You are on page 1of 126

| i

Jurnal Kajian Perburuhan

Sedane
Volume 11 Nomor 1 2011

GAGASAN
AGASAN
1 Strategi Triangulasi Solidaritas:
Solidaritas
Solidaritas Internasional
Internasional bagi Gerakan
bagi Gerakan BuruhBuruh
Asia diAsia di
Era Pabrik
Era Pabrik GlobalGlobal
Dae-Oup
Dae-Oup ChangChang

10 Perkebunan Teh dan Reproduksi Kemiskinan
Abu Mufakhir
Abu Mufakhir

21 Menuju Perlindungan Sosial Transformatif
TommyTommy
ArdianArdian Pratama
Pratama
Melawan
Melawan DalamDalam Kepatuhan:
Kepatuhan: Perlawanan
Perlawanan Buruh Buruh
RamaiRamai
Mall Mall
DIALOGDIALOG
41nny: Jaminan Sosial
PBKM itu Haruskah
wadah belajarRakyat Menunggu
buruh kontrak menggalang

persatuan Roni Febrianto
SOSOK
50 Jaminan Sosial dan Tanggungjawab Negara
Fnny: PBKM itu wadah belajar buruh kontrak menggalang per
Jafar Suryomenggolo
SOSOK
Luthfi50
Moenadi: Sosok Buruh Lintas Zaman
Jafar Suryomenggolo
Syarif Arifin
Supercapitalism;
Luthfi Adam The Transformation of Business, Democracy,
DINAMIKA
TINJAUAN BUKU
73 Membangkitkan Kembali Gerakan Buruh
Syarif Arifin

DINAMIKA
83 Dinamika Perburuhan Semester I-2011

Supercapitalism; The Transformation of Business, Democracy,
Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
ii |

Dinamika Perburuhan Semester I 2ISSN 0852-1241

Penerbit
Lembaga Informasi Perburuhan Sedane

Penanggung Jawab
Tim Riset dan Publikasi

Dewan Redaksi
Abu Mufakhir
Syarif Arifin
Arrila Soeria

Data & Dokumentasi
Sriyanti dan Danu Raditya

Admin & Sirkulasi
Sriyanti

Alamat Redaksi dan Sirkulasi
Jl. Dewi Sartika 52F
Bogor 16121
Jawa Barat-Indonesia
Tlp./fax +62-251-8344473
Situs Web www.lips.or.id
http://lembagainformasiperburuhansedane.blogspot.com/
Email: lips@lips.or.id

* Penyebaran Jurnal Perburuhan SEDANE untuk kepentingan gerakan sosial
sangat dianjurkan. Pengutipan harap mencantumkan sumber.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| iii

Pengantar Redaksi

Di tengah Krisis keuangan yang dialami tiga raksasa ekonomi dunia; Jepang,
Eropa dan Amerika Serikat, kekuatan kapital melakukan berbagai siasat
untuk menyelamatkan dan menggandakan kapital. Seperti diketahui, negara-
negara maju gencar mempromosikan pentingnya menyelamatkan ekonomi
dunia dengan mendorong keterlibatan negara-negara di kawasan Asia.
Forum-forum di tingkat internasional maupun Asia seperti G-20 dan ASEAN-
Plus merupakan upaya serius agar negara-negara miskin dan terbelakang
“membantu” negara-negara kaya. Landasan utama pikiran ini bahwa setiap
negara saling melengkapi dan berpaut hubungan saling ketergantungan
(interdependensi). Hasilnya, sumber daya alam dan manusia dapat
dipertukarkan semurah-murahnya bagi kelancaran produksi dan imbal hasil
di negara-negara maju.

Sehubungan dengan krisis, gerakan sosial khususnya gerakan buruh di
berbagai negara bangkit mempertanyakan, menggugat dan menuntut hak-
hak mereka yang dirampas oleh negara dan pemilik kapital. Kebangkitan
gerakan sosial tampak pula di Indonesia, di mana berbagai elemen sosial
mengeskpresikan kekesalannya terhadap negara.

Hubungan antara krisis dan kebangkitan gerakan sosial selalu menarik untuk
dikaji dan didiskusikan. Beberapa teoretisi gerakan sosial berpandangan bahwa
krisis peluang luas untuk menggulingkan kekuasaan, karena telah menyediakan
kemiskinan massal yang disertai oleh ketidakpuasan dan keresahan sosial.
Pandangan lain mengatakan bahwa di masa krisis gerakan sosial semakin
melemah karena rezim kapital yang semakin beringas dan barbar.

Dua pandangan di atas, dalam khazanah pergerakan Indonesia telah
lama didiskusikan dan (kadang) tidak mendapat titik temu, bahkan saling
menegasikan. Namun, catatan yang hampir tidak dapat dipungkiri bahwa
gerakan sosial di Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang krisis akibat
penghancuran sistematis dan ditutupnya peluang demokratis, sebagaimana
diperlihatkan dalam periode krisis 1930 maupun 1997/1998.

Setelah mengalami penghancuran yang mendalam selama era Soeharto,
kini serikat buruh mulai bangkit. Geliat gerakan buruh diperlihatkan dengan
berbagai aksi protes massal maupun individual sedari Januari 2011. Namun,
sejauh mana peluang-peluang yang tersedia dan hambatan apa saja yang
tengah dihadapi gerakan buruh di masa sekarang?

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
iv |

Sebagai media bertukar pikiran dan gagasan alternatif, Jurnali Kajian
Perburuhan Sedane berupaya mengetengahkan diskursus dan analisis yang
dapat membantu penguatan gerakan buruh.

Jurnal Sedane kali ini menurunkan tiga gagasan utama, yakni;
1) Strategi triangulasi solidaritas gerakan buruh yang ditulis Dae-Oup
Chang. Penulisnya menekankan pentingnya membangun kembali solidaritas
gerakan buruh antarnegara. Dalam tulisan ini diperlihatkan bahwa triangulasi
solidaritas merupakan kebutuhan gerakan buruh dan “… [M]enjadi semakin
mendesak melihat perkembangan terkini dari semakin mudahnya perpindahan
modal dari satu negara ke negara lain sebagai respons terhadap munculnya
perlawanan buruh di suatu negara,” kata penulisnya.

2) Mengangkat tema persoalan kemiskinan di sektor perkebunan.
Penulisnya, Abu Mufakhir mengangkat studi kasus industri kebun teh di Jawa
Barat, yang telah mereproduksi kemiskinan di tengah berbagai keuntungan
yang diraih oleh industri teh internasional. Menurut Abu Mufakhir, “…
Kemiskinan yang dialami oleh buruh perempuan bersumber dari upah mereka
yang murah, dan status kerja mereka yang informal, mencerminkan tidak
terdistribusinya nilai ekonomi dan sosial yang dihasilkan dari produksi teh
secara adil dan merata, terhadap buruh perempuan pemetik.”

Dari tulisan Abu Mufakhir, tampak bahwa organisasi buruh tidak hadir
untuk mengatasi berbagai kesulitan yang dialami buruh-buruh perkebunan.
Tulisan ini mencerminkan bahwa gerakan buruh pasca-Orde Baru perlu
melihat kembali situasi organisasi buruh kebun yang terpinggirkan dari
dinamika buruh perkotaan.

3) Artikel yang ditulis oleh Tommy Ardian Pratama mengenai
perlindungan sosial transformatif. Penulisnya memetakan ragam perlindungan
sosial yang biasa dijalankan di berbagai negara, khususnya Indonesia.
Ia mengajukan kritik teoretis terhadap konsep perlindungan yang telah
dipraktikkan di Indonesia, yang lebih bersifat karitatif, komersial dan tidak
memberdayakan kekuatan produktif.
wan Dalam Kepatuhan: Perlawanan Buruh Ramai Mall
Dalam rangka memajukan tradisi diskusi dan diskursus mengenai
jaminan sosial, rubrik Dialog kali ini menurunkan dua pandangan mengenai
jaminan sosial. Dua pandangan tersebut, pada dasarnya memiliki kesamaan
bahwa negara semakin menjauh dari tanggung jawab utamanya dan perlunya
kontrol publik terhadap kekuasaan negara.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| v

Di rubrik Sosok, kami menurunkan kisah buruh yang hidup di berbagai
zaman. Artikel ini ditulis oleh Jafar Suryomenggolo. Sosok yang ditampilkan di
sini adalah Moenadi, seorang yang hidup di zaman Belanda, masa Kemerdekaan
dan masa Despotik Soeharto. Mungkin Moenadi adalah satu-satunya buruh di
Indonesia yang menuliskan kisah hidupnya dari perspektif orang biasa. Kisah
perjalanan hidupnya itu merupakan rekaman memori bangsa yang berjuang
untuk menjadi diri sendiri yang sejati. Moenadi mengalami perubahan-
perubahan sosial dalam periode-periode penting perjalanan bangsa.

Di rubrik Tinjauan Buku, Syarif Arifin memetakan dan mengomentari
sebuah buku yang ditulis oleh mantan Menteri Perburuhan Era Soekarno,
Iskandar Tedjasukmana. Buku yang bertema watak politik serikat buruh di
tahun-tahun 1950-an tersebut menceritakan mengenai kencenderungan
ideologi dan politik serikat buruh serta faktor-faktor yang memengaruhinya.
Menurut peninjau buku, kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam buku
tidak mengurangi nilai historis dan substansinya, apalagi di tengah langkanya
referensi perburuhan di Indonesia. Dari buku tersebut, terdapat pengalaman
berharga bahwa organisasi buruh di Indonesia merupakan elemen aktif untuk
membangun nasion Indonesia.

Di rubrik dinamika perburuhan, kami menyajikan analisis perburuhan
dalam konteks ekonomi politik kontemporer. Analisis ini diharapkan dapat
memotret hambatan dan peluang yang sedang dihadapi oleh gerakan buruh.
Dinamika perburuhan kali ini memperlihatkan arah kebijakan negara semakin
jauh dari harapan kaum buruh. Kapital asing difasilitasi dan dialirkan ke
wilayah-wilayah yang jauh dari kontrol gerakan buruh, yakni wilayah Indonesia
timur. Sementara itu, kendati gerakan buruh menemukan berbagai taktik
perlawanan masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Tampaknya, hal inilah yang
luput dari pengamatan organisasi buruh, tentang pentingnya memperluas
wilayah pengorganisasian dan meningkatkan kapasitas politik.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak
yang telah memberikan dukungan untuk terbitnya jurnal perburuhan ini. Salah
satu ambisi kami bahwa jurnal ini dapat membantu menyediakan kerangka
analisis yang memadai untuk mengatasi kebuntukan gerakan buruh yang
terhempas oleh kebijakan yang promodal asing. Untuk itu, kritik, komentar
dan saran sangat kami harapkan untuk peningkatan kualitas penerbitan ini.

Selama membaca!

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
vi |

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| vii

Jurnal Kajian Perburuhan

Gagasan
Sedane
Volume 11 Nomor 1 2011

Strategi Triangulasi Solidaritas:
Solidaritas Internasional bagi Gerakan Buruh Asia di
Era Pabrik Global
Dae-Oup Chang

Perkebunan Teh dan Reproduksi Kemiskinan
Abu Mufakhir

Menuju Perlindungan Sosial Transformatif
Tommy Ardian Pratama

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
viii |

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 1

Strategi Triangulasi Solidaritas:
Solidaritas Internasional Bagi Gerakan Buruh Asia di Era
Pabrik Global1

Dae-Oup Chang

SOLIDARITAS INTERNASIONAL telah dan masih menjadi salah satu isu
utama dalam gerakan buruh. Pada abad ke-20, aksi solidaritas secara individu
memang bermunculan, namun strategi solidaritas internasional mengalami
kondisi yang stagnan -bila tidak mau dikatakan mengalami kemunduran.
Kondisi ini terjadi karena adanya integrasi gerakan buruh dengan bermacam
jenis kontrak sosial di negara-negara industri maju (core countries) semenjak
berakhirnya gerakan Internasionale Pertama (di mana tidak benar-benar
‘internasional’). Beragam kontrak sosial -yang menjamur sepanjang periode
perang dingin (akhir 1950 hingga awal 1960-an)- tersebut dibentuk untuk
meningkatkan pertukaran produktivitas demi kesejahteraan di negara-
negara maju. Dengan begitu, gerakan buruh telah menjadi bagian integral
dari sistem akumulasi kapital nasional. Gerakan buruh saat itu dipenuhi
agenda-agenda yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh
di ranah perlindungan kerja dan domestik. Selain itu, agenda-agenda yang
bernafaskan nasionalis juga bermunculan, dan semua itu menghalangi
terwujudnya Internasionalisme.

Bagaimanapun juga, dalam dua dekade terakhir, solidaritas
internasional mengalami perubahan yang signifikan, seiring berubahnya
struktur produksi dan konsumsi kapitalistik secara internasional. Oleh karena
itu, penting bagi kita sekarang ini untuk memikirkan ulang strategi solidaritas
internasional bagi kaum buruh. Usaha ini menjadi semakin mendesak melihat
perkembangan terkini dari semakin mudahnya perpindahan modal dari satu
negara ke negara lain sebagai respons terhadap munculnya perlawanan buruh
di suatu negara. Modal lebih mudah mengatasi hambatan-hambatan teritorial
negara bangsa dibandingkan dengan buruh. Di satu sisi, globalisasi modal di
negara-negara Barat (dan kemudian Jepang) terjadi karena adanya kebutuhan
modal untuk memperluas ekspansinya. Kebutuhan ini muncul sebagai respon
1
Tulisan ini adalah versi panjang dari pidato yang dipresentasikan pada konferensi perayaan
ulang tahun ke-30 AMRC, 27 – 28 Agustus 2007 di Hong Kong.
Diterjemahkan oleh Arrila Soeria dan Abu Mufakhir.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
2 |

dari mahalnya biaya politik untuk mengintegrasikan buruh ke dalam sistem
produksi nasional dan masalah over-produksi yang muncul semenjak tahun
1960. Di sisi lain, buruh sebagai tenaga kerja telah mengalami standardisasi
dan juga deskilisasi semenjak awal abad 20 hingga 1960-an, akibat semakin
intensifnya mekanisasi secara menyeluruh di dalam pabrik. Hal tersebut
memungkinkan terjadinya pertumbuhan modal untuk membangun industri
manufaktur dengan target pasar global di negara-negara yang buruhnya
dianggap tidak terampil dalam pengertian tradisional.

Lalu bagaimana dengan kawasan Asia? Pada awal kolonial, negara-
negara Asia menjalankan peran penting namun pasif, dengan menjadikan
cara hidup kapitalis sebagai sesuatu yang universal di negara-negara industri
barat. Sumber daya alam, buruh perkebunan dan pasar Asia mendorong
terjadinya perebutan daerah kolonial yang mengarah pada konsolidasi
batasan ekonomi nasional dan kedaulatan negara modern. Perjuangan
gerakan buruh di kawasan Timur dan Selatan Asia pada masa itu adalah
untuk melawan kolonialisasi. Berdasarkan aturan politik perang dingin dan
tatanan negara ‘triplanetary world order’ – kategorisasi dunia Kesatu, Kedua
dan ketiga– kawasan Asia terbagi menjadi kutub, Asia-Amerika (negara-
negara yang berada di bawah pengaruh kuat Amerika Serikat), Asia-Komunis,
dan negara Dunia Ketiga Asia. Negara Asia-Komunis (selain Vietnam Utara,
Korea Utara, dan China) memiliki kedekatan politik dengan negara-negara
‘third world Asia’.

Negara-negara yang termasuk di dalam kategori Dunia Ketiga Asia
lebih merasakan adanya kesamaan tujuan politik dan keterikatan dengan
negara Asia-Komunis (Vietnam Utara, Korea Utara, dan China), dibandingkan
dengan konsep negara bebas yang merupakan bentukan para penjajah.
Namun, di sisi lain, politik ‘third world Asia’ juga merupakan sikap penolakan
terhadap aliansi politik yang digencarkan baik oleh Uni Soviet maupun
Amerika. Ikatan ‘third world Asia’ ini dikukuhkan dalam sejarah Konferensi
Bandung pada tahun 1955, di mana negara-negara yang baru saja merdeka
– dan ‘netral’ secara politik- bergabung dengan negara-negara Asia-Komunis.
Aliansi negara-negara Asia-Komunis berawal dari kerjasama China dan India
pada awal 1950. Politik ‘Third World Asia’ juga menghasilkan kebijakan-
kebijakan yang pro terhadap buruh. Kebijakan-kebijakan ini merupakan
hasil dari pengaruh organisasi-organisasi dan partai-partai buruh Kiri dalam
perjuangan gerakan kemerdekaan.

Namun, kerjasama antara negara-negara Dunia Ketiga dan negara-
negara komunis Asia tidak berlangsung lama. Begitupun dukungan
pemerintahan nasionalis baru terhadap gerakan buruh hanya bertahan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 3

seumur jagung. Gerakan buruh Asia beralih peran, baik itu sebagai aparatus
negara-negara komunis atau gerakan untuk melawan otoritas negara dan
kaum kapitalis yang mencekik para buruh. Pada saat yang bersamaan,
negara Asia-Amerika berhasil melakukan akumulasi modal melalui kerjasama
segitiga Amerika–Jepang–Asia. Keberhasilan ini dikarenakan Amerika Serikat
memberikan perlakukan istimewa, dengan memberikan preferensi pasar
konsumen serta pinjaman dan bantuan dana kepada negara-negara Asia
Amerika. Di mana reproduksi modal pada negara-negara Asia tersebut
dipolitisasi secara berlebihan oleh aparatus-aparatus negara.

Kondisi di atas menjadi pondasi dari produksi massal dalam skala
internasional yang sistematis di negara Asia. Sistem produksi ini melibatkan
antara lain Korea, Taiwan, Hong Kong dan Singapura sebagai produsen, dan
dengan konsumennya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa maju. Bahkan
industri-industri di Korea dan Taiwan sukses bertransformasi dari industri
impor menjadi industri yang berorientasi ekspor. Karena semua kesuksesan
tersebut, mereka berhasil mencapai pertumbuhan rata-rata Produk Domestik
Bruto (PDB) di angka 9,2 dan 9,5% pada 1961 dan 1980. Pertumbuhan
ini mengubah struktur industri di kedua negara tersebut. Kemudian, sejak
1960 jumlah pekerja manufaktur di Korea dan Taiwan meningkat dua kali
lipat. Dimana perempuan-perempuan muda dari daerah-daerah pertanian
bermigrasi ke daerah urban untuk bekerja sebagi buruh pabrik. Kebanyakan
dari mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan
keahlian khusus, seperti memproduksi garmen dan tekstil dengan mesin
untuk akhirnya diekspor ke pasar Amerika.

Migrasi penduduk dalam jumlah besar juga terjadi di negara kota
seperti Hong Kong dan Singapura. Perpindahan masyarakat desa ke kota
yang terus menerus menciptakan sumber daya manusia yang murah bagi
industri-industri kapitalis yang menjamur. Selain itu, warisan kolonial -sistem
kerja yang menjajah - juga masih merajalela, khususnya di Hong Kong. Di
mana buruh kontrak menjadi sistem kerja yang dominan di Hong Kong.
Hubungan kerja kontrak ini menjadikan para buruh sebagai komoditas yang
bisa dipekerjakan atau diberhentikan berdasarkan fluktuasi pasar. Kondisi
tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para buruh untuk menuntut
hak mereka. Di Singapura, yang kental dengan otoritarianisme ekstrim dari
negara, gerakan buruh bahkan tidak muncul ke permukaan karena kerasnya
tekanan dari negara.

Para buruh, termasuk buruh perempuan, di Asia bekerja di bawah
naungan manajemen paternalistik yang menyembunyikan informasi tentang
kontrak kerja formal dan kolektif. Selain itu, perusahaan bahkan menggunakan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
4 |

nilai-nilai yang berlaku di masyarakat Asia untuk menjustifikasi bentuk
manajemen yang lebih menindas dibanding masa kolonial. Kemudian para
buruh mulai menunjukkan sikap melawan dengan menciptakan serikat.

Pertentangan buruh selalu menjadi urusan otoritas negara seperti
polisi. Gerakan buruh tidak bisa mengembangkan basis mereka karena
berbagai latarbelakang. Basis gerakan buruh di Hong Kong menjadi lemah
karena tergusur di tengah-tengah perang sipil dan organisasinya yang
terisolasi dari daerah-daerah besar. Hal lainnya adalah karena terpisahnya
para buruh pada saat terjadi gerakan bersenjata di hutan tropis selatan Asia.
Lemahnya basis gerakan buruh secara nasional membuat pengaruh serikat
buruh di perusahaan juga menjadi lemah. Konsekuensi dari kondisi ini adalah
kondisi kerja yang buruk dengan jam kerja yang sangat panjang dan upah
yang sangat rendah. Kondisi kemudian semakin memperdalam polarisasi
antara status dan kondisi kerja karyawan kantoran (penj; kerah putih) dan
buruh pabrik manufaktur (penj kerah biru).

Sistem ini kemudian berkembang menjadi ‘struktur segitiga’, yaitu
akumulasi modal manufaktur di Asia Timur, modal dan pasar dari negara
barat, dan pekerja murah dari negara berkembang. Sistem ini merupakan
jawaban para pengembang modal di Asia Timur untuk mengatasi kurangnya
tenaga kerja, kenaikan upah buruh secara sosial (global) yang muncul akibat
adanya tuntutan kelas buruh dan demokratisasi, serta kenaikan biaya yang
diakibatkan persaingan sengit para kapitalis di negara-negara barat. Foreign
Direct Investment (FDI) di negara-negara berkembang Asia (kecuali Jepang
yang sudah menjadi negara eksportir modal) meningkat secara signifikan dari
US$ 11.4 milyar di 1990 menjadi US$ 49.4 milyar di tahun 1997. Pertumbuhan
investasi ini sempat terhambat saat krisis ekonomi Asia terjadi, namun segera
dapat diatasi dan pada 2004, dimana nilai investasi langsung di negara-negara
berkembang Asia mencapai angka US$ 87 milyar.

Negara-negara industri baru di Asia (Newly Industrialized Countries/
NICs) seperti Hong Kong, Singapura, Taiwan, dan Korea Selatan mengikuti
Jepang dengan memindahkan industri manufaktur mereka ke negara-negara
berkembang di Asia. Mereka berbondong-bondong mendirikan pabrik di China
dan di daerah selatan Asia. Generasi pertama NICs inilah yang terlibat dalam
mobilisasi modal investasi besar-besaran, yang pada tahun 2000 dan 2004
jumlah pengeluaran modalnya mencapai 90% dan 75% dari total investasi
di negara-negara berkembang Asia. Dimana pengeluaran modal ini menjadi
sumber pemasukan investasi langsung di kawasan Asia. Sebagai contoh,
pada tahun 2000, Taiwan mengeluarkan 45% dari US$7,7 milyar sebagai
modal yang dimasukkan ke kawasan Asia. Bersamaan dengan itu, Korea juga

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 5

mengeluarkan 37% dari total pengeluaran modal yang berjumlah US$5,9
milyar, untuk diinvestasikan di negara-negara berkembang di Asia. Secara
total, pergerakan modal keluar di lintas Asia jumlahnya mencapai 40% dari
modal yang masuk di tahun 2004. Mobilisasi modal ini menjadi kekuatan
pada periode akhir masa industrialisasi di Asia.

Modal dan buruh Asia yang kini aktif bergerak dalam ‘sistem segitiga’
telah membentuk sesuatu yang kita sebut ‘pabrik global’ (global factory),
dimana hampir seluruh negara Asia terlibat di dalamnya, termasuk China dan
India. Pabrik global ini menghubungkan rantai suplai global (global supply
chains) bagi industrialiasi yang kemudian membentuk struktur produksi dan
sirkulasi kapitalis skala dunia. Namun pada saat bersamaan, pabrik global
ini juga berperan sebagai sistem global yang membunuh kondisi hidup, dan
kondisi kerja yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kapitalisme.

Kondisi pasar global melanggengkan logika relasi sosial kapitalistik
yang awalnya berjalan di masa dan ruang industrialisasi (yaitu pembangunan
pabrik, negara industri, dan penerapan jam kerja) yang kini telah merasuk
ke seluruh dimensi ruang dan waktu masyarakat. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa pabrik global merupakan ekspresi kapitalisme kontemporer,
dimana kehidupan manusia dijejalkan ke dalam lintasan modal. Pembagian
kerja internasional, yang pada tahun 1960 dianggap baru dan diyakini sebagai
langkah strategis dalam persaingan produksi, khususnya industri manufaktur,
kini telah diinternalisasi ke dalam kehidupan sehari-sehari nyaris seluruh
populasi dunia. Kini, individu-individu hanya dilihat sebagai titik-titik yang
menghubungkan nilai rantai produksi.

Seiring berkembangnya hubungan yang terjadi secara alamiah di
dalam pabrik global, setiap titik (individu) telah menjadi bagian yang tidak bisa
terpisahkan dari proses akumulasi ruang dunia. Dalam konteks ini, generasi
pertama NICs di Asia bukan hanya menjadi bagian dari pabrik global, namun
juga telah berperan aktif menjadikan ‘pabrik’ ini menjadi tumbuh semakin
besar. Usaha untuk mengintegrasikan manusia ke dalam rantai nilai global
adalah proses koersif yang brutal, yang bertujuan untuk melenyapkan seluruh
elemen relasi sosial non-kapitalastik yang masih tersisa. Logika pasar global
mendikte, bahwa seharusnya kehidupan manusia, walaupun hanya sebagian,
tidak boleh berlandaskan mekanisme yang non-pasar; petani dan buruh tani
yang matapencahariaannya jauh dari industri manufaktur sekalipun, tetap
tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman aturan pasar global.

Walaupun sebagian besar populasi di Asia menggantungkan hidupnya
dengan bekerja sebagai buruh pabrik (penj: sektor formal), namun mereka

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
6 |

Buruh berusaha mendobrak batasan-batasan yang dibentuk perusahan.
Buruh informal di jalanan New Delhi, India. Foto: Chang Dae Oup

menghadapi kondisi yang secara alamiah terbentuk, yaitu status buruh
menjadi sesuatu yang bersifat informal, akibat bentukan sejarah yang telah
merombak kondisi kerja buruh, bahkan definisi ‘buruh’ telah mengalami
erosi secara global. Hal ini merupakan implikasi lanjutan dari keberadaan
pabrik global. Implikasi ini bahkan berjalan lebih cepat namun terselubung
di negara-negara Asia, dimana buruh ‘formal’ belum menjadi sesuatu yang
dianggap wajar. Sistem pabrik global tidak lagi tergantung pada status kerja
formal yang dilindungi hukum demi memperluas jangkauannya. Justru
sekarang ini telah terbentuk suatu relasi sosial yang baru: minimnya institusi
perlindungan buruh, tingkat kedewasaaan industrialisasai yang rendah dan
integrasi populasi ke dalam relasi sosial yang kapitalistik menghasilkan
satu bentuk baru relasi sosial di negara-negara berkembang Asia, yaitu
meningkatnya sektor informal, dimana beragam bentuk usaha untuk mencari
uang bercampur dengan strategi bertahan hidup tradisional dan reproduksi
buruh.

Bagi para buruh di negara-negara NICs dan Jepang, juga buruh di
negara berkembang, perkembangan informalisasi buruh berarti menghilangkan
sistem perekrutan kerja reguler. Buruh yang awalnya menjalankan bentuk

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 7

standar perekrutan, kini menghadapi resiko pemutusan kerja secara sepihak
saat mereka bergabung dengan perusahaan yang menerapkan sistem kerja
kontrak dan paruh waktu; yang reguler kini menjadi ireguler, yang awalnya
terlindungi secara institusi kini bekerja tanpa jaminan. Pembangunan
pabrik global memang lebih tentang pembagian divisi dibandingkan dengan
integrasi. Seperti yang ditunjukkan oleh generasi pertama NICs, dimana
pabrik global membangun sebuah hubungan hirarkis antara segmen-segmen
sosial dalam produksi dan konsumsi. Contohnya adalah hubungan hirarkis
antara pemegang posisi pekerjaan inti (core: buruh regular/tetap) dan buruh
informal (tidak tetap/non reguler).

Pada waktu bersamaan, perusahaan transnasional Asia (Asian
transnational corporations) membangun divisi produksi regional yang baru
dengan cara mengeksploitasi kesenjangan pembangunan antar wilayah.
Meskipun trend gerakan buruh di Asia telah sangat berubah dengan
munculnya pabrik global dan pembagian kerjanya, namun strategi solidaritas
buruh cenderung tidak merespon perubahan tersebut. Paradigma pembagian
kerja Barat-Timur, dan pemahaman tentang kelas kerja yang lama masih
menjadi dasar solidaritas buruh kita. Industrialisasi yang terjadi di Asia dengan
adanya pabrik global tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai konsekuensi dari
ekspansi peradaban barat atau sebagai kekutan mahakuasa dari perusahaan
transnasional Barat. Tapi industrialisasi di Asia ini telah merekonstruksi
pembagian kerja buruh regional menjadi sebuah struktur segitiga yang
melibatkan kapitalisme finansial dan komersial barat, modal produktif dari
Asia utara dan juga buruh-buruh dari negara-negara berkembang di Asia. Hal
ini mendesak kita untuk melampaui kerangka kerja solidaritas internasional
Barat-Timur, dan mulai mendasarkan strategi solidaritas internasional kita
dengan basis struktur segitiga Asia. Lebih jauh lagi, populasi masyarakat
yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja sebagai buruh di luar
industri kapitalis terus bertambah dan bahkan ‘pekerja perempuan’ makin
berintegrasi dengan jalur modal yang terus meluas. Dalam konteks ini,
kita harus mengkaji ulang strategi solidaritas warisan para industrialis, dan
mulai menembus ‘bangunan aliansi’ kelas pekerja industri tradisional; kita
bahkan perlu memikirkan ulang konsep kelas pekerja industri. Jika kita
ingin mewujudkan sebuah solidaritas internasional dan tidak menjadikannya
sebagai slogan semata, maka penyusunan ulang secara menyeluruh harus
dilakukan.

Saya ingin menggunakan perayaan ulang tahun AMRC ke-30 ini untuk
menegaskan kembali pendekatan-pendekatan baru yang bisa membantu
kita dalam membangun platform baru yang inovatif untuk mewujudkan
solidaritas regional dan internasional. Pertama, saya ingin mengulang

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
8 |

kembali pernyataan pentingnya solidaritas inter-Asia dalam membangun
‘solidaritas segitiga’. Walaupun pembagian kerja regional telah membangun
ekonomi Asia secara hirarkis, negara-negara Asia tetap memiliki lebih banyak
kesamaan dibandingkan perbedaan sepanjang tetap menjadi negara-negara,
yang dalam istilah ekonomi global disebut sebagai negara periphery. Lebih
jauh lagi, negara kita yang kaya tanah ini telah merasakan penjajahan pada
masa kolonial, yang kemudian kita lawan dengan gerakan anti penjajahan,
lalu muncul industrialisasi di bawah negara otoriter dan proses demokratisasi.
Semua itu telah membangun rasa saling pengertian antar kita, dalam
melihat masalah yang kita hadapi saat ini. Memang benar, sebuah solidaritas
membutuhkan basis materiil, dan basis tersebut telah tersedia untuk kita
karena adanya integrasi ekonomi Asia. Akan sangat sulit bagi kita untuk
membangun ‘solidaritas’ bila satu diantara kita menjadi ‘penjual’ dan satu
lagi menjadi ‘pembeli’, atau yang satu berperan sebagai penolong dari negara
lain dengan dasar simpati. Solidaritas inter-Asia bisa menjadi titik awal bagi
kita untuk mulai membangun ‘south-south solidarity’ yang lebih luas, yaitu
yang mampu menolong negara lain di tengah-tengah kebutuhan negaranya
yang mendesak. Solidaritas yang mampu membuat antar negara itu sebagai
rekanan bukan sekedar dermawan, sehingga membantu satu sama lain
menjadi sebuah keharusan.

TO BUILD
INTERNATIONAL
SOLIDARITY recognize the gender and racial dvides that
contribute to capital’s domination over labour

go beyond industrial solidarity

build up inter-Asian solidarity first, as
equals in the need for urgent help

Hal kedua adalah kebutuhan untuk melampaui solidaritas pekerja
industri (seperti sudah disampaikan di atas). Pemikiran yang melampaui
batasan solidaritas pekerja industri dibutuhkan untuk membangun solidaritas
lintas-Asia dan itu dimulai dengan membangun solidaritas segitiga. Strategi
solidaritas industrial melihat para buruh yang bekerja di non-industri sebagai

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 9

‘orang luar’ yang hanya berguna untuk membangun ‘opini publik’. Pengalaman
terakhir telah mengajarkan kepada kita, bahwa tidak ada opini publik yang
mendukung gerakan buruh, bahwa kita memang harus turun ke lapangan dan
berjuang bersama buruh. Ini bukan berarti gerakan buruh perlu bergabung
dengan gerakan-gerakan lain. Justru ini adalah satu bentuk usaha untuk
menyadari bahwa kontradiksi yang terjadi di kalangan buruh tidak lagi muncul
di satu lajur modal, namun harus menghadapi masyarakat secara keseluruhan
yang telah terjerat pemikiran kapitalis yang terus menjalarkan kontrolnya.
Tidak ada istilah ‘orang luar’ (the others). Tidak lupa juga, mari kita sadari
bersama, bahwa solidaritas internasional tradisional merupakan strategi yang
digenderisasi, dirasialisasi, dan juga melanggengkan akumulasi modal sosial.
Akar dari dominasi modal sosial terletak pada tindakan diskriminasi antara
‘kita’. Semakin banyaknya perempuan dan buruh imigran yang berhasil kita
bawa ke arena solidaritas, maka kita akan semakin mendekati realisasi dari
slogan solidaritas internasional. Bahkan dengan begitu, kita bisa mengklaim
bahwa gerakan buruh adalah gerakan universal untuk semua kalangan.

Pekerjaan berat menunggu di depan kita. Setiap usaha untuk
mengatasi kontradiksi yang ada, akan berhadapan dengan organisasi-
organisasi ‘internasional’ dan budaya yang telah berjalan ratusan tahun yang
justru menjadi penyebab munculnya semua kontradiksi tersebut. Semua itu
datang ke kita dengan wajah ‘bersahabat’. Mereka memang pernah menjadi
sahabat bagi kita, namun sekarang tidak lagi. Mungkin kini saatnya kita perlu
sadar, bahwa mereka adalah tantangan yang perlu kita hadapi secara halus
dan konsisten. Dan saya sungguh percaya, kekuatan AMRC justru berasal
dari situ, dari kemampuannya untuk mengatasi masalah dengan halus dan
konsisten.

---

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
10 |

PERKEBUNAN TEH DAN REPRODUKSI KEMISKINAN
Abu Mufakhir

“Seorang buruh perempuan, pemetik teh, adalah representasi negara tropis
Dunia Ketiga. Simbol dari pembungkaman, kemiskinan, kelompok paling
tereksploitasi dari pembagian kerja dan rantai supply internasional, adalah
representasi kelas pekerja.” (Chateerjee, 2003)

Pengantar
SEBAGAI SEKTOR INDUSTRI padat karya, Industri teh Indonesia, pada tahun
1999 telah menyerap 300.000 pekerja dan menghidupi sekitar 1,2 juta jiwa
(ATI, 2000).2 Pada tahun 2009, dengan luas kebun 123.506 hektare, produksi
teh Indonesia mencapai 157.000 ton per tahun, dimana 70%-nya untuk
dieskport (atau memenuhi sekitar 5,8% kebutuhan dunia), dengan nilai
eksport mencapai 110 juta dollar per tahun (Deptan, 2010; ATI, 2009). Pada
tahun 2008 dan 2009, Indonesia menduduki peringkat 6 besar produsen teh
dunia setelah Vietnam, India, China, Sri Lanka dan Kenya (ATI, 2011).3

Teh Indonesia diekspor ke pasar teh dunia dalam bentuk bahan
mentah, dengan 90%-nya merupakan jenis teh hitam ortodok, dengan
negara tujuan eksport yang paling penting meliputi negara-negara CIS/
Commonwealth Independent States, Inggris, Pakistan dan Malaysia (van der
Wall, 2008). Di pasar lelang teh Jakarta, yang merupakan salah satu pasar
lelang paling penting untuk teh hitam (untuk eksport), tahun 2005 harga
daun teh hitam Indonesia berkisar 1 dollar perkilo, dan harga daun teh hijau
pada tahun 2006-2007, bervariasi dari 7 sampai 12 dollar perkilo (ibid).

Perkebunan teh dapat memperkerjakan 1,4 buruh pemetik tiap satu hektar (tanpa memperhi-
2

tungkan, bagian perawatan, mandor, dlsbnya). Bandingkan dengan kelapa sawit yang mempe-
kerjakan 0,3 pekerja tiap satu hektare. (ATI, 1998; Deptan, 2011), menurut Rambo, salah satu
peneliti di LSM Sawit Watch, angka 0,3 tersebut tidak memperhitungkan keberadaan buruh
harian lepas untuk pekerjaan-pekerjaan seperti memanen, perawatan, dlsbnya yang jumlah
besar di perkebunan kelapa sawit (wawancara, Rambo, 17/10/2011).
3
Angka luas lahan dan produksi teh Indonesia sejak tahun 2000 terus menurun. Pada tahun
2000 areal perkebunan teh nasional seluas 153,675 hektar, dengan produksi mencapai
162.587 ton pertahun. Selaras dengan bekurangnya areal lahan dan produktivasnya, per-
ingkat ekspor Indonesia di pasar teh dunia pun turun dari peringkat ke-6 pada tahun 2009,
turun menjadi peringkat ke-11 pada tahun 2011 (ATI, 2011).

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 11

Secara umum pengelolaan perkebunan teh di Indonesia dapat dibagi
kedalam tiga kelompok besar, Perkebunan Besar Negara (PBN), Perkebunan
Besar Swasta (PBS), dan Perkebunan Rakyat (PR). Dengan perbandingan
luas lahan secara keseluruhan tahun 2009, PR memiliki luas lahan terbesar
seluas 44%, disusul PBN seluas 32%, kemudian PBS seluas 24%. Namun
jika dilihat dari tingkat produktivitas pertahun, PBN berada diurutan pertama
dengan menyumbang produksi teh pertahun sebesar 54%, selanjutnya PS
dan PR dengan nilai produksi masing-masing sebesar 23% (ATI, 2009).

Perkebunan Besar Negara dan Swasta yang memiliki fasilitas
pengeringan teh hijau sendiri, mendominasi eksport teh Indonesia.
Sedangkan untuk pasar domestik didominasi oleh perkebunan kecil swasta
dan perkebunan rakyat dengan jenis teh hijau dan teh Jasmine. Produksi teh
perkebunan negara secara eksklusif hampir seluruhnya dijual melalui pasar
lelang, sedangkan untuk perkebunan swasta, biasanya dijual langsung kepada
perusahaan pengolahan dan pengemasan teh jadi, baik itu perusahaan
domestik maupun internasional, tanpa melalui pasar lelang lebih dulu (van
der Wall, 2008). Pelelangan teh di Jakata dimonopoli oleh perusahaan teh
transnasional Lipton, milik Unilever, (melalui departemen pembelian teh PT
Unilever Indonesia), yang membeli 70% semua teh di pasar lelang tersebut
(ibid).

Data-data ringkas tersebut menunjukkan teh sebagai sebuah industri
besar. Dan sebagai upaya untuk mengetahui lebih dekat bagaimana kondisi
kerja buruh perempuan pemetik teh, kami melakukan pengamatan lapangan
pada perkebunan teh negara Malabar, yang terletak di Kabupaten Bandung,
Jawa Barat, yang merupakan perkebunan teh negara terbesar yang dikelola
oleh PTPN VIII. Dimana Propinsi Jawa Barat merupakan produsen teh
terbesar di Indonesia, yang menyumbang 77% dari ekspor teh Indonesia
secara keseluruhan, serta memiliki areal perkebunan teh terbesar –mencapai
96.652 hektar (80% dari luas lahan secara keseluruhan)- dengan produksi
111.721 ton pada tahun 2009 (Deptan, 2010).

Buruh Pemetik Teh di Perkebunan Negara

Produksi teh PTPN VIII mencapai 80% dari keseluruhan produksi teh
perkebunan negara, dengan pangsa pasar sebagian besar untuk eksport.
Dari 120.000 ha atau 41 perkebunan yang dikelola oleh PTPN VIII, 24-nya
adalah perkebunan teh produktif dengan luas areal 25.905 ha, yang berada
di 6 kabupaten di Jawa Barat.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
12 |

Tahun 2010 PTPN VIII menyerap 59291 tenaga kerja, dengan komposisi
buruh tetap sebesar 26545, dan buruh tidak tetap sebesar 32746 (lebih dari
60%). Selanjutnya PTPN VIII hanya memiliki data demografis buruh tetapnya
saja, dan dari 26545 buruh tetap, 21 ribu (80%) buruhnya merupakan lulusan
Sekolah Dasar, dengan 23 ribu (87%) buruhnya berusia 36-55 tahun (yang
berusia di bawah 25 tahun hanya berjumlah 13 orang), dengan jumlah buruh
laki-laki sebanyak 17872 dan buruh perempuan sebanyak 8673 (http://www.
bumn.go.id/ptpn8, di akses 23/09/2011).

Untuk jumlah dan komposisi gender buruh pemetik, PTPN VIII tidak
melansir datanya. Karena itu kami melakukan perhitungan sendiri, dengan
merujuk pada data ATI (Asosiasi Teh Indonesia, 1998 dilihat dalam Sugiarti,
2003), setiap satu ha perkebunan teh membutuhkan 1,4 pemetik, dimana 90%-
nya adalah perempuan, maka dari luas areal produktif 25.905 ha perkebunan
teh PTPN VIII didapat angka jumlah buruh pemetik sebesar 36267, dengan
32640 merupakan buruh perempuan yang mayoritas merupakan buruh lepas,
dengan usia rata-rata 40th (wawancara, dengan beberapa buruh pemetik,
27/09/2011).

Dari data tersebut, kita mendapatkan gambaran, industri agrobisnis
sebagai sektor padat karya, dan perkebunan teh sebagai subsektornya,
memiliki karakteristik buruh dengan tingkat kerentanan kerja yang tinggi.

Perkebunan Teh dan Reproduksi Kemiskinan Buruh Perempuan

Salah satu masalah paling akut di perkebunan teh adalah kemiskinan
dan upah yang rendah. Dalam hal pengupahan di Indonesia, sudah sejak
lama sektor pertanian, termasuk perkebunan di dalamnya, memiliki upah
yang lebih rendah dibandingkan upah pada sektor lainnya (lihat: Sugiarti,
2003). Persoalan rendahnya upah di sektor perkebunan, menjadi salah
satu faktor kunci penyebab para pekerja khususnya pemetik, yang di dalam
struktur industri teh merupakan pelaku produksi yang berada di bagian paling
bawah dan terlemah dalam mata rantai produksi teh yang cukup panjang,
hidup dalam kemiskinan yang turun temurun dan kondisi kerja yang buruk.

Buruh pemetik, baik tetap maupun tidak tetap, keduanya bekerja
dengan menggunakan sistem borongan (upahnya dihitung berdasarkan
satuan hasil kerja).4 Dalam sistem borongan buruh pemetik teh, upah diberikan
berdasarkan jumlah pekerjaan yang diselesaikan oleh pekerja. Artinya jumlah
Dalam Permenaker No. Per-03/Men/1994, yang disebut sebagai tenaga kerja borongan
4

adalah tenaga kerja yang bekerja pada pengusaha untuk melakukan pekerjaan tertentu yang
berubah-ubah dalam hal waktu dengan menerima upah didasarkan atas volume pekerjaan
atau satuan hasil kerja (Bab I, Pasal 1).

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 13

upah metik yang diterima buruh tetap maupun lepas, sama-sama tergantung
dari jumlah kiloan pucuk yang berhasil dipetiknya. Hal yang membedakan
lebih pada buruh pemetik dengan status tetap memiliki hak-hak perlindungan
kerja lebih baik dibandingkan dengan buruh pemetik tidak tetap.

Harga setiap kilo pucuk teh di perkebunan Malabar, berkisar antara
200-500 rupiah perkilo.5 Perhitungan harga tersebut secara garis besar
dipengaruhi oleh dua faktor, pertama adalah faktor musim. Terdapat dua
kategori musim dalam perkebunan teh: musim puncak (peak season), yaitu
ketika tingkat pucuk teh berada di level tertinggi, biasanya terjadi ketika
musim hujan, pada musim ini harga metik bisa naik sampai tingkat tertinggi
Rp. 500/kg; dan musim rendah (low season), ketika tingkat pucuk teh berada
di level terendah, biasanya terjadi ketika musim kemarau, pada musim ini
harga pucuk teh mencapai angka terendah, Rp. 200/kg (wawancara dengan
beberapa buruh pemetik, 27-28/09/2011).

Kedua, dan ini yang paling berpengaruh, adalah hasil analisis kualitas
pucuk teh yang ditentukan sepihak oleh perkebunan, melalui standar baku
yang sudah ditetapkan oleh pihak direksi dan manajemen. Seperti dikatakan
oleh Sugiarti (2003), dengan sistem analisis ini, upah metik buruh tidak akan
selalu sama, tergantung dari kualitas pucuk hasil pemetikan setiap harinya.
Dengan perhitungan sistem analisis ini, semakin rendah analisis pucuk yang
dipetik buruh, semakin rendah pula upah metik yang diperolehnya. Semakin
tinggi analisis atau kualitas pucuk yang dipetik buruh, semakin tinggi pula
upah metik yang diperolehnya.

Di perkebunan negara, walaupun para pemetik menyetorkan dan
dicatat hasil kerjanya setiap hari, namun mereka menerima upahnya secara
bulanan, dengan harga perkilonya ditentukan oleh faktor analisis tersebut,
yang berbeda-beda setiap bulannya, dan pada saat penelitian ini dilakukan
berada pada kisaran 350-370 rupiah/kg.

Jam kerja rata-rata pemetik mulai dari jam 6 pagi sampai jam
14.00 siang ketika waktu penimbangan pertama, dan sampai jam 15.30
waku penimbangan kedua. Jam kerja ini bisa lebih panjang pada buruh
yang mendapatkan bagian afdeling terjauh. Kami menemukan seorang
buruh perempuan pemetik yang mulai berangkat kerja sejak jam 3 pagi,
karena jauhnya jarak antara tempat tinggalnya di pedesaan dengan
afdeling yang menjadi bagiannya. Ia berangkat kerja dengan suhu di

Faktor analisis pucuk teh, tidak terdapat di perkebunan rakyat, karena di perkebunan rakyat
5

upah langsung diterima oleh pemetik setelah proses penimbangan pada hari itu juga (Sugiarti,
2003)

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
14 |

bawah 17derajat celcius, dan ketika memetik tidak menggunakan sarung
tangan sama sekali.

Pada perkebunan yang kami teliti terdapat delapan afdeling, masing-
masing afdeling memiliki jarak tempuh yang berbeda dengan tempat tinggal
buruh. Keberangkatan mereka ke perkebunan yang menjadi bagiannya
masing-masing dilakukan dengan berjalan kaki, dengan rata-rata jarak
tempuh dan jarak jangkau pemetikan pucuk teh mencapai belasan kilo meter.
Mereka hanya dijemput dengan kendaraan truk terbuka milik perkebunan
dari masing-masing afdeling menuju tempat penimbangan, untuk kemudian
menuju pabrik dengan berdiri di bak truk.

Rata-rata jam kerja mereka perhari, setelah dipotong satu jam istirahat
adalah 7 jam (jika menyetor pada jam penimbangan pertama), dan 8,5 jam
(jika menyetor pada penimbangan kedua). Dengan 24 hari kerja selama satu
bulan. Berat maksimal yang bisa didapat oleh seorang buruh pemetik (pada
usia yang relatif lebih muda) adalah 50kg pucuk perhari. Dengan perkiraan
menggunakan harga rata-rata tertinggi, Rp. 370,- Dengan hasil kerja
paling maksimal 50kg pucuk teh perhari, maka dalam sehari maksimal bisa
mendapatkan Rp. 18.500. Dengan penghasilan perbulan dikalikan 24 hari,
menjadi Rp. 444.000,- perbulan. Pada buruh tetap, mereka mendapatkan
uang kehadiran setiap hari sebesar 10ribu rupiah, tapi uang itu hanya akan
diberikan jika hasil petikan mereka beratnya melebihi 20kg. Jadi pada buruh
tetap, penghasilan kotor mereka bisa mencapai angka maksimal Rp. 680.000.
Penghasilan kotor pada buruh tetap ini kemudian dipotong dengan beragam
macam potongan. Karena demikian banyaknya potongan gaji tersebut,
Sugiarti (2003) mengelompokkannya ke dalam dua jenis potongan: potongan
yang bisa diterima, dan potongan lainnya (yang menurut kami merupakan
potongan yang tidak bisa diterima). Dimana salah satu potongan gaji yang
dikategorikan sebagai potongan lainnya adalah iuran serikat buruh, karena
keberadaan SPBUN di PTPN VIII sama sekali tidak dirasakan oleh anggotanya.6

Dari pemaparan tersebut, ada dua hal yang perlu dipersoalkan,
pertama terkait dengan mekanisme penentuan upah, kedua terkait dengan
nilai upah itu sendiri.

Pertama, mekanisme penentuan upah pemetik, yang menggunakan
sistem borongan dan harga perkilonya bergantung pada hasil analisis kualitas

Potongan upah lainnya yang oleh Sugiarti (2003), berada diluar kategori yang bisa diterima
6

terdiri dari pajak desa, iuran organisasi sosial (Orsos), iuran anggota SPBUN, asuransi, SPP
TK, SPP TKA, dan iuran RW. Besar dan jenis potongan tersebut berbeda-beda bagi setiap
buruh tergantung dari pemanfaatan fasilitas perusahaan oleh buruh tersebut.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 15

pucuk teh yang ditentukan sepihak oleh manajemen perkebunan, jelas hanya
akan menguntungkan pihak manajemen perkebunan. Sistem borongan akan
mendorong buruh untuk memetik pucuk sebanyak-banyaknya, yang akan
meningkatkan produktivitas pucuk teh perkebunan. Kemudian, penggunaan
sistem analisis kualitas pucuk, dalam proses penentuannya yang dilakukan
setiap bulan sebelum waktu gajian, tidak ada pihak buruh pemetik yang
dilibatkan baik melalui SPBUN atau tidak, padahal hasil analisis tersebut
mempengaruhi harga pucuk yang kemudian secara langsung mempengaruhi
upah mereka.

Kedua terkait dengan nilai upah itu sendiri. Nominal upah perbulan
pemetik teh dengan menggunakan perhitungan di atas rata-rata sebesar Rp.
444.000,- (untuk buruh lepas) dan gaji kotor sebesar Rp. 680.000,- (untuk
buruh tetap), pada tahun 2011. Nominal ini berada jauh di bawah angka
Upah Minimum Kabupaten (UMK), Bandung tahun 2011 yang mencapai
Rp. 1.123.000 (SK Gubernur Jabar Tentang UMK, 2011). Padahal,- terlepas
penentuan UMK oleh Dewan Pengupahan dan kemudian ditetapkan oleh
Gubernur tersebut memiliki banyak persoalan, seperti tidak memenuhi kriteria
upah layak-, ketentuan UMK itu sendiri hanya berlaku bagi buruh lajang, dan
masa kerja di bawah satu tahun. Seperti sudah dipaparkan, jika melihat rata-
rata usia pemetik berada pada kisaran 40 tahun dan 90% perempuan, maka
diperkirakan hanya sebagain kecil buruh pemetik tersebut yang berstatus
lajang (mengingat juga kultur kawin muda di wilayah pedesaan Indonesia),
dan baru bekerja di bawah satu tahun (mengingat juga, dalam mekanisme
rekruitmennya perkebunan teh sangat mengandalkan mekanisme kekerabatan,
dimana banyak pemetik teh mengajak anak, dan keluarganya untuk
bekerja sebagai buruh lepas pemetik sejak mereka masih berusia remaja).

Masalah lainnya yang terkait adalah, tidak adanya upah minimum
sektoral propinsi bagi sektor perkebunan di propinsi Jawa Barat, dan upah
minimum sektoral kabupaten di Bandung pada tahun 2011 (Lihat: SK
Gubernur Jawa Barat Tentang UMK, 2011). Padahal, Jawa Barat khususnya
Kabupaten Bandung, dengan keberadaan PTPN VIII, merupakan wilayah
produsen teh terbesar di Indonesia. Dengan membiarkan buruh pemetik
memiliki upah jauh di bawah ketentuan UMK, dan dengan ketidakberadaan
upah minimum sektor perkebunan, telah menunjukkan tidak hadirnya negara
dalam persoalan ini.

Upah rendah dan kondisi kerja yang buruk nyaris merupakan hal
yang tidak bisa dihindari oleh buruh perkebunan pemetik teh. Karena mereka
memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi dengan perkebunan, sehingga
nyaris tidak memilik alternatif lain, selain bekerja sebagai pemetik dengan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
16 |

upah berapapun, tanpa jaminan sosial, dan dengan kondisi kerja seperti
apapun.7

Struktur Ketergantungan

Upah murah, dan mekanisme penentuannya yang sepihak, sistem kerja
borongan, status hubungan kerja informal, tidak adanya jaminan sosial, tidak
dilibatkannya buruh pemetik sebagai kelompok mayoritas dalam penentuan
kebijakan perkebunan -termasuk yang terkait langsung dengan nasib mereka
seperti penentuan harga pucuk teh-, merupakan kumpulan sebab dari proses
pemiskinan tersebut.

Kondisi-kondisi tersebut, menjadi lebih buruk karena menciptakan
struktur ketergantungan antara entitas buruh perkebunan dan warga
sekitar perkebunan terhadap pihak perkebunan. Karena pihak perkebunan
hampir menguasai segalanya untuk berkompetisi secara ekonomi, mulai dari
modal, teknologi, sumber daya manusia, dlsbnya. Dalam kondisi yang lebih
akut, struktur kebergantungan tersebut menciptakan ekspolitasi terhadap
kelompok-kelompok marjinal, terutama buruh perempuan.

Struktur tersebut mengikat buruh perempuan pemetik teh sebagai
salah satu pelaku produksi dari rantai industri teh yang panjang menjadi
subjek yang selalu berada dalam kondisi tergantung pada perkebunan, baik
secara fisik (upah, tempat tinggal, tanah, kerja, dlsbnya), maupun psikologis
(seperti rasa aman, harapan untuk diangkat jadi buruh tetap, harapan untuk
mendapatkan bonus, kenaikan gaji, harapan agar anaknya bisa bekerja di
perkebunan, dlsbnya), juga terjajah secara kultural akibat dominannya
kultur patriarkhi di perkebunan, dalam sebuah rantai reproduksi kemiskinan.
Dengan demikian, buruh perempuan pemetik teh adalah subjek subaltern
yang terus menerus berada dalam kondisi yang tertekan dan lemah, akibat
keberadaannya sebagai kelas paling bawah, dan paling terpinggirkan di
perkebunan teh.

Kondisi ketergantungan, tertekan, dan lemah tersebut, bisa
digambarkan dengan salah satu temuan kami mengenai keberadaan
(nyaris seluruh) buruh perempuan pemetik yang selalu berdandan lebih

Kondisi ini sedikit berbeda dengan buruh di sektor manufaktur misalkan, ketika mereka ber-
7

henti bekerja, semisal karena di PHK, mereka relatif masih memiliki tempat untuk ‘jatuh’,
dengan kembali ke kampung halamannya. Sedangkan untuk buruh perkebunan, mereka lahir,
hidup, dan bekerja di tempat yang sama, di tengah-tengah perkebunan, ketika mereka berhen-
ti bekerja karena di PHK, lebih sulit bagi mereka untuk menemukan tempat ‘jatuh’ tersebut,
karena memiliki ketergantungan yang lebih tinggi kepada pihak perkebunan dibandingkan
ketergantungan buruh manufaktur kepada pabrik tempatnya bekerja.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 17

dulu sebelum berangkat kerja, padahal tempat kerja mereka berada di
tengah-tengah perkebunan, dan hampir semua orang yang mereka temui
di tempat kerja adalah perempuan, kecuali mandor. Kami menemukan suatu
jawaban mengenai apa yang menjadi sebab mereka berdandan (bahkan
sampai menor) sebelum berangkat kerja, yaitu untuk menyenangkan sang
mandor. Jika mereka tidak berdandan, sang mandor akan marah, dan jika
sang mandor sudah marah, maka hidup mereka akan lebih sulit lagi, dan
merupakan rahasia umum di kalangan buruh perempuan pemetik sendiri,
jika mandor merupakan pelaku utama dari kekerasan seksual terhadap buruh
perempuan (wawancara B, 27-28/09/2011). Entah terkait atau tidak dengan
kekerasan seksual tersebut, kami menemukan seorang mandor pada pagi
hari sudah mengkonsumsi minuman keras di salah satu pos keamanan di
depan pabrik pengolahan.

Posisi mandor sebagai representasi lelaki, merupakan pihak yang
superior, karena memiliki kekuasaan langsung untuk dengan mudah
mempengaruhi nasib buruh pemetik perempuan, mengenai apakah esok
hari mereka masih bisa bekerja atau tidak, atau apakah mereka ingin bisa
mendapatkan pinjaman uang atau tidak dari koperasi, posisi mandor dalam
hal ini sangat menentukan; selain itu, sang mandor pemabuk merupakan
representasi dari bahaya, ancaman dan kekerasan. Maka kemiskinan yang
dialami oleh buruh perempuan tidak hanya bersumber dari persoalan
ketenagakerjaan, tapi juga bersumber dari dominannya kultur patriarkhi
(melalui mandor sebagai simbol terdekatnya, dan administratur perkebunan
sebagai simbol tertingginya) yang diproduksi oleh perkebunan selama ratusan
tahun, salah satunya melalui praktik konsentrasi perempuan pada jenis atau
pembagian kerja tertentu, sehingga jenis pekerjaan tersebut mengalami
‘feminisasi’, dan pemisahan suatu jenis pekerjaan berdasarkan kelamin,
hasilnya adalah jenis pekerjaan memetik pucuk teh, sebagai jenis pekerjaan
bagi perempuan, dan pekerjaan sebagai mandornya adalah hak eksklusif
lelaki. Selain itu, seperti dikatakan Sugiarti dan Novi (2003) di perkebunan
teh 98% posisi dari mandor ke atas didominasi oleh tenaga kerja laki-laki.
Semua hal tersebut, menunjukkan, jika seorang buruh perempuan pemetik
teh tidak hanya mengalami praktik eksploitasi dalam dimensi kelas, tapi juga
dalam dimensi jender.

SPBUN dimana?

Pada masa perjuangan kemerdekaan dan Orde Lama, terdapat tradisi
serikat buruh perkebunan yang radikal dan militan, bahkan mereka menjadi
salah satu pelaku perjuangan kemerdekaan yang penting. Salah satu dari
serikat itu adalah Sarbupri (Sarekat Buruh Perkebunan Indonesia), yang

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
18 |

memiliki afiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Sejak Orde Baru
yang kejam berdiri, kemudian membubarkan PKI dan seluruh afiliasinya,
tradisi tersebut perlahan menghilang. Sampai saat ini tak ada tradisi serikat
buruh di perkebunan, walaupun terdapat beberapa serikat di perusahaan
perkebunan baik swasta maupun negara, termasuk SPBUN, PTPN VIII. Tapi
SPBUN lebih merupakan serikat yang berpihak dan setia kepada manajemen,
daripada memperjuangkan anggotanya, bahkan seperti dikatakan oleh van
der Wall (2008), pengurus serikat buruh di seluruh perkebunan negara
dipilih oleh manajemen. Hal ini didukung oleh temuan-temuan lapangan
kami mengenai keberadaan SPBUN, yang sama sekali tidak hadir dalam
permasalahan yang dihadapi oleh buruh pemetik, tidak peduli dengan
nasib pensiunan golongan rendah, dan keberadaan komunitas di sekitar
perkebunan. Apalagi, ketika berbicara mengenai keberadaan buruh lepas
yang merupakan mayoritas di perkebunan teh Malabar, PTPN VIII. Temuan-
temuan tersebut antara lain:

Pertama: seluruh kontak kami di perkebunan Malabar tidak mengenal
siapa pengurus SPBUN baik tingkat unit perkebunan apalagi di tingkat
PTPN VIII, tapi mereka semua tahu pengurus SPBUN merupakan pejabat-
pejabat perkebunan. Ketika kami mengunjungi sekretariat SPBUN tingkat unit
perkebunan Malabar, kami tidak mendapatkan izin untuk bertemu dengan
pengurus SPBUN oleh Satpam yang bertugas, dan ketika kami bertanya
prihal siapa sajakah yang menjadi pengurus SPBUN, Satpam tersebut
mengatakan kalau pengurus SPBUN merupakan pekerja perkebunan yang
menjabat sebagai mandor besar ke atas (Satpam sekretariat SPBUN, Malabar,
28/09/2011).

Semua pemetik teh dengan status tetap yang berhasil kami temui,
tidak ada satupun yang memiliki PKB Induk yang dibuat antara SPBUN
dengan Badan Musyawarah Direksi (BMD), PTPN dan PTRNI. Di PTPN, PKB
yang dibuat adalah PKB Induk yang berlaku bagi semua perkebunan PTPN,
termasuk PTPN VIII (http://www.bumn.go.id/ptpn8 diakses 24/09/2011).

Kedua: Jika melihat mekanisme penentuan kualitas pucuk teh yang
dilakukan sepihak oleh pihak manajemen dan direksi perkebunan setiap
bulannya, kita dapat melihat bahwa di dalam PKB PTPN sama sekali tidak
diatur tentang pelibatan perwakilan buruh dalam proses penentuan kualitas
pucuk teh tersebut, dan SPBUN sama sekali tidak terlibat dalam hal tersebut
di luar dari mekanisme PKB, padahal itu terkait dengan besaran upah yang
akan diterima oleh pekerja pemetik yang merupakan pekerja mayoritas.
Selanjutnya, walaupun SPBUN terlibat dalam Dewan Pengupahan tingkat
Propinsi, namun SPBUN seperti membiarkan Dewan Pengupahan Propinsi

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 19

untuk memutuskan tidak adanya Upah Minimum Sektoral Perkebunan
Kabupaten dan Propinsi.

Ketiga: SPBUN tidak terlibat, dan tidak peduli dalam tiga kasus yang
melibatkan buruh, pensiunan, dan warga desa sekitar PTPN VIII.

1. Kasus mogok kerja satu hari buruh perempuan pemetik di salah satu
afdeling perkebunan Malabar, yang pernah dilakukan sebanyak dua
kali pada tahun 2010, menuntut dinaikkannya bonus tahunan yang
jumlahnya hanya Rp. 750 – 1000 rupiah atau sama dengan harga satu
batang rokok. Pada kasus tersebut, SPBUN PTPN VIII, sama sekali
tidak ada.

2. Kasus pengusiran paksa korban gempa dari lahan relokasi, di
perkebunan teh Walatra milik PTPN VIII, pada November 2009,
padahal Gubernur Jawa Barat sudah menetapkan tanah tersebut
sebagai lahan relokasi bagi hampir 400 KK (Kepala Keluarga) korban
gempa, dan luas lahannya hanya 2 ha yang merupakan lahan tidak
produktif. Salah satu narasumber kami mengatakan, “jika tanah dua
hektare untuk korban gempa, diusir-usir oleh perkebunan, sedangkan
ribuan hektare tanah HGU PTPN VIII disewakan kepada swasta. Jika
kami harus menyewa, kami akan menyewa, walaupun itu sebenarnya
tanah negara, dan kami adalah korban gempa.” Menurut narasumber
kami, alasan kenapa pihak perkebunan tidak mau memberikan tanah
tersebut walau hanya seluas 2 ha, karena mereka takut hal tersebut
memancing keberanian warga untuk melakukan pendudukan tanah
lainnya.

3. Kasus terlibatnya para pensiunan buruh pemetik PTPN VIII dalam aksi-
aksi reclaiming tanah perkebunan yang tidak produktif milik BUMD
Kertasari Makmun, dibawah pengelolaan Pemerintah Kabupaten
Bandung, yang terletak di sekitar perkebunan Malabar.

Dimana SPBUN dalam ketiga kasus tersebut? Semua narasumber
kami mengatakan SPBUN sama sekali tidak peduli, dan mereka merasa tidak
memiliki tempat untuk mengadu.

Penutup

Dari uraian di atas, dapat dilihat terjadinya proses reproduksi kemiskinan terus
menerus di perkebunan teh Malabar. Dimana buruh perempuan pemetik teh
merupakan subjek yang paling termiskinkan dari proses tersebut. Kemiskinan
yang dialami oleh buruh perempuan bersumber dari upah mereka yang murah,

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
20 |

dan status kerja mereka yang informal, mencerminkan tidak terdistribusinya
nilai ekonomi dan sosial yang dihasilkan dari produksi teh secara adil dan
merata, terhadap buruh perempuan pemetik.

Kemiskinan yang dialami buruh perempuan, terkait dengan
terkonsentrasi pekerjaan berdasarkan jender, yang merupakan salah satu
strategi akumulasi modal oleh pihak perkebunan. Dimana buruh perempuan
terkonsentrasi pada jenis pekerjaan paling rendah dalam rantai produksi di
perkebunan teh. Hal ini menunjukkan tingginya praktik diskriminasi jender,
dan dominannya kultur patriarkhi di perkebunan teh.

Ketidakhadiran SPBUN, membuat representasi dan keterlibatan
buruh perempuan sebagai bagian dari rantai produksi paling lemah dalam
penentuan kebijakan perkebunan menjadi sangat rendah, termasuk dalam
penentuan kebijakan kualitas pucuk teh, yang mempengaruhi besaran upah
yang mereka terima.

Daftar Pustaka

Chateerjee, Piya, (2001) “Time of Tea. Women, Labour, and Post/Colonial.
Politic on an Indian Plantation.” USA: Duke University Press.
Tropical Countries Coalition (2010) “Tea Barometer 2010.” Leiden: TCC.
Van der Wal, Sanne, (2008) “Sustainability Issues in the Tea Sector. A
Comparative Analysis of Six Leading Producing Countries” Netherland:
SOMO
Stoler, Ann Laura, (2005) “Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan
Sumatra, 1870-1879.” Yogyakarta: Penerbit KARSA
Sugiarti, Keri Laksmi, (2003) “Sistem Kerja Borongan pada Buruh Pemetik
Teh Rakyat dan Negara. Menguntungkan atau Merugikan?” Jurnal
Akatiga, Bandung: Yayasan Akatiga.
Sugiarti, Keri Lasmi dan Shelly Novi (2003) “Bentuk dan Dinamika Hubungan
Buruh-Majikan, Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Dampaknya
terhadap Posisi Tawar Buruh: Studi Kasus di Perkebunan Teh Negara
PTPN VIII Rancabali dan Perkebunan Teh Rakyat Ciwidey.” Bandung:
Yayasan Akatiga.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 21

Menuju Perlindungan Sosial Transformatif

Tommy Ardian Pratama8

Pendahuluan

KONDISI SOSIO EKONOMI yang sehat merupakan dasar bagi masyarakat
yang produktif. Namun, walaupun sudah banyak usaha dilakukan baik oleh
negara atau masyarakat sipil, kita masih berada sangat jauh dari kondisi
tersebut. Kemiskinan merajalela, kebodohan mewabah dan keterasingan
masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan dari akses-akses penting yang
bisa menjamin terpenuhinya hak-hak asasi manusia masih terasa kental.

Salah satu upaya untuk mewujudkan kondisi sosio ekonomi yang
sehat adalah melalui perlindungan sosial. Konsep perlindungan sosial sendiri
datang dari negara kaya yang ingin melindungi warganya dari krisis ekonomi
atau perubahan sosial melalui suatu kompleksitas sistem. Sistem pengaman
social ekonomi ini berfungsi melindungi masyarakat miskin sehingga, pada
saat krisis terjadi mereka tidak terperosok lebih jauh dalam kemiskinan.

Permasalahan kemudian muncul ketika konsep perlindungan sosial
diterapkan pada negara yang sedang berkembang atau miskin. Keterbatasan
sumber daya menjadi penghalang terbesar, lantaran negara-negara tersebut
harus menentukan prioritas dalam menjaga atau mengembalikan stabilitas
ekonomi, sosial dan politiknya pasca krisis. Harus diakui bahwa konsep
perlindungan sosial dan eksperimen-eksperimen atas metode penyampaiannya
kepada masyarakat yang harus dilindungi telah mengalami perubahan besar.
Namun demikian, konsep ini masih sangat lemah secara teoritis dan masih
banyak terdapat kesepahaman dalam terminologi-terminologi yang digunakan
di dalamnya. Karena itu diperlukan upaya untuk, pertama, membuat definisi
dan menata ulang konsep ini, dan, kedua, kemudian menghubungkan
penelitian-penelitian di bidang ini dengan beragam eksperimen yang telah
dilakukan.

Tulisan ini disusun dalam upaya memenuhi kebutuhan pertama. Dalam
tulisan ini kami akan mengajukan kritik atas konsep perlindungan yang telah
ada. Untuk itu, tulisan ini terbagi dalam tiga bagian besar. Bagian pertama akan
8
Peneliti Institut Kajian Krisis dan Studi Pembangunan Alternatif

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
22 |

membahas definisi, konsep perlindungan sosial serta instrumeninstrumen
yang digunakan dalam penerapannya. Di bagian berikutnya konsep dan
pelaksanaan perlindungan sosial di Indonesia akan dipaparkan. Bagian kedua
ini ditutup dengan kesimpulan sementara, dimana saya akan mengajukan
kritik atas konsep perlindungan sosial. Di bagian ketiga tulisan saya akan
membangun suatu pemahaman sistematis mengenai perlindungan sosial. Di
sini saya tidak berupaya memperbaiki konsep perlindungan sosial yang ada
selama ini, melainkan melakukan suatu konversi radikal atas konsep yang
ada. Perlu diingat bahwa tulisan ini merupakan upaya awal untuk menelaah
masalah perlindungan sosial. Tulisan ini merupakan pijakan baru yang harus
didukung oleh upaya-upaya berikutnya dalam mengembangkan konsepsi
radikal perlindungan sosial.

1. Perlindungan sosial: definisi, konsep dan instrumen

Konsep perlindungan sosial harus dibedakan dari (namun juga
mencakup) pengaman sosial. Yang terakhir merupakan bentuk upaya negara
untuk melindungi warganya yang hidup di atau di bawah garis kemiskinan
melalui suatu kompleksitas sistem asuransi sosial dan bantuan sosial. Jika
melihat cakupannya, konsep perlindungan sosial jauh lebih luas dari pengaman
sosial, karena perlindungan sosial juga mencakup upaya-upaya pribadi atau
tradisional masyarakat untuk mewujudkannya, misalnya lewat relasi gotong
royong atau relasi kekeluargaan (García and Gruat 2003:14)

Secara umum perlindungan sosial di definisikan sebagai:
‘the public actions taken in response to levels of vulnerability, risk and
deprivation which are deemed socially unacceptable within a given
polity or society.’ (Conway, Foster, Norton 2001:11)

Jika melihat definisi di atas, perlindungan sosial dipahami sebagai
suatu konsep penyelesaian masalah yang timbul ketika krisis dan perubahan
sosial terjadi: Masalah yang hendak diselesaikan adalah kemiskinan yang
dikhawatirkan timbul dari krisis; yang hendak dilindungi via perlindungan sosial
adalah masyarakat miskin; yang melindungi adalah negara dan korporasi;
tujuan yang hendak dicapai adalah mencapai masyarakat yang dinamis,
kohesif melalui peningkatan kesetaraan dan keamanan sosial (ibid.:7) melalui:
“a subset of the overall development objectives of economically sustainable
participatory development with poverty reduction” (Holzmann dan Jorgensen
1999: 4). Holzmann dan Jorgensen menambahkan bahwa secara spesifik
perlindungan sosial bertujuan untuk:

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 23

• Mengurangi kerentanan rumahtangga dengan penghasilan rendah terkait
dengan tingkat konsumsi dan akses ke layanan kebutuhan dasar
• Meningkatkan kelancaran konsumsi rumahtangga
• Meningkatkan distribusi kesejahteraan
• Mewujudkan keadilan sosial, khususnya yang terkait dengan ketahanan
atas krisis dan atas efekdari krisis (ibid).

Berdasarkan sumbernya, perlindungan sosial terdiri dari:
• Perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh negara (statutory) yang
sumber pendanaannya berasal dari pajak.
• Perlindungan sosial pribadi yang berupa asuransi, misalnya asuransi
kesehatan, tabungan hari tua, asuransi pendidikan dan lainnya.
• Perlindungan sosial organik (non-statutory); jenis perlindungan sosial
ini merupakan usaha kolektif masyarakat untuk melindungi diri sebelum
krisis, misalnya dengan pengadaan lumbung padi, arisan, utang pada
tetangga atau keluarga, sumbangan sosial dan lainnya.

Sementara krisis dibagi dalam beberapa subkategori (ibid):
• Krisis berkelanjutan dan tak berkelanjutan.
Krisis berkelanjutan dialami ketika pencari nafkah meninggal, menganggur
dalam jangka waktu lama, cacat permanen yang menghalangi bekerja
atau tingkat keahlian bekerja yang rendah. Kondisi-kondisi seperti ini
menyebabkan guncangan dalam perekonomian rumah tangga dan
biasanya membutuhkan perlindungan sosial dari negara. Sementara krisis
tak berkelanjutan dialami ketika misalnya gagal panen, pengangguran
sementara, sakit. Krisis semacam ini bisa ditangani melalui perlindungan
sosial organik (non-statutory).
• Krisis idionsinkretik dan covarian.
Di sini krisis dibedakan berdasarkan besaran kelompok yang terkena
dampaknya. Krisis idiosinkretik adalah krisis yang dialami beberapa unit
rumahtangga, biasanya terjadi dalam kasus-kasus seperti wabah penyakit
atau pengangguran di daerah-daerah tertentu. Krisis covarian, sebaliknya,
merupakan krisis yang mendera secara nasional karena misalnya krisis
finansial global, tingginya angka pengangguran, devaluasi mata uang, dan
lainnya.
• Berdasarkan frekuensinya, krisis dibedakan atas krisis yang terjadi sekali
waktu dan krisis yang terjadi secara berulang kali. Yang pertama bisa
disebabkan oleh bencana alam misalnya kekeringan, sementara yang
terakhir merupakan rangkaian guncangan sosio-ekonomi yang disebabkan
oleh beberapa faktor penentu, sehingga campurtangan negara untuk
menanganinya adalah mutlak. Contoh krisis ini adalah kesenjangan sosial

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
24 |

dan ekonomi yang disebabkan oleh sistem perekonomian yang kapitalistik
dan tidak berkeadilan sosial.

2. Perlindungan sosial di Indonesia

Program perlindungan sosial yang diselenggarakan negara memiliki instrumen
sebagai berikut:

1.1 Asuransi sosial

Instrumen perlindungan sosial semacam ini melibatkan partisipasi masyarakat
miskin yang dilindungi dalam bentuk setoran tunai. Bentuknya antara lain:
jaminan/ asuransi sosial, asuransi (gagal) panen dan asuransi kesehatan.
Instrumen semacam ini sangat jarang ditemui di negara berkembang lantaran
pihak korporasi, yang biasanya dijadikan mitra kerja negara, menganggap
resiko perlindungannya terlalu tinggi. Hal ini disebabkan karena masyarakat
miskin yang dilindungi via instrumen ini biasanya bekerja di sektor informal
yang tidak memiliki penghasilan tetap. Demikian juga dengan petani miskin.
Asuransi perlindungan (gagal) panen berfungsi seperti jaring pengaman yang
memberikan kompensasi jika panen buruk atau bahkan gagal. Namun petani
miskin yang menitikberatkan hasil panennya untuk konsumsi pribadi pada
umumnya enggan memberikan kontribusi untuk program asuransi. Program
asuransi (gagal) panen ini direncanakan akan diluncurkan para pertengahan
tahun 2010, dan program ini pun tidak diselenggarakan oleh negara, melainkan
oleh PT Asuransi Bumiputera Muda 1967, sebuah perusahaan asuransi tertua
di Indonesia.

1.2 Asuransi kesehatan

Perlindungan semacam ini sangat diperlukan oleh masyarakat miskin,
mengingat tingginya biaya kesehatan dan pengobatan. Negara miskin
pada umumnya memberikan layanan perlindungan kesehatan yang bersifat
sekunder, yaitu layanan kesehatan untuk penyakit-penyakit yang tidak
memerlukan rawat inap, sementara layanan kesehatan yang memerlukan
rawat inap memerlukan mitra dari pihak swasta karena mahalnya biaya.

Saat ini hanya 52% dari total warganegara Indonesia saja yang
terlindungi melalui jaminan kesehatan (Kompas, 03/06/2010). Mereka
terlindungi antara lain melalui asuransi kesehatan yang diselenggarakan pihak
swasta dan asuransi sosial yang diselenggarakan negara seperti Jaminan
Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), Asuransi Kesehatan (Askes) dan Jaminan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 25

Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Asuransi kesehatan swasta, Jamsostek,
dan Askes didanai lewat kontribusi peserta, sementara jaminan kesehatan
untuk rakyat miskin bersumber pada APBN.9

Ada beberapa hal yang patut dicermati dari implementasi asuransi
kesehatan oleh negara. Pertama, adalah masalah ketumpangtindihan
asuransi kesehatan: Jika seorang buruh yang menghasilkan pendapatan
sesuai dengan Upah Minimum Regional terlindungi oleh program Jamsostek,
ia juga terlindungi oleh program Jamkesmas, karena lewat upah minimal
yang diperolehnya itu ia bisa dikategorikan ke dalam kelompok masyarakat
kurang mampu yang dilindungi lewat Jamkesmas. Selain itu, banyaknya
badan usaha milik negara yang dipercaya menjalankan program asuransi
kesehatan secara terpisah juga menunjukkan bahwa implementasi asuransi
kesehatan tidak terkoordinir dengan baik; dan ini yang membuka peluang bagi
mismanajemen, korupsi dan penyelewengan dana (lihat Jakarta Post, ibid).

Perlu ditekankan, bahwa yang menjadi permasalahan bukanlah
banyaknya badan usaha milik negara yang menyelenggarakan asuransi
kesehatan, melainkan miskonsepsi bahwa bagi negara akses kesehatan
adalah program asuransi yang bergantung pada kontribusi peserta program,
dan bukan sebagai akses universal yang didanai lewat pajak.10 Miskonsepsi
ini menjelaskan tumpang tindihnya berbagai peraturan dan institusi negara
yang menyelenggarakan perlindungan atas akses kesehatan. Ini tercermin
dari pembagian strata akses pelayanan kesehatan: Askes dan Jamsostek
yang mensyaratkan adanya kontribusi memberikan perlindungan bagi
pekerja formal. Jamkesmas yang dananya bersumber dari utang luarnegri
menyediakan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak mampu.
Bahwa kontributor berhak dilindungi melalui asuransi, adalah suatu hal yang
lumrah mengingat ia menyisihkan pendapatannya untuk membayar premi
asuransi. Di sini pihak penyelenggara berhadapan dengan resiko kerugian
jika peserta perlindungan tidak bisa memberikan kontribusinya atau jika

Saat ini dianggarkan sekitar 4-5 triliun rupiah untuk jaminan kesehatan masyarakat, yang be-
9

rarti per kepala rakyat miskin mendapatkan sekitar Rp. 5,000 per hari. Dana ini tidak cukup.
Jakarta Post dan Tempo melaporkan bahwa dana ini hanya melindungi sekitar 11% masyara-
kat miskin; sementara sisanya ditolak untuk dilayani rumah sakit, karena tingginya biaya.
Sementara dana yang seharusnya disiapkan untuk jaminan kesehatan masyarakat ini adalah
paling tidak sebesar 50 triliun rupiah (Jakarta Post 28.02.2010, Tempointeraktif 16.06.2010).
10
Saat ini baru Daerah Istimewa NAD yang memberikan perlindungan sosial kesehatan univer-
sal yang dananya bersumber dari pajak. Program ini terlaksana melalui kerjasama dengan PT.
ASKES. Saat ini dialokasikan dana sebesar 241 Milyar IDR (sebelumnya, Desember 2009,
diberitakan 521 Milyar IDR) (Kompas 02.06.2010).

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
26 |

terjadi krisis (baik krisis tak-berkelanjutan atau krisis idiosinkretik) sehingga
penyelenggara program jaminan sosial tidak mampu melindungi keseluruhan
peserta. Karena resiko inilah pihak korporasi jarang sekali atau bahkan tidak
memberikan perlindungan pada lapisan pekerja informal yang jumlahnya
mencapai hampir 70% dari total pekerja Indonesia (Brata 2008:4). Alasannya
mudah saja: pekerja sektor informal umumnya adalah pekerja miskin yang
pemasukannya tidak tentu. Harus diakui bahwa memang sudah ada langkah
Jamsostek untuk mulai merambah sektor informal (Jawa Pos 17.04.2010),
namun hingga kini, baru 2000 pekerja informal saja yang terlindungi via
Jamsostek. Mengingat tingginya jumlah pekerja sektor ini, angka 2000
hanyalah setitik pasir di gurun. Kekosongan peran negara menyediakan akses
pelayanan kesehatan universal ini merupakan peluang yang diisi oleh pihak
swasta. Jika ini berjalan terus, maka upaya pemerintah menyelenggarakan
jaminan kesehatan universal tahun 2014 akan sia-sia.

1.3 Bantuan sosial

Program ini merupakan bantuan tunai tanpa pajak yang diberikan
langsung pada keluarga-keluarga yang membutuhkan. Di luar bantuan uang
tunai, bantuan yang diberikan juga bisa berupa pembagian bahan pokok,
subsidi bahan pokok atau modal untuk usaha komunitas.

Dalam pelaksanaannya, bantuan sosial justru menambah masalah, alih-
alih menyelesaikan masalah. Misalnya subsidi bahan bakar yang seharusnya
melindungi kepentingan masyarakat miskin, justru perlahan-lahan dikurangi,
alih-alih dipertahankan atau ditambah. Harian “Koran Jakarta” tertanggal 27
Mei 2010 mencatat rencana pemerintah menghapuskan subsidi BBM untuk
motor (bensin premium) (Koran Jakarta 27.05.2010). Rencana penghapusan
ini didasari oleh temuan pemerintah bahwa 50% dari total pengguna motor
telah menggunakan BBM tak bersubsidi (bensin pertamax). Saat ini tingkat
pengguna BBM bersubsidi adalah 27%, sementara sekitar 70% - 80% sisanya
dinikmati oleh mobil dan nelayan (ibid). Rencana ini jelas mengkhawatirkan
mengingat besarnya ketergantungan kelompok masyarakat golongan
menengah hingga bawah pada subsidi BBM lantaran fasilitas angkutan umum
yang masih belum memadai. Motor dipilih oleh kelompok masyarakat ini
karena konsumsi bahan bakarnya yang murah. Jikapun sebagian pengguna
motor membeli BBM non-subsidi, ini hanya dibatasi oleh mereka yang tinggal
di kota-kota besar. Sementara sebagian besar pengguna motor lainnya yang
tinggal di pedesaan dan juga nelayan kecil masih sangat bergantung pada
BBM bersubsidi. Terkait dengan subsidi bagi transportasi, pemerintah juga
telah menaikkan tarif angkutan kereta api ekonomi hingga 50% (ibid). Alasan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 27

yang diajukan adalah tarif angkutan kereta api belum mengalami kenaikan
dalam enam tahun terakhir dan subsidi pemerintah untuk jenis angkutan
ini dirasa makin memberatkan. Untuk kereta api ekonomi besaran subsidi
pemerintah mencapai IDR 500 Milyar. Seperti halnya subsidi BBM, kenaikan
tarif kereta api ini pun dirasa aneh karena baik pengurangan subsidi BBM
maupun kenaikan tarif kereta api akan berakibat pada berkurangnya ruang
gerak masyarakat menengah dan miskin. Ini kemudian akan mempengaruhi
secara langsung aktifitas ekonomi kelas menengah dan bawah.

Contoh lainnya adalah program beras untuk rakyat miskin (Raskin)
yang belakangan ini disinyalir memiliki kualitas yang sangat buruk. Kualitas
Raskin yang buruk ini antara lain, ditemukan di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, Provinsi Banten, Kota Palembang (Sumatera Selatan), dan di
Jawa Tengah (Blora, Pati, dan Banyumas) (Kompas 30.01.2010). Selain itu
juga di Cirebon, Bogor (Jawa Barat), dan Ponorogo (Jawa Timur). Harian
Kompas mencatat bahwa buruknya kualitas ini dikarenakan terlalu lama di
simpan atau karena kesalahan lain seperti ketidaktepatan dalam pengadaan.
World Bank juga mencatat bahwa biaya administrasi pelaksanaan program
semacam ini sangat tinggi dan tidak efektif, karena ketergantungannya pada
lembaga sentral negara (BULOG) – alih-alih lembaga lokal – sehingga membuka
peluang untuk penyelewengan atau korupsi (World Bank 2005). Selain subsidi,
pemerintah juga memberikan Bantuan Langsung Tunai berupa uang yang
dibagikan kepada masyarakat miskin. Bantuan semacam ini, sebagaimana
juga bantuan subsidi di atas, tidak pelak memiliki potensi penyelewengan yang
sangat tinggi. Namun dua hal yang mengkhawatirkan adalah (1) melalui BLT
pemerintah mengasumsikan bahwa warga negara yang hidup di atau di bawah
garis kemiskinan merupakan warga yang harus disantuni dengan derma dan
dengan demikian BLT memiliki tendensi merendahkan warga negara yang
seharusnya dilindungi. Di samping itu, (2) BLT menciptakan ketergantungan
pada pemerintah dan juga tidak memberdayakan masyarakat untuk hidup
secara layak dan bermartabat. Singkatnya, secara umum program-program
perlindungan sosial yang diterapkan saat ini untuk melindungi masyarakat
miskin justru semakin memelihara kemiskinan.

1.4 Intervensi pasar tenaga kerja

Pada umumnya intervensi ini dilakukan negara untuk misalnya
meningkatkan tingkat upah minimum regional. Intervensi ini ditujukan untuk
meningkatkan kemampuan ekonomi pekerja. Upah ditentukan oleh Dewan
Pengupahan, suatu lembaga non-struktural yang bersifat tripartit dan juga
didampingi oleh akademisi, dengan menghitung laju inflasi, devaluasi mata

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
28 |

uang dan dengan mengadakan konsultasi dengan serikat pekerja tertentu.

Di sini, yang menjadi patokan dalam menentukan upah minimum
adalah asumsi-asumsi yang hanya didasarkan pada kondisi pasar, bukan pada
prinsip-prinsip keadilan dengan mendahulukan kesejahteraan buruh. Dengan
demikian kenaikan gaji buruh tidak mempunyai korelasi positif terhadap
tingkat kesejahteraan. Korelasi kenaikan gaji dengan tingkat kesejahteraan
bisa dilihat sebagai berikut: Salahsatu ukuran tingkat kesejahteraan adalah
besaran upah riil yang diterima buruh. Upah riil adalah daya beli upah yang
diterima buruh setelah memperhitungkan kenaikan indeks harga konsumen
dan/atau inflasi. Jika dibandingkan dengan awal tahun 2008, upah nominal
buruh Jakarta tahun 2009 memang naik sebesar Rp. 76,000. Akan tetapi
kenaikan ini juga dibarengi oleh akumulasi inflasi sebesar 13.84% (masing-
masing sebesar 11.06% tahun 2008 dan 2.78% tahun 2009) yang berkaitan
erat dengan naiknya indeks harga konsumen sebesar 15.7%. Sehingga,
walaupun ada kenaikan upah nominal, index upah riil buruh di tahun 2009
justru mengalami penurunan sebesar 5.8% dari 113.9 di tahun 2008 (Biro
Pusat Statistik 2010). Sederhananya, dengan kenaikan upah buruh sebesar
Rp. 76,000 menjadi Rp. 1,344,400 di tahun 2009, daya beli buruh di tahun
yang sama hanyalah Rp. 876,870 atau turun Rp. 48,070 dari tahun 2008.

Di samping itu, sehubungan dengan pendidikan dan pekerjaan,
tercermin dari RAPBN 2010 dan Nota Keuangan RAPBN 2010 bahwa ada
pemisahan ketat antara anggaran pendidikan dan perlindungan sosial. Di
tingkat pemahaman, adanya pemisahan ini adalah bukti miskonsepsi. Karena:
Jika diandaikan bahwa tenaga kerja yang baik adalah tenaga kerja yang
terdidik (secara kebudayaan dan profesional), maka pendidikan layak tidak
bisa dipisahkan dari perlindungan sosial. Karena ia adalah pintu masuk ke
kerja yang layak, dan hanya kerja yang layaklah yang bisa membebaskan dari
kemiskinan. Memang miskonsepsi ini terlihat tidak memiliki implikasi apapun.
Namun, tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Data Biro Pusat Statistik (lihat
tabel 1) menunjukkan angka pengangguran terbuka tertinggi di tahun 2009
adalah dari warganegara yang tidak/ belum pernah/ belum tamat SD, dan
mencapai 2,620,049 jiwa. Angka ini adalah angka tertinggi dari 2004 dan naik
79% dari angka tenaga tak terdidik tahun 2008 (Biro Pusat Statistik 2010).

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 29

Tabel 1

Dari tabel di atas terlihat bahwa lulusan SD, SMP atau SMA sulit diserap
oleh pasar tenaga kerja. Di sisi lain, semakin mahalnya biaya formal dan non
formal merupakan hambatan yang tidak kecil untuk melanjutkan pendidikan
hingga ke perguruan tinggi. Sehingga keputusan untuk membantu usaha
keluarga (menjadi buruh murah/ tak dibayar) atau menganggur, menjadi pilihan.

Kesimpulan antara

Keempat instrumen di atas (kecuali asuransi (gagal) panen) bisa ditemui
di Indonesia. Namun, sebagaimana dipaparkan di atas, implementasinya masih
sangat jauh dari harapan lantaran adanya miskonsepsi dan mismanajemen.
Tak bisa dipungkiri bahwa memang ada permasalahan pada sistem distribusi
yang menghambat atau memangkas dana program perlindungan sosial.
Namun demikian, ada empat hal mendasar yang menjadi permasalahan:

Pertama, perlindungan sosial masih dipahami sebagai bentuk
sumbangan negara kepada masyarakat miskin. Ini bisa dilihat dari
penyediaan akses terbatas pada kesehatan dan pemberian bantuan
sosial (berupa beras miskin dan bantuan langsung tunai). Itupun dengan
implementasi yang setengah hati sehingga tak jarang kelompok masyarakat
yang disasar tidak terlindungi. Sementara jaminan atas akses-akses yang
penting bagi pemberdayaan masyarakat seperti pendidikan layak, kepastian
lapangan pekerjaan layak dan jaminan atas berbagai fasilitas yang menopang
pertumbuhan kesejahteraan seperti perlindungan atas ketersediaan
transportasi umum layak, perlindungan hubungan industrial bagi buruh/
pekerja, perlindungan bibit bagi petani, perumahan layak, akses kesehatan
universal dan ketersediaan lahan tanam masih belum tersedia. Singkatnya,
negara masih memahami bahwa akses-akses utama di atas tadi merupakan
privilese sekelompok masyarakat yang mampu membayar lebih. Dengan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
30 |

demikian perlindungan sosial di Indonesia diberikan berdasarkan ketersediaan
sumberdaya negara, bukan didasarkan pada hak warganegara.

Kedua, program perlindungan sosial dibuat berdasarkan cara pandang
pemberi, yaitu pemerintah. Cara pandang semacam ini menafikan kebutuhan
masyarakat yang seharusnya dilindungi. Pemerintah beranggapan bahwa
merekalah yang lebih tahu bantuan atau perlindungan apa yang dibutuhkan,
sementara masyarakat miskin dianggap sebagai agen pasif yang tidak
mengerti kebutuhannya.

Ketiga, konsep perlindungan sosial juga tidak memberikan jaminan
atas akses informasi, pendidikan dan pekerjaan. Padahal ketiga akses ini
merupakan jalan penerima perlindungan sosial untuk keluar dari hidup miskin.
Akses informasi merupakan urat nadi seluruh kegiatan ekonomi, sosial,
politik dan budaya. Dari sisi negara sebagai penyelenggara perlindungan
sosial, ketidaktersediaan informasi atas kebutuhan masyarakat berarti
implementasi perlindungan sosial secara membabibuta tanpa arah. Ini,
sebagaimana dipaparkan di atas membuka peluang untuk mismanajemen dan
penyelewengan anggaran program. Sementara dari sisi rakyat, ketersediaan
informasi adalah keharusan dalam menjalankan fungsi kontrol pemerintah
sebagai institusi publik dan pengawasan pelaksanaan program-program
perlindungan sosial. Harus pula dicatat, bahwa ketersedian informasi ini
juga harus dibarengi oleh komitmen untuk menjalankan program-program
perlindungan sosial.

Keempat, perlindungan sosial bisa merupakan suatu respon atas krisis
(ex-post) atau merupakan sebuah upaya untuk meningkatkan ketahanan
warganegara atas krisis (ex-ante). Melalui konsep perlindungan sosial ex-
post diasumsikan bahwa kelompok masyarakat yang terkena krisis akan
terlindungi sehingga tidak terperosok lebih jauh ke dalam kemiskinan.
Instrumen yang digunakan pemerintah ketika krisis pada umumnya adalah
BLT dan subsidi (beras dan bahanbakar). Secara konseptual, intervensi
pemerintah ini dibenarkan sejauh dikaitkan dengan upaya meningkatkan daya
beli masyarakat miskin. Namun, sebagaimana dipaparkan di atas, jika (1)
krisis yang dialami adalah berkelanjutan dan bersifat covarian sebagaimana
dibuktikan lewat tingginya angka pengangguran dan masyarakat miskin, dan
(2) buruknya implementasi BLT lantaran pemotongan dan BLT juga bukan
merupakan suatu program yang berkelanjutan, serta (3) subsidi dikurangi
secara terusmenerus, maka perlindungan sosial ex-post ini hanya menjadi
sumbangan karitatif negara, tanpa mampu mengeluarkan masyarakat miskin
dari kemiskinannya, apalagi memberdayakan.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 31

Sehubungan dengan amanat pasal 28H UUD 1945, perlu dipertanyakan
apakah dengan jaminan sosial yang diterjemahkan sebagai asuransi sosial
ini memungkinkan pengembangan diri secara utuh sebagai manusia yang
bermartabat? Apa yang bisa dikembangkan dari kelompok pekerja sector
informal yang pemasukannya tidak tetap? Bagaimana mereka bisa menjadi
manusia bermartabat jika pekerjaan informal yang mereka lakukan justru
memelihara kondisi kemiskinan yang dialami?

Fungsi perlindungan sosial untuk meningkatkan ketahanan masyarakat
atas krisis memang menuntut peran besar warga negara dan terutama
negara itu sendiri untuk memberdayakan masyarakat sedemikian rupa
sehingga mereka bisa bertahan di kala krisis. Hasil riset membuktikan bahwa
negara yang menggantungkan pemasukannya pada produktifitas warganya
bertendensi lebih mampu menggunakan pendapatan ini untuk meningkatkan
sumber daya manusianya (Conway, Foster, Norton 2001:9) dan, dengan
demikian, lebih tahan krisis. Jika mengacu pada hasil riset ini, perlindungan
sosial harus menitikberatkan pada perkuatan kondisi masyarakat sebelum
krisis terjadi, yang berarti pemberdayaan masyarakat secara penuh. Ini
adalah perlindungan minimal yang menjamin manusia hidup dengan layak.

3. Menuju perlindungan sosial transformatif

Dalam bagian tulisan ini kami akan membahas ketiga kritik atas
perlindungan sosial lebih jauh untuk membuat batasan dan merumuskan
konsep perlindungan sosial transformatif.

Pertama, jika konsep perlindungan sosial konvensional berorientasi
pada pemberi, dalam hal ini negara dan korporasi yang menjadi mitra kerja
negara, maka konsep perlindungan sosial transformatif harus dirumuskan
berdasarkan kebutuhan yang disuarakan oleh penerima. Konsep perlindungan
sosial konvensional tidak efektif lantaran pihak negara dan korporasi yang
menjadi mitranya menentukan perlindungan sosial yang diselenggarakan
tanpa melihat kebutuhan yang dihadapi kelompok masyarakat miskin.
Perlindungan sosial yang diberikan biasanya hanya terbatas pada pangan dan
bahan bakan (subsidi bahan pokok dan bakar) atau kesehatan (jamkesmas).
Tidak dipungkiri, progam perlindungan minimal semacam ini yang menjamin
kelangsungan hidup kelompok masyarakat miskin memang dibutuhkan.
Namun jika perlindungan sosial hanya terbatas pada program-program
semacam ini, perlindungan sosial hanya akan memenjarakan penerima
perlindungan sosial dalam ketergantungan. Perlindungan sosial semacam

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
32 |

ini tidak menghiraukan kebutuhan kelompok masyarakat yang dilindungi
untuk keluar dari kemiskinan. Dengan demikian upaya negara memberikan
perlindungan sosial menjadi terasing dari kelompok masyarakat miskin dan
permasalahan yang dihadapi mereka.

Di sini perlu disebutkan bahwa usaha-usaha mengorganisasikan dan
mendorong partisipasi kelompok masyarakat miskin sudah dilakukan, antara
lain melalui pendirian forum warga. Dalam forum tersebut masalah-masalah
yang dihadapi warga diidentifikasi dan diupayakan untuk diselesaikan secara
swadaya atau melalui program bantuan lembaga swadaya masyarakat.
Akan tetapi akumulasi informasi atas permasalahan masyarakat dan upaya
penyelesaiannya melalui forum semacam ini tidak memiliki kekuatan politik
apapun. Karena: Forum semacam ini mengandaikan bahwa hanya kelompok
masyarakat miskin lah yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapinya melalui relasi-relasi sosial dan tindakan-tindakan swadaya.
Negara yang seharusnya berperan aktif dalam memberikan perlindungan
sosial justru diasumsikan tidak mampu dan dengan demikian tidak dilibatkan
dalam proses penyelesaian masalah. Jika dalam dalam konsep perlindungan
sosial konvensional masyarakat miskin yang terasing dari negara, maka di sini
justru negara lah yang teralienasi dari upaya perlindungan sosial swadaya,
atau dengan kata lain, di sini masyarakat (dan permasalahannya) menjadi
terasing dari proses politik.

Hak-hak dasar yang menjadi ukuran hidup minimal (seperti air
bersih, perlindungan kesehatan, subsidi pangan dll) memang dibutuhkan
oleh masyarakat penerima perlindungan sosial, tapi masyarakat penerima
perlindungan sosial bukanlah kelompok masyarakat yang harus diberikan
derma. Mereka juga harus dilibatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan
politis untuk menentukan perlindungan sosial yang mereka terima supaya
bisa keluar dari kemiskinan. Hak untuk berperan aktif dalam menentukan
perlindungan sosial bisa diterjemahkan sebagai hak politik, yaitu hak untuk
menentukan nasib sendiri. Jika merujuk pada kedua kasus keterasingan pada
program-program perlindungan sosial di atas, hak politik adalah jembatan
yang menghubungkan kewajiban negara melindungi kelompok masyarakat
miskin lewat partisipasi politik dalam menentukan program perlindungan
sosial sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kedua, jika perlindungan sosial bersifat transformatif, maka ia
harus bisa membebaskan masyarakat penerima perlindungan sosial dari
kemiskinannya. Jawaban konkret atas permasalahan pemberdayaan ini
adalah akses terhadap informasi, penyelenggaraan pendidikan dan pekerjaan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 33

layak. Akses atas informasi merupakan hak penerima perlindungan sosial
dan kewajiban penyelenggaranya. Ia merupakan hak lantaran akses atas
informasi adalah syarat utama (1) agar yang dilindungi mengatahui secara
sadar adanya perlindungan sosial dari negara dan (2) untuk terjaminnya
partisipasi penerima perlindungan sosial dalam menentukan. Jika akses
informasi ditutup, implementasi perlindungan sosial akan sia-sia karena tidak
menemui sasaran dan hak politik juga akan membabi buta tanpa arah.

Pendidikan merupakan hak mendasar manusia dan pemerintah
sebagai penyelenggara negara berkewajiban untuk memenuhi hak ini melalui
pengadaan sekolah gratis hingga ke perguruan tinggi. Jika negara mampu
melakukan investasi di bidang ini, kualitas sumber daya manusia akan
meningkat dan kemudian berimplikasi positif pada peningkatan produktifitas.
Pendidikan juga tidak lepas dari kerja. Pendidikan sendiri adalah kerja, baik
bagi pengajar maupun pelajar/ mahasiswa. Bagi yang terakhir ini, pendidikan
adalah jalan untuk memasuki dunia kerja. Sementara itu, kerja adalah
jalan untuk bertahan hidup. Di sini peran negara kembali dibutuhkan untuk
menjamin kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan layak.

Di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tercantum bahwa kerja
(Pasal 23) adalah salah satu hak asasi karena ia adalah sarana bertahan hidup.
Dalam hal ini negara berkewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan
guna menjamin keberlangsungan hidup warganya. Namun sekali lagi,
lantaran yang menjadi tolok ukur keberlangsungan hidup bukanlah sekedar
menyambung hidup, tapi juga hidup yang bermartabat, maka kerja haruslah
menghasilkan nilai tambah bagi pekerjanya. Ini berarti, yang dimaksudkan
dengan hidup bermartabat di sini bukanlah hidup dari upah kerja minimum.
Besaran upah sebagai hasil transaksi pekerja-pemilik modal harus ditentukan
secara adil berdasarkan kerja – baik kerja material ataupun imaterial – yang
dilakukan, waktu kerja, kondisi kerja, alat kerja dan tempat kerja. Sementara
yang dimaksud dengan kerja yang menghasilkan nilai tambah di sini adalah
kerja yang harus bisa memberikan waktu bagi pekerja untuk reproduksi dan
pengembangan diri melalui pembelajaran. Hanya dengan demikianlah kerja
kemudian mampu membebaskan pekerjanya.

Ketiga, mengingat tingginya biaya perlindungan sosial sebagai respon
atas krisis (ex-post) yang berarti beban bagi anggaran negara (Holzmann
dan Jorgensen 1999:8), maka sudah sewajarnya pemerintah melindungi
penerima sebelum krisis sosio-ekonomik terjadi. Krisis disebabkan oleh
perubahan pada sistem masyarakat baik nasional ataupun global. Efek negatif
dari perubahan inilah yang dijadikan dasar bagi negara untuk menciptakan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
34 |

perlindungan sosial konvensional yang bersifat reaktif. Disebut reaktif karena
ia muncul sebagai jawaban atas krisis sehingga pendekatan penyelesaiannya
hanya bisa berdasarkan permasalahan yang timbul. Dalam Nota Keuangan
RAPBN 2010 disebutkan bahwa program perlindungan sosial masyarakat
miskin mencakup: raskin (beras untuk rakyat miskin), jamkesmas (jaminan
kesehatan masyarakat), beasiswa miskin, bantuan langsung tunai (BLT), dan
program keluarga harapan (PKH). Di samping itu, Pemerintah juga melakukan
berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui program nasional
pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri (Nota Keuangan RAPBN 2010:12).
Kesemua program ini adalah bukti bahwa Negara memahami perlindungan
sosial sebagai mekanisme penanggulangan krisis. Adanya PNPM makin
menegaskan bukti ini: PNPM muncul karena pemerintah mengasumsikan bahwa
ada masyarakat miskin dan hampir miskin karena hantaman krisis. Mereka
inilah yang harus diberdayakan lewat PNPM hingga tahun 2015 (Sekertariat
PNPM Mandiri 2010). Sekilas tampak program ini tampak memberdayakan.
Akan tetapi karena sifatnya yang temporer, program ini tidakbisa disebut
sebagai pemberdayaan. Karena pemberdayaan mengasumsikan pertama
adanya kondisi ketidakberdayaan (sebagai akibat krisis) dan, kedua, jangka
waktu yang hampir tak terbatas untuk menjalankan program pemberdayaan.
Kondisi ketidakberdayaan adalah esensi dari kondisi krisis secara umum.
Kondisi ketidakberdayaan mulai dialami manusia sejak ia lahir sehingga ia
harus terusmenerus dilindungi dan diberdayakan oleh komunitas sosialnya
dan negara sebagai penjamin, baik lewat pendidikan, jaminan kesehatan,
ketersediaan air bersih, pekerjaan layak, jaminan tempat tinggal layak,
keamanan dan lainnya. Harus digarisbawahi, bahwa perlindungan dan
pemberdayaan tidak berarti menerima belaka. Pemberdayaan pada akhirnya
akan membuahkan hasil, yaitu peningkatan kualitas sumberdaya manusia
yang produktif, profesional dan berbudaya. Di sini letak perbedaan artikulasi
kata pemberdayaan dalam konteks perlindungan sosial konvensional dengan
yang transformatif. Sehingga bisa disimpulkan bahwa sepanjang ia bersifat
reaktif, perlindungan sosial konvensional tidak akan bisa memberikan
keamanan bagi masyarakat miskin. Oleh karena itu perlindungan sosial
harus bersifat antisipatif, artinya perlindungan sosial harus bisa melindungi
sebelum krisis sosio-ekonomi terjadi (atau bahkan mencegah terjadinya krisis
tersebut). Aspek antisipatif yang dimaksudkan melainkan berhubungan erat
dengan poin pertama di atas, yaitu dengan aspek partisipatif.

Keempat, jika dalam kasus asuransi kesehatan didapati bahwa akses pelayanan
kesehatan dibuka setelah adanya kontribusi, maka dalam perlindungan sosial
transformatif, sumber dana harus berbasis distributif: Ia harus didanai lewat
pajak. Pajak adalah bukti nyata solidaritas warga negara dalam membangun

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 35

negaranya. Dengan menjadikan pajak, bukan utang, sebagai sumber
dana, negara dituntut untuk memungut pajak berdasarkan prinsip-prinsip
keterbukaan dan keadilan. Di sini sekali lagi hak politik, hak atas informasi dan
hak atas pendidikan bisa berperan misalnya untuk menentukan pajak yang
adil, melakukan pengawasan pengumpulan pajak, menyadarkan pentingnya
peran pajak dalam perlindungan sosial. Dengan dibiayai lewat pajak, maka
perlindungan sosial transformatif berarti harus melindungi warganegaranya
secara universal. Karena seluruh warganegara adalah kontributor, maka
seluruh warganegara berhak atas perlindungan sosial.

Sebagaimana disebutkan di atas, perlindungan sosial juga mencakup
tindakan informal (nonstatutory) masyarakat untuk melindungi diri sebelum
krisis. Misalnya lewat, eksploitasi kekayaan alam secara arif atau pemeliharaan
hutan sebagaimana dilakukan oleh masyarakat adat dan penggunaan
lumbung padi, sumbangan, dompet dhuafa, koin prita, layatan, arisan dan
lainnya (Hananto dan Soedarti 2006: 90, Holloh 1996: 7). Perlindungan sosial
ini membuktikan tingginya kohesifitas masyarakat asia dan dengan demikian
membedakannya dari kelompok masyarakat lainnya. Di satu sisi perlindungan
sosial informal ini memang membantu negara melindungi masyarakat ketika
krisis terjadi. Namun di sisi lain keberadaannya bisa juga menjadi bukti
kurangnya peran negara melindungi warganya ketika krisis sosio-ekonomi
terjadi. Sementara di sisi lain, adanya perlindungan sosial informal ini pun
bukan alasan bahwa peran negara dalam melindungi tidak dibutuhkan.
Sebaliknya, negara bisa memanfaatkan perlindungan sosial informal untuk
memperkuat solidaritas warganegara dalam melakukan kontribusi pajak atau
pemikiran untuk menjalankan dan mengembangkan perlindungan sosial
formal.

Dari paparan di atas, perlindungan sosial bisa didefinisikan ulang
sebagai kewajiban negara untuk memastikan hidup yang bermartabat bagi
warganegaranya. Secara umum, perlindungan sosial yang transformatif
mencakup tuntutan-tuntutan sebagai berikut:
1. Hidup layak yang berarti terbukanya akses-akses antara lain
• Air bersih
• Kedaulatan pangan
• Fasilitas kesehatan dan obat-obatan
• Lingkungan tempat tinggal yang ramah lingkungan
• Pendidikan layak yang mengindahkan nilai-nilai kebijaksanaan
tradisional/lokal. Selain itu pendidikan yang diberikan juga harus
mengakomodir kebutuhan masyarakat, bukan pasar.
2. Pekerjaan layak yang mencakup:

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
36 |

• Hak atas pekerjaan yang bermartabat
• Jam kerja yang adil
• Upah yang layak dan adil berdasarkan kondisi kerja, lingkungan
pekerjaan (berbahaya atau tidak), alat produksi yang digunakan
• Keterjaminan pekerjaan

Dikatakan secara umum lantaran kebutuhan-kebutuhan ini merupakan
titik awal. Adanya kebutuhankebutuhan di atas tidak menutup kebutuhan-
kebutuhan masyarakat lainnya. Dengan demikian, maka perlindungan sosial
(transformatif) bisa didefinisikan ulang sebagai tindakan negara untuk
memastikan kehidupan yang layak dan bermartabat bagi warganegaranya
melalui pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kohesifitas
warganegara. Sebagai sebuah konsep, perlindungan social transformatif
memiliki karakter sebagai berikut:
• Non-eksploitatif
Perlindungan sosial transformatif tidak memeras warganegara melalui
kontribusi tambahan. Perlindungan sosial justru mendistribusikan kekayaan
melalui pajak progresif yang kemudian digunakan untuk membiayai
program-program perlindungan sosial. Program-program ini ditujukan untuk
memberdayakan masyarakat sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh
masyarakat, bukan kebutuhan pasar.
• Dinamis
Karena perlindungan sosial transformatif didasarkan pada hak politik,
yaitu hak menentukan dari warganegara, maka program perlindungan sosial
harus bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan warganegara.
• Universal
Perlindungan sosial transformatif harus mengatasi batasan batasan kelas
sosial dan ekonomi yang bisa menghalangi akses masyarakat miskin dalam
partisipasinya menentukan program perlindungan sosial. Dengan demikian
setiap warganegara memiliki hak yang sama dalam menentukan program
perlindungan sosial
• Budaya
Perlindungan sosial transformatif harus memaksimalkan dan
memberdayakan kebudayaan masyarakat

Penutup

Sasaran perlindungan sosial adalah warga negara. Perlindungan sosial
tidak hanya ditujukan semata-mata untuk melindungi masyarakat miskin
dengan memenuhi kebutuhan dasarnya, melainkan juga untuk memberdayakan
mereka yang dilindungi. Dari sekian banyak ragam dan bentuk perlindungan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 37

sosial yang ada, barangkali yang paling mendesak adalah perlindungan atas
hak politik, yaitu hak untuk menentukan, berpartisipasi aktif dan mengawasi
pelaksanaan perlindungan sosial. Kendala implementasi perlindungan
yang berbasis tuntutan masyarakat biasanya muncul bila masyarakat yang
menuntut memiliki pendidikan minim dan kurang terorganisir. Di samping itu
kendala (atau bahkan ancaman) juga datang dari mekanisme pasar bebas.
Di sini, penyelenggaraan perlindungan sosial bisa tergerus oleh mekanisme
imperialistik pasar sehingga melemahkan fungsi perlindungan sosial.

Oleh karena itu peran negara sangat sentral dalam penyelenggaraan
perlindungan sosial. Negara harus bertanggungjawab penuh atas warganya
yang miskin. Kewajiban ini bukan hanya kewajiban per se atau diperlakukan
sebagai daftar kewajiban yang tertulis di atas lembar konstitusi negara. Jika
dilihat seperti itu, perlindungan sosial pada akhirnya adalah investasi negara
pada warganya yang miskin. Justru negara mempunyai peran aktif untuk
memberikan perlindungan bagi warga miskin agar mempunyai posisi yang
setara ketika harus berhadapan dengan kepentingan korporasi dan dampak
buruk dari mekanisme pasar bebas. Makna transformatif akan terlihat pada
proses peralihan dari obyek menjadi subyek perlindungan sosial.

Daftar Pustaka

Biro Pusat Statistik: URL=http://www.bps.go.id, akses terakhir 16.06.2010
Brata, Aloysius Gunadi: Vulnerability of Urban Informal Sector: Street Vendors
in Yogyakarta, Indonesia, diterbitkan online via Munich Personal RePEc
Archive, URL = http://mpra.ub.unimuenchen.de/12541/1/
MPRA_paper_12541.pdf, 2008, akses terakhir: 06.04.2010
Conway, Foster, Norton: Social Protection Concepts and Approaches: Implication
for Policy and Practice in International Development, London,
Centre for Aid and Public Expenditure, Working Paper, 2001
García, A. Bonilla and Gruat, J.V.: Social Protection: A Life Cycle
Continuum Investment for Social Justice, Poverty Reduction and
Sustainable Development, Geneva, ILO, 2003
Harian Jakarta Post: Jamkesmas: Dubious Scheme Prone to Abuse, 28.02.2010,
URL= http://www.thejakartapost.com/news/2010/02/28/jamkesmas-
dubious-scheme-prone-abuses.html, akses terakhir 11.06.2010
Harian Kompas: Kualitas Raskin Buruk, Diusulkan, Pengembangan 15
Komoditas Unggulan, 30.01.2010, URL=http://cetak.kompas.com/
read/xml/2010/01/30/02394761/kualitas.raskin.buruk, akses terakhir:
30.03.2010

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
38 |

Harian Kompas: KTP Jadi Jaminan Kesehatan Gratis, 02.06.2010, URL=http://
kesehatan.kompas.com/read/2010/06/02/0909461/KTP.Jadi.
Jaminan.Kesehatan.Gratis, akses terakhir 11.06.2010
Harian Kompas, Cakupan Universal Jamkesmas Berat Terlaksana untuk
Tahun 2014, 03.06.2010 URL=http://kesehatan.kompas.com/
read/2010/06/03/08003797/Cakupan.Universal.Jamkesmas.Berat.
Terlaksana.untuk.Tahun.2014, akses terakhir 11.06.2010
Harian Koran Jakarta: Sepeda Motor Tak Disubsidi, 27.05.2010
Harian Koran Jakarta: Tarif Kereta Ekonomi Bakal Naik Bulan Depan,
27.05.2010
KONTAN Online: Bumida Patok Premi Asuransi Panen Rp. 25 Miliar, URL=
http://www.kontan.co.id/index.php/keuangan/news/35068/Bumida-
Patok-Premi-Asuransi-Panen-Rp-25-Miliar, akses terakhir 15.06.2010
Susetyo, Heru: Jamsostek untuk Abang Becak, Harian Jawa Pos 17.04.2010
Holloh, Detlev: Financial System Development and Local Financial Institutions
in Indonesia, working paper, Development Research Center, Universität
zu Köln, 1996
Holzmann, Robert and Jorgensen, Steen: Social Protection as Social Risk
Management: Conceptual Underpinnings for the Social Protection
Sector Strategy Paper, Discussion Paper, World Bank, 1999
Indopov Team: Indonesia Social Protection Reform, PSIA, World Bank, 2005
URL= http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/TOPICS/EXTPO
VERTY/0,,contentMDK:20479154~pagePK:210058~piPK:210062~the
SitePK:336992,00.html, akses terakhir: 30.03.2010
Keppres RI No. 107 Tahun 2004 tentang Dewan Pengupahan
Knowles, James C., Pernia, Ernesto M., Racelis, Mary: Social Consequences
of the Financial Crisis in Asia, in »EDRC Briefing Notes«, Number 16,
ADB, 1999
Mkandawire, Thandika: Targeting and Universalism in Poverty Reduction, in
»Social protection: the role of cash transfers«, Geneva, United Nations
Research Institute for Social Development, 2006
Sigit, Hananto dan Surbakti, Soedarti, Indonesia, dalam Weber, Axel (ed.),
Social Protection Index for Committed Poverty Reduction, ADB, 2006
Sirimanne, Shamika: Emerging issue: The gender perspectives of the financial
crisis, presented in Commission on the Status of Women, New York,
2 – 13 March 2009
Tambunan, Tulus T. H. and Purwoko, Bambang: Social Protection in Indonesia,
in “Social Protection”, Bonn, Friedrich Ebert Stiftung, 2002
Tempointeraktif: Jaminan Kesehatan Masyarakat Butuh Minimal Rp 50
Triliun,16.06.2010,URL=http://www.tempointeraktif.com/hg/
nusa/2010/04/16/brk,20100416-240890,id.html,aksesterakhir17.06.2010

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 39

Tabel 2: Eksklusi dan Inklusi Program Perlindungan Sosial

Sumber: Sigit, Hananto dan Surbakti, Soedarti (2006:94)

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
40 |

Setidaknya sejak 2009 persoalan mengenai Undang-
Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Nomor
40 Tahun 2004 terus mengemuka. Respon terhadap
persoalan tersebut bahkan menjadi agenda utama
beberapa serikat buruh selain penolakan sistem
kerja outsourcing. Secara umum dalam merespon
persoalan tersebut serikat buruh terbagi menjadi
dua, antara yang menuntut pengesahan UU SJSN
sekaligus mendorong dibentuknya Badan Pelaksana
Jaminan Sosial (BPJS), dan yang menolak UU SJSN
dan BPJS. Dalam mencapai tujuannya, kedua pihak
membentuk dan terlibat dalam dua aliansi besar
dalam isu Jaminan Sosial, yaitu KAJS (Komite
Aksi Jaminan Sosial), dan KJSPR (Komite Jaminan
Sosial Pro Rakyat). Dalam catatan LIPS, sepanjang
semester 1/2011, aksi massa serikat buruh dalam
Dialog merespon kebijakan mengenai Jaminan Sosial
menempati urutan pertama, baik dalam intensitas
aksi maupun jumlah massa aksi yang terlibat. Selain
itu muncul juga perdebatan mengenai konsep
jaminan sosial yang tertuang dalam UU SJSN.
Namun, tidak banyak pihak yang tahu persis apa
saja yang diperdebatkan, bahkan di level bawah
muncul diskusi yang kurang sehat, berupa tuduhan
dan makian. Perbincangan ini bertujuan untuk
melihat kembali beberapa persoalan mengenai
jaminan sosial dalam situasi yang sedang dihadapi
gerakan buruh dan masyarakat pada umumnya
serta melihat kembali peluang-peluang penguatan
gerakan buruh. Perbincangan ini tidak bertujuan
untuk menyatakan dukungan pada salah satu
pihak yang berdebat, tapi untuk ikut serta dalam
memperkaya perdebatan itu sendiri.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 41

JAMINAN SOSIAL HARUSKAH RAKYAT
MENUNGGU?

Roni Febrianto

Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam
menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam
melaksanakan cita-cita sosialnya. Krisis ini dapat diatasi dengan
memberikan kepada negara pimpinan  yang dipercayai rakyat! Oleh karena
krisis merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki,
partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya.”
(Mohammad Hatta, 11 Juni 1957)

Pendahuluan
Dalam era pasar bebas saat ini terbuka lebar jalan “l’exploitation
de l’homme par l’homme” (eksploitasi manusia oleh manusia). Kaum buruh
dieksploitasi oleh kaum kapitalis, kaum petani kecil dieksploitasi oleh kaum
tuan tanah, kaum lemah dieksploitasi yang kuat. Secara hakiki dunia ini
perlu keseimbangan agar ada keadilan dan kesejahteraan yang merata. Bagi
pemerintah yang sadar bahwa tugasnya adalah mensejahterakan rakyat maka
Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah jalan untuk menghindari ekspolitasi
yang berlebihan, dimana yang kaya dan mampu bisa memberikan solidaritas
sosialnya pada kaum yang kurang beruntung/miskin, sehingga kesenjangan
sosial dan kemiskinan akibat tidak terdistribusinya ekonomi pada kelompok
bawah bisa dikurangi. Jaminan Sosial adalah bentuk tanggung jawab negara
karenanya negara harus mengeluarkan anggaran bagi terselengarakannya
jaminan sosial nasional.
Dilihat dari besarnya anggaran negara untuk jaminan sosial, sistem
ini dapat diurutkan ke dalam empat model, Pertama, model universal yang
dianut oleh negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Norwegia, Denmark
dan Finlandia. Dalam model ini, pemerintah menyediakan jaminan sosial
kepada semua warga negara secara melembaga dan merata. Anggaran
negara untuk program sosial mencapai lebih dari 60% dari total belanja
negara. Kedua, model institusional yang dianut oleh Jerman dan Austria.
Seperti model pertama, jaminan sosial dilaksanakan secara melembaga dan
luas. Akan tetapi kontribusi terhadap berbagai skim jaminan sosial berasal
dari tiga pihak (payroll contributions), yakni pemerintah, dunia usaha
dan pekerja (buruh). Ketiga, model residual yang dianut oleh AS, Inggris,
Australia dan Selandia Baru. Jaminan sosial dari pemerintah lebih diutamakan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
42 |

kepada kelompok lemah, seperti orang miskin, cacat dan penganggur.
Pemerintah menyerahkan sebagian perannya kepada organisasi sosial dan
LSM melalui pemberian subsidi bagi pelayanan sosial dan rehabilitasi sosial
“swasta”.  Keempat, model minimal yang dianut oleh gugus negara-negara
latin (Prancis, Spanyol, Yunani, Portugis, Itali, Chile, Brazil) dan Asia (Korea
Selatan, Filipina, Srilanka). Anggaran negara untuk program sosial sangat
kecil, di bawah 10 persen dari total pengeluaran negara. Jaminan sosial dari
pemerintah diberikan secara sporadis, temporer dan minimal yang umumnya
hanya diberikan kepada pegawai negeri dan swasta yang mampu mengiur.

Jaminan Sosial di Indonesia

Banggalah kita sebagai bangsa Indonesia, gagasan The Founding
Father, Soekarno dan Hatta yang telah mendidik masyarakat Indonesia untuk
memiliki semangat gotong royong, rasa bersama, kolektivitas untuk bersama-
sama menerima atau menolak sesuatu. Teladannya telah melahirkan ide besar
dari generasi penerus bangsa untuk mencetuskan Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) yang sejalan dengan landasan idiil Indonesia, Pancasila Sila
kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalau kita lihat konstitusi,
sistem jaminan sosial nasional merupakan amanat yang harus dipenuhi
negara. Pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia sesungguhnya
mengacu pada konsep negara kesejahteraan. Dalam UUD 1945 Pasal 28 ayat
(3) disebutkan, ”Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.” Pasal
34 ayat (2) menyebutkan, ”Negara mengembangkan sistem atas jaminan
sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah
dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.” Sistem Jaminan
sosial ini mengamanatkan tanggung jawab pemerintah dalam pembangunan
kesejahteraan sosial.

Namun demikian, amanat konstitusi tersebut belum dipraktekan
secara konsekuen. Baik pada masa Orde Baru maupun era reformasi saat
ini, pembangunan kesejahteraan sosial baru sebatas jargon dan belum
terintegrasi dengan strategi pembangunan ekonomi. Pada UU No. 40 Tahun
2004 (Pasal 1), SJSN didefinisikan sebagai suatu tata cara penyelenggaraan
program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggaraan jaminan
sosial. SJSN membawa semangat baru bagi rakyat Indonesia untuk bangkit
dari eksploitasi manusia oleh manusia yang tidak sejalan dengan landasan
idiil negara kita.  Kaum buruh, diuntungkan oleh SJSN ini karena hak
mereka atas kesehatan, kematian, kecelakaan kerja, pensiun, dan hari tua
dapat terjamin. Tidak hanya buruh, seluruh lapisan masyarakat diuntungkan
apabila SJSN sudah diterapkan di Indonesia.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 43

SJSN menjadi sangat penting untuk segera diselenggarakan di
Indonesia, antara lain agar semua penduduk RI mendapat pelayanan
kesehatan ketika sakit kapan pun dan dimana pun di Tanah Air. Semua
penduduk lansia mempunyai uang pensiun bulanan sampai ia meninggal
dunia. Semua anak yang orang tuanya meninggal sebelum usia pensiun,
mempunyai pendapatan pensiun sampai ia bisa mandiri secara ekonomis.
Pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia sesungguhnya mengacu pada
konsep negara kesejahteraan. Dasar Negara Indonesia (sila kelima Pancasila)
menekankan prinsip keadilan sosial dan secara eksplisit konstitusinya (pasal
28 dan 34 UUD 1945) mengamanatkan tanggung jawab pemerintah dalam
pembangunan kesejahteraan sosial. Namun demikian, amanat konstitusi
tersebut belum dipraktekan secara konsekuen. Baik pada masa Orde Baru
maupun era reformasi saat ini, pembangunan kesejahteraan sosial baru
sebatas jargon dan belum terintegrasi dengan strategi pembangunan
ekonomi.

Jaminan sosial merupakan kebijakan untuk memberikan tunjangan
pendapatan (income support) bagi masyarakat karena situasi yang mendesak
maupun situasi yang sudah diperkirakan sebelumnya (life cycle); misalnya:
tunjangan bagi orang cacat yang diakibatkan oleh kecelakaan sehingga tidak
bisa bekerja atau pensiun bagi orang yang telah memasuki usia pensiun.
Jaminan sosial mensyaratkan adanya campur tangan yang besar dari negara
dalam kebijakan sosial atau kebijakan untuk kemiskinan. Sejarah kebijakan
sosial di Inggris melalui Beveridge Plan (1940’s) pernah mencatat situasi dimana
hidup seorang warga negara sejak lahir hingga mati (from cradle to grave)
dilindungi oleh sistim jaminan sosial. Dalam perkembangan sejarah, jaminan
sosial bertujuan untuk mengatasi kemiskinan, namun itu bukan satu-satunya
tujuan. Di negara-negara industrial/post industrial seperti Inggris, Amerika,
dan Norwegia, jaminan sosial merupakan kebijakan yang tidak hanya penting
untuk mengatasi kemiskinan tapi juga untuk mencapai keadilan sosial dan
kesetaraan di dalam masyarakat. Sementara di negara-negara berkembang
cakupan pelayanan jaminan sosial masih sangat terbatas. Di Indonesia
misalnya, jaminan sosial universal seperti pensiun atau tunjangan kematian
oleh negara hanya diberikan kepada pegawai negeri, TNI/Polri. Berbeda
dengan negara maju, di negara berkembang tujuan jaminan sosial memang
lebih utama untuk mencegah atau mengatasi kemiskinan. Jaminan sosial di
negara berkembang lebih banyak dikembangkan secara informal, melalui
hubungan kekerabatan maupun klientelistik. Bentuk jaminan sosial secara
garis besar dapat dibagi menjadi: asuransi sosial (social insurance), asistensi
sosial (social assistance), dana masa depan (provident fund), asuransi tenaga
kerja (employer mandates), dan tunjangan sosial (social allowances).

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
44 |

Di Indonesia, penyelenggaraan sistem jaminan sosial saat ini belum
sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Sistem jaminan sosial
kita baru menerapkan mekanisme asuransi sosial dengan kepesertaannya
menjangkau segmentasi masyarakat tertentu, yaitu pekerja formal (buruh)
yang disediakan PT Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja), pegawai
negeri sipil oleh PT Askes (Asuransi Kesehatan Indonesia) yang cakupan
perlindungannya meliputi jaminan atau asuransi kesehatan dan jaminan
pensiun oleh PT Taspen (Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri), dan TNI
yang dikelola PT Asabari (Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia) yang cakupan perlindungannya meliputi jaminan pensiun dan
kesehatan.

Sementara itu, untuk program bantuan sosial, pemerintah sebenarnya
telah mengeluarkan program-program, di antaranya bantuan tunai langsung
(BLT), bantuan sosial, bencana dan terakhir program Jaminan Kesehatan
Masyarakat (Jamkesmas), sebuah program asuransi kesehatan yang dibiayai
negara dan diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak mampu. Namun,
penyelenggaraan bantuan sosial ini belum memiliki payung hukum dan sistem
kelembagaan yang kuat dan integral dalam penyelenggaraannya. Ditambah
lagi program bantuan sosial ini tidak secara khusus diatur dalam UU Nomor
40 tahun 2004 dan belum memiliki aturan perudang-undangan.

Dua model penyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia ini belum
sepenuhnya maksimal untuk menjamin bagi terpenuhinya hak-hak dasar
warga negara. Sistem jaminan sosial yang jelas-jelas telah memiliki aturan
hukum saja belum sepenuhnya optimal seperti para pekerja (buruh), apalagi
rakyat miskin yang bekerja di sektor informal. Sebagai contoh, kalangan
pekerja di sektor formal hanya menjamin keanggotaan sebanyak 8,5 juta
buruh peserta aktif, padahal jumlah pekerja (buruh) yang bekerja di sektor
formal berjumlah 29 juta. Berarti hanya 30 persen yang hanya terjangkau
oleh jaminan asuransi sosial (Republika, 10/5/2011).

Bandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Secara persentase,
kepesertaan asuransi sosial di sektor formal, 90 persen para pekerja telah
menjadi peserta asuransi sosial. Di Malaysia, lembaga jaminan sosial
Employee Provident Fund (EPF) telah menanggung sebanyak 12,5 juta
pekerja, Singapura dengan institusi Central Provident Fund (CPF) terdiri dari
116 ribu pengusaha dan 1,8 juta pekerja, Thailand dengan lembaga jaminan
Social Security Office (SSO)-nya terdiri dari 391.869 pengusaha dan 9,45
juta pekerja, dan Filipina dengan program Social Security Scheme (SSS)
menanggung peserta sebanyak 8,9 juta tenaga kerja.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 45

Dalam kaitan dengan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
yang menjadi pembahasan antara pemerintah dan DPR, perdebatannya
menyangkut aspek kelembagaan. Rancangan RUU BPJS yang diinisiasi DPR
disebutkan bahwa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial akan dilebur (merger)
menjadi satu dan bersifat tunggal. Dalam RUU BPJS tersebut, disebutkan
bahwa penyelengaraan jaminan sosial baik asuransi sosial maupun bantuan
sosial diselenggarakan oleh lembaga tunggal, sementara pemerintah
mengusulkan agar BPJS dikelola dua badan atau multipayer, yaitu satu badan
tersendiri yang mengatur masalah jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, dan
jaminan kematian, sementara badan yang kedua mengelola pensiun dan hari
tua. Penyatuan pengelola jaminan sosial dalam wadah tunggal (single payer)
memang memiliki kelebihan, antara lain, semua masyarakat mendapatkan
jaminan sosial, adanya koordinasi program jaminan sosial dalam satu atap,
dana yang terkumpul lebih banyak, dan biaya operasional lebih efesien.

Namun, yang harus dikaji secara seksama BPJS tunggal adalah
karakteristik di masing-masing sektor tenaga kerja (pegawai negeri sipil,
swasta, informal, dan tenaga kerja migran) dan penduduk sangat berbeda
satu dengan yang lainnya. Selain itu, kompleksitas antara satu program
dan program yang lainnya sangat berbeda sehingga dikhawatirkan dapat
berdampak pada pengelolaan program yang tidak optimal. Sebagai contoh,
program bantuan sosial dan asuransi sosial memiliki karakteristik tersendiri
baik dari segi desain program, sumber pembiayaan, maupun pengelolaannya.

Selain itu, yang lebih penting diperdebatkan adalah menyangkut
implementasi jaminan sosial bagi rakyat miskin dan tidak mampu yang bekerja
di sektor informal seperti petani dan nelayan, terutama jaminan kesehatan.
Tema yang perlu dikaji lebih jauh adalah bagaimana masyarakat kita dijamin
dan secepatnya universal coverage (cakupanmenyeluruh).

Bangkitnya Kesadaran Rakyat

Untuk menyelengarakan jaminan sosial yang diatur dalam UU
SJSN, maka harus dibentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
dengan Undang-Undang, paling lambat pada 19 Oktober 2009. Prihatin
melihat pemerintah yang sudah lalai menjalankan amanat konsitusi untuk
mensejahterakan rakyat, maka sekelompok rakyat mulai bangkit kesadarannya
untuk mendorong DPR dan Pemerintah melakukan pembahasan atas RUU
BPJS. Aksi Ekstra Parlemen jadi pilihan karena Pemerintah dan DPR sudah
lalai. KAJS (Komite Aksi Jaminan Sosial) yang terdiri dari elemen buruh, tani,
nelayan, mahasiswa, LSM dan kaum miskin mulai bergerak dengan rapat-
rapat umum untuk menyuarakan aspirasi rakyat yang tidak bisa disuarakan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
46 |

oleh DPR. Rapat umum di depan Istana dan gedung DPR, juga kantor
pemerintahan mulai dilakukan secara terorganisair dan berkelanjutan. Rapat
umum mulai dilakukan pada 5 April 2010 di Depan gedung DPR RI, 1 Mei
2010 di depan Istana, 12 Juli 2010, 29&30 Juli 2010 di DPR dan Kementrian
Tenaga Kerja & Transmigrasi,10 November 2010 di depan Istana, 1 Mei 2011
di depan Istana dan DPR, 22 Mei 2011 di depan DPR yang akhirnya bisa
memaksa DPR &Pemerintah mulai membahas RUU BPJS.

Untuk menyadarkan rakyat dan mengharapkan dukungan bagi
disahkannya RUU BPJS dengan Transformasi jadi Badan Hukum Publik dengan
9 prinsip dan 5 Program, KAJS melakukan pengalangan PETISI RAKYAT yang
dimulai dari Gedung Indonesia Menggugat pada tanggal 15 Juni 2011 dan
berakhir di Istana Presiden pada tanggal 20Juni 2011. Sebanyak 135 ribu lebih
kartu pos petisi rakyat terkumpul dan pada tanggal 21 Juni 2011 diserahkan
langsung pada Ketua DPR RI dan Presiden RI melalui Sekretariat negara
dan Watimpres. Ini adalah bentuk nyata bahwa rakyat memang mendukung
PERJUANGAN KAJS bagi Terwujudnya JAMINAN SOSIAL bagi seluruh Rakyat
Indonesia.

Disamping rapat akbar KAJS juga melakukan gugatan pada Presiden,
Wakil Presiden, Ketua DPR dan 9 Mentri pada Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, berupa Gugatan Warga Negara (Citizen Law Suite) mulai tanggal 26
Juni 2010 dan akhirnya Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Perkara
Nomor 278/PDT.G/PN.JKT.PST tanggal 13 Juli 2011, yang memeriksa dan
mengadili Gugatan Warga Negara (Citizen Law Suit), membuktikan bahwa
DPR dan Pemerintahan SBY terbukti bersalah telah melakukan Perbuatan
Melawan Hukum. Pemerintahan SBY telah lalai dengan tidak menjalankan
UU SJSN, dan karenanya: Ketua DPR RI dan Presiden SBY dihukum harus
segera melaksanakan UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional, dengan: (a) Segera mengundang-kan UU BPJS; (b) Membentuk PP
dan Perpres yang diperintahkan UU SJSN; (c) Melakukan penyesuaian BPJS
yang ada dengan UU No. 40 tahun 2004 tentang SJSN.

Putusan Pengadilan tersebut memperkukuh amanat Pasal 5 ayat (1)
juncto Pasal 52 ayat (2) UU No. 40 tahun 2004, tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) dan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 007/ PUU-
III/2005 tanggal 30 Agustus 2005, yang intinya menyatakan bahwa negara
harus membentuk UU BPJS paling lambat 5 (lima) tahun sejak UU SJSN
diundangkan, yaitu selambat-lambatnya pada 19 Oktober 2009. Landasan
hukum tentang transformasi tersebut adalah sebagai berikut:

1) Penjelasan Umum UU SJSN menjelasakan bahwa, BPJS dalam UU SJSN

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 47

adalah TRANSFORMASI dari BPJS yang sekarang telah berjalan, yaitu PT
JAMSOSTEK, PT TASPEN, PTASABRI, dan PTASKES.

2) Putusan Mahkamah Konstitusi No. 007/PUU-III/2005 tanggal 30 Agustus
2005 membatalkan PT JAMSOSTEK, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT ASKES
sebagai BPJS sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3)
UU SJSN karena bertentangan dengan UUD1945.

3) Pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi menyebutkan bahwa, PT
JAMSOSTEK, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT ASKES keberadaannya hanya
dibutuhkan untuk mengisi kekosongan hukum (rechts-vacuum) dan menjamin
kepastian hukum (rechtszkerheid) selama 5 (lima) tahun terhitung sejak 19
Oktober 2004 s.d 19 Oktober 2009 [Pasal 52 ayat (2) UU SJSN] karena belum
adanya BPJS yang memenuhi persyaratan agar UU SJSN dapat dilaksanakan.

4) Pasal 52 ayat (2) UU SJSN menyatakan bahwa, semua ketentuan yang
mengatur mengenai BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) [dibaca: PT
JAMSOSTEK, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT ASKES] disesuaikan dengan Undang-
Undang ini paling lama 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.
Yang dimaksud dengan Transformasi menyeluruh adalah:

1. Transformasi Kelembagaan; yaitu dari bentuk BUMN dengan badan
hukum PT menjadi BPJS berbentuk Badan Hukum Publik dengan 9
Prinsip (kegotong-royongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian,
akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan wajib, dana amanat, dan
hasil pengeloaan Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya
untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan
peserta. [Pasal 4 UU SJSN])

2. Transformasi Asset/Kekayaan; yaitu seluruh asset/kekayaan PT
JAMSOSTEK, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT ASKES baik dalam
bentuk harta tidak bergerak, harta bergerak termasuk Dana Peserta
menjadi asset/kekayaan BPJS yang dibentuk dengan UU BPJS.

3. Transformasi Kepesertaan; yaitu seluruh Peserta yang terdaftar dalam
PT JAMSOSTEK, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT ASKES menjadi
Peserta BPJS yang dibentuk dengan UU BPJS.

4. Transformasi Program; yaitu program jaminan sosial yang diseleng-
garakan oleh PT JAMSOSTEK, PT TASPEN, PT ASABRI, dan PT
ASKES menjadi program BPJS yang dibentuk dengan UU BPJS,
dengan perluasan program, seperti program Jaminan Pensiun yang
sebelumnya tidak ada pada PT. Jamsostek.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
48 |

Jadi, adalah kebohongan jika ada yang mengatakan bahwa jika terjadi
transformasi, uang Peserta dalam bentuk Jaminan Hari Tua (JHT) akan hilang.
Bahkan, dengan transformasi, akan lebih jelas dimana sesungguhnya uang
Dana Peserta berada, karena sebelum transformasi harus terlebih dahulu
dilakukan audit menyeluruh.

Juga kebohongan dan penyesatan bagi peserta, bila ada pernyataan bahwa
apabila BPJS terbentuk, akan dikuasai oleh Perusahaan Asuransi Asing. Tidak
ada satu ketentuan pun dalam UU SJSN dan RUU BPJS yang memberikan ruang
kepada perusahaan asuransi asing atau nasional yang dapat menguasai Dana
Jaminan Sosial yang dikelola oleh BPJS. BPJS yang dibentuk oleh UU BPJS
adalah Badan yang dibentuk oleh Negara untuk menyelenggarakan jaminan
sosial. KAJS SEJAK MARET 2010 TETAP MENGHENDAKI 4 BPJS. KAJS
sejak sebelum RUU BPJS disahkan sebagai RUU Insiatif DPR pada 29 Juli
2010 hingga sekarang ini tetap menghendaki PT JAMSOSTEK, PT TASPEN,
PT ASABRI, dan PT ASKES ditransformasi ke dalam 4 (empat) BPJS yang
dibentuk dengan UU BPJS.

1. BPJS KESEHATAN; Transformasi dari PT ASKES, Program JPK
(Jaminan Pemeliharan Kesehatan) PT JAMSOSTEK, JPK TNI dan JPK
POLRI dan Program Jamkesemas; untuk menyelenggarakan Program
Jaminan Kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali,
tanpa diskriminasi dan tanpa limitasi berdasarkan prinsip portabilitas
dan ekuitas.

2. BPJS TENAGA KERJA; Transformasi dari PT JAMSOSTEK; untuk
menye-lenggarakan Program JKK (Jaminan Kece-lakaan Kerja),
JHT (Jaminan Hari Tua), JP (Jaminan Pensiun) dan JKm (Jaminan
Kematian) bagi pekerja/buruh formal, informal termasuk petani,
nelayan, PRT, TKI, dan peserta mandiri yang mampu (Wirausaha).

3. BPJS PNS; Transformasi dari PT TASPEN; untuk menyelenggarakan
Program JKK, JHT, JP dan JKM bagi PNS termasuk PPT (Pegawai
Tidak Tetap), PHL (Pegawai Harian Lepas) dan Tenaga Honorer yang
dipekerjakan pada kantor pemerintahan dan sekolah. (Catatan:
Pemerintah banyak mempekerjakan PTT, PHL dan Tenaga Honorer
dengan cara melawan hukum. Sangat banyak yang telah memiliki
masa kerja hingga puluhan tahun tanpa diangkat sebagai PNS).

4. BPJS TNI-POLRI; Transformasi dari PT ASABRI; untuk
menyelenggarakan Program JKK, JHT, JP dan JKm bagi Prajurit TNI
dan Anggota Polri termasuk warakawuri, veteran, dan lain-lain.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 49

Dalam implementasinya, jaminan sosial yang merata harus mempertimbangkan
beberapa hal. Pertama, Politis. Apakah komitmen politik dan kepentingan
politis serta konsensus politis antarberbagai pihak pemangku kepentingan
sudah dicapai.Yang paling penting adalah keinginan politik (Political Will) dari
Presiden selaku Kepala Negara untuk mensejahterakan rakyatnya.

Kedua, Fiskal negara dan ekonomi kita sudah cukup dapat memenuhi
pembiayaan darinegara.Sebagai contoh, di banyak negara, program jaminan
sosial dimulai dan dapat terselenggara dengan pendapatan per kapita lebih
dari 2.000 dolar AS. Jerman memulai program asuransi kesehatan sosial saat
pendapatan per kapita 2.237 dolar AS, Austria 2.420 dolar AS, dan Jepang
2.140 dolar AS. Pendapatan per kapita Indonesia saat ini mulai menginjak
3.000 dolar AS. Ini artinya bahwa kita sudah siap secara ekonomi.

Ketiga, segi hukum, Presiden dan DPR sudah lalai lebih dari 5 (lima)
tahun tidak menjalankan SJSN, sehingga secara hukum tidak ada lagi alasan
apapun bagi DPR dan Pemerintah untuk terus menunda-nunda pembentukan
UU BPJS, untuk membentuk BPJS pada masa persidangan DPR periode 15
Agustus s.d 21Oktober 2011. Bila tidak juga tidak ada pilihan PRESIDEN
HARUS MUNDUR.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
50 |

JAMINAN SOSIAL DAN TANGGUNG JAWAB
NEGARA

Wawancara Jurnal Sedane (Sedane) dengan Salamudin Daeng,
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, pada Agustus 2011.
Salamudin Daeng (SD) adalah peneliti Institute for Global Justice
(IGJ) yang berkedudukan di Jakarta.

Sedane: Menurut Anda apa saja masalah yang terkait dengan isu
Jaminan Sosial di Indonesia?

SD: Ada beberapa persoalan yang sering saya dengar dan disoroti oleh
banyak pihak terkait pelaksanaan jaminan sosial. Pertama, SJSN (Sistem
Jaminan Sosial Nasional) tidak bisa mengakomodir secara menyeluruh,
padahal seluruh rakyat mestinya dijamin oleh Undang-Undang dalam suatu
sistem jaminan sosial. Kedua, proses pelaksanaan dari jaminan sosial yang
sudah ada cenderung tidak transparan, tidak terbuka, dan tidak accountable.
Walaupun mereka diaudit, tapi memang dinilai seperti itu dan itu tidak hanya
terjadi pada BUMN jaminan sosial. Kenyataannya, BUMN secara keseluruhan
tidak baik dalam hal pengelolaannya, transparansinya, akuntabilitasnya, dan
keberpihakannya kepada kepentingan nasional dan rakyat. Ketiga, dari segi
manfaat yang diterima oleh masyarakat yang mengikuti jaminan sosial, itu
pun masih banyak sekali keluhan, yang paling banyak dipersoalkan adalah
kualitas pelayanannya.

Ketiga hal ini memang suatu persoalan yang harus diletakkan dalam kerangka
persoalan tersendiri yang harus diperbaiki dan dibenahi oleh Pemerintah.
Model pelaksanaan jaminan sosial yang dijalankan oleh empat BUMN saat
ini, kalau mengacu kepada UU BUMN, masih berorientasi pada keuntungan,
belum berorientasi pada manfaat yang diterima oleh seluruh rakyat. Kritik itu
seharusnya mendorong suatu upaya untuk membenahi atau merumuskan
jaminan sosial yang baru. Tetapi di dalam proses pelaksanaannya, jaminan
sosial yang baru, baik secara ideologi, kelembagaan, dan kemanfaatan
untuk rakyat, tidak menjadi antitesis terhadap sistem yang lama, karena
tidak adanya suatu perbedaan yang mendasar. Kalau kita melihat model
yang diusung dalam UU SJSN, keinginannya adalah menanggung secara
keseluruhan, tetapi basisnya tetap iuran dan kepesertaan, hanya jaminan
kesehatan yang pada tahap permulaan dibayar oleh pemerintah, sedangkan
untuk jaminan-jaminan yang lain -kalau kita baca UU-nya,- semuanya iuran.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 51

Sedane: Bagaimana bangunan jaminan sosial yang sedang
dirumuskan dan diajukan sekarang?

SD: Mari kita pertimbangkan apakah iuran kepesertaan jaminan sosial
merupakan sesuatu yang pantas untuk keadaan ekonomi kita sekarang.
Pertama, 110 juta masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis
kemiskinan, dengan pendapatan di bawah dua dolar per hari. Kedua, sebagian
besar tenaga kerja berada di sektor informal, dan merekalah yang akan
diharuskan untuk membayar iuran, baik untuk asuransi kecelakaan, asuransi
pensiun, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini merupakan
insurance, karena itu bukan jaminan sosial, karena basisnya adalah iuran.
Tidak ada pasal yang mengatakan untuk jaminan di luar kesehatan boleh
gratis. Ketika semuanya didasarkan pada pembayaran iuran kepesertaan,
maka dapat dipastikan ini merupakan sistem asuransi.

Selanjutnya, karena badan hukum yang hendak ditawarkan oleh UU SJSN
maupun BPJS (Badan Pelaksana Jaminan Sosial), merupakan badan hukum
otonom, atau wali amanah. Dimana badan hukum tersebut cenderung
merupakan badan hukum private, seperti halnya badan otonom yang berlaku
di Perguruan Tinggi Negeri (badan hukum publik dan waliamanah, ed.).
Dengan konsep seperti itu, kedudukan badan hukum tersebut berada di
luar tanggung jawab negara, di mana anggaran negara hanya masuk untuk
program jaminan kesehatan, dan tidak pada program lainnya. Karena itu, ini
dapat diartikan, pelaksana dari jaminan sosial semacam ini bukanlah sebagai
bagian dari pemenuhan tanggung jawab negara, karena badan hukumnya
adalah otonom dengan watak swasta.

Ketiga, kita harus memeriksa tujuannya. Tujuannya dari UU ini adalah
mengumpulkan, dan memobilisasi dana dari masyarakat untuk kemudian
diintegrasikan ke dalam investasi di sektor keuangan. Hal ini bisa dilihat
dari struktur keanggotaan dewan pengawasnya, di mana di dalam UU yang
dimaksud dengan Keanggotaan Dewan Pengawas yang dimaksud adalah
tenaga profesional yang menguasai bidang jaminan sosial, keuangan atau
investasidan bagaimana BPJS memiliki kewenangan untuk melakukan investasi
terhadap dana jaminan sosial yang berasal dari masyarakat ke dalam pasar
keuangan. Hal ini juga menunjukkan bahwa tujuan dari konsep jaminan
sosial ini adalah bisnis, di mana nanti pengelolaannya bisa untuk investasi;
suatu upaya untuk mengumpulkan uang dari sumber-sumber lain, walaupun
dikatakan nanti kemanfaatannya akan dikembalikan kepada peserta. Namun
bagaimana konsep pengembalian kemanfaatan tersebut kepada peserta
yang bayar dan yang tidak bayar; bagaimana cara mengembalikannya untuk

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
52 |

jaminan kesehatan, tidak ada keterangan!

Itu yang menjadi pusat masalah dari UU SJSN. Pertama SJSN sama dengan
asuransi; kedua badan hukumnya cenderung merupakan badan hukum
private; ketiga tujuannya cenderung merupakan tujuan bisnis atau berorientasi
keuntungan. Lebih berbahaya lagi mereka mengakomodir investasi di pasar
keuangan. Semua itu berdasarkan pasal-pasal yang ada di dalam UU SJSN,
namun sayangnya hal ini cenderung tidak dipahami secara penuh oleh teman-
teman yang mendukung UU ini.

Kemudian, secara filosofis pertanyaannya adalah: UU ini berbicara tentang apa
atau hendak membangun apa? Secara kelembagaan pandangannya seperti
apa? Sehingga bisa dilihat apakah tujuannya berorientasi pada keuntungan/
bisnis atau berorientasi pada kepentingan sosial? Jika kita membaca ketiga
ringkasan cara berpikir struktur konsep pembangunan jaminan sosial tersebut.
Maka yang terjadi adalah, pertama secara teori, konsep pembangunan
jaminan sosial tersebut masuk kedalam paradigma mainstream ekonomi
pasar, bukan paradigma jaminan sosial. Ini pasar yang sedang berbicara,
istilahnya pasar asuransi.

Kedua, konsep pembangunan jaminan sosial tersebut bertentangan
dengan konstitusi. Karena konstitusi mengamanatkan jaminan sosial yang
tidak seperti itu. Mari kita lihat apa yang disebut jaminan sosial menurut
konstitusi. Perhatikan Pasal 34 UUD 1945, tentang fakir miskin dan anak-
anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Pasal 31, Setiap warga negara
berhak mendapat pendidikan. Pasal 27 ayat (2) Tiap-tiap warga negara
berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dan
kewajiban negara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat.
Penyelanggaraan jaminan sosial harus mengacu pada pada Pasal 33 UUD
1945 ayat 1, 2 dan 3 tentang perekonomian disusun sebagai usaha bersama
atas dasar kekeluargaan. Tentang cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan terkait dengan hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh
negara. Tentang bumi, air dan kekayaan alam beserta isinya, harus dikuasai
oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Ingat, BUMN jaminan sosial merupakan cabang produksi yang penting, karena
itu seharusnya dikuasai oleh negara. Jadi akar teori dari jaminan sosial yang
harus dipakai paling tidak menganut pada pasal tersebut, dan bukan mencari
asas-asas dari sumber lain.

Kita seringkali mencari teori-teori dari bangsa lain, cara mengelola bangsa
lain terhadap suatu sistem yang baru, yang sebenarnya tidak bisa kita

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 53

tiru. Jaminan sosial di Inggris punya sejarah sendiri, di sana jauh sebelum
konsep jaminan sosial dibakukan, sudah terdapat konsep iuran dalam tradisi
masyarakatnya. Juga, jangan meniru-niru Amerika. Di sana jaminan sosial
merupakan hasil dari pertarungan yang dalam, sejak zaman Roosevelt, dan
memang mereka iuran, tapi ini berbeda dengan kita, ada yang iuran dan ada
yang dibayar oleh negara. Ikuti dulu dasar akar masalah jaminan sosial di
Indonesia, dan harus dibangun di dalam kerangka dan tujuan pembebasan
nasional dan penguatan ekonomi rakyat.

Sedane: Pembebasan nasional dan membangun ekonomi rakyat.
Apakah Indonesia pernah punya pengalaman membangun jaminan
sosial dalam kerangka demikian?

SD: Pada zaman Soekarno BUMN terus dibangun, tapi pada periode
berikutnya justru diprivatisasi. Jadi persoalannya kenapa kita tidak
membangun BUMN yang kita miliki padahal jumlahnya banyak, termasuk
BUMN jaminan sosial itu sendiri.

Indonesia memiliki pengalaman sejarah yang cukup kuat bahkan dalam hal-hal
yang paling fundamental. Indonesia memiliki pengalaman sejarah pembebasan
nasional, dan pernah mengadakan perundingan luar negeri yang merupakan
suatu pencapaian tertinggi dalam sejarah perundingan internasional, yaitu
Konferensi Asia Afrika. Tidak ada di belahan dunia lain yang memiliki keinginan
untuk menjadikannya sebagai contoh, menjadikannya semangat, energi bagi
seluruh bangsa-bangsa di Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, untuk bebas
dari penjajahan. Kita juga memiliki tradisi membangun pertahanan nasional
dan rakyat, seperti Pasal 30 UUD, tidak ada pasal seperti itu di belahan dunia
yang lain. Secara ringkas, kalau kita ingin menelusuri atas hal apa saja yang
sudah pernah kita bangun, maka kita harus masuk dalam dasar filosofi yang
kita kembangkan, filosofi dan ideologi yang kita kuasai. Konstitusi dasar
kita adalah UUD dan praktek kehidupan ekonomi masyarakatnya, jangan
masyarakat kemudian diharuskan iuran. Itu berbahaya. Karena itu, sekali
lagi, teman-teman serikat buruh harus memahami hal ini, caranya adalah
dengan memperbanyak upaya-upaya dialog.

Sedane: Kalau boleh berandai, ketika BPJS disahkan, ciri-ciri apa
yang menghubungkan BPJS dengan pasar asuransi?

SD: Semuanya. Tentang siapa manajemen di dalamnya, tentang pertimbangan
ekonomi, pertimbangan investasi, semuanya termuat di dalam RUU BPJS.
Salah satunya soal diperbolehkannya dana jaminan sosial tersebut digunakan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
54 |

untuk melakukan investasi dimanapun, hal tersebut semuanya terdapat dalam
RUU SJSN. Sengaja dibuat seperti itu, karena perancangnya merupakan
teknikal asisten promodal asing.

Seharusnya kita bisa belajar dari pengalaman jaminan sosial di negara
lain. Sebagai contoh di Amerika yang telah menerapkan mekanisme
iuran sejak zaman Roosevelt. Saat ini isu privatisasi jaminan sosial di
Amerika kembali dibicarakan dan didorong oleh Partai Republik, dengan
alasan semakin membengkaknya biaya jaminan sosial. Privatisasi jaminan
sosial tersebut berarti dilepaskannya secara penuh jaminan sosial dari
pengelolaan pemerintah. Pertarungan untuk menuju privatisasi jaminan
sosial di Amerika hampir terjadi sepanjang sejarah. Saat ini, strategi yang
diusulkan untuk memprivatisasi jaminan sosial di Amerika adalah dengan
mendorong penerapan individual account terhadap dana jaminan sosial.
Rekening perorangan (individual account) tersebut bisa dipindah-pindah
dari satu manajemen ke manajemen lain. Jadi perubahannya didorong dari
pengelolaan rekening bersama melalui manajemen besar jaminan sosial yang
menjamin semua orang yang terdaftar, kemudian menjadi rekening-rekening
pribadi, di mana setiap individu bisa mengontrol, dan memindah-mindahkan
tempatnya berinvestasi, seperti halnya peserta asuransi swasta. Hal tersebut
saat ini terus dilawan. Model privatisasi yang dimaksud oleh Wall Street dan
partai Republik itu terdapat dalam UU BPJS dan SJSN. Mirip sekali dengan
rekening perorangan tersebut. Walaupun namanya bukan individual account
tapi direkeningkan sebagai badan hukum otonom yang mirip dengan badan
hukum model wali amanah, di mana kemudian uangnya bisa digunakan untuk
investasi kemana saja.

Sedane: Kondisi saat ini apa bisa dikatakan, jika badan
pengelolanya milik negara, tapi manajemennya korporatis?

SD: Sekarang, kalau badannya seperti itu sudah bukan milik negara, BUMN
hanya menjadi badan milik publik saja. Mereka menyebutnya sebagai badan
hukum otonom. Itu sama dengan badan hukum perguruan tinggi negeri
yang menganut mekanisme iuran, dan memungut iuran sesukanya, untuk
kemudian uangnya disimpan dimana saja dan sesuka mereka.

Karena itu, kita juga perlu mempertimbangkan mengenai kebebasan
menginvestasikan dana jaminan sosial. Hal itu harus diperhitungkan benar-
benar. Belajar dari krisis Eropa dan Amerika, di mana hutang negara Eropa
dan Amerika paling besar bersumber dari dana social security. Amerika punya
hutang dana social security sebesar 2,7 triliyun US dollar, dana tersebut berasal

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 55

dari tabungan masyarakat yang kemudian dibelikan obligasi oleh pemerintah.
Uang itu hilang, mau apa? Tidak jadi cadangan devisa, tapi hangus. Kalau
dibelikan obligasi negara, terus negaranya bangkrut seperti Amerika sekarang,
uang itu kemudian dipakai untuk reformasi sektor keuangan, menyuntik
perusahaan-perusahaan swasta, mau apa?

Hal ini harus dipertimbangkan dalam menyusun UU BPJS. Tidak boleh
uangnya digunakan untuk investasi atau membeli obligasi, apalagi lintas
negara, misalnya uang SJSN Indonesia dipakai untuk membeli obligasi,
atau surat hutang di Filipina, hanya karena bunganya tinggi. Karena niat
dari penyusunan UU ini berdasarkan mandat dari IMF dan ADB, maka dana
jaminan sosial yang berhasil dikumpulkan kemudian akan diintegrasikan ke
pasar keuangan, ditambah dengan mendudukkan lembaga jaminan sosial di
bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sedane: Jadi apa yang diperlukan untuk membangun jaminan
sosial dengan tanggung jawab negara dengan akses yang
universal?

SD: Pertama kita butuh suatu UU jaminan sosial, bukan asuransi sosial.
Dasar hukum jaminan sosial itu harus mengacu pada amanat Pancasila dan
UU negara. Dari mana uangnya? Kas negara. Kalau negara tidak mampu,
itu bohong. Bayar hutang mampu. Kalau ada kelompok yang bilang negara
tidak mampu, sama dengan tidak mau berjuang. Perusahaan asuransi saja
mampu, kenapa negara tidak mampu. Kalau perusahaan asuransi mengelola
dana asuransi 6-9 juta orang di Indonesia dia mampu, kenapa negara tidak
mampu?!

Sedane: Bagaimana dengan adanya pendapat dari teman-teman
lain yang sama-sama menolak model jaminan sosial yang tertuang
dalam RUU SJSN, tapi di sisi lain mereka tidak yakin kalau negara
mampu, dengan anggapan struktur finansial di Indonesia saat ini
dikuasai oleh swasta?

SD: Harus dibedakan antara yakin dengan tidak mampu, kemudian secara
pragmatis menuntut sesuatu yang salah. Harus dicermati segmennya, bukan
begitu caranya mendorong negara bertanggung jawab. Konsep jaminan
sosial berdasarkan konstitusi itu harus menjadi visi utamanya, bukan mencari
alasan-alasan lalu mendorong pengelolaan pihak lain terhadap masalah,
misalkan pertimbangannya struktur finansial, coba bacakan struktur finansial
seperti apa?

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
56 |

Sedane: Ada data-data keuangannya, angka-angka yang
menunjukkan kalau struktur finansial kita memang dikuasai
swasta, jadi kalau mau mendanai jawabannya harus mulai dari
nasionalisasi.

SD: Tidak sampai harus melakukan nasionalisasi. Pendapatan sumber daya
alam masih besar. Tujuhpuluh persen pendapatan negara disumbang oleh
pajak, 200-300 triliun disumbang oleh sumber daya alam. Terus dana negara
sekarang dipakai untuk apa? 90 triliyun setahun dipakai untuk melakukan
insentif pajak pada sektor swasta, untuk memberikan stimulus fiskal, padahal
dana jaminan sosial tidak sampai sebesar itu kebutuhannya.

Persoalannya negara mau atau tidak. Kita harus membuat UU baru lagi buat
jaminan sosial, yang pendanaannya bersumber dari kas negara, dan dikelola
oleh negara. Dicadangkan setiap tahun untuk jaminan sosial sekian puluh
triliun, katakanlah 100 triliun setahun. Setiap tahun dicadangkan, habis tidak
habis diakumulasikan sebagai dana abadi untuk tahun berikutnya. 10 tahun
negara bisa memiliki 1.000 triliyun. Problemnya mau atau tidak.

Kita tidak bisa mengabdikan semua kepengurusan sosial ekonomi kepada
bisnis karena ini bukan bisnis, ini tanggung jawab negara terhadap
masalah-masalah sosial ekonomi yang muncul akibat krisis, jangan sudah
kena krisis kemudian dipungut iuran. Jaminan sosial merupakan alat untuk
mengintervensi masyarakat yang sedang mengalami krisis akibat kapitalisme.
Nah, jangan diserahkan kepada iuran. Mekanismenya harus pajak, bukan
orang kaya diharuskan membayar iuran jaminan sosial untuk mensubsidi
orang miskin. Itu keluar dari kaidah, tidak boleh begitu, tapi negara membuat
regulasi pajak dimana negara dapat memungut lebih besar dari orang kaya.

Sedane: Bagaimana dengan pendapat, kalau sumber pendanaan
SJSN berasal dari iuran, berarti buruh sebagai pembayar iuran
akan menjadi salah satu stakeholder yang berpartisipasi, dengan
begitu kelompok buruh bisa menuntut. Bagaimana pendapat
Anda?

SD: Kalau begitu buat saja koperasi sendiri di masing-masing pabrik.
Partisipasi iuran bisa Anda kontrol. Kita harus memaksa rakyat mengontrol
negara ini, bukan membuat badan otonom. Negaralah yang seharusnya kita
kontrol, bukan badan otonom. Negara yang jelas menerima uang dari pajak
saja tidak bisa kita kontrol, apalagi badan otonom. Jadi tidak bisa begitu,

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 57

negara harus dikontrol penggunaan pajaknya, dan jangan karena negara
tidak mampu kita kontrol, kemudian kita mendorong lembaga nonnegara
untuk menyelenggarakan jaminan sosial.

Sedane: Apa pendapat Anda tentang kemunculan dua kubu dalam
isu Jaminan Sosial ini, kubu KAJS yang pro SJSN dan BPJS dan
kubu lainnya yang menolak?

SD: Saya hanya bisa memberi masukan, kepentingan dan tujuan mereka
sebetulnya sama baik dan mulia: ingin mengadakan jaminan sosial di
Indonesia. Hanya ada yang tidak terjelaskan. Ada yang tidak dapat
memandang masalah ini secara menyeluruh. Masukan saya hanya satu, segera
berkonsolidasi, berbicara di atas dasar kepentingan bersama. Tingkatkan dulu
komunikasinya, jangan takut berdialog. Yang jelas presiden dan parlemen
pasti menarik ulur persoalan ini, karena uang di BUMN Jaminan Sosial sangat
banyak, dan karena ini akan dimasukkan ke dalam program reformasi sektor
keuangan. OJK saja belum selesai, dan nantinya lembaga SJSN akan berada
di bawah Otoritas Jasa Keuangan, yang paradigmanya adalah menganggap
uang sebagai jasa.

Kita tidak bisa terus menerus saling menyalahkan, karena massa memiliki
kepentingan yang sama, buruh di sini, dan buruh di sana, sama kepentingannya,
ingin negara bertanggung jawab. Hanya saja ada yang minta negara ada yang
minta asuransi. Tingkatkan dialog dan jangan dulu meminta DPR mensahkan
UU jaminan sosial, tapi minta pasal-pasal yang sesuai dengan tuntutan kita.
Tuntutan kita akan pasal-pasal itu yang mesti dirumuskan secara benar.
Dialog, komunikasi, bikin usulan konkret. Masing-masing mengusulkan apa,
kemudian masukan ke DPR, dan usul itu harus diterima dulu. UU tidak boleh
disahkan kalau usulan itu belum diterima. Konsolidasi, jangan tempur secara
politik (antarorganisasi prorakyat, ed.), percuma kalau tempur adu-aduan
massa. Demo benar, tapi jangan menuntut asuransi. Demo sepakat, kemudian
saling dialog. Dua-tiga tahun ini dialog dulu. Komunikasi yang intensif perlu
ditingkatkan, harus didorong sampai menghasilkan draft UU.

Jadi saran saya temen-teman harus mau membuka diri, dialog dan harus
mau meluruskan dan tidak bias kepada kepentingan kapitalis internasional.

Sedane: Ada yang berpendapat begini, mereka menyebut program
perjuangan SJSN saat ini sebagai program minimum, dan kelak
akan dilanjutkan dengan menjalankan strategi judicial review, apa
pendapat Anda?

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
58 |

SD: Program ini, apapun namanya, secara filosofi harus mengacu pada
Pancasila dan UUD 1945, harus memiliki semangat kekeluargaan, semangat
kerjasama, serta semangat musyawarah mufakat. Program Jaminan Sosial
harus mengacu pada 4 pasal: tentang pekerjaan, tentang pendidikan, tentang
kesehatan, tentang cabang produksi. Jangan menggunakan acuan yang lain.
Ketika kita bicara keempat pasal tersebut, maka negara harus bertanggung
jawab sepenuhnya. Sumber anggarannya dari pajak, dan bukan dari iuran.
Kalau iuran, biarkan BUMN yang selenggarakan, segmen pasarnya berbeda.
Pegawai Negeri Sipil, kalau masih ingin di TASPEN silahkan. Tapi negara
harus menyediakan sendiri yang satu di bawah negara, sehingga buruh
miskin, pegawai miskin, yang tidak bisa mendapatkan jaminan sosial dari
asuransinya, bisa menggunakan negara. Misalnya, saya ikut asuransi seperti
model JAMSOSTEK, dan tidak semua penyakit saya ditanggung, saya harus
bisa minta tolong pada negara, dengan masuk ke dalam asuransi jaminan
sosial yang disediakan gratis oleh negara. Negara itu harus untuk seluruh
rakyat, karena itu amanat konstitusi dan dasarnya bukan iuran, tapi dari
sumber-sumber pendapatan negara, dari pajak.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 59

SOSOK Moenadi: Sosok Buruh Lintas Zaman
Jafar Suryomenggolo11

Profil Moenadi merupakan Catatan Pendahuluan dari buku ”Kisah Moenadi: Otobiografi
11

dan Tulisan-tulisannya” yang akan diterbitkan oleh Lembaga Informasi Perburuhan Sedane
(LIPS)

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
60 |

Moenadi

Jafar Suryomenggolo

TOKOH KITA INI adalah “orang besar” pada zamannya. Namun, namanya
cuma disebut selintas dalam buku peringatan “kehidupan perkeretaapian
selama 25 tahun sedjak bangsa Indonesia merdeka”, pada bagian pendek
soal gerakan buruh.12

Apa yang dikerjakannya dan segala soal yang berkaitan dengan
itu pada masa-masa awal republik, tidak disinggung. Walau tidak dibuang
sepenuhnya dari ingatan sejarah, perannya bagi bangsa muda Indonesia
dibikin jadi sempit-terbatas dan terlihat sepele. Akibatnya, untuk masa
selanjutnya, ia pelan-pelan dilupakan, dan dirasakan tidak ada gunanya lagi
mencatat namanya dalam sejarah perjalanan kehidupan berbangsa – hingga
terjungkirnya Soeharto dari kursi presiden.

Lalu, siapakah tokoh kita ini? Apa yang menjadikan namanya perlu
disebut (kembali) dalam sejarah Indonesia? Anak muda jaman sekarang
mungkin mudah larut dalam kejemuan saat mencoba memahami kisah tokoh
kita ini dalam konteks kekinian. Jadi, apa gunanya sebuah tulisan kisah
hidupnya diterbitkan sebagai bahan bacaan anak muda – dalam jaman gombal
sinetron cengeng dan teknologi wikipedia kini? Ini bukan soal ketercerabutan
sejarah generasi muda. Bukan pula soal menggali penggalan sejarah kelam.
Tapi sebagai langkah awal menyadari, bahwa kisahnya adalah referensi
penting bagi kita dalam proses membangun nasion Indonesia yang adil.
***
MOENADI MENULISKAN KISAH perjalanan hidupnya secara sederhana
saja. Dimaksudkan sebagai bentuk cerita seorang ayah kepada anak-anaknya.
Lembaran-lembaran susunan abjad yang menjadi kerangka tulisannya itu
berisikan refleksi atas kehidupannya sebagai seorang pemuda, buruh, dan
teknisi di dalam masyarakat Indonesia, pada kurun waktu 1920-an hingga
awal 1960-an. Tulisannya itu berisikan pengalaman-pengalaman murni ketika
masa mudanya (zaman penjajahan Belanda), berlanjut ke masa dunia kerja
sebagai buruh kereta api (zaman penjajahan Jepang dan perang revolusi
kemerdekaan) hingga pada masa pengabdiannya di Departemen Perburuhan
(zaman demokrasi konstitusional dan demokrasi terpimpin ala Soekarno).

Panitia Penyusun Buku, Sekilas Lintas 25 Tahun Perkereta-apian, 1945-1970 (Bandung: PNKA,
12

1970), hal. 44 dan 61.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 61

Kisah perjalanan hidupnya itu merupakan rekaman memori bangsa
yang berjuang untuk menjadi diri sendiri yang sejati. Moenadi mengalami
perubahan-perubahan sosial dalam periode-periode penting perjalanan
bangsa. Moenadi dengan jujur dan tanpa banyak pretensi, menuangkan
dengan gaya bahasa yang sederhana dan terkadang juga jenaka, perjalanan
hidupnya selama masa-masa penuh gejolak itu. Kisah intim kehidupan
keluarga dan beragam pengalaman kerjanya menjadi adonan utama dalam
perjuangan perjalanan seorang anak bangsa.

Satu yang tidak diceritakannya adalah penggalan kehidupannya
dalam organisasi buruh, Serikat Buruh Kereta Api (SBKA), yang ia bentuk
bersama rekan-rekannya dan kemudian sempat ia pimpin.13 Sayangnya
dalam sejarah resmi Orde Baru, SBKA diingat hanya sebagai “serikat buruh
komunis” – tanpa ada telaah akademis sama sekali. Proses perjalanan SBKA
sebagai sebuah organisasi direduksi menjadi ikon paranoia masyarakat akan
“bahaya laten komunisme.” Demikianlah, Kata Pengantar ini dimaksudkan
pula sebagai bahan awal dalam memberikan gambaran akan latar belakang
pembentukan SBKA, dan perjalanannya menjadi organisasi serikat yang
cukup besar dan kuat pada masanya itu, terutama pada saat dipimpin oleh
Moenadi. Dengan gambaran ini diharapkan timbul pengertian yang jernih
bahwa SBKA adalah contoh organisasi serikat buruh yang sungguh-sungguh
memperjuangkan kepentingan anggotanya – dan ini dapat menjadi sumber
inspirasi bagi organisasi serikat buruh masa kini.
***
SBKA dibentuk dari kumpulan beberapa organisasi buruh kereta api.
Pada bulan-bulan awal usai proklamasi kemerdekaan Agustus 1945, buruh
kereta api adalah kelompok masyarakat yang secara sadar pertama kali untuk
berkumpul dan membentuk organisasi. Organisasi awal itu disusun berdasarkan
lokalitas stasiun tempat mereka bekerja. Buruh kereta api dengan langkah-
langkah strategis mengambil alih stasiun-stasiun, bengkel-bengkel dan juga
kantor pusat kereta api dari tangan kekuasaan militer Jepang – yang saat
itu telah menyadari kekalahannya dari pasukan sekutu. Bermula dari kantor
stasiun di Jakarta-kota, kemudian bengkel api Manggarai, pengambilalihan
ini menyebar ke seluruh stasiun dan kantor kereta api di seluruh Jawa, dan
dalam kurun waktu kurang dari dua bulan seluruh stasiun Kereta Api di pulau
Jawa sudah berada dalam pengawasan dan penguasaan para buruh kereta
api. Moenadi muda yang saat itu tinggal dan bekerja di Bandung, tidak hanya

Pengecualiannya hanya pada catatan abjad V (Veiligheidstoezicht), yang bercerita tentang
13

perjumpaannya dengan Djoko Soedjono yang diidentifikasikannya sebagai “sama-sama
fungsionaris SBKA”.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
62 |

sekedar ikutan saja, tapi memimpin aksi pengambilalihan dan selanjutnya
pengawasan stasiun dan kantor operasional pusat kereta api seluruh pulau
Jawa – yang memang saat itu berada di Kota Bandung.

Langkah tindakan berani buruh kereta api ini selanjutnya diikuti oleh
beberapa buruh lainnya dalam mengambil alih alat-alat produksi utama
dari tangan militer Jepang: buruh perkebunan gula mengambil alih kantor
dan areal perkebunan gula, buruh minyak mengambil alih kantor-kantor
pertambangan minyak. Seketika pula semua alat-alat produksi yang sudah
direbut oleh para buruh itu, dideklarasikan sebagai “Milik Republik Indonesia”
– sebagai bukti perjuangan keberpihakan para buruh pada Republik yang
usianya baru beberapa bulan saja.

Para buruh selanjutnya mengatur dan mengawasi jalannya alat-alat
produksi itu. Buruh kereta api sebagai pelopor utama, berdasarkan lokalitas
stasiun tempat mereka bekerja, usai pengambilalihan, langsung mengadakan
pertemuan umum. Adam Malik, yang pada masa itu “cuman” seorang pemuda
pejuang yang menjadi saksi mata satu pertemuan umum di stasiun Jakarta-
kota, dengan sangat menarik mencatat bahwa pertemuan itu memutuskan
beberapa orang buruh sebagai pemimpin di antara para buruh lainnya
(disebut sebagai “Dewan Pimpinan”), dan uniknya kemudian, diadakan
pengambilan sumpah di hadapan publik.14 Susunan yang terbentuk adalah
model kepemimpinan primus-inter-pares. Di bawah kepemimpinan di antara
sesama buruh, para buruh kereta api ini, buruh-buruh pribumi yang selama
itu dianggap rendah dan tak punya dispilin, ternyata mampu mengoperasikan
dan mengoordinasikan jalannya sistem transportasi modern. Semua dilakukan
buruh kereta api tanpa komando ataupun di bawah instruksi opsir Belanda
seperti masa penjajahan dulu. Dan, ini menjadi bukti kemandirian mereka
sebagai bangsa yang merdeka dan sebagai kelas buruh yang progresif. Rasa
kebangsaan dan solidaritas kerja memang tumbuh bersamaan.

Selama bulan-bulan awal kemerdekaan itu, para buruh kereta api
dengan tanpa imbalan gaji tetap, mampu mengerjakan pekerjaannya
sebagai bentuk pelayanan pada masyarakat dan juga, perjuangan bagi
Republik. Pengiriman tentara, pengangkutan bantuan beras, penyediaan
transportasi bagi presiden dan wakilnya: semua dikerjakan oleh buruh kereta
api. Dan, buruh kereta api sadar akan peran vital mereka. Setiap stasiun,
kantor atau bengkel kereta api mempunyai dewan pimpinan masing-masing
sebagai tempat para buruh kereta api mengatur kerja mereka. Kantor Pusat
Bandung, tempat Moenadi bekerja dan menjadi pemimpin organisasinya,

Adam Malik, Riwajat Proklamasi 17 Agustus 1945 (Jakarta; Widjaja, 1950), hal. 71
14

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 63

menjadi markas utama operasional dan koordinasi kerja dari berbagai dewan
pimpinan ini. Mereka mampu melakukan pengaturan alokasi dengan sumber
daya seadanya, dan utamanya: mengatur dirinya sendiri dalam kepemimpinan
yang setara. Prinsipnya, egaliter dan independen. Karakter independen ini
memang menjadi ciri utama banyak organisasi buruh pada masa itu. Para
buruh perkebunan gula juga mampu mengatur sistem kerja dan membagi
hasil kerja di antara mereka sendiri.15
Gambar: Serikat Buruh dan
Republik Indonesia. Buruh
digambarkan secara simbolik
bersebelahan dengan
tentara yang menghunus
bayonet, mempertahankan
kemerdekaan dengan hanya
bersenjatakan bambu runcing.
Di latar sebelah kiri gambar
kereta api sebagai simbol alat
transportasi utama pada masa
itu. Di sebelah kanan gambar
bangunan pabrik (dengan
cerobong asap) yang ditandai
“Hak Milik Republik Indonesia”. Di bagian depan, gambar buruh yang berkumpul
membentuk serikat, simbolisasi kongres serikat buruh. Sumber: Buletin SOBSI 2,
13-15 (1955)

Sayangnya, karakter independen organisasi buruh ini mulai dicurigai
oleh pemerintah pusat. Republik muda yang masih goyah dan belum stabil
pemerintahannya itu menghadapi tekanan kelompok oposisi – utamanya
dari Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka, dalam sistem “coba-coba”
demokrasi kabinet usulan Sjahrir. Pemerintah pusat dalam kabinet Sjahrir
pertama ini (mulai resmi bekerja 14 November 1945) takut organisasi
buruh yang tumbuh independen ini ditunggangi oleh kelompok oposisi
untuk merongrong keabsahan pemerintahan, dengan misalnya mengadakan
pemogokan-pemogokan. Karenanya, pemerintah pusat cukup bersikap hati-
hati terhadap organisasi buruh untuk tetap memastikan dukungan buruh
atas pemerintahan mereka dan menahan agar mereka tidak lari ke kelompok
oposisi.

Lihat misalnya: Selo Soemardjan, “Bureaucratic Organization in a Time of Revolution,”
15

Administrative Science Quaterly 2 (2), 1957, hal. 182-199.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
64 |

Selain itu, dari pemerintah pusat sendiri ada upaya untuk menguasai
semua alat-alat produksi yang ada (utamanya di Pulau Jawa) dalam rangka
pengaturan ekonomi. Penguasaan alat-alat produksi di tangan berbagai
organisasi buruh (stasiun oleh buruh kereta api, perkebunan gula oleh buruh
gula, tambang minyak oleh buruh minyak) dianggap tidak menguatkan
struktur ekonomi negara yang direncanakan secara terpusat. Mesti diingat,
kereta api adalah sarana transportasi andalan pada masa itu, sementara
perkebunan gula adalah sumber pemasukan ekonomi utama bagi negara, di
samping pertambangan minyak yang baru dimulai. Jadi, pemerintah pusat
berupaya betul untuk secara langsung mampu mengatur alat-alat produksi
yang dianggap vital itu dalam genggaman tangannya. Buruh dianggap
“kurang mampu” mengatur alat-alat produksi tersebut, selain juga ada
semacam ketakutan bahwa buruh akan semakin kuat dan berada di luar
kontrol pengawasan pemerintah.

Oleh karena itu, mulai Januari 1946 pemerintah pusat menyiapkan
langkah-langkah taktis untuk menguasai semua alat-alat produksi itu. Oleh
pemerintah pusat, penguasaan dan pengaturan oleh buruh dipandang
sebagai bentuk “sindikalisme ekonomi”16 yang membahayakan kepentingan
republik. Pemerintah pusat mulai menurunkan orang-orangnya untuk
menguasai stasiun, perkebunan gula dan pertambangan minyak di Jawa. Di
perkeretaapian, pemerintah pusat membentuk Djawatan Kereta Api (DKA),
yang diberi kewenangan penuh untuk mengatur operasional kereta api. Ir.
Djuanda, kawan dekat Sjahrir dan Soekarno, diangkat untuk memimpin badan
baru itu – padahal kurang tahu soal perkeretaapian. Pemerintah pusat juga
membentuk organisasi buruh kereta api secara terpusat yang diberi nama
“Serikat Sekerdja Kereta Api,” setelah membubarkan dan tidak mengakui
keberadaan Dewan Pimpinan.

Menyadari kerja dan organisasi independen Dewan Pimpinan mereka
tergerus oleh kebijakan taktis pemerintah pusat, para buruh kereta api
merasa disudutkan dalam kerangka bikinan DKA. Dalam situasi ini, buruh
kereta api kemudian mencoba mengumpulkan dan menyelamatkan sisa-sisa
independensi yang telah mereka upayakan dan sempat nikmati di bulan-
bulan awal kemerdekaan. Di antara berbagai organisasi buruh kereta api
yang tersebar di seluruh pelosok Jawa, kontak intensif dibangun, komunikasi

“Sindikalisme” adalah kosa-kata baru pada jaman itu – diimpor begitu saja dari kosa-kata
16

marxisme Eropa yang menjelaskan model penguasaan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat
oleh organisasi buruh dan nihil-gunanya keberadaan negara – untuk menuding langsung
berbagai organisasi buruh yang menguasai stasiun, perkebunan gula dan tambang minyak
dengan meragukan sentimen kebangsaan mereka akan pentingnya keberadaan negara (yang
dalam hal ini, Republik).

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 65

antarorganisasi ditingkatkan, dan beberapa pertemuan kecil disusul. Moenadi
menjadi mata rantai utama dalam rencana awal ini, menghubungkan kantor
Bandung dengan rekan-rekannya di Surabaya. Sebagi hasilnya, kongres
buruh kereta api disepakati untuk diadakan selekasnya, di Kota Solo. Kongres
dimulai pada Selasa (pahing), 12 Maret – hari yang sama kabinet Sjahrir
kedua mulai resmi bekerja, setelah sebelumnya “dipaksa” oleh kelompok
oposisi Persatuan Perjuangan untuk meletakkan jabatan. Ya, buruh kereta
api cukup pandai memanfaatkan waktu situasi politik ini.

Dalam kongres tiga hari itu, buruh kereta api langsung memutuskan
hal-hal pokok yang berkenaan dengan penghidupan mereka dan
kelangsungan organisasi independen bentukan mereka sendiri. Mereka tidak
segan mengajukan tuntutan ke pemerintah pusat yang baru saja terbentuk –
dalam susunan kabinet baru itu, “pimpinan” mereka di DKA Ir. Djuanda telah
ditunjuk sebagai Menteri Muda Perhubungan, suatu posisi yang baru dibentuk
dengan kewenangan yang lebih luas (tak terbatas pada perkeretaapian saja!)
untuk menguasai alat-alat transportasi dalam pengaturan pemerintah pusat.
Hasil kongres pertama buruh kereta api seluruh Jawa ini menyaratkan agar
pemerintah mempertimbangkan suara buruh dalam setiap kebijakannya, dan
harus ada wakil buruh yang duduk dalam berbagai badan baru bentukan
pemerintah, juga tidak sembarangan membubarkan Dewan Pimpinan yang
terbentuk “berdasarkan kedaulatan rakyat buruh kereta api”.17 Tuntutan keras
ini memaksa pemerintah pusat untuk betul-betul melihat ulang rangkaian
sepak terjangnya atas independensi serikat buruh.

Di lain sisi, buruh kereta api juga tidak serta merta lugu menunggu
reaksi pemerintah pusat. Mereka menyusun kekuatan yang lebih dahsyat:
membentuk kesatuan di antara berbagai organisasi buruh yang tersebar itu
dalam bentuk serikat buruh. Resmi terbentuk di hari kedua kongres, 13 Maret
1946, serikat itu diberi nama “Serikat Buruh Kereta Api” (SBKA), dengan
Moenadi terpilih sebagai ketua umumnya.

***

STRUKTUR KEPENGURUSAN SBKA sangatlah sederhana dan taktis-
efisiensi. Ketua umum dan wakilnya dalam kerja hariannya dibantu oleh
sekretaris dan bendahara (masing-masing posisi diisi oleh dua orang) dan
lima orang anggota pengurus pusat. Pengurus pusat sendiri ditopang oleh apa
yang disebut sebagai “Anggota Pengurus Besar (APB) tersiar” yang mewakili
empat daerah operasional kerja kereta api di kantor pusat (Cisurupan),

Merdeka, 22 Maret 1946.
17

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
66 |

daerah Jawa Barat (di Purwokerto), daerah Jawa Tengah (di Purwodadi) dan
daerah Jawa Timur (di Madiun). 18

Jelas terlihat, kepengurusan SBKA tidak disusun secara hirarkis
tapi berdasarkan prinsip fungsi koordinasi. Struktur kepengurusan ini
memungkinkan pengurus pusat mendengar langsung keluhan-keluhan dan
kepentingan-kepentingan buruh anggota yang perlu dibela dan diperjuangkan
di tingkat basis. Ini jelas terekam dalam cukilan sejarah tentang tuntutan
gaji.

Akhir Mei 1946, Menteri Keuangan, Soerahman Tjokroadisoerjo,
mengeluarkan satu “makloemat” (semacam peraturan internal) yang isinya
mengatur kenaikan gaji permulaan – hingga 45 persen, bagi para pegawai
negeri. Semenjak dibentuknya DKA, para buruh kereta api dianggap sebagai
pegawai negeri, dan karenanya segala peraturan pegawai-negeri diberlakukan
di lingkungan perkeretaapian, termasuk pula soal gaji. Hanya saja, Makloemat
Menteri Soerahman mengatur kenaikan gaji bagi para pegawai tingkat atas,
sementara pegawai tingkat bawah tidak disebut.19 Ketidakadilan ini jelas
dirasakan para buruh kereta api, yang sebagian besar digolongkan dalam
pegawai tingkat bawah. Suara kegelisahan mulai bergema, walau belum
menjelma menjadi ketidakpuasan.

Cepat menangkap situasi ini, pengurus SBKA lekas bertindak: surat
protes disusun dan dikirim kepada Menteri Soerahman, dengan ditandatangani
oleh Moenadi sebagai ketua.20 Surat menyatakan kegelisahan buruh tingkat
bawah yang merasakan ketidakadilan atas kenaikan gaji yang hanya dinikmati
buruh tingkat atas, dan menuntut agar “perubahan itu merata mengenai
semua golongan”. Dasar pembenar yang dijadikan patokan tuntutan itu

Apa yang mereka sebut sebagai “APB tersiar”, dalam khasanah kekinian mungkin bisa dise-
18

but sebagai “koordinator wilayah” atau “jaring kontak” – yang dalam kepustakaan bahasa
Inggris disebut “union flying squads”, yang karena fleksibilitasnya berfungsi menjadi badan
kontak utama antara pengurus pusat dengan anggota basis. Beberapa serikat buruh pro-
gresif yang lahir sesudah 1998, mengadopsi model kepengurusan ini – daripada susunan
hirarkis seperti umumnya organisasi buruh bentukan Orde Baru, sehingga memungkin mer-
eka bekerja secara maksimal dalam perlindungan anggota basis dan menyuarakan kepentin-
gan-kepentingan buruh anggota.
Susunan pegawai negeri, oleh penjajah militer Jepang, dibagi hanya dalam 3 golongan: atas,
19

menengah, bawah – dan ini dipergunakan oleh Republik sampai 1948 dengan terbitnya
PGPN (Peraturan Gaji Pegawai Negeri) 1948.
Surat disampaikan “melalui Paduka Tuan Menteri Perhubungan dengan alamat Kantor Ins-
20

peksi Djawatan Kereta Api”, ditandatangani “Atas nama Pengurus Besar SBKA”. Kereta Api
no. 21 (Juli 1946), hal. 2.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 67

bahwa buruh tingkat bawah adalah “merekalah merupakan tulang punggung
dalam tiap djawatan Negara”

Surat protes dan argumen yang diajukannya, jelas membuktikan
kuatnya simpul solidaritas SBKA dalam menyuarakan kepentingan anggota
– sesuatu yang “lumrah” dikerjakan oleh organisasi buruh independen
manapun, kapanpun. Surat protes ini juga membuktikan bahwa SBKA, yang
sepenuhnya mendukung perjuangan Republik, tetap berani mengungkapkan
keberatannya atas pola kebijakan negara yang merugikan buruh – suatu hal
yang “biasa” dalam menunjukkan kemandirian organisasi buruh dari campur-
tangan negara. Yang luar biasa adalah, kepentingan ekonomis buruh anggota
ini terus diperjuangkan lewat berbagai cara yang, dapat dikatakan, canggih
dan kreatif, menembus sekat birokrasi pada jamannya. Tidak hanya terpaku
dalam tempurung bikinan Djawatan Kereta Api, Moenadi bersama wakilnya,
Kardan, mengajukan tuntutan ini bukan terbatas hanya dalam lingkungan
kereta api saja, tapi mampu mengemasnya sebagai suatu bentuk ketidakadilan
yang dirasakan oleh semua buruh pegawai negeri lainnya. Karenanya, mereka
berhasil menggalang suara bulat bersama beberapa pemimpin serikat buruh
lainnya untuk secara bersama-sama mendesakkan tuntutan kenaikan gaji
bagi buruh kelompok bawah ini, ke dalam konferensi Kementerian Sosial yang
diadakan pada 27-29 Juli 1946. Menteri Sosial didesak untuk menjalankan
fungsi perlindungan sosial bagi buruh sehingga upah yang diterima buruh
“harus cukup untuk menjamin penghidupan keluarga” dan “perbandingan/
imbangan upah pokok bagi buruh yang terendah dengan buruh yang tertinggi
adalah 1:5”. Ini bukan sekedar tuntutan membabi-buta yang berlebihan,
tapi didasarkan pertimbangan bahwa keadilan sosial yang dicita-citakan
masyarakat juga terbuka untuk dinikmati oleh buruh tingkat bawah dengan
adanya sistem pengupahan yang adil. Selain itu, juga dituntut agar upah
“tidak hanya terdiri dari mata uang, tetapi juga sebagian terdiri dari barang
(in natura),” sebagai langkah taktis menyiasati kurangnya bahan pangan dan
juga, naiknya harga-harga kebutuhan pokok selama masa genting perang
kemerdekaan itu.

Apa yang SBKA perjuangkan memang sepenuhnya didasarkan atas
perlindungan bagi buruh anggota. Persoalan kenaikan gaji ini menjadi titik-
tolak kegiatan awal SBKA, yang menjadi pola utama bagi model perjuangan
SBKA membela kepentingan ekonomi buruh anggota, walau mesti berhadapan
dengan kekuasaan negara. Sampai akhir 1946, persoalan upah ini tetap
menjadi perjuangan utama SBKA – tapi Moenadi kemudian menghilang di
balik layar. Sekitar 5 minggu setelah konferensi Kementerian Sosial itu,
dalam rapat pengurus SBKA pada 7-8 September 1946 Moenadi meletakkan
jabatannya sebagai ketua, dan selanjutnya tercatat sebagai anggota pengurus.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
68 |

Ia digantikan oleh Kardan. Dari lembaran catatan perjalanan kehidupannya
ini bisa kita baca, pengunduran dirinya itu disebabkan masalah kesehatan
yang dideritanya.21

***

BERBEDA DARI BUKU-buku otobiografi orang-orang penting zaman
Orde Baru yang cenderung isinya berupa pembelaan diri (pledoi, umumnya
karena takut dituntut kasus tertentu pada masa hidupnya), atau berupa
kampanye (membangga-banggakan diri, biasanya untuk tujuan politik
tertentu), dan terkesan isinya sok pintar (menggurui pembaca seakan-akan
hanya si penulis saja yang punya pengalaman hidup yang unik), catatan
perjalanan kehidupan Moenadi ini ditulis tanpa ada beban sejarah untuk
menonjolkan keakuan diri. Ini justru yang menjadi pentingnya catatan Moenadi:
bagaimana kisah kehidupan “orang biasa” punya tempat tersendiri di dalam
sejarah perjalanan Bangsa Indonesia.22 Bahwa bukan hanya mereka yang
berkuasa, yang dirinya penting, atau punya “kontribusi utama” (bagaimana
mengukur suatu “kontribusi” dalam relasi sosial manusia? betapa sangat relatif
dan bertendensi kapitalistik!), atau karenanya dianggap “pahlawan”, tapi
karena satu butir penting, yaitu: refleksi perjalanan kehidupan “orang biasa”
dalam persilangan berbagai peristiwa kebangsaan ini yang sesungguhnya
membikin Bangsa muda Indonesia menjadi bangsa yang besar.
Jika selama ini produksi dan diskusi tentang otobiografi Indonesia
melulu didominasi oleh “orang-orang besar” sehingga perjalanan kehidupan
nasion cenderung menjadi asimetris dan terkesan elitis (juga, betapa bisa jadi
bosan mata pembaca budiman dijejali cerita-cerita heroisme belaka!), catatan
Moenadi ini menjadi penawar dahaga akan bagaimana apa yang dinamakan
peristiwa sejarah diresapi dan secara mikro dibentuk oleh mereka yang
cenderung dilupakan dan dibuat bisu dalam derap “pembangunan ekonomi”
dan keramaian politik nasional. Catatannya ini bukan hanya menjadi sumber
utama rekam dokumentasi dalam wacana sejarah alternatif tapi juga, adalah
bukti sumbangsih nyata kehidupan perburuhan dalam, dan bagi, sejarah
sosial bangsa Indonesia.

***

21
Lihat catatan-catatan abjad L (Liku-liku Penghidupan) dan abjad N (Ngungsi)
22
Sandra, Sedjarah Pergerakan Buruh Indonesia (Jakarta: Pustaka Rakjat, 1961; diterbit–ulang oleh
TURC, 2007). Sandra juga banyak melukiskan perkembangan gerakan buruh di berbagai
negara sebagai bahan pembelajaran bagi gerakan buruh Indonesia.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 69

WALAU TURUT MEMBENTUK dan menjadi ketuanya yang pertama,
Moenadi nampaknya menyadari betul bahwa SBKA bukanlah “properti”
milik pribadi apalagi memperlakukannya bagai barang mati yang tidak bisa
tumbuh. Jiwa leadership sejati memang dimilikinya. Sebagai suatu organisasi
modern yang mampu mengalami berbagai perkembangan organisasi jauh di
luar dari apa yang sempat dibayangkan oleh para pendirinya sendiri, serikat
buruh memiliki kapasitas untuk membentuk gerak dan dinamikanya tersendiri
dalam melancarkan kegiatan-kegiatan bagi para anggotanya. SBKA jaman
perang kemerdekaan 1945-1948 jelas berbeda dari SBKA jaman demokrasi
konstitutional 1955-1959, dan lagi dari SBKA jaman 1962-1965. Serikat
buruh, sebagai organisasi modern abad 20, selalu dapat berkembang (dan
juga, mati), dan walau peran pemimpin yang sejati memainkan kartu penting
di dalamnya, suara buruh anggota adalah yang terutama.

Telah kita lihat di atas, Moenadi selama enam bulan pertama memimpin
SBKA, telah melakukan apa yang seperlunya perlu dikerjakan dengan sebaik-
baiknya. Bagaimana gerak organisasi selanjutlah bukanlah menjadi tanggung
jawab pribadinya. Dari sini mungkin bisa kita bayangkan mengapa perihal
SBKA tidak disinggung dalam catatan perjalanan kehidupannya ini. Bukan
berarti Moenadi hendak cuci-tangan, melainkan nampaknya menyadari
bahwa perkembangan organisasi SBKA tidak semata bergantung di tangannya
sebagai ketua. Kerendah-hatian sikapnya ini menjadi tolak ukur utama bahwa
Moenadi tidak mengajukan klaim-klaim “keberhasilan” atau “sumbangsih”
dalam perkembangan organisasi SBKA. Dari catatan perjalanan kehidupannya
ini, sebaliknya, dapat kita baca bahwa pada masa 1947-1948 Moenadi dan
keluarganya menghadapi kesulitan penghidupan yang mendorongnya mesti
mengungsi ke daerah-daerah kantong Republik, dan baru setelah 1949
kehidupannya mulai stabil. Pada masa 1949-1950 itu pula Moenadi dapat
dikatakan sudah kurang aktif dalam gerak dinamika SBKA, dan telah menjadi
pegawai pada Departemen Perburuhan bagian kesehatan dan keselamatan
kerja (K3), yang menjadi arena penghidupannya sampai 1965.

Oleh karena itu, selain utamanya catatan perjalanan kehidupannya,
terbitan ini juga menyajikan beberapa catatan kerjanya itu dari masa 1950-an.
Ada delapan keping tulisan yang dipilih, semuanya untuk menggambarkan
bagaimana Moenadi memaknai kerjanya itu – dan juga tanpa disadarinya,
telah mengembangkan suatu bidang yang penting dalam perlindungan buruh
Indonesia.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
70 |

Dapat dikatakan bahwa catatan-catatan kerja Moenadi tentang bidang
K3 adalah tulisan perintis. Ini bukan hanya soal bahasa - bahwa Moenadi
menulis dalam bahasa Indonesia suatu topik yang sebelumnya ditulis dalam
bahasa Belanda (atau bahasa-bahasa Eropa lainnya), melainkan juga bahwa
bidang kesehatan dan keselamatan kerja (K3) masih baru tumbuh pada
jaman usai Perang Dunia II itu. Perkembangan-perkembangan yang terjadi
selama 50 tahun terakhir ini di bidang K3 begitu dahsyat dan pesat sehingga
menyebabkan kita yang hidup di jaman kini menganggapnya sebagai suatu
hal yang “biasa” dan menerimanya sebagai bagian dari kenyataan hidup.
Padahal, bidang K3 adalah arena baru perjuangan serikat buruh usai PD
II ketika bentuk negara kesejahteraan mulai menjadi kenyataan riil dalam
kehidupan bernegara di Eropa khususnya. Indonesia sebagai negara Asia
yang baru saja merdeka, dengan tegas meletakkan sendi-sendi kehidupan
sosial dalam kerangka bentukan negara “sosialis”, dan karenanya, K3 menjadi
satu bidang utama dalam menerjemahkan ide-ide kehidupan sosial negara
tersebut bagi rakyat yang bekerja.

Dalam konteks demikian, Moenadi memberi arti baru akan guna K3
bagi nasion baru Indonesia. Sejajar dengan rekannya, Sandra, yang memberi
bentuk dan isi pada gerakan buruh Indonesia yang baru saja merdeka dengan
mencatat segala perkembangannya,23 Moenadi mencoba menyodorkan
konsepsinya menangani K3 yang didasarkan pada gerak perkembangan
masyarakat Indonesia sendiri. Ini jelas terlihat, sebab Moenadi menulis dengan
gaya bahasa populer yang gampang dimengerti khalayak umum, tidak punya
ambisi konyol dengan sok berteori ataupun bergaya merak sastra. 24 Tidak
seperti “intelektual” jaman sekarang yang menulis dengan pamrih untuk
menonjolkan diri dan/ atau cari popularitas di koran nasional/majalah besar
ibukota (atau lebih pariah lagi, hanya sekedar untuk kenaikan pangkat di
kantor!), Moenadi menulis untuk mendidik publik dan untuk memulai diskusi
umum secara konkrit. Catatan-catatan itu dimaksudkannya sebagai bahan
pelajaran bagi golongan buruh manual. Menyadari pentingnya K3, Moenadi
menetapkan buruh manual sebagai target pembacanya. Ia kenal betul siapa
pembacanya, dan apa yang mereka butuhkan saat itu. Dengan demikian, K3
ditempatkan langsung pada jantung persoalannya sendiri, yaitu perlindungan
bagi buruh manual.

23
Sandra, Sedjarah Pergerakan Buruh Indonesia (Jakarta: Pustaka Rakjat, 1961; diterbit–ulang
oleh TURC, 2007). Sandra juga banyak melukiskan perkembangan gerakan buruh di berb-
agai negara sebagai bahan pembelajaran bagi gerakan buruh Indonesia.
24
Penggunaan beberapa istilah Belanda (atau bahasa asing lainnya) merupakan suatu hal yang
lumrah bagi jamannya – dan Moenadi selalu memberikan terjemahan yang substansial.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 71

Bahwa isu-isu K3 selalu bernafaskan politik negara, sudah jelas dipahami
Moenadi. Dan dalam pemahamannya itu, ia tidak segan untuk berdebat
dengan seorang dokter Belanda, seperti yang tergambar dalam catatan
“Penyakit Kerja dan Susu”, dengan mengajukan argumen yang kuat: bahwa
dalam bidang K3 ada konteks sosial yang perlu betul-betul dipertimbangkan
dan bukan melulu soal teknis detail pengaturan belaka. Argumen ini cukup
kuat untuk diperdengarkan resonansinya bagi negara-negara berkembang
lainnya – yang cenderung dibuat jatuh dalam pemahaman yang menyesatkan
tentang K3. Ia berani membongkar topeng ilmiah yang menyelimuti alam
pikiran banyak orang seakan-akan K3 “diimpor” dari pemahaman mulia
Eropa akan “perlindungan buruh”, dan karenanya, K3 tidak bisa lagi dijadikan
sebagai alat kontrol Eropa atas buruh kulit berwarna seperti yang selama ini
sudah terjadi pada masa penjajahan.

Menerbitkan kembali catatan-catatan kerja Moenadi yang telah berusia
lebih dari 50 tahun ini bukan sekedar membangkitkan romantika ataupun
latihan pemahaman sejarah, tapi ada satu soal yang hendak dipelajari: bahwa
K3 ditujukan bagi perlindungan, dan bukan untuk membebani buruh. Selama
50 tahun terakhir ini pula, tidak banyak buku tentang K3 yang diterbitkan
– dan sayangnya, hampir kesemuanya melulu mementingkan persoalan-
persoalan teknis detail pengaturan dalam kerangka “pembangunan ekonomi”.
Dalam kerangka “pembangunan,” kalkulasi ekonomi menjadi acuan dasar
dalam pemikiran dan pelaksanaan K3: efisiensi perusahaan memangkas alat-
alat perlindungan kerja, alih-alih buruh malah diwajibkan membeli sendiri
masker dan helm perlindungan. Jika ada perlu diperbaiki dari konsepsi
kita tentang K3 selama ini, kiranya catatan kerja Moenadi ini memberikan
penyadaran kembali, bahwa perlindungan bagi buruh tidak berhenti hanya
sebagai pemahaman teknis melainkan adalah hal yang mutlak dijalankan dan
diusahakan terus menerus: perlindungan bagi mereka yang bekerja.

***

DALAM PROSES PENYUSUNAN buku ini, Syarif Arifin mengingatkan
saya akan pentingnya mengikutsertakan satu tulisan yang disusun oleh
Moenadi di tahun 1999, “Yang Tak Terlupakan.” Tulisan tersebut berisikan
pengalaman beliau selama berada dalam tahanan politik Orde Baru. Dari
tulisan ini dapat kita baca kisah latar penyebab Moenadi menjadi tahanan
politik Orde Baru – sebuah kisah dengan pola yang relatif serupa seperti
kebanyakan tahanan politik lainnya: terseret dalam kemelut politik, tanpa

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
72 |

sepengetahuan dirinya, tanpa ada pengadilan yang adil dan pembelaaan
hukum, dan tanpa mampu melawan ketika mengalami penyiksaan fisik dan
teror mental.25
Bagi banyak tahanan politik, stigma “komunis” atau “merah” terus
menyertai kehidupan pribadi dan keluarga mereka. Moenadi dan keluarganya
juga memikul beban sosial-politik tersebut. Setelah pembebasan, “Wajib lapor
mingguan” menjadi ritual yang tak dapat dihindari. Selain itu juga, permohonan
Moenadi untuk memperoleh paspor ditolak tanpa ada penjelasan.26
Tulisan “Yang Tak Terlupakan” juga memuat fakta-fakta di balik
tembok-tembok penjara Orde Baru, yang sampai hari ini masih belum banyak
terungkap, seperti: pilihan-pilihan hidup seorang tahanan politik; kepahitan,
kegelisahan, dan solidaritas di antara sesama tahanan; perilaku tahanan
dan sipir penjara – yang kesemuanya diselingi humor satir khas Moenadi. Di
situ Moenadi menyuarakan hal-hal yang selama ini terpendam dalam politik
pembisuan yang dijalankan Orde Baru. Demikianlah, tulisan tersebut menjadi
arsip penting dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia.

***

SAAT ITU USIANYA 89 tahun, penuh senyum dalam keramahan. Ia
bersedia ditemui tanpa banyak kesulitan. Dalam panas terik bulan Agustus,
di rumahnya di daerah Ciputat, dengan berkaos oblong putih dan bercelana
panjang warna krem, ia menerima saya. Jabatan tangannya kuat mengayun-
ayunkan tangan saya yang masih berkeringat. Di ruang tamu depan duduk di
sofa coklat tua, ia meladeni saya. Walau baru pertama kali bertemu dan tanpa
basa-basi berlebihan, selama pertemuan satu setengah jam itu, ia terbuka akan
segala pertanyaan saya. Dan saya sendiri? Hanya seorang mahasiswa yang
dalam keegoisan pikiran sempitnya tertuju cari data soal dunia perkeretaapian
untuk merampungkan skripsi, memperlakukan keterbukaannya macam
tambang data yang perlu digali habis sampai ke dasarnya. Untung saja, ia
cukup sabar menghadapi saya. Tak ada yang ditutupinya, tak ada pula cerita
yang ditakaburinya. Karena pembawaannya ini pula, ia mengijinkan saya
memfoto kopi satu naskah tulisan dirinya sendiri – yang karena kekonyolan di
pihak saya, butuh lima tahun lebih untuk akhirnya bisa tersaji buat pembaca
sekalian. Maafkanlah saya atas segala keterlambatan ini.

25
Baca pula: Haryo Sasongko (penyusun), Menembus Tirai Asap: Kesaksian Tahanan Politik 1965.
Jakarta: Amanah Lontar bekerjasama dengan Yayasan Sejarah Budaya Indonesia, 2003. Pola
yang serupa juga masih diterapkan di tanah Papua hingga hari ini.
26
Wawancara dengan Etty Mudiarti dan Mulyono, 17 Februari 2010.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 73

Tinjauan Buku

Judul : Watak Politik Gerakan
Serikat Buruh Indonesia
Judul Asli : The Political Character of
the Indonesia Trade Union
Movement
Penulis : Iskandar Tedjasukmana
Penerjemah : Oey Hay Djoen
Editor : Surya Tjandra
Penerbit : Trade Union Rights Centre
Jumlah halaman : xxiii + 219
Tahun terbit : 2008

Membangkitkan Kembali Gerakan Buruh

Syarif Arifin

Kisah Reorientasi

SUATU HARI, sebuah seminar yang dilaksanakan di Jakarta menghasilkan
keputusan berkenaan dengan peran dan posisi serikat buruh di Indonesia.
Seminar itu menghasilkan lima poin, di antaranya: serikat buruh harus lepas
dari kekuatan politik apapun, kegiatan serikat buruh dititikberatkan pada
lapangan sosial-ekonomi, serikat buruh harus memiliki kemandirian keuangan,
keberadaan dan struktur serikat buruh harus ditata ulang. Itulah seminar
yang diadakan pada Oktober 1971 di Yayasan Tenaga Kerja Indonesia(YTKI).

Poin-poin di atas, sejatinya, bukan hal baru. Sebelum dan di masa
Kemerdekaan, persatuan dan independensi serikat buruh menjadi bagian
diskursus serikat buruh. Namun, resolusi di atas, menjadi penting karena
lahir di bawah arahan kebijakan ekonomi dan politik yang baru dari rezim
yang sedang berkonsolidasi, Orde Baru.

Secara tidak langsung, seminar tersebut merupakan kritik terhadap
struktur, keanggotaan dan laku Majelis Permusyawaratan Buruh Indonesia
(MPBI). MPBI diresmikan pada 1 November 1969 dengan duapuluh satu

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
74 |

anggota. Di dalamnya terdiri dari ragam serikat buruh dengan kecenderungan
ideologi dan sikap politik, kecuali Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia
(SOBSI). Tahun-tahun ini SOBSI sedang diberangus, dihilangkan dan dihapus
dari memori sejarah. Rupanya, Orde Baru tidak sekadar mengendalikan
organisasi, tapi mengubah orientasi serikat buruh. MPBI dianggap mbalelo.
Selain itu, struktur organisasi dan kedaulatan organisasi masih berada pada
serikat sekerja yang menjadi anggotanya sehingga tidak berwenang membuat
keputusan-keputusan strategis.

Jika Soekarno mengajak rakyat Indonesia untuk mandiri dengan
kekuatan sendiri atau berdiri di kaki sendiri, Soeharto menyerahkan
pembangunan Indonesia kepada modal asing. Dengan cepat Soeharto
melakukan transformasi perekonomian Indonesia dengan mengeluarkan
peraturan yang ramah bisnis. Rezim Soeharto mengeluarkan Undang-
Undang tentang penanaman modal asing, pada 1967 dan Undang-undang
tentang penanaman modal dalam negeri, pada 1968. Aturan untuk investasi
asing memberikan janji sekaligus kepastian untuk berbisnis di Indonesia.
Sebaliknya, hak-hak dasar buruh yang diatur undang-undang pokok tenaga
kerja Nomor 14 Tahun 1969 abstrak dan rentan penyelewengan. Kebijakan
pengupahan sebagai turunan dari UU tersebut misalnya, baru keluar pada
1981. Menurut Vedi R Hadiz (2009), setiap lapisan kebijakan yang ditelurkan
rezim Soeharto bertumpu pada modal asing sembari mengerdilkan peranan
rakyat untuk mengontrol sumber daya alam.

Salah satu bentuk marjinalisasi peranan rakyat dilakukan dengan
mengandangi rakyat tani, buruh, dan pemuda dalam satu organisasi tunggal.
Melalui organisasi tersebutlah rezim Soeharto mengendalikan gerak-gerik
rakyat. Di bidang perburuhan, kontrol negara dilakukan hingga berbuah
penghilangan paksa.

Setelah resolusi seminar itu, MPBI berubah menjadi Federasi Buruh
Seluruh Indonesia (FBSI), pada 1970-an. Poin-poin resolusi dalam seminar di
atas, melandasi pembentukan serikat tersebut.

Jejak-jejak

Apa yang melandasi perlunya pemisahan serikat buruh dengan politik?
Kapan serikat buruh berurusan dengan kebijakan negara?

Buku berjudul Watak Politik Gerakan Serikat Buruh Indonesia
memberikan beberapa jawabannya. Buku ini menyebutkan, serikat buruh di

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 75

Indonesia memiliki kontribusi besar dalam membangun nasion Indonesia.
Kelahiran serikat buruh pun tidak bisa dilepaskan dari perspektif dan praktik
politik yang dimiliki serikat buruh. Dapat dikatakan bahwa pembentukan
serikat buruh di Indonesia memiliki perbedaan tajam dengan kelahiran serikat
buruh di Eropa. Serikat buruh di Eropa dibentuk untuk membela pekerjaan,
profesi dan terpenuhinya syarat-syarat kerja.

Menurut penulisnya, serikat buruh di Indonesia ditakdirkan sebagai
organisasi perjuangan. Hal tersebut dapat dilihat dari bahasa yang
dipergunakan oleh aktivis buruh maupun konstitusi serikat buruh. Selain
itu, kemunculan serikat buruh pun merupakan reaksi langsung terhadap
penjajahan Belanda. Karenanya, serikat buruh di era Kolonial maupun di era
Kemerdekaan bukan entitas yang melulu menuntut kenaikan upah, perbaikan
kondisi kerja serta kebebasan berkumpul dan berpendapat. Mereka terlibat
aktif dalam gerakan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing dan gerakan
bersenjata.

Di tengah langkanya bacaan-bacaan sejarah serikat buruh, buku ini
akan membantu memahami dinamika serikat buruh di era Kemerdekaan
dan membandingkannya dengan serikat buruh di era Soeharto maupun
Reformasi. Kelebihan lain dari buku ini ditulis oleh Iskandar Tedjasukamana
(IT), mantan Menteri Perburuhan era Soekarno dalam tiga kabinet yang
berbeda-beda: Kabinet Sukiman (27 April, 1951 – 2 April, 1952); Kabinet
Wilopo (3 April, 1952 – 31 Juli, 1953); dan Kabinet Burhanudin Harahap
(12 Agustus, 1955 – 27 Maret, 1956). Tambahan pula, pada 1951 hingga
1956 ia adalah Ketua Biro Politik dari Partai Buruh. Pada 1946 hingga 1956,
ia adalah anggota Parlemen Indonesia dan dari Maret 1947 hingga Agustus
1949, sebagai Wakil Ketua Badan Pekerja Parlemen Indonesia. Karenanya,
banyak informasi berharga yang ia sajikan semisal jumlah anggota serikat
dan hubungan serikat buruh dengan partai politik. Gaya penulisannya pun
tidak rumit dan abstrak, bahkan dapat dikatakan analisisnya mengalir tanpa
beban. Sehingga pembaca akan mudah mengikuti alur logika dan maksud-
maksud penulis buku.

Sejauh pengetahuan saya, karya ini baru dua kali terpublikasi, yakni di
website Edi Cahyono yang hanya dapat diakses secara online dan dicetak lebih
luas lagi oleh Trade Union Rights Centre (TURC), pada 2008. Sebelumnya,
karya ini merupakan monografi berbahasa Inggris yang dibuat pada 1958,
di School of Industrial and Labor Relations di Universitas Cornell Ithaca New
York dalam Program Proyek Indonesia Modern.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
76 |

Apakah ada serikat buruh yang apolitis atau berupaya menjauhi
aktivitas politik pada era Kolonial dan Kemerdekaan? Penulisnya sendiri tidak
menyebutkan, karena buku ini hanya bermaksud memetakan pengaruh
ideologi politik di dalam serikat buruh. Jelasnya, “ ...[M]enjejaki dan
mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh ideologi yang telah menjadikan
serikat-serikat buruh Indonesia organisasi-organisasi perjuangan yang
mengejar tujuan-tujuan politik sebagai tambahan pada keuntungan ekonomi
langsung. Perhatian khusus akan diberikan pada pengaruh-pengaruh Marxis
dan Leninis.” (hal. xxi).

Untuk mencapai maksud di atas, penulisnya melacak organisasi-
organisasi buruh yang memiliki pengaruh luas di tahun-tahun 1950-an. Di
antaranya, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Konsentrasi
Serikat Buruh Kerakyatan Indonesia (KBKI), Serikat Buruh Islam Indonesia
(SBII), dan Kongres Buruh Seluruh Indonesia (KBSI). Keempat serikat buruh
tersebut adalah serikat tingkat nasional. Selain itu, serikat-serikat itu pun
memiliki kedekatan dengan partai-partai politik. Serikat-serikat buruh yang
bersifat lokal dan regional tidak menjadi perhatian dalam buku ini. Sayangnya,
tidak ada penjelasan gamblang mengenai serikat buruh yang dibentuk oleh
partai politik dengan serikat buruh yang memanfaatkan partai politik.

Hasil pelacakan tersebut menghasilkan lima bab pembahasan dan
satu bab kesimpulan.

Di Bab I, IT mendiskusikan munculnya serikat buruh. Pembentukan
serikat buruh di Indonesia dapat dikatakan relatif terlambat ketimbang
kelas buruhnya. Kerja upahan mulanya diintrodusir oleh kebijakan tanam
paksa pada 1870. Namun, serikat buruh yang murni Indonesia baru muncul
pada 1905. Sebenarnya, sebelum itu ada pula serikat buruh di perusahaan-
perusahaan Belanda seperti NIOG. Tapi keanggotaannya belum melibatkan
orang-orang Indonesia.

Fase pertama keterlibatan orang Indonesia dalam organisasi buruh
adalah dalam Staats Spoorwegen Bond. Kemudian diikuti oleh VSTP pada
1908. Menurut IT, ada beberapa penyebab keterlambatan munculnya serikat
buruh: tingkat buta huruf yang meluas, tiadanya buruh terampil, absennya
pemimpin yang berkemampuan. Lebih dari itu, kebijakan Pemerintah Hindia
Belanda mempersempit kalangan buruh Indonesia untuk berorganisasi.
Setelah kehadiran VSTP barulah muncul serikat-serikat buruh murni Indonesia
di institusi-institusi milik Belanda maupun swasta.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 77

Organisasi-organisasi buruh kemudian turut hancur setelah datang
Jepang. Jepang hanya mengizinkan pendirian organisasi yang diabdikan untuk
kepentingan Jepang. Karenanya, di era Jepang hampir seluruh serikat buruh
mati suri. Pelemahan tersebut disumbang pula oleh kekalahan perlawanan
rakyat Hindia pada tahun 1926/1927. Di bagian ini, IT tidak menjelaskan
mengenai kebijakan Kolonial Belanda di era Malaise. Padahal, di masa ini
banyak juga terjadi pemecatan dan pengurangan upah. Di masa Depresi Besar
tersebut, Belanda hanya mengizinkan serikat buruh yang mau berkompromi
dengan kebijakan kolonial.

Bab II, IT memetakan serikat buruh dengan rinci, dari tingkat nasional
hingga lokal yang disertai dengan jumlah anggotanya. Selain itu, dipaparkan
pula mengenai mekanisme kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan
keanggotaannya, khusus kepada empat serikat di atas. Di bagian ini pula
kita akan mendapatkan gambaran bahwa gairah dan dinamika berorganisasi
di periode kemerdekaan. Hal ini diperlihatkan dengan data. Dari sekitar 5
hingga 6 juta adalah pekerja upah di perusahaan swasta dan negara, hampir
90 persen atau sekitar 4 juta terorganisasi dalam jumlah organisasi yang
berbeda corak dengan kecenderungan ideologi masing-masing.

Rata-rata buruh tergabung ke serikat buruh di tingkat nasional, yakni
Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) jumlah anggotanya
mencapai 2.661.970 orang, diikuti oleh Kongres Buruh Seluruh Indonesia
(KBSI) dengan anggota 725,000 orang, Serikat Buruh Islam Indonesia (SBII)
yang memiliki anggota 275.000 orang dan Konsentrasi Buruh Kerakyatan
Indonesia (KBKI) beranggotakan 94.477 orang. Selain bergabung di
organisasi tingkat nasional, ada pula yang hanya bergabung dengan tingkat
federasi, seperti Himpunan Serikat-Serikat Buruh Indonesia (HISSBI), Sentral
Organisasi Buruh Republik Indonesia (SOBRI), Gabungan Serikat Buruh
Indonesia (GSBI) dan federasi regional serta federasi lokal.

Rata-rata serikat buruh di atas, memiliki kecenderungan ideologi yang
berbeda. Di antaranya ideologi yang berpengaruh terhadap serikat buruh
adalah nasionalisme, Islam dan Sosialisme. Secara khusus IT menelusuri
pengaruh Marxisme-Leninisme ke dalam serikat buruh. Penjelasan mengenai
pengaruh ideologi akan dapat ditemukan dalam Bab III. Di bagian ini, pembaca
akan mendapatkan gambaran bagaimana serikat buruh menerjemahkan
konsep-konsep besar ke dalam konstitusi dan program perjuangan serikat
buruh. Konsep-konsep tersebut telah menentukan watak dan arah perjuangan
serikat buruh.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
78 |

Sebagaimana dinyatakan di awal, penulis buku ini bermaksud
menelusuri pengaruh Marxisme dan Leninisme di dalam serikat buruh
dan bagaimana teori itu diterjemahkan serta ditularkan kepada serikat
lainnya. Konsepsi yang dimaksud adalah konsepsi kesadaran dan teori kelas
perjuangan kelas, serikat buruh sebagai organisasi kelas, serikat-serikat
buruh sebagai sekolah sosialisme, konsepsi organisasi massa dan konsepsi
sentralisme demokratik.

IT berkesimpulan bahwa hampir seluruh serikat buruh di era
Kemerdekaan menerapkan konsepsi-konsepsi di atas, baik dengan sadar
ataupun tidak, sebagian ataupun seluruhnya. Lebih lanjut dikatakannya,
“... [S]eluruh gerakan serikat buruh Indonesia telah mengikatkan dirinya
pada tujuan-tujuan dan cita-cita sosialis, apabila orang sependapat bahwa
serikat-serikat buruh Muslim juga sosialistik dalam pandangan mereka.”
(hal. 72)

Di Bab IV, IT menjelaskan hubungan serikat buruh dengan partai
politik. Menurutnya, partai politik telah menjadikan serikat buruh semacam
cabang untuk mengejar tujuan-tujuan partai politik. Akibatnya, serikat buruh
mudah terpecah, terpengaruh dan menjadi alat untuk mencapai tujuan-
tujuan partai politik. Penelusurannya dilakukan terhadap komposisi pimpinan
serikat buruh.

Sementara di Bab V, diperlihatkan pula mengenai hubungan serikat
buruh dengan partai politik dan aktivitas politik serikat buruh. Bab IV dan V
merupakan inti dari pembahasan mengenai hubungan serikat buruh dengan
politik. IT tampak menyayangkan bahwa serikat buruh kerap menjadi
cabang partai politik. Baginya, sangat tidak masuk akal jika serikat buruh
yang berlabel Islam memiliki empat serikat buruh yang berbeda, seperti
diperlihatkan dengan SBII (Serikat Buruh Islam Indonesia), Sarbumusi
(Serikat Buruh Muslimin Indonesia), Gabungan Organisasi Buruh Sjarekat
Islam Indonesia (GOBSI-IND), dan Kongres Buruh Islam Merdeka (KBIM).
Begitu pula dengan serikat buruh nasional dan sosialis. Ragam serikat buruh
itu, dikarenakan masing-masing serikat buruh memiliki afiliasi politik. Ia
menenggarai bahwa serikat-serikat tersebut didirikan oleh partai politik untuk
meraup suara dalam pemilihan umum tanpa mengedepankan kepentingan
serikat buruh. Walhasil, IT menyampaikan perlunya melakukan reposisi
serikat buruh di Indonesia baik dari segi jumlah maupun bentuk hubungan
dengan partai politik.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 79

Komentar

Sebagaimana diceritakan di awal, karya ini diterbitkan dalam Proyek
Indonesia Modern di Cornell. Untuk diketahui, pada periode 1960-an hingga
1970-an Washington menggelontorkan banyak dana untuk meneliti Indonesia.
Hal ini berkenaan dengan menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia.
Melalui proyek tersebut, para peneliti di Cornell memberikan nasehat dan
saran kepada Washington mengenai kebijakan yang perlu ditempuh terhadap
Indonesia (Majalah Tempo, Edisi 14-20 November 2011).

Di samping itu, pada 1950-an, IT sempat menjadi bulan-bulanan
serikat buruh. Pasalnya, ia menyetujui keluarnya Undang-Undang pengganti
Dekrit Militer Nomor 1 Tahun 1951 tentang larangan mogok. Undang-undang
ini diplesetkan menjadi “undang-undang antimogok Iskandar Tedjasukmana”.
Barangkali di sinilah kita mesti mewaspadai selubung ideologis yang hendak
ditanamkan oleh IT. Dengan kata lain, untuk kepentingan siapa IT menulis
tesisnya. Membandingkan buku ini dengan terbitan sezaman atau yang
terbit belakangan barangkali akan dapat membantu mengukur orisinalitas
argumen-argumen yang dibangun oleh IT.

Awalnya, saya membayangkan bahwa buku ini akan menceritakan
mengenai watak politik serikat buruh berhadapan dengan kolonialisasi yang
terus merangsek dari berbagai penjuru. Ternyata bukan. IT menelanjangi
politik serikat buruh dalam hubungannya dengan pemerintah Indonesia,
khususnya partai politik. Karenanya, IT luput menceritakan bagaimana sikap
politik serikat buruh pada masa-masa agresi militer Belanda yang kedua.
Kendati harapan saya tidak terpenuhi, ada dua catatan penting berkenaan
dengan buku ini.

Pertama, buku ini hanya mengelaborasi peta umum serikat buruh.
Kita tidak akan menemukan kiprah serikat buruh yang dibangun oleh orang-
orang Tionghoa atau peranan serikat buruh yang dibangun oleh perempuan
di awal-awal kemerdekaan. Dengan model demikian, maka potret serikat
buruh dari berbagai unsur, termasuk di berbagai daerah tidak terlihat.

Kedua, dari tiap bagian yang ia ceritakan terutama tesis serikat buruh
dan politik, IT menempatkan kecurigaan tinggi terhadap aktivitas politik
serikat buruh. Diam-diam IT tidak merestui buruh terlibat dan memiliki
perspektif politik. Hal tersebut berangkat dari asumsi bahwa serikat buruh
perlu mengurus dirinya sendiri tanpa memikirkan urusan politik. Referensi
utamanya adalah pertumbuhan serikat buruh di Eropa. Di Eropa, awal-awal

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
80 |

berdirinya serikat buruh didominasi oleh skill labour dengan tujuan membela
dan melindungi kepentingan profesi mereka saja. Demikian pula di Indonesia,
serikat-serikat buruh Eropa seperti NIOG, hanya melibatkan buruh-buruh
terampil dan tidak mempersoalkan penindasan Kolonial Belanda. NIOG
memperjuangkan syarat-syarat kerja dan kenaikan upah untuk kepentingan
anggotanya, sementara buruh-buruh tidak terampil, yang rata-rata berasal
dari Indonesia dan Tionghoa dipandang sebelah mata.

Selain itu, IT seolah menempatkan pengaruh ideologi sebagai hal yang
mengada dengan sendirinya. Bukan hasil pencarian dari dinamika yang rumit
dari waktu yang cukup panjang. Dalam konteks ini, tampak sekali pengaruh
historiografi kolonial, yang pernah dibuat oleh Petrus Blumberg. Blumberg
melihat ideologi politik di Indonesia sebagai sesuatu yang demarkatif,
fragmented dan mengada tanpa melalui proses yang dinamis dan kompleks.
Blumberg membagi rakyat Hindia pada klasifikasi nasionalisme, komunisme
dan Islam tanpa melihatnya sebagai kritik langsung terhadap kebijakan
Kolonial Belanda.

Petrus Blumberg adalah mantan pejabat pemerintah Hindia Belanda
yang membagi sejarah kebangkitan rakyat Hindia untuk mengebiri peran
politik rakyat Hindia. Menurut Takashi Shiraishi (1997), klasifikasi Blumberg
cenderung menyamaratakan kebangkitan situasi Hindia Belanda sambil
menutup mata terhadap warna-warninya pilihan gerakan. Jika klasifikasi
itu dipergunakan, lanjut Shiraishi, maka bentuk dan akar sejarah generasi
sebelumnya akan tercerabut. Semuanya ada garis pemisah yang tegas.
Pada akhirnya, berbagai upaya persatuan oleh serikat buruh dianggap tidak
berguna dan tidak diperhitungkan. Bagaimana pun, kenyataan dan pilihan
ideologis rakyat Hindia tidak setegas garis pemisah Pemerintah Kolonial dan
kaum etisi Belanda.

Saya sendiri menangkap pesan kuat dari buku tersebut bahwa seluruh
organisasi buruh yang dibangun oleh rakyat Hindia pada era Belanda dan
Jepang dipastikan anti-Kolonial. Watak serikat buruh tidak segamblang itu.
Munculnya Persatuan Sarekat Sekerdja Indonesia (PSSI) pada awal 1930-
an merupakan jelmaan dari serikat buruh yang menghindari perjuangan
dan perspektif politik. PSSI mendeklarasikan diri sebagai serikat yang hanya
mengurus kenaikan upah dan syarat kerja untuk anggotanya. Salah satu
penggagas serikat ini, Soetomo, berkeyakinan tidak perlu memerdekakan diri
dari Belanda. Pandangan ini ternyata diamini oleh serikat-serikat buruh di
perusahaan Belanda. Namun, IT hanya sekilas menceritakan PSSI ini.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 81

Lepas dari komentar tersebut, buku ini memberikan gambaran bahwa
buruh, organisasi, dan politik bukan hal yang asing dalam ingatan sejarah
Indonesia. Gerakan buruh adalah elemen yang aktif dalam memperjuangkan
kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Adalah ironis, jika rezim
Orde Baru menganggap buruh menghambat pembangunan. Juga ironis, jika
rezim Reformasi menganggap bahwa kebangkitan gerakan buruh sebagai
penghambat pertumbuhan ekonomi.

Saat ini, serikat buruh mengemban tugas yang cukup berat. Di
berbagai daerah hak-hak dasar buruh digerogoti oleh kebijakan pasar kerja
fleksibel dan liberalisasi perdagangan. Hasilnya, upah riil terus menurun,
sistem kerja kontrak jangka pendek semakin luas dan kriminalisasi aktivis
serikat semakin meningkat. Namun, sebagaimana dikatakan Ben Anderson
(dalam Hadiz, 2005), serikat buruh dapat bangkit dan mengukur sejarah
kembali dengan menemukenali kemenangan-kemenangan yang telah ditoreh
serikat buruh dalam sejarah.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
82 |

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 83

DINAMIKA adalah analisis enam-
bulanan kondisi perburuhan di Indonesia
yang didasarkan pada kliping 9 media
massa nasional dan 11 media massa lokal
(Kompas, Sindo, Bisnis Indonesia, Media
Indonesia, Suara Pembaruan, Tempo,
Suara Merdeka, Metrot TV News.Com;
Equator, Fajar Online, Lampung Post,
Medan Bisnis, Swara Kita, Pikiran Rakyat,
Jawa Pos, Jurnal Bogor, Radar Banten,

Dinamika Solo Pos, Joglo Semar), buletin, majalah,
jurnal dan newsletter perburuhan yang
diterbitkan oleh serikat buruh maupun
non-governmen organisation (NGO). Juga,
dilengkapi dan diperkuat dengan temuan-
temuan lapangan dan laporan dari serikat.
Dinamika diharapkan dapat memotret dan
mendokumentasikan peristiwa-peristiwa
perburuhan. Analisis menyoroti dua aspek
dalam isu perburuhan, yaitu resistensi
buruh dan peluang pembangunan gerakan
buruh dalam upaya memahami kondisi
perburuhan untuk penguatan gerakan
buruh.

Dinamika Perburuhan Semester I-2011

Rangkuman berita perburuhan di sembilan media massa nasional dan
sebelas media massa lokal selama sepanjang Semester I-2011 antara lain
penurunan jumlah pengangguran pada Februari, yang dikatakan sebagai
hasil dari pergerakan transaksi perdagangan sekaligus pertanda membaiknya
perekonomian dalam negeri. Ke depan, angka penangguran diperkirakan akan
terus menurun dengan adanya realisasi dan pengembangan investasi dari
China, Korea, Amerika Serikat, dan India. Mengemuka pula berita pemutusan
hubungan kerja (PHK) yang diakibatkan pemilik perusahaan kabur, relokasi,
efisiensi dan lain-lain. Selain itu, informasi mengenai penangguhan upah
masih terjadi di beberapa daerah. Di samping itu, sejak Januari angka inflasi
terus meninggi. Sebagian pihak menyatakan bahwa inflasi diakibatkan oleh
situasi pasar yang tidak stabil dan terhambatnya pasokan. Berikut rinciannya.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
84 |

PHK dan Pengangguran

• Sepanjang Semester I-2011 diperkirakan terjadi Pemutusan Hubungan Ker-
ja (PHK) kepada 29.023 orang melalui 51 konflik. Lima sektor terbesar yang
melakukan PHK adalah TSK, RTMM, Perdagangan, Umum & Jasa, Transporta-
si dan Komunikasi, serta Perkayuan dan Kehutanan. Sementara orang dirumah-
kan dari konflik tersebut mencapai 16.307 orang dan yang diancam PHK sebesar
7.400 orang.
• Jumlah konflik yang muncul selama Semester I-2011 lebih rendah dari semester
II-2010 yang telah mencapai 56 konflik. Tetapi lebih tinggi ketimbang Semester
I-2010 yang mencapai 32 konflik. Jumlah korban pada Semester I-2011 PHK
lebih kecil dibanding Semester II-2010 yang mencapai 36.682 orang dan lebih
besar ketimbang Semester I-2010 yang mencapai korban 2.213 orang.
• Selama Semester I-2011 PHK terbesar dialami oleh sektor TSK dengan
mengorbankan 2.536 orang disusul oleh sektor RTMM (2.228 orang), Perka-
yuan dan Kehutanan (550 orang), Perdagangan, Umum dan Jasa (342 orang),
Logam Elektronik, Metal (300 orang), Asuransi dan Keuangan 50 orang, Kimia,
Energi dan Pertambangan (12 orang), Pendidikan 8 orang, Transportasi dan Ko-
munikasi 2 orang. Beberapa sektor seperti Listrik, Air dan Gas serta Pertanian
dan Perkebunan tidak ada informasi mengenai peristiwa PHK. Beberapa sektor,
Percetakan dan Penerbitan, Farmasi dan Kesehatan, dan Konstruksi tidak terin-
formasikan adanya PHK.
• Konflik maupun jumlah korban PHK selama Semester I-2011 diperkirakan lebih
besar dengan banyaknya modus PHK terselubung, seperti pemutihan dan pen-
siun dini. Selama Semester I-2011, pemecatan tidak hanya berlaku di industri
besar. Industri kecil dan menengah dengan modal mandiri untuk pasar lokal
melakukan pengurangan tenaga kerja beriringan dengan naiknya bahan baku dan
maraknya barang jadi asal negara-negara ASEAN dan China.
• Korban PHK rata-rata adalah buruh tetap. Dari 51 konflik, PHK dilakukan de-
ngan alasan reorganisasi produksi, seperti efisiensi dan restrukturisasi; menim-
pakan kesalahan kepada buruh, seperti buruh mencemarkan nama baik perusa-
haan, unjuk rasa. PHK dilakukan pula untuk merespons kebijakan pemerintah,
seperti kenaikan tarif dasar listrik, kebijakan impor mesin yang sulit atau terlalu
mudah mengimpor barang jadi. Ada pula yang tidak beralasan, seperti perusa-
haan tutup tiba-tiba dan PHK sepihak.

Di tengah ancaman situasi krisis keuangan global dan menurunnya daya
beli pasar internasional, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai rata-
rata 6 persen naik dua digit sejak akhir 2008, namun cenderung stagnan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 85

dari periode 2009. Sejumlah kalangan mengklaim bahwa terjadi pergerakan
ekonomi yang positif yang ditandai oleh meningkatnya arus modal dan
transaksi ekspor-impor. Total nilai ekspor mencapai 98,64 miliar dolar AS atau
meningkat 36,02 persen, nilai impor meningkat 32,82 persen atau sebesar
83,59 miliar dolar AS dan jumlah investasi mencapai 20,4 juta dolar AS.
Di sudut lain, perwakilan pengusaha, Apindo, mengeluh dengan mahalnya
bahan baku dan sulitnya impor barang modal. Menurut mereka, hal tersebut
semakin memperlemah kemampuan industri dalam negeri untuk bersaing
baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Berkenaan dengan
maraknya barang impor muncul sentimen-sentimen nasionalisme ekonomi
baik yang diungkapkan pimpinan partai politik maupun sejumlah pejabat
pemerintah. Namun, pemegang kebijakan jelas, tidak akan merenegosiasi
apalagi membatalkan kerjasama ekonomi di kawasan ASEAN, khususnya
dengan China. Sentimen itu kemudian berubah menjadi tuntutan agar
Negara-negara ASEAN dan China tidak hanya mengekspor barang jadi, juga
mengekspor barang jadi.

Badan Pusat Statistik menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia
berdampak positif terhadap situasi ketenagakerjaan. Angkatan kerja
bertambah sebanyak 3,4 juta orang dari Februari 2010 ke Februari 2011 dari
116 juta orang menjadi 194 juta orang. Pengangguran menurun dari 8,59
juta orang menjadi 8,12 juta dari total angkatan kerja. Sementara penduduk
yang bekerja bertambah sekitar 3,9 juta orang dari 107,4 juta orang menjadi
111,3 juta orang. Kini, pengangguran di Indonesia mencapai 7 persen dari
total angkatan kerja. Angka tersebut diperkirakan akan terus menurun dengan
adanya realisasi investasi dari berbagai negara.

Salah satu rencana mendorong kesempatan kerja adalah mendorong
kesempatan kerja di industri manufaktur. Industri manufaktur diperkirakan
akan menyerap tenaga kerja hingga 3,2 juta orang dengan sumbangan pada
pertumbuhan ekonomi rata-rata dua persen. Dalam lima tahun ke depan,
industri manufaktur diperkirakan akan menyerap dana Rp730 triliun atau
sekitar 80 miliar dolar AS. Selain itu, target ekspor industri tekstil dan produk
teksil ditingkatkan 10,4 persen dari tahun lalu atau menjadi 11,8 miliar dolar
AS pada 2011, alas kaki 20 persen, kakao, kopi 5 persen, automotif 10
persen, dan crude palm oil (CPO) 16 persen. Di samping itu, kawasan industri
akan terus digenjot hingga 20 persen dari 58 kawasan dengan total area
mencapai 29 ribu hektare tersebar di seluruh Indonesia dengan total realisasi
pembangunan mencapai 11.087 hektare. Jawa Barat memiliki kawasan
industri terluas dengan total area 11.929 hektare, menyusul Kepulauan
Riau 4.910 ribu hektare, Banten 3.140 ribu hektare, Sulawesi Tengah 1.500

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
86 |

hektare, Jawa Timur 1.415 hektare, Jawa Tengah 1.366 hektare, Sumatera
Utara 1.264 hektare, DKI Jakarta 1.089, dan sisanya di daerah lain.

Strategi lain untuk meningkatkan kesempatan kerja adalah pembangunan
infrastruktur yang telah disahkan dalam Master Percepatan Pembanguan
Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada April 2011. Dengan total invetasi Rp 3.775.9
triliun yang diproyeksikan dapat menyerap 9,7 tenaga kerja. MP3EI berlaku
dari 2011-2025 untuk menghubungkan kantong-kantong kawasan ekonomi
khusus di enam koridor, yakni khususnya di Sumatera, Jawa, Sulawesi,
Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Kepulauan Maluku. Biaya
infrastruktur proyek ini mencapai Rp 755 triliun, yang akan dikontribusikan
dari pemerintah sebesar Rp544 triliun dan Rp211 triliun dari investasi asing.

Selain mendorong ekspor industri manufaktur dan pembangunan
infrastruktur, strategi yang tampak untuk menyediakan kesempatan kerja
adalah memperlebar kran untuk investasi langsung. Negara dan perusahaan
yang telah merealisasi investasinya di antaranya: realisasi investasi enam puluh
pengusaha garmen asal China merelokasi industrinya ke Karawang Jawa Barat
dengan menempati sekitar 200 hektare lahan; realisasi General Motor (GM)
yang akan membangun perakitan mobil di Bekasi pada 2013; pengembangan
perusahaan benang asal India PT Indorama Venture Ltd. Perusahaan benang
yang telah mengakuisisi PT SK Keris ini, akan merambah ke bisnis minyak
dan gas dan gasifikasi batu bara. PT Weda Bay Nikel (WBN) mengalokasikan
investasi sebesar 4,5 miliar dollar AS untuk eksploitasi tambang nikel dan
pembangunan pabrik pengolahannya di Kabupaten Halmahera Tengah
(Halteng). Perusahaan yang 90 persen sahamnya dikuasai oleh Eramet,
perusahan tambang asal Perancis itu, akan menggunakan 54,700 hektar. Dari
Korea Pohan Steel Corp (Posco) menjalin kerjasama dengan PT Krakatau
Steel.

Program perluasan kesempatan kerja, sebagaimana tampak di atas,
bertumpu pada investasi asing. Selain itu, kebijakan ketenagakerjaan dilakukan
melalui pasar kerja fleksibel. Kebijakan pasar kerja fleksibel tidak menyerap
tenaga kerja, tapi merotasi dan memangkas kesempatan kerja. Pasar kerja
fleksibel telah melahirkan beberapa ciri, di antaranya meningkatnya pekerja
asing untuk tenaga ahli dan jajaran manajemen, bertambahnya agen tenaga
kerja legal dan ilegal, serta sistem kerja kontrak jangka pendek, maraknya
relokasi pabrik dan PHK sepihak.

Tren pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor-sektor industri
padat karya, semisal Tekstil Sandang dan Kulit (TSK) dan Rokok, Tembakau,

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 87

Makanan dan Minuman (RTMM) lebih besar dibanding sektor percetakan dan
penerbitan, konstruksi, logam, elektronik dan mesin serta lainnya.

Dari seluruh sektor, PHK menimpa kepada sekitar 29.023 orang
melalui 51 konflik perburuhan. Lima terbesar yang mengalami PHK adalah
TSK (Tekstil, Sandang dan Kulit), Rokok, Tembakau, Makanan, dan Minuman
(RTMM), Perdagangan, Umum & Jasa, Transportasi dan Komunikasi, serta
Perkayuan dan Kehutanan. Selain PHK, ada pula buruh yang dirumahkan
sebesar 16.307 orang dan yang diancam PHK sebanyak 7.400 orang. Semester
I-2011 beberapa sektor tidak ditemukan informasi adanya PHK, namun
sangat dimungkinkan terjadi PHK terselubung, semisal program pensiun dini
atau pemutihan. Modus-modus itu pula yang menguatkan angka PHK lebih
besar daripada yang terekam media massa.

Konflik-konflik perburuhan yang muncul dan mendasari untuk
melakukan PHK tidak jauh berbeda dengan Semester I-2010 dan II-2010.
Di antara alasan tersebut adalah; perusahaan melakukan efisiensi dan
restrukturisasi, tutup, PHK sepihak, biaya operasional perusahaan yang naik,
perusahaan yang kesulitan bahan baku, peremajaan tenaga kerja, kenaikan
tarif dasar listrik, karena gempuran produk impor, instansi pemerintah yang
kekurangan anggaran dari APBD, relokasi usaha, pergantian kepemilikan,
perusahaan ditinggal kabur pemiliknya, buruh dituduh melanggar peraturan
perusahaan, buruh dituduh membuat keributan di dalam perusahaan, buruh
dituduh mencemarkan nama baik perusahaan, buruh yang dianggap habis

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
88 |

masa kontraknya, buruh dianggap berbohong dan merugikan perusahaan,
buruh melakukan perkelahian, dan karena unjuk rasa.

Ada dua konteks alasan-alasan di atas muncul. Pertama, sementara
biaya produksi terus meningkat, industri dalam negeri kewalahan menghadapi
barang-barang impor asal negeri-negeri lain, khususnya China. Pada semester
ini, negara pengimpor barang terbesar dipegang China dengan nilai 12,05
miliar dolar AS, Jepang 8,66 miliar dolar AS, dan Thailand 5,19 miliar dolar
AS. Dari Negara Eropa dan Amerika pun memangsa pasar Indonesia. Industri
tekstil, sandang dan kulit sangat bergantung pada impor bahan baku. Serat
rayon masih harus impor dari Afrika Selatan, Brasil, dan Kanada. Begitu pula
dengan poliester sebagai turunan dari minyak bumi.

Pada 2010 saja, menurut Ditjen Bea Cukai, impor produk China
meningkat 45,9 persen. Impor mainan China mencapai 73 persen total impor
mainan. Setelah itu furnitur dengan pangsa 54 persen, elektronika 34 persen,
logam 18 persen, permesinan 22 persen, dan tekstil produk tekstil (TPT)
34 persen. Sementara itu, survei Kementerian Perindustrian (Kemenperin)
menyimpulkan, pemberlakuan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)
telah menurunkan nilai penjualan keuntungan hingga pengurangan tenaga
kerja perusahaan dalam negeri. Barang asal China relatif murah karena karena
80 persen bahan bakunya diandalkan di dalam negeri sendiri. Sementara
Indonesia harus mengimpor mesin, yang dikenai bea masuk sebesar 5 persen
dan 95 persen bahan baku kapas harus mengimpor.

Bagi industri kecil semisal ratusan pengusaha tembaga gulung
di Kabupaten Tegal Jawa Tengah dan pengrajin asal Jepara liberalisasi
perdagangan tidak menguntungkan. Bahkan, di wilayah Nagari yang
didominasi usaha pandai besi, kuningan, dan konfeksi terjadi penurunan
jumlah pandai besi hingga 50 persen, yang diiringi penurun tenaga kerja di
setiap unit usaha.

Kerugian juga dialami perusahaan besar. Namun, tingkat kerugian ini
harus diperiksa ulang. PHK yang dilakukan diindustri besar dengan orientasi
ekspor kerap memanfaatkan situasi ini untuk memeroleh kemudahan
mengimpor barang modal dan ekspor barang jadi. Dalam konteks tersebut
PHK dilakukan untuk menyesuaikan jumlah dan kualitas tenaga kerja dengan
kebutuhan pasar, yakni perubahan status kerja dari buruh tetap menjadi
tidak tetap. Ciri yang paling menonjol dari upaya tersebut adalah pemecatan
yang dilakukan tanpa tanpa mengindahkan keberadaan serikat. Contoh-
contoh untuk skema ini di antaranya pemecatan terhadap 42 orang buruh

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 89

di PT Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Banjar Giri Dharma, Desa Ungasan,
Jimbaran, Badung, Bali dengan alasan peremajaan tenaga kerja; pemecatan
terhadap 12 orang buruh di PT Styron Indonesia di Cilegon dengan alasan
restrukturisasi perusahaan dan efisiensi; terlunta-luntanya 1063 orang buruh
PT Gimmil Industrial Bintan Kabupaten Bintan, karena perusahaan secara
tiba-tiba tidak beroperasi; terkatung-katungnya ratusan buruh di PT Bina
Usaha Cipta Prima Cibinong Bogor karena perusahaan melakukan relokasi
ke Bandung Jawa Barat; dua orang pengurus serikat dipecat dan 60 orang
lainnya diberikan Surat Peringatan oleh manajemen PT Merpati Nusantara
Airlines dengan alasan mencemarkan nama baik perusahaan; dan seluruh
buruh di di PT Surya Sindoro Sumbing Wood Industry (SSSWI) terlunta-lunta
akibat pemilik perusahaan kabur.

Secara umum, keluhan utama pengusaha untuk melakukan PHK
adalah mahalnya bahan baku dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak
pada industri. Namun, informasi dari BPS memperlihatkan bahwa transaksi
ekspor dan impor Indonesia, pada Semester I-2011 melejit. Nilai ekspor
Indonesia sebesar 36,02 persen atau 98,64 miliar dolar AS, nilai impor
32,82 persen yang mencapai 83,59 miliar dolar AS. Perusahaan-perusahaan
melakukan impor adalah bahan baku sebesar 75,23 persen, barang modal
17,18 persen, dan barang konsumsi 7,59 persen. Dari jumlah tersebut impor
barang modal merupakan rekor tertinggi, yang terdiri dari impor mesin
peralatan mekanik sebesar 11,13 miliar dolar AS dan mesin peralatan listrik
sebesar 8,56 miliar dolar AS. Selain itu, Bank Indonesia pun menguatkan
bahwa sektor-sektor padat tenaga kerja menerima suntikan dana yang cukup
besar selama Semester I-2011. Industri-industri yang memeroleh suntikan
dana di antaranya: Industri makanan sebesar Rp4,6 triliun, tanaman pangan
dan perkebunan Rp4,5 triliun, transportasi, gudang dan telekomunikasi Rp4,3
triliun, industri non logam mineral Rp3,5 triliun, dan industri logam dasar,
barang logam, mesin dan elektronika Rp3,2 triliun. Untuk PMA, realisasi
investasi sebesar 1,5 miliar dolar AS di pertambangan, industri kimia dasar,
barang kimia, dan farmasi 0,6 miliar dolar AS, industri logam dasar, barang
logam, mesin dan elektronika 0,5 miliar dolar AS, transportasi, gudang dan
telekomunikasi 0,5 miliar dolar AS, serta perdagangan dan reparasi adalah
0,4 miliar dolar AS.

Kita menduga bahwa alasan-alasan melemahnya daya saing merupakan
akal-akalan. Di balik alasan tersebut adalah upaya menekan upah, mengurangi
perlindungan buruh dan membatasi kebebasan berserikat. Hal tersebut
diperlihatkan dengan mekanisme PHK yang dilakukan tanpa dirundingkan
dengan serikat, semena-mena, bahkan dengan menurunkan nilai pesangon.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
90 |

Di saat proses PHK, pengusaha pun tidak segan menghentikan pembayaran
upah. Bahkan, ketika terjadi perundingan mediasi, pengusaha pun kerap
tidak memenuhi panggilan dinas tenaga kerja. Kasus Sri Ratu Pekalongan
Jateng dan PT Bumi Menara Internusa Jawa Timur, memperlihatkan arogansi
pengusaha, dengan tidak menghadiri panggilan mediasi Disnakertrans. Kasus
menolak pemanggilan atau tidak hadir saat mediasi semakin meningkat sejak
2006. Anehnya, kejadian yang telah berlaku umum ini seolah dibiarkan oleh
pejabat yang berwenang.

Aturan ketenagakerjaan menyebutkan, PHK adalah keadaan yang
harus dihindari dalam hubungan industrial. Jika PHK terjadi maka pengusaha
wajib mengeluarkan sejumlah biaya untuk pesangon, penggantian hak dan
ganti rugi. Selain itu, PHK pun harus melalui putusan pengadilan, kecuali ada
situasi lain seperti buruh yang mengundurkan diri. Bagi pengusaha, aturan
ini mahal dan sulit. Diam-diam pengusaha melakukan perlawanan terhadap
aturan tersebut. Pola-pola untuk menelikung aturan tersebut di antaranya
melakukan PHK dengan alasan kerugian usaha atau mengeluarkan program
pengunduran diri. Pola lainnya, jika buruh menolak PHK dan memrosesnya
ke pengadilan hubungan industrial, upahnya tidak dibayar. Temuan lapangan
memperlihatkan bahwa PHK terjadi beriringan dengan merekrut tenaga kerja
baru dengan status kontrak. Perekrutan dilakukan secara langsung maupun
melalui agen penyalur.

Mengapa ada kesan penurunan pengangguran? Hal ini bisa dilihati
dari dua sisi. 1) BPS menyebutkan pengangguran mengalami penurunan dari
8,59 juta orang menjadi 8,12 juta orang. Data BPS menyebutkan bahwa dari
total orang yang bekerja, pekerja paruh waktu bertambah dari 30,54 persen
menjadi 30,72 persen. Sementara pekerja penuh waktu waktu berkurang dari
69,46 persen menjadi 69,28 persen. Menurut Ekonom Indef Ahmad Erani
Yustika, BPS menjumlah antara pekerja formal dan informal. Padahal sektor
informal bukan bagian dari program pemerintah. Secara tidak langsung
Organisasi Buruh Internasional (ILO) pun mengakui bahwa serapan tenaga
kerja di Indonesia belum pulih sejak 1998, bahkan cenderung melahirkan
tenaga kerja informal.
Setidaknya, ada dua tipe pekerjaan sektor informal yang dilahirkan
dari kebijakan pasar kerja fleksibel. Pertama, pekerja informal yang bekerja
di sektor informal. Hal ini semakin luas ketika diperbolehkan outsourcing
produksi dari perusahaan-perusahaan skala besar ke industri rumahan.
Industri rumahan telah mendorong buruh informal berupa buruh-rumahan.
Selain itu, informalisasi pun disebabkan tegerusnya hak hidup masyarakat
oleh kapital besar. Hal ini diperlihatkan dengan munculnya sektor ekonomi

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 91

informal yang tumbuh di wilayah-wilayah perkotaan, seperti pedagangan
kaki lima maupun asongan, dan maraknya tukang ojek di kawasan-kawasan
industri. Sektor informal di perkotaan marjinal dari perlindungan negara dan
kerap dikriminalisasi.

Kedua, adalah sektor informal di sektor formal. Bentuk utama dari
jenis pekerjaan ini adalah buruh kontrak, outsourcing tenaga kerja, buruh
harian lepas dan buruh borongan yang semakin marak di industri besar
bermodal asing maupun dalam negeri. Jenis buruh yang terakhir ini dapat
dengan mudah ditemui pula di perkebunan besar dan pertanian besar.

Angka penyerapan tenaga kerja pun tidak memperlihatkan
perkembangan pengangguran di tingkat daerah. Di Provinsi Papua
Barat pengangguran bertambah dari 26.341 jiwa menjadi 30.422 jiwa,
sedangkan jumlah pekerja informal mencapai 64,9 persen dari total orang
yang bekerja. Di Nusa Tenggara Timur angka pengangguran mencapai 59.700
orang, dari 2.234.887 orang total angkatan kerja. Di Kabupaten Purbalingga
Propinsi Jawa Tengah pengangguran terbuka mencapai 16.653 angkatan
kerja 435.958. Di Banten Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami
kenaikan sebanyak 18.466 orang, dari total 697.083 orang angkatan kerja.

Sebagaimana kita lihat bahwa strategi untuk mengurangi
pengangguran banyak bergantung pada kehadiran investor asing maupun
pinjaman-pinjaman dari lembaga donor internasional. Namun, pengalaman
selama ini memperlihatkan bahwa kawasan-kawasan yang diperuntukkan
bagi pembangunan industri menuai masalah. Persoalan pembukaan
kawasan industri tidak hanya berurusan dengan pembebasan tanah, tingkat
penghidupan warga sekitar kawasan. Kawasan-kawasan ekonomi khusus
yang dijanjikan untuk menyerap tenaga kerja, praktiknya mempersulit akses
terhadap lapangan kerja dan cenderung diskriminatif.

Di Kawasan Ekonomi Khusus Bintan, tenaga kerja asing menikmati
berbagai fasilitas yang lebih baik daripada tenaga kerja lokal. Kasus diskriminasi
di PT Drydock 2010 memperlihatkan memperlihatkan tingkat diskriminasi
antara buruh lokal dengan tenaga kerja asing. Informasi yang dikumpulkan
LIPS dari serikat buruh di Batam mengatakan, diskriminasi pun dilakukan
terhadap tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja asal Jakarta. Sementara di
wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) provinsi Maluku dan Papua, hampir
70 persen kesempatan kerja di sektor perikanan dikuasai pelaut asing dari
Thailand, Burma dan Kamboja.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
92 |

Di kawasan-kawasan ekonomi khusus praktik tenaga kerja fleksibel
beriringan dengan meningkatkan realisasi investasi. Pada Semester I-2011,
sebagaimana data yang diekspos Badan Pengusahaan Kawasan Batam (BP
Batam), sebanyak 47 PMA yang telah disetujui aplikasinya dengan total nilai
investasi sebesar 43 juta dolar AS dan total perluasan PMA sebesar 38 juta
dolar AS. Negara-negara yang telah menanamkan investasinya di Batam
adalah Singapura, India, Malaysia, Inggris, Italia, Australia, Austria, British
Virgin Island, Hongkong, Mauritius, Taiwan, RR Cina dan Swiss.

Sulitnya mengakses kesempatan kerja diperparah dengan maraknya
percaloan tenaga kerja yang dilegalkan melalui aturan penyedia jasa tenaga
kerja. Penyedia jasa tenaga kerja di berbagai kawasan industri baik yang
legal maupun ilegal terus bertambah. Selain tidak memiliki tanggung jawab
terhadap tenaga kerja yang disalurkannya, praktik penyedia jasa tenaga kerja
laiknya berjualan kesempatan kerja. Di Kabupaten Subang, percaloan semakin
marak di sekitar pabrik garmen dengan memungut uang kepada calon tenaga
kerja sebesar Rp 400 ribu per orang untuk perempuan dan Rp 2 juta untuk
lelaki. Begitu pula di Kabupaten Sukabumi, percaloan tenaga kerja semakin
marak dilakukan. Di Bekasi agen tenaga kerja ilegal mencapai 40 persen dari
total agen tenaga kerja. Di Cilegon, seperti diakui oleh diakui oleh Kepala Dinas
Tenaga Kerja Cilegon, banyak perusahaan labour supply tak mendaftarkan
izin operasional ke instansinya, juga tak mendaftarkan dokumen perjanjian
kerja antara perusahaan industri dan labour supply tersebut. Agen pengerah
tenaga kerja ini hanya menyalurkan tanpa memastikan pemenuhan hak-hak
dasar buruh. Bahkan tersiar informasi ada sejumlah perusahaan outsourcing
diduga hanya menjual formulir saja tanpa ada itikad untuk menyalurkan
tenaga kerja. Besaran formulir yang dikenakan bagi calon tenaga kerja itu
adalah Rp 20.000-Rp 50.000. Di antara persoalan membiaknya agen tenaga
kerja yang disertai pengurangan hak-hak calon tenaga kerja maupun tenaga
kerja, karena tidak ada sanksi hukum dan lemahnya pengawasan.

Pengalaman selama ini memperlihatkan bahwa kawasan-kawasan
yang dibangun terbengkalai karena menunggu investasi asing. Di Kepulauan
Riau misalnya kawasan industri seluas 4.910 hektare hanya berhasil dibangun
industri seluas 728 hektare dan Sumatera Utara yang memiliki kawasan 1.264
hektare, namun industri yang terbangun hanya 522 hektare. Nasib serupa
adalah kawasan ekonomi terpadu (Kapet). Realisasi investasi swasta di 14
Kapet atau Kawasan Ekonomi Terpadu pada periode 2005-2010 hanya Rp
27,5 triliun atau 3,41 persen dari total investasi nasional. Hanya tiga Kapet
yang sukses mendatangkan investasi, yakni Banda Aceh Rp 22,3 triliun, Batu
Licin-Kalimantan Selatan Rp 3,07 triliun, dan Bitung-Manado Rp 3,46 triliun.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 93

Sementara 11 KAPET lainnya terbengkalai. Padalah, pemerintah sudah
memberikan dukungan fiskal guna merangsang minat investor di Kapet.

2) Menurunnya angka pengangguran hanya di atas kertas berdasarkan
pejumlahan realisasi investasi asing. Pertumbuhan ekonomi Indonesia
mencapai 6 persen. jika dibandingkan periode akhir 2008 angka tersebut
memang naik, namun stagnan dari periode 2009 hingga 2010. Selain itu,
arus masuk investasi asing beriringan dengan melesunya transaksi keuangan
di pasar internasional. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF) pasar
internasional pertumbuhan ekonomi global semakin melambat bahkan sulit
diprediksi. Pertumbuhan ekonomi dunia turun menjadi 4,4 persen pada 2011
dari 5,0 persen pada 2010. Bahkan, menurut IMF, angka pengangguran
di seluruh dunia terus naik hingga mencapai 205 juta orang sejak 2007.
Ketidakpastian ekonomi global menyebabkan pelarian modal besar-besara
ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Menurut Bank Indonesia arus modal
mencapai 20,4 juta dolar AS, yang terdiri dari portofolio sebesar 51 persen
dan hanya 49 persen investasi langsung (FDI). Selain melarikan diri dari
negara asalnya, investasi-investasi yang berhamburan ke Indonesia hanya
mencari untung dengan tingkat suku bunga yang di angka 6,75 persen sejak
akhir Desember 2010. Suku bunga tersebut menguntungkan bagi investasi
asing tapi menyulitkan bagi pengusaha dalam negeri.

Dilihat dari sisi angkatan dan penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan
ekonomi tidak menujukkan kualitas perekonomian. Pertumbuhan tersebut,
sebagaimana dikatakan Revrisond Baswir, ditopang oleh sektor yang tidak
produktif sementara sektor riil terus menurun. Sektor pertanian menurun
360.000 orang atau 0,84 persen dan sektor transportasi menurun sebesar
240.000 orang atau 4,12 persen. Di Jawa Barat, sektor yang paling banyak
menyerap tenaga kerja adalah perdagangan sekitar 27,76 persen, sektor
perdagangan di Banten mencapai 24,6 persen. Meningkatnya perdagangan
dan jasa diperlihatkan pula oleh menjamurnya pendirian Mall dan toko-toko
francise alfamart dan indomart.

Kesimpulannya, tingkat pertumbuhan ekonomi harus diwaspadai
karena tidak memberikan manfaat bagi penyerapan tenaga kerja dan
pergerakan ekonomi riil. Selama ini, realisasi investasi pun tidak benar-
benar mendirikan pabrik baru. Akuisi, merger dan memanfaatkan privatisasi
merupakan model-model yang dimanfaatkan untuk merealisir investasi.
Seperti dilaporkan harian Kompas 23 Mei 2011, liberalisasi perdagangan
dan pasar telah memperluas dominasi kepemilikan asing di sektor-sektor
ekonomi strategis. Dominasi asing semakin kuat pada sektor-sektor strategis,

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
94 |

seperti keuangan, energi dan sumber daya mineral, telekomunikasi, serta
perkebunan. Dari total 121 bank umum, sekitar 47 bank dimiliki asing dengan
penguasaan aset mencapai 50,6 persen dari seluruh aset yang tersedia.
Dari 45 perusahaan asuransi jiwa yang beroperasi di Indonesia, tak sampai
setengahnya yang murni milik Indonesia. Total kepemilikan investor asing 60-
70 persen dari semua saham perusahaan yang dicatatkan dan diperdagangkan
di bursa efek. Pada badan usaha milik negara (BUMN) pun demikian. Dari
semua BUMN yang telah diprivatisasi, kepemilikan asing sudah mencapai 60
persen. Porsi operator migas nasional hanya sekitar 25 persen, selebihnya 75
persen dikuasai pihak asing.

Ancaman Kebebasan Berserikat

Undang-undang ketenagakerjaan menyatakan, pengusaha,
pemerintah, serikat maupun buruh harus berupaya agar tidak terjadi PHK.
Karenanya, PHK harus dilakukan melalui prosedur yang jelas. Selain berdampak
negatif terhadap keadaan sosial dan ekonomi, PHK semakin menurunkan
daya daya tawar buruh dan serikat buruh. Rupanya, ada upaya melakukan
PHK dengan melabrak aturan, seperti hak untuk berunding dan hak mogok.
Penelitian Solidarity Centre (2010) menemukan bahwa hak berunding dan
hak mogok kerja dihadapkan dengan tindakan balasan berupa PHK dan
kriminalisasi terhadap aktivis serikat. Ancaman terhadap pemberangusan
hak berserikat tidak hanya di perusahaan swasta. Di perusahaan negara
pun, pembatasan hak mogok dan berunding dilakukan dengan modus
yang sama. Contoh-contoh kasus pelanggaran kebebasan berserikat, di
antaranya; pemecatan tiba-tiba terhadap dua belas pengurus serikat dengan
alasan restrukturisasi dan efisiensi di PT Styron Indonesia Cilegon Banten;
penutupan tiba-tiba perusahaan PT Gimmil Bintan; pemecatan terhadap
pengurus dengan alasan mencemarkan nama baik di PT Merpati Nusantara
Airlines.

Kendati jumlah serikat buruh terus tumbuh, kebebasan menjalankan
aktivitas serikat terus diganggu dengan kebijakan yang tidak menghormati
hak-hak buruh. Menurut data Kemenakertrans, saat ini ada empat konfederasi,
90 federasi nasional, 54 federasi nonkonfederasi, 437 serikat tingkat tingkat
pabrik dan 11.852 serikat pabrik yang berdiri sendiri. Namun, pembolehan
perekrutan tenaga kerja kontrak jangka pendek dari agen tenaga kerja maupun
secara langsung perlahan-lahan mematikan makna perundingan kolektif dan
keanggotaan serikat di tingkat pabrik. Penelitian Pusat Analisis Sosial-Akatiga
(2010) menyatakan bahwa hampir seluruh buruh kontrak dan outsourcing
secara langsung dan tidak langsung dilarang untuk berorganisasi. Rendahnya

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 95

minta berorganisasi, salah satunya diakibatkan kebijakan perburuhan yang
mempersempit bahkan meneror buruh untuk terlibat di dalam kegiatan
serikat. Di Kabupaten Semarang, dari 820 perusahaan hanya sekitar 25 saja
yang memiliki serikat buruh.

Selain ancaman PHK, mutasi dan kriminalisasi, ada pula tindakan-
tindakan perusahaan yang membentuk serikat “kuning”. Dari informasi yang
dikumpulkan, ada beberapa beberapa tipe pembentukan serikat ini. Pertama,
menaklukan kegiatan serikat supaya hanya memihak kebijakan perusahaan.
Kedua, mendirikan serikat tandingan. Ketiga, mendirikan serikat hanya untuk
menghindari pelanggaran hukum dan memenuhi etika bisnis antarnegara.
Karena tujuannya pragmatis, ketiganya merugikan buruh. Di Bogor Jawa
Barat, manajemen mendorong pembentukan serikat “mandiri” setelah
mem-PHK seluruh anggota dan pengurus serikat. Contoh-contoh pendirian
serikat kuning ini terus berkembang beriringan dengan meluasnya PHK dan
bangkitnya gerakan buruh.

Upah dan Pemiskinan

Melemahnya daya saing industri nasional merupakan salah satu
alasan yang muncul menjelang penetapan dan pelaksanaan upah minimum
2011. Upah minimum 2011 ditetapkan rata-rata naik sekira 8,69 persen, lebih
rendah dari kenaikan upah minimum 2009 dan 2010 yang berkisar 10 persen.
Setelah upah ditetapkan, ternyata upaya menekan upah terus berlangsung,
bahkan muncul pula ancaman pemecatan. Salah satu upaya menekan
kenaikan upah adalah penangguhan upah. Kendati pemerintah telah bersusah
payah menekan inflasi pada kisaran 5,54 persen dan mengendalikan rupiah
pada angka Rp 8.500 per dolar AS, daya beli upah diperkirakan tidak akan
mampu mencukupi kebutuhan hidupnya secara layak dan manusiawi, bahkan
bagi buruh lajang sekalipun.

Dari 33 provinsi, kenaikan UMP tertinggi di Papua sebesar 23,45 persen
atau naik sebesar 266.500 dari 1.136.500 menjadi Rp 1.403.000. Kenaikan
terendah di Jawa Tengah, hanya 2,27 persen atau Rp 15.000 dari Rp 660.000
menjadi Rp 675.000. Secara umum, upah yang paling tinggi adalah Papua
Barat Rp 1.410.000 dan yang paling rendah adalah Jawa Tengah Rp 675.000.

Namun, dari seluruh penetapan upah minimum provinsi (UMP)
2011 hanya delapan provinsi yang nilai upah minimumnya lebih tinggi dari
kebutuhan hidup layak (KHL). Kedelapan provinsi itu adalah Sumatera Utara,

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
96 |

Jambi, Bengkulu, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan (lihat tabel).

Tabel UMP 2010
Provinsi               UMP (Rp)   KHL (Rp)   
Sulawesi Utara     1.050.000 935.000 
Sumatera Utara 1.350.000 966.000
Kalimantan Selatan 1.126.000 1.053.379
Kalimantan Tengah 1.134.580 1.095.000
Sulawesi Selatan     1.100.000 1.083.000
Bengkulu 815.000 808.031
D.I. Yogyakarta      808.000 802.335  
Jambi 1.028.000 1.027.791
Pusat Data dan Informasi LIPS

Kesenjangan tampak jelas dalam nominal upah. Bahkan, sektor
perbankan dan asuransi menaikkan upah di atas 10 persen. Kesenjangan tidak
saja antarsektor, juga antardaerah. Provinsi Jawa Barat misalnya, dari 26 kota
dan kabupaten hanya 12 kota/kabupaten yang menetapkan upah di atas 100
persen KHL. Sisanya, 14 kota/kabupaten menetapkan upah di bawah KHL.

Upah minimum ditetapkan oleh pemerintah melalui rekomendasi
dewan pengupahan berdasar hasil survei pasar. Harga barang yang disurvei
telah ditentukan oleh pemerintah melalui 46 komponen kebutuhan. Di dewan
pengupahan tarik menarik dalam penentuan harga hingga menentukan
angka rekomendasi upah minimum kerap terjadi. Tidak sedikit angka upah
direkomendasikan dengan dua angka yang mewakili harapan buruh dan
keinginan pengusaha.

Bagi pengusaha, penentuan upah harus menyesuaikan dengan
kemampuan perusahaan. Argumennya, kenaikan upah yang terlalu tinggi
akan mengakibatkan kenaikan biaya produksi dan menurunkan daya saing,
yang pada akhirnya harus mengurangi jumlah tenaga kerja. Maraknya barang
impor pun merupakan alasan baru untuk menekan upah. Bagi perwakilan
buruh, kenaikan upah setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidup layak
dan manusiawi. Menurut informasi, perwakilan serikat buruh sering kali tidak
memiliki basis data ketika mengajukan kenaikan upah. Berbeda dengan
pengusaha yang memperlihatkan persoalan daya saing perusahaan, serikat
buruh hanya berpegang pada survei dewan pengupahan yang komponen-
komponennya telah ditentukan oleh pemerintah. Akibatnya, perdebatan dalam
menentukan upah hanya berkisar dalam tataran teknis semisal penentuan

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 97

harga sebuah barang. Barangkali, memang diperlukan upaya membuat dan
memperlihatkan survei independen yang dilakukan oleh serikat buruh. Di
Kabupaten Sukabumi, DKI Jakarta, dan Jawa Timur survei tandingan ternyata
relatif membantu perundingan perwakilan buruh di dewan pengupahan.

Di saat negosiasi upah yang tidak menemukan titik temu, perwakilan
pemerintah biasanya tampil dengan usulan angka yang “menengahi”.
Alasannya, kenaikan upah harus menguntungkan kedua belah pihak:
pengusaha dan buruh. Posisi seolah-olah netral ini patut dipertanyakan
karena secara langsung telah merugikan kepentingan buruh. Hal tersebut
didasarkan pada dua aspek. Pertama, dewan pengupahan hanya bertugas
merekomendasikan. Fungsi penetapan dan keputusan ada di tangan gubernur,
walikota dan bupati. Setelah upah ditentukan, bagi serikat buruh, tidak ada
kemungkinan untuk mengoreksi upah. Kemungkinan mengoreksi upah hanya
terbuka bagi pengusaha, yang diperbolehkan melakukan penangguhan upah.

Kedua, dewan pengupahan melakukan survei kebutuhan hidup layak
dengan berpegang pada 46 komponen hidup layak yang telah ditentukan
dalam Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2005. Komponen ini hanya
mengatur kebutuhan buruh lajang dengan masa kerja satu tahun. Ketetapan
upah minimum mengasumsikan bahwa buruh berkeluarga dan dengan masa
kerja di atas satu tahun, dapat merundingkan kenaikan upahnya di tingkat
pabrik. Padahal, semua pihak tahu, tidak semua perusahaan ada serikatnya
dan daya tawar buruh melemah karena tingginya angka pengangguran. Selain
itu, perundingan pun kerap ditakut-takuti dengan ancaman pemecatan. Sekali
lagi, hal ini pun mengandaikan bahwa serikat buruh atau buruh memiliki
bargaining position yang baik. Namun, hak untuk berunding terus dipreteli
karena lemahnya fungsi pengawasan. Dua alasan di atas, memperlihatkan
bahwa dewan pengupahan menyerupai alat untuk melegitimasi kebijakan
upah murah.

Tiap menjelang penetapan upah, tidak asing lagi akan terjadi
pengerahan kekuatan serikat buruh. Setelah itu, mobilisasi massa anggota
pun mulai berkurang. Sebaliknya, kekuatan kapital tidak berhenti menekan
upah. Selama Semester I 2011, ada tiga pola pengusaha untuk tidak
membayar upah sesuai peraturan. 1) menangguhkan upah. Alasannya,
perusahaan sedang mengalami kerugian atau sedang melakukan efisiensi.
Sejak Januari 2011 penangguhan upah terus bermunculan, di antaranya: 20
perusahaan di Jawa Timur, 60 perusahaan di Jawa Barat, 21 perusahaan
di Jawa Tengah, dan 2 perusahaan di Papua. Dengan mempertimbangkan
tingkat ketidakpatuhan pengusaha terhadap aturan, penangguhan upah

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
98 |

diperkirakan lebih besar. Di Medan Sumatera Utara pengusaha perkebunan
swasta membuat kesepakatan dengan perwakilan serikat buruh dengan
angka jauh di bawah upah minimum. Forum bipartit tersebut mengeluarkan
ketetapan upah Rp1.090.425 per orang per bulan, lebih rendah dari ketetapan
Gubernur Sumatera Utara sebesar Rp1.156.500. Akibatnya, perkebunan
di daerah Pantai Timur seperti Kabupaten Deliserdang, Asahan, Batubara,
Langkat, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Tobasamosir,
dan Karo, Mandailingnatal membayar upah di bawah angka UMK Sumut.

2) menggugat ketetapan upah ke pengadilan negeri. Di Tangerang
Selatan, ketetapan upah yang ditetapkan Rp 1.290.000 oleh Gubernur Banten
digugat oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menjadi Rp 1.250.000 di
PTUN Bandung. 3) membayar upah buruh di bawah ketentuan dengan tidak
mempertimbangkan masa kerja kerja dan tanggungan keluarga. Buruh yang
telah berkeluarga dan memiliki masa kerja di atas satu tahun dibayar dengan
upah minimum. Anehnya, pemberlakukan upah minimum seolah dibiarkan
oleh pemerintah. Di PD Pasar Citeureup Dua Kabupaten Bogor sekitar 22
orang petugas hanya honor Rp 500 ribu per bulan untuk anggota dan Rp
Rp 600 ribu per bulan untuk komandan regu. Ironisnya, mereka diwajibkan
menyetorkan uang retribusi keamanan sebesar Rp 1,5 juta setiap bulan.
Sementara buruh tani di di Kampung Citatah, Desa Mekarsari, Kecamatan
Pacet, Kabupaten Bandung menerima sebesar Rp 7.500 per hari dengan
memperoleh jatah makan sekali sehari.

Ada dua argumen yang menjadi penyebab turunnya daya beli upah.
Pertama, komponen untuk menetapkan upah tidak mengakomodir belanja
buruh secara manusiawi dan layak. Pada 2009 saja, di mana belum ada
kenaikan tarif dasar listrik hingga 18 persen, upah yang diterima buruh sektor
tekstil dan garmen hanya menutupi 62,4 persen dari total belanja buruh
(Akatiga, 2009). Kedua, kenaikan nominal upah diikuti dengan lonjakan
kenaikan harga. Menurut Van Vollenhoven Institute Universitas Leiden Henky
Widjaja, UMR pada 1998, rata-rata Rp 300 ribu – Rp 800 ribu per bulan. Kala
itu, harga beras sekitar Rp 1.500 per kilogram (kg), uang sekolah negeri di
bawah Rp 10.000 dan harga bensin di bawah Rp 2.000 per liter. Sekarang,
rata-rata upah minimum Rp 600 ribu – Rp 1 jutaan. Namun, harga beras
di atas Rp 4.000 per kg, uang sekolah negeri di atas Rp 10.000 dan harga
bensin menjadi Rp 4.500 per liter.

Selama Semester I-2011 harga barang-barang pokok terus menanjak.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi inflasi Juni (year on year)
mencapai 5,54 persen. Angka tersebut meleset dari perkiraan BPS maupun

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 99

Kementerian Keuangan,27 yang menetapkan inflasi sebesar 5,0 persen. Inflasi
di atas 5 persen itu lebih tinggi jika dibandingkan April 2010 yang hanya 3
persen. Pada semester ini, inflasi cenderung merata di 66 kota di Indonesia
dan hanya 1 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Ambon 3,76 persen
dengan IHK 133,69 dan terendah terjadi di Padang Sidempuan 0,04 persen
dengan IHK 126,17. Deflasi hanya terjadi di Tanjung Pinang 0,57 persen
dengan IHK 126,52.

Kelompok penyumbang inflasi dari 774 komoditas,28 di antaranya;
bahan makanan sebesar 1,27 persen, seperti beras, ayam ras, telur ayam,
ikan, rokok, dan emas perhiasan, makanan jadi, minuman, rokok dan
tembakau (0,41 persen), perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,30
persen), sandang (0,57 persen), kesehatan (0,41 persen), pendidikan,
rekreasi dan olahraga (0,18 persen), transpor, komunikasi dan jasa keuangan
(0,15 persen). Inflasi terjadi hampir di seluruh jenis komoditas. Inflasi inti
merupakan penyumbang terbesar, kemudian diikuti oleh volatilitas harga.
Selain itu, meski capping 18 persen tarif dasar listrik ditunda kenaikannya,
pelaku pasar tidak bisa menarik ekspektasi kenaikan harga barang. Di
samping itu, dari 774 jenis komoditas yang dikonsumsi masyarakat, hanya 19
jenis komoditas yang dapat dikendalikan pemerintah (administrative price).
Sisanya, harga ditentukan oleh pasar.

Dengan harapan dapat menekan inflasi, awal Januari lalu, sempat
muncul wacana menghapus komponen cabai merah dan cabai merah keriting
dari komoditas inflasi. Hal ini semakin memperlihatkan ketidakmampuan
negara untuk mengoreksi harga, yang telah diserahkan ke mekanisme pasar.
Misalnya, harga beras. Harga beras merupakan komponen inflasi inti yang
perubahan harganya ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Sedari
27
Berdasarkan Permenkeu No. 143/PMK.011/2010 inflasi ditetapkan sebesar 5 persen untuk
tahun 2010, 2011, dan 2012
28
Inflasi merupakan indikator kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Menurut BPS, sejumlah barang yang dikonsumsi oleh masyarakat bervariasi dan sangat ban-
yak. Total jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat adalah 774 komoditas, yang
terkecil terdapat di Kota Tarakan sebanyak 284 komoditas, sedangkan yang terbanyak ter-
dapat di Jakarta (441 komoditas). Dari 66 kota, rata-rata komoditas yang dikonsumsi menca-
pai 335 jenis. Dari sejumlah komoditas di atas, BPS membagi tiga faktor yang memengaruhi
inflasi. 1) Inflasi inti, yakni inflasi yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara
umum, seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar, dan keseimbangan permintaan dan penawaran,
seperti beras, bahan makanan, dan lain-lain. Jumlahnya 694 jenis barang dan jasa. 2) Inflasi
administrative price yang dapat diatur pemerintah, seperti listrik dan bahan bakar minyak. Jum-
lahnya ada 19 jenis barang. 3) Inflasi volatile goods, yakni inflasi barang/jasa yang bergejolak,
seperti ayam dan telur ayam. Terdiri dari 16 komoditas (Data Strategis BPS, 2010)

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
100 |

Mei 2011 harga beras mengalami kenaikan di 38 kabupaten/kota naik dari
Rp6.800 pada menjadi Rp7.100 per kilogram di Juni. Sebagian pendapat
menyatakan bahwa kenaikan tersebut karena keterlambatan pasokan dan
permainan spekulasi sebagai imbas krisis pangan di tingkat internasional.
Spekulasi harga dimainkan pula ketika Bulog menaikkan harga beli gabah
kering giling dari petani. Namun, kenaikan harga beras beriringan dengan
pencabutan subsidi pupuk dari Rp 18,4 triliun menjadi Rp 11,3 triliun.
Kenaikan ini telah mengerek biaya produksi kaum tani penggarap dan buruh
tani. Sementara hasil produksi kaum tani telah dikuasai tengkulak. Begitu pula
konsumsen khususnya buruh perkotaan, membeli beras dengan harga yang
telah berlipat. Dengan begitu, pengurangan dan pencabutan subsidi barang
dan jasa untuk kepentingan publik memiliki andil besar dalam mendongkrak
kenaikan harga barang dan jasa.

Pemegang kebijakan menganggap bahwa subsidi yang dilakukan
selama ini memboroskan anggaran dan tidak tepat sasaran. Karenanya, perlu
penghematan dan realokasi anggaran. Pemerintah berencana menghemat
APBN sebesar Rp 17 triliun per tahun. Semester I-2011 ini, total penghematan
anggaran negara mencapai Rp 15,4 triliun. Hasil penghematan tersebut
akan dialokasikan pembangunan dan infrastruktur dan bantuan langsung.
Sayangnya, politik anggaran defisit tidak menguntungkan masyarakat kecil
dan cenderung karitatif. Sekjen Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran
(Fitra) Yuna Farhan mengatakan, APBN 2011 lebih banyak dialokasikan untuk
belanja pegawai sebesar Rp18,1 triliun, belanja perjalanan Rp4,9 triliun serta
bayar bunga utang Rp9,6 trilun. Sebaliknya, belanja subsidi dan bantuan
sosial justru menurun sebesar Rp13,6 trilun dan Rp8 triliun. Di sisi lain,
belanja pegawai dan gaji PNS terus dinaikkan. Sejak 2005, gaji
untuk pegawai negara naik rata-rata 24,6 persen per tahun. Awal 2011,
gaji pegawai negeri sipil (PNS), TNI/Polri, dan pensiun naik sebesar 15 persen.

Besarnya belanja untuk pegawai tampak jelas dalam anggaran untuk
pendidikan. Menurut Pengamat Pendidikan Darmaningtyas, sejak 2009
anggaran pendidikan melonjak dari 9 persen menjadi 20 persen. Namun,
anggaran tersebut tidak dinikmati masyarakat kecil, karena sekitar 70 persen
dialokasikan untuk membiaya gaji pendidik dan pendidikan kedinasan. Ironisnya,
sisa dana sebesar 30 persen itu pun tersedot untuk membiayai pendidikan
tinggi. Menurutnya, pada 2011, total anggaran pendidikan mencapai Rp 266,9
triliun. Namun, biaya operasionalnya hanya Rp 59 triliun. Dari dana tersebut,
hanya Rp 9,2 triliun untuk pendidikan dasar dan menengah. Sementara untuk
pendidikan tinggi sebesar Rp 29,1 triliun (PTN). Padahal jumlah sekolah dasar
dan menengah (SD-SMP) lebih besar daripada pendidikan tinggi. Jumlah

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 101

pendidikan dasar (SD-SMP) mencapai hampir 200 ribu dengan jumlah murid
sebesar 35 juta anak hanya. Sementara jumlah pendidikan tinggi negeri hanya
82 dengan 2 juta mahasiswa. Politik anggaran pendidikan memperlihatkan
bahwa realokasi yang dimaksud oleh pemegang kebijakan jauh dari harapan
peningkatan kualitas hidup masyarakat kelas bawah.

Absennya peran negara untuk menyediakan kebutuhan dasar warga
negara, semisal pendidikan dan kesehatan berdampak buruk terhadap
pendapatan buruh. Sehingga, seperti dikatakan Organisasi Pekerja Seluruh
Indonesia (OPSI), 45 persen upah buruh lajang hanya cukup untuk mengontrak
kamar atau rumah dan ongkos transportasi, 30 persen lagi untuk kebutuhan
makanan sehari-hari. Sisanya, buruh harus berhutang, bekerja sampingan,
lembur, mengurangi konsumsi. Dengan demikian, telah terjadi kemiskinan
struktural alias pemiskinan yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya.

Namun, upah buruh yang mencapai rata-rata Rp 900 ribu tidak
dapat dikategorikan miskin. Kriteria kemiskinan yang digunakan BPS adalah
orang yang berpendapatan Rp 254.016 untuk perkotaan dan Rp 213.395
untuk desa serta untuk Rp 233.740 kota dan desa. Kriteria BPS jauh di
bawah kategori Bank Dunia, yang menerapkan 2 Dolar AS per hari. Angka
kemiskinan, menurut BPS, menurun menjadi 13.33 persen atau sekitar 30.02
juta orang dari 14.15 persen sebesar 31.02 juta orang di Maret 2010. Menurut
Menkokesra, jumlah keluarga miskin 60 persen terkonsentrasi di Pulau Jawa,
dan 70 persen tinggal di pedesaan. Sekali lagi kita memerhatikan bahwa
program negara semakin jauh dari harapan.

Ada sejumlah kalangan yang berpandangan bahwa upah minimum
yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap kesempatan kerja dan
menurunnya daya saing usaha. Di tengah kebijakan pemerintah yang tidak
ramah terhadap publik dan ancaman krisis pangan, upah yang rendah tidak
memberikan kesempatan kalangan buruh untuk menggerakkan ekonomi
di daerahnya. Kesempatan kerja kerja yang semakin sempit pun tidak
berasal dari kenaikan upah, tapi ditentukan orientasi kebijakan yang tidak
menguntungkan sektor riil dalam negeri.

Jaminan Sosial

Kendati Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin
Iskandar menyatakan adanya peningkatan kesadaran pengusaha terhadap
kesehatan dan keselamatan kerja (K3), korban kecelakaan kerja tergolong
tinggi. Meningkatnya perusahaan peraih zero accident dari 486 menjadi 512

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
102 |

perusahaan tidak sebanding dengan peningkatan angka kecelakaan kerja
yang meningkat 2,49 persen pada 2010. Setiap hari diperkirakan terjadi
kecelakaan kerja sekitar 411 kasus. Ironisnya, pemerintah mengklaim bahwa
sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) semakin baik
dengan meningkatnya peraih SMK3 dari 180 menjadi 238 perusahaan.

Data yang disediakan Kemenakertrans pun menyebutkan, kecelakaan
kerja masih didominasi bidang jasa konstruksi (31,9 persen), disusul industri
(31,6 persen), transportasi (9,3 persen), pertambangan (2,6 persen),
kehutanan (3,8 persen), dan lain-lain (20 persen). Di Karawang Jawa Barat
angka kecelakaan kerja mencapai 1.355 kasus, yang terdiri dari, kecelakaan
proses produksi sebanyak 883 kasus,  kecelakaan lalu lintas sebanyak 472
kasus,  meninggal dunia di tempat kerja sebanyak empat kasus dan meninggal
dunia di jalan raya sebanyak 12 kasus. Sementara menurut Direktur Operasi
dan Pelayanan PT Jamsostek (Persero) Ahmad Ansyori, selama kurun waktu
lima tahun terakhir, rata-rata kasus kecelakaan kerja tidak berubah, bahkan
nilai/nominalnya mengalami kenaikan yang signifikan. Pada 2010 saja terjadi
98,711 kasus kecelakaan atau rata-rata setiap hari terjadi lebih dari 411 kasus
kecelakaan kerja. Dari 98,711 kasus kecelakaan kerja, sebanyak 6,647 tenaga
kerja (6,73 persen) di antaranya mengalami cacat. Ini terbagi atas 61,10
persen cacat fungsi, 38,36 persen cacat sebagian, dan 0,54 persen cacat
total. Hampir di setiap hari kerja, lebih dari 27 tenaga kerja terjadi kecelakaan
yang menyebabkan cacat. Dari jumlah total kecelakaan kerja selama 2010,
sebanyak 2.191 kasus (2,22 persen) di antaranya meninggal. Rata-rata setiap
hari kerja terjadi lebih dari 9 kasus meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.

Kecelakaan kerja berupa ketidakamanan lingkungan kerja, bahan-
bahan kimia dan biologis dan ancaman lainnya, di berbagai sektor industri
menyertai keseharian buruh Indonesia. Bahkan, di sektor Tekstil Sandang
dan Kulit (TSK) muncul fenomena lain, Kesurupan. Di Indonesia, kesurupan
dapat terjadi di manapun; rumah, sekolah, tempat bermain bahkan tempat
kerja. Kesurupan, biasanya, dimaknai dimasuki roh halus yang menyebabkan
si korban bertindak di luar kendali dirinya. Ada pula yang menganggap
bahwa kesurupan sebagai tanda ketidakstabilan emosi akibat tekanan yang
berlebihan. Umumnya, kesurupan menimpa perempuan. Peristiwa kesurupan
di tempat kerja merupakan kejadian berulang, khususnya di sektor-sektor
padat tenaga kerja (labour intensive). Dugaan sementara, peristiwa kesurupan
di tempat kerja diakibatkan beban kerja yang berlebih dan tempat kerja yang
tidak nyaman, sementara upah diterima sangat rendah. Sektor padat tenaga
kerja pun kerap memperlakukan buruh di luar batas-batas manusiawi, seperti
membentakan dan menampar.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 103

Tingginya kecelakaan kerja menandakan bahwa tindakan pencegahan
dan perlindungan pengusaha kepada buruh sangat rendah. Padahal,
kecelakaan kerja sendiri bisa mengakibatkan cacat seumur hidup hingga
kematian. Ancaman terhadap keamanan kerja diperparah dengan minimnya
jaminan perlindungan dan lemahnya penegakkan hukum di tempat kerja. Dari
sekitar 30 juta lebih tenaga kerja formal di Indonesia, yang terdaftar sebagai
peserta Jamsostek hanya 8,5 juta pekerja atau tidak lebih dari 30 persen
dari total tenaga kerja. Dari 120.000 perusahaan yang mengikutsertakan
buruhnya sebagai peserta program Jamsostek, hanya setengahnya yang jujur
menyebutkan gaji buruh mereka. Sekitar 60.000 perusahaan mencatatkan
gaji buruh dalam jumlah yang lebih rendah sehingga iurannya lebih kecil.
Seperti disebutkan oleh serikat buruh di Cimahi, Tangerang, Batam,
Kabupaten Semarang, dan Kota Depok bahwa perusahaan tidak melaporkan
jumlah upahnya dengan jujur, bahkan jumlah buruhnya pun tidak dilaporkan
seluruhnya.

Rekapitulasi Jenis-jenis Kecelakaan Kerja Januari-Juni 2011
SEBAB *
No Sektor
Ketidakamanan Kimia dan Biologis Ancaman lainnya
Tertimpa; terjepit; tertimbun;
1 Konstruksi    
terjatuh; Tersengat listrik
Kebakaran; Keracunan makan
2 TSK Kesurupan; Stres
katering; terjepit mesin
Tertabrak; jatuh; ledakan;  Menghirup gas Amonia;
3 RTMM  
Kebakaran Keracunan gas CO
Tergencet Truk; kebakaran;
Menghirup cairan
4 LEM keracunan makanan  
NaCN;
katering; Tersengat listrik
Perkayuan dan
5 Kebakaran  
Kehutanan
Transportasi
6 dan Tersengat listrik  
komunikasi
Kebakaran; tertimpa; Terkena semburan
7 KEP tertimbun; Tersengat listrik;  
bubur kertas panas;
Keracunan makanan katering
Perdagangan Kebakaran; tertimbun;
8    
dan Jasa ledakan
Pelayanan
9  Ledakan  
Publik
10 Lainnya Tersengat listrik
Percetakan dan
11  Kebakaran  
Penerbitan
Kategori dikutip dari Bahan Bacaan ANROAV 2010.
Pusat data dan dokumetasi LIPS

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
104 |

Salah satu penyebab rendahnya kepesertaan Jamsostek karena
pengawasan dan penegakan hukum (Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992
tentang Jamsostek) berada di luar PT Jamsostek (Persero). Kewenangan
pengawasan dan penegakan hukum berada di Depnakertrans dan dinas-
dinas di daerah serta aparat Polri dan Kejaksaan.

Selama ini, lemahnya pengawasan ditenggarai sebagai akibat kurang
koordinasi antara pengawas tingkat daerah dan tingkat pusat. Pada 2010
lalu, terbit Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2010 tentang Pengawas
Ketenagakerjaan. Namun, diduga tidak akan efektif membantu menyelesaikan
persoalan pengawasan. Data Kemenakertrans 2010 menunjukkan, jumlah
dinas tenaga kerja di kabupaten/kota sebanyak 506 kabupaten/kota, hanya
304 dinas yang memiliki pengawas. Saat ini jumlah pengawas ketenagakerjaan
tercatat sebanyak 2.384 orang, untuk menanganih sekitar 216.547
perusahaan. Para pengawas ketenagakerjaan itu terdiri dari Pengawas
umum, 1.460 orang, Pengawas spesialis 361 orang, Penyidik Pegawai Negeri
Sipil 563 orang. Minimnya jumlah pengawas merupakan peluang pelanggaran
norma ketenagakerjaan. Namun dari jumlah pengawas di atas diperkirakan
tidak efektif karena pengawas yang tersedia tidak memiliki keahlian untuk
mengawasi dan menindak pelanggar hukum. Di lapangan, muncul kasak-
kusuk bahwa tenaga pengawas memanfaatkan perusahaan-perusahaan
yang melanggar norma ketenagakerjaan untuk kepentingan pribadi. Bahkan,
muncul pula bahwa pola perekrutan tenaga pengawas bergantung relasi
dengan kepala daerah. Di Kabupaten Sukabumi misalnya, hanya ada lima
orang pengawas untuk mengawasi 980 unit perusahaan dan sekitar 153 unit
di antaranya merupakan perusahaan skala besar.

Pada 2011 pagu anggaran Kemenakertrans sebesar Rp4,128 trilun
atau naik sebesar Rp1,005 triliun dibandingkan pagu anggaran tahun 2010
yang sebesar Rp3,122 triliun. Pagu anggaran tersebut sebesar 25 persen
dialokasikan untuk peningkatan kualitas pelatihan termasuk perbaikan fasilitas
balai-balai pelatihan baik yang dikelola pusat maupun daerah. Sisanya harus
dibagi-bagi antara satuan kerja di tingkat pusat, provinsi dan 594 satuan kerja
di Kota dan Kabupaten di Seluruh Indonesia. Sementara itu, pada 2010 saja,
dari 33 provinsi baru empat provinsi yang menyediakan anggaran khusus
untuk mendidik calon pengawas ketenagakerjaan. Empat provinsi itu adalah
Jawa Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Selatan dan Jawa Timur.
Jika dibandingkan anggaran untuk membayar hutang luar negeri sebesar
30 persen dari total APBN, anggaran operasional pengawasan sangat kecil.
Namun, dengan memerhatikan alokasi anggaran di Kementarian, niat untuk
menegakkan aturan ketenagakerjaan sangat lemah.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 105

Resistansi

Bagian ini akan melihat bentuk-bentuk dan tren resistansi serikat buruh.
Selain itu, diperlihatkan pula bagaimana respons-respons kapital dan negara
selama Semester I-2011.

Sepanjang Semester I-2011, protes terhadap kebijakan perusahaan
dan negara dilakukan oleh berbagai sektor. Protes dilakukan dengan metode,
tuntutan dan lokasi sasaran yang beragam. Ada yang membuat petisi,
seperti yang dilakukan sekitar tiga puluh guru honorer di Kabupaten Bekasi
Jawa Barat kepada DPRD dan bupati. Mereka kecewa dengan keputusan
pemerintah daerah yang tidak mengalokasikan gaji guru honorer dari APBD.
Sedangkan di Sulawesi Barat, para perawat Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Majene, mogok kerja. Mereka menuntut Direktur Umum RSUD Majene
mengundurkan diri dan pembagian sisa hasil jasa pelayanan dilakukan dengan
proporsional. Mogok kerja dilakukan pula oleh sekitar seratus buruh di proyek
pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Awar-awar di
Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jatim. Ini adalah protes
yang ke-10 kalinya dalam rangka menuntut kejelasan status buruh, seragam
kerja dan pesangon bagi buruh yang telah purna tugas. Selain itu, ada pula
yang melakukan protes dan solidaritas kepada sesama buruh, seperti yang
dilakukan ratusan Buruh PT Freeport Indonesia. Mereka beraksi di depan
perusahaan di Kuala Kencana, Timika, Papua, menuntut keamanan kerja dan
menyampaikan solidaritas kepada dua rekan mereka yang tewas terbakar di
ruas jalan Tanggul Timur.

• Pada Semester I-2011 ini, tercatat 274 kali aksi dengan melibatkan 281.652 orang
dengan beragam metode dan sasaran aksi. Persentase aksi buruh pada semester
I 2011 lebih banyak diwakili oleh Aliansi Serikat (61,71 persen), yang diikuti oleh
sektor asuransi dan keuangan (7,13 persen), pelayanan publik (6,18 persen), serta
Tekstil, Sandang dan Kulit (5,39 persen) dan kimia, energi dan pertambangan
(5,01 persen).
• Intensitas aksi pada Semester I-2011 lebih rendah ketimbang Semester I-2010
(435 kali) maupun Semester II-2010 (296 kali). Keterlibatan massa dalam aksi
lebih rendah dari Semester I-2010 (433.092 orang) dan lebih tinggi dari Semester
II-2010 (258.228 orang).
• Tuntutan-tuntutan dalam pemogokan maupun aksi-aksi protes banyak mengajukan
pemenuhan hak-hak normatif atau hak-hak dasar buruh yang telah diatur dalam un-
dang-undang ketenagakerjaan. Pada level kedua, tuntutan lebih banyak adalah pe-
rubahan kebijakan pemerintah dan yang ketiga adalah tuntutan kebebasan berserikat.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
106 |

• Kecuali bulan Mei, aksi-aksi lebih banyak dilakukan di depan perusahaan mau-
pun di depan rumah pemilik perusahaan. Bulan Mei intensitas aksi masih yang
tertinggi dibanding bulan-bulan lainnya.

Selain itu, fenomena sasaran aksi pun memperlihatkan tingkat
kepercayaan yang lemah terhadap lembaga negara yang mengurusi persoalan
perburuhan. Ratusan mantan buruh PT Surya Sindoro Sumbing Wood Industry
(SSWI) Sapuran, beraksi dan menyegel rumah salah satu Direktur SSWI
Sujanto di Jalan Mayor Kaslam, Wonosobo, Jawa Tengah. Karena upah dan
pesangon mereka tidak dibayar. Sementara ratusan mantan buruh outsourcing
PT Krakatau Steel memilih mengadu ke kepolisian daripada melaporkan kasus
tidak dibayarkannya pesangon oleh penyalurnya, PT Nusantara Baja Cilegon
(NBC) dan PT Asa Bangun Nusantara (ABN). Aksi yang ini menandai bahwa
tingkat kepercayaan terhadap lembaga PHI semakin pudar. Sebagaimana
diketahui, PHI hanya menangani persoalan perdata perburuhan, dan tidak
memberikan kemungkinan memroses kasus-kasus pidana seperti pelanggaran
upah dan pelanggaran kebebasan berserikat. Selain itu, sedikit sekali kasus
yang masuk PHI yang memenuhi rasa keadilan buruh.

Aksi-aksi protes rata-rata didorong oleh hak normatif yang dilanggar
oleh perusahaan, sementara peran negara tidak muncul untuk menyelesaikan
persoalan. Pelanggaran hak normatif semisal pemecatan sepihak tanpa
pesangon atau pesangon yang tidak sesuai dengan ketentuan menjadi pemicu
umum aksi-aksi protes. Seperti diperlihatkan dengan pemecatan sepihak
kepada 150 buruh dengan bermasa kerja 10-13 tahun PT Bumi Menara
Internusa Kecamatan Dampir, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Perusahaan
pengolah udang itu hanya membayar seperempat pesangon dari ketentuan.
Perusahaan mengaku sedang merugi, tapi perusahaan masih berproduksi.
Ketika masalah diadukan ke DPR untuk memanggil pemilik usaha, tidak
ada wakil perusahaan yang hadir. Di Pekalongan Jawa Tengah, sekitar 70
buruh Sri Ratu dengan masa kerja antara 10–25 tahun di-PHK dengan alasan
efisiensi keuangan perusahaan. Perusahaan pun enggan mengeluarkan biaya
untuk membayar pesangon sesuai ketentuan. Ketika dilakukan mediasi oleh
Disnakertrans, wakil perusahaan tidak hadir. Sekali lagi, pemilik usaha ingkar
untuk menyelesaikan persoalan, sementara pemerintah tidak berkutik.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 107

Secara umum, sepanjang Semester I-2011 terjadi lebih dari 274 kali
aksi dengan melibatkan lebih dari 281.652 orang. Dari jumlah tersebut, aksi
lebih banyak mengatasnamakan Aliansi Serikat yang mencapai 61,71 persen,
disusul oleh sektor TSK 5,39 persen, RTMM 1,63 persen, LEM 1,49 persen,
KEP 5,01 persen, Perkayuan dan Kehutanan 1,51 persen, Transportasi dan
Komunikasi 3,27 persen, Listrik, Air dan Gas 0,46 persen, Asuransi dan
Keuangan 7,13 persen, Pertanian dan Perkebunan 0,58 persen, perdagangan,
Umum dan Jasa 0,01 persen, Farmasi dan Kesehatan 0,97 persen, Pendidikan
4,42 persen, Media Massa 0,06 persen, Pelayan Publik 6,18 persen, Konstruksi
0, 20 persen

Dari lima jenis tuntutan, pemenuhan Hak Normatif paling banyak
diajukan untuk sebesar 49 persen, disusul oleh perbaikan Kebijakan Pemerintah
yang mencapai 24 persen, tuntutan perlindungan Kebebasan Berserikat yang
mencapai 11 persen, menolak PHK 7 persen, menuntut Upah yang Layak
mencapai 6 persen, dan sisanya menuntut perbaikan manajemen, mengusut
dugaan korupsi dan Lain-lain mencapai 3 persen. Jika dibandingkan Semester
I dan II tahun lalu, intensitas aksi cenderung menurun. Sementara dari segi
keterlibatan massa, jumlahnya pun terlihat menurun ketimbang Semester
I-2010 dan lebih tinggi dari Semester II-2010.

Aksi-aksi pada 2011, lebih banyak diwakili oleh Aliansi Serikat. Model
aksi ini terlihat ketika momentum May Day. Tema utama dalam aksi May

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
108 |

Day adalah protes terhadap sistem kerja kontrak dan outsourcing serta
tuntutan upah layak. Di Jakarta ada tiga aliansi serikat buruh di antaranya
Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS), Persatuan Perlawanan Rakyat Indonesia
(PPRI), Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI), dan Front Perjuangan Rakyat.
Dalam aliansi-aliansi tersebut, bergabung pula organisasi mahasiswa, serikat
tani, dan organisasi perempuan. May Day 2011 telah dijadikan momentum
bersama untuk mengajukan tuntutan dan memprotes kebijakan negara yang
berpihak kepada kapital asing.

Terlepas dari persoalan tuntutan yang diajukan, KAJS merupakan
contoh fenomenal aksi-aksi yang mengatasnamakan Aliansi Serikat. KAJS
adalah gabungan 66 organisasi yang terdiri dari organisasi buruh, serikat tani
dan mahasiswa. Aliansi yang dibangun sejak 2009 ini, menorehkan sejarah
baru pembangunan gerakan buruh. KAJS memperlihatkan kepiawaian
mengerahkan keterlibatan massa, meraih dukungan publik, dan menekan
kebijakan negara.

Selain aksi-aksi protes, ada pula respons serikat buruh di tingkat daerah
yang tidak terikat momentum May Day maupun Hari Pendidikan Nasional.
Serikat buruh di berbagai daerah, seperti Kota Cimahi, Kota Semarang, Cilegon,
Kota Depok menuntut pemerintah daerah agar mengeluarkan peraturan
daerah untuk mengatur perlindungan buruh dan memaksimalkan tenaga
pengawas. Di Kabupaten Semarang, Aliansi Serikat berupaya mengintervensi
alokasi anggaran daerah untuk pendidikan dasar dan menengah. Hasilnya,
biaya pembangunan sekolah dasar hingga menengah atas dibebaskan.

Perihal respons di tingkat daerah memang harus dipelajari lebih
seksama, terutama berkenaan dengan inisiatif dan tuntutan yang diajukan.
Dalam hal upaya mengajukan peraturan daerah ketenagakerjaan seringkali
kapasitas serikat buruh terbatas, sementara dukungan dari anggota maupun
dari organisasi tingkat atas sangat minim. Di Kota Semarang, resistansi
muncul dari pengusaha terhadap rencana peraturan daerah. Para pengusaha
menuntut bahwa peraturan daerah hanya mengadopsi aturan ketenagakerjaan
di tingkat nasional. Seperti biasa, protes itu diikuti dengan ancaman akan
terjadinya PHK masal dan memburuknya iklim investasi.

Ada pula respons-respons serikat di tingkat pabrik, baik untuk
menyikapi persoalan maraknya perekrutan tenaga tenaga kontrak jangka
pendek maupun menyikapi perusahaan yang mengaku pailit dan tutup
mendadak, tidak nampak strategi yang utuh. Meski kasus penutupan pabrik
kerap berulang, nampaknya tidak dijadikan pembahasan di dalam organisasi

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 109

di semua level. Hal ini berlaku pula untuk kasus relokasi pabrik antarwilayah.
Serikat tingkat pabrik seolah mengandalkan pengalamannya masing-masing
untuk menyelesaikan persoalan mereka. Padahal, peran dan fungsi serikat di
tingkat nasional akan sangat diperlukan untuk menghubungkan solidaritas
yang semakin pudar akibat hantaman kekuatan kapital. Begitu pula serikat
tingkat cabang akan sangat diperlukan untuk menggalang dukungan
organisasi nonburuh dan pemerintah daerah.

Secara umum, keresahan di tingkat serikat buruh berkenaan dengan
daya beli upah yang semakin menurun akibat melonjaknya harga dan
lemahnya peran negara. Selain itu, keresahan juga muncul karena praktik
tenaga kerja kontrak jangka pendek dan outsourcing semakin meluas. Mei
lalu, Kemenakertrans maupun Presiden Yudhoyono menyatakan bahwa
perlu memperketat aturan outsourcing, mengharapkan polisi dan kejaksaan
terlibat mengawasi jalannya kebebasan berserikat, mudah melakukan PHK
dan mengevaluasi pajak penghasilan (PPh) Orang Pribadi. Kelihatannya hal
tersebut sekadar wacana jika diperhatikan dari politik APBN-P 2012 maupun
orientasi kebijakan pembangunan ekonominya.

Penutup

Kebijakan yang direncanakan maupun diimplementasikan semakin
jauh dari harapan buruh untuk mendapatkan perlindungan upah, kebebasan
berserikat dan keamanan kerja. Lebih dari itu, kesempatan rakyat untuk
mengontrol sumber daya alam semakin terpinggirkan akibat kebijakan yang
lebih berorientasi bisnis besar. Dari seluruh persoalan di atas, sepatutnya

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
110 |

pemerintah mengubah arah kebijakannya. Mendorong usaha-usaha dalam
negeri akan lebih menguntungkan baik dalam jangka pendek maupun di
jangka panjang. Sebaliknya, berharap kepada investasi asing dalam angka-
angka pertumbuhan ekonomi tampak menggiurkan tapi tidak menyelamatkan
pergerakan ekonomi di Indonesia. Sewaktu-waktu investasi asing akan
melepas modal, tanpa memedulikan pemenuhan hak-hak dasar tenaga
kerja yang terlantar. Begitu pula kebijakan-kebijakan mempertahankan
upah di bawah standar hidup layak dengan kesenjangan yang tinggi akan
menghasilkan ketidakmerataan pembangunan dan penurunan kualitas hidup
masyarakat Indonesia.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 111

Lampiran Jurnal Sedane

Jurnal Sedane Vol. 1. No. 1 2002 berisi (1) Hukum Sebagai Perangkap
Gerakan Buruh oleh Marsen S. Naga, (2) Pengorganisasian (Serikat) Buruh di Masa Krisis:
Membangun Basis Gerakan Buruh oleh Iman Rahmana, (3) Radikalisme FNPBI: Membangun
Kesadaran Politik Kaum Buruh Raymond J. Kusnadi. (4) Wawancara dengan DR Arief Budiman.
(5) Tinjauan Buku: Sedjarah Pergerakan Buruh Indonesia.
Tulisan pertama, Marsen, mendeskripsikan bagaimana hukum, merupakan bentuk
pengendalian gerakan buruh. Penulis menjelaskan bahwa hukum perburuhan di
Indonesia terbanyak di kawasan Asia Tenggara dan tidak membuat persoalan perburuhan
berkurang. Kedua, Iman, mengangkat refleksi pengorganisasian sebagai upaya strategis
dalam membangun gerakan buruh di masa depan. Karena itu, perlu dipikirkan bagaimana
melakukan pengorganisasian secara efektif. Ketiga, Raymond, mendeskripsikan situasi
kelahiran organisasi buruh yang dianggapnya berkarakter radikal, kemudian menjelaskan
pilihan bentuk organisasi FNPBI.

Jurnal Sedane Vol 1 No. 2. 2003 menghadirkan Gagasan: (1) Untuk Apa
Serikat Buruh? oleh Allan Flanders, (2) Peranan Pekerja Dalam Pembangunan Nasional oleh
M. Dawam Rahardjo, (3) Dana Asing, LSM, dan Serikat Buruh: Sebuah Tinjauan Kritis oleh
Marsen S. Naga. Debat: M. Rodja dengan Rustam Aksam. Tinjauan Buku: “Poor People’s
Movement: How They Succeed, Why They Fall” karya Jessica Champagne. Tokoh: Tan Malaka:
Pejuang Revolusioner Sejati.
Tulisan pertama, Allan Flanders, memberikan latar belakang pemikiran kenapa buruh
berserikat dan beragam teoretisinya. Kedua, Dawam Rahardjo memaparkan sejarah
perkembangan pemikiran tentang peran pekerja dalam pembangunan eknomi. Ketiga,
Marsen, melihat ketergantungan LSM terhadap funding. Keterlibatan LSM-LSM dalam
pembangunan serikat buruh akhirnya ‘menularkan’ watak yang sama terhadap serikat
buruh. Penulis menawarkan perubahan pola relasi LSM dan serikat buruh.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
112 |

Jurnal Sedane Vol. 1 No. 3 2003 menghadirkan Gagasan: (1) Kaum
Buruh dan Politik Elektoral oleh Wilson. (2) Tinjauan Al-Quran atas Etika Relasi Buruh-Majikan
oleh Umnia Labeba. (3) Tinjauan Literatur Hukum Perburuhan di Indonesia oleh Gregor
Samsa. (4) Buruh di Cina oleh I. Wibowo. Debat: Sukarno dengan Sutanto. Tokoh: Chun Tae-il:
Cahaya Inspirasi untuk Gerakan Buruh. Tinjauan Buku: “Profit Over people. Neoliberalism
and Global Order” karya Noam Chomsky).
Tulisan pertama, Wilson, mengeksplorasi mengenai praktik politik elektoral dengan isu-
su perburuhan. Dengan mendeskripsikan beberapa contoh gerakan buruh di berbagai
mancanegara, beliau melihat perlunya gerakan buruh Indonesia untuk turut andil dalam
pagelaran politik. Kedua, Umi mencoba menggali nilai-nilai keadilan dari perspektif Islam.
Diuraikannya bagaimana Islam memiliki keberpihakan untuk menegakkan keadilan bagi umat
manusia, terutama kaum buruh. Ketiga, Gregor Samsa, menganalisis seputar paradigma yang
dianut oleh para penulis dan penerbit buku-buku hukum perburuhan sejak Orde Baru hingga
Era Reformasi. Keempat, DR. Ign. Wibowo, mendeskripsikan gerakan buruh di Cina. Proses
reformasi di negara raksasa tersebut, membawa permasalahan tersendiri bagi kaum buruh.

Jurnal Sedane Vol 2 No. 1, 2003 mengangkat Gagasan: (1) Industri
Tekstil Indonesia dalam Multi-Fibre Agreement (MFA) dan Perdagangan Bebas oleh I. Fahmi,
(2) Runtuhnya Industri Tekstil Indonesi oleh Fauzan, (3) Runtuhnya Industri Tekstil: Tantangan
Baru Bagi Gerakan Buruh Indonesia oleh I. Fahmi. Debat: Ketua Bidang Investasi KADIN
dengan Dr. Vedi R. Hadiz. Tinjauan Buku: Perempuan: Potensi Kekuatan Gerakan Yang
Lumpuh. Tokoh: Sekilas Tentang Semaoen.
Tulisan-tulisan tersebut menyoroti salah satu faktor, yang menghancurkan industri TPT, yakni
MFA. Multi-Fiber Arrangement (MFA) merupakan perjanjian global yang sudah 30 tahun
mengatur ekspor TPT 47 negara dengan jatah kuota di pasar Eropa dan Amerika. Pada 1994,
bersamaan dengan pembentukan WTO, dalam putaran Uruguay disepakati untuk menyudahi
rejim kuota dan diganti dengan liberalisasi perdagangan TPT. Ke 47 negara berkembang
pengekspor TPT, termasuk Indonesia, terancam hancur.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 113

Jurnal Sedane Vol. 2 No. 2 2004 menghadirkan Gagasan: (1) Demokrasi
dan Oligarki di Serikat Buruh oleh SM Lipset, MA Trow dan JS Coleman, (2) Buruh, Serikat
Buruh dan Demokrasi oleh Arief W Djati, (3) ”Taxes to the Rich, Welfare to the Poor”: Gerakan
Buruh dan Politik Progresif di Korea oleh Wilson. Debat: Franz Magnis-Suseno, Ken Budha
Kusumandaru, Rostinah, dan Ragil Sukarti. Tinjauan Buku: ”Economic Development and
Political Change in a Workers’ Community in Jakarta, Indonesia”. Tokoh: H. Misbach.
Tulisan pertama, SM Lipset, MA Trow dan JS Coleman membedah praktik oligarki di serikat
buruh. Oligarki merupakan salah satu penyebab serikat tidak berakar dan tak terkontrol.
Kedua, Arief W Djati membahas praktik demokrasi serikat buruh dan Organisasi Non-
Pemerintah. Ia berkesimpulan bahwa serikat-serikat memerlukan pendalaman praktik
demokrasi. Ketiga, Wilson menulis kemenangan gerakan Buruh di Korea.

Jurnal Sedane Vol. 3 No. 1 2005 mengangat Gagasan: (1) Demokrasi
Serikat Buruh: Sebuah Tinjauan Teoretis oleh Michele Ford, (2) Serikat Buruh Demokratis
dalam Perubahan Situasi Perburuhan 1997-2004 oleh Maria Dona, (3) Perihal Pendanaan
Serikat Buruh: Refleksi Seorang Buruh oleh Rizal A. Hidayatullah. Debat: Beno Widodo (KASBI)
dengan Saepul Tavip (ASPEK). Tinjauan Buku: Jalan Tak Berujung: Sejarah Perlawanan Buruh
dan Perkotaan Masa Kolonial. Tokoh: Profil Agus Wahyuni
Tulisan pertama, Michele Ford, mengurai teori-teori dan demokrasi di serikat buruh.
Menurutnya, demokrasi serikat buruh seringkali sulit dicapai, karena serikat buruh
merupakan organisasi hibrida yang ingin berfungsi sebagai organisasi formal. Kedua,
Maria Dona, mengupas demokrasi yang berhubungan dengan pengorganisasian anggota/
buruh. Ketiga, Rizal A Hidayatullah, membahas tentang pentingnya independensi serikat
dengan pendanaan dari anggota. Rizal menawarkan pentingnya kerja massa untuk menjaga
independensi dan menguatkan kerja-kerja serikat.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
114 |

Jurnal Sedane Vol. 3, No. 2 2006 mengangkat Gagasan: (1) Politik Gerakan
Buruh di asia Tenggara oleh Vedi R. Hadiz, (2) Relasi kelas Buruh, kuasa dan Kapital dalam
Kontestasi Perpolitikan Lokal oleh S. Aminah. Debat Eli Salomo dengan Michele Ford.
Tinjauan Buku: Peran NGO dalam Gerakan Buruh Indonesia. Tokoh: Profil Munir. Dinamika:
Dinamika Perburuhan Indonesia dalam Tiga Tahun Terakhir
Tulisan pertama, Vedi R. Hadiz mengangkat situasi buruh di empat negeri Asia Tenggara:
Indonesia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Hadiz berpendapat bahwa tradisi keserikatburuhan
politik merupakan ciri lanskap politik masyarakat Asia Tenggara. Namun, tradisi tersebut
nyaris hilang, khususnya pada saat industrialisasi. Kedua, S. Aminah, menunjukkan bahwa
perjuangan kelas buruh berkait erat dengan keberadaan pemerintah dan hegemoni
kapitalisme. Keduanya turut memperburuk kondisi buruh.

Jurnal Sedane Vol. 4 No. 1 2007 mengangkat Gagasan: (1) Fleksibilitas
Pasar Kerja dan Tanggung Jawab Negara oleh Indra Tjandraningsih dan Hari Nugroho, (2)
Kontrak dan Outsourcing: Adakah Jalan Keluar bagi Serikat Buruh, oleh Jafar Suryomenggolo
dan Timboel Siregar, (3) Konflik Antar Serikat Buruh oleh Endang Rokhani. Wawancara
bersama Anwar “sastro” Ma’ruf. Tinjauan Buku: Dinamika kekuasaan: Ekonomi Politik
Indonesia Pasca-Soeharto. Tokoh: Profil Budhy Prahatmo. Dinamika: Dinamika Perburuhan
Tahun 2007 Semester I
Tulisan pertama, Indrasari Tjandraningsih dan Hari Nugroho, mengurai masalah pasar kerja
fleksibel dan pentingnya tanggung jawab negara. Menurut analisis mereka, pasar tenaga
kerja dapat diminimalisir dengan perlindungan terhadap hak-hak ekonomi warga negara.
Kedua, Jafar Suryomenggolo dan Timboel Siregar, menampilkan perdebatan antara yang
menerima dan menolak model kerja kontrak dan outsourcing. Ketiga, Endang Rokhani
menulis Konflik Antar Serikat Buruh di dalam sebuah perusahaan dan bagaimana dampaknya
terhadap bargaining position buruh.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 115

Jurnal Sedane Vol. 4 No. 2 2008 mengangkat Gagasan: (1) Sistem
Jaminan Sosial Indonesia: Tunjangan Untuk Siapa?oleh Dinna Wisnu, Ph.D, (2) Catatan
Reflektif Kebebasan Berserikat oleh Fauzi Abdullah, Perdebatan tentang Negara: Tanggapan
atas Tulisan “Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja dan Tanggung jawab Negara oleh Coen Husain
Pontoh, I Fahmi Panimbang, dan Muslimin Abdilla. Wawancara bersama Yoon Youngmo
(Koordinator Internasional Korea Labour & Society Institute (KLSI), Seoul, Korea. Tokoh Oey
Hay Djoen (1929-2008). Tinjauan Buku: Direktori Serikat Pekerja/Serikat Buruh Indonesia.
Dinamika: Dinamika Perburuhan Tahun 2007.
Tulisan pertama, Dinna Wisnu, Ph. D., mengulas orientasi Sistem Jaminan Sosial, dari segi
peraturan pelaksana maupun dari mekanisme pelaksanaannya. Menurutnya, UU SJSN UU
No. 40/2004 dalam proses pembuatannya terdapat banyak kompromi politik. Kedua, Fauzi
Abdullah menyoroti kebebasan berserikat yang belum memberikan impact bagi buruh.
Fauzi menyayangkan situasi yang di hadapi serikat buruh semakin berat sementara buruh
terpisah-pisah.

Jurnal Sedane Vol 5. No. 1 2008 mengangkat Gagasan: (1) Membangun
Pakta Sosial Berbasis Gerakan Buruh oleh Sofian M. Asgart. (2) Melakukan Pengukuran
Kinerja Serikat Pekerja oleh Aryana Satrya. (3) Pengadilan Perburuhan di Jerman: sekedar
refleksi untuk PHI oleh Yasmine Soraya. Wawancara bersama pimpinan serikat buruh Jerman,
Firsching. Tokoh: Profil: Mansour Fakih. Tinjauan Buku: Globalisation and Labour; the New
’Great Transformation’ karya Ronaldo Munck. Dinamika: Dinamika Perburuhan Indonesia
Dalam Tahun 2008 Semester I.
Tulisan pertama, Sopian Asgart, menawarkan tesis Pakta Sosial untuk memperluas basis
gerakan sosial dengan aliansi-aliansi yang lebih luas dan strategis. Pakta sosial ini meliputi
berbagai kegiatan seperti berbagi informasi, konsultasi, negoisasi dan pengambilan
keputusan bersama. Kedua, Aryana Satria, memberikan masukan bagaimana mengukur
kinerja serikat buruh dalam pencapaian kebutuhan anggota serikat pekerja. Ketiga, Yasmine
Soraya, mengupas peranan sistem peradilan perburuhan di Indonesia dan Jerman.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
116 |

Jurnal Sedane Vol. 6 No. 2 2008 mengangkat Gagasan: (1) Resesi
Global dan Dampaknya Terhadap Pekerja di Dunia oleh Paul L. Quintos, (2) Krisis Finansial
Global: Petaka Bagi Buruh oleh Syarif Arifin, Fauzan dan Darisman, (3) Krisis Finansial dan
Serikat Buruh: Studi Mengenai Strategi Serikat Buruh di Eropa oleh Yasmine Soraya. Debat:
Kippes (IG Metall) dengan Jan Schlemermeyer (DGB). Tokoh: Profil Bambang Hari. Tinjauan
Buku: Parties and Union in The New Global Economy, karya Katrina Burgess. Dinamika:
Dinamika Perburuhan Indonesia Selama 2008.
Tulisan pertama, Paul L. Quintos, mengeksplorasi sebab dan akibat krisis finansial global
dan dampaknya bagi pekerja di dunia. Kedua, Syarif Arifin, Fauzan dan Darisman, mengupas
dampak krisis finansial bagi buruh dan serikat buruh di Indonesia. Dan, Bagaimana efektivitas
kebijakan pemerintah dalam mengatasi krisis. Ketiga, Yasmine Soraya, menggambarkan situasi
ketenagakerjaan di Eropa sebelum dan setelah krisis finansial (2007) serta memaparkan
strategi-strategi yang diambil oleh serikat buruh di Eropa.

Jurnal Sedane Vol 7 No. 2, 2009, menurunkan tulisan: (1) Strategi
Advokasi Upah oleh Iryadi. (2) “Pengaruh Fleksibilisasi Pasar Ketenagakerjaan dan
Pengorganisasian Serikat Pekerja/Serikat Buruh di Indonesia”, oleh Sari Aneta. praktik Labor
Market Flexibilitiy (LMF). (3) Dialog bersama Muhamad Rusdi (Sekretaris Jenderal Asosiasi
Pekerja Seluruh Indonesia) dan Yehezkiel Dwiyunanto Prabowo (Ketua Dewan Pimpinan
Daerah Serikat Pekerja Nasional Banten), mengenai dampak krisis keuangan terhadap serikat
buruh. (4) Review buku ”Rasta dan Perlawanan” oleh Fitri Indra Hardjanti. (5) Profile Tokoh
Yehezkiel Dwiyunantha Prabowo (alm) oleh Fauzan. Dan, (6) Dinamika Perburuhan selama
semester I (Januari-Juni 2009).
Artikel pertama, Iryadi memaparkan bagaimana upaya-upaya serikat, khususnya SPN
Cimahi menggolkan upah sesuai kepentingan buruh. Artikel kedua, Sari Aneta memaparkan
bagaiman dampak UUK No. 13/2003 terhadap serikat.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
| 117

Jurnal Sedane Vol. 8. No. 2 2009 berisi tiga artikel, dua wawancara,
tinjauan buku, dan profil tokoh. Artikel pertama, Jafar Suryomenggolo menulis mengenai
sejarah 1 Mei di Indonesia. Artikel kedua mengenai gerakan sosial di Bolivia oleh Angga
Natariandi. Gagasan ketiga memaparkan mengenai problematika buruh dan serikat buruh di
Indonesia oleh Komite Solidaritas Nasional (KSN).
Wawancara bersama Pimpinan Gabungan Serikat Buruh Independen dan piminan serikat
pekerja nasional cabang Serang Banten, dapat ditemukan di rubrik Dialog. Sementara profil
tokoh menurunkan mengenai pejuang bersahaja, Fauzi Abdullah. Sementara Tinjauan Buku
menurunkan buku mengenai Gerakan Sosial di Brazil.

Jurnal Sedane Vol. 9 No. 1 2010 mengetengahkan tiga artikel, dua
wawancara, tinjauan buku, profil tokoh dan dinamika perburuhan semester I 2010. Rubrik
Gagasan menghadirkan tiga artikel. Pertama, Meninjau Ulang Kelas Pekerja dan Pendekatan
Lintas Belahan (Cross-Cleavage Approach); Studi Kasus Perjuangan Gerakan Sosdem Di
Skandinavia yang ditulis oleh Cherry Augusta. Kedua, Pentingnya Membangun Terbitan
Berkala Serikat Buruh yang disumbang oleh Abu Mufakhir. Ketiga, Melawan dalam Kepatuhan;
Perlawanan Buruh Ramai Mall di Yogyakarta olahan Yogi Setya Permana.
Rubrik Dialog menurunkan wawancara mengenai pentingnya persatuan dan pengalaman
mengorganisasikan buruh kontrak. Diturunkan dua wawancara: bersama Ketua Persatuan
Buruh Kontrak Mengguat (PBKM) Jawa Barat dan Presiden Paguyuban Pekerja Muda Peduli.
Di rubrik Tokoh menurunkan tulisan mengenai tokoh pergerakan nasional yang melawan
dengan pena. Dia adalah jurnalis cum aktivis antikolonial, Mas Marco Kartodikromo. Di
rubrik Tinjauan Buku, Yasmine Soraya menambah referensi kita mengenai perkembangan
kapitalisme, Supercapitalism; The Transformation of Business, Democracy, and Everyday Life.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011
118 |

Jurnal Sedane Vol. 10 No. 2 2010 mengangat tema kesehatan dan
keselamatan kerja dan sistem kerja fleksibel. Tulisan-tulisan yang diturunkan di edisi ini
adalah 1) tulisan Nurhayati yang mengangkat tema kondisi kerja di sektor industri garmen
dan tekstil. 2) kondisi kerja di sektor pertambangan dan industri kapur yang ditulis oleh
Darisman. 3) keadaan buruh di perusahaan yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Juga
mengangkat wawancara dengan koordinator KPKB mengenai hak-hak dasar buruh berkaitan
dengan kesehatan kerja. menurunkan sosok Multatuli dalam perjuangan bangsa, juga
menurunkan resensi buku mengenai gerakan massa. Di akhir rubrik tersedia mengenai potret
gerakan buruh pada semester II 2010.

Jurnal Kajian Perburuhan SEDANE Vol. 11 No. 1 2011