You are on page 1of 21

MANAJEMEN PERKREDITAN

MAKALAH

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS
Matakuliah Manajemen Keuangan Perbankan
yang dibina oleh Bapak Achmad Murdiono S.E., S.Pd., M.M

oleh:
Fairozy Azizah 150413602297
Gita Mutiara A 150413603093
M. Samsul Zaeni 150413600069
Nely Indiana 150413602436
Nimas Zahrotul 150413602060
Nindy Avilia 150413600578
Nurul Aisah 150413602624

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
MARET 2018
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kekuatan serta kemudahan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Keuangan Perbankan yang dibina oleh Bapak Achmad Murdiono
selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu dalam penyusunan
makalah ini, serta kepada teman-teman dan semua pihak yang telah mendukung
penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini juga masih banyak kekurangan karena
pengetahuan kami yang terbatas, serta kami mohon saran dan kritik yang
membangun dari pembaca untuk memperbaiki makalah kami kedepannya.
Harapan kami, semoga makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi teman-
teman Mahasiswa/mahasiswi Universitas Negeri Malang, tetapi juga bagi semua
pihak di luar sivitas akademika Universitas Negeri Malang yang berkeinginan
untuk melengkapi data atau informasi yang berkaitan dengan makalah ini.

Malang, Maret 2018

Penulis

3
Daftar isi
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... 3
BAB I .................................................................................................................................. 5
PENDAHULUAN ............................................................................................................. 5
1.1 Latar Belakang ................................................................................................... 5
1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 5
BAB II ................................................................................................................................ 6
PEMBAHASAN ................................................................................................................ 6
2.1 Pengertian, Tujuan dan Fungsi Kredit ................................................................... 6
2.1.1 Pengertian ......................................................................................................... 6
2.1.2 Tujuan Kredit................................................................................................... 6
2.1.3 Fungsi Kredit .................................................................................................... 7
2.2 Macam dan Jenis Kredit .......................................................................................... 7
2.3 Falsafah Perkreditan ....................................................................................... 10
2.4 Kebijakan Suku Bunga ( Interest Rate Policy) ............................................... 11
1) Faktor dalam penentuan bunga kredit. ........................................................ 12
2) Penentuan policy perkreditan ........................................................................ 14
2.6 Analisis atas Permohonan Kredit .......................................................................... 15
a. Analisa 5C dalam Proses Persetujuan Kredit .............................................. 16
b. Analisa 5P dalam Proses Persetujuan Kredit ............................................... 17
c. Analisa 3R dalam Proses Persetujuan Kredit .............................................. 18
BAB III............................................................................................................................. 20
PENUTUP........................................................................................................................ 20
KESIMPULAN ............................................................................................................. 20
DAFTAR RUJUKAN ..................................................................................................... 21

4
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bank adalah Lembaga intermediaris, artinya bank sebagai perantara bagi
pihak yang surplus dana dengan pihak yang defisit dana melalui perkreditan.
Selain itu, kredit merupakan produk utama bank yang emnghasilkan kontribusi
keuntungan terbesar bagi bank. Sehingga penting untuk mempelajari manajemen
perkreditan dalam manajemen perbankan.

Dalam pelaksanaan pemberian kredit dan pengolaannya, bank wajib
mematuhi kebijaksananaan perkreditan yang telah dibuat secara konsekuen dan
konsisten. Kebijsanaan perkreditan tersebut sudah diterapkan dan dilaksanakan
sejak tanggal 1 Januari 1996. Apabila dalam pelaksanaanya ternayata bank
memberikan kredit tidak sesuai dengan kebijaksanaan perkreditan yang telah
ditetapkannya, maka BI akan memberikan sanksi yang mempengaruhi penilaian
kesehatan bank dan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
telah berlaku.

Manajemen perkreditan bank adalah satu hal yang penting untuk
mengoptimalkan kinerja bank untuk memaksimalkan profit atas sector
perkreditannya. Dengan kata lain manajemen perkreditan perbankan adalah
manajemen piutang perusahaan umum.

1.2 Tujuan Penulisan

1. Mendiskripsikan pengertian, tujuan dan fungsi kredit.
2. Mendiskripsikan macam dan jenis kredit.
3. Mendiskripsikan falsafah perkreditan.
4. Mendiskripsikan interest policy.
5. Mendiskripsikan penyusunan rencana kredit.
6. Mendiskripsikan analisa atas permohonan kredit.

