You are on page 1of 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan
infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat
infeksi virus HIV. Virusnya Human Immunodeficiency Virus HIV yaitu virus yang
memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi
rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan
yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum
benar-benar bisa disembuhkan. HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara
lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang
mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu
ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral),
transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan,
bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Bahkan menurut
UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta
jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, dan ini membuat AIDS sebagai salah satu
epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru saja, akses perawatan
antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik AIDS diklaim bahwa
diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup pada tahun 2005 dan lebih dari
setengah juta (570.000) merupakan anak-anak. Secara global, antara 33,4 dan 46 juta
orang kini hidup dengan HIV.Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi
dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan dari 2003
dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.
Di Indonesia menurut laporan kasus kumulatif HIV/AIDS sampai dengan 31
Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 29
Februari 2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS sudah menembus angka 100.000.
Jumlah kasus yang sudah dilaporkan 106.758 yang terdiri atas 76.979 HIV dan 29.879
AIDS dengan 5.430 kamatian. Angka ini tidak mengherankan karena di awal tahun 2000-
an kalangan ahli epidemiologi sudah membuat estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia

1

yaitu berkisar antara 80.000 – 130.000. Dan sekarang Indonesia menjadi negara peringkat
ketiga, setelah Cina dan India, yang percepatan kasus HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi HIV/AIDS ?
2. Apakah etiologi/penyebab HIV/AIDS?
3. Bagaimanakah cara penularan HIV/AIDS?
4. Apakah manifestasi klinis pada klien HIV/AIDS?
5. Bagaimanakah patofisiologi HIV/AIDS?
6. Bagaimanakah pathway HIV/AIDS?
7. Bagaimanakah Evaluasi diagnostik pada klien HIV/AIDS?
8. Bagaiamanakah konsep asuhan keperawatan pada HIV/AIDS?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi HIV/AIDS.
2. Untuk mengetahui etiologi/penyebab HIV/AIDS
3. Untuk mengetahui cara penularan HIV/AIDS
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis pada klien HIV/AIDS
5. Untuk mengetahui patofisiologi HIV/AIDS
6. Untuk mengetahui pathway HIV/AIDS
7. Untuk mengetahui Evaluasi diagnostik pada klien HIV/AIDS
8. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada HIV/AIDS

2

BAB II
PEMBAHSAN

A. KONSEP TEORI
1. PENGERTIAN
HIV adalah singkatan dari human Immunodeficiency Virus merupakan virus
yang dapat menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam
melawan infeksi Yang menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun.
AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana
mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang
)dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999)
AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil
akhir dari infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005)
Sindrom imunodefisiensi yang didapat (AIDS : Acquired Immunodeficiency
Syndrom) diartikan sebagai bentuk keadaan paling berat dari keadaan sakit terus
menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Aelama bertahun-tahun, HIV diartikan sebagai HTLV III (HUMAN t-CELL
lymphotropic virus tipe III ) dan virus yang berkaitan dengan limfadenopati (LAV :
Limphadenopathy associated virus). Manifestasi infeksi HIV berkisar mulai dari
kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda-tanda dan gejala yang nyata hingga
keadaan imunosupresi yang berat yang berkatan dengan pelbagai infeksi yang dapat
membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi. Pada musim
gugur di tahun 1982, the Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
mempublikasikan definisi kasus penyakit AIDS sesudah terdapat 100 kasus pertama
yang dilaporkan. Sejak itu CDC telah merevisi definisi kasus ini sebanyak dua kali
(pada tahun 1987 dan 1993) sehingga jumlah kasus-kasus penyakit AIDS yang
dilaporkan semakin meningkat.

2. ETIOLOGI
HIV yang dahulu disebut virus limfotrofik sel T manusia tipe III (HTLV-
III) atau virus limfadenapati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari
famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam

3

Dari segi struktur genomik. a. seperti yang disebabkan oleh mycobakterium avium intracellurare (MAI). 1999). yang pertama kali diketahui dalam serum dari para perempuan Afrika barat (warga senegal) pada tahun 1985. Manifestasi klinis penyakit AIDS menyebar luas dan pada dasarnya dapat mengenai setiap sistem organ. batuk-batuk. Walaupun begitu. P. Pembahasan berikut ini dibatasi pada manifestasi klinis dan akibat infeksi HIV berat yang paling sering ditemukan. sejumlah penelitian dan pemeriksaa analisis terhadap struktur RNA ribosomnya menunjukkan bahwa mikroorganisme ini merupakan jamur (fungus). Carinii awalnya diklasifikasikan sebagai protozoa. infeksi yang paling sering ditemukan diantara penderita AIDS adalah Pneumonia pneumocystis carinii (PCP) yang merupakan penyakit oportunitis pertama yang dideskripsikan berkaitan dengan AIDS. Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus. malignansi dan/ efek langsung HIV pada jaringan tubuh. sitomegalovirus (CMV) dan legionella. yang membantu pelepasan virus. namun. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. sesak nafas (dispneu). Rerpiratorius Pneumonia Pneumocystis Carinii. Vpu. Vpr.orang yang terinfeksi HIV. deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. Gejala nafas yang pendek. HIV-2. Tanpa terapi profilaktik. Carinii hanya menimbulkan penyakit pada hospes yang 4 . dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS diseluruh dunia. Penyakit yang berkaitan dengan infeksi HIV dan penyakit AIDS terjadi akibat infeksi. Vpx meningkatkan infektivitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain. HIV -1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik. 2005) 3. Kendati demikian struktur dan sensitivitas antimikrobanya sangat berbeda dengan jamur penyebab penyakit yang lain. MANIFESTASI KLINIK Menurut (Doenges. menyebabkan penyakit klinis tetapi tampaknya kurang patogenik dibandingkan dengan HIV-1 (Sylvia. tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. nyeri dada dan demam akan menyertai pelbagai infeksi oportunitis. PCP akan terjadi pada 80% orang. virus-virus memiliki perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1. P.

