You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia,dengan prognosis
yang sering kali buru.kanker paru biasanya tidak dapat di obati dan penyembuhan
hanya mungkin di lakukan dengan jalan pembedahan,di mana sekitar 13% dari klien
yang menjalani pembedahan mampu bertahan selama 5 tahun.Metastatis penyakit
biasanya muncul dan hanya 16% klienyang penyebaran penyakitnya dapat di
lokalisasi pada saat diagnosis.Di karenakan terjadinya metastatis penatalaksanaan
kanker paru sering kali hanya berupa tindakan paliatif (mengatasi gejala))di
bandingkan dengan kuratif(penyembuhan).di perkirakan 85% dari kanker paru terjadi
akibat merokok.oleh karena itu pencegahan yang paling baik adalah”jangan memulai
merokok”. Kanker paru (karsinoma bronkhogenik) timbul dari epitel saluran
pernapasan.penyebab kanker paru yang paling umum adalah merokok (Kotak Displai
7-1).perokok berat mempunyai peluang sekitar 10 kali lebih besar untuk mengalami
kanker paru di banding bukan perokok.Asap rokok mengandung beberapa karsinogen
spesifik-organ dan merokok telah menunjukkan adanya kaitan penyebab dengan
karsinogenesis pada beberapa bagian tubuh,termasuk laring,rongga
mulut,esophagus,,dan kandung kemih. Tipe dari Kanker paru mencakup empat tipe
histologis mayor yaitu karsinoma sel skuamosa,karsinoma sel kecil,karsinoma sel
besar,dan adenokarsinoma(termauk karsinoma sel bronkhioalveolar).untuk
kepentingan klinis dan terapi.kanker paru sering di klsifikasikan sebagai kanker paru
sel kecil.(SCLC,25% dari semua kanker paru),dan kanker paru Non-SCLC (75% dari
semua kanker paru).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan kanker paru?
2. Jelaskan klasifikasi penyakit kanker paru!
3. Apakah yang menyebabkan terjadinya kanker paru /etiologi?
4. Bagaimana patofisiologi pada penyakit kanker paru?
5. Apa sajakah tanda dan gejala penyakit kanker paru?
6. Apa sajakah pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penyakit
kanker paru?
7. Apa sajakah tindakan penatalaksanaan pada penyakit kanker paru?

15

8. Apa sajakah komplikasi dari penyakit kanker paru?
9. Apa saja discharge planning pada pasien dengan penyakit kanker
paru?
10. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada penykit kanker paru?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kanker paru.
2. Untuk mengetahui penyebab terjadinya kanker paru.
3. Untuk mengetahui patofisiologi kanker paru.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis penyakit kanker paru.
5. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit kanker paru.
6. Untuk mengetahui komplikasi penyakit kanker paru
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada
penyakit kanker paru.
8. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan yang dapat
diberikan pada pasien dengan penyakit kanker paru.
9. Untuk mengetahui discharge planningpada pasien denan peyakit
kanker paru.
10. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien kanker paru.

Di dalam rongga hidung terjadi penyesuaian suhu dan . Pada permukaan rongga hidung terdapat rambut- rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi menyaring udara yang masuk dari debu atau benda lainnya. Hidung (Cavum Nasalis) Hidung merupakan organ pernapasan yang letaknya paling luar. ANATOMI FISIOLOGI 1. BAB II TINJAUAN TEORI KONSEP DASAR MEDIS A. B. DEFINISI Kanker paru atau disebut karsinoma bronkoenetik merupakan tumor ganas primer system pernafasan bagian bawah yang bersifat epithelial dan bertransformasi di dalam dari mukosa percabangan bronkus. Manusia menghirup udara melalui hidung..

