You are on page 1of 18

PRESENTASI KASUS

ANESTESI UMUM PADA KASUS ABSES COLLI

DENGAN ALERGI OBAT MULTIPEL

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Anestesi dan Terapi Intensif RSUD Temanggung

Disusun oleh:

Prili Ajeng Lintangsari

20174011126

Pembimbing:

dr. Argo Seto, Sp. An

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI DAN TERAPI INTENSIF
RSUD TEMANGGUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018

1

ANAMNESIS 1. sklera ikterik (-/-)  Mulut : Jalan nafas bersih (+)  Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-). PEMERIKSAAN FISIK 1.0 Head to toe  Kepala : Normocephali. BAB I LAPORAN KASUS A. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat keluhan serupa 5. pembesaran limfonodi (-). Riwayat Penyakit Sosial Pasien tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. conjungtiva anemis (-/-). Cefotaxim. P Jenis kelamin : Perempuan Umur : 33 Tahun Alamat : Jl. suara tambahan (-/-) Cor : S1-S2 reguler. IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Raya Kedu Tanggal masuk : 13 Februari 2018 No RM : 70181 B. bising (-) 2 . Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan benjolan yang nyeri dan kemerahan di leher sebelah kanan sejak kurang lebih 2 minggu SMRS 3. dsb Riwayat Hipertensi : disangkal Riwayat DM : disangkal Riwayat operasi sebelumnya : disangkal 4. C. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada riwayat penyakit serupa sebelumnya Riwayat Alergi Obat : Fenoterol. Amoxicillin. trakea di tengah  Thorax : Pulmo : suara dasar vesikuler (+/+). Antrain. Keluhan Utama Benjolan di leher kanan 2. Status Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Vital Sign  Tekanan darah: 100/70 mmHg  Nadi : 96x/menit  Pernapasan : 29x/menit  Suhu : 37.

SpO2 TD : 105/67 mmHg.5)  AL : 10.2)) Imunologi  HbsAg : non reaktif  Anti HIV : non reaktif E.6 .2 g/dl (11.7 . bising usus (+).5 mg IV. Metronidazole 500mg iv 2. . Pra operasi .70 mg/dL (0. fluktuasi (+).  Abdomen : Datar. Monitoring : TD. N: 82x/menit.30 WIB. 3.8 – 5. Status Lokalis Regio Colli Dextra Teraba massa soliter dengan diameter kurang lebih 2 cm.  Ekstremitas : Akral hangat 2. nyeri tekan (+) D.2)  AT : 408 (150-440) Hitung jenis  Eosinofil : 3. tidak mobile. kemerahan.11)  AE : 4.66 (3.0 – 8.60 – 1.0 – 40. teraba hangat. DIAGNOSIS Status fisik ASA II pada pasien abses colli F.Inj.0) Kimia klinik  Ureum : 23.15.25 mg IV.00 WIB (8 jam sebelum operasi).2 mg/dL (10 – 50)  Kreatinin : 0. Terapi awal .8% (2. Jenis anestesia / risiko anestesia : Besar / besar b. RR: 22x/menit. perkusi timpani. tidak ada nyeri tekan.0)  Monosit : 4.2% (2 – 4)  Limfosit : 29.9% (25. Laporan Anestesia a.0 (3. Intra operasi Dilakukan operasi debridement dengan teknik general anestesi pada tanggal 14 Februari 2018 pukul 12. supel. Midazolam 2. N. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Darah lengkap  Hb : 13. PENATALAKSANAAN 1. Fentanyl 50µgIV 3 . Prainduksi BB : 45 kg ASA : II Jantung : dbn Paru : dbn Premedikasi : Sulfas Atropine 0.Puasa dimulai jam 00. SpO2 100% c.Rencana akan dilakukan tindakan operasi debridement pada tanggal 14 Februari 2018.

3 d. N2O f. Bangsal . Maintenance Sevofluran.Pengawasan TD/N/RR tiap ½ jam pada 4 jam pertama . Ruang pemulihan Monitoring keadaan umum pasien (Aldrette Score) Tabel 1. b. Induksi Propofol 50 mg IV e. Inhalasi : Semi open. AR dengan LMA no.Program cairan : Tutofusin ops + fentanyl 200 mcg 20 tpm makro 4 . Obat-obatan lain yang diberikan adalah ondansentron 4 mg iv dan infus paracetamol 100 mg 4. O2. Post Operasi Operasi selesai  O2 tetap diberikan  ruang pemulihan. Aldrete Score untuk pasien anestesi umum Pada pasien ini didapatkan nilai aldrete score 12 maka pasien dapat dipindahkan ke bangsal. a.

