You are on page 1of 7

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR

(MANUSIA DAN KEADILAN)

Disusun Oleh : Nurika Ayu Tiara
(15216583)
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
saya dalam menyusun makalah ini, yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namun tidak
dapat mengurangi rasa hormat saya.
Dalam penyusunan makalah ini tentu banyak kekurangan dan kesalahan, oleh
sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi sempurnanya laporan ini. Demikianlah
yang dapat saya sampaikan mohon maaf apabila terjadi kesalahan.
Jakarta, 11 November 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... 1
DAFTAR ISI .................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 3
B. Perumusan Masalah....................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Makna keadilan.............................................................................................. 4
B. Keadilan Sosial.............................................................................................. 4-5
C. Kejujuran..........................................................................................................5
D. Kecurangan........................................................................................................5
E. Pemulihan nama baik..................................................................................... 5-6
F. Pembalasan........................................................................................................6
G. Manusia dan keadilan..................................................................................... 6
H. Contoh Kasus......................................................................................................7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan..........................................................................................................8
B. Penutup.................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 8
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pada umumnya, manusia mendambakan akan adanya suatu yang adil dalam kehidupannya.
Baik adil secara individual maupun secara social. Rata-rata manusia mendambakan suatu
keadilan secara berlebihan. Buktinya ketika seseorang telah mendapatkan bagian dari haknya,
mereka masih berusaha untuk yang lebih dari yang mereka dapatkan. Ini jelas-jelas telah terbukti.
Faktanya orang yang duduk digedung pemerintahan kebanyakan mereka mengambil bagian
orang lain yang bukan menjadi haknnya (korupsi). Ini jelas-jelas telah mencerminkan suatu sikap
yang tidak adil.
Keadilan merupakan sesuatu yang kerap terdengar di telinga kita. Seorang penguasa negara,
pemerintah, dan masyarakat pada umumnya, semuanya menyerukan dan menginginkan suatu
keadilan. Tidak hanya itu, bahkan mereka juga dituntut untuk menegakkan suatu keadilan. Nah,
keadilan seperti apakah yang sebenarnya diharapkan dapat terwujud dalam sendi-sendi
kehidupan ini?.
Pada dasarnya keadilan itu adalah suatu keselarasan dan keharmonisan antara hak dan
kewajiban. Yang mana orang dikatakan berbuat adil ketika ia benar-benar telah melaksanakan
apa yang seharusnya dilakukan sesuai dengan apa yang dibebankan, dan kemudian baru orang itu
bersedia menerima apa yang sudah menjadi haknya. Oleh karena itu keduanya tidak dapat
dipisahkan. Jika orang hanya menuntut haknya saja, maka dapat dikatakan ia telah memperbudak
orang lain. Begitu juga sebaliknya, jika ia melaksanakan kewajibannya semata, dan tidak mau
menerima haknya, maka ia telah siap diperbudak orang lain.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Keadilan?
2. Apa makna yang terkandung dalam keadilan?
3. Apa saja macam-macam keadilan?
4. Apa itu kejujuran?
5. Bagaimana hakikat kejujuran?
6. Apa itu kecurangan?
7. Mengapa manusia melakukan kecurangan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Makna Keadilan
Keadilan adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbangantara hak dan kewajiban. Jika
kita mengakui hak hidup kita, maka sebaliknya kita wajib mempertahankan hak hidup dengan
bekerja keras tanpa merugikan orang lain. Hal ini disebabkan karena orang lain mempunyai hak
hidup seperti kita. Jika kita mengakui hak hidup orang lain, kita wajib memberikan kesempatan
pada orang lain itu untuk mempertahankan hak hidup mereka sendiri. Jadi keadilan pada
pokoknya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara menuntut hak, dan menjalankan
kewajiban.[1][1]
Jika kata adil di telaah dalam Al-Qur’an, keadilan berasal dari akar kata ‘adl, itu, yaitu
sesuatu yang benar, sikap tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat
dalam mengambil keputusan(“hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas
dasar keadilan).[2][2]

B. Keadilan Sosial
Bung Hatta dalam uraianya mengenai sila “ keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”
menulis sebagai berikut: “ keadilan sosial adalah langkah-langkah yang menentukan untuk
melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur”. Selanjutnya diuraikan bahwa cita-cita keadilan
sosial dalam bidang ekonmi ialah dapat mencapai kemakmuran yang merata. langkah-langkah
menuju kemakmuran yang merata diuraikan secara terinci.
Berpijak pada catatan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dalam melaksanakan amanah
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia secara eksplisit terlihat bahwa penegakan keadilan
sosial di Indonesia belum memperoleh perhatian yang sungguh-sungguh. Bahkan cenderung
selalu terpinggirkan atau hanya menjadi salah satu bagian dari program pembangunan . Padahal
tegaknya keadilan sosial akan menjadi pertanda terwujudnya kesejahteraan sosial.
Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu diperinci perbuatan dan sikap yang
perlu dipupuk, yakni:
1. Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong.
2. Sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta
menghormati hak-hak orang lain.
3. Sikap suka memberi pertolongan kepada orang yang memerlukan.
4. Sikap suka bekerja keras
5. Sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat, untuk mencapai kemajuan dan
kesejahteraan bersama.[3][3]

C. Kejujuran
Jujur atau kejujuran berarti apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya.
Jujur berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan
hukum. Jujur berarti pula menepati janji atau menepati kesanggupan, baik yang telah terlahir
dalam kata-kata maupun yang masih didalam hati (niat).
Pada hakikatnya jujur atau kejujuran ditandai oleh kesadaran moral yang tinggi,
kesadaran pengakuan akan adanya hak dan kewajiban, serta adanya rasa takut terhadap dosa
kepada Tuhan.[4][4] Berbagai hal yang menyebabkan orang berbuat tidak jujur, mungkin karena
tidak rela, pengaruh lingkungan, dan lain-lain.

D. Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran. Curang atau kecurangan artinya
apa yang dikatakan tidak sesuai dengan hati nuraninya, atau juga dari hati nurani orang tersebut
yang memang ingin berlaku curang, dengan maksud agar mendapat keuntungan.[5][5]

E. Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak
tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia
menjadi teladan bagi orang atau tetangga di sekitarnya adalah sesuatu kebanggaan batin yang
tidak ternilai harganya.
Pada hakikatnya, pemulihan nama baik ialah kesadaran manusia akan segala
kesalahannya, bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai
dengan akhlak. Untuk memulihkan nama baik, manusia harus bertaubat, atau meminta maaf.
Taubat dan minta maaf tidak hanya dibibir saja, melainkan harus buktikan dengan
perbuatannya.[6][6]

F. Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan oran lain. reaksi itu dapat berupa perbuatan
yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.
Telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan mengadakan pembalasan bagi yang
bertaqwa dan bagi yang mengingkari perintahNya akan mendapat balasan yang seimbang yaitu
siksaan neraka.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat
balasan yang bersahabat, sebaliknya pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan
yang tidak bersahat pula.[7][7]

G. Manusia dan Keadilan
Keadilan adalah sesuatu yang selalu menjadi dambaan setiap orang. Keadilan selalu
berhubungan dengan hak dan kewajiban.Ukuran keadilan ditentukan oleh soal hak dan
kewajiban. Hak adalah sesuatu yang menjadi milik atau harus diterima setelah orang yang
bersangkutan melaksanakan kewajiban yang menjadi tugasnya.Kewajiban atau tugas adalah
pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan profesi atau jabatanya.
Berbuat adil berarti menghargai atau menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
Berbuat tidak adil berarti menginjak-injak harkat martabat manusia, sebab dengan berbuat
demikian ada manusia yang dirugikan. Berbuat demikian berarti menganggap manusia lain lebih
rendah , padahal hakikatnya manusia itu sama.
H. Contoh Kasus
Kasus kecelakaan dengan korban dua orang tewas yang melibatkan Rasyid Amrullah Rajasa (22), putra
bungsu Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa, usai sudah. Rasyid telah terbukti melanggar
dua pasal, yakni Pasal 310 Ayat (2) dan Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan (LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009.
Dalam sidang vonis yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (25/3/2013), majelis hakim
menjelaskan, terdakwa terbukti melanggar kedua pasal tersebut. Adapun dua pasal itu berisi bahwa
pengemudi kendaraan bermotor yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka ringan
dan kerusakan serta mengakibatkan korban meninggal dunia.
Namun sejak terjadi kecelakaan hingga proses persidangan anak mentri tersebut tidak di penjara yang
kabarnya bahwa si tersangka mengalami depresi dan setelah persidangan pun kabarnya pihak keluarga
korban sudah mengiklaskan dan menempuh jalur kekeluargaan dan dari pihak tersangka akan menjamin
kehidupan keluarga korban. Kasus ini terjadi begitu cepat anak mentri pun tidak terlalu menjadi bulan
bulanan omongan masyarakat dan media sosial berbeda dengan kasus tabrakan oleh Afriyani susanti.
kasus penabrakan di Tugu Tani, Afriyani Susanti, 29 tahun, dijatuhi vonis hukuman 15 tahun penjara. Ia
dianggap terbukti melanggar Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan. Ia dianggap dengan sengaja mengemudikan kendaraan dalam keadaan yang
membahayakan keselamatan orang lain.
Afriyani sejak pada saat proses persidangan hingga menjadi terdakwa pun sudah dipenjara dan menjadi
bulan bulanan omongan masyarakat serta di media sosial, hal ini sangatlah berbeda dengan kasus
tabrakan yang dilakukan oleh anak menteri. Disini terlihat bahwa adanya ketidak adilan dalam sebuah
kasus yang sama.

BAB III
Penutup

A. Kesimpulan
Dari uraian diatas jelas sudah pembahasan mengenai manusia dan keadilan. Dimana
manusia adalah makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan dalam bentuk
yang berpasang pasangan. Dimana manusia ada yang baik juga ada yang jelek, ada yang pandai
juga ada yang bodoh , dll. Ini semua merupakan suatu konsep keadilan yang hakiki secara kodrat
tuhan. Keadilan menurut para pandangan tokoh yaitu keadilan yang sama rata sama rasa dan
terpenuhinya semua hak-hak manusia.
Hubungannya dengan manusia adalah hubungan yang sangat erat sekali yang tidak dapat
dipisahkan dengan apa pun. Manusia tanpa keadilan maka kehidupannya tidak akan tentran.
Karena unsur pertama dari kehidupan adalah keadilan. Karena keadilan memberikan suatu
perdamaian dan persatuan dikalangan manusia.

B. Penutup
Dari pembahasan makalah tersebut dapat disimpulkan bahwa keadilan merupakan kata
kunci yang menentukan selamat atau tidaknya manusia dimuka bumi ini. Keadilan sangat
dibutuhkan dalam kehidupan manusia, karena tanpa keadilan mustahil perdamaian akan tercipta.
Keadilan erat kaitanya dengan kejujuran, karena kejujuran melahirkan keadilan. Keadilan dan
ketidak adilan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Widagdho, Djoko,dkk.2003. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Wahyu, Ramdani . 2008. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Cv. Pustaka Setia.
Notowidagdo, Rohman . 1996. Ilmu Budaya Dasar berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Jakarta:
Rajawali Pers.

Diposting oleh nurika ayu tiara di 15.12
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Posting Komentar