You are on page 1of 19

LAPORAN PSIKIATRI

SKIZOFRENIA PARANOID

Pembimbing:
dr. Mardi Susanto, SpKJ (K)
dr. Triwibowo T Ginting, SpKJ (K)

Disusun Oleh:
Devanti Eka Utami Putri
1610221120

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT UMUM PERSAHABATAN
JAKARTA
2017

IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. Pasien awalnya sering membayangkan orang lain kecelakaan.00 WIB didapatkan A. Kurang lebih dalam sehari hanya tertidur 4 jam/hari. Pasien juga mengaku sering mendengar suara laki-laki yang suka . B. Keluhan Utama Pasien merupakan pasien baru datang ke Poliklinik Jiwa Perasahabatan Jakarta dengan keluhan sulit memulai tidur sejak 1 tahun yang lalu. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien merupakan pasien baru datang ke Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan pada tanggal 29 November 2017. S Usia : 62 th Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SMA Status : Menikah Pekerjaan : Tidak Bekerja II. Ketika bangun tidur terasa tidak segar. Pasien sering melihat bayangan hitam tetapi orang lain tidak dapat melihat bayangan tersebut. Pasien juga mengatakan sering mendengar suara berbunyi “crik-crik” namun tidak ada sumbernya. LAPORAN KASUS I. RIWAYAT PSIKIATRI Berdasarkan Autoanamnesa langsung kepada pasien yang dilakukan di Poliklinik Psikiatri Rumah Sakit Persahabatan pada tanggal 29 November 2017 jam 10. datang bersama suaminya dengan keluhan sulit memulai tidur sejak 1 tahun lalu. Pasien juga merasa disentuh dibagian leher sejak cucunya meninggal sejak 1 minggu lalu. sehingga membuat pasien sulit memulai tidur membuat pasien terjaga sepanjang malam. Pasien takut anaknya akan mengalami kecelakaan seperti yang dia bayangkan.

Saat ini pasien sudah tidak bekerja hanya mengurus rumah sebagai ibu rumah tangga. Pasien juga merasa bahwa dia telah diguna-guna. Pasien memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. pasien mampu mengurus rumah tangganya dengan baik. Karena keluhan 1 tahun terakhir ini timbul kembali. tetapi pasien tidak rutin meminum obat walaupun keluhan pasien semakin berkurang. Menurut pengakuan pasien. namun pasien adalah pensiunan karyawan swasta di suatu perusahaan. Pasien mengaku tidak kembali berobat ke RSAL karena merasa jauh dari rumahnya dan merasa jenuh. pasien merasa cocok dengan obat tersebut dan tidak ada efek samping yang timbul. Lalu pasien mencoba memeriksakan dirinya ke polikinik jiwa di RSAL dan didiagnosa skizofrenia paranoid pada tahun 1983 dan diberi obat oleh dokter. pasien lahir secara normal tanpa ada gangguan mental dan kelainan bawaan lahir yang mengganggu kejiwaannya. Pasien merupakan anak ke sepuluh dari sepuluh bersaudara. tidak mencolok dan tidak berlebihan. otitis eksterna. Pasien juga mengaku sering merasa orang lain disekitarnya ada yang mencoba melukai dan menjahati dirinya. menikah dan mempunyai anak. Pasien memiliki riwayat mengkonsumsi obat yang diberikan oleh dokter di RSAL yaitu stelazin 5 mg dan artan 2 mg. Pasien tidak memiliki kelainan fisik ataupun penyakit bawaan lainnya. Pasien menyatakan bahwa seluruh . Pasien sering marah-marah ketika penyakitnya sedang kambuh. maka pasien mencoba kembali berobat ke RSUP Persahabatan. dispepsia. Pasien juga mengatakan bahwa merasa tersindir oleh presenter saat menonton televisi. Kedua anaknya sudah bekerja. asma dan kolesterol. dan 2 cucu. Pasien berfikir minum obat ketika penyakitnya sedang kambuh saja. Pasien memiliki riwayat asam urat. baru meminum obat. namun tiga orang kakak pasien sudah meninggal.menjelek-jelekan dirinya tetapi tidak diketahui sumbernya. Pasien merasa keluhan-keluhannya berkurang saat pasien mengkonsumsi obata-obatan yang diberikan oleh dokter. Pasien berpenampilan rapih. Pasien juga mengatakan bahwa pikirannya dapat dibaca oleh orang lain. Dalam kehidupan keseharian pasien tidak mempunyai masalah dalam rumah tangganya. Sedangkan cucunya 1 meninggal karena kelainan paru dari anak ke 2 nya sejak 1 minggu lalu. bersih dan sopan sesuai dengan usianya.