. Pus sendiri adalah cairan yang kaya dengan protein dan mengandung sel darah putih yang telah mati. Diit bebas bertahap bila sadar penuh. yang terletak di kedua sisi retrofiring. Meskipun sebagian besar terjadi pada orang dewasa muda (decade kedua dan ketiga). tetapi juga dapat merupakan penyebaran odontogenik atau trauma mukosa lokal 1 2. Program analgetik : Norages i.Lapisan Superficial dari Deep Cervical Fascia (Investing Layer) . Klasifikasi Berdasarkan letak infeksinya. Abses Colli Definisi Abses Colli Abses colli adalah penumpukan pus pada daerah leher. Pus dapat berwarna kuning atau putih. Nanah biasanya hanya terdapat pada satu sisi leher. mual (-) muntah (-) BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. peningkatan risiko juga terjadi pada keadaan imunokompromised dan pasien diabetes.Lapisan dalam dari Deep Cervical Fascia yang terderi atas : Alar fascia Prevertebral fascia Diantara ruang-ruang ini terdapat hubungan yang memungkinkan infeksi pada satu ruang dapat meluas ke ruang-ruang potesial lainnya. Ruang potensial leher dalam adalah ruang yang terbentuk oleh sekat-sekat fasia leher dalam yang terdiri atas :1 . Abses terbentuk akibat limfadenitis supuratif dari kelenjar retropharyngeal Henle.Lapisan tengah dari Deep Cervical Fascia yang terdiri atas: Lapisan Muscular Lapisan Visceral .v 1 g/8jam . abses leher dapat dibedakan menjadi : 1. Abses peritonsil Adalah infeksi leher dalam yang paling sering terjadi. Abses retrofaring Adalah kumpulan nanah ruang retrofaring. Kebanyakan abses timbul sebagai komplikasi tonsilitis atau faringitis.5 Abses colli merupakan abses yang terbentuk di ruang potensial leher dalam. 1 5 .

Ruang submandibula terdiri dari sumlingual yang berada di atas otot milohioid dan submaksila. Nanah mengumpul di bawah lidah. yang akan mendorongnya ke atas dan ke arah belakang tenggorok. yang dapat menyebabkan masalah pernapasan dan gangguan menelan menelan.1 4. Nanah biasanya satu sisi. faring. disamping itu infeksi tonsil. atau otitis media. parotis. Meskipun jarang benda asing seperti tulang ikan dan jarum serta trauma dinding posterior faring juga dapat menyebabkan abses retrofiring. Pus terkumpul dan menumpuk di ruang-ruang membentuk massa. adenoid dan nasofaring juga dapat menyebabkan pembentukan abses retrofaring. Kelenjar ini menerima limfatik dari rongga hidung . 5 PATOGENESIS Abses dapat timbul mengikuti penyakit yang menurunkan daya tahan tubuh anak seperti demam scarlet. tonsilitis. ruang submandibula. tuba eustachius dan telinga tengah. campak dll. sehingga abses retrofaring akut jarang terjadi pada anak di atas usia 5 tahun. kelenjar Henle ketika terinfeksi awalnya akan mengalami adenitis. Abses submandibula Adalah terkumpulnya pus pada ruang submandibula.5 6 . 3. ruang retrofaring dan peritonsil semua dapat menyebar ke ruang ini. Penyakit ini jarang pada anak umumnya pada remaja dan dewasa yang dihubungkan dengan infeksi gigi.2 Abses terbentuk akibat limfadenitis supuratif dari kelenjar retropharyngeal Henle. kemudian periadenitis dan pembentukan abses terjadi. Infeksi dapat menyebar ke dalam ruang jaringan dalam di leher atau di belakang tenggorokan. Abses parafaring Ruang ini berhubungan dengan setiap ruang leher dalam lainnya dan juga berhubungan dengan ruang karotid. infeksi sinus. Akibatnya infeksi berasal dari ruang mastikator.1 ETIOLOGI Abses leher terjadi selama atau setelah infeksi bakteri di kepala atau leher seperti selesma. Kelenjar ini akan mengalami atrofi antara usia 3 dan 5 tahun. sublingual. yang terletak di kedua sisi retrofiring.

