You are on page 1of 47

Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.

1 dari 43

MODUL III
SYSTEM GAYA PADA BENDA TEGAR

Tujuan Pembelajaran:
 Memberikan penjelasan tentang statika benda tegar dalam bidang dan dalam ruang

Setelah menyelesaikan modul ini mahasiswa diharapkan dapat:


 Mengerti prinsip transmisibilitas dan gaya ekivalen
 Dapat menentukan momen gaya terhadap titik dan menerapkan teorema Varignon
dalam bidang.
 Dapat menentukan momen gaya dalam bidang.
 Dapat menentukan momen gaya terhadap garis.
 Dapat menentukan momen suatu kopel, kopel ekivalen, penjumlahan kopel,
menguraikan gaya menjadi gaya kopel dan kopel, Sisten ekivalen gaya sebidang.
 Dapat memindahkan gaya menjadi gaya dan kopel.
 Dapat menentukan resultan system gaya coplanar dan dalam ruang.
 Dapat menentukan gaya ekivalen dari beban terdistribusi.

Kata Kunci
Benda tegar gaya, Momen terhadap titik, Momen gaya terhadap garis.

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.2 dari 43

Pada bahasan di bab II, benda dianggap sebagai suatu partikel sehingga gaya-gaya
yang bekerja pada benda tersebut dianggap bekerja pada suatu partikel. Hal ini karena
ukuran maupun bentuk benda yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan besarnya
gaya. Anggapan ini tidak selamanya tepat, dalam banyak kasus sering dijumpai ukuran
maupun bentuk benda tidak dapat diabaikan terhadap besarnya gaya. Dalam hal
demikian benda dianggap sebagai kumpulan dari banyak partikel sehingga gaya-gaya
yang bekerja pada benda tersebut merupakan gaya-gaya yang bekerja pada partikel yang
letaknya berlainan.
Suatu benda yang bila diberi gaya tidak mengalami deformasi dinamakan benda
tegar atau benda kaku. Pada kebanyakan struktur atau mesin, hal yang demikian hampir
tidak pernah terjadi dan struktur akan berdeformasi (walaupun sangat kecil) sebagai
akibat adanya gaya. Bila pembahasannya dibatasi pada pengaruh gaya terhadap
keseimbangan dan gerakan, maka deformasi tersebut dapat diabaikan namum bila
pembahasannya adalah pengaruh gaya terhadap kekuatan bahan, maka deformasi
tersebut harus diperhitungkan dan hal ini banyak dibahas pada buku-buku Mekanika
Kekuatan Bahan.
Pada bab ini akan dibahas tentang pengaruh gaya-gaya yang bekerja pada benda
tegar dan bagaimana mengganti gaya-gaya tersebut menjadi satu gaya ekuivalent. Guna
analisis lebih lanjut digunakan prinsip transmisibilitas gaya dengan menganggap bahwa
pengaruh gaya terhadap gerakan dan keseimbangan pada benda tegar tidak akan
berubah jika gaya tersebut digeser sepanjang garis kerjanya. Pada bab ini juga dibahas
tentang momen dari suatu gaya terhadap titik dan momen dari gaya terhadap garis.
Pembahasan juga meliputi momen kopel yaitu pengaruh dari dua gaya yang sama besar,
sejajar dan berlawanan arah. Dengan menggunakan prinsip momen kopel, maka suatu
gaya dapat dipindahkan menjadi gaya dan momen kopel, demikian juga suatu gaya dan
momen kopel dapat diubah menjadi suatu gaya ekuivalent.

3.1 GAYA DALAM DAN GAYA LUAR


Gaya yang bekerja pda benda tegar dibedakan dalam dua grup yaitu gaya luar dan
gaya dalam. Gaya luar merepresentasikan suatu aksi dari benda lain terhadap benda
yang dikenai gaya. Akibat gaya tersebut benda akan bergerak (translasi dan rotasi) atau

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.3 dari 43

diam, gaya jenis ini akan dibahas pada bab ini. Gaya dalam adalah gaya yang digunakan
untuk menahan partikel-partikel yang membentuk benda tegar sehingga benda tidak
berubah bentuk. Pembahasan tentang gaya dalam akan dilakukan pada bagian akhir dari
buku ini.
Sebagai ilustrasi dari gaya luar, maka pandang gambar 3.1a pada gambar tersebut
ditunjukkan sebuah mobil yang ditarik oleh orang. Diagram benda bebas dari system
gaya ditunjukkan pada gambar 3.1b.
Berat mobil sebagai akibat adanya grafitasi bumi dinyatakan oleh gaya luar W.
Akibat gaya berat W, maka mobil akan bergerak vertikal kebawah sesuai dengan arah
W, tetapi karena adanya gaya reaksi R dari jalan ke mobil (R1 + R2 = W), maka terjadi
keseimbangan gaya dalam arah vertikal sehingga tidak terjadi gerakan mobil dalam arah
vertikal.

Gambar 3.1 (a) Mobil ditarik orang (b) Diagram benda bebas

Aksi dari orang terhadap mobil (melalui tali) dinyatakan oleh gaya tarik F. Jika
gesekan gelinding (rolling resistance) antara roda dengan jalan diabaikan, maka tidak
ada yang menahan gaya F sehingga mobil akan bergerak translasi sesuai dengan arah F.
Jenis gerakan lainnya yang diakibatkan oleh gaya luar adalah gerakan rotasi. Jika pada
bumper depan dari mobil ditarik ke atas oleh suatu gaya, maka mobil akan bergerak
rotasi berlawanan arah dengan jarum jam dengan roda belakang sebagai tumpuannya.

3.2 PRINSIP TRANSMISIBILITAS GAYA, SYSTEM GAYA EKUIVALENT


Prinsip transmisibilitas gaya menyatakan bahwa kondisi gerakan maupun kondisi
keseimbangan dari benda tegar tidak berubah jika gaya F yang bekerja pada benda tegar
tersebut digeser sepanjang garis kerjanya.

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.4 dari 43

F F”
= =
F”

a b c

Gambar 3.2 Prinsip transmisibilitas gaya

Prinsip transmisibilitas gaya ini ditunjukkan pada gambar 3.2, di mana gaya F di
geser sepanjang garis kerjanya. Disini gaya F, F' dan F″, tidak merubah kondisi
keseimbangan maupun kondisi gerakan dari benda tegar dan ke tiga gaya tersebut
dikatakan ekuivalent.

Gambar 3.3 Gaya F dan gaya ekuivalent F'

Sekarang dilihat kembali kasus pada mobil pada gambar 3.1, garis kerja dari gaya
F adalah horisontal melalui bumper depan dan bumper belakang. Dengan prinsip
transmisibilitas gaya, maka dapat dibuat gaya ekuivalent F' (F = F') yang bekerja pada
bumper belakang dari mobil (gambar 3.3b). Perhatikan bahwa gaya ekuivalent F' tidak
merubah kondisi keseimbangan dalam arah vertikal dan tidak merubah arah gerakan
mobil (translasi searah dengan F).
Prinsip transmisibilitas gaya dan konsep gaya ekuivalent mempunyai batasan-
batasan, untuk itu pandang batang ABC di gambar 3.4a. pada batang ABC bekerja gaya
FA dan FC yang sama besar segaris kerja dan berlawanan arah. Jika kedua gaya tersebut
cukup besar, maka akan terjadi kerusakan bahan pada bagian BC (luas penampang pada
bagian AB lebih besar dibandingkan dengan luas penampang pada bagian BC). Dengan

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.5 dari 43

prinsip transmisibilitas gaya, maka gaya FC diganti dengan FB dan bekerja di titik B di
mana FB = FC (gambar 3.4 b). Hal ini tidak merubah kondisi keseimbangan maupun
kondisi gerakan dari benda tegar, tetapi pada batang bagian BC menjadi tidak menerima
beban sehingga tidak ada gaya dalam pada bagian BC. (gaya dalam hanya terjadi pada
bagian AB). Kalau bebannya dibesarkan kerusakan pada benda akan terjadi pada bagian
AB dan ini berbeda dengan kondisi awalnya (gambar 3.4 a). demikian juga
deformasinya, pada gambar 3.4 a deformasi akan terjadi di seluruh batang ABC sedang
pada gambar 3.4 b deformasi nya hanya terjadi pada bagian AB saja.
Kesimpulannya adalah prinsip transmisibilitas gaya boleh digunakan bila pengaruh
gaya luar yang dibahas sebatas pada keseimbangan dan gerakan benda tegar, sedangkan
dalam pembahasannya meliputi, gaya dalam dan deformasi maka, tidak dapat digunakan
prinsip transmisibilitas gaya.

