You are on page 1of 171

REDESAIN INTERIOR MUSEUM SRI BADUGA

BANDUNG

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


untuk Memperoleh Gelar Sarjana Desain

Oleh:

FATARA RAMADHIAN

1403130129

PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR

FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

UNIVERSITAS TELKOM

BANDUNG

2017
REDESAIN INTERIOR MUSEUM SRI BADUGA

BANDUNG

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


untuk Memperoleh Gelar Sarjana Desain

Oleh:

FATARA RAMADHIAN

1403130129

Pembimbing 1: Titihan Sarihati, S.Sn., M.Sn., M.Ds

Pembimbing 2:Rizka Rachmawati, S.Ds., M.B.A

PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR

FAKULTAS INDUSTRI KREATIF

UNIVERSITAS TELKOM

BANDUNG

2017
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS AKHIR

REDESAIN INTERIOR MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG

Diajukan sebagai salah satu syarat


Untuk memperoleh gelar sarjana desain
Pada Program Studi S-1Desain Interior
Fakultas Industri Kreatif
Universitas Telkom

Oleh:

FATARA RAMADHIAN

NIM. 1403130129

Bandung, Agustus 2017

Mengesahkan,

Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2

Titihan Sarihati, S.Sn., M.Sn., M.Ds Rizka Rachmawati, S.Ds., M.B.A

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | ii


HALAMAN PERNYATAAN

Nama : Fatara Ramadhian

NIM : 1403130129

Program Studi : Desain Interior

Dengan ini menyatakan bahwa laporan Tugas Akhir dengan judul Redesain
Interior Museum Sri Baduga Bandung adalah benar-benar hasil karya sendiri. Penulis
tidak melakukan penjiplakankecuali melalui pengutipan dengan etika keilmuan yang
berlaku. Penulis bersediamenanggung resiko/sanksi apabila ditemukan pelanggaran
terhadap etikakeilmuan dalam Laporan Tugas Akhir.

Bandung, Agustus 2017

Yang membuat pernyataan

Fatara Ramadhian

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | iii


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Penulis panjatkan puji syukur atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan maksimal dan penulis
juga mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang memperlancar pengerjaan
Laporan Tugas Akhir. Untuk itu penulis sampaikan terima kasih kepada semua
pihak yang telah ikut berkontribusi dalam pembuatan, pengarahan dan penyusunan
Laporan Tugas Akhir ini. Untuk itu pada pada kesempatan ini penulis mengucapkan
rasa terima kasih kepada :

1. Allah SWT yang telah memberikan rizky yang tidak terhitung.


2. Kedua orang tua penulis Nurhadi S.T dan Dra. Juli Ekawati yang selalu
mendukung semua kegiatan, menasehati, menyemangati dan selalu
memberi motivasi dalam keadaan apapun.
3. Kakak kandung penulis Purnomo Adityo S.Kom yang selalu memberikan
arahan dalam mengerjakan tugas akhir.
4. Ibu Titihan Sarihati S.Sn dan Ibu Rizka Rachmawati S.Ds., MBA selaku
dosen pembimbing selama melaksanakan Tugas Akhir ini yang selalu
memberikan arahan dan memberikan saran untuk lebih baik.
5. Ibu Ully Irma Maulina Hanafiah, S.T., M.T selaku dosen wali yang
memberikan motivasi dan membantu dalam pengurusan Tugas Akhir.
6. Bapak Ahmad Nur Sheha Gunawan, S.T., M.T. dan Ibu Tita Cardiah, S.T.,
M.T. selaku dosen penguji yang telah memberikan kritikan dan saran yang
membangun untuk memupuk kepercayadirian penulis dan meyempurnakan
perencanaan penulis.
7. Bapak Doddy Friestya Asharsinyo, S.T., M.T. selaku kaprodi Desain
Interior yang telah membantu pelaksanaan Tugas Akhir ini.
8. Seluruh dosen FIK Telkom University yang telah memberikan ilmu selama
masa perkuliahan.
9. Seluruh teman – teman yang memberikan dukungan , serta membantu
dalam pembuatan perancangan dan teman – teman seperjuangan lainnya
yang tidak bisa di sebutkan satu per satu.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | iv


Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih jauh dari sempurna dan masih
terdapat banyak kekurangan baik dari susunan kalimat maupun tata Bahasa yang
sesuai. Oleh karena itu penulis menerima saran dan kritikan dari pembaca agar dapat
menjadi lebih baik lagi. Penulis berharap laporan ini bisa bermanfaat dan bisa
dijadikan contoh dalam pengerjaan Tugas Akhir untuk mahasiswa lainnya.

Bandung, Agustus 2017

(Fatara Ramadhian)

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | v


REDESAIN INTERIOR MUSEUM SRI BADUGA
BANDUNG
Fatara Ramadhian
Jurusan desain interior, Fakultas Industry Kreatif Telkom University Bandung
fatara.rd@gmail.com

ABSTRAK
Museum Sri Baduga Bandung adalah museum yang berisikan semua tentang
perjalanan sejarah Sunda, mulai dari awal kerajaan hingga perkembangan
teknologi yang ada dan di kembangankan oleh masyarakat Sunda, yang semuanya
terangkum di dalam Museum Sri Baduga. Di Museum Sri Baduga saat ini dengan
banyaknya koleksi yang di pamerkan di dalam museum, belum dapat menarik minat
masyarakat sekitar dan belum memilikialur yang jelas serta ciri khas dari budaya
Sunda belum terasa pada interior museum. Oleh karena itu diperlukannya redesain
Museum Sri Baduga dengan alur koleksi yang lebih jelas dengan penataannya lebih
informatif, sehingga pengunjung dapat menangkap informasi secara maksimal
dengansuasana interior yang mendukung identitas budaya Sunda. Serta diharapkan
dapat menciptakan interioryang dapat mengikuti minat dan perkembangan zaman,
namun tetap menjunjung nilai dan identitas budaya Sunda. Redesain Museum Sri
Baduga ini diharapkan mencapai hasil yang optimal sehinga dapat membawa
dampak positif bagi semua penggunannya.

Kata Kunci: Museum Sri Baduga, Sunda, Redesain, Interior

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | vi


MUSEUM SRI BADUGA REDESIGNING
BANDUNG
Fatara Ramadhian
Interior Design, Faculty of Creative Industry Telkom University Bandung
fatara.rd@gmail.com

Abstract

Sri Baduga Museum of Bandung is a museum which contains all about the
history of Sunda, from the beginning of the kingdom to the development of existing
technology and developed by the Sundanese people, all of which are summarized in
Sri Baduga Museum. In Sri Baduga Museum today with the collections that are
exhibited in the museum, has not been able to attract the interest of the surrounding
community and yet have clear and distinctive from Sundanese culture has not felt in
the museum's interior. Therefore it is necessary to redesign the Museum Sri Baduga
with a clearer collection flow with a more integrated arrangement, so that visitors
can obtain information maximally with interior features that support the identity of
Sundanese culture. And expected to create an interior that can follow the interests
and developments of the times, but still uphold the value and identity of Sundanese
culture. The Redesign of Museum Sri Baduga is expected to achieve results so
optimally can bring a positive impact for all its users.

Key word: Museum Sri Baduga, Sunda, Redesign, Interior

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | vii


DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ii

HALAMAN PERNYATAAN iii

KATA PENGANTAR iv

ABSTRAK vi

DAFTAR ISI viii

DAFTAR GAMBAR xi

DAFTAR TABLE xv

DAFTAR LAMPIRAN xvi

BAB I 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Identifikasi Masalah 2

1.3. Rumusan Masalah 2

1.4. Batasan Masalah 3

1.5. Tujuan dan Sasaran Perancangan 3

1.6. Metoda Perancangan 4

1.6.1. Metoda pengumpulan data 4

1.6.2. Metoda Analisa 5

1.6.3. Tema dan Konsep 5

1.6.4. Output Akhir 6

1.7. Sistematika Perancangan 6

BAB II 8

2.1. Kajian Literatur 8

2.1.1. Tinjauan Redesain 8

2.1.2. Tinjauan Museum 8

2.1.3. Aksesibilitas Difabel 26

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | viii


2.1.4. Budaya Sunda 35

2.1.5. Museum di Bandung 40

2.2. Analisa Study Banding 43

2.2.1. Museum Ullen Sentalu yogyakarta 43

2.2.2. Museum Sri Baduga 54

2.2.3. Museum Fatahillah 63

2.2.4. Tabel Perbandingan 71

2.3. Data dan Analisa Proyek 74

2.3.1. Deskripsi Proyek 74

2.3.2. Struktur Organisasi 75

2.3.3. Tugas Pokok dan Visi Misi Museum Sri Baduga 75

2.3.4. Analisa Aktivitas Pengguna 76

2.3.5. Matrix 80

BAB III 83

3.1. Konsep Perancangan 83

3.1.1. Tema Umum 83

3.1.2. Suasana Yang Diharapkan 84

3.2. Konsep Visual 87

3.2.1. Penggayaan pada Perancangan 87

3.2.2. Zoning Blocking 88

3.3. Konsep Perancangan 89

3.3.1. Konsep Bentuk 89

3.3.2. Konsep Material 90

3.3.3. Konsep Warna 93

3.3.4. Konsep Pencahayaan 95

3.3.5. Konsep Penghawaan 98

3.3.6. Konsep Keamanan 99

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | ix


3.3.7. Konsep Display 100

3.3.8. Konsep Sirkulasi 103

BAB IV 105

4.1. Pemilihan Denah Khusus 105

4.2. Konsep Tata Ruang 106

4.3. Persyaratan Teknis Ruang 108

4.3.1. Sistem Penghawaan 108

4.3.2. Sistem Pencahayaan 109

4.3.3. Sistem Pengamanan 111

4.4. Penyelesaian Elemen Interior 112

4.4.1. Penyelesaian Lantai 112

4.4.2. Penyelesaian Plafon 112

4.4.3. Penyelesaian Dinding 112

4.4.4. Penyelesaian Furniture


Error! Bookmark not defined.

