You are on page 1of 4

Cacing tambang adalah cacing parasit (nematoda) yang hidup pada usus kecil inangnya, manusia.

Ada
dua spesies cacing tambang yang biasa menyerang manusia, Ancylostoma duodenale dan Necator
americanus. Necator americanus banyak ditemukan di Amerika, Sub-Sahara Afrika, Asia
Tenggara, Tiongkok, and Indonesia, sementara A. duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika
Utara, India, dan Eropa bagian selatan. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing
tambang. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembap, dengan tingkat
kebersihan yang buruk. bentuk infektif dari cacing tersebut adalah bentuk filariform. Setelah cacing
tersebut menetas dari telurnya, muncullah larva rhabditiform yang kemudian akan berkembang
menjadi larva filarifor.

Enterobius vermicularis (Oxyuris vermicularis)

Klasifikasika

Phylum : Nematoda

Kelas : Plasmidia

Ordo : Rabtidia

Super famili : Oxyuroidea

Family : Oxyuridea

Genus : Enterobius

Species : Enterobius vermicularis

Morfologi

Ukuran telur E. vermicularis yaitu 50-60 mikron x 20-30 mikron (rata-rata 55 x 26 mikron). Telur
berbentuk asimetris, tidak berwarna, mempunyai dinding yang tembus sinar dan salah satu sisinya
datar. Telur ini mempunyai kulit yang terdiri dari dua lapis yaitu : lapisan luar berupa lapisan
albuminous, translucent, bersifat mechanical protection. Di dalam telur terdapat bentuk larvanya.
Seekor cacing betina memproduksi telur sebanyak 11.000 butir setiap harinya selama 2 samapi 3
minggu, sesudah itu cacing betina akan mati.

Gambar telur Enterobius vermicularis


Cacing dewasa E. vermicularis berukuran kecil, berwarna putih, yang betina jauh lebih besar dari pada
yang jantan. Ukuran cacing jantan adalah 2-5 mm, cacing jantan mempunyai sayap yang dan ekornya
melingkar seperti tanda tanya. Sedangkan ukuran cacing betina adalah 8-13 mm x 0,4 mm, cacing
betina mempunyai sayap , bulbus esofagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing
betina berbentuk gravid melebar dan penuh dengan telur. Bentuk khas dari cacing dewasa ini adalah
tidak terdapat rongga mulut tetapi dijumpai adanya 3 buah bibir, bentuk esofagus bulbus ganda
(double bulb oesophagus), di daerah anterior sekitar leher kutikulum cacing melebar, pelebaran yang
khas disebut sayap leher (cervical alae).

Gambar cacing dewasa Enterobius vermicularis

Siklus hidup

Manusia merupakan satu-satunya hospes E. vermicularis dan tidak diperlukan hospes perantara.
Cacing dewasa betina mengandung banyak telur pada malam hari dan akan melakukan migrasi keluar
melalui anus ke daerah perianal dan rectum. Migrasi ini disebut Nocturnal migration. Di daerah rectum
tersebut cacing-cacing ini bertelur dengan cara kontraksi uterus, kemudian telur melekat didaerah
tersebut. Telur dapat menjadi larva infektif pada tempat tersebut, terutama pada temperature
optimal 23-26 oC dalam waktu 6 jam. Cacing dewasa betina menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit
anus penderita. Telur tersimpan dalam suatu bahan yang lengket. Bahan ini dan gerakan dari cacing
betina inilah yang menyebabkan gatal-gatal. Telur dapat bertahan hidup diluar tubuh manusia selama
3 minggu pada suhu ruangan yang normal. Tetapi telur bisa menetas lebih cepat dan cacing muda
dapat masuk kembali ke dalam 17ectum dan usus bagian bawah.
Gambar 6: siklus hidup E. vermicularis

Cara penularan Enterobius vermicularis dapat melalui tiga jalan :

Penularan dari tangan ke mulut penderita sendiri (auto infection) atau pada orang lain sesudah
memegang benda yang tercemar telur infektif misalnya alas tempat tidur atau pakaian dalam
penderita.

Melalui pernafasan dengan menghisap udara yang tercemar telur yang infektif.

Penularan secara retroinfeksi yaitu penularan yang terjadi pada penderita sendiri, oleh karena larva
yang menetas di daerah perianal mengadakan migrasi kembali ke usus penderita dan tumbuh menjadi
cacing dewasa.

Infeksi cacing kremi

Infeksi Cacing Kremi (Oksiuriasis, Enterobiasis) adalah suatu infeksi parasit yang terutama menyerang
anak-anak, dimana cacing Enterobius vermicularis tumbuh dan berkembang biak di dalam usus.

Gejala klinis

Rasa gatal hebat di sekitar anus

Rewel (karena rasa gatal dan tidurnya pada malam hari terganggu)

Kurang tidur (biasanya karena rasa gatal yang timbul pada malam hari ketika cacing betina dewasa
bergerak ke daerah anus dan menyimpan telurnya disana)

Nafsu makan berkurang, berat badan menurun (jarang terjadi, tetapi bisa terjadi pada infeksi yang
berat)

Rasa gatal atau iritasi vagina (pada anak perempuan, jika cacing dewasa masuk ke dalam vagina)

Kulit di sekitar anus menjadi lecet atau kasar atau terjadi infeksi (akibat penggarukan).
Komplikasi

Salpingitis (peradangan saluran indung telur)

Vaginitis (peradangan vagina)

Infeksi ulang.

Diagnosa

Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama dalam waktu 1-2
jam setelah anak tertidu pada malam hari. Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka
aktif bergerak. Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip di lipatan kulit
di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian selotip tersebut ditempelkan pada
kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.

Pengobatan

1. Perawatan umum

Pengobatan sebaiknya dilakukan juga terhadap keluarga serumah atau yang sering berhubungan
dengan pasien.

Kesehatan peribadi perlu diperhatikan terutama kuku jari-jari dan pakaian tidur.

Toilet sebaiknya dibersihkan dan disiram dengan desinfektan bila mungkin setiap hari.

2. Pengobatan spesifik

Mebendazol. Diberikan dosis tunggal 500 mg, diulang setelah 2 minggu

Albendazol. Diberikan dosis tunggal 400 mg, diulang setelah 2 minggu.

Piperazin sitrat. Diberikan dengan dosis 2 x 1 g/hari selama 7 hari berturut-turut dapat diulang dengan
interval 7 hari.Pirvium pamoat. Obat ini diberikan dengan dosis 5 mg/kgBB (maksimal 0,25 mg) dan
diulangi 2 minggu kemudian. Obat ini dapat menyebabkan rasa mual, muntah, dan warna tinja
menjadi merah. Bersamam mebendazol efektif terhadap semua stadium perkembangan cacing kremi.

Pirantel pamoat. Diberikan dengan dosis 10 mg/kgBB sebagai dosis tunggal dan maksimum 1 g.

Cara pencegahan dan pemberantasan Enterobiasis.

Mengingat bahwa Enterobiasis adalah masalah kesehatan keluarga maka lingkungan hidup keluarga
harus diperhatikan, selain itu kebersihan perorangan merupakan hal yang sangat penting dijaga.

Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar

Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku

Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu

Mencuci jamban setiap hari

Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari tangan dan setiap benda yang
dipegang/disentuhnya

Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut.