You are on page 1of 30

Budi Satria & Maddenia Ayu

Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

TINJAUAN YURIDIS
ATAS PEMBATALAN PUTUSAN BADAN ARBITRASE
NASIONAL INDONESIA (BANI)

Oleh:
BUDI SATRIA & MADDENIA AYU
Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul

ABSTRAK

Dalam era bisnis tanpa batas dewasa ini, arbitrase merupakan lembaga
penyelesaian sengketa yang sangat populer digunakan oleh kalangan
pelaku bisnis. Namun demikian tidak jarang para pelaku bisnis, terutama
mereka yang memenangkan perkara, dihinggapi kefrutasian apabila
dihadapkan pada implementasi putusan arbitrase yang melibatkan
pengadilan. Dalam proses penyelesaian sengketa pada arbitrase nasional,
sebagaimana lazim dikenal dalam lembaga peradilan, pemeriksaan
sengketa akan berujung pada sebuah putusan (putusan arbitrase
nasional). Setelah putusan dibuat dan diucapkan pihak yang
dikalahkan, apabila tidak puas, paling tidak mempunyai alternatif upaya
hukum. Upaya hukum ini pada dasarnya adalah upaya hukum untuk
membatalkan putusan arbitrase. Pengadilan dianggap sebagai otoritas
yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase. Dalam skripsi
ini yang hendak diangkat adalah tentang upaya hukum berupa
pembatalan putusan arbitrase oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
antara JACOB HENDRAWAN dan PT. UNICOMINDO PERDANA,
beralamat di Jl. KH. Mansyur No. 59 Kebon Melati, Tanah Abang,
Jakarta Pusat, dalam hal ini diwakili oleh kuasa Syamsul Arief, SH. dan
Andi Fatmawati, SH., Advokat dan Pengacara, berkantor di jalan Taman
Kebon Jeruk Intercon Blok AA-III No.15, Jakarta Barat, sebagai
Pemohon. MELAWAN PT. SAC NUSANTARA, beralamat di Lina
Bulding Lantai Dasar, Jl. HR. Rasuna Said Kav.B-7, Kuningan, Jakarta
Selatan, dalam hal ini diwakili oleh kuasanya H.Ernatno Sudarno, SH.,
Edwar NH Abraham, JD. dan David Abraham, BSL, berkantor di
Prince Building, lantai 10, Jalan Jendral Sudirman Kav.3-4 Jakarta
10220, sebagai Termohon. Penulis menggunakan bahan penelitian
untuk menganalisa dan menerapkan Undang-Undang No.30 tahun 1999
sebagai bahan acuan.

Key Words: Arbitrase, Sengketa

Pendahuluan adalah bidang hukum. Kemajuan


Kemajuan dunia perdagangan dibidang niaga ini secara faktual
dengan segala aspeknya, ternyata tidak berbanding sejajar dengan adanya
bisa berdiri sendiri, dimana bidang yang akibat-akibat hukum dari sengketa
paling menonjol dan dominan dalam yang terjadi dalam dunia bisnis itu
menopang kelancaran kegiatan bisnis ini sendiri. Bentuk sengketa tersebut juga

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 32


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

beraneka ragam baik inti dengan litigasi dalam pendekatannya


permasalahannya, ruang lingkupnya, melalui simplifikasi prosedur.
lingkungan atau pihak-pihak yang Apabila penyelesaian dengan
terlibat dan juga kadang menjadi cara litigasi, maka secara jelas proses
komplikasi kalau menyangkut antar penyelesaian sengketanya dilakukan di
negara dimana undang-undangnyapun pengadilan. Namun apabila dilakukan
belum tentu sama. Dalam hal dengan melalui Arbitrase, berarti
terjadinya sengketa dagang/bisnis penyelesaian sengketa dimana pihak
seperti itu, maka mau tidak mau, suka netral dipilih secara pribadi dan
atau tidak suka akan membawa para dibiayai oleh para pihak yang
pelaku bisnis untuk menyelesaikan bersengketa melalui prosedur arbitrase
sengketanya itu ke proses peradilan. yang merupakan peraturan yang
Namun, ada alternatif yang diterapkan oleh lembaga arbitrase.
lebih baik dan efektif yaitu diselesaikan Berdasarkan banyak pe-
dengan putusan yang final dan ngalaman dari para pelaku bisnis yang
mengikat melalui Alternatif pernah menyelesaikan sengketa bisnis-
Penyelesaian Sengketa (APS), baik nya di badan peradilan formal, mereka
dengan bentuk-bentuk APS tertentu diwajibkan beracara di pengadilan yang
maupun dengan arbitrase. Dalam berpedoman kepada kitab undang-
Undang-undang No.30 tahun 1999 undang formal seperti KUHPer atau
tentang Arbitrase dan Alternatif BW, yang di dalam pelaksanaannya
Penyelesaian Sengketa, arbitrase akan menempatkan mereka pada
dipisahkan dengan APS. APS adalah posisi yang saling berhadapan.
sekumpulan prosedur atau mekanisme Dalam penyelesaian sengketa
yang berfungsi memberi alternatif yang menggunakan peradilan formal
atau pilihan suatu tata cara seperti ini, maka tidak jarang dari
penyelesaian sengketa melalui bentuk mereka baik yang menang maupun
APS atau arbitrase agar memperoleh yang kalah menjadi hilang muka
putusan akhir dan mengikat pihak ”. terutama terhadap klien dan mitra
Arbitrase pada awalnya merupakan bisnis mereka, dan juga menanggung
prosedur yang berdiri sendiri, tetapi akibat-akibat lain yang tidak
dewasa ini dipandang sebagai bagian sebanding dengan besarnya kasus
dari APS walaupun hampir sama sengketa mereka. Di samping akibat-
akibat itu, maka ada beberapa hal yang

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 33


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

menjadi pertimbangan mereka menjadi business excecutive’s court” yang


enggan beracara di pengadilan formal, merupakan sarana alternatif dalam
diantaranya adalah PUTUSAN yang menyelesaikan sengketa bisnis.
mengakibatkan status benar dan salah Karena mereka berpendapat bahwa
serta menang dan kalah. Putusan penyelesaian sengketa bisnis melalui
pengadilan seperti ini, sering kali pengadilan formal, pada umumnya
dirasakan sangat mengganggu secara relatif akan memakan waktu
hubungan mereka dengan mitra yang lama, prosedurnya dirasakan
bisnisnya dikemudian hari. Putusan berbelit-belit dan kompleks.
ternyata merupakan bagian yang Sebenarnya sudah menjadi
penting dalam acara pengadilan jurisprudensi tetap, bahwa apabila
formal dan bisa berpengaruh cukup dalam suatu perjanjian terdapat
signifikan terhadap psikologis para klausula, bahwa para pihak
pihak. Tidak jarang putusan dari menyetujui bahwa apabila terjadi
suatu perkara perdata akan berbuntut sengketa, maka tidak akan dibawa
ketidak puasan dari pihak yang kalah ke pengadilan, tetapi memilih arbitrase,
dalam jangka waktu yang lama. hal ini akan dihormati oleh pengadilan
Dalam prakteknya, sebelum sendiri. Dalam hal terjadi sengketa,
Majelis Hakim melanjutkan suatu maka justru penyelesaiannya ialah di
perkara perdata, biasanya selalu luar pengadilan.
ditawarkan kepada para pihak untuk Dalam arbitrase dikenal dengan
mengambil jalan damai, dan tidak syarat formal dan syarat material,
jarang jalan ini ditempuh oleh para Syarat Formal ini harus memenuhi 3
pihak yang lebih nyaman karena (tiga) hal pokok, yaitu :
putusannya cenderung secara relatif 1. Normatif, yaitu sebuah aturan
lebih memenuhi rasa keadilan. Dalam formal yang baku dari sebuah
hal para pihak mengambil jalan produk hukum. Salah satu contoh
damai dengan membuat akad damai, syarat formal normatif yang
maka lembaga ARBITRASE adalah paling sederhana yang terdapat
merupakan lembaga institusi yang dalam Pasal 45 Undang-undang
tepat untuk menyelenggarakan proses No.30 tahun 1999, adalah pada
yang dimaksud. Dan dibeberapa huruf a, dimana disebutkan dalam
negara yang sudah maju, “commercial setiap putusan arbitrase harus
arbitration” sudah dianggap sebagai “a mememuat kepala putusan yang

