You are on page 1of 9

LAPORAN PENDAHULUAN

APPENDISITIS
Disusun untuk memenuhi tugas Clinical Studies 2 Keperawatan Surgikal di
Ruang Dahlia

Disusun Oleh :
Dinda Ayu Annisa
145070201131006
Kelompok 6/Reguler 2/K3LN 2014

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

Postmaturitas atau imaturitas 3. 2. hipertonik uterus. 2009)) B. Oligihidramnion b. c. Penyakit hipertensi b. Aktivitas uterus yang berlebihan. skor APGAR 0-3 selam > 5 menit . Trichuris trichiura. dan cacing usus. Hipotensi ibu. Etiologi Penyebab dari gawat janin yaitu: 1. Insufisiensi uteroplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus-plasenta dalam waktu singkat) : a. dapat dihubungkan dengan pemberian oksitosin. Kompresi (penekanan) tali pusat a. anestesi epidural. Kesejahteraan janin dalm persalinan asfiksia intrapartum dan komplikasi c. Pengertian Apendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh fekalith (batu feces). LAPORAN PENDAHULUAN APPENDICITIS A. dan Enterobius vermikularis (Ovedolf. b. Insufisiensi uteroplasenter kronik (kurangnya aliran darah uterus-plasenta dalam waktu lama) : a. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama Apendisitis. 2006). Anemia berat misalnya isomunisasi . Solusio plasenta. Penurunan kemampuan janin membawa oksigen a. Erosi membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica. Diabetes mellitus c. Plasenta previa dengan pendarahan. hiperplasi jaringan limfoid.kompresi vena kava. d. setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya (Corwin. Prolaps tali pusat c. perdarahan fetomaternal b. Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas. posisi terlentang. Puntiran tali pusat 4.

Mekonium Cairan amnion yang hijau kental menunjukan bahwa air ketuban jumlahnya sedikit. DJJ yang lebih dari 160 dpm menunjukan adanya anval hipoksia.d.2% dari 100. (Sarwono.4% dan takikardi sebesar 13. (Sarwono. · Takhikardi dapat merupakan reaksi terhadap adanya: . Amnionitis Bila ibu mengalami takhikardi. Epidemiologi Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2009 angka kejadian gawat janin sebesar 21. Bila DJJ tidak kembali normal setelah kontraksi. atau tidak menghilang setelah kontraksi menunjukan adanya kegawatan janin. D. ) b. pH arteri tali pusat 7.000 kelahiran hidup. Manifestasi Klinik a. Kondisi ini mengharuskan adanya intervensi.6%. 2009. atau pada fase akhir suatu persalinan presentasi bokong. Masalah Ibu tidak merasakan gerak janin . Sekuele neorologis neonatal e. · Brakikardia yang terjadi diluar saat kontraksi.Indonesia menunjukkan kejadian gawat janin relatif cukup banyak (34.7%) terutama terjadi pada persalinan yang diantaranya bradikardi sebesar 11.0 C. Disfungsi multi organ neonatal f. Demam pada ibu . DJJ abnormal · DJJ < 100x/menit di luar kontraksi · DJJ > 180x/menit dan ibu tidak mengalami takikardi · DJJ ireguler dalam persalinan sangat bervariasi dan dapat kembali setelah beberapa aktu. Obat-obat yang menyebabkan takhikardi (misalnya: obat tokolitik) . hal ini menunjukan adanya hipoksia. Intervensi tidak perlu dilakukan bila air ketuban kehijauan tanpa tanda kegawatan lainya. 2009) Gerak Janin Menghilang a.

