You are on page 1of 4

Nama:Syafei Adnan

Kelas:Xi Mipa 2

No. Absen:29

Sulam Teknik Sisir

Sulam sisir (Comb Embroidery) merupakan kreasi sulam tangan berbentuk anyaman timbul, memiliki
keunikan yang menarik dan tidak tergantikan hasilnya oleh jenis sulaman yang lain. Sulam sisir juga dapat
dibentuk melengkung, dilipat, ditekuk, bahkan seolah melayang dan mengambang. Selain itu, sulam sisir
dapat dipadukan dengan sulam datar lainnya. Nah, sulam sisir ini sendiri jika berdasarkan hasil akhir
termasuk dalam jenis sulam timbul atau stumpwork. Sesuai namanya, sulam ini menggunakan alat bantu
yang mudah didapatkan yaitu sisir rambut. Wah ternyata sisir tidak hanya untuk rambut nih.. hehe. Alat
lainnya yang digunakan sama seperti sulam-sulam biasanya : kain, ram (Embroidery Hoop atau disebut
midangan), jarum sulam, dan lainnya. Sederhananya sulam sisir adalah teknik menganyam benang
dengan meletakan benang di alat bantu yaitu sisir. Benang yang digunakan biasanya benang wol dan
benang DMC. Jarak kerapatan dan kerenggangan saat mengatur pembuatan rangka (rangka sisir dan
letak benang) untuk anyaman bervariasi, tergantung selera dan bentuk yang diinginkan. Sulam sisir
dengan berbagai teknik peletakan anyaman bisa dibentuk menjadi bermacam-macam kreasi, seperti
menjadi kelopak bunga yang melebar, kelopak memanjang dan melancip di ujung, bahkan kupu-kupu.
Menarik bukan?

Sulam sisir ada di Indonesia diperkirakan pengembangan sulam yang berasal dari Belanda, atau Prancis.
Sejauh ini, belum bisa dipastikan kejelasan sejarahnya bagaimana sulam sisir tumbuh dan berkembang di
Indonesia. Pada suatu kesempatan saya berbincang dengan Ibu Herry Astuti Imaningsing, pemilik Dian
Hand Embroidery di Sleman. Ibu Herry atau lebih dikenal dengan nama Nunuk Trihadi, penulis buku-
buku sulaman dari berbagai jenis dan sudah beberapa kali mengadakan workshop sulam ini punya cerita
sendiri bagaimana awal beliau mengenal sulam sisir. Semasa kecil, Ibu Nunuk belajar sulam sisir ini
dengan tetangga beliau. Ibu Nunuk juga bercerita, beliau tertarik belajar sulam sisir ketika melihat sulam
ini 'aneh', unik, karena menggunakan alat bantu sisir dan berbeda seperti sulam benang atau sulam pita
yang sudah Ibu Nunuk pelajari dengan Ibu beliau. Tetangga Ibu Nunuk kemungkinan besar mendapat
keterampilan sulam sisir ini lewat orang tua atau nenek yang belajar keterampilan pada zaman
penjajahan Belanda. Setelah berkeluarga, Ibu Nunuk juga sempat tinggal di Padang. Disana Ibu Nunuk
berkawan dengan seorang Ibu yang ahli bordir. Dan pada suatu hari Ibu Nunuk sempat melihat sekilas di
taplak meja milik kawannya tersebut ada sulaman sisir. Sayangnya, Ibu Nunuk belum sempat bertanya
soal itu,beliau sudah pindah lagi ke Jawa. Jadi, sulam sisir sepertinya tidak hanya berkembang di pulau
Jawa saja ya teman-teman.

