You are on page 1of 30

MODEL MENGAJAR DALAM

(
MUHAMMAD IDRIS USMAN
)
257
Tinjauan tentang Model Mengajar dalam Pembela
jaran
Problematika dan Kasus dalam Proses Pembelajaran
Pengalaman di antara para pendidik dalam proses pembelajaran menunjukkan
bahwa ada beberapa sekolah, model mengajarnya membuat para peserta didik
dalam
mengikuti proses pembelajaran tidak fokus dan ny
aman. Ada pendidik yang menyu
-
ruh peserta didik mencatat bahan pelajaran yang sudah dalam buku atau
mencerita
-
kan hal
-
hal yang tidak perlu. Sering pula ditemukan waktu interaksi antara pendidik
dan peserta didik tidak dimanfaatkan dengan baik. Pendidik ter
kadang suka me
-
maksakan kehendaknya kepada peserta didik sesuai dengan keinginannya. Ada
juga
pendidik untuk memudahkan tugasnya meminta salah seorang peserta didik
untuk
mencatat di papan tulis dan kegiatan
-
kegiatan lainnya yang kurang perlu. Sedangkan
pendidik yang ber
sangkutan istirahat di ruang guru atau duduk di kelas dengan ke
-

gi
atannya sendiri yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran.
Model mengajar seperti kasus yang dikemukakan sebelumnya tentu saja dipan
-
dang tidak mendidik. Peserta didik seharusnya
belajar dan berpikir tanpa tekanan,
tetapi ia harus mendapatkan bimbingan dan arahan dari pendidik yang menganut
prins
ip kemerdekaan berpikir dan mengemukakan pendapat.
29
Dilihat dari segi pemanfaatan sumber daya, seringkali sarana dan prasarana
pro
ses p
embelajaran di kelas, laboratorium, perpustakaan, dan di
tempat praktek ker
-
ja belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal pemanfaatan dan p
engembangan
sumber belajar harus dioptimal
kan. Salah satu fungsi proses pembelajaran adalah me
-
nyi
ap
kan tenaga ker
ja terdidik, terampil dan terlatih serta sebagai sarana untuk me
-
nyi
apkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
30
Oleh karena itu
,
pengembangan sumber belajar merupakan faktor yang menen
-
tu
kan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Sekolah harus men
yiapkan dan meng
-
em
bang
kan sumber belajar, seperti tersedianya ruang praktikum/laboratorium dan
per
pus
taka
an sebagai salah satu sumber belajar. Sekolah yang berkualitas adalah se
-
ko
lah yang mampu mengelola dan mengembangkan sumber belajar secara
optimal.
Problematika yang lain adalah masih adanya kepala sekolah tidak memanfaat

-
kan kesempatan yang ada untuk melakukan evaluasi tentang program
pembelajaran.
Ke
pa
la sekolah tersebut ter
kesan membiarkan para pendidik menggunakan model
meng
ajar yang monoton atau bersifat rutin belaka, sehingga kepala sekolah tidak
mengeta
hui mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dikembangkan dalam
prog
ram pembelajaran.
Seharusnya kepala sekolah
memotivasi para pendidik menggunakan model
meng
ajar yang dapat memberi jaminan bahwa pembelajaran dilakukan atas dasar
prinsip
-
prinsip pedagogik. Dukungan kepala sekolah ini diujudkan dalam bentuk
me
nyediakan fasilitas yang diperlukan untuk program pemb
elajaran.
Kategori Model Mengajar dalam Pembelajaran
Dalam model mengajar ada empat kategori yang penting diperhatikan oleh se
-
orang pendidik, yaitu:
LENTERA PENDIDI
KAN,
VOL. 15 NO. 2 DESEMBER 2012: 251
-
266
258
1.
Model Pemrosesan Informasi (
Information Processing Models).
Model ini menjelaskan cara individu memberi
respon yang datang dari ling
-
kung
an
nya dengan cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, mem
-
bang
un konsep, dan rencana pemecahan masalah serta menggunakan simbol
-
simbol
verbal dan non verbal.
31
Model ini memberikan kepada peserta didik sejumlah konsep, pembuktian

