You are on page 1of 20

Format

Format Laporan
Laporan

LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA LALULINTAS


RUAS JL. ……………………………………………………
KOTA MALANG / KOTA BATU /
PAKIS KAB. MALANG / SINGOSARI KAB. MALANG

Disusun Oleh

KELOMPOK …..

1. (Nama) NIM ……………


2. (Nama) NIM ……………
3. (Nama) NIM ……………
4. (Nama) NIM ……………
5. (Nama) NIM ……………
6. (Nama) NIM ……………
7. (Nama) NIM ……………
8. (Nama) NIM ……………
9. (Nama) NIM ……………
10. (Nama) NIM ……………
11. (Nama) NIM ……………
12. (Nama) NIM ……………

LABORATORIUM TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
SEMESTER GENAP 2015/2016
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA LALULINTAS
RUAS JL. …………………………………………………… KOTA MALANG

Disusun oleh: Kelompok …

1. (Nama) NIM ……………


2. (Nama) NIM ……………
3. (Nama) NIM ……………
4. (Nama) NIM ……………
5. (Nama) NIM ……………
6. (Nama) NIM ……………
7. (Nama) NIM ……………
8. (Nama) NIM ……………
9. (Nama) NIM ……………
10. (Nama) NIM ……………
11. (Nama) NIM ……………
12. (Nama) NIM ……………

… /(kelas)
Laporan ini telah disusun sebagai salah satu syarat untuk kegiatan Praktek Kerja Nyata
(PKN) di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh


Dosen Pembimbing,
Pada ……………………………………….. Mengetahui/mengesahkan,
Kepala Lab. Teknik Sipil

………………………………………. Ir. Khoirul Abadi, MT.

2
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM REKAYASA LALULINTAS
RUAS JL. …………………………………………………… KOTA MALANG

Disusun oleh: Kelompok …

1. (Nama) NIM ……………


2. (Nama) NIM ……………
3. (Nama) NIM ……………
4. (Nama) NIM ……………
5. (Nama) NIM ……………
6. (Nama) NIM ……………
7. (Nama) NIM ……………
8. (Nama) NIM ……………
9. (Nama) NIM ……………
10. (Nama) NIM ……………
11. (Nama) NIM ……………
12. (Nama) NIM ……………

Laporan ini telah disusun sebagai salah satu syarat untuk kegiatan Praktek Kerja Nyata
(PKN) di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang

Laporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh


Dosen Pembimbing,
Pada ……………………………………….. Mengetahui/mengesahkan,
A.n. Kepala Lab. Teknik Sipil
Wakil Kepala

Ir. Khoirul Abadi, MT. Ir. Ernawan Setyono, MT.

3
RUAS JALAN PERKOTAAN ( URBAN ROAD )

A. HASIL PENGUKURAN
1. Nama Ruas Jalan : Jl. …………………………………………………
2. Tipe ruas jalan* : (a) Tak terbagi (b) Terbagi
3. Kondisi Lingkungan : (a) Permukiman (b) Komersiil/Pelayanan Umum
4. Titik A (awal studi) : STA 0 + 000
5. Titik F (akhir studi) : STA … + ………..
6. Panjang ruas jalan (yang ditinjau) : ………………. Meter
Gambar 1 Lay Out Ruas Jl. …………………………………………
(lengkapi dengan infrastruktur di kanan-kiri ruas jalan yang ditinjau)
7. Lebar ruas jalan (yang ditinjau)
STA … + ………. : Lebar perkerasan …… meter, lebar bahu/trotoar kiri ……
meter, lebar bahu/trotoar kanan …… meter, Lebar jalur lalulintas …… meter,
lebar lahan parkir (sisi kiri) …… meter – sisi kanan …… meter, lebar median ……
meter (Gambar 2 Penampang Melintang Jl. …………………………….. STA ... + ....
Potongan I – I, skala 1 : 100).
STA … + ………. : Lebar perkerasan …… meter, lebar bahu/trotoar kiri ……
meter, lebar bahu/trotoar kanan …… meter, Lebar jalur lalulintas …… meter,
lebar lahan parkir (sisi kiri) …… meter – sisi kanan …… meter, lebar median ……
meter (Gambar 3 Penampang Melintang Jl. …………….…………….. Potongan II – II,
skala 1 : 100).
STA … + ………. : Lebar perkerasan …… meter, lebar bahu/trotoar kiri ……
meter, lebar bahu/trotoar kanan …… meter, Lebar jalur lalulintas …… meter,
lebar lahan parkir (sisi kiri) …… meter – sisi kanan …… meter, lebar median ……
meter (Gambar 4 Penampang Melintang Jl. ……………….………….. Potongan III –
III, skala 1 : 100).
8. Arus lalulintas* : Dua arah / Satu arah
9. Volume arus lalu lintas
Lokasi pengukuran volume arus lalu lintas di titik E pada STA … + ………
Volume arus lalu lintas yang diukur dibedakan menurut jenis kendaraan, yaitu
kendaraan ringan (LV – Light Vehicle), kendaraan berat (HV – Heavy Vehicle)
dan sepeda motor (MC – Motor cycle). Pengukuran volume arus lalu lintas

4
dilakukan dengan periode 15 menitan pada hari …………… tanggal……………
jam……….. Hasil pengukuran volume arus lalu lintas disajikan pada tabel 1.

Tabel 1 Volume Arus Lalu Lintas (kendaraan/15 menit)


Arah A – F Arah F – A
Total
Jam Kend. Kend. Sepeda Kend. tak Kend. Kend. Sepeda Kend. tak
Jumlah Jumlah (kend.)
ringan berat motor bermotor Ringan Berat motor bermotor
05.45 – 06.00
06.00 – 06.15
06.15 – 06.30
06.30 – 06.45
06.45 – 07.00
07.00 – 07.15
07.15 – 07.30
07.30 – 07.45
07.45 – 08.00
08.00 – 08.15
08.15 – 08.30
08.30 – 08.45

10. Komponen Hambatan Samping


Pengukuran kejadian-kejadian yang berkait dengan hambatan samping,
diambil di sepanjang ruas jalan ± 200 meter (STA. …. + ……….. s.d. STA. … +
………) pada waktu yang bersamaan dengan pengukuran volume arus lalu
lintas (hari ……….. tanggal ……….. jam………). Hasil pengukuran tersebut
disajikan pada tabel 2.

Tabel 2 Frekuensi Kejadian Komponen Hambatan Samping


Arah A – F Arah F – A
Kend.
Kend. Kend. Kend. Kend. Total
Jam Pejalan Ber Kend. Jumlah Pejalan Jumlah
keluar- Ber Lam keluar- (kejadian)
kaki henti/ lambat (kejadian) kaki (kejadian)
masuk henti bat masuk
parkir
05.45 – 06.00
06.00 – 06.15
06.15 – 06.30
06.30 – 06.45
06.45 – 07.00
07.00 – 07.15
07.15 – 07.30
07.30 – 07.45
07.45 – 08.00
08.00 – 08.15
08.15 – 08.30
08.30 – 08.45

5
11. Pergerakan kendaraan
Kecepatan sesaat (spot speed)
Jarak yang ditinjau = …………. Meter (STA … + ……… s.d. STA … + ………)
(25 – 75 meter)
Hasil pengukuran waktu pergerakan kendaraan disajikan pada tabel 3.
Kecepatan berjalan (running speed)
Jarak yang ditinjau = …………. Meter (STA … + ……… s.d. STA … + ………)
(200 – 500 meter)
Hasil pengukuran waktu pergerakan kendaraan disajikan pada tabel 3
Kecepatan tempuh (journey speed)
Jarak yang ditinjau = …………. Meter (STA … + ……… s.d. STA … + ………)
(> 500 meter)
Hasil pengukuran waktu pergerakan kendaraan disajikan pada tabel 3.