Udara bebas tidak hanya mengandung oksigen saja. serta memungkinkan manusia untuk bernapas menggunakan mulut serta jika diperlukan secara medis memasukkan makanan melalui hidung. Dengan kemampuan tersebut. dari bahasa Yunani. manusia dapat terhindar dari menghirup gas-gas yang beracun atau berbau busuk yang mungkin mengandung bakteri dan bahan penyakit lainnya. adalah tenggorok atau kerongkongan yang merupakan bagian dari sistem pencernaan dan sistem pernapasan. dan laring. pharynx. dan nitrogen (N2). hidung juga merupakan indra penciuman yang sangat sensitif. Tekak (Faring) Faring. udara selanjutnya akan mengalir ke tenggorokan. Gas-gas tersebut ikut terhirup. Hubungan faring dengan rongga hidung dan laring ini membuat faring menjadi cukup penting dalam produksi suara. karbon dioksida (CO2). Fungsi utama faring adalah sebagai saluran alat pencernaan yang membawa makanan dari rongga mulut hingga ke Esofagus. . rongga telinga tengah. belerang (S). Selain sebagai organ pernapasan. Pada umumnya faring dibagi menjadi tiga bagian yaitu: Faring nasal yang berhubungan dengan rongga hidung. Faring adalah tabung fibromuskular yang terdapat persis didepan tulang leher yang berhubungan dengan rongga hidung. dan Faring laryngeal yang berhubungan dengan epiglottis dari laring serta menuju ke Esofagus. namun hanya oksigen saja yang dapat berikatan dengan darah. Dari rongga hidung. Faring oral yang berhubungan dengan rongga paru-paru. namun juga gas-gas yang lain. 2.kelembapan udara sehingga udara yang masuk ke paru-paru tidak terlalu kering ataupun terlalu lembap. Misalnya. Istilah ini terutama dipakai dalam kalangan ilmu kedokteran.

Struktur bronkus sama dengan trakea. yaitu yang menuju paru-paru kanan dan menuju paru-paru kiri. jika makanan masuk ke Tenggorokan kita akan tersedak. Tenggorokan (Trakea) Trakea juga dikenal sebagai tenggorokan adalah tabung tulang yang menghubungkan hidung dan mulut ke paru-paru. Cabang Tenggorokan (Bronkus) Cabang Tenggorokan atau Bronkus merupakan percabangan trakea yang menuju paru-paru kanan dan kiri. dan lapisan dalam terdiri atas jaringan epitelium besilia. Bronkus terbagi menjadi dua. lapisan tengah terdiri atas otot polos dan cincin tulang rawan. Jalan makan (kerongkongan): Orofaring. . 4. Kedudukan bronkus kiri lebih mendatar dibandingkan bronkus kanan.3. Bronkus kanan bercabang menjadi tiga bronkiolus sedangkan bronkus kiri bercabang menjadi dua bronkiolus. Jalan napas (tenggorok): Faring. Masing-masing cabang tersebut berakhir pada gelembung paru-paru atau alveolus. sehingga bronkus kanan lebih mudah terserang penyakit. tenggorokan adalah bagian dari leher yang terdiri dari faring dan laring. yaitu lapisan luar terdiri atas jaringan ikat. Tenggorokan atau Trakea berupa pipa yang dindingnya terdiri dari 3 lapisan. laring dan trakea selain itu. hal ini merupakan bagian penting dari sistem pernafasan pada vertebrata. hipofaring dan esofagus b. Tenggorokan memiliki sebuah selaput otot yang dinamakan epiglottis yang berfungsi untuk memisahkan esofagus dari trakea dan mencegah makanan dan minuman untuk masuk ke saluran pernapasan. hanya dindingnya lebih tipis. Dalam anatomi. Tenggorok itu terdiri dari 2 bagian: a. Terletak di leher bagian depan kerongkongan.

Paru-paru terbagi menjadi dua buah. pada bagian awal dari cabang bronkiolus hanya memiliki sebaran sel globet dan epitel. pada ujung bronkiolus terdapat banyak sekali gelembung-gelembung kecil yang dinamakan alveolus. Paru-paru kanan lebih besar . Alveolus berfungsi sebagai permukaan respirasi. Paru – Paru Paru-paru terletak di dalam rongga dada. Ciri khas bronkiolus adalah tidak adanya tulang rawan dan kelenjar pada mukosanya. Pembatas ini bukan sekedar pembatas. Paru-paru kanan terdiri atas tiga belahan sedangkan paru-paru kiri hanya dua belahan. Antara rongga dada dan rongga perut terdapat suatu pembatas yang disebut diafragma. yaitu paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Gelembung gelembung tersebut disebut alveoli (tunggal: alveolus). tetapi berperan juga dalam proses pernapasan. lembab dan berlekatan dengan kapiler darah.5. Fungsi Bronkiolus Secara sederhana dapat dijelaskan kalau fungsi dari bronkiolus adalah sebagai media yang menghubungkan oksigen yang kita hirup agar mencapai paru-paru. Alveolus Alveolus berupa saluran udara buntu membentuk gelembung-gelembung udara. 7. Bronkiolus Bronkiolus adalah cabang dari bronkus dan memiliki dinding yang lebih tipis. dindingnya tipis setebal selapis sel. 6. luas total mencapai 100 m2 (50 x luas permukaan tubuh) cukup untuk melakukan pertukaran gas ke seluruh tubuh. Paru-paru pada dasarnya merupakan cabang-cabang suatu saluran yang ujungnya bergelembung. Dalam alveoli inilah sesungguhnya terjadi pertukaran gas-gas.

tetapi ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru : 1. dimana 50 di antaranya dikenal sebagai karsinogen (yang berarti agen penyebab kanker) yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel-sel paru-paru. Merokok Rokok merupakan penyebab 85 – 90% kasus kanker paru. Resiko untuk terjadinya kanker tipe sel besar meningkat pada perokok sedangkan beberapa adenokarsinoma tidak berhubungan dengan rokok khususnya pada wanita. Perokok seperti ini mempunyai kecenderungan sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Sebuah sel yang sudah rusak dapat menjadi kanker dalam jangka waktu tertentu.000 zat kimia. dimana resiko kanker paru pada perokok 30 kali lebih besar dari yang bukan perokok. C. ETIOLOGI Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui. sedangkan perokok aktif 20 kali lipat untuk mengalami kanker paru. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari 20 batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik).dibandingkan yang kiri. perhatikan olehmu gambar penampang sistem pernapasan manusia berikut ini. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam tembakau dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan. . Ini karena tembakau pada rokok mengandung lebih dari 4. Perokok pasif memiliki resiko 2 kali lipat untuk menjadi kanker paru. menimbulkan tumor. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola risiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Agar lebih jelas.

Pekerja pemecah hematite (paru-paru hematite) dan orang-orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. Radiasi Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50% meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Proton oncogen b. Kanker paru akibat kerja Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Tumor suppressor gene c. Polusi udara Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi daripada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industry dan uap diesel dalam atmosfer di kota. 3. 4.2. yakni : a. Gene encoding enzyme . 5. Genetic Terdapat perubahan / mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.

Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan ( insersi/inS) sebagian susunan pasang basanya.Suatu penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara betakaroten dan vitamin A dengan pencegahan dan penyembuhan penyakit jantung koroner dan kanker.Kemampuan retinoid dalam memengaruhi perkembangan sel epitel dan meningkatkan aktivitas sistem kekebalan. dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin. Diet Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten . selenium dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru. 2006). berpengaruh terhadap pencegahan kanker kulit. selenium. 6. . Teori onkogenesis Terjadinya kanker paru di dasari oleh tampilannya gen supresor tumor dalam genom(onkogen).Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene. payudara. paru-paru.Hal ini terkait dengan fungsi betakaroten dari vitamin A sebagai antioksidan yang mampu melawan radikal bebas Pencegahan kanker. tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah- programmet cell death). Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya. dan kantong kemih. tenggorokan.

ataudisplasia akibat merokok jangka panjang.dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala- gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh.demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ-organ distal.dinding dada dan mediastinum. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat) Biasanya terletak di tengah di sekitar percabangan utama bronki. secara khas mendahului timbulnya tumor. terletak sentral di sekitar hilus. tumor ini timbul dari sel-sel kulchitsky. terbentuk dari sel-sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat di kaitkan dengan jaringan parut local pada paru-paru dan fibrosis interstisial kronik. permukaan epitel termasuk metaplasia. Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar) Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mucus.komponen normal dari epitel bronkus.KLASIFIKASI Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma pleura dan paru-paru: Karsinoma Bronkogenik 1. Karsioma Epidermoid (skuamosa) Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. 2. lesi sering kali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini. 3. . Metastatis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus. dan menonjol kedalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung kelenjar getah bening hilus.

