You are on page 1of 14

LAPORAN PRESENTASI JURNAL

BLOK KEPERAWATAN JIWA
“Predictive Validity of the Suicide Trigger Scale (STS-3) for Post-
Discharge Suicide Attempt in high-Risk Psychiatric Inpatients”

Oleh:
DWI
KUNWINARTI

(201620420312169)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017

kes Dwi Kunwinarti (20162042031216) . M. 24 Oktober 2017 Fasilitator Tutu April Ariani. HALAMAN PENGESAHAN Judul : “Predictive Validity of the Suicide Trigger Scale (STS-3) for Post- Discharge Suicide Attempt in high-Risk Psychiatric Inpatients” Mengetahui. Malang.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat untuk kita semua. Kata Pengantar Assalamu’alaikum Wr. Seperti halnya manusia yang tidak sempurna di mata manusia lain ataupun di mata ALLAH.Wb. M. untuk itu kami selalu mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Jiwa S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang.1 Latar Belakang .Wb. penyusunan makalah ini tidak terlepas dari kesalahan penulisan dan penyajian mengingat akan keterbatasan kemampuan yang kami miliki.kes yang telah membantu kami demi tersusunnya makalah ini. Wassalamu’alaikum Wr. Hidayah dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Keperawatan jiwa dengan judul “Predictive Validity of the Suicide Trigger Scale (STS-3) for Post-Discharge Suicide Attempt in high-Risk Psychiatric Inpatients” tanpa kendala suatu apapun. 24 Oktober 2017 BAB 1 PENDAHULUAN 1. Malang. Shalawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju ke zaman yang terang benderang seperti sekarang ini. Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan Rahmat. Dalam menyusun makalah ini kami mengucapkan terimakasih kepada ibu Tutu April Ariani. Amin.

World Health Organization (WHO). ketua bidang psikiatri dan perilaku kesehatan di The Ohio State University Wexner Medical Center. . dan kondisi latar belakang sosial. mengatakan: ”Untuk alasan-alasan yang tak sepenuhnya kita pahami. dan ada lebih banyak orang lainnya yang melakukan percobaan bunuh diri. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut setiap tahunnya 10. angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2012 adalah 10.000 orang Amerika Serikat meninggal akibat bunuh diri. permasalahan keluarga. Ada indikasi.000 orang lebih di wilayah seluruh dunia yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Berdasarkan rata-rata statistik. kekerasan. sikap tak menghormati agama. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya (Stuart. Resiko bunuh diri adalah resio untuk menciderai diri sendiri yang dapat mengancam kehidupan.000. sebanyak 75% kasus bunuh diri di dunia terjadi di negara-negara yang berpendapatan ekonomi rendah dan menengah. pelecehan. Angka tersebut adalah yang tercatat di kepolisian. John Campo.” Keyakinan atau waham atau pemikiran lebih baik mati saja itulah yang memicu orang- orang melakukan upaya bunuh diri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Wirasto.Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain. 2006) Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Kurang lebih ada serkitar 4. serta hubungan sosial yang buruk.. Ronny T.600 anak muda yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Angka riil di lapangan bisa jadi lebih tinggi. 2004).Bunuh diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Isaacs. 2008). badan di bawah PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional. Berdasarkan data perkiraan WHO. dalam makalahnya yang berjudul Suicide Prevention in Indonesia: Providing Public Advocacy menyebut peristiwa bunuh diri di Indonesia banyak terkait dengan gangguan kesehatan mental. WHO menyatakan ada 800. dalam sehari setidaknya ada dua hingga tiga orang yang melakukan bunuh diri di Indonesia. yakni sebesar 5. Tren angka tersebut meningkat dibanding jumlah kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada 2010 yang hanya setengahnya.000. Dr. Secara global. memiliki data tersendiri. Faktor penyebab utama bunuh diri di mancanegara antara lain adalah akibat depresi. Namun di negara maju seperti Amerika Serikat pun kasus bunuh diri marak dijumpai. WHO menambahkan. Bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar ketiga bagi anak-anak muda yang berusia antara 10 hingga 24 tahun di sana. beberapa orang mencapai keputusasaan dan rasa sakit yang dalam sehingga mereka mulai mempercayai bahwa mereka lebih baik mati saja. psikiater lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. sebenarnya ada lebih dari 20 orang lain yang mencoba untuk bunuh diri untuk setiap orang dewasa yang telah meninggal akibat bunuh diri.

