You are on page 1of 21

LAPORAN KASUS

SEORANG WANITA 19 TAHUN DENGAN MIOPIA RINGAN

Diajukan untuk Melengkapi Tugas Kepaniteraan Senior
Bagian Ilmu Kesehatan Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh:
Riska Ayu Rustanti

Penguji:
Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, FISCM, Sp.M (K)

Pembimbing:
dr. Yetrina

HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Riska Ayu Rustanti

0

Judul : Seorang Wanita 19 Tahun dengan Miopia Ringan
Bagian : Ilmu Kesehatan Mata
Penguji : Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, FISCM, Sp.M (K)
Pembimbing : dr. Yetrina

Semarang, 15 Maret 2018
Pembimbing Penguji

dr. Yetrina Dr. dr. Trilaksana Nugroho, M.Kes, FISCM, Sp.M (K)

1

Faktor internal meliputi genetik.1 Kelainan refraksi dapat menyebabkan hambatan penglihatan saat beraktivitas. dan lensa yang menentukan hasil pembiasan sinar pada mata. Berdasarkan riset kesehatan dasar 2007. membaca. riwayat keluarga. PENDAHULUAN Media refrakta pada mata terdiri dari kornea.M (K) Pembimbing : dr. dr. Kelainan ini terdapat pada 25% penduduk di Amerika dan persentase yang lebih tinggi didapatkan di Asia. Prevalensi miopia di Eropa sebesar 30-40% dan di Afrika 10%-20%. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata seimbang sehingga setelah melalui media refrakta dibiaskan tepat di daerah macula lutea. Organisasi kesehatan dunia WHO menyebutkan setidaknya 45 juta penduduk dunia buta dan 135 juta penduduk dunia memiliki low vision. pendidikan dan penghasilan serta aktivitas melihat dekat. badan kaca. Trilaksana Nugroho. Sp. Faktor eksternal meliputi pencahayaan saat tidur. yang bahkan mencapai 70%-90% populasi di beberapa negara Asia. prevalensi nasional kebutaan di Indonesia yaitu sebesar 0. Miopia atau nearsightedness merupakan kelainan refraksi yang terjadi karena sinar dari suatu objek yang masuk ke mata akan difokuskan di depan retina pada mata yang tidak berakomodasi. panjang bola mata. Mata yang normal disebut dengan emetropia dan mata yang tidak bisa membiaskan cahaya tepat sampai macula lutea disebut ametropia. Penyebab miopia sampai saat ini belum diketahui secara pasti. dan jenis kelamin. Yetrina Dibacakan oleh : Riska Ayu Rustanti Dibacakan tanggal : 15 Maret 2018 I. LAPORAN KASUS SEORANG WANITA 19 TAHUN DENGAN MIOPIA RINGAN Penguji : Dr.4 2 . M.2 Miopia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup menonjol dan penyebab utama kelainan penglihatan di dunia.9% dimana gangguan refraksi menempati urutan ke-3 setelah katarak dan glaukoma. usia. diperkirakan bersifat multifaktorial dan berhubungan dengan faktor genetik (internal) serta lingkungan (eksternal). FISCM.Kes.

sedangkan untuk tulisan yang berada pada jarak jauh penderita mengeluhkan tulisan terlihat kabur meskipun telah menggunakan kacamata minus. tidak ada nerocos. akan tetapi kacamata jarang dipakai selama aktivitas sehari- hari. ANAMNESIS Autoanamnesis tanggal 6 Maret 2018 Keluhan Utama : Kabur saat melihat jauh Riwayat Penyakit Sekarang: Sejak ± 1 bulan yang lalu penderita mengeluh penglihatan kedua mata kabur. Penderita menggunakan kacamata minusnya hanya pada saat membaca tulisan yang berjarak jauh terutama saat kuliah. 3 . Pegal pada mata dan pusing berkurang jika mata merem dan tidur. Penderita masih bisa membaca dengan jelas tulisan dalam jarak dekat. tidak ada nyeri atau cekot-cekot pada mata. Mata terasa pegal serta kepala merasa pusing terutama saat lama berada di depan komputer ataupun handphone.II. tidak ada silau. Penderita menggunakan kacamata minus sejak 1 tahun yang lalu. IDENTITAS PENDERITA Nama : Nn. E Umur : 19 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Wonosari Semarang Pekerjaan : Mahasiswa Nomor CM : 4916 III. Kacamata minus milik penderita berukuran kanan -1. penderita belum mendapatkan pengobatan apapun untuk mengatasi keluhan ini. tidak ada kotoran mata. Penderita kemudian memeriksakan diri ke Poliklinik Mata Puskesmas Gunung Pati.75. tidak ada keluhan melihat pelangi saat menatap sumber cahaya.00 dan kiri -0. Sejak sakit. Penglihatan kabur tidak berkurang atau bertambah sejak awal keluhan. Penderita tidak ada keluhan mata merah.