Sarkoma e. Karsinoma sel besar Merupakan sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam-macam. lain-lain a.1986 AMERICON JOINT COMMITTEE ON CANCER. Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid. Melanoma (Price .Patofisiologi 1995) TABEL SISTEM STADIUM TNM UNTUK KANKER PARU-PARU. Mesotelioma h. f. Tumor kelenjar bronchial c Tumor papilaris dari epitel permukaan d. 4.tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh. 5. 6. Gambaran TNM Definisi Tumor primer (T) Tidak terbukti adanya tumor primer. sel-sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru-paru perifer. T0 .Tak terklasifikasi g. Tumor karsinoid (adenoma bronkus) b. Tumor campuran dari Karsinosarkoma.

koepua vertebra. T1 Tumor dengan diameter ≤3 cm di kelilingi paru-paru atau pleura viselaris yang normal. atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina. atau korpus vertebra. pleura medistinalis.pembuluh darah besar. atau karina. T2 Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan aktelitasis yang meluas ke hilus.atau adanya efusi pleura yang maligna. TIS Karsinoma in situ. atau pericardium tanpa mengenai jantung . N2 Metatasis pada mediastinal ipsi lateral atau kelenjar limfa subkarina . T3 Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada. trakea esophagus.Tx Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitology bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi. Tumor primer T Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe NO regional N1 Metatasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar-kelenjar hilus ipsilateral. diagfragma. harus berjarak 2 cm distal dari kirina. trakea. esophagus.pembuluh darah besar. T4 Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung.

atau pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular. Stadium IIIb Setiap T N3M0 Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus T4 Setiap MN0 atau mediastinal kontralateral. . Stadium IIIa T3NOM0 Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti T3N0M0 metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. M3 M1 Metastasis terjauh berada pada tempat tertentu (seperti otak). atau setiap tumor yang termasuk klasifiasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe ragional. Metatasis jauh (M) Tidak ada diketahui metatastis jauh. TxN0M0 Stadium 0 Karsinoma in situ Stadium 1 T1N1M0 Tumor termasuk klasifikasi T1 dan T2 Dan terbukti T2N0M0 adanya metastasis pada kelenjar limfe regional atau yempat yang jauh Stadium II T1N1M0 Tumor termasuk klasifikasi T1 dan T2 Dan terbukti T2N1M0 adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral. kelenjar-kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.N3 Metastasis pada mediastinal atau kelenjar-kelenjar limfe hilus kontralateral. tidak ada metastasis jauh. Kelompok stadium Sputum mengandung sel-sel ganas tetapi tidak dapat Karsinoma tersembunyi dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis. tidak ada metastasis jauh.

ddemam dan dingin. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur-struktur terdekat seperti kelenjar limfe .perikardium. hyperlapsia dengan dysplasia. Lesi ini yang menyebabkan obtuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi dibagian distal. setiap N. hemoptysis. biasa timbul efusi pleura. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplapsia.Stadium IV Setiap tumor dengan metastasis jauh. Gejala-gejala yang timbul dapat berupa batuk.M1 D. Setiap T. dan biasa diikuti invasi langsung pada kosta dan vertebra. khususnya pada hati.dipsneu. otak. . dinding esophagus . hyperlapsia dan dipslapia menembus ruang pleura. dan tulang rangka. penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase. Wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. Bila lesi perifer yang disebabkan metaplapsia. PATOFISIOLOGI Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan silia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang brunkus yang terbesar. Pada stadium lanjut.