peritonium. Tuberculosis yang berkaitan dengan HIV cenderung terjadi diantara para pemakai obat bius IV dan kelompok lain dengan prevalensi infeksi tuberculosis yang sebelumnya sudah tinggi. dan skrotum. Gastrointestinal Manifestasi gastrointestinal penyakit AIDS mencakup hilangnya selera makan. Terjadinya TB secara dini akan disertai dengan pembentukan granuloma yang mengalami pengkijuan (kaseasi) sehingga timbul kecurigaan kearah diagnosis TB. Jamur ini menginvasi dan berproliferasi dalam alveoli pulmonalis sehingga terjadi konsolidasi parenkim paru. Avium. b. Scrofulaceum. dan sum-sum tulang. Berbeda dengan infeksi oportunitis lainnya. penyakit TB cenderung terjadi secara dini dalam perjalanan infeksi HIV dan biasanya mendahului diagnosis AIDS. Strain multipel baksil TB yang resisten-obat kini bermunculan dan kerapkali berkaitan dengan ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan antituberkulosis. M. Infeksi MAC akan disertai dengan angka mortalitas yang tinggi. penyakit TB akan bereaksi dengan baik terhadap terapi antituberculosis. Intracellurare dan M. Penyakit kompleks mycobakterium avium (MAC: Mycobakterium avium Complex) muncul sebagai penyebab utama infeksi bakteri pada pasien-pasien AIDS. Sebagian penderita AIDS sudah menderita penyakit yang menyebarluas ketika diagnosis ditegakkan dan biasanya dengan keadaan umum yang buruk. kandidiasis oral serta esophagus dan diare kronis. mual. M. tulang. nodus limfatikus. Kompleks Mycobakterium Avium. penyakit TB disertai dengan penyebaran ke tempat-tempat ekstrapulmoner seperti sistem saraf pusat. MAC yaitu suatu kelompok baksil tahan asam. kekebalannya terganggu. Penyakit TB yang terjadi kemudian dalam perjalanan infeksi HIV ditandai dengan tidak terdapatnya respon tes kulit tuberkulin karena sistem kekebalan yang sudah terganggu tidak mampu lagi bereaksi terhadap antigen TB. biasanya menyebabkan infeksi pernafasan kendati juga sering dijumpai dalam traktus gastrointestinal. Dalam stadium infeksi HIV yang lanjut. Diare merupakan masalah bagi 50% hingga 90% dari keseluruhan pasien AIDS. Pada sebagian kasus gejala gastrointestinal dapat berhubungan dengan 5 . Pada stadium ini. vomitus. Mikroorganisme yang termasuk kedalam MAC adalah M.

Kriteria diagnostiknya mancakup penurunan berat yang tidak dikehendaki yang melampaui 10% berat badan dasar. Tanda-tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit serta nyeri dan rasa sakit dibalik sternum (nyeri retrosternal). 6 . Sebagian mikroorganisme patogen enteral yang paling sering ditemukan dan teridentifikasi dalam pemeriksaan kultur fese atau biopsi intestinum adalah cryptospoidium muris. Kandidiasis oral. Keadaan ini serupa dengan keadaan stress seperti sepsis serta trauma dan dapat menimbulkan kegagalan organ. Avium intracellulare. Pada sebagian penderita yang mengalami penyakit AIDS Pasiennya akan mengalami hipermetabolik dimana terjadi pembakaran kalori yang berlebihan dan kehilangan lean body mass. Sebgaian pasien juga menderita lesi oral yang mengalami ulserasi dan menjadi rentan terutama terhadap penyebaran kandidiasis kesistem tubuh yang lain.malnutrisi energi-protein yang terjadi tanpa multifaktor. diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis dan demam yang kambuh atau menetap tanpa adanya yang dapat menjelaskan gejala ini. clostridium difficile dan M. Sindrom pelisutan (wasting sindrom) kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk penyakit AIDS. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim rongga mulut. ekskoriasi kulit perianal. salmonella. Kalau tidak diobati kandidiasis oral akan berlanjut dengan mengenai eshopagus dan lambung. diare dapat membawa akibat yang serius sehubungan dengan terjadinya penurunan BB yang nyata (lebih dari 10% BB). CMV. Infeksi ini umumnya mendahului infeksi serius lainnya. Bagi pasien AIDS. Suatu infeksi jamur hampir terdapat secara universal pada semua penderita AIDS serta keadaan yang berhubungan dengan AIDS. Sindrom pelisutan. gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. kelemahan dan ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan yang biasa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pembedaan antara keadaan kakeksia (pelisutan) dan malnutrisi atau antara kakeksia dan penurunan BB yang biasa terjadi sangat penting mengingat gangguan metabolik pada sindrom pelisutan tidak dapat diubah dengan dukungan nutrisi saja.efek langsung HIV pada sel-sel yang melapisi intestinum.

AIDS Dementia Complex). Disebut pula sebagai kompleks demensia AIDS (ADC. Gangguan fungsi neurologik dapat terjadi akibat efek langsung HIV pada jaringan sistem saraf. rektum dan kandung kemih juga lebih sering dijumpai dari pada yang diperkirakan dari pada pasien-pasien AIDS.degenerasi dan nekrosis. Komplikasi neurologik meliputi fungsi syaraf sentral. Sel-sel otak yang terinfeksi HIV didominasi oleh sel-sel CD4+ yang berasal daro monosit atau magrofag. Bukti akhir menunjukkan bahwa kompleks demnsia AIDS tersebut menunjukkan bahwa kompleks demensia AIDS tersebut merupakan akibat langsung infeksi HIV. enselofati HIV terjadi sedikitnya pada dua pertiga pasien AIDS. untuk mengubah sel-sel yang rentan menjadi sel-sel malignan.c. Infeksi HIV diyakini akan memicu toksin atau limfokin yang mengakibatkan disfungsi seluler atau yang mengganggu fungsi neurotransmitter ketimbang menyebabkan kerusakan seluler. atrofi. d. pankreas. infeksi oportunis. demielinisasi. enselopati metabolik. atau metastatik. Neurologik Diperkirakan ada 80% dari semua pasien AIDS yang mengalami bentuk kelainan neurologik tertentu selama perjalanan infeksi HIV. Sarkoma Kaposi tipe tertentu limfoma sel B dan karsinoma serviks yang invasif diikutsertakan dalam klasifikasi CDC untuk kelainan malignitas (malignansi) yang berhubungan dengan AIDS. Respon sistem imun terhadap infeksi HIV dalam sistem saraf pusat mencakup inflamasi. Keadaan ini mungkin berkaitan dengan stimulasi HIV terhadap sel-sel kanker yang sedang tumbuh atau berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang memungkinkan substansi penyebab kanker. Enselofati HIV. perifer dan autonom. Kanker Penderita AIDS memiliki insidensi penyakit kanker yang lebih tinggi dari pada insiden yang biasa terjadi. Keadaan ini berupa sindrom klinis yang ditandai oleh penurunan progresif pada fungsi 7 . perubahan serebrovaskuler. HIV ditemukan dalam jumlah yang besar dalam otak mapun cairan serebrospinal pasien-pasien ADC. neuplasma primer. Banyak kelainan neuropatologik yang kurang dilaporkan mengingat pasien pasien tersebut dapat menderita kelainan neurologik tanpa tanda-tanda dan gejala yang jelas. atau komplikasi sekunder karena terapi. Karsinoma kulit. lambung. seperti virus.

Stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global. Diagnosis ditegakkan dengan analisis cairan serebrospinal. Meningitis kriptokokus ditandai dengan gejala seperti demam/panas. Mielopati vaskuler merupakan kelainan degeneratif yang mengenai kolumna lateralis dan posterior medula spinalis sehingga terjadi paraparesis spastik progresiva. mual. 8 .kognitif. gngguan afektif seperti pandangan yang kosong. sakit kepala. pelambatan psikomotorik. keadaan tidak enak badan (malaise). tremor. afasia. (diberi nama demikian menurut nama pasien yang kulturnya menumbuhkan virus tersebut). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat. ataksia serta inkontinensia. Leukoenselofati Multifokal Progresiva (PML). kesulitan berkonsentrasi. serangan kejang. Tanda-tanda dan gejalanya dapat samar-samar serta sulit dibedakan dengan kelelahan. kaku kuduk. Manifestasi neurologi lain mencakup neuropati sentral dan perifer. inkontinensia. atau efek terapi yang merugikan terhadap infeksi dan malignansi. virus ii menginfeksi oligodendroglia. depresi. Infeksi jamur yaitu cryptococcus neoformans merupakan infeksi oportunis paling sering keempat yang terdapat diantara pasien-pasien AIDS dan penyebab infeksi paling sering ketiga yang menyebabkan kelainan neurologik. Infeksi saraf yang sering ditemukan lainnya adalah Toxoplasma gondii. sakit kepala. Neuropati perifer yang berhunbungan dengan HIV diperkirakan merupakan kelainan demielinisasi dengan disertai rasa nyeri serta patirasa pada ekstremitas. konfusi progresif. Manifestasi klinis dapat dimulai dengan konfusi mental dan mengalami perkembangan cepat yang akhirnya mencakup gejala kebutaan. kelambatan dalam respon verbal. kelemahan. PML merupakan kelainan sistem saraf pusat dengan demielinisasi yang disebabkan oleh virus J. perilaku dan motorik. paresis ( paralisis ringan ) serta kematian. vomitus. penurunan refleks tendon yang dalam. halusinasi. apatis dan ataksia. mutisme dan kematian. Tuberculosis. hipotensi ortostatik dan impotensi. Kelainan neurologik lainnya. C. CMV dan M. psikosis. Cryptococus neoformans. perubahan status mental dan kejang. hiperrefleksi paraparesis spesifik.

Sel dendrit. e. Ulkus genitalis yang terjadi dimasa lalu atau sekarang merupakan faktor resiko bagi penularan infeksi HIV. Moluskum kontagiosum merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas. Penyakit menular seksual yang ulseratif seperti syangkroid. 4. Monosit. Manifestasi Klinis Spesifik Pada Wanita Kandidiasi vagina yag persisten atau rekuren dapat menjadi tanda pertama yang menunjukkan infeksi HIV pada wanita. Wanita dengan infeksi HIV lebih rentan terhadap ulkus genitalis serta kondiloma kuminata (venereal warts). Kini semakin bertambah jelas bahwa wanita yang memiliki infeksi HIV memiliki kemampuan sepulh kali untuk menderita neoplasia intra epitel serviks dari pada wanita yang tidak terinfeksi HIV. Struktur integumen Manifestasi kulit menyertai HIV dan infeksi oportunis serta malignansi yang mendampinginya. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai dengan pembentukan vesikel yang nyeri yang merusak integritas kulit. PHATWAY HIV masuk ke dalam tubuh manusia ↓ Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4 (Limfosit T4. Human Papilloma Virus (HPV) menyebabkan kondiloma akuminata dan merupakan faktor resiko untuk terjadinya neoplasia intra epitel serviks. yaitu prekursor kanker serviks. dan akan mengalami peningkatan frekuensi serta kekambuhan kedua penyakit kelamin tersebut. bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah. Sel Langerhans) ↓ Mengikat molekul CO4 ↓ 9 . Penderita AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan mengelupasatau dengan dermatitis atopik seperti ekzema atau psoriasis. Dermatitis seboreika akan disertai ruam yang difus. sifilis dan herpes lebih berat pada wanita ini.

nyeri Nyeri kepala Ggn pertukaran ↓ Bibir kering Bersisik ↓ gas Intake kurang Turgor kulit ↓ MK: perubahan ↑ suhu ↓ ↓ MK: Ggn rasa proses pikir MK: Ggn pemenu MK: kekurang nyaman Han nutrisi an vol cairan Ggn eliminasi BAB. Integumen Sist Neurologis ↓ ↓ ↓ ↓ Peradangan pd Infeksi jamur Peristaltik Peradangan kulit Infeksi ssp Jaringan paru ↓ ↓ ↓ ↓ Peradangan mulut Diare kronis Timbul lesi/ ↓ Sesak. Tombol (knob) yang menonjol lewat dinding virus terdiri atas protein gp120 dari HIV. 10 . kejang Tdk efektif Mual ↓ Gatal. Memiliki sel target dan memproduksi virus ↓ Sel limfosit T4 hancur ↓ Imunitas tubuh menurun ↓ Infeksi opurtinistik ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ Sist pernafasan Sist Pencernaan Sist. demam ↓ ↓ bercak putih Peningkatan ↓ Sulit menelan Cairan output ↓ kesadaran. diare 5. PATOFISIOLOGI HIV tergolong kedalam kelompok virus yang dikenal sebagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus tersebut menunjukkan materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat (DNA.) Virus HIV (partikel virus yang lengkap yang dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti berbentuk peluru yang terpancung dimana p24 merupakan komponen struktural yang utama.

Sebagai akibatnya. tempat primernya adalah jaringan limfoid. Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial kurang lebih 25 % dari sel-sel kelenjar limfe akan terinfeksi oleh HIV pula. limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak diantara ketiga sel diatas. mitogen. makrofag dan limfosit T4 Helper (yang dinamakan sel-sel CD4+ kalau dikaitkan dengan infeksi HIV). sitokinin (TNF alfa atau interleukin 1) atau produk gen virus seperti sitomegalovirus (CMV: Cytomegalovirus). Penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa sistem imun pada infeksi HIV lebih aktif dari pada yang diperkirakan sebelumnya sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua milyar limfosit CD4+ perhari. 11 . Infeksi monosit dan magrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna. Keseluruhan populasi sel-sel CD4+ perifer akan mengalami pergantian (turn over) setiap lima belas hari sekali (Ho et al. Aktifasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen. tetapi sel-sel ini menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut keseluruh tubuh lewat sistem ini untuk menginfeksi pelbagai jaringan tubuh. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas kedalam plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai revense trancriptase HIV akan melakukan pemprograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double stranded. replikasi virus ini akan terjadi dan virus ini akan menyebar kedalam plasma darah yang mengakibatkan infeksi berikutnya pada sel-sel CD4+ yang lainnya. DNA ini akan disatukan kedalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen. Sesudah terikat dengan membran T4 helper HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik kedalam sel T4 helper. Sebagian besar jaringan ini dapat mengandung moleku CD4+ atau memiliki kemampuan untuk memproduksinya. DNA (DNA utas - ganda). Siklus reflikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang terinfeksi diaktifkan. virus Epstein-barr. Sel-sel CD4+ mencakup monosit. 1995). pada saat sel T4 yang terinfeksi diaktifkan replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. Replikasi virus akan berlangsung terus sepanjang perjalanan infeksi HIV. herpes simpleks dan hepatitis. Ketika sistem imun terstimulasi.

Pada homoseksual pria. 6. Meskipun jumlah darah dalam semprit yang relatif kecil efek kumulatif pemakaian bersama peralatan suntik yang sudah terkontaminasi tersebut akan meningkatkan risiko penularan. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan oleh sebagian penderita sesudah terinfeksi HIV. 12 . Sebagi contoh. seorang pasien mungkin bebas dari gejala selama berpuluh-puluh tahun kendati demikian. reproduksi HV berjalan dengan lambat. Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem imun dinamakan infeksi oportunistik. PENULARAN Menurut (doenges. Kalau fungsi limposit T4 terganggu mikroorganismeyang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang serius. Jika orang tersebut tidak sedang berrperang melawan infeksi yang lain. Dalam respon imun limfosit T4 memainkan beberapa peranan yang penting yaitu mengenali anti gen yang asing. memproduksi limfokin dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Penularan melalui pemakai obat bius intravena terjadi lewat kontak langsung darah dengan jarum dan semprit yang terkontaminasi. mengaktifkan limfosit B yang memproduksi antibodi. 1992). 1999 ). peningkatan frekuensi praktik dan hubungan seksual ini dengan partner yang bergantian juga turut menyebarkan penyakit ini. anal intercourse atau anal manipulation akan meningkatkan kemungkinan trauma pada mukosa rektum dan selanjutnya memperbesar peluang untuk terkena virus HIV lewat sekret tubuh . menstimulasi limfosit T sitotoksik. Hubungan heteroseksual dengan orang yang menderita infeksi HIV juga merupakan bentuk penularan yang terus tumbuh secara bermakna. Jalur penularan HIV serupa dengan infeksi hepatitis B. Namun reproduksi HIV tampaknya akan dipercepat kalau penderitanya sedang mengalami infeksi yang lain atau kalau sistem imunnya terstimulasi. sebagian besar orang yang terinfeksi HIV (sampai 65%) tetap menderita penyakit HIV atau AIDS yang simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang tersebut terinfeksi (pinching. Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan dengan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi tersebut.

risiko penularan 90-98% 2) Tertusuk jarum yang mengandung HIV. 1990). risiko penularan 50% c) Melalui air susu ibu(ASI)14% 7. Bukti epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit IDS hanya ditularkan melalui hubungan seks yang intim. disamping kontak nonseksual antar individu yang umumnya terjadi 13 . Upaya pencegahan primer melalui program pendidikan yang efektif sangat penting untuk pengendalian dan pencegahan. resiko yang berkaitan dengan transfusi kini sudah banyak berkurang sebagai hasil dari pemeriksaan serologi yang secara sukarela diminta sendiri. yaitu: 1) Transfusi darah yang mengandung HIV. Insiden penyakit AIDS pada petugas kesehatan yang terpajan HIV lewat cedera tertusuk jarum suntik diperkirakan kurang dari 1%.03% 3) Terpapar mukosa yang mengandung HIV. Namun demikian.risiko penularan 0. pemrosesan konsentrat faktor pembekuan dengan pemanasan dan cara-cara inaktivasi vurus yang semakin efektif (Donegan. 2000 )antara lain sebagai berikut : a. Penyakit AIDS tidak ditularkan lewat kontak secara kebetulan. Penelitian terhadap kontak nonseksual pasien AIDS dalam rumah tangga. dan penularan perinatal dari ibu kepada bayi yang dikandungnya. Virus HIV dapat pula ditularkan in utero dari ibu kepada bayinya dan kemudian melalui air susu ibu. Melalui darah. risiko penularan 0. pajanan parenteral dengan darah. Hubungan seksual. Darah dan produk darah yang mencakup transfusi yang diberikan pada penderita hemofilia. dapat menularkan HIV kepada resifien. Penelitian berskala besar terhadap para perugas kesehatan yang terpajan kini sedang dilaksanakan oleh CDC dan kelompok-kelompok lainnya. dengan risiko penularan 0. PENCEGAHAN PENULARAN Sebelum ditemukan vaksin yang efektif pencegahan penularan HIV dengan cara menghilangkan atau mengurangi perilaku beresiko merupakan tindakan yang sangat penting.1-1% tiap hubungan seksual b. Cara penularan AIDS ( Arif mansjoer .0051% 4) Transmisi dari ibu ke anak : a) Selama kehamilan b) Saat persalinan.

namun resiko penularan pada petugas kesehatan dari feses. CDC menganjurkan agar tindakan kewaspadaan universal diterapkan pada daerah cairan serebrospinal. sekret hidung. Pedoman ini berlaku bagi setiap pedoman kesehatan dalam segala situasi disamping bagi keluarga dan teman penderita yang melaksanakan perawatn dirumah. Sistem ini menawarkan strategi pengisolasian yang lebih luas untuk mengurangi resiko penularan penyakit kepada pasien serta petugas kesehatan dan membuat petugas kesehatan tidak perlu mengenali jenis cairan tubuh. Pedoman yang berjudul “Universal Blood And Body Fluid Precoutions” dimaksudkan untk mencegah pajanan atau kontak parenteral. Meskipun HIV pernah diisolasi dari semua tipe cairan tubuh. peritoneal. dan segmen. Berdasarkan pengetahuan ini telah dikembangkan sejumlah tes diagnostik yang sebagian masih bersifat penelitian. Bagi kepentingan kesehatan masyarakat CDC dan ikatan dokter di Amerika Serikat telah mempublikasikan beberapa rekomendasi untuk mencegah penularan HIV. para ilmuan telah belajar banyak tentang karakteristik dan patogenesis virus tersebut. Tes laboratorium Sejak ditemukannya HIV pada tahun 1983. berpotensi membahayakan kesehatan. EVALUASI DIAGNOSTIK a. sputum. digunakan oleh bebrapa lembaga di Amerika Serikat sebagai pilihan alternatif untuk Universal Blood and Body Fluid Precautions (Tindakan Penjagaan Universal untuk Darah dan Ciran Tubuh). semua cairan tubuh harus dianggap. 8. sinovial. ditempat kerja tidak memperlihatkan peningkatan risiko penularan AIDS lewat kontak tersebut. amnion dan vaginal. membran mukosa dan kulit yang tidak utuh dari petugas kesehatan terhadap mikroorganisme patogen dari semua penderita tanpa mempedulikan status HIV mereka. kecuali jika cairan tubuh ini mengandung darah yang nyata. Dalam keadaan darurat ketika tipe- tipe cairan tersebut sulit dibedakan. air susu ibu. perikardial. Tes atau pemeriksaan laboratorium kini digunakan 14 . Sistem isolasi lainnya yaitu Body Subtance Isolation System (sistem pengisolasian substansi tubuh). pleural. urin dan muntahan adalah lebih kecil. air mata. keringat.

untuk mendiagnosis HIV dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi pda orang yang terinfeksi HIV. Sayangnya. PENATALAKSANAAN Upaya penanganan medis meliputi beberapa cara pendekatan yang mencakup penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV serta malignansi. Tes ELISA tidak menegakkan diagnosis penyakit AIDS tetapi lebih menunjukkan bahwa seseoran pernah terkena atau terinfeksi oleh virus HIV. Tes antibody HIV Kalau sesorang terinfeksi oleh virus HIV sistem imunnya akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. b. antibody untuk HIV tidak efektif dan tidak dapat menghentikan perkembangan infeksi HIV. Orang yang darahnya mengandung antibodi untuk HIV disebut sebagai orang yang seropositif. Ada tiga buah tes untuk memastikan adanya antibodi terhadap infeksi HIV dan membantu mendiagnosis infeksi HIV. yaitu radioimmunoprecipitation assay (RIPA). Kemampuan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah telah memungkinkan pemeriksaan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostik pada pasien-pasien yang terinfeksi HIV. kenyataan ini menjelaskan mengapa seseorang dapat terinfeksi tetapi pada mulanya tidak memperlihatkan hasil tes yang positif. Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan lisensi untuk uji kadar antibody HIV bagi semua pendonoran darah dari plasma. Indirect immunofluorescence assey (IFA) kini sedang digunakan oleh sebagian dokter sebagai pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositivitas. lebih mendeteksi protein HIV ketimbang antibody. penghentian replikasi virus HIV lewat preparat antivirus dan penguatan serta 15 . Pemeriksaan Western Blot Assey merupakan tes lainnya yang dapat mengenali antibody HIV dan digunakan untuk memastikan seropositivitas seperti yang teridentifikasi lewat prosedur ELISA. kendati pembentukan antibody ini dapat memerlukan waktu sampai 6 hingga 14 bulan. Tes enzime-linked immunosorbent assay (ELISA) mengidentifikasi antibodi yang secara spesifik ditujukan kepada virus HIV. Tes lainnya. Pada tahun 1985. Antibody umumnya terbentuk dalam waktu 3 hingga 12 minggu setelah terkena infeksi. 9.

perubahan pola tidur. rasa bersalah. rasa terbakar 16 . c. depresi. Integritas ego Gejala : faktor stres yang berhubungan dengan kehilangan. Aktivitas/ istirahat Gejala : mudah lelah. Mis: dukungan keluarga. perdarahan lama pada cedera (jarang tejadoz) Tanda : takikardi. kelemahan. Sirkulasi Gejala : proses penyembuhan luka yang lambat ( bila anemia). Gagal meneptai janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang sama. menurunnya massa otot. b. pucat atau sianosis. takut dan menarik diri. kehilngan kontrol diri. gaya hidup tertentu. Mengingkari diagnosa. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 1. imobilitas dan perubahan status mental. penghasilan. berkurang toleransi terhadap aktivitas biasanya. PENGKAJIAN a. perubahan TD postural. putus asa. merasa tidak berdaya. pemulihan sistem imun melalui penggunaan preparat imunomodulator. terus menerus. Perawatan suportif merupakan tindakan yang penting karena efek infeksi HIV dan penyaki AIDS yang sangat menurunkan keadaan umum pasien. Tanda : kelemahan otot. Tanda : mengingkari. d. B. tidak berguna. frekuensi jantung. dan depresi. dan distres spiritual. postur tubuh mngelak. Menangis dan kontak mata yang kurang. Perilaku marah. menurunnya volume nadi perifer. cemas. Eliminasi Gejala : diare yang intermitten. Respons fisiologis terhadap aktivitas se[perti perubahan dalam TD. seiring dengan atau tanpa di sertai kram abdominal. mengkuartirkan penampilan: alopepsia. progresi kelelahan/malaise. kerusakan kulit. lesi dan menurunnya berat badan. perpanjangan pengisian kapiler. Nyeri panggul. hubungan dengan orang lain. pernafasan. efek tersebut mencakup malnutrisi.

Penurunan berat badan : perawakan kurus. nyeri retrosternal saat menelam. Tanda : dapat menunjukkan adanya bising usus hiperaktif. tidak mampu mengingat dan konsentrasi menurun. perineal. tingkat kesadaran menurun. retardasi psikomotor/respons melambat. Makanan/cairan Gejala : tidak nafsu makan. sakit kepala Perubahan status mental. g. warna dan karakteristik urine. lupa. Lesi pada rongga mulut. Tanda : feses encer dengan atau tanpa disertai mukus atau darah. Disfagia. Perubahan dalam jumlah. e. Turgor kulit buruk. Kesehatan gigi/gusi yang buruk. apatis. saat miksi. kehilngan ketajaman atau kemampuan diri untuk mengatasi masalah. Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran Kelemahan otot. menurunnya lemak subkitan/massa otot. Higiene Tanda : memperlihatkan penampilan tidak rapi. mual/muntah. aktivitas perawatan diri. kekurangan dalam banyak atau semua perawatan diri. Neurosensori Gejala : pusing/pening. Diare pekat yang sering Nyeri tekan abdominal Lesi atau abses rektal. 17 . adanya selaput putih dan perubahan warna. Penurunan berat badan yang cepat/progresif. h. treomor dan perubahan ketajaman penglihatan Tanda : perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai demensia. adanya gigi yang tanggal. konsentrasi buruk. f. perubahan dalam kemampuan mengenali makan.

mudah terjadimemar yang tidak dapat di jelaskan sebabnya. distress pernafasan Perubahan pada bunyi napas/bunyi napas asventisius. Tanda : pembengkakan pada sendir. yakni kanker tahap lanjut. luka. luka yang lambat proses penyembuhannya Riwayat menjalani transfusi darah yang sering atau berulang (misalnya : hemofilia. nyeri tekan Penurunan rentang gerak. tekanan otot. Nyeri/ kenyamanan Gejala : nyeri umum atau lokal. Sputum: kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum) k. Timbulnya nodul-nodul. Sakit kepala Nyeri dada pleuritis. nyeri pada kelenjar. pelebaran kelenjar limfe pada dua area tubuh atau lebih ( mis: leher. Batuk. Misalnya : ekzema. ketiak. harapan yang tidak realistis. terbakar. Gerak otot melindungi bagian yang sakit. perubahan gaya berjalan/pincang. terpotong. psoriasis. insiden traumatis) Riwayat penyakit defisiensi imun. Ansietas yang berkembang bebas. ruam. operasi vaskuler mayor. suhu rendah. paha) Menurunnya kekuatan umum. Rektum. Tanda : takipnea. Tanda : perubahan integritas kulit. perubahan ukuran/warna mola. Demam berulang. menurunnya kekuatan otot. perubahan warna. produktif/nonproduktif sputum Bendungan atau sesak pada dada. i. eksantem. Keamanan Gejala : riwayat jatuh. j. berkeringat malam. Timbul refleks tidak normal. peningkatan suhu intermitten/memuncak. rasa terbakar pada kaki.luka perineal atau abses. perubahan pada 18 . Pernafasan Gejala : nafas pendek yang progresif.

l. Rasa takut untuk mengungkapkannya pada orang lain. 2. Seksualitas Gejala : riwayat perilaku berisiki tinggi mengadakan hubungan seksual dengan pasangan yang positif hiv. Perubahan membran mukosa oral b/d defisit imunologi d/d candidiasis e. tidak mampu membuat rencana. kesepian. Perubahan proses pikir b/d hipoksemia d/d perubahan lapang perhatian 19 . DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Kelelahan b/d perubahan produksi energi metabolisme d/d kekurangan energi f. Tanda : perubahan pada interaksi keluarga/ orang terdekat Aktiviats yang terorganisasi. takut akan penolakan/kehilangan pendapatan. Nyeri kronik b/d inflamasi d/d keluhan nyeri c. Perubahan nutrisi kurang dari tubuh b/d perubahan pada kemampuan untuk mencerna d/d penurunan berat badan b. terlalu sakit untuk hubungan seks. Menurunnya libido. Menggunakan pil pencegah kehamilan ( meningkatkan kerentanan terhadap virus pada pencegahan wanita yang di perkirakan dapat terpajan karena kekeringan/iritabilitas vagina) Tanda : kehamilan atau risiko terhadap hamil Genetalia : manifestasi kulit (mis: herpes). teman dekat ataupun pasangan seksual yang meninggal karena aids Mempertanyakan kemampuan untuk mandiri. Interaksi sosial Gejala : masalah yang di timbulkan oleh diagnosis. teman. Penggunaan kondom yang tidak konsisten. Isolasi. pendukung. gaya berjalan. mis: kehilangan kerabat/orang terdekat. m. perubahan penyusunan tujuan. rabas. Kerusakan integritas kulit b/d defisit imunologi d/d lesi kulit d. aktivitas seksual yang tidak terlindungu dan seks anal. pasangan seksual multiple.

pada tujuan yang penurunan diinginkan kemampuan pasien untuk mengolah makanan dan mengurangi keinginan untuk makan 20 . g. Kurang pengetahuan mengenai penyakit b/d tidak mengenal sumber informasi d/d permintaan informasi k. Isolasi sosial b/d perubahan status kesehatan d/d perasaan ditolak i. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kehilangan yang berlebihan. Mempertahankan 1. Resiko tinggi terhadap tidak efektifnya pola nafas b/d ketidakseimbangan muscular n. Resiko tinggi terhadap perubahan faktor pembekuan b/d penurunan absorpsi Vitamin K 3. Kaji kemampuan 1. diare berat m. Ketidakberdayaan b/d perubahan pada bentuk tubuh d/d bergantung pada orang lain untuk perawatan j. dan memperlihatkan mengunyah. Ansietas b/d ancaman pada konsep pribadi d/d peningkatan tegangan h. INTERVENSI KEPERAWATAN Dx Kriteria Hasil Intervensi Rasionalisasi 1 1. Lesi mulut. BB atau untuk tenggorokan. esofagus dapat peningkatan BB merasakan dan menyebabkan yang mengacu menelan dispagia. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d pertahanan primer tidak efektif l.

Dorong pasien 4. Mengidentifikasi kalori kebutuhan terhadap suplemen atau alternatif metode pemberian makanan 21 . pemasukan kecuali jika makanan cairan memiliki nilai gizi 4. kebutuhan nutrisi evaluasi BB / pemasukan yang dalam hal adanya adekuat BB yang tidak sesuai. Timbang BB 2. Jadwalkan obat. Indikator sesuai kebutuhan. Catat pemasukan 5. 3.2. Lambung yang obatan diantara penuh akan makan dan batasi mengurangi nafsu pemasukan cairan makan dan dengan makanan. Gunakan serangkaian pengukuran BB dan antropometrik 3. Mempermudah untuk duduk pada proses menelan waktu makan dan mengurangi resiko aspirasi 5.

kebutuhan untuk sakit intensitas (skala 1 intervensi dan – 10). frekuensi juga tanda-tanda dan waktu perkembangan / menandai gejala resolusi non verbal komplikasi 2. Lakukan tindakan 3. sehingga mengurangi persepsi akan intensitas rasa sakit 3.2 Keluhan hilangnya / 1. Meningkatkan pariatif mis: relaksasi / pengubahan posisi. Dapat mengurangi pengungkapan ansietas dan rasa perasaan takut. Berikan kompres 4. Infeksi diketahui hangat / lembab sebagai penyebab pada sisi infeksi rasa sakit dan pentamidin / IV abses steril selama 20 menit setelah pemberian 22 . Kaji keluhan yeri. Dorong 2. rentang tegangan otot gerak pada sendi yang sakit 4. menurunka masase. Mengindikasikan terkontrolnya rasa perhatikan lokasi. 1.

status dapat meningkatkan Gambarkan lesi dibandingkan dan kesembuhan dan amati melakukan perubahan intervensi yang tepat 2. Friksi kulit bersih. Menentukan garis tingkah laku / teknik hari. yang steril atau meningkatkan barrier produktif proses penyembuhan 4 Menunjukkan 1. Dapat mengurangi yang terbuka kontaminasi dengan pembalut bakteri. kering inflamasi / ulserasi sulit mengunyah / menyebabkan menelan rasa sakit dan sulit mengunyah 23 . Kaji kulit setiap 1. dasar dimana untuk mencegah turgor. Pertahankan sprei 2. Edema. sirkulasi perubahan pada kerusakan kulit / dan sensasi. catat warna. basah Perhatikan keluhan tenggorok dan bebas dari nyeri. lesi. Kaji membran 1. membran mukosa mukosa / catat membran utuh. bengkak. kering dan disebabkan oleh tidak berkerut kain yang berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi 3. mukosa oral dan merah jambu.3 Menunjukkan 1. berwarna seluruh lesi oral. Tutupi luka tekan 3.

gunakan sikat gigi meningkatkan halus. Cuci lesi mukosa 3. Berikan perawatan / menelan oral setiap hari dan 2. Mengurangi rasa setelah makan. pasta sisi rasa sehat dan non abrasif. obat mencegah pencuci mulut non pembentukan alkohol dan asam yang pelembab bibir dikaitkan dengan partikel makanan yang tertinggal 3. Anjurkan permen 4. tidak nyaman. Mengurangi oral dengan penyebaran lesi menggunakan dan krustasi dari hidrogen peroksida kandidiasis dan / salin atau larutan meningkatkan soda kue kenyamanan 4. Dorong pasien untuk 5. Merangsang karet / permen saliva untuk tidak mengandung menetralkan gula asam dan melindungi membran mukosa 5. Rokok akan tidak merokok mengeringkan dan mengiritasi membran mukosa 24 . 2.

Kaji pola tidur dan 1. Berbagai faktor peningkatan energi catat perubahan dapat dalam proses meningkatkan berpikir / perilaku kelelahan. Periode istirahat perawatan untuk yang sering menyediakan fase sangat istirahat. sehingga dapat memperbaiki perasaan sehat Ø dan kontrol diri 25 . Ikut menghemat sertakan pasien / energi. termasuk kurang tidur. penyakit ssp. tekanan emosi dan efek samping obat- obatan / kemoterapi 2. Atur dibutuhkan aktivitas pada dalam waktu pasien sagat memperbaiki / berenergi. orang terdekat Perencanaan pada penyusunan akan membuat rencana pasien menjadi aktif pada waktu dimana tingkat energi lebih tinggi. Rencanakan 2.5 Melaporkan 1.

Mengusahakan keberhasilan kontrol diri dan aktivitas yang perasaan realitas dengan berhasil. perubahan dengan infeksi / pola tidur. Catat penerimaan dan perubahan mewaspadakan orientasi. kemungkinan halusinasi dan ide penyakit ssp paranoid yang makin buruk. Kaji status mental 1. perubahan status kemampuan untuk yang dapat mencegah masalah. dihubungkan ansietas. Tetapkan 3. tekanan fisiologis. efek samping terapi obat-obatan 26 . Menetapkan orientasi realita dan neurologis tingkat umum dan fungsi dengan fungsional pada kognitif optimal menggunakan alat waktu yang sesuai. pasien mencegah timbulnya perasaan frustasi akibat kelelahan karena aktivitas berlebihan 6 Mempertahankan 1. 3. stressor lingkungan. respon perawat pada terhadap rangsang.

kejang dan demensia 3. Diskusikan 4. peka rangsangan. mis: sakit dengan kepala. emngurangi hindari pilihan gejala kognitif pertanyaan terbuka dan kurang tidur 4.2. Pantau adanya 2. muntah. kognisi dapat Gunakan istilah memberikan 27 . mengantuk. adaptif / menyiksa. pingsan. Mendapatkan penyebab / harapan informasi bahwa di masa depan dan A2T telah perawatan jika muncul untuk demensia telah memperbaiki terdiagnosa. Memberikan perilaku mal waktu tidur. kekakuan meningitis / nukal. ensefalitis demam diseminata mungkin memiliki jangkauan dari perubahan kepribadian yang tidak kelihatan sampai kekacauan mental. Susun batasan pada 3. Gejala ssp tanda-tanda infeksi dihubungkan ssp.

Jamin pasien 1. Memberikan kesadaran tentang tentang penentraman perasaan dan cara kerahasiaan dalam hati lebih lanjut sehat untuk batasan situasi dan kesempatan menghadapinya tertentu bagi pasien untuk memecahkan masalah pada situasi yang diantisipasi 2. yang kongkret harapan dan kontrol terhadap kehilangan 7 Menyatakan 1. Berikan informasi 2. Membantu terbuka dimana pasien untuk pasien akan merasa merasa diterima aman untuk pada kondisi mendiskusikan sekarang tanpa perasaan atau perasaan menahan diri untuk dihakimi dan berbicara meningkatkan 28 . hindari ketidakmampua argumentasi n pasien untuk mengenai persepsi membuat pasien terhadap keputusan / situasi tersebut pilihan berdasarkan realita 3. Berikan lingkungan 3. Dapat akurat dan konsiste mengurangi mengenai ansietas dan prognosis.

Menciptakan yang dapat interaksi dipercaya dan personal yang konsisten. Isolasi sebagian peningkatan pasien tentang dapat perasaan harga diri situasi mempengaruhi diri saat pasien takut penolakan / reaksi orang lain 2. perasaan pasien baju dan sarung akan isolasi fisik tangan jika dan menciptakan memungkinkan mis: hubungan sosial jika berbicara yang positif dengan pasien yang dapat meningkatkan rasa percaya diri 3. Dorong kunjungan 3. Berikan informasi 4. Mengurangi penggunaan masker. perasaan harga diri dan kontrol 4. Tentukan persepsi 1. Batasi / hindari 2. Partisipasi orang terbuka. juga lebih baik dan dukungan untuk menurunkan orang terdekat ansietas dan rasa takut 8 Menunjukkan 1. hubungan lain dapat telepon dan aktivitas meningkatkan sosial dalam tingkat rasa yang memungkinkan kebersamaan 29 .

Dorong adanya 4. Dorong peran aktif 2. efek waktu pasien daftar kurangnya imobilisasi komunikasi karena perasaan depresi 2. Menentukan perasaan dan cara perasaan tidak status individual yang sehat untuk berdaya. perasaan kontrol menetapkan dan menghargai keberhasilan harian. Kaji tingkat 1. identifikasi hal-hal yang dapat dan tidak dapat dikontrol pasien 30 . Membantu hubungan yang aktif menetapkan dengan orang partisipasi pada terdekat hubungan sosial dapat mengurangi kemungkinan upaya bunuh diri 9 Menyatakan 1. diri sendiri dan yang realitas / dapat tanggung jawab dicapai dorong kontrol pasien dan tanggung jawab sebanyak mungkin. 4. Memungkinkan pada perencanaan peningkatan aktivitas. mis: pasien dan berhubungan dengan ekspresi verbal / non mengusahakan mereka verbal yang intervensi yang mengindikasikan sesuai pada kurang kontrol.

Tekankan perlunya 4. Berikan informasi 3. Memberikan pemahamannya penyakit dan apa pengetahuan tentang kondisi / yang menjadi dasar dimana proses dan harapan di masa pasien dapat perawatan dari depan membuat pilihan penyakit tertentu berdasarkan informasi 2. meningkatkan keamanan bagi pasien / orang lain 3. mis: pada meningkatkan diare intermiten. kenyamanan gunakan lomotil sebelum pergi kegitan sosial 4. Tinjau ulang proses 1.10 Mengungkapkan 1. Memberikan mengenai pasien kontrol penatalaksanaan mengurangi gejala yang resiko rasa malu melengkapi aturan dan medis. Memberi melajutkan kesempatan perawatan kesehatan untuk mengubah dan evaluasi aturan untuk memenuhi 31 . Mengoreksi penularan penyakit mitos dan kesalahan konsepsi. Tinjau ulang cara 2.

pemindahan dari mis: rumah sakit / lingkungan pusat perawatan perawatan akut. Mengurangi resiko ikut serta dalam sebelum dan terkontaminasi perilaku yang sesudah seluruh silang megurangi resiko kontak perawatan infeksi dilakukan 2. Mengidentifikasi / 1. 5. tidak demam dan tangan sesuai bebas dari indikasi pengeluaran / sekresi purulen 2. kebutuhan perubahan / individual 5. Mengurangi dan tanda-tanda yang bersih dan patogen pada lain dari kondisi berventilasi baik sistem imun dan infeksi periksa pengunjung mengurangi / staf terhadap kemungkinan tanda infeksi dan pasien mengalami mempertahankan infeksi kewaspadaan nosokomial sesuai indikasi 32 . tempat tinggal (bila mendukung ada) pemulihan dengan kemandirian 11 1. Cuci tangan 1. Berikan lingkungan 2. Memudahkan sumber komunitas. mencapai masa instruksikan pasien penyembuhan luka / orang terdekat / lesi untuk mencuci 3. Identifikasi sumber.

Kandidiasis oral. Memberikan informasi dasar awitan / peningkatan suhu secara berulang- ulang dari demam yang terjadi untuk menunjukkan bahwa tubuh bereaksi pada proses infeksi yang baru dimana obat tidak lagi dapat secara efektif mengontrol infeksi yang tidak dapat disembuhkan 5. Meningkatkan pencegahan dan kerja sama mempertahankan dengan cara hidup kesehatan pribadi dan berusaha mengurangi rasa terisolasi 4. Pantau tanda-tanda vital termasuk suhu 4. Bersihkan kulit / 5.3. Diskusikan tingkat dan rasional isolasi 3. membran mukosa herpes. CMV dan oral terdapat crytocolus adalah bercak putih / lesi penyakit yang umum terjadi dan 33 .

Periksa adanya luka 6. Indikator dari hidrasi dibuktikan vital termasuk volume cairan oleh membran CVP. Pantau pemasukan oral dan masukan 3. Indikator tidak dan rasa haus langsung dari status cairan 3. dan 34 . Mempertahankan cairan sedikitnya keseimbangan 2500 ml / hari cairan. Kaji turgor kulit. mengurangi rasa haus. terpasang. bila sirkulasi mukosa lembab. membran mukosa 2.perhatikan dari infeksi tanda-tanda sekunder dapat inflamasi / infeksi mencegah lokal terjadinya sepsis 7. Mengontrol mikro cairan tubuh / organisme pada darah dengan permukaan keras larutan pemutih 1 : 10 12 Mempertahankan 1. Pantau tanda-tanda 1. memberikan efek pada membran kulit. Identifikasi / / lokasi alat perawatan awal infasif. catata turgor kulit baik. hipertensi termasuk haluaran urine perubahan postural adekuat secara pribadi 2. 6. Bersihkan percikan 7.

Nyeri dada / meningkat dan keluhan nyeri dada pleuritis dapat AGD dalam menggambarkan batas normal adanya pnemonia pasien non spesifik / efusi pleura berkenaan dengan keganasan 3. Selidiki tentang 2. melembabakan membran mukosa 13 1. Menurunkan istirahat yang konsumsi O2 cukup diantara waktu aktivitas pertahankan lingkungan yang tenang 14 Menunjukkan 1. mengurangi 2. menarik aspirasi / infeksi sesak nafas / nafas sesuai yang ditimbulkan sianosis dengan kebutuhan karena atelektasis bunyi nafas dan sinar x bagian dada yang bersih 2. tidak mengalami batuk. Meningkatkan pola pernapasan tempat tidur fungsi pernafasan efektif membran usahakan pasien yang optimal dan mukosa untuk berbalik. Mempertahankan 1. Mempercepat homosatis yang pemeriksaan darah deteksi adanya ditunjukkan dengan pada cairan tubuh perdarahan / tidak adanya untuk mengetahui penentuan awal perdarahan mukosa adanya darah pada dari therapi 35 . Berikan periode 3. Lakukan 1. Tinggikan kepala 1.

feses dan mungkin dapat ekimosis cairan muntah mencegah perdarahan kritis 2. Pantau perubahan 2. Timbulnya tanda-tanda vital perdarahan / dan warna kulit hemoragi dapat menunjukkan kegagalan sirkulasi / syok 3. Perubahan dapat tingkat kesadaran menunjukkan dan gangguan adanya penglihatan perdarahan otak 36 .dan bebas dari urine. Pantau perubahan 3.

2. Agar pembaca dapat menerapkan asuhan keperawatan HIV/AIDS pada klien HIV/AIDS. SARAN Berdasarkan simpulan di atas. . 37 . BAB III PENUTUPAN A. dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS diseluruh dunia. Cara penularan AIDS yaitu melalui hubungan seksual. diantaranya adalah : 1. penggunaan jarum suntik dan terpapar mukosa yang mengandung AIDS). Agar pembaca dapat mengenali tentang pengertian HIV/AIDS. transmisi dari ibu ke anak yang mengidap AIDS. melalui darah ( transfuse darah. B. Etiologi AIDS disebabkan oleh virus HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik. penulis mempunyai beberapa saran. KESIMPULAN AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.

dkk .Wilson . Jakarta : Media Sculapius Marilyn . Patofissiologis Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit . 1999 . Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien . Jakarta : EGC Price . DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Sylvia A dan Lorraine M. Arif . 2000 . 2005 . Jakarta : EGC 38 . Kapita Selekta Kedokteran . Doenges .