Tabel 3 Waktu (durasi) Pergerakan Kendaraan Berdasar Sesuai Jarak Tempuh


Jarak …… meter Jarak …… meter Jarak …… meter
Kend. Waktu Pergerakan (detik) Waktu Pergerakan (detik) Waktu Pergerakan (detik)
Arah A - F Arah F – A Arah A - F Arah F - A Arah A – F Arah F - A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

6
B. ANALISA
1. Menentukan Arus Lalu Lintas Maksimum – Jam Puncak
Untuk mendapatkan volume arus lalu lintas maksimum/jam puncak, terlebih
dahulu sistem satuan volume arus lalu lintas diseragamkan/dikonversikan.
Satuan volume arus lalu lintas kendaraan persatuan waktu dikonversi menjadi
satuan mobil penumpang (smp) persatuan waktu. Konversi dilakukan
dengan cara mengalikan volume arus lalu lintas (kendaraan persatuan waktu)
– tabel 1 dengan nilai ekivalen mobil penumpang (emp) - tabel 4.
Tipe ruas Jl. .................................................................... dengan Lebar jalur Lalu
lintas ....................., serta volume arus lalu lintas kedua arah ..................
kendaraan/jam (tabel 1), maka emp untuk kendaraan berat (HV) adalah .......
sedangkan emp untuk sepeda motor (MC) adalah .................

Tabel 4 Nilai Ekivalen Mobil Penumpang (emp)


Arus lalu lintas emp
Tipe Jalan
(Kend/jam) HV MC

Dua Lajur satu arah (2/1) atau 0 1,3 0,40


Empat lajur terbagi (4/2D) *)
> 1050 1,2 0,25

Tiga lajur satu arah (3/1) atau 0 1,3 0,40


Enam lajur terbagi (6/2 D) *) > 1100 1,2 0,25

0 1,3 0,40
Empat lajur tak terbagi (4/2 UD) **)
≥ 3700 1,2 0,25

0 1,3 0,50 1) 0,40 2)


Dua lajur tak terbagi (2/2 UD) **)

≥ 1800 1,2 0,35 1) 0,25 2)


Keterangan: *) Arus lalu lintas per jalur **)
Arus lalu lintas total dua arah
1)
Lebar jalur Lalu lintas Wc ≤ 6 m. 2) Lebar jalur Lalu lintas Wc > 6 m.
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga (1997)

Hasil konversi sistem satuan volume arus lalu lintas menjadi smp persatuan
waktu dikemukakan pada tabel 5.

7
Tabel 5 Volume Arus Lalu Lintas (smp/satuan waktu)
Arah A – F Arah F – A
Total
Kend. Jumlah Kend. Jumlah Total
Jam Kend. Kend. Sepeda Kend. Kend. Sepeda (smp/
tak ber (smp/ 15 Ringan (smp/ 15 15menit) (smp/ jam)
ringan berat motor Berat motor tak ber
motor menit) motor menit)
05.45 – 06.00
06.00 – 06.15
06.15 – 06.30
06.30 – 06.45
06.45 – 07.00
07.00 – 07.15
07.15 – 07.30
07.30 – 07.45
07.45 – 08.00
08.00 – 08.15
08.15 – 08.30
08.30 – 08.45

Berdasar rincian tabel 5, diketahui volume arus lalulintas maksimum kedua


arah …. smp/jam, terjadi pada pukul …………………………..
Dengan demikian jam puncak arus lalulintas adalah pukul ........................

2. Menentukan Kelas Hambatan Samping Pada Arus Lalu Lintas Maksimum


– Jam Puncak
Untuk menentukan kelas hambatan samping suatu segmen/ruas jalan,
terlebih dahulu frekuensi kejadian komponen hambatan samping (tabel 2)
diberi pembobotan sebagaimana tabel 6. Frekuensi kejadian yang dikalikan
dengan faktor bobot adalah frekuensi kejadian selama 1 jam pada saat arus
lalu lintas maksimum/jam puncak. Frekuensi Berbobot Kejadian Hambatan
Samping disajikan pada tabel 7.

Tabel 6 Faktor Bobot Kejadian Hambatan Samping


Tipe Kejadian Hambatan Samping Simbol Faktor Bobot
Pejalan kaki PED 0,5
Kendaraan berhenti PCV 1,0
Kendaraan keluar + masuk EEV 0,7
Kendaraan lambat SMV 0,4
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga (1997)

8
Tabel 7 Frekuensi Berbobot Kejadian Hambatan Samping
Faktor Frekwensi Frekwensi
Tipe Kejadian Simbol
Bobot kejadian Berbobot kejadian
Pejalan kaki PED 0,5
Kendaraan parkir PSV 1,0
Kend keluar masuk EEV 0,7
Kendaraan lambat SMV 0,4
Total

Tabel 8 Kelas Hambatan Samping Untuk Jalan Perkotaan


Jumlah bobot
Kelas Hambatan
Kode kejadian per 200 m Kondisi Khusus
Samping (SFC)
per jam
Daerah Pemukiman Dengan
Sangat Rendah VL < 100
jalan samping
Daerah pemukiman beberapa
Rendah L 100 – 299
kendaraan umum dsb.
Daerah komersial beberapa
Sedang M 300 – 499
toko disisi jalan
Daerah komersil aktivitas sisi
Tinggi H 500 – 899
jalan tinggi
Daerah komersial dengan
Sangat tinggi VH >900
aktifitas pasar disamping jalan
Sumber: Direktorat Jenderal Bina Marga (1997)

Berdasar Frekuensi Berbobot Kejadian Hambatan Samping (tabel 7), total


…….. kejadian dan Kelas Hambatan Samping Jalan Perkotaan (tabel 8), maka
ruas Jl. ………………………………… masuk dalam kelas hambatan samping (SFC)
………

3. Kecepatan Rata-Rata Arus Lalu Lintas


a. Kecepatan sesaat (spot speed)
Berdasar waktu (durasi) pergerakan kendaraan ringan (Tabel 3) dengan
panjang/jarak (yang ditinjau) ..........................., maka kecepatan pergerakan
(setiap) kendaraan (kecepatan sesaat - spot speed) dihitung dengan
membagi panjang/jarak (yang ditinjau) dengan waktu (durasi) pergerakan
dalam satuan Km/jam, disajikan pada tabel 9 kolom 3 dan kolom 7.

9
Tabel 9 Kecepatan Sesaat Kendaraan Ringan Pada Ruas Jl………………..
Arah A – F Arah F – A
Kend. Waktu Pergerakan Kecepatan Kend. Waktu Pergerakan Kecepatan
(detik) (Km/jam) (detik) (Km/jam)
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
Kecepatan rata-rata Kecepatan rata-rata
Kecepatan rata-rata (kedua arah) ..................... Km/jam

Dengan demikian diketahui, kecepatan sesaat ( spot speed) rata-rata arus lalu
lintas arah A - F: ……. Km/jam, sedangkan arah F - A: ……. Km/jam. Adapun
kecepatan sesaat (spot speed) rata-rata arus lalu lintas kedua arah adalah
……. Km/jam.

b. Kecepatan berjalan (running speed)


Berdasar waktu (durasi) pergerakan kendaraan ringan (Tabel 3) dengan
panjang/jarak (yang ditinjau) ..........................., maka kecepatan pergerakan
(setiap) kendaraan (kecepatan berjalan - running speed) dihitung dengan
membagi panjang/jarak (yang ditinjau) dengan waktu (durasi) pergerakan
dalam satuan Km/jam, disajikan pada tabel 10 kolom 3 dan kolom 7.

10
Tabel 10 Kecepatan Berjalan Kendaraan Ringan Pada Ruas Jl………………..
Arah A – F Arah F – A
Kend. Waktu Pergerakan Kecepatan Kend. Waktu Pergerakan Kecepatan
(detik) (Km/jam) (detik) (Km/jam)
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
Kecepatan rata-rata Kecepatan rata-rata
Kecepatan rata-rata (kedua arah) ..................... Km/jam

Dengan demikian diketahui, Kecepatan berjalan (running speed) rata-rata


arus lalu lintas arah A - F: ……. Km/jam, sedangkan arah F - A: ……. Km/jam.
Adapun Kecepatan berjalan (running speed) rata-rata arus lalu lintas kedua
arah adalah ……. Km/jam.

c. Kecepatan tempuh (journey speed)


Berdasar waktu (durasi) pergerakan kendaraan ringan (Tabel 3) dengan
panjang/jarak (yang ditinjau) ..........................., maka kecepatan pergerakan
(setiap) kendaraan (kecepatan tempuh - journey speed) dihitung dengan
membagi panjang/jarak (yang ditinjau) dengan waktu (durasi) pergerakan
dalam satuan Km/jam, disajikan pada tabel 11 kolom 3 dan kolom 7.

11
Tabel 11 Kecepatan Tempuh Kendaraan Ringan Pada Ruas Jl………………..
Arah A – F Arah F – A
Kend. Waktu Pergerakan Kecepatan Kend. Waktu Pergerakan Kecepatan
(detik) (Km/jam) (detik) (Km/jam)
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
Kecepatan rata-rata Kecepatan rata-rata
Kecepatan rata-rata (kedua arah) ..................... Km/jam

Dengan demikian diketahui, kecepatan tempuh (journey speed) rata-rata arus


lalu lintas arah A - F: ……. Km/jam, sedangkan arah F - A: ……. Km/jam. Adapun
kecepatan tempuh (journey speed) rata-rata arus lalu lintas kedua arah adalah
……. Km/jam.

4. Kinerja Ruas Jalan


a. Kecepatan arus bebas
Kecepatan arus bebas kendaraan dihitung dengan persamaan,
FV = (FV0 + FVW) × FFVSF × FFVCS
Tipe ruas Jl. ...................................... adalah dua-lajur tak-terbagi (2/2 UD), dan
mengacu jenis kendaraan ........................, serta berdasar tabel 12 maka
kecepatan arus bebas dasar (FV0) adalah ........................

12
Tabel 12 Kecepatan Arus Bebas Dasar Untuk Jalan Perkotaan (FVo)
Kecepatan Arus
Tipe Jalan Kendaraan Kendaraan Sepeda Semua Kendaraan
Ringan (LV) Berat (HV) Motor (MC) (Rata – rata)
Empat Lajur Terbagi
(4/2 D) atau Dua Lajur 57 50 47 55
Satu Arah (2/1 D)
Empat Lajur Tak
53 46 43 51
Terbagi (4/2 UD)
Enam-lajur terbagi
(6/2D) atau Tiga-lajur 61 52 48 57
satu-arah(3/1)
Dua-lajur tak-terbagi
44 40 40 42
(2/2 UD)
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga : 1997

Tipe ruas Jl. ...................................................... adalah dua-lajur tak-terbagi (2/2 UD),


dan mengacu lebar jalur lalu lintas efektif ..................., serta berdasar tabel 13
maka penyesuaian kecepatan arus bebas untuk lebar jalur lalu lintas (FV w)
adalah ........................

Tabel 13 Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas Untuk Lebar Jalur Lalu Lintas (FVw).
Lebar jalur lalu lintas efektif
Tipe Jalan FVw (km/jam)
(Wc) - (meter)
Per lajur
3,00 -4
Empat lajur terbagi atau 3,25 -2
Jalan satu arah 3,50 0
3,75 2
4,00 4
Per lajur
3,00 -4
3,25 -2
Empat lajur tak terbagi
3,50 0
3,75 2
4,00 4
Total
5 -9,5
6 -3
7 0
Dua-lajur tak-terbagi 8 3
9 4
10 6
11 7
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga : 1997

13
Tipe ruas Jl. ................................................ adalah dua-lajur tak-terbagi (2/2 UD)
dengan kelas hambatan samping ..........................., dan lebar bahu efektif rata-
rata ..................., mengacu berdasar tabel 14, maka Faktor penyesuaian
kecepatan arus bebas untuk hambatan samping (FFV SF) adalah ...............

Tabel 14 Faktor Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas Untuk Hambatan Samping


(FFVSF) Jalan Dengan Bahu (Kerb)
Faktor penyesuaian untuk hambatan
Kelas samping dan lebar bahu
Tipe Jalan hambatan Lebar bahu efektif rata rata Ws (m)
samping
0.5 m 1.0 m 1.5 m 2m
Sangat Rendah 1,02 1,03 1,03 1,04
Rendah 0,98 1,00 1,02 1,03
Empat lajur terbagi 4/2 D Sedang 0,94 0,97 1,00 1,02
Tinggi 0,89 0,93 0,96 0,99
Sangat tinggi 0,84 0,88 0,92 0,96
Sangat Rendah 1,02 1,03 1,03 1,04
Rendah 0,98 1,00 1,02 1,03
Empat lajur tak terbagi
Sedang 0,93 0,97 0,99 1,02
4/2 UD
Tinggi 0,87 0,93 0,94 0,98
Sangat tinggi 0,80 0,88 0,90 0,95
Sangat Rendah 1,00 1,01 1,01 1,01
Dua-lajur tak-terbagi Rendah 0,96 0,98 0,99 1,00
2/2 UD Sedang 0,91 0,93 0,96 0,99
atau Jalan satu-arah Tinggi 0,82 0,86 0,90 0,95
Sangat tinggi 0,73 0,79 0,85 0,91
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga : 1997

Diketahui bahwa penduduk Kota Malang pada tahun 2010 sampai dengan
2013 (sumber: ............................) sebagai berikut:

Berdasar data di atas, maka pertumbuhan penduduk rata-rata …. %/tahun,


selanjutnya dapat diprakirakan jumlah penduduk Kota Malang pada tahun
2016 adalah ………. Jiwa. Mengacu tabel 15, maka faktor penyesuaian
kecepatan arus bebas untuk ukuran kota (FFVcs) adalah ……….

14
Tabel 15 Faktor Penyesuaian Kecepatan Arus Bebas Untuk Ukuran Kota (FFVcs)

Ukuran Kota (Juta Penduduk) Faktor Penyesuaian Untuk Ukuran Kota


< 0,1 0,90
0,1 – 0,5 0,93
0,5 – 1,0 0,95
1,0 – 3,0 1,00
> 3,0 1,03
Sumber : Direktorat Jenderal Bina Marga : 1997

Dengan demikian kecepatan arus bebas (FV) adalah


FV = ( ……. + ……. ) × ……. × …….. = …….. km/jam

b. Kapasitas Jalan
Kapasitas ruas jalan dihitung dengan persamaan,
C = Co × FCw × FCsp x FCsf × FCcs
Tipe ruas Jl. ................................................. adalah .............., maka kapasitas dasar
(Co) ruas jalan tersebut berdasar tabel 16 adalah sebesar ...............................

Tabel 16 Kapasitas Dasar (Co) Untuk Jalan Perkotaan


Tipe Jalan Kapasitas Dasar Catatan
Empat lajur terbagi atau jalan satu arah 1650 Per lajur
Empat Lajur tak terbagi 1500 Per lajur
Dua-lajur tak-terbagi 2900 Total dua arah
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga (1997)

Tipe ruas Jl. ...................................... adalah dua-lajur tak-terbagi (2/2 UD),


sedangkan lebar jalur lalu lintas efektif (Wc) ..................., berdasar tabel 17
maka Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Lebar Jalur Lalu – Lintas (FCw)
adalah ........................

Tabel 17 Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Lebar Jalur Lalu - Lintas( FCw)

15
Lebar Jalur Lalu lintas efektif
Tipe Jalan FCw
(Wc) (m)
Per lajur
3,00 0,92
Empat lajur terbagi atau jalan 3,25 0,96
satu arah 3,50 1,00
3,75 1,04
4,00 1,08
Per lajur
3,00 0,91
3,25 0,95
Empat lajur tak terbagi
3,50 1,00
3,75 1,05
4,00 1,09
Total dua arah
5 0,56
6 0,87
7 1,00
Dua-lajur tak-terbagi
8 1,14
9 1,25
10 1,29
11 1,34
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga (1997)

Tipe ruas Jl .................................................... adalah .............. Berdasar tabel 5, volume


arus lalulintas arah A – F ................. sedangkan arah F – A ........................, maka
perbandingan volume arus lalulintas kedua arah adalah ……………. Dengan
demikian berdasar tabel 18 faktor penyesuaian kapasitas untuk pemisah arah
(FCsp) adalah …………

Tabel 18 Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Pemisah Arah (FCsp)


Pemisah arah SP % - % 50 – 50 55 – 45 60 – 40
Empat lajur 4/2 1.00 0.985 0.97
FCsp
Dua lajur 2/2 1.00 0.97 0.94
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga (1997)

Tipe ruas jl ................................................................ adalah ................. dengan kelas


hambatan samping ................ serta lebar bahu efektif (Ws) .........., berdasar tabel
19 maka faktor penyesuaian kapasitas untuk hambatan samping (FCsf) adalah
................

16
Tabel 19 Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Hambatan Samping (FCsf) Jalan
Dengan Bahu (Kerb)
Faktor penyesuaian hambatan samping dan lebar bahu
Kelas FCsf
Tipe jalan hambatan
Lebar bahu efektif Ws
samping
0,5 1,0 1,5 2,0
VL 0,96 0,98 1,01 1,03
L 0,94 0,97 1,00 1,02
4/2 D M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,88 0,92 0,95 0,98
VH 0,84 0,88 0,92 0,96
VL 0,96 0,99 1,01 1,03
L 0,94 0,97 1,00 1,02
4/2 UD M 0,92 0,95 0,98 1,00
H 0,87 0,91 0,94 0,98
VH 0,80 0,86 0,90 0,95
VL 1,00 1,01 1,01 1,01
2/2 UD
L 0,96 0,98 0,99 1,00
atau
M 0,91) 0,93 0,96 0,99
Jalan satu
H 0,82 0,86 0,90 0,95
arah
VH 0,73 0,79 0,85 0,91
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga (1997)

Diketahui bahwa penduduk Kota Malang pada tahun 2010 sampai dengan
2013, dengan pertumbuhan penduduk rata-rata …. %/tahun, diprakirakan
jumlah penduduk Kota Malang pada tahun 2016 adalah ………. Jiwa
(halaman .....). Mengacu tabel 20, maka faktor penyesuaian kapasitas untuk
ukuran kota (FCcs) adalah .....................

Tabel 20 Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Ukuran Kota (FCcs)


Ukuran Kota (Juta Penduduk) Faktor Penyesuaian untuk ukuran kota FCcs
<0,1 0,86
0,1-0,5 0,90
0,5-1,0 0,94
1,0-3,0 1,00
>3,0 1,04
Sumber : Direktorat Jendral Bina Marga (1997)
Berdasar faktor-faktor yang telah ditetapkan, dengan demikian kapasitas
ruas jalan (C), adalah:

17
C = …….. × …….. × …….. × …….. × …….. smp/jam.

c. Derajat Kejenuhan
Derajat kejenuhan dihitung dengan persamaan, DS = Q/C.
Dimana arus lalu lintas (Q) = ……. smp/jam, sedangkan kapasitas didapat (C)
= ……. smp/jam. Maka nilai DS = …….

d. Kecepatan sesungguhnya & waktu tempuh


Kecepatan rata-rata kendaraan ringan (sesungguhnya) didapat dari
hubungan antara nilai derajat kejenuhan (DS) dengan kecepatan arus bebas
(FV), sebagaimana gambar 5 (gambar 6) hubungan, yaitu …….. km/jam.

Gambar 5 Kecepatan Sebagai Fungsi Dari DS Untuk Jalan 2/2 UD

18
Gambar 6 Kecepatan Sebagai Fungsi Dari DS Jalan Banyak Lajur Dan Satu Arah

Sedangkan waktu tempuh dihitung dengan persamaan,TT = L/V.


Telah diketahui: kecepatan sesungguhnya (V) = ……. km/jam, panjang ruas
jalan (L) = ………….. m, maka waktu tempuh kendaraan ringan (TT) = ……….
detik.

C. PEMBAHASAN
…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..
…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..

D. KESIMPULAN & SARAN


…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..…………..
…………..…………..…………..…………..

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Bina Marga, 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Jakarta:
Departemen Pekerjaan Umum RI.

Hobbs, FD, 1979. Perencanaan dan Teknik Lalu Lintas. Edisi Kedua. Terjemahan Ir.
Suprapto TM, Msc, dan Ir. Waldijono, 1995. Jogjakarta: Gadjah Mada
University Press.

19
Morlok, Edward K, 1978. Perencanaan Teknik dan Perencanaan Transportasi.
Terjemahan Ir. Johan Kelanaputra Hainim, 1984. Jakarta: Erlangga.

20