You are on page 1of 3

Nama : AURIZAL RISANDY IRAWAN

NPM : 260110160131

Kelas :D

Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Kesehatan

SEVEN STAR PHARMACIST

Farmasis atau apoteker adalah Seven Star Pharmacist merupakan sebuah
istilah yang diungkapkan oleh WHO (World Health Organization) untuk seorang
farmasis dalam perannya dalam pelayanan kesehatan. Konsep the seven-star
pharmacist diperkenalkan oleh WHO dan diambil oleh FIP pada tahun 2000
sebagai kebijaksanaan tentang praktek pendidikan farmasi yang baik (Good
Pharmacy Education Practice. Farmasis adalah seseorang yang disiapkan untuk
merumuskan, mengeluarkan, dan memberikan informasi klinis secara professional
tentang obat-obatan kepada pasien. Seorang farmasis juga bertanggung jawab untuk
menjamin kualitas obat-obatan yang diberikan kepada pasien sesuai kebijakan
pemerintah atau peraturan1. Oleh karena itulah, WHO merumuskan 7 peran
farmasis dan satu peran tambahan dalam pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
Konsep “Seven-star pharmacist” yang dicetuskan oleh WHO (World Health
Organization) diantaranya adalah: Caregiver, decision-maker, communicator,
manager, life-long learner, teacher, and leader1.

Pertama adalah sebagai “Caregiver”. Seorang farmasis harus dapat
memberikan pelayanannya secara professional dan bermutu tinggi. Seorang
farmasis Dalam memberikan pelayanan, mereka harus memandang pekerjaan
mereka sebagai bagian dan terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan dan
profesi lainnya

Kedua adalah sebagai “Decision-Maker”, yaitu sebagai pembuat
keputusan. Seorang farmasis harus dapat membuat sebuah keputusan atau
kebijakan yang akurat dalam hal obat-obtan. Seperti penggantian jenis sediaan,

seorang farmasis harus bisa menyampaikan informasi seputar obat kepada orang lain terutama pasien yang memerlukan informasi tersebut. Seorang farmasis mempunyai tanggung jawab untuk membantu pendidikan tentang kesehatan kepada masyrakat luas. oleh karena itu. yaitu sebagai pemimpin. Ketiga adalah sebagai “Communicator”. Seorang farmasis harus dapat mendidik dan melatih seorang farmasis untuk generasi berikutnya. fisik maupun keuangan. Seorang farmasis juga harus mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan secara lengkap dengan update terbaru saat berkomunikasi dengan ahli kesehatan lainnya. dan lainnya. Keempat adalah sebagai “Manager”. seorang farmasi mempunyai konsep belajar yaitu konsep belajar seumur hidup.penyesuaian dosis. Seorang farmasis harus menyediakan link antara dokter dengan pasien. yaitu sebagai seseorang yang terus mempelajari hal yang baru. pengantian obat jika ditemukan bahaya yang signifikan. yaitu sebagai seorang guru. obat dan penyakit selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Seorang farmasis harus mempunyai visi untuk menyejahterakan masyarakat luas. Seorang farmasi harus belajar terus menerus karena memang dalam dunia obat-obatan. Seorang juga memainkan peran sebagai pemimpin dalam hal membuat keputusan. Oleh karena itu. berkomunikasi dan mengelola sesuatu dengan efektif. Seorang farmasis juga mempunyai tanggung jawab untuk mengelola informasi tentang obat. Ketujuh adalah sebagai “Leader”. . Kelima adalah sebagai “Life-Long Learner”. Seorang farmasis harus mempunyai public speaking yang baik terhadap masyarakat luas. dibutuhkan jiwa kepemimpinan untuk menjadi seorang farmasis. menjamin kualitas obat-obatan dan memelihara kompetensi klinis dan fungsi dalam kegiatan perawatan pasien. Seorang farmasis harus mampu mengelola sumber daya manusia. yaitu sebagai penghubung. Keenam adalah sebagai “Teacher”.

2014 April. Seorang farmasis diharapkan mampu mempunyai atau melaksanakan peran-peran tersebut demi terciptanya kesejahteraan di masyarakat luas. Seorang farmasis harus mampu mengembangkan obat-obatan demi kebaikan masyarakat luas saat ini maupun di masa yang akan mendatang nanti. 6(2). . Kelima adalah sebagai “Researcher”. yaitu sebagai peneliti. Thamby SA. References 1. Seorang farmasis bisa dikatakan seorang peneliti. Itulah 7 peran dan satu peran tambahan bagi seorang farmasis sebagai seorang yang bekerja dalam bidang kesehatan. Seven-star pharmacist concept by World Health Organization.