You are on page 1of 12

I.

KONSEP MEDIS

A. Pengertian
Appendisitis merupakan peradangan pada apendik periformis. Apendik
periformis merupakan saluran kecil dengan diameter kurang lebih sebesar pensil dengan
panjang 2-6 inci. Lokasi apendik pada daerah illiaka kanan, di bawah katup iliocaecal,
tepatnya pada dinding abdomen di bawah titik Mc Burney.
Appendisitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen oleh
fekalith (batu faces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi lumen
merupakan penyebab utama appendisitis. Erosi membran mukosa appendiks dapat
terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica vermukularis. (Oveldolf, 2006)
Appendisitis merupakan inflamasi di appendiks yang dapat tanpa terjadi karena
penyebab yang jelas, setelah obstruksi appendiks oleh feses atau akibat terputusnya
appendiks atau pembuluh darahnya. (Corwin, 2009)

sebab lain misalnya keganasan (karsinoma karsinoid). Hiperplasia dari folikel limfoid c. sehingga timbul sumbatan fungsional appendiks dan meningkatkan pertumbuhan kuman flora pada kolon.n apendisitis. Etiologi a. Hal tersebut akan meningkatkan tekanan intra sekal. D. Apendisitis merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh obstruksi atau penyumbatan akibat : b. E. Penyebab utama appendisitis adalah obstruksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari folikel limfoid merupakan penyebab terbanyak. stiktura karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. adanya fekalit dalam lumen appendiks. Adanya benda asing seperti cacing. Patofisiologi F. C. Massa/Tinja/Benda Asing ↓ Obstruksi lumen apendiks ↓ Peradangan ↓ Sekresi mukus tidak dapat keluar Pembengkakan jaringan limfoid ↓ Peregangan apendiks ↓ Tekanan intra-luminal ↑ Suplai darah terganggu ↓ Hipoksia jaringan . Histilitica. Adanya fekalit dalam lumen appendiks d. Adanya benda asing seperti cacing askariasis f. Menurut penelitian. epidemiologi menunjukkan kebiasaan makan makanan rendah serat akan mengakibatkan konstipasi yang dapat menimbulka. B. Erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E. Tumor appendiks e.

peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis (Junaidi . 1982). Burney 5) Spasme otot 6) Konstipasi. makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Sel darah putih : lekositosis diatas 12000/mm3. demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah. sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah. Tanda dan Gejala 1) Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan 2) Mual. Pemeriksaan Diagnostik 1. muntah 3) Anoreksia. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus. Pada anak – anak karena omentum masih pendek dan tipis. diare H. sedangkan arteri belum terganggu. apendiks yang relatif lebih panjang . keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. dinamakan appendisitis perforasi. maka perforasi terjadi lebih cepat. netrofil meningkat sampai 75% . ↓ Nyeri Obstruksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah. G. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal. Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang. malaisse 4) Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah. keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut. kemudian timbul gangguan aliran vena.

Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga meminimalkan resiko. Komplikasi utama adalah perforasi appediks yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses apendiks b. 2. Komplikasi a. Tromboflebitis supuratif c. sebab obstruksi oleh fecalit dapat terjadi karena tidak adekuatnya diit serat. Pemeriksaan Radiologi BOF. Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah 5. dan peritonitis . Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedhan dilakukan 3. L. Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan 2. Abses subfrenikus d. Foto abdomen: Adanya pergeseran material pada appendiks (fekalis) ileus terlokalisir 4. Apendektomi dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Obstruksi intestinal J. Pencegahan M. Analgetik diberikan setelah diagnosa ditegakkan 4. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis meminimalkan resiko terjadinya gangren. tampak distensi sekum pada appendisitis akut. I. Pencegahan pada apendisitis yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi atau peradangan pada lumen apendik. perforasi. Urinalisis : normal. K. Penatalaksanaan 1. Pola eliminasi klien harus dikaji. tetapi eritrosit/leukosit mungkin ada 3. diit tinggi serat.

pucat. Fail chest. Breathing Inspeksi frekuensi nafas. d. Circulation Sirkulasi kaji adanya tanda – tanda syok seperti : hipoksia. penggunaan obat bantu pernafasan. Eksposure Buka semua pakaian pasien untuk melihat adanya luka. rochi wheezing. Airway Kaji adanya obstruksi jalan antara lain. dan suhu tubuh. f. suara stridor. gerakan otot pernafasan tambahan. takikardi. N. Pengkajian Primer b. akral dingin. takipnea. 2. penurunan produksi urin. kapilaris >2 detik. Kaji adanya suara nafas tambahan seperti. c. Pengkajian Sekunder 1) Identitas . hipotermi. gelisah karna hipoksia. Asuhan Keperawatan a. Disability Kaji tingkat kesadaran pasien serta kondisi secara umum. apakah terjadi sianosis karna lika tembus dada. e.