memikul tanggung jawa b. model ini potensial untuk digunakan dalam mencapai tujuan yang berdimensi personal dan sosial di samping yang berdimensi intelektual. Karena itu.hipo tesis. 32 Mo del pengelolaan informasi ini secara umum dapat diterapkan pada sasaran belajar dari berbagai usia dalam me mpelajari individu dan masyarakat. Model Sosial ( Social Family ) Model sosial menekankan pada usaha mengembangkan kemampuan peserta di dik agar memiliki kecakapan untuk berhubungan dengan orang lain sebagai usaha mem bangun sikap peserta didik yang kreatif. se - hing ga manusia semakin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya. dan memusatkan perhatian pada pengembangan kemampuan kreatif. dan kreatif untuk men - ca pai kualitas hidup yang lebih baik. 3. 2. 33 Proses pendidikan diusahakan untuk memungkinkan seseorang dapat mema - hami dirinya sendiri dengan baik. dan demokra tis . bertanggung jawab. Model Pesonal ( Personal Family ) Model personal merupakan rumpun model pe mbelajaran yang menekankan pada proses mengembangkan kepribadian in dividu peserta didik dengan mem erhati - kan kehidupan emosional. 34 Model ini memusatkan perhatian pada pan - dan gan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif.

dan menerima fungsi dan peran sosial. 4. dan mengembangkan serta mengetes hipotesis. memiliki ciri - ciri dan prinsip yan g sama. Melalui teori ini peserta didik dibimbing untuk memecahkan masalah belajar melalui penguraian perilaku ke d alam jumlah yang kecil dan berurutan. 37 Keempat kategori model mengajar ter sebut telah dikembangkan dan diuji ke - ber lakuannya oleh para pakar pendidikan. 36 Model sosial ini dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama. pendidik sebaiknya mengorganisasikan be la jar melalui kerja kelompok dan mengarah kannya. menerapkan. mengek s plorasi berbagai cakrawala mengenai masalah. mengumpulkan data yang relevan. mem - bim bing peserta d idik mendefinisikan masalah. 35 Inti dari model sosial ini adalah konsep “synergy” yaitu energi atau tenaga (kekuatan) yang terhimpun melalui kerjasama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat.deng an menghargai setiap perbedaan dalam realitas sosial. Dengan menerapkan mo del sosial pembelajaran diarahkan pada upaya melibatkan peserta didik dalam meng hayati. Perbedaannya . Keempat kategori ini termasuk ke dalam peng ajaran sebagai sistem. Model Sistem Perilaku dalam Pembelajaran ( Behavioral Model of Teaching ) Model ini dibangun atas dasar kerangka teori perubahan perilaku. Oleh karena itu.

MODEL MENGAJAR DALAM ( MUHAMMAD IDRIS USMAN ) 259 Model Mengajar dalam Pembelajaran Untuk mengatasi berbagai problematika dalam pelaksanaan pembelajaran seba - gai man a telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya. Ligthart (1859 - 1916) di Belanda dengan “Het Volle Leven” (kehidupan senyatanya).adalah terletak pada penggunaan perangkat keras atau alat - alat teknologi yang digu - na kan dalam mengimplementasikannya. Finger (1808 - 1888) di Jerman dengan “heimatkunde” (pengajaran alam sekitar). Perintis gerakan ini antara lain adalah Fr. dan J. guru dapat memeragakan secara langsung se - suai dengan sifat - sifat dan dasar . 38 Beberapa prinsip gerakan “heitmakunde” adalah sebagai berikut: a. Model mengajar dalam pembe - lajaran itu antara lain adalah: Model Pembelajaran Alam Sekitar Gerakan pendidikan yang mendekatkan peserta didik dengan alam sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar. Dengan pengajaran alam sekitar itu. diperlukan model meng - ajar yang dipandang mampu mengatasi kesulitan pendidik melaksanakan tugas meng ajar dan juga kesulitan belajar peserta didik.

Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajar an totalias. dengar.- dasar pengajaran. e. karena alam sekitar mem punyai ikatan emosional d engan peserta didik. catat saja. 39 . dan (3) suatu pengajaran yang memungkinkan segala bahan pengajaran itu ber - hubung - hubungan satu sama lain seerat - eratnya secara teratur. d. Pengajaran alam sekitar memberi kepada peserta didik bahan apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalitas. Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional. b. Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak - banyaknya agar peser - ta didik aktif atau giat tidak hanya duduk. (2) suatu peng - ajar a n yang menarik minat. karena segala sesuatu dipusatkan atas suatu bahan peng ajar an yang menarik perhatian anak dan diambilkan dari alam sekitarnya. tetapi guru memahami tuju - an pengajaran dan mengarahkan usahanya untuk mencapai tujuan. ya i tu suatu bentuk dengan ciri - ciri: (1) suatu pengajaran yang tidak mengenai pem ba gi an mata pengajaran dalam daftar pengajaran. c.