2 oC nadi : 89/menit respirasi : 22/menit Pemeriksaan Fisik : kepala : mesosefal thoraks : cor : tidak ada kelainan paru : tidak ada kelainan abdomen : tidak ada kelainan ekstremitas : tidak ada kelainan 4 .Riwayat Penyakit Dahulu ▪ Riwayat trauma pada mata sebelumnya (–) ▪ Riwayat pemakaian kacamata sebelumnya (+) ▪ Penderita sehari-hari mengerjakan tugas di depan komputer ±6 jam perhari ▪ Penderita sehari-hari sering menatap layar handphone ▪ Penderita suka membaca dalam jarak yang terlalu dekat Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang memakai kacamata atau memiliki keluhan serupa Riwayat Sosial Ekonomi ▪ Penderita adalah seorang mahasiswa. tinggal bersama kedua orang tuanya ▪ Ayah penderita adalah PNS dan ibu penderita adalah ibu rumah tangga ▪ Biaya pengobatan ditanggung BPJS ▪ Kesan : sosial ekonomi cukup IV. PEMERIKSAAN Pemeriksaan Fisik pada 6 Maret 2018 Status Praesens Keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis Tanda vital : tekanan darah : 116/60 mmHg suhu badan : 36.

5 6/6 KOREKSI 6/30 S -1. spasme (-) Edema (-). sekret (-). Status Ophthalmologi Oculus Dexter Oculus Sinister 6/30 VISUS 6/30 6/30 S – 1. central. regular. RP (+) N Jernih LENSA Jernih (+) cemerlang FUNDUS REFLEKS (+) cemerlang T(digital) normal TENSIO OCULI T(digital) normal Tidak dilakukan SISTEM CANALIS Tidak dilakukan LACRIMALIS 5 . RP (+) N diameter: 3 mm. regular. spasme (-) PALPEBRA INFERIOR Edema (-). sekret (-) CONJUNGTIVA BULBI Injeksi (-). edema (-) edema(-) Injeksi (-).5 6/6 Tidak dilakukan SENSUS COLORIS Tidak dilakukan Gerak bola mata ke segala arah PARASE/PARALYSE Gerak bola mata ke segala arah baik baik Tidak ada kelainan SUPERCILIA Tidak ada kelainan Edema (-). spasme (-) PALPEBRA SUPERIOR Edema (-). CAMERA OCULI Kedalaman cukup. diameter: 3 mm. CONJUNGTIVA FORNICES Hiperemis (-). CONJUNGTIVA Hiperemis (-). edema (-) PALPEBRALIS edema (-) Hiperemis (-). sekret (-). spasme (-) Hiperemis (-). PUPIL Bulat. sekret (-) Tidak ada kelainan SCLERA Tidak ada kelainan Jernih CORNEA Jernih Kedalaman cukup. Tyndall Effect (-) ANTERIOR Tyndall Effect (-) Kripte (+) IRIS Kripte (+) Bulat. central. sekret (-). sekret (-).