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 34


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

berbunyi “DEMI KEADILAN persengketaan tersebut. Segala


BERDASARKAN KETUHANAN perbedaan pendapat dan argumen-
YANG MAHA ESA”. tasi dari para pihak berserta
2. Konstruktif, artinya bentuk formal semua bukti disampaikan dalam
dari putusan arbitrase harus forum persidangan tersebut
dimuat secara struktur dengan (arbitrase) untuk dibuktikan ke-
mengacu kepada ayat ( 1 ) huruf benarannya oleh mereka sendiri
a s/d j Pasal 45 Undang-undang atau kuasanya, sampai bisa
No. 30 tahun 1999. diterima oleh para pihak dan para
3. Informatif, artinya putusan ini arbiter.
memuat semua identitas dari para 2. Final, artinya bahwa terhadap
pihak, uraian singkat materi yang putusan arbitrase tidak dapat
disengketakan dan bagaimana dilakukan banding maupun kasasi.
duduk perkara yang disengketakan, Setidaknya berdasarkan Pasal 60
pertimbangan dan pendapat Undang-undang No.30 tahun 1999,
arbiter atau majelis arbiter serta maka putusan arbitrase adalah
tempat dan tanggal putusan dibuat final dan mengikat. Namun hal
dan tanda tangan arbiter atau ini tidak berarti bahwa terhadap
majelis arbiter. putusan tersebut sudah tidak dapat
Syarat Material adalah dilakukan upaya hukum sama
mengenai materi atau isi dari putusan sekali misalnya dengan
itu sendiri yang harus dapat menggunakan Pasal 70 Undang-
menunjukan bahwa putusan arbitrase undang No.30 tahun 1999 yang
itu bersifat langsung, final dan menyatakan bahwa, terhadap
mengikat. putusan arbitrase para pihak dapat
1. Langsung, bahwa putusan arbitrase mengajukan permohonan pem-
diambil bersama-sama secara batalan apabila putusan tersebut
langsung antara para pihak atau diduga mengandung unsur-unsur
kuasanya dan para arbiter, dimana sebagai berikut :
para pihak arbiter mengemukakan a) Surat atau dokumen yang diajukan
pendiriannya dalam sengketa dalam pemeriksaan, setelah
tersebut dan mereka masing- putusan dijatuhkan, diakui palsu
masing menyampaikan argumentasi atau dinyatakan palsu.
serta duduk perkara dari

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 35


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

b) Setelah putusan diambil ditemukan Berikut ini sejumlah pengertian


dokumen yang bersifat menentukan, arbitrase yang diberikan oleh para ahli
yang disembunyikan oleh pihak hukum, yakni : Frank Elkoury dan Edna
lawan. Elkoury dalam bukunya How
c) Putusan diambil dari hasil tipu Arbitration Works mengartikan ;
muslihat yang dilakukan oleh “Arbitrase adalah suatu proses yang
salah satu pihak dalam mudah atau simpel yang dipilih oleh
pemeriksan sengketa. para pihak secara suka rela yang ingin
3. Mengikat, artinya bahwa setiap agar perkaranya diputus oleh juru
putusan arbitrase harus bisa diterima pisah yang netral sesuai dengan
dan dilaksanakan oleh semua pihak. pilihan mereka dimana keputusan
Pasal 60 Undang-undang No.30 mereka berdasarkan dalil-dalil
tahun 1999 menyebutkan bahwa ; dalam perkara tersebut. Para pihak
“Putusan arbitrase bersifat Final setuju sejak semula untuk menerima
dan Mempunyai kekuatan hukum putusan tersebut secara final dan
tetap dan mengikat para pihak”. mengikat”
Bahkan dalam Pasal 61 Undang- R. Subekti di dalam bukunya
undang No.30 tahun1999, yang berjudul “Kumpulan Karangan
menyatakan bahwa ; “Dalam hal Hukum Perikatan Arbitrase Dan
para pihak tidak melaksanakan Peradilan” mengartikan arbitrase :
putusan arbitrase secara sukarela, “Arbitrase adalah penyelesaian atau
putusan dilaksanakan berdasarkan pemutusan sengketa oleh para hakim
perintah ketua Pengaadilan Negeri atau para hakim berdasarkan
atas permohonan salah satu pihak persetujuan bahwa para pihak akan
yang bersengketa”. tunduk pada atau menaati keputusan
yang diberikan oleh hakim atau para
Pengertian Arbitrase hakim yang mereka pilih atau tunjuk
Kata arbitrase berasal dari kata tesebut.”
arbitrare (Latin), arbitrage (Belanda), Sedangkan menurut H.
arbitration (Inggris), yang berarti Priyatna Adurrasyid dalam bukunya
kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu “Arbitrase & Alternatif Penyelesaian
menurut kebijaksanaan atau damai oleh Sengketa:
arbiter atau wasit. “Arbitrase adalah merupakan suatu
tindakan hukum dimana ada pihak

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 36


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

yang menyerahkan sengketa atau PUTUSAN PEMBATALAN ATAS


selisih pendapat antara dua orang PUTUSAN BANI N0. 127/ VII/ ARB-
(atau lebih) maupun dua kelelompok BANI/ 2000 DI PENGADILAN
(atau lebih) kepada seseorang atau NEGERI JAKARTA SELATAN
beberapa ahli yang disepakati bersama Pihak-pihak yang berperkara
dengan tujuan memperoleh suatu antara lain adalah Jacob Hendrawan dan
keputusan final dan mengikat.” PT. Unicomindo Perdana yang
Sementara itu, Sudargo didampingi oleh kuasa hukumnya yaitu
Gautama memberikan batasan Syamsul Arief, SH. dan Andi
arbitrase : Fatmawati, SH., selaku pemohon,
“Arbitrase adalah cara-cara pe- melawan PT. Sac Nusantara yang
nyelesaian hakim partikulir yang tidak diwakili oleh Kuasanya H. Ernanto
terikat dengan berbagai formalitas, Sudarno, SH, Edwar NH Abraham, JD.
cepat dalam memberikan keputusan, Dan David Abraham, BSL sebagai
yang mudah untuk dilaksanakan termohon.
karena akan ditaati para pihak.”
Di dalam Undang-undang No.30 B. MENGENAI DUDUK PER-
tahun 1999 tentang Arbitrase dan KARANYA
Alternatif Penyelesaian Sengketa, pada Pemohon dengan surat
Pasal 1 angka 1 mengartikan arbitrase permohonannya tertanggal 25 Maret
sebagai berikut : Arbitrase adalah 2002 telah mengajukan Pembatalan
cara penyelesaian suatu sengketa Putusan Arbitrase ke Pengadilan Negeri
perdata di luar peradilan umum yang Jakarta Selatan yang telah didaftarkan di
didasarkan perjanjian arbitrase yang bawah register Nomor. 78/ Pdt.P/ 2002/
dibuat secara tertulis oleh para pihak PN.Jak.Sel. yang telah mengemukakan
yang bersengketa. hal-hal pada pokoknya sebagai berikut:
Dari beberapa definisi yang Berdasarkan Akta Pendaftaran
diberikan, satu sama lain tidak begitu No.02/WASIT/2002/PN.JKT.PST. dan
berbeda. Dalam pengertian yang lebih Putusan BANI No.127/VII/ARB-
sederhana, arbitrase adalah cara BANI/2002 tertanggal 19 Pebruari 2000
penyelesaian sengketa diluar lembaga telah didaftarkan di Pengadilan Negeri
litigasi atau peradilan yang diadakan Jakarta Pusat pada tanggal 7 Maret
oleh para pihak yang bersengketa atas 2002.
dasar perjanjian.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 37


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

I. BANI MELANGGAR / MENG- pemeriksaan perkara Arbitrase


INTERVENSI KOMPETENSI No. 127/VII/ARB-BANI/2000,
PENGADILAN pada tanggal 4 Desember 2001,
1. Pada tanggal 18 Juli 2000 berkenaan dengan adanya
Termohon mengajukan Per- sengketa perkara perdata dan
mohonan Arbitrase terhadap perkara pidana diantara para
Para Pemohon melalui BANI. pihak, yang sampai sekarang
2. Atas permohonan ARBITRASE masih belum mempunyai
tersebut Para Pemohon me- kekuatan hukum tetap.
ngajukan keberatan dengan 5. Meskipun tahu adanya surat
alasan Sebagai Berikut : ketua BANI dan keberatan dari

Masih adanya perkara perdata di para pemohon, majelis

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat arbitrase tetap tidak peduli dan

No.245/Pdt.G/1999/PN.JKT.Pst. secara arogan tetap memeriksa

, yang sampai sekarang masih dan memutus perkara BANI.

dalam proses (belum 6. Dengan tetap memutus perkara

mempunyai kekuatan hukum BANI No.127 /VII /ARB-

tetap). BANI/2000 sementara perkara-


perkara perdata dan pidana
Perkara Perdata No.300/ Pdt.G/
masih dalam proses (belum
2000/ PN.Jkt.Brt. di Pengadilan
mempunyai kekuatan hukum
Negeri Jakarta Barat (sampai
tetap), menunjukan BANI telah
sekarang belum mempunyai
melanggar/mengitervensi kom-
kekuatan hukum tetap).
petensi pengadilan.
3. Ketua BANI dalam suratnya
Pelanggaran /intervensi atas
tertanggal 19 September 2000,
kompetensi pengadilan tersebut, jelas
telah memberitahukan bahwa
bertentangan dengan ketertiban umum,
BANI tidak dapat memproses
dan akibatnya putusan BANI No.127/
perkara yang diajukan oleh
VII /ARB-BANI /2000 cacat hukum dan
termohon, sampai adanya
harus dinyatakan batal demi hukum serta
putusan yang telah mempunyai
tidak mempuyai kekuatan hukum.
kekuatan hukum tetap.
4. Pemohon telah menyatakan
Penunjukan Majelis Arbiter
keberatan atas dilanjutkannya
Bertentangan Dengan Persetujuan

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 38


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Tertanggal 15 Mei 1996 dan kesepakatan tertanggal 15


