You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi dari

rahim ibu melalui jalan lahir atau dengan jalan lain, yang kemudian janin

dapat hidup di dunia luar. Persalinan normal (WHO) adalah dimulai secara

spontan (dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko

rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada usia

kehamilan antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada

dalam kondisi baik. Tingginya kasus kematian dan kesakitan ibu di banyak

negara berkembang, terutama disebabkan oleh perdarahan

pascapersalinan. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian

ibu tersebut dapat dicegah upaya pencegahan yang efektif.

Persalinan yang bersih dan aman merupakan salah satu upaya

efektif untuk mencegah terjadinya komplikasi terutama pada perdarahan

pascapersalinan, hipotermi, dan asfiksia bayi baru lahir. Persalinan yang

bersih dan aman ini sangat penting dalam upaya menurunkan angka

kematian ibu dan bayi baru lahir. Hal ini dikarenakan sebagian besar

persalinan di Indonesia masih terjadi di tingkat pelayanan kesehatan

primer dan penguasaan keterampilan serta pengetahuan petugas kesehatan

di fasilitas pelayanan tersebut masih belum memadai.

Sejumlah perubahan perubahan fisiologis yang normal akan terjadi

selama persalinan, hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-

1
perubahan yang dapat dilihat secara klinis bertujuan untuk dapat secara

tepat dan cepat mengintepretasikan tanda-tanda, gejala tertentu dan

penemuan perubahan fisik dan laboratorium apakah normal atau tidak

selama persalinan.

Perubahan fisiologis terjadi pada tekanan darah, metabolisme, suhu

badan, denyut jantung, pernafasan, gastrointestinal, hematologi, uterus,

serviks dan kardiovaskular.

B. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat memahami tentang perubahan fisiologis dalam

persalinan dengan tepat.

2. Tujuan Khusus

a. Memahami perubahan fisiologis pada kala I persalinan.

b. Memahami perubahan fisiologis pada kala II persalinan.

c. Memahami perubahan fisiologis pada kala III persalinan.

d. Memahami perubahan fisiologis pada kala IV persalinan.

C. Manfaat Penulisan

Dengan penulisan makalah ini diharapkan dapat menambah

wawasan bagi pembaca khususnya tenaga kesehatan dan mahasiswa

kesehatan mengenai perubahan fisiologis pada persalinan dengan tepat.

2
B AB II

PEMBAHASAN

A. Perubahan Fisiologis Kala I Persalinan

1. Perubahan pada uterus dan jalan lahir dalam persalinan

Keadaan segmen atas dan bawah rahim pada persalinan :

a. Hamil lanjut

Uterus terdiri atas dua bagian yaitu segmen atas rahim yang

dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah rahim yang dibentuk

oleh istmus uteri.

b. Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas :

Setelah kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke

keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek

walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi (Retraksi)

c. Kontraksi tidak sama kuatnya, tapi paling kuat di daerah fundus

uteri dan berangsur-angsur berkurang ke bawah dan paling lemah

pada segmen bawah rahim (SBR).

d. Sebagian dari isi rahim keluar dari segmen atas dan diterima oleh

segmen bawah. Jadi segmen atas makin lama makin mengecil

sedangkan segmen bawah makin diregang dan makin tipis dan isi

rahim sedikit demi sedikit pindah ke segmen bawah. Karena

segmen atas makin tebal dan segmen bawah makin tipis maka

batas antara segmen atas dan bawah menjadi jelas lingkaran

retraksi yang fisiologis. Kalau segmen bawah sangat diregang

3
maka lingkaran retraksi lebih jelas dan naik mendekat pusat ----

lingkaran retraksi yang patologis / lingkaran bandle

2. Perubahan bentuk Rahim

Pada tiap kontraksi sumbu panjang rahim bertambah panjang

sedangkan ukuran melintang maupun muka belakang berkurang. Hal di

atas dapat terjadi karena ukuran melintang berkurang, artinya tulang

punggung menjadi lebih lurus dan dengan demikian kutup atas anak

tertekan pada fundus sedangkan kutub bawah ditekan ke dalam PAP.

3. Perubahan pada serviks

Agar bayi dapat keluar dari rahim maka perlu terjadi pembukaan

dari serviks. Pembukaan dari serviks ini biasanya didahului oleh

pendataran dari serviks. Pendataran serviks adalah : pendekatan dari

kanalis servikalis berupa sebuah saluran yang panjangnya 1-2 cm,

menjadi satu lubang saja dengan pinggir yang tipis. Pembukaan dari

serviks adalah pembesaran dari OUE yang tadinya berupa suatu lubang

dengan diameter beberapa millimeter menjadi lubang yang dapt dilaui

anak kira-kira 10 cm diameternya.

4. Perubahan vagina dan dasar panggul

Dalam kala I ketuban ikut meregangkan bagian atas vagina yang

sejak kehamilan mengalami perubahan sedemikian rupa, sehingga

dapat dilalui oleh anak. Setelah ketuban pecah, segala perubahan

terutama pada dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding

yang tipis. Waktu kepala sampai di vulva, lubang vulva mengahadap

ke depan atas. Dari luar peregangan oleh bagian depan nampak pada

4
perineum yang menonjol dan menjadi tipis sedangkan anus menjadi

terbuka.

5. Tekanan Darah

TD meningkat selama_kontraksi (sistolik rata-rata naik 15 (10-

20) mmHg. 5-10 mmHg). Antara kontraksi, TD kembali normal pada

level sebelum persalinan. Rasa sakit, takut, dan cemas juga akan

meningkatkan TD. Ada beberapa faktor yang mengubah tekanan darah

ibu. Aliran darah yang menurun pada arteri uterus akibat kontraksi,

diarahkan kembali ke pembuluh darah perifer. Timbul tahanan perifer,

tekanan darah meningkat dan frekuensi denyut nadi melambat. Pada

tahap pertama persalinan kontraksi uterus meningkatkan tekanan

sistolik dengan rata-rata 15 ( 10-20) mmHg dan kenaikan diastolik

dengan rata-rata 5-10 mmHg. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan

darah di anatara kontraksi memberi data yang lebih akurat. Akan

tetapi, baik tekanan sistolik maupun diastolik akan tetap sedikit

meningkat diantara kontraksi. Wanita yang memang memiliki resiko

hipertensi kini resikonya meningkat untuk mengalami komplikasi,

seperti perdarahan otak.

6. Metabolisme

Metabolisme karbohidrat aerob dan anaerob meningkat secara

berangsur. Ditandai dengan peningkatan suhu, Nadi, kardiak output,

pernafasan dan cairan yang hilang. Metabolisme karbohidrat aerob dan

anaerob akan meningkat secara berangsur disebabkan karena

kecemasan, dan aktivitas otot skeletal. Peningkatan ini ditandai dengan

5
adanya peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, kardiak output,

pernafasan dan cairan yang hilang.

7. Suhu Tubuh

Meningkat selama persalinan terutama selama dan segera

setelah persalinan. Peningkatan ini jangan melebihi 0,5 °C-1 °C.

Karena terjadi peningkatan metabolisme, maka suhu tubuh agak sedikit

meningkat selama persalinan terutama selama dan segera setelah

persalinan. Peningkatan ini jangan melebihi 0,5O C– 1OC.

8. Detak Jantung

Detak jantung secara dramatis.naik selama kontraksi. Antara

kontraksi sedikit mcningkat dibandingkan sebelum persalinan. Pada

setiap kontraksi, 400 ml darah dikeluarkan dari uterus dan masuk ke

dalam sistem vaskuler ibu. Hal ini akan meningkatkan curah jantung

sekitar 10% sampai 15% pada tahap pertama persalinan dan sekitar

30% sampai 50% pada tahap kedua persalinan. Ibu harus diberitahu

bahwa ia tidak boleh melakukan manuver valsava (menahan napas dan

menegakkan otot abdomen) untuk mendorong selama tahap kedua.

Aktivitas ini meningkatkan tekanan entratoraks, mengurangi aliran

balik vena dan meningkatkan tekanan vena. Curah jantung dan tekanan

darah meningkat, sedangkan nadi melambat untuk sementara. Selama

ibu melakukan manuver valsava, janin dapat mengalami hipoksia.

Proses ini pulih kembali saat wanita menarik napas.

6
9. Pernafasan

Terjadi sedikit peningkatan laju pernafasan dianggap normal.

Hiperventilasi yang lama dianggap tidak normal dan bisa

menyebabkan alkologis. Sistem pernafasan juga beradaptasi.