Penderita kemudian memeriksakan diri ke Poliklinik Mata Puskesmas Gunung Pati. tidak ada kotoran mata. RESUME Sejak ± 1 bulan yang lalu penderita mengeluh penglihatan kedua mata kabur.5 6/6 6 .00 dan kiri -0. Kacamata minus milik penderita berukuran kanan -1. Penderita tidak ada keluhan mata merah. Penderita masih bisa membaca dengan jelas tulisan dalam jarak dekat. Penglihatan kabur tidak berkurang atau bertambah sejak awal keluhan. Sejak sakit. Pegal pada mata dan pusing berkurang jika mata merem dan tidur. sedangkan untuk tulisan yang berada pada jarak jauh penderita mengeluhkan tulisan terlihat kabur meskipun telah menggunakan kacamata minus.Alternating Cover Test (-) .Duke Elder test (-) . penderita belum mendapatkan pengobatan apapun untuk mengatasi keluhan ini. tidak ada keluhan melihat pelangi saat menatap sumber cahaya. Mata terasa pegal serta kepala merasa pusing terutama saat lama berada di depan komputer ataupun handphone.Distorsi (-) V. Pemeriksaan Fisik Status praesens : dalam batas normal Status oftalmologi : Oculus Dexter Oculus Sinister 6/30 VISUS 6/30 6/30 S – 1. tidak ada silau. tidak ada nyeri atau cekot-cekot pada mata. Tidak dilakukan TEST FLUORESCEIN Tidak dilakukan Pemeriksaan Binokularitas : . Penderita menggunakan kacamata minus sejak 1 tahun yang lalu. Penderita menggunakan kacamata minusnya hanya pada saat membaca tulisan yang berjarak jauh terutama saat kuliah.75. akan tetapi kacamata jarang dipakai selama aktivitas sehari- hari.5 6/6 KOREKSI 6/30 S -1. tidak ada nerocos.

PROGNOSIS OD OS Quo ad visam ad bonam ad bonam Quo ad sanam Dubia ad bonam Dubia ad bonam Quo ad vitam ad bonam ad bonam Quo ad cosmeticam ad bonam ad bonam IX.VI. Menjelaskan kepada penderita jika ingin menggunakan lensa kontak harus selalu menjaga kebersihan lensa kontak. Menjelaskan kepada penderita untuk tidak membaca terlalu dekat. 3. 4. lensa kontak harus segera dilepas dan diperiksakan ke dokter 5. Menjelaskan tidak boleh membaca sambil tiduran maupun membaca di tempat remang-remang/cahaya kurang. sebaiknya beristirahat setiap 30 menit. 2. 7 . 7. Menjelaskan tentang pentingnya memakai kacamata koreksi dan menjelaskan tentang komplikasi yang akan terjadi bila tidak memakai kacamata. Menjelaskan efek samping dari penggunaan lensa kontak jika penderita tidak bisa menjaga kebersihan lensa kontak. X. Menjelaskan pada penderita tentang penyakitnya bahwa penyakitnya dapat ditolong dengan menggunakan kacamata ataupun lensa kontak. SARAN Kontrol pemeriksaan visus setiap 1 tahun. PENATALAKSANAAN Resep kacamata atau lensa kontak sesuai dengan visus koreksi VIII. DIAGNOSIS Diagnosis Kerja : ODS Miopia ringan VII. EDUKASI 1. Menjelaskan apabila membaca atau melakukan pekerjaan didepan komputer dan pekerjaan yang memerlukan penglihatan jarak dekat dalam waktu lama. 6. Bila mata merah atau terganggu.

Kelainan refraksi adalah keadaan di mana bayangan tegas tidak terbentuk pada retina (makula lutea). kornea dan lensa akan membelokkan sinar pada titik fokus yang tepat pada sentral retina (makula lutea). Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar. Dikenal berbagai bentuk ametropia. Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur.1 Secara keseluruhan status refraksi mata ditentukan oleh 1. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa yang sesuai dengan panjang bola mata. hipermetropia. atau astigmatisma. lensa. 8 . sinar dibiaskan di depan atau di belakang makula lutea. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa myopia. Kekuatan kornea (rata-rata 43 D) 2. seperti1 : 1. Ametropia adalah keadaan di mana pembiasan mata dengan panjang bola mata yang tidak seimbang. mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang.4 mm) 3.XI. Panjang aksial (rata-rata 24 mm) Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. cairan mata. DISKUSI Kelainan Refraksi Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea. Pada mata normal. Mata yang normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat jauh. Ametropia aksial Ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di belakang retina. Pada miopia aksial fokus akan terletak di depan retina karena bola mata lebih panjang dan pada hipermetropia aksial fokus bayangan terletak di belakang retina. badan kaca dan panjangnya bola mata. Kedalaman camera oculi anterior (rata-rata 3. Pada kelainan refraksi. lebih pendek) bola mata maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula. Kekuatan lensa kristalina (rata-rata 21 D) 4.