BAB V 114

5.1. Kesimpulan 114

5.2. Saran 115

DAFTAR LAMPIRAN 117

A. Daftar Benda Koleksi Museum 117

B. Tabel Kebutuhan Ruang 142

C. Bubble Diagram Museum Sri Baduga 159

DAFTAR PUSTAKA 161

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | x


DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Pencahayaan Alami ............................................................................................. 12
Gambar 2. 2 Sirkulasi Ruang Pamer ........................................................................................ 13
Gambar 2. 3 Jarak Pengamatan ................................................................................................ 17
Gambar 2. 4 Ruang Penyimpanan Koleksi .............................................................................. 17
Gambar 2. 5Ruang Pameran Dengan Pencahayaan Dari Samping.......................................... 18
Gambar 2. 6Ruang Pameran .................................................................................................... 18
Gambar 2. 7Teknik untuk Pencahayaan Buatan ...................................................................... 22
Gambar 2. 8Teknik untuk Pencahayaan Alami ....................................................................... 23
Gambar 2. 9 Ruang Gerak Bagi Pemakai "Kruk" .................................................................... 27
Gambar 2. 10 Ukuran Kursi Roda Rumah Sakit...................................................................... 28
Gambar 2. 11 Prinsip Perencanaan Jalur Pedestrian ................................................................ 29
Gambar 2. 12 Prinsip Perencanaan Jalur Pemandu ................................................................. 30
Gambar 2. 13 Tipikal RAM ..................................................................................................... 30
Gambar 2. 14 Kemiringan RAM ............................................................................................. 31
Gambar 2. 15 Handrail ............................................................................................................. 31
Gambar 2. 16 Bentuk RAM yang Direkomendasikan ............................................................. 32
Gambar 2. 17 Tipikal Tangga .................................................................................................. 32
Gambar 2. 18 Handrail pada Tangga ....................................................................................... 32
Gambar 2. 19Analisa Ruang Gerak Pada Ruang Toilet .......................................................... 33
Gambar 2. 20 Tinggi Perletakan Closet ................................................................................... 33
Gambar 2. 21Ruang Gerak Dalam Kloset ............................................................................... 34
Gambar 2. 22Kran Wudhu Bagi Penyandang Cacat ................................................................ 34
Gambar 2. 23Ruang Bebas Area Wastafel .............................................................................. 35
Gambar 2. 24Masyarakat asli suku Sunda ............................................................................... 36
Gambar 2. 25 Logo Provinsi Jawa Barat ................................................................................. 38
Gambar 2. 26 Motif Pajajaran .................................................................................................. 40
Gambar 2. 27 Museum Ullen Sentalu Yogyakarta .................................................................. 46
Gambar 2. 28Ceiling ekspose Museum Geologi ..................................................................... 49
Gambar 2. 29Flooring Marmer ................................................................................................ 50
Gambar 2. 30Dinding menggukan Partisi untuk menempelkan objek yang di pamerkan....... 51
Gambar 2. 31 Lokasi Museum Sri Baduga .............................................................................. 55

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | xi


Gambar 2. 32 Struktur Organisasi Museum Sri Baduga.......................................................... 58
Gambar 2. 33 Panggung Terbuka ............................................................................................ 59
Gambar 2. 34 Perpustakaan Museum Sri Baduga ................................................................... 59
Gambar 2. 35 Ruang Pameran Khusus .................................................................................... 60
Gambar 2. 36 Ruang Seminar .................................................................................................. 60
Gambar 2. 37 Tempat Parkir .................................................................................................... 61
Gambar 2. 38 Ceiling Putih yang Memberi Kesan Tinggi pada Ruangan ............................... 62
Gambar 2. 39 Keramik besar dan berwana putih flooring yang digunakan oleh museum Sri
Baduga. .................................................................................................................................... 63
Gambar 2. 40 Dinding yang sebagian besar digunakan untuk memaerkan objek. .................. 63
Gambar 2. 41 Tampak Depan Gedung Museum Fatahillah .................................................... 64
Gambar 2. 42 Lokasi Museum Fatahillah ................................................................................ 64
Gambar 2. 43 Museum Fatahillah Zaman Dahulu ................................................................... 66
Gambar 2. 44 Area Depan Museum Fatahillah ....................................................................... 67
Gambar 2. 45 Aktivitas di Museum Fatahillah ........................................................................ 68
Gambar 2. 46 Perpustakaan Museum Fatahillah ..................................................................... 69
Gambar 2. 47 Kantin Museum Fatahillah ................................................................................ 69
Gambar 2. 48 Toko Souvenir Museum Fatahillah ................................................................... 70
Gambar 2. 49 Mushola Museum Fatahillah ............................................................................. 70
Gambar 2. 50 Ruang Pertemuan dan Pameran Museum Fatahillah ........................................ 71
Gambar 2. 51 Taman Belakang Museum Fatahillah ............................................................... 71
Gambar 2. 52Bagan Struktur Organisasi ................................................................................. 75
Gambar 2. 53 Alur Sirkulasi Pengunjung Umum .................................................................... 76
Gambar 2. 54 Alur Sirkulasi Pengunjung Workshop dan Seminar ......................................... 77
Gambar 2. 55 Alur Sirkulasi Petugas Operasional Museum ................................................... 78
Gambar 2. 56 Alur Sirkulasi Pimpinan dan Pegawai Museum ............................................... 79
Gambar 2. 57 Alur Sirkulasi Barang dan Benda Pamer .......................................................... 80
Gambar 2. 58 Matrix Master Plan............................................................................................ 80
Gambar 2. 59 Matrix Bangunan Kantor Lantai 1 .................................................................... 81
Gambar 2. 60 Matrix Bangunan Kantor Lantai 2 .................................................................... 81
Gambar 2. 61 Matrix Bangunan Auditorium Lantai 1 ............................................................. 81
Gambar 2. 62 Matrix Bangunan Auditorim Lantai 2 ............................................................... 82
Gambar 2. 63 Matrix Bangunan Pameran Tetap ..................................................................... 82