dan kemungkinan telah dekat waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita ma na lagi setelah ini yang akan mereka percaya? 40 Demikian pula dalam Q. al - A’ra f/7: 185. ‫أممولَمم‬ ‫ظرُروا‬ ُ‫يـممن ر‬ ‫فيي‬ ‫ت‬ ‫مملمرُكو ي‬ ‫ت‬ ‫س مماَموا ي‬ ‫الَ س‬ ‫ض‬ ‫موالمر ي‬ َ‫مومما‬ ‫مخملمق‬ ُ‫الَسل هر‬ ‫يممن‬ ‫مشمي ءء‬ ‫موأممن‬ َ‫معمسى‬ ‫أممن‬ ‫ميرُكومن‬ ‫مقيد‬ ‫ب‬ ‫اقمـتْـممر م‬ ‫أممجلرُرُهمم‬ ‫ي‬ َ‫مفيبأ م ي‬ ‫ث‬ ‫محيدي ء‬ ُ‫بـممعمدهر‬ ‫يـ رُمؤيمرُنومن‬ ) ١ ٨ ٥ ( Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah.Memperhatikan alam sekitar untuk dijadikan bahan pembelajaran dijelaskan oleh Allah dalam Alqu ran.S. al - Ghasiyah/88: 17 . seperti dalam Q.S.

‬‬ ‫أممفلَ‬ ‫ظرُرومن‬ ‫يـممن رُ‬ ‫يإلَمىَ‬ ‫اليبيل‬ ‫ف‬ ‫مكمي م‬ ‫ت‬‫رُخليمق م‬ ‫)‬ ‫‪١‬‬ ‫‪٧‬‬ ‫(‬ ‫مويإلَمىَ‬ ‫س مماَيء‬ ‫الَ س‬ ‫ف‬ ‫مكمي م‬ ‫ت‬ ‫رُريفمع م‬ ‫)‬ ‫‪١‬‬ ‫‪٨‬‬ ‫(‬ ‫مويإلَمىَ‬ ‫الَميجمباَيل‬ ‫ف‬ ‫مكمي م‬ ‫ت‬ ‫صمب م‬ ‫رُن ي‬ ‫)‬ ‫‪١‬‬ ‫‪٩‬‬ ‫(‬ ‫مويإلَمىَ‬ ‫ض‬ ‫المر ي‬ ‫ف‬ ‫مكمي م‬ ‫رُسيطمح‬ ‫ت‬ ‫م‬ ‫)‬ ‫‪٢‬‬ ‫‪٠‬‬ ‫(‬ ‫‪LENTERA PENDIDI‬‬ ‫‪KAN.‬‬ .‫‪-‬‬ ‫‪20.

panen. 15 NO. bagaimana ditinggikan? Dan gunung - gunung bagaimana ditegakkan? Dan bumi bagaimana dihamparkan? 41 Alam sekitar tidak berbeda untuk anak - anak maupun orang dewasa. kematian. agar peserta didik mema - hami hubun gan antara berbagai macam lapangan dalam hidupnya. 2 DESEMBER 2012: 251 - 266 260 Maka tidakkah mereka memperhatikan unta. (2) Pengajaran harus mendasarkan pada pelajaran selanjutnya atau mata pelajaran yang lain harus dipusatkan atas pengajaran itu. segala ke - ja dian di alam sekitarnya merupakan sebagian dari hidupnya sendiri dalam suka mau pun duka seperti kelahiran. pesta.VOL. sehi ngga peserta didik menaruh perhatian yang spontan terhadap segala se suatu yang diberikan kepadanya. dan sebagai - nya. Alam sekitar sebagai fundamen pendidikan dan pengajaran memberikan dasar emosi onal. gotong - royong. 42 Pokok - pokok pendapat pengajaran alam tersebut telah banyak dilakukan di . Ligthart (1859 - 1916) mengemukakan pegangan dalam “Het Volle Leven” yaitu: (a) Peserta didik harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar na ma nya. dan (3) Haruslah diadakan per jalanan memasuki hidup senyatanya ke semua jurusan. bagaimana diciptakan? Dan langit. J.

