You are on page 1of 2

Moral Kerja

Dalam usaha untuk memperkembangkan diri dan untuk mencapai tujuan hidup
jelaslah bahwa kerja memegang peranan pokok dalam hidup manusia. Maka dari itu diantara
seribu satu macam jenis milik, kerja merupakan milik manusia paling besar, dan paling
utama, sebab milik-miliknya itu tercapainya mengandaikan diri kerja lebih dahulu. Para bapa
konsili tanpa ragu-ragu menegaskan bahwa kerja merupakan unsure paling dasar dn paling
tinggi dalam kehidupan ekonomi (bdk GS 67,1).

Memang dalam alam ciptaan tuhan telah menyediakan kebutuhan manusia secara
berlimpah-limpah, akan tetapi hampir semuanya dalam bentuk belum selesai, dalam bentuk
mentah, belum dapat terus digunakan untuk mencukupi kebutuhan manusia secara langsung,
dengan tujuan agar supaya agar manusia mengerjakan pemberian itu dan dengan demikian
pemberin tersebut dirubah menjadi milik pribadi orang yang mengerjakannya dan mungkin
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara pribadi juga. Demikian sekaligus juga Nampak
bahwa kerja merupakan penerusan dari karya sang pencipta sendiri (bdk GS 34,1 dan 67,2).
Maka dari itu kerja pertama-tama dapat dipandang sebagai cara biasa manusia melaksanaan
panggilan hidupnya, dengan mana manusia melaksanakan kehendak allah atas dirinya, untuk
merealisir serta memperkembangkan diri. Dan dari kebenaran inilah timbul kewajiban untuk
bekerja.

1. Kewajiban untuk berkerja

Bila bekerja merupakan jalan yang paling biasa untuk mencukupi kebutuhan hidup, maka
sebagai konsekwensi langsung: setiap orang wajib bekerja sejauh itu mungkin untuk
mencukupi kebutuhannya sendiri. Akan tetapi kewajiban untuk bekerja itu tidak boleh
dipandang melulu dari segi untuk memenuhi kebutuhan hidup secara jasmaniah, melainkan
juga harus disimpulkan dari kebenaran bahwa bekerja merupakan jalan untuk merealisir cinta
kasih terhadap sesame hidup harian yang konkrit untuk memenuhi panggilan hidup. Pius XII
degan jelas merumuskan kebenaran ini:

“Setiap manusia tak terkecuali pria dan wanita yang mendedikasikan hidupnya bagi hidup
kontemplatif diwajibkan melakukan pekerjaan, entah itu berupa kerja tangan entah kerja
pikiran. Kewajiban ini bukannya atas dasar tuntutan kodrat belaka (kej 2:15;3:19;2 Tes 3:10),
melainkan juga atas dasar kewajiban kita untuk melakukan perbuatan silih dan penyuci (kej
3:19). Kecuali itu, kerja adalah paling umum menyeluruh untuk melindungi roh dari bahaya
dan mengangkatnya ke hal-hal yang lebih luhur” (kons.Sponsa Christi, AAS 43/1951/13).

Untuk menunjukan unsur penebusan dan penyucian dari pekerjaan itu KV II menunjukan
teladan kristus sendiri (bdk GS 67,2), dan atas dasar kebenaran ini. KV II secara istimewa
kewajiban rohaniawan dan rohaniawati untuk bekerja guna mencukupi kebutuhan hidup
mereka yang sekaligus mempunyai unsure penebusan dan penyucian itu :

“Di dalam melakukan kewajiban-kewajiban mereka sendiri kaum rohaniawan hendaknya


merasa dirinya terikat pada undang-undang kerja yang berlaku untuk umum dan seraya
memperoleh apa yang diperlukaannya bagi nafkah dan pekerjaan mereka,..” (PC 13)
Kerja memang mempunyai milik unsur beban dan merupakan perbuatan silih (bdk GS 67,2),
akan tetapi sekaligus juga menjadi sumber kegembiraan dan peningkatan hidup social. Setiap
pekerjaan yang mempunyai arti social, baik itu kerja tangan maupun kerja pikiran, pantas
menerima penghormatan. Dan setiap orang, sejauh ia mungkin, wajib melakukan pekerjaan
yang mempunyai arti social, yang berguna bagi masyarakat. Kerja tidak pernah boleh
dibelokan sehingga merupakan aktivitas melulu bersifat “play boy” yang sama sekali tidak
ada gunanya bagi masyarakat. Kerja yang sungguh-sungguh direncanakan dan dipikiran baik-
baik sebetulnya menuntut adanya disiplin yang kuat dan selalu sadar akan tujuan yang
berdasarkan prinsip umum: pertama-tama yang perlu, lalu yang berguna, baru kemudian yang
menyenangkan.

Spesialisasi kerja modern yang menjadi mekanis dan monotone adanya dapat merampas sifat
gembira dari pekerjaan, membunuh inisiatif pribadi, sehingga dapat terjadi untuk pribadi
tertentu akan merupakan siksaan yag paling kejam, sebab semuanya ditentukan secara
mekanis, serba bergegas-gegas, sifat manusiawi dari kerja hilang sama sekali. Maka dari itu
setiap pengusaha dari segi kesusilaan mempunyai kewajiban untuk mengembalikan sifat
gembira kedalam pekerjaan, mengembalikan adanya perasaan bahwa hasil kerjanya itu
memang hasil ciptaan pribadinya bukannya hasil dari mesin dan dia sendiri manjadi budak
yang melayani mesin dalam arti yang sebenarnya.

Secara singkat dapat dikatakan:

1. Adanya kewajiban etis yang memilih jabatan dengan penuh tanggung jawab. Wajib sejauh
mungkin memilih jabatan yang sesuai dengan bakat serta kemampuannya, yang paling
menguntungkan diri sendiri dan masyarakat.

2. kewajiban secara etis untuk mepersiapkan diri dengan penuh tanggung jawab (bdk PT 148;
GS 72). Makin penting jabatan orang miskin besar tangggung jawabnya. Jika diperlukan
ijasah, menjadi kewajiban cukup mendesak untuk memperoleh dengan jujur.

3. kewajiban etis menuntut agar supaya setiap pekerjaan mempunyai unsur pengabdian
terhadap sesame, solidaritas dan akhirnya merupakan bagi Tuhan. Supaya tetap dapat
dipertanggung jawabkan perlu adanya refresing, melanjutkan studi, melatih keterampilan dll.

2. Hak untuk bekerja


3. Hak terhadap hasil kerja
4. Kerja, istirahat dan pesta