Studi Kasus
SP 3.1

A B
Jarak AB = 0.2 m, FA = 200 N dan FB =
150 N. Gantilah gaya FA dan gaya FB
60o 45o FB
FA menjadi satu gaya ekivalen dan carilah garis
kerja nya.

Gambar 3.1a

Penyelesaian :

m
m m
FA FB
A B A B

a R b
R
FA FB c

(b1) (b2) (b3)

Gambar SP 3.1 b : Solusi grafis Studi kasus SP 3.1

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.6 dari 43

Garis kerja dari FA dan FB berpotongan di titik m (gambar SP 3.1 b1), selanjutnya
dengan menggunakan prinsip transmisibilitas gaya maka, gaya FA dan FB digeser ke
titik m (gambar Sp 3.1 b2). Karena FA dan FB sudah bekerja di satu titik (titik m), maka
kedua gaya FA dan FB dapat di jumlahkan dengan menggunakan hukum paralelogram
gaya yang hasilnya adalah resultante gaya R. Jelaslah bahwa gaya FA dan FB dapat
diganti dengan satu gaya ekuivalent R yang melalui titik m (gambar SP 3.1 b3).
Dari paralelogram gaya di dapatkan :

mc mc
R x FA  x FB  .................................. N
ma mb

SP 3.2

5o

Jika F1 = 200 N dan F2 = 150 N dan AB = 0.2 m


A B
(gambar SP 3.2 a), maka gantilah gaya F1 dan F2 dengan
satu gaya ekivalen.

F1 F2

(a)

Penyelesaian :

m O m

S1 S2 R1
A B
R C
R2 a
R1

F1 F2 R2 R

(c) (d)
(b)

Gambar SP 3-2

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.7 dari 43

Disini gaya F1 hampir sejajar dengan gaya F2 sehingga garis kerja dari kedua gaya
tersebut akan berpotongan di titik yang amat jauh dari titik kerja gaya F1 dan F2. Untuk
iti sepanjang garis AB dibuat gaya S1 di titik A dan dan S2 di titik B. Kedua gaya
tersebut sama besar dan berlawanan arah sehingga :
S1  S 2  0 (a)

F1  S 1  F2  S 2  F1  F2  R (b)

jika F1  S 1  R1

F2  S 2  R2

maka R  R1  R2 (c)

Resultante R1 dan R2 ditunjukkan pada gambar SP 3.2b dan garis kerjanya


berpotongan di titik m. Dengan cara yang sama dengan analisis SP 3.1, maka di
dapatkan resultante gaya R (gambar SP 3.2d). Jadi gaya F1 dan F2 dapat diganti dengan
satu gaya ekuivalen R yang melalui titik m dan memotong garis AB di titik C.

Dari gambar SP 3.2 C dan D didapatkan :

ob ob
R  R1  R2  ............................... N
oa ab

3.3 MOMEN DARI GAYA TERHADAP TITIK


Gerakan yang dihasilkan oleh gaya-gaya yang bekerja pada suatu partikel hanyalah
gerakan linier (lurus) saja, tetapi gerakan yang dihasilkan oleh gaya-gaya yang bekerja
pada benda tegar bukan hanya gerakan lurus saja melainkan juga gerakan rotasi (putar).
Hal ini disebabkan oleh adanya momen dari gaya-gaya yang bekerja pada benda tegar
tersebut.
Sekarang tinjau gaya F yang bekerja pada benda tegar di titik A dan terletak pada
bidang xoy (gambar 3.4). Posisi dari gaya F terhadap titik o dinyatakan oleh vektor
posisi r.

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.8 dari 43

y
y

F
F
r A r A
M oF o
x x
o d
Mo
z F
z

(a) (b)

Gambar 3.4 Momen dari gaya F terhadap titik o

Momen dari gaya terhadap titik o yaitu MFO didefinisikan sebagai perkalian silang
antara vektor posisi r dengan vektor gaya F yaitu :

M OF  r x F 3.1

Jelaslah bahwa momen dari gaya terhadap titik merupakan besaran vektor sehingga
mempunyai arah dan besar. Arah dari momen ditentukan oleh arah maju sekerup kanan
jika diputar dari r ke F. Pada gambar 3.4 ditunjukkan arah momen yaitu jika sekerup
kanan akan berputar searah dengan sumbu z positif. Jika r adalah besar vektor posisi r
dan F adalah besar dari vektor gaya F sesuai dengan aturan perkalian silang dua buah
vektor, maka besar dari MFO adalah MFO =

M OF  r F sin  3.2

dimana  adalah sudut antara r dengan F


Jika d adalah jarak terpendek dari titik o ke garis kerja gaya F, maka d = r sin θ
(gambar 3.4b) sehingga :

MFO = d sin θ 3.3

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.9 dari 43

Karena besar dari momen dari gaya adalah perkalian antara jarak dengan gaya,
maka satuan dari momen adalah Nm (System Satuan Internasional) atau lb . in (System
Satuan British).

3.4 TEOREMA VARIGNON


Teorema Varignon menyatakan bahwa momen
y
o M dari suatu gaya terhadap suatu titik
besarnya sama dengan jumlah momen dari
komponen gaya tersebut terhadap titik yang
  d2
sama. Untuk membuktikan teorema ini, maka
d
r 2
pandang gambar 3.5. Komponen dari gaya F
r 
d1 terhadap arah 1 dan 2 adalah F1 dan F2
F
sehingga F = F1 + F2 .
F2

F1 

A  x

Gambar 3.5 Ilustrasi teorema varignon

Jarak dari o ke F, F1 dan F2 berturut-turut adalah d, d1, dan d2 ; Jika r, F, F1 dan F2


adalah besar skalar dari r, F, F1 dan F2 dan γ, α dan β adalah sudut antara OA dengan F,
F1 dan F2, maka :
M  M OF  d f  r F cos 

M 1  M OF1  d 1 F  r F1 cos  (a)

M 2  M OF2  d 2 F  r F2 cos 
Dari gambar 3.5 terlihat bahwa :
F cos   F1 cos   F2 cos  (b)
Persamaan (a) dan (b) menghasilkan :
M  M1  M 2

dan M OF  M OF1  M OF2

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.10 dari 43

atau r x F  r x F1  F2  3.4

y R
sekarang dilihat gambar 3.6, ada n buah gaya
F2
yang bekerja di titik A yaitu Fj, j = 1, 2 ……. n.