faktor pejamu. anafilaksis. hipersalivasi. panas. gangguan metabolisme dan lingkungan.5 Pemeriksaan Penunjang Nilai laboratorium dapat terjadi lekositosis karena respon infeksi. 3 DIAGNOSIS Anamnesis Gejala utama berupa benjolan di leher disertai nyeri dan sebelumnya ada riwayat demam dan infeksi di daerah kepala dan leher.6 Reaksi alergi obat bisa menyerupai alergi pada umumnya seperti urtikaria. Reaksi ini cenderung bersifat 7 . Konsep mekanisme alergi obat yang umum diterima saat ini adalah konsep hapten. Abses ini juga dapat menyebabkan kesulitan bernafas akibat sumbatan jalan nafas. kimiawi obat. berat molekul obat. menolak makan. konsep pro-hapten dan konsep p-i. Pada pemeriksaan akan tampak tonjolan lunak pada bagian posterior faring pada satu sisi.MANIFESTASI KLINIS Gejala dapat berupa nyeri menelan (odinofagia). hepatitis. Pada pemeriksaan di regio leher ditemukan massa yang fluktuatif yang berisi pus disertai nyeri tekan. regimen pengobatan. Alergi Obat Alergi obat adalah reaksi simpang obat yang melibatkan mekanisme imunologis. sindrom lupus dan nefritis interstisial akut. Biopsi. asma dan penyakit serum. atopi. penyakit tertentu. berbicara dan sebagian mengalami sesak napas. pada bayi muda akan menyebabkan rewel.5 Pemeriksaan Fisik Tanda vital pada umumnya normal. Reaksi obat sendiri dipengaruhi berbagai faktor risiko seperti jenis obat. demam dan leher kaku (tortikolis). Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah kultur tenggorokan untuk menentukan jenis organisme yang menyebabkan infeksi. X-foto dan CT scan. Gejala lain yang biasanya muncul adalah kesulitan menelan. infiltrasi eosinofil ke paru. Gejala lain yang dapat muncul diantaranya adalah jenis ruam kulit (terutama eksantema).5 b. namun suhu tubuh bisa meningkat karena respon terjadinya infeksi. kemerahan dan kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening.

dan menyebabkan amnesia yang bersifat reversible dan dapat diprediksi. pengobatan reaksi yang benar dan cara-cara khusus. tes dosing. Pada pemberian anestesi umu harus diperhatikan 10 peraturan dalam pembiusan : 8 . maupun dengan biopsi. lebih cenderung terjadi pada pajanan ulang karena reaksi ini memerlukan memori (sensitasi) dengan gambaran reaksi yang terjadi pada pajanan berikutnya yangterjadi lebih cepat. analgesia atau tidak merasakan sakit. Dalam beberapa hari setelah penghentian obat. yang dapat dilakukan baik in vivo.6 c. Pemeriksaan penunjang alergi obat terdiri dari pemeriksaan penjunjang umum dan khusus. Alergi obat jarang terjadi pada pajanan pertama. Saat ini ditambah pula dengan stabilitas otonom antara saraf simpatis dan parasimpatis. yaitu kelumpuhan otot skelet. dan relakasai otot. Hal yang perlu diingat adalah alergi obat hanya terjadi pada sebagian kecil penderita yang mendapat obat. Umumnya kombinasi anastetik yang digunakan untuk anestesi umum akan mengakibatkan gejala klinis tidak berespon terhadap rangsangan yang menyakitkan. membuat tidak sadar. atau sedative. Anestesi Umum Anestesi umum mempunyai tujuan agar dapat : menghilangkan nyeri. kecuali pada kondisi yang manametabolit obat berperan sebagai hapten atau sudah terbentuknya kompleks imun. Cara- cara khusus yang penting dalam tatalaksana alergi obat diantaranya adalah threating through. yaitu membuat pasien tertidur atau mengantuk/ tenang. dan depresi kardiovaskular sehingga cenderung bradikardi dan hipotensi. desensitisasi dan pramedikasi terhadap obat-obat tertentu. tidak dapat mengingat apa yang terjadi. Tiga pilar anestesi umum atau yang disebut trias anestesi meliputi: hipnotik.spesifik yang tidak bergantung pada dosis dan efek farmakalogi obat.7 Pemeriksaan fisis pada pasien tersangka alergi obat harus dilakukan secara menyeluh terhadap semua sistem untuk mencari semua presentasi klinis alergi obat. in vitro. depresi atau tidak mampu mempertahankan proteksi jalan napas yang memadai hingga ketidakmampuan melakukan ventilasi spontan akibat kelumpuhan otot.7 Tiga hal yang menjadi dasar tatalaksana alergi obat adalah menghindari faktor yang menimbulkan gejala. reaksi alergi obat biasanya menghilang.

