You are on page 1of 3

BAB IV

ANALISA KASUS

Berdasarkan autoanamnesis yang telah dilakukan pada Tn. S usia 59th pada tanggal
22 Juni 2015, Os datang dengan keluhan nyeri dada sejak 5 jam SMRS. Nyeri dada
akut perlu dipastikan secara cepat dan tepat apakah pasien menderita infark miokard
atau tidak. Nyeri dada tipikal (angina) disebabkan oleh iskemia miokardium, pada
pasien ini didapatkan nyeri dada tipikal angina yaitu :
 Lokasi : dirasakan pada seluruh bagian dada, Os tidak bisa menunjuk lokasi
nyeri.
 Sifat nyeri : rasa terhimpit
 Penjalaran : disangkal
 Nyeri tidak membaik atau hilang dengan istirahat
 Nyeri semakin bertambah dan tidak dipengaruhi oleh gerakan tertentu
 Gejala yang menyertai : mual, keringat dingin, nyeri ulu hati, lemas, palpitasi
Dari anamnesis dapat disingkirkan penyakit lain dengan manifestasi nyeri dada yaitu

 perikarditis akut  nyeri biasanya bersifat tajam dan pleuritik, menjalar ke
trapezius, nyeri berkurang dengan mencondongkan badan ke depan dan terasa
semakin berat dengan tidur telentang.
 emboli paru  Nyeri dada (dirasakan dibawah tulang dada atau pada salah
satu sisi dada, sifatnya tajam atau menusuk), nyeri semakin memburuk jika
penderita menarik nafas dalam, batuk, makan atau membungkuk
 diseksi aorta akut  Nyeri umumnya berlokasi di tengah dada dan di
punggung. Tidak jarang pula lokasi dari pusat nyeri berubah sebagaimana
diseksi meluas ke arah antegrad maupun retrograde dan “nyeri berpindah”
("migratory pain"), nyeri seperti disobek” ("ripping" atau "tearing") dan
bersifat menetap (konstan) dengan intensitas nyeri tertinggi pada waktu awal
onset.
 nyeri otot  biasanya nyeri setelah aktivitas berat atau olahraga dan nyeri
bila disentuh atau ditekan.

46

 Merokok  dapat merangsang proses arteriosklerosis karena efek langsung terhadap dinding arteri. Karbon monoksid (CO) dapat menyebabkan hipoksia jaringan arteri. O2 nasal kanul 4 liter/menit. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat ditegakan diagnosa Non-ST elevation myocard infarct (NSTEMI) dan Fibrilasi Atrial rapid respone. Faktor risiko yang didapatkan dari pasien yaitu :  Hipertensi  hipertensi yang menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria. 47  gangguan intestinal  Nyeri dada hilang timbul dan sangat dipengaruhi oleh makanan.  Laki-laki  Kurang olahraga Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan Pada pemeriksaan penunjang ditemukan :  EKG  ditemukan NSTEMI 1-6 % EKG normal dan Fibrilasi Atrial  Peningkatan CKMB  Peningkatan konsentrasinya yang cepat merupakan penanda SKA  Peningkatan Troponin I  protein yang ditemukan dalam sel-sel jantung yang dilepaskan ketika mereka rusak oleh iskemia atau suplai darah yang berkurang. Dari anamnesa. sehingga memudahkan terjadinya arterosklerosis koroner (faktor koroner). dengan makan nyeri berkurang atau bertambah secara nyata. nikotin menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambahkan reaksi trombosit dan menyebabkan kerusakan dinding arteri. . nitrat pertama kali harus diberikan sublingual atau spray bukal jika pasien mengalami nyeri dada iskemia. Pada pasien ini diterapi dengan bed rest. sedang glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensititif dinding arteri. IVFD RL 10 tetes/ menit. Farmakologi berupa : Terapi antiiskemia :  ISDN Tab 3 x 5 mg per oral untuk menghilangkan nyeri dada dan mencegah nyeri dada berulang.

 Dosis initial loading dose Clopidogrel 300 mg. Mirip dengan UFH dan LMWH. Ranitidin 2 x 50 mg IV untuk mengurangi sekresi asam labung  Alprazolam Tab 1 x 0. Arixtra 1 x 2. yang dapat menimbulkan penghambatan terhadap agregasi platelet. adhesi platelet dan pembentukan trombus melalui penekanan sintesis tromboksan A2 dalam trombosit. fondaparinux mencegah generasi trombus dan pembentukan bekuan dengan menghambat faktor Xa aktivitas tidak langsung melalui interaksinya dengan antitrombin. diikuti dengan satu kali sehari satu tablet 75 mg (dikombinasikan dengan aspirin 75-325 mg satu kali sehari satu tablet). yang sekaligus dapat menghambat aktivasi kompleks glikoprotein GPIIb/IIIa yang dimediasi oleh ADP. Ketika fondaparinux mengikat antitrombin itu menyebabkan perubahan konformasi permanen situs aktif antitrombin dan mengkatalisis kegiatan Xa antifactor oleh sekitar 300 kali lipat. .25 mg per oral sebagai anti ansietas) Secara umum penegakan diagnose dan tatalaksana pada Tn.5 mg per oral merupakan penghambat reseptor β-1 adrenergik utama (bersifat kardioselektif) tanpa aktivitas stimulasi reseptor β- 2 (yang ada di pernapasan) sehingga mencegah adrenalin menempel pada reseptornya di jantung sehingga kerja jantung menjadi lebih ringan dan berdampak pada turunnya tekanan darah Terapi anti trombotik  Aspilet 1 x 80 mg per oral untuk mengurangi agregasi trombosit. Pada pasien ini dianjurkan untuk evaluasi ekg. Terapi lainnya  Inj. U telah sesuai dengan keperpustakaan. 48  Bisoprolol 1 x 2.  Clopidogrel 1 x 75 mg per oral merupakan antiagregasi trombosit atau antiplatelet yang bekerja secara selektif menghambat ikatan Adenosine Di- Phosphate (ADP) pada reseptor ADP di platelet.5 mg diberikan selama 5 hari SC merupakan antikoagulan yang selektif menghambat faktor xa activity. Terapi antikoagulan  Inj.