5
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian, Tujuan dan Fungsi Kredit
2.1.1 Pengertian
Manajemen Perkreditan adalah suatu rangkaian kegiatan dan komponen
yang saling berhubungan satu dengan yang lain secara sistematis dalam proses
pengumpulan dan penyajian informasi perkreditan suatu bank.
2.1.2 Tujuan Kredit
Dalam membahas tujuan kredit, kita tidak dapat melepaskan, diri dari
falsafah yang dianut suatu negara. Pancasila adalah dasar dari falsafah negara kita
maka tujuan kredit tidak semata–mata mencari keuntungan melainkan di
sesuaikan dengan tujuan negara yaitu untuk mencapai masyarakat adil dan
makmur berdasarkan pancasila. Dengan demikian maka tujuan kredit yang di
berikan oleh suatu bank, khususnya bank pemerintah yang mengembangkan tugas
sebagai agen of development menurut Bambang Riyanto (1984 ; 27) adalah
untuk:
a) Turut menyukseskan program pemerintah di bidang ekonomi dan
pembangunan.
b) Meningkatkan aktifitas perusahaan agar dapat mencalonkan fungsinya guna
menjamin terpenuhnya kebutuhan masyarakat.
c) Memperoleh laba akan kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan dapat
memperluas usahanya.
Dari tujuan tersebut tersimpul adanya kepentingan yang seimbang antara:
a) Kepentingan pemerintah.
b) Kepentingan masyarakat.
c) kepentingan pemilik modal.
Walaupun bank mengembang tugas-tugas sebagai Agent of develop bank tidak
bisa menghindari terjadinya kerugian dalam memberikan kredit, sehingga bank
harus melakukan usaha-usaha yang bisa mencegah terjadinya kerugian hal ini
dapat di katakan bahwa :
a) Sebagian kredit bank yang sudah beredar harus di kumpulkan kembali tanpa
pengawasan ekstra.

6
b) Diantara kredit-kredit yang sulit di tagih atau ditarik kembali sebagian besar
kredit terkumpulkan tanpa kerugian atau kekurangan.
c) Apabila memang harus terjadi kerugian, maka bank harus memperkecil
kerugian seminimal mungkin.
2.1.3 Fungsi Kredit
Dalam kehidupan perekonomian yang modern banyak memegang
peranan yang sangat penting untuk karena itu organisasi-organisasi bank selalu di
ikut sertakan dalam menentukan kebijakan di bidang moneter. Hal ini sebabkan
oleh bank mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam bidang kehidupan
khususnya di bidang ekonomi.
Fungsi kredit perbankan menurut Thomas Suyatno (1993;25) dalam
kehidupan perekonomian dan perdagangan antara lain sebagai berikut :
a) Kredit pada hakekatnya dapat maningkatkan daya guna uang.
b) Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalulintas uang.
c) Kredit dapat pula meningkatkan daya guna peredaran barang.
d) Kredit sebagai salah satu alat stabilitas ekonomi.
e) Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha masyarakat.
f) Kredit adalah jembatan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan nasional.
g) Kredit sebagai alat meningkatkan hubungan ekonomi internasional.
2.2 Macam dan Jenis Kredit
Beragam jenis kegiatan usaha yang mengakibatkan beragam pula
kebutuhan akan jenis kreditnya. Dalam praktiknya kredit yang ada di masyarakat
terdiri dari beberapa jenis begitu pula pemberian kredit oleh bank kepada
masyarakat. Pemberian kredit oleh bank dikelompokkan ke dalam jenis yang
masing-masing dilihat dari berbagai segi. Pembagian jenis ini ditujukan untuk
mencapai sasaran atau tujuan tertentu mengingat setiap jenis usaha memiliki
berbagai karakteristik tertentu.