Fj
Jika R = F1 + F2 + …… Fj, maka Fj, j = n
F1
merupakan komponen dari gaya R di titik A.
A
r
x
o

Gambar 3.6

Sesuai dengan teorema varignon, maka momen dari system gaya tersebut terhadap
titi o adalah :

r x R  r x F1  F2  ........Fn  3.5 a


atau
n
r x R  r x 
j 1
Fj 3.5 b

r = Vektor posisi dari titik ke titik A

Teorema ini mempunyai aplikasi penting dalam penyelesaian soal-soal dan


pembuktian-pembuktian teorema yang menyertainya. Hal ini karena momen dari
komponen gaya terhadap garis seringkali lebih mudah dicari dibandingkan mencari
momen dari gaya itu sendiri terhadap suatu titik

3.5 MOMEN DARI GAYA DALAM RUANG


Secara umum untuk mencari momen dari gaya dalam ruang terhadap sebuah titik
akan lebih mudah jika vektor gaya dan vektor posisi-nya di uraikan sesuai dengan arah
koordinat x y z. (gambar 3.7)
Pada titik B bekerja gaya F yang mempunyai r dari titik A. Komponen dari r dan F
pada sumbu koordinat x y z adalah

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.11 dari 43

r  rx iˆ  ry ˆj  r j kˆ 3.6a

r   x B  x A  iˆ   y B  y A  ˆj   z B  z A  kˆ

F  Fx iˆ  Fy ˆj  Fz kˆ 3.6 b

y Fy My

B
ry Fx MA
r
Fz rx
x Mx
rz A

z Mz

(a) (b)
Gambar 3.7 Ilustrasi momen dari gaya dalam ruang

Secara teoritis momen dari gaya F terhadap titi A adalah MA dinyatakan sebagai :

iˆ ˆj kˆ
MA  r x F  rx ry rz 3.7 a
Fx Fy Fz

atau

M A  M Ax  M Ay  M Az 3.7 b

di mana
Mx , My dan Mz adalah komponen-komponen dari MA pada sumbu koordinat x y z
dan vektornya adalah :

M x  ry Fz  rz Fy iˆ  3.8a

M y  rz Fx  rx Fz  ˆj 3.8 b


M z  rx Fy  ry Fx kˆ  3.8 c

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.12 dari 43

besar (skalar) MA adalah MA :

MA  M x2  M y2  M z2 3.8 d

Studi Kasus
SP 3.3

10 cm 10 cm F
B C 3
4
Jika F = 1000 N (gambar SP 3.3 a), maka carilah :
Momen dari F terhadap titik A dan terhadap titik B
40 cm

Gambar SP 3.3 a

Penyelesaian
(a) Digunakan pendekatan secara vektoris (bambar SP 3.3 b)
Koordinat dari titik-titik :
y A (0, 0, 07) B (-0.1, 0.4, 0) dan
0.2 m F
C (0.1, 0.4, 0)
rB 4 3
B
C
Sehingga :
rA 0.4 m
rA = (xC - xA) iˆ + (yC – yA) ĵ + (zC – zy)

= 0.1 iˆ + 0.4 j (m)


A
x
z
0-1 m rB = (xC – xB) iˆ + (yB – yC) ĵ + (zC – zB) k̂

= 0.2 iˆ (m)
Gambar SP 3.3 b

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.13 dari 43

vektor gaya F :

F
5 3
F = (F cos θ) iˆ + Fj sin θ ĵ

4 F = (800 iˆ + 600 ĵ ) M

iˆ ˆj kˆ
M A  0.1 0.4 0  600  320  kˆ
800 600 0

M A   260 kˆ N.m
MA = 280 N.m searah dengan arah jarum jam memutari sumbu z

iˆ ˆj kˆ
MB  0.2 0 0  120 N.m
800 600 0

MB = 120 berlawanan arah dengan jarum jam memutari sumbu z

(b) Digunakan theorema varignon

y cos θ = 0.8 dan sin θ = 0.6


0.2 m F Gaya F diuraikan dalam arah horizontal (FH)
rB dalam vertikal (FV)
B
C
FH = F cos θ = 0.8 F = 800 N
0.4 m

rA FV = F sin θ = 0.6 F = 600 N

Dibuat perjanjian tanda sebagai berikut :


A
x Momen akan positif bila memutar suatu titik
z
0.1 m
dengan arah berlawanan arah dengan arah
putaran jarum jam ( ) sehingga :
Gambar SP 3.3 c

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.14 dari 43

Momen dari FH terhadap titik A ( MAH )

MAH = - (FH) (0.4) = - 320 N.m

Momen dari FV terhadap titik A ( MAV )

MAV = + FV (0.1) + 60 N.m

Momen dari F terhadap titik A : MA = MAH + MAV = -260 N.m. Jadi momen dari
F terhadap titik A adalah 260 N.m searah dengan arah putaran jarum jam.
Momen dari F terhadap titik B = MB
MB = (FV) (0.2) + (FH) (o) = 0.2 FV = 120 N.m (arah berlawanan dengan arah
putaran jarum jam)

SP 3.4
Pipa seperempat lingkaran terletak dibidang xoy (gambar SP 3.4a) ujung o dijepit dan
diberi beban gaya F dari A menuju ke C sebesar 100 N.
Carilah momen dari F terhadap titik o

z
z

o o
m
m

3
3

y
r=3m
m
m

y
1
1

x x A
F A 1m F
1m c

(a) (b)

Gambar SP 3.4

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.15 dari 43

Penyelesaian
Untuk mudahnya dibuat sistem koordinat tegak, xyz, vektor posisi r dan vektor gaya F
seperti tampak pada gambar SP 3.4. Koordinat : o0, 0, 0) A (3, 3, 0) dan C (4, 0, -2).
Vektor posisi r :
r   x A  xo  iˆ   y A  y o  ˆj  z A  z o  kˆ

r  3 iˆ  3 ˆj (a)

Vektor gaya F :

dx  xC  x A  m, dy  y c  y A  3m dan dz  z c  z A  2m

dl  AC  dx 2  dy 2  dz 2  3.7417 m

dx ˆ dy ˆ dz ˆ
F Fi  F j  Fk
dl dl dl


F  26.7 iˆ  80.18 ˆj  53.45 kˆ N 
Momen dari F terhadap o adalah Mo = r x F

i j k i j k
M o  rx ry rz  3 3 0 N.m
Fx Fy Fz 26.7  80.18  53.45

atau
 
M o   160.35iˆ  160.35 ˆj   320.64kˆ N.m

Mo   160.35 i  160.35 ˆj  320.64 kˆ  N.m

3.6 MOMEN DARI GAYA TERHADAP GARIS


Momen dari gaya terhadap titik banyak digunakan dalam menyelesaikan masalah
keseimbangan dan pada perhitungan kekuatan bahan, namun dalam mekanika momen
tersebut kurang mempunyai arti fisis. Momen dari gaya terhadap titik membuat benda
tegar berputar di sekitar titik tersebut, sedangkan kebanyakan benda tegar berputar

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.16 dari 43

terhadap suatu garis. Bila garis tersebut merupakan sumbu dari poros/pipa, maka
momen dari gaya terhadap garis sering disebut torsi atau momen puntir.

y
y
Mo Mz Mo

o
A
A x 
r a x
D  B Mx
b z
z F

(a) (b)

