You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Mengetahui dan mengukur potensial osmosis tanaman melalui teknik
plasmolisa.
1.2 Latar Belakang
Pengukuran potensial osmotik dapat dilakukan dengan peristiwa
plasmolisis. Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis. Osmosis
adalah peristiwa perpindahan molekul air (pelarut )melalui membran
semipermiabel dan larutan yang berkonsentrasi rendah ke larutan yang
berkonsentrasi tinggi. Dengan kata lain, osmosis adalah peristiwa perpindahan
molekul pelarut dari larutan yang memiliki kepekatan rendah ke larutan yang
memilki kepekatan tinggi. Peristiwa osmosis ini terjadi pada sel. Peristiwa
tersebut bergantung pada konsentrasi larutan di dalam dan di luar sel. Jika
konsentrasi larutan di luar sel lebih rendah daripada larutan di dalam sel maka
sel berada dalam larutan hipotonik. Sementara itu, jika konsentrasi larutan di
luar sel lebih tinggi daripada larutan di dalam sel, artinya sel berada dalam
larutan hipertonik. Jika konsentrasi larutan dalam sel lebih tinggi daripada
larutan di luar sel (hipotonik), air akan masuk ke dalam sel. Pergerakan air ke
dalam sel ini dinamakan endosmosis. Apabila kepekatan lauran di luar sel
lebih tinggi daripada di dalam sel (hipertonik), air akan meninggalkan sel.
[ergerakan air keluar sel dinamakan eksosmosis. Jka kepekatan di dalam dan
di luar sel sama (isotonik), jumlah air yang masuk dan keluar akan sama.
Eksosmosis pada sel darah menyebabkan krenasi, sedangkan eksosmosis pada
sel tumbuhan akan menyebabka plasmolisis (Oman Karmana, 2008).
Jika sel tumbuhan diletakkan di larutan garam terkonsentrasi
(hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan tugor,
menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbhan dengan sel dalam kondisi seperti
ini layu. Kehilangan air lebih banyak ini akan menyebab kan terjadinya
plasmolisis. Tekanan terus berkurang smapai di suatu titik dimana
protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara

Keadaan ini dapat dikembalikan dengan meletakkan jaringan pada larutan yang hipotonis. yaitu menyatunya kembali membran plasma yang telah lepas dari dinding sel. Membran plasma akan mengembang sehungga akan melekat kembali pada dinding sel (Oman Karmana. Plasmolisis biasanya terjadi pada kondisi yang ekstrim dan jarang terjadi di alam. Bila plasmolisis terus berlanjut. juga mendapatkan air secara berlebihan. 2008). terapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakan di larutan yang hipotonik yang disebut deplasmolisis. Plasmolisis dibedakan menjadi 2 tingkatan yaitu plasmolisis sempurna dan plasmolisis insipien. Akhirnya cytrorrhysis (runtuhnya seluruh dinding sel) dapat terjadi.dinding sel dan membran. Plasmolisis insipien adalah bila 50% jumlah sel dalam suatu jaringan mengalami plasmolisis. . Banyaknya air yang masuk ke dalam sel akan menyebabkan terjadinya deplasmolisis. akibatnya seluruh protoplasma keluar dan sel tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula. 2011). Biasanya terjadi secara sengaja di laboratorium dengan meletakkan sel pada larutan berkonsentrasi tinggi ataupun larutan gula untuk menyebabkan eksosmosis. dalam keadaan ini sel tumbuhan akan menyerap air dan juga tekanan meningkat. cairan dalam sel akan tertarik keluar. Keadaan ini menyebabkan tekanan turgor menurun. Tidak ada mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan. Peristiwa ini yang disebut sebagai plasmolisis sempurna (Ericka.

0. 0. lalu preparat didiamkan selama 10 menit. dan air murni.22M . Bagian bawah daun Rhoeo Discolor disayat setipis mungkin.26 dan larutan kontrol.22. larutan sukrosa (0. Dari hasil pengamatan tersebut. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah daun Rhoeo discolor. . dan mikroskop.14M . langkah tersebut dilakukan pada π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Ž 𝑠𝑒𝑙 konsentrasi larutan sukrosa yang lain dan juga pada air murni atau kontrol. sayatan tersebut diletakkan pada preparat.14. BAB II METODE 2. pisau silet. Setelah 10 menit preparat diletakkan dibawah mikroskop dan dihitung jumlah sel yang berwarna putih yang merupakan tanda dari sel yang telah terplasmolisis. 0. ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar pigmen hijau pada sayatan tidak ada yang rusak. Setelah dihitung. penutup pada preparat dibuka dan ditetesi 1 hingga 2 tetes larutan sukrosa lalu ditutup kembali dengan penutupnya. selanjutnya persentase sel yang terplasmolisis dihitung dengan menggunakan rumus π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž 𝑠𝑒𝑙 π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘π‘™π‘Žπ‘ π‘šπ‘œπ‘™π‘–π‘  π‘₯ 100% .1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi. kemudian preparat yang telah dibuat diletakkan dibawah mikroskop untuk diamati dan dihitung jumlah sel yang mengandung pigmen antosianin (berwarna ungu). 2. Lalu. gelas preparat dan penutup.26M).2 Cara Kerja Empat buah tabung reaksi disediakan dan diisi masing-masing larutan sukrosa dengan konsentrasi 0. 0.

26%.30%. Pada percobaan kedua didapatkan jumlah seluruh sel adalah 257 dan yang . 158 3. Dengan perhitungan pada percobaan pertama didapatkan jumlah seluruh sel adalah 146 dan yang terplasmolis 74 adalah 74. Dengan perhitungan pada percobaan pertama didapatkan jumlah seluruh sel adalah 173 dan yang terplasmolis 57 adalah 57.08%. 146 Pada percobaan kedua didapatkan jumlah seluruh sel adalah 158 dan yang terplasmolisis adalah 70.5%. sehingga bisa dihitung sebagai berikut π‘₯100% = 50. rata-rata persentase sel terplasmolisisnya adalah 33. sehingga bisa dihitung sebagai berikut 70 π‘₯100% = 44. 176 4.22%. Dengan perhitungan pada percobaan pertama didapatkan jumlah seluruh sel adalah 197 dan yang terplasmolis 33 adalah 33.9%. Pada percobaan dengan larutan sukrosa 0. Dengan perhitungan pada percobaan pertama didapatkan jumlah seluruh sel adalah 98 dan yang terplasmolisis adalah 4 . sehingga bisa dihitung sebagai berikut π‘₯100% = 32.2%. Pada percobaan dengan menggunakan air murni atau kontrol. sehingga bisa dihitung 2 sebagai berikut 104 π‘₯100% = 1. Pada percobaan kedua didapatkan jumlah seluruh sel 98 adalah 104 dan yang terplasmolisis adalah 2. sehingga bisa dihitung sebagai berikut 4 π‘₯100% = 4. rata-rata persentase sel terplasmolisisnya adalah 47.68%.92%. rata-rata persentase sel terplasmolisisnya adalah 3%.08%. 2. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3. sehingga bisa dihitung sebagai berikut 59 π‘₯100% = 33.49%. 173 Pada percobaan kedua didapatkan jumlah seluruh sel adalah 176 dan yang terplasmolisis adalah 59. rata-rata persentase sel terplasmolisisnya adalah 40. Pada percobaan dengan larutan sukrosa 0.75%.14%. Pada percobaan dengan larutan sukrosa 0. sehingga bisa dihitung sebagai berikut 197 π‘₯100% = 16.1 Hasil 1.

terplasmolisis adalah 163. sehingga bisa dihitung sebagai berikut 163 π‘₯100% = 63. dimana saat pengamatan sel yang terpalsmolisis dan yang tidak terplasmolisis lebih mudah untuk diamati.30% 32.14 M 0. Ketidaksesuaian dari hasil yang kita dapat dengan teori ini mungkin karena saat proses praktikum berlangsung sayatan dari daun Rhoeo discolor terkena beberapa tetes dari cairan yang memilki sedikit konsentrasi. berikut table hasil pengamatan pada sel yang terplasmolisis. serta adanya ketidak hati-hatian dalam penyatan berlangsung sehingga sebelum ditetesi dengan air murni sudah ada beberapa sel yang rusak (Nurul.92% 50. Pada percobaan menggunakan air murni atau kontrol. Rhoeo discolor berasal dari famili Commelinaceae. .5% 63. Tanaman ini digunakan karena daun dari tanaman ini mengandung pigmen antosianin yang berwarna ungu. kita menggunakan 3 larutan sukrosa dengan beberapa konsentrasi serta air murni atau kontrol.9% 16.42%. 2006). Seharusnya pada percobaan dengan menggunakan air murni kita tidak akan mendapatkan sel yang terplasmolis karena air murni bersifat netral atau lebih hipotonis dari pada cairan dalam sel. 257 Dari perhitungan atas.26 M I 4.2% 40.75% II 1.68% 33.2 Pembahasan Pada praktikum pengukuran potensial osmosis tanaman melalui teknik plasmolisa digunakan daun Rhoeo discolor.08% 44. Ulangan Kontrol 0.08% 3. Pada praktikum ini. Seharusnya hasil yang harus kita dapatkan adalah sel-sel Rhoeo discolor tetap dengan keadaan dimana berongga-rongga dengan warna ungu merata yang menandakan tidak terjadi plasmolisis. kita mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan teori yang ada.22 M 0.42% Rata-rata 3% 47.49% 33.

14M kita mendapatkan hasil rata- rata sel yang terplasmolisis yang paling besar dibandingkan dengan percobaan yang menggunakan konsentrasi yang lebih besar dari yang konsentrasi 0.08%.49% sedangkan untuk konsentrasi yang 0. Pada percobaan dengan konsentrasi 0. 0. dan untuk konsentrasi yang paling tinggi yang digunakan pada praktikum ini adalah 0. Pada percobaan ini ketika kita menggunakan larutan sukrosa yang dimana setelah ditunggu selama 10 menit kita mendapatkan sel-sel daun Rhoeo discolor yang awalnya berwarna ungu (pigmen antosianin) menjadi ada beberapa sel yang berwarna putih.14M. ini tidak sesuai dengan teori yang sebenarnya.26M dengan hasil rata-rata sel yang terplasmolisis 40. Kita bisa lihat bahwa untuk konsentrasi 0. Keadaan dimana air di dalam sel ini yang terus-menerus keluar dari dalam sel untuk tujuan tersebut akan menyebabkan membran dalam sel mengkerut dan lama kemudian akan lepas dari dinding sel sehingga ketika diamati dibawah mikroskop terlihat rongga-rongga putih.22M rata-rata sel yang terplasmolisis adalah 33.2%. Kesalahan ini mungkin karena dalam pengerjaan terjadi beberapa kesalahan seperti pada proses penetesan larutan sukrosa.14M rata-rata sel yang terplasmolisis adalah 47. seharusnya setelah ditetesi kita menunggu 10 menit lalu ditutup. air yang ada didalam sel keluar dari dalam sel dengan tujuan untuk menyeimbangkan keadaan agar cairan larutan yang hipertonis di luar sel menjadi seimbang dengan yang ada didalam sel.22M. Pada saat percobaan setelah ditetesi dan ditutup preparat harus didiamkan selama 10 menit. Pada percobaan lainnya digunakan larutan sukrosa dengan konsentrasi 0. ini bertujuan agar sel-sel pada Rhoeo discolor mengalami plasmolisis yang lebih maksimal karena semakin lama didiaman maka semakin sempurna plasmolisis terjadi.14M. Ini disebabkan karena pada saat sayatan Rhoeo discolor direndam dengan beberapa tetes larutan yang lebih hipertonis dibandingkan denga cairan yang berada didalam sel pada dalam sel. seharusnya semakin besar konsentrasi larutan yang digunakan untuk merendamkan sayatan Rhoeo discolor maka semakin banyak pula sel-sel yang akan mengalami plasmolisis. jika penutup dipasang maka proses plasmolisis akan . ini bertujuan agar proses plasmolisis sempurna terjadi tanpa ada tindihan dari penutup. dan 0.26M.

Penyebab lainnya yang mungkin adalah karena saat percobaan berlangsung pada saat penetesan larutan sukrosa. tetapi yang kita lakukan adalah setelah menetesi sayatan dengan larutan sukrosa kita langsung menutupnya dan menunggu 10 menit.14M terjadi ketidak hati-hatian saat penetesan sehingga mungkin pada sayatan dengan tetesan larutan sukrosa 0. sehingga sebelum ditetesi sudah terdapat beberapa sel yang telah rusak. Selanjutnya.14M terjadi kelebihan jumlah tetesan dibandingkan dengan jumlah tetesan pada sayatan dengan konsentrasi yang lainnya. .terganggu karena cairan yang akan keluar dari sel sedikit banyak terhalangi oleh adanya penutup. tepatnya pada penetesan larutan sukrosa 0. Kesalahan yang mungkin menjadi penyebab dari ketidaksesuaian hasil dengan teori adalah kekurang teletian pada saat penyayatan daun Rhoeo discolor. bisa disebabkan karena daun Rhoeo discolor sudah terkena bakteri yang menyebabkan daun layu dan membuat beberapa sel sudah kosong mengalami plasmolisis dan kehilangan tekanan tugornya.

26M yaitu 40. BAB IV PENUTUP 4.14M yaitu 47.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilaksanakan kita mendapatkan bahwa sel yang mengalami plasmolisis terbanyak adalah pada larutan sukrosa 0. Plasmolisis dapat terjadi ketika konsentrasi larutan di luar sel lebih hipertonis dibandingkan dengan cairan di dalam sel.2% dan kontrol yaitu 3%.22M yaitu 33. lalu larutan 0. . 0.08%.49%.

Edisi ke 2. Oman. 1994. Cetakan I. Jakarta: Ghalia Indonesia. Cetakan I.. Oparka.J. cortical ER and plasmodesmata during plasmolysis of onion epidermal cells. 163-171. . Nurul.2008. Plant. 2006. Salisbury Frank B & Ress Cleen W. K. Kamilati. DAFTAR PUSTAKA Karmana. Behaviour of plasma membrane. Biologi. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Institut Teknologi Bandung: Bandung. Mengenal Kimia. cell and environment. 1995. Jakarta: Grafindo Media Pratama.dkk.