You are on page 1of 7

Diagnosis Banding Kejang pada Anak

1. Kejang Demam
Definisi
Merupakan kejang pada anak diatas 1 bulan, berhubungan dengan demam yang tidak
disebabkan oleh infeksi sistem saraf pusat, tanpa ada kejang neonatus sebelumnya, atau kejang
yang diprovokasi dan tidak memenuhi kriteria untuk kejang simtomatik akit lainnya (ILAE
1983). Kejang demam adalah bentuk kejang tersering pada anak-anak.

Manifestasi Klinis
Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal > 38oC) yang
disebabkan proses ekstrakranium

Klasifikasi
Karakteristik Kejang demam sederhana Kejang demam kompleks
Durasi <15 menit > 15 Menit
Bentuk bangkitan Umum Fokal/kejang umum didahului fokal
Rekurensi dalam 24 jam Tidak ada Ada
Gejala fokal pasca iktal Tidak ada Ada

Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Hb, leukosit, hitung jenis, trombosit, morfologi sel, Na, K, Cl, glukosa darah sesuai indikasi
b. Pungsi Lumbal
Dilakukan pada semua anak kejang disertai demam, dan memiliki gejala rangsang
meningeal, atau ditemukan tanda meningitis. Pungsi lumbal juga dilakukan pada bayi usia 6-
12 bulan belum diimunisasi Hib atau Streptococcus pneumoniae, mengalami kejang disertai
demam.

Algoritma Penegakan Diagnosis
2. Epilepsi
Definisi
Merupakan kondisi gangguan kronik yang ditandai oleh berulangnya bangkitan
epilepsi. Bangkitan epilepsi merupakan manifestasi klinis lepas muatan listrik yang berlebihan
dan hipersinkron dari sel neuron di otak.
Sindrom epilepsi adalah epilepsi yang ditandai oleh sekumpulan gejala dan tanda klinis
yang terjadi bersama-sama, meliputi jenis serangan, etiologi, anatomi, faktor pencetus, usia
onset, berat penyakit, kronisitas, dan kadang prognosis.

Klasifikasi
Klasifikasi Epilepsi Internasional
a. Epilepsi parsial
b. Epilepsi umum
c. Tidak terklasifikasi

Klasifikasi Epilepsi dan Sindrom Epilepsi (ILAE 1989)
a. Epilepsi yang berkaitan dengan lokalisasi (fokal, parsial)
b. Epilepsi umum
c. Epilepsi umum dan sindrom yang tidak dapat ditentukan sifat fokal atau umum
d. Sindrom spesial

Diagnosis Kerja
Pada dasarnya epilepsi merupakan diagnosis klinis, berdasarkan anamnesis ditunjang dengan
gambaran EEG. Skema diagnositik epilepsi dibagi menjadi 5 aksis:
- Aksis 1: Iktal fenomenologi (bangkitan berdasarkan iktal terminologi)
- Aksis 2: Tipe bangkitan (berdasarkan tipe, lokalisasi, dan rangsang presipitasi bangkitan)
- Aksis 3: Sindrom (berdasarkan daftar sindrom epilepsi)
- Aksis 4: Etiologi
- Aksis 5: Gangguan Fungsi

Pemeriksaan Penunjang
a. EEG
Bertujuan untuk menentukan klasifikasi sindrom epilepsi di luar bangkitan.
b. MRI Kepala
Bertujuan untuk mengetahui kelainan struktur otak.
3. Neonatal Seizures

Etiologi
4. Status Epileptikus
Definisi
Status epileptikus (SE) adalah bangkitan yang terjadi terus menerus > 30 menit berupa
bangkitan fokal/umum, konvulsi/nonkonvulsi atau dalam 30 menit terjadi beberapa kali
bangkitan tanpa adanya pemulihan kesadaran.
Impending SE adalah keadaan bangkitan akut ditandai kejang umum terus menerus
selama 5 menit atau kejang nonkonvulsi (klinis/EEG) atau kejang fokal > 15 menit atau tidak
ada pemulihan kesadaran diantara 2 bangkitan.

Epidemiologi
Sering ditemukan pada anak usia < 3 tahun. Keadaan yang mendasari antara lain:
- Akut: ensefalopati, ensefalitis, meningitis, pendarahan intrakranial
- Kronis: malformasi otak, sindrom neurokutan, pasca-trauma kepala, epilepsi

5. Ensefalitis Herpes Simpleks
Definisi
Manifestasi kelainan neurologi yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks (VHS)

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis tidak spesifik, dapat akut atau subakut. Pada fase prodormal terjadi
malaise dan demam 1-7 hari. Manifestasi ensefalitis dimulai dengan sakit kepala, muntah,
perubahan kepribadian dan gangguan daya ingat, kemudian kejang (fokal/umum) dan terjadi
penurunan kesadaran. Tanda neurologis menunjukkan hemiparesis, afasia, ataksia, gangguan
sistem autonom, paresis saraf kranial, kaku kuduk, dan papiledema.

Diagnosis
Ditemukan demam, kejang fokal, dan gejala neurologis fokal. EEG ditemukan
gambaran periodic lateralizing epileptiform discharge atau perlambatan foal di daerah
temporal atau frontotemporal. CT-Scan ditemukan hipodens di lobus temporal atau frontal.

6. Meningitis Tuberkulosis
Manifestasi Klinis
Stadium I
Didominasi gejala gastrointestinal. Anak apatis atau iritabel dengan sakit kepala yang hilang
muncul, kenaikan suhu ringanm anoreksia, mual muntah. Khususnya pada bayi, kejang
demam merupakan gejala yang paling menonjol. Berlangsung + 2 minggu.

Stadium II
Anak terlihat mengantuk dan mengalami disorientasi dengan tanda iritasi meningen. Refleks
fisiologis meningkat, refleks abdominal menghilang. Ditemukan keterlibatan CN III, VI, dan
VII.

Stadium III
Anak dapat dalam keadaan koma atau terdapat periode penurunan kesadaran. Dapat
ditemukan refleks pupil menurun, spasme klonik rekuren dari ekstrimitas, pernafasan reguler,
dan demam tinggi.
Manifestasi Tuberkuloma menyerupai gejala space occcupying lession (SOL) seperti kejang
fokal, hemiparesis, dan paresis saraf otak.

Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, gejala TB, pemeriksaan neurologis. Ditunjang dengan pemeriksaan
CSF dan CT-Scan kepala dengan kontras.
Daftar Pustaka
Nelson Textbook of Pediatrics, 18th Ed, 2007
Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak, Edisi ke-5, 2014