Menurut Kasmir (2012:90) jenis-jenis kredit dapat dilihat dari berbagai
segi antara lain sebagai berikut:

1. Dilihat dari segi kegunaan

7
Adalah jenis kredit yang melihat penggunaan uang tersebut apakah
digunakan untuk kegiatan utama atau hanya untuk kegiatan tambahan. Jenis kredit
dilihat dari segi kegunaannya adalah:
a) Kredit Investasi adalah kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan
perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru untuk keperluan
rehabilitasi dimana masa pemakaiannya untuk periode yang relative lama.
Contoh dari kredit investasi yaitu pembangunan pabrik atau membeli mesin-
mesin atau peralatan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
b) Kredit Modal Kerja adalah kredit yang digunakan untuk keperluan
meningkatkan produksi dalam kegiatan operasionalnya. Kredit modal kerja
merupakan kredit yang dicairkan untuk mendukung kredit investasi yang
sudah ada. Contoh dari kredit modal kerja digunakan untuk membeli bahan
baku, membayar gaji pegawai atau biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan
proses produksi perusahaan.

2. Dilihat dari segi tujuan kredit
Adalah jenis kredit ini dilihat dari tujuan pemakaian suatu kredit, apakah
bertujuan untuk kegiatan usaha lagi atau digunakan untuk keperluan pribadi. Jenis
kredit dilihat dari segi tujuan yaitu sebagai berikut:
a) Kredit Produktif adalah kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau
produksi atau investasi. Kredit ini digunakan untuk menghasilkan barang atau
jasa, artinya kredit ini digunakan dalam kegiatan produksi suatu perusahaan
dalam menghasilkan suatu barang atau jasa.
b) Kredit Konsumtif adalah kredit yang digunakan untuk dikonsumsi atau
dipakai secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan
jasa yang dihasilkan karena memang digunakan oleh konsumen untuk tujuan
konsumtif misalnya pembelian kendaraan bermotor, renovasi rumah,
pembelian tanah.
c) Kredit Perdagangan adalah kredit yang digunakan untuk kegiatan
perdagangan dan biasanya untuk membeli barang dagangan yang
pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut.

8
Kredit ini sering digunakan oleh supplier atau agen-agen perdagangan yang
akan membeli barang dalam jumlah tertentu.

3. Dilihat dari segi jangka waktu
Adalah jenis kredit yang dilihat pada lamanya masa pemberian kredit
mulai dari pertama kali diberikan kredit sampai masa pelunasannya. Jenis kredit
ini ialah
a) Kredit jangka pendek adalah kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari
satu tahun atau paling lama satu tahun dan biasanya digunakan untuk
keperluan modal kerja. Contohnya kredit untuk peternakan ayam.
b) Kredit jangka menengah adalah kredit yang memiliki jangka waktu kredit
berkisar antara satu tahun sampai dengan tiga tahun, dan biasanya kredit ini
digunakan untuk melakukan investasi. Beberapa bank mengklasifikasikan
kredit menengh menjadi kredit jangka panjang.
c) Kredit jangka panjang adalah kredit yang masa pengembaliannya paling
panjang yaitu diatas tiga tahun atau lima tahun. Biasanya kredit ini digunakan
untuk investasi jangka panjang seperti perkebunan karet, kelapa sawit atau
perusahaan manufaktur dan juga untuk kredit konsumtif seperti perkreditan
rumah.

4. Dilihat dari segi jaminan
Adalah jenis kredit yang dilihat dari setiap pemberian suatu fasilitas
kredit harus dilindungi dengan suatu barang atau surat-surat berharga minimal
senilai kredit yang diberikan. Jenis kredit dilihat dari segi jaminan yaitu
a) Kredit dengan jaminan adalah kredit yang diberikan dengan suatu jaminan
tertentu. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak
berwujud, artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi senilai
jaminan atau jaminan tersebut harus melebihi jumlah kredit yang diajukan
oleh calon debitur.
b) Kredit tanpa jaminan adalah kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau
orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha,

9
karakter, serta loyalitas atau nama baik calon debitur selama berhubungan
dengan bank atau pihak lain yang bersangkutan.