To - koh pendidikan sekolah kerja ini adalah G. te tapi juga demi ke - pentingan masyarakat. Model Pembelajaran Sekolah Kerja Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandang - an - pandangan yang mementingkan pendidikan ke terampilan dalam pendidikan. dan sebagainya. Dengan kurikulum muatan lokal tersebut diharapkan pe - ser ta didik semakin dekat dengan alam sekitar dan masyarakat lingku ngannya. mencintai. alam sekitar juga menjadi kajian empirik melalui percobaan.sekolah. dimungkinkan peserta didik akan lebih menghargai. Dengan memanfaatkan sumber - sumber dari alam sekitar dalam kegiatan pembelajaran. Mengacu pada konsep pendidikan alam sekitar. studi banding. Sekolah kerja bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu. baik dengan peragaan. (b) t iap orang wajib menyumbangkan tenaganya unt . beberapa tahun terakhir ini te - lah ditetapkan adanya materi pelajaran muatan lokal dalam kurikulum. penggunaan bahan lokal dalam pengajaran dan lain - lain. dan melestarikan lingkungan alam sekitar sebagai sumber kehidupannya. termasuk peng gunaan alam sekitar. Kerschensteiner (1854 - 1932) dengan kon - sep “Arbeitschule” (Sekolah Kerja) di Jerman. Dengan kata lain sekolah berkewajiban menyiapk an negara yang baik yakni: (a) t iap orang adalah pekerja dalam sa lah satu lapangan jabatan. Di samping alam sekitar sebagai isi bahan ajar.

Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu. Kerschensteiner berpendapat bahwa kewajiban utama sekolah adalah mem - per siap kan anak - anak untuk dapat bekerja. Bagi para generasi muda Indonesia. Di Indonesia sekolah kerja dikenal dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik untuk siap bekerja atau mengguna - ka n keterampilan yang diperoleh setelah tamat dari sekolah tersebut. pen didikan keter ampilan itu sangat diperlukan terlebih bagi setiap orang yang akan . Kerschensteiner sebagai pencetus sekolah ker ja adalah sebagai berikut: a. MODEL MENGAJAR DALAM ( MUHAMMAD IDRIS USMAN ) 261 b. dan (c) d alam menunaikan kedua tugas tersebut harus diusahakan kesempurnaannya. 43 Tujuan sekolah kerja ini menurut G. yaitu pengetahuan yang didapat dari buku atau orang lain. Agar anak dapat memili ki pekerjaan sebagai persiapan jabatan dalam mengabdi negara. Peranan sekolah kejuruan merupakan tulang punggung penyiapan tenaga terampil yang diperlukan negara - negara berkembang seperti Indonesia.uk kepentingan negara. Bekerja di sini bukan pekerjaan otak yang dipentingkan. Menambah pengetahuan anak. agar dengan jalan itu tiap warga negara ikut berbuat sesuai dengan kesusilaan serta menjaga keselamatan negara. 44 G. melainkan pekerjaan tangan. c. dan yang didapat dari pengalaman sendiri.

Susunan tujuan belajar yang di - desain untuk belajar mandiri harus disesuaikan dengan karakteristik indivi dual dan kebutuhan tiap peserta didik. individualized prescribed instruction. Bentuk - bentuk belajar mandiri antara lain adalah self intruction (semacam modul).me masuki lapangan kerja atau menciptakan lapangan kerja. 45 Pembelajaran secara individual tampak pada perilaku atau kegiatan pendidik da lam mengajar yang menitikberatkan pada pemberian bantua n dan bimbingan bela - jar kepada tiap - tiap peserta didik secara individual. pen - didik memberikan bantuan belajar kepada tiap - tiap pribadi peserta didik se suai mata pelajaran yang diajarkan oleh pendidik yang bersangkutan. Peserta didik memproduksi sendiri pengetahuan secara teliti. Perilaku pem be la jaran individual ini pendidik akan memberikan kesempatan dan keleluasaan ke . Pada pembelajaran secara individual. independent study. Model Pembelajaran Individual Sejak lama diketahui adanya perbedaan berbagai individu. 46 Untuk tujuan belajar meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotorik lebih banyak ditempuh belajar mandiri. dan lebih dalam terhadap konsep pembelajaran. dan self pacet learning. termasuk dalam ga - ya belajar peserta didik. lebih teliti.