menunjukkan tidak ada gangguan memori jangka panjang. lalu dokter menanyakan beberapa pertanyaan lain untuk mengalihkan pembicaraan. Pasien menyatakan tidak terdapat keluhan serupa pada keluarga pasien. orang dan situasi pasien baik. Pasien juga mengatakan bersekolah SD sampai SMA di Jawa Tengah. masih masih dapat menjawab tiga benda tersebut dengan cepat dan benar. apa yang akan dilakukan pasien? Pasien menjawab bahwa pasien akan memanggil bantuan dan mencoba menolong anak tersebut. tempat. Kemudian hasil dari pengurangannya dikurangi 7 sampai 3 kali dan pasien dapat menjawab dengan baik. saat pasien diberi pertanyaan hitung matematika 100 dikurangi 7. Pasien dapat mengulang tiga benda tersebut dengan baik. Pasien kemudian ditanyakan tentang pengetahuan umumnya. tempat dan apa yang dilakukan sekarang. Pasien juga mampu menjawab kendaraan apa yang dinaikinya pagi ini yaitu pasien menaiki angkutan umum bersama suaminya. pasien dapat menjawab dengan cepat. pasien ditanyakan tentang pengetahuan umumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa orientasi waktu. pasien dengan cepat menjawab “Soekarno” hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan pasien baik. Kemudian untuk pemeriksaan fungsi otak. Hal ini menandakan pasien mampu memberi tahu tempat sekolah pasien sejak pasien masih bersekolah. Kemudian pasien diberikan pertanyaan untuk mengetahui daya nilai yang dimiliki pasien melalui sebuah ilustrasi kasus yaitu ketika melihat anak kecil berumur 5 tahun terjebak di kali. maka didapatkan tidak terdapat gangguan memori segera pada pasien. Saat pasien ditanyakan waktu. Menunjukkan bahwa fungsi kognitif aritmatika pasien baik. Dokter menanyakan ulang tentang tiga benda yang tadi dokter sebutkan. Pasien juga diminta untuk mengulang tiga nama benda yang diucapkan oleh dokter yaitu kertas. bertempat di poli psikiatri RSUP Persahabatan dan sedang berobat. pasien ditanyakan siapakah presiden pertama Indonesia. Purworejo lalu pindah ke Jakarta tahun 1974. buku. dan sekarang tinggal di Cakung. pulpen. pasien dapat menjawab siang hari. pasien ditanyakan beberapa pertanyaan.saudaranya bekerja dan cukup sukses dibidangnya masing-masing. . Menunjukkan bahwa tidak terdapat gangguan memori jangka pendek.

