You are on page 1of 4

I.

PENDAHULUAN

Gigi desidui merupakan hal terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak,
tidak hanya berfungsi utnuk berbicara, mengunyah, penampilan, dan pencegahan kebiasaan
buruk, tetapi juga dalam membimbing erupsi gigi permanen. Erupsinya gigi permanen
menggantikan gigi desidui merupakan proses fisiologis normal yang terjadi pada setiap anak,
saat hal ini terganggu maka faktor-faktor seperti premature loss, karies proksimal, dll, dapat
menyebabkan migrasi gigi ke arah mesial yang mengakibatkan hilangnya panjang lengkung
gigi yang normal sehingga terjadi maloklusi pada gigi permanen dalam bentuk crowding,
impaksi gigi permanen, dan lain sebagainya. Cara menghindari masalah tersebut adalah
menjaga kesehatan gigi desidui sampai waktu erupsi gigi permanen yang seharusnya (Setia
dkk, 2013).
Periode kritis yang berhubungan dengan berkurangnya space terjadi pada saat
pergantian gigi desidui dengan gigi permanen, atau pada periode gigi bercampur. Suatu
kenyataan bahwa banyak gigi molar kedua desidul sudah hilang/dicabut sebelum anak
mencapai usia 7 tahun. Padahal gigi molar desidui masih sangat dibutuhkan perannya dalam
memacu pertumbuhan tulang rahang, yaitu dengan meneruskan rangsang pertumbuhan dan
tekanan pengunyahan yang diterimanya. Apabila ekstraksi gigi desidui atau premature
loss tidak dapat dihindari karena karies yang sangat luas, maka pilihan yang dapat digunakan
untuk mempertahankan ruang gigi desidui yang hilang tersebut dengan menggunakan space
maintainer. Space maintainer digunakan untuk mempertahankan ruang sampai gigi permanen
pengganti erupsi (Setia dkk, 2013).
Space maintainer terdiri dari 2 jenis yaitu removable space maintainer dan fixed space
maintainer. Keuntungan dalam kegunaan alat lepasan adalah biaya yang terjangkau, tetapi
memiliki kerugian dalam hal resiko kehilangan atau kerusakan pada alat selain itu
membutuhkan kerjasama pasien yang cukup tinggi dalam pemakaian alat tersebut karena jika
alat tersebut jarang dipakai maka tidak akan berpengaruh dalam menjaga lengkung gigi
geligi. Sementara penggunaan fixed space maintainer pada klinik tidak digunakan karena
biaya yang cuku mahal (Faheemudin dkk., 2012).
SPACE REGAINER

Space regainer perlu dipertimbangkan pemakaiannya apabila terjadi space loss
atau penyempitan ruang. Penyebab terjadinya space loss antara lain karies proksimal
gigi desidui, gigi yang erupsinya ektopik, perubahan dalam urutan erupsi gigi, gigi
molar desidui yang ankilosis, impaksi gigi, transposisi gigi, missing teeth, resorpsi akar
gigi molar desidui yang abnormal, erupsi gigi permanen terlalu dini atau terlambat, dan
morfologi gigi yang abnormal (Kuswandari dkk, 2007). Indikasi pemakaian alat space
regainer adalah pada premature loss gigi molar desidui yang mengakibatkan terjadinya
kekurangan ruang erupsi gigi permanen. Kontraindikasi pemakaian alat space regainer,
antara lain : apabila ruang yang akan terjadi akibat premature loss gigi desidui cukup
atau lebih bagi ruang erupsi gigi pengganti, apabila dilakukan pencabutan untuk
pencarian ruang pada perawatan ortodontik, apabila gigi pengganti tidak ada dan
penutupan ruang diinginkan, pasien alergi terhadap akrilik, pasien tidak kooperatif.
Syarat-syarat pembuatan space regainer, antara lain : terdapat kekurangan ruang mesio-
distal untuk erupsi gigi permanen pengganti, mampu menciptakan jarak mesio-distal,
erupsi gigi antagonis tidak terganggu, erupsi gigi permanen tidak terganggu, tidak
mengganggu fungsi bicara, pengunyahan, dan pergerakan mandibula, bentuk
sederhana, mudah dalam perawatan, dan mudah untuk dibersihkan. Kerugian
penggunaan alat space regainer yaitu dapat mengiritasi jaringan lunak di sekitarnya dan
dapat menghambat pertumbuhan rahang ke arah lateral. Sasaran intervensi terhadap
space loss dengan space regainer adalah pemulihan lebar dan perimeter lengkung serta
memperbaiki posisi erupsi gigi permanen penggantinya. Space regainer harus dipakai
dan dikontrol terus sampai gigi permanen disebelahnya erupsi sempurna atau sampai
diawalinya perawatan ortodontik (Kuswandari dkk, 2007).

Analisis Ruang

Perkiraan ukuran gigi yang belum erupsi adalah dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:

UGD M x UGD Ro”
X=
UGD Ro

Keterangan:
X = Ukuran gigi dalam mulut yang belum erupsi
UGD M = Ukuran ruang dalam mulut atau pada model studi
UGD Ro = Ukuran ruang dalam rontgen foto
UGD Ro” = Ukuran gigi dalam rontgen foto yang belum erupsi.

Analisis Panjang lengkung
Analisis untuk memperkirakan kebutuhan ruang bagi gigi permanen yang akan erupsi:
a. Nance analysis
Gigi yang terpilih: III, IV, V dan 3, 4, 5 = lee way space
Lee way space adalah space yang ada akibat selisih besar jumlah ukuran mesio distal gigi
III, IV, V dan 3, 4, 5.
b. Moyer’s mixed dentition analysis
Dasar pemikirannya adalah korelasi antara satu kelompok gigi dan kelompok gigi lainnya
dalam satu regio. Gigi yang dipakai sebagai pedoman adalah 32, 31, 41 dan 42
(McDonald, dkk., 1994).
c. Kuswandari and Nishino method
Dasar pemikirannya adalah memperkirakan gigi 345 yang belum erupsi melalui gigi
permanen yang telah erupsi. Gigi yang digunakan sebagai pedoman yaitu gigi 36 32 42
46
d. Metode Huckaba
Metode ini untuk memperkirakan besarnya gigi yang belum erupsi.
Rumus : B = A x B’
A’
Keterangan : B = besar gigi yang belum erupsi
B’= besar gigi yang belum erupsi dalam ro’
A = besar gigi yang sudah erupsi
A’= besar gigi yang sudah erupsi dalam ro’
Setelah melakukan analisis ruang dan panjang lengkung, dapat diketahui derajat
crowding lengkung gigi. Menurut Andlaw dan Rock (1992), gigi dapat digolongkan sebagai
salah satu dari tipe berikut:
1. Gigi tidak berjejal dengan kelebihan ruang.
Ciri-cirinya adalah terdapat spacing di antara gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia
dalam lengkung rahang melebihi ruang yang diperlukan untuk gigi-gigi yang belum
erupsi.
2. Gigi tidak berjejal dengan ruangan cukup.
Ciri-cirinya adalah kontak normal di antara gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia dalam
lengkung sama dengan ruang yang diperlukan untuk gigi-gigi yang belum erupsi.
3. Crowding ringan.
Ciri-cirinya adalah sedikit overlap pada gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia dalam
lengkung rahang kurang sampai 4 mm dari yang diperlukan untuk gigi-gigi yang belum
erupsi.
4. Crowding berat.
Ciri-cirinya adalah overlap rotasi atau pergeseran gigi-gigi insisivus; ruang yang tersedia
dalam lengkung rahang kurang melebihi 4 mm dari yang diperlukan untuk gigi-gigi yang
belum erupsi.

Kuswandari, S., Sri Rantinah, SB, Jatmiko, IS., dan Kusumawardani, P., 2007, Bahan Ajar
Ilmu Kedokteran Gigi Anak II, FKG UGM, Yogyakarta.
Faheemuddin, M., Yazdanie, N., dan Nawaz, MS., A Simple and Quick Technique of
Fabricating A Space Maintainer for Avulsed Primary Maxillary Incisors, Pakistan
Oral and Dental Journal, 32(2):348-350.

Setia, V., Pandit, IK., Srivastava,N., Gugnani, N., dan Sekhon, HK., 2013, Space Maintainers
in Dentistry: Past to Present, Journal of Clinical and Diagnosis Research, & (10):
2402-2405.

Andlaw, R.J dan Rock, W.P., 1992, Perawatan Gigi Anak (terj), edisi 2, Widya Medika,
Jakarta.

Mc.Donald, R.E dan Avery, D.R., 1994 Dentistry for The Child and Adolescent, Sixth
edition, Mosby, St.Louis.