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | xii


Gambar 3. 1 Analisis Tema Umum dan Penggayaan .............................................................. 84
Gambar 3. 2 Tampilan Kontemporer pada Bangunan Interior Museum ................................. 85
Gambar 3. 3 Interior Bangunan Museum dengan Void ........................................................... 86
Gambar 3. 4 Pengaplikasian Material Alam pada Interior ...................................................... 86
Gambar 3. 5 Pengaplikasian Material Alam pada interior ....................................................... 87
Gambar 3. 6 Zoning Blocking Pameran Tetap Lantai 1 dan 2 ................................................ 88
Gambar 3. 7 Zoning Blocking Pameran Tetap Lantai 3 ......................................................... 88
Gambar 3. 8 Batik Tasik .......................................................................................................... 89
Gambar 3. 9 Calung ................................................................................................................. 89
Gambar 3. 10 Kujang ............................................................................................................... 89
Gambar 3. 11 Penari Jaipong ................................................................................................... 90
Gambar 3. 12 Ceiling Gypsum ................................................................................................ 90
Gambar 3. 13 Ceiling Kayu ..................................................................................................... 91
Gambar 3. 14 Dinding Finishing Cat ....................................................................................... 91
Gambar 3. 15 Dinding Kayu .................................................................................................... 91
Gambar 3. 16 Kombinasi Material Lantai ............................................................................... 91
Gambar 3. 17 Lantai Epoxy ..................................................................................................... 91
Gambar 3. 25Wallpapers ......................................................................................................... 91
Gambar 3. 26 Kombinasi Material Lantai ............................................................................... 92
Gambar 3. 18 Kayu Solid......................................................................................................... 92
Gambar 3. 19 Multiplex ........................................................................................................... 92
Gambar 3. 20 HPL ................................................................................................................... 92
Gambar 3. 21 Kaca Bening ...................................................................................................... 92
Gambar 3. 22 Hollow Steel ...................................................................................................... 93
Gambar 3. 23 Kain ................................................................................................................... 93
Gambar 3. 24 Colour Scheme .................................................................................................. 94
Gambar 3. 25 Colour Scheme .................................................................................................. 94
Gambar 3. 26 Colour Scheme .................................................................................................. 95
Gambar 3. 27 Pencahayaa Alami dari Void............................................................................. 96
Gambar 3. 28 Suasana Ruang Pamer dengan Pencahayaan Day Light ................................... 96
Gambar 3. 29 Suasana Ruang Pamer dengan Pencahayaan Day Light ................................... 96
Gambar 3. 30 Suasana Ruang Pamer dengan Pencahayaan Warm Light ................................ 97
Gambar 3. 31 Spotlight ............................................................................................................ 97
Gambar 3. 32 Downlight.......................................................................................................... 97
PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | xiii
Gambar 3. 33 Tracklight .......................................................................................................... 97
Gambar 3. 34 Penghawaan Alami pada Void .......................................................................... 98
Gambar 3. 35 Standing Floor ................................................................................................... 99
Gambar 3. 36 AC Split............................................................................................................. 99
Gambar 3. 37 APAR .............................................................................................................. 100
Gambar 3. 38 Smoke Ditector ............................................................................................... 100
Gambar 3. 39 Sprinkler .......................................................................................................... 100
Gambar 3. 40 Camera CCTV................................................................................................. 100
Gambar 3. 41 Vitrin Lepas terbuka........................................................................................ 101
Gambar 3. 42 Vitrin Lepas Tertutup Transparant .................................................................. 101
Gambar 3. 43 Vintrin Dinding Terbuka ................................................................................. 102
Gambar 3. 44 Vitrin Dinding Tertutup Transparant .............................................................. 102
Gambar 3. 45 Panel Display .................................................................................................. 103
Gambar 3. 46 Museum Label Holder .................................................................................... 103
Gambar 3. 47 Info Stand ........................................................................................................ 103
Gambar 3. 48 Barriers ............................................................................................................ 103
Gambar 3. 49 Alur yang Disarankan (Suggested) ................................................................. 104
Gambar 3. 50 Liner Chaining ................................................................................................ 104

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | xiv


DAFTAR TABLE

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | xv


DAFTAR LAMPIRAN

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | xvi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Museum Negeri Sri Baduga Bandung menyimpan berbagai kekayaan
sejarah, pengetahuan, seni, dan budaya dari daerah Jawa Barat atau Ranah Sunda.
Museum ini merupakan satu - satunya museum di Bandung yang memiliki
koleksi-koleksi khas Jawa Barat dan menjadi jendela informasi bagi kebudayaan
Sunda.Museum Negeri Sri Baduga Bandung juga menjadi salah satu dari museum
terkenal di Kota Bandung, bersama Museum Geologi dan Museum Konperensi
Asia Afrika.

Pengunjung museum pada saat ini didominasi dari kalangan siswa sekolah
mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, sehingga museum
menjadi salah satu tujuan wisata edukasi yang merupakan tugas pada suatu mata
pelajaran. Hal ini adalah salah satu upaya agar dapat meningkatkan rasa memiliki
pada budaya yang sudah dibangun oleh nenek moyang dan menumbuhkan rasa
untuk melestarikan budaya yang dimiliki. Langkah positif ini harus di dukung
dengan infrastuktur yang memadai dan nyaman untuk pengunjung, sehingga
peminat pengunjung bukan dari kalangan siswa tapi masyarakat umum juga dapat
merasakan dampak positif dari museum Sri Baduga.