Ketika ditanya bagaimana perasaan pasien selama dua minggu terakhir ini. daya pikir abstrak. Pasien menyatakan tidak adanya rasa senang berlebih. aktivitas berlebih ataupun perasaan tidak ingin untuk beraktifitas. sedangkan panjang tangan suka mencuri”. Maka dari itu dapat diartikan bahwa pada pasien ini tidak didapatkan adanya gangguan mental organik. mengetahui penyebab sakitnya dan merasa membutuhkan obat. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan seperti yang sudah disebutkan diatas. Maka pasien ini bukan penderita gangguan neurotik. mudah lelah. pasien menjawab bahwa pasien merasa kacau. . Pasien menyatakan bahwa pasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol dan tidak mengkonsumsi NAPZA. Kemudian pasien diminta untuk menerangkan apa arti pribahasa untuk menilai uji daya abstrak “apa perbedaan tangan panjang dengan panjang tangan” pasien menjawab “tangan panjang artinya suka memberi. Pasien mengetahui bahwa dirinya sakit. orientasi. gangguan somatoform dan gangguan terkait stress. kehilangan tenaga dari itu diartikan bahwa tidak terdapat gangguan mood berupa manik maupun depresi pada pasien. dan daya nilai pasien ditemukan baik. Sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pada pasien ini tidak terdapat disfungsi otak. Pasien juga tidak memiliki keluhan-keluhan fisik yang berulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik sehingga pasien dinyatakan bukan penderita somatoform. hilang tenaga ataupun nyeri otot sehingga pasien ini bukan penderita neurotik. Pasien juga tidak memiliki keluhan rasa lelah. sedih dan malas beraktivitas. pasien dapat menjawab dengan benar menunjukkan bahwa fungsi kognitif. Pasien juga menyatakan bahwa pasien tidak merokok. Pasien juga tidak mengeluhkan adanya kecemasan yang memuncak ataupun yang datang setiap hari disertai dengan ketegangan otot dan overaktivitas otonom sehingga pasien dinyatakan bukan penderita gangguan terkait stress.

Riwayat Gangguan Sebelumnya 1. Ketika pasien ditanyakan keinginannya. Riwayat pendidikan Pasien dapat menyelesaikan sekolah sampai jenjang SMA. Pasien mudah bergaul dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya dan ketika sekolah memiliki banyak teman. 2. Riwayat penggunaan NAPZA dan Alkohol Pasien tidak pernah menggunakan alkohol. Riwayat Gangguan Medik Pasien memiliki riwayat asam urat. Riwayat masa remaja Pasien dapat bersosialisasi dengan baik. dispepsia. 3. 3. Riwayat gangguan Psikiatri Sebelumnya pasien tidak pernah memiliki keluhan seperti ini. pasien menjawab: ingin membelikan rumah untuk anaknya. 4. asma dan kolesterol. Riwayat masa anak-anak Tumbuh kembang pasien baik. pasien memiliki banyak teman. C. Riwayat prenatal Pasien lahir secara normal. Pasien juga menyatakan tidak pernah merokok. dan mudah menyesuaikan diri dengan teman-teman di lingkungannya. Pasien tidak pernah menggunakan NAPZA. tidak ada ketertinggalan perkembangan sensorik dan motorik. ingin sehat jasmani maupun rohani dan ingin sembuh. . Riwayat Kehidupan Pribadi 1. 2. tanpa ada penyulit pada proses kehamilan dan persalinan. D. otitis eksterna.

Riwayat pernikahan Pasien sudah menikah. Riwayat beragama Pasien beragama Islam yang rajin beribadah dan menjalankan solat 5 waktu. saat ini sebagai ibu rumah tangga. Pasien saat ini bekerja sebagai ibu rumah tangga. Kebutuhan sehari-hari dapat tercukupi dengan baik dari penghasilan pensiunan terkadang dari anaknya.5. 8. Riwayat keluarga Pasien mengaku di keluarganya tidak memiliki keluhan serupa dengan pasien. Pasien juga memiliki banyak teman. Persepsi pasien tentang dirinya dan kehidupannya Keinginan pasien saat ini adalah ingin membelikan rumah untuk anaknya. ingin sehat jasmani maupun rohani dan ingin sembuh. Situasi sosial sekarang Pasien tinggal bersama suaminya. 6. 10. . 11. 7. Aktivitas sosial Pasien memiliki banyak teman dan kerabat disekitar tempat tinggalnya. 9. Riwayat pekerjaan Pasien pernah bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan tetapi sudah tidak bekerja lagi. memiliki dua anak dan tinggal di rumah pribadi.

Keadaan Afektif 1. Afek : luas 3. tenang. Sikap terhadap pemeriksa Pasien kooperatif. Pengetahuan umum pasien cukup baik untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dokter. cukup rapih  Cara berjalan: dapat berjalan sendiri dengan baik tanpa bantuan  Aktivitas psikomotor: kooperatif. rapih. Datang ke RSUP Persahabatan datang bersama suaminya. Penampilan Perempuan usia 62 tahun. pasien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan dokter dan mengungkapkan isi hati dan keluhan pasien  Kualitas : baik. keserasian : serasi 4. mau menjawab pertanyaan pemeriksaan dengan baik. bicara spontan. . volume cukup. isi pembicaraan dapat dimengerti 4.III. kontak mata baik. pengetahuan umum. Fungsi Intelentual dan Kognitif 1. dan tidak terdapat gerakan-gerakan involunter 3. B. STATUS MENTAL A. Taraf pendidikan. Perilaku dan aktivitas psikomotor  Cara bepakaian: baik. Berpenampilan sesuai usianya.  Keadaan umum: compos mentis  Kontak psikis: kontak psikis baik. Mood : biasa saja 2. dan kecerdasan Pendidikan terakhir pasien saat ini adalah SMA. komunikasi baik 2. Deskripsi Umum 1. Pembicaraan  Kuantitas : baik. artikulasi jelas. dapat menjawab pertanyaan dengan baik. terlihat tenang dan sopan. empati . pemeriksa tidak dapat merasakan apa yang dirasakan pasien C.

mengetahui sedang berbicara dengan dokter dan rekan-rekan  Situasi Baik. pasien dapat mengulangi 3 nama benda yang dokter ucapkan dan dapat mengulanginya lagi pada beberapa saat kemudian . pasien mengetahui bahwa sedang konsultasi dengan dokter dan tujuan datang ke poliklinik psikiatri untuk konsultasi atas masalah yang dikeluhkannya 4. pasien ingat datang berobat sendiri mengendarai mobil sampai ke RSUP Persahabatan  Daya ingat segera Baik.2. pasien secara kooperatif menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik serta menjawab hitungan aritmatika dengan benar dan daya konsentrasi yang baik. Orientasi  Waktu Baik. mengetahui waktu saat dilakukan tanya jawab yaitu pada siang hari. Daya ingat  Daya ingat jangan panjang Baik. pasien masih dapat mengingat jenjang pendidikan saat SD hingga SMA  Daya ingat jangka pendek Baik. 3. Daya konsentrasi Daya konsentrasi pasien optimal. 29 November 2017  Tempat Baik. mengetahui tempat saat dilakukan Tanya jawab yaitu di Poliklinik Psikiatri RSUP Persahabatan  Orang Baik.

Kontinuitas: baik 2. Isi pikiran a. Depersonalisasi: tidak ada b. Halusinasi  Halusinasi auditorik: ada  Halusinasi visual: ada  Halusinasi olfaktori: tidak ada  Halusinasi gustatory: tidak ada  Halusinasi taktil: ada 2. Thought of broadcasting: ada F. dapat bergaul dengan lingkungan sekitar . Derealisasi: tidak ada E. Gangguan pikiran 1. Produktivitas: baik b. Delusion of persecution: tidak ada 5. Daya Nilai 1. Proses Pikir 1. Norma sosial Baik. Arus pikir a. Gangguan Persepsi 1.D. Delusion of grandiosity: tidak ada 4. pasien tampak tenang pada proses Tanya jawab dan tidak terdapat gerakan involunter G. Delusion of control: tidak ada 2. Pengendalian Impuls Baik. Delusion of reference: ada 3. Preokupasi: tidak ada b. depersionalisasi dan derealisasi a.

