You are on page 1of 15

114

PENGARUH KOMBINASI 2,4-D DAN BENZIL AMINO PURIN (BAP)
TERHADAP PEMBENTUKAN KALUS PADA EKSPLAN DAUN
KENCUR (Kaemferia galangal L) SECARA IN VITRO

Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl. Raya Dukuhwaluh PO Box 202 Purwokerto

ABSTRACT

T his research aim to learn the influence of combination of concentration plant growth
regulator 2,4-D and BAP to callus induction at eksplan of Koempheria galanga leaf,
proliferasi callus at eksplan and also know the interaction influence between 2,4-D and
BAP to obtaining culture of callus Koempheria galanga which its growth good.
This research was conducted from April to September 2010, in Laboratory of Tissue
Culture, FKIP, University of Muhammadiyah Purwokerto. The Trial was arranged in Complete
Random Design (CRD). Perception variable cover the : time induce the callus, percentage explant
growth, callus volume which grow from explants leaf , culture appearance visually and percentage
contamination.
Result of research indicate that the Combination of concentration of Plant growth
regulator 2,4-D at concentration 0 - 2 mg / l of medium and BAP at] concentration 0 - 0,3
mg / l medium still not yet able to induce formed is callus at eksplan of leaf Koempheria galanga
during research. Disability Explants form the callus because of fenol high rate enough in tissue
explant and also not yet proportional it concentration 2,4 D and Benzil Aminopurin which can
depress the sintesis fenol in and death at explant of koempheria galanga leaf.

PENDAHULUAN yang bersumber dari tumbuh-
tumbuhan. Berdasarkan hal itu dapat
Konsep hidup kembali ke alam
diperkirakan bahwa permintaan obat
(back to nature) saat ini semakin
tradisional baik dalam negeri maupun
digalakkan dengan tujuan menekan
penggunaan bahan-bahan sintetis luar negeri akan meningkat.
Peningkatan tersebut akan dipacu oleh
(mengingat efek sampingnya),
semakin tingginya harga obat sintetis
mengendalikan pola hidup yang
dan khususnya di Indonesia harganya
konsumtif dan mengoptimalkan potensi
alam yang ada. Salah satu realisasinya naik sampai 400 % akibat krisis

adalah penggunaan obat tradisional

Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2,4-D …

seperti vinblastina/vinkristina Kombinasi zat pengatur pada tanaman tapak dara (Vinca rosea). 2003). fenol serta minyak atsiri ( banyak adalah dengan teknologi kultur Syamsuhidayat dan Johnny. flavonoid. produksi metabolit sekunder aromatik dapat menghasilkan senyawa tidak bergantung kepada sumber metabolit sekunder bernilai ekonomi tanaman di lapang. kodeina. obat batuk. produksi kosmetika.kinina satu faktor yang menentukan AGRITECH. Kultur in Senyawa saponin. jaringan seperti kultur kalus.). 1989). tinggi. Salah angin. digunakan sebagai bahan baku obat (Harris. digitalis (Dioscorea sp).). terkandung di dalam kencur merupakan melainkan dapat juga diterapkan untuk hasil metabolit sekunder suatu tanaman produksi metabolit sekunder. Melalui (Indrayanto. disentri. Vol. 1987). XII No. rempah. serta bahan kencur untuk kebutuhan pabrik-pabrik campuran saus rokok pada industri industry sangat dipengaruhi oleh rokok kretek. 2000 cit Shofiyani. pada tanaman kina Cinchoasp.penyedap makanan dan metabolit sekunder dari rimpang minuman. nutrisi. fitofarmaka. 2010 : 114 – 128 . piretrin pada tanaman Piretrum berpotensi sebagai obat yaitu kencur (Pyrethrum pelargonium) dan spearmint (Kaemferia galangal L) . tumbuh yang tepat merupakan salah ajmalisina. tonikum. 115 ekonomi (Ruspandy. yasmin pada tanaman melati (Jasminum Salah satu tanaman yang sambac). masuk iklim serta hama dan penyakit. sakit perut karena rimpangnya satu upaya untuk menghasilkan mengandung antara lain saponin. 2 Des. vitro tidak hanya dapat digunakan untuk fenol serta minyak atsiri yang konservasi dan perbanyakan tanaman. factor lingkungan seperti tanah. Secara empirik kencur keberadaan dan pertumbuhan tanaman digunakan sebagai penambah nafsu di lapang yang ditentukan oleh berbagai makan. tradisional (jamu). Tanaman obat dan teknik ini. industri Dalam kenyataannya. metabolit sekunder dengan jumlah yang flavonoid. ekspektoran. infeksi bakteri. Kencur banyak pada tanaman mentha (Mentha sp. 1991).

Zat pengatur tumbuh ini juga efektif untuk inisiasi kalus Tempat dan Waktu (Nagasawa dan Finer 1988). NAA dan 2. BAP. (Litz et al. 1996). diperkaya dengan Benzyl Amino Purin meliputi BA.116 keberhasilan kultur kalus.4.4 secara normal pada media yang D. Ada tiga (Araceae) menunjukkan bahwa induksi jenis zat pengatur tumbuh yang kalus dapat diperoleh pada kombinasi dibutuhkan untuk menginduksi auksin (2. 2003).4-D … . kelompok sitokinin dan adenin. Penelitian ini dilaksanakan di Penggunaan kombinasi antara auksin Laboratorium Kultur Jaringan. sebelumnya bahwa penggunaan 2. D) dengan sitokinin pembelahan sel yaitu kelompok auksin (kinetin) dan kalus dapat beregenerasi yang meliputi IAA. dan kinetin serta kelompok giberelin. kedua zat pengatur tumbuh tersebut Senyawa 2.4-D merupakan terhadap keberhasilan induksi kalus auksin kuat yang sering digunakan eksplan daun kencur perlu dikaji lebih secara tunggal untuk menginduksi jauh dalam penelitian ini. FKIP (2. Pembentukan kalus dapat dan Benzil Adenin berpengaruh positif diinduksi dengan cara mengatur terhadap keberhasilan induksi kalus pemberian zat pengatur tumbuh terhadap berbagai eksplan tanaman.4-D) dengan sitokinin (Benzyl Universitas Muhammadiyah Adenin ataupun kinetin) akan Purwokerto. Hasil penelitian pada tanaman hias Alocasia micholitziana Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2.. terbentuknya kalus dari berbagai jaringan tanaman (Bhojwani dan METODE PENELITIAN Razdan. Berdasarkan penelitian yaitu GA3 (George dan Sherrington. dengan jenis dan konsentrasi yang Namun demikian sejauh mana peran tepat. waktu penelitian selama 6 meningkatkan proses induksi kalus (enam) bulan.. 1995). Ad-SO4 (Thao et al. IBA. DMAA.4-D 1984).

Asam dan setiap unit perlakuan menggunakan Nikotinat.6H2O. 117 Alat dan Bahan HCl. H3BO3. Kloroc.2 0.5 D1B0 D1B1 D1B2 D1B3 1 D2B0 D2B1 D2B2 D2B3 1. skalpel Rancangan Percobaan dan blade.3 2. Semuanya KI. ZnSO4. Glisin.1 0. timbangan analitis. botol kultur. NaMoO4.4-D dan BA untuk proliferasi kalus BAP (mg/l) 0 0. Sukrosa. asam Kombinasi perlakuan untuk induksi sulfat. sukrosa.7H2O. KH2PO4. Kombinasi konsentrasi 2. BAP. pinset. CuSO4.2 0.4H2O. masing sebanyak 20 unit perlakuan FeSO47H2O. alkohol. Piridoksin-HCl.3 2.4-D dan BAP.4-D(mg/l) 0 D0B0 D0B1 D0B2 D0B3 0. MgSO4. CaCl2. 2 Des. (tabel 1 dan table 2). batang pengaduk.2H2O. Kombinasi konsentrasi 2. HgCl2.4-D dan BAP untuk induksi kalus BAP (mg/l) 0 0.5 D3B0 D3B1 D3B2 D3B3 2 D4B0 D4B1 D4B2 D4B3 Tabel 2. Laminair air flow cabinet (LAF). 2010 : 114 – 128 . 5 botol kultur. yaitu konsentrasi 2. Thiamin.4-D. MnSO4. proliferasi kalus terdiri atas dua faktor otoklaf. Vol. 2.1 0. lampu Perlakuan untuk induksi kalus dan spirtus.7H2O.2H2O. Kaporit. Tabel 1. gelas ukur.5H2O. lemari es.4-D(mg/l) 0 D0B0 D0B1 D0B2 D0B3 1 D1B0 D1B1 D1B2 D1B3 2 D2B0 D2B1 D2B2 D2B3 3 D3B0 D3B1 D3B2 D3B3 4 D4B0 D4B1 D4B2 D4B3 AGRITECH. aquades. lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. agar. kalus dan proliferasi kalus masing- CoCl2. XII No. pH meter. Na2EDTA. NH4NO3. disusun acak dalam rancangan acak Myoinositol. alumunium foil.

Bahan yang digunakan sebagai Proliferasi kalus dilakukan dalam eksplan adalah daun kencur.118 Tata Laksana Penelitian medium yang paling banyak menginduksi pembentukan kalus Sumber dan Steriliasi Eksplan setelah delapan minggu kultur. dan medium nyata. Jika uji ANOVA mg/l medium dan BAP 0 .5 cm dari daun yang tunas. persentase eksplan selama 5 menit. Inc. sudah terpilih dan disterilisasikan.4-D 0 .3 mg/l menunjukkan adanya perbedaan yang medium ( Tabel 1).3 95 %. Variabel yang diamati Sterilisasi dengan menggunakan Variabel yang diamati meliputi perendaman dalam alkohol 70 % waktu induksi kalus.5 x 0.4-D 0 (DNMRT)” pada tingkat kepercayaan – 4 mg/l medium dan BAP 0 – 0. Induksi kalus dan Proliferasi Kalus Analisis lanjutan Untuk menginduksi Pengaruh 2. dilanjutkan dengan yang tumbuh. penampilan dengan konsentrasi 1 g/100 ml air kultur secara visual dan persentase selama 5 menit. Selanjutnya penentuan Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2.4-D dan BAP terhadap pembentukan kalus dari eksplan yang induksi kalus di uji dengan analisis of ditanam dilakukan pada medium dasar varian (ANOVA) pada tingkat MS dengan penambahan 2.4-D … . Uji statistik dilakukan dengan mg/l medium. induksi tunas.0. maka analisis dilanjutkan dengan proliferasi kalus menggunakan medium “Duncan’s New Multiple Range Test dasar MS dengan penambahan 2. medium ploriferasi (tabel 2) dengan Penyediaan eksplan dilakukan dengan tujuan untuk memperbanyak kalus yang cara mengambil potongan daun dengan sudah didapatkan dari medium induksi ukuran 0. cara menanam eksplan dalam medium 1995”. volume kalus yang perendaman dalam larutan kaporit tumbuh dari eksplan daun . kontaminasi.2 kepercayaan 95%. menggunakan program “Statistica for Induksi kalus dilakukan dengan Windows Release 5 Statsoft.

yang mungkin kurang steril. kontaminasi yang disebabkan oleh Kontaminasi lebih banyak disebabkan jamur ekternal bukan dari eksplan yang oleh bakteri internal yang tumbuh di digunakan namun lebih berasal dari dalam jaringan tanaman. Sedangkan Dari data diatas dapat dilihat tingginya kontaminasi oleh bakteri bahwa perlakuan sterilisasi dengan internal disebabkan karena menggunakan alkohol 70% selama 5 eksplan/bahan tanam berupa daun AGRITECH. menunjukkan sumber kontaminan yang masing perlakuan masih dibawah 30 % mendominasi kontaminasi pada (tabel 3). menunjukkan rerata tingkat persentase Hasil tersebut menunjukkan kontaminasi sebesar 22. bahwa metode sterilisasi yang Sumber Kontaminasi digunakan sudah cukup efektif untuk Pengamatan terhadap sumber mengurangi bahkan menghilangkan kontaminasi menunjukkan bahwa sumber kontaminan dari eksplan sumber kontaminan pada media khususnya untuk kontaminan berupa disebabkan oleh jamur maupun bakteri jamur dan bakteri eksternal. Dari tabel 3 diatas terlihat kemudian jamur eksternal yang berasal bahwa perlakuan sterilisasi dari media tanam maupun dari eksplan menggunakan alkohol 70% selama 5 itu sendiri. Sumber spora jamur yang berasal dari kontaminan yang menyerang dapat lingkungan tempat inkubasi eksplan dilihat pada tabel 3 . XII No. Vol. 2 Des. 119 HASIL DAN PEMBAHASAN menit dilanjutkan perendaman eksplan Kontaminasi kedalam larutan kaporit dengan Secara umum tingkat/ konsentrasi 1 g/100 ml air persentase kontaminasi pada masing.2 %. penelitian ini adalah bakteri internal. Tingginya baik eksternal maupun internal. 2010 : 114 – 128 . Munculnya sumber menit dilanjutkan Perendaman eksplan kontaminan di dalam medium MS yang kedalam larutan kaporit dengan digunakan berkisar pada 12-20 hari konsentrasi 1 g/100 ml air setelah eksplan diinokulasi/ditanam.

