You are on page 1of 8

Zahroh, Subai’ah: Hubungan Lama Pengobatan TBC Dengan Tingkat Stres 138

Penderita TBC Di Puskesmas Tambelangan Kabupaten Sampang

HUBUNGAN LAMA PENGOBATAN TBC DENGAN TINGKAT STRES


PENDERITA TBC DI PUSKESMAS TAMBELANGAN
KABUPATEN SAMPANG

Chilyatiz Zahroh, Subai’ah

Fakultas Keperawatan dan Kebidanan


Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Jl. Smea 57 Surabaya
Email : chilyatiz@unusa.ac.id

Abstract: The Long-term medication of the timely tuberculosis sufferers makes


them bored of taking medicines and control. As a result, the treatment were not
successful and takes much longer. This situation makes TB sufferers stress. The
purpose of this study was to find out the correlation between the long treatment of
tuberculosis with the stress level of tuberculosis sufferers in Puskesmas Tambelangan,
located in Sampang. The design of study was analytic-cross sectional. The population
involved all of TB sufferers, totally 41 respondents, in wich 39 respondents were
taken as the samples by using simple random sampling technique. The independent
variables was long treatment of tuberculosis, whereas the dependent variables was
stress levels. The data Collection was done by using questionnaires and medical
records document TBC, Moreover, the data were analyzed by using Spearman rank
test. The results showed the majority (57.7%) of respondents in the health centers are
undergoing treatment in Puskesmas Tambelangan category 1 and nearly half (38.5%)
of respondents in Puskesmas Tambelangan experiencing moderate stress.
Furthermore, Based on the result obtained Spearman rank, it showed that ρ (0,000)
<α (0.05) so that there was a correlation between the long treatment of tuberculosis
with the stress level of tuberculosis sufferers. The conclusions of study was that the
longer treatment of tuberculosis, the more severe the stress level of tuberculosis
sufferers. Therefore, the health workers are Expected to health workers to teach stress
management in tuberculosis sufferers. So that tuberculosis sufferers who run the
treatment did not experience stress.
Key word : Long treatment of tuberculosis, The level of stress

Abstrak: Pengobatan jangka panjang pada penderita TBC menyebabkan


penderita bosan minum obat dan kontrol tepat waktu. Akibatnya pengobatan
tidak berhasil dan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Keadaan ini membuat
penderita TBC stres. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lama
pengobatan TBC dengan tingkat stres penderita TBC di Puskesmas Tambelangan
Kabupaten Sampang. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan Cross
Sectional. populasi penderita TBC sejumlah 41 orang. Besar sampel 26 responden.
Pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling dengan variabel
independen lama pengobatan TBC dan dependen tingkat stres penderita TBC.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan Dokumen rekam medik penderita
TBC kemudian dilakukan uji statistik rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan
sebagian besar (57,7%) responden di Puskesmas Tambelangan menjalani pengobatan
kategori 1 dan hampir setengahnya (38,5%) responden di Puskesmas Tambelangan
Zahroh, Subai’ah: Hubungan Lama Pengobatan TBC Dengan Tingkat Stres 139
Penderita TBC Di Puskesmas Tambelangan Kabupaten Sampang

mengalami stres sedang. Hasil rank spearman didapatkan ρ (0,000) < α (0,05) berarti
ada hubungan lama pengobatan TBC dengan tingkat stres penderita TBC. Simpulan
dari penelitian ini semakin lama pengobatan TBC maka semakin berat tingkat stres
penderita TBC. Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk mengajarkan manajemen
stres pada penderita TBC. Supaya penderita TBC yang menjalankan pengobatan tidak
mengalami stres