5. Dilihat dari segi sector usaha
Adalah dilihat dari sector usaha yang memiliki karakteristik yang
berbeda-beda, oleh karena itu pemberian suatu kredit pun berbeda pula. Jenis
kredit dilihat dari sector usaha sebagai berikut:
a) Kredit pertanian adalah kredit yang dibiayai untuk sector perkebunan atau
pertanian rakyat. Sector usaha pertanian dapat berupa jangka pendek atau
jangka panjang.
b) Kredit peternakan adalah jenis kredit yang diberikan untuk jangka yang
relative pendek, misalnya peternakan ayam dan untuk kredit jangka panjang
seperti peternakan sapi atau kembing.
c) Kredit industri adalah kredit yang digunakan untuk membiayai industri
pengolahan baik industri kecil, menengah atau besar.
d) Kredit pertambangan adalah jenis kredit yang digunakan usaha
pertambangan yang dibiayai dalam jangka panjang seperti tambang emas,
minyak atau tambang timah.
e) Kredit pendidikan adalah kredit yang diberikan untuk membangun sarana
dan prasarana pendidikan atau dapat berupa kredit untuk para mahasiswa
yang sedang belajar.
f) Kredit profesi adalah kredit yang diberikan untuk para professional seperti
dokter, dosen, pengacara, konsultan, akuntan public untuk mengembangkan
profesinya.
g) Kredit perumahan adalah kredit untuk membiayai pembangunan atau
pembelian perumahan.

2.3 Falsafah Perkreditan

Disinilah kiranya kita perlu berfilsafat, yaitu berusaha mengetahui apa
hakikat yang terkandung dalam pengertian kredit, apa masalah-masalahnya dan

10
bagaimana pemecahannya. Pada uraian terdahulu telah kita singgung bahwa bank
dan kreditnya tidak dapat melepaskan diri dari gerak prekonomian dan
perdagangan. Salah satu sumber dan factor penting dalam ekonomi adalah
permodalan. Pda hakikatnya masalah permodalan adalah masalah hidup matinya
suatu usaha. Sebagai lembaga keuangan, bank adalah lembaga penghimpun dana
dan sebagai lembaga kredit. Dalam menjalankan kedua tugas pokok ini bamk
dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa sumber oprasinya adalah justru berada
pada masyarakat. Untuk menghimpun dana, bank harus kemasyarakat dan
demikian pula untuk melepaskan kredit. Sebaliknya, masyarakat memerlukan
bantuan kredit dan jasa-jasa bank dalam memperlancar tujuan usahanya.
Dengan demikian kredit merupakan mediator untuk mempertemukan
kepentingan yang sama itu dan karenanya kredit harus dapat menempatkan
dirinya sebagai peransang kedua pihak. kepentingan dan keuntungan yang
diharapkan baik oleh masyarakat maupun oleh bank, tercermin dalam dunia
kegiatan pokok bank tadi, yaitu to receive deposits (menerima/menghimpun dana)
and to make loans (memberikan kredit). Selain itu kredit merupakan suatu
barometer, suatu pengukur apakah seseorang pengusaha sukses atau tidak . makin
besar kredit diberikan, makin besar pula usahanya dan makin besar kepercayaan
orang dan makin berkembanglah pengusaha itu. Sekarang ini telah terjawab
pernyataan tentang hakikat bahwa tak seorang pun sebenarnya ingin terlibat
utang, karena kredit bukan hanya sekedar utang, tapi suatu modal, suatu alat untuk
mencapai suatu tujuan usaha, suatu teman dikalah susah , teman dikalah ingin
maju dan teman setelah maju. Kredit adalah teman pengusaha selama-lamanya,
selagi usahanya itu masih ada.

2.4 Kebijakan Suku Bunga ( Interest Rate Policy)

Kebijakan suku bunga meliputi suku bunga kredit dan deposito.
Kebijakan menaikkan atau menurunkan suku bunga kredit bertujuan untuk
mengendalikan penyaluran kredit yang berlaku di masyarakat. Ketika jumlah uang
yang beredar terlalu banyak maka tingkat suku bunga kredit dinaikkan agar uang
yang tersalurkan melalui kredit dapat berlangsung secara selektif, sehingga

