You are on page 1of 5

Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Jan—Apr 2009, hlm.

8-12 Volume 16, Nomor 1


ISSN 0854-3844

Hubungan Insentif Pajak dengan Iklim Investasi bagi Perusahaan


Penanaman Modal Asing di Sektor Industri Tekstil di Indonesia
M. Edi Hartono1*, MILLA SEPLIANA SETYOWATI2**

1
KPP Wajib Pajak Besar Orang Pribadi
2
Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI

Abstract. This quantitative research relates tax-incentive policy with investment-climate for foreign-invested
companies in textile industry by using the method of survey analysis. This research took samples by using
simple random sampling method. The result shows that the tax-incentive policy is not significantly related to
investment-climate of foreign-invested companies in textile industry in Indonesia. There are a lot of factors that
influence investment-climate, among others, the availability of cheap, professional experts, political stability, the
condition of market and its potential, macro-economic stability, the condition of infrastructure, legal certainty,
and the condition of bureaucracy, as well as the rate of corruption in Indonesia. Based on the analysis on the
research result, however, market access appears to be the significant factor that generates foreign investors in
textile industry in Indonesia.

Keywords: tax allowance, tax incentive, foreign investment

PENDAHULUAN kemampuan pemerintah (Woon Nam dan Radulescu,


2004). Contohnya, perusahaan asing dalam industri
Investasi dalam bentuk penanaman modal asing yang sifat produksinya footloose—tidak tergantung
(PMA) diyakini sangat potensial dalam mempercepat pada sumber daya alam atau bahan baku lokal Indonesia
pertumbuhan dan transformasi ekonomi. Upaya menarik seperti industri tekstil—akan dengan mudahnya
invesor asing untuk menanamkan investasinya di pindah ke negara lain jika produksi dalam negeri tidak
Indonesia sampai saat inni masih merupakan salah satu lagi menguntungkan. Oleh karena itu, adanya insentif
dari agenda pemerintah khususnya investasi asing yang pajak yang mampu mengurangi biaya perusahaaan
bersifat langsung (Foreign Direct Investment) yang dianggap sebagai faktor penting dalam menentukan
mana FDI memiliki pertalian ekonomi yang erat dengan lokasi penempatan modal (Tambunan, 2007).
Indonesia (Rahayu, 2005). Di samping itu, kehadiran Pemberian insentif pajak merupakan suatu kebijakan
modal asing khususnya di bidang industri manufaktur atau discretion yang dapat berlaku untuk suatu sektor
menjadi sumber perkembangan teknologi, pertumbuhan usaha. Terdapat beberapa masalah yang menyertai
ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Dalam rangka munculnya suatu kebijakan insentif pajak, yaitu adanya
penanaman modal asing, terdapat beberapa faktor seperti potensi korupsi, tekanan politik dari investor domestik
ukuran dan rata-rata pertumbuhan produk, ketersediaan apabila insentif hanya berlaku bagi investor asing, dan
tenaga kerja terampil, penerimaan negara dari modal kesulitan mengevaluasi motivasi investor karena semua
asing, risk ranking, dan kelakuan pasar modal memiliki investor menginginkan insentif sehingga tidak diketahui
peran yang penting bagi perekonomian suatu negara sektor mana yang langsung terpengaruh kebijakan
(Van Duzzer, 2008). insentif pajak (Wells dkk, 2001).
Upaya menentukan lokasi penanaman modal, para
investor biasanya mengevaluasi dalam dua tahapan. Metode Penelitian
Tahap pertama adalah memilih negara yang didasarkan
pada besarnya pasar, akses ke bahan baku, ketersediaan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif.
tenaga kerja, dan sebagainya. Jika tahap pertama Ruang lingkup penelitian dibatasi pada dua variabel,
memenuhi semua kriteria, maka tahap keduanya adalah yaitu variabel bebas berupa kebijakan insentif pajak dan
mengevaluasi tarif pajak, jaminan-jaminan, dan ber- variabel terikat berupa iklim investasi bagi perusahaan
bagai insentif yang akan di dapatkan. Pada tahap kedua PMA di sektor industri tekstil. Jenis penelitian ini ber-
ini pemerintahan suatu negara dapat dengan mudah dasarkan tujuannya bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan
merubah insentif pajaknya ketimbang mengubah fenomena sosial yang terjadi dengan mengkaji pola
faktor-faktor yang telah disebutkan di atas karena hubungan korelasional antara beberapa variabel.
akan memakan waktu dan juga sulit, bahkan di luar Penelitian ini menggunakan metode survei melalui
penyebaran kuesioner yang dilakukan dari tanggal 1
sampai 20 April 2007. Populasi dalam penelitian ini
*
Korespondensi: +62816 117 3578; edihardtonov@yahoo.com adalah 679 perusahaan PMA yang bergerak di sektor
**
Korespondensi:+628121042657; milla_ss@ui.ac.id industri tekstil yang terdaftar di Kantor Pelayanan
HARTONO & SETYOWATI , hubungan insentif pajak 9