dapat seara palpasi manual. 5. 9 . Biasanya dilakukan di bangsal rawat inap atau instalasi gawat darurat. Check His Pulse and Blood Pressure. Do an Adequate Preoperative Assesment atau penilaian pasien sebelum dilakukan pembedahan dan pembiusan. Akses vena harus selalu tersedia karena banyak obat atau anestetik diberikan lewat jalur vena. Keep His Airway Clearly. Be Ready to Control His Ventilation. apakah ada kebocoran gas-gas. 8. 3. Ahli anestesi harus selalu mengecek mesin anestesi. Pasien yang akan dilakukan pembiusan. 7. Pada penilaian ini kemudian dapat ditentukan resiko pembiusan dan pembedahan yang dinyatakan dalam status ASA (American Society of Anesthesiologist). sedapat mungkin dilakukan dalam keadaan lambung kosong. atau dengan mesin monitor tanda vital. akses vena berguna untuk memberikan terapi atau resusitasi cairan jika diperlukan. walaupun kadang terdapat posisi tertentu untuk memudahkan operator bekerja (misalnya posisi miring. Keep An Instantly Suction . dan litotomi). Hal ini bertujuan agar meminimalisasi kejadian aspirasi isi lambung atau regurgitasi (mengalirnya isi lambung yang asam ke saluran pernapasan). sediakan selalu mesin pengisap lender dan cairan untuk berjaga-jaga apabila terjadi aspirasi atau muntah. Selain itu. Put Him on Tipping Table . pasien yang akan dilakukan pembedahan selanjutnya dibaringkan pada meja operasi yang datar dan cukup keras sehingga mudah dalam pemantauan. 9. 4. Saluran napas yang bersih dan tidak terhalang akan memudahkan untuk dilakukan tindakan pemberian bantuan pernapasan. Check Your Machine and Cylinder Before You Start. Starve him. Petugas harus selalu siap memberikan bantuan pernapadan apabila terjadi henti napas atau napas tidak adekuat. 2. 1. tengkurap. Denyut nadi dan tekanan darah harus selalu dimonitor. Have Open Veins. dan apakah tabung gas terisi penuh atau kurang sehingga tidak membahayakan pasien yang akan dianestesi. apakah ukuran pipa sesuai untuk anak atau dewasa. jika pasien gawat darurat. 6.