mempunyai kedudukan yang bersifat sentral. Artinya. peserta didik mempunyai keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan nya sendiri. setiap individu memiliki paket belajar secara indivi dual yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga.pa da tiap - tiap individu peserta didik untuk dapat belajar sesuai dengan ke mam pu an yang dimiliki peserta didik. membantu merenca na kan kegiatan belajar peserta didik sesuai dengan kemampuan dan daya dukung yang dimiliki pe - ser ta didik. Peserta didik tiap - tiap memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemam - pu an yang dimiliki. Posisi pendidik dalam model pembelajaran individu al adalah mem - ban tu peserta didik membelajarkan peserta didik. masing - masing peserta didik menyusun program belajar - nya sendiri. Dalam pem be la jar an se - ca ra individual. yang menjadi pusat pelayanan dalam pembelajaran. .

VOL. yang bertujuan menimbulkan perasaan bebas da - lam belajar sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara pendidik dengan peser - ta didik dalam belajar. dan menentukan alokasi waktu mau pun kondisi belajar yang tepat bagi peserta didik secara individual. Pembe . Mo - del pelayanan belajar secara individual ini mengguna kan pendekatan yang terbuka antara pendidik dan peserta didik. mengemukakan kriteria ke berhasilan belajar. membantu peser - ta didik untuk mengadakan penilaian belaj ar dan kemajuan yang telah dicapainya. karena pembe - laja r an klasikal ini merupakan kegiatan pembelajaran yang tergolong efisien. 2 DESEMBER 2012: 251 - 266 262 Pendidik membicarakan kepada peserta didik mengenai pelaksanaan belajar - nya. Pendidik mengorganisasikan kegiatan belajar yaitu mengatur dan memonitor kegiat - an belajar peserta didik sejak awal sampai akhir sesuai schedule yang disepakati. Peran pendi - dik selanjutnya adalah sebagai penasehat atau pembimbing belajar.LENTERA PENDIDI KAN. Pem be la jar an klasikal mencerminkan kemampuan utama pendidik. Model Pembelajaran Klasikal Group presentation adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah pe - ser ta didik. yang biasanya dilakukan oleh pendidik dengan berceramah di kelas. 15 NO.

Itu pun berlaku bagi pendidik kreatif dalam mengembangkan materi pelajaran dengan tidak hanya menggunakan satu bu - ku paket untuk satu mata pelajaran. demonstrasi. diskusi.- la jar an secara klasikal ini memberi arti bahwa seorang pendidik melakukan dua kegi - at an sekaligus yaitu mengelola kelas dan mengelola pembelajaran. Upaya mengaktifkan peserta didik dapat meng gu na kan metode tanya jawab. Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah untuk digunakan oleh peserta did ik juga sama bagi semua tingkatan pendidikan. dan lain - lain yang sesuai den g an materi pelajaran dan latar belakang kemampuan peserta didik. Buku paket tersebut dapat dipa - du kan dengan buku lain yang sama materinya. sebagai penerima bahan pelajaran. Model ini me . 47 Pengelolaan kelas adalah penciptaan kond isi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pem be la jar an secara baik dan menyenangkan yang dilakukan di dalam kelas diikuti se jum lah peserta didik yang dibimbng oleh seorang pendidik. Pengajaran klasikal dirasa lebih sesuai dengan kurikulum yang sama. Belajar secara klasikal cenderung menempatkan peserta didik dalam posisi pa - sif. Pendidik dituntut ke - mampuannya menggunakan teknik penguat an dalam pembelajaran agar ketertiban belajar dapat diwujudkan. yang dinilai melalui ujian yang sama pula.

Problematika yang dihadapi oleh pendidik dalam proses pembelajaran masih ber - ki sar pada penggunaan metode lama yang seharusnya tidak dipakai lagi. Model ini juga dapat digunakan untuk mencapai tu - ju an yang bersifat akademis. pembe - la jar an pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik secara terprogram agar peserta didik mampu belajar secara aktif.- mi liki karakteristik yang memberikan suasana belajar individual dan kelompok serta pencapaian keterampilan sosial. SIMPULAN Berdasarkan pembahasan makalah tentang model mengajar dalam pembahas - an. akan tetapi juga berma kna per spektif dan berorientasi ke masa depan. Proses pem belaj . penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut: MODEL MENGAJAR DALAM ( MUHAMMAD IDRIS USMAN ) 263 1. 2. Mo del mengajar tidak hanya memiliki makna de skriptif dan kekinian. Pros es pembelajaran dila ku kan untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Model mengajar merupakan kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan me - lu kis kan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu serta berfungsi sebagai pedoman bagi perencana - an pengajaran bagi para pendidik dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Demikian pula.

kon disi. dan model sistem perilaku dalam pembelajaran. model personal. model sosial. D engan menggunakan model mengajar.aran yang masih menempatkan peserta didik sebagai obyek pendidikan. CATATAN A K HIR : 1. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona . Untuk mengatasi problematika yang dihadapi dalam mengajar. Republik Indonesia. di antaranya model pembelajaran alam sek itar. dan model klasikal. Dalam penggunaan model mengajar ada empat kategori yang harus diper - ha ti kan oleh pendidik yaitu model pemrosesan informasi. . Pa dahal proses pembelajaran harus mengacu pada student centered (berpusat pada peserta didik). materi. tujuan dan fungsi pendidikan yang ingin dicapai dapat terwujud. Demikian pula pemanfaatan sarana dan prasarana yang belum op - ti mal. model individual. mo del pembelajaran sekolah. ada beberapa mo - del mengajar dalam pembelajaran. 3. Melalui kategori ini diha - rap kan pendidik dan pe megang kebijakan pendidikan (kepala sekolah) mampu meng atasi problematika yang dihadapi dalam mengajar. dan bahan pelajaran yang diajarkan dalam proses pembelajaran ter se but. Model meng - ajar dalam pembelajaran tersebut pada dasarnya dapat diterapkan sesuai situasi.

Menjadi Pendidik Profesional . c et. h. Al - Qur’an dan Terjemahnya . Arifin. XXII. M. 200 5. 6. Muh{ammad At{iyah al - Abrāsyi. Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner . h. c et. 4. Departemen Agama Republik Indonesia. .. Jakarta: Bulan Bintang. 2006 . 2008. Bandung: Remaja Rosdakarya. 3. Dasar - Dasar Pokok Pendidikan Islam . 2. 6. Bustami A. Jakarta: Cemerlang. terj. 793. h. c et. c et. 28. al - Tarbiyyah al - Islāmiyyah. 5. II. H. Jakarta: Bumi Aksara. 2007 . VII. Ibid. 102. I. h. 1999 .l c et. I. h. Jakarta:Toha Putra. 15. Mohammad Uzer Usman. 27. 7. h. Gani dan Djohar Bahry.

1999. c et. h. Strategi Pembelajaran Aktif . 113. Jogjakarta : Ar - Ruzz Media. 2010 . 15 NO. 2010. Esei - Esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam . 12. Mappanganro. op. Rusman.. 2010 . Azyumardi Azra. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 8. 167.c et. Pemilikan Komptetensi Guru . V.. Jakarta: PT. Bahruddin dan Esa Nur Wahyuni. cit. 2 DESEMBER 2012: 251 - 266 264 10. h. Lihat: H.. 9. h. Makassar : Alauddin Press. Hisyam Zaini. et al. Pembelajaran merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi. 49. Model - model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Pendidik . 11. LENTERA PENDIDI KAN. RajaGrafindo Persada. 11. c et: I. 325. h. . Teori Belajar dan Pembelajaran . c et. dan sikap. I. VOL. II. h.Departemen Agama RI. keterampilan.

35. Jakarta : Rajawali. berpikir kritis. menulis. Untuk ranah psikomotorik dengan tujua n terampil melaksanakan sesuatu. h. E. IV. 2010 . 14. Tim Penyusun Kamus Besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. h. 2007 . Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar . III. h. c et. c et. c et. 13. h. 16. Syaiful Sagala. 1990 . Mulyasa. Yogy akarta : CTSD. Menjadi Guru Inisiator . Int eraksi dan Motivasi Belajar Mengajar . sistematis. I:Semarang: Rasail Media Group. 15.M. 589. 1992. c et. A. dan obyektif. h. 17. 37 - 38. VII. Bandung: Alfabeta. 2007.. VI. dan lain - lain. seperti membaca. Bandung: R emaja Rosdakarya. VIII. menguasai ilmu pengetahuan. Kamus Besar Bahasa Indonesia . xvi. 47 - 48. Lihat: Thoifuri. h. Sardiman.c et. 2008. Ranah kognitif dengan tujuan agar peserta didik lebih cerdas. 175. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan . c et. Jakarta: Balai Pustaka. .

21. 22. II. Syaiful Bahri Djamarah. 2011. h. 2008 . Bandung: Alfa beta. 849. II. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: Rineka Cipta. Semarang : Uness Press.J. 23. I. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran . Model - model Pembelajaran Inovatif . c et. W. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif - Progressif .18. 2002. c et. h. Teori Pembelajaran . 9. I. 2004 . cet. Jakarta: Prenada Media . Kamus Umum Bahasa Indonesia . c et. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidik a n dan Kebudayaan.S. 17.. h. et al. Jakarta: Kenca na . Tukiran Taniredja. 2. 10. 1984. V. Poerwadarminta. Trianto. 20. Achmad Sugandi. Abuddin Nata. h. c et. h. 19.

Dengan model ini peserta didik dirangsang . Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi . op. h. 2010. 2003. h. 2009. Jakarta: Paramadina. 25. 29. 27. cit. Belajar dan Pembelajaran . cit. I. 57. 76. 24. 1995. Jakarta: Rineka Cipta. Bandun g: Refika Aditama. 297. I. c et. h. c et. 30. Semarang: IKIP Semarang Press. Oemar Hamalik. 11 - 14. 26. Kokom Komalasari. 28. Indra Djati Sidi. 2009). op. IV. h. Syaiful Sagala. 85. 174. Belajar dan Pembelajaran . Kurikulum dan Pembelajaran . 3.. Dimyati dan Mudjiono. h. Menuju Masyarakat Belajar: Menggagas Paradigma Baru Pendidikan . 2000. Jakarta: Bumi Aksara. c et. Max Darsono.Group. h. Pemecahan masalah adalah suatu pendekatan ya ng dipercaya sebagai alat untuk mengembangkan higher order thinking skills. I. c et. h. Lihat: Mappanganro.. I. 31. 25. c et. h.

c et. Bandung: Remaja Rosdakarya. h. 2006. Perencanaan Pembelajaran Seri Pembelajaran Efektif . Kepribadian dalam Psikologi Islam . h. 2007. Kurikulum Tingk at Satuan Pendidikan . Mulya sa. 10. 32. 33. Bandung: Wacana Prima. dan komunikator. Jakarta : RajaGrafindo Persada. 2. op. dan Implementasi . 35. MODEL MENGAJAR DALAM ( MUHAMMAD IDRIS USMAN ) 265 34. h. 14 - 15. L ihat pula: Lukmanul Hakim. 2006. Strategi. Kepribadian Islam memiliki arti serangkaian perilaku normatif manusia. Hal itu sejalan fungsi dan tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan pendidikan nasional. c et. IX. Pendidikan merupakan bagian terpenting dari pembangunan nasional yang ikut menentukan pertumbuhan dalam segala bidang bagi suatu bangsa. 2008. yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban .. h. Lihat: E. Syaiful Sagala. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep. Jakarta: Depdiknas. desainer. I. Lihat: Abdul Mujib.menjadi seorang eksplorer. h. inventor (mengembangkan ide). cit. terutama pembangunan sumber daya manusianya. II. Lihat: Departemen Pendidikan Nasional. baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial yang normanya berdasarkan ajaran Islam yang bersumber pada Alquran dan Sunah. 50. 176. c et.

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Ibid. 36. berakhlak mulia. sehat. cit. 185. op. c et.. Ibid. Departemen Agama Republik Indonesia. cit.. 39.. h. 41. cakap . Ibid. 43. 183. Lihat: Republik Indonesia. Syaiful Sagala. op. 234. DAFTAR PUSTAKA : . Utomo Danajaya.. op. 37. kreatif. h. 42. h. h. berilmu. h.. 890. 177.. 45. h. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. ci t. Syaiful Sagala. cit.. op. h. h. Ibid . 181. Ibid. 184. cit. 38. op. 44. Syaiful Sagala. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.. 2010. Media Pembelajaran Aktif . Ibid. h. h. 46. 40. 28. Bandung : Nuansa. 108. Ibid. 180. 47. I.. mandiri.

