You are on page 1of 17

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN


DENGAN PERTUSIS

DisusunOleh :
1. Anisya Aprilliawati
2. M. Rofian
3. Yudi Laksono

PRODI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
ANNUR PURWODADI
2017/2018
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................ 2
C. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Pengertian Hirschprung.................................................................. 3
B. Etiologi .......................................................................................... 3
C. Manifestasi Klinis .......................................................................... 3
D. Patofisiologi ................................................................................... 4
E. Kompilkasi ..................................................................................... 5
F. Pemeriksaan Penunjang ................................................................. 6
G. Penatalaksaan ................................................................................. 6
ASUHAN KEPERAWATAN ......................................................................... 8
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 14
A. Kesimpulan ................................................................................... 14
B. Saran .............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hirschsprung atau mega kolon kongenital merupakan penyakit yang
menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, tepatnya pada usus
besar. Hirschsprung atau mega kolon congenital juga dikatakan sebagai suatu
kelainan kongenital dimana tidak terdapatnya sel ganglion parasimpatis dari
pleksus auerbach di kolon, keadaan abnormal tersebutlah yang dapat
menimbulkan tidak adanya peristaltik dan evakuasi usus secara spontan,
spinkter rektum tidak dapat berelaksasi, tidak mampu mencegah keluarnya
feses secara spontan, kemudian dapat menyebabkan isi usus terdorong ke
bagian segmen yang tidak ada ganglion dan akhirnya feses dapat terkumpul
pada bagian tersebut sehingga dapat menyebabkan dilatasi usus proksimal.
Penyakit hirschprung atau mega kolon congenital dapat terjadi pada semua
usia, namun yang paling sering pada neonatus.
Pasien dengan penyakit Hirschsprung pertama kali dilaporkan oleh
Frederick Ruysch pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan serta
mendeskripsikan mega colon congenital pada tahun 1863 adalah Harald
Hirschsprung. Namun, pada saat itu patofisiologi terjadinya penyakit ini tidak
diketahui secara jelas. Hingga tahun 1938, dimana Robertson dan Kernohan
menyatakan bahwa megakolon yang dijumpai pada kelainan ini disebabkan
oleh gangguan peristaltik dibagian distal usus defisiensi ganglion. Penyakit
hirschprung terjadi pada 1/5000 kelahiran hidup. Insidensi hirschsprung di
Indonesia tidak diketahui secara pasti, tetapi berkisar 1 diantara 5000
kelahiran hidup. Dengan jumlah penduduk Indonesia 200 juta dan tingkat
kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir 1400 bayi
dengan penyakit hirschsprung. Insidens keseluruhan dari penyakit
Hirschsprung 1: 5000 kelahiran hidup. laki-laki lebih banyak diserang
dibandingkan perempuan dengan perbandingan 4:1. Biasanya, penyakit
Hirschsprung terjadi pada bayi aterm dengan berat lahir 3kg dan jarang pada

1
bayi prematur. Penyakit ini mungkin disertai dengan cacat bawaan dan
termasuk sindrom down, sindrom waardenburg serta kelainan kardiovaskuler.
Penyakit ini ditemukan tanda dan gejala yaitu adanya kegagalan
mengeluarkan mekonium dalam waktu 24-48 jam setelah lahir, muntah
berwarna hijau dan konstipasi. faktor penyebab penyakit Hirschsprung diduga
dapat terjadi karena faktor genetik dan faktor lingkungan.
Oleh karena itu, penyakit Hirschsprung sudah dapat dideteksi melalui
pemeriksaan yang dilakukan seperti pemeriksaan radiologi, barium, enema,
rectal biopsi, rectum, manometri anorektal dan melalui penatalaksanaan dan
teraupetik yaitu dengan pembedahan dan colostomi.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tentang penyakit yang menyerang pada
sistem pencernaan
2. Tujuan Khusus
Untuk memahami tentang hirschprung atau mega colon congenital dan
asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit hirschprung atau mega
colon kongenital

C. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari penyakit hirschprung ?
2. Apa etiologi dari penyakit hirschprung ?
3. Apa manifestasi dari penyakit hirschprung ?
4. Apa patofisiologi dari penyakit hirschprung ?
5. Apa komplikasi dari penyakit hirschprung ?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada penyakit
hirschprung ?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hirschprung
Penyakit hirschprung adalah adalah penyebab obstruksi usus bagian
bawah yang paling sering pada neonatus, dengan insidens keseluruhan 1:5000
kelahiran hidup.(Prof.DR.dr.A.Samik Wahab.SpA)
Hirschprung adalah penyakit yang tidak adanya sel-sel ganglion dalam
rektumatau bagian rektosimoid kolon.dan tidak adanya ini menimbulkan
keabnormalan atau tidak adanya peristaltik srta tidak adanya evakuasi usus
spontan ( Betz, Cecily & Sowden :2000)

B. Etiologi
Penyebab hirschprung atau mega kolon itu sendiri belum di ketahui
tetapi diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan, serig terjadi pada
anak dengan Down syndrom, egagalan sel neural pada masa embrio dalam
dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa
dinding plexus.

C. Manifestasi Klinis
Bayi baru lahir tidak bisa mengeluarkan Meconium dalam 24-28 jam
terutama setelah lahir. Tampak malas mengonsumsi cairan, muntah bercampur
dengan cairan empedu dan distensi abdomen. (nelson,2000). Gejala penyakit
hirschprung adalah obstruksi usus letak rendah,bayi dengan peyakit
hirschprung dapat menunjukan gejala klinis sebagai berikut. Obstruksi total
saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketidakadaan evakuasi
mekonium. Keterlambatan evakuasi meconium di ikuti obstruksi konstipasi,
mentah dan dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama bebrapa minggu
dan bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Konstipasi ringan
elektrolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Adanya feses yang
menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. Bila telah

3
timbul enterokolitis nikrotiskans terjadi distensi abdomen hebat dan diare
berbau busuk yang dapat berdarah (nelson,2002)
1. Anak-anak
a. Konstipasi
b. Tinja seperti pita dan berbau busuk
c. Distensi abdomen
d. Adanya masa difikal dapat di palpasi
e. Biasanya tampak kurang nutrisi dan anemi
2. Kompilkasi
a. Obstruksi sus
b. Konstipasi
c. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
d. Entrokolisis
e. Struktur anal dan inkontinensial (post oprasi)

D. Patofisiologi
Persyarafan parasimpatik colon didukung oleh ganglion. Persyarafan
parasimpatik yang tidak sempurna pada bagian usus yang aganglionik
mengakibatkan peristaltik abnormal, sehingga terjadi konstipasi dan ostruksi.
Tidak adanya ganglion disebabkan oleh kegagalan dalam migrasi sel ganglion
selama perkembangan embriologi. Karena sel ganglion tersebut berimigrasi
pada bagian kaudal saluran gastrointestinal (rectum), kondisi ini akan
memperluas hingga proksimal dari anus. Semua ganglion pada intramural
plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik
secara normal. Penyempitan pada lumen usus,tinja dan gas akan terkumpul di
bagian proksimal dan terjadi obstruksi dan menyebabkan di bagian colon
tersebut melebar (megacolon).

4
E. Kompilkasi
1. Kebocoran Anastomose
Kebocoran Anastomose pasca operasi dapat disebabkan oleh
ketegangan yang berlebihan pada garis anastomose, vaskularisasi yang
tidak adekuat pada kedua tepi sayatan ujung usus, infeksi dan abses sekitas
anastomose serta trauma colok dubur atau businasi pasca operasi yang
dikerjakan terlalu dini dan tidak hati-hati. Anatomose ringan menimbulkan
gejala peningkatan suhu tubuh, terdapat infiltrat atau abses rongga pelvik,
kebocoran berat dapat terjadi demam tinggi, pelvioperitonisis atau
peritonitis umum, sepsis dan kematian. Apabila dijumpai tanda-tanda dini
kebocoran, segera dibuat kolostomi di segmen proksimal.
2. Stenosis
Stenosis yang terjadi pasca operasi dapat disebabkan oleh gangguan
penyembuhan luka di daerah anastomose, infeksi yang menyebabkan
terbentuknya jaringan fibrosis, serta prosedur bedah yang dipergunakan.
Stenosis sirkuler biasanya disebabkan komplikasi prosedur Sweson atau
Rehbein, stenosis posterior berbentuk oval akibat prosedur Duhamel
sedangkan bila stenosis memanjang biasanya akibat prosedur soave.
3. Enterokolitis
Enterkolitis terjadi karena proses peradangan mukosa kolon dan usus
halus. Semakin berkembang penyakit hirschprung maka lumen usus halus
makin dipenuhi eskudat fibrin yang dapat meningkatkan resiko pereforasi.
Proses ini dapat terjadi pada usus yang aganglionik maupun ganglionik.
Enterokolitis terjadi pada 10-30% pasien penyakit Hirschprung terutama
jika segmen usus yang terkena panjang tindakan yang dapat dilakukan
pada penderita dengan tanda-tanda enterokolitis adalah :
a. Segera melakukan resusitasi cairan dan elektrolit.
b. Pemasangan pipa rektal untuk dekompresi.
c. Melakukan wash out dengan cairan fisisologis 2-3 Kli perhari.
d. Pemberian antibiotik yang tepat.

5
4. Gangguan fungsi sfinkter
Hingga ssat ini, belum ada suatu parameter atau skala yang diterima
universal untuk menilai fungsi anorektal ini. Fecal soiling atau kepecirit
merupakan parameter yang sering dipakai peneliti terdahulu untuk menilai
fungsi anorektal pasca operasi, meskipun secara teoritis hal tersebut
tidaklah sama. Kepecirit adalah suatu keadan keluarnya feses lewat anus
tanpa dapat dikendalikan oleh penderita, keluarnya sedikit-sedikit dan
sering. Inkontensitas (jangka panjang).

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto abdomen : untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.
2. Enema barium : untuk mengetaui adanya penyumbatan pada kolon.
3. Biopsi rectal : untuk mendeteksi adanya sel ganglion.
4. Menometri anorectal :utuk mencatat respon refleks sfingter intrna dan
eksterna.
(Betz,2002)

G. Penatalaksaan
1. Medis
Penatalaksaan operasi adalah untuk memperbaiki partion anganglionik di
usus besar untuk membebaskan dari obstruksi dan mengembalikan
motilitas usus besar sehingga normal dan fungsi spinkter ani internal. Ada
dua tahapan dalam penatalaksaan medis yaitu :
a. Temporiari ostomy dibuat proksimal terhadap segmen anganglionik
untuk mengembalikan ukuran normalnya.
b. Pembedahan koreksi dilaksanakan atau dilakukan lagi diasanya saat
berat anak mencapai sekitar 9 Kg (20 pounds) atau sekitar 3 bulan
setelah operasi pertama. Ada beberapa prosedur pembedahan yang
dilakukan seperti Sweson, Duhamel, Boley & Soave. Prosedur Soave
adalah salah satu prosedur yang paling sering dilakukan terdiri dari

6
penarikan usus besar yang normal bagian akhir dimana mukosa
anganglionik telah diubah.
2. Perawatan
Perhatikan perawatan tergantung pada umur anak dan tipe pelaksanaanya
bila ketidakmampuan terdiagnosa selama periode neonatal,perhatiakan
utama antara lain :
a. Membantu orang tua untuk mengetahui adanya kelainan kongenital
pada anak secara dini.
b. Membantu perkembangan ikatan antara orang tua dan anak,
c. Mempersiapkan orang tua akan adanya intervensi medis
(pembedahan).
d. Memdampingi orang tua pada perawatan colostomy setelah rencana
pulang.
Pada perawatan preoperasi harus diperhatikan juga kondisi klinis anak-
anak dengan malnutrisi tidak dapat bertahan dalam pembedahan sampai
status fisiknya meningkat. Hal ini sering kali melibatkan pengobatan
simptomatik seperti enema. Diperlukan juga adanya diet rendah serat,
tinngi kalori dan tinngi protein serta situasai dapat digunakan nutrisi
parententeral total (NPT).
3. Pengobatan
Untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat penyumbatan usus, segera
dilakukan kolostomi sementara. Kolostomi adalah pembuatan lubang pada
dinding perut yang di sambungkan dengan ujung usus besar. Pengangkatan
bagian usus yang terkena dan penyambungan kembali usus besar biasanya
dilakukan pada saat anak berusia 6 bulan atau lebih.Jiak terjadi perforasi
(perlubangan usus) atau enterokolosis, diberiakan antibiotik.

7
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Fokus pengkajian
1. Identitas
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dn
merupakan kelainan tunggal. Jarang pada bayi prematur atau bersamaan
dengan kelainan bawaan lain. Pada segmen anganglionosis dari anus
sampai sigmoid lebih sering ditmukan pada anak laki-laki dibandingkan
anak perempuan. Sedangkan kelainan yang melebihi sigmoid bahkan
seluruh kolon atau usus halus ditemukan sama banyak pada anak laki-laki
dan perempuan. (ngahtyah:1997)
2. Riwayat keperawtan
a. Keluhan utama
Maslah yang di rasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien hirschprung misalnya, sulit BAB,
distensi abdomen, kembung, muntah. Perut kembung dan muntah
berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.
b. Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan sudah berapa lama gejala di rasakan pasiendan tanyakan
bagaimana upaya klien mengatasi masalah tersebut. Bayi sering
mengalami konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala ringan berupa
konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan
obstruksi usus akut. Namun yang ada juga konstipasi ringan,
enterokolitis dengan diare, distensi abdomen, dan demam. Diare
berbau busuk dapat terjadi.
c. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit yang di derita, riwayat pemberian imunisasi.
d. Riwayat ksehatan keluarga
Tanyakan pada orang tua apakah ada anggota keluarga lain yang
menderita hirschprung. Walaupun hirschprung bukanlah suatu
penyakit keturunan.

8
e. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
Ada/tidaknya kelainan pertumbuhan dan perkembangan yang di alami
sejak lahir.
f. Nutrisi
Pemenuhan nutrisi ibu saat hamil, ASI eksklusif.
3. Pemeriksaan fisik
a. Sistem kardio vaskuler
Ada tidaknya kelainan akibat hirschprung atau kelainan bawaan sejak
lahir.
b. Sistem pernafsan
Sesak nafas, distres pernafasan karena distensi abdomen.
c. Sistem pencernaan
Umumnya obstipasi. Perut kembung atau perut tegang, muntah
berwarna hijau. Pada anak yang lebih besar terjdi diare kronik. Pada
colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada waktu di tarik akan
diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang
menyemprot.
d. Sistem muskoloskeletal
Gangguan rasa nyaman.
e. Sistem integumen
Turgor kulit, kapillary refill < 3 detik.
f. Sistem peglihatan
Konjungtiva anemis atau tidak, interik atau aninterik.
g. Sistem pendengaran
Fungsi pendengaran, kondisi telinga, ada tidaknya serumen.

B. Nursing Care Plan(Nanda Nic-Noc, 2015)


1. Diagnosa keperawatan
a. Konstipasi
b. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
c. Resiko kurangnya volume cairan

9
d. Gangguan rasa nyaman
e. Ansietas
2. Tujuan dan kriteria hasil
a. Konstipasi
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari
2) Bebas dari ketidaknyamana dan konstipasi
3) Mengidentifikasi indiktor untuk mencegah konstipasi
4) Feses lunak dan berbentuk
b. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
2) Berat badan ideal sesuai dengan tingi badan
3) Tidak ada tanda malnutrisi
4) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
c. Reiko kurangnya volume cairan
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Mempertahankan urin output sesuai dengan usia dan BB,BJ urin
normal, HT normal.
2) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
3) Tidak da tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik,
membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
d. Gangguan rasa nyaman
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Mengontril nyeri.
2) Kualitas tidur dan isiraha adekuat
3) Mampu mengontrol kecemasan
4) Status kenyamanan meningkat
e. Ansietas
Tujuan dan kriteria hasil :
1) Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

10
2) Mengidantifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk
mengontrol cemas
3) TTF dalam batas normal
4) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktifitas
menunjukan berkurangnya kecemasan
3. Interfensi
a. Konstipasi
Interfensi :
1) Monitor tanda dan gejala konstipasi
2) Monitor bising usus
3) Identifikasi faktor penyebab dan kotribusi konstipasi
4) Memantau gerakan usus, termasuk konsistensi frekuensi, bentuk,
volume,dan warna
5) Kolaborasi pemberian laktasis
b. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Interfensi :
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Brikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
3) Berikan makanan yang terpilih(sudah di konsultasikan dengan hli
gizi)
4) Monitor mual dan muntah
5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang di butuhkan pasien
c. Resiko kurangnya volume cairan
Interfensi :
1) Monitor msukan makanan atau cairan dan hitung intake kalori
harian
2) Monitor status nutrisi
3) Dorong masukan oral
4) Berikan cairan IV monitor

11
d. Gangguan rasa nyaman
Interfensi :
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan
2) Jelskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
3) Identifikasi tingkat kecemasan
4) Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
5) Berikan obat untuk mengurangi kecemasan
e. Ansietas
Interfensi :
1) Pahami perspektif pasien terhadan situasi stres
2) Temani pasien untuk memberikan keamna dan mengurangi takut
3) Dorong keluarga untuk menemani anak
4) Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
4. Implementasi
a. Konstipasi
Implementasi:
1) Memonitor tanda dan gejala konstipasi
2) Memonitor bising usus
3) Mengidentifikasi faktor penyebab dan kotribusi konstipasi
4) Memantau gerakan usus, termasuk konsistensi frekuensi, bentuk,
volume,dan warna
5) Berkolaborasi pemberian laktasis
b. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Implementasi:
1) Mengkaji adanya alergi makanan
2) Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
3) Memberikan makanan yang terpilih(sudah di konsultasikan dengan
hli gizi)
4) Monitor mual dan muntah
5) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
dan nutrisi yang di butuhkan pasien

12
c. Resiko kurangnya volume cairan
Implementasi :
1) Memonitor msukan makanan atau cairan dan hitung intake kalori
harian
2) Memonitor status nutrisi
3) Mendorong masukan oral
4) Memberikan cairan IV monitor
d. Gangguan rasa nyaman
Implementasi:
1) Menggunakan pendekatan yang menenangkan
2) Jelskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
3) Mengidentifikasi tingkat kecemasan
4) Menginstruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
5) Memberikan obat untuk mengurangi kecemasan
e. Ansietas
Implementasi :
1) Memahami perspektif pasien terhadan situasi stres
2) Menemani pasien untuk memberikan keamna dan mengurangi
takut
3) Mendorong keluarga untuk menemani anak
4) Membantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit hirscprung merupakan penyakit yang sering menimbulkan
masalah fisik, psikologis maupun psikososial, Masalah pertumbuhan dan
perkembangan anak dengan penyakit hirscprung yaitu terletak pada kebiasaan
buang air besar. Orang tua yang mengusahakan agar anaknya bisa buang air
besar dengan cara yang awam akan menimbulkan masalah baru bagi
bayi/anak. Penatalaksanaan yang benar oleh seluruh pihak. Baik tenaga medis
maupun keluarga. Untuk tercapainya tujuan yang diharapkan perlu terjalin
hubungan kerja sama yang baik antara pasien, keluarga, dokter, perawat
maupun tenaga medis lainnya dalam mengatisipasi kemungkinan yang terjadi.

B. Saran
Kami berharap setiap mahasiswa maupun memahami dan mengetahui
tentang penayakit hirscprung. Walaupun dalam makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.

14
DAFTAR PUSTAKA

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9.


jakarta:EGC

Kartono, Darmawan. 2004. Penayakit Hirscprung, Jakarta: Sagung Seto

Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk


Perancanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta:
EGC

Betz, Cecily,L.Dan Linda A. Sowden 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik.


Edisi ke-3. Jakarta : EGC.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta :EGC

Wong, Donna L.2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Sri


Kurnianingsih(Fd), Monica Ester(ahli bahasa) edi-4 Jakarta : EGC.

Nurarif, Amin Huda, Kusuma Hardhi. 2015. NANDA NIC-NOC. Yogyakarta:


Mediaction Publishing

Nelson.2000. Ilmu Kesehatan Anak, Vol. 2, Edisi 15. Jakarta: EGC

15