Peningkatan aktivitas fisik dan peningkatan pemakaian oksigen terlihat

dari peningkatan frekuensi pernafasan. Hiperventilasi dapat

menyebabkan alkalosis respiratorik (pH meningkat), hipoksia dan

hipokapnea (karbondioksida menurun), Pada tahap kedua persalinan.

Jika ibu tidak diberi obat-obatan, maka ia akan mengkonsumsi oksigen

hampir dua kali lipat. Kecemasan juga meningkatkan pemakaian

oksigen.

10. Perubahan pada Ginjal

Poliuria, peningkatan filtrasi glomelurus dan peningkatan aliras

plasma ginjal. Proteinuria yang sedikit dianggap biasa. Pada trimester

ke dua, kandung kemih menjadi organ abdomen. Apabila terisi,

kandung kemih dapat teraba di atas simpisis pubis. Selama persalinan

wanita dapat mengalami kesulitan untuk berkemih secara spontan

akibat berbagai alasan : edema jaringan akibat tekanan bagian

presentasi, rasa tidak nyaman, sedasi dan rasa malu. Proteinuria +1

dapat dikatakan normal dan hasil ini merupakan respons rusaknya

jaringan otot akibat kerja fisik selama persalinan. Poliuria sering

terjadi selama persalinan, mungkin disebabkan oleh peningkatan

kardiak output, peningkatan filtrasi dalam glomerulus, dan peningkatan

7
aliran plasma ginjal. Proteinuria yang sedikit dianggap normal dalam

persalinan.

11. Perubahan Gastrointestinal

Motilitas lambung dan absorpsi makanan padat berkurang.

Pengurangan getah lambung berkurang. Pengosongan lambung

menjadi sangat lambat. Mual muntah biasa terjadi sampai ibu

mencapai akhir kala I. Persalinan mempengaruhi sistem saluran cerna

wanita. Bibir dan mulut dapat menjadi kering akibat wanita bernafas

melalui mulut, dehidrasi dan sebagai respons emosi terhadap

persalinan. Selama persalinan, motilitas dan absorbsi saluran cerna

menurun dan waktu pengosongan lambung menjadi lambat. Wanita

sering kali merasa mual dan memuntahkan makanan yang Belum

dicerna sebelum bersalin. Mual dan sendawa juga terjadi sebagai

respons refleks terhadap dilatasi serviks lengkap. Ibu dapat mengalami

diare pada awal persalinan. Bidan dapat meraba tinja yang keras atau

tertahan pada rektum. Motilitas lambung dan absorbsi makanan padat

secara substansial berkurang banyak sekali selama persalinan. Selain

itu, pengeluaran getah lambung berkurang menyebabkan aktivitas

pencernaan hampir berhenti, dan pengosongan lambung menjadi

sangat lamban. Cairan tidak berpengaruh dan meninggalkan perut

tempo yang biasa. Mual atau muntah biasa terjadi sampai mencapai

akhir kala I.

8
12. Perubahan Hematologi

Hemoglobin meningkat sampai 1,2 gr/100 ml, selama persalinan

dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum persalinan sehari

setelah pasca salin kecuali ada perdarahan postpartum.

B. Perubahan Fisiologi Pada Kala II Persalinan

1. Kontraksi Dan Dorongan Otot-Otot Uterus

His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan. Kontraksi

(his) pada kala II Persalinan disebut juga dengan His Pengeluaran.

Tanda-tanda kontraksi (his) yang terjadi pada kala II Persalinan adalah:

a. Meningkat sangat kuat dari kala I (2-3 menit sekali, lamanya 60-

70 detik)

b. Teratur, simetris, terkoordinasi

c. His/ kontraksi untuk mengeluarkan janin

Pada his persalinan, walaupun his itu suatu kontraksi dari otot

rahim yang fisiologis akan tetapi bertentangan dengan kontraksi

fisiologis lainnya, bersifat nyeri. Nyeri ini mungkin disebabkan

oleh anoxia dari sel-sel otot-otot waktu kontraksi, tekanan pada

ganglia dalam cervik dan segmen bawah oleh serabut-serabut

otot-otot yang berkontraksi, regangan dari servik karena kontraksi

atau regangan dan tarikan pada peritonium waktu kontraksi.