c et.al - Abrāsyi. Ilmu Pendidikan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasa rkan Pendekatan Interdisipliner. Azra. Semarang: IKIP Semarang Press. Bustami A. Azyumardi. al - Tarbiyyah al - Islāmiyyah. I. Esei - Esei Intelekt ual Muslim dan Pendidikan Islam. 2000. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1999. Al . c et. II. Muzayyin. Jakarta: Bulan Bintang. Jakarta: Bumi Aksara. Utomo. H. I. 1999. Muh{ammad At{iyah. I. 2010. Gani dan Djohar Bahry. Arifin. c et. V. 2006. terj. Darsono. Bandung : Nuansa. Jogj akarta: Ar - Ruzz Media. c et. c et. Max . Teori Belajar da n Pembelajaran. Danajaya. c et. Media Pembelajaran Aktif. VII. Bahruddin dan Esa Nur Wahyuni. Belajar dan Pembelajaran. Das ar - Dasar Pokok Pendidikan Islam. 2010. Departemen Agama Republik Indonesia .

Jakarta: Rineka Cipta. Kokom. Pemilikan Kompetensi Guru. Sya iful Bahri. I. 2007. Kuri kulum Tingkat Satuan Pendidikan.- Qur’an dan Terjemahnya. Ke pribadian dalam Psikologi Islam. Abdul. Jakarta: Bumi Aksara. Kurikulum dan Pembelajaran . Bandung: Refika Aditama. I. c et. Makassar : Alauddin Press. c et. 2002. Dimyati dan Mudjiono. c et.c et. 2 DESEMBER 2012: 251 - 266 266 Mujib. Jakarta . Bandung: Wacana Prima. Perencanaan Pembela jaran Seri Pembelajaran Efektif. IV. Hakim. I. Strategi Belajar Mengajar. 2010. Mappanganro. Komalasari. Belajar dan Pembelajaran . 15 NO. VOL. Hamalik. 2006. Jakarta: Rineka Cipta. LENTERA PENDIDI KAN. II. Oemar. Djamarah. V.c et. 2009. 2008. c et. 1995. c et. I. Jakar ta:Toha Putra. Departemen Pendidikan Nasional. c et. Lukmanul. Jakarta: Depdiknas. 2010. I. Pembelajaran K ontekstual: Konsep dan Aplikasi.

Mulyasa. H. 2008 . Rusman. I.J. . Perspektif Isla m tentang Strategi Pembelajaran.M. 2010. 2005. E. Mulyasa. VIII. Strategi. Manajemen Berbasis Sekolah: Kon sep. . Poerwadarminta.c et. Nata. c et. Konsep dan Makna Pembelajaran untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. I. 1984. Republik Indonesia . Kamus Umum Bahasa Indonesia . Jakarta: Prenada Media Group. Sagala. Bandung: Remaja Rosdakarya. Syaiful. VII. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2007.S. c et. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional . Bandung : Alfabeta. Jakarta: PT. II. 20 06. 2009. . W. Cet. RajaGrafindo Persada. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembel ajaran Kreatif dan Menyenangkan. IX. . E. c et. Jakarta: Cemerlang. A. Abuddin. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebuda yaan. Model - model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Pendidik . . Sardiman.: RajaGrafindo Persada.c et. dan Implementasi.

et al. Menuju Masyarakat Belajar: Meng gagas Paradigma Baru Pendidikan. 1992. Zaini. IV. . Tim Penyusun Kamus Besar Pusat Pe mbinaan dan Pengembangan Bahasa. et al. c et. II. 2003. c et. Model - model Pembelajaran Inovatif. Mohammad Uzer. Menjadi Guru Inisiator . c et. Teori Pembelajaran. II. 1990. Sugandi. Bandung: Remaja Rosdakarya.c et. Achmad. Indra Djati. Menjadi Pendidik Profesional . Semarang: Uness Press.Interaks i dan Motivasi Belajar Mengajar. Taniredja. 2011. c et. I. 2008. Usman. . c et. XXII. 2004. I:Semarang: Rasail Media Group. Jakarta: Balai Pustaka. 2007. c et. III. I. c et. Jakarta: Paramadina. Bandung : Alfabeta. 2008. Jak arta : Rajawali. Hisyam. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Trianto. Tukiran. Mendesain Mode l Pembelajaran Inovatif - Progresif. Sidi.. Thoifuri. Jakarta : Kencana.

Strategi Pembelajaran Akti f. Yogyakarta : CTSD. . VI. 2007. c et.