You are on page 1of 10

Kelainan Genetik Talasemia β karena Mutasi pada Gen Globin

Alan Crispapanrio Patandianan


102015179/F2
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat 11510
Email: alanpatandianan24@gmail.com

Abstrak
Dewasa ini, telah begitu banyak penyakit genetika yang muncul dikehidupan masyarakat.
Bahkan, penyakit-penyakit genetika inilah yang pada masa mendatang akan lebih di takuti
karena pengobatan untuk penyakit genetika masih terbilang langka dan sulit. Hal yang lebih
ditakutkan lagi bahwa ternyata penyakit genetika dapat diwariskan kepada anak meskipun
berasal dari kedua orang tua yang normal. Kelainan-kelainan genetika ini dapat terpaut pada
kromosom autosom maupun kromosom kelamin baik bersifat dominan maupun resesif dan akan
menghasilkan keturunan yang membawa kelainan genetik tergantung dari sifat dominan dan
resesif yang dibawa oleh suatu kelainan genetik. Kelainan genetik tidak hanya dapat disebabkan
melalui pewarisan dari kedua orang tua, akan tetapi juga dapat disebabkan karena adanya
peristiwa mutasi baik saat proses fertilisasi maupun saat janin dalam kandungan. Mutasi yang
terjadi dapat disebabkan karena adanya bahan-bahan mutagen di lingkungan. Oleh karena itu,
kelainan genetik yang terjadi pada anak dapat disebabkan baik dari faktor keturunan maupun
karena adanya bahan-bahan mutagen. Salah satunya ialah penyakit thalassemia yang dapat
diakibatkan oleh mutasi gen globin.

Kata kunci: mutagen, mutasi, kelainan genetik, pewarisan sifat

Abstract
Today, there are so many genetic diorderss that arise later in life society. In fact, genetic
diseases in the future this is going to be in fear for the treatment of genetic disease is relatively
rare and difficult. It is more feared again that turns genetic disease can be transmitted to
children even though derived from both parents were normal. These genetic abnormalities can
be adrift on autosomal chromosomes and sex chromosomes either dominant or recessive nature
and will produce offspring that carry genetic disorders depends on the dominant and recessive
trait carried by a genetic disorder. Genetic disorders can be caused not only by inheritance from
both parents, but also may be due to either mutation events at fertilization or when the fetus in
the womb. Mutations can be caused due to the presence of substances in environmental
mutagens. Therefore, a genetic disorder that occurs in children can be caused by either of
heredity and because of the materials mutagens. One is the thalassemia disease that can be
caused by mutations in globin genes.

Keywords: mutagen, mutation, genetic disorders, heredity

Pendahuluan
Dewasa ini, telah begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari masyarakat
tentang bagaimana mungkin seorang anak lahir dengan suatu kelainan meskipun anak tersebut
berasal dari kedua orang tua yang normal. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat terjawab dengan
adanya ilmu pewarisan sifat dan genetika. Kelainan genetik bisa terjadi tidak hanya jika kedua
orang tua atau pun salah satu di antaranya juga menderita kelainan. Kelainan genetik bisa saja
diturunkan kepada anak meskipun dari orang tua yang normal dikarenakan orang tua membawa
kelainan pada gen mereka tetapi tidak tampak atau yang kita kenal dengan sifat yang resesif.
Selain itu, bisa juga disebabkan karena adanya mutasi yang terjadi pada kromosom.
Mutasi adalah suatu proses dimana suatu gen mengalami perubahan struktur atau pun
perubahan yang terjadi pada materi hereditas suatu organisme yang terdiri dari protein dan asam
nukleat. Mutasi dapat terjadi dikarenakan adanya bahan-bahan kimia, radiasi, atau pun karena
sinar ultraviolet yang terpapar di lingkungan. Tujuan pembuatan makalah ini, adalah agar
mahasiswa dapat menjelaskan mengapa suatu kelainan genetik dapat terjadi dengan
menggunakan prinsip-prinsip pewarisan sifat.1

Teori Mendel
Teori Mendel diasaskan oleh seorang ilmuan dan biarawan yaitu Gregor Johan Mendel.
Pada tahun 1842, Mendel mulai mengadakan penelitian dan meletakan dasar- dasar hereditas.
Dia menerangkan adanya mekanisme penurunan (gen) yang secara kekal diwariskan dari induk
kepada keturunnya melalui hukum pemisahan. Beliau menggunakan tanaman kapri atau Pisum
Sativum. Hasilnya Mendel telah mengeluarkan dua teori yaitu Hukum Mendel I dan Hukum
Mendel II. Antar sifat yang diperhatikan oleh Mendel melalui risetnya pada tanaman kapri.2