Tabel 2. Survei Risiko Berbisinis versi PERC


y
Persentase Perusahaan Yang Menawarkan
b
Pelatihan Formal Bagi Tenaga Kerjanya Australia 2,69
Singapura 2,74
Jepang 3,13
70 Amerika Serikat 3,15
60 Hong Kong 3,33
50
Persentase

Malaysia 4,66
40 Taiwan 4,76
30 Korea Selatan 4,78
20 Vietnam 5,36
10
China 5,44
0
Thailand 5,49
Indonesia Malaysia China
Filipina 5,74
Negara
India 6,24
Indonesia 6,79
Gambar 1. Persentase Perusahaan yang Menawarkan Pelatihan Formal bagi Tenaga Kerjanya
Sumber: Survei iklim investasi World Bank-ADB, 2005 Sumber: PERC, 2007

Tabel 1. Correlations
di sektor industri tekstil terdapat hubungan negatif (tabel
Kebijakan Iklim
Insentif Investasi 1). Nilai R Square (koefisien determinasi) menyatakan
Pajak besarnya pengaruh dari variabel independen terhadap
Kebijakan Insentif Pearson 1 -.198 variabel dependen. Berdasarkan tabel di atas, maka
Pajak Correlation besarnya koefisien determinasi (R2) = 0,1982 = 0,04 atau
Sig. (2- . .067 4.0%. Hasil ini menunjukkan bahwa besarnya pengaruh
tailed) kebijakan insentif pajak terhadap iklim investasi bagi
N 87 87 perusahaan PMA di sektor industri tekstil adalah sebesar
Iklim Investasi Pearson -.198 1 4%, sedangkan sisanya sebesar 96% dipengaruhi oleh
Correlation faktor lain. Hal tersebut mengindikasikan bahwa faktor
Sig. (2- .067 . pendorong bagi perusahaan PMA di sektor industri
tailed) tekstil untuk berinvestasi di Indonesia lebih berkaitan
N 87 87 dengan faktor lain selain insentif pajak. Kebijakan
insentif pajak, terutama di bidang PPh diragukan
Sumber: Hasil olahan data penelitian, 2007 kemanjurannya jika dikaitkan dengan realisasi PMA
pada tahun 2006 yang menunjukkan penurunan dibandi-
Pajak PMA Empat. Penelitian menggunakan probability ng tahun 2005, yaitu 32,9%. Kurang efektifnya insentif
sampling. Oleh karena populasi bersifat homogen, pajak tersebut karena insentif pajak hanya merupakan
teknik sampling yang digunakan adalah simple random salah satu unsur pertimbangan investasi (Gunadi, 2007).
sampling. Cara pengambilan sampel dari anggota Faktor yang lebih menentukan dalam pertimbangan
populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan investasi di Indonesia salah satunya adalah ketersediaan
strata atau tingkatan. Berdasarkan teknik tersebut tenaga kerja yang ahli dan murah dalam industri tekstil
diperoleh sampel 87 responden. di Indonesia. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia
akhir-akhir ini cenderung kurang kondusif untuk
HASIL DAN PEMBAHASAN investasi. Pemerintah dan DPR menganggap bahwa
perubahan paket perundang-undangan ketenagakerjaan
A. Hubungan Kebijakan Insentif Pajak dengan Iklim merupakan keniscayaan, sejak reformasi (Yasin, 2007).
Investasi bagi Perusahaan Penanaman Modal Asing Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya batasan
di Sektor Industri Tekstil upah minimum yang ditetapkan pemerintah serta
Hasil penelitian atas persepsi perusahaan PMA yang ketidakpastian hubungan industrial antara perusahaan
terdaftar sebagai wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak dan tenaga kerja. Rendahnya keahlian tenaga kerja
PMA Empat yang bergerak di sektor industri tekstil Indonesia dinilai sebagai salah satu hambatan bagi
mengenai kebijakan insentif pajak dalam hubungannya investasi asing. Rendahnya keahlian dapat diindikasikan
dengan iklim investasi di Indonesia menunjukkan bahwa dari tingkat produktivitas rata-rata tenaga kerja
tidak ada hubungan yang signifikan antara kebijakan Indonesia. Berdasarkan penelitian dari Jaringan
insentif pajak dengan iklim investasi di Indonesia. Kebijakan Publik Indonesia (JAJAKI) diketahui bahwa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variabel produktivitas tenaga kerja Indonesia lebih rendah dari
bernilai negatif (-0.198). Ini berarti bahwa kebijakan Malaysia dan China. Dibandingkan dengan negara
insentif pajak dengan iklim investasi perusahaan PMA lain, keterlibatan perusahaan dalam peningkatan
10 Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Vol. 16, No. 1, Jan—Apr 2009, hlm. 8-12

keterampilan tenaga kerja Indonesia masih rendah, bersama Filipina dan Kamboja sebagai negara yang
hanya 23% perusahaan yang menawarkan pelatihan rasio belanja infrastrukturnya paling rendah. Thailand
formal bagi tenaga kerjanya. Malaysia dan China dan Vietnam mengalokasikan belanja infrastruktur lebih
masing-masing 42% dan 69%, seperti terlihat dalam dari 7% dari PDB.
gambar 1. Selain itu, faktor lain yang cukup menentukan Infrastrukur yang kurang memakai juga tidak
dalam pertimbangan investasi di Indonesia adalah hasil mampu mengantisipasi munculnya kejadian luar
studi Asian Development Bank (ADB) yang bekerjasama biasa atau bencana. Hal tersebut dapat mencitrakan
dengan Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi kondisi infrastruktur Indonesia yang kurang layak
dan Badan Pusat Statistik tentang iklim investasi dan untuk menarik investasi. Di bidang listrik, berdasarkan
produktifitas di Indonesia yang dipublikasikan tahun survei yang dilakukan ADB diketahui 37% responden
2005. Hasil studi tersebut mengungkapkan bahwa mengganggap bahwa pelayanan listrik paling menjadi
perusahaan tekstil dan pakaian jadi mempunyai hambatan, lebih besar dibandingkan hambatan di bidang
kasus demonstrasi pekerja paling banyak. Banyaknya telekomunikasi dan transportasi. Untuk mendapatkan
demonstrasi mengindikasikan ketidakharmonisan sambungan listrik diperlukan kurang lebih lima belas
hubungan antara pengusaha tekstil dan pekerjanya. Hal hari. Di samping itu, kapasitas listrik di Indonesia belum
tersebut dapat dipersepsikan investor sebagai kelemahan mencukupi untuk kebutuhan industri secara penuh
pemerintah dalam menjaga stabilitas dan image negara sehingga sering terjadi pemadaman listrik yang sangat
yang kurang kondusif untuk investasi (tabel 2). mengganggu proses produksi.
Survei lain yang dilakukan oleh The Political and Keempat, kondisi kepastian hukum. Kepastian
Economic Risk Consultancy (PERC) yang dirilis tahun hukum bagi investor merupakan pegangan baku dalam
2007, menempatkan Indonesia sebagai negara paling menetapkan langkah untuk berinvestasi. Kepastian
berisiko untuk berinvestasi di Asia. Survei tersebut hukum dapat dilihat dari keadilan dan kejujuran dalam
didasarkan pada persepsi responden terhadap perkem- melaksanakan ketentuan perundang-undangan yang ada.
bangan risiko politik domestik dan ketidakstabilan Hasil penelitian PSKK UGM tahun 2006 menunjukkan
sosial yang meningkat dalam lima tahun terakhir. Survei bahwa kepastian hukum di Indonesia belum diterapkan
tersebut mengungkapkan beberapa hal. secara baik. Hal tersebut merupakan sinyal negatif bagi
Pertama, kondisi dan potensi pasar di Indonesia. investor dalam menentukan penempatan modalnya di
Jika dilihat dari jumlah penduduk Indonesia yang Indonesia.
banyak merupakan pangsa pasar yang besar bagi industri Kelima, kondisi birokrasi dan tingkat korupsi.