RR: 20x/m  Sistem kardiovaskular: asam urat. Uji daya nilai Baik. apa yang akan dilakukan pasien?” Pasien menjawab bahwa pasien akan mencari bantuan dan berusaha menolong anak tersebut. Penilaian realitas Baik. Status Generalis  Keadaaan umum: baik. PEMERIKSAAN FISIK a. IV. saat ini pasien tidak memiliki gangguan realita. HR: 96x/M. 3. Tilikan Pada pasien ini memiliki tilikan derajat 5 yaitu menyadari penyakitnya dari faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perilaku praktisnya. I. kolesterol  System otolaringologi: otitis eksterna  Sitem endokrinologi: kesan tidak ada kelainan . H.2. Taraf dapat Dipercaya Pemeriksan memperoleh kesan secara menyeluruh bahwa jawaban pasien dapat dipercaya karena konsistensi jawaban pasien dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dari awal proses tanya jawan hingga akhir tanya jawab. Pasien datang dan menyebutkan keluhan atas keinginan diri sendiri untuk sembuh. saat pasien diberikan pertanyaan “apabila pasien melihat ada anak kecil berusia 5 tahun terjebak di kali. J. pasien tidak memiliki keluhan halusinasi dan keluhan waham. Persepsi Pemeriksa terhadap Diri dan Kehidupan Pasien Pasien menyadari dirinya sakit dan ingin sembuh. compos mentis  Tanda vital: TD: 130/90 mmHg.

 Pasien tidak memiliki riwayat masalah pada kesadaran. dan orientasi  Mood pasien biasa. pasien tidak pernah mengkonsumsi alkohol dan merokok  Pasien mengatakan sering mendengar suara berbunyi “crik-crik” namun tidak ada sumbernya.  Sistem gastrointestinal: dispepsia  Sistem musculoskeletal: kesan tidak ada kelainan  Sistem vestibular: kesan tidak ada kelainan  Sistem dermatovenereologi: kesan tidak ada kelainan  Sistem urogenital: kesan tidak ada kelainan  Ekstremitas: kesan tidak ada kelainan  Gangguan khusus: tidak ada b. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA  Pasien seorang perempuan 62 tahun datang dengan keluhan sulit memulai tidur dikarenakan takut anaknya kecelakaan. dan segera pasien baik  Pasien tidak pernah mengkonsumsi NAPZA. Pasien sering melihat bayangan hitam tetapi orang lain tidak dapat melihat bayangan tersebut. daya ingat jangka panjang. pendek. afek luas  Memori jangka panjang. Pasien mengaku sering membayangkan orang kecelakaan. Pasien juga mengaku sering mendengar suara laki-laki yang suka menjelek-jelekan dirinya tetapi tidak diketahui sumbernya. fungsi kognitif. Status Neurologis  Saraf cranial: kesan tidak ada kelainan  Saraf motorik: kesan tidak ada kelainan  Sensibilitas: kesan tidak ada kelainan  Saraf vegetatif: kesan tidak ada kelainan  Fungsi luhur: kesan tidak ada kelainan  Gangguan khusus: kesan tidak ada kelainan V. Pasien juga merasa disentuh dibagian leher sejak cucunya meninggal sejak 1 minggu lalu. .

0). . Pasien juga merasa bahwa dia telah diguna-guna. keinginan untuk bunuh diri dan kehilangan minat. Pasien juga mengatakan bahwa pikirannya dapat dibaca oleh orang lain. gangguan somatoform dan gangguan terkait stress  Pasien sudah menikah dan memiliki 2 orang anak dan 2 cucu  Pasien lahir dengan normal  Tumbuh kembang pasien baik  Pasien dapat menyelesaikan pendidikan di SMA  Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal serupa  Pasien saat ini bekerja sebagai ibu rumah tangga  Sumber perekonomian pasien berasal dari penghasilan pensiunan dan terkadang dari anak-anaknya  Pada pasien ini masih ditemukan gejala ringan dan menetap. Pasien juga mengatakan bahwa merasa tersindir oleh presenter saat menonton televisi.  Pasien tidak merasakan kesedihan yang mendalam. daya konsentrasi. dan orientasi serta pertanyaan seputar pengetahuan umum yang di dapat pasien baik. terdapat gejala yang menimbulkan penderitaan bagi pasien. Sehingga pasien bukan penderita gangguan mental organik (F. disabilitas ringan dalam fungsi. secara umum masih baik VI. Pasien tidak merasakan kesenangan dan peningkatan aktivitas berlebihan  Pasien tidak memiliki keluhan yang berkaitan dengan gangguan neurotik. Diagnosis Aksis I  Tidak ditemukannya penyakit (gangguan fisik) yang menyebabkan disfungsi otak. Hal ini dinilai dari kesadaran. FORMULASI DIAGNOSTIK Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pasien.  Pasien juga mengaku sering merasa orang lain disekitarnya ada yang mencoba melukai dan menjahati dirinya. Maka disimpulkan pasien menderita gangguan jiwa A.