Kontraksi rahim bersifat otonom, tidak dipengaruhi oleh kemauan,

dan dari luar misalnya rangsangan oleh jari-jari tangan dapat

menimbulkan kontraksi. Kontraksi uterus karena otot-otot rahim

bekerja dengan baik dan sempurna dengan sifat-sifat, kontraksi

9
simetris, fundus dominan, kemudian diikuti relaksasi. Pada waktu

kontraksi, otot-otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan

menjadi lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil serta

mendorong janin dan kantong ke arah segmen bawah rahim dan

servik.

Sifat-sifat lain dari his adalah :

a. Involuntir (tidak dapat di kendalikan)

b. Intermitten /berkala

c. Terasa sakit

d. Terkoordinasi/ teratur dan simetris

e. Kadang-kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik, kimia

dan psikis.

Pada pemeriksaan kontraksi uterus tidak hanya meliputi :

frekuensi, durasi/lama dan intensitas/kuat-lemah, tetapi perlu

diperhatikan juga pengaruh dari ketiga hal tersebut mulai dari

kontraksi yang belum teratur hingga akhir persalinan. Misalnya pada

awal persalinan, kontraksi uterus setiap 20-30 menit selama 20-25

detik, intensitas ringan lama-kelamaan menjadi 2-3 menit, lama 60-90

detik, maka hal ini akan menghasilkan pengeluaran janin. Bila ibu

bersalin mulai berkontraksi selama 5 menit selama 50-60 detik

dengan intensitas cukup kuat maka dapat terjadi kontraksi tidak dapat

teratur, frekuensi lebih sering, durasi lebih lama. Terkadang dapat

terjadi disfungsi uterin, yaitu kemajuan proses persalinan yang

meliputi dilatasi servik/pelebaran serviks, mekanisme penurunan

10
kepala memakan waktu yang lama, tidak sesuai dengan harapan.

Kontraksi otot rahim mempunyai sifat yang khas :

a. Setelah kontraksi maka otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke

keadaan sebelum kontraksi tapi menjadi sedikit lebih pendek

walaupun tonusnya sebelum kontraksi. Kejadian ini disebut

”Retraksi”. Dengan retraksi ini maka rongga rahim mengecil dan

anak bengangsur didorong ke bawah dan tidak banyak naik lagi ke

atas seteleh his hilang. Akibat retraksi ini segmen atas makin tebal

dengan majunya persalinan apalagi setelah bayi lahir.

b. Kontraksi tidak sama kuatnya, tetapi paling kuat di daerah fundus

uteri dan berangsur berkurang ke bawah dan paling lemah pada

segmen bawah rahim.. Perubahan dalam dasar panggul ini adalah

perubahan letak kandung kemih, perubahan pada rektum, dan

perubahan pada perineum. Bila anak sudah berada di dasar

panggul, kandung kemih naik ke rongga perut agar tidak

mendapatkan tekanan dari kepala anak. Inilah pentingnya

kandung kemih kosong pada masa persalinan sebab bila kandung

kemih penuh, dengan tekanan sedikit saja kepala anak, kandung

kemih mudah pecah. Kosongnya kandung kemih dari dasar

panggul ini juga untuk memperluas jalan kelahiran, yaitu vagina

dapat meregang dengan bebas sehingga diameter vagina sesuai

dengan ukuran kepala anak yang akan lewat dengan bantuan

tenaga mengedan akan mudah lahir. Dengan meregangnya vagina

pada batas maksimal akan merobekkan selaput lendir yang ada di

11
vagina sehingga akan menimbulkan sedikit perdarahan. Dengan

adanya kepala anak di dasar panggul, maka dasar panggul bagian

belakang akan terdorong ke bawah sehingga rektum akan tertekan

oleh kepala anak. Bila masih ada isi dalam rektum ini, isi itu akan

dikeluarkan terutama pada waktu ibu akan mengedan. Dengan

adanya tekanan dan tarikan pada rektum ini, maka anus akan

terbuka, pembukaan sampai diameter sampai 2,5 cm hingga

bagian dinding depannya dapat kelihatan dari luar. Dengan

tekanan kepala anak dalam dasar panggul pada perineum, maka

perineum menjadi tipis dan mengembang sehingga ukurannya

menjadi lebih panjang. Hal ini diperlukan untuk menambah

panjangnya saluran jalan lahir bagian belakang. Dengan

mengembangnya perineum maka orifisium vagina terbuka dan

tertarik ke atas. Dengan demikian dapat di lalui anak.

