You are on page 1of 3

“Manajemen Program Gerakan Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS”

Program kesehatan yang dicanangkan sebagai upaya penanggulangan penyakit HIV/AIDS


akhir-akhir ini semakin marak dipromosikan. Program ABAT (Aku Bangga Aku Tahu) yang
merupakan program dari Dinas Kesehatan Nasional adalah salah satu contoh, dan merupakan
bagian dari Gerakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS. Ada pula KPA (Komisi
Penanggulangan AIDS) yang dibentuk untuk menekan angka kesakitan dan angka kematian
akibat penyakit HIV/AIDS.

Penularan dan penyebaran HIV/AIDS sangat berhu

bungan dengan perilaku beresiko, oleh karena itu penanggulangan harus memperhatikan
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku tersebut. Bahwa kasus HIV/AIDS diidap
sebagian besar oleh kelompok perilaku resiko tinggi yang merupakan kelompok yang
dimarginalkan, maka program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
memerlukan pertimbangan keagamaan, adat-istiadat dan norma-norma masyarakat yang
berlaku disamping pertimbangan kesehatan.

Hal-hal yang disebutkan diatas kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk membentuk
kebijakan penanggulangan HIV/AIDS. Berikut adalah beberapa kebijakan penanggulangan
HIV/AIDS di Indonesia yang disusun sebagai berikut:

1. Upaya penanggulangan HIV/AIDS harus memperhatikan nilai-nilai agama dan


budaya/norma kemasyarakatan dan kegiatannya diarahkan untuk mempertahankan dan
memperkokoh ketahanan dan kesejahteraan keluarga;

2. Upaya penanggulangan HIV/AIDS diselenggarakan oleh masyarakat, pemerintah, dan LSM


berdasarkan prinsip kemitraan. Masyarakat dan LSM menjadi pelaku utama sedangkan
pemerintah berkewajiban mengarahkan, membimbing dan menciptakan suasana yang
mendukung terselenggaranya upaya penanggulangan HIV/AIDS;

3. Upaya penanggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIV /AIDS sudah
menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah nasional dan penanggulangannya
melalui “Gerakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS”;

4. Upaya penanggulangan HIV/AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku


risiko tinggi tetapi harus pula memperhatikan kelompok masyarakat yang rentan, termasuk
yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marginal terhadap penularan HIV/AIDS;
5. Upaya penanggulangan HIV/AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta
memperhatikan keadilan dan kesetaraan gender.

Adapun tujuan dari program penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS ini adalah agar setiap
orang mampu melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dan tidak menularkan kepada orang
lain. Beberapa program yang dibentuk untuk mencapai tujuan tersebut adalah Program
peningkatan pelayan konseling dan testing sukarela, Program peningkatan penggunaan
kondom pada hubungan seks Berisiko, Program pengurangan dampak buruk penyalahgunaan
napza suntik, Program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, Program penanggulangan
Infeksi Menular Seksual (IMS), Program penyediaan darah dan produk darah yang aman,
Program peningkatan kewaspadaan universal, dan Program komunikasi publik.

Pendidikan manajemen upaya HIV dan AIDS merupakan salah satu bagian dari kurikulum
pengajaran di perguruan tinggi, baik sebagai mata ajaran (MA) atau mata kuliah (MK). Namun
demikian, pelaksanaan serta standarnya belum cukup banyak diketahui. Karena itu diperlukan
satu upaya untuk memetakan materi manajemen penanggulangan HIV dan AIDS dari berbagai
universitas dan pusat pelatihan dalam rangka mengembangkan kurikulum yang memenuhi
standar mutu pengajaran.

Sesuai Permendagri 2006/2007 tentang Pedoman Umum Pembentukan Komisi


Penanggulangan AIDS dan Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka Penangulangan HIV dan
AIDS di Daerah, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) mempunyai tugas
melakukan pembinaan program penanggulangan AIDS di Provinsi dan Kabupaten/ Kota.
Untuk itu KPAP secara kelembagaan memiliki Tim Asistensi yang dibentuk dan mendapat
tugas dari Gubernur selaku Ketua KPAP.

Penguatan Komisi Penanggulangan AIDS di semua tingkat dan kelompok kelompok kerja
penanggulangan AIDS (Pokja AIDS) di semua sektor diteruskan agar mampu
mengkoordinasikan implementasi dari strategi ini di tingkat nasional, regional maupun
institusi. Dalam rangka meningkatkan kemampuan bagi Pengelola Keuangan/Administrasi
dan Pengelola Monev/Program dalam pengelolaan keuangan, monitoring dan pembuatan
laporan serta melakukan evaluasi pengelola keuangan dan logistik, KPA Nasional
menyelenggarakan Lokakarya Penguatan Pengelola Keuangan, Monev dan Pelaporan tingkat
Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Tujuan lokakarya ini adalah terjadi peningkatan kemampuan bagi Pengelola Program dan
Pengelola Administrasi KPA Propinsi dan Kab/Kota untuk mengumpulkan, menganalisa dan
melaporkan ke KPA Nasional, mampu mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel
baik untuk dukungan dana APBD, dukungan KPAN maupun sumber lain dan juga mampu
melakukan advokasi dukungan sumber daya lokal (APBD) dalam pembiayaan upaya
penanggulangan AIDS.

Di tahun-tahun mendatang tantangan yang dihadapi dalam upaya penanggulangan HIV dan
AIDS semakin besar dan rumit sehingga diperlukan strategi baru untuk menghadapinya.
Strategi Nasional 2007-2010 (STRANAS 2007-2010) menjabarkan paradigma baru dalam
upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dari upaya yang terfragmentasi menjadi
upaya yang komprehensif dan terintegrasi diselenggarakan dengan harmonis oleh semua
pemangku kepentingan (stakeholder). Namun strategi ini akan terus mengembangkan
kemajuan yang telah dicapai oleh strategi-strategi sebelumnya. Akserelasi upaya perawatan,
pengobatan dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) dijalankan
bersamaan dengan akselerasi upaya pencegahan baik dilingkungan sub-populasi berperilaku
risiko tinggi maupu dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko rendah dan masyarakat
umum.