You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air adalah salah satu dari materi yang dibutuhkan untuk menjaga
kelangsungan hidup makhluk hidup dan juga menjadi salah satu sumber penyebab
dari penyakit yang menyerang manusia. Hal utama yang perlu diperhatikan dalam
mengolah air yang akan dikonsumsi adalah menyediakan air yang aman
dikonsumsi dari segi kesehatan. Sumber air, baik air permukaan maupun air tanah,
akan terus mengalami peningkatan kontaminasi pencemar disebabkan
meningkatnya aktivitas pertanian dan industri.
Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi
dan adsorbs. Air sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur koloidal
dan kemungkinan juga mengandung zat-zat warna, zat pencemar seperti limbah
detergen dan pestisida (Anonim, 2012).
Proses Penjernihan air bertujuan untuk menghilangkan zat pengotor atau
untuk memperoleh air yang kualitasnya memenuhi standar persyaratan kualitas air
seperti menghilangkan gas-gas terlarut, menghilangkan rasa yang tidak enak,
membasmi bakteri patogen yang sangat berbahaya, mengelolah agar air dapat
digunakan untuk rumah tangga dan industri, memperkecil sifat air yang
menyebabkan terjadinya endapan dan korosif pada pipa atau saluran air lainnya
(Anonim, 2012).
Pengolahan air limbah secara fisik merupakan pengolahan awal (primary
treatment) air limbah sebelum dilakukan pengolahan lanjutan, pengolahan secara
fisik bertujuan untuk menyisihkan padatan-padatan berukuran besar seperti
plastik, kertas, kayu, pasir, koral, minyak, oli, lemak, dan sebagainya. Pengolahan
air limbah secara fisik dimaksudkan untuk melindungi peralatan-peralatan seperti
pompa, perpipaan dan proses pengolahan selanjutnya. Beberapa unit operasi yang
diaplikasikan pada proses pengolahan air limbah secara fisik diantaranya :
penyaringan (screening), pemecahan/grinding (comminution), penyeragaman
(equalization), pengendapan (sedimentation), penyaringan (flitration),
pengapungan (floatation) (Sumada, 2012).
1.2 Tinjauan Pustaka
1.2.1 Air
Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam
penularan penyakit, terutama penyakit perut. Supaya air masuk kedalam
tubuh manusia baik berupa minuman ataupun makanan tidak menyebabkan /
membawa bibit penyakit, maka pengolahan air baik berasal dari sumber, jaringan
transmisi atau distribusi sangat perlu dilakukan. Ditinjau dari sudut ilmu
kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi
kebetuhan masyarakat, karena penyediaan air bersih yang terbatas memudahkan
timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata – rata kebutuhan air setiap
individu per hari berkisar antara 150 – 200 liter atau 35 – 40 galon. Kebutuhan air
tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan
kebiasaan masyarakat (Sumada, 2012).

1.2.2 Karakteristik Fisik Air


a. Cahaya
Radiasi matahari yang dapat mencapai permukaan bumi ± 1.350
joule/detik/m2(watt), dengan kecepatan sekitar 186.000 mil/detik(299.790
km/detik). Panjang gelombang radiasi matahari adalah 150-3.200 nm, dengan
puncak panjang gelombang sekitar 480 nm. Radiasi dengan panjang gelombang
antara 400-700 nm di gunakan pada proses fotosisntesis. Radiasi tersebut dikenal
dengan sebutan cahaya tampak atau cahaya yang dapat dideteksi oleh mata
manusia (Anonim, 2012).
Cahaya yang mencapai permukaan bumi dan permukaan perairan
terdiri atas cahaya yang langsung berasal dari matahari dan cahaya yang
disebarkan oleh awan(yang sebenarnya juga disebabkan oleh cahaya matahari).
Jumlah radiasi yang mencapai permukaan perairan sanggat dipengaruhi oleh
awan, ketinggian dari permukaan laut,letak geografis,dan musim. Penetrasi
cahaya yang kedalam air sanggat dipengaruhi oleh intensitas dan sudut datang
cahaya,kondisi permukaan air, dan bahan-bahan yang terlarut dan tersuspensi di
dalam air. Cahaya matahari yang mencapai permukaan perairan tersebut sebagian
diserap dan di refleksikan kembali (Anonim, 2012).
Cahaya merupakan sumber energy utama dalam ekosistem perairan. Di
perairan cahaya memiliki dua fungsi utama (Anonim, 2012).
1. Memanasi air sehingga terjadi perubahan suhu dan berat jenis dan
selanjutnya menyebabkan pencampuran massa dan kimia air. Perubahan suhu
juga mempengaruhi tingkat kesesuaian perairan sebagai habitat bagi suatu
organism akuatik, karena setiap organism akuatik memiliki kisaran suhu
minimum dan maksimum bagi kehidupannya.
2. Merupakan sumber energy bagi proses potosintesis alga dan tumbuhan air

b. Temperatur
Temperatur suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian
dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara,penutupan awan, aliran,
dan kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika,
kimia, dan biologi badan air. Suhu juga sanggat berperan mengendalikan kondisi
ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas
dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya. Misalnya , algae dari filum
chloropphyta dan diatom akan tumbuh dengan baik pada kisaran suhu berturut-
turut 30-35oC dan 20-30oC. filum cyanophyta lebih dapat bertoransi terhadap
kisaran suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan chlorophyta atau diatom
(Anonim, 2012).
Peningkatan suhu menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air dan
sebaliknya. Selain itu peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan
metabolisme dan respirasi organism air, dan selanjutnya mengakibatkan
peningkatan konsumsi oksigen. Peningkatan suhu perairan sebesar 10oC
menyebabkan terjadinya peningkatan komsumsi oksigen oleh organism akuatik
sekitar 2-3 kali lipat. Namun, peningkatan suhu ini disertai dengan penurunan
kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen sering kali tidak mampu
memenuhi kebutuhan oksigen bagi organism akuatik untuk melakukan proses
metabolisme dan respirasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya
peningkatan dekomposisi bahan organic oleh mikroba. Kisaran suhu optimum
bagi pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20-30oC (Anonim, 2012).