11
permintaan kredit oleh masyarakat dapat menurun. Ketika jumlah uang beredar
terlalu sedikit maka suku bunga kredit diturunkan agar masyarakat tertarik untuk
meminjam uang sehingga jumlah uang yang beredar menjadi banyak. Kebijakan
pengendalian suku bunga deposito merupakan tindakan pemerintah melalui bank
sentral untuk menciptakan kestabilan rupiah yang beredar dipasaran.
Jika bunga deposito dinaikkan menyebabkan terserapnya dana
masyarakat ke perbankan atau dengan kata lain masyarakat lebih cenderung untuk
menabung daripada investasi sehingga jumlah uang yang beredar pada masyarakat
akan berkurang. Sebaliknya jika bunga deposito diturunkan maka akan
menyebabkan masyarakat mengambil depositonya di bank dan cenderung
melakukan investasi sehingga jumlah uang beredar pada masyarakat akan
bertambah.
Menurut Keynes, bunga uang itu ditentukan oleh preferensi likuiditas
(liquidity preference)dan jumlah uang. Liquidity preferences itu disebabkan
karena tiga hal, yaitu:
a. Transaction motive: orang memerlukan uang yang liquid untuk melakukan
transaksi pembayaran sehari-hari.
b. Precautionary motive: orang ingin mempunyai persediaan uang untuk
menghadapi pristiwa-peristiwa yang tidak terduga, dus cadangan/ persediaan
bila sewaktu-waktu harus melakukan pembayaran.
c. Speculative motive: orang ingin mempunyai uang liquid untuk mencari
untung pada saat dapat dilakukan spekulasi.
Bunga pada dasarnya mempunyai dua pengertian sesuai dengan
peninjauannya. Bagi bank, bunga adalah suatu pendapatan atau suatu
keuntungan atas peminjaman uang. Bagi pengusaha atau nasabah, bunga
dianggap sebagai ongkos produksi ataupun biaya modal.
1) Faktor dalam penentuan bunga kredit.
Ditinjau dari segi ekonomi dan perbankan sebagai perusahaan , maka
faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan tingkat bunga adalah
sebagai berikut:
a. Keadaan ekonomi dan keuangan

12
Dalam hal ini diperhatikan tentang supply dan demand dari dana-dana
atau uang, tegasnya memperhatikan keadaan pasar uang. Bila uang dan
peredarannya terus meningkat , maka tingkat bunga perlu dinaikkan. Demikian
pula arah kredit perlu ditunjukkan terutama pada sektor –sektor yang vital serta
menambah produktivitas.
b. Degree of risk
Dalam pertimbangan risiko ini diperhatikan tentang maturity (jatuh
tempo), nilai jaminan yang disediakan , keadaan keuangan nasabah (tersimpul
dalam neraca /rugi/laba). Dan prospek usaha yang bersangkutan selama kredit
berjalan. Bertambah tinggi suatu risiko, bertambah tinggi pula tingkat bunga yang
dikenakan, demikian sebaliknya, bertambah rendah risiko kredit akan bertambah
rendah pula bunga yang dikenakan.
c. Hal lain dalam pertimbangan bunga adalah hubungan rekening nasabah
(account relationship).
Ini bukan merupakan hal yang sukar, karena perkembangan hubungan
nasabah dengan bank tertera dalam mutasi keuangannya yang disalurkan via
rekening giro atau deposito.dibeberapa bank, faktor kadangkala diabaikan dalam
arti kata bukan merupakan hal yang sangat menentukan dalam pemberian kredit
atau bunga . tapi ada beberapa bank yang sangat strict (teliti) dalam menilai
account relationship ini.
d. Kemampuan dalam perdagangan dan persaingan.
Merupakan penilaian tambahan bila dalam mempertimbangkan degree of
risk dirasakan kurang lengkap. Diperhatikan apakah nasabah tetap survive dalam
dunia usahanya, secara minimal. Juga diperhitungkan kekuatannya dalam
persaingan baik terhadap barang-barang sejenis buatan dalam negeri atau barang-
barang impor. Dan bila pemasaran barang-barang sampai dinegara-negara lain,
perlu diteliti apakah mampu bertahan terhadap barang-barang lain dinegara itu,
baik hasil negara itu sendiri maupun barang-barang dari negara lain.
Bila dalam perdagangannya menunjukkan trend yang terus naik, tingkat
bunga untuk nasabah ini perlu dipertimbangkanuntuk diturunkan agar usahanya
dapat bertambah maju secara pesat.bila perdagangannya menurun, maka perlu
diteliti apakah bunga yang dikenakan sekarang ini merupakan ongkos yang mahal.

