You are on page 1of 50

LAPORAN KEPANITERAAN KEDOKTERAN KELUARGA

LONG CASE

LEPTOSPIROSIS

Oleh:
Arrosy Syarifah
G4A015001

Pembimbing:
dr. Yudhi Wibowo, M.PH
dr. Dhini

KEPANITERAAN KLINIK STASEKOMPREHENSIF


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

APRIL 2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga


Long Case
Leptospirosis

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat


Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Oleh:
Arrosy Syarifah
G4A015001

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan:


Hari :
Tanggal : April 2017

Preseptor Lapangan Preseptor Fakultas

dr. Dhini dr. Yudhi Wibowo, M.PH


NIP NIP.19770202 200501 2 001
I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga : Tn. P


Alamat lengkap : Desa Karang Kemiri RT 05/ RW 02
Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas
Bentuk Keluarga : Extended family
Tabel 1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan
1. P Kepala L 30 SMA Buruh pabrik
keluarga
(Suami)
2. S Istri P 26 SMA Pedagang
3. R Anak L 2 - -
4. N Ibu P 57 SD Ibu rumah tangga
mertua
5. M Bapak L 60 SD Kuli bangunan
mertua
Sumber : Data Primer, April 2017
Kesimpulan dari karakteristik demografi diatas adalah bentuk keluarga Ny.
S adalah Extended family dengan Tn. P (30 tahun) sebagai kepala keluarga yang
bekerja sebagai Buruh pabrik. Ny. S (26 tahun) adalah istri dari Tn. P, Ibu dan
bapak mertua beserta anak Tn P tinggal bersama didalam rumah tersebut. Dapat
disimpulkan pada keluarga ini terdapat Bapak mertua, ibu mertua, suami dan
pasien serta1 anak yang hidup bersama.

II. STATUS PENDERITA


A. PENDAHULUAN
Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang ibu berusia
26 tahun yang datang ke Puskesmas Pekuncen. Pasien ini datang dengan
keluhan demam selama 3 hari.
B. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. S
Usia : 26 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : menikah
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Berdagang
Pendidikan : SMA
Penghasilan/bulan : Rp 300.000 – Rp 400.000
Alamat : Desa Karang Kemiri RT 05/ RW 02
Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas
Pengantar (Pasien) : Pasien datang diantar oleh kakak ipar
Tanggal Periksa : Kamis, 26 April 2017

C. ANAMNESIS (diambil melalui autoanamnesis)


1. Keluhan Utama
Demam selama 3 hari
2. Keluhan Tambahan
Nyeri kepala, lemas, badan terasa kaku-kaku di daerah punggung dan kaki,
mata merah
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD Puskesmas Pekuncen hari Rabu tanggal 26 April
2017 dengan keluhan demam sejak 3 hari sebelum masuk IGD. Demam
muncul mendadak dan dirasakan sepanjang hari hingga disertai rasa
menggigil, pasien telah minum obat penurun demam (paracetamol) namun
demam hanya turun sebentar kemudian muncul kembali. Pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala yang dirasakan berdenyut di sekitaran mata,
mata merah dan terasa panas serta berair. Selain itu pasien merasa badan di
daerah punggung dan kaki terasa kaku-kaku .
4. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : disangkal
- Riwayat mondok : diakui
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat kecelakaan : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi makanan/obat : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat Sosial dan Exposure
- Community : Pasien dalam kesehariannya tinggal dalam
lingkungan Extended family yang di dalamnya
terdapat seorang suami, 1 orang anak, bapak
mertua dan ibu mertua.
- Home : Rumah Ny. K luasnya berukuran 9x12 m2,
memiliki ventilasi udara seperti lubang angin,
cahaya matahari yang masuk ke rumah minimal,
lantai rumah terbuat dari plesteran semen, dinding
sudah bertembok, Rumah Ny K tidak berplafon
dan banya ditutupi dengan anyaman bambu,
sehingga debu dari atap sering jatuh ke dalam
rumah serta sering terdengar suara-suara tikus.
Jendela terdapat satu di setiap ruangan namun
jarang dibuka. Pencahayaan pada setiap ruangan
kamar kurang baik, dimana sulit membaca di dalam
ruangan tanpa penerangan tambahan, kebersihan
rumah kurang dijaga dengan baik. Tingkat
kelembapan rumah dikatakan tidak terlalu lembab.
Rumah terdiri dari ruang tamu, 4 tempat tidur,
ruang makan yang menyatu dengan dapur, serta
kamar mandi yang menyatu dengan tempat
memasak yang menggunakan kayu bakar. Terdapat
kandang ayam tepat di sebelah rumah. Pasien
memasak dengan menggunakan kompor gas
namun tak jarang pasien juga memasak dengan
menggunakan kayu bakar. Sumber air bersih
berasal dari air gunung. Kamar mandi dan toilet
menyatu serta berjarak 4 meter dari septic tank.
Antara rumah pasien dan rumah tetangga saling
berdekatan. Jarak antar rumah sekitar 2-3meter.
Lingkungan tempat tinggal Ny. S merupakan
lingkungan pemukiman. Tempat sampah keluarga
diletakkan di depan rumah dan tidak tertutup,
kadang sampah diambil oleh petugas kebersihan
namun tak jarang dibakar juga. Di depan dan
samping rumah terdapat saluran air yang terbuka,
dan menjadi tempat genangan air.
- Hobby : Pasien memiliki kebiasaan sering berpergian ke
rumah-rumah untuk menawarkan dagangan
pakaian.
- Occupational : Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, yang
memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang
pakaian dan produk kecantikan kredit. Pasien
sering pergi ke tempat tetangga hingga ke desa lain
untuk menjual pakaian.
- Diet : Pasien makan 2-3 kali sehari dengan nasi, lauk,
tempe, tahu, dan sayur. Pasien juga memiliki
kebiasaan telat makan, sehingga terkadang pasien
merasakan gejala nyeri ulu hati. Pasien jarang
mengkonsumsi buah.
- Drug : Pasien sebelumnya mengkonsumi obat penurun
demam (paracetamol)
7. Riwayat Psikologi :
Pasien merupakan anak ke pertama dari enam bersaudara. Dalam
kehidupan di keluarganya ada sedikit masalah yang mengganggu pikiran
pasien, yaitu ingin pindah ke Jakarta mengikuti suami, tetapi pasien
khawatir karena anak masih kecil dan sering terserang ISPA. Pasien, anak,
bapak mertua dan ibu mertua sering menghabiskan waktu bersama. Setiap
masalah yang dihadapi pasien dan anggota keluarganya selalu
didiskusikan bersama-sama.
8. Riwayat Ekonomi
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah kebawah.
Suami pasien bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta dengan penghasilan
(Rp 2000.000,00/bulan). Pasien yang bekerja sebagai pedagang pakaian,
penghasilan tiap bulan tidak tetap sekitar (Rp 300.000,00/bulan).
9. Riwayat Demografi
Hubungan antara pasien dengan keluarganya harmonis. Kadang-
kadang ia bertengkar wajar mengenai hal sepele dengan suaminya.
10. Riwayat Sosial
Saat sakit ini, pasien sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien
biasanya sering berkeliling ke rumah tetangga untuk menawarkan pakaian
ataupun produk kecantikan untuk di jual. Hubungan pasien dengan
tetangga sekitarnya cukup baik.
11. Anamnesis Sistemik
a. Keluhan Utama : demam
b. Kulit : tidak ada keluhan
c. Kepala : nyeri kepala
d. Mata : mata merah
e. Hidung : tidak ada keluhan
f. Telinga : tidak ada keluhan
g. Mulut : tidak ada keluhan
h. Tenggorokan : tidak ada keluhan
i. Pernafasan : tidak ada keluhan
j. Sistem Kardiovaskuler : tidak ada keluhan
k. Sistem Gastrointestinal : tidak ada keluhan
l. Sistem Saraf : tidak ada keluhan
m. Sistem Muskuloskeletal : tidak ada keluhan
n. Sistem Genitourinaria : tidak ada keluhan
o. Ekstremitas Atas : tidak ada keluhan
Bawah : tidak ada keluhan