c. Kecerahan dan Kekeruhan


Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan.. Tingkat kekeruhan
air tersebut dinyatakan dengan suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan secchi
disk. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai ini sanggat
dipengaruhi oleh keadaan cuaca,waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan
tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Pengukuran
kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah (Anonim, 2012).
Kekeruhan menggambarkan sifat oftik air yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat
didalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organic yang tersuspensi
dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan amoniak dan
organic yang berupa plankton dan mikroorganisme lain. Kekeruhan dinyatakan
dalam satuan unit turbiditas, yang setara dengan 1 mg/liter SiO2. Peralatan yang
pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas /kekeruhan adalah Jackson
Candler Turbidimeter, yang dikalibrasi dengan menggunakan silica. Pengukuran
kekeruhan dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter bersifat visual,
yaitu membandingkan air sampel dengan air standar (Anonim, 2012).
Padatan tersuspensi berkolerasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi
nilai padatan tersuspensi, nilai kekeruhan juga semakin tinggi. Akan tetapi,
tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan.
Missalnya, air laut memiliki nilai padatan terlalu tinggi, tetapi tidak berarti
memiliki kekeruhan yang tinggi (Anonim, 2012).

d. Warna
Warna perairan biasanya dikelompokan menjadi dua, yaitu warna
sesungguhnya dan warna tampak. Warna sesungguhnya adalah warna yang
disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut. Pada penentuan warna
sesungguhnya, bahan-bahan tersuspensi yang dapat menyebabkan kekeruhan
dipissahkan terlebih dahulu. Warna tampak adalah warna yang tidak hanya
disebabkan oleh bahan terlarut, tetapi juga oleh bahan tersuspensi. Warna perairan
ditimbulkan oleh adanya bahan organic dan bahan anorganik, karena keberadaan
plankton, humus, ion-ion logam(besi dan mangan), serta bahan-bahan lainnya.
Adanya oksidasi besi menyebabkan air berwarna kemerahan, sedangkan oksidasi
mangan menyebabkan air berwarna kecoklatan atau kehitaman. Kadar besi
sebanyak 0,3 mg/liter dan kadar mangan sebanyak 0,05 mg/liter sudah cukup
dapat menimbulkan warna pada perairan. Kalsium karbonat yang berasal dari
daerah berkapur menimbulkan warna kehijauan pada perairan. Bahan-bahan
organic, misalnya tanin, lignin, dan asam humus yang berasal dari dekomposisi
tumbuhan yang telah mati menimbulkan warna kecoklatan (Anonim, 2012).
Warna dapat menghambat penetrasi cahaya kedalam air dan
mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis. Untuk kepentingan keindahan,
warna air sebaiknya tidak melebihi 15 PtCo. Sumber air untuk kepentingan air
minimum sebaiknya memiliki nilai warna antara 5-50 PtCo. Perbedaan warna
pada kolam air menunjukan indikasi bahwa semakin dalam perairan, semakin
tinggi nilai warna karena terlarutnya bahan organic yang terkandung di dasar
perairan (Anonim, 2012).
Warna perairan pada umumnya disebabkan oleh pertikel koloid bermuatan
negative, sehingga penghilangan warna diperairan dapat dilakukan dengan
penambahan koagulan yang bermuatan positif, misalnya aluminium, dan besi.
Warna perairan juga dapat disebabkan oleh peledakan (blooming) fitoplankton
(algae). Fenomena peledakan salah satu jenis algae inilah yang menyebabkan
perairan memiliki warna yang sanggat berbeda dengan perairan disekitarnya.
Kondisi seperti ini diperairan laut dikenal dengan istilah red tide. Diperairan laut,
jenis algae yang mengalami peledakan pertumbuhan biasanya berasal dari filum
Cyanophyta (Anonim, 2012).

e. Solid (zat padat)


Padatan total (residu) adalah bahan yang tersisa setelah air sampel
mengalami evaporasi dan pengeringan pada suhu tertentu. Residu dianggap
sebagai kandungan total bahan terlarut dan tersustensi dalam air. Selama
penentuan residu ini, sebagian besar bikarbonat yang merupakan anion utama di
perairan telah mengalami transpormasi menjadi karbondioksida, sehingga
karbondioksida dan gas-gas lain yang menghilang pada saat pemanasan tidak
tercakup dalam padatan total (Anonim, 2012).

f. Konduktivitas
Konduktivitas (daya hantar listrik/DHL) adalah gambaran numeric dari
kemampuan air untuk meneruskan aliran listrik. Oleh karena itu, semakin banyak
garam-garam terlarut yang dapat terionisasi,semakin tinggi pula nilai DHL. Nilai
DHL berhubungan erat dengan nilai padatan terlarut total. Nilai TDS dapat
diperkirakan dengan mengalihkan nilai DHL dengan bilangan 0,55-0,75. Nilai
TDS biasanya lebih kecil dari pada nilai DHL. Pada penentuan nilai TDS, bahan-
bahan yang mudah menguap (volatile) tidak terukur karena melibatkan proses
pemanasan (Anonim, 2012).