Masyarakat Jawa Barat belum memiliki kesadaran untuk datang ke


museum. Dalam artikel yang berjudul ‘Minat Wisata Museum Masih Rendah’
diterbitkan oleh Berita Antara, 19 Januari 2010, dilaporkan bahwa minat
masyarakat yang berwisata ke museum di Jawa Barat masih rendah. Hal tersebut
diungkapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Jawa
Barat, Herdiran Iing Suranta. Beliau menuturkan bahwa mayoritas pengunjung
berasal dari kalangan siswa sekolah yang mendapatkan tugas dari sekolah, bukan
mengunjungi museum atas minat sendiri.

Pada museum Sri Baduga Bandung yang memiliki benda – benda koleksi
khas Jawa Barat didapatkan dari zaman batuan sampai saat ini, sehingga penataan
koleksi disajikan secara kronologis, yaitu penyajian benda koleksi disusun

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 1


menurut retan waktu dari awal hingga terbaru. Penyajian pada Museum Sri
Baduga belum disesuaikan dengan runutan sejarah yang sesuai dengan waktu
terjadinya. Sehingga pola alur sejarah benda pamer menjadi tidak sesuai dengan
apa yang telah terjadipadaSunda.

Pola alur Sunda merupakan salah satu implementasi identitas kebudayaan


Sunda pada interior, belum terciptanya pola alur sejarahSunda ini mengurangi
nilai identitas Sunda pada museum Sri Baduga Bandung. Indentitas Sunda pada
museum Sri Baduga di rasa penting karena mengingat museum Sri Baduga
merupakan museum dengan benda koleksi yang mewakili sejarah masyarakat
Jawa Barat,sehingga diharapkan dapat menarik kembali minat pengunjung untuk
datang dan mengenal kebudayaan Sunda melalui museum Sri Baduga Bandung.

Permasalahan tentang perancangan Museum Negeri Sri Baduga Bandung


harus segera diatasi. Museum ini berisi peninggalan daerah yang menjadi bagian
dari sejarah bangsa. Bangsa yang maju ialah bangsa yang mengenal sejarahnya,
maka dari itu Redesain Interior Museum Negeri Sri Baduga Bandung penting
untuk dilakukan.

1.2. Identifikasi Masalah


Dari hasil survey yang didapat, dapat mengidentifikasi masalah yang
menjadi fokus utama untuk membuat perancangan Museum Sri Baduga,
diantaranya:

1. Kurangnya minat masyarakat untuk mengunjungi Museum Sri Baduga.

2. Identitas Museum Sri Baduga sebagai museum budaya Sunda belum terlihat
dari sisi desain interior museum.

3. Alur koleksi museum kurang menceritakan adanya alur sejarah Sunda.

1.3. Rumusan Masalah


Dari identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana cara menarik minat pengunjung untuk datang ke Museum Sri


Baduga?

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 2


2. Bagaimana memunculkan identitas budaya Sunda pada interior Museum Sri
Baduga?

3. Bagaimana menghadirkan alur koleksi museum yang dapat menceritakan


alur sejarah kehidupan masyarakat Sunda?

1.4. Batasan Masalah


Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan di atas maka terdapat
batasan perancangan dalam desain Museum Daerah ini, diantaranya adalah:

1. Redesain Museum Sri Baduga fokus pada alur koleksi berdasarkan sejarah
kehidupan masyarakat Sunda, sehingga memunculkan sirkulasi yang dapat
mengarahkan pengunjung dalam menjelajahi benda koleksi, serta
menghadirkan desain interior yang memiliki identitas Sunda dengan
tampilan kontemporer.

2. Redesain museum sri baduga berlokasiJl. BKR No.185, Bandung, Jawa


Barat.

3. Ruang lingkup redesain meliputi ruang pamer, ruang tiket, auditorium,


ruang tunggu dan ruang workshop.

1.5. Tujuan dan Sasaran Perancangan


Adapun tujuan dari perancangan desain Museum Daerah ini adalah sebagai
berikut:

1. Menarik minat untuk mengunjungi museum Sri Baduga dari berbagai


kalangan.

 Membuat fasilitas dan aktivitas pada museum Sri Baduga sesuai minat
masyarakat saat ini.

2. Menciptakan interior museum dengan identitas Sunda, untuk memperkuat


suasana museum Sri Baduga sebagai museum daerah Jawa Barat.

 Menerapkan unsur budaya dan sumber daya alam Sunda pada elemen
interior museum.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 3


3. Menghadirkan alur koleksi museum Sri Baduga sesuai runutan sejarah
Sunda.

 Menerapkan konsep sirkulasi secara kronologis, sehingga alur museum


dapat bercerita melalui penataan benda koleksi.

1.6. Metoda Perancangan


Dalam membuat sebuah perancangan desain interior memerlukan data –
data dan juga informasi yang jelas dan lengkap, sehingga dalam pengumpulan
data – data memerlukan sebuah metodologi pengumpulan data. Metodologi
pengumpulan data tersebut melakukan langkah – langkah sebagai berikut:

1.6.1. Metoda pengumpulan data


1.6.1.1. Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data, dimana
penulis melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian
untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan (Riduwan, 2004).
Tempat yang menjadi tujuan untuk di survey ada 3 tempat yaitu:

 Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta

Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Hargobinangun, Sleman,


Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55582.

 Museum Sri Baduga, Bandung

Jl. BKR No.185, Bandung, Jawa Barat 40243.


 Museum Fatahillah, Jakarta

Jalan Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta


Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110.

Ketiga tempat tersebut memiliki kesamaan pada bangunan heritage


yang terletak pada pulau Jawa dengan perbedaan cuaca yang hampir
signifikan.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 4


1.6.1.2. Wawancara
Dalam mendapatkan data dengan cara wawancara ini dilakukan
dengan menanyakan beberapa pertanyaan kepada pengelola dengan
penjaga tiket dan penjaga museum Sri Baduga dan beberapa pengunjung
pada Museum Sri Baduga Bandung berkaitan dengan kenyamanan dan
desain pada Museum Sri Baduga.

1.6.1.3. Studi Pustaka


Metoda ini adalah salah satu metoda yang dilakukan untuk
mendapatkan data serta inforasi berdasarkan literatur berupa peraturan
daerah dan peraturan negara tentang penyelengaraan museum, dan buku
tentang pencahayaan dengan judul Dasar – Dasar Desain Pencahaayan
oleh Mark Kaelen dan James Benya dan penghawaan, standart ergonomi
dengan buku Human Dimention oleh Julius Panero, Martin Zelnikdan
Data Arsitek oleh Ernst Neufert - Sunarto Tjahjadi, dan buku penunjang
lainnya yang berhubugnan dengan perancangan yang akan dibuat.

1.6.1.4. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metoda pengumpulan data berupa foto –
foto hasil dari survey yang telah di lakukansebagai pelengkap data – data
lainnya.

1.6.2. Metoda Analisa


Tahapan analisa data dibutuhkan setelah pengumpulan data – data
mulai dari observasi lapangan dan studi kepustakaan. Metoda analisa ini
merupakan metoda penulisan deskriptif yang dilakukan yang memiliki
tujuan untuk mendapatkan gambaran tentang analisa konsep perancangan
dan sebagai tinjauan kembali.

1.6.3. Tema dan Konsep


Metoda ini adalah sintesa dari analisa data yang ada dalam bentuk
tema dan konsep perancangan sebuah Museum Daerah berupa layout dari
furniture, konsep bentuk, warna, material, penghawaan, pencahayaan dan
keamanan yang nantinya akan dirancang untuk mendapatkan hasil dari
perancangan Museum Daerah. Tahap preliminary desain adalah lanjutan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 5


tahapan dari pemilihan data tema dan konsep yang telah di buat beberapa
alternatif desain. Lalu dikembangkan dengan tahapan pengembangan
desain setelah pemilihan alternatif desain yang telah terpilih. Pada akhir
tahapan terdapat output berupa desain yang telah dibuat berupa tema dan
konsep dari layout, ceiling, flooring, potongan, tampak perspektif dan
hasil akhir pendukung lainnya.

1.6.4. Output Akhir


Tahapan ini adalah metoda akhir dari perancangan, dari semua
yang telah dianalisa dan merupakan proses penggabungan semua data
yang diterapkan pada desain Museum Sri Baduga. Output ini akan
menghasilkan lembar kerja yang nantinya akan dijadikan acuan dalam
sebuah rancangan.

1.7. Sistematika Perancangan


Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang, identifikasi


masalah, merumuskan masalah yang ada, batasan perancangan, tujuan
perancangan, metode desain serta sistematika pengantar desain yang merupakan
gambaran umum dari isi secara keseluruhan.

Bab II Kajian Literatur dan Data Perancangan

Bab ini berisi tentang kajian pustaka yang berkaitan dengan desain interior
Museum Daerah, yang akan menunjang dari objek yang menjadi fokus
penelitian. Mulai dari prinsip - prinsip perancangan museum, pedoman
perancangan, hingga hal-hal yang berkaitan dengan kenyamanan.

Bab III Konsep Perancangan Desain Interior

Merupakan penjabaran tentang data faktual yang ada di lapangan. Bab ini
terdiri atas potensi site kasus, standar museum, standar ergonomi ruang yang
dibutuhkan, perkembangan studi kasus, aplikasi ilmu, konsep desain interior,
kasus, isu dan permasalahan yang terdapat di daerah lokasi kasus.

Bab IV Perancangan Visual Denah Khusus

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 6


Pada bab ini merupakan pemaparan data-data tentang pemilihan denah
khusus serta dibahas secara runtut untuk menjawab semua permasalahan pada
perancangan ini.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Berisi tentang uraian atau jawaban dari permasalahan, yang terdiri dari
kesimpulan dari tiap bab dan saran yang menjadi sebuah masukan agar dapat
memperbaiki kekurangan dalam merancang serta menjadi pertimbangan dalam
mengolah desain kedepannya.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 7


BAB II
KAJIAN LITERATUR DAN PERANCANGAN

2.

2.1. Kajian Literatur


2.1.1. Tinjauan Redesain
Menurut helmi. 2008, redesain merupakan perencanaan dan
perancangan kembali suatu karya agar tercapai tujuan tertentu.

Menurut John M. Redesain adalah kegiatan perencanaan dan


perancangan kembali suatu bangunan sehingga terjadi perubahan fisik
tanpa merubah fungsinya baik melalui perluasan, perubahan, maupun
pemindahan lokasi.

Redesain berasal dari Bahasa Inggris yaitu Redesign yang berarti


mendesain kembali atau perencanaan kembali. Dapat juga diartikan
menata kembali sesuatu yang telah tidak berfungsi lagi sebagai mana
mestinya (Depdikbud, 1996).

Redisain adalah suatu proses untuk menentukan tindakan –


tindakan dimasa depan yang sesuai, melalui suatu tahapan pemilihan.
(Churchman and Ackolt dalam Irfan, 2002 : 1-1).