anesteti mencapai konsentrasi tertentu sehingga cukup kuat untuk menyebabkan proses difusi ke dalam sirkulasi dan seluruh tubuh/ jaringan. tidak ada gangguan organic.4 Respirasi merupakan salah satu jalan masuknya anestetik. reflek kelopak mata dan reflek cahaya. sehat dengan toleransi latihan yang baik 10 . dan rektal (melalui anus). intramuscular). semakin rendah suhu tubuh pasien. dapat dilakukan uji reflek pada mata. Tidak termasuk sangat muda dan sangat tua. Factor-faktor lain yang mempengaruhi anestesi adalah ventilasi dan suhu tubuh sehingga semakin sering diberikan ventilasi atau pernapasan. Dalam alveoli. inhalasi (melalui isapan/gas). atau semprotan yang dimasukkan ke anus. Metode secara rektal sudah jarang digunakan. Always Have Some One Who Can Apply Cricoid Pressure. semakin cepat efek anestesi terjadi. reflek bulu mata.4 Macam dan Tanda Reflek pada Mata Untuk mengetahui apakah seseorang telah memasuki stadium anestesi atau belum.4 Status Fisik Pasien Status fisik dinyatakan dalam status ASA (American Society of Anesthesiologist). fisiologis atau kejiwaan. akan muncul efek anesteti berupa hipnotik atau tidur lebih cepat. reflek-reflek pada mata akan hilang seperti pada hasil uji ini. Reflek-reflek tersebut adalah reflek pupil. Apabila anestetik tersebut masuk ke organ yang kaya pembuluh darah seperti otak. biasanya digunakan pada bayi atau anak-anak dalam bentuk suppositoria. Peubahan hemodinamik dapat terjadi sebagai akibat depresi pada jantung oleh anestetik. Factor-faktor yang mempengaruhi kerja anestetik diantaranya factor respirasi. tablet. makon cepat terjadi efek anestesinya. Pada pasien dengan koma. Metode Anestesi Umum Anestetik umum dapat diberikan secara parenteral (intravena. Begitu juga dengan suhu tubuh. sirkulasi. yaitu pasien normal. Petugas selalu didampingi petugas lainnya untuk membantu menekan tulang krikoid sehingga memudahkan untuk intubasi. khususnya metode inhalasi. 10. dan jaringan. Obat inhalasi masuk melalui proses inspirasi dan mencapai alveoli paru.4  ASA 1.

Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda darurat (E = emergency). misalnya ASA 1 E atau III E. obat hipnotik cair yang diberikan secara intravena. yaitu pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat yang diaktibatkan karena berbagai penyebab.  ASA 2. dapat dikelompokkan menjadi hipnotik. sedative. Cara pemasangannya diawali dengan oksigenasi menggunakan sungkup muka. etomidate. atau pasien apendisitis akut dengan lekositosis dan febris. analgesic. misalnya : Propofol.4 e. memerlukan mesin anestesi untuk dapat diberikan kepada pasien dengan cara dihirup melalui sungkup muka. yaitu pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang baik karena penyakit bedah maupun penyakit lainnya. Setelah masuk ke hipofaring. Contohnya pasien tua dengan perdarahan basis krani dan syok hemoragik karena ruptura hepatic. dan pelumpuh otot. Hipnotik Sesuai namanya obat ini akan menimbulkan tidur yang ringan tanpa pasien merasa mengantuk sehingga pasien langsung tertidur begitu terpapar obat ini.  ASA 4. ketalar. 1. Teknik dengan menggunakan LMA akan mengurangi resiko aspirasi dan regurgitasi dibandingkan jika menggunakan sungkup muka.  ASA 3. Keterbatasan fungsional. 4 Pada dosis tertentu. d. yaitu pasien tidak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak. digunakan beberapa anestetik. Contohnya pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol.  ASA 5. Teknik Anestesi Umum Dengan Laryngeal Mask Airway Manajemen saluran napas menggunakan LMA merupakan metode memasukkan LMA ke dalam hipofaring. dan pentotal dapat juga digunakan sebagai 11 . sungkup muka dapat disambungkan dengan LMA atau ET. kemudian baru memasukkan LMA yang sudah diberi pelumas ke hipofaring. Golongan hipnotik dapat berupa gas dan cairan. yaitu pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung mengancam kehidupannya. misalnya: halotan sevoflurane. Setelah tercapai hypnosis atau tertidur. isoflurane. dan ethrane. Penggunaan Obat Anestesi Untuk melakukan anestesi umum. Untuk jenis gas. LMA selanjutnya digembungkan menggunakan spuit dan difiksasi menggunakan plester. memiliki penyakit lebih dari satu system tubuh atau satu system utama yang terkendali.

Onset midazolam untuk dosis induksi relative lebih lama dibandingkan dengan Propofol. yaitu hanya dalam satu tarikan napas dapat membuat pasien langsung teinduksi/ tertidur dan otot rangka lemas sehingga memudahkan untuk tindakan intubasi. dan buccal.4 b.6-diisopropylphenol) merupakan salah satu obat induksi intravena yang saat ini paling banyak digunakan. Pasien biasanya mengeluh nyeri saat penyuntikan obat ini.4 2. Semua obat hipnotik mempunyai efek depresan miokardiu dan respirasi kecuali ketalar.1-0. lesitin telur yang berasal dari kuning telur.1 mg/KgBB.5 mg/KgBB yang diberikan secara intravena.01-0.4 c. Dosis untuk induksi sebesar 0. dan dapat menjadi tertidur. Propofol Propofol 92. Pasien yang terpapar obat ini akan merasa tenang. Dosis untuk induksi sebesar 1-2. Sevoflurane dikenal dengan obat untuk single breath induction. sering digunakan untuk obat sedasi dengan dosis 0. Sedatif Obat sedatif akan memberikan efek kantuk dan tenang bagi pemakai. Midazolam sangat kecil memengaruhi system kardiovaskular. Karena itu dapat diberikan lidokain 2% dalam campuran sediaan Propofol. dan gliserol. Sevoflurane Senyawa yang sedikit berbau ini sanga cocok dipakai baik untuk induksi pada anak-anaak maupun dewasa. mengantuk. a. sedative. dan memiliki sifat amnesia antegrad yang kuat. Sediaan tersedia berupa sublingual.4 mb/KgBB. Kelarutan dalam darah yang rendah menyebabkan pasien cepat bangun dari kondisi tertidur begitu obat ini dihentikan pemberiannya. serta 12 . Waktu paruhnya yang pendek. Efek induksi cepat sevoflurane disebabkan karena sifatnya mudah mencapai konsentrasi yang tinggi di alveolus. yaitu antara 2-8 menit membuat induksi dengan Propofol berlangsung dengan onset dan durasi yang cepat. Metabolism di hepar hanya seperempat halotan sehingga cukup aman untuk pasien dengan gangguan fungsi hepar. intranasal. Propofol bersifat tidak larut air sehingga dibuat menjadi sediaan emulsi berwarna putih susu yang terdiri atas 1% konsentrasi yang berisi campuran minyak kedelai. Senyawa ini bekerja dengan cara menghambat kerja neurotransmitter yang dimediasi oleh GABA. Midazolam Merupakan golongan benzodiazepine.

melupakan semua kejadian yang dialami selama tersedasi. Biasanya pasien akan mengalami apneu beberapa saat. vekurium. Fentanyl merupakan opioid dengan daya analgesic yang kuat. pruritus. kappa.4 Pada pemberian opioid. Suksinil kolin juga dapat memicu timbulnya malignant hyperthermia . Sufenta merupakan opioid dengan daya analgesic paling kuat dibandingkan morfin. Muscle Relaxant/ Pelumpuh Otot Pelumpuh otot digunakan untuk membantu proses pemaangan ET. dan fentanyl. dan onset serta durasinya lebih singkat dibandingkan morfin dan petidin. Meperidine mempunyai sifat yang unik. kemudian kadang-kadang berlanjut sehingga perlu diberi bantuan pernapasan. yaitu golongan NSAID (Non Steroid AntiInflammatory Drug) dan OPIOD. Morfin paling sering menimbulkan pruritus karena terikat di reseptor mu. yaitu gangguan hipermetabolisme pada otot skelet. Fasikulasi ini menyebabkan pasien mengeluh myalgia pasca operasi.4 3. Analgesic Opioid. Contoh obat sedasi yang banyak dipakai adalah midazolam dan diazepam. ketorolac. beronset cepat (30-60 detik). tetapu dapat menimbulkan kekakuan otot (rigiditas). Contoh obat-obatan golongan opioid adalah morfin. meperidine. delta. terdapat pula pelumpuh otot depolarisasi. kurang menyebabkan pelepasan histamin. Cara kerja golongan NSAID adalah dengan mencegah pembentukan prostaglandin. Analgesik Ada 2 jenis analgesic yang diapakai. Golonhan depolarisasi membuat pasien mengalami fasikulasi atau gerakan seperti kejang. misalnya suksinil kolin. Secara umum. dan pavulon. Semua opioid memiliki efek depresi pernapasan. atrakurium. harus diperhatikan efek samping yang trejadi. dan sufenta. efek samping yang muncul berupa nausea. sering dipakai untuk menghilangkan nyeri selama operasi atau untuk menumpulkan respon terhadap tindakan manipulasi saluran napas seperi intubasi. fentanyl. juga terikat pada reseptor mu. dan natrium diklofenak. yaitu menurunkan shivering pasien pada dosis 25 mg secara intravena. bahkan tidak menimbulkan reaksi ketagihan. dan berdurasi pendek. Tramadol adalah opioid sintetik yang kekuatannya sangat kecil. petidin. Golongan NSAID biasanya dipakai untuk mengatasi nyeri pasca operasi. Fentanyl merupakan analgesic yang sangat kuat. karena sifat analgesiknya yang sangat kuat. Selain itu. 4. dan sogma). Obat-obatan yang termasuk golongan ini adalah parasetamol. dan sedasi.4 13 . tramadol. Terdapat pelumpuh nondepolarisasi seperti rocuronium. efek samping yang ditimbulkan pun beragam.4 Karena cara kerja opioid adalah dengan terikat pada reseptor opioid dalam berbagai tingkatan (yaitu reseptor mu.

5 menit (rocuronium) sampai 5 menit (doxacurium). antara 15 menit (mivacurium) sampai 150 menit (doxacurium).4 14 .Pelumpuh otot golongan nondepolarisasi relative lebih banyak jenisnya. Ada yang beronset cepat. yaitu sekitar 1.5 mg/KgBB. banyak yang memaai rocuronium atau atrakurum karena onsetnya yang relative cepat dan durasinya yang cukup panjang. Saat ini. Durasi pelumpuh otot nondepolarisasi juga bervariasi. Dosis untuk intubasi yaitu 0.

maka analgesik NSAID yang diberikan adalah Paracetamol 500mg i. Hal ini penting karena tenaga kesehatan dapat menentukan prognosis pasien setelah dilakukannya operasi. Tidak ada keterbatasan fungsional. Obat-obatan yang digunakan juga perlu diperhatikan. akan diperoleh gambaran mengenai status pasien. yaitu pasien dengan kelainan sistemik ringan. Pasien juga memiliki riwayat asma dan alergi obat.v karena lebih aman untuk penderita asma dan jarang terjadi alergi obat. berdasarkan pertimbangan yaitu operasi dengan pembedahan di bagian leher. status fisik dan prognosis pra anestesi pasien berada pada kategori ASA II. . Pada kasus ini. memiliki penyakit terkendali dengan baik dari satu sistem tubuh yaitu Asma dan alergi obat multipel. BAB III PEMBAHASAN Dari pemeriksaan fisik dan penunjang. Jenis anestesi yang digunakan adalah general anestesi.

dan penderita dengan pengobatan antikoagulantia. Anestetik umum dapat diberikan secara parenteral (intravena. Indikasi anestesi umum yaitu : infant & anak usia muda. . riwayat penderita toksik/ alergi obat anestesi local. dewasa yang memilih anestesi umum. dan perektal. BAB IV KESIMPULAN Anestesi umum mempunyai tujuan agar dapat menghilangkan nyeri. intramuscular). dan menyebabkan amnesia yang bersifat reversbel dan diprediksi. inhalasi (melalui isapan/gas). pembedahan dimana anestesi local tidak praktis. penderita sakit mental. pembedahan luas/ ekstensif. pembedahan lama. membuat tidak sadar.

Immunol Allergy Clin North Am. Edisi 5. Fachruddin D.24(3):425– 43 . 2005a. Jakarta:Balai penerbit FKUI. Hedges JR. Edisi ke. 2004. Hitti E. Drug desensitization. 2014. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . In : Soepardi EA. 6th ed. American College of Allergy. Round Joint Task Force on Practice Parameters. Jakarta : EGC 3. P185-189 2. Hall J. Rahman. Asthma and Immunology. S. Diagnosis dan penatalaksanaan abses leher dalam.9. In: Roberts JR. Ann Allergy Asthma Immunol. LP3M Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pramono Ardi. American Academy of Alergy. Joint Council of Allergy. Asthma and Immunology. Buku Kuliah Anestesi. Asthma and Immunology. Holtzman LC..2003. Guyton A. eds. Philadelphia. 64-71. Iskandar N. DAFTAR PUSTAKA 1. (2013). Solensky R. 2010. 6. Clinical Procedures in Emergency Medicine. Drug allergy: an updated practice parameter. Harrow J. Jurnal Emergency Di Bidang Telinga Hidung Dan Tenggorokan. Yogyakarta. 2013:chap 3 4. Abses Leher Dalam.105(4):259-73 7.C. PA: Saunders Elsevier. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. 5.E. Incision and drainage.