You are on page 1of 3

B.

Muawiyah Bin Abi Sufyan Menjadi Khalifah
Ketika Ali terbunuh pada tahun 661, Muawiyah memiliki pasukan paling besar dalam
kedaulatan islam dan memiliki kekuatan yang besar untuk mengklaim kekhalifahan. Putra Ali,
Hasan ibn Ali, setelah mempertimbangkan keadaan umat, memberikan hak kekhalifahannya
kepada Muawiyah dan memilih tinggal di Madinah dan pensiun. Tahun ini disebut sebagai ‘Aam
Jama’ah (Tahun Kesatuan), sebab pada tahun inilah umat Islam bersatu dalam menen-tukan satu
khalifah. Pada tahun itu pula Mu’awiyah mengangkat Marwan bin Hakam sebagai gubernur
Madinah.
Selama berkuasa, kesukesan Muawiyah ditunjang dengan kerjasamanya dengan
pendukungnya, terutama Amr bin Ash, wakilnya di Mesir, Al Mughirah bin Syu’bah, gubernur
Kufah, provinsi yang selalu bergolak, dan Abdullah bin Abihi, penguasa Basrah. Ketiga orang
ini bersama Muawiyah disebut sebagai empat politisi ulung Arab Islam. Ziyad digelari bin Abihi
kerena ketidakjelasan identitas ayahnya. Ibunya adalah seorang budak di Taif yang dikenal Abu
Sufyan. Pada awalnya Ziyad adalah pendukung Ali, tetapi pada saat kritis, Mua-wiyah mengakui
Ziyad sebagai saudara sahnya.
Dalam diri Muawiyah, seni berpolitik berkembang. Ia memiliki kemam-puan luar biasa
untuk menggunakan kekuatan hanya ketika dipandang perlu dan sebagai gantinya lebih banyak
menggunakan jaklan damai. Kelembutannya yang sarat dengan kebijakan, yang ia gunakan agar
tentara meletakan senjata dan membuat kagum musuhnya, sikapnya yang tidak mudah marah
dan pengen-dalian diri yang sangat tinggi, membuatnya mampu menguasai keadaan.
Bagi para Khalifah Bani Umayah sesudahnya, Muawiyah merupakan teladan dalam
kelembutan, semangat, kecerdasan, dan kenegarawanan yang berusaha mereka ikuti.
Sebelum wafatnya, Muawiyah, dengan menuruti nasehat Mughira, guber-nur Basrah
mengangkat putranya Yazid sebagai pengganti dirinya kelak. Hal ini menimbulkan kebencian
kaum Syiah. Diantara orang-orang syi’ah yang pertama kali melancarkan permusuhan terbuka
terhadap bani Umayyah adalah Hajar bin Adi. Ia mengkritik pedas Mughirah bin Syu’bah, sang
gubernur Kufah. Berhubung Mughirah bertipikal lemah lembut dan pemaaf, maka ia
mengingatkannuya akan akibat tindakannuya. Ketika Mughirah bin Syu’bah wafat, Muawiyah
mengangkat Ziyyad sebagai gubernur Kufah. Maka Ziyyad mengirim surat kepada Muawiyah
mengenai Hajar bin Adi. Oleh Muawiyah, Hajar bin Adi diundang ke Syam dan membunuhnya
bersama pengikut setianya.
Mu'awiyah sendiri wafat pada tanggal 6 Mei 680. Dan digantikan putranya Yazid bin
Muawiyah. Wafatnya Khalifah Muawiyah menyebabkan armada laut Arab mundur dari perairan
Bosporus dan Aegea, sehingga untuk sementara menghentikan penyerangan ke Konstantinopel.

Setelah memberikan penjelasan kepada pengikutnya. selain itu. Dengan kata lain. Mereka menjabat sebagai gubernur yang tunduk di bawah kekuasaan pemerintahan dinasti Bani Umaiyah di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan. pelimpahan kekuasaan yang terjadi dari tangan Hasan ke tangan Muawiyah akan terjadi semakin kuat posisi dan kedudukan Muawiyah karena mendapat dukungan yang relatif cukup kuat dari penduduk Kufah. juga dari sisi ekonomi. 2. Meminta Pengakuan dari para pengikut Hasan bin Ali Muawiyah bin Abi Sufyan meminta kepada Hasan bin Ali untuk menjelaskan hasil kesepakatan yang telah dicapai antara Hasan Bin Ali dengan Muawiyah dalam sebuah pertemuan di maskin kepada para pendukungnya. Letak strategis itu tidak hanya dari sisi politik militer. maka langkah selanjutnya adalah mengangkat para pejabat yang akan membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan. . Di kota itulah para pendukung setianya berada. Basrah dan para penduduk kota-kota lainnya. Sebab kota Damaskus. Muawiyah berharap. Dari kota Damaskus Muawiyah mengendalikan pemerintahan dan mengatur berbagai kebijakan politik Alasan lainnya Muawiyah memindahkan pusat kekhalifahan adalah : karena Kota Damaskus memiliki letak yang sangat strategis bagi Muawiyah untuk mengambangkan kekuasaanya ke bakas-bekas wilayah kekuasaan kerajaan Romawi di bagian utara. Usaha Muawiyah bin Abi Sufyan dalam Mempertahankan Kekuasaan Langkah strategis yang dilakukan Muawiyah setelah mendapatkan jabatan dari Hasan bin Ali pada tahun 41 H/661 M adalah : 1. dengan cara seperti ini. ia akan berhasil menjalankan roda pemerintahan tanpa harus mendapatkan banyak perlawanan atau penolakan dari kelompok yang kurang setuju atas hasil kesepakan tersebut. maka secara de Jure atau secara legal. Memindahkan Pusat Kekuasaan ke Damaskus Setelah Muawiyah memperoleh pengakuan dari para pengikut Hasan bin Ali. Pemindahan ini dilakukan karena di kota itulah pusat kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan sebenarnya. maka langkah yang dilakukan selanjutnya adalah usahanya memindahkan pusat pemerintahan Islam dari Madinah ke Damaskus. Muawiyah telah menjadi nomor satu di dunia Islam kala itu. Mengangkat Para Pejabat Gubernur Setelah Muawiyah berhasil memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus. sejak saat itulah berdirinaya dinasti Bani Umayyah pada tahun 661 M. 3.C. Orang-orang tersebut dipercaya untuk memangku jabatan yang amat strategis di wilayah kekuasaan Muawiyah guna mempertahankan keutuhan wilayah dan kekuasaan yang ada. Syiria terletak di dekat laut Tengah (Laut Mediterania) yang merupakan jalur perdagangan ke Eropa.

dan Ziyad bin Abihi. Mereka adalah Amr bin Al-Ash. Kedua orang yang di sebutkan itu. . baik sebelum atau sesudah Muawiyah menjadi khalifah. yaitu gubernur Basrah. Sementara Ziyad baru memainkan peran pentingnya ketika ia di beri kesempatan oleh Muawiyah untuk menduduki jabatan penting di dalam pemerintahan Bani Umaiyah. memiliki peran yang sangat penting. Amr dan Al Mughirah bin Syu’bah. Mughirah bin Syu’bah. Muawiyah bin Abi Sufyan telah memilih beberapa orang yang dapat memperkuat posisi kepemimpinannya.