2.1.2. Tinjauan Museum


2.1.2.1. Pengertian Museum
Kata museum berasal dari bahasa Yunani yaitu mouseion yang
berarti tempat para muse. Muse adalah sembilan anak wanita Dewa Zeus
yang memberikan inspirasi pada seniman. Yang kemudian mouseion
tersebut dijadikan nama kuil tempat memuja dewi-dewi tersebut. Pada
perkembangannya, mouseion dipakai sebagai tempat penyimpanan
hadiah dan persembahan untuk dewa dari para umat (Encarta Researcher,
2003)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 601) museum /


museum / n gedung yang digunakan sbg tempat untuk pameran tetap

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 8


benda-benda yg patut mendapat perhatian umum, spt peninggaian
sejarah, seni dan ilmu, tempat menyimpan barang kuno:

 ABRI museum tempat memamerkan benda-benda yang pernah


dipergunakan oleh ABRI dl perang masa lampau;
 sejarah museum tempat memamerkan benda-benda bersejarah
(menggambarkan peristiwa sejarah)

Menurut Internalional Council of Museum (ICOM) museum


adalah suatu lembaga yang memelihara dan memamerkan kumpulan
benda-benda koleksi yang bernilai budaya dan ilmiah untuk tujuan
penelitian, pendidikan dan hiburan. Peranan museum yang utama adalah
menyajikan koleksinya kepada masyarakat untuk membantu
pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan rasa senangnya
(Douglas dalam Desintha, 2002 ; 7).

Sedangkan menurut Caleb Setiawan (Devi, 1996 ; 7) museum


adalah bangunan untuk menempatkan koleksi obyek untuk diteliti,
dipelajari dan dinikmati. Museum mengumpulkan berbagai material dari
berbagai tempat dan waktu yang berbeda ke dalam sebuah bangunan.
Disamping itu museum merupakan lembaga tetap tempat memelihara,
menyelidiki, mengajar, memamerkan dan memeragakan benda
konservasi kepada masyarakat luas untuk tujuan publikasi, informasi,
edukasi dan rekreasi.

2.1.2.2. Jenis-jenis Museum


A. Museum Sejarah Alam
Museum jenis ini dibuat untuk membagi pengetahuan tentang
alam semesta dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya, obyek
yang dipamerkan biasanya berasal dari penelitian ilmiah. contohnya
adalah museum geologi.

B. Museum Sejarah Kebudayaan Manusia


Museum ini dibuat untuk menyebarkan pengetahuan tentang
hasil-hasil dari kebudayaan manusia di masa lalu, koleksi yang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 9


dipamerkan adalah hasil karya perbuatan manusia. Contohnya
Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

2.1.2.3. Persyaratan Berdirinya Museum


Persyaratan museum menurut Pedoman
PendirianMuseum (1999/2000), terdapat beberapa persyaratan yang
harus diperhatikan dalam perencanaan suatu museum, antara lain:

A. Lokasi Museum
a. Lokasi Harus Strategis
Lokasi yang dipilih bukan untuk kepentingan pendirinya, tetapi
untuk masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, ilmuwan, wisatawan,
dan masyarakat umum lainnya.
b. Lokasi Harus Sehat
Lokasi sehat diartikan lokasi yang tidak terletak di daerah
industri yang banyak pengotoran udara, bukan daerah yang berawa
atau tanah pasir, elemen iklim yang berpengaruh pada lokasi itu
antara lain : kelembaban udara setidaknya harus terkontrol mencapai
netral, yaitu 55 – 65 %.
B. Persyaratan Bangunan
a. Persyaratan Umum
1) Bangunan Dikelompokan dan Dipisahkan Sesuai:
 Fungsi dan aktivitas
 Ketenangan dan keramaian
 Keamanan
2) Pintu masuk (main entrance) utama diperuntukkan bagi
pengunjung.
3) Pintu masuk khusus (service utama) untuk bagian pelayanan,
perkantoran, rumah jaga serta ruang-ruang pada bangunan
khusus.
4) Area semi publik terdiri dari bangunan administrasi termasuk
perpustakaan dan ruang rapat.
5) Area privat terdiri dari :
 Laboratorium Konservasi

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 10


 Studio Preparasi
 Storage
6) Area publik atau umun terdiri dari :
 Bangunan utama, meliputi pameran tetap, pameran temporer,
dan peragaan.
 Auditorium, keamanan, gift shop, cafetaria, ticket box,
penitipan barang, lobby / ruang istirahat, dan tempat parkir.

b. Persyaratan Khusus
1) Bangunan Utama, yang mewadahi kegiatan pameran tetap
dan temporer, harus dapat:
 Memuat benda-benda koleksi yang akan dipamerkan.
 Mudah dalam pencapaiannya baik dari luar atau dalam.
 Merupakan bangunan penerima yang harus memiliki daya
tarik sebagai bangunan utama yang dikunjungi oleh
pengunjung museum.
 Memiliki sistem keamanan yang baik, baik dari segi
konstruksi, spesifikasi ruang untuk mencegah rusaknya
benda-benda secara alami ataupun karena pencurian.
2) Bangunan Auditorium, harus dapat :
 Dengan mudah dicapai oleh umum.
 Dapat dipakai untuk ruang pertemuan, diskusi, dan ceramah.
3) Bangunan Khusus, harus :
 Terletak pada tempat yang kering.
 Mempunyai pintu masuk yang khusus.
 Memiliki sistem keamanan yang baik (terhadap kerusakan,
kebakaran, dan pencurian).
4) Bangunan Administrasi, harus :
 Terletak di lokasi yang strategis baik dari pencapaian umum
maupun terhadap bangunan lainnya.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 11


C. Persyaratan Ruang
Persyaratan ruang pada ruang pamer sebagai fungsi utama dari
museum. Beberapa persyaratan teknis ruang pamer sebagai berikut:
a. Pencahayaan dan Penghawaan

Pencahayaan dan penghawaan merupakan aspek teknis utama


yang perlu diperhatikan untuk membantu memperlambat proses
pelapukan dari koleksi. Untuk museum dengan koleksi utama
kelembaban yang disarankan adalah 50% dengan suhu 210C – 260C.
Intensitas cahaya yang disarankan sebesar 50 lux dengan
meminimalisir radiasi ultra violet.