2. Perubahan bentuk Uterus

Bentuk uterus menjadi oval yang disebabkan adanya pergerakan tubuh

janin yang semula membungkuk menjadi tegap, sehingga uterus

bertambah panjang 5-10 cm.

3. Pergeseran Organ Dasar Panggul

Keadaan segmen atas dan segmen bawah rahim pada persalinan. Sejak

kehamilan lanjut uterus dengan jelas terdiri dari dua bagian, ialah

segmen atas rahim yang dibentuk oleh corpus uteri dan segmen bawah

rahim yang terjadi dari isthmus uteri. Dalam persalinan perbedaan

antara segmen atas rahim dan segmen bawah rahim lebih jelas lagi.

12
Segmen atas memegang peranan yang aktif karena berkontraksi dan

dindingnya bertambah tebal dengan majunya persalinan. Segmen

bawah rahim memegang peranan pasif dan makin tipis dengan

majunya persalinan karena diregang. Jadi secara singkat segmen atas

berkontraksi, menjadi tebal dan mendorong anak keluar, sedangkan

segmen bawah dan servik mengadakan relaksasi dan dilatasi dan

menjadi saluran yang tipis dan teregang yang akan dilalui bayi.

C. Perubahan Fisiologis Pada Kala III Persalinan

Pada kala tiga persalinan, otot uterus (miometrium) berkontraksi

mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba-tiba setelah

lahirnya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini menyebabkan

berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta. Karena tempat implantasi

menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka

plasenta akan menekuk, menebal, kemudian dilepaskan dari dinding

uters. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian

atas vagina.

1. Mekanisme pelepasan plasenta

Cara-cara Pelepasan Plasenta :

a. Metode Ekspulsi Schultze

Pelepasan ini dapat dimulai dari tengah (sentral) atau dari pinggir

plasenta. Ditandai oleh makin panjang keluarnya tali pusat dari vagina

(tanda ini dikemukakan oleh Ahfled) tanpa adanya perdarahan

pervaginam. Lebih besar kemungkinannya terjadi pada plasenta yang

melekat di fundus.

13
b. Metode Ekspulsi Matthew - Duncan

Ditandai oleh adanya perdarahan dari vagina

apabila plasenta mulai terlepas. Umumnya perdarahan tidak melebihi

400 ml. Bila lebih hal ini patologik. Lebih besar kemungkinan pada

implantasi lateral. Apabila plasenta lahir, umumnya otot-otot uterus

segera berkontraksi, pembuluh-pembuluh darah akan terjepit, dan

perdarahan segera berhenti. Pada keadaan normal akan lahir spontan

dalam waktu lebih kurang 6 menit setelah anak lahir lengkap.

2. Pengawasan Perdarahan

Pada kehamilan cukup bulan aliran darah ke uterus sebanyak 500-

800 ml/mnt. Jika uterus tidak berkontraksi dengan segera setelah

kelahiran plasenta, maka ibu dapat mengalami perdarahan sekitar 350-

500 ml/mnt dari bekas melekatnya plasenta. Kontraksi uterus akan

meneken pembuluh darah uterus yang berjalan diantara serabut

miometrium sehingga menghentikan darah yang mengalir melalui ujung-

ujung ateri ditempat implantasi plasenta.

Atonia uteri terjadi jika uterus tidak berkontraksi atau tidak

berkontraksi secara terkoordinasi sehingga ujung pembuluh darah di

tempat implantasi plasenta tidak dapat dihentikan (ovulsi) sehingga

perdarahan menjadi tidak terkendali. Seorang ibu dapat meninggal

karena perdarahan pasca berkontraksi secara terkoordinasi sehingga

ujung pembuluh darah di tempat implantasi plasenta tidak dapat

dihentikan (ovulsi) sehingga perdarahan menjadi tidak terkendali.

14
Seorang ibu dapat meninggal karena perdarahan pasca persalinan

dalam waktu kurang dari 1 jam. Lebih dari 90 % dari seluruh kasus

perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam setelah kelhiran

bayi disebabkan oleh atonia uteri (Replay 1999). Sebagian besar

kematian akibat perdarahan pasca persalinan terjadi pada beberapa jam

setelah kelahiran bayi ( Li, et al, 1996) karena alasan ini penatalaksaan

kala III yang cepat dan tepat merupakan salah satu cara terbaik dan

sangat penting untuk menurunkan angka kematian ibu.