Gambar 3.8 Ilustrasi momen dari gaya terhadap garis

Perhatikan gambar 3.8 a. pada poros OA dipasang piringan yang sejajar dengan
bidang y o z. Bidang OAB terletak pada bidang XOY dan di titik B bekerja gaya F arah
ke bawah sejajar dengan sumbu z. Momen dari F terhadap titik o adalah Mo = r x F dan
besarnya adalah Mo = r F. Momen dari F terhadap sumbu x adalah Mx = a F (arah
memutari sumbu x positif), momen dari F terhadap sumbu y = 0 (F tidak memutari
sumbu y) sedangkan momen dari F terhadap sumbu z adalah Mz = b F (arah memutari
sumbu z negatif). Ilustrasi dari Mo, Mx dan Mz ditunjukkan pada gambar 3.8 b. Dari
gambar 3.8 a di dapat hubungan geometris sebagai berikut : a = r cos θ dan b = r sin θ
sehingga :
Mx = a F = r F cos θ = Mo cos θ (a)

My = b F = r F sin θ = Mo sin θ (b)

Persamaan (a) dan (b) menunjukkan bahwa Mx dan My merupakan komponen dari
Mo terhadap sumbu x dan sumbu y, sehingga dapat disimpulkan bahwa momen dari
gaya terhadap garis adalah komponen dari momen gaya terhadap titik (yang dilalui garis
tersebut) terhadap arah garis tersebut.
Sekarang akan dibuat formulasi secara vektoris dari momen suatu gaya terhadap
garis, ilustrasi vektoris tersebut ditunjukkan pada gambar 3.9.

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.17 dari 43

y  y êe


Mo
Mo
F M F
r r
x x
o

z
z (a) (b)

Gambar 3.9 Vektor momen gaya terhadap garis

Akan dicari momen dari F terhadap garis l yaitu Ml. Pertama kali dicari Mo dari F
terhadap titik O (Mo) selanjutnya dicari komponen dari Mo terhadap garis l (Ml). Jika
êl adalah vektor satuan dalam arah l (gambar 3.9 h), maka sesuai dengan atutan operasi
vektor dapat dicari besar (skalar) sebagai berikut :

M l  eˆl  M o  eˆl  r x F  3.9 a

sehingga

i j k
M l  eˆl  rx ry rz 3.9 b
Fx Fy Fz

Bila komponen dari êl terhadap sumbu koordinat x, y, z adalah ex, ey dan ez, maka

eˆl  e x iˆ  l y ˆj  e z kˆ 3.9 c

Subsitusi persamaan (c) ke persamaan (a) di dapatkan besar dari vektor Mc sebagai
berikut :

ex ey ez
M e  rx ry rz 3.10
Fx Fy Fz

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.18 dari 43

Arah dari M  ditunjukkan oleh vektor Mc yaitu :

ex ey ez
M   M l eˆ  rx ry rz eˆ 3.11
Fx Fy Fz

Studi Kasus

SP 3.5

Pipa OAB dan kunci BC terletak pada


y bidang xoy (gambar SP 3.5 a). Pada titik
0.5 m

r
C diberi gaya vertikal F = 120 N.
0.15 m
F Carilah torsi akibat gaya F pada pipa
C sepanjang sumbu x
A
450
B 0.2 m

(gambar SP 3.5 a)

Penyelesaian

Dicari dulu koordinat titik B dan C (B dan


z
C bidang x o y).
MX
o
XB = XA + AB cos 45° = 0.606 m
y YB = YA + AB sin 45° = 0.106 m
m
0. 5

r XC = XB - AC cos 45° = 0.4646 m


A F
0. YC = YB + AC sin 45° = 0.2475 m
45o 15
m o
45 C Sehingga koordinat C adalah:
m
0.2 C (0.4646, 0.2475, 0)
B

(gambar SP 3.5 b)

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.19 dari 43

Jarak titik C ke sumbu x adalah yC = 0.2475 m

Mx = (0.2475) (120) N.m = 29.7 N.m memutar sumbu x negatif (a)


Cara vektori
Gaya F vertikal ke bawah sehingga
F  120 k̂
Vektor OC = r
r  xC iˆ  y C ˆj  z C kˆ

 0.4646  iˆ  0.2475 ˆj
Vektor satuan dalam arah sumbu x = î
1 0 0
M x  rx ry rz  0.4646 0.2475  29.7 N
Fx Fy Fz 0 0  120

M x  M x iˆ   29.7 iˆ (b)

Dari hasil (b) dapat disimpulkan bahwa momen dari F terhadap sumbu x akan
memutasi sumbu x negatif.

SP 3.6

36 inc B Besar gaya F pada gambar SP 3.6 adalah


C
F 107 lb, carilah momen dari F terhadap o
dan komponennya terhadap garis OC
32 inc
(sumbu x)
o A

3 4 in
x c 20o
y

Gambar SP 3-6 a

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.20 dari 43

Koordinat titik A :
z XA 0
36 inc B lb Y A  34 cos 20  31.95 inc
7
10 x Z A  34 sin 20  11.63 inc
= C
F
B A0, 31.95, 11.63
32 inc
o Koordinat titik B
r A
3 4 in
c X B  36 inc
20o
YB  0
y Z B  32 inc
Gambar SP 3-6 b B- 36, 0, 32 


l AB   x B  x A    y B  y A    z B  z A 
2 2 2
 1
2
 52.27 inc

 x  x A ˆ yB  y A ˆ zB  z A 
F   B i j kˆ  F
 l AB l AB l AB 

F  73.69 iˆ  65.4 ˆj  41.7 kˆ (a)

Vektor posisi r  x A iˆ  y A ˆj  z A kˆ

atau
r  31.95 ˆj  11.63 kˆ
(a) Momen dari F terhadap o : Mo = r x F
i j k i j k
Mo = rx ry rz  0 31.95 11.63
Fx Fy Fz  73.69  65.4 41.70

M o  2092.9 iˆ  857 ˆj  2354.4 kˆ

(b) Komponen Mo terhadap sumbu x


M x   j . M o  iˆ  2092.9 iˆ
Mx = 2092.9 lb inc memutasi sumbu x positif

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.21 dari 43

3.7 MOMEN KOPEL


Dua buah gaya yang sama besar, sejajar dan berlawanan arah akan membentuk
sebuah kopel (gambar 3.10 a). Jumlah dari kedua gaya tersebut besarnya sama dengan
nol, tetapi jumlah momennya terhadap titik sembarang besarnya tidak sama dengan nol.
Oleh karenanya sebuah kopel tidak membuat benda tegar bergerak translasi tetapi hanya
menghasilkan gerak rotasi.

M
FB
F
B FB 
r
A d B
r
F FA
FA = - F B rA A
z rB FH
(a)

o y (c)

x
(b)

Gambar 3.10 Momen kopel dari dua gaya

Pandang gambar 3.10 b, FA sejajar FB dan FA = -FB, vektor posisi kedua gaya
tersebut dari titik O adalah rA dan rB. Jumlah momen dari FA dan FB terhadap titik O
adalah :

M  rA x FA  rB x FB  rB  rA  x FB (a)

Jika rB – rA = r dan merupakan vektor posisi dari titik kerja FA ke titik kerja FB, maka :

M=r x F 3.10

Vektor M dinamakan momen kopel, dan arah vektornya adalah arah normal
terhadap bidang yang memuat gaya FA dan FB, sedangkan besarnya dinyatakan oleh:

M = (AB) F sin α = d.F

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.22 dari 43

Di mana d adalah jarak terdekat dari FA ke FB dan F adalah besar dari FA dan FB.
Karena vektor r tidak tergantung dari posisi O, maka besar dari momen kopel M akan
tidak berubah jika titik O dipindahkan ke sembarang titik sehingga momen kopel M
merupakan vektor bebas.
Dua buah kopel dikatakan equivalent bilamana mempunyai besar dan arah momen
kopel yang sama serta pasangan gaya yang membentuk kopel terletak pada bidang yang
sejajar (atau berimpit).

z
z
M M
z M
F1 F3
c
a - F3
- F1
y
y y
F2
x b - F2
x x

F1 = 100 N a = 0.4 m F2 = 80 N b = 0.5 m F3 = 200 N c = 0.2 m

(a) (b) (c)

Gambar 3.11 Momen kopel ekuivalent

Perhatikan gambar 3.11, ketiga kopel tersebut menghasilkan momen kopel yang
sama yaitu F1.a = F2 b = F3 c = 40 N.m, mempunyai arah momen kopel yang sama serta
terletak pada bidang yang saling sejajar sehingga ketiga kopel tersebut dikatakan
ekuivalent.
Sistem gaya yang membentuk suatu kopel akan menghasilkan satu vektor, yaitu
vektor momen kopel, karena itu suatu kopel dapat dinyatakan dengan vektor momen
kopelnya. Pasangan gaya F dan –F (gambar 3.12 a) menghasilkan momen kopel C (C =
d F). Karena C merupakan vektor bebas maka, C dapat digambarkan pada sembarang
posisi (misal titik O) dan ini ditunjukan pada gambar 3.12 b. Komponen dari momen
kopel C dalam arah sumbu koordinat x, y, dan z adalah Cx, Cy, dan Cz (gambar 3.12 c)
sehingga:

C  Cx  C y  Cz 3.11 a

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.23 dari 43

atau
C  C x iˆ  C y ˆj  C z kˆ 3.11 b

di mana Cx, Cy dan Cz adalah besar (skalar) dari Cx, Cy dan Cz.

z
z
C
F
d Cy

-F y
y
Cz Cx

(a) x x
(b) (c)

Gambar 3.11 Vektor Momen kopel

Jika pada pada suatu benda tegar terdapat banyak (n) pasang gaya yang membentuk
kopel, maka terdapat Cj, j = 1, 2 …. n momen kopel sehingga resultantenya adalah:

n
C   C j  C1  C2  C3  Cn 3.12 a
j 1

atau
n n n
C   C x, j   C y, j   C z, j 3.12 b
j 1 j 1 j 1

besar dari resultante momen kopelnya adalah :

C  C  C x2  C y2  C z2 3.12 c

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.24 dari 43

Studi Kasus

SP 3.7
Tentukan momen kopel yang bekerja pada
200 N
2m batang (gambar SP 3.7) yang diakibatkan
4
3 oleh kopel dari dua gaya F = 200 N.
0.5 m

4
3
200 N

Gambar SP 3-7

Penyelesaian

FV
Kedua gaya terletak pada bidang xoy,
F
5 4 selanjutnya kedua gaya tersebut diuraikan
y 3
F dalam arah horizontal dan vertikal.
0.5 m  H
x
5
- FH
 4 Cos θ = 0.6
- FV 

F 2m 3 Sin θ = 0.8
FH = F cos θ = 120 N
Gambar SP 3-7 a
Fv = F sin θ = 160 N

Momen kopel akibat Fv : M1


M1 = ( 2 ) (Fv) = 320 N.m ( ) berlawanan dengan arah putaran jarum jam
pada bidang xoy dan diberi tanda positif ( + )
Momen kopel akibat FH = M2

M2 = -0.5 FH = -60 N.m ( )

Resultante dari M1 dan M2 adalah M

M = (320 – 60) = 260 N.m ( )


(arah berlawanan dengan arah putaran jarum jam)

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.25 dari 43

SP 3.9

- F1
z

r1
F1 = 80 N F2 = 120 N
o y
F2 r1 = 30 cm r2 = 20 cm
r2 piringan 1 sejajar dengan bidang
x F1
- F2 xoz sedangkan piringan 2 sejajar

Gambar SP 3-9 a dengan bidang y o z

Carilah
(a) Momen kopel akibat F1 dan momen kopel akibat F2.
(b) Resultante dari kedua kopel.

Penyelesaian

- F1 z
z

r1
Cy
o y y
F2 Cx C

r2
x F1
- F2

Gambar SP 3-9 b Gambar SP 3-9 c

(a) gaya F1 dan –F1 menghasilkan momen kopel Cy dan gaya F2 dan –F2 menghasilkan
momen kopel Cx
Cy = 2 r1 F1 = (0.6) (80) = 48 N.m (arah memutari sumbu y positif sesuai
aturan tangan kanan.
Cx = 2 r2 F2 = (0.4) (120) = 48 N.m (arah memutari sumbu x positif).
Vektor momen kopel Cy dan Cx adalah:

Cy = Cy ĵ = 48 j (N.m) (a)

Cx = Cx î = 48 î (N.m) (b)

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.26 dari 43

(b) jumlah momen kopel C1 dan C2 adalah C

C = C1 + C2 = 48 (î + ĵ ) (c)

vektor momen kopel C1, C2 dan C ditunjukkan pada gambar SP 3.9

SP 3.10

30
cm
Pipa ABCD terletak pada bidang xoy dan
30
cm
bagian CD sejajar dengan sumbu x (gambar
100 N
SP 3.10). Carilah momen kopel dari sistem
A
B gaya tersebut.
x
C
y
D
cm
20

100 N

Gambar 3.10 a

Penyelesaian
z
30 z
cm
Cx
100 N

A
B F 100 N
x C
C
y
x Cy
D
F y
cm
20

100 N

(c)
(b)

Gambar 3-11

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.27 dari 43

Agar mudah, maka di titik C ditambah dua gaya vertikal F dan –F (F = 100 N).
(gambar 3.10 b). Vektor kopel akan positif bila memutari sumbu koordinat dalam arah
positif. Sekarang ada dua pasang kopel dan momen kopelnya adalah Cx dan Cy.
Cx = -(100) (30) = 3000 N.cm
Cy = (100) (20) = 2000 N.cm
Kedua momen kopel tersebut ditunjukkan pada gambar 3.10 c, resultante dari Cx dan Cy
adalah C :

C  C x  C y   3000 iˆ  2000 ˆj N.cm 
C 3000 2  20002 
 1000 13 N.cm 

3.8 MEMINDAHKAN GAYA MENJADI GAYA DAN MOMEN KOPEL


Suatu gaya F bekerja pada benda tegar di titik A (gambar 3.12), akibat gaya
tersebut benda tegar akan bergerak secara translasi dan rotasi. Jika gaya tersebut di
geser sepanjang garis kerjanya (prinsip transmisibilitas), maka gerak tersebut tidak
berubah. Sekarang gaya F akan dipindahkan ke titik lain (misalnya titik o) yang tidak
terletak pada garis kerjanya tanpa merubah pengaruh gerakan dari gaya F terhadap
benda tegar

. F
F
F
F M
A
r A = = o
o r

M = r x F
-F
(a) (b) (c)

Gambar 3-12 Memindahkan gaya menjadi gaya dan momen kopel

Jika di titik o ditambahkan gaya F dan –F (gambar 3.12 b), maka tidak ada
pengaruh gerakan akibat penambahan gaya tersebut. Gaya F di titik A dan gaya –F di
titik o membentuk suatu kopel dengan momen kopel sebesar M = r x F. Jadi suatu gaya
F jika dipindahkan ke titik lain (di luar garis kerjanya) akan menghasilkan gaya F dan

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.28 dari 43

momen kopel M = r x F (gambar 3.12 c). Gaya F di titik o akan membuat benda tegar
bergerak translasi, sedangkan momen kopel M = r x F akan membuat benda tegar
bergerak rotasi.

3.9 RESULTANTE SISTEM GAYA KOPLANAR


Dengan menggunakan prinsip pemindahan gaya menjadi gaya dan momen kopel
maka suatu sistem gaya pada benda tegar dapat dicari resultantenya tanpa merubah
gerakan yang dihasilkan oleh sistem gaya tersebut.
Resultante dari sistem gaya koplanar Fj, (j = 1, 2 ….. n) dapat dicari dengan cara
menguraikan gaya-gaya tersebut dalam arah sumbu koordinat x o y. Pandang gambar
3.13a, jika Fx, j dan Fy, j adalah komponen dari Fj dalam arah x dan y, maka Fx, j = Fj cos
θj dan Fyj = Fj sin θj di mana θj adalah sudut arah dari Fxj dengan sumbu x positif.
Resultante dari Fxj dan Fyj adalah:
n
Rx j   Fx j  Fx1  Fx 2  Fx3   Fx n 3.13 a
j 1

n
Ry j   Fy j  Fy1  Fy 2  Fy 3   Fy n 3.13 b
j 1

sehingga
n
R   Fy  Rx iˆ  Ry ˆj 3.13 c
j 1

R Rx 2  Ry 2 3.13 d

y
F2 R
F3

R dr
d2 Ry
d1 d3 F1
= =
x
Rx Mo x

(a) (b) (c)


Fn
Gambar 3-13 Resultante sistem gaya koplanar

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.29 dari 43

Setiap gaya Fj dipindahkan ke titik O menjadi Fj (di titik O) dan momen kopel Mj yaitu:
Mj = rj x F j 3.14 a

Momen kopel Mj dijumlahkan dari j = 1 hingga n :

n n
M j   M j   rj x Fj 3.14 b
j 1 j 1

Resultante dari gaya koplanar Fj j = 1, 2, ….. n adalah gaya R di titik O dan


jumlah momen dari setiap gaya terhadap titik O seperti terlihat pada gambar 3.13 b.
Dengan demikian gerakan benda tegar yang dihasilkan oleh R dam Mo akan sama
dengan gerakan yang dihasilkan oleh sistem gaya koplanar Fj j = 1, 2, ….. n.
Sekarang gaya R dan momen Mo akan diredusir menjadi satru gaya R saja yang
terpisah sejauh dr (gambar 3.13 c) agar pengaruh gerakannya tidak berubah, maka besar
dr adalah :

Mo
dr 
R

3.10 RESULTANTE DARI SISTEM GAYA DALAM RUANG


Resultante sistem gaya dalam ruang dapat dicari dengan cara yang sama dengan
mencari resultante sistem gaya koplanar.

z
F j1 F2
R
A

Mo
o = o
Fn F1

(a) (b)

Gambar 3-14 Resultante sistem gaya dalam ruang

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.30 dari 43

Ambil gaya yang ke j yaitu Fj (gambar 3.14 a), vektor posisi dari Fj ke titik o
adalah rj sehingga momen dari Fj ke titik o adalah Mj = rj x Fj (j = 1, 2 ….n). Gaya Fj
jika dipindahkan ke titik menjadi gaya Fj dan momen Mj. Penjumlahan seluruh gaya
dan momen kopelnya di titik o akan menghasilkan :
n
R   F j  F1  F2  F3  ........  Fn 3.15 a
j 1

n
M o   M o j  r1 x F1  r2 x F2  ........rn x Fn 3.15 b
j1

Gaya R dan momen Mo ditunjukkan pada gambar 3.14 b.

Studi Kasus
SP 3.11

A
y 4
Gaya 800 N bekerja di titik A seperti
3
240 mm terlihat pada gambar SP 2.11 a. Pindahkan
800 N
B gaya tersebut menjadi gaya dan momen di
x

titik B
200 mm 200 mm

Gambar SP 3-11 a

Penyelesaian
Gaya 800 N di titik A diuraikan dalam
arah horisontal FH dan vertikal FV

F  800   640 N
4 4
249 N.m FH 
5 5
B
FV   F   800   480 N
3 3
800 N 5 5

Gambar SP 3-11 b Momen kedua gaya tersebut terhadap titik


B adalah: MB

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.31 dari 43

MB = - FH (0.24) + FV (0.2)
= - (640) (0.24) + (-480) (0.2)
MB = - 249 N.m = 249 N.m

SP 3.12

80 lb 75 lb 90 lb
Tiga buah gaya bekerja pada balok ABCD
A B C D E
seperti terlihat pada gambar SP 3.12 a.
(a) Gantilah ketiga gaya tersebut menjadi
14 inc 16 inc 10 inc 16 inc
gaya dan momen ekuivalent di titik C.
Gambar SP 3-12 a (b) Carilah resultante dari ketiga gaya
tersebut dan tunjukkan garis kerjanya.

Penyelesaian
(a) semua gaya dijumlahkan : R = ∑ F = 80 – 75 + 90 = 95 lb
Momen dari ketiga gaya terhadap titik C :
MC = - (80) (16) + (90) (10 = - 380 lb inc = 380 lb inc +
Setelah dipindahkan hasilnya ditunjukkan pada gambar 3.12 b.

9.5 lb 9.5 lb

A B C D E A B C D E

380 lb.inc d

Gambar SP 3-12 b Gambar SP 3-12 c

(b) Agar terjadi satu gaya ekuivalent, maka gaya 95 lb dipindahkan sejauh d di sebelah
titik C (gambar 3.12 c).
380
95 d  380 lb inc d   4 inc 3.12 c
95

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.32 dari 43

SP 3.13

500 N
y

60o Tiga buah gaya dan sebuah kopel bekerja


200 N
pada braket seperti terlihat pada gambar SP
600 N.m 300 mm
3.13 a.
300 N
(a) Carilah resultante dari sistem gaya ter-
sebut (besar arah dan garis kerjanya)
400 mm (b) Carilah titik potong garis kerja
resultante gayanya dengan sumbu
o x koordinat x dan y.

450 mm 450 mm

Gambar SP 3-13 a

Penyelisaian
(a) Resultante gaya dalam arah x dan y :
y Rx = 500 cos 60° + 300 = 550 N
Ry = 500 sin 60° + 200 = 550 N

R R x2  R y2  5502  633
2

R = 839 N
Ry 633
 R  tgn -1  tgn -1  49
Rx 550
R θR = 49°
XA

 M o   300 0.4  500 cos 60 0.7 


o
A x
- 200 (0.45) + 600 = 215 N.m
dr
yB
dr 
M o

215
 0.2564 N
R 839
B dr = 0.2564 m = 256.4 mm
Gambar SP 3-13 b

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.33 dari 43

Resultante gaya tersebut ditunjukkan pada gambar SP 3.13 b.


(b) Resultante gaya tersebut memotong sumbu x di titik A dan sumbu y di titik B.

XA 
M o

215
 0.3397 m  340 mm
Ry 633

YB  
M o

215
 0.391 m  391 mm
Rx 550

SP 3.14

600 N
150 N

0.5 m Gantilah sistem gaya pada gambar 3.14a


A B C D E
menjadi satu gaya ekuivalent dan
200 N tentukan titik potongnya dengan batang
1m 1.5 m 1.5 m 1.5 m AF

Gambar SP 3-14 a

Penyelesaian

y
353 N Gaya-gaya dijumlahkan dalam arah

64.9 horisontal (RH) dan vertikal (FV)


A
o x RH  150  600 cos 60   150 N
RV  200  600 sin 60   319.6 N
5.17 m

R  1502  319.6  353 N


2

Gambar SP 3-14 b

R   319.6 
arah dari R :   tgn -1  V   tgn 1    64.9
 RH    150 

jumlah momen dari gaya terhadap titik A.

