You are on page 1of 11

Pengaruh PBM dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan GI ...

(Fahrurrozi, Ali Mahmudi) - 1

PENGARUH PBM DALAM SETTING PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN
GI TERHADAP PRESTASI BELAJAR DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA

Fahrurrozi 1), Ali Mahmudi 2)
STKIP Hamzanwadi Selong Lombok Timur NTB 1), Universitas Negeri Yogyakarta 2)
fahrurroziyaqin@gmail.com 1), ali_uny73@yahoo.com 2)

Abstrak
Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan desain pretest-posttest nonequivalent
group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Masbagik, Lombok Timur,
NTB. Sampel penelitian adalah kelas X3 X4 dan X5. Instrumen penelitian ini adalah angket kecerdasan
emosional dan tes prestasi belajar. Data dianalisis secara multivariat dengan taraf signifikansi 5%
untuk pengujian kesamaan rata-rata kelompok dan ditindak lanjuti dengan analisis univariat pada taraf
signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBM dalam setting pembelajaran kooperatif
tipe STAD dan PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe GI berpengaruh terhadap prestasi
belajar dan kecerdasan emosional siswa, serta PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe STAD
lebih efektif dibandingkan dengan PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe GI ditinjau dari
prestasi belajar dan kecerdasan emosional siswa.
Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dalam setting pembelajaran kooperatif tipe
STAD, PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe GI, prestasi belajar, kecerdasan emosional
siswa.

THE EFFECT OF PBL IN THE SETTING OF COOPERATIVE LEARNING OF STAD-TYPE
AND GI-TYPE ON THE LEARNING ACHIEVEMENT AND EMOTIONAL INTELLIGENCE

Abstract
This study is a quasi-experimental research using the pretest-posttest nonequivalent group
design. The population was a tenth grade students of SMA Negeri 1 Masbagik, East Lombok, NTB.
The sample is X3 X4 and X5 class. The instruments used to collect the data were a questionnaire of
emotional intelligence and learning achievement test. The data were analyzed using the multivariate
analysis at the significance level of 5% for the average similarity testing groups and followed up by a
univariate analysis at the significance level of 5%. The results show that PBL in the setting of
cooperative learning of STAD-type and PBL in the setting of cooperative learning of GI-type affect
students’ learning achievement and emotional intelligence, and PBL in the setting of cooperative
learning of STAD-type is more effective than that in the setting of cooperative learning of GI-type in
terms of students’ learning achievement and emotional intelligence.
Keywords: Problem-Based Learning (PBL) in the setting of cooperative learning of STAD-type, PBL
in the setting of cooperative learning of GI-type, learning achievement, emotional intelligence.

Jurnal Riset Pendidikan Matematika, Volume 1, Nomor 1, Mei 2014

(4) memiliki sikap Emotional Intelligensi (EI) yang terbit pada menghargai matematika dan kegunaannya dalam tahun 1995. Selain itu.56) menggunakan indikator keberhasilan suatu pembelajaran di kecerdasan sosial. dan kreatif serta mempunyai ke- berhubungan dengan sesama manusia. Rata-rata Nilai Mid Semester Siswa Kelas X Kelas Deskripsi X1 X2 X3 X4 X5 X6 Jumlah siswa 42 41 37 39 38 41 mean 38. Berbeda dengan kecerdasan emosional. p. Hal ini ditun. kecerdasan emosional mulai di. akhlak mulia.5) menyebutkan beberapa tujuan pendidikan.201) menyatakan bahwa “goal tetapi awal-awalnya tidak menggunakan istilah of education need to be reframe to prioritize not kecerdasan emosional. melainkan menggunakan only academic learning but also social. (2) memiliki kemampuan logis.51) menggunakan istilah kecerdasan pri. Kata ini kemudian berkembang dalam cational development. kehidupan (Depdiknas. (4) koneksi matematis (connections). sis- mampuan untuk berprilaku bijaksana dalam tematis. 20 tahun 2003 tentang matematika. p. masya- PENDAHULUAN rakat. sep. menjadi perhatian peneliti.Jurnal Riset Pendidikan Matematika. Provinsi mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki Nusa Tenggara Barat (NTB). kecerdasan. serta Tabel 1. 2006.53 16. (3) komunikasi matematis (communi- nya. karena kurangnya saling mengerti. . kritis. NCTM (2000. mampuan bekerja sama. kepribadian. Kata emosi berasal dari bahasa latin.8 38. 2003. Kemu. bangsa dan negara (Depdiknas.36). p. p. p. succes. vo- tindak. yaitu Westwell (Jhonston-wilder. kelas yang kurang kondusif Masbagik masih tergolong rendah.2 . emotio- istilah yang lain.. kenal di masyarakat luas. et al.14 14. (Cohen. 1997. Prestasi belajar matematika yang baik Mubayyidh (2010.5) yang menyatakan bahwa adalah prestasi belajar matematika yang sesuai sejak tahun 1920 Thorndike telah meletakkan dengan kecakapan atau kemahiran yang dijelas- dasar teori kecerdasan emosional (emotional kan dalam standar isi kurikulum tingkat satuan intelligence) pada teori kecerdasan sosial (social pendidikan (KTSP) yaitu: (1) memahami kon- intellegence) yang didefinisikan sebagai ke. 1997. personal development dan dunia pendidikan seiring dengan munculnya ke. seperti Gardner (Goleman. Buku ini memberikan Selain KTSP.3 dalam % Sumber: Guru Matematika SMA Negeri 1 Masbagik Dari hasil wawancara dan Tabel 1 ter.29) juga pandangan yang berbeda tentang kesuksesan.5 45. (3) memiliki kemampu- dian sejak buku Daniel Goleman dengan judul an pemecahan masalah.76 7. emovere. David. tika yaitu: (1) penalaran matematika (reasoning gence) daripada kecerdasan rasio (intelligence and proof). 2011. telah merekomendasikan standar kemampuan yaitu untuk menjadi sukses lebih dipengaruhi yang harus dicapai dalam pembelajaran matema- oleh faktor kecerdasan emosi (emotional intelli. dan proses jukkan dengan masih banyaknya siswa yang pembelajaran masih tergolong pasif. social development. p. Volume 1. Nomor 1. ri. badi (intrapersonal dan interpersonal) dan kecerdasan intelektual (IQ) sudah lama menjadi Thorndike (Goleman. pendapat lain sadaran akan pentingnya kecerdasan emosional.1).3 9. which leaves 80 percent to other factor” Prestasi belajar dan kecerdasan emosional (Goleman. yang berarti bergerak menjauh. diantaranya adalah academic development.6 33. 1997. Mei 2014 keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendapat ini diperkuat oleh sekolah. sentation). fokus inilah yang kekuatan spiritual keagamaan. kabupaten Lombok Timur.7 37. kata ini menyiratkan kecenderungan untuk ber. nal and ethical competencies”. siswa harus menjadi fokus dalam pembelajaran Dalam UU No.9 39.9 Jumlah siswa yang tuntas 6 4 7 2 3 6 Jumlah siswa yang tuntas 14. pengendalian di. p. analitis. ”intelligence questions contributes about cation). 20 percent to the factors that determine life dan (5) pemecahan masalah (problem solving).7 4. Ketika peneliti melakukan obser- Sistem Pendidikan Nasional disebutkan juga vasi sekitar bulan Juni 2012 di SMA Negeri 1 bahwa peserta didik harus diarahkan secara aktif Masbagik. Arti p. 2006). (2) representasi matematis (repre- questions) seperti yang dikatakan dalam buku. mendapatkan nilai di bawah KKM (65) dan sebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar masih banyaknya siswa yang tidak bersemangat dan kecerdasan emosional siswa SMA Negeri 1 belajar matematika.

