You are on page 1of 10

BAB II

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1. Parasetamol
Organoleptis
Warna Bau Rasa Kejernihan
Jumat, 2 Maret 2018
Kelompok 1 Hijau Melon Manis jernih
Kelompok 2 Hijau Melon Manis Jernih
Kelompok 3 Hijau Melon Manis kurang jernih
Kelompok 4 Hijau Melon Manis Kurang jernih
Senin, 5 Maret 2018
Kelompok 1 Hijau Melon Manis Jernih
Kelompok 2 Hijau Melon Manis Jernih
Kelompok 3 Hijau Melon Manis Tidak jernih
Kelompok 4 Hijau Melon Manis Kurang jernih

2. Difenhidramin
Organoleptis
Warna Bau Rasa Kejernihan pH
Jumat, 2 Maret 2018
Kelompok 1 Hijau muda Melon Manis jernih 5
Kelompok 2 Hijau muda Melon Manis Jernih 5
Kelompok 3 Hijau muda Menthol Mint Tidak jernih 7
Kelompok 4 Hijau muda Menthol Mint Kurang jernih 7
Senin, 5 Maret 2018
Kelompok 1 Hijau muda Melon Manis Jernih 5
Kelompok 2 Hijau muda Melon Manis Jernih 5
Kelompok 3 Hijau muda Menthol Mint Tidak jernih 7
Kelompok 4 Hijau muda Menthol Mint Kurang jernih 6

B. Pembahasan
1. Sirup Paracetamol
Pada praktikum kali, kami melakukan pembuatan sediaan larutan sirup paracetamol
dimana zat aktif yang digunakan ialah Paracetamol.

Formula Paracetamol Sirup untuk Anak-anak


No. Bahan Jumlah (mg/ml)
F1 F2 F3 F4
1. Paracetamol 25 25 25 25
2. Propilen Glikol 200 200 200
3. Gliserol 200 200 200
4. Larutan Sorbitol 70% 200 200 200
5. Syrupus simplex 200
6. Na Sakarin 1 1 1
7. Pasta anggur 10% 0,025 ml 0,025 ml 0,025 ml 0,025 ml
8. Aquades qs ad 1 ml qs ad 1 ml qs ad 1 ml qs ad 1 ml

Dari rangkaian formula tersebut kelompok kami membuat sediaan sirup


paracetamol dengan formula yang ke-2 dimana hasil yang didapatkan menunjukkan tidak
adanya fenomena pengkristalan yang terjadi. Kejernihan sediaan nya pun tetap terjaga serta
tidak bertumbuhnya mikroba atau zat kontam lainnya.
Jika dibandingkan dengan formula kelompok lain, secara organoleptis formula
yang kami buat warna nya lebih hijau dari beberapa kelompok. Hal ini disebabkan
pemberian zat pewarna yang kadarnya lebih banyak. Hasil pengamatan lainnya ialah
fenomena pengkristalan yang terjadi pada hari senin tanggal 5 Maret 2018 tepatnya 4 hari
setelah pembuatan sediaan larutan sirup formula. Pada umumnya sediaan obat mengkristal
karena larutan sirupnya lewat jenuh atau terlalu banyak melarutkan zat. Selain itu
penambahan gula pada sediaan larutan juga berpengaruh meningkatkan terjadinya
fenomena pengkristalan.
Hasil pembuatan sediaan kelompok formula ke-1 menunjukkan sediaan yang
jernih,tidak adanya pengkristalan dan secara keseluruhan hampir mirip dengan formula ke-
2 yang kami buat. Pada formula ini juga tidak terjadi perubahan apapun pada hari senin.
Perbedaan yang ada ialah pada rasanya dimana formula ke-1 lebih manis karena
melibatkan senyawa Na Sakarin sedangkan formula ke-2 tidak mengandung senyawa Na
Sakarin dan hanya memakai syrupus simplex sebagai pemanis rasa.
Formula ke-3 hasil pengamatannya berbeda dengan formula ke-2 yang kami buat
dimana pada pengamatan hari ke-4 atau hari senin nya terjadi fenomena pengkristalan. Hal
ini mungkin disebabkan tidak adanya propilen glikol yang digunakan sebagai pelarut
bersama dengan gliserol serta larutan sorbitol 70% sehingga senyawa-senyawa didalamnya
kurang terlarut sempurna dan terbentuklah kristal.

Di formula ke-4 yang telah dibuat mendapatkan hasil yang juga terjadi
pengkristalan seperti formula ke-3 tetapi faktor yang menyebabkan nya berbeda. Pada
formula ke-4 ini pengkristalan terjadi pada hari ke-4 setelah pembuatan sediaan akibat
pelarut berupa alkohol polivalen yang digunakan hanyalah propilen glikol serta larutan
sorbitol 70% tanpa melibatkan gliserol sehingga zat-zat yang terkandung didalam sediaan
kurang terlarut sempurna.

Jadi kesimpulan dari hasil pengamatan yang kami lakukan pada sediaan larutan
sirup paracetamol ini adalah bahwa formula 2 menggunakan yang lebih aman
dibandingkan formula 1 karena memakai pemanis alami sedangkan formula 1
menggunakan pemanis buatan yang terbuat dari garam sakarin karena di kombinasikan
dengan sorbitol sehingga sakarin sebagai penutup rasa sorbitol dan bahan aktif
Sedangkan pada formula 3 dan 4 adalah pada kelarutan sediaan, yang dimana
formula 3 dan 4 terdapat Kristal pada sediaan

2. Difenhidramin HCl
Selanjutnya, kami membuat sediaan larutan sirup difenhidramin HCl dengan
formula 1. Difenhidramin HCl berperan sebagai zat aktif. Difenhidramin HCl memiliki
rasa yang pahit sehingga bahan tambahan yang digunakan yakni Natrium sakarin untuk
menutupi rasa pahit pada difenhidramin HCl. Sirupus simpleks berperan untuk
meningkatkan viskositas. Natrium benzoat berperan sebagai pengawet karena natrium
benzoate memiliki sifat bakteriostatik dan anti jamur (HOPE 6th, 2009: 627). Asam sitrat
monohidrat berperan sebagai buffering agent. Natrium sitrat berperan sebagai alkalinizing
agent. Propilen glikol berperan sebagai pelarut. Menthol berperan sebagai flavouring
agent. Aquadest sebagai pelarut utama.
Pertama-tama, kami mendidihkan aquadest dalam gelas beker bertujuan untuk
membunuh mikroba, pada suhu 40-50 C agar mempermudah dalam melarutkan bahan-
bahan. Kemudian, melarutkan Asam sitrat monohidrat, Na benzoate, dan Na Sitrat dalam
aquadest karena sifat kelarutannya yang mudah larut dalam air. Kemudian, diaduk dengan
menggunakan magnetic stirrer untuk mempercepat kelarutan. Menthol dilarutkan kedalam
propilen glikol karena menthol sukar larut dalam air.
Pada formula kelompok kami, didapatkan hasil sediaan difenhidramin HCl dengan
kejernihan yang baik, rasa aroma melon, dengan pH 5, sesuai dengan literatur yang kami
dapatkan, yaitu pH difenhidramin HCl dalam air 4-6 (HOPE 6th, 2009). Setelah
pengamatan kedua, pada hari senin, 6 Maret 2018, sediaan yang kami buat masih tetap
stabil seperti hari pertama pengamatan, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi.
Sediaan ini stabil karena adanya Na sitrat dan Asam sitrat monohidrat yang berperan
sebagai buffering agent yang dapat mengontrol pH larutan, selain itu, pada saat pembuatan
larutan, kami menjaga suhu dan kesterilan sediaan.
Formula 1 kelompok 2 (Jumat) Formula 1 kelompok 2 (Senin)

Pada kelompok 1 dengan formula yang sama, didapatkan hasil yang serupa yaitu
jernih, pH 5, rasa manis, dengan aroma melon. Pada pengamatan kedua hasil sediaan masih
tetap sama dengan pengamatan pertama.

Formula 1 Kelompok 1 (Jumat) Formula 1 Kelompok 1 (Senin)

Sedangkan pada kelompok 3 dengan formula 2, didapatkan hasil sediaan yang tidak
jernih, dengan pH 7, hal ini dikarenakan pada formula 2 ini tidak menggunakan asam sitrat
monohidrat dan na sitrat yang berperan sebagai buffering agent sehingga pH yang didapat
tidak sesuai dengan literature, menurut analisis kelompok 3, salah satu kemungkinan
sediaan yang dihasilkan tidak jernih karena kelompok 3 tidak mengontrol suhunya yang
mengakibatkan bahan-bahan tidak melarut sempurna. Setelah pengamatan kedua, pada
sediaan kelompok 3 muncul kristal besar yang mengambang pada sediaan. Hal ini
dikarenakan adanya kesalahan pada prosedur kerja kelompok 3, di mana terdapat bahan
yang belum terlarut sempurna namun sudah ditambahkan dengan bahan yang lain, selain
itu juga terdapat kesalahan dalam penimbangan menthol yang terlalu banyak akibatnya
menthol tidak terlarut sempurna dengan propilenglikol.

Formula 2 Kelompok 3 (Jumat) Formula 2 Kelompok 3 (Senin)

Pada kelompok 4 dengan formula 2, hasil yang didapat hampir serupa dengan
kelompok 3 karena tidak adanya asam sitrat monohidrat dan natrium sitrat, sediaan yang
didapatkan juga kurang jernih dengan pH 7, dan pada pengamatan kedua, muncul kristal
kecil yang menggumpal pada bagian bawah sediaan hal ini mungkin dikarenakan terdapat
bahan-bahan yang kurang larut.

Formula 2 kelompok 4 (jumat) Formula 2 Kelompok 4 (Senin)

Dari hasil pengamatan dapat dilihat dengan jelas pengaruh perbedaan eksipien pada
formula 1 dan formula 2, pada formula 1 bahan yang digunakan lengkap sehingga kualitas
sediaan yang dihasilkan baik, sedangkan pada formula 2 terdapat dua eksipien yang tidak
digunakan dari formula 1 sehingga kualitas sediaan kurang baik.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Sediaan larutan atau lotio merupakan sediaan yang terdiri dari bahan aktif yang
terlarut dalam pelarut (solvent) karena berbagai macam sifat dari bahan aktif maka
diperlukan eksipien yang tepat untuk menjaga kereaktifan zat serta kestabilan antara
larutan dan yang terlarut.
Hal penting tersebut bisa dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya yang terkait
dengan praktikum ini adalah kestabilan pH, prosedur kerja yang tepat, bahan pelarut
yang tepat
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Rowe, Raymond C., Paul J. Sheskey and Marian E. Quinn, 2009, Handbook of
Pharmaceutical Excipients Sixth Edition, Pharmaceutical Press, London.