MA = (-0.5 x 150) + (200) (2.5) – (600 sin 60°) (4)

MA = - 1653.5 N.m = 1653.5 N.m

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.34 dari 43

Gaya R memotong batang di titik E sehingga:

 X E  RV   M A
MA
XE   5.17 m
RV

SP 3.15

z
160 N
Carilah resultante dari sistem gaya
a
paralel pada gambar SP 3.15a,
a
180 N
tunjukkanlah lokasi resultante pada
a 80 N
200 N
bidang y o z (a = 0.3 m).
a

x
a
a
a y
150 N a

Gambar 3.15

Penyelesaian
Semua gaya yang bekerja pada papan arahnya sejajar dengan sumbu x , sehingga
resultantenya adalah:
R = Rx = (200 + 150 + 80 – 160 – 180) = 90 N
R = 90 î N
Momen dari gaya terhadap sumbu y = My
n
My  
j 1
z j Fj

My = (200) (0.6) + (80) (0.6) – (160) (0.9) – (180) (0.3)


My = - 30 N.m
Momen dari gaya terhadap sumbu z = Mz
n
Mz  
j 1
y j Fj

Mz = (-150) (0.3) – (80) (0.9) + (160) (.06) + (180) (1.2)

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.35 dari 43

Mz = 195 N.m

z
2 .1 7
m
Mz

My

y y
0.33
R 90 N
x
x

Gambar SP 3-15 b Gambar SP 3-15 c

Jadi M  M y ˆj  M z kˆ   30 ˆj  195 kˆ

Garis kerja dari R :


XR  0
M z 195
YR    2.17 m
F 90
My  30
ZR    0.33 m
R 90
hasil-hasil analitis ditunjukkan pada gambar 3.15 b dan 3.15 c.

SP 3.16

z
nc
9i Tiga buah gaya bekerja di titik A, B
nc
o 18
inc 9i 80 lb
dan C seperti terlihat pada gambar
3.16 a.:
x C
Gantilah gaya-gaya tersebut menjadi
B
40 sebuah gaya R yang melalui titik O
lb

y
dan sebuah momen kopel Mo.
30 lb
A
75 lb

Gambar SP 3-16 a

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.36 dari 43

Penyelesaian

80 lb z

o rc
rB
C
x R
rA B
40 = y
lb

30 lb y
A MO
x

75 lb

Gambar SP 3-16 b Gambar SP 3-16 c

Agar mudah, maka penyelesaiannya dilakukan secara vektoris (lihat gambar SP 3.16a)
Resultante gaya R


R  75 iˆ  40 ˆj  80 kˆ  30 kˆ lb 
R  75 iˆ  40 ˆj  50 kˆ

R 752  402  502  98.6 N


Vektor posisi
rA  9 iˆ  18 ˆj rB  18 ˆj rC   9 iˆ  18 ˆj

Jumlah momen dari semua gaya terhadap o adalah


M o  rA x 75 i   rB x 40 ˆj  30 kˆ  rC x 80 kˆ 
    
M A  9 iˆ  18 ˆj x 75 iˆ  18 ˆj x 40 ˆj  30 kˆ   9 iˆ  18 ˆj x 80 kˆ 
M A   1350 kˆ  540 iˆ  720 ˆj  1440 iˆ

M A  900 iˆ  720 ˆj  1350 kˆ

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.37 dari 43

Jadi R  75 iˆ  40 ˆj  50 kˆ

M o  900 iˆ  720 ˆj  1350 kˆ


Hasil ini ditunjukkan pada gambar SP 3.16 c.

3.11 BEBAN TERDISTRIBUSI MERATA


Sering dijumpai suatu beban yang bekerja pada benda tegar terdistribusi secara
merata pada luasan tertentu atau pada sepanjang garis tertentu. Dalam menyelesaikan
masalah sering kali lebih menguntungkan jika beban terdistribusi merata diganti dengan
satu gaya ekuivalent yang mempunyai pengaruh luar (gerakan dan keseimbangan) yang
sama dengan beban terdistribusi meratanya. Beban (gaya) ekuivalent tersebut haruslah
teridentifikasi baik besar, arah serta garis kerjanya. Dalam menentukan gaya ekuivalent
ini digunakan metode pemindahan gaya menjadi gaya dan momen kopel sebagaimana
yang dibahas pada bab 3.1.1 dan bab 3.1.2.

y W = f (x) y y

dx
A B x x
dF
x F

(a) (b) (c)

Gambar 3.15 Gaya terdistribusi sepanjang garis

Pandang gambar 3.15, beban merata w = w (x) bekerja pada balok AB dan w
merupakan beban persatuan panjang. Diambil elemen sepanjang dx pada jarak x dari
titik o (gambar 3.15 b). Gaya yang dihasilkan oleh elemen sepanjang dx tersebut adalah:

dF = w . dx (a)

sehingga besar dari gaya ekuivalent dari beban terdistribusi merata adalah:
l
F  
o
w dx 3.16

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.38 dari 43

Dari persamaan 3.16 terlihat bahwa gaya ekuivalent F adalah luasan di bawah grafik
w = w (x) sepanjang balok AB.
Momen dari dF terhadap titik o adalah :

dM = x dF = x w dx (b)

Intergrasi persamaan (b) sepanjang l menghasilkan momen dari beban terdistribusi


merata yaitu:

x w  x  dx  X C F
l
Mo  
o
(c)

di mana XC adalah jarak dari titik berat luasan beban terdistribusi merata ke titik o.
jika d adalah jarak dari titik o ke vektor gaya F, maka:

Mo = F . d (d)

Dari persamaan (c) dan (d) didapatkan:

d = XC

Kesimpulannya adalah beban terdistribusi merata dapat diganti dengan satu gaya
ekuivalent yang garis kerjanya melalui titik beratnya. Hal ini ditunjukkan pada gambar
3.15 d.

Studi Kasus
SP 3.17
Gantilah gaya terdistribusi merata bentuk empat persegi panjang pada gambar SP 3.17
dengan satu gaya ekuivalent.

y
w = 200 N / m 160 N

A B C B Cy

A C x

0.3 m 0.8 m 0.3 m 0.4 m 0.4 m

(a) (b)

Gambar SP 3-17

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.39 dari 43

Penyelesaian
Gaya ekuivalent (F) dari beban terdistribusi merata besarnya sama a dengan
luasannya sehingga:

F = (200) (0.8) = 160 N

Garis kerja F melalui titik beratnya yaitu:


0 .8
X F  0 .3   0 .7 m
2
Gaya ekuivalen F dan posisi XF ditunjukkan pada gambar SP 3.17 b.

SP 3.18
Suatu balok diberi beban merata seperti terlihat pada gambar SP 3.18 a. Pada
bagian AB bebannya berupa segitiga, sedangkan pada bagian BC bebannya adalah
konstant sebesar 600 N/m. gantilah beban tersebut masing-masing pada bagian AB dan
bagian BC dengan satu beban ekuivalent.

F1 F2
y
600 N / m 

A A
C x
B B C

1.8 m 4m 1.2 m 0.6 m 2m 2m

(a) XF1
(b)
XF2

Gambar SP 3-18

Penyelesaian
Bagian AB : luas segitiga beban di atas AB = F1.