anoreksia. Pemeriksaan Sitology Sputum a. Radiologi. atelektasis(pengkerutan paru akibat penyumbatan saluran udara) 6. 3. kadang terdapat kavitas seperti abses(infeksi paru) paru 5. atau nodus limfe) Dilakukan untuk mengkaji adanya/tahap karsinoma b. b. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. hemoptisis: sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi(adanya luka) 3. atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.dipsnea. kelainan berupa nodul soliter E. a. untuk menunjukkan keadaan mediastinum. MRI( magnetic resonance imaging) MRI. CT-scan CT-Scan untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura. 2.MANIFESTASI KLINIS 1. asimtomatik dengan kelainan radiologis(sering terdapat pada perook dengan ppok/copd(chronic obstructive pulmonary disease) yang terdeteksi secara radiologis. pleura. Sitologi (sputum. effuse pleural. demam 7. penurunan berat badan . Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. mengakibatkan adanya obstruksi saluran nafas 4. ukuran dan lokasi lesi. Foto thoraks posterior-anterior (PA) dan lateral serta Tomografi dada. Bronkhografi Untuk melihat tumor di percabangan bronkus 4. Menggambarkan bentuk. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA 15 . Batuk: akibat dari iritasi yang disebabkan oleh massa tumor 2. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus.

Penatalaksanaan Medis Lihat”Penatalaksanaan Medis pada kanker” Untuk informasi tambahan. pencucian bagian.terapi radiasi. Terapi dapat mencakup pembedahan (pilihan). dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).jika memungkinkan. 2. Torakoskopi Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara terakoskopi. Terapi yang lebih baru dan lebih spesifik untuk mengatur sistem imun (terapi gen. 5.stadium penyakit. Mediastinosopi Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat 6.atau kemoterapi atau kombinasi dari terapi-terapi ini. Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.dan status fisiologis. PENATALAKSANAAN 1. Bronkoskopi Memungkinkan visualisasi. Terapi bergantung pada jenis sel. sensitivitasnya mencapai 90-95%. b. Penatalaksanaan Keperawatan Lihat”Penatalaksanaan Medis pada kanker”untuk informasi tambahan. a. . b. pemeriksaan senologi F.terapi dengan anti gen tumor yang berbatas jelas) sedang diteliti dan menunjukkan hasil yang menunjukkan hasil yang menjanjikan. d. c. pemeriksaan histopatologi a. Sasaran penatalaksanaan adalah untuk menyembuhkan. Biopsi Trans Torakal (TTB) Biopsi dengan TTB tertama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2cm.

identifikasi penyebab yang mungkin dapat ditangani.fisioterapi dada. 4) Dukung pasien dan keluarga dalam pengambilan keputusan akhir hayat dan pilihan terapi. 2) Ajarkan pasien tentang teknik penghematan energi dan bimbing latihan fisik jika tepat. Meredakan Masalah Pernapasan 1) Pertahankan kepatenan jalan napas. 4) Ajarkan teknik penghematan energi dan teknik bersihan jalan napas. Memberikan Dukungan Psikologis 1) Bantu pasien dan keluarga menghadapi prognosis yang buruk dan perkembangan penyakit(jika diindikasikan) 2) Bantu pasien dan keluarga dalam mengambil keputusan termaklum (informed decision)mengenai pilihan terapi.suplemen oksigen mungkin akan diperlukan. 5) Bantu pasien mengidentifikasi sumber-sumber potensial untuk pasien dan keluarga.a. Efusi pleura ganas 2.pengisapan dan beberapa kasus bronkoskopi. KOMPLIKASI 1. 3) Anjurkan pasien mengambil posisi yang akan meningkatkan pengembangan paru dan untuk melakukan latihan pernapasan. 3) Rajuk pasien ke ahli terapi fisik atau okupasional sesuai indikasi. G.keluarkan sekresi melalui latihan napas dalam. d. 5) Rajuk pasien untuk menjalani rehabilitasi pulmonal sesui indikasi.batuk. Menangani Gejala b. Mengurangi Keletihan 1) Kaji tingkat keletihan. Informasikan pasien dan keluaga mengenai efek samping terapi tertentu dan terapi strategi untuk mengatasinya. 3) Anjurkan metode untuk mempertahankan kualitas hidup pasien selama perjalanan penyakit ini. 2) Berikan obat bronkodilator. c. e. Sindroma vena cava superior .

3.ginjal. Invasi ke dinding paru 5. Komprensi esofagus 7. Metastasis ke tulang.dan hati 8. Kompresi sumsum tulang . Obstruksi bronkus 4. Hemoptisis 6.otak.

peningkatan frekuensi/jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal. b. tumor epidermoid). perubahan aktivitas berkurang. Pola eliminasi a. karsinoma sel kecil) glukosa urine (ketidak seimbangan hormonal. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan adanya riwayat kebiasaan merokok. nafsu makan buruk. 6. Gejala : penurunan berat badan. 3. dipsnea karena aktivitas. dan lingkungan yang bisa menjadi faktor penyebab timbulnya penyakit. polusi. Pola persepsi kognitif Perlu dikaji ada gangguan persepsi dan sensori akibat adanya proses penyakit. ketidak mampuan mempertahankan kebiasaan rutin. Pada pola eliminasi perlu dikaji adanya keluhan pasien dalam memenuhi kebutuhan dalam bereleminasi baik itu BAK maupun BAB. tumor epidermoid). Pola tidur dan istirahat Ketidak mampuan untuk tidur. Tanda : kurus atau penampilan kurang bobot (tahap lanjut) edema wajah/leher. gejala: kelemahan. haus/peningkatan masukan cairan. 4. minum alcohol. Kesulitan menelan. b. dada punggung (obstruksi vena cava). edema wajah/periorbital (ketidakseimbangan hormonal. tanda : kelesuhan 5. dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. perlu tidur dalam posisi duduk. 7. penurunan masukan makanan. Gejala : diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil). Pola persepsi dan konsep diri . b. BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAAN A. 2. PENGKAJIAN Pengkajian 11 pola Gordon 1. Pola nutrisi dan metabolic a. Pola aktivitas dan latihan a.

Pola reproduksi dan seksualitas pasien mengalami perubahan atau masalah seksualitas yang berhubugan dengan penyakit kronik yang diderita pasien. 11. tidak ada harapan untuk sembuh. dijauhi oleh orang lain karena penyakitnya. 8. 10. 9. Pola peran dan hubungan dengan sesama Gejala kanker paru membatasi pasien untuk menjalankan kehidupannya untuk berinteraksi dengan orang lain karena penyakitnya. Perasaan sudah tidak berdaya. Pola sistem dan nilai kepercayaan selama dirawat di rumah sakit mengganggu atau mempengaruhi kegiatan beribadah . Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress Mengungkapkan bagaimana menajemen stress yang biasa dilakukan oleh pasien dan yang di lakukan ketika ia sakit.

Ditingkatkan Ke : 2. B. Nyeri Kronis B. Ajarkan prinsip-prinsip Skala 3 manajemen nyeri 3. Lakukan pengkajian nyeri (Karsinoma) konprehensif yang meliputi Kontrol Terhadap Gejala lokasi.D Ancaman Kematian C. INTERVENSI No DIAGNOSA HASIL YANG DIHARAPKAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN I.D Noc: Status Kenyamanan: Nic: Manajemen Nyeri Agens Pencedera Fisik 1. Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan B.karakteristik.Dkurang Asupan Makanan(Anoreksia. DIAGNOSA No DIAGNOSA KEPERAWATAN I. Kolborasi dengan pasien. sesuai kebutuhan 5. Skala 3: Cukup Terganggu 4.Malas Makan) IV.D Penyakit Paru Obstruksi Kronis (Obstruksi Bronkial Sekunder Karna Infasi Tumor III. Berikan individu penurunan nyeri Keterangan : yang optimal dengan peresapan Skala 1: Sangat Terganggu analgesic. Ansietas B. Ketidak Efektifan bersihan Jalan Nafas B. 1. onsep/ durasi.D Agens Pencedera II. intensitas atau beratnya Skala 1 nyeri dan faktor pencetus 2. Nyeri Kronis B. orang terdekat dan tim kesehatan lainnya untuk memilih dan mengimplementasikan tindakan penurun nyeri non farmakologi. Berikan informasi yang akurat untuk meningkatkan pengetahuan . Dipertahankan Pada: kualitas.