Kata kunci : Lama pengobatan TBC, Tingkat stress

PENDAHULUAN pada 4 penderita TBC didapatkan 2


Tuberkulosis (TB) sampai saat orang mengeluh dengan pengobatan
ini masih menjadi masalah kesehatan penyakit TBC, dan 2 orang semangat
di seluruh dunia baik di negara maju untuk sembuh dari penyakit TBC.
maupun negara berkembang, karena “saya bosan minum obat mbak, saya
penyakit tuberkulosis merupakan sudah tidak bisa bekerja, saya tidak
penyebab kematian nomor dua memiliki harapan untuk sembuh
tertinggi dari golongan penyakit karena penyakit TBC katanya tidak
infeksi di dunia setelah HIV dan bisa disembuhkan, obatnya terlalu
AIDS. Upaya pencegahan dan banyak, jangka waktu pengobatan
pengobatan telah dilakukan di seluruh lama, efek obatnya membuat saya
dunia namun masalah tuberkulosis mual, Saya malas kontol mbak
belum bisa dituntaskan. Tuberkulosis Puskesmasnya jauh” Sementara 2
di Indonesia dipandang sebagai orang diantaranya mengatakan “saya
penyebab kematian nomor dua setelah teratur mbak minum obat, saya yakin
penyakit kardiovaskuler, dan penyebab pasti saya bisa sembuh, saya ingin
utama dari penyakit infeksi bekerja karena anak saya masih
(Indeswari, 2011). sekolah dan membutuhkan biaya
Penyakit tuberkulosis dapat banyak, anak saya yang selalu
menular dengan cepat melalui saluran nganterin saya kontrol mbak”. (Tn. M,
pernapasan, ketika penderita TBC 40 tahun, Tn. P, 47 tahun, Tn. K, 55
berbicara, batuk, dan bersin. Sehingga tahun, Tn. N, 45 tahun, hasil
penyebaran penyakit ini sangat tinggi. wawancara pada tanggal 15 Februari
Tuberkulosis bisa dicegah 2016 jam 09.00 wib).
penularannya, dan disembuhkan Prevalensi kasus tuberkulosis
dengan pengobatan secara teratur di dunia belum bisa di tuntaskan.
selama 6-8 bulan. Fenomena di Tahun 2010 mencapai 14 juta atau
masyarakat saat ini banyak penderita sama dengan 200 kasus per 100.000
TBC yang malas minum obat dan penduduk. Tahun 2011 sebanyak 8,7
kontrol tepat waktu karena bosan juta orang jatuh sakit karena TBC dan
dengan obat. Akibatnya pengobatan 1,4 juta meninggal karena TBC
selama 6-8 tersebut tidak berhasil, dan (WHO, 2011 dalam Syam, 2013).
membutuhkan pengobatan yang lebih Angka penemuan kasus baru Provinsi
lama lagi, keadaan inilah yang Jawa Timur pada tahun 2012 sebesar
membuat penderita TBC mengalami 67,09% yang terdiri dari jumlah kasus
stres. baru BTA negatif sebanyak 41,472
Hasil wawancara di Puskesmas kasus, dan BTA positif sebanyak
Tambelangan Kabupaten Sampang 25,618 kasus. Kondisi tersebut masih
140 Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 9, No. 2, Agustus 2016, hal 138-145

jauh dari target pemerintah yang karena penderita yang mengalami stres
menyebutkan setiap tahunnya sistem kekebalan tubuhnya mengalami
penemuan kasus baru (CDR/Case perubahan untuk mengatasi stres.
Detection Rate) harus mencapai 70% (Amin, 2007).
(Dinkes, 2013). Kasus TBC di Upaya untuk mengatasi stres
Puskesmas Tambelangan 4 tahun penderita TBC dapat dilakukan oleh
terakhir mengalami fluktuatif. Pada tenaga kesehatan dengan cara
tahun 2012 ada 56 kasus, 2013 ada 54 memberikan penyuluhan dan
kasus, 2014 ada 86 kasus dan 2015 konseling pada penderita TBC,
ada 56 kasus. Kasus TBC di fungsinya untuk menambah
Puskesmas Tambelangan pada tahun pengetahuan dan memberikan
2014 mengalami peningkatan. Hal ini motivasi pada penderita TBC.
disebabkan pada tahun 2013 sebanyak Sehingga penderita tidak stres dengan
6 penderita TBC putus berobat dengan penyakitnya, mau mengkonsumsi obat
beberapa alasan yaitu: 2 penderita secara teratur selama 6-8 bulan, dan
berhenti melakukan pengobatan mau kontrol ke Puskesmas secara
karena penderita bekerja ke luar kota, rutin. Berdasarkan fenomena tersebut
sementara 4 penderita stres dan putus maka perlu diteliti lebih lanjut tentang
asa dengan lamanya pengobatan hubungan lama pengobatan TBC
sehingga penderita tidak mau berobat dengan tingkat stres penderita TBC di
lagi ke Puskesmas. Keadaan ini yang Puskesmas Tambelangan Kabupaten
mempengaruhi penularan dan Sampang.
peningkatan jumlah kasus TBC di desa
Tambelangan tahun 2014 (Maulidi, METODE
2014). Pengobatan yang lama dengan Metode penelitian yang
jumlah obat yang cukup banyak sering digunakan adalah korelasi dengan
membuat penderita TBC mengeluh pendekatan cross Sectional. Populasi
seperti pusing, perubahan selera penelitian ini adalah seluruh penderita
makan, susah tidur, dan cemas. TBC yang sedang menjalani program
Keadaan ini merupakan gejala stres. pengobatan di Puskesmas
Stres dipengaruhi oleh Tambelangan Kabupaten Sampang
beberapa faktor, yaitu : perkawinan, sebanyak 41 orang, dengan sample 39
penyakit fisik atau cidera, masalah responden. Sample didapatkan dengan
orang tua, hubungan interpersonal, cara Probability sampling dengan
pekerjaan, lingkungan hidup, teknik simple random sampling.
keuangan, hukum, perkembangan, dan Variabel independen dalam
faktor keluarga. (Yosep, 2014). penelitian ini adalah lama pengobatan
Dampak stres sangat berbahaya bagi TBC dan variabel dependen adalah
kelangsungan hidup seseorang tidak tingkat stres penderita TBC. Instrumen
hanya pada sisi psikis (kejiwaan), dalam penelitian ini adalah lembar
namun stres juga mempunyai dampak rekam medis untuk mengukut variabel
yang sangat buruk bagi kesehatan fisik lama pengobatan TBC, dan variable
(jasmaniah) seseorang. Dampak secara tingkat stres diukur dengan kuesioner.
psikis, stres dapat membuat diri Data yang didapat dianalisis dengan
penderita merasa tidak berguna, uji Rank Spearman dengan uji
kehilangan motivasi dan tujuan hidup. validitas 0,05.
Dampak stres secara fisik dapat
mempengaruhi proses penyembuhan,
Zahroh, Subai’ah: Hubungan Lama Pengobatan TBC Dengan Tingkat Stres 141
Penderita TBC Di Puskesmas Tambelangan Kabupaten Sampang

Penelitian dilakukan di Jenis Frekuensi Presentase


Puskesmas Tambelangan Sampang Kelamin (%)
pada bulan April – Mei 2016. Laki-laki 25 64,1
Perempuan 14 35,9
HASIL & PEMBAHASAN Jumlah 39 100
a. Hasil Sumber : Data primer Mei 2016
Pengumpulan data umum berisi
karakteristik responden yang meliputi Tabel 4 menunjukkan bahwa
usia, pendidikan, pekerjaan, jenis dari 39 responden sebagian besar
kelamin penderita TBC di Puskesmas (64,1%) berjenis kelamin laki-laki.
Tambelangan Kabupaten Sampang.
a. Usia Data khusus meliputi lama
Tabel 1 Distribusi Usia Responden pengobatan TBC dan tingkat stres
Usia (Tahun) Frekuensi Presentase penderita TBC
(%) a. Karakteristik responden
<50 31 79,5 berdasarkan lama pengobatan
>50 8 20,5 TBC
Jumlah 39 100 Tabel 5 Karakteristik responden
Sumber : Data primer Mei 2016 berdasarkan lama pengobatan TBC
Lama Frekuensi Presentase
Tabel 1 menunjukkan bahwa pengobatan (%)
dari 39 responden hampir seluruhnya TBC
(79,5%) berusia kurang dari 50 tahun. Kategori 1 27 69,2
Kategori 2 8 20,5
b. Pendidkan Pendidikan Kategori 3 4 10,3
Responden Jumlah 39 100
Sumber : Data primer Mei 2016 Pendidikan Frekuensi Presentase
(%)
Tabel 2 menunjukkan bahwa Tidak 3 7,7
dari 39responden hampir seluruhnya Sekolah
(84,6%) berpendidikan dasar Dasar 33 84,6
. Menengah 3 7,7
c. Pekerjaan Jumlah 39 100
Tabel 3 Distribusi Pekerjaan Responden Sumber : Data primer Meil 2016
Pekerjaan Frekuensi Presentase
(%) Tabel 5 menunjukkan bahwa
Pelajar 2 5,2 dari 39 responden sebagian besar
Petani 24 61,5 (69,2%) sedang menjalani pengobatan
Swasta 13 33,3 Kategori 1 yaitu lama pengobatan 2-6
Jumlah 39 100 bulan.
Sumber : Data primer Mei 2016
Tabel 3 menunjukkan bahwa b. Karaktertistik responden
dari 39 responden sebagian besar berdasarkan tingkat stres
(61,5%) bekerja sebagai petani. penderita TBC
Tabel 6 Karaktertistik responden
d. Jenis kelamin berdasarkan tingkat stres penderita TBC
Tabel 4 Distribusi Jenis Kelamin Tingkat Frekuensi Presentase
Responden Stres (%)
142 Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 9, No. 2, Agustus 2016, hal 138-145