Pemeriksaan visus dengan optotipe Snellen. 3.2 Prosedur pemeriksaan terdiri dari dua langkah : 1. maka bayangan benda terletak di depan retina (miopia) atau bila daya bias kurang maka bayangan benda akan terletak di belakang retina (hipermetropia refraktif). Contoh : visus = 1/60 (artinya pasien bisa membaca optotipe Snellen pada jakar 1 meter sedangkan orang normal bisa membaca optotipe Snellen pada jarak 60 meter) 9 . Pada miopia kurvatura kornea bertambah kelengkungannya seperti pada keratokonus. Langkah pertama : Pemeriksaan visus 2. Kelainan refraksi bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan tajam penglihatan atau visus yang bertujuan untuk melakukan pemeriksaan refraksi secara subyektif. Pemeriksaan refraksi secara subyektif adalah suatu tindakan untuk memperbaiki penglihatan seseorang dengan bantuan lensa yang ditempatkan didepan bola mata. Alat-alat yang digunakan untuk pemeriksaan adalah optotipe Snellen dan Trial lens set. Ametropia refraktif Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam mata. Sedangkan pada hipermetropia kurvatura lensa dan kornea lebih kecil dari kondisi normal. 2. Langkah kedua : Koreksi visus Langkah pertama (Pemeriksaan Visus)  Pasien duduk dengan jarak 6 meter dari optotipe Snellen. Bila daya bias kuat.  Bila huruf terbesar tidak terbaca maka pasien diperiksa dengan hitung jari. Ametropia kurvatura Ametropia yang terjadi karena kecembungan kornea atau lensa yang tidak normal. salah satu mata pasien ditutup kemudian disuruh membaca huruf terbesar sampai huruf terkecil.

 Koreksi dilanjutkan dengan cara menambah atau mengurangi lensa sferis sampai didapatkan visus 6/6.  Pasang lensa sferis +0.5D visus membaik.  Bila visus membaik setelah diberi pinhole. Setelah diberi lensa sferis +0. Hasilnya visus = 1/300  Bila lambaian tangan tidak bisa maka pasien diperiksa dengan menggunakan sinar. Koreksi dilakukan bergantian.  Koreksi yang diberikan pada hipermetropia adalah koreksi lensa sferis positif terbesar yang memberikan visus sebaik-baiknya. maka dicoba dengan memakai pinhole. dengan cara menutup salah satu mata.  Bila hitung jari tidak bisa. Pasien disuruh menyebutkan arah lambaian tangan. Langkah kedua (Koreksi Visus)  Koreksi visus dilakukan jika pasien dapat membaca huruf Snellen. Pemeriksaan dilakukan dengan tehnik trial and error.  Jika visus tidak bisa mencapai 6/6.  Koreksi yang diberikan pada miopia adalah koreksi lensa sferis negatif terkecil yang memberikan visus sebaik-baiknya. berarti miopia. berarti hipermetrop. Hasilnya visus = 1/~ LP(light proyeksi) baik/buruk  Bila tidak bisa membedakan gelap dan terang. Maka lensa diganti dengan lensa sferis negatif. 10 .  Koreksi dilanjutkan dengan cara menambah atau mengurangi lensa sferis sampai didapatkan visus 6/6.5D. maka pasien diperiksa dengan lambaian tangan pada jarak 1 m. Pastikan dengan reflek pupil direk dan indirek.  Jika diberi lensa sferis positif bertambah kabur. berarti terdapat astigmatisma maka dilanjutkan dengan koreksi astigmatisma. untuk membedakan gelap-terang dan arah datangnya sinar. maka visus = 0.  Pasang trial frame.