Instruksikan bagaimana agar bisa Keterangan : melakukan betuk efektif Skala 2 : Deviasi Yang 5. Posisikan pasien untuk Nafas B. dan respon keluarga terhadap pengalaman nyeri II. Motivasi pasien untuk bernafas Tumor skala (4) pelan. Ketidak Seimbangan Noc: Kelelahan: Efek Yang Nic: Manajemen Gangguan Makan Nutrisi Kurang Dari Mengganggu 1. Ajarkan dan dukung konsep nutrisi Keterangan : yang baik dengan klien (dan orang Skala 2: Cukup Berat terdekat klien dengan tepat) Skala 4: Ringan 4.D cairan secara tepat Asupan Nafsu Makan Menurun 2. 1. Monitor intake/asupan dan asupan Kebutuhan B.D Penyakit Kepatenan Jalan Nafas memaksimalkan ventilasi Paru Obstruksi Kronis 1. Monitor status pernafasan dan Cukup Berat Dari oksigenasi. Lakukan fisioterapi dada (Obstruksi Bronkial Pada: skala (2) sebagaimana mestinya Sekunder Karna Infasi 2. Ketidak Efektifan Noc: Status Pernafasan Nic: Manajemen Jalan Nafas Kebersihan Jalan 1. Ditingkatkan Ke: 3. Dorong klien untuk . Di Pertahankan 2. Observasi klien selama dan setelah Makanan(Anoreksia. Dipertahankan pemberian makan/makanan ringan Mual. Ditingkatkan intake/asupan makanan yang Ke:skala(4) cukup tercapai dan dipertahankan 3. berputar dan batuk 4. Muntah) Pada:skala (2) untuk meyakinkan bahwa 2. sebagaimana mestinya Kisaran Normal Skala 4: Deviasi Ringan Dari Kisaran Normal III. dalam.

Terbukalah pada ekspresi 2. Gunakan komunikasi tarapeutik dalam membangun hubungan Menggunakan strategi saling percaya dan caring koping yang efektif 2. Dipertahankan Pada sendiri mengenai arti dan tujuan : hidup dengan baik skala (3) 3. Dengarkan perasaan klien Keterangan: 6. Berdoa bersama individu 5. mendiskusikan makanan yang disukai bersama dengan ahli gizi 5. Berbagi mengenai keyakinan 1. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk mengembangkan rencana perawatan dengan melibatkan klien dan orang-orang terdekatnya dengan tepat 6. konseling) untuk manajemen di rumah IV. Bangun program perawatan dan follow up (medis. Pastikan pada individu bahwa Skala 3:Kadang-Kadang Di perawat selalu ada untuk Gunakan mendukung individu melewati Skala 4: Sering masa yang menyakitkan Dilakukan . Ansietas B. Di Tingkatkan Ke : kekhawatiran individu skala (4) 4.D Noc: Kontrol Kecemasan Nic: Dukungan Spiritual Ancaman Kematian Diri 1.

Berhenti merokok.radiasi. DISCHARGE PLANNING 1. Cukup istirahat. Konsultasikan dengan dokter tentang penanganan lanjuta(kemoterapi.pembedahan 2. makan makanan yang bergizi .D. dapat mengurangi resiko terkena hidrasi daerah yang sering polusi udara dan hindarkan anak terpapar asap rokok 3. Tingkatkan daya tahan tubuh.

Keperawatan Medikal Bedah.Asuhan Keperawatan Pada Gangguan System Respirasi. DAFTAR PUSTAKA Smeltzer Susan C.2013.2015.2013.Jogjakarta:Mediaction Publishing .Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnose Medis Dan Nanda Nic-Noc.Jakarta:CV.Jakarta:EGC Wahid Abd Dan Suprato Imam .Trans Info Media Nurarif Amin Huda Dan Kusuma Hardhi.

15 .