You are on page 1of 2

Mahabarata P.

Lal Hal 7-170

Adi Parwa – Asal Usul

Mengisahkan masa lampau, masa kini dan masa depan; tentang keruntuhan dan kematian, rasa
takut dan penyakit, yang ada dan yang tiada. Melukiskan keempat kasta, dan menetapkan
peraturan-peraturan bagi para pertapa. Mengisahkan cerita kebesaran wangsa Kuru, Kebaikan
Gandari, kearifan Widura, keteguhan hati Kunti; melukiskan keilahian Kresna, kejujuran kelima
Pandawa, dan kejahatan- kejahatan putra-putra Dastarastra. Santanu jatuh cinta pada seorang
anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan
putrinya jika Santanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota
pewaris Takhta dan bukannya Bisma. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya
demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari
Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk
mewarisi takhta Santanu.

Parwa Dua – Majelis

Menceritakan Jasaranda yang telah mengurung delapan puluh enam orang raja di dalam Candi
Siwa. Kresna yang cerdik menyamar untuk mengelabui raja Jasaranda. Kresna, Bima dan Arjuna
datang ke Magada untuk berperang membebaskan para raja. Mengisahkan Yudistira menjadikan
Drupadi sebagai taruhan dalam keadaan mabuk judi bukan hanya istri dirinya, tapi juga keempat
adiknya. Kekalahan Yudistira karena perjudiannya dengan Sakuni. Yudistira dan Para Pandawa
harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun sebagai hukuman, dan kerajaannya
akan dikembalikan kepada mereka jika pada tahun ketiga belas mereka berhasil menyelesaikan
hukuman itu. Perjudian Sakuni yang dilakukan dengan licik ia bersekongkol dengan Duryodana
untuk mengambil kerajaan dengan jalan menipu.

Parwa Tiga – Di Rimba Belantara

Menceritakan Yudhistira dirudung penyesalan ia harus berada di dalam hutan rimba selama dua
belas tahun. Mengisahkan kehidupan yang dihadapi saat masa pembuangan Yudhistira dan Para
Pandawa. Peperangan antara prajurit-prajurit Kurawa utusan Raja Duryodana dengan para
gandarwa dan juga Citrasena. Duryodana dijadikan tawanan oleh Citrasena. Akhirnya para

Para gandarwa akhirnya berhasil dibujuk oleh Yudhistira untuk membebaskan Duryodana. Ia merasa lebih baik kalau dirinya mati di medan lagga dari pada hidup dengan malu sebesar ini. Yudistira dan Arjuna yang dengan tulus hati menolong untuk membebaskan Duryodana dari cengkraman para gandarwa dan Citasena. Duryodana merasa sangat malu karena Para Pandawa-lah yang memenangkan pertempuran itu. persahabatan dan menjadi raja. . Kini dirinya taka da muka bicara tentang kebajikan.pengikut Duryodana menghadap Yudistira untuk memohon bantuannya. Duryodana berjanji akan berpuasa sampai mati. kekayaan.