Hukum Mendel I
mengatakan bahwa anggota pasangan alel akan bersegregasi atau berpisah, selama proses
pembentukan gamet melalui distribusi anak, sebagian gamet akan berisi gen ibu asli, lainnya
akan berisi gen ayah asli. Dasar fisik untuk hukum ini adalah pemisahan kromosom homolog
selama pembelahan mitosis tahap anaphase. Atau Hukum Mendel satu disebut juga hukum
pembentukan gamet dengan satu sifat berbeda (monohybrid). Monohybrid adalah persilangan
yang hanya menggunakan satu macam gen yang berbeda atau menggunaan satu sifat berbeda.
Mendel melakukan percobaan dengan mengawinkan tanaman ercis berbiji kuning dengan
tanaman ercis berbiji hijau. Perkawinan pada induk dinamakanan parental (P), dan hasil
perbandingan anakan yang diperoleh disebut dengan filial (F).2

Hukum Mendel II
Hukum penggolongan bebas Mendel menyatakan bahwa gen pada berbagai lokus akan
berpasangan dengan bebas satu sama lain, yaitu jika 2 pasangan gen/ lebih saling berhadapan,
maka setiap pasangan akan berpisah dan bergerak ke dalam gamet dengan bebas. Asalkan gen
tersebut tidak berada dalam kromosom yang sama. Jika gen berada dalam kromosom yang sama,
makan gen tersebut tidak sepenuhnya dapat bergerak bebas, tetapi akan diturunkan secara
berkelompok dan dikatakan terikat, terutama jika gen tersebut terletak sangat berdekatan.
Kelompok alel yang terikat dapat diuraikan dan dikombinasi ulang dengan berbagai cara melalui
pertukaran silang terhadap kromosom homolog saat pembelahan meiosis. Penambahan ini akan
memperbesar variasi diantara keturunannya.2
Gen
Gen adalah bahan genetik yang terkait dengan sifat tertentu. Sebagai bahan genetik tentu
saja gen diwariskan dari satu individu ke individu lainnya. Gen memiliki bentuk-bentuk
alternatif yang dinamakan alel. Ekspresi dari alel dapat serupa, tetapi orang lebih sering
menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotif berbeda. Melalui prosesnya,
sintesis terbagi menjadi 3, yaitu:

Replikasi ( DNA )
Replikasi DNA bertujuan untuk mensintesis atau mempergandakan DNA. DNA terletak
dalam nukleus. Pada sel, replikasi DNA terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota terus-
menerus melakukan replikasi DNA. Pada eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah
diatur, yaitu pada fase S daur sel, sebelum mitosis atau meiosis I. Replikasi DNA berlaku pada
fase interphase dalam mitosis dan meiosis. Proses ini memerlukan deoksiribonukleotida fosfat
dan beberapa enzim.3
Saat replikasi bermula, enzim helicase memisahkan dua rantai DNA yang berpilin pada
garpu replikasi. Kedua-dua rantai DNA yang sudah terpisah akan menjadi acuan (template).
Template ini akan digunakan untuk mencetak rantai DNA yang baru. Enzim DNA polimerase
akan menambah nukleotida sepanjang template dengan arah 5’ ke 3’. Leading strand akan
tersintesis secara continue dimana lagging strand akan tersintesis dengan pembentukan fragemen
Okazaki. Enzim ligase berfungsi sebagai ‘glue’. Proses ini menggunakan metode semi
konservatif yaitu rantai DNA anak terdiri dari pada satu untai DNA induk dan satu untai DNA
hasil sintesis yang baru. Apabila saat replikasi terdapat kesalahan, maka segera diperbaiki oleh
enzim eksonukleotida akan memperbaikinya. Setelah replikasi, turut ada mekanisme perbaikan
pada basa yang salah dipasang oleh endonuklease.4

Ada tiga hipotesis yang menjelaskan mengenai replikasi DNA, yaitu semikonservatif,
konservatif, dan dispersive.
a.) Semikonservatif, dua rantai spiral DNA memisah diri. Setiap rantai tunggal menjadi
pencetak untuk membentuk rantai pasangannya.
b.) Konservatif, rantai ganda DNA induk tetap utuh, tetapi keseluruhan rantai tersebut dapat
mencetak rantai ganda baru.
c.) Dispertif, kedua buah rantai ganda DNA induk terputus. Segmen-segmen DNA induk dan
segmen-segmen DNA yang baru bersambungan sehingga dihasilkan dua rantai ganda baru.4
Transkripsi ( RNA )
Transkripsi RNA adalah pembentukan atau pencetakan mRNA oleh salah satu utas atau
pita DNA berlangsung di dalam inti sel, di bawah pengaruh enzim RNA polimerase. Selanjutnya,
mRNA yang telah terbentuk meninggalkan inti sel menuju ribosom dalam sitoplasma untuk
mencetak protein.Enzim RNA polimerase meningkatkan diri pada situs khusus molekul DNA
sehingga mengakibatkan sebagian dari pilinan ganda (heliks ganda) membuka
kumparannya.Salah satu kumparan yang telah terbuka berperan sebagai cetakan untuk
transkripsi mRNA, sedangkan yang lainnya tidak.Bagian pilinan ganda yang tidak terbuka juga
tidak bertindak sebagai cetakan untuk transkripsi mRNA.
Sementara memisahkan kedua pilinan DNA, enzim RNA polymerase mengumpulkan
dasar bangunan mRNA, yaitu molekul-molekul ribonukleotida trifosfat (NTP).Dasar bangunan
atau substrat tersebut adalah ATP, UTP, GTP, dan CTP.
Karena terbukanya pilinan DNA, basa-basa pada salah satu pilinan menjadi bebas sehingga
memberi kesempatan basa-basa pasangannya atau basa-basa komplementernya menyusun
mRNA. Pembentukan pita dalam transkripsi RNAr ini sama dengan pembentukan pita dalam
replikasi DNA, yaitu berlangsung dalam arah 5’ 3’.5
Ribonukleotida trifosfat merakit diri satu demi satu yang tersusun mengikuti aturan
umum pasangan basa pada pilinan (pita, utas) DNA pencetaknya. Enzim RNA polymerase
mengatalis terbentuknya hubungan ikatan fosfodiester di antara ribonukleotida trifosfat.
Sementara mRNA sudah terbentuk kalau sudah selesai dicetak dan meninggalkan untai
pencetaknya menuju ribosom dalam sitoplasma untuk mencetak protein, untai DNA yang
awalnya terbuka mulai membentuk pilinan rangkap kembali.
Transkripsi mRNA mirip dengan replikasi DNA. Perbedaannya (a) Basa urasil RNA
mengganti basa timin DNA dan (b) RNAm yang terbentuk tidak lagi berpasangan dengan pita
DNA pembuatannya, tetapi segera melepaskan diri meninggalkan inti sel.
Pembentukan rantai polinukleotida baru dalam transkripsi RNA, identik dengan
pembentukan rantai polinukleotida baru pada replikasi DNA. Bahan baku pada replikasi DNA
adalah dNTP, sedangkan bahan baku transkripsi RNA bahan bakunya adalah NTP. Pembentukan
rantai polinukleotida baru dalam transkripsi RNA terjadi melalui pembentukan ikatan 3’, 5’-
fosfodiester. Dalam hal ini, kedua nukleotida membebaskan pirofosfat, sehingga kedua
nukleotida tersebut bergabung menjadi satu. Proses berlangsung terus sehingga terbentuk
polinukleotida yang baru.6

Translasi ( RNA Messenger Menjadi Protein )


Setelah RNAr menemukan RNAt pasangannya, kedua molekul tersebut berikatan menuju
ribosom, yang menyusun setengah bagian dari jenis RNA ketiga, yaitu RNA ribosom. Asam
amino yang diangkat oleh RNAt ditambahkan ke rantai asam amino yang sedang tumbuh di
ribosom, sampai ribosom diberi sinyal agar asam amino berhenti ditambahkan ke rantai, oleh
suatu kodon khusus yang disebut kodon stop.Protein kemudian selesai dibentuk dan dibebaskan
dari ribosom. Proses ini disebut translasi.7
Dalam proses translasi suatu sel menginterpretasi suatu pesan genetik dan mebentuk
protein yang sesuai. Pesan tersebut berupa serangkaian kodon di sepanjang molekul mRNA,
interpreternya adalah RNA transfer. Fungsi tRNA adalah mentransfer asam-asam amino dari
kolam asam amino sitoplasmanya ke ribosom.Suatu sel tetap menjaga sitoplasmanya agar
mempunyai persediaan ke-20 asam amino, baik dengan mensintesisnya dari senyawa-senyawa
lain atau dengan mengambilnya dari larutan di sekitarnya. Ribosom menambahkan tiap asam
amino yang dibawa oleh tRNA ke ujung rantai polipeptida yang sedang tumbuh.
Molekul-molekul tRNA tidak semuanya identik.Kunci untuk mentranslasi pesan genetik
menjadi urutan asam amino spesifik adalah setiap tipe molekul tRNA menghubungkan kodon
mRNA tertentu dengan asam amino tertentu.Ketika tiba di ribosom, molekul tRNA membawa
asam amino spesifik pada salah satu ujung.Pada ujung lainnya terdapat triplet nukleotida yang
disebut antikodon yang berdasarkan aturan pemasangan basa, meningkatkan diri pada kodon
komplementer di mRNA.Secara prinsip translasi adalah sederhana tetapi kompleks secara
biokimia dan mekanik, khususnya pada sel eukariotik.8
Mutasi
Mutasi adalah perubahan materi genetik yang dapat diwariskan dan memunculkan
bentuk- bentuk alternatif gen. Mutasi merupakan perubahan pada DNA. Gen atau kromosom
dapat mengalami mutasi. Pada sel- sel somatis, mutasi gen terjadi pada saat pembelahan mitosis.
Bila perubahan terjadi pada suatu bagian, maka bagian tersebut akan memberikan kenampakan
yang berlainan. Mutasi gen tersebut akan memberi kenampakan yang berlainan. Mutasi gen
merupakan perubahan pada deretan nukleotida di dalam gen pada lokasi tetentu. Mutasi akibat
kerusakan nukleotida DNA atau dari kesalahan yang tidak di perbaiki selama replikasi dapat
ditranskip ke mRNA menyebabkan translasi susunan abnormal dari asam amino.9

Berikut ini adalah jenis-jenis Mutasi:


Transisi terjadi ketika terdapat kesalahan perpasangan basa yang mengakibatkan
tertukarnya satu purin dengan purin lain ataupun satu pirimidin dengan pirimidin lain.
Transversi terjadi jika purin digantikan oleh pirimidin ataupun sebaliknya. Karena
perubahan-perubahan structural yang mengarah pada terjadinya transisi relative kecil, transisi
jauh lebih sering terjadi daripada tranversi, yang membutuhkan modifikasi-modifikasi molekul
DNA yang lebih besar.10
Mutasi titik terjadi akibat adanya substasi basa pada gen yang mengkode suatu
polipeptida sehingga dapat menyebabkan terjadinya mutasi missense, nonsense, ataupun basa
(silent). Mutasi missense mengakibatkan penggantian satu kodon sense oleh kodon sense lainnya
sehingga mengubah asama amino yang dikodekan pada posisi tersebut. Mutasi nonsense
menghasilkan salah satu dari ketiga kodon stop ( UGA, UAA, UAG) sehingga polipeptida yang
dihasilkan akan lebih pendek dari yang normal. Mutasi bisu adalah perubahan dalam sekuens
kodon yang tidak mengubah asam amino yang dikodenya.10
Mutasi pergeseran kerangka-baca (frameshift mutation) terjadi akibat adanya inersi
atau delesi basa atau nukleotida di dalam daerah pengkode pada suatu gen. Kode genetic ini akan
ditranslasi oleh apparatus sintesis protein dengan membaca kelompok-kelompok tiga basa
berurutan yang membentuk kodon, dimulai dari kodon start. Jika satu basa telah ditambahkan
atau dihilangkan, maka seluruh kodon dari titik tersebut akan berubah. Protein yang dihasilkan
dapat terpenggak jika kodon bermutasi menjadi salah satu kodon stop.10
Salah satu contoh mutasi yaitu mutasi gena globin akan menghasilkan bentuk lain dari
hemoglobin normal yaitu HbA, HbA2, HbF. Namun sebaliknya akan menghasilkan
keanekaragaman hemoglobin yaitu kelompok hemoglobinopati dan kelompok sindrom
thalassemia.11
Gen Globin
Gen globin terdiri atas tiga ekson dan dua intron, intron yang pertama biasanya berukuran
pendek, sedangkan intron kedua biasanya lebih panjang meskipun ukurannya bervariasi
antarjasad yang berbeda. Sebagian besar variasi ukuran total gen globin disebabkan oleh variasi
pada intron kedua.12