Bertentangan Dengan Peraturan Mei 1996.
Bani. Akan tetapi majelis BANI
tetap melanjutkan per-
1. Bahwa persetujuan tertanggal 15 sidangan meskipun masalah
Mei 1996 menyatakan sebagai arbiter belum ada ke-
berikut : sepakatan.
“…..,maka khusus tentang 2. Putusan BANI tersebut menyatakan
perhitungan tersebut, akan BANI telah menunjuk arbiter untuk
diserahkan kepada satu majelis Pemohon, atau penunjukan arbiter
arbitrase yang terdiri dari : oleh Pemohon dilakukan oleh
Dua anggota yang ditunjuk BANI.
pihak pertama. Atas penunjukan tersebut
Dua anggota yang ditunjuk Pemohon telah menolak dengan alasan :
pihak kedua. a) Penunjukan tidak sesuai dengan
Kemudian keempat anggota persetujuan tertanggal 15 Mei 1996,
tersebut akan menunjukkan satu yang menghendaki 2 (dua) arbiter
orang yang bertindak sebagai untuk Pemohon dan 2 (dua) arbiter
ketua majelis arbitrase. untuk Termohon, tetapi dalam pe-
Putusan BANI tersebut nunjukan tersebut, hanya menunjuk
menyatakan “termohon” 1 (satu) arbiter.
(PT.SAC NUSANTARA) b) Penunjukan arbiter tersebut
telah menunjuk H. Adi bertentangan dengan peraturan
Andojo Soetjipto, SH. BANI, dimana yang berwenang
sebagai arbiter, serta menunjuk arbiter adalah ketua
menyatakan tidak keberatan, BANI, dan penunjukan tentunya
bila disepakati para pihak harus sesuai dengan per-setujuan
cukup menunjuk satu tertanggal 15 Mei 1996.
arbiter.
Bahwa Pemohon tidak PUTUSAN BANI DIAMBIL
sepakat atas penunjukan BERDASARKAN TIPU MUSLIHAT
satu arbiter tersebut sebab DENGAN CARA MENGGELAPKAN
bertentangan dengan FAKTA-FAKTA.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 39


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

1. Bahwa berdasarkan Laporan Polisi 3. Bahwa Perkara Pidana tersebut


No.Pol K/182/K/I/2000/SATGA sampai sekarang masih dalam
OPS “C” tertanggal 28 Januari 2000, Proses (belum ada kekuatan
Pemohon melaporkan terjadinya hukum tetap).
Pemalsuan Akta No. 13 tertanggal 4. Bahwa pada tanggal 18 Juli 2000
6 Desember 1989 yang dikeluarkan telah mengajukan pemeriksaan
oleh Notaris Djurnawati ARBITRASE dengan dasar akta-
Soetarmono, SH; akta :
2. Bahwa dengan akta yang diduga  Akta Pernyataan No. 51
palsu tersebut Pemohon telah tertanggal 12 Desember 1995.
dipaksa untuk membuat akta-akta ;  Akta Pernyataan dan Per-

Akta Pernyataan No. 51 tanggung Jawaban No. 137

tertanggal 12 Desember 1995 tertanggal 27 Desember 1995.

dihadapan Notaris Irmadewi  Akta Kuasa No.138 tertanggal

Gunawan, SH; 27 Desember 1995.


 Akta Kuasa No.139 tertanggal
Akta Pertanyaan dan
27 Desember 1995.
Pertanggung jawaban No. 137
 Akta Perdamaian No.20
tertanggal 27 Desember 1995,
tertanggal 12 Februari 1996.
dihadapan Notaris Ny.
Dimana akta-akta tersebut
Machrani Moertolo S, SH;
dibuat berdasarkan keberadaan akta
Akta Kuasa No. 138 tertanggal
No. 13 tertanggal 6 Desember 1989
27 Desember 1995, dihadapan
yang dikeluarkan oleh Notaris
Notaris Ny. Machrani Moertolo
Djurnawati Soetarmono, SH. yang
S, SH;
diduga palsu (perkara sampai
Akta Kuasa No. 139 tertanggal sekarang masih dalam proses).
27 Desember 1995, dihadapan 5. Bahwa Termohon pada saat
Notaris Ny. Machrani Moertolo mengajukan perkara ke BANI, tidak
S, SH; pernah menyebutkan adanya
Akta Perdamaian (Dading) No. dugaan Pemalsuan Dokumen
20 tertanggal 12 Februari 1996, tersebut.
dihadapan Notaris Ny. Machrani 6. Bahwa Putusan BANI No. 127/ VII/
Moertolo S, SH; ARB-BANI/2000 jelas telah di-
ambil berdasarkan tipu muslihat

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 40


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

dan menggelapkan fakta-fakta 5. Apabila Pengadilan Negeri


yang sangat prinsipil, yang berpendapat lain mohon putusan
dilakukan oleh Termohon, tidak yang seadil-adilnya (ex aequo et
saja bertentangan/ melanggar bono).
Undang-Undang No. 30 tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif C. DALAM EKSEPSINYA
Penyelesaian Sengketa khusus Pasal TERMOHON MENGAJUKAN:
70, juga sekaligus BANI telah 1. Bahwa berdasarkan ketentuan
mengintervensi Kompetensi Per- Pasal 72 (1) Undang-undang No.
adilan, yang mengakibatkan 30 tahun 1999 jo. Pasal 14 dan 16
Putusan BANI tersebut cacat Undang-undang No. 30 tahun 1999,
hukum dan harus dinyatakan batal permohonan pembatalan putusan
demi hukum serta tidak kekuatan arbitrase ini seharusnya diajukan
hukum. ke Ketua Pengadilan Negeri Jakarta
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas Pusat, bukan kepada Ketua
serta didukung oleh bukti-bukti yang sah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
menurut hukum, mohon agar Pengadilan Pasal 72 (1) Undang-undang
Negeri Jakarta Selatan dapat mem- No. 30 tahun 1999 menegaskan
berikan putusan sebagai berikut : permohonan pembatalan
1. Menerima dan mengabulkan putusan arbitrase harus
Permohonan Para Pemohon . diajukan kepada Ketua
2. Menyatakan Putusan BANI No. Pengadilan Negeri.
127/VII/ARB-BANI/2000 yang
Pasal 14 Undang-undang No. 30
didaftarkan di Pengadilan
tahun 1999 menegaskan
Negeri Jakarta Pusat No.
Pengadilan Negeri adalah pe-
02/WASIT/2002/PN.Jkt.Pst.
ngadilan Negeri yang daerah
pada tanggal 7 Maret 2002
hukumnya meliputi tempat
batal demi hukum, serta tidak
tinggal Termohon.
mempunyai kekuatan hukum.
Pasal 16 Undang-undang No. 30
3. Menyatakan Putusan BANI No.
tahun 1999 menegaskan Ter-
127/VII/ARB-BANI/2000, tidak
mohon adalah pihak lawan
dapat dilaksanakan.
Pemohon dalam penyelesaian
4. Membebankan seluruh biaya
sengketa melalui arbitrase.
perkara pada Termohon.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 41


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

2. Bahwa lebih dari itu, Putusan b) Putusan Perkara Perdata


Arbitrase Reg. No.127/VII/ARB- No.300/Pdt.G/2000/PN.Jkt.Bar.
BANI/2000 tanggal 19 Pebruari merupakan sengketa antara
2002 yang menjadi objek Pemohon dengan Pihak Ketiga
pembatalan tersebut didaftarkan dan yang tidak ada kaitan dan tidak
dicatat di Pengadilan Negeri Pusat mengikat Termohon, Ter-
dengan akte pendaftaran No. 02/ mohon juga tidak ikut digugat
WASIT/ 2002/PN.Jkt.Pst tanggal 7 dalam perkara tersebut.
Maret 2002, bukan Pengadilan c) Dua perkara pidana yang
Negeri Jakarta Selatan. dimaksud para Pemohon pada
3. Dengan demikian, Ketua Pengadilan butir 2, masih dalam tahap
Negeri Jakarta Selatan tidak penyidikan dan belum diproses
berwenang memeriksa dan dan disidangkan di pengadilan,
mengadili perkara permohonan sehingga secara yuridis
pembatalan putusan arbitrase ini, pengaduan kepada polisi
pemeriksaan perkara ini menjadi tersebut baru dalam tahap
wewenang Ketua Pengadilan dugaan saja jangankan pe-
Negeri Jakarta Pusat. ngaduan atau laporan polisi,
Berdasarkan segenap materi eksepsi yang sudah diputus, akan tetapi
tersebut, permohonan pembatalan belum mempunyai kekuatan
putusan arbitrase harus ditolak atau hukum tetap saja tidak dapat
setidak-tidaknya tidak dapat diterima. dijadikan dasar pertimbangan
1. Bahwa Termohon menyangkal dan untuk putusan perkara ini.
menolak seluruhnya dalil para d) Dalil tentang salinan akta palsu
Pemohon. ternyata baru dugaan, sampai
2. Bahwa mengenai dalil fakta yang saat ini belum ada putusan
diajukan pemohon merupakan apalagi yang telah mempunyai
pemutarbalikkan fakta : kekuatan hukum tetap yang
a) Putusan perkara perdata menyatakan salinan akta yang
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dimaksud palsu, padahal sesuai
No.245/Pdt.G/1999/PN.Jkt.Pst, dengan ketentuan Pasal 70
dalam tingkat banding telah huruf a Undang-undang No.30
diputus dan telah mampunyai tahun 1999 jo. Penjelasan Pasal
kekuatan hukum tetap. 70 Undang-undang No.30 tahun

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 42


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

1999 alasan pembatalan ternyata tidak merujuk serta tidak


putusan arbitrase karena termasuk alasan yang dapat
salinan akta palsu harus digunakan untuk membatalkan
dibuktikan dengan putusan putusan arbitrase sesuai dengan
pengadilan. ketentuan Pasal 70 Undang-undang
3. Bahwa dalil permohonan butir 3 No.30 tahun 1999.
tidak benar dan merupakan 6. Bahwa penunjukan Majelis
pemutarbalikkan fakta : Surat BANI Arbitrase sah dan tidak bertentangan
tanggal 19 September 2000 dengan peraturan dan tertib acara
hanyalah produk administratif, BANI dalam hal tertentu BANI
bukan produk tehnis yustisial dan berwenang menunjuk arbiter
setelah surat tersebut, BANI meskipun belum ada kesepakatan
kemudian menerbitkan surat lagi salah satu pihak dan dalam perkara
tanggal 9 Juli 2001 yang ini yang menunjuk arbiter adalah
menegaskan pemeriksaan oleh Ketua BANI, bukan oleh pihak yang
BANI dapat diajukan, surat tidak berwenang. Bahwa Para
terakhir ini ternyata sengaja Pemohon pada saat proses sidang
dimanipulasi dan tidak diungkapkan akan dilaksanakan ternyata tidak
Pemohon. melaksanakan kewajibannya
4. Bahwa dalil permohonan butir 4 membayar biaya sidang arbitrase,
harus dikesampingkan : dimana masing-masing pihak
Sesuai azas dan tertib acara perdata, diwajibkan membayar separonya,
sesuatu yang baru dugaan, tidak maka terpaksa pihak Termohon
dapat digunakan untuk dasar yang membayar seluruhnya agar
pertimbangan putusan berikutnya- persidangan dapat berlangsung
bahkan yang sudah diputus akan (sesuai acara sidang BANI).
tetapi belum mempunyai kekuatan 7. Bahwa dalil permohonan mengenai
hukum tetappun, tidak dapat “Putusan BANI Diambil
digunakan untuk dasar per- Berdasarkan Tipu Muslihat Dengan
timbangan putusan berikutnya. Cara Menggelapkan Fakta-Fakta”
5. Bahwa dalil permohonan butir 6 tidak dapat dijadikan alasan untuk
juga tidak benar hanya mengulang membatalkan putusan arbitrase :
dalil sebelumnya yang merupakan “Sesuai ketentuan Pasal 70
pendapat subyektif, tidak benar dan huruf a, b, dan c Undang-undang

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 43


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

No.30 tahun 1999 jo. Penjelasan Pasal Menimbang, bahwa dalil-dalil


70 Undang-undang No.30 tahun 1999, yang diajukan oleh Pemohon berupa
alasan pembatalan putusan arbitrase fotocopy surat-surat yang telah
karena tuduhan dugaan adanya tipu dibubuhi meterai dan telah dicocokkan
muslihat, dugaan pemalsuan dokumen dengan surat aslinya sebagai bukti.
dan tidak pernah menyebutkan adanya Menimbang, bahwa untuk
dugaan pemalsuan dokumen harus menyangkal bukti-bukti surat dari
dibuktikan dengan putusan Pemohon tersebut, pihak Termohon
pengadilan.” telah mengajukan bukti-bukti surat
Berdasarkan kontra dalil tersebut, berupa fotocopy yang telah dibubuhi
Termohon mohon agar Pengadilan meterai secukupnya dan telah
Negeri Jakarta Selatan berkenan dicocokkan dengan surat aslinya.
memutuskan : Menimbang, bahwa pihak
BANI telah dipanggil untuk didengar
D. DALAM EKSEPSI : keterangannya sebagai saksi akan
1. Menerima eksepsi Termohon. tetapi tidak hadir dipersidangan dan
2. Menyatakan Pengadilan Negeri mengirimkan surat tertanggal 2 April
Jakarta Selatan tidak berwenang 2002 yang menyatakan keberatan untuk
memeriksa dan mengadili perkara menugaskan pejabat BANI sebagai
ini. saksi untuk didengar keterangannya.
Menimbang, bahwa setelah
E. DALAM POKOK PERKARA : pihak Pemohon dan Termohon
1. Menolak permohonan para menyerahkan bukti-bukti surat, para
Pemohon seluruhnya atau setidak- pihak tidak mengajukan kesimpulannya
tidaknya dinyatakan tidak dapat dan memohon keputusan pengadilan.
diterima. Menimbang, bahwa perkara
2. Menghukum para Pemohon permohonan ini harus diputus dalam
membayar semua biaya perkara, waktu 30 (tiga puluh) hari sejak diterima
atau mohon putusan yang seadil- oleh Hakim yang memeriksa dan
adilnya (ex aequo et bono). mengadili perkara tersebut.

F. PERTIMBANGAN HAKIM G. TENTANG PERTIMBANGAN


DALAM MENGAMBIL PUTUSAN HUKUM YANG DIAMBIL OLEH
PENGADILAN

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 44


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Menimbang, bahwa per- Menimbang, bahwa untuk


mohonan Pemohon pada pokoknya me- dapat dikabulkan atau tidak permohonan
mohon kepada Ketua Pengadilan Negeri tersebut, terlebih dahulu diper-
Jakarta Selatan agar membatalkan timbangkan hal-hal sebagaimana di-
Putusan BANI No.127 /VII/ ARB- uraikan di bawah ini ;
BANI/2000 tertanggal 19 Pebruari 2002 Menimbang, bahwa ber-
dalam sengketa antara PT. SAC dasarkan bukti Pemohon yakni
NUSANTAR selaku Pemohon ternyata bahwa Putusan Arbitrase No.
sekarang Termohon melawan JACOB 127/VII/ARB-BANI./2000 tertanggal 19
HENDRAWAN dan PT. Pebruari 2002 telah di daftarkan oleh
UNICOMINDO PERDANA selaku Sekretaris Sidang BANI di Kepaniteraan
Termohon sekarang Pemohon. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Menimbang, bahwa adapun tanggal 7 Maret 2002, sedangkan
dasar dan alasan Pemohon mengajukan permohonan pembatalan putusan aquo
permohonan pembatalan Putusan telah diajukan dan didaftarkan di
Arbitrase tersebut karena putusan Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta
arbitrase No.127/VII/ARB-BANI/2000 Selatan di bawah register No.78/ Pdt.P/
adalah cacat hukum karena : 2002 /PN.Jkt.Sel. dengan demikian
1. BANI melanggar/ mengintervensi formalitas mengenai tenggang waktu
kompetensi/wewenang Pengadilan dan tempat pengajuan permohonan
Negeri. pembatalan putusan aquo tersebut
2. Penunjukan arbiter/ Majelis telah sesuai dengan Pasal 71 jo. 72
Arbitrase bertentangan dengan per- Undang-undang No.30 tahun 1999.
setujuan tanggal 15 Mei 1996 dan Menimbang, bahwa Pasal 70 jo.
bertentangan dengan peraturan Pasal 72 Undang-undang No.30 tahun
BANI. 1999 dengan tegas menyatakan bahwa
3. Putusan arbitrase diambil Pengadilan Negeri berwenang mem-
berdasarkan tipu muslihat yang batalkan putusan arbitrase apabila
dilakukan Termohon dahulu putusan tersebut mengandung unsur-
Pemohon dengan cara meng- unsur antara lain :
gelapkan fakta-fakta dengan a) Surat atau dokumen yang diajukan
pemalsuan akte No.13 tanggal 6 dalam pemeriksaan setelah putusan
Desember 1989. dijatuhkan diakui palsu atau
dinyatakan palsu.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 45


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

b) Setelah putusan diambil Menimbang, bahwa dari


ditemukan dokumen yang bersifat proses/penunjukan majelis arbitrase
menentukan yang disembunyikan tersebut sudah terlihat bahwa pihak
oleh pihak lawan. BANI, dalam hal ini wakil ketua BANI
c) Putusan diambil dari tipu muslihat sudah tidak mengindahkan kesepakatan/
yang dilakukan oleh satu pihak perjanjian antara Pemohon. Per-
dalam pemeriksaan sengketa. mohonan Termohon yang tertuang
Pasal 15 ayat (5) Undang- dalam persetujuan tanggal 15 Mei
undang No.30 tahun 1999, terhadap 1996, dimana perjanjian tersebut
pengangkatan arbiter yang dilakukan berlaku sebagai Undang-undang bagi
oleh Ketua Pengadilan Negeri para pihaknya (Pasal 1320jo1338
sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) KUHPerdata) para pihak menghendaki
tidak dapat diajukan upaya pembatalan. Majelis Arbitrase terdiri dari 5 (lima)
Dengan demikian terhadap orang akan tetapi penunjukkan
pengangkatan seorang arbiter atau /pengangkatan majelis tersebut terdiri
lebih oleh ketua BANI apalagi wakil dari 3 (tiga) orang. Dengan demikian
ketua BANI yang tidak sesuai dengan proses pemilihan arbitrase jelas
ketentuan undang-undang arbitrase bertentangan dengan perjanjian tanggal
dapat dilakukan upaya pembatalan. 15 Mei 1996 .
Menimbang, bahwa walaupun Menimbang, bahwa ternyata
dasar atau alasan permohonan proses penyelesaian sengketa melalui
tersebut ada 3 (tiga) pointer, namun BANI masih terkait dengan perkara
dengan demikian apabila salah satu perdata yang prosesnya sedang berjalan
dari ketiga point tersebut terbukti, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yaitu
maka permohonan tersebut harus Perkara No.245 /Pdt.G /1999 /PN.Jkt.Pst
ditolak. /tanggal 12 Nopember 1999.
Menimbang, bahwa tidak Menimbang, bahwa berdasar-
mungkin ada arbitrase tanpa adanya kan penempatan putusan perkara
kesepakatan bersama (Pasal 4 Undang- perdata dalam peradilan tingkat
undang No.30 tahun 1999 dan Pasal pertama Pengadilan Jakarta Pusat
1320 KUHPerdata) termasuk No.245/Pdt.G/1999/PN.Jkt.Pst pada
menyepakati Majelis Arbitrase yang pokoknya menyatakan Pengadilan
terdiri dari 5 (lima) orang. Jakarta Pusat tidak berwenang untuk
memeriksa dan mengadili perkara

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 46


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

tersebut. Perkara tersebut masih permohonan Pemohon di-kabulkan,


sedang berjalan saat itu diajukan maka putusan Arbitrase No. 127/ VII/
banding, jadi putusannya belum ARB-BANI/2000 tanggal 19 Pebruari
mempunyai kekuatan hukum tetap. 2002 harus dibatalkan.
Dengan demikian saat ketua BANI Menimbang, bahwa oleh karena
Prof. Dr. H.Priyatna Addurrasyid, SH. putusan Aquo dibatalkan, maka
Ph,D yang menyatakan sengketa sengketa antara Pemohon dan Termohon
antara Pemohon dan Termohon belum akan diperiksa oleh arbiter lain
dapat diperiksa oleh BANI sudah tepat setelah putusan perkara perdata No.
dan benar. Jadi proses pemeriksaan 245/Pdt.G/1999/PN.Jkt.Pst. mempunyai
sengketa antara Pemohon dan kekuatan hukum tetap.
Termohon oleh Majelis Arbitrase Mengingat Pasal 1320, 1338
BANI seharusnya ditunda sampai KUHPerdata jo. Undang-undang No.30
menunggu putusan Perdata No. 245/ tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Pdt.G /1999 /PN.Jkt.Pst. itu Inkracht. Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Dengan demikian putusan Arbitrase
No.127/VII/ARB-BANI/2000 adalah H. MENGADILI
prematur atau belum waktunya untuk Menerima dan mengabulkan
diputus. permohonan para Pemohon JACOB
Menimbang, bahwa ber- HENERAWAN dan PT.
dasarkan pertimbangan-pertimbangan UNICOMINDO PERDANA tersebut.
tersebut di atas menurut pendapat Membatalkan Putusan Arbitrase
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan BANI No.127/VII/ARB-BANI/2000
terdapat cukup alasan untuk me- tanggal 19 Pebruari 2002.
ngabulkan permohonan Pemohon Menyatakan bahwa putusan
tersebut. Arbitrase Aquo tidak mempunyai
Menimbang, bahwa per- kekuatan berlaku dan tidak menyebut
mohonan Pemohon dikabulkan, maka para pihak secara benar (para Pemohon
kepada Termohon dibebani membayar dan Termohon).
biaya perkara yang timbul yang sampai Menyatakan bahwa sengketa
kini dianggarkan sejumlah Rp. antara para Pemohon dan Termohon
119.000.- (seratus sembilan belas ribu akan diputus Arbiter lain setelah
rupiah). perkara perdata No. 245/ Pdt.G/ 1999/
Menimbang, bahwa oleh karena

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 47


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

PN.Jkt.Pst. mempunyai kekuatan internasinonal sejak lama, yaitu mulai


hukum tetap. dari Protokol Geneva 1923 sampai
Menghukum Termohon untuk dengan Konvensi New York 1958.
membayar biaya perkara sejumlah Pengadilan akan diminta campur
Rp.119.000,- (seratus sembilan belas tangan manakala proses arbitrase telah
ribu rupiah). selesai dan salah satu pihak tidak
Demikianlah diputuskan pada bersedia melaksanakan putusan arbitrase
hari: tersebut. Bukan lembaga arbitrase yang
Selasa, tanggal 30 April 2002, putusan dapat memaksakan pelaksanaan
mana diucapkan pada hari itu juga di putusan arbitrase tersebut, melainkan
dalam persidangan yang ter-buka lembaga pengadilan yang harus
untuk umum oleh Torang H. memaksa pihak yang menolak
Tampubolon, SH. Hakim tunggal yang melaksanakan putusan arbitrase
ditunjuk oleh Ketua Pengadilan tersebut untuk mematuhinya.
Negeri Jakarta Selatan tanggal 2 Pada prinsipnya tidak ada
April 2002 untuk memeriksa dan konflik yang berarti antara Pengadilan
mengadili perkara permohonan ter- yang sifatnya publik dengan Arbitrase
sebut, dengan dibantu Toha Subarna, yang sifatnya pribadi baik berdasarkan
SH. Panitera Pengganti Pengadilan hukum nasional maupun hukum
Negeri tersebut, serta dihadiri oleh internasional. Pengadilan yang
Kuasa Pemohon dan Kuasa Termohon. mempunyai kekuatan memaksa, agar
para pihak sejak semula telah sepakat
ANALISA YURIDIS TERHADAP menyelesaikan perselisihan mereka
PUTUSAN PEMBATALAN ATAS melalui arbitrase, mematuhi persetujuan
PUTUSAN BANI NO. 127/VII/ARB- itu.
BANI/2000 Campur tangan yang dilakukan
1. Peranan Pengadilan dalam oleh pengadilan, misalnya menunjuk
Putusan Arbitrase. arbiter ketiga, apabila arbiter pertama
Arbitrase merupakan alternatif dan arbiter kedua gagal menunjuk
penyelesaian sengketa selain Pe- arbiter ketiga. Campur tangan
ngadilan. Namun, bantuan Pengadilan Pengadilan berikutnya yaitu dalam hal
masih dibutuhkan agar institusi arbitrase membantu proses arbitrase untuk
bisa berjalan efektif, hal ini diakui baik mendapatkan bukti-bukti atau dokumen-
oleh hukum nasional maupun hukum dokumen yang diperlukan bagi

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 48


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

pemeriksa. Campur tangan pengadilan menyelesaikan sengketa mereka.


tidak boleh lebih dari tindakan-tindakan Bahkan pengadilan dapat dianggap
yang demikian itu. Pengadilan Negeri sebagai tidak menghormati asas
wajib menolak dan tidak akan campur kebebasan berkontrak.
tangan di dalam suatu penyelesaian Oleh karena itu, dalam proses
sengketa yang telah ditetapkan dalam pembatalan putusan arbitrase,
undang undang ini. pengadilan tidak berwenang untuk
Pengadilan berperan besar memeriksa pokok perkara yang
dalam menentukan apakah proses dipersengketakan oleh para pihak.
arbitrase itu berhasil atau tidak, Kewenangan pengadilan hanya
sehubungan dengan penolakan salah terbatas pada kewenangan untuk me-
satu pihak untuk melaksanakan putusan meriksa keabsahan dari segi prosedur
arbitrase. Pengadilan memiliki kekuatan pengambilan putusan arbitrase, antara
memaksa agar pihak yang bersangkutan lain, proses pemilihan para arbiter
tunduk pada putusan arbitrase yang telah hingga pemberlakuan hukum yang
diambil. Proses dan alasan pembatalan dipilih oleh para pihak dalam
putusan arbitrase diatur dalam peraturan penyelesaian sengketa.
perundang-undangan suatu negara dan
tidak diatur dalam sebuah perjanjian. Efektivitas Eksekusi Putusan
Pembatalan putusan arbitrase berakibat Arbitrase Dalam Kewenangan
pada dinafikannya (seolah tidak pernah Pengadilan.
dibuat) suatu putusan arbitrase. Pengadilan tidak hanya
Terhadap putusan arbitrase yang menerapkan hukum, tetapi juga me-
dibatalkan, pengadilan dapat meminta nemukan hukum atas masalah yuridis
agar para pihak mengulang proses yang berpedoman pada asas-asas
arbitrase. hukum. Asas-asas hukum itu diangkat
Hanya saja pembatalan putusan kepermukaan jika isi kaidah-kaidah
arbitrase tidak membawa konsekuensi hukum yang diajukan sebagai acuan
pada pengadilan yang membatalkan gugatan tidak mudah atau sangat sulit
untuk memiliki wewenang memeriksa ditemukan dalam proses pengambilan
dan memutus sengketa. Apabila hal ini keputusan, hakim pengadilan
dilakukan maka akan bertentangan mempertimbangkan 3 (tiga) aspek
dengan asas kebebasan berkontrak yang putusan yaitu :
dimiliki oleh para pihak dalam 1. Kepastian hukum.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 49


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

2. Kemanfaatan. ketentuan hukum, atau berdasarkan


3. Keadilan dan kepatutan. keadilan dan kepatutan”. Pada
Badan arbitrase yang berperan dasarnya para pihak dapat
mengambil putusan perkara yang telah mengadakan perjanjian untuk
disepakati oleh para pihak yang menentukan bahwa arbiter dalam
bersengketa, dalam hal ini arbiter lebih memutuskan perkara wajib
mendasarkan pertimbangan putusannya berdasarkan ketentuan hukum
pada aspek adil dan patut. atau sesuai dengan rasa keadilan
Meskipun Undang-undang dan kepatutan (ex acquo et bono).
No.30 tahun 1999 telah mengatur fungsi, Dalam hal arbiter diberi kebebasan
kewenangan, dan hukum acara badan untuk memberikan putusan
arbitrase, dapat saja terjadi titik berdasarkan keadilan dan
singgung kewenangan Pengadilan kepatutan, maka peraturan
Umum dengan kewenangan absolut perundang-undangan dapat
Arbitrase. Masalah titik singgung itu dikesampingkan. Akan tetapi, dalam
juga akan berpengaruh terhadap pe- hal tertentu hukum memaksa harus
laksanaan (eksekusi) putusan arbitrase. ditetapkan dan tidak dapat
Titik singgung kewenangan itu dapat dikesampingkan oleh arbiter. Dalam
terjadi dalam hal-hal sebagai berikut : hal arbiter tidak diberi
a) Bahwa badan arbitrase juga kewenangan untuk memberikan
berperan sebagai Pengadilan Swasta, putusan berdasarkan keadilan dan
sebenarnya memberikan putusannya kepatutan maka arbiter hanya dapat
lebih didasarkan pada aspek memberikan putusan berdasarkan
keadilan dan kepatutan tanpa kaidah hukum materiil
menyebutkan aspek kepastian sebagaimana dilakukan oleh
hukum dan kemanfaatan, artinya hakim. Dengan peran seperti ini,
wasit/arbiter dapat mengesamping- para pihak bersangkutan dapat saja
kan peraturan perundang-undangan “menolak” putusan arbitrase dengan
yang berlaku Pasal 56 ayat 1 jo. alasan subjektif bahwa putusan
Penjelasannya Undang-undang arbitrase tersebut kurang sesuai
No.30 tahun 1999 menyatakan dengan keadilan hukum atau yang
bahwa; lainnya.
“Arbiter atau majelis arbitrase b) Bahwa beberapa putusan arbitrase
mengambil putusan berdasarkan terdahulu sebelum berlakunya

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 50


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Undang-undang No.30 tahun 1999 a) Surat atau dokumen yang


dapat digunakan pedoman untuk diajukan dalam pemeriksaan,
mempersoalkan kewenangan absolut setelah putusan dijatuhkan,
badan arbitrase. Misalnya perkara diakui palsu atau dinyatakan
yang pernah terjadi antara PT.Aji palsu.
Karsa Engineering Melawan b) Setelah putusan diambil
Pemerintah Republik Indonesia, ditemukan dokumen yang
Departemen Kehakiman Republik bersifat menentukan, yang
Indonesia (Ditjen Hukum dan disembunyikan oleh pihak
Perundang-undangan). Dalam kasus lawan.
mengenai penyelesaian c) Putusan diambil dari hasil tipu
permasalahan mengenai sisa muslihat yang dilakukan oleh
pembayaran dari perkerjaan salah satu pihak dalam
pembangunan rumah-rumah dinas di pemeriksaan sengketa.
Tangerang yang belum seluruhnya Undang-undang No.30 tahun
diselesaikan. Yang mana hal ini, 1999 dengan tegas mengatur yuridiksi
kedua belah pihak sepakat untuk arbitrase, namun dalam pratik
menyelesaikanya di BANI atau di penyelesaian sengketa melalui lembaga
pengadilan. Bukti dalam Pasal XI arbitrase hanya dapat efektif jika para
dari surat Perjanjian kedua belah pihak yang terlibat dalam sengketa
pihak. mempunyai niat baik untuk menerima
c) Bahwa pada Pasal 70 Undang- dan menghormati keputusan arbiter.
undang No.30 tahun 1999 sendiri Efektivitas putusan arbitrase juga
telah memuat beberapa alasan untuk sangat tergantung ketaatan Pengadilan
membatalkan putusan arbitrase. Negeri untuk menghormati yuridiksi
Pada Pasal 70 tersebut dinyatakan lembaga arbitrase yang berwenang
bahwa ; untuk memeriksa dan memutuskan
Terhadap putusan arbitrase, para perkara yang mengandung klausula
pihak dapat mengajukan arbitrase. Jika kedua hal tersebut tidak
permohonan pembatalan apabila ada kepastian, maka penyelesaian
putusan tersebut diduga me- sengketa melalui arbitrase bisa jadi
ngandung unsur-unsur sebagai lebih lama dan mahal daripada proses
berikut : pengadilan negeri.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 51


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Konsekuensi terhadap melakukan eksekusi putusan arbitrase


penghargaan ataupun pengakuan hasil tersebut. Artinya, walaupun akhirnya
putusan arbitrase tersebut akan sangat arbitrase berwenang untuk memerikasa
ditentukan oleh sikap baik (good faith) dan memutuskan sengketa tersebut, tetap
dari para pihak yang telah memilih saja sering terjadi konflik yuridiksi
arbitrase tersebut. Artinya, putusan dalam tahap melakukan eksekusi
arbitrase tersebut haruslah menjadi terhadap putusan arbitrase tersebut,
putusan yang final dan mengikat (final ataupun dalam hal salah satu pihak yang
and binding) bagi kedua belah pihak keberatan atas putusan arbitrase tersebut
yang bersengketa tersebut. Adalah meminta campur tangan Pengadilan
sangat aneh bila para pihak yang Negeri untuk membatalkan kembali
berkontrak tersebut sepakat untuk putusan arbitrase tersebut dengan
mempercayakan penyelesaian sengketa berbagai macam alasan.
yang terjadi diantara mereka ke Tidak tepat bila pengadilan
lembaga arbitrase, akan tetapi kemudian Indonesia menganggap lembaga
mempersoalkan kewenangan dari arbitrase sebagai saingan yang akan
lembaga alternatif, pemutus perkara memudarkan pamor peradilan Indonesia.
tersebut kembali ke pengadilan pada Sebaliknya, pengadilan dalam hal ini
saat putusan dari arbitrase tidak haruslah melihat lembaga arbitrase
menguntungkan salah satu pihak sebagai mitra yang membantu
tersebut. Dengan kata lain, pengakuan pengadilan untuk mewujudkan keadilan.
serta efektivitas dari putusan suatu Seperti yang disampaikan oleh Ketua
lembaga arbitrase akan sangat Mahkamah Agung, Prof. Bagir Manan ;
tergantung dari sikap tanggung jawab “bahwa Mahkama Agung melihat
dari para pihak yang telah memilih bahwa upaya-upaya penyelesaian
lembaga arbitrase tersebut. sengketa yang dilakukan oleh para
Ketidakmauan ataupun ketidak- pihak di luar pengadilan akan sangat
siapan pengadilan negeri untuk membantu beban pengadilan dalam
membatasi kewenangannya atas adanya menyelesaikan perkara-perkara yang
klausula arbitrase, tidak hanya terjadi begitu menumpuk. Bila demikian,
upaya mengambil alih kewenangan yang tentunya sikap pengadilan yang
sebenarnya dimiliki oleh arbitrase untuk cendrung mencurigai dan sering kembali
memeriksa dan memutuskan sengketa menguji materi ataupun subtansi yang
tersebut, akan tetapi juga dalam upaya telah diputuskan oleh lembaga arbitrase

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 52


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

adalah suatu sikap kontra produktif Berdasarkan rumusan ini timbul


untuk menghidupkan prinsip pe- pendapat asal dalam perjanjian
nyelesaian sengketa di luar pengadilan terdapat klausula arbitrase, dengan
yang sebenarnya menjadi hak hukum sendirinya lahir kewenangan absolut
dari para pihak berdasarkan Pasal 1338 arbitrase untuk menyelesaikan
KUHPerdata.” segala sengketa yang timbul dari
perjanjian, tanpa memperdulikan
2.Ketentuan Undang-undang No. 30 jangkauan atau ruang lingkup
tahun 1999 Dalam Pembatalan sengketa yang disebut dalam
Putusan Arbitrase. rumusan klausula arbitrase.
Terdapat kecenderungan b. Teori dan Praktik mengenal
penerapan yuridiksi arbitrase secara beberapa bentuk klausula.
generalisasi dan absolut, tanpa mem- Karena teori dan praktik atau
perhatikan rumusan yang disepakati hukum sendiri membenarkan
dalam perjanjian. Kecendrungan ini berbagai cara perumusan klausula
dapat keliru berdasarkan alasan arbitrase.
sebagai berikut : 1. Berbentuk umum.
a. Menerapkan akibat hukum yang Bentuk klausula yang bersifat
digariskan Pasal 3 secara absolut, umum yang sering disepkati dalam
tidak selamanya benar. Ke- perjanjian. Para pihak sepakat agar
cenderungan penerapan yuridiksi segala atau setiap sengketa yang
arbitrase secara generalisasi dan terjadi atau yang timbul dari
absolut timbul, disebabkan perjanjian, akan diselesaikan oleh
kekeliruan memahami ketentuan arbitrase. Rumusan klausula
Pasal 3 Undang-undang tersebut. berbentuk umum berbunyi :
Kesalahpahaman itu terjadi, sebagai “Segala atau setiap sengketa yang
akibat perumusan pasal itu sendiri timbul dari perjanjian, para pihak
tidak jelas. Rumusan Pasal 3 sepakat diselesaikan oleh
Undang undang No.30 tahun 1999 arbitrase.”
berbunyi : Dengan demikian berarti
“Pengadilan Negeri tidak ketentuan Pasal 3 diterapkan secara
berwenang untuk mengadili absolut. Sengketa apa saja yang
sengketa para pihak yang telah timbul dari perjanjian mutlak
terikat dalam perjanjian arbitrase”.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 53


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

menjadi wewenang arbitrase untuk adalah Pengadilan Negeri atas


menyelesaikannya. dasar sengketa yang terjadi
termasuk yuridiksi Pengadilan
2. Bentuk terbatas atau parsial. Negeri, bukan yuridiksi
Bentuk klausula yang bersifat arbitrase.
terbatas hanya menyebut sengketa Secara mudah dan sederhana telah
mengenai perbedaan penafsiran berbentuk satu opini hukum, bahwa
pelaksanaan perjanjian atau hanya setiap klausula arbitrase otomatis
pengakhiran perjanjian saja. Dalam langsung mewujudkan yuridiksi absolut
perjanjian tersebut secara tegas arbitrase tanpa memperdulikan klausula
menyebut jenis sengketa apa saja yang disepakati. Sehubungan dengan
yang disepakati menjadi itu, agar penerapan mengenai yuridiksi
kewenangan arbitrase. yang ditimbulkan klausula arbitrase
Ketentuan Pasal 3 dan Pasal 11, yang digariskan Pasal 3 dan Pasal 11,
tidak otomatis diterapkan secara agar tidak menimbulkan permasalahan
generalisasi dan absolut. Akan hukum, maka perlu diatur dan dijelaskan
tetapi harus diteliti dengan seksama, batas-batas yuridiksi disesuaikan
apakah sengketa termasuk jenis dengan bentuk rumusan klausula :
sengketa yang disebut dalam Dalam hal klausulanya berbentuk
klausula arbitrase, dengan acuan umum dengan mempergunakan kata
penerapan yuridiksi : kunci :
1. Apabila sengketa yang terjadi Segala
termasuk ruang lingkup yang Setiap
disebut atau dirinci dalam Maka segala atau setiap sengketa apapun
klausula, maka yang berwenang yang terjadi dari perjanjian, dengan
menyelesaikan adalah arbitrase, sendirinya mengandung akibat
atas alasan sengketa yang terjadi hukum yang melahirkan yuridiksi
termasuk yuridiksi arbitrase absolut bagi arbitrase untuk
berdasarkan kesepakatan yang menyelesaikannya.
ditegaskan dalam perjanjian. Apabila klausula berbentuk terbatas
2. Sebaliknya, apabila sengketa atau parsial penerapan yuridiksinya
yang terjadi berada di luar ruang dipecah menjadi :
lingkup klausula arbitrase, yang
berwenang menyelesaikannya

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 54


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

- Sepanjang sengketa yang disamakan dengan ketertiban hukum,


disebut dalam klausula arbitrase, atau sinonim dari istilah “keadilan”.
menjadi wewenang arbitrase. Dapat pula dipergunakan dalam arti
- Sedangkan sengketa yang kata bahwa hakim wajib untuk
berada di luar jangkauan mempergunakan pasal-pasal dan
klausula arbitrase menjadi undang-undang tertentu.
wewenang Pengadilan Negeri.
Dalam kasus antara Jacob a. Final dan Banding Dalam Putusan
Hendrawan dan PT. Unicomindo Arbitrase
Perdana Melawan PT. Sac Nusantara, Di dalam Undang-undang
Pemohon Pembatalan Putusan No.30 tahun 1999 pada Pasal 60 jo
Arbitrase mengajukan bahwa pihak Penjelasan telah ditegaskan bahwa :
Termohon telah melanggar Ketertiban “Putusan arbitrase bersifat final dan
Umum dengan alasan bahwa putusan mempunyai kekuatan hukum tetap dan
BANI No. 127/VII/ARB-BANI/2000 mengikat para pihak penjelasan
telah melanggar / mengintervensi Putusan arbitrase merupakan putusan
kewenangan pengadilan dan final dan dengan demikian tidak dapat
melanggar sendi-sendi dari sistem diajukan banding, kasasi, atau
hukum Indonesia, baik hukum Perdata peninjauan kembali ”.
maupun hukum Acara Perdata. Setiap kasus atau sengketa yang
Yangmana telah dijelaskan pada bab III diselesaikan melalui arbitrase tidak
mengenai BANI melanggar /meng- dapat melakukan upaya hukum. Namun
intervensi kompetensi pengadilan. banyak pihak yang kurang puas dengan
Di dalam merumuskan keteriban putusan tersebut, karena tidak adanya
umum, mengenai makna dan isinya titik temu diantara kedua belah pihak
tidaklah sama antara satu tempat dengan yang bersengketa. Dalam kasus putusan
tempat yang lainnya. Kerap kali BANI No.127/VII/ARB-BANI/2000
pertimbangan politis dipakai sebagai ternyata dari pihak Pemohon
pegangan untuk menyatakan suatu menganggap sudah cukup puas atas
kaidah bertentangan dengan ketertiban putusan tersebut. Sedangkan dari pihak
umum dari forum hakim yang Termohon menganggap putusan tersebut
bersangkutan. Ketertiban umum ada- sangatlah merugikan dan pada akhirnya
kalanya diartikan sebagai “ketertiban, Termohon mengajukan Pemohonan
kesejahteraan dan ke-amanan” atau Pembatalan Putusan BANI No.127/

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 55


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

VII/ARB-BANI/2000 di Pengadilan menyelesaikan perkaranya di arbitrase,


Jakarta Selatan. Dan ternyata seharusnya perkara tersebut dibawa ke
permohonan pembatalan putusan arbitrase. Akan tetapi, para pihak tetap
arbitrase tersebut diterima oleh saja akan melakukan perlawanan
Pengadilan Jakarta Selatan. hukum apabila pihak yang dinyatakan
Dengan adanya Pasal 3 jo Pasal kalah, karena tidak adanya itikad baik
60 telah teramat jelas bahwa arbitrase dan rasa puas dari kedua belah pihak.
merupakan Pengadilan Swasta yang Hal yang demikian akan menghilangkan
dapat berdiri sendiri. Kaitannya dengan citra dari arbitrase itu sendiri sebagai
Pasal 70 sangatlah bertentangan, alternatif penyelesaian sengketa atau
karena siapapun pihak yang akan sebagai Pengadilan Swasta.
menjalankan putusan arbitrase dengan Jadi, putusan arbitrase dapat
sukarela dan harus ada itikad baik. dilaksanakan apabila rasa puas
Apabila tidak ada itikad baik dari kedua dirasakan oleh kedua belah pihak yang
belah pihak, maka jarang sekali putusan bersengketa. Tetapi apabila salah satu
arbitrase akan menjadi putusan yang pihak merasa kurang puas dan dirugikan
final dan banding. maka ia akan melakukan perlawanan
terhadap putusan arbitrase tersebut.
b. Pembatalan Putusan Arbitrase Apabila hal ini terjadi, maka akan
Menurut Pasal 70 UU No. 30 Th. 1999 lebih lama lagi penyelesaian sengketa
Di dalam Undang-undang No.30 yang akan diterimanya. Karena
tahun 1999 ada pasal yang dapat sengketa tersebut akan diselesaikan
meniadakan poreses arbitrase, untuk dengan jalan Arbitrase dan Pengadilan
membantah putusan arbitrase dan bahkan sampai ke Mahkamah Agung.
dijadikan sebagai alasan untuk Pengadilan mengajukan dasar
menghindarkan dari pelaksanaan kewenangannya untuk membatalkan
putusan arbitrase tersebut. Pasal ini putusan arbitrase berdasarkan Pasal 70
adalah Pasal 70 Undang-undang No.30 Undang-undang No.30 tahun 1999,
tahun 1999. Namun di dalam Pasal 3 dalam arti apabila terbukti bahwa
Undang-undang No.30 tahun1999 jo. putusan tersebut diputuskan berdasarkan
Pasal 1338 KUHPer. Di dalam pasal- dokumen-dokumen bukti yang
pasal tersebut dinyatakan sangat jelas kemudian ternyata dibuktikan palsu,
bahwa, siapapun pihak yang atau setelah putusan diambil ditemukan
berperkara dan telah berjanji akan dokumen yang bersifat menentukan

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 56


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

yang disembunyikan oleh pihak lawan, dahulu oleh pengadilan. Namun hal ini
dimana dokumen tersebut dibuat rupanya tidaklah dijalankan terlebih
sebagai dasar pertimbangan akan dahulu oleh pengadilan. Sehingga
menghasilkan putusan yang berbeda, ketentuan yang ada pada Pasal 70 jo.
atau putusan tersebut diambil dari hasil Penjelasan Undang-undang No.30 tahun
tipu muslihat yang dilakukan oleh salah 1999 telah diabaikan oleh hakim.
satu pihak dalam pemeriksaan Sehingga di dalam mengambil putusan
sengketa. hakim tidak lagi membuktikan
Akan tetapi, yang menjadi dokumen-dokumen itu asli atau palsu.
pertimbangan majelis hakim Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan dalam kasus ini KESIMPULAN
adalah mengenai subtansi dari perkara Berdasarkan uraian pada bab-bab
yang telah diputus oleh Majelis Arbiter terdahulu, maka penulis mencoba
tersebut, dimana Pengadilan Negeri mengambil kesimpulan sebagai berikut :
membatalkan Putusan dari Majelis 1. Ditinjau dari Undang-undang No. 30
Arbitrase BANI. Pembatalan oleh tahun 1999 bahwasanya pembatalan
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan putusan arbitrase No.127/VII/ARB-
tersebut dikhawatirkan akan menambah BANI/2000 tidak sesuai dengan
ketidak berdayaan arbitrase dalam peraturan perundang-undangan yang
menjalankan tugasnya sebagai ada. Pada Pasal 3 dan Pasal 11
peradilan swasta yang pada dasarnya serta Pasal 60 undang-undang No.
akan mengurangi beban pengadilan 30 tahun 1999 tentang Arbitrase
yang telah begitu berat untuk dan Alternatif Penyelesaian
menyelesaikan tugas-tugas perkara Sengketa jo. Pasal 1338 KUH
yang semakin menumpuk. Lebih dari Perdata. Putusan Pembatalan
itu, fakta tersebut di atas, akan semakin Putusan Arbitrase yang dilakukan
menghilangkan kepercayaan masyarakat oleh Pengadilan Negeri Jakarta
pencari keadilan, baik lokal maupun Selatan ini tidak sesuai dengan
masyarakat internasional, terhadap ketentuan hukum yang diatur di
kepastian hukum di Indonesia. dalam KUH Perdata khususnya
Di dalam Undang-undang No. mengenai perjanjian, karena di
30 tahun 1999 telah jelas bahwa apabila dalam KUH Perdata mengenai
ada dugaan mengenai bukti-bukti yang perjanjian ini dilindungi dalam
palsu haruslah dibuktikan terlebih pasal-pasalnya. Hal ini se-

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 57


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

bagaimana tercantum dalam Pasal kewenangan-kewenangan tersebut


1338 ayat (1) KUH Perdata yang harus direvisi. Maka secara tidak
pada intinya menyebutkan bahwa langsung akan merubah Perundang-
semua perjanjian yang dibuat secara undangan yang mengenai arbitrase
sah mengikat bagi para pihak yang tersebut, terutama dalam
membuatnya seperti undang- kewenangan Pengadilan Negeri di
undang. Sedangkan pada Pasal 1338 dalam mengambil keputusan yang
ayat (2) KUH Perdata dinyatakan terkait dalam arbitrase.
bahwa suatu perjanjian tidak 3. Pada dasarnya ketentuan yang ada
dapat ditarik kembali selain dengan dalam Pasal 60 Undang-undang
kata sepakat oleh kedua belah pihak, No.30 tahun 1999 tentang
atau karena alasan-alasan yang Arbitrase dan Alternatif
oleh undang-undang dinyatakan Penyelesaian Sengketa tidak dapat
cukup untuk itu. Penulis mengambil diubah karena putusan arbitrase
kesimpulan bahwa Pembatalan bersifat final dan mempunyai
Putusan No.127/VII/ARB- kekuatan hukum tetap dan mengikat
BANI/2000 oleh Pengadilan para pihak. Dan di dalam penjelasan
Negeri Jakarta Selatan ini tidak dinyatakan bahwa putusan arbitrase
boleh mengesampingkan ketentuan merupakan putusan final dan dengan
hukum lain, dalam hal ini Undang- demikian tidak dapat diajukan
undang No.30 tahun 1999 dan KUH banding, kasasi, atau peninjauan
Perdata. kembali. Para pihak yang ingin
2. Pengadilan Negeri memiliki mengajukan pembatalan putusan
beberapa kewenangan yang sangat arbitrase dapat mengajukan
luas yang tidak dimiliki oleh permohonan pembatalan putusan
lembaga peradilan lain. ke pengadilan. Sebagaimana
Kewenangan-kewenangan yang dicontohkan oleh penulis dalam bab
dimiliki oleh Pengadilan Negeri terdahulu, yakni dari kasus
tersebut tentunya menimbulkan Arbitrase, khususnya atas
masalah karena tidak sesuai dengan Pembatalan Putusan No.127/ VII/
ketentuan hukum yang ada. Oleh ARB-BANI/2000 Jacob Hendrawan
karena itu, bila memang Pengadilan dan PT. Unicomindo Perdana
Negeri ingin dipertahankan melawan PT. Sac Nusantara di
peranannya dalam arbitrase, maka Pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 58


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

tentang Permohonan Pembatalan arbitrase karena bila tidak dilakukan


Putusan No.127/VII/ARB- uji materiil akan menimbulkan
BANI/2000 kepada PT. Sac perbedaan penafsiran-penafsiran
Nusantara menunjukan bahwa terhadap peraturan perundang-
walaupun Pengadilan Negeri undangan tersebut sehingga
Jakarta Selatan diberi wewenang dikhawatirkan akan dijadikan
oleh Pasal 70 dan Pasal 71 serta komoditas politik.
Pasal 72 untuk melakukan 3. Perlu adanya pembenahan dalam
pembatalan putusan suatu sistem kerja yang jelas antara
perjanjian, maka pembatalan Lembaga Arbitrase dengan
putusan tersebut tidaklah selalu Pengadilan agar hak dan
bisa dibenarkan. Hal ini terbukti kewenangan dari lembaga tersebut
atas keluarnya Putusan BANI menjadi jelas. Sehingga kepastian
No.127/VII/ARB-BANI/2000 yang hukum di Indonesia akan lebih
berarti telah berlangsung proses mudah terwujud.
arbitrase diantara kedua belah
pihak. DAFTAR PUSTAKA

SARAN Abdurrasyid, H. Priyana. Arbitrase &


Penulis mencoba memberi saran Alternatif Penyelesaian Sengket.
yang dianggap terbaik oleh penulis Jakarta : PT Fikahati Aneska
berdasarkan permasalahan-permasalahan dan BANI, 2002.
yang terjadi sehubungan dengan Departemen Pendidikan dan
kewenangan pengadilan, yaitu : Kebudayaan. Kamus Umum
1. Bila memang peranan pengadilan Bahasa Indonesia. Edisi. 3. Cet.
masih dirasakan perlu untuk 2. Jakarta : Balai Pusaka, 2002.
dipertahankan dalam arbitrase, maka Elkoury, Frank. dan Edna Elkoury, How
kewenangan-kewenangan yang Arbitration Works, New York:
dimiliki oleh arbitrase harus direvisi Oeana Publication,1978.
agar tidak menimbulkan Fuady, Munir. Arbitrase Nasional
permasalahan-permasalahan baru. (Alternatif Penyelesaian
2. Perlunya dilakukan uji materiil Sengketa Bisnis). Bandung : PT
terhadap peraturan perundang- Citra Aditya Bakti, 2000.
undangan yang berkaitan dengan

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 59


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Gautama, Sudargo. Arbitrase Dagang Nasution, S & Thomas, M. Buku


Internasional. Cet. 2. Bandung Penuntun Membuat Tesis,
: Alumni, 1986. Skripsi, Disertasi, Makalah.
_______ . Undang-Undang Arbitrase Edisi. 2. Cet. 5. Jakarta : Bumi
Baru 1999. Jakarta : PT Citra Aditya Aksara, 1999.
Bakti,1999. Niwan, Lely. Seri Dasar-Dasar Hukum
GoodPaster,Gary, Felix O.Soebagjo, Ekonomi 2 : Arbitrase Di
Fatmah Jatim, Arbitrase Di Indonesia. Jakarta : Ghalia
Indonesia, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1995.
Indonesia, 1995. Peraturan Prosedur Badan Arbitrase
Harahap, M.Yahya. Arbitrase. Edisi. 2. Nasional Indonesia (BANI).
Cet. 1. Jakarta : Sinar Grafik, Poerwardarminta, W.J.S. Kamus Umum
2001. Bahasa Indonesia. Cet. II.
Indonesia. Undang-undang Tentang Jakarta : Balai Pusaka, 1989.
Arbitrase dan Alternatif Puspa, Yan Pramadya. Kamus Hukum
Penyelesaian Sengketa. Edisi Lengkap Bahasa
Jurnal Hukum Bisnis: “Arbitrase dan Belanda, Indonesia, Inggris.
Alternatif Penyelesaian Sengketa” Semarang : Aneka Ilmu, 1977.
Volume. 21Edisi. Oktober – Rajagukguk, Erman. Arbitrase Dalam
November 2002. Jakarta : YPHB Putusan Pengadilan. Jakarta :
( Yayasan Pengembang Hukum Chandra Pratama, 2000.
Bisnis ), 2002. Roedjiono. Arbitrase Di Indonesia.
Kompas, (17 Desember 1993): 5. Jakarta : Ghalia Indonesia,
Margono, Suyud. ADR (Alternative 1995.
Dispute Resolution) & Soekanto, Soerjono. Pengantar
Arbitrase. Jakarta : Ghalia Penelitian Hukum. Cet. 3.
Indonesia, 2000. Jakarta : Universitas Indonesia,
Naskah Lokakarya Sehari Tentang 1989.
“Proses Pengelolaan Perkara Soemitro, Ronny Hanitijo. Metodologi
Pada Pengadilan Niaga Menuju Penelitian Hukum dan
Kearah Administrasi yang Jurimetri. Cet. 4. Jakarta :
Tertib” di Jakarta, 12 September Ghalia Indonesia, 1999.
2002.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 60


Budi Satria & Maddenia Ayu
Tinjauan Yuridis Atas Pembatalan Putusan Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Soesilo, R., RIB / HIR Dengan


Penjelasan, Cetak ulang. Bogor:
Politeia, 1995.
Subekti, R. Kumpulan Karangan
Hukum Perikatan Arbitrase
Dan Peradilan. Bandung :
Alumni,1980.
Subekti, R dan R. Tjirosudibio. Kitab
Undang-undang Hukum
Perdata (Burgerlijk Wetboek).
Terjemahan Cet. 25. Jakarta :
Pradnya Paramita, 1992.
Usman, Rachmadi. Hukum Arbitrase
Nasional. Jakarta : PT
Grasindo, 2002
UU No. 30 Tahun 1999 LN No. 138
Tahun 1999.
Widjaja, Gunawan & Yani, Ahmad.
Seri Hukum Bisnis: Hukum
Arbitrase. Edisi.1. Cet. 2.
Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2001.
Widjaja, Gunawan. Seri Hukum Bisnis :
Alternatif Penyelesaian
Sengketa. Cet. 2. Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada, 2002.
Wijaya, I.G. Rai. Merancang suatu
Kontrak Teori & Praktek. Cet.
2. Jakarta: Kesaint Blanc, 2002.

Lex Jurnalica /Vol. 1 /No.1 /Desember 2003 61