b) Faktor yang mempengaruhi fetal distress kronis Fetal distress kronis berhubungan dengan faktor sosial yang kompleks. Hal ini berhubungan dengan kelainan fetus. · Bila DJJ abnormal. Faktor Resiko a) Faktor yang mempengaruhi fetal distress akut (1) Kontraksi uterus Kontraksi uterus hipertonik yang lama dan kuat adalah abnormal dan uterus dalam keadaan istirahat yang lama dapat mempengaruhi sirkulasi utero plasenta. (1) Status sosial ekonomi rendah . lilitan talu pusat. berarti bayi tidur · Rangsang janin dengan rangsangan suara (bel) atau dengan menggoyangkan perut ibu sehingga ibu merasakan gerakan janin. (4) Depresi pusat pada sistem pernafasan Depresi sistem pernafasan pada bayi baru lahir sebagai akibat pemberian analgetika pada ibu dalam persalinan dan perlukaan pada proses kelahiran menyebabkan hipoksia. · Bila DJJ cenderung turun saat janin bergerak. Bila DJJ meningkat frekuensinya sesuai dengan gerak janin. · Bila DJJ baik. lihat penatalaksanaan DJJ abnormal. ketika kontraksi sehingga mengakibatkan hipoksia uterus. kemudian nilai ulang.b. terjadi solusio plasenta. Tali pusat dapat tertekan pada prolapsus. pastikan adanya kematian janin dengan stetoskop (Doppler). · Bila DJJ tidak terdengar. (3) Kondisi tali pusat Plasenta terlepas. tunggu hilangnya pengaruh obat. Diagnosis · Nilai DJJ · Bila ibu mendapat sedative. maka janin dapat dikatakan normal. (2) Kompresi tali pusat Kompresi tali pusat akan mengganggu sirkulasi darah fetus dan dapat mengakibatkan hipoksia. maka dapat disimpulkan adanya gawat janin E.

persalinan preterm atau lahir mati berhubungan dengan resiko tinggi pada janin dalam kehamilan ini. penyakit paru-paru. penyakit jantung. postmatur. dan menyebabkan penurunan aliran darah uterus dimana karbonmonoksida mengurangi transport oksigen. hipertensi kronik. Kondisi tersebut meliputi insufisiensi plasenta. (8) Kondisi fetal . perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus. (4) Penyalah gunaan obat terlarang Penyalah gunaan obat terlarang dalam kehamilan berhubungan dengan banyak komplikasi meliputi IUGR. Resiko ini mengakibatkan pengurangan suplai oksigen ke fetus. infeksi maternal berat. Status sosial ekonomi adalah suatu gambaran kekurangan penghasilan tetapi juga kekurangan pendidikan. (7) Kondisi plasenta Kondisi tersebut meliputi: insufisiensi plasenta. nutrisi. diabetes. (6) Penyakit maternal Kondisi yang meningkatkan resiko fetal distress kronis dapat mempengaruhi sistem sirkulasi maternal dan menyebabkan insufisiensi aliran darah dalam uterus seperti: Hipertensi yang diinduksi kehamilan.Hal ini berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas. epilepsi (jiak tidak terkontrol dengan baik). hipoksia dan persalinan preterm yang semuanya meningkatkan resiko kematian perinatal. (3) Merokok Nikotin dapat menyebabkan vasokontriksi. anemia berat (Hb kurang dari 9% dl atau kurang). (5) Riwayat obstetrik yang buruk Riwayat abortus sebelumnya. (2) Umur maternal Umur ibu yangg sangat muda dan tua lebih dari 35 tahun merupakan umur resiko tinggi. kesehtan fisik dan psikis. penyakit ginjal kronis. Angka mortalitas perinatal maningkat. Sedangakan faktor yang mempengaruhi penurunan oksigenasi arteri maternal seperti: penyakit skle sel. perdarahan antepartum yang dapat mengakibatkan resiko hipoksia intra uterin. post matur.