Distortion test Pasien disuruh berjalan sambil memakai lensa koreksi.00 D . Pada mata hipermetropia. Duke elder test Pasien disuruh melihat optotipe snellen dengan menggunakan lensa koreksi. mata yang paling jelas koreksinya dikurangi. kemudian dilakukan pemeriksaan binokularitas1 : . Lensa addisi untuk penglihatan dekat biasanya diberikan berdasarkan patokan umur : . . Jika saat berjalan lantai tidak goyang-goyang dan tidak merasa pusing maka koreksi sudah tepat.50 tahun : 2. Pasien membandingkan kedua mata mana yang paling jelas. apabila menjadi jelas berarti pasien masih berakomondasi. Alternating cover test Dilakukan dengan cara menutup kedua mata secara bergantian. .> 60 tahun : 3.40 tahun : 1. Pada mata miopia. . Setelah visus menjadi 6/6. perlu dilakukan test penglihatan dekat. 11 . Diberi lensa sferis positif sesuai umur kemudian membaca kartu jaeger.25 D pada kedua mata.00 D . mata yang paling jelas koreksinya ditambah. kemudian ditaruh lensa sferis +0.00 D  Setelah semua pemeriksaan selesai maka dibuatkan resep kaca mata dimana sebelumnya telah diukur PD (pupil distance) dengan penggaris. Reading test Untuk pasien yang berusia 40 tahun atau lebih. Jika pasien merasa kabur berarti lensa koreksi sudah tepat.

1. Trial frame Miopia Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasaan media refraksi terlalu kuat.2 12 . Gambar 1. Optotipe Snellen Gambar 2. Miopia atau rabun jauh adalah kelainan refraksi suatu keadaan mata dimana sinar-sinar sejajar dari jarak tak terhingga (tanpa akomodasi) dibiaskan di depan retina. Pinhole Gambar 3.

dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal. Pada orang dewasa penambahan panjang aksial bola mata 1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi sebesar 3 dioptri. Youth-onset miopia (<20 tahun) 3. 2. Miopia refraktif Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumensen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. dimana miopia lebih antara 3-6 dioptri c. Miopia berat atau tinggi. Early adult-onset miopia (20-40 tahun) 4. Miopia sedang. Late adult-onset miopia (>40 tahun) 13 . Miopia aksial Merupakan myopia yang diakibatkan panjangnya sumbu bola mata. Gambar 4. Congenital (sejak lahir dan menetap pada masa anak-anak) 2. dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri Klasifikasi miopia berdasarkan umur : 1. dimana miopia kecil daripada <3 dioptri b. Menurut derajat beratnya miopia dibagi dalam : a. Diameter bola mata pada miopia dan bayang jatuh di depan retina Dikenal beberapa bentuk miopia seperti : 1. Miopia ringan.

miopia yang berjalan progresif. Miopia simpleks. Dijumpai tanda – tanda degeneratif pada vitreous. Derajat miopia tidak lebih dari -6 D d. Miopia stasioner.Menurut perjalanan miopia dikenal bentuk : a. Miopia patologis a. dengan syarat : a. c. Visusnya dengan koreksi dapat mencapai penuh 2. dan pada bagian temporal papil terdapat atrofi korioretina. miopia yang menetap setelah dewasa b. bola mata lebih besar dan terjadi pemanjangan hampir seluruhnya ke arah polus posterior  Kurvatura lebih flat  COA lebih dalam  Pupil lebih lebar  Sklera lebih tipis  Pada fundus okuli dapat dijumpai papil N.5 Miopia berdasarkan klinis : 1. Gambaran klinisnya antara lain:  Secara keseluruhan. Bila miopia masih progresif b. Tidak dijumpai kelainan patologis pada mata b. Progresifitas mulai berkurang pada saat masa pubertas dan stabil usia 20 tahun c. makula. Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina. dan retina c. Miopia maligna. Miopia progresif. miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertmbah panjangnya bola mata. Miopia degeneratif atau myopia maligna bila miopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan pada fundus okuli terbentuk stafiloma. yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan atau sama dengan miopia pernisiosa = miopia maligna = miopia degeneratif.II “myopic crescent” yakni bintik yang melebar karena bola mata membesar dan 14 .