13
Bila memang demikian dan dengan penurunan tingkat bunga, kemungkinan
usahanya akan dapat berkembang maju, maka harus diadakan pertimbangan
kembali atas tingkat bunga yang dikenakan.
e. Cost of money dari bank
Dari segi ekonomi perusahaan, faktor ini merupakan dasar pertimbangan
yang paling penting. Bila cost of money tinggi, maka otomatis interest-pun akan
tinggi. Yang dimaksud cost money adalah biaya dana. Kredit adalah dana
operasional suatu bank. Dari 100% dana yang ada pada bank, sebagian besar
digunakan bank untuik pemberi kredit. Dana yang diperuntukkan kredit ini sering
dikenal dengan istilah ‘’loanable funds’’ atau dana yang dapat dijadikan
kredit/loan

2) Penentuan policy perkreditan
Sebagai lembaga kredit, bank harus menentukan policy atau
kebijaksanaan umum yang harus ditempuhnya. Pimpinan bank harus telah dapat
menyelami dengan sungguh-sungguh kondisi-kondisi prekonomian dan
perdagangan yang merupakan landasan bagi uasahanya.
Pimpinan bank harus telah dapat mengukur kekuatan keuangan dan
permodalan bank, baik uang sendiri maupun uang luar.tiap bank mempunyai
faktor-faktor pertimbangan sendiri dalam penentuan kebijaksanaan
perkreditannya. Pada umumnya dalam penentuan policy perkreditannya beberapa
faktor penting haruslah diperhatikan dengan seksama:
a. Bagaimana keadaan keuangan bank saat ini?manajemen melihatnya dari
kekuatan keuangan bank, antara lain jumlah deposito , tabungan, giro, dan
jumlah kredit. Setiap item dari aktiva diteliti benar-benar dan pemisahan
menurut pos-pos yang current (lancar) dan non current (aktiva tetap).
b. Pengalaman bank dalan beberapa tahun , harus dipelajari terutama yang
berhungan dengan dana dan perkreditan. Diperhatikan bagaimana
fluktuasinya, terutama mengenai jumlah dan lama pengendapan , kelancaran
kredit yang diberikan , dan sebagainya.

14
c. Keadaan prekonomian harus dipelajari dengan saksama dan dihubungkan
denganpengalaman serta kestabilan bank-bank dimasa-masa yang lalu serta
perkiraan keadaan yang akan datang.
d. Kemampuan dan pengalaman organisasi perkreditan bank. Dimaksudkan
disini apakah dalam pengelolaan kredit bank tetap survive dan bahkan
meningkat terus atau tidak. Apakah pula , organisasi kredit yang ada telah
benar-benar efektif dan dalam pelaksanaannya terdapat efesiensi. Apakah
pejabat-pejabat kredit adalah tenaga-tenaga qua;ified, mempunyai skiil yang
baik, dan sebagainya.
e. Bagaimana hubungan yang dijalin dengan bank-bank lain yang sejenis.
Dimaksud disini adalah bank-bank yang mempunyai line of business yang
sama dan bagaimana hubungannya.

2.5 Penyusunan Rencana Kredit

Kredit merupakan kegiatan yang utama dari bank, maka rencana kredit
merupakan hal yang mutlak harus dilakukan, dalam rangka memperlangkapi
penetuan policy perkreditan secara menyeluruh. Tanpa rencana kredit maka policy
kredit tidaklah lengkap dan berarti.
Langkah pertama dalam penentuan rencana kredit adalah penganalisisan
berbagai aspek yang berhubungan erat dengan perencanaan kredit tersebut.
Aspek-aspek penting yang harus diperhatikan dalam pertimbangan penyusunan
kredit yang baik dan terarah adalah sebagai berikut :
a. Kondisi perekonomian dan perdagangan
b. Line of business
c. Keadaan para nasabah yang ada
d. Keadaan keuangan bank
e. Organisasi bank
f. Skill dari personel-personel kredit di seluruh organisasi