F1 
1.8600  540 N
2

Garis kerja F1 melalui titik berat segitiga bebannya yaitu X F1 


2
1.8  1.2 m
3

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.40 dari 43

Bagian BC F2 = luas beban di atas BC


F2 = (4) (600) = 2400 N
BC 4
Garis kerja F2 melalui titik bebart beban yaitu  2m
2 2
Jadi F1 = 540 N, XF1 = 1.2 m
F2 = 2400 N, XF2 = (1.8 + 2) = 3.8 m
Hasilnya ditunjukkan pada gambar SP 3.18 b.

SP 3.19

W = Wmak sin
 x Balok AB diberi beban berdistribusi merata
2l
x
Wmak berupa graik w  wmax sin .
2l
Jika wmax = 200 N/m dan  = 1.5 m, maka
 carilah resultante dari beban tersebut (besar
dan garis kerjanya).
Gambar SP 3-19 a

Penyelesaian

 x
W = Wmak sin
2 l 191 N

w
o
x

r
dx

1.500 mm 0.955 m

Gambar SP 3-19 b Gambar SP 3-19 c

Resultante dari beban adalah luasan di bawah grafik w = w (x) dari titik A sampai titik
B. Untuk itu diambil element setebal dx berjarak x dari titik o. Dengan demikian maka
resultante R dan momen dari beban terhadap titik o adalah:

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.41 dari 43

l x
R 
o
wmak sin
2l
dx


2l wmak   x  wmak
R   cos    2l (a)
 
2   o 
E 
x
x w d x  
l l
Mo  o o
wmak x sin
2l
dx

l
 4l 2  x 2l  x 4l 2 wmak
M o  wmax  2 sin  x cos   (b)
 2l  2l  o 2

Memasukan data wmak = 200 N/m dan l = 1.5 m ke persamaan (a) dan (b) didapatkan:

21.5 200 
R   191 N

4 1.5 200 
2
Mo   182.4 N/m
2

Jarak dari R terhadap titik o adalah d

Mo
d   0.955 m
R

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.42 dari 43

Soal-soal latihan

P 3.1
Gambar P 3.1 adalah pandangan atas
320
sebuah kunci mur roda bila pada titik p
diberikan gaya vertikal (masuk ke dalam
160 kertas) sebesar 8 kg. hitung :
a) Momen torsi yang dialami baut roda
p
( mm ) b) Momen lentur yang dialami baut roda.

Gambar P 3.1

P 3.2
45

Hitung gaya hidrolik H, bila gaya pegas p =


50
40

50 N dan gaya injakan kaki k = 120 N agar


M torsi total di engsel B = 0
280

K
40o

( mm )

Gambar P 3.2

P 3.3 Diketahui

- F1
F1 = 90 N F2 = 135 N
z
r1
r2
r1 = 35 cm r2 = 30 cm
F2
y
piringan 1 sejajar bidang x o z dan piringan
o
2 sejajar bidang y o z
x F1 Carilah : a) Momen kopel akibat F1 dan
- F2
momen kopel akibat F2
b) Resultante kedua kopel

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.43 dari 43

P 3.4
Sebuah gaya 250 N bekerja pada balok seperti terlihat pada gambar P.3.4, pindahkan
gaya tersebut menjadi gaya dan momen di titik AQ menjadi gaya dan momen.

Gambar P 3.4

P 3.5
Tiga buah gaya bekerja pada balok seperti terlihat pada gambar P 3.5
Carilah (a) momen dari FA terhadap titik E
(b) momen dari FE terhadap titik A
(c) momen dari FD terhadap titik B

Gambar P 3.5

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.44 dari 43

P 3.6

F3 = 100 N
Tiga buah gaya bekerja pada bracket seperti
30o
B F2 = 200 N terlihat pada gambar P 3.6
0.15 m
E Carilah:
A
D (a)momen dari F1 terhadap titik A
0.25 m
C (b)momen dari F2 terhadap titik B
F1 = 250 N
(c)momen dari F3 terhadap titik C
0.3 m 0.3 m 0.3 m

Gambar P 3.6

P 3.7

FA = 300 N FB = 400 N
Tiga buah gaya FA, FB dan FC bekerja
45o 60o
A B
0.1 m pada bracket seperti terlihat pada
0.1 m
O D
0.15 m gambar P 3.7
C 30o
Carilah:
FC = 250 N
(a) Momen dari FA dan FB terhadap
0.3 m 0.3 m 0.3 m titik o
(b) Momen dari FC terhadap titik o
Gambar P 3.7

P 3.8
C 400 N Tiga buah gaya bekerja pada suatu
750 N
60o penampang seperti terlihat pada gambar P
A B
3.8. Gantilah ke tiga gaya tersebut menjadi
gaya dan momen di titik B.
100 N
0.4 m

Gambar P 3.8

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.45 dari 43

P 3.9

A B C
Empat buah gaya bekerja pada rangka
2 kN
seperti terlihat pada gambar P 3.9
2m
(a) Carilah resultante dari ke empat gaya
G
D E F tersebut, besar dan arahnya.

8 kN 6 kN 2 kN (b) Tunjukkan jarak terdekat dari garis


2m 2m 2m kerjanya terhadap titik D

Gambar P 3.9

P 3.10
Empat buah gaya bekerja pada
200 kN 200 kN
y rangka (gambar P 3.10). Carilah
2m 4m 4m 2m
resaultante dari ke empat gaya
100 N
tersebut, cari pula perpotongan
3m

o B
x
garis kerjanya terhadap sumbu x
A
N dan sumbu y
4m 4m 4m

Gambar P 3.10

P 3.11
Balok ABC dibebani dengan beban
6 kN/m
merata (gambar P 3.11) Carilah
2 kN/m
resultante dari system gayanya dan
A C
B tunjukkan lokasi garis kerjanya.
3m 3m

Gambar P 3.11

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.46 dari 43

P 3.12
Balok ABCDE menerima beban berupa
600 N
1200 kN/m beban merata pada bagian AB, beban
momen pada titik C dan beban gaya
A C
E
B D terpusat pada titik D. Gantilah beban
300 N.m
tersebut menjadi satu gaya ekivalen dan
0.5 m 0.5 m 0.5 m
carilah lokasi garis kerjanya.
Gambar P 3.12

P 3.13
Gantilah sistem pembebanan pada
gambar P 3.13 menjadi satu gaya dan
z
o satu momen kopel di titik o
80 lb
80 lb ft

x 80 lb
16 ft

t
16 ft 2f y
t
6f
150 lb t
8f

Gambar P 3.13

P 3.14
z
Carilah momen dari gaya P terhadap
o C sumbu x, sumbu y dan terhadap garis
30o
y yang melalui o c (garis o c …….. pada
m
4
0.

bidang y o z)

x 0.3 m
P = 200 N

Gambar P 3.14

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti
Modul Kuliah Statika Struktur Hal 3.47 dari 43

P 3.15
Gantilah sistem gaya pada gambar P
z
400 N 3.15 dengan gaya resultantenya. Carilah
titik potong garis kerja tersebut dengan
2.5 m bidang y o z
200 N

2 m 150 N
300 N

300 N

0 N
x 25 y
1m
2m

Gambar P 3.15

P 3.16
Dua buah puli B dan C dipasang pada
N
0
z 30 poros ABCD. Kedua puli mempunyai
N

diameter yang sama yaitu 250 mm dan


0
40

A B C D
y dipasang sejejar dengan bidang y o z.
30o Gantilah sistem gayanya menjadi satu
x 200 N 600 N gaya dan satu momen kopel di titik A.
0.3 m 0.4 m 0.4 m

Gambar P 3.16

Fakultas Teknologi Industri MK-IMJ301-03/R.0


Universitas Trisakti