1.2.3 Karakteristik Kimia Air


a. Besi
Pada perairan alami dengan pH sekitar 7 dan kadar oksigen terlarut yang
cukup, ion ferro yang bersifat mudah larut, dioksidasi menjadi ion ferri. Pada
oksidasi ini terjadi pelepasan elektron. Sebaliknya, pada reduksi ferri menjadi
ferro, terjadi penangkapan elektron. Proses oksidasi dan reduksi besi tidak
melibatkan oksigen dan hydrogen (Anonim, 2012).
Proses oksidasi dan reduksi besi melibatkan bakteri sebagai mediator.
Bakteri kemosintesisThiobacillus dan Ferrobacillus memiliki sistem enzim yang
dapat mentransfer elektron dari ion ferro ke oksigen, menghasilkan ion ferri, air,
dan energi bebas untuk sintesis bahan organik dari karbondioksida.
Metode fenantroline dapat digunakan untuk mengukur kandungan besi di dalam
air, kecuali terdapat fosfat atau logam berat yang mengganggu. Metode ini
dilakukan berdasarkan kemampuan 1,10-phenantroline untuk membentuk ion
kompleks setelah berikatan dengan Fe2+. Warna yang dihasilkan sesuai dengan
hukum Beer dan dapat diukur secara visual menggunakan spektrofotometer
(Anonim, 2012).

b. Fluorida
Sejumlah kecil fluorida menguntungkan bagi pencegahan kerusakan gigi,
akan tetapi konsentrasi yang melebihi kisaran 1,7 mg/liter dapat mengakibatkan
pewarnaan pada enamel gigi, yang dikenal dengan istilah mottling (Sawyer dan
McCarty, 1978). Kadar yang berlebihan juga dapat berimplikasi terhadap
kerusakan pada tulang. Fluorida anorganik bersifat lebih toksik dan lebih iritan
daripada yang organik. Keracunan kronis menyebabkan orang menjadi kurus,
pertumbuhan tubuh terganggu, terjadi fluorisasi gigi serta kerangka, dan gangguan
pencernaan yang disertai dengan dehidrasi. Pada kasus keracunan berat akan
terjadi cacat tulang, kelumpuhan, dan kematian (Anonim, 2012).

c. pH
pH merupakan suatu parameter penting untuk menentukan kadar
asam/basa dalam air. Penentuan pH merupakan tes yang paling penting dan paling
sering digunakan pada kimia air. pH digunakan pada penentuan alkalinitas, CO2,
serta dalam kesetimbangan asam basa. Pada temperatur yang diberikan, intensitas
asam atau karakter dasar suatu larutan diindikasikan oleh pH dan aktivitas ion
hidrogen. Perubahan pH air dapat menyebabkan berubahnya bau, rasa, dan warna.
Pada proses pengolahan air seperti koagulasi, desinfeksi, dan pelunakan air, nilai
pH harus dijaga sampai rentang dimana organisme partikulat terlibat (Anonim,
2012).

d. Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa
menurunkan pH larutan atau dikenal dengan sebutan acid-neutralizing
capacity (ANC) atau kuantitas anion di dalam air yang dapat menetralkan kation
hidrogen. Alkalinitas merupakan hasil reaksi terpisah dalam larutan dan
merupakan analisa makro yang menggabungkan beberapa reaksi. Alkalinitas
merupakan kemampuan air untuk mengikat ion positif hingga mencapai pH 4,5
(Anonim, 2012).

Alkalinitas dalam air disebabkan oleh ion-ion karbonat (CO32-), bikarbonat


(HCO3-), hidroksida (OH-), borat (BO32-), fosfat (PO43-), silikat (SiO44-),
ammonia, asam organik, garam yang terbentuk dari asam organik yang resisten
terhadap oksidasi biologis. Dalam air alami, alkalinitas sebagian besar disebabkan
adanya bikarbonat, karbonat, dan hidroksida. Pada keadaan tertentu, keberadaan
ganggang dan lumut dalam air menyebabkan turunnya kadar CO2 dan HCO3-
sehingga kadar CO32- dan OH- naik dan pH larutan menjadi naik (Anonim, 2012).

e. Asiditas
Asiditas adalah kapasitas kuantitatif air untuk bereaksi dengan basa kuat
sehingga menstabilkan pH hingga mencapai 8,3 atau kemampuan air untuk
mengikat OH- untuk mencapai pH 8,3 dari pH asal yang rendah. Semua air yang
memiliki pH < 8,5 mengandung asiditas (Anonim, 2012). Pada dasarnya, asiditas
(keasaman) tidak sama dengan pH. Asiditas melibatkan dua komponen, yaitu
jumlah asam, baik asam kuat maupun asam lemah (misalnya asam karbonat dan
asam asetat), serta konsentrasi ion hydrogen (Anonim, 2012).

f. CO2 agresif
Karbondioksida (CO2) adalah komponen normal dalam semua air alami
dan merupakan gas yang mudah larut dalam air. CO2 di alam terdiri dari
CO2 bebas dan CO2 terikat yang tergantung pada pH air. CO2 bebas terdiri dari
CO2 yang berada dalam kesetimbangan, diperlukan untuk memelihara ion
bikarbonat (HCO3-) dan CO2 agresif yang dapat melarutkan CaCO3 dan bersifat
korosif. CO2 terikat hadir dalam bentuk bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO32-).
CO2 agresif merupakan CO2 yang berada dalam keseimbangan dan diperlukan
untuk memelihara ion bikarbonat dalam air (Anonim, 2012).
Air permukaan pada umumnya mengandung < 10 mg CO2 bebas/liter,
namun beberapa air tanah mengandung lebih banyak lagi. Kadar HCO3- yang
meningkat akan membuat kesetimbangan bergeser ke arah CO2. CO2menjadi
agresif dan berusaha mempercepat kesetimbangan melalui reaksi dengan
CaCO3atau benda lain sehingga terjadi kekorosifan (Anonim, 2012).