2.5 Analisis atas Permohonan Kredit

15
Analisis kredit merupakan suatu proses analisis kredit dengan
menggunakan pendekatan-pendekatan dan rasio-rasio keuangan untuk
menentukan kebutuhan kredit yang wajar. Tujuan analisis kredit adalah untuk
melihat atau menilai suatu usaha atas dasar kelayakan usaha, menilai risiko usaha
dan bagaimana mengelolanya, dan memberikan kredit atas dasar kelayakan usaha.
Pada dasarnya analisis kredit digunakan untuk meneliti atau menilai
pemohon kredit secara mendalam menganai keadaan usaha atau proyek pemohon
kredit agar pelaksanaan kredit yang akan dilakukan dapat berjalan dengan lancer
sehingga tidak menimbulkan kredit macet.
Analis kredit mempunyai kualifikasi khusus dalam menjalankan
tugasnya. Untuk membantu pekerjaan, seorang analis dibekali dengan metode
analisa kredit dalam bentuk format standar system yang harus dilengkapi sehingga
cara kerja analis kredit bak menilai permohonan kredit bisa benar-benar
terstruktur, jelas dan obyektif. Walaupun seorang calon debitur tidak mempunyai
hutang dan catatan kreditnya bagus, bisa saja permohonan kredit usaha seseorang
ditolak.
Ada banyak faktor yang dipertimbangkan meliputi analisa 5C dan analisa
5P, sehingga pengajuan kredit seorang calon debitur ditolak. Faktor tersebut akan
dijelaskan sebagai berikut:
a. Analisa 5C dalam Proses Persetujuan Kredit
Salah satu cara kerja para analis adalah dengan menerapkan prinsip analisa
5C yang meliputi Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral. Detai
analisa 5C adalah sebagai berikut:
1) Character atau Watak
Untuk mendapatkan informasi terkait karakter pemohon kredit dapat
diperoleh dengan cara mengumpulka informasi dari referensi nasabah dan bank-
bank lain tentang perilaku, kejujuran, pergaulan dan ketaatannya memenuhi
pembayaran transaksi. Bisa juga dengan metode cek riwayat kredit di Bank
Indonesia. Karakter ii penting karena terkait itikad baik untuk membayar
kewajibannya.
2) Capacity atau Kemampuan

16
Analisa kemampuan calon debitur bisa dilakukan dengan melihat
komponen penghasilan calon debitur. Seorang analis kredit harus bisa memastikan
pemohon memiliki sumber-sumber penghasilan yang memadai untuk membayar
kewajibannya sesuai jangka waktu yang telah disepakati.
3) Capital atau Modal
Analisa ini lebih ke arah asset yang dimiliki oleh calon debitur. Asset
bisa dilihat dari neraca lajur perusahaan calon debitur atau hasil survey kekayaan
yang dimiliki oleh calon debitur perorangan. Prinsipnya bank tidak akan
membiayai seorang calon debitur yang tidak punya modal sendiri atau kekayaan
yang minim.
4) Condition atau Kondisi
Analisis terhadap aspek ini meliputi analisis terhadap variable makro
yang melingkupi perusahaan baik variable regional, nasional maupun
internasional. Variabel yang diperhatikan terutama adalah variabel ekonomi.
5) Collateral atau Jaminan
Jaminan adalah solusi terakhir untuk menutup risiko kredit jika terjadi
gagal bayar. Biasanya bank hanya berani memberikan plafon pinjaman maksimal
75% dari nilai transaksi jaminan kredit.
b. Analisa 5P dalam Proses Persetujuan Kredit
Selain analisa 5C, umumnya analis bank juga menerapkan prinsip 5P
untuk penyaluran kredit yang tepat guna. Penilaian ini meliputi jaminan yang akan
diberikan sebagai pengaman kredit yang diberikan bank. Penilaian tersebut
meliputi kecenderungan nilai jaminan dimasa depan dan tingkat kemudahan
mengkonversikannya menjadi uang tunai (Marketability). Dalam praktekya
penilaian dengan prinsip 5P adalah sebagai berikut:
1) Personality atau Kepribadian
Mirip dengan karakter, kepribadian ini lebih mengarah analisa riwayat
hidup dan hobi dan gaya hidup untuk melihat kecenderungan misalnya pemohon
hobi berfoya-foya, kemungkinan besar aplikasinya ditolak.
2) Purpose atau Tujuan
Tujuan penggunaan dana adalah faktor yang terpenting dalam analisa
kredit, jangan sampai pinjam dana untuk uang muka kredit yang lainnya. Bank