Gambar 2. 1 Pencahayaan Alami


Sumber:http://belajaritutiadaakhir.blogspot.co.id/2011/08/
persyaratan-berdirinya-museum.html

b. Ergonomi dan Tata Letak


Untuk memudahkan pengunjung dalam melihat, menikmati, dan
mengapresiasi koleksi, maka perletakan peraga atau koleksi turut
berperan. Berikut standar-standar perletakan koleksi di ruang pamer
museum.

c. Jalur Sirkulasi di Dalam Ruang Pameran

Jalur sirkulasi di dalam ruang pamer harus dapat menyampaikan


informasi, membantu pengunjung memahami koleksi yang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 12


dipamerkan. Penentuan jalur sirkulasi bergantung juga pada runtutan
cerita yang ingin disampaikan dalam pameran.

Gambar 2. 2 Sirkulasi Ruang Pamer


Sumber :Time Saver Standart

2.1.2.4. Klasifikasi Museum


Menurut Drs. Moh. Amir Sutaarga, museum dapat diklasifikasikan
berdasarkan 5 jenis, yaitu :

A. Berdasarkan Tingkat Wilayah dan Sumber Lokasi :


 Museum Internasional
 Museum Nasional
 Museum Regional
 Museum Lokal
B. Berdasarkan Jenis Koleksi :
 Museum Umum, koleksi mencakup beberapa bidang/ disiplin
 Museum Khusus, koleksi terbatas pada bidang/ disiplin tertentu
C. Berdasarkan Penyelenggaraannya :
 Museum Pemerintah
 Museum Yayasan
 Museum Pribadi
D. Berdasarkan Golongan Ilmu Pengetahuan Yang Tersirat Dalam
Museum :
 Museum Ilmu Alam dan Teknologi, misalnya : Museum
Zoologi, Museum Geologi, Museum Industri, dan lain-lain.
 Museum Ilmu Sejarah dan Kebudayaan, misalnya: Museum
Seni Rupa, Museum Ethnografi, Museum Arkeologi, dan lain-
lain.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 13


2.1.2.5. Tugas dan Fungsi Museum
Museum mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut :

 Pusat Dokumentasi dan Penelitian Ilmiah


 Pusat penyaluran untuk umum
 Pusat penikmatan karya seni
 Pusat perkenalan Kebudayaan antar daerah dan antar bangsa
 Obyek wisata
 Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan
 Suaka Alam dan Suaka Budaya
 Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan

Berdasarkan Sifat Pelayanannya :

 Museum Berjalan / Keliling


 Museum Umum
 Museum Lapangan
 Museum Terbuka

2.1.2.6. Benda-benda Kolekasi Museum


Benda-benda koleksi yang terdapat dalam museum harus memenuhi
kriteria atau persyaratan tertentu. Persyaratan untuk koleksi museum
anataralain adalah :

 Mempunyai nilai sejarah dan ilmiah termasuk nilai estetika


 Dapat diidentifikasi mengenai wujudnya, tipe, gaya, fungsi,makna
dan asalnya secara historis dan geografis, generasidan periodenya.
 Harus dapat dijadikan dokumen, dalam arti sebagai bukti atas realita
dan eksistensinya dengan penelitian itu.
 Dapat dijadikan monument atau bakal menjadi monument dalam
sejarah alam dan kebudayaan.
 Benda asli, replica atau reproduksi yang sah menurut persyaratan
museum.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 14


 (Museografika. Ditjen kebudayaan Direktorat permuseuman,
Depdikbud, 1988)

2.1.2.7. Standar Kebutuhan Bangunan Museum


A. Standar Kebutuhan Site

Penempatan lokasi museum dapat bervariasi, mulai dari pusat


kota sampai ke pinggiran kota. Pada umumnya sebuah museum
membutuhkan dua area parkir yang berbeda, yaitu area bagi
pengunjung dan area bagi karyawan. Area parkir dapat ditempatkan
pada lokasi yang sama dengan bangunan museum atau disekitar
lokasi yang berdekatan.

Untuk area diluar bangunan dapat dirancang untuk bermacam


kegunaan dan aktivitas, seperti acara penggalangan sosial, even dan
perayaan, serta untuk pertunjukan dan pameran temporal.

B. Standar Organisasi Ruang

Secara umum organisasi ruang pada bangunan museum menjadi


lima zona/area berdasarkan kehadiran publik dan zona tersebut
antara lain :

 Zona Publik - Tanpa Koleksi


 Zona Publik - Dengan Koleksi
 Zona Non Publik – Tanpa Koleksi
 Zona Non Publik – Dengan Koleksi
 Zona Penyimpanan Koleksi

C. Standar Ruang Pamer


Didalam perancangan sebuah museum perlu beberapa
pertimbangan yang berkaitan dengan penataan ruang dan bentuk
museumnya sendiri, