You are on page 1of 30

TUGAS MAKALAH

STRUKTUR SISTEM STOMATOGNASI
JARINGAN PERIODONTAL GIGI

SEMESTER GENAP
BLOK STRUKTUR SISTEM STOMATOGNASI
TAHUN AKADEMIK 2017-2018

Dosen Pembimbing :

Drg. Dwi Kartika A, M. Kes

Disusun Oleh :
Afif Maulani Al Fattah (NIM : 171610101104)
Adellia Charisma Putri (NIM : 171610101105)
Della Faiqotul Fitri (NIM : 171610101106)
Riska Makrifatul A’Yuni (NIM : 171610101107)
Miladatus Syafiyah (NIM : 171610101108)
Rahmania Puspa Adhani (NIM : 171610101109)
Yohanes Chanditama F. M. (NIM : 171610101110)
Rina Nanda Prasasti (NIM : 171610101111)
Vinny Kartika Alifiana (NIM : 171610101112)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah yang berjudul “Struktur Sistem Stomagtonasi Jaringan Periodontal Pada Gigi” dapat
tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak
yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Serta harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, penulis yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, 17 Maret 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR .................................................................................................2
DAFTAR ISI ................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................5
1.3 Tujuan ....................................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Macam dan struktur Jaringan Periodontal ..............................................................6
2.2 Kelainan Jaringan Periodontal .............................................................................16
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan......................... ......................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................32

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Jaringan periodontal adalah jaringan yang terdapat di sekitar gigi tempat gigi tertanam
dan membentuk lengkungan rahang dengan baik dimana jaringan periodontal terdiri dari
Gingiva,Sementum,Ligamen Periodontal dan Tulang Alveolar. Jaringan periodontal
merupakan sistem fungsional jaringan yang mengelilingi gigi dan melekatkan pada tulang
rahang, dengan demikian dapat mendukung gigi sehingga tidak terlepas dari soketnya.

Jaringan periodontal adalah sistem yang kompleks dan memiliki kepekaan tinggi
terhadap tekanan. Prevalensi untuk penyakit periodontal mendekati 14% pada cakupan usia
yang luas, termasuk anak-anak dan orangtua. Periodontitis dimulai dengan hilangnya tulang
alveolar kemudian pembentukan pocket disekitar gigi, yang pada akhirnya menyebabkan gigi
goyang dan lepas. Pocket periodontal dapat dideteksi dengan sebuah probe periodontal dan
diperkirakan besarnya dengan mengukur jarak dari tepi gusi sampai dasar pocketperiodontal.
Pada jaringan periodontal yang sehat, tidak didapatkan adanya perlekatan epitel yang longgar
atau pembentukan pocket, dan celah gusi dalamnya ± 2 mm. Faktor resiko untuk
penyakit periodontal adalah plak gigi, kalkulus, usia, genetik, dan diabetes.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Struktur dan macam-macam jaringan periodontal ?
2. Apa saja macam-macam kelainan pada jaringan periodontal ?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengkaji dan menguasai macam-macam dan struktur jaringan
periodontal gigi
2. Mahasiswa mampu mengkaji dan menguasai macam-macam kelainan pada
jaringan periodontal

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Macam dan struktur jaringan periodontal

A. Gingiva
Gingiva merupakan bagian dari jaringan periodontal yang melekat pada
prosesus alveolaris dan gigi. Fungsi gingiva adalah melindungi akar gigi, selaput
periodontal dan tulang alveolar terhadap rangsangan dari luar, khususnya dari bakteri-
bakteri dalam mulut (Itjiningsih, 1995).

Tanda-tanda gingiva yang normal yaitu :

1. Berwarna merah muda atau merah salmon , warna ini tergantung dari derajat
vaskularisasi, ketebalan epitel, derajat keratinisasi dan konsentrasi pigmen
melanin.

2. Konturnya berlekuk, berkerut-kerut seperti kulit jeruk dan licin.

3. Konsistensinya kuat dan kenyal, melekat pada struktur dibawahnya.

4. Melekat dengan gigi dan tulang alveolar.

5. Ketebalan free gingiva 0,5-1,0 mm, menutupi leher gigi dan meluas menjadi
papilla interdental.

6. Sulkus gingiva tidak ≥2 mm

7. Tidak mudah berdarah.

8. Tidak oedem.

9. Tidak ada eksudat.

10. Ukuran tergantung dengan elemen seluler, interseluler dan suplai vaskuler

6
Gambaran mikroskopik gingiva

Tepi gingiva terdiri dari jaringan ikat fibrous, terbungkus oleh epitel squamous komplek.

Karakteristik dari lapisan epitel squamous :

1. Lapisan basal atau sel formatif terdiri dari sel kolumner dan kuboid.

2. Lapisan spinosum (stratum spinosum) atau sel-sel runcing terdiri dari sel-sel
berbentuk poligonal.

3. Lapisan granuler (stratum granulosum) sel-selnya tersebar terdiri dari banyak partikel
keratohialin.

4. Lapisan tanduk (stratum corneum) sel-selnya pipih dan berkeratin ataupun
berparakeratin.

Vaskularisasi, aliran limfatik, dan innervasi gingiva Pembuluh darah arteri mencapai
gingiva melalui 3 jalan yang berbeda:

1) Cabang arteri alveolar

2) Cabang arteri intraseptal masuk daerah Krista procesus alveolar.

3) Pembuluh-pembuluh darah pada ligamen periodontal bercabang keluar kearah daerah
gingiva

B. Sementum
Sementum adalah jaringan mesenkim terkalsifikasi menyerupai tulang yang terdapat
pada lapisan terluar akar gigi. Sementum terdeposisi pada permukaan akar gigi secara
perlahan sepanjang hidup kita. Pada daerah setengah koronal, tebal sementum berkisar
antara 16-60 μm sedangkan pada sepertiga apikal berkisar antara 150-200 μm Deposisi
sementum pada daerah apikal mengimbangi hilangnya struktur gigi pada permukaan
oklusal karena atrisi. Fungsi dari sementum adalah:

a. anchorage gigi ke tulang alveolar melalui ligamentum periodontal

b. menjaga hubungan oklusal

7
c. menjaga lebar ligamentum periodontal apeks
d. repair fraktur akar e. proteksi tubuli dentinalis
f. penyumbatan foramen apikal dan assesoria setelah perawatan saluran akar.
Sementum berasal dari sel mesenkimal folikel gigi yang berkembang menjadi
sementoblas. Sementoblas menimbun suatu matriks, disebut sementoid, yang
mengalami pertambahan pengapuran dan menghasilkan 2 jenis sementum: aselular
dan selular. Secara kronologis sementum aselular pertama-tama ditimbun pada dentin
membentuk pertemuan sementum-dentin, dan biasanya menutupi sepertiga servikal
dan sepertiga tengah akar. Sementum selular biasanya ditumpuk pada sementum
aselular pada sepertiga apikal akar dan bergantian dengan lapisan sementum aselular.
Sementum selular ditumpuk pada kecepatan yang lebih besar daripada sementum
aselular dan dengan demikian menjebak sementoblas di dalam matriks. Sel-sel yang
terjebak ini disebut sementosit. Sementosit terletak pada kripta sementum dan dikenal
sebagai lakuna. Dari lakuna, kanal-kanal, disebut kanalikuli, yang berisi perpanjangan
protoplasmik sementosit dan berfungsi sebagai jalan mengangkut nutrien ke
sementosit, menjalin dengan kanalikuli lain dari lakuna lain untuk membentuk suatu
sistem yang dapat dipersamakan dengan sistem Havers tulang. Oleh sebab sementum
adalah avaskular, nutrisinya berasal dari ligamen periodontal. Karena lapisan
inkremental sementum ditumpuk, ligamen periodontal dapat berpindah tempat lebih
jauh, dan akibatnya beberapa sementosit mungkin mati dan meninggalkan lakuna
kosong. Sementum terdeposisi pada akar gigi secara terus-menerus sepanjang hidup
kits, kecuali terdapat kondisi patologis dari jaringan periapikal atau periodontal.
Berbeda dengan dentin, komposisi mineral sementum tidak berubah secara signifikan
dengan bertambahnya umur. Pada gigi yang tidak berfungsi atau gigi impaksi,
biasanya sementum tampak lebih tipis dibandingkan gigi yang berfungsi dan tampak
terdapat perbedaan struktur. Pada sementum gigi impaksi, serabut Sharpey hampir
tidak ada dan sementum terdiri terutama oleh serabut-serabut intrinsik yang tersusun
paralel dengan permukaan akar gigi. Baik sementum selu ler mau pun aseluler bersifat
sangat permeabel. Permeabilitas sementum akan menurun dengan bertambahnya
umur. Sel-sel yang terdapat pada sementum:

a. sementoblas Sementoblas pada awalnya berasal dari sel-sel ektomesenkimal yang
terdapat pada follicle gigi. Kemudian pada akhirnya, sementoblas dapat berasal
dari sel-sel ligamen periodontal yang tidak berdiferensiasi. Secara morfologi,

8
sementoblas sama dengan fibroblas namun sementoblas terletak dekat permukaan
sementum dan seringkali tampak perpanjangan processus sitoplasmik pada
sementum. Sementoblas memproduksi serabut kolagen intrinsik dan substansi
dasar yang bersama-sama dengan serabut kolagen ekstrinsik membentuk
sementum

b. sementosit Selama periode sementogenesis, sementoblas dapat terperangkap
dalam lakuna sebagai sementosit. Pada sementosit tampak pengurangan volume
sitoplasmik dan berkurangnya jumlah organela sitoplasmik yang merupakan
gambaran berkurangnya aktivitas metabolik.

c. fibroblas ligamen periodontal Walaupun secara teknis sel ini merupakan penyusun
ligamentum periodontal, namun set ini juga memproduksi serabut kolagen yang
akan mengalami mineralisasi dan akan menjadi bagian dari sementum. Dengan
demikian, fibroblas ligamen periodontal berperan dalam sementogenesis.

d. Sementoklas Merupakan sel raksasa dengan inti lebih dari satu (multinucleated
giant cell) yang berperan aktif dalam resorpsi sementum. Sel ini tidak dapat
dibedakan dengan osteoklas.

C. Ligamen Periodontal

Ligament periodontal adalah suatu jaringan konektif, padat dan berserabut yang
menempati ruang di antara sementum dan tulang alveolar. Mengelilingi leher dan akar gigi
serta berkesinambungan dengan pulpa dan gusi. Ligament periodontal tersusun dari substansi
dasar, jaringan instertisial, pembuluh darah dan limfa, saraf, sel-sel dan bundle serabut.

Serat-serat:

a) transeptal: membentang dari sementum gigi satu ke sementum gigi lainnya.

b) serat alveolar crest mebentang secara oblique dari sementum dibawah CEJ ke alveolar
crest. Serat alveolar crest mencegah ekstrusi gigi dan menahan pergerakan gigi ke
arah lateral

c) c) 10-15%. Membentuk sudut siku-siku dengan garis vertikal;

9
d) 80-85%. Lebih apikal pada sisi yang melekat di sementum. Menahan beban vertikal
pengunyahan yang menjadi tekanan tulang alveolar

e) Apikal: tersebar daris sementum hingga apikal soket.

f) Interradicular: menyebar dari sementum di daerah furkasi pada akar ganda

Sel-sel aktif ligamen periodontal adalah fibroblas, osteoblas, dan sementoblas.
Fibroblas adalah sel-sel membentuk kumparan dengan nuklei oval dan prosesus sitoplasmik
yang panjang. Biasanya sejajar dengan serabut kolagen, dengan prosesusnya terbungkus di
sekitar bundel serabut. Fibroblas mensintesis kolagen dan matriks dan terlibat dalam degradasi
kolagen untuk pengubahan bentuknya. Hasilnya adalah suatu pengubahan bentuk serabut
utama yang konstan dan pemeliharaan suatu ligamen periodontal yang sehat. Karena fungsi
yang penting ini, maka fibroblas merupakn sel-sel ligamen periodontal yang paling penting.

Sel-sel yang terdapat pada ligamentum periodontal antara lain:
a. Fibroblas
Fibroblas adalah sel-sel berbentuk kumparan dengan nuklei oval dan prosesus
sitoplasmik yang panjang. Biasanya sejajar dengan serabut kolagen, dengan
prosesusnya terbungkus di sekitar bundel serabut. Fibroblas mensintesis kolagen dan
matriks dan terlibat dalam degradasi kolagen untuk pengubahan bentuknya. Hasilnya
adalah suatu pengubahan bentuk serabut utama yang konstan dan pemeliharaan suatu
ligamen periodontal yang sehat.
b. Sementoblas
Sementoblas terletak di garis pinggir ligamen periodontal berhadapan dengan
sementum. Sementoblas, dengan prosesus sitoplasmik, terlihat kuboidal bila pada
suatu lapisan tunggal, atau skuamous bila lebih dari satu lapisan.

c. Sementoklas
Sel ini tidak ditemukan pada ligamentum periodontal normal, karena pada
umumnya sementum tidak mengubah bentuk dan hanya ditemukan pada pasien
dengan kondisi patologik tertentu.
d. Osteoblas
Osteoblas ditemukan di pinggir ligamen periodontal melapisi soket tulang.
Biasanya terlihat dalam berbagai tingkat diferensiasi. Fungsi osteoblas adalah deposisi

10
kolagen dan matriks yang ditumpuk pada permukaan tulang dimana terikat serabut
Sharpey. Kalsifikasi osteoid menjangkar serabut-serabut Sharpey. Pengubahan bentuk
tulang yang konstan memberikan pembaharuan ikatan ligamen periodontal pada
tulang secara terus-menerus.
e. Osteokias
Sel ini ditemukan di pinggir tulang pada masa pengubahan bentuk tulang.
f. Sisa sel epitel Malassez
Sisa sel epitel Malassez adalah sisa selubung akar epitelial Hertwig. Sel-sel ini
berlokasi pada sisi sementum ligamentum periodontal. Fungsinya tidak diketahui,
tetapi dapat berkembang biak untuk membentuk kista pada stimuli noksius.
g. Sel mast
Sel-sel mast ditemukan dekat pembuluh darah, adalah sel-sel besar, bulat/oval
dengan nuklei bulat yang terletak di tengah. Sitoplasmanya mempunyai banyak
granula merah yang dapat mengaburkan nuklei. Granula ini mengandung heparin,
koagulan darah dan histamin, yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler.
Histamin, yang dilepaskan melalui degranulasi sel mast yang disebabkan oleh reaksi
inflamasi akut, mengerutkan sel endotelial pada dinding pembuluh yang
menghasilkan ruang interselular dan permeabilitas vaskular.
h. Sel makrofag
Sel ini dijumpai di dekat pembuluh darah. Fungsi makrofag adalah
memfagositosis debris selular dan benda asing.
i. Sel-sel endothelial

D. Tulang Alveolar
Tulang alveolar adalah bagian tulang rahang yang menyangga gigi
sehingga membentuk prosesus alveolaris. Dan berkembang bersamaan dengan
erupsinya gigi geligi dan akan mengalami resorpsi ketika gigi tanggal. Prosesus
alveolar terbagi menjadi dua yaitu tulang alveolar sebenarnya (Alveolar proper
bone) dan tulang alveolar pendukung (Alveolar supporting bone).
A. Tulang Alveolar Sebenarnya (Alveolar proper bone)
Tulang alveolar yang sebenarnya adalah tulang yang membatasi
alveolus atau soket tulang yang berisi akar gigi. Tulang alveolar yang
sebenarnya adalah bagian dari jaringan periradikula.

11
Tulang alveolar yang sebenarnya terdiri dari bundel tulang di tepi
alveoli dan tulang yang berlamela ke arah pusat prosesus alveolar.
Gambaran radiografik tulang alveolar sebenarnya disebut lamina dura.
Tulang alveolar yang sebenarnya dapat juga disebut sebagai plat kribriform.
Istilah ini timbul karena banyaknya foramina yang melubangi tulang.
Foramina ini berisi pembuluh darah dan saraf yang mensuplai gigi – gigi,
ligamen periodontal, dan tulang.

B. Tulang Alveolar Pendukung (Alveolar supporting bone)

Tulang alveolar pendukung adalah tulang yang mengelilingi tulang
alveolar sebenarnya dan merupakan penyokong dari soket. Tulang
alveolar pendukung terdiri atas 2 bagian yaitu :

1. Keping Kortikal Eksternal.

Dibentuk oleh tulang Havers dan lamella tulang kompak yang terdapat di
dalam dan luar lempeng pada prosesus alveolar. Keping kortikal ini lebih
tipis di maksila dibandingkan di mandibula. Dan lebih tebal dibagian
molar serta premolar pada regio mandibula.Keping kortikal eksternal berjalan
miring ke arah koronal untuk bergabung dengan tulang alveolar sebenarnya

dan membentuk dinding alveolar dengan ketebalan sekitar 0,1 – 0,4 mm.

12
2. Tulang Spons (Tulang kanselus).

Inilah tulang yang mengisi ruang antara tulang kompak dan tulang alveolar
sebenarnya. Septum interdental terdiri dari tulang spons yang mendukung
tulang dan menutupi bagian dalam dari tulang kompak.

Struktur Tulang Alveolar

Tulang alveolar adalah jaringan ikat yang termineralisasi yang terdiri atas :

a. Matrik tulang

Komponen Berat Volume

Organik 25% 36%

Anorganik 60% 36%

Air 15% 28%

1. Non-organik

Kalsium dan fosfor ditemukan lebih banyak daripada bikarbonat, sitrat,
magnesium, potassium, dan sodium. Bentuk mineralnya adalah
Hidroksiapatit [Ca10 (PO4)6(OH)2] berbentuk seperti jarum kristalit atau
lempengan tipis yang tebalnya 8 nm dan panjangnya bervariasi.

2. Organik

13
90% komponen material organik tampak sebagai kolagen tipe 1.
Substansi dasar mengandung proteoglikan dan sejumlah kecil protein lain
seperti osteoklasin, osteonektin, dan osteopontin.

b. Sel tulang

Sama seperti tulang pada umumnya, tulang alveolar juga mengandung sel-sel :

1. Osteoblas

2. Osteosit

3. Osteoklas

4. Sel osteoprogenitor

5. Lapisan sel tulang

Pada histologi dasar, terdapat dua macam tulang yaitu : tulang kanselus
dan tulang padat. Tulang alveolar sebenarnya merupakan modifikasi dari
tulang padat yang mengandung lubang serat (Sharpey’s). Serat serat kolagen
ini menembus tulang alveolar sebenarnya pada sudut atau miring
ke permukaan sumbu panjang gigi. Ini merupakan sarana penghubung bagi
ligamen periodontal pada gigi. Ikatan serat yang berasal dari tulang ini jauh
lebih besar dibandingkan ikatan serat yang ada di sementum.

Karena tulang pada prosesus alveolar biasanya ditembus oleh
ikatan kolagen sehingga disebut ikatan tulang atau tulang alveolar
sebenarnya. Lamina dura tampak lebih padat daripada tulang pendukung di
sampingnya, tetapi kepadatannya di radiografi mungkin karena orientasi
mineral disekitar ikatan serat dan kurangnya nutrisi pada kanal tersebut.Tidak
semua tulang alveolar sebenarnya tampak seperti ikatan tulang. Kadang –
kadang, tidak ada lubang serat yang jelas pada lapisan tulang soket. Secara
konstan, tulang pendukung melalui modifikasi dalam adaptasi pergerakan gigi
minor sehingga serat mungkin bisa hilang atau digantikan dari waktu ke waktu
di beberapa daerah akar.

14
C. Tulang Alveolar Pendukung
1. Tulang Kortikal
Tulang kortikal (padat) menutupi tulang spons dan dibentuk oleh
tulang berlamela. Tulang berlamela ini memiliki lakuna yang
tersusun dalam lingkaran konsentrik disekeliling kanal sentral disebut sistem
Havers. Tulang kortikal bergabung dengan tulang alveolar yang
sebenarnya membentuk krista alveolar (crest alveolar) disekeliling leher
gigi. Pada septum interdental terdapat lubang kanal of Zukerkandl dan pada
septum interradikular terdapat kanal of hirschfel, tempat arteri
interdental dan interradikular, vena, pembuluh getah bening, dan saraf.
2. Tulang Spons
Pada tulang spons, lamela tersusun satu sama lain membentuk
trabekula dengan ketebalan 50 µm. Di dalam tulang spons dijumpai kanal
nutrient. Kanal kanal ini berisi pembuluh – pembuluh dan saraf – saraf.
Jumlah tulang spons bervariasi di antara rahang atas dan rahang bawah dan
tergantung pada lebar prosesus alveolar serta ukuran dan bentuk akar gigi.

Secara radiografis, tulang spons terbagi menjadi dua tipe :
1. Tipe I
Interdental dan interradikular trabekula tersusun teratur dan
horizontal seperti susunan tangga. Biasanya terlihat di mandibula dan
menunjukkan bentuk lintasan pada tulang spons.
2. Tipe II
Menunjukkan susunan yang tidak beraturan, banyak, serta
interdental yang halus dan interradikular trabekula. Tidak memiliki pola
lintasan yang berbeda. Susunan ini seringkali ditemukan di maksila.
Tulang spons terdiri dari osteosit di interior dan osteoblas atau
osteoklas di permukaan trabekula. Di antara tulang penopang yang
menyambungkan antara tulang alveolar sebenarnya dan tulang kortikal adalah
rongga sumsum yang berisi sel osteogenik, jaringan adiposa, sel darah yang
matang dan belum matang. Pada orang dewasa, sumsum pada rahang bawah
dan rahang atas biasanya berlemak, tetapi jaringan hematopoietik
ditemukan pada tempat tertentuk misalnya daerah gigi molar rahang
atas, daerah periradikular gigi premolar.

15
D. Fisiologi tulang alveolar
Prosesus alveolar terdiri dari tulang yang dibentuk dari
folikel gigi (alveolar bone proper) dan sel sel lain yang independen pada
pertumbuhan gigi. Fungsi utama dari tulang alveolar adalah mendistribusikan
serta sebagai kekuatan penyangga gigi yang ditimbulkan, contohnya
pengunyahan makanan serta kontak gigi lain.

Fungsi tulang alveolar secara umum antara lain :

1. Membentuk tulang soket untuk menahan akar tulang sama halnya dengan
menempelnya dengan ligamen periodontal.

2. Tempat menempelnya otot.

3. Membentuk kerangka sumsum tulang.

4. Bertindak sebagai penyimpanan ion (khususnya kalsium).

5. Komponen biologi yang terpenting adalah plastisi, memungkinkan
penyesuaian bentuk sesuai tuntutan fungsional. Komponen ini sangat
penting untuk pergerakan gigi orthodontik.

Pada tulang alveolar sebenarnya, osteosit dalam tulang yang mengapur
terletak dalam ruang oval yang disebut lakuna, yang saling berhubungan
dengan kanakuli. Sistem kanal inilah yang membawa nutrien ke dalam
osteoid dan membuang hasil metabolik yang tidak berguna.

Di tulang alveolar pendukung, pada tulang spons juga ditemukan kanal
nutrien. Kanal ini berisi pembuluh – pembuluh dan saraf – saraf. Kanal ini
biasanya berakhir pada krista alveolar pada foramina kecil kecil. Melalui
foramina inilah pembuluh dan saraf masuk ke gingiva.

2.2 Kelainan pada jaringan periodontal
Permulaan terjadinya kerusakan biasanya timbul pada saat plak bacterial
terbentuk pada mahkota gigi, meluas disekitarnya dan menerobos sulkus gingiva yang
nantinya akan merusak gingiva disekitarnya. Plak menghasilkan sejumlah zat yang
secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam perkembangan penyakit periodontal.

16
Peradangan pada gingiva dan perkembangannya pada bagian tepi permukaan gigi terjadi
ketika koloni mikroorganisme berkembang.
Penyakit periodontal dibagi atas dua golongan yaitu gingivitis dan periodontitis.
Bentuk penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah proses inflamasi dan
mempengaruhi jaringan lunak yang mengelilingi gigi tanpa adanya kerusakan tulang,
keadaan ini dikenal dengan Gingivitis. Apabila penyakit gingiva tidak ditanggulangi
sedini mungkin maka proses penyakit akan terus berkembang mempengaruhi tulang
alveolar, ligamen periodontal atau sementum, keadaan ini disebut dengan Periodontitis.
Massler menyatakan bahwa gingivitis merupakan fenomena bifase. Pada
anakanak bersifat akut, sementara dan cenderung mengenai papila, sedangkan pada
orang dewasa bersifat kronis dan progresif. Hal ini sesuai dengan pengamatan klinis dari
Zappler yang melihat bahwa reaksi jaringan gingiva anak-anak terhadap gingivitis lebih
cepat dan jelas bila dibandingkan dengan orang dewasa. Cohen dan Goldman melihat
kecendrungan terjadinya hiperplasia papila.
Zappler dalam membandingkan struktur periodontal anak-anak dan dewasa telah
menyebutkan gambaran histologi jaringan periodontium anak-anak sebagai berikut :
A. Gingiva
1. Lebih merah karena lapisan epitel yang tipis, zat tanduknya sedikit dan
adanya vaskularisasi pembuluh darah yang banyak.
2. Kurangnya stippling karena papila jaringan ikat dari lamina propria lebih
pendek dan lebih datar
3. Konsistensinya lunak karena kurang padatnya jaringan ikat dari lamina
propria.
4. Sulkusnya relatif dalam.
5. Tepi-tepi menggumpal dan membulat dihubungkan dengan adanya hiperami
dan edema yang disebabkan proses erupsi gigi.

B. Semnentum
1. Lebih tipis, kurang padat
2. Cenderung terjadi hiperplasia sementum pada bagian apikal dan epitel
attachment.

17
C. Ligamen Periodontal
1. Ruang ligamen periodontal lebih lebar
2. Serat-seratnya kurang padat dan jumlah seratnya kurang ditiap daerah
3. Terdapatnya pertambahan cairan jaringan yaitu aliran darah dan cairan getah
bening

D. Tulang Alveolar
1. Lamina dura lebih tipis. Trabekula lebih sedikit.
2. Ruang sumsum lebih besar. Derajat kalsifikasi yang lebih rendah
3. Bertambahnya aliran darah dan cairan getah bening

Macam-macam dari penyakit periodontal antara lain :

1. Gingivitis
Prevalensi gingivitis pada anak usia 3 tahun dibawah 5 %, pada usia 6 tahun 50 % dan
angka tertinggi yaitu 90 % pada anak usia 11 tahun. Sedangkan anak usia diantara 11-17
tahun mengalami sedikit penurunan yaitu 80- 90 %. Gingivitis biasanya terjadi pada anak saat
gigi erupsi gigi sulung maupun gigi tetap dan menyebabkan rasa sakit. Pada anak usia 6-7
tahun saat gigi permanen sedang erupsi, gingival marginnya tidak terlindungi oleh kontur
mahkota gigi. Keadaan ini menyebabkan sisa makanan masuk ke dalam gingiva dan
menyebabkan peradangan.
Terjadi inflamasi gingiva tanpa adanya kehilangan tulang atau perlekatan jaringan
ikat. Tanda pertama dari inflamasi adanya hiperamie, warna gingiva berubah dari merah
muda menjadi merah tua, disebabkan dilatasi kapiler, sehingga jaringan lunak karena banyak
mengandung darah. Gingiva menjadi besar (membengkak), licin, berkilat dan keras,
perdarahan gingiva spontan atau bila dilakukan probing, gingiva sensitif, gatalgatal dan
terbentuknya saku periodontal akibat rusaknya jaringan kolagen. Muncul perlahan-lahan
dalam jangka lama dan tidak terasa nyeri kecuali ada komplikasi dengan keadaan akut. Bila
peradangan ini dibiarkan dapat berlanjut menjadi periodontitis.

2. Periodontitis
Periodontitis merupakan suatu penyakit jaringan penyangga gigi yaitu yang
melibatkan gingiva, ligamen periodontal, sementum, dan tulang alveolar karena suatu proses

18
inflamasi. Inflamasi berasal dari gingiva (gingivitis) yang tidak dirawat, dan bila proses
berlanjut maka akan menginvasi struktur di bawahnya sehingga akan terbentuk poket yang
menyebabkan peradangan berlanjut dan merusak tulang serta jaringan penyangga gigi.
Karekteristik periodontitis dapat dilihat dengan adanya inflamasi gingiva, pembentukan poket
periodontal, kerusakan ligamen periodontal dan tulang alveolar sampai hilangnya sebagian
atau seluruh gigi.
Periodontitis umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm yang
mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat pada permukaan
gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang menyebabkan gingivitis dan
periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas garis gingiva. Bakteri dan produknya dapat
menyebar ke bawah gingiva sehingga terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis.

Inflamasi gingival ditandai dengan ciri gingiva biasanya sedikit bengkak hingga menengah
dan memperlihatkan perubahan warna berkisar dari merah ke warna merah kebiruan.
Kehilangan stippling pada gingival dan perubahan permukaan topografi mungkin termasuk
margin gingival yang kasar atau margin gingival yang tergulung dan papilla yang rata atau
berkawah dan perdarahan gingival yang spontan.

A. Poket periodontal

Poket periodontal merupakan suatu pendalaman sulkus gingiva dengan migrasi apikal
dari junctional epithelium dan rusaknya ligamen periodontal serta tulang alveolar.
Pembesaran gingiva juga berperan dalam meningkatkan kedalaman poket .
Ada dua tipe poket periodontal yang didasarkan pada hubungan antara epitelium junction
dengan tulang alveolar. :
1. Poket periodontal suprabony yaitu dasar poket merupakan bagian koronal dari puncak
tulang alveolar.
2. Poket periodontal infrabony yaitu dasar poket merupakan bagian apikal dari puncak
tulang alveolar.

19
Proses terjadinya periodontitis :
1. Lesi tingkat awal :
Lesi awal terlihat dimulai dengan karakteristik permulaan lesi dalam jumlah
yang besar, munculnya sel-sel limfoit di bawah junctional epithelium dimana ada
konsentrasi akut, perubahan fibroblas, serabut-serabut kolagen gingiva mengalami
kerusakan yang lebih parah, dan proliferasi awal sel-sel basal pada junctional
epithelium.
2. Lesi yang telah terbentuk :
Dengan adanya lesi yang telah terbentuk manifestasi inflamasi akut akan
bertahan. didominasi oleh sel-sel plasma.akumulasi immunoglobulin di bagian
ekstravaskular. kerusakan serabut-serabut kolagen terus berlanjut; proliferasi, migrasi
apikal dan terlihat perluasan junctional epithelium ke lateral dan ada kemungkinan
pembentukan poket periodontal awal, tetapi tidak terjadi kerusakan tulang yang cukup
besar.
3. Lesi tingkat lanjut :
Lesi tingkat lanjut adalah tipikal dari periodontitis dan mempunyai
karakteristik sebagai kelanjutan dari gambaran lesi yang telah terbentuk, penyebaran
lesi ke dalam tulang alveolar dan ligamen periodontal yang mengakibatkan kerusakan
tulang, hilangnya serabut-serabut kolagen yang berdekatan dengan poket epithelium,
fibrosis pada daerah yang lebih periferal, adanya sel-sel plasma yang telah berubah,
pembentukan poket periodontal, periode eksaserbasi dan periode aktifitas patologis
yang sangat kecil, perubahan sumsum tulang menjadi jaringan fibrous, dan secara
umum terlihat adanya reaksi jaringan inflamasi dan immunopatologis.

20
Gejala terjadi periodontitis
Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda
yang dapat diperhatikan adalah :
- Gusi berdarah saat menyikat gigi.
- Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak.
- Terlihat adanya bagian gingiva yang turun dan menjauhi gigi.
- Terdapat nanah di antara gigi dan gusi.
- Gigi goyang.

Macam-macam dari periodontitis :
1. Generalized Juvenile Periodontitis.
Menyerang seluruh gigi atau sebagian besar dari gigi yang ada. Tipe juvenile ini
mempunyai hubungan dengan gangguan sistemik.

Kelainan sistemik yang ada kaitannya adalah :
a. Papillon - Lefevre Syndrome.
Sindrom ini ditandai hiperkeratosis dan ikhtiosis pada kulit siku, lutut, telapak
tangan dan telapak kaki serta penyakit periodontal destruksi yang parah.
Perubahan pada kulit dan jaringan periodonsium tampak bersamaan sebelum usia
pasien mencapai 4 tahun. Lesi periodontal dimulai dengan keradangan dini pada
gingiva dan diikuti oleh kehilangan tulang dan lepasnya gigi. Penderita kehilangan
gigi sulung pada usia 5 - 6 tahun. Gigi permanen tumbuh normal, kemudian
mengalami penyakit periodontal yang distruktif dan gigi lepas. Pada usia 15 tahun
penderita sudah tidak mempunyai gigi lagi kecuali M3. Gigi inipun dalam beberapa
tahun juga lepas. Luka bekas pencabutan sembuh dengan baik. Pasien dengan lesi
kulit sama dengan Papillon Lefevre Syndrome tetapi tanpa kerusakan periodontal di
diagnosa sebagai menderita penyakit Meleda.
b. Down's Syndrome (Mongolism)
Merupakan penyakit Congenital (bawaan) ditandai dengan kurang
berkembangnya mental dan kurang pertumbuhan fisik. Penyakit periodontal pada
Down's Syndrome biasanya mengenai seluruh gigi yang ada, berkembang sangat
cepat. Sering pula dijumpai ANUG. Prevalensi penyakit sangat tinggi, 100% pada

21
usia 30 tahun. Belum ada penjelasan yang tepat mengenai perkembangan yang cepat
dan prevalensi yang tinggi dari penyakit periodontal.Kemungkinan beberapa faktor
berperan memudahkan terjadinya kelainan periodontal yaitu berkurangnya resistensi
terhadap infeksi oleh karena jeleknya sirkulasi darah terminal termasuk gingiva dan
berkurangnya fungsi fagositosis.
2. Prepubertal Periodontitis.
Terjadi kerusakan periodontal lanjut pada anak-anak dan tidak jelas penyakit
sistemiknya. Kasus ini jarang terjadi, penyakit dimulai pada waktu gigi sulung erupsi.
Ditemukan keradangan akut yang mencolok, jaringan gingiva ploriferasi dan
kerusakan tulang yang cepat. Ditemukan defek pada netrofil dan monosit pada daerah
perifer dan tidak adanya netrofil pada jaringan gingiva semua gigi sulung terkena gigi
permanen kadang-kadang terkena, mereka juga menderita infeksi saluran respirasi.
Bentuk lokal dari prepubertal periodontitis hanya mengenai beberapa gigi, dengan
keradangan ringan dan kehilangan tulang lambat. Respon baik terhadap perawatan
konvensional. Gigi permanen tidak kena.
3. Localized Juvenile Periodontitis
Terjadi pada usia antara masa pubertas dan 25 tahun, mengenai laki-laki dan
perempuan. Distribusi klasik pada M1 dan I yang paling jarang terkena adalah C dan
P. Tiga tipe kehilangan tulang yaitu :
a. M dan / atau I
b. M, I, dan beberapa gigi tambahan (total kurang dari 14 gigi)
c. Seluruh gigi terkena.
Kerusakan tulang sering terjadi bilateral simetris.

Tanda Klinis
Pada Juvenile Periodontitis dini tidak tampak keradangan klinis pada poket
periodontal yang dalam.Terlihat ada sedikit plak, membentuk sedikit film tipis pada
gigi dan jarang mengalami mineralisasi menjadi karang gigi. Gejala pertama yang
paling umum adalah gigi goyang dan migrasi gigi M1 dan. I. Migrasi pada I rahang
atas dan jarang pada rahang bawah. Pada stadium lebih lanjut dapat terjadi abses
periodontal.
Juvenile Periodontitis berkembang sangat cepat. Kehilangan tulang 3 - 4 kali lebih
cepat dari pada periodontitis marginalis,. Kerusakan tulang berlanjut sampai gigi
dirawat, lepas atau dicabut. Penyakit ini tidak secara konsisten menyebar pada gigi

22
yang lain. Dua bakteri yang diduga patogen pada Juvenile Periodontitis adalah A
actinomycetemeomitan dan Capnocytophaga.

Gambar 2. Atas : (♀, 13 thn) periodontitis juvenile.
Secara klinis ditandai dengan Bawah gambaran rontgen menunjukkan kerusakan
tulang di regio molar (tanda panah)

Faktor-faktor penyebab kelainan pada jaringan periodontal
Faktor penyebab penyakit periodontal dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor
lokal (ekstrinsik) dan faktor sistemik (intrinsik). Faktor lokal merupakan penyebab yang
berada pada lingkungan disekitar gigi, sedangkan faktor sistemik dihubungkan dengan
metabolisme dan kesehatan umum. Kerusakan tulang dalam penyakit periodontal terutama
disebabkan oleh faktor
lokal yaitu inflamasi gingiva dan trauma dari oklusi atau gabungan keduanya. Kerusakan
yang disebabkan oleh inflamasi gingiva mengakibatkan pengurangan ketinggian tulang
alveolar, sedangkan trauma dari oklusi menyebabkan hilangnya tulang alveolar pada sisi
permukaan akar.

23
A. Faktor Lokal

1. Plak Bakteri
Plak bakteri merupakan suatu massa hasil pertumbuhan mikroba yang melekat erat pada
permukaan gigi dan gingiva bila seseorang mengabaikan kebersihan mulut. Berdasarkan letak
huniannya, plak dibagi atas supra gingival yang berada disekitar tepi gingival dan plak sub-
gingiva yang berada apikal dari dasar gingival. Bakteri yang terkandung dalam plak di daerah
sulkus gingiva mempermudah kerusakan jaringan. Hampir semua penyakit periodontal
berhubungan dengan plak bakteri dan telah terbukti bahwa plak bakteri bersifat toksik.
Bakteri dapat menyebabkan penyakit periodontal secara tidak langsung dengan jalan :
1. Meniadakan mekanisme pertahanan tubuh.
2. Mengurangi pertahanan jaringan tubuh
3. Menggerakkan proses immuno patologi.
Meskipun penumpukan plak bakteri merupakan penyebab utama terjadinya gingivitis,
akan tetapi masih banyak faktor lain sebagai penyebabnya yang merupakan multifaktor,
meliputi interaksi antara mikroorganisme pada jaringan periodontal dan kapasitas daya tahan
tubuh.

2. Kalkulus
Kalkulus terdiri dari plak bakteri dan merupakan suatu massa yang mengalami
pengapuran, terbentuk pada permukaan gigi secara alamiah. Kalkulus merupakan pendukung
penyebab terjadinya gingivitis (dapat dilihat bahwa inflamasi terjadi karena penumpukan sisa
makanan yang berlebihan) dan lebih banyak terjadi pada orang dewasa, kalkulus bukan
penyebab utama terjadinya penyakit periodontal. Faktor penyebab timbulnya gingivitis
adalah plak bakteri yang tidak bermineral, melekat pada permukaan kalkulus, mempengaruhi
gingiva secara tidak langsung.

3. Impaksi makanan
Impaksi makanan (tekanan akibat penumpukan sisa makanan) merupakan keadaan awal
yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit periodontal. Gigi yang berjejal atau miring
merupakan tempat penumpukan sisa makanan dan juga tempat terbentuknya plak, sedangkan
gigi dengan oklusi yang baik mempunyai daya self cleansing yang tinggi. Tanda-tanda yang
berhubungan dengan terjadinya impaksi makanan yaitu :

24
a. perasaan tertekan pada daerah proksimal
b. rasa sakit yang sangat dan tidak menentu
c. inflamasi gingiva dengan perdarahan dan daerah yang terlibat sering berbau.
d. resesi gingiva
e. pembentukan abses periodontal menyebabkan gigi dapat bergerak dari soketnya, sehingga
terjadinya kontak prematur saat berfungsi dan sensitif terhadap perkusi.
f. kerusakan tulang alveolar dan karies pada akar

4. Pernafasan Mulut
Kebiasaan bernafas melalui mulut merupakan salah satu kebiasaan buruk. Hal ini sering
dijumpai secara permanen atau sementara. Permanen misalnya pada anak dengan kelainan
saluran pernafasan, bibir maupun rahang, juga karena kebiasaan membuka mulut terlalu
lama. Sementara misal pasien penderita pilek dan pada beberapa anak yang gigi depan atas
protrusi sehingga mengalami kesulitan menutup bibir. Keadaan ini menyebabkan viskositas
(kekentalan) saliva akan bertambah pada permukaan gingiva maupun permukaan gigi, aliran
saliva berkurang, populasi bakteri bertambah banyak, lidah dan palatum menjadi kering dan
akhirnya memudahkan terjadinya penyakit periodontal.

5. Sifat fisik makanan
Sifat fisik makanan merupakan hal yang penting karena makanan yang bersifat lunak
seperti bubur atau campuran semiliquid membutuhkan sedikit pengunyahan, menyebabkan
debris lebih mudah melekat disekitar gigi dan bisa berfungsi sebagai sarang bakteri serta
memudahkan pembentukan karang gigi. Makanan yang mempunyai sifat fisik keras dan kaku
dapat juga menjadi massa yang sangat lengket bila bercampur dengan ludah. Makanan yang
demikian tidak
dikunyah secara biasa tetapi dikulum di dalam mulut sampai lunak bercampur dengan ludah
atau makanan cair, penumpukan makanan ini akan memudahkan terjadinya penyakit.
Makanan yang baik untuk gigi dan mulut adalah yang mempunyai sifat self cleansing dan
berserat yaitu makanan yang dapat membersihkan gigi dan jaringan mulut secara lebih
efektif, misalnya sayuran mentah yang segar, buah-buahan dan ikan yang sifatnya tidak
melekat pada permukaan gigi.

6. Iatrogenik Dentistry
25
Iatrogenik Dentistry merupakan iritasi yang ditimbulkan karena pekerjaan dokter gigi
yang tidak hati-hati dan adekuat sewaktu melakukan perawatan pada gigi dan jaringan
sekitarnya sehingga mengakibatkan kerusakan pada jaringan sekitar gigi. Dokter gigi harus
memperhatikan masa depan kesehatan jaringan periodontal pasien, misalnya :
a. Waktu melakukan penambalan pada permukaan proksimal (penggunaan matriks) atau
servikal, harus dihindarkan tepi tambalan yang menggantung (kelas II amalgam), tidak
baik adaptasinya atau kontak yang salah, karena hal ini menyebabkan mudahnya terjadi
penyakit periodontal.
b. Sewaktu melakukan pencabutan, dimulai dari saat penyuntikan, penggunaan bein sampai
tang pencabutan dapat menimbulkan rusaknya gingiva karena tidak hati-hati
c. Penyingkiran karang gigi (manual atau ultra skeler) juga harus berhati-hati, karena dapat
menimbulkan kerusakan jaringan gingiva.

7. Trauma dari oklusi
Trauma dari oklusi menyebabkan kerusakan jaringan periodonsium, tekanan oklusal yang
menyebabkan kerusakan jaringan disebut traumatik oklusi. Trauma dari oklusi dapat
disebabkan oleh :
a. Perubahan-perubahan tekanan oklusal
Misal adanya gigi yang elongasi, pencabutan gigi yang tidak diganti, kebiasaan
buruk seperti bruksim, clenching.
_ Berkurangnya kapasitas periodonsium untuk menahan tekanan oklusal
_ Kombinasi keduanya.

Faktor sistemik
Respon jaringan terhadap bakteri, rangsangan kimia serta fisik dapat diperberat
oleh keadaan sistemik. Untuk metabolisme jaringan dibutuhkan material-material seperti
hormon, vitamin, nutrisi dan oksigen. Bila keseimbangan material ini terganggu dapat
mengakibatkan gangguan lokal yang berat. Gangguan keseimbangan tersebut dapat berupa
kurangnya materi yang dibutuhkan oleh sel-sel untuk penyembuhan, sehingga iritasi lokal
yang seharusnya dapat ditahan atau hanya menyebabkan inflamasi ringan saja, dengan
adanya gangguan keseimbangan tersebut maka dapat memperberat atau menyebabkan
kerusakan jaringan periodontal.

Faktor-faktor sistemik ini meliputi :
26
1. Demam yang tinggi
Pada anak-anak sering terjadi penyakit periodontal selama menderita demam yang
tinggi, (misal disebabkan pilek, batuk yang parah). Hal ini disebabkan anak yang sakit
tidak dapat melakukan pembersihan mulutnya secara optimal dan makanan yang diberikan
biasanya berbentuk cair. Pada keadaan ini saliva dan debris berkumpul pada mulut
menyebabkan mudahnya terbentuk plak dan terjadi penyakit periodontal.
2. Defisiensi vitamin
Di antara banyak vitamin, vitamin C sangat berpengaruh pada jaringan
periodontal, karena fungsinya dalam pembentukan serat jaringan ikat. Defisiensi vitamin
C sendiri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit periodontal, tetapi adanya iritasi lokal
menyebabkan jaringan kurang dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersebut
sehingga terjadi reaksi inflamasi (defisiensi memperlemah jaringan).
3. Drugs atau obat-obatan
Obat-obatan dapat menyebabkan hiperplasia, hal ini sering terjadi pada anak-anak
penderita epilepsi yang mengkomsumsi obat anti kejang, yaitu phenytoin (dilantin).
Dilantin bukan penyebab langsung penyakit jaringan periodontal, tetapi hiperplasia
gingiva memudahkan terjadinya penyakit. Penyebab utama adalah plak bakteri.
4. Hormonal
Penyakit periodontal dipengaruhi oleh hormon steroid. Peningkatan hormon
estrogen dan progesteron selama masa remaja dapat memperhebat inflamasi margin gingiva
bila ada faktor lokal penyebab penyakit periodontal.

Perawatan yang harus dilakukan :
Menurut Glickman ada empat tahap yang dilakukan dalam merawat penyakit
periodontal yaitu :

1. Tahap jaringan lunak

Pada tahap ini dilakukan tindakan untuk meredakan inflamasi gingiva,
menghilangkan saku periodontal dan faktor-faktor penyebabnya. Disamping itu juga
untuk mempertahankan kontur gingiva dan hubungan mukogingiva yang baik.
Pemeliharaan kesehatan jaringan periodontal dapat dilakukan dengan penambalan lesi
karies, koreksi tepi tambalan proksimal yang cacat dan memelihara jalur ekskursi

27
makanan yang baik.

2. Tahap fungsional

Hubungan oklusal yang optimal adalah hubungan oklusal yang memberikan
stimulasi fungsional yang baik untuk memelihara kesehatan jaringan periodontal.
Untuk mencapai hubungan oklusal yang optimal, usaha yang perlu dan dapat
dilakukan adalah : occlusal adjustment, pembuatan gigi palsu, perawatan ortodonti,
splinting (bila terdapat gigi yang mobiliti) dan koreksi kebiasaan jelek (misal bruksim
atau clenching).

3. Tahap sistemik

Kondisi sistemik memerlukan perhatian khusus pada pelaksanaan perawatan
penyakit periodontal, karena kondisi sistemik dapat mempengaruhi respon jaringan
terhadap perawatan atau mengganggu pemeliharaan kesehatan jaringan setelah
perawatan selesai. Masalah sistemik memerlukan kerja sama dengan dokter yang
biasa merawat pasien atau merujuk ke dokter spesialis.

4. Tahap pemeliharaan

Prosedur yang diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan periodontal yang
telah sembuh yaitu dengan memberikan instruksi higine mulut (kontrol plak),
kunjungan berkala ke dokter gigi untuk memeriksa tambalan, karies baru atau faktor
penyebab penyakit lainnya.

28
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Jaringan periodontal adalah jaringan yang terdapat di sekitar gigi tempat gigi tertanam
dan membentuk lengkungan rahang dengan baik dimana jaringan periodontal terdiri dari
Gingiva, Sementum, Ligamen Periodontal dan Tulang Alveolar. Jaringan periodontal
merupakan sistem fungsional jaringan yang mengelilingi gigi dan melekatkan pada tulang
rahang, dengan demikian dapat mendukung gigi sehingga tidak terlepas dari soketnya.Maka
dari itu kita wajib merawat gigi dan jaringan pendukung disekitarnya agar gigi kita tetap
berfungsi dengan baik. Jika tidak dirawat dengan baik,Maka akan menimbulkan berbagai
kelainan,contoh yang sering terjadi adalah gingivitis dan periodontitis.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2014. Periodontitis kronis. Sumatera utara. Fakultas kedokteran gigi
Universitas sumatera utara
2. Avery K James.2002. Oral Development and Histology third edition. Thieme.227 –
229
3. Chatterjee, Kabita. 2006. Essential of Oral Histology. Jaypee Brothers Medical
Publication. 114-115
4. Djamil, M.S. 2011. A-Z Kesehatan Gigi. Solo: Metagraf.
5. Elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/38186/843e011e1dbcc9e28a5bbad57ad96e75
ocw.usu.ac.id/course/download/611.../kgm-427_slide_penyakit_periodontal.pdf
6. Garna Firena Devy, drg. 2004. Resorpsi Tulang Alveolar pada Penyakit Periodontal.
Universitas Sumatera Utara. 1-4
7. http://eprints.undip.ac.id/44869/3/Riva_Irlinda_22010110110073_BabIIKTI.pdf

30