw. traksi. Jenis tindakan untuk jenis fraktur yang lain adalah sebagai berikut : a. dinding yang tidak dikehendaki dibuang. bidai. Stable plate and screw fixation : Dengan status non-weight bearing selama 6 minggu sampai 3 bulan b. . Retention. dan kesukaan dokter yang merawat. immobilisasi fraktur: mempertahankan posisi reduksi dan memfasilitasi union sehingga terjadi penyatuan.

c. Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal kejaringan yang rusak. Ini bisa disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat. Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu semestinya. Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah.Sur. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan. Prosthetic implant : Biasanya digunakan protesis Austin Moore atau protesis bi-polar untuk mengganti leher dan kepala sendi. namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal 9.Nursing. Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. (Med. Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang lebih lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan) b.long) 8. Barbara C. Komplikasi lambat a. c. c. Asuhan Keperawatan pada klien Fraktur 9. penggunaan gips atau balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi. Closed reduction and external fixation (reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal) dilakukan jika kondisi umum pasien tidak mengijinkan untuk menjalani pembedahan. Komplikasi Komplikasi awal a. Harus menjalani restriksi posisi dari 2 minggu sampai 2 bulan dan restriksi partial weight bearing sampai sekitar 2 bulan. b.1 Pengkajian . cidera remuk). d.

9. Sirkulasi Tanda: hipertensi(kadang-kadang terlihat sebagai respon nyeri / ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah) takik kardi(respon stress. ( bunyi berderit). Nyeri Gejala: nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera (mungkin terlokalisasi pada jaringan atau kerusakan tulang : dapat berkurang pada imobilisasi ) : taka da nyeri akibat kerusakan saraf Spasme / kram otot (setelah imobilisasi) d. angulasi abnormal. Keamanan Tanda : laserasi kulit. Aktivitas atau istirahat Tanda: keterbatasan atau kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera. Pengkajian dilakukan secara langsung dan tidal langsung melalui observasi keadaan umum klien. krepitasi.faraktur itu sendiri atau terjadi secara skunder dari pembengkakan jaringan. Nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan dan imobilitas b. Neurosensori Gejala: Hilang gerakan/ sensasi. perubahan warna pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba) e.2 Diagnosa Keperawatan Menurut carpenitto (2007) diagnosa yang muncul pada pasien dengan fraktur yaitu: a. Angitasi ( mungkin berhubungan dengan nyeri/ ansietas atau trauma lain)./ hilang fungsi. dan perfusi. spasme otot. palpasi. Pada tahap ini semua data atau informasi tentang klien yang dibutuhkan dan dianalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan (Gaffar. avulsi jaringan. nyeri). Penyuluhan atau pembelajaran Gejala: lingkungan cidera. b. 2004). spasme otot. c. pemendekan rotasi. auskultasi. f. Pengkajian pada klien dengan fraktur menurut Doenges (2000) adalah: a. Deficit perawatan diri mandi dan eliminasi yang berhubungan dengan keterbatasan pergerakan sekunder akibat fraktur . Pengkajian adalah dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan. perdarahan. wawancara dengan klien dan keluarga pemeriksaan fisik dari kepala sampai ujung kaki dengan tehnik inspeksi.hipovolemia) penurunan atau tak ada nadi pada bagian yang cidera. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan trauma jaringan sekunder akibat fraktur c. kebas/ kesemuttan Tanda: Deformitas local. Resiko infeksi yang berhubungan dengan alat fiksasi invasive d. terlihat kelemahan.

& Kristiyanasari. Philadhelphia: F. NANDA International. Jitowiyono. tanda dan gejala komplikasi. Jakarta.Davis Company. Diakses tanggal 29 juni 201 Mizan. edisi 8 volume 2. Sue dkk. Yogyakarta Nuha Medika Denny. EGC. Mary F. R & Wim. 2002. Kurang aktifitas pengalih yang berhubungan dengan kejenuhan monoton sekunder akibat alat imobilisasi f.A.tidak tersedianya sistem pendukung g. 1993 Moorhead. hambatan mobilitas fisik. (2005). Tinjauan teori Fraktur collum femur . 2012. Edition 3. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Philadelphia Sjamsuhidajat. Jakarta: EGC . North American Nursing Diagnosis Association.2014. Nursing Diagnosis : Definition and Classification 2012-2014. (2010). W. Asuhan Keperawatan Post Operasi. DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. 2008. Mosby Elsevier. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition. S. Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan program trapeutik yang berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang kondisi. pembatasan aktifitas. Doenges. e. Resiko hambatan pemeliharaan rumah yang berhubungan dengan (contohnya ) alat fiksasi. de J.2014. Nursing Care Plan. Mooerhouse. Diakses tanggal 29 juni 2015 Marilynn E. Instrumentasi Teknik Amp (Austin More Hip Protese) // Orthopaedi.