D. PEMERIKSAAN FISIK
1. KU/ KES
Tampak lemas, kesadaran compos mentis.
2. Tanda Vital
a. Nadi : 92x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
b. Pernafasan : 22x/menit, costoabdominal, reguler
c. Suhu : 39.8 oC
d. TD : 120/80 mmHg
3. Status gizi
a. BB : 55 kg
b. TB : 160 cm
c. IMT : 21. 4
d. Kesan status gizi : baik
4. Kulit
Turgor kulit kembali dalam satu detik.
5. Kepala
Kepala dalam batas normal.
6. Mata
Injeksi konjungtiva (+) , sklera , kornea, pupil, iris, lensa dalam batas normal.
Air mata normal, mata cekung (-)
7. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deformitas hidung (-),
massa (-)
8. Mulut
Mukosa bukkal basah (+).
9. Telinga
Telinga luar, tengah, dalam dalam batas normal
10. Tenggorokan
Tonsil , dan pharing dalam batas normal. Hiperemis (-).
11. Leher
Trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran kelenjar limfe
(-), distensi vena jugularis (-).
12. Thoraks
Simetris, retraksi interkostal (-), retraksi subkostal (-)
a. Cor : Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
batas kiri bawah : SIC V LMCS
batas kanan atas : SIC II LPSD
batas kanan bawah : SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi: S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-)
b. Pulmo :
1) Statis (depan dan belakang)
I : pengembangan dada kanan = kiri
Pal : fremitus raba kanan = kiri
Per : sonor/sonor
A : suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBH (-/-), wheezing (-/-)
2) Dinamis (depan dan belakang)
I : pergerakan dada kanan = kiri
Pal : fremitus raba kanan = kiri
Per : sonor/sonor
A : suara dasar vesikuler (+/+)
suara tambahan RBH (-/-), wheezing (-/-)
13. Abdomen
I : dinding perut sejajar dengan dinding dada
A : bising usus (+) meningkat
Per : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
Pal : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba
14. Sistem Collumna Vertebralis
I : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Pal :nyeri tekan (-)
15. Ektremitas: palmar eritema(-/-) capilarry refill 1 detik.
akral dingin - - oedem - -
- - - -
Articulatio genue dextra et sinistra :
I : oedem (-), eritema (-),hambatan dalam berjalan (-).
P : nyeri (-), hangat (-), krepitasi (-).
16. Sistem genitalia: dalam batas normal
17. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
Fungsi Sensorik : dalam batas normal

Fungsi Motorik :
K 5 5 T N N RF ++ RP - -
5 5 N N ++ - -

18. Pemeriksaan Psikiatrik


Penampilan : sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : appropriate
Psikomotor : normoaktif
Insight : baik

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dilakukan pemeriksaan penunjang berupa Darah lengkap dan AIM
Leptospira IgM rapid test dengan hasil positif (+).

F. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Untuk menegakkan diagnosis diare akut e.c disentriform dan mengetahui
kondisi pasien secara lengkap, pasien dianjurkan untuk melakukan beberapa
pemeriksaan laboratorium yaitu:
1. Pemeriksaan fungsi ginjal (bilirubin) dan fungsi hati (SGOT, SGPT)
untuk mendeteksi adanya komplikasi

G. RESUME
Pasien datang ke IGD Puskesmas Pekuncen hari Rabu tanggal 26 April
2017 dengan keluhan demam sejak 3 hari sebelum masuk IGD. Demam
muncul mendadak dan dirasakan sepanjang hari hingga disertai rasa
menggigil, pasien telah minum obat penurun demam (paracetamol) namun
demam hanya turun sebentar kemudian muncul kembali. Pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala yang dirasakan berdenyut di sekitaran mata,
mata merah dan terasa panas serta berair. Selain itu pasien merasa badan di
daerah punggung dan kaki terasa kaku-kaku. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan nadi 92x/menit, laju pernafasan 22x/menit, suhu 39.80C,Tensi
120/80 mmHg, terdapat injeksi konjungtiva, sedangkan pemeriksaan lain
dalam batas normal.

H. DIAGNOSIS HOLISTIK
1. Aspek Personal
Idea : Pasien mengeluh demam, nyeri kepala, badan kaku
terutama pada bagian paha dan punggung, mata merah
Concern : Pasien merasa badannya tidak nyaman dan lemas, hingga
ibu mertua dan kakak ipar pasien khawatir dengan kondisi
pasien
Expectacy : Pasien dan keluarga pasien mempunyai harapan agar
penyakit pasien dapat segera sembuh dan dapat segera
beraktivitas lagi.
Anxiety : Pasien dan keluarga pasien khawatir penyakit pasien tidak
sembuh-sembuh karena demam tidak kunjung turun. serta
pasien dan keluarga pasien khawatir penyakit ini menular
dan akan menulari angggota keluarga yang lain.
2. Aspek Klinis
Diagnosis : Leptospirosis
Gejala klinis yang muncul : Demam hingga mengigil, nyeri kepala,
badan terasa kaku terutama pada bagian paha dan punggung, serta mata
merah
Diagnosa banding : Demam Tifoid, DHF
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
a. Kebiasaan pasien lupa untuk mencuci tangan
sebelum dan setelah makan. Maupun setelah beraktivitas di luar
rumah.
b. Terbiasa memasak dan meletakan bahan
masakan dibawah (lantai) yang kebersihannya kurang, serta kebiasaan
lupa mencuci kembali bahan masakan tersebut.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Status sosial ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan
kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat dan buruknya
lingkungan, antara lain pencahayaan, ventilasi, dan plafon, kebersihan
dan keadaan lingkungan rumah secara umum yang kurang sehat.
b. Rumah yang bersebelahan dengan kandang ayam juga memudahkan
tercemarnya lingkungan rumah oleh kotoran ayam.
c. Curah hujan yang tinggi pada saat ini menimbulkan genangan air di
sekitar rumah dan kandang ayam.
d. Banyaknya tikus yang terdapat disekitaran rumah pasien menjadi
factor risiko penularan penyakit ini. Pasien mengaku dirumahnya
terdapat banyak tikus yang berkeliaran di atap rumah. Sebelum
terkena sakit pasien sempat mengambil bahan makanan yang diambil
oleh tikus. Pasien mengaku lupa mencuci tangan setelah itu.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien mulai
terganggu dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari seperti
biasanya, antara lain berdagang serta berkumpul dengan keluarganya.