Talasemia
Talasemia adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh gangguan produksi hemoglobin
dan eritrosit. Thalasemia merupakan penyakit genetik atau keturunan, gejala penyakit
thalassemia sangat bervariasi, diantarnya anemia, pembesaran limfa, bentuk tulang abnormal,
dan gangguan pertumbuhan.13
Kelainan – kelainan genetik dari sintesis hemoglobin ini diklasifikasikan berdasarkan
apakah kerusakan terjadi pada produksi rantai globin α (talasemia α) atau β (talasemia β). Status
karier memberi perlindungan terhadap malaria falciparum, yang juga menjelaskan penyebaran
geografis penyakit ini.

DNA Rekombinan
Penggunaan tehknik DNA rekombinan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit
seperti vaksin, sebelum penemuan teknologi DNA rekombinan, vaksin dibuat dari agen
infeksiosa yang dimatikan atau dilemahkan (diubah sehingga agen ini tidak lagi dapat
berkembang biak dalam individu yang diinokulasikan dengan agen tersebut). Kedua jenis vaksin
ini kemunhgkinan besar berbahaya karena dapat tercemar oleh agen infeksiosa yang masih
hidup.14
Sekarang ini teknik DNA rekombinan digunakan untuk menghasilkan protein yang
memiliki sifat terapeutik. Salah satu protein semacam ini yang pertama kali dibuat adalah insulin
manusia. Karena tidak mengalami glikolisis, protein ini dapat dihasilkan dalam E. coli.
Dipersiapkan DNA yang sesuai untuk rantai A dan B insukin manusi dan disisipkan ke dalam
plasmid yang digunakan untuk mengubah bentuk sel E.coli.14
Kesimpulan
Materi genetik yang terdiri dari gen, DNA, dan kromosom sangat berperan dalam
menurunkan suatu sifat atau karakter dari kedua orang tua. Penurunan sifat ini dapat terangkai
pada kromosom autosom maupun kromosom gonosom baik bersifat dominan maupun resesif.
Penurunan sifat yang terangkai pada kromosom dominan, disebut juga sebagai penurunan sifat
tanpa selang generasi karena sifat muncul pada setiap generasi, dan pada kromosom resesif sifat
tidak selalu muncul pada tiap generasi (ada selang generasi). Tetapi, tidak dapat dipungkiri
bahwa kelainan genetik juga dapat disebabkan oleh bahan-bahan mutagen sehingga disebut
proses mutasi. Salah satu kelainan genetik yang di sebabkan oleh mutasi yaitu penyakit
thalassemia. Penyakit talasemia β merupakan penyakit genetik yang berasal dari gen yang tidak
normal, gen yang mengalami mutasi sehingga mengakibatkan kelainan pada gen globin serta
produksi protein hemoglobin menurun

Daftar Pustaka
1. Yunus R, Haryanto B, Abadi C. Teori darwin dalam pandangan sains. Jakarta: Prestasi; 2006:
h. 91-2.
2. Oman Karmana. Biologi. 1st edition.Bandung; Grafindo Media Pratama. h. 105, 112.
3. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Basic Medical Biochemistry: A Clinical Approach. Jakarta:
EGC; 2006. h. 103, 146.
4. Sumardjo D. Pengantar kimia buku panduan kuliah mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC;
2009.h.324-34.
5. Mitchell CR. Biologi. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga; 2006.h.325-6.
6. Yuwono T. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008: h. 75.
7. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC; 2009.h.45.
8. Standsfield WD, Colone JS, Cano RJ. Molecular and Cell Biology, Erlangga; 2006. h. 224.
9. Arvin BK. Genetika manusia. Dalam: Ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC; 2006: h. 374.
10. Stansfield W, Colome J, Cano R. Biologi molekuler dan sel. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2009.
11. Sofro ASM. Keanekaragaman genetik. Yogyakarta: Andi Offset; 2006: h. 95.
12. Yuwono T. Biologi Molekuler. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2010.
13. Firmansyah R, Mawardi H, Riandi M. Mudan dan aktif belajar biologi: PT Setia Putra.
14. Marks D, Marks A, Smith C. Biokimia kedokteran dasar sebuah pendekatan klinis. Jakarta:
EGC; 2000.