tekstil, mengingat produk tekstil, terutama garment, Kinerja birokrasi di Indonesia dalam kaitannya dengan
adalah salah satu kebutuhan utama bagi umat manusia. iklim investasi dapat dilihat dari tingkat pelayanan
Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di yang diberikan. Jumlah prosedur yang harus ditempuh
dunia, Indonesia sangat menarik bagi investor di sektor melalui pelayanan birokrasi di Indonesia untuk memulai
tekstil untuk menanamkan modalnya. Hasil penelitian usaha diperlukan tidak kurang dari 46 surat izin dari
UNCTAD pada tahun 1996 mengungkapkan bahwa berbagai instansi pemerintahan. Berdasarkan penilaian
akses pasar dan faktor lain yang berkaitan dengan pasar Bank Dunia terhadap berbagai peraturan perundangan
merupakan faktor utama sebagai alasan 80% investor di Indonesia tahun 2005-2006, dibutuhkan sekitar dua
untuk melakukan investasi. belas prosedur pokok untuk memulai usaha di Indonesia
Kedua, stabilitas ekonomi makro seperti tingkat in- yang memakan waktu 97 hari atau hampir dua kali lipat
flasi dan nilai tukar mata uang. Berdasarkan studi ADB, dari rata-rata negara-negara Asia Timur lainnya, yaitu
ketidakstabilan ekonomi makro menurut perbandingan sekitar 46 hari (tabel 3).
internasional menunjukkan bahwa Indonesia menduduki Peringkat Indonesia dalam hal kemudahan memulai
urutan terbawah. Bagi perusahaan tekstil yang berori- usaha baru berdasarkan laporan hasil penelitian yang
entasi ekspor atau yang bahan bakunya harus melalui dikeluarkan oleh International Finance Corporation
impor, kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (IFC) dan Bank Dunia, serta Bank Pembangunan Asia
sebagai mata uang utama dalam bertransaksi dirasakan yang tertuang dalam laporan IFC dan Bank Dunia
sangat penting sehingga jika terjadi keguncangan mengenai ‘Doing Bussiness 2007’ adalah 135 dari
dalam nilai tukar akan sangat mempengaruhi kegiatan 175 negara. Dibandingkan dengan negara-negara ang-
bisnisnya. gota ASEAN lainnya, Indonesia cukup jauh tertinggal
Ketiga, kondisi infrastruktur untuk kegiatan (tabel 4).
industri tekstil. Sebagian besar industri tekstil sangat Tingkat korupsi di Indonesia juga masih tinggi
berkepentingan dengan kondisi infrastruktur yang dibandingkan negara ASEAN lainnya. Terdapat ba-nyak
menunjang kegiatan industri, seperti prasarana jalan pungutan liar dalam setiap alur mata rantai dari saat
untuk transportasi dari dan ke pelabuhan dalam rangka mulai bahan baku masuk ke pelabuhan sampai barang
ekspor impor serta kebutuhan energi seperti listrik, jadi tiba di pasar. Hal tersebut membuat biaya produksi
air, dan gas. Dibandingkan dengan negara-negara semakin tinggi sehingga harga tidak kompetitif.
berkembang lainnya, rasio belanja infrastruktur terhadap Berdasarkan survei oleh Transparansi International
PDB yang kurang dari 4% menempatkan Indonesia yang dituangkan dalam indeks persepsi korupsi tahun
HARTONO & SETYOWATI , hubungan insentif pajak 11