I. PENATALAKSANAAN
1. Personal Care
a. Aspek kuratif
1) Medikamentosa
a) PO Doksisiklin 100 mg
b) PO Paracetamol 500mg 3x1 tab
2) Non Medika mentosa
a) Karena pasien demam, tidak nafsu makan dan minum. sehingga
pasien diberikan terapi cairan melalui intra vena dengan Ringer
Laktat (RL) 30 tpm untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada
pasien.
b) Diet lunak tinggi kalori tinggi protein
3) KIE (konseling, informasi dan edukasi)
Pasien dan keluarganya perlu diedukasi mengenai:
a) Memberi informasi mengenai penyebab dan cara penularan
leptospira serta pencegahan dan tatalaksana dari penyakit
leptospirosis
b) Selalu mencuci tangan dengan sabun setelah makan maupun
setelah melakukan kegiatan diluar rumah
c) Mencegah munculnya genangan-genangan air disekitar rumah
dan kandang ayam serta menjaga kebersihan disekitar
lingkungan rumah
d) Menjelaskan mengenai syarat-syarat rumah sehat secara
lengkap, beberapa contohnya antara lain mengenai adanya
kandang ayam di dekat rumah dan toilet yang tidak higienis.
e) Selalu menutup makanan dan minuman maupun bahan
makanan yang akan dimasak
f) Menjelaskan cara membuang sampah yang baik dengan
menutup tempat pembuangan sampah
g) Menjelaskan pentingnya menjaga nutrisi melalui makanan
yang sehat dan bergizi, memenuhi kebutuhan karbohidrat,
lemak, protein, vitamin, dan mineral.
b. Aspek Preventif
1) Menjelaskan mengenai kriteria rumah sehat serta memberi saran-
saran yang dapat diterapkan dan tepat guna
2) Memberikan anjuran pola hidup bersih dan sehat
3) Menjelaskan pentingnya penggunanan alat pelindung diri untuk
mencegah masuknya leptospira ke tubuh
4) Memasang perangkap tikus untuk mencegah penyebaran penyakit
leptospirosis
c. Aspek Promotif
1) Memberi informasi mengenai penyebab dan cara penularan
leptospira hingga menyebabkan penyakit leptospirosis, serta
pencegahan dan tatalaksana leptospirosis
2) Memberi informasi mengenai komplikasi penyakit leptospirosis
serta pentingnya penanganan tepat dan dini dalam kasus
leptospirosis
d. Aspek Rehabilitatif
Monitoring terhadap keluhan pasien, keadaan umum, tanda vital, serta
tanda komplikasi leptospirosis
2. Family Care
a. Memotivasi keluarga untuk menjaga lingkungan yang sehat dan bersih.
b. Memberikan edukasi pengetahuan kepada keluarga mengenai
perjalanan penyakit leptospirosis, pencegahan penularan dan
pemantauan penyakit leptospirosis berkelanjutan, sehingga mendukung
kontrol dan pengobatan pasien.
c. Dukungan moral dari keluarga dalam pengendalian dan penyembuhan
penyakit pasien, pemantauan penyakit leptospirosis secara
berkelanjutan.
d. Memberikan anjuran kepada anggorta keluarga lainnya yang berisiko
tinggi untuk pola hidup sehat dan menjaga kebersihan.
3. Community Care
a. Memotivasi lingkungan untuk menjaga lingkungan yang sehat dan
bersih, karena lingkungan yang tidak sehat akan memicu faktor risiko
penyebaran penyakit leptospirosis
b. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai penyakit
leptospirosis, baik tanda gejala penyakit tersebut dan perjalanan
alamiahnya melalui penyuluhan.
c. Memotivasi komunitas untuk memberikan dukungan psikologis
terhadap pasien mengenai penyakitnya.
J. Flow Sheet
Tabel 2. Flow Sheet Ny. S (26 tahun)
No Tanggal Problem Tanda Vital Planning
1 Rabu Demam N:92 x/menit IVFD RL 30
26/04/2017 disertai rasa RR:22 tpm Diet lunak
07.30 menggigil, x/menit tinggi kalori
badan terasa S:39.80 C tinggi protein
kaku terutama TD:120/80 PO Doksisiklin
punggung dan 100 mg 2x1
kaki, nyeri tablet
kepala dan PO
mata merah Paracetamol
500 mg 3x1
tablet
2 Kamis Demam, N:89x/menit IVFD RL 20
27/04/2017 badan terasa RR:20 (terapi
07.00 linu-linu dan x/menit rumatan) tpm
kaku, nyeri S:38.70 C Diet lunak
kepala, mata TD: 110/70 tinggi kalori
merah hingga tinggi protein
terasa perih PO Doksisiklin
untuk 100 mg 2x1
membuka tablet
mata PO
Paracetamol
500 mg 3x1
tablet
3 Jumat Demam terasa N:89 x/menit IVFD RL 20
28/04/2017 naik turun, RR:20 (terapi
07.00 turun setelah x/menit rumatan) tpm
minum obat S:39,10 C Diet lunak
saja, badan TD: 120/70 tinggi kalori
terasa linu- tinggi protein
linu dan kaku, PO Doksisiklin
nyeri kepala, 100 mg 2x1
mata merah tablet
hingga terasa PO
perih untuk Paracetamol
membuka 500 mg 3x1
mata tablet
III. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. Fungsi Holistik
1. Fungsi Biologis
Ny. S adalah Extended family dengan Tn. P (30 tahun) sebagai
kepala keluarga yang bekerja sebagai Buruh pabrik. Ny. S (26 tahun)
adalah istri dari Tn. P, Ibu dan bapak mertua beserta anak Tn P tinggal
bersama didalam rumah tersebut. Dapat disimpulkan pada keluarga ini
terdapat Bapak mertua, ibu mertua, suami dan pasien serta1 anak yang
hidup bersama.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan antara pasien dengan keluarganya harmonis. Kadang-
kadang ia bertengkar wajar dengan suami atau ibu mertua.
3. Fungsi Sosial
Saat sakit ini, pasien sulit melakukan aktivitas sehari-hari. Pasien
biasanya pergi ke rumah tetangga untuk berjualan ataupun ke Purwokerto
unuk membeli pakaian yang akan dijual kembali. Hubungan pasien dengan
tetangga sekitarnya cukup baik.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah kebawah.
Suami pasien bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta dengan penghasilan
(Rp 2.000.000,00/bulan). Pasien yang bekerja sebagai pedagang pakaian,
penghasilan tiap bulan tidak tetap sekitar (Rp 300.000,00/bulan). Pasien
dan keluarga pasien hidup sedehana dalam mencukupi keperluan hidup
sehari-hari. Biaya pengobatan di sarana pelayanan kesehatan menggunakan
biaya sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa bentuk keluarga Ny.S adalah Extended
family. Keluarga Ny.S adalah keluarga yang cukup harmonis, dan merupakan
keluarga dengan perekonomian kelas menengah kebawah.
B. Fungsi Fisiologis (A.P.G.A.R Score)
ADAPTATION
Dalam menghadapi masalah selama ini penderita mendapatkan
dukungan berupa nasehat dari keluarganya. Jika penderita menghadapi suatu
masalah pasien menceritakan kepada orangtuanya.
PARTNERSHIP
Komunikasi terjalin satu sama lain. Setiap ada permasalahan didiskusikan
bersama dengan anggota keluarga lainnya, komunikasi dengan anggota keluarga
berjalan dengan baik.
GROWTH
Antar anggota keluarga selalu mendukung pasien. Anggota keluarga
selalu mendukung pola makan, dan pengobatan yang dianjurkan demi
kesehatan Ny S.
AFFECTION
Pasien merasa hubungan kasih sayang dan interaksi dengan suami, mertua,
orang tua, kakak, adik dan anak berjalan dengan lancar. Pasien juga sangat
menyayangi keluarganya, begitu pula sebaliknya. Dalam hal mengekspresikan
perasaan atau emosi, antar anggota keluarga berusaha untuk selalu jujur.
Apabila ada hal yang tidak berkenan di hati, maka anggota keluarga akan
mencoba untuk segera menyampaikan tanpa dipendam, sehingga
permasalahan dapat segera selesai.
RESOLVE
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari keluarga
maupun dari saudara-saudara. Pasien merasa senang apabila suami, mertua, kakak
dan anak berkumpul di rumah walaupun hanya untuk menonton televisi atau makan
bersama.
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R Score
dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0.
A.P.G.A.R Score dilakukan pada masing-masing anggota keluarga dan
kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis keluarga secara
keseluruhan. Nilai rata-rata 1-4 = jelek, 4-6 = sedang, 7-10 = baik. Penilaian
A.P.G.A.R.
Tabel 3. Nilai APGAR dari Keluarga Ny S
A.P.G.A.R Ny. S Tn. P Ny. N Tn. M
A Saya puas bahwa saya dapat 2 2 2 2
kembali ke keluarga saya bila
saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga 2 1 2 1
saya membahas dan membagi
masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga 1 2 1 1
saya menerima dan mendukung
keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup
yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga 2 2 2 2
saya mengekspresikan kasih
sayangnya dan merespon emosi
saya seperti kemarahan,
perhatian dll.
R Saya puas dengan cara keluarga 2 2 1 1
saya dan saya membagi waktu
bersama-sama
TOTAL 9 9 8 7
Rerata nilai skor APGAR keluarga Ny. S adalah (9+9+8+7)/4 = 8,25. Secara
keseluruhan total poin dari skor APGAR keluarga pasien adalah 33, sehingga
rata-rata skor APGAR dari keluarga pasien adalah 8,25. Hal ini menunjukkan
bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien berada dalam keadaan
baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)


Fungsi patologis dari keluarga Ny S dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M sebagai berikut :
Tabel 7. Nilai SCREEM dari keluarga pasien
Sumber Patologi Ket
Social Interaksi yang baik antara anggota keluarga serta -
masyarakat sekitar.
Cultural Dalam sehari-hari keluarga ini menggunakan adat +
ketimuran, hal ini terlihat pada pergaulan mereka sehari –
hari yang menggunakan bahasa Jawa, walaupun dicampur
dengan Bahasa Indonesia. Keluarga pada awalnya masih
menganggap hanya penyakit demam biasa dan memiliki
kebiasaan membeli obat sendiri di warung.
Religion Pemahaman agama baik. Penerapan ajaran juga baik, hal ini -
dapat dilihat dari pasien dan keluarga rutin menjalankan
sholat lima waktu di rumahnya, walaupun pasien dan
suaminya kadang masih belum lengkap sholatnya.
Economic Ekonomi keluarga ini tergolong kelas menengah kebawah, +
untuk kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum
mampu mencukupi kebutuhan sekunder, diperlukan skala
prioritas untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Rumah pasien
masih dalam tahap pembangunan.
Education Pendidikan angota keluarga kurang. Latar belakang +
pendidikan suami pasien dan pasien adalah SMA.
Pengetahuan keluarga pasien tentang penyakit yang diderita
pasien kurang, keluarga pasien mengaku baru mengetahui
mengenai penyakit leptospirosis.
Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga menggunakan +
pelayanan puskesmas dengan jenis pembiayaannya
menggunakan pembiayaan umum.
Keterangan :
1. Culture (+) artinya keluarga Ny. S masih memiliki budaya dan kebiasaan
yang kurang mendukung kesehatan, khususnya mengenai permasalahan
kesehatan dan penyakit yang sedang dideritanya.
2. Economic (+) artinya keluarga Ny. S tergolong ekonomi menengah
kebawah dengan pendapatan total dua juta tiga ratus ribu rupiah perbulan
(pendapatan perkapita Rp 575.000,00).
3. Education (+) artinya keluarga Ny S tergolong kurang, pengetahuan
keluarga pasien tentang penyakit yang diderita pasien kurang, keluarga pasien
mengaku baru mengetahui mengenai penyakit leptospirosis.
4. Medical (+) artinya keluarga Ny S tidak memiliki jaminan kesehatan dan
menggunakan biaya hidup sehari-hari untuk berobat.

Kesimpulan :
Dalam keluarga Ny. S fungsi patologis yang positif adalah fungsi budaya,
fungsi ekonomi, fungsi edukasi, dan fungsi medical.

D. Family Genogram

60 57

64 57

30 14
26 23 19 18 13

Gambar 1. Genogram
keluarga Ny. S
2

Keterangan:

: Pasien : Laki-laki

: Perempuan : Tinggal serumah


E. Pola Interaksi Keluarga

Ny. S

Tn. M Ny.N

An. G

Tn. P

Gambar 2 . Pola Interaksi Keluarga Ny. S


Keterangan : hubungan baik
Sumber : Data Primer

Kesimpulan :
Hubungan antara anggota keluarga di keluarga Ny. S dinilai harmonis
dan saling mendukung.
IV. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTORYANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga


1. Faktor Perilaku
Perilaku pada anggota keluarga secara umum baik, namun pasien,
memiliki kebiasaan untuk tidak mencuci tangan sebelum dan setelah
makan sehingga mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme penyebab
leptospirosis, selain itu pasien memiliki kebiasaan tidak menutup makanan
atau bahan makanan untuk dimasak.
Selain itu, pasien juga memiliki peliharaan ayam yang kebersihan
sekitar kandang kurang terjaga. Pasien juga membiarkan genangan-
genangan air yang ada di sekitar rumah. Keluarga pasien tidak menyangkal
bahwa dilingkungan rumahnya terdapat banyak tikus, yang berada diatap
rumah pasien. Keluarga ini juga kurang menjaga kebersihan rumah dan
lingkungan sekitarnya, terutama dari lantai dan dinding rumah yang
nampak berdebu, karena rumah pasien masih dalam tahap pembangunan
Mengenai medis, keluarga percaya pada tenaga kesehatan yaitu dokter
umum dan puskesmas yang terletak di kecamatan Pekuncen, dengan
menggunakan biaya umum.
2. Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga kelas
menengah kebawah. Keluarga ini memiliki sumber penghasilan dari
suami yang bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta dan pasien yang
bekerja pedagang pakaian dengan penghasilan yang tidak menentu,
berkisar Rp 2.300.000 per bulan. Rumah yang dihuni keluarga ini memiliki
luas berkisar 9x12 m2, terdapat jendela yang jarang dibuka, lantai plesteran
semen yang kotor pada area dapur kayu bakar dan kamar mandi dan
terdapat beberapa genangan air. Septic tank terletak sekitar 4 meter dari
kamar mandi.
Pasien termasuk keluarga dengan latar belakang pendidikan yang
kurang karena suami dan pasien hanya sampai SMA. Hal tersebut
mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman pasien mengenai kesehatan.

Pengetahuan :
Kurangnya pengetahuan Lingkungan:
pada pasien penyakit Kondisi rumah dan
lingkungan yang tidak
sehat.

Fungsi Fisiologis :
Sikap: Skor APGAR keluarga
Menganggap penyakit pasien baik
demam biasa dan akan
semuh dengan obat yang
dibeli sendiri Keluarga Ny. S
Pelayanan
Kesehatan:
Jika sakit berobat ke
puskesmas
Tindakan:
Tidak membuka jendela
rumah, jarang
membersihkan kandang
ayam dan halaman. Penularan:
Pasien membiarkan Keluarga pasien
genangan yang ada mengetahui tidak
disekitar rumah mengetahui penyakit
tersebut berasal dan
ditularkan melalui apa.

Gambar 3. Faktor Perilaku dan Nonperilaku Keluarga


Keterangan :
= Faktor Perilaku
= Faktor Non-Perilaku
B. Identifikasi Lingkungan Rumah
1. Gambaran Lingkungan
Pasien tinggal di Desa Karang Kemiri RT 05 RW 02, Kecamatan
Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Rumah Ny. K luasnya berukuran 9x12
m2, memiliki ventilasi udara seperti lubang angin, cahaya matahari yang
masuk ke rumah minimal, lantai rumah terbuat dari plesteran semen,
dinding sudah bertembok, Rumah Ny K tidak berplafon dan banya
ditutupi dengan anyaman bambu, sehingga debu dari atap sering jatuh ke
dalam rumah serta sering terdengar suara-suara tikus. Jendela terdapat
satu di setiap ruangan namun jarang dibuka. Pencahayaan pada setiap
ruangan kamar kurang baik, dimana sulit membaca di dalam ruangan tanpa
penerangan tambahan, kebersihan rumah kurang dijaga dengan baik.
Tingkat kelembapan rumah dikatakan tidak terlalu lembab. Rumah terdiri
dari ruang tamu, 4 tempat tidur, ruang makan yang menyatu dengan
dapur, serta kamar mandi yang menyatu dengan tempat memasak yang
menggunakan kayu bakar. Terdapat kandang ayam tepat di sebelah
rumah. Pasien memasak dengan menggunakan kompor gas namun tak
jarang pasien juga memasak dengan menggunakan kayu bakar. Sumber
air bersih berasal dari air gunung. Kamar mandi dan toilet menyatu serta
berjarak 4 meter dari septic tank. Antara rumah pasien dan rumah
tetangga saling berdekatan. Jarak antar rumah sekitar 2-3meter.
Lingkungan tempat tinggal Ny. S merupakan lingkungan pemukiman.
Tempat sampah keluarga diletakkan di depan rumah dan tidak tertutup,
kadang sampah diambil oleh petugas kebersihan namun tak jarang
dibakar juga. Di depan dan samping rumah terdapat saluran air yang
terbuka, dan menjadi tempat genangan air.Kesan: kebersihan rumah dan
lingkungannya belum adekuat.
Dapur kayu
bakar

2. Denah Rumah

Dapur
Ruang makan

Kamar tidur Kamar tidur


3 4

Kamar tidur
2

Ruang tamu

Kamar tidur
1

Gambar 4. Denah Rumah Ny. S


V. DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. Masalah medis :
1. Leptospirosis

B. Masalah nonmedis :
1. Pendapatan perkapita yang relatif cukup (Rp575.000,00).
2. Pasien sering lupa mencuci tangan sebelum dan setelah makan, maupun
setelah berkativitas diluar rumah
3. Pasien belum mengetahui faktor resiko, pola penularan, dan pengobatan
mengenai penyakit leptospirosis, begitupun dengan keluarga pasien.
4. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat, berdebu
dan kamar mandi yang kotor serta adanya kandang ayam dekat rumah.
5. Terdapat dapur kayu bakar yang berdekatan dengan penampungan air,
disertai kondisi lantai yang kotor dan adanya beberapa genangan air.
C. Diagram Permasalahan Pasien

Kurangnya
pengetahuan baik
pasien maupun
keluarga menge
leptospirosis

Ny. S, 26 tahun Pasien sering lupa untuk


Ekonomi Leptospirosis mencuci tangan sebelum
menengah ke dan setelah makan,
bawah memiliki kebiasaan tidak
menutup makan dan dan
bahan masakan

Belum mengetahui faktor Keadaan dan kebersihan


risiko, pola penularan, dan lingkungan rumah yang
pengobatan penyakit kurang sehat
leptospirosis

Gambar 5. Hubungan Penyakit dengan Faktor Risiko

D. Matrikulasi Masalah
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks:
Tabel 8. Matrikulasi Masalah
I T R Jumla
No P S SB M Mo Ma h
Daftar Masalah
. n IxTx
R
Pengetahuan tentang
1 5 5 5 4 5 4 5 93,33
penyakit rendah
Perilaku tidak mencuci
2 5 5 4 3 4 5 5 65,38
tangan
Kondisi rumah dan
3 lingkungan sekitar yang 5 5 4 3 2 1 1 18,67
tidak sehat
Kondisi ekonomi keluarga
4. adalah kelas menengah 4 5 5 1 1 1 1 4,67
kebawah
Keterangan:
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (ketersediaan sarana)

Kriteria penilaian:
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting

E. Prioritas Masalah
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah
keluarga Ny. S adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan tentang penyakit rendah
2. Perilaku pasien tidakmencuci tangan
3. Kondisi rumah dan lingkungan sekitar yang tidak sehat
4. Kondisi ekonomi keluarga adalah kelas menengah kebawah
Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan pasien dan
keluarga tentang penyakit yang diderita masih rendah.
VI. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA

A. Rencana Pembinaan Keluarga


1. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit diare akut disentriform
terutama mengenai sumber penularan, tanda-gejala, serta penanganan dini
Tujuan Khusus
Mengubah perilaku pasien dan keluarga dalam menjaga kebersihan dan
kesehatan anggota keluarga
2. Cara Pembinaan
Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang sudah ditentukan
bersama dengan cara memberikan penyuluhan dan edukasi pada pasien
dan keluarga. Penyuluhan dan edukasi dilakukan dalam suasana santai
sehingga materi yang disampaikan dapat diterima.
3. Materi Pembinaan
Materi utama pada penyuluhan dan edukasi yang diberikan kepada pasien
dan keluarga adalah mengenai pengertian, penyebab, cara penularan, tanda
dan gejala, serta penanganan dan pencegahan gastroenteritis. Materi
selanjutnya adalah mengenali tanda-tanda dehidrasi dan mengatasi gizi
kurang.
4. Sasaran Pembinaan
Sasaran dari pembinaan yang dilakukan adalah pasien beserta seluruh
anggota keluarga pasien yang tinggal di rumah tersebut sebanyak 7 orang.
5. Evaluasi Pembinaan
Evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan
mengenai materi yang telah disampaikan sebelumnya kepada pasien dan
keluarga.Jika salah satu dari anggota keluarga ada yang bisa menjawab,
maka dianggap mereka sudah memahami materi yang telah disampaikan
sebelumnya dan dapat saling mengingatkan antar anggota keluarga.
F. Hasil Pembinaan Keluarga
Tabel 9. Hasil Pembinaan Keluarga
No Tanggal Kegiatan yang Anggota keluarga Hasil kegiatan
dilakukan yang terlibat
1 27 April 1. Pasien dan Pasien bersedia
2017 Membina hubungan saling keluarga untuk dikunjungi
percaya dengan pasien, lebih lanjut untuk
diantaranya perkenalan dipantau
dan bercerita mengenai perkembangannya.
kehidupan sehari-hari.
2.
Mendiskusikan dengan
pasien untuk
kedatangan berikutnya
2 2 Mei Menggali pengetahuan Pasien dan Pasien dan keluarga
2017 dan pemahaman pasien keluarga memahami tentang
tentang penyakitnya penyakit diare akut
disentriform serta
Memberikan penjelasan pentingnya perilaku
mengenai pengertian, sehat
penyebab, tanda dan
gejala, cara penularan
serta penatalaksanaan
Diare akut disentriform

G. Hasil Evaluasi
1. Evaluasi Formatif
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada 5 orang yang terdiri dari,
pasien Ny. S, suami pasien Tn. P, anak pasien, mertua pasien Tn. M dan
Ny. N. Metode yang digunakan berupa konseling edukasi tentang penyakit
leptospirosis mulai dari definisi, etiologi, faktor resiko, cara penularan,
edukasi PHBS serta pencegahan bagi orang-orang yang tinggal di sekitar
Ny. S terutama yang tinggal serumah dengan pasien.
2. Evaluasi Promotif
Sasaran konseling sebanyak 5 orang yaitu, pasien, suami pasien,
anak pasien, bapak mertua dan ibu mertua. Ditambah beberapa warga yang
tinggal di sekitar rumah pasien. Waktu pelaksanaan kegiatan pada Senin, 1
Mei 2017 dan Selasa, 2 Mei 2017 di rumah pasien. Konseling berjalan
dengan lancar dan pasien merasa puas karena merasa lebih diperhatikan
dengan adanya kunjungan ke rumahnya untuk memberikan edukasi
tentang penyakit yang sedang di derita Ny. S. Beserta beberapa warga
yang antusias untuk mengetahui penyakit yang sedang banyak di derita
warga sekitar.
3. Evaluasi Sumatif
Sebelum dilakukan konseling pasien dan keluarga mengaku belum
memahami penyakit yang diderita Ny. S sehingga dengan adanya
konseling pasien merasa puas dan senang karena menjadi lebih paham
tentang penyakitnya. Setelah konseling dilakukan tanya jawab,
narasumber memberikan 10 pertanyaan dan pasien beserta keluarga dapat
menjawab 8 pertanyaan dengan tepat sehingga tingkat pengetahuan pasien
meningkat menjadi 80% dari sebelumnya yang hanya 30%.

VII. TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh
patogen spirochaeta, genus Leptospira. Spirochaeta ini pertama kali diisolasi
di Jepang oleh Inada setelah sebelumnya digambarkan oleh Adolf Weil tahun
1886. Weil menemukan bahwa penyakit ini menyerang manusia dengan
gejala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan ginjal.
Penyakit ini disebut juga sebagai Weil disease, Canicola fever, Hemorrhagic
jaundice, Mud fever, atau Swineherd disease (Andani, 2014).
Menurut WHO (2003), leptospirosis adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh bakteri patogen Leptospira, yang ditularkan secara langsung
maupun tidak langsung dari hewan ke manusia, sehingga penyakit ini
digolongkan dalam zoonosis. Berdasarkan cara transmisinya, leptospirosis
merupakan salah satu direct zoonoses (host to host transmission) karena
penularannya hanya memerlukan satu vertebrata saja. Penyakit ini bisa
berkembang di alam pada hewan baik liar maupun domestik dan manusia
merupakan infeksi terminal.
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang terjadi terutama di
negara-negara tropis atau subtropis. Kejadian leptospirosis dikaitkan dengan
perubahan iklim, masyarakat dengan timpat tinggal kumuh, dan berkaitan
dengan pekerjaan tertentu. Gejala klinis yang mungkin timbul bervariasi antar
individu mulai dari gejala ringan hingga berat. Leptospirosis terkadang jarang
dilaporkan karena sulit untuk mendiagnosis secara klinis dan keterbatasan
fasilitas laboratorium (WHO, 2003).

B. Epidemiologi
International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai
negara dengan insidensi leptospirosis tinggi dan peringkat ketiga didunia
untuk mortalitas. Di Indonesia leptospirosis ditemukan di DKI Jakarta, Jawa
Barat, Jawa Tengah, DIY, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau,
Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi
Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Pada kejadian banjir besar di
Jakarta tahun 2002, dilaporkan lebih dari 100 kasus leptospirosis dengan 20
kematian (Zein, 2009).
Leptospirosis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia
terutama di daerah rawan banjir. Musim penghujan dan banjir dikhawatirkan
berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) Leptospirosis. Kejadian
luar biasa (KLB) Leptospirosis terjadi di Kabupaten Kota Baru Kalimantan
Selatan pada tahun 2014. Peningkatan kasus terjadi di Provinsi Jawa Tengah
dan DKI Jakarta setelah terjadi banjir besar yang cukup lama. Menurut Profil
Data Kesehatan Indonesia Indonesia tahun 2011, leptospirosis di Indonesia
mengalami peningkatan baik jumlah kasus maupun kematian pada 3 tahun
terakhir (2009-2011). Dilaporkan pada tahun 2011, jumlah kasus sebanyak
857 orang, kasus meninggal 82 orang, dan crude fatality rate (CFR) 9,57%.
Provinsi Jawa Tengah adalah penyumbang kedua untuk jumlah kasus (184
orang) dan kematian (33 orang) setelah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
(Kemenkes, 2015).
Leptospirosis di Kabupaten Banyumas pertama kali terjadi di
Kecamatan Kebasen pada bulan Mei 2010. Tahun 2010 hanya terdapat satu
kasus, namun tahun 2011 meningkat menjadi 6 kasus, meliputi 1 kasus pada
bulan Maret di Kecamatan Purwojati, 1 kasus pada bulan Mei di Kecamatan
Gumelar, 1 kasus di Bulan Juni di Kecamatan Kembaran, 1 kasus pada Bulan
November di Kecamatan Ajibarang, dan 2 kasus di Bulan Desember yang
terjadi di Kecamatan Banyumas dan Rawalo. Tahun 2012 menurun menjadi 3
kasus, meliputi 1 kasus terjadi pada bulan Juli di Kecamatan Sumpiuh, 1 kasus
pada bulan Agustus di Kecamatan Pekuncen, dan 1 kasus terjadi di bulan Juni
di Kecamatan Cilongok. Tahun 2013 dilaporkan terdapat 4 kasus di bulan Mei
yang terjadi di Kecamatan Sumpiuh. Pada tahun 2014, terjadi 4 kasus
leptospirosis yaitu di 1 kasus di Kecamatan Kedung Banteng dan 4 kasus di
Kecamatan Kemranjen. Terdapat peningkatan kejadian Leptospirosis pada
tahun 2015 yaitu sebanyak 14 kasus. Sebanyak 2 kasus terjadi di Kecamatan
Kalibagor, 2 kasus terjadi di Kecamatan Sokaraja, 5 kasus di Kecamatan
Pekuncen, 1 kasus di Kecamatan Rawalo, 2 kasus di Kecamatan Patikraja, 1
kasus di Kecamatan Purwokerto Barat, dan 1 kasus di Kecamatan Kebasen.
Sampai bulan Juni 2016 sudah terjadi 7 kasus Leptospirosis di Kabupaten
Banyumas yaitu 1 kasus di Kecamatan Purwokerto Selatan, 4 kasus di
Kecamatan Somagede, 1 kasus di Kecamatan Banyumas, dan 1 kasus di
Kecamatan Cilongok (Rejeki et al, 2013; Dinkes Banyumas, 2016).

C. Etiologi
Leptospirosis disebabkan oleh kontak dengan air, tanah, dan lumpur
yang tercemar oleh bakteri Leptospira, atau konsumsi makanan yang
terkontaminasi. Leptospira masuk melalui kulit yang terluka atau membran
mukosa. Menurut aspek cara transmisinya Leptospirosis merupakan salah
satu direct zoonosis (host to host transmision) karena penularannya hanya
memerlukan satu vertebrata. Penularan pada manusia merupakan infeksi
terminal. Dari aspek ini penyakit ini termasuk golongan anthropozoonoses
karena manusia merupakan “dead end” infeksi (Widarso et al., 2008).
Leptospira merupakan bakteri yang patogenik dan saprofitik. Bakteri
patogenik merupakan bakteri yang memiliki potensial untuk menyebabkan
penyakit pada hewan dan manusia. Bakteri saprofitik merupakan bakteri yang
hiduo bebasa dan biasanya tidak menyebabkan penyakit. Leptopira yang
patogenik dapat hidup di tubulus renalis paha hewan tertentu. Leptopira
saprofitik dapat ditemukan di daerah yang lembab dan basah yaitu berkisar
antara permukaan air, lumpur, hingga air keran. Saprofitik halofilik (salt-
loving) dapat ditemukan di air laut (Widarso et al., 2008).
Leptospirosis berbentuk spiral, hal yang membedakan dengan
spirochaeta lainnya adalah adanya kait pada ujungnya. Leptospira masuk
dalam ordo Spirochaetales, family Leptospiraceae, dan genus Leptospira.
Bakteri ini memiliki panjang 6-20 µm dan diameter 0,1 µm. Bakteri ini
terlalu kecil untuk dilihat dibawah mikroskop biasa sehingga hanya dapat
dilihat dibawah mikroskop lapangan gelap. Semua leptospirosis terlihat sama
saja denga sedikit perbedaan minor sehingga melihat morfologinya saja tidak
akan bisa membedakan antara leptospira patogenik, saprofitik, atau antara
sesama jenis leptospira patogenik (Widarso et al., 2008).
Penularan dapat terjadi melalui kontak melalui mukosa atau kulit yang
terluka dengan air, tanah yang lembab, atau vegetasi yang terkontaminasi urin
hewan yang terinfeksi. Infeksi juga dapat terjadi melalui ingesti atau inhalasi
dari makanan yang terkena urin reservoir. Maksa inkubasi biasanya terjadi
sekitar 10 hari (2-30 hari) (Widarso et al., 2008).
Bakteri leptospira dapat hidup dan berkembang biak dalam tubuh
hewan tertentu yang selanjutnya disebut sebagai reservoir. Beberapa hewan
vertebrae merupakan host alami bakteri leptospira yang hidup di ginjal
mereka. Walaupun leptospirosis tidak membahayakan bagi host alaminya
namun tetap dapat menimbulkan infeksi bagi manusia. Setelah menginfeksi
hewan, leptospira akan beredar mengikuti aliran darah dan menginvasi
jaringan dan organ. Sistem imun hewan reservoir diharapkan dapat
mengeliminasi bakteri leptospira, namun bakteri ini dapat bertahan dalam
tubulus ginjal dan terbuang melalui urin hewan tersebut (Widarso et al.,
2008).

D. Patogenesis dan Patofisiologi


Transmisi infeksi dari hewan ke manusia biasanya terjadi elalui
kontak dengan air atau tanah lembab yang terkontaminasi. Leptospira masuk
ke sirkulasi manusia melalui penetrasi kulit terabrasi atau membrane mukosa
intak (mata, mulut, nasofaring atau esophagus). Temuan
mikroskopikutamanya adalah vaskulitis sistemik dengan cedera endotel, sel
endotel rusak dengan berbagai derajat pembengkakan dan nekrosis.
Leptospira ditemukan di pembuluh darah berukuran medium dan besar serta
kapiler berbagai organ. Organ utama yang terkena adalah (Watt, 2013; Day &
Edwards, 2010):
1. Ginjal, dengan inflamasi tubulointerstisial difus dan
nekrosis tubular
2. Paru, biasanya kongesti, dengan massif, deposisi
linier immunoglobulin dan komplemen pada permukaan alveolar
3. Hati, yang menunjukan kolestasis terkait perubahan
degenerative ringan pada hepatosit
Pada pasien yang bertahan hidup, fungis hatidan ginjal akan sembuh
sempurna sesuai dengan ringannya kerusakan structural pada organ tersebut
(Watt, 2013).
Sistem lain juga dapat terkena, pada kasus berat dapat berupa
miokarditis, meningoensefalitis, dan uveitis. Cedera vaskuler dapat
disebabkan oleh efek toksik Leptospira secara langsung atau oleh respons
imun. Protein membran sisi luar Leptospira (outer membrane protein / OMPs)
dan lipopolisakarida dapat menimbulkan inflamasi melalui jalur yang
bergantung Toll like receptor 2. Trombositopenia dan aktivasi kaskade
koagulasi juga sering ditemukan. Pada masa penyembuhan, Leptospira terus
diekskresikan di urin selama beberapa hari (Day & Edwards, 2010).

E. Penegakan Diagnosis
Infeksi dapat asimptomatik, tetapi pada 5-15% kasus dapat berat atau
fatal. Masa inkubasi leptospirosis 7-12 hari. Perjalanan peyakit secara klasik
bifasik, yaitu fase bakteremik akut diikuti fase imun, pada kasus berat kedua
fase ini bergabung, pada kasus ringan fase imun mungkin tidak terjadi.
Manifestasi klinis leptospirosis secara umum terbagi dua, yaitu penyakit
anikterik yang self limited dan penyakit ikterik (Penyakit Weil) dengan
tampilan lebih berat.
Leptospirosis Anikterik
Fase akut dicirikan oleh demam awitan mendadak, menggigil, nyeri
kepala retroorbita, anoreksia, nyeri perut, mual dan muntah. Demam sering
melebih 40 C dan didahului kekakuan. Terdapat juga myalgia dengan
karakteristik nyeri tekan betis, paha, abdomen, dan regio paraspinal
(lumbosakral), jika mengenai regio leher dan kuduk akan menyerupai
meningitis. Nyeri tekan abdomen dapat menyerupai akut abdomen. Pada
kasus ringan demam akan menghilang setelah 3-9 hari. Injeksi konjungtiva
biasanya muncul 2-3 hari setelah awitan demam dan melibatkan konjungtiva
bulbi. Tidak ada pus ataupun sekret serosa dan tidak ada perlengketan bulu
mata dan kelopak mata. Dapat pula ditemukan injeksi faring, splenomegali,
hepatomegali, limfadenopati, dan lesi kulit, namun jarang dan tidak jelas.
Sebagian besar pasien menjadi asimptomatik dalam 1 minggu. Setelah
beberapa hari (2-3 hari), pada beberapa pasien gejala kembali muncul, disebut
fase kedua atau fase imun. Leptospira hilang dari darah, cairan serebrospinal,
dan jaringan, namun muncul di urin (leptospiruria). Muncul antibody IgM,
karena itu disebut fase imun. Gejala utama fase ini adalah meningitis pada
50% kasus, meskipun pleiositosis pada cairan serebrospinal dapat ditemukan
pada 80-90% pasien pada minggu kedua. Dapat terjadi pula neuritis optik dan
neuropati perifer. Uveitis biasanya merupakan manifestasi yang muncul
belakangan, 4-8 bulan setelah awitan penyakit.
Leptospirosis Ikterik (Penyakit Weil)
Penyakit Weil merujuk pada leptospirosis berat dan mengancam
nyawa, dicirikan oleh ikterus, disfungsi ginjal, dan perdarahan. Meskipun
ikterus merupakan tanda utama, kematian bukan disebabkan oleh gagal hati.
Prognosis tidak ditentukan oleh derajat ikterus, namun oleh adanya ikteru
karena semua kematian pada leptospirosis terjadi pada kasus ikterik. Ikterus
tampak pertama kali antara hari kelima hingga kesembilan, intensitas
maksimum 4 atau 5 hari kemudian dan terus berlanjut selama rata-rata 1
bulan. Mayoritas pasien memiliki hepatomegali dan nyeri ketok pada perkusi
hati menunjukkan penyakit masih aktif.
Perdarahan kadang terjadi pada kasus anikterik tetapi paling sering
pada penyakit yang berat. Manifestasi perdarahan yang paling sering adalah
purpura, petekie, epistaksis, perdarahan gusi, dan hemoptisis minor. Kematian
dapat terjadi akibat perdarahan subaraknoid dan perdarahan masif saluran
cerna. Adanya perdarahan konjungtiva sangat berguna untuk diagnostik, dan
jika disertai sklera ikterik dan injeksi konjungtiva, merupakan temuan yang
sangat sugestif untuk leptospirosis.
Semua bentuk leptospirosis dapat menyebabkan disfungsi ginjal.
Gambaran mulai dari yang ringan berupa proteinuria ringan dan abnormalitas
sedimen urin hingga berat berupa cedera ginjal akut. Yang sering ditemukan
adalah gagal ginjal non-oliguria dengan hipokalemia ringan (41-45% kasus).
Anuria total dengan hiperkalemia merupakan tanda prognostik buruk
(Leptospirosis Clinical Practice Guidelines, 2010). Gangguan kesadaran pada
leptospirosis berat biasanya disebabkan oleh ensefalopati uremikum, pada
kasus anikterik biasanya disebabkan ensefalitis aseptik. Pada pasien penyakit
Weil yang berhasil bertahan, fungsi ginjal akan kembali normal (Watt, 2013;
Daher et al., 2010).
Pemeriksaan Laboratorium
Leptospira dapat diisolasi dari sampel darah dan cairan serebrospinal
pada hari ketujuh hingga kesepuluh sakit, dan dari urin selama minggu kedua
dan ketiga. Kultur dan isolasi masih menjadi baku emas, dapat
mengidentifikasi serovar, tetapi membutuhkan media khusus dengan waktu
inkubasi beberapa minggu, dan membutuhkan mikroskop lapangan gelap,
sehingga tidak sesuai untuk perawatan individual. Sejumlah metode deteksi
DNA leptospira dengan reaksi rantai polymerase lebih sensitif daripada
kultur, dan dapat memberikan konfirmasi diagnosis lebih awal pada fase akut,
namun belum menjadi standar rutin.
Respons antibodi IgM yang kuat, muncul sekitar 5-7 hari setelah
awitan gejala, dapat dideteksi menggunakan beberapa uji komersial berbasis
ELISA, aglutinasi latex dan teknologi uji cepat imunokromatografik. Uji
serologi ini mendeteksi antibodi IgM yang spesifik terhadap genus
Leptospira. Tetapi uji ini sensitivitasnya rendah (63-72%) pada sampel fase
akut (penyakit kurang dari 7 hari). Jika sampel serum diambil setelah hari
ketujuh, sensitivitas meningkat menjadi >90%. Oleh karena itu, sampel kedua
hendaknya diambil pada kasus tersangka leptospirosis dengan hasil awal
negatif atau meragukan. Antibiotik yang diberikan sejak awal penyakit
mungkin menyebabkan respons imun dan antibodi tertunda. IgM positif
menunjukkan leptospirosis saat ini atau baru terjadi, namun antibodi IgM
dapat tetap terdeteksi selama beberapa tahun.
Pada uji aglutinasi mikroskopik, peningkatan titer empat kali lipat dari
serum akut ke konvalesens merupakan konfirmasi diagnosis. Akan tetapi
metode ini kompleks, deteksi antibodi terhadap suspensi antigen hidup
dengan cara serum pasien diencerkan lalu diletakkan pada panel leptospira
patogenik
hidup. Hasilnya dilihat pada mikroskop lapangan gelap dan
diekspresikan sebagai persentase organisme yang dibersihkan dari lapang
pandang melalui aglutinasi. Uji hanya dilakukan di laboratorium rujukan,
dapat memberikan informasi mengenai serovar yang diduga menginfeksi,
sehingga memiliki nilai epidemiologis. Di daerah endemis, titer yang
meningkat hanya sekali harus diinterpretasikan secara hati-hati karena
antibodi bertahan selama bertahun-tahun setelah infeksi akut. Reaksi silang
juga dapat terjadi pada sifilis, hepatitis virus, HIV, relapsing fever, penyakit
Lyme, legionellosis, dan penyakit autoimun. Pemeriksaan mikroskopik
langsung dari sampel klinis bernilai diagnostic kecil, pewarnaan
imunohistokimia dari spesimen otopsi sangat berguna (Day & Edwards,
2010).
Mengingat sulitnya konfirmasi diagnosis leptospirosis, dibuatlah
sistem skor yang mencakup parameter klinis, epidemiologis, dan
laboratorium. Berdasarkan kriteria Faine yang dimodifikasi, diagnosis
presumtif leptospirosis dapat ditegakkan jika:
(i) Skor bagian A atau bagian A + bagian B = 26 atau lebih; atau
(ii) Skor bagian A + bagian B + bagian C = 25 atau lebih.
Skor antara 20 dan 25 menunjukkan kemungkinan diagnosis leptospirosis
tetapi belum terkonfirmasi.
Tabel 10. Kriteria Faine yang dimodifikasi (Kumar, 2013)
Bagian A : Data Klinis Skor
Sakit kepala 2
Demam 2
Jika demam, suhu 39 C atau lebih 2
Injeksi konjungtiva (bilateral) 4
Meningismus 4
Myalgia (khususnya otot betis) 4
Injeksi konjungtiva + myalgia + meningismus 10
Ikterus 1
Albuminuria atau retensi nitrogen 2
Hemoptysis atau dyspnea 2
Bagian B : Faktor epidemiologis Skor
Curah hujan 5
Kontak dengan lingkungan terkontaminasi 4
Kontak dengan binatang 1
Bagian C : Temuan bakteriologis dan laboratorium Skor
Isolasi leptospira pada kultur Diagnosis pasti
PCR 25
Serologi positif
ELISA IgM positif, SAT* positif; rapid test 15
lain***, satu kali titer tinggi pada MAT** (masing-
masing dari ketiga pemeriksaan ini harus diberikan
nilai)
Peningkatan titer MAT** atau serokonversi (serum 25
yang berpasangan)
* SAT: Slide agglutination tes; **MAT: Microscopic agglutination test; ***
Latex agglutination test/ Leptodipstick/ Lepto Tek lateral flow/ Lepto Tek
Dri-Dot test.

H. Komplikasi
Komplikasi paru yang paling sering pada leptospirosis adalah sindrom
perdarahan paru berat terkait leptospirosis (severe pulmonary hemorrhagic
syndrome/ SPHS) dan acute respiratory distress syndrome (ARDS).
Komplikasi ini dapat terjadi dengan atau tanpa ikterus ataupun gagal ginjal.
Hemoptisis merupakan tanda utama, namun biasanya tidak jelas hingga pasien
diintubasi. Faktor risiko komplikasi paru adalah keterlambatan pemberian
antibiotik dan trombositopenia pada awitan penyakit (Watt, 2013; 3).
Perdarahan paru
terjadi akibat vaskulitis, juga dapat dikaitkan dengan trombositopenia dan
koagulopati konsumtif (7). Kematian akibat leptospirosis terjadi pada 10-15%
kasus, biasanya akibat perdarahan paru, gagal ginjal, atau gagal jantung dan
aritmia akibat miokarditis (5).

I. Tatalaksana
Antibiotik hendaknya diberikan pada semua pasien leptospirosis pada
fase penyakit mana pun. Pada kasus ringan obat terpilih adalah doksisiklin.
Obat alternative adalah amoksisilin dan azitromisin dohidrat. Pasien sakit
berat hendaknya dirawat inap. Antibiotic terpilih pada leptospirosis sedang-
berat adalah penicillin G. Obat alternatif di antaranya sefalosporin generasi
ketiga (seftriakson, sefotaksim) dan azitromisin dihidrat parenteral. Antibiotik
harus diberikan selama 7 hari, kecuali azitromisin dihidrat selama 3 hari.
Tabel 2. Dosis antibiotik rekomendasi untuk leptospirosis
Leptospirosis Ringan Leptospirosis Sedang-Berat
Antibiotik Dosis Antibiotik Dosis
Agen Lini Pertama
Doksisiklin 100 mg 2 kali Penisilin G 1,5 jt unit setiap
sehari per oral 6-8 jam
Agen Alternatif
Amoksisilin 500 mg 4 kali Ampisilin iv 0,5 – 1 g setiap 6
sehari atau 1 g jam
setiap 8 jam per
oral
Ampisilin 500-750 mg 4 Azitromisisn 500 mg sekali
kali sehari dihidrat sehari selama 5
hari
Azitromisisn Inisial 1 g, Seftriakson 1 g setiap 24 jam
dihidrat dilanjutkan 500
mg per hari untuk
2 hari berikutnya Sefotaksim 1 g setiap 6 jam

Pada leptospirosis sedang berat, terapi suportif dengan perhatian pada


keseimbangan cairan dan elektrolit serta fungsi paru dan jantung sangat
penting. Pasien yang menderita gagal ginjal diterapi dengan hemodialisis atau
hemodiafiltrasi jika tersedia (5). Transfusi darah dan produk darah mungkin
diperlukan pada perdarahan berat. Transfusi trombosit dini dianjurkan jika
trombosit kurang dari 50 ribu / mm3 atau pada turun bermakna dalam waktu
singkat (7).
Perdarahan paru erring membutuhan intubasi dan ventilasi mekanik segera.
Pasien SPHS memiliki bukti mekanik segera. Pasien SPHS memiliki bukti
fisiologis dan patologis untuk ARDS, sehingga ventilasi dengan volume tidal
rendah dan post-expiratory end pressure tinggi. Bukungan pernapasan untuk
mempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat sangat penting karena
pada kasus tidak fatal fungsi paru dapat sembuh sempurna (1). Penggunaan
kortikosteroid pada ARDS masih diperdebatkan, beberapa studi menunjukan
manfaat jika diberikan pada awal ARDS. Metil prednisolone diberikan dalam
12 jam pertama awitan keterlibatan paru dengan dosis 1 g iv/hari selama 3
hari dilanjutkan prednisolone oral 1 mg/kgBB/hari selama 7 hari (3).
Plasmaferesis dosis rendah (25 mL/kg) juga bermanfaat pada perdarahan paru
ringan (11). Dua siklus plasmaferesis berjarak 24 jam disertai siklofosmid 20
mg/kg setelah siklus pertama plasmaferesis dapat meningkatkan ketahanan
hidup (7).

K. Pencegahan
Pencehagan infesi menggunakan doksisiklin 200 mg 1 kali seminggu dapat
bermanfaat pada orang berisiko tinggi untuk periode singkat, misalnya
anggota militer dan pekerja agrikultur tertentu. Antibiotic dimulai 1 sampai 2
hari sebelum paparan dan dilanjutkan selama periode paparan (3). Infeski
leptospira hanya memberikan imunitas spesifik serovar, sehingga dapat terjadi
infeksi berikutnya oleh serovar berbeda. Leptospirosis di daerah tropik suli
dicegah karena banyaknya hewan reservoir yang tidak mungkin dieliminasi.
Banyaknya serovar menyebabkan vaksin spesifik serovar kurang bermanfaat.
Pada kondisi ini, cara paling efektif adalah menyediakan sanitasi yang layak di
komunitas daerah kumuh perkotaan (1). Pada orang yang sudah terpapar
dengan leptospira, masih dapat diberikan terapi profilaksis pasca-paparan;
digunakan doksisiklin disesuaikan berdasarkan risiko individu (3).
VII. PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Ny. S adalah seorang pasien yang
didiagnosis leptospirosis
1. Aspek Personal
Idea : Pasien mengeluh demam hingga mengigil disertai nyeri
kepala, mata merah, badan terasa kaku terutama pada
bagian punggung dan kaki
Concern : Pasien merasa badannya demam, tidak nyaman dan lemas,
keluarga pasien khawatir kondisi pasien semakin
memburuk.
Expectacy : Pasien dan keluarga pasien mempunyai harapan agar
penyakit pasien dapat segera sembuh dan dapat segera
beraktivitas kembali
Anxiety :Pasien dan keluarga pasien khawatir penyakit pasien tidak
sembuh-sembuh dan jatuh ke kondisi yang lebih berat
2. Aspek Klinis
Diagnosis : Leptospirosis
Gejala klinis yang muncul : demam hingga mengigil, nyeri kepala,
mata merah, badan lemas dan terasa kaku
terutama pada punggung dan kaki
Diagnosa banding : Demam tifoid, DHF
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
a. Kebiasaan pasien lupa untuk mencuci tangan
sebelum dan setelah makan. Maupun setelah beraktivitas di luar
rumah.
b. Terbiasa memasak dan meletakan bahan
masakan dibawah (lantai) yang kebersihannya kurang, serta kebiasaan
lupa mencuci kembali bahan masakan tersebut.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Status sosial ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan
kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat dan buruknya
lingkungan, antara lain pencahayaan, ventilasi, dan plafon, kebersihan
dan keadaan lingkungan rumah secara umum yang kurang sehat.
b. Rumah yang bersebelahan dengan kandang ayam juga memudahkan
tercemarnya lingkungan rumah oleh kotoran ayam.
c. Curah hujan yang tinggi pada saat ini menimbulkan genangan air di
sekitar rumah dan kandang ayam.
d. Banyaknya tikus yang terdapat disekitaran rumah pasien menjadi
factor risiko penularan penyakit ini. Pasien mengaku dirumahnya
terdapat banyak tikus yang berkeliaran di atap rumah. Sebelum
terkena sakit pasien sempat mengambil bahan makanan yang diambil
oleh tikus. Pasien mengaku lupa mencuci tangan setelah itu.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien mulai
terganggu dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari seperti
biasanya, antara lain berdagang pakaian ke tetangga hingga ke desa lain.

B. Saran
1. Pemberian penyuluhan dengan materi utama pada penyuluhan dan
edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga beserta warga yang
berada di lingkungan sekitar adalah mengenai pengertian, penyebab, cara
penularan, tanda dan gejala, serta penanganan dan pencegahan
leptospirosis.
2. Penyuluhan materi selanjutnya adalah mengenali pengendalian
penularan leptospira yang biasa berada pada genangan-genangan air, dan
tikus-tikus yang ada di rumah
3. Menyarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah,
menghilangkan genangan-genangan air yang ada disekitar rumah dan
menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas disekitar rumah.
DAFTAR PUSTAKA

Davis K., 2007. Amebiasis. Diakses dari http://www.emedicine.com/


med/topic116.htm.

Hembing, 2006. Jangan Anggap Remeh Disentri. Diakses dari


http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed.

Kroser A. J., 2007. Shigellosis. Diakses dari http://www.emedicine.com/


med/topic2112.htm.

Oesman, Nizam. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi III. Fakultas
kedokteran UI.: Jakarta.

Simanjuntak C. H., 1991. Epidemiologi Disentri. Diakses dari


http://www.kalbe.co.id/files/cdk.

Sya’roni A., Hoesadha Y., 2006. Disentri Basiler. Buku Ajar Penyakit Dalam.
FKUI:Jakarta.
DOKUMENTASI KEGIATAN