Ringan 9 23,1 penderita TBC di Puskesmas


Sedang 22 56,4 Tambelangan Kabupaten Sampang.
Berat 8 20,5
Jumlah 39 100 b. Pembahasan
Sumber : Data primer April 2016 1. Lama Pengobatan TBC
Tabel 6 menunjukkan bahwa Lama pengobatan TBC di
dari 39 responden lebih dari Puskesmas Tambelangan yang
setengahnya setengahnya (38,5%) tergambar pada tabel 5.5 menunjukkan
mengalami stres sedang. bahwa dari 39 responden sebagian
besar (69,2%) menjalani pengobatan
Tabel 7 Tabulasi silang hubungan lama TBC kategori 1 (2-6 bulan), hampir
pengobatan TBC dengan tingkat stres setengahnya (20,5%) sedang
penderita TBC di Puskesmas menjalani pengobatan TBC kategori 2
Tambelangan Kabupaten Sampang (7-8 bulan), dan sebagian kecil
Sumber : Data primer Mei 2016 Lama Tingkat Stres Jumlah
Pengobatan Stres Stres Stres N(%)
Tabel 7 menunjukkan bahwa TBC Ringan Sedang Berat
dari 39 responden, didapatkan 27 N (%) N (%) N (%)
responden yang menjalani pengobatan Kategori 1 9 (33,3) 17 (63) 1 (3,7) 27(100)
kategori 1 (2-6 bulan) sebagian besar Kategori 2 0 (0) 5 (52,5) 3(37,5) 8 (100)
(63%) mengalami stres sedang, hampir Kategori 3 0 (0) 0 (0) 4 (100) 4 (100)
Jumlah 9 (23,1) 22(56,4) 8(20,5) 39(100)
setengahnya (33,3%) mengalami stres
ringan dan sebagian kecil (3,7%) (10,3%) sedang menjalani pengobatan
mengalami stres berat. TBC kategori 3 (>8 bulan). Hasil
Sementara dari 8 responden penelitian diatas menunjukkan bahwa
yang sedang menjalani pengobatan mayoritas penderita TBC di
kategori 2 (7-8 bulan) tidak satupun Puskesmas Tambelangan adalah
(0%) yang mengalami stres ringan, penderita dengan kasus baru sehingga
sebagian besar (52,5%) mengalami sebagian besar penderita menjalani
stres sedang, dan hampir setengahnya pengobatan TBC kategori 1 (2-6
(37,5 %) mengalami stres berat. bulan). Pengobatan TBC kategori 1
Sedangkan dari 4 responden yang merupakan program pengobatan
sedang menjalani pengobatan kategori penderita TBC dengan kasus baru,
3 (>8 bulan) tidak satupun, (0%) sputum positif, sputum negatif tapi
mengalami stres ringan maupun stres kelainan parunya luas, TB milier dan
sedang, dan seluruhnya (100%) sebagainya. Pengobatan dimulai
mengalami stres berat. dengan fase intensif yaitu 2 HRZS (E)
Data tabulasi silang hubungan obat diberikan setiap hari selama dua
lama pengobatan TBC dengan tingkat bulan kemudian fase lanjutan 4 H3R3
stres penderita TBC di Puskesmas obat diberikan tiga kali seminggu
Tambelangan Kabupaten Sampang selama 4 bulan (Muttaqin, 2008).
diatas, kemudian dilakukan analisis Pengobatan kategori 1
dengan uji rank spearman dengan diberikan selama 2-6 bulan, pada
tingkat kesalahan α= 0,05, didapatkan tahap ini penderita TBC harus minum
nilai ρ= 0,000 yang berarti ρ < α maka obat secara teratur karena sangat
H0 ditolak artinya ada hubungan lama berpengaruh terhadap kesembuhan
pengobatan TBC dengan tingkat stres penyakitnya. Pengobatan yang gagal
akan menyebabkan kekambuhan dan
Zahroh, Subai’ah: Hubungan Lama Pengobatan TBC Dengan Tingkat Stres 143
Penderita TBC Di Puskesmas Tambelangan Kabupaten Sampang

ketidakberhasilan pengobatan, kemampuan dalam mengenali dan


sehingga penderita TBC harus mengontrol stres cukup baik.
melakukan pengobatan ulang dengan 3. Hubungan lama
waktu yang lebih lama yaitu pengobatan TBC dengan tungkat
pengobatan kategori 2 (7-8 bulan), jika stres penderita TBC.
kategori 2 (7-8 bulan) ini gagal Setelah dilakukan uji statistik
pengobatan bisa berlanjut pada pada tabulasi silang kemudian
kategori 3 (> 8 bulan). HE pada dilakukan korelasi statistik rank
penderita TBC yang menjalani spearman dengan SPSS for windows
pengobatan sangat penting, tujuannya didapatkan hasil ρ (0,000) < α (0,05)
untuk memberikan pengetahuan maka H0 ditolak yang artinya ada
tentang fungsi dan dampak keteraturan hubungan lama pengobatan TBC
minum obat serta kontrol tepat waktu, dengan tingkat stres penderita TBC di
dimana hal ini dapat berpengaruh Puskesmas Tambelangan Kabupaten
terhadap lama pengobatan TBC. Lama Sampang.
pengobatan TBC adalah Jangka waktu Hubungan lama pengobatan
penderita TB paru melakukan TBC dengan tingkat stres penderita
pengobatan yang bertujuan untuk TBC yang tergambar pada tabel 7
mencegah kekambuhan, resistensi menunjukkan bahwa dari 39
terhadap OAT, memutuskan mata responden didapat 27 responden yang
rantai penularan, serta kematian menjalani pengobatan kategori 1
(Muttaqin, 2008). sebagian besar (63%) mengalami stres
sedang, sementara dari 8 responden
2. Tingkat Stres Penderita yang menjalani pengobatan kategori 2
TBC sebagian besar (52,5%) mengalami
Tingkat stres penderita TBC stres sedang, dan dari 4 responden
yang tergambar pada tabel 6 yang menjalani pengobatan kategori 3
menunjukkan bahwa dari 39 seluruhnya (100%) mengalami stres
responden hampir setengahnya berat. Dari hasil penelitian diatas dapat
(56,4%) mengalami stres sedang, diketahui bahwa lama pengobatan
artinya dari seluruh responden yang TBC mempengaruhi tingkat stres
menjalani pengobatan hampir penderita TBC. Semakin lama
setengahnya mengalami stres sedang. pengobatan TBC maka semakin berat
Penderita TBC yang menjalani tingkat stres penderita TBC. Penderita
pengobatan di Puskesmas TBC bosan harus minum obat dalam
Tambelangan Kabupaten Sampang jumlah banyak setiap hari dengan
sebagian besar menjalani pengobatan waktu yang cukup lama. Selain itu
kategori 1 (2-6 bulan) sehingga efek obat yang ditimbulkan sangat
penderita cukup baik dalam mengganggu aktivitas sehari-hari
mengontrol stres, karena pada penderita seperti: pusing, dan sulit
pengobatan kategori 1 (2-6 bulan) tidur sehingga apabila keadaan ini
penderita masih punya harapan untuk berlangsung lama maka penderita TBC
bisa sembuh secara total apabila mau akan stres. Menurut Syam (2013),
minum obat dengan teratur. Menurut TBC dapat sembuh bila dilakukan
Safaria, (2012) seseorang dikatakan pengobatan secara teratur selama 6-8
mengalami stres sedang, apabila cukup bulan, karena pengobatan memerlukan
baik dalam mengendalikan stres, waktu yang lama maka penderita TBC
sangat mungkin mengalami stres.
144 Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 9, No. 2, Agustus 2016, hal 138-145

mengurangi tingkat stres penderita


KESIMPULAN TBC yang menjalani pengobatan
Simpulan dari hasil penelitian ini di Puskesmas Tambelangan.
adalah:
1. Penderita TBC di Puskesmas DAFTAR PUSTAKA
Tambelangan Kabupaten Amin, Samsul Munir dan Haryanto
Sampang sebagian besar sedang Al-Fandi. 2007. Kenapa Harus
menjalani pengobatan kategori 1. Stres: Terapi Stres Ala Islam.
2. Penderita TBC di Puskesmas Jakarta: Amzah.
Tambelangan Kabupaten Dinkes. 2013. Profil Kesehatan
Sampang hampir setengahnya Kabupaten Sampang 2013.
mengalami stres sedang. www.dinkes.sampangkab.go.id
3. Ada hubungan lama pengobatan diakses pada tanggal 28 Januari
TBC dengan tingkat stres 2016
penderita TBC di Puskesmas Indreswari, Sri Andraini, dkk. 2011.
Tambelangan Kabupaten Fakror HLA-DRB Pada
Sampang. Semakin lama Penderita Tuberkulosis Paru
pengobatan TBC maka semakin Dengan Pengobatan Strategi
berat tingkat stres penderita TBC. DOTS. Fakultas Kedokteran
Universita Diponegoro Dan
Saran Ikatan Dokter Indonesia Wilayah
1. Bagi instituusi pendidikan Jawa Tengah. www.
Hasil penelitian ini diharapkan googlescholar.com diakses pada
dapat digunakan sebagai tanggal 29 Maret 2016
tambahan pustaka pendidikan Maulidi, Husnul. 2014. Rekam Medik
untuk pendalaman mata kuliah Penderita TBC. Sampang:
yang berhubungan dengan Puskesmas Tambelangan
penyakit TBC. Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar
2. Bagi peneliti selanjutnya Asuhan Keperawatan Klien
Peneliti selanjutnya diharapkan dengan Gangguan Sistem
dapat melakukan penelitian faktor Pernapasan. Jakarta: Salemba
lain yang berhubungan dengan Medika.
tingkat stres penderita TBC Nursalam. (2011). Konsep dan
sehingga dapat melengkapi hasil Penerapan Metodologi
penelitian ini. Penelitian Ilmu Keperawatan:
3. Bagi responden Pedoman Skripsi, Tesis, dan
Hasil penelitian ini diharapkan Instrument Penelitian
dapat menjadi tambahan informasi Keperawatan Edisi 2. Jakarta,
bagi penderita TBC untuk Salemba Medika
menambah pengetahuan tentang Safaria, Triantoro dan Nofrans Eka
pentingnya minum obat secara Saputra. 2012. Manajemen
teratur sehingga penderita TBC Emosi. Jakarta: Bumi Aksara.
tidak mengalami stres dalam Setiadi. (2007). Konsep Dan
menjalani pengobatan. Penulisan Riset Keperawatan.
4. Bagi tempat penelitian Jogjakarta, Graha Ilmu
Dibutuhkan peningkatan mutu Syam, Muh Suyuti, dkk. 2013.
pelayanan khususnyan Dukungan Sosial Penderita
manajemen stres sehingga dapat Tuberculosis Paru Di Wilayah
Zahroh, Subai’ah: Hubungan Lama Pengobatan TBC Dengan Tingkat Stres 145
Penderita TBC Di Puskesmas Tambelangan Kabupaten Sampang

Kerja Puskesmas Ajangale


Kabupaten Bone. www.
googlescholar.com diakses pada
tanggal 03 februari 2016
Yosep, Iyus dan Titin Sutini. 2014.
Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Bandung: PT Refika Aditama
Budiman. (2011). Penelitian
Kesehatan. Bandung, Refika
Aditama