Tabel 3. Jumlah Prosedur dan Biaya untuk Memulai Usaha di Beberapa Negara Tabel 4. Transparency International
ASEAN Tahun 2005 - 2006 Corruption Perceptions Index 2006

Peringkat
Negara Nilai CPI
Indikator Indonesia Vietnam Filipina Malaysia Thailand Dunia

Jumlah prosedur 12 11 11 9 8 Singapura 9.4 5


Malaysia 5.0 44
Durasi (hari) 97 50 48 30 33
Thailand 3.6 63
Biaya (dalam US $) 86.7 44.5 18.7 19.7 5.8
Vietnam 2.6 111
Biaya (% PNB per kapita 83.4 0 1.8 0 0 Philipina 2.5 121
Indonesia 2.4 130

Sumber: Doing Business-World Bank, 2007 Catatan: Semakin rendah nilai CPI,
semakin tinggi tingkat korupsinya
Sumber: Transparency International, 2006

2006, Indonesia menempati urutan 130 dari 163 negara, B. Kebijakan Insentif Pajak yang Sesuai untuk
dengan nilai corruptions perception index (CPI) 2,4. Sektor Industri Tekstil di Indonesia
Dibandingkan dengan negara anggota ASEAN lainnya, Persepsi responden mengenai jenis insentif pajak
peringkat Indonesia juga berada paling bawah. yang paling sesuai dengan perusahaan PMA yang
Indikator-indikator iklim investasi Indonesia bergerak di sektor industri tekstil adalah pada tabel 5.
menunjukkan keburaman. Namun perusahaan PMA Berdasarkan survei tersebut diketahui bahwa
yang bergerak di sektor industri tekstil tetap bertahan. kebijakan insentif pajak yang berupa pengurangan
Faktor yang diperkirakan menjadi penyebab tetap penghasilan neto (investment allowance) sebesar 30%
bertahannya pengusaha di sektor industri tekstil di untuk selama enam tahun merupakan jenis insentif
Indonesia adalah potensi pasar tekstil dalam negeri pajak yang paling diminati oleh responden, yaitu
yang besar dan adanya kuota ekspor, yaitu fasilitas sebanyak 66 responden atau 75,9%. Jenis insentif
jaminan pasar tekstil Indonesia untuk Amerika Serikat, pajak berikutnya yang diminati adalah PPN tidak
Canada, Jepang, dan tiga belas negara Uni Eropa. dipungut di kawasan berikat sebesar 17,2% dan PPN
Sejak dihapuskannya sistem kuota pada tahun dibebaskan atas pembelian atau impor barang modal
2005, industri tekstil Indonesia terancam kelangsungan sebesar 5,7%.
pangsa pasar ekspornya karena kalah bersaing dengan Perusahaan PMA di sektor industri tekstil lebih
negara lain, seperti China dan Vietnam. Kompetisi tertarik pada insentif pajak berupa pengurangan
dalam memperebutkan akses pasar di sektor industri penghasilan neto sebesar 30% selama enam tahun
tekstil, terutama pasca penghapusan kuota ekspor dengan pertimbangan bahwa insentif tersebut dapat
sangat tinggi. Perusahaan yang mampu menciptakan mengurangi penghasilan kena pajak secara langsung
harga yang paling kompetitif akan menang dalam sehingga pajak yang dibayar menjadi lebih kecil.
persaingan. Jenis insentif pajak lainnya dapat mengurangi beban
Pada saat ini, industri tekstil Indonesia masih bisa pajak juga, tetapi secara tidak langsung dan lebih
berjalan karena adanya kebijakan baru Amerika Serikat bersifat sementara. Karakteristik dan struktur biaya
berupa safeguard mechanism untuk produk tekstil dari pada industri tekstil dan produk tekstil berdasarkan
China. Melalui mekanisme tersebut, ekspor produk survei yang dilakukan API menunjukkan bahwa
tekstil dari China dibatasi untuk masuk sehingga tek- komponen biaya material dan tenaga kerja merupakan
stil Indonesia masih dapat bersaing dan meningkatkan komponen biaya terbesar. Hal tersebut berarti bahwa
ekspornya ke Amerika Serikat. Fakta menunjukkan unsur barang modal dalam industri tekstil relatif kecil
bahwa industri tekstil Indonesia selama ini mampu sehingga biaya penyusutan relatif kecil dan akumulasi
bersaing di dunia internasional karena adanya akses kerugian juga relatif pendek.
pasar yang didukung oleh kebijakan negara importir, Karakteristik industri tekstil yang bersifat
seperti Amerika Serika, Uni Eropa, dan Jepang. Agar footloose sangat memperhatikan adanya lingkungan
mampu mendapatkan akses pasar dan kompetitif usaha yang mempunyai biaya rendah. Pengusaha
dibanding negara lain, industri tekstil Indonesia ha- yang bergerak di sektor industri tekstil sangat sensitif
rus dapat menekan biaya produksi. Oleh karena itu, dengan pajak yang menyebabkan bertambahnya
pembenahan lingkungan yang menyebabkan biaya biaya. Oleh karena itu, apabila faktor akses pasar
tinggi harus segera dibenahi. Kebijakan pemberian yang selama ini diprediksi menjadi alasan utama
insentif pajak bukan hal yang terpenting bagi daya untuk berivestasi di Indonesia sudah tidak pasti,
tarik investasi bagi perusahaan PMA di sektor industri pengusaha di sektor industri tekstil dikhawatirkan
tekstil. Selama hambatan-hambatan investasi lain tidak tidak tertarik lagi untuk berinvestasi di Indonesia dan
dibenahi, pemberian insentif pajak akan sia-sia dan akan mengalihkan investasinya di negara lain yang
justru merugikan penerimaan negara. lebih menarik, seperti China dan Vietnam.
12 Bisnis & Birokrasi, Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, Vol. 16, No. 1, Jan—Apr 2009, hlm. 8-12