Dalam tabel 4 terlihat pertumbuhan dan perkembangan yang bahwa persentase eksplan yang tidak diindikasikan berupa pembentukan terkontaminasi pada masing-masing kalus dari eksplan daun kencur.4 D dan BAP dalam medium induksi tunas pada yang diberikan pada medium tanam umur 2 minggu setelah tanam sebagian sebagai perlakuan untuk menginduksi besar masih menunjukkan kondisi kallus.3 sebesar 77. volume kalus yang dikendalikan/dihilangkan dengan tumbuh dari eksplan serta penampilan menggunakan metode sterilisasi yang kultur secara visual tidak dapat disajikan digunakan. Ketiga variabel Eksplan yang tumbuh pengamatan tersebut dapat diamati Pengamatan persentase eksplan setelah eksplan yang ditanam dalam yang tumbuh dapat dilihat pada tabel 4 medium induksi kalus menunjukkan dibawah ini. kedalam larutan kaporit dengan Pertumbuhan dan konsentrasi 1 g/100 ml air perkembangan eksplan pada medium menunjukkan tingkat eksplan yang dasar MS dengan penambahan 2. Namun perlakuan menunjukkan bahwa demikian hingga akhir pengamatan 8 perlakuan sterilisasi dengan minggu setelah tanam. eksplan yang cukup baik. Eksplan daun Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2.0.4-D … . Eksplan yang ditanam kombinasi perlakuan 2. eksplan belum menggunakan alkohol 70% selama 5 menunjukkan tanda-tanda membentuk menit dilanjutkan perendaman eksplan kallus.4-D 0 tidak terkontaminasi cukup tinggi yaitu -2 mg/l medium dan BAP 0 . dimana Penampilan Kultur secara Visual biasanya bateri yang berada dibagian Hasil pengamatan waktu dalam jaringan tanaman sulit induksi kalus (hst). namun demikian belum mg/l medium belum mampu mengarah ada eksplan yang dapat tumbuh dan pada pembentukan kalus sesuai dengan membentuk kallus pada masing-masing yang diharapkan.8 %. dalam laporan ini. Volume kalus yang Tumbuh dari Eksplan dan dalam jaringan daun tersebut.120 kencur sudah membawa bakteri di Waktu Induksi Kalus.

Vol. Kondisi esplan dalam medium MS induksi kalus dengan modifikasi 2. . a. Namun demikian pada minggu karena daun kencur yang digunakan ke 3 pada tepi eksplan mulai terjadi sebagai eksplan memiliki kandungan pencoklatan (browning). Proses pencoklatan pada eksplan daun kencur yang ditanam dalam medium MS induksi kalus dengan modifikasi 2.4 D dan BAP umur 14 hst – 20 hst. 2 Des. yang berjalan senyawa fenol yang cukup tinggi. AGRITECH. Eksplan umur 14 HST b. terus menerus hingga semua eksplan Seperti dikemukakan di atas bahwa di menunjukkan warna pucat (coklat dalam tanaman kencur mengandung muda). 121 kencur yang digunakan masih berwarna Proses pencoklatan pada hijau dan penampilan eksplan masih eksplan dalam penelitian ini diduga segar .4 D dan BAP selama penelitian. XII No. Gambar 2. 2010 : 114 – 128 . Eksplan umur 20 hst Gambar 1.

4 Aminopurin (BAP) yang digunakan D dan NAA yang digunakan. untuk induksi kalus. et. digunakan akan mengantarkan sel pada Dalam penelitian ini eksplan yang pembentukan kalus.4 D dan Benzil khususnya perimbangan kosentrasi 2. fenol serta dalam keadaan yang seimbang.122 senyawa saponin. kurang tepatnya penggunakan zat konsentrasi zat pengatur tumbuh pengatur tumbuh yang digunakan khususnya 2. digunakan berupa daun kencur yang Seperti yang diungkapkan oleh sudah membuka sempurna (dewasa). Selain kondisi eksplan dimana Ketidakmampuan eksplan membentuk diduga kandungan senyawa fenol yang kalus lebih disebabkan oleh karena cukup tinggi didalam jaringan eksplan . dalam penelitian ini memiliki peran Selain perimbangan zat terhadap keberhasilan pembentukan pengatur tumbuh yang digunakan kalus pada eksplan daun kencur. penggunakan Keseimbangan konsentrasi zat pengatur sumber eksplan juga berpengaruh tumbuh jenis auksin dan sitokinin yang terhadap keberhasilan induksi kalus. penggunaan pembentukkan kalus terjadi jika bagian tanaman yang masih juvenil perbandingan auksin dan sitokinin (muda/meristematik) akan lebih Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2. Widiastoety (1985) bahwa Menurut Santoso (2004). yang dirangsang secara oksidasi senyawa fenol didalam suatu hormonal. membuat kalus berarti pendapat Suskendriyati. minyak atsiri sebagain hasil metabolit Pendapat lain juga diungkapkan sekunder . Hal ini sesuai dengan Santoso (2004). eksplan yang digunakan. Kesesuaian dan ketepatan jaringan atau sel merupakan salah satu pemilihan jenis dan perimbangan penyebab terjadinya proses pencoklatan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang yang berakibat kematian pada eksplan digunakan akan mempengaruhi yang digunakan dalam kegiatan kultur keberhasilan pembentukan kalus pada in vitro. flavonoid.al (2004) menginduksi dari bagian tanaman yang menyatakan bahwa akumulasi dan tertentu.4-D … .

3 mg/l medium diungkapkan oleh George and masih belum mampu menginduksi Sherrington (1984) . 2 Des. 2010 : 114 – 128 . muda dan banyak ada di dalam eksplan terhadap proses dijumpai pada daerah-daerah pencoklatan pada eksplan. Kombinasi konsentrasi zat diduga masih sangat rendah( kurang) pengatur tumbuh 2.3 totipotensi bahan tanam. dan terbentuknya kalus pada eksplan Satria (1995) bahwa kombinasi daun kencur selama penelitian.4-D pada untuk dapat merangsang sel eksplan kisaran konsentrasi 0 – 2 mg/l daun kencur untuk membentuk kalus.4 D pada AGRITECH. Ketidakmampuan eksplan Sitokinin (BAP) yang tinggi dapat membentuk kalus disebabkan oleh menunda sintesa senyawa polyfenol dan kadungan fenol yang cukup tinggi mengurangi pencoklatan pada eksplan. di dalam jaringan eksplan serta Berdasrkan pernyataan diatas diduga belum berimbangnya konsentrasi konsentrasi auksin jenis 2. meristematik tanaman seperti bagian tunas aksilar. dimana pada mg/l masih belum mampu mengurangi umumnya sifat totipotensi lebih banyak sintesa senyawa fenol dan dimiliki oleh bagian tanaman yang menghilangkan pengaruh fenol yang masih juvenil. medium dan BAP pada kisaran Pendapat lain yang konsentrasi 0 – 0. XII No.4 D pada kisaran 0-2 mg/l pembahasan di muka dapat medium dan Benzil Aminopurin (BAP) disimpulkan bahwa : pada kisaran 0-0. 1. Hal ini berkaitan dengan kondisi (BAP) pada kisaran konsentrasi 0-0. 123 memudahkan induksi kalus kisaran konsentrasi 0-2 mg/l medium dibandingkan jaringan yang sudah yang dikombinasikan dengan senyawa mengalami pendewasaan seperti organ Sitokinin jenis Benzil Aminopurin daun.4-D) dan 2. Vol. Zaid (1995) . konsentrasi auksin (2.3 mg/l medium. KESIMPULAN Konsentrasi zat pengatur Berdasarkan hasil dan tumbuh 2.

Lab. 6.M. Karya Ilmiah.. 1982. PAU Bioteknologi. Seswita dan N. D. Panili. Solichatun dan Lank) Melalui Kultur Jaringan.. Ahmad DW. p. dikarenakan belum diperolehnya George. 2001. 1.4 D dan Culture. dan Sherrington. 32 : Prosiding Kongres IV dan 425-430 Simposium Nasional PERIPI.J. A. Junk Publ.. 1983. vol. Teknik Kultur Jaringan . occurrence and pencoklatan dan kematian pada Fuction in Plant Hormones and Their Role in Plant Growth and eksplan daun kencur. The Hague. Exergetic Limited.J. L. Davies.S. P. L. Euphica.D. (Ed) 3. 1988. Saponin Kultur Kalus Talinum Bogor. paniculatum dengan Variasi Pemberian Sumber Karbon. no. Dordrecht. E. 2004. Multiplikasi the Meristem of Arachis hypogaea Tunas Panili Hasil Regenerasi and Cicer arientinum Cryopreserved Kalus Secara In Vitro. Gunawan. Hal. Lancaster. Belum ditemukan pengaruh M. Chiek.W. Pertanian IPB. Bio Davied. p : 1-11. kencur yang pertumbuhannya baik Jakarta.P. Bajaj. Plant Propagation by Tissue perimbangan konsentrasi 2. April 2004. Nijhoff Publ. Seeda from Plants Regenerated from Ajijjah.4 D dan Benzil Aminopurin yang W.4-D dan BAP Ditejabun. 331-382.p : 73-108. Statistik Perkebunan terhadap peroleh kultur kalus Indonesia 1998-2000. BAP yang tepat untuk induksi kalus England. Develompment. 283-286. 1987. 1992. Kultur Jaringan Tanaman Depdikbud Dirjen DAFTAR PUSTAKA Dikti. The Netherland.E. In Vitro Propagation of Smart.(Ed) M Nijhoff & Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2. P. Gymnospermae in Tissue Culture in Forestry Bonga J. The Plant Hormone: dalam jaringan penyebab poses Their Nature. D.F. P..J. IPB Bogor. interaksi antara 2. pada eksplan daun kencur. Boston. Production of Normal Hadipoenyanti.2000.Y. Dalam for 20 Months. 1984. H.4-D … . Y. dapat menekan sintesis fenol di Davies. Perbanyakan Tanaman Nangka (Artocarpus heterophyllus Suskendriyati. Yogyakarta. 39-71. dan Durzan. Jurusan Budidaya Pertumbuhan dan produksi Pertanian Fak.124 2.

C. Agriculture . 1981. Nikmatullah. Dan Fatimah N. 1987. Rosita SMDM. Induksi Kalus Plant Hormones and Their Role in Artemisia vulgaris L dari Sumber Plant Growth and Development. Rufledge. Inc.B dan G. 283-286. Eksplan yang Berbeda. T. Culture and Micropropagation in Santoso.) dengan Murashige. Meristem Culture and Purseglove. G. U. Commercial Clones of Polar In- Krikorian. A.E. Pelita Perkebunan ( ) 129-133.2. San Diego. textilis Nee) Melalui Kultur Mata Tunas Secara In vitro. 1988. Pp :181-209. dan N. T. Multiplikasi Tunas Pertanian Balai Penelitian Panili Hasil Regenerasi Kalus Tanaman Obat dan Aromatika.J. 105 hal. Kultur Jaringan Tanaman. Plant Physiology 25 : aktif dengan komposisi 135-166. 1996. Hadipoenyanti.J. 2000. 2004.D. 2.W. E. Lancaster. Fakultas Pertanian UNRAM Satria.A. Secara In Vitro. K. Plant Propagation menggunakan eksplan hipokotil through Tissue Culture. Thorpe (ed). Application in : Plant Tissue Species.R. XII No. Vol. Mulyaningsih T dan A. Vol. UMM Press. Physiol. B. vitro. Boston. 367- Smith. 1974. 125 Kartha... Cryopreservation Method and Green dan S. Robins. M. Perbanyakan manggis (Garcinia mangostana L. Tanaman Kencur. C.L. 813p. p : 593-613 Santoso. Kultur Jaringan Tanaman.L. Kelly dan D.J. K. Perbanyakan Abaca (Musa Hal. (Ed) M. Publ.G.John Wiley and Culture Method and Application in Sons Inc. Rahardjo Pertanian Universitas Andalas dan Taryono. Brown. AGRITECH. Ed. Tips and Micropropagation of 12 California. 1995. Malang 2008.. Nijhoff Pusbitan UMM. Douglas. Penelitian dan Pengembangan Ajijjah. Fakultas Otih R. Budidaya Padang. Annual pada kombinasi dosis arang Review.K. New York. Dordrecht. Hormones in Tissue 373. konsentrasi BAP dan NAA secara in-vitro. Plant 72 . 2 Des. Priyono. 2001. Badan Seswita.2005. Yogyakarta. U. D. Malang. 2010 : 114 – 128 . Academic Pess. 1988. Dalam Prosiding Bogor Kongres IV dan Simposium Nasional PERIPI. P. Davies.

Hadipoenyanti.J.H. dan E.B dan M. B. L.O. Edisi Khusus Littro. Rapid Multiplikation of Heuchera sengueina Engelm “Rosamundi” Propagation in vitro. 1985. Mapes. Tisserat. Sitepu. FKIP Univ. 283-286 Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2. Stapper.) cv.M. 1987. 2001. Perbanyakan Panili Hibrida Secara In Vitro.R L(Ed. D. 1986. A.M. Perbanyakan Pisang Abaka (Musa textilis Nee. 50 – 56 h. Publ. I. Organogenesis and Plant Regeneration in Plant Cell Culture a Practical Approuch.V no.R. R. Junk DES 2003.). 1991. R. 2003. The Netherland. Embryogenesis. Kencur Secara In Vitro. AGRITECH. dan D. p :231-251 Sisunandar dan Julia. 2000.A. Syamsuhidayat. SS dan Johny. dan A. The Hague. Pemberian Variasi NAA & Action of Growth Regulator in BAP Terhadap Pertumbuhan Tissue in Tissue Culture in Forestry. (Ed). Tombe. Hal. Sci. and C. 21(4):1043-1044. dan Durzan. Dalam Prosiding Kongres IV dan Simposium Nasional PERIPI.E. 1987. Inventaris Tanaman Obat. Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Vol. Heuser.2 . Tangongon secara In vitro. Udarno. Zearr. Dixon. Muhammadiyah Purwokerto.W. D. 616 p. J. M Nijhoff & W. Penyakit Panili di Indonesia.4-D … . III92): 103-108. Press Limited Oxford. Yogyakarta.. Hort. Bonga J. Suyadi.126 Shofiyani. Laporan Penelitian.

2 D4B1 11. XII No.1 D4B2 11. 2010 : 114 – 128 .1 11. Persentase eksplan yang terkontaminasi (%) dari berbagai sumber Kontaminan Sumber Kontaminan (%) Perlakuan %Kontaminasi Eksternal Internal Jamur Bakteri Jamur Bakteri D0B0 22.44 1.1 33.2 D3B0 22.2 11.1 11.3 11.2 11.11 11.1 D0B1 33.1 11.2 11.1 11.1 AGRITECH.1 11.1 D1B0 11.3 11.1 D3B3 22.4 11.2 22.2 9.1 D0B2 11.1 22.1 11. 127 Tabel 3.3 22. 2 Des.1 11.1 D4B0 33.1 11.1 11.2 22.2 Rerata 22.1 11.1 D1B2 11.3 22.1 11.1 D2B0 22. Vol.2 D3B1 44.1 11.1 11.1 D0B3 22.1 11.2 11.1 D1B3 11.1 D1B1 33.2 11.3 D3B2 33.1 D2B3 22.2 22.1 11.3 22.1 D2B1 33.1 D2B2 11.1 D4B3 22.

8 0 D2B1 66.128 Tabel 4.8 0 Anis Shofiyani dan Agus Mulyadi Purnawanto : Pengaruh Kombinasi 2.7 0 D3B3 77.7 0 D2B2 88.9 0 D2B3 77.7 0 D1B2 88.6 0 D3B2 66.9 0 D0B3 77.9 0 D1B3 88.8 0 D0B1 66.4-D … .8 0 Rerata 77.7 0 D0B2 88.8 0 D4B0 66.9 0 D4B2 88.8 0 D1B0 88.9 0 D1B1 66.7 0 D4B1 88.9 0 D2B0 77.8 0 D3B0 77.9 0 D4B3 77.8 0 D3B1 55. Persentase eksplan yang tidak terkontaminasi dan persentase eksplan yang tumbuh Persentase eksplan Persentase eksplan Perlakuan tidak terkontaminasi tumbuh D0B0 77.