17
bakal menyelidiki buat apa sebenarnya pinjaman itu. Prinsipnya kredit harus
sesuai dengan tujuannya apakah masuk kategori konsumtif atau investasi dan
modal kerja.
3) Prospect atau Potensi
Maksudnya adalah potensi bisnis, pekerjaan atau usaha yang dilakukan
calon debitur menjadi faktor analisa penunjang kredit yang diajukan calon debitur.
Prinsip ini umumya dipakai ketika calon debitur ingin mencari pinjaman untuk
pengembangan bisnisnya.
4) Payment atau Pembayaran
Analisa ini bertujuan untuk melihat dan memastikan cara pemohon
membayar cicilan sampai lunas akan dipastikan. Pemohon yang tidak memiliki
cicilan di tempat lain lebih mudah diterima daripada yang masih harus bayar
cicilan lain, misalnya kendaraan. Lunasi dulu cicilan tempat lama baru ajukan
kredit baru.
5) Party
Analis kredit mempunyai format analisa berdasarkan data dari pemohon
dan wawancara. Mereka akan mengelompokkan pemohon menurut modal,
loyalitas, dan karakternya. Cara ini berguna untuk memudahkan analis kredit
mengambil keputusan disetujui atau ditolaknya permohonan calon debitur.
Kondisi ideal tentu saja modal atau aset yang dimiliki banyak, dengan begitu
loyalitasnya untuk bayar cicilan lainnya tinggi, kecil kemungkinan calon debitur
akan lari dari tanggung jawab dan memudahkan mudah dalam persetujuan kredit.
c. Analisa 3R dalam Proses Persetujuan Kredit
Selain konsep atau prinsi 5C dan 5P bank juga menerapkan dasar
penilaian lain yang sering disebut dengan prinsip 3R yaitu:
1) Return
Yaitu penilaian atas hasil yang akan dicapai oleh perusahaan calon
peminjam setelah mendapatkan kredit, apakah hasil tersebut cukup untuk menutup
hasil pinjaman serta sekaligus memungkinkan pula usahanya untuk berkembang
terus
2) Repayment

18
Sebagai kelanjutan dari return diatas, yang kemudian diperhitungkan
kemampuan, jadwal serta jangka waktu pengembalian kembali kredit.
3) Risk Bearing Activity
Yaitu sejauh mana ketahanan suatu perusahan calon peminjam untuk
menanggung risiko kegagalan andai kata terjadi suatu hal dikemudian hari yang
tidak diinginkan.

19
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1. Manajemen Perkreditan adalah suatu rangkaian kegiatan dan komponen yang
saling berhubungan satu dengan yang lain secara sistematis dalam proses
pengumpulan dan penyajian informasi perkreditan suatu bank.
Tujuan kredit: (1) Turut menyukseskan program pemerintah di bidang ekonomi
dan pembangunan. (2) Meningkatkan aktifitas perusahaan agar dapat
mencalonkan fungsinya guna menjamin terpenuhnya kebutuhan masyarakat.
(3) Memperoleh laba akan kelangsungan hidup perusahaan terjamin dan dapat
memperluas usahanya.
2. Macam dan jenis kredit :
1) Dilihat dari segi kegunaan: Kredit Investasi, Kredit Modal Kerja.
2) Dilihat dari segi tujuan kredit: Kredit Produktif, Kredit Konsumtif, Kredit
Perdagangan
3) Dilihat dari segi jangka waktu: Kredit jangka pendek, Kredit jangka
menengah, Kredit jangka panjang.
4) Dilihat dari segi jaminan: Kredit dengan jaminan, Kredit tanpa jaminan.
5) Dilihat dari segi sector usaha: Kredit pertanian, Kredit peternakan, Kredit
industry, Kredit pertambangan, Kredit pendidikan, Kredit profesi, Kredit
perumahan.
3. Falsafah perkreditan: kredit merupakan mediator untuk mempertemukan
kepentingan yang sama itu dan karenanya kredit harus dapat menempatkan
dirinya sebagai peransang kedua pihak
4. Interest policy: Keadaan ekonomi dan keuangan, Degree of risk, account
relationship
4) Analisa permohonan kredit : (1) analisa 5C: Character, Capacity, Capital,
Condition, Collateral. (2) analisa 5P: Personality, Purpose, prospect,
Payment, Party (3) analisa 3R: Return, Repayment. Risk Bearing Activity.

20
DAFTAR RUJUKAN

Asysyarofi. 2015. Manajemen Perkreditan, (Online).
http://findmystudies.blogspot.co.id/2015/10/manajemen-perkreditan.html. Diakses
tanggal 17 Maret 2018

Kamir. 2012. Manajemen Perbankan. Edisi 10. Rajawali Pers. Jakarta

21