Di masa lampau sebagian besar penolong persalinan

menatalaksanakan kala III persalinan dengan cara menunggu

plasenta lahir secara alamiah (fisiologi). Intervensi dilakukan hanya

jika terjadi penyulit atau kemajuan kala III persalinan tidak berjalan

secara normal. Manajemen aktif kala III lebih dikaitkan pada upaya

untuk mengurangi kehilangan darah seperti yang terjadi pada

penatalaksanaan fisiologis.

Beberapa faktor predisposisi yang berhubungan dengan resiko

perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri, diantaranya adalah:

a. Faktor yang menyebabkan uterus membesar lebih dari normal selama

kehamilan

1) Polihidramion

2) Gemeli

3) Makrosomia

b. Kala satu dan atau kala dua persalinan yang memanjang

c. Persalinan presipitatus

15
d. Persalinan yang diinduksi/ augmentasi

e. Infeksi intra partum

f. Multi paritas tinggi/ grande multipara

g. Magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan

kejang pada pre eklamsi/ eklamsi.

Pemantauan melekat pada semua ibu pasca persalinan serta

mempersiapkan diri untuk menatalaksana atonia uteri pada setiap

kelahiran merupakan tindakan pencegahan yang sangat penting.

Meskipun bebarap faktor-faktor diindikasikan dapat meningkatkan

resiko perdarahan pasca persalinan, dua pertiga dari semua kasus

perdarahan pasca persalinan terjadi pada ibu tanpa faktor resiko

yang diketahui sebelumnya dan tidak mungkin untuk memperkirakan ibu

mana yang mengalami atonia uteri atau perdarahan pasca persalinan.

Karena alasan tersebut maka manajemen aktif kala III merupakan hal

yang sangat penting dalam upaya menurunkan kesakitan dan kematian

ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan.

Empat prasat yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Prasat Kustner : tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit

tali pusat. Tangan kiri menekan daerah di atas simfisis. Bila tali pusat

ini masuk kembali ke dalam vagina, berarti plasenta belum lepas dari

dinding uterus. Bila tetap atau tidak masuk kembali kedalam vagina,

berarti plasenta lepas dari dinding uterus. Prasat ini hendaknya

dilakukan secara hati-hati. Apabila hanya sebagian plasenta terlepas,

perdarahan banyak akan dapat terjadi.

16
b. Prasat Strassman : perasat ini dilakukan dengan mengetok-ngetok

fundus uterus dengan tangan kiri dan tangan kanan meregangkan

tali pusat sambil merasakan apakah ada getaran yang ditimbulkan dari

gerakan tangan kiri, jika terasa ada getaran berarti plasenta sudah

lepas.

c. Prasat Klien : untuk melakukan perasat ini, minta pasien untuk

meneran, jika tali

pusat tampak turun atau bertambah panjang berarti plasenta telah

lepas, begitu juga sebaliknya.

d. Prasat Manuaba : tangan kiri memegang uterus pada segmen bawah

rahim, sedangkan tangan kanan memegang dan mengencangkan

tali pusat. Kedua tangan ditarik berlawan.

D. Perubahan Fisiologis Pada Kala IV Persalinan

1. Perubahan- Perubahan Fisiologis Kala IV

a. Tanda Vital

Dalam dua jam pertama setelah persalinan, tekanan darah, nadi dan

pernapasan akan berangsur kembali normal. Suhu pasien biasanya

akan mengalami sedikit peningkatan tapi masih di bawah 38 C, hal

ini disebabkan oleh kurangnya cairan dan kelelahan. Jika intake

cairan baik, maka suhu akan berangsur normal kembali setelah dua

jam.

b. Gemetar

Kadang dijumpai pasien pascapersalinan mengalami gemetar, hal ini

normal sepanjang suhu kurang dari 38 C dan tidak dijumpai tanda-

17
tanda infeksi lain. Gemetar terjadi karena hilangnya ketegangan dan

sejumlah energi selama melahirkan dan merupakan respon fisiologis

terhadap penurunan volume intraabdominal serta pergeseran

hematologi.

c. Sistem Gastrointestinal

Selama dua jam pascapersalinan kadang dijumpai pasien merasa

mual sampai muntah, atasi hal ini dengan posisi tubuh yang

memungkinkan dapat mencegah terjadinya aspirasi corpus aleanum

ke saluran pernapasan dengan setengah duduk atau duduk di tempat

tidur. Perasaan haus pasti dirasakan pasien, oleh karena itu hidrasi

sangat penting diberikan untuk mencegah dehidrasi.

d. Sistem Renal

Selama 2-4 jam pasca persalinan kandung kemih masih dalam

keadaan hipotonik akibat adanya alostaksis, sehingga sering

dijumpai kandung kemih dalam keadaan penuh dan mengalami

pembesaran. Hal ini disebabkan oleh tekanan pada kandung kemih

dan uretra selama persalinan. Kondisi ini dapat diringankan dengan

selalu mengusahakan kandung kemih kosong selama persalinan

untuk mencegah trauma. Setelah melahirkan, kandung kemih

sebaiknya tetap kosong guna mencegah uterus berubah posisi dan

terjadi atoni. Uterus yang berkontraksi dengan buruk meningkatkan

perdarahan dan nyeri.

e. Sistem Kardiovaskular

Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk

18
menampung aliran darah yang meningkat yang diperlukan oleh

plasenta dan pembuluh darah uterus. Penarikan kembali estrogen

menyebabkan diuresis yang terjadi secara cepat sehingga

mengurangi volume plasma kembali pada proporsi normal. Aliran ini

terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa

ini pasien mengeluarkan banyak sekali urine. Pada persalinan per

vaginam, kehilangan darah sekitar 200-500 ml sedangkan pada

persalinan SC pengeluarannya dua kali lipat. Perubahan terdiri dari

volume darah dan kadar hematokrit. Setelah persalinan, volume

darah pasien relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menyebabkan

beban pada jantung dan akan menimbulkan dekompensasio kordis

pada pasien dengan vitum kardio. Keadaan ini dapat diatasi dengan

mekanisme kompensasi dengan adanya hemokonsentrasi sehingga

volume darah kembali seperti kondisi awal.

f. Serviks

Perubahan-perubahan pada serviks terjadi segera setelah bayi lahir,

bentuk serviks agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan

oleh korpus uterus yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan

serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan

antara korpus dan serviks berbentuk semacam cincin. Serviks

berwarna merah kehitaman karena penuh dengan pembuluh darah.

Konsistensi lunak, kadang-kadang terdapat laserasi atau perlukaan

kecil. Karena robekan kecil terjadi selama berdilatasi, maka serviks

tidak akan pernah kembali lagi ke keadaan seperti sebelum hamil.

19
Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan

akan menutup secara perlahan dan bertahan. Setelah bayi lahir

tangan bisa masuk ke dalam rongga rahim, setelah dua jam hanya

dapat memasuki dua atau tiga jari.

g. Perineum

Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena

sebelumnya teregang oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada

hari ke-5 pasca melahirkan, perineum sudah mendapatkan kembali

sebagian tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dibandingkan

keadaan sebelum hamil.

h. Vulva dan Vagina

Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang

sangat besar selama proses melahirkan, dan dalam beberapa hari

pertama sesudah proses tersebut kedua organ ini tetap dalam keadaan

kendur. Setelah tiga minggu vulva dan vagina kembali pada keadaan

tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan

muncul kembali, sementara labia menjadi lebih menonjol.

i. Pengeluaran ASI

Dengan menurunnya hormon estrogen, progesteron, dan Human

Plasenta Lactogen Hormon setelah plasenta lahir, prolaktin dapat

berfungsi membentuk ASI dan mengeluarkannya ke dalam alveoli

bahkan sampai duktus kelenjar ASI. Isapan langsung pada puting susu

ibu menyebabkan refleks yang dapat mengeluarkan oksitosin dari

hipofisis sehingga mioepitel yang terdapat di sekitar alveoli dan

20
duktus kelenjar ASI berkontraksi dan mengeluarkan ASI kedalam

sinus yang disebut “let down refleks”. Isapan langsung pada puting

susu ibu menyebabkan refleks yang dapat mengeluarkan oksitosin

dari hipofisis, sehingga akan menambah kekuatan kontraksi uterus.

2. Evaluasi Dan Pemeriksaan Yang Dilakukan Saat Kala IV

Tindakan pertama yang dilakukan bidan setelah plasenta lahir

adalah melakukan evaluasi konsistensi uterus sambil melakukan masase

untuk mempertahankan kontraksinya. Pada saat yang sama, derajat

penurunan serviks dan uterus ke dalam vagina dapat dikaji.

3. Pemeriksaan Kala IV

Indikasi pemeriksaan serviks, aliran perdarahan per vagina

berwarna merah terang dari bagian atas tiap laserasi yang diamati, jumlah

menetap atau sedikit setelah kontraksi uterus dipastikan, persalinan cepat

atau presipitatus, manipulasi serviks selama persalinan, misalnya untuk

mengurangi tepi anterior, dorongan maternal (meneran) sebelum dilatasi

maksimal, kelahiran per vagina dengan tindakan, misalnya ekstraksi

vakum atau forsep, kelahiran traumatik, misalnya distosia bahu, adanya

salah satu dari faktor di atas mengindikasikan kebutuhan untuk

pemeriksaan serviks secara spesifik untuk menentukan langkah perbaikan.

Inspeksi serviks tanpa adanya perdarahan persisten pada persalinan

spontan normal tidak perlu secara rutin dilakukan. Kemungkinan robekan

atau laserasi pada vagina dilakukan setelah pemeriksaan robekan pada

serviks. Penentuan derajat laserasi dilakukan pada saat ini untuk

menentukan langkah penjahitan. Perineum berat ringannya robekan

21
perineum terbagi dalam 4 derajat :

a) Derajat satu : mukosa vagina, komisura posterior, dan kulit perineum

b) Derajat dua: mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, dan

otot perineum.

c) Derajat tiga: mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot

perineum, dan otot sfingter ani

d) Derajat empat: mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum,

otot perineum, otot sfingter ani, dan dinding depan rektum

Penatalaksanaan:

a) Derajat satu : tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi

luka baik

b) Derajat dua : jahit menggunakan teknik yang sesuai dengan kondisi

pasien

c) Derajat tiga dan empat: penolong APN tidak dibekali keterampilan

untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga atau empat. Segera rujuk

ke fasilitas rujukan.

4. Pemantauan dan Evaluasi Lanjut Kala IV

a. Tanda vital

Tekanan darah dan nadi Selama satu jam pertama lakukan pemantauan

pada tekanan darah dan nadi setiap 15 menit dan pada satu jam kedua

lakukan setiap 30 menit.

b. Respirasi dan suhu

Lakukan pemantauan respirasi dan suhu setiap jam selama dua jam

pertama pasca persalinan.

22
c. Kontraksi uterus

Pemantauan kontraksi uterus dilakukan setiap 15 menit selama satu jam

pertama dan setiap 30 menit selama satu jam kedua. Pemantauan ini

dilakukan bersama dengan masase fundus uterus secara sirkular.

d. Tinggi Fundus Uteri (TFU)

Evaluasi TFU dilakukan dengan meletakkan jari tangan secara

melintang dengan pusat sebagai patokan. Umumnya fundus uteri

setinggi atau beberapa jari di bawah pusat.

e. Lochea

Lochea dipantau bersamaan dengan masase uterus. Jika uterus

berkontraksi dengan baik maka aliran lokia tidak akan terlihat banyak,

namun jika saat uterus berkontraksi terlihat lokia yang keluar lebih

banyak maka diperlukan suatu pengkajian lebih lanjut.

f. Kandung kemih

Pada kala IV bidan memastikan bahwa kandung kemih selalu dalam

keadaan kosong setiap 15 menit sekali dalam satu jam pertama

pascapersalinan dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua.

23
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Selama proses persalinan akan terjadi perubahan-perubahan fisiologis

yang dapat dilihat secara klinis sehingga bidan sebagai penolong

persalinan dapat mengintepretasikan tanda-tanda, gejala tertentu dan

penemuan perubahan fisik apakah normal atau tidak selama persalinan

secara tepat dan cepat.

2. Perubahan fisiologis selama persalinan terjadi pada uterus, serviks,

vulva dan vagina, tekanan darah, metabolisme, suhu tubuh, denyut

jantung, pernafasan, gastrointestinal, haematologi, ginjal, dan

pengeluaran ASI.

B. Saran

Sebagai penolong persalinan seorang bidan harus mampu menilai

perubahan-perubahan fisiologis dari setiap kala pada persalinan sehingga

dapat menginformasikan kepada klien bahwa kondisi tersebut adalah

normal serta dapat mengenali secara cepat dan tepat faktor-faktor risiko

yang mungkin terjadi pada ibu bersalin.

24