g. Zat Organik
Zat organik (KMnO4) merupakan indikator umum bagi pencemaran.
Tingginya zat organik yang dapat dioksidasi menunjukkan adanya pencemaran.
Zat organik mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Oleh sebab itu, bila zat
organik banyak terdapat di badan air, dapat menyebabkan jumlah oksigen di
dalam air berkurang. Bila keadaan ini terus berlanjut, maka jumlah oksigen akan
semakin menipis sehingga kondisi menjadi anaerob dan dapat menimbulkan bau
(Anonim, 2012).

h. Kesadahan
Kesadahan (hardness) disebabkan adanya kandungan ion-ion logam
bervalensi banyak (terutama ion-ion bervalensi dua, seperti Ca, Mg, Fe, Mn, Sr).
Kation-kation logam ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan
maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk endapan/karat
pada peralatan logam. Kation-kation utama penyebab kesadahan di dalam air
antara lain Ca2+, Mg2+, Sr2+, Fe2+, dan Mn2+. Anion-anion utama penyebab
kesadahan di dalam air antara lain HCO3 -, SO42-, Cl-, NO3 -, dan SiO32-. Air sadah
merupakan air yang dibutuhkan oleh sabun untuk membusakan dalam jumlah
tertentu dan juga dapat menimbulkan kerak pada pipa air panas, pemanas, ketel
uap, dan alat-alat lain yang menyebabkan temperatur air naik (Anonim, 2012).
Kesadahan air berkaitan erat dengan kemampuan air membentuk busa.
Semakin besar kesadahan air, semakin sulit bagi sabun untuk membentuk busa
karena terjadi presipitasi. Busa tidak akan terbentuk sebelum semua kation
pembentuk kesadahan mengendap. Pada kondisi ini, air mengalami pelunakan
atau penurunan kesadahan yang disebabkan oleh sabun. Endapan yang terbentuk
dapat menyebabkan pewarnaan pada bahan yang dicuci. Pada perairan sadah
(hard), kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi. Jika
dipanaskan, perairan sadah akan membentuk deposit (kerak) (Anonim, 2012).
i. Klorida
Sekitar 3/4 dari klorin (Cl2) yang terdapat di bumi berada dalam bentuk
larutan. Unsur klor dalam air terdapat dalam bentuk ion klorida (Cl-). Ion klorida
adalah salah satu anion anorganik utama yang ditemukan pada perairan alami
dalam jumlah yang lebih banyak daripada anion halogen lainnya. Klorida
biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium klorida (NaCl), kalium klorida
(KCl), dan kalsium klorida (CaCl2). Selain dalam bentuk larutan, klorida dalam
bentuk padatan ditemukan pada batuan mineral sodalite [Na8(AlSiO4)6].
Pelapukan batuan dan tanah melepaskan klorida ke perairan. Sebagian besar
klorida bersifat mudah larut (Anonim, 2012).

j. Sulfat
Ion sulfat (SO4) adalah anion utama yang terdapat di dalam air. Jumlah ion
sulfat yang berlebih dalam air minum menyebabkan terjadinya efek cuci perut
pada manusia. Sulfat mempunyai peranan penting dalam penyaluran air maupun
dalam penggunaan oleh umum. Sulfat banyak ditemukan dalam bentuk SO42-
dalam air alam. Kehadirannya dibatasi sebesar 250 mg/l untuk air yang
dikonsumsi oleh manusia. Sulfat terdapat di air alami sebagai hasil pelumeran
gypsum dan mineral lainnya. Sulfat dapat juga berasal dari oksidasi terakhir
sulfida, sulfit, dan thiosulfat yang berasal dari bekas tambang batubara. Kehadiran
sulfat dapat menimbulkan masalah bau dan korosi pada pipa air buangan akibat
reduksi SO42-menjadi S- dalam kondisi anaerob dan bersama ion H+ membentuk
H2S (Anonim, 2012).

k. Kalium
Kalium (K) atau potasium yang menyusun sekitar 2,5 % lapisan kerak
bumi adalah salah satu unsur alkali utama di perairan. Di perairan, kalium terdapat
dalam bentuk ion atau berikatan dengan ion lain membentuk garam yang mudah
larut dan sedikit sekali membentuk presipitasi. Perairan dengan rasio Na : K
kurang dari 10 bersifat toksik bagi beberapa organisme akuatik. Kadar kalium
yang terlalu tinggi sehingga melebihi 2.000 mg/liter berbahaya bagi sistem
pencernaan dan saraf manusia. Kadar kalium sebanyak 50 mg/liter dan kadar
natrium 100 mg/liter yang terdapat secara bersamaan kurang baik bagi
kepentingan industri karena dapat membentuk karat dan menyebabkan terjadinya
korosi pada peralatan logam (Anonim, 2012).