30). terdapat halusinasi dan waham pada pasien.10). kehilangan minat. Pasien juga mengatakan bahwa merasa tersindir oleh presenter saat menonton televisi. maupun tidak ditemukan ciri manik yaitu peningkatan pada afek. Pasien juga mengatakan bahwa pikirannya dapat dibaca oleh orang lain. dan ide-ide bunuh diri. Pasien juga mengaku sering mendengar suara laki-laki yang suka menjelek-jelekan dirinya tetapi tidak diketahui sumbernya. Pasien sering melihat bayangan hitam tetapi orang lain tidak dapat melihat bayangan tersebut. aktivitas mental dan psikomotor yang berlebih pada pasien oleh karena itu pasien tidak memiliki gangguan manik. Pasien juga mengaku sering merasa orang lain disekitarnya ada yang mencoba melukai dan menjahati dirinya. kurang senang/gembira. Pasien juga merasa disentuh dibagian leher sejak cucunya meninggal sejak 1 minggu lalu. Tidak ditemukannya riwayat penggunaan zat psikoaktif berdasarkan anamnesis maka pasien termasuk bukan penderita gangguan mental dan perilaku akibat zat psikoaktif atau alkohol (F. Sehingga pasien merupakan pasien dalam Gangguan Psikotik yang berupa Skizofrenia Paranoid (F20. Dari anamnesis pasien ini didapatkan halusinasi serta waham. mudah lelah. karena pasien ini tidak memiliki gangguan depresi dan gangguan manik maka pasien bukan penderita gangguan mood (F.0) .  Ditemukan gangguan dalam menilai realita. oleh karena itu pasien bukan gangguan depresi. Pasien juga merasa bahwa dia telah diguna-guna.  Pasien mengatakan sering mendengar suara berbunyi “crik- crik” namun tidak ada sumbernya.20)  Tidak ditemukannya ciri depresi yaitu penurunan afek. maka dapat disimpulkan pasien menderita gangguan psikotik (F.

Pasien dapat bersekolah dari SD – SMA. otitis eksterna . gemetaran dan tidak dapat santai). Diagnosis Aksis III Dari anamnesis dan hasil dari rekam medik didapatkan pasien menderita asam urat. keluhan lambung. berkeringat. tidak ditemukannya ketegangan motorik (gelisah. C. overaktivitas otonom (kepala terasa ringan. maka pasien tidak terdapat retardasi mental.  Pasien tidak memiliki keluhan rasa lelah. B. Pasien juga tidak ditemukan adanya rasa cemas dan gelisah yang tidak beralasan sehingga dapat menimbulkan gangguan dalam hidupnya yaitu sulit tidur. maka aksis III pada pasien ini adalah asam urat. hilang tenaga ataupun nyeri otot sehingga pasien ini bukan penderita neurotik. dispepsia. dyspepsia. gangguan somatoform dan gangguan terkait stress (F. sakit kepala. Pasien juga tidak memiliki keluhan-keluhan fisik yang berulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medic. Karena tidak ada gangguan kepribadian dan retardasi mental. mulut kering) sehingga pasien dinyatakan bukan penderita gangguan terkait stress. pusing kepala. maka aksis II tidak ada diagnosis. Diagnosia Aksis II Saat dilakukan anamnesis didapatkan. Pasien mampu menjawab pertanyaan matematika sederhana. kolesterol. pasien mampu bersosialisasi dan memiliki banyak teman maka pada pasien ini tidak terdapat gangguan kepribadian. pengetahuan umum dan pengujian terhadap daya nilai dan abstrak. meskipun sudah berkali-kali hasilnya negatif sehingga pasien dinyatakan bukan penderita somatoform.40). jantung berdebar-debar. kolesterol. Maka pasien ini bukan penderita gangguan neurotik. sesak napas. otitis eksterna.

Pasien juga sering memikirkan cucunya yang telah meninggal sejak 1 minggu lalu. Diagnosis Aksis V Pada pasien terdapat gejala ringan dan menetap.61. kolesterol. II. Daftar Problem A. Aksis III : asam urat. disabilitas ringan dalam fungsi. dispepsia. otitis eksterna B. dispepsia. Prognosis A.61 III. Prognosis ke arah baik  Menyadari keadaannya bahwa ia sakit  Adanya motivasi pasien untuk berobat  Pasien mau minum obat  Adanya akses BPJS . kolesterol. Maka aksis IV di dapatkan diagnosis adanya masalah psikososial yaitu cucu meninggal sejak 1 minggu lalu E. Aksis IV : cucu meninggal sejak 1 minggu lalu E. Organobiologik : asam urat. Masalah psikososial : cucu meninggal sejak 1 minggu lalu D. Aksis II : tidak ada diagnosis C. Evaluasi Multiaksial A. Diagnosis Aksis IV Pasien mengalami keluhan sulit memulai tidur sejak 1 tahun yang lalu. otitis eksterna D. secara umum masih baik. D. Masalah psikologi : sulit untuk memulai tertidur C. Sosioekonomi : tidak ada IV.0) B. maka pada Aksis V didapatkan GAF scale 70 . Aksis V : GAF scale 70 . Aksis I : skizofrenia paranoid (F20.

Psikoterapi  Pemeriksa mengedukasi pasien tentang penyakitnya dan cara mengatasinya  Meminta pasien untuk meminum obat teratur  Kontrol rutin ke dokter setiap bulan  Mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara rajin beribadah  Perbanyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan refreshing . Farmakoterapi  Risperidon 2 x 2 mg tablet  Trihexyphenidyl 2 x 2 mg tablet B. .  Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama atau penyakit genetika B. maka pasien sering marah-marah Berdasarkan data-data diatas dapat disimpulkan prognosis pasien adalah  Ad vitam : dubia ad bonam  Ad functionam : dubia ad bonam  Ad sanationam : dubia ad malam V. keluhan utama dirasakan sudah 34 tahun  Adanya beban pikiran cucu meninggal sejak 1 minggu lalu  Jika obat dihentikan. Prognosis ke arah buruk  Penyakit sudah berjalan lama. Edukasi mengenai sleep hygiene :  Lakukan aktivitas atau olahraga di siang hari agar ketika malam lelah dan mudah mengantuk. Terapi A.

karena jika ada TV pasien akan merasa naman menonton dan terus terjaga. jika pasien ingin menonton TV baiknya di luar kamar.  Jangan olahraga saat hendak mau tidur karena adrenalin dapat bekerja sehingga mengaktivasi proses berpikir.  Tempat tidur harus lurus agar posisi tidur pasien nyaman.  Ketika malam hari jangan membahas hal yang berbau konflik agar ketika tidur tidak berpikir tentang topik tadi. jika terang maka retina mata akan terstimulus sehingga terbangun. agar malam hari dapat tertidur dengan mudah.  Ketika malam jangan meminum kopi maupun teh kental. dianjurkan untuk makan sebelum jam 7 agar tidak terjadi gangguan dispepsi atau pencernaan saat tidur. Jangan tidur siang.  Jangan ada TV di dalam kamar.  Sebelum tidur jangan menonton film yang menakutkan.  Jangan meminum obat yang mengandung stimulan  Jangan memakan karbohidrat tinggi seperti nasi padang ketika malam hari.  Matikan lampu ketika tidur. .

2013. 2014. DR. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Sp. DR. Cetakan Kedua. Rusdi. Jakarta.KJ. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta. Jakarta. . Rusdi. DAFTAR PUSTAKA Muslim.KJ. FK UI. Muslim. Sp. Sp. 2014. Cetakan Keempat. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa.KJ. Muslim. Rusdi. DR.