diagnosa. pucat. keadaan urine apakah jernih. periksa apakah produksi urine cukup. ekspresi wajah menahan sakit tanpa sakit ada tidaknya kelemahan. Thoraks dan Paru Apakah bentuknya simetris. apakah bisa kencing spontan atau retensi urine. tanggal atau jam masuk rumah sakit. Status kesehatan umum Kesadaran biasanya kompos mentis. 4) Riwayat penyakit keluarga Adalah keluarga yang pernah menderita penyakit diabetes mellitus. hipertensi. sianosis. 2) Riwayat penyakit sekarang Klien dengan post appendiktomy mempunyai keluhan utama nyeri yang disebabkan insisi abdomen. whezing. nama orang tua. pendidikan. Apakah ada ronchi. 3) Riwayat penyakit dahulu Meliputi penyakit apa yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi. stridor. Integumen Ada tidaknya oedem. Kepala dan Leher Ekspresi wajah kesakitan pada konjungtiva lihat apakah ada warna pucat. jenis kelamin. . e. pekerjaan. nomor register. gerakan cuping hidung maupun alat Bantu nafas frekwensi pernafasan biasanya normal (16 – 20 kali permenit). pekerjaan orang tua. alamat. umur pendidikan.Meliputi nama. distensi supra pubis. tidak ada pembuntuan serta terfiksasi dengan baik. 5) Pemeriksaan Fisik a. tidak flatus dan mual. keruh atau hematuri jika dipasang kateter periksa apakah mengalir lancar. apakah klien pernah masuk rumah sakit. ada tidaknya sumbatan jalan nafas. umur. Abdomen Pada post operasi biasanya sering terjadi ada tidaknya pristaltik pada usus ditandai dengan distensi abdomen. pemerahan luka pembedahan pada abdomen sebelah kanan bawah. c. operasi abdomen yang lalu. agama dan suku bangsa. obat-abatan yang pernah digunakan apakah mempunyai riwayat alergi dan imunisasi apa yang pernah diderita. gangguan jiwa atau penyakit kronis lainnya uapaya yang dilakukan dan bagaimana genogramnya. b. d.

adanya pernapasan cepat dan dangkal c. f. Kolaborasi: antibiotik 2.d distensi jaringan usus oleh onflamasi. lokasi dan durasi nyeri. Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik e. demam.d tidak adekuatnya pertahanan utama. O. penurunan bising usus d. drainase purulen  Tekanan darah >90/60 mmHg  Nadi < 100x/menit dengan pola dan kedalaman normal  Abdomen lunak. Kaji dan catat kualitas. Resiko tinggi terjadi infeksi b. perforasi. tidak ada distensi  Bising usus 5-34 x/menit Intervensi: a. Catat karakteristik drainase luka/drain. nadi. Nyeri b. juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan. Diagnosa Keperawatan 1. Lihat insisi dan balutan. Ekstremitas Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang hebat. adanya insisi bedah Kriteria hasil:  Persepsi subyektif tentang nyeri menurun  Tampak rileks  Pasien dapat istirahat dengan cukup Intervensi: . Kaji abdomen terhadap kekakuan dan distensi.peritonitis sekunder terhadap proses inflamasi Tujuan : tidak terjadi infeksi Kriteria:  Penyembuhan luka berjalan baik  Tidak ada tanda infeksi seperti eritema. eriitema f. Waspadai nyeri yang menjadi hebat b. Awasi dan catat tanda vital terhadap peningkatan suhu.

a. Hindari tekanan area popliteal f. Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahatperiodik . Auskultasi bising usus. Catat kelancara flatus e. Catat warna urin/konsentrasi d. Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan peroral dimulai dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi g. Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat untuk membantu melepaskan otot yang tegang e. analgetik sesuai program 3.d inflamasi peritoneum dengan cairan asing. karakteristik nyeri b. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuhb. Berikan perawatan mulut sering f. muntah praoperasi. Kaji turgor kulit. Kaji ulang embatasan aktivitas paska oerasi b. Catat lokasi. Berikan cairan IV dan Elektrolit 4. Monitor masukan dan haluaran . Pertahankan istirahat dengan posisi semi fowler c. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan b. Berikan antiemetik. Dorong untuk ambulasi dini d.  Membran mukosa lembab  Turgor kulit baik  Haluaran urin adekuat: 1 cc/kg BB/jam  Tanda vital stabil Intervensi: a. capilary refill c. pengobatan  Berpartisipasidalam program pengobatan Intervensi a. Awasi tekanan darah dan tanda vial b. membran mukosa. pembatasan pasca operasi Kriteria hasil. Kaji nyeri.d kurang informasi Kriteria:  Menyatakan pemahamannya tentang proese penyakit.

Revisi. Sjamsuhidajat. Corwin. (1997).C. Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.J. Buku saku patofisiologi. Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik. L. Doengoes. Rothrock. M. Jakarta. . edema/eritema luka. (2009). J. EGC. Jakarta. (2001). Jakarta. (2000). termasuk mengganti balutan. contoh peningkatan nyeri. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta. Elizabeth. EGC. R. EGC.D.c. pembatasan mandi d. J. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC. adanya drainase DAFTAR PUSTAKA : Carpenito. Ed. Diskusikan perawatan insisi. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. W. Jakarta. & Jong.E.

PATHWAYS Idiopatik makan tak teratur Kerja fisik yang keras Massa keras feses Obstruksi lumen Suplay aliran darah menurun Mukosa terkikis Perforasi Peradangan pada appendiks distensi abdomen Abses Peritonitis Nyeri .II.

Menekan gaster Appendiktomy pembatasan intake cairan peningk prod HCL Insisi bedah mual. muntah Resiko terjadi infeksi Nyeri resiko kurang vol cairan LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN APPENDISITIS DI RUANG KENANGA RSUD Dr. SUWONDO KENDAL .

Di susun oleh : Arum wahyu anggraini PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG 20016/2017 .