1.2.4 Analisis Zat Padat


Padatan solid merupakan segala sesuatu yang terkandung dalam bahan
berbentuk cairan selain air itu sendiri. Zat padat dalam air dikelompokkan menjadi
2 yaitu zat terlarut seperti garam dan molekul organis dan zat padat tersuspensi
dan koloidal seperti tanah liat dan kwarts. Dalam metode analisis zat padat
pengertian zat padat total adalah semua zat – zat yang tersisa sebagai residu dalam
suatu bejana, bila sampel air dalam bejana tersebut dikeringkan pada suhu
tertentu. Zat padat total terdiri dari zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi
yang dapat bersifat organik dan anorganik (Putra, 2010).
Metoda gravimetri adalah yaitu isolasi dan pengukuran berat suatu unsur
atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri
meliputi transformasi, unsur, atau radikal ke senyawa murni stabil yang dapat
segera diubah bentuk yang dapat ditimbang secara teliti. Berat unsur dihitung
berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur-unsur yang menyusunnya.
Pemisahan unsur – unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan
beberapa cara, seperti metoda pengendapan, metoda penguapan, metoda
elektroanalisis,dan metoda lainnya. Namun dalam pelaksaannya, metoda yang
sering digunakan adalah dua metoda pertama. Metoda gravimetri memakan waktu
yang lama ada pengotor pada konstituen dapat diuji dan jika perlu faktor-faktor
koreksi dapat digunakan (Putra, 2010).

1.2.5 Total Suspended Solid (TSS)


Total Suspended Solid (TSS), adalah salah satu parameter yang digunakan
untuk pengulkuran kualitas air. Pengukuran TSS berdasarkan pada berat kering
partikel yang terperangkap oleh filter, biasanya dengan ukuran pori tertentu.
Umumnya, filter yang digunakan memiliki ukuran pori 0.45 μm. Nilai TSS dari
contoh air biasanya ditentukan dengan cara menuangkan air dengan volume
tertentu, biasanya dalam ukurtan liter, melalui sebuah filter dengan ukuran pori-
pori tertentu. Sebelumnya, filter ini ditimbang dan kemudian beratnya akan
dibandingkan dengan berat filter setelah dialirkan air setelah mengalami
pengeringan. Berat filter tersebut akan bertambah disebabkan oleh terdapatnya
partikel-partikel tersuspensi yang terperangkap dalam filter tersebut. Padatan yang
tersuspensi ini dapat berupa bahan-bahan organik dan inorganik. Satuan TSS
adalah miligram per liter (mg/L) (Anonim, 2010).

Gambar 1.1 Contoh Grafik Total Suspended Solids (Anonim, 2010)

Kandungan TSS memiliki hubungan yang erat dengan kecerahan perairan.


Keberadaan padatan tersuspensi tersebut akan menghalangi penetrasi cahaya yang
masuk ke perairan sehingga hubungan antara TSS dan kecerahan akan
menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik. Nilai TSS umumnya semakin
rendah ke arah laut. Hal ini disebabkan padatan tersuspensi tersebuit disupply oleh
daratan melalui aliran sungai. Keberadaan padatan tersuspensi masih bisa
berdampak positif apabila tidak melebihi toleransi sebaran suspensi baku mutu
kualitas perairan yang ditetapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, yaitu 70
mg/L (Anonim, 2010).
1.2.6 Total Dissolved Solid
Total Dissolved adalah zat padat yang terlarut, yaitu semua mineral,
garam, logam, serta kation-anion yang terlarut di air. Termasuk semua yang
terlarut diluar molekul air murni (H2O). Secara umum, konsentrasi benda-benda
padat terlarut merupakan jumlah antara kation dan anion di dalam air. TDS
terukur dalam satuan Parts per Million (ppm) atau perbandingan rasio berat ion
terhadap air (Santoso, 2008).
Benda-benda padat di dalam air tersebut berasal dari banyak
sumber, organik seperti daun, lumpur, plankton, serta limbah industri dan kotoran.
Sumber lainnya bisa berasal dan limbah rumah tangga, pestisida, dan banyak
lainnya. Sedangkan sumber anorganik berasal dari batuan dan udara yang
mengandung kasium bikarbonat, nitrogen, besi fosfor, sulfur, dan mineral lain.
Semua benda ini berentuk garam, yang merupakan kandungannya perpaduan
antara logam dan non logam. Garam-garam ini biasanya terlarut di dalam air
dalam bentuk ion, yang merupakan partikel yang memiliki kandungan positif dan
negatif. Air juga mengangkut logam seperti timah dan tembaga saat perjalanannya
di dalam pipa distribusi air minum (Santoso, 2008).
Sesuai regulasi dari Enviromental Protection Agency (EPA) USA,
menyarankan bahwa kadar maksimal kontaminan pada air minum adalah sebesar
500mg/liter (500 ppm). Kini banyak sumber-sumber air yang mendekati ambang
batas ini. Saat angka penunjukan TDS mencapai 1000mg/L maka sangat
dianjurkan untuk tidak dikonsumsi manusia. Dengan angka TDS yang tinggi
maka perlu ditindaklanjuti, dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Umumnya,
tingginya angka TDS disebabkan oleh kandungan potassium, khlorida, dan
sodium yang terlarut di dalam air. Ion-ion ini memiliki efek jangka pendek (short-
term effect), tapi ion-ion yang bersifat toxic (seperti timah arsenic, kadmium,
nitrat dan banyak lainnya) banyak juga yang terlarut di dalam air (Santoso, 2008).

1.2.7 Tawas
Tawas, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Alum adalah suatu kristal
sulfat dari logam-logam seperti lithium, potassium, calcium, alumunium, dan
logam-logam lainnya. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan
kelarutannya berbeda-beda tergantung pada jenis logam dan suhu. Tawas telah
dikenal sebagai flocculator yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran-
kotoran pada proses penjernihan air. Selain itu, tawas juga digunakan sebagai
deodorant, karena sifat antibakterinya. Alum merupakan salah satu senyawa kimia
yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya
Al2(SO4)3 (Hidayati 2012).
Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus
formula yaitu K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum kalium merupakan jenis alum
yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak berwarna dan
mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan
aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium
tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Alum kalium
memiliki titik leleh 900ºC. Tipe lain dari alum adalah aluminium sulfat yang
mencakupi alum natrium, alum amonium, dan alum perak. Alum digunakan untuk
pembuatan bahan tekstil yang tahan api, obat, dan sebagainya (Hidayati, 2012).
Kekeruhan dalam air dapat dihilangkan melalui penambahan sejenis bahan
kimia yang disebut koagulan. Pada umumnya bahan seperti Aluminium sulfat
[Al2(SO4)3.18H2O] atau sering disebut alum atau tawas, fero sulfat, Poly
Aluminium Chlorida (PAC) dan poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai
koagulan. Untuk menentukan dosis yang optimal, koagulan yang sesuai dan pH
yang akan digunakan dalam proses penjernihan air, secara sederhana dapat
dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan tes yang sederhana
(Hidayati, 2012).
Prinsip penjernihan air adalah dengan menggunakan stabilitas partikel-
partikel bahan pencemar dalam bentuk koloid. Stabilitas partikel-partikel bahan
pencemar ini disebabkan:
a. Partikel-partikel kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu
yang pendek (beberapa jam).
b. Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan menjadi
partikel yang lebih besar dan berat, karena muatan elektris pada
permukaan, elektrostatis antara muatan partikel satu dan yang lainnya.

Stabilitas partikel-partikel bahan pencemar ini dapat diganggu dengan


pembubuhan koagulan. Dalam proses penjernihan air secara kimia melibatkan dua
proses yaitu koagulasi dan flokulasi. Proses koagulasi adalah suatu proses
pertumbuhan dan pencampuran dilakukan secara tepat dari suatu proses koagulan,
stabilisasi dan partikel-partikel koloid tersuspensi, serta agregasi awal dari
partikel-partikel terstabilisasi. Partikel-partikel koloid yang terbentuk umumnya
terlalu sulit untuk dihilangkan jika hanya dengan pengendapan secara gravitasi.
Tetapi apabila koloid-koloid tersebut distabilkan dengan cara agregasi atau
koagulasi menjadi partikel yang lebih besar maka koloid-koloid tersebut dapat
dihilangkan dengan cepat (Hidayati, 2012).
Terdapat tiga mekanisme koagulasi yaitu komponen lapisan ganda (doeble
layer compression), adsorbsi (adsorbtion) dan absorbsi oleh polimer (absorption
by polymer). Koagulasi merupakan proses penambahan bahan kimia (koagulan)
yang memiliki kemampuan untuk menjadikan partikel koloid tidak stabil sehingga
partikel siap membentuk flok. Flokulasi merupakan proses pembentukan dan
penggabungan flok dari partikel-partikel tersebut yang menjadikan ukuran dan
beratnya lebih besar sehingga mudah mengendap. Flokulan yang digunakan untuk
penjernihan air yaitu NaOH. Hal ini karena pengotor banyak mengandung ion
positif sehingga dengan penambahan polimer yang bersifat negatif dapat mengikat
flok lebih besar dan proses pengendapan lebih cepat (Hidayati, 2012).

1.2.8 Sedimentasi

Sedimentasi merupakan unit operasi yang sering dipergunakan dalam


proses pengolahan air atau air limbah seperti pemisahan partikel tersuspensi pada
awal proses pengolahan air limbah, proses pemisahan partikel flok pada proses
pengolahan air limbah secara kimia, dan proses pemisahan mikroorganisme
(sludge) pada proses pengolahan air limbah secara biologi (Sumada, 2012). Proses
sedimentasi partikel dapat diklasifikasikan menjadi empat peristiwa yaitu :

1. Partikel Diskrit, sedimentasi partikel terjadi pada konsentrasi padatan rendah


dimana partikel mengendap secara individu serta tidak terjadi interaksi dengan
partikel yang lainnya. Peristiwa ini terjadi pada pemisahan partikel pasir pada
air limbah.
2. Partikel Flokulan, sedimentasi partikel dimana partikel mengalami interaksi
dengan partikel lainnya, pada peristiwa interaksi terjadi penggabungan antar
partikel yang mempercepat kecepatan sedimentasi. Peristiwa ini terjadi pada
pemisahan partikel yang telah mengalami proses koagulasi/flokulasi.
3. Partikel Hindered, sedimentasi partikel terjadi karena partikel berinteraksi
dengan partikel lainnya pada posisi yang sama, dan partikel mengendap
terhambat oleh pertikel yang berada disekelilingnya dan tampaknya terjadi
pengendapan secara massal. Persitiwa ini dapat terjadi pada konsentrasi
padatan yang cukup tinggi. Peristiwa ini seperti terjadi pada pemisahan
mikroba (activated sludge) pada pengolahan air limbah secara biologi.
4. Partikel kompresi, sedimentasi partikel terjadi karena partikel mengalami
penekanan oleh partikel yang berada diatasnya, peristiwa ini terjadi pada
konsentrasi padatan yang sangat tinggi. Peristiwa ini terjadi pada pemisahan
mikroba (activated sludge) pada pengolahan air limbah secara biologi.

1.2.7 Fungsi Sedimentasi


Tujuan pengolahan air minum merupakan upaya untuk mendapatkan air
yang bersih dan sehat sesuai dengan standar mutu air. Proses pengolahan air
minum merupakan proses perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi air sehingga air
minum yang telah diolah tadi dapat memenuhi syarat sebagai air minum dan bisa
digunakan bagi masyarakat (Sumada, 2012). Secara keseluruhan proses
sedimentasi berfungsi untuk :
1. mengurangi beban kerja unit filtrasi dan memperpanjang umur pemakaian
penyaringan selanjutnya
2. mengurangi biaya operasi instalasi pengolahan
3. memisahkan partikel utuh (discreet) seperti pasir dan juga untuk
memisahkan padatan melayang (suspensi) yang sudah menggumpal.

Pada prinsipnya, untuk pengolahan proses sedimentasi pada air minum


serta pengolahan pada air limbah adalah sama baik dalam metodanya serta alatnya
(Sumada, 2012). Berikut adalah terapan sedimentasi pada pengolahan air minum,
yaitu:
1. pengendapan air permukaan, khususnya untuk pengolahan dengan filter
pasir cepat
2. pengendapan flok hasil koagulasi-flokulasi, khususnya sebelum disaring
dengan filter pasir cepat
3. pengendapan flok hasil penurunan kesadahan menggunakan soda-kapur
4. pengendapan lumpur pada penyisihan besi dan mangan.

Sedangkan, pada pengolahan air limbah terapan sedimentasinya, yaitu :


1. penyisihan grit, pasir, atau silt (lanau)
2. penyisihan padatan tersuspensi pada clarifier pertama
3. penyisihan flok/lumpur biologis hasil proses activated sludge pada clarifier
akhir.

1.2.8 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Sedimentasi


Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan sedimentasi menurut Budi
(2011), yaitu:
1. Ukuran partikel, bentuk partikel, dan konsentrasi partikel
Semakin besar semakin cepat mengendap dan semakin banyak yang
terendapkan.
2. Viskositas cairan
Pengaruh viskositas cairan terhadap kecepatan sedimentasi yaitu dapat
mempercepat proses sedimentasi dengan cara memperlambat cairan supaya
partikel tidak lagi tersuspensi.
3. Temperatur
Bila temperatur turun, laju pengendapan berkurang. Akibatnya waktu tinggal
di dalam kolam sedimentasi menjadi bertambah.
4. Berat jenis partikel

Ada beberapa perlakuan yang dapat mempercepat kecepatan sedimentasi, yaitu :


1. Meningkatkan konsentrasi padatan
Dengan adanya konsentrasi yang cukup besar dan adanya gaya gravitasi
maka biomassa atau lumpur tersebut akan terpisah dengan airnya.
2. Menggunakan pengaduk.
Pengadukan akan meningkatkan tumbukan antar partikel di dalam air
sehingga partikel partikel tersebut menyatu. Bersatunya beberapa partikel
membentuk gumpulan akan memperbesar rapat massanya, sehingga akan
mempercepat pengendapannya.
3. Tangki sedimentasi harusnya dibuat sedangkal mungkin untuk menaikkan
efisiensi pemisahan. Dari hal tersebut dikembangkanlah pengendapan
dengan bentuk plat yang disusun berlapis lapis dengan jarak tertentu,
ataupun bentuk pipa yang disusun bertumpuk tumpuk. Dengan sistim ini
waktu pengendapan dapat direduksi secara drastic (Budi, 2011).

1.2.9 Bak Sedimentasi


Pada umumnya bak sedimentasi dibangun dari bahan beton bertulang
dengan bentuk lingkaran, dan bujur sangkar (segi empat) (Budi,2011). Bagian-
bagian dari bak sedimentasi adalah :
1. Inlet : tempat air masuk ke dalam bak
Dalam zona ini aliran terdistribusi tidak merata melintasi bagian melintang
bak; aliran meninggalkan zona inlet mengalir secara horisontal dan langsung
menuju bagian outlet. Pada tahapan zona inlet merupakan tempat/wadah air
masuk ke dalam bak (Budi, 2011).
2. Zona pengendapan
Dalam zona ini, air mengalir pelan secara horisontal ke arah outlet, dan
dalam zona ini terjadi proses pengendapan. Lintasan partikel diskret tergantung
pada besarnya kecepatan pengendapan. Pada tahapan zona pengendapan
merupakan tempat flok/partikel mengalami proses pengendapan (Budi, 2011).
3. Ruang lumpur
Dalam zona ini lumpur terakumulasi. Sekali lumpur masuk area ini ia akan
tetap disana. Pada zona ini, ruang lumpur merupakan tempat lumpur
mengumpul sebelum diambil ke luar bak. Kadang dilengkapi dengan sludge
collector / scrapper (Budi, 2011).
4. Outlet
Dalam zona ini, air yang partikelnya telah terendapkan terkumpul pada
bagian melintang bak dan siap mengalir keluar bak. Pada zona ini, outlet
merupakan tempat dimana air akan meninggalkan bak (Budi, 2011).

1.2.10 Aplikasi Sedimentasi


a. Sedimentasi pada Pengolahan Air Minum
Aplikasi teori sedimentasi pada penglahan air minum adalah pada
perancangan bangunan prasedimentasi dan sedimentasi II.
1. Prasedimentasi
Bak prasedimentasi merupakan bagian dari bangunan pengolahan air
minum yang berfungsi untuk mengendapkan partikel diskret yang relative mudah
mengendap (diperkirakan dalam waktu 1 hingga 3 jam). Teori sedimentasi yang
dipergunakan dalam aplikasi pada bak prasedimentasi adalah teori sedimentasi I
karena teori ini mengemukakan bahwa pengendapan partikel berlangsung secara
individu (masing-masing partikel, diskret) dan tidak terjadi interaksi antar partikel
(Budi, 2011).

2. Sedimentasi II
Bak sedimentasi II merupakan bagian dari bangunan pengolahan air
minum yang berfungsi untuk mengendapkan partikel hasil proses koagulasi-
flokulasi yang relative mudah mengendap (karena telah menggabung menjadi
partikel berukuran besar). Tetapi partikel ini mudah pecah dan kembali menjadi
partikel koloid. Teori sedimentasi yang dipergunakan dalam aplikasi pada bak
sedimentasi II adalah teori sedimentasi tipe II karena teori ini mengemukakan
bahwa pengendapan partikel berlangsung akibat adanya interaksi antar partikel
(Budi, 2011).

b. Sedimentasi pada pengolahan Air Limbah


Aplikasi teori sedimentasi pada pengolahan air limbah :
1. Grit Chamber
Grit Chamber merupakan bagian dari bangunan pengolahan air limbah yang
berfungsi untuk mengendapkan partikel kasar/grit bersifat diskret yang relative
sangat mudah mengendap. Teori sedimentasi yang dioergunakan dalam aplikasi
pada grit chamber adalah teori sedimentasi tipe I karena teori ini mengemukakan
bahwa pengendapan partikel berlangsung secara individu (masing-masing
partikel, diskret) dan tidak terjadi interaksi antar partikel (Budi, 2011).
2. Prasedimentasi
Bak prasedimentasi merupakan bagian dari bangunan pengolahan air limbah
yang berfungsi untuk mengendapkan lumpur sebelumair limbah diolah secara
biologis. Meskipun belum terjadi proses kimia (missal koagulasi-flokulasi atau
presipitasi), namun pengendapan di bak ini mengikuti pengendapan tipe II karena
lumpur yang terdapat dalam air limbah tidak lagi bersifat diskret (mengingat
kandungan komponen lain dalam air limbah, sehingga telah terjadi proses
presipitasi) (Budi, 2011).
3. Final Clarifier
Bak sedimentasi II (final clarifier) merupakan bagian dari bangunan
pengolahan air limbah yang berfungsi untuk mengendapkan partikel lumpur hasil
proses biologis (disebut juga lumpur biomasssa). Lumpur ini relative sulit
mengendap karena sebagian besar tersusun oleh bahan-bahan organic volatile.
Teori sedimentasi yang dipergunakan dalam aplikasi pada bak sedimentasi II
adalah teori sedimentasi tipe III dan IV karena pengendapan biomassa dalam
jangka waktu yang lama akan meyebabkan terjadinya pemampatan (kompresi)
(Budi, 2011).

1.3 Tujuan Percobaan


Setelah mengikuti praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu:
a. Menjelaskan proses pengolahan air bersih
b. Menghitung efisiensi penyisihan bahan pencemar dari sumber air
c. Menganalisa hubungan variabel perlakuan terhadap penyisihan bahan
pencemar
d. Bekerja sama dengan tim kelompok
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Total Suspended Solid. [online] diakses dari [http://seandy-laut-


biru.blogspot.com/2010/09/total-suspended-solid-tss.html] 9 Oktober 2013
Anonim. 2012. Parameter Fisika-Kimia-Biologi Penentu Kualitas Air. [Online]
diakses dari [http://jujubandung.wordpress.com/2012/06/08/parameter-
fisika-kimia-biologi-penentu-kualitas-air-2/] 19 Oktober 2013.
Anonim. 2012. Pengolahan Air Bersih. [Online] diakses dari
[http://airminum.globalmuliaperkasa.com/2012/11/pengolahan-air-
bersih.html] 18 Oktober 2013.
Budi, Ginanjar Listantya. 2011. Sedimentasi [Online] diakses dari
[http://tentangteknikkimia.wordpress.com/2011/12/17/sedimentasi/] 9
Oktober 2013
Hidayati, Nur. 2012. Tawas Sebagai Koagulan. [Online] diakses dari
[http://blogpengajarankimia.blogspot.com/2012/05/tawas-sebagai-
koagulan-tawas-atau-dalam.html] tanggal 19 Oktober 2013.
Isnaniawardhana, J.Nobelia. 2009. Pengaruh Waktu Detensi dan Penggunaan
Lumpur pada Proses Koagulasi-Flokulasi Pengolahan Air Gambut
Berwarna. [Online] diakses dari [http://www.ftsl.itb.ac.id/wpcontent/-
uploads/2007/08/Pengaruh%20waktu%20detensi.pdf] 10 Oktober 2013.
Putra, Febry Yursa. 2010. Analisis Zat Padat. [Online] diakses dari [http://el-
andalucy.blogspot.com/2010/12/analis-zat-padat-tdstssfdsvdsvssfss.html]
9 Oktober 2013
Rano, Stefanus. 2011. Karakteristik Air. [Online] diakses dari [http://stevanus-
jendelausaha.blogspot.com/2011/04/karakteristik-air.html] 19 Oktober
2013.
Santoso, Rio. 2008. Total Dissolved Solids. [Online] diakses dari
[http://airreverseosmosis.wordpress.com/2008/12/30/total-dissolved-
solids/] 9 Oktober 2013
Sumada, Ketut. 2012. Pengolahan Air Limbah Secara Fisik. [Online] diakses dari
[http://ketutsumada.blogspot.com/2012/03/pengolahan-air-limbah-secara-
fisik.html] 18 Oktober 2013.