Gawat janin sebelum persalinan a. sedatif atau analgetik yang berlebihan. Resiko ini meningkat pada kehamilan ganda. kelahiran dengan forcep. komplikasi anastesi (meliputi: hipotensi dan hipoksia).Malformasi konginetal tertentu. (9) Faktor resiko inta partum Selama persalinan faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko fetal distress. Gawat janin iatrogenic Gawat janin iatrogenik adalah gawat janin yang timbul akibat tindakan medik atau kelalaian penolong. Gawat janin kronik . yaitu: malpresentasi seperti presentasi bokong. maka relaksasi uterus terganggu. Kejadian yang dapat menimbulkan gawat janin iatrogenik adalah: a. yang berarti penyaluran arus darah uterus mengalami kelainan. 3. Pengawasan kontraksi harus ditujukan agar kontraksi dapat timbul seperti kontrkasi fisiologik. partum presipitatus atau partus lama F. SC.Oksigenisasi dapat diperbaiki dengan perubahan posisi tidur menjadi miring ke kiri atau semilateral. Obat anastesia epidural dapat menimbulkan kelainan pada denyut jantung janin yaitu berupa penurunan variabilitas. Anestesi Epidural Blokade sistem simpatik dapat mengakibatkan penurunan arus darah vena. Diperkirakan ibat-obat tersebut mempunyai pengaruh terhadap otot jantung janin dan vasokontriksi arteri uterina. Jenis jenis distress fetal Jenis gawat janin yaitu : 1. bahkan dapat terjadi deselerasi lambat. Hal ini disebut sebagai Hiperstimulasi. Resiko dari praktek yang dilakukan telah mengungkapkan patofisiologi gawat janin iatrogenik akibat dari pengalaman pemantauan jantung janin. Infus oksitosin Bila kontraksi uterus menjadi hipertonik atau sangat kerap. infeksi intra uterin dan incompatibilitas resus yang meningkatkan resiko hipoksia intra uterin. curah jantung dan penyuluhan darah uterus. c. b. Posisi tidur ibu Posisi terlentang dapat menimbulkan tekanan pada Aorta dan Vena Kava sehingga timbul Hipotensi. Gawat janin yang terjadi secara ilmiah 2.

f. menunjukan adanya gawat janin c. Jika denyut jantung ibu normal denyut jantung janin yang cepat sebaiknya dianggap sebagai tanda gawat janin d. glikolisis anaerob menghasilkan asam laktat dengan pH janin yang menuru G. Bila hipoksia menetap. Asfiksia intrapartum dan komplikasi: 1) Skor Apgar 0-3 selama >/= 5 menit 2) Sekuele neurologis neonatal 3) Disfungsi multiorgan neonatal . 4. hipertensi. efek obat. Mekonim kental merupakan tanda pengeluaran mekonium pada cairan amnion yang berkurang dan merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran nafas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium. Gawat janin selama persalinan Menunjukkan hipoksia janin tanpa oksigenasi yang adekuat. e. b. Hal ini bukan merupakan tanda kegawatan kecuali jika hal ini terjadi pada awal persalinan.yaitu suatu kejadian bencana yang tiba – tiba mempengaruhi oksigenasi janin. atau amnionitis. Adanya mekonium pada cairan amnion lebih sering terlihat saat janin mencapai maturitas dan dengan sendirinya bukan merupakan tanda gawat janin. dan segera kembali normal setelah relaksasi b. Pada presentasi sungsang. DJJ cepat (lebih dari 180 permenit) yang disertai takhikardi ibu bisa karena ibu demam. DJJ lambat (kurang dari 100 per menit) saat tidak ada his.Dapat timbul setelah periode yang panjang selama periode antenatal bila status fisiologi dari ibu-janin-plasenta yang ideal dan normal terganggu. denyut jantung janin kehilangan varibilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi lanjut pada kontraksi uterus. Gawat janin akut. Diagnosis lebih pasti jika disertai air ketuban hijau dan kental/sedikit Perlu diperhatikan bahwa : a. DJJ normal dapat melambat sewaktu His. mekonium dikeluarkan pada saat persalinan sebagai akibat kompresi abdomen janin pada saat persalinan.Pemeriksaan Penunjang Diagnosis gawat janin saat persalinan didasarkan pada denyut jantung janin yang abnormal. Sedikit mekonium tanpa dibarengi dengan kelainan DJJ merupakan suatu peringatan untuk pengawasan lebih lanjut.

2. karena kontraksi uterus akan mengganggu curahan darah ke ruang intervilli. karena dapat mengakibatkan peningkatan kontraksi uterus yang berlanjut dan meningkat dengan resiko hipoksis janin. Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin tetap abnormal sepanjang paling sedikit 3 kontraksi. lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin: Prinsip Umum : a. Oksigen dihentikan. c. Transfusi darah dapat di indikasikan pada syok hemoragik. c. Perubahan dalam posisi juga dapat membebaskan kompresi tali pusat. b. Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal. Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam. . Penanganan umum: a. d. curah jantung dan aliran darah uteroplasenter. Pasien dibaringkan miring ke kiri. lakukan hal se¬bagai berikut: e. Hipotensi dikoreksi dengan infus intravena dekstrose 5 % berbanding larutan laktat. d.Penatalaksanaaan 1. Berikan oksigen sebagai antisipasi terjadinya hipoksia janin. Posisikan ibu dalam keadaan miring sebagai usaha untuk membebaskan kompresi aortokaval dan memperbaiki aliran darah balik.0 5) Defisit basa arteri tali pusat >/= 16 mmol/L H. dengan atau tanpa kontaminasi mekonium pada cairan amnion. Hentikan infuse oksitosin jika sedang diberikan infuse oksitosin. 4) pH arteri tali pusat 7. f. Penatalaksanaan Khusus a. agar sirkulasi janin dan pembawaan oksigen dari obu ke janin lebih lancar. obat-obatan) mulailah penanganan yang sesuai. Bebaskan setiap kompresi tali pusat b. b. Perbaiki aliran darah uteroplasenter c. Menilai apakah persalinan dapat berlangsung normal atau kelahiran segera merupakan indikasi. Oksigen diberikan melalui masker muka 6 liter permenit sebagai usaha untuk meningkatkan pergantian oksigen fetomaternal.

Marylinn. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC Sarwono. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi. R. pita suara harus dilihat dengan laringoskopi langsung sebagai usaha untuk menyingkirkan mekoneum dengan pipa endotrakeal. Buku Saku Obsteteri dan Ginekologi Edisi 9. 2009.B.e. Segera setelah kelahiran. R. 2010. 3rd. Jakarta: Penerbit EG Doengoes. I.. 2008. Pengisapan mekonium dari jalan napas bayi baru lahir mengurangi risiko aspirasi mekoneum. Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Dokter Umum. (2013). hidung dan mulut dibersihkan dari mekoneum dengan kateter pengisap. Segera setelah kepala bayi lahir. Jakarta : EGC Manuaba. Jakarta : EGC Muctar. Menyebabkan IUFD(Intra Uterine Fetal Death) jika tidak segera ditangani dengan baik. I. Asfiksia 2. Pemeriksaan pervaginam menyingkirkan prolaps tali pusat dan menentukan perjalanan persalinan.l : Hipoplasia pulmonal Potter μs fasciaDeformitas ekstrimitas. Komplikasi Gawat janin atau asfiksia intrauterin merupakan akibat dari kompresi talipusat akibat berkurangnya cairan amnion (oligohidramnion) atau prolapsus talipusat KPD pada kehamilan yang sangat muda dandisertai oligohidramnion yang lama menyebabkan terjadinya deformitas janin a. Komplikasi Komplikasi yang dapat muncul jika janin mengalami gawat janin yaitu : 1. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Sinopsis Obstetri. Prawiroharjo.B. Cetakan ke-4. I. Ilmu Kandungan. Jakarta : EGC Manuaba. DAFTAR PUSTAKA Benson. f. 2011. Jakarta : PT Gramedi .