You are on page 1of 3

ANALISA KASUS

Diagnosis pada pasien ini adalah :


Diagnosa Klinis : Paraparese inferior tipe LMN
Diagnosa Topis : Miogenik
Diagnosa Etiologi : Paralisis periodik hipokalemia

Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa :
o Tn. H 30 thn datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan utama, kedua
tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS, pertama kali dirasakan pada tungkai kiri,
kemudian tungkai kanan. Pasien tidak mengeluhkan rasa baal, kesemutan, bicara cadel,
wajah mencong ke satu sisi.
 Dari keluhan utama pasien menunjukkan adanya kelemahan akut pada daerah
ekstremitas, hal ini dapat merupakan manifestasi klinis dari stroke, tetapi setelah
dianamnesa lebih lanjut mengenai keluhan utamanya maka diagnosis stroke dapat
dilemahkan karena pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan sensoris dan
gangguan pada saraf kranial, tetapi hal ini masih memungkinkan terjadi stroke apabila
lesi hanya berada di korteks motorik. Selain itu keluhan pasien yang bersifat motorik
dan timbul secara berkala, dapat mengarah kepada kelemahan tipe LMN, adapun
penyakit yang dapat menimbulkan kelemahan tipe LMN adalah paralisis periodik,
gullian barre sindrom, miastenia gravis

o Pasien menyangkal adanya keluhan sakit kepala, mual, muntah, gangguan


menelan, riwayat penurunan kesadaran maupun trauma/terjatuh, demam, batuk-pilek
 Berdasarkan keluhan pasien tersebut menunjukan bahwa tidak adanya tanda
peningkatan intrakranial, dan gangguan fungsi otonom yang semakin melemahkan
diagnosa stroke dan mempertegas bahwa kelemahan yang dialami pasien bersifat
murni motorik. Selain itu melemahkan pula diagnosa gullian barre sindrom karena
pasien tidak memiliki riwayat demam maupun batuk-pilek dalam 1 bulan terakhir.
 Diagnosa miastenia gravis juga dapat dilemahkan karena pada miastenia gravis,
kelemahan terutama terjadi pada otot yang sering digunakan seperti otot bola mata,
otot – otot untuk menelan dan berbicara.
o Pasien mengeluhkan kelemahan ini setelah makan makanan berat (nasi),
Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makanannya
juga seperti biasa (1 piring), Keluhan seperti ini sudah beberapa kali dialami pasien (± 6
kali) dan dirawat di RS.
 Berdasarkan keluhan pasien semakin memperkuat diagnosa paralisis periodik, dimana
kelemahan pada paralisis periodik dapat terjadi pada pagi hari sehabis bangun tidur,
setelah aktivitas fisik yang berat maupun setelah memakan makanan dengan
kandungan tinggi karbohidrat. Selain itu pada paralisis periodik juga tidak disertai
dengan keluhan sensorik. Pasien juga sudah beberapa kali merasakan keluhan yang
sama, hal ini menguatkan diagnosa periodik paralise yaitu serangan sudah terjadi
berulang.

o Pada pemeriksaan fisik ditemukan kelemahan pada kedua tungkai, hal ini
sesuai dengan kepustakaan dimakan dikatakan bahwa pada periodik paralisis ini ditandai
dengan kelemahan dari otot-otot skeletal episodik tanpa gangguan dari sensoris ataupun
kognitif yang berhubungan dengan kadar kalium yang rendah di dalam darah. Pada
refleks fisiologis tidak didapatkan peningkatan refleks, hal ini menyingkirkan semua
diagnose banding dari lesi UMN.

o Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hipokalemia, hal ini menunjukkan


kelemahan otot pada pasien terjadi karena hipokalemia, menurut kepustakaan periodik
paralise adalah kelainan yang ditandai dengan hilangnya kekuatan otot, umumnya terkait
dengan abnormalitas K+ dan abnormalnya respon akibat perubahan K + dalam serum.
Periodik paralise dapat dikelompokkan menjadi (1) Periodik paralise hipokalemia yang
dapat disebabkan oleh : genetik, hipertiroid, hiperaldosteronism, gagal ginjal kronik dan
idiopatik, (2) Periodik paralise hiperkalemia. (3). Periodik paralise normokalemia

o Pada pemeriksaan EKG tidak ditemukan adanya kelainan. Pada pasien


paralisis periodik hipokalemia perlu dilakukan pemeriksaan EKG, karena keadaan
hipokalemia dapat mengganggu kerja dari organ lain, terutama sekali jantung yang
banyak sekali mengandung otot dan berpengaruh terhadap perubahan kadar kalium
serum. Perubahan kerja jantung ini dapat dideteksi dari pemeriksaan elektrokardiogram
(EKG). Perubahan pada EKG ini dapat mulai terjadi pada kadar kalium serum dibawah
3,5 dan 3,0 mEq/L. Kelainan yang terjadi berupa inversi gelombang T, timbulnya
gelombang U dan ST depresi, pemanjangan dari PR, QRS, dan QT interval.

o Penatalaksaan pada pasien ini dilakukan berdasarkan :


Pada pasien ini diberikan IVFD RL 20 tetes per menit untuk memelihara
keseimbangan cairan dan elektrolit, serta untuk memasukkan obat melalui vena.
Penatalaksanan priodik paralise hipokalemi harus didasari dengan prinsip terapi untuk
keadaan hipokalemia, yaitu mengembalikan jumlah kalium dalam tubuh kembali ke
nilai normal. Pemberian rutin kalium chlorida (KCL) 5 hingga 10 g per hari secara
oral dapat mencegah timbulnya serangan pada kebanyakan pasien. Pada suatu
serangan yang akut atau berat, KCL dapat diberikan melalui intravena dengan dosis
inisial 0,05 hingga 0,1 mEq/KgBB dalam bolus pelan, diikuti dengan pemberian KCL
dalam 5 % manitol dengan dosis 20 hingga 40 mEq. Kepustakaan lain KCL dapat
diberikan dengan dosis 50 mEq/L dalam 250 cc larutan 5 % manitol. Monitoring
kadar kalium tiap 2-4 jam perlu dilakukan untuk menghindari hiperkalemia terutama
pada pemberian secara intravena.

Prognosis pada pasien in ad bonam, karena dengan pengobatan konservatif sebagian besar
pasien akan pulih dan kembali menjalankan aktivitasnya dengan normal