Pasien biasanya juga memiliki kebiasaan mengernyitkan mata untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole. dan celah kelopak mata yang sempit. ataupun foster-fuchs fleck  Pada derajat miopia yang sangat tinggi. Komplikasi Miopia : . Dijumpai juga vasa choroid yang tampak jelas. pemeriksaan tersebut adalah : 1. dan retina tigroid. yakni seluruh polus posterior herniasi ke belakang. dapat dijumpai posterior stafiloma.1. Pasien juga sering mengeluhkan sakit kepala. 15 . bertambah panjang. Pasien miopia memiliki punctum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. dapat dijumpai atrofi. seperti yang telah diterangkan sebelumnya metode yang digunakan adalah dengan metode “trial and error” jarak pemeriksaan 6 m dengan menggunakan kartu Snellen.  Pada makula. choroid yang atrofi. maka pasien akan mengeluhkan juling atau esotropia. Glukoma sudut terbuka . sering disertai juling. gambaran mirip perdarahan di dekat makula. Refraksi Subyektif Diagnosis miopia dapat ditegakan dengan pemeriksaan refraksi subyektif. Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila melihat benda dekat dan mengeluh kabur apabila melihat jauh. yakni keadaan di mana retina lebih tipis akibat kehilangan banyak pigmen sehingga retina tampak gambaran kuning hitam.3 Diagnosis miopia Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada mata. Bila kedudukan mata ini menetap. Ablatio Retina .

mata miopia.1 Gambar 5. Pilihan cara yang dapat mengatasi kelainan refraksi meliputi2.3 : 16 . Refraksi Obyektif Yaitu menggunakan retinoskopi. dan mata miopia yang sudah dikoreksi. Autorefraktometer (komputer) Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan komputer. dan kesehatan mata yang baik bagi pasien.00 D pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai tercapai netralisasi. Visus normal. Penanganan Miopia Tujuan penanganan miopia adalah penglihatan binocular yang jelas. nyaman. 3. dengan lensa kerja sferis +2. efisien.2.

reaksi idiosinkrasi. 17 . serta pemakaian atropin jangka panjang dapat mengakibatkan efek buruk pada retina. tidak semua orang dapat memakainya (mata alergi dan mata kering). 4. Namun dilatasi pupil yang terjadi mengakibatkan silau. Orthokeratologi Tindakan ini bertujuan untuk mendatarkan kornea perifer sehingga sama datarnya dengan kornea sentral. 5. dan membutuhkan akomodasi yang lebih kecil daripada lensa kontak. dengan rata-rata penurunan 0. kosmetik lebih baik. automated lamellar keratoplasti/ALK. Keuntungan penggunaan kacamata meliputi: lebih murah. LASIK) dan lensa (implantasi lensa intra ocular. Kerugian penggunaan lensa kontak: sukar dalam perawatan. dan toksisitas sistemik. Bedah refraktif Pembedahan ini dilakukan untuk memperbaiki penglihatan akibat gangguan pembiasan.75 – 1. 3. Beberapa penelitian menunjukkan orthokeratologi dapat menurunkan miopia hingga 3.00 D. Beberapa penelitian menyatakan bahwa atropin topikal dan cyclopentolate mengurangi progresi miopia pada anak dengan youth onset-myopia. mata dapat merah dan infeksi. 2. Kerugian penggunaan kacamata meliputi: menghalangi penglihatan perifer. Selain itu terdapat reaksi alergi. Lensa kontak Keuntungan pemakaian lensa kontak adalah: memberikan penglihatan yang lebih luas. clear lens extraction). lebih aman bagi mata. Jenis pembedahan meliputi pembedahan di kornea (radial keratotomi.1.00 D. tidak membatasi kegiatan. Kacamata koreksi Pemilihan kacamata masih merupakan metode paling aman untuk memperbaiki refraksi. keratektomi fotorefraktif/photorefractive keratectomy/PRK. Obat Obat-obatan sikloplegik kadang digunakan untuk mengurangi respon akomodasi terutama untuk mengatasi pseudomiopia. dan mengurangi kosmetik. membatasi kegiatan tertentu.

Mata terasa pegal serta kepala merasa pusing terutama saat lama berada di depan komputer ataupun handphone. Penderita menggunakan kacamata minusnya hanya pada saat membaca tulisan yang berjarak jauh terutama saat kuliah. Setelah dilakukan koreksi visus OD 6/30 S – 1. penderita belum mendapatkan pengobatan apapun untuk mengatasi keluhan ini. Penderita kemudian memeriksakan diri ke Poliklinik Mata Puskesmas Gunung Pati. Penderita memiliki faktor risiko berupa sering lama berada di depan komputer maupun handphone. Penatalaksanaan Penatalaksanaan berupa kacamata sesuai koreksi diberikan berdasarkan berbagai pertimbangan bagi penderita. Pemeriksaan visus setiap 1 bulan juga disarankan bagi penderita untuk memantau progresifitas dari miopia yang dideritanya. Penderita adalah mahasiswi yang memiliki kegiatan perkuliahan yang cukup padat.00 dan kiri -0. Pemeriksaan 18 . Pada anamanesis didapatkan data bahwa penderita mengeluh penglihatan kedua mata kabur. serta membaca dalam jarak dekat. tidak ada silau. tidak ada nerocos. Analisis Kasus Pada kasus ini didapatkan diagnosis miopia ringan pada kedua mata berdasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarah pada diagnosis tersebut. akan tetapi kacamata jarang dipakai selama aktivitas sehari-hari. Penderita masih bisa membaca dengan jelas tulisan dalam jarak dekat. Pegal pada mata dan pusing berkurang jika mata merem dan tidur. tidak ada nyeri atau cekot-cekot pada mata. Penglihatan kabur tidak berkurang atau bertambah sejak awal keluhan. Penderita menggunakan kacamata minus sejak 1 tahun yang lalu.5 6/6. Kacamata minus milik penderita berukuran kanan - 1. sehingga dianggap kurang bisa melakukan perawatan lensa kontak. tidak ada kotoran mata. Sejak sakit.5 6/6 dan OS 6/30 S – 1. sedangkan untuk tulisan yang berada pada jarak jauh penderita mengeluhkan tulisan terlihat kabur meskipun telah menggunakan kacamata minus.75. hendaknya penderita diberikan edukasi mengenai komplikasi dan cara perawatan serta penggunaan lensa tersebut. Apabila penderita menghendaki menggunakan lensa kontak. tidak ada keluhan melihat pelangi saat menatap sumber cahaya. Penderita tidak ada keluhan mata merah. Pada pemeriksaan oftalmologis didapatkan visus ODS 6/30.

Menganjurkan penderita apabila membaca atau melakukan pekerjaan di depan komputer dan pekerjaan yang memerlukan penglihatan jarak dekat dalam waktu lama supaya beristirahat setiap 30 menit. Penderita juga diberitahu supaya tidak membaca terlalu dekat dan tidak boleh membaca sambil tiduran maupun membaca di tempat yang intensitas cahayanya rendah.funduskopi disarankan dilakukan untuk melihat keadaan fundus oculi dan saraf. Penderita diberi edukasi tentang pentingnya memakai kacamata koreksi dan tentang komplikasi yang akan terjadi bila tidak memakai kacamata. 19 . Edukasi yang diberikan kepada penderita bertujuan untuk mencegah progresifitas miopia secara cepat dan mempertahankan keadaan penglihatan sebaik mungkin.

. Jakarta : Widya Medika. DAFTAR PUSTAKA 1.org/myopia. American Optometric Association. Trans Suyono J (editor). 4.xml 3. Agung dan Prillia T. Available from : http://www. 2007. [cited 9 Maret 2018]. FK Unair 20 . 2015 Tajam Penglihatan dan Kelainan Refraksi Penglihatan Warna. Vaughan DG. Oftalmologi Umum. Ilyas S. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.docstoc. 2. 14th ed. Jurnal Oftalmologi Indonesia. Taylor A.com/docs/19707850/Laporan-Hasil-Riset-Kesehatan- Dasar-(RISKESDAS)-Nasional-2007 5. Miopia Patologi. 2000. Jakarta: Balai penerbit FK UI.2007. Available from : http://www. 2010. Paul R. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional. [cited 9 Maret 2018]. Myopia (Nearsightedness).aoa. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Widodo.