42) PBM me- kedua pembelajaran ini.243). (3) Investigasi autentik.9-14) menga- laman yang telah dimilikinya. siswa berbagi tanggung miliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: jawab dengan siswa lainnya. yaitu: (1) belajar lebih banyak melalui proses pembentuk. p. De- bab rendahnya prestasi belajar matematika dan ngan berfokus kepada masing-masing tanggung kecerdasan emosional siswa SMA Negeri 1 jawab yang siswa ambil. Pendapat ini ngan segenap pengetahuan. karena pembelajaran yang monoton bentuk prestasi afektif. Volume 1. penggabungan dari untuk mengembangkan potensinya secara mak. Eggen. (3) masalah yang mampu memberikan sugesti Piaget. p. yaitu (1) Ahli psikologi kognitif. kemampuan. (2) guru untuk menciptakan pembelajaran yang Fokus interdisipliner. kedua model pembelajaran ini. melalui kerja dengan tim dan pembelajaranlah yang menjadi salah satu penye.57) memaparkan fase-fase PBM.3 Dari uraian tersebut peneliti menduga an dan penciptaan. dalam menyelidiki secara sistematis terhadap Selain PBM di atas. Ali Mahmudi) . 2009. pp. Selanjutnya Arends (2008. mengembangkan berpotensi menjadi salah satu solusi dari masa. disertasinya menyimpulkan bahwa PBM mampu ya kreativitas dan motivasi siswa untuk belajar meningkatkan prestasi siswa dan kecerdasan secara mandiri dan bekerja sama dengan siswa emosional siswa. dan siswa merasa jenuh dengan pola pembel. (4) Bruner dengan pembelajaran penemuan. PBM dapat memberikan solusi dari masalah mampuan untuk menggunakan pembelajaran yang diuraikan. PBM merupakan pendekatan pembelajaran yang di. melalui berbagi pengetahuan sesama siswa. pembelajaran yang suatu pertanyaan atau masalah. Memberikan orientasi tentang permasalahannya Jurnal Riset Pendidikan Matematika. Oleh sebab itu perlu diterapkan suatu dari penelitian ini. khususnya Salah satu pembelajaran yang mamapu pada tahapan investigasi dan presentasi. dan (5) Kola- pengembangan keterampilan serta penguasaan borasi (kerja sama). Ke. dan Student Team Achievement Divisions (STAD) Kauchak. PBM memiliki tiga tuju- kan siswa akan mampu meningkatkan prestasi an yaitu mengembangkan kemampuan siswa belajar dan kecerdasan emosional siswa. Dari uraian tersebut peneliti menduga ajaran yang sama secara terus-menerus. dan memper- lah di atas adalah pembelajaran kooperatif tipe oleh penguasaan konten (Jacobsen. Siswa akan p. Mei 2014 . Nomor 1. seperti yang pernah dilakukan matematika harus dimiliki oleh setiap guru oleh Ibrahim (2011) dan Armiati (2011) dalam matematika sehingga dapat membangkitkan da. diharapkan akan ter- Masbagik. 1996. Vigotsky. dan akan mengurangi motivasi siswa untuk belajar kognitif. dengan kontruktivisme. Dalam masalah tersebut terda.242). yang lain dalam kelompok-kelompok belajar Untuk menambah kekhasan dan kebaruan siswa. (Borich. 2009. diperkuat oleh Ibrahim (2012. pembelajaran yang self-directed. p.306). bertanggung jawab. John Dewey yang menekankan pentingnya pat situasi dan fakta yang bertentangan dengan pembelajaran melalui pengalaman (Jacobsen. termasuk dengan (1) Pertanyaan atau masalah perangsang. De. Selain itu. karena pem- simal sekaligus mengembangkan aspek kepri. Dalam proses Menurut Arends (2008. beberapa ahli. dan Group Investigation (GI). struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. dengan cara ini diharap. menarik dan berusaha bersama memenuhi tugas (4) Produksi artefak dan exhibit. dan berupa daya tarik untuk diselesaikan oleh siswa. didasarkan pada kajian seorang filsuf pendidikan lah matematika. dan Kauchak. Masalah yang dihadapkan kepada siswa adalah (2) John Dewey dengan kelas demokrasi. misalnya dengan discrevant event (masalah yang PBM atau sering juga dikenal dengan tidak dapat diperkirakan dan mengejutkan). lin seperti pengetahuan dan kemampuan tegi yang berbeda-beda. penga. Eggen. siswa dituntut takan bahwa PBM dilandasi oleh pikiran untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Pembelajaran berbasis masalah (PBM) awali dengan menghadapkan siswa pada masa. memebrikan solusi atas masalah tersebut adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) pembelajaran berbasis masalah (PBM). psikomotorik. Pengaruh PBM dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan GI (Fahrurrozi. sintak pembelajaran yang akan mampu mening- dan disiplin. kompetensi yang sedang dipelajari. memberi kesempatan siswa STAD dan GI. katkan kecerdasan emosional siswa. belajaran kooperatif tipe STAD dan GI memiliki badian seperti kerja sama. peneliti menerapkan PBM pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam setting pembelajaran koopertatif tipe secara keseluruhan. p. problem based-learning (PBL) adalah pendekat- dengan memberikan masalah yang hanya bisa an pembelajaran berstruktur instruksi organisasi diselesaikan setelah melakukan investigasi dan secara bebas pada siswa dengan beberapa disip- memungkinkan siswa memecahkan dengan stra.

71-73) yaitu: (1) Presentasi kelas. di mana proses pemecahan dikolaborasikan dengan pembelajaran berbasis masalah tersebut akan mampu membantu siswa masalah. strategi pembelajaran yang dicirikan oleh tugas lah. takan “cooperative learning is a pedagogical pada siswa memiliki dua kriteria yaitu: (1) practice that promotes socialization and learn- masalah yang diberikan harus meningkatkan ing across different curriculum areas and pemahaman konsep dan prinsip-prinsip yang classroom settings”. Shapiro (1998. Untuk up of high. invidually oriented. belajaran kooperatif yang paling sederhana jika puan seorang anak untuk memecahkan masalah dibandingkan dengan tipe kooperatif yang lain- umumnya sejalan dengan usia”. saling menilai pengetahuan groups. systems are group oriented rather than cerita. kelompok. final report. mengembangkan kecerdasan emosionalnya se. kemam. teams include a racial. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu nya yaitu memulai pembelajaran dengan masa. yaitu: (1) melakukan demonstrasi.50) menga- p. p.111) sebagai beri- konsep-konsep dasar.166) mengatakan “Semakin Adapun komponen STAD menurut Slavin banyak anak berlatih keterampilan pemecahan (1994. dan (4) mela. (4) Skor kemajuan individu. evarage an low achievers. dan (2) masalah harus de. struktur penghargaan. identifying the topik and organizingpupils into diskusi. (1) students work cooperatively in teams to kat dengan kehidupan siswa atau masalah yang master academic material.14) mengatakan terdapat empat and sexual mix of students. (3) Tes individu atau kuis. dan bagaimana antar. Belajar dalam tim. Lebih lanjut lagi nya seperti TGT. debate. Se- materi saling terkait. Dalam kelas kooperatif murid bekerja melalui enam tahap. (4) Mengembang. pp. na. and (6) evaluation. dan kerja sama tim.306) menyatakan “cooperative learning is a tigasi mandiri dan kelompok. p. p. dan pakan suatu strategi yang merupakan refleksi membutuhkan siswa untuk secara aktif terlibat dari apa yang dipelajari. (2) Mengorganisasikan pe. tujuan. Pembelajaran kooperatif tipe STAD perti yang dikatakan Shapiro (1998.140) dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman- “Pertumbuhan intelektual dan emosional siswa temannya di Universitas John Hopkin. (2) planning the learning task. yaitu: (1) siswa diharapkan untuk saling membantu. (5) presenting the final report. (2) masalah bertambah pula rasa percaya dirinya”. p. debat. goal. Adapun masalah yang dikemukakan meru. kooperatif yang lebih kompleks dibandingkan de pembelajaran di mana siswa bekerja dalam dengan tipe STAD. and teamwork”. and reward structures. tutoring. salah satu. Savery dan Duffy (1995. kut. Mei 2014 kepada peserta didik. (3) Membantu inves. (2) ber. (3) when- teknik mengorientasikan siswa pada masalah ever possible. (4) preparing a pemahaman masing-masing. JIGSAW dan yang lainnya. teaching or strategy that is characterized by kan dan mepresentasikan artefak dan exhibit. Slavin (1994. PBM memiliki ciri-ciri khusus. pengembangan ini merupakan pendekatan pem- mun sepeti keterampilan EQ yang lain. p. dan (5) Menganalisis dan mengevaluasi proses and requires students to be actively engaged in mengatasi masalah. cooperative task. dalam diskusi. ber.113-114) kelompok kecil untuk saling membantu mem. pp. curtural Ibrahim (2012. Hasil didorong oleh proses pemecahan masalah. Menurut Arends dan Kilcher (2010. p. Nomor 1. . and 4) reward cara. (3) menyajikan fenomena. menjelaskan dalam teknik group investigation pelajari materi pelajaran. Pembelajaran kooperatif tipe Group kemuka yaitu Slavin (1994:2) merumuskan Investigation (GI) merupakan tipe pembelajaran pembelajaran kooperatif mengacu kepada meto. kukan eksperimen tertentu agar masalah menjadi Pembelajaran kooperatif memiliki bebera- menarik dan biasanya tahap ini disajikan dengan pa tipe tetapi dalam penelitian ini akan difokus- cara membuat konflik kognitif di dalam benak kan pada tipe Student Team Achievement Divi- siswa. serta didik untuk meneliti. relevan dengan domain konten.10) mengatakan masalah yang dihadapkan ke. PBM sangat erat kaitannya dengan proses masing-masing dari sintaks yang dimiliki akan pemecahan masalah. dan (5) Pengharga- Pembelajaran Kooperatif an kelompok. discussion. (3) terbaru dan saling mengisi kelemahan dalam carring out the investigation. (2) teams are made diselesaikan adalah masalah yang nyata. Salah satu ahli psikologi pendidikan ter.Jurnal Riset Pendidikan Matematika.4 . dangkan Gillies dan Ashan (2003. berdebat. Volume 1. sehingga proses Ciri-ciri pembelajaran kooperatif dikemu- dimulai dengan terlebih dahulu mengidentifikasi kakan oleh Arends (1997. sions (STAD) dan Group Investigation (GI).

Mei 2014 . kan dalam standar isi kurikulum tingkat satuan Tahapan pembelajaran berbasis masalah pendidikan (KTSP) dan standar kemampuan (PBM) dalam setting pembelajaran kooperatif yang direkomendasikan dalam NCTM (2000. p. apa yang diketahui dari per- an khususnya tahapan-tahapan yang harus masalahan. Kedua. Dalam proses kelompok yang anggotanya + 4 orang. kemudian siswa (2007. presentasi oleh masing-ma- ini siswa akan mencari apa yang tidak diketahui sing kelompok. Keempat. guru mem- bagikan LKS kepada masing-masing kelompok Tahapan pembelajaran berbasis masalah serta menjelaskan tahapan-tahapan yang akan (PBM) dalam setting pembelajaran kooperatif dilalui oleh masing-masing kelompok. Keem- nal dan kemampuan berpikir kritisnya. pada tahapan ini siswa akan dari permasalahan. merumuskan masalah. dan domain psikomotor. p. Menurut Hawkins. Florian. yaitu: pertama. bangan kepada siswa dengan tujuan agar siswa Prestasi belajar matematika yang baik memiliki kemampuan yang lebih dan untuk adalah prestasi belajar matematika yang sesuai memberikan peluang kepada kelompok untuk dengan kecakapan atau kemahiran yang dijelas- menambah poin. Langkah terakhir dari tahapan ini ada- dalam Setting Kooperatif Tipe STAD dan lah guru mengelompokkan siswa berdasarkan Tipe GI. Kelima. Kedua. tipe GI. (a) para siswa saling mem- jawabkan hasil diskusi yang telah dilakukan. guru memberikan waktu ke- yang memantau semua aktivitas kegiatan siswa pada masing-masing kelompok untuk menyele- sampai dihasilkan laporan hasil untuk dipresen- saikan masalah yang didapatkan. Ketiga. mencari alter- dilalui oleh siswa dan menjelaskan gambaran natif-alternatif pemecahan serta melaksanakan materi secara umum serta memberikan masalah alternatif yang sudah ditemukan. Dalam tahapan ini akan diuji Prestasi Belajar pertanggungjawaban masing-masing anggota. evaluasi. Dalam proses tasikan. apa yang diketahui dari per- mempertanggungjawabkan hasil diskusi yang te- masalahan. guru mengajukan bebe- p. masalah yang diminatinya. selain itu siswa akan memban- natif-alternatif pemecahan serta melaksanakan- dingkan hasil pemecahan yang didapat dengan nya dalam memecahkan masalah.29). (c) Penilaian atas lain. mencari alter- lah dilakukan. 2011. Prestasi belajar menurut Nitko dan Keenam. Pengaruh PBM dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan GI (Fahrurrozi. kegunaan dan kualitasnya. hal-hal yang dilakukan pada tahapan pada tahapan ini siswa akan mempertanggung- ini sebagai berikut. bersama siswa akan membahas soal kuis yang Bloom (Nitko dan Brookhart. Tahapan ini yang akan diselesaikan oleh masing-masing akan dilalui dengan bantuan LKS beserta guru kelompok.25) mem- telah diberikan dan melakukan pengembangan bagi taksonomi dari target instruksional belajar atau pendalaman materi dan pada akhir tahapan dalam tiga domain. Volume 1.25) “educational achievement is not diminta untuk memilih salah satu masalah sesuai limited to academic attainment and therefore it dengan minatnya tanpa diketahui oleh teman seems essential to consider ways of under- Jurnal Riset Pendidikan Matematika. tipe STAD. guru membahas kuis dan melakukan Brookhart (2011. Kelima. selain itu siswa akan membandingkan hasil (b) Guru dan murid berkolaborasi dalam meng- pemecahan yang didapat dengan kelompok yang evaluasi pembelajaran siswa.. presentasi oleh masing-masing kelompok. ini siswa akan mencari apa yang tidak diketahui guru menjelaskan gambaran peroses pembelajar- dari permasalahan. pat. Tahapan ini kelompok yang lain. merumuskan masalah. yaitu: pertama.5 Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) yang lain. Ketiga. tahapan lakukan dan memetakan langkah-langkah yang ini merupakan peluang siswa untuk menambah telah mereka terapkan dalam pembelajaran poin kelompoknya karena jika nilai semua mereka kelompoknya baik maka nilai kelompok akan meningkat. (d) Pendekatan lain untuk mengeva- mengembangkan kecerdasan emosional dan luasi dapat dengan membuat para siswa mere- kemampuan berpikir kritisnya. dan Rouse rapa masalah kepada siswa. p. guru membentuk siswa melaksanakan investigasi. ini guru akan memberikan bebrapa soal pengem- domain afektif. Pada tahapan ini guru gantung pada tujuan. Ali Mahmudi) .346) sangat bervariasi ter- pengembangan materi. Nomor 1. guru konstruksi proses investigasi yang telah mereka mengadakan kuis untuk semua siswa. di sini dimungkinkan akan terjadi debat pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran pa- atau diskusi yang mendukung siswa untuk ling tinggi. yaitu: domain kognitif. berikan umpan balik mengenai topik tersebut. di sini dimungkinkan akan akan dilalui dengan bantuan LKS beserta guru terjadi debat atau diskusi yang mendukung sis- yang memantau semua aktivitas kegiatan siswa wa untuk mengembangkan kecerdasan emosio- sampai dihasilkan laporan hasil diskusi.

perimen semu dengan desain pretest-posttest tasi belajar adalah kemampuan memahami dan non-equivalent group design. p. yaitu: (1) Intrumen prestasi belajar yang digunakan Mengenali emosi diri (knowing one’s emotions). yang dimaksud kecerdasan emosional dalam pada setiap dimensi kecerdasan emosional. nya. mengenali emosi orang lain (empati) dan ke- Artinya: prestasi pendidikan tidak terbatas pada mampuan untuk membina hubungan (kerja pencapaian akademis. baik sebelum perlakuan (pretest) maupun sesu- tions in other). Sedangkan (handling relationships) instrumen kecerdasan emosional berbentuk ang- Dari pembahasan tersebut. (4) siswa dalam menguasai materi-materi pelajaran Mengenali emosi orang lain (recognizing emo. dan X5 sebagai kelas menempatkan kecerdasan pribadi Gardner kontrol untuk pembelajaran konvensional. sedangkan Mortiboys (2005.45) menjelakan kecerdasan emosional dari tanggal 4 bulan Februari sampai tanggal 6 adalah kemampuan untuk memotivasi diri sen. dan (5) melakukan analisis data dari hasil pretest lah yang didapat. emosional dan kreatif siswa. Nomor 1. petensi menggunakan perbandingan. menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan Populasi penelitian ini adalah seluruh sis- kemampuan berpikir. khususnya pada standar kom- diri dan bertahan menghadapi frustasi.331) “emotion ri 1 Masbagik. Langkah-langkah menguasai hubungan-hubungan informasi-infor. (4) memberikan tes akhir (posttest) pada nakan pemecahan masalah dan melaksanakan.58-59) yang ajaran kooperatif tipe GI. X4 sebagai kelas orang lain. social. Lebih lanjut lagi Goleman pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 (1997. dan berdoa. fungsi. dikembangkan berdasarkan indikator-indikator wa. oleh karena itu tampak. Kabupaten Lombok Timur. dan posttest untuk menguji hipotesis dan men- dapatkan kesimpulan dari penelitian.144) mengatakan pres. mengen. NTB. ket yang memuat pernyataan-pernyataan yang permudah mengukur kecerdasan emosional sis. persamaan.7) mengatakan bahwa sampel diambil secara acak dengan dua langkah: “emotional intelligence means to be able to (1) memilih secara acak tiga kelas dari enam acknowledge and handle emotions in yourself kelas yang ada. rimen berupa kelompok belajar (kelas) yang ada kan pemahaman dan penguasaan bahan pelajar. an yang dipelajari. psykological and biological states. eksperimen untuk PBM dalam setting pembel- Salovey (Goleman. p.6 . sehingga diperoleh kelas X3 sebagai kelas emosional memiliki makna untuk mendapatkan eksperimen untuk PBM dalam setting pembel- dan mengelola emosi dalam diri sendiri dan ajaran kooperatif tipe STAD. merenca. dan identitas trigonometri dalam kan kesenangan. (3) melakukan pembelajaran dengan model yang tian ini merupakan prestasi dalam aspek kognitif akan dieksperimenkan pada kelas eksperimen yaitu kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan pembelajaran konvensional pada kelas kon- masalah. dan (5) Membina hubungan dah perlakuan diberikan (posttest). (2) memberikan tes awal (pretest) pada masing- Dari pendapat-pendapat tersebut dapat di masing kelompok dalam waktu yang bersama. simpulkan prestasi belajar siswa dalam peneli. trol. seperti pe- ngembangan sosial. adalah tes uraian yang terdiri dari delapan item. memotivasi diri sendiri. sama) dengan orang lain. wa kelas X SMA Negeri 1 Masbagik. pp. sebagai dasar kecerdasan emosional. maksudnya adalah kecerdasan acak. membuat model matematis. untuk mem. penelitian ini adalah (1) memilih kelas ekspe- masi yang diperoleh sehingga dapat menampil. 1997. dan (2) memilih kelas secara and in others”. 3) Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan Memotivasi diri sendiri (motivating oneself). berempati. yang beralamat di Jalan Raya is refer to a feeling and its distinctive thoughts. kedua kelompok dalam waktu yang bersamaan.Jurnal Riset Pendidikan Matematika. such as students’ emosi diri sendiri. p. (2) Mengelola emosi (managing emotion). and range of Penelitian dilaksanakan selama 14 pertemuan propensities to act”. emotional and creative development”. p. Kecerdasan Emosional Penelitian ini dilaksanakan di SMA Nege- Menurut Goleman (1997. dalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebih. dan mengkomunikasikan pemecahan masa. Mo- penelitian ini adalah kemampuan seseorang del skala angket yang digunakan dalam pene- untuk mengenali emosi diri sendiri. Jenis penelitian ini adalah penelitian eks- Hudojo (1988. Mei 2014 standing other achievements. diambil tiga kelas dari enam kelas secara acak. mengelola litian ini adalah skala likert dan terdiri atas . Masbagik. bulan April 2013. mengarut suasana hati dan pemecahan masalah. nya penting untuk mempertimbangkan cara-cara METODE PENELITIAN untuk memahami prestasi lainnya. Volume 1.

PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe pada kelompok PBM dalam setting pembel- Jurnal Riset Pendidikan Matematika.33 13. keefektifan dengan uji one sample test dan uji bah menjadi data interval.33 10.39 11. Nomor 1. sesuai (3).91 77.79 26.0. jika terdapat perbedaan maka akan diuji tidak sesuai (2).03 8.64 30.6 14.5 SBi Sangat Tinggi instrumen didapatkan dengan rumus Alpha i + 0.79).73 69.1.82 15. jika sebagai berikut.68 dimensi Memotivasi diri sendiri 13.81 3. dapat juga dilihat skor kecerdasan kooperatif tipe STAD terdapat peningkatan skor emosional sebelum maupun setelah perlakuan.23 16. wilks’ lamda (Stevens.36 lain Membina hubungan 14. oleh dalam bentuk kategori yang terdiri dari Hal yang sama diterapkan pada data empat pilihan. lanjut dengan uji-t Benferroni (Kirk. Reliabilitas kedua X > i + 1. kecerdasan emosional siswa sebelum perlakuan kelompok yang paling tinggi adalah kelompok dengan setelah perlakuan yaitu sebesar 14. X= Total skor aktual.59 pada setiap Mengelola emosi sendiri 27. Pertama.13. sesuai (STS).16 ajaran kooperatif tipe GI terdapat peningkatan Berdasarkan hasil analisis statistik des- 8.91 14.5 SBi Sangat Rendah dipertegas bahwa “pengaruh” yang dimaksud i Keterangan: dalam penelitian ini adalah apabila memenuhi 1 (skor maksimum ideal dua syarat yaitu pembelajaran pada kelas i = rerata skor ideal = 2 eksperimen (PBM dalam setting pembelajaran + skor minimum ideal) kooperatif tipe STAD dan GI efektif ditinjau SBi= simpangan baku ideal = 1 (skor dari prestasi belajar dan kecerdasan emosional 6 siswa dengan kriteria keefektifannya yang sudah maksimum ideal-skor minimum ideal) ditentukan.16. Pengaruh PBM dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan GI (Fahrurrozi.07 27.7 empat macam respon yaitu: sangat sesuai (SS). 1995.89 12. tidak sesuai (TS).47 107. Kriteria keefektivan yang digunakan yang diperoleh kemudian dikonversikan menjadi untuk prestasi belajar adalah KKM 65 dan data kualitatif skala lima. perlu X . 1986.14 17. Kriteria Kecerdasan Emosional dasi oleh ahli dan instrumen kecerdasan emo- sional telah melaui uji validitas konstruk dengan Interval Skor Kriteria Eksploratory factor analysis. Ali Mahmudi) .14 2.0. Kedua.98 83.42 Mengenali emosi orang 10. Ini bisa dilihat dari uji t one sample.5 SBi Rendah Dalam analisis data penelitian ini.12 68. dengan acuan rumus kecerdasan emosional siswa pada kategori tinggi yang dikutip dari acuan rumus yang diadaptasi 67. data posttest yang digunakan. i .97 11 12.45 16. dan sangat tidak sesuai (1) diru.53 69. dan sangat tidak tabel 2.163) yang disajikan pada sesuai (S). p.54 13.82. p.84 71. sedangkan pada kelompok pembelajaran kriptif pada Tabel 3 menunjukkan bahwa. Mei 2014 .76 2. skor kecerdasan emosional siswa p. Kedua instrumen ini telah divali- Tabel 2.1.07 10. pada konvensional terjadi peningkatan sebesar 6. kelompok PBM dalam setting pembelajaran Selain itu.5 SBi Tinggi Cronbach (Ebel dan Frisbie.5SBi Sedang i .33 65.97 2. dari Azwar (2010.35 8. p.5 SBi X i .5SBi X i +1.18 13 15. Rata-rata kelas eksperimen (PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe STAD dan GI) Data pretest yang diperoleh dari tes pres- lebih besar dari kelas kontrol (pembelajaran tasi belajar dan angket kecerdasan emosional konvensional) dan setelah diuji univariat dua siswa dianalisis secara serentak dengan uji sampel menunjukkan thitung> ttabel atau H0 ditolak. data yang berupa skor berbeda maka yang digunakan untuk menguji tes prestasi belajar dengan skala 0-100 dan skor hipotesis adalah nilai Gain tetapi jika sama maka angket kecerdasan emosional siswa yang diper.3 7. Volume 1. yaitu sangat sesuai (4). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Tabel 3.35 8.94 Varian total 64.89 2.92 33.5 SBi X i + 0.89 63.179) untuk Adapun tahapan-tahapan analisis datanya melihat perbedaan mean ketiga perlakuan.97 Standar deviasi total 8. posttest. 2009.16 26.142).68 Rata-rata total 69.73 68. Hasil Pretest dan Posttest Prestasi Belajar Siswa PBM setting STAD PBM setting GI Konvensional Deskripsi sebelum sesudah sebelum sesudah sebelum sesudah Rata-rata Mengenal emosi sendiri 2.

94%. Pada kelompok PBM dalam setting ga dapat dikatakan terdapat penurunan kecerdas- pembelajaran kooperatif tipe GI sebesar 71. sehingga dapat dikatakan terdapat dan sangat tinggi.1 16 42.5 24.5 22 59.1 21.877 Setelah perlakuan 0.86 dengan sig 0.000 sehingga H0 di .2 27 71.86 4. konvensional sebesar 55.301 dengan nilai signifikansi dalam setting pembelajaran kooperatif tipe 0. Nomor 1.000 0.8% an emosional siswa sebesar 28.63 Sangat rendah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 nal yang tinggi dan sangat tinggi.000 220. sedangkan sebelum perlakuan peningkatan kecerdasan emosional siswa sebe- secara kumulatif sebesar 26.4 9.620 14.3 4 10.000 tolak.989 0. Distribusi frekuensi dan persentase lah perlakuan yaitu sebesar 59. dan pembelajaran konvensional besar dari 0.0 59. Sebelum perlakuan 0. sehingga dapat dikatakan ter- kooperatif tipe STAD setelah perlakuan secara dapat peningkatan kecerdasan emosional siswa kumulatif 89. Volume 1.1 15 39.36% siswa.7%.26 6 15. kriptif pada Tabel 4 menunjukkan bahwa pada Frekuensi dan persentase banyak siswa kelompok PBM dalam setting pembelajaran pada setiap kriteria kecerdasan emosional siswa kooperatif tipe STAD.2. sedangkan Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa pada sebelum perlakuan secara kumulatif hanya kelompok PBM dalam setting pembelajaran 33.69 19 48.6 9 23.9 Standar deviasi 9.2%. Hasil Pretest dan Posttest Prestasi Belajar Siswa PBM Setting STAD PBM Setting GI Konvensional Deskripsi pretest posttest pretest posttest pretest posttest Rata-rata 22.79.1 11 28.1 Skor maksimum ideal 100 100 100 100 100 100 Skor minimum ideal 0 0 0 0 0 0 Ketuntasan 0% 89.3% siswa yang memi- sedangkan sebelum perlakuan secara kumulatif liki kriteria kecerdasan emosional yang tinggi hanya 29.7 7.301 4. pada kelompok sikap siswa sebelum dan setelah perlakuan PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe disajikan pada Tabel 5. PBM dalam setting pembelajaran koope- maka nilai signifikansi yang diperoleh lebih ratif tipe GI.29% siswa.5 Sedang 26 70.1 Rendah 0 0 0 0 1 2.7 10 25.05 STAD.5 3 7.1 8 21.Jurnal Riset Pendidikan Matematika.2% siswa memiliki kriteria kecer- sebesar 38.7 2 5.6 9.63 1 2.05 sehingga H0 diterima. nilai F yang didapat emosional siswa. Berbeda ditinjau dari prestasi belajar dan kecerdasan dengan setelah perlakuan.2% 0% 71. Distribusi Frekuensi Kecerdasan Emosional Siswa PBM setting STAD PBM setting GI KONVENSIONAL Kriteria sebelum setelah sebelum setelah sebelum setelah F % F % F % F % F % F % Sangat tinggi 5 13. Dengan taraf signifikansi sebesar 0. Hasil Uji Wilks’ Lamda Deskripsi Value F Hyp.79 0% 44.8 Tinggi 6 16.877.3 71. terdapat peningkatan skor dihitung sebagaimana rentang skor yang telah prestasi belajar sebelum perlakuan dengan sete- ditentukan.6 8. Tabel 4. GI terdapat peningkatan sebesar 46. siswa yang memiliki kriteria kecerdasan emosio- Tabel 6.3 81.56 0 0 1 2. sedang- Tabel 5.4 8. sehing- sar 59. Mei 2014 STAD dan yang terendah adalah kelompok konvensional.df Error df Sig.89.51%. adalah 14.8 25 64. dengan kata lain setelah perlakuan tidak Berdasarkan Tabel 6 tersebut diperoleh terdapat perbadaan mean antara kelompok PBM nilai F sebesar 0.000 220. Pada kelompok pembelajaran dasan emosional yang tinggi dan sangat tinggi.2 11 29.8 .7% kan pada kelompok pembelajaran konvensional Berdasarkan hasil analisis statistik des- terdapat 38.000 0.

Mei 2014 . 9.000 0.48 7.92 8.9 Tabel 7.94 dan 4.034. mereka hanya sional. prestasi belajar dan kecerdasan emosional siswa.05 Kecerdasan emosional 0. sedangkan dalam setting GI untuk prestasi dan 1. Sedangkan pem- penjelasan oleh guru pada awal pembelajaran belajaran konvensional memiliki nilai thitung 1. keduanya lebih besar dari ttabel. Dari kedua penjelasan tabel di atas dapat pembelajaran kooperatif tipe GI siswa langsung dibuat tiga kesimpulan yaitu: (1) terdapat PBM dihadapkan pada masalah dan melakukan inves- dalam setting pembelajaran kooperatif tipe tigasi sendiri atau kelompok sehingga siswa STAD yang signifikan terhadap prestasi belajar perlu beberapa minggu untuk membiasakan diri dan kecerdasan emosional siswa.05 Kecerdasan emosional 0. siswa tidak menghabis- kecerdasan emosional siswa.05 PBM setting GI dengan Konvensional Prestasi 0. baik dari aspek ada sifat konvensionalnya seperti ceramah dan prestasi belajar maupun kecerdasan emosional tanya jawab sementara pada PBM dalam setting siswa.65 8.178 2.09 37 1.798 dan 2.05 pembelajaran konvensional sehingga siswa tidak Dari Tabel 7 tersebut. sehingga dapat disimpulkan bahwa pem- diberikan oleh guru pada saat diskusi berlang- belajaran konvensional tidak efektif ditinjau dari sung. Nomor 1.05 Kecerdasan emosional 0. (2) terdapat dengan pembelajaran yang baru.02 Pembelajaran konvensional Prestasi 59.000 0. semen- yang signifikan terhadap prestasi belajar dan tara pada PBM dalam setting pembelajaran kecerdasan emosional siswa.178 dalam setting pembelajaran kooperatif tipe untuk prestasi.03 PBM setting GI Prestasi 71.029 0.02 EI 77.03 Tabel 8.59 36 2. dapat diketahui bahwa sig- kooperatif tipe STAD.64 38 2.05 pada ketiga dengan pembelajaran yang baru karena masih perbandingan pembelajaran.03 EI 71.3 38 4. siswa masih diberikan kecerdasan emosional siswa. setting pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Pada PBM dalam setting pembelajaran GI efektif ditinjau dari prestasi belajar dan kooperatif tipe STAD. menyarankan supaya PBM di gabungkan dengan Jurnal Riset Pendidikan Matematika. Volume 1. PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe Pada PBM dalam setting pembelajaran GI yang signifikan terhadap prestasi belajar dan kooperatif tipe STAD.94 2.97 sekitar 15-20 menit. kooperatif tipe GI siswa dituntut untuk inves- Hasil penelitian ini tidak terlalu jauh tigasi kelapangan langsung dan cenderung berbeda dengan penelitian Cheong (2008) yang menghabiskan waktu.42 2.030 0.05 PBM setting STAD dengan PBM setting GI Prestasi 0. belajar dan kecerdasan emosional siswa memi- Adapun faktor yang mendorong PBM liki nilai thitung masing-masing 2.03 EI 83. Pada PBM dalam setting pembelajaran Dari Tabel 8. siswa mudah beradaptasi nifikan selalu lebih kecil dari 0. se- dalam setting pembelajaran kooperatif tipe GI hingga dapat disimpulkan bahwa PBM dalam adalah sebagai berikut.3 36 9. dan (3) PBM kan waktu untuk investigasi secara langsung ke dalam setting pembelajaran kooperatif tipe lapangan seperti pada materi trigonometri bagi- STAD lebih efektif dibandingkan dengan PBM an akhir yaitu ketika mengaplikasikan konsep dalam setting pembelajaran kooperatif tipe GI trigonometri pada kehidupan sehari-hari. Ali Mahmudi) .95 37 1. dan juga bahwa PBM dalam setting pembelajaran koope- jika digabungkan akan memberikan waktu ke- ratif tipe STAD dan GI ditinjau dari prestasi pada siswa untuk beradaptasi dengan PBM.97 7.33 10.53 2.53 untuk kecerdasan emo- tidak diberikan sama sekali. Hasil Uji Bonferroni Perbandingan Kelompok Variabel Sig PBM setting STAD dengan Konvensional Prestasi 0.15 9.014 0.798 2.42 untuk kecerdasan STAD lebih efektif dibandingkan dengan PBM emosional. dapat diketahui stres melalui tahapan-tahapan PBM. Hasil Uji t One Sample Kelompok Variabel sd df thitung ttabel PBM setting STAD Prestasi 81. keduanya lebih kecil dari ttabel yaitu mengandalkan diskusi dan scaaffolding yang 2. Pengaruh PBM dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan GI (Fahrurrozi.008 0.97 2.

sedang dan tinggi. (Terjemahan Achmad Fawaid & Khoirul Anam). D. New York: McGrow-Hill metode pengajaran maningkatakan Companien. Jakarta: Direktorat Pembinaan sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap Sekolah Menengah Atas.. Classroom instruction and (2009). Inc. diterbitkan tahun 1994). I. Cooperative learning (the social and kan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran intellectual outcomes of learning in matematika termasuk dengan menerapkan mo. (2012). proses belajar dan hasil untuk siswa. (Buku asli diterbitkan tahun 2007) Simpulan Arends. rat. (2007). Learning to teach. Mengajar belajar untuk menerapkan kedua pendekatan pada mate. emotional. M. Using a problem based- belajaran kooperatif tipe GI ditinjau dari prestasi learning approach to teach an itelligent belajar dan kecerdasan emosional siswa. New York: agar mempergunakan populasi yang lebih besar Scientific American. kabupaten sebagai populasinya dan sampelnya Achievement and inclusion in schools. R.I. Teaching Pembelajaran berbasis masalah (PBM) for student learning: becoming an dalam setting pembelajaran kooperatif tipe accomplished teacher. Pembelajaran berbasis masalah (PBM) Azwar. Arends. Disarankan kepada peneliti yang berminat (Terjemahan T Hermaya). (1988). pendekatan tersebut. (1997). A. (2008).B.. Jersey: Pearson Education. Depdiknas. Eggen. (2006). L. D. G. Panduan lengkap KTSP katkan efektivitas pembelajaran matematika 2006. Inc. Saifuddin. M. Muslimin. bangkan pembelajaran dengan model model Vol.10 . New Fetter Lane: Routledge del PBM dalam setting pembelajaran kooperatif Falmer. (1997). system course. Cheong. 2 Summer 2006. P. Effective teaching Pembelajaran berbasis masalah (PBM) methods (4thed). & Kauchak. ethnical and Bagi dinas pendidikan atau pihak sekolah. Borich. & Rouse. R. Disarankan pada peneliti yang berminat Hudojo. Goleman. & Ashman. (2010). D. Social. dengan harapan dapat mening. J. Harvard Education Review. F. Disarankan kepada guru untuk menerap. matematika. R. Methods for teaching. STAD lebih efektif dibandingkan pembelajaran berbasis masalah (PBM) dalam setting pem. (buku (Terjemahan Helmi Prajitno Soetjipto & asli diterbitkan tahun 2009) Sri Mulyantini Soetjipto). New Jersay: Prentice- dalam setting pembelajaran kooperatif tipe Hall. A.Jurnal Riset Pendidikan Matematika. (2011).. Nomor 1. Pembelajaran yang lebih kuat mengenai keefektifan kedua berdasarkan masalah (ed ke-2). D.. (7th ed). tipe STAD dan GI dalam pembelajaran mate- matika. (2006). belajar dan kecerdasan emosional siswa. . Florian. & Kilcher. Fungsi dalam setting pembelajaran kooperatif tipe GI dan pengembangan pengukuran prestasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar. Inc. New Arends. academic education: Creating climate for hendaknya mengadakan pelatihan kepada para learning. A. groups).Inc. Surabaya: Unesa University Press. Jakarta: Depdikbud. Herman. metotde- managment. 47-60. (2003). dipilih berdasarkan tingkat kualitas sekolah Oxon: Routladge. Yogyakarata. prestasi belajar dan kecerdasan emosional siswa. (2008). Journal of information technology education. PBM dalam setting pembelajaran kooperatif tipe STAD dan GI. Mei 2014 SIMPULAN DAN SARAN McGrow-Hill Companies.. I. New York: . seperti rendah. DAFTAR PUSTAKA Jacobsen. Tes prestasi. participation in democracy and guru matematika untuk menguasai dan mengem- wellbeing. Gillies. New York: STAD berpengaruh secara signifikan terhadap Routledge. 71 No. ri yang lain sehingga dapat memberikan bukti Ibrahim. belajar siswa TK-SMA. R. 7. K. (buku asli sehingga generalisasi hasil penelitian lebih aku. (1996). Saran Cohen. Pustaka Pelajar. F. Volume 1. misalnya dengan mengambil SMA satu Hawkins. Emotional intelligence.

(buku asli diterbitkan tahun 1997).M.. (2011). Tentang Sistem mathematics in the secondary school: a Pendidikan Nasional.. M.. Jakarta: Slavin. et. R. A. and practice. Publishers. S. intelegence pada anak. Problem- London: Reutledge Taylor and Francis based learning: an instructional model Group. companion to school experience. Makmun. (2000). 38. S.. (1998). J. E. Reston: NCTM. P. research. (2005). Nomor 1. (1994). Republik Indonesia. Applied multivariate statis- tics for the social sciences. Pengaruh PBM dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan GI (Fahrurrozi. Cooperative learning: Pustaka Al-Kautsar. (2003). (2011). L. Jurnal Riset Pendidikan Matematika. 31- prosedures for the berhavioral sciences. Jhonston-wilder. Oxon: Routladge. (2009).. Principles and standars for school mathematics.R. London: Nitko. Mengajarkan emotional Company. David. New York: intelligence. Undnag-Undang RI P. J. and its constructivist framework. Tahun 2003. R. Kirk. Experimental deign: Educational tchnology journal. Stevens. New York: Pearson Education. Teaching with emotional Alex Tri Kantjono Widodo). NCTM. & Duffy.all. Educational assessment of students. A.J. (2010). T.11 Jhonston-wilder. Boston: Allyn and Bacon. (1995). Ali Mahmudi) . Inc. Mubayidh. E. (Terjemahan Mortiboys. (1995). Lawrence Erlbaum Associates. theory. & Brookhart. Mei 2014 . 35. Pacifik grope: Brooks/Cole Publishing Shapiro. Savery. E. Learning to teach Nomor 20. HarperCollins Publishers. Inc. Kecerdasan dan kesehatan emosional anak. Volume 1.