John Campo sebagaimana dilansir Live Science. antara 50 hingga 75 persen orang yang mencoba bunuh diri membicarakan pikiran. Mahasiswa mampu mengaplikasikan rawat luka dengan menggunakan madu. Kebanyakan. Mahasiswa mampu membandingkan perawatan luka standar dan perawatan luka dengan menggunakan madu c.000 orang yang pernah mencoba untuk bunuh diri pada tahun 2006." kata Campo. kata Ronny. banyak orang yang ingin bunuh diri sebenarnya berjuang secara intensif dengan ambivalensi pemikirannya dan itu penting bagi kita untuk membimbing dan menolong mereka. "Mereka ingin hidup. gua berani apa enggak. Menurut Dr. setiap harinya ada sekitar 274 orang di ibu kota yang mencoba untuk bunuh diri pada tahun itu. Ya kita lihat saja. Ronny mengatakan ada sebanyak 100. Mahasiswa memahami perawatan diabetic foot ulcers yang lebih efektif b. Menurut Yayasan Amerika untuk Pencegahan Bunuh Diri.2 Tujuan Penulisan Tujuan Umum Untuk menganalisa apakah isi dari jurnal tentang perawatan luka pada NIDDM Tujuan Khusus a. kita lihat saja. Kalaupun gua berani melakukan hal yang sebenarnya gua enggak berani.” Mereka yang ingin bunuh diri berpikir masalah dan kesakitan mereka akan hilang dengan melakukan aksi nekat tersebut.Khusus di Jakarta. disebabkan masalah sosial dan ekonomi. gua bimbang. Pria di Jagakarsa yang tewas bunuh diri secara live di Facebok pun sempat membicarakan kebimbangannya sebelum melakukan aksi gantung diri di rumahnya. "Orang-orang itu dalam kebingungan. 1. mereka ingin mati. “Sekarang gua enggak tahu apa. Jika dirata-ratakan. . Mereka dalam kesakitan. perasaan dan rencana bunuh dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan aksi nekat tersebut.” ujarnya sebelum bunuh diri.

Lisa J. povidone iodine. New York.1 Profile Penelitian a. . Sumber/Source 1 Beth Israel Medical Center. Diabetes mellitus. United States of America. Irina Kopeykina1. Mayor/minor subject key word: Clinical trial. Galynker c. Anahita Bassirnia1. New York. United States of America d. 2 St. BAB II JURNAL PENELITIAN BAB III PEMBAHASAN 3. Wound dressing. New York. Yaseen1*. Igor I. Cohen1. Luke’s Roosevelt Hospita New York. Honey. Pengarang/Author/s Zimri S. Judul Penelitian “Predictive Validity of the Suicide Trigger Scale (STS-3) for Post- Discharge Suicide Attempt in high-Risk Psychiatric Inpatients” b. Zinoviy Gutkovich2.

impulsiveness. depression. The Suicide Trigger Scale v.3 (STS-3). abuse history. and a subset of six STS-3 scale items was identified that produced improved prediction of post-discharge SA (AUC 0. and attachment style were administered to 161 adult psychiatric patients hospitalized following suicidal ideation (SI) or SA. Conclusion: STS-3 transformed scores at admission to the psychiatric hospital predict suicide attempts following discharge among the high-risk group of suicidal inpatients. Abtract: Background: The greatly increased risk of suicide after psychiatric hospitalization is a critical problem. Patients with ultra-high (90th percentile) STS-3 scores differed significantly from ultra-low (10th percentile) scorers on measures of affective intensity. trauma history. This study aims to test the predictive validity of the STS-3 for post-discharge SA on a high-risk psychiatric- inpatient sample. Receiver Operator Characteristic and logistic regression analyses were used to assess prediction of SA in the 6-month period following discharge from hospitalization. yet we are unable to identify individuals who would attempt suicide upon discharge. and attachment security.e. mood.814). Patients with high transformed scores appear to comprise two clinically . impulsivity. was designed to measure the construct of an affective ‘suicide trigger state’ hypothesized to precede a suicide attempt (SA).731). Scores on C- SSRS and BSS were not predictive. Methods: The STS-3. Results: STS-3 scores for the patients who made post-discharge SA followed a bimodal distribution skewed to high and low scores. The transformed score was a significant predictor of post-discharge SA (AUC 0. and a psychological test battery measuring suicidality. thus a distance from median transform was applied to the scores.

respectively. affectively intense.2 Deskripsi Penelitian Berdasarkan metode PICO: a. Problem Adanya peningkatan resiko bunh diri pada pasien yang sudah keluar dari rumah sakit psikiatri dengan masalah usaha bunuh diri. 20-25% terjadi dalam 3-12 bulan pertama post discharge. f. 2014 3. fearfully attached group with high raw STS-3 scores and a low-impulsivity. Desain Penelitian Desain penelitian adalah studi Komparasi c. b. Pasien dirawat dengan usaha untuk bunuh diri (seperti definisi CSSR) . 2. low affect and low trauma-reporting group with low raw STS-3 scores. Luke’s Roosevelt Hospitals (SLR) in New York City. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas prediksi dari Suicide Triger Scale-3 pada pasien post opname dengan usaha bunuh diri resiko tinggi. distinct groups. Populasi Populasi pada penelitian ini adalah pasien daru unit psikiatri Beth Israel Medical Center (BIMC) dan St. 6% dari kasus bunuh diri pada pasien post discharge terjadi pada minggu pertama post discharge. Tanggal Publikasi January 21. These groups may correspond to low-plan and planned suicide attempts. Sedangkan kita tidak memiliki kemapuan untuk mengevaluasi risiko bunuh diri pasca discharge dengan cara klinis yang berarti. 60% dari pasien yang bunuh diri post discharge dikatagorikan pada resiko rendah. Laki laki dan perempuan usia 18-65 tahun. but this remains to be established by future research. Dengan kriteria inklusinya: 1. an impulsive.

dari 157 pasien hanya 73 pasien yang memenuhi syarat. Untuk pengukuran gejala gejala yang berhubungan termasuk BDI AIRS dan BIS II. 4. soq menyediakan hasil survey yang luas dari sikap dan opini terkait bunuh diri secara umum. 3. Follow-up Assessment . Penggolongan atau koding di klasifikasikan sebsgai berikut: 1. Gangguan psikotik. Pasien keterbelakangan mental. Jika ada penyakit medis atau neurologis yang significant yang menyebabkan ketidakmungkinan hadir. Gangguan bipolar I dan II 4. Para psikiater yang terlibat dalam initial assesssment ini sudah tersertifikasi atau dibawah supervisi. Tuna wisma. Initial Assessment Partisipant diberikan paket yang berisi STS dan 2 alat ukur lainnya yaitu CSSRS dan BSS. Dari 157 pasien yang setuju berpartisipasi. Kriteria eksklusi 1. diagnosa diagnosa tersebut digolongkan dalam 4 katagori untuk memaksimalkan derajad bebas. Kemudian penentuan diagnosa klinis dari partisipant dilakukan dengan cara mengumpulkan discharge summary milik partisipant.Pbi. Anxietas atau unipolar depresif disorder 3. Sementara itu RSQ. Pasien dapat memehami informed consent. 5. Intervention Intervensi yang dilakukan dengan 2 tahap: 1. dan juga untuk reliabilitas dari diagnosa. Keterbatasan linguistic. 3. d. BSI disertakan sebagai ukuran umum dari symptomatologi. Gangguan kognitif. 2. mops ctq disertakan sebagai alat pengukur dari model keterikatan dan pengalaman tumbuh kembang. DSM IV axis 1 non primary yaitu mood anxietas 2. 2.

selama 6 bulan post discharge. Riwayat pengurungan. status perkawinan. adanya percobaan bunuh diri sebelum admisi yang pertama. penghasilan. penggunaan zat zat terlarang. Partisipant yang mengikuti follow up tidak memiliki perbedaan secara signifikant dibandingkan dengan pasien yang tidak mengikuti follow up dalam hal umur. f. Partisipant yang tidak dapat dihub dalam waktu 6 bulan setelah keluar dari rumah sakit atau menolak berpartisipasi dianggap sebagai lost follow up. kepemilikan tempat tinggal. level edukasi. sementara yang lainnya hilang kontak atau menolak. Outcomes/findings dari 161 partisipant yang memenuhi kriteria inklusi.Dimulai 2 bulan setelah pasien keluar dari rumah sakit dengan cara mengontak partisipant untuk mengikuti follow up assessment. hanya 54 orang yang mengikuti follow up assesssment (33%). Sebagai tambahan peneliti juga mencari data dari register kematian nasional AS dan rekam medis pasien di rumah sakit yang berpartisipasi untuk mendapatkan data tentang kunjungan ke unit gawat darurat atau hospitalisasi terkait percobaan bunuh diri setelah pasien keluar dari rumah sakit. Dari semua partisipant tersebut tidak ada yang terdaftar dalam register kematian nasional AS.1%) melaporkan percobaan bunuh diri post discharge yang sesuai dengan hasil yang diharapkan yaitu sekitar 20-25% g. diagnosa. Kelebihan dan kekurangan penelitian Kelebihan: 1. dan total skor STS Dari 54 partisipant yang mengikuti follow up 13 orang (24. Point terpenting yang dikaji adalah terjadi atau tidaknya percobaan bunuh diri. jenis kelamin. - Kekurangan: . e. Comparator Penelitian ini membandingkan hasil rawat luka pada kelompok intervensi yang menggunakan madu dengan rawat luka standar pada kelompok kontrol yang menggunakan povidone iodine.

1. . BAB IV PENUTUP 4. 2.2 Saran Perawat bisa mempertimbangkan untuk menggunakan madu saat melakukan rawat luka pada diabetic foot ulcers dari pada menggunakan perawatan luka standar dengan povidone iodine. khususnya luka pada diabetic foot ulcers. Madu yang digunakan adalah madu makan bersih non steril yang mudah di dapatkan. dan oedema. Temuan positif berasal dari prosedure pas.  Manfaat Teoritis Penelitian ini mampu mengembangkan intervensi keperawatan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Non Insulin dependent diabetes militus yang mengalami foot ulcers. Manfaat Hasil Penelitian bagi Keperawatan  Manfaat Praktis Penelitian ini dapat diaplikasikan oleh perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada tindakan rawat luka.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa perbandingan penggunaan madu dan povidone iodine pada perawatan luka pada Diabetic foot ulcers lebih efektif madu dalam hal waktu penyembuhan. replikasi independent dari temuan. a. Untuk membantu mempercepat penyembuhan luka. dimana prosedur ini masih konservatif. 4. Kecilnya jumlah partisipant yang mengikuti follow up. nyeri. Khususnya dalam melakukan rawat luka. menggunakan transformasi simple median pada skor STS. pemilihan item eksplorasi tanpa pembobotan.

Staf SMF Bedah Plastik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / RSUD Dr. Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Bedah Plastik Fakultas Kedokteran. Perawatan Ulkus Disbetes. Soetomo Surabaya . Universitas Airlangga / RSUD Dr. Spesialis Bedah Plastik (Konsultan). 2017. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana. Lynda Hariani. Kartika. Soetomo Surabaya David Perdanakusuma. Indonesia. Pengelolaan Gangren Kaki Diabetik. Jakarta. Daftar Pustaka Ronald W. Perawatan Ulkus Disbetes.

LEMBAR KONSULTASI PRESENTASI JURNAL BLOK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH Judul: “A Control Clinical Trial of Honey-Impregnated and Povidone Iodine Dressings in the Treatment of Diabetic Foot Ulcers among Indian Subjects” No Hari/Tanggal Materi konsultasi TTD Dosen konsultasi Pembimbing 1 21 April 2017 Judul jurnal. 2 3 .

4 .