Tabel 5. Insentif Pajak yang diminati Perusahaan Tekstil

No. Jenis Insentif Pajak Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
1 Pengurangan Penghasilan Neto 66 75.9 75.9 75.9
2 Penyusutan Dipercepat 1 1.1 1.1 77.0
3 PPN Tidak Dipungut 15 17.2 17.2 94.3
4 PPN Dibebaskan 5 5.7 5.7 100
Total 87 100 100

Sumber: Hasil olahan data penelitian, 2007

Kesimpulan penyerahan JKP tetap dikenakan PPN sehingga insentif


tersebut dinilai tanggung karena dalam prakteknya
. Kebijakan pemberian insentif pajak tidak berhubungan wajib pajak tidak terlepas dari pemanfaatan JKP dalam
secara signifikan dengan iklim investasi perusahaan kegiatan usahanya.
PMA di sektor industri tekstil. Dengan demikian,
tujuan pemerintah memberikan insentif pajak untuk Daftar Pustaka
memperbaiki iklim investasi di Indonesia agar dapat
menarik investor asing di sektor industri teksil tidak Gunadi. 2007. Insentif PPH Kurang Efektif. 7. Diunduh www.infopa-
efektif. Banyak faktor yang mempengaruhi iklim jak.com. 19 Februari.
investasi bagi perusahaan PMA di sektor industri OECD. Benchmark Definition of Foreign Direct Investment,Third
tekstil, antara lain adalah ketersediaan tenaga kerja yang edition, www.oecd.org; diunduh 3 Mei 2007.
ahli dan murah, stabilitas politik, kondisi dan potensi Rahayu, Ning. 2005. Kebijakan Investasi Asing (Foreign Direct
pasar, stabilitas ekonomi makro, kondisi infrastruktur, Investment) di Indonesia dan Vietnam. Jurnal Ilmu Administrasi
kepastian hukum, dan kondisi birokrasi serta tingkat dan Organisasi, Bisnis & Birokrasi, Vol.13, No.1 (Januari)
korupsi di Indonesia. Berdasarkan analisis atas data Tambunan, Tulus. 2007. Iklim Investasi di Indonesia: Masalah,
hasil penelitian diketahui bahwa akses pasar merupakan Tantangan dan Potensi. www.kadin-indonesia.or.id; 9 Januari.
faktor yang lebih penting dalam menarik investor asing Van Duzer, J. Anthony. 2008. Foreign Investment and Development:
di sektor industri tekstil di Indonesia. The Role of Domestic Policy and International Investment
Jenis insentif pajak yang diterapkan di Indonesia dan Agreements. The Commonwealth Finance Ministers Reference
paling diminati oleh perusahaan PMA sektor industri Report 2008. London, Commonwealth Secretariat.
tekstil adalah perangsang penanaman berupa pengura- Wells, Louis T, dan Allen, Nancy J. 2001. Using Tax Insentives to
ngan penghasilan neto sebesar 30% selama enam tahun. Compete Investment: Are They Worth the Costs? Washington
Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan PMA di DC: World Bank.
sektor industri tekstil lebih memilih untuk mendapatkan Woon Nam, Chang dan Doina Maria Radulescu. 2004. Types of Tax
insentif yang secara langsung mengurangi beban Concessions for Attracting Foreign Direct Investment in Free
pajaknya dari bentuk insentif pengurangan beban Economic Zones. CESifo Working Paper Series No. 1175 (April).
pajak yang hanya bersifat sementara. Insentif berupa Yasin, Muhammad, 2007. Investasi dan Kebijakan Penggunaan
PPN terutang yang tidak dipungut di kawasan berikat Tenaga Kerja Asing di Indonesia. Jurnal Ilmu Administrasi dan
hanya berlaku untuk penyerahan BKP, sedangkan atas Organisasi, Bisnis & Birokrasi, Vol.13, No.2 (Mei).