yang bernama Ibu Ira Dhyani Indira dan Ibundanya yang bernama Ninoek Soenjowati. Ibu dan anak ini telah berkolaborasi menuliskan 2 buku khusus kreasi sulam sisir. Semakin menguatkan pengembangan sulam sisir ini dari Belanda ya temateman-teman. Ibu Nunuk juga bercerita. sementara french embroidery menggunakan jarum pentul (atau needle embroidery).-yang juga menekuni sulam sisir. lebih kecil. Sedangkan Ibu Ninoek mulai belajar bordir ala Belanda dari Ibu mertua dan belajar sulam sisir sejak beliau masih SMA tahun 1952-1953 sewaktu tinggal di Semarang. Melihat usia beliau yang sudah melewati setengah abad lebih. Di Korea Selatan mereka menyebutnya french embroidery. di salah satu toko alat jahit di kota Yogyakarta. dan hidup beberapa lama ketika masih penjajahan Belanda. yang berbeda adalah cara meletakkan benang bantunya dan alat bantu yang digunakan. masih banyak sekali yang belum jelas. Buku-buku itu adalah karya salah satu kawan Ibu Nunuk. French embroidery juga termasuk sulam timbul (stumpwork).Saya sempat dipinjamkan buku sulam sisir oleh Ibu Nunuk. Berdasarkan beberapa cerita dan informasi lainnya itulah mengapa ada kemungkinan sulam sisir di Indonesia adalah pengembangan sulam yang berasal dari Belanda. Jika dilihat sekilas french embroidery mirip dengan sulam sisir yang menggunakan benang jenis DMC. Saya pribadi dan Ibu Nunuk masih penasaran dengan sejarah pengembangan sulam sisir di Indonesia. Sulam sisir sekilas mirip dengan French Embroidery (Sulam Prancis). terlihat lebih rapat dan pasti lebih membutuhkan ekstra telaten juga kesabaran hehe. Semoga di lain waktu kami diberi kesempatan untuk berbincang bersama pemilik toko tersebut. pemilik toko tersebut yang sudah berusia lanjut juga mahir sulam sisir. Melihat latar sekolah Ibu Ninoek. Ibu Ira yang merupakan anak tertua dari Ibu Ninoek belajar sulam sisir dari Ibundanya. Sulam sisir menggunakan sisir. Teman-teman bisa lihat contohnya disini nih . yang salah satunya berkembang menjadi sulam sisir dimulai ketika zaman penjajahan Belanda. Pasti ada banyak pengetahuan yang bisa saya catat dan bagikan sebagai tambahan dokumentasi sulam sisir. Kalau penggunaan benang DMC pada sulam sisir jika dibandingkan dengan menggunakan benang wol adalah lebih halus. Saya baru tau jenis sulaman dengan picot stitch disebut French Embroidery ketika melihat postingan salah satu penyulam yang berasal dari Korea Selatan. serta belajar bordir ala Belanda dan belajar sulam sisir dengan mertua beliau. keterampilan sulam. Sulam sisir dengan french embroidery sama-sama memiliki teknik menganyam. Kalau di Indonesia. Mengutip dari buku. French Embroidery mungkin lebih dikenal dengan nama tusuknya yaitu Picot Stitch (tusuk picot) atau Leaf Raised Stitch (tusuk daun terangkat).

GAMBAR -GAMBAR SULAM TEKNIK SISIR . karena Prancis dan Belanda masih dalam satu benua Eropa.memesona. kemungkinan besar hanya dua buku karya Ibu Ira dan Ibu Ninoek itulah buku panduan dan contoh kreasi karya khusus sulam sisir yang sudah dicetak dan tersebar di Indonesia. cucu. Pengetahuan sulam sisir yang kian langka haruslah dilestarikan oleh kita semua.khas Indonesia. Bukan hanya kurangnya buku kreasi sulam sisir. Sulam sisir merupakan warisan yang patut dilestarikan oleh anak. Buku tidak hanya untuk media pembelajaran saja.Jadi. dari generasi ke generasi selanjutnya. Lalu dibawa dari Belanda dan berkembang di Indonesia. Sayang sekali buku-buku inipun sudah tidak cetak ulang lagi. Penerbitan buku-buku baru atau cetak ulang buku kreasi sulam sisir juga dapat menjadi salah satu usaha. buku-buku ini juga bisa menambah catatan dan dokumentasi sulam sisir. Tidak hanya bagi nenek-nenek dan ibu-ibu yang sudah tidak muda lagi. Selain berdasarkan catatan di buku Ibu Ira dan Ibu Ninoek. cicit. Ada banyak sekali usaha pengenalan dan pelestarian sulam sisir. kemungkinan sulam sisir adalah pengembangan yang berasal dari Prancis pun juga ada. dan remaja putri semakin meningkat. Sulam sisir adalah warisan tempo dulu yang merupakan sulam langka. Mengadakan workshop sulam sisir dan membuka kelas keterampilan seperti yang dilakukan oleh Ibu Nunuk salah satu contohnya. kedua seni sulamnya memiliki keterikatan atau persamaan. tapi ini tugas kita bersama. beruntung sekali saya mendapat kesempatan bisa belajar tentang sulam sisir dari Ibu Nunuk dan pengalaman beliau. catatan lain tentang seni sulam sisir ini juga susah ditemukan. Kedepannya diharapkan antusias masyarakat untuk mengikuti workshop atau kelas keterampilan khususnya Ibu-ibu. mungkin saja bukan? Sampai saat ini. Kebanyakan hanya cerita dan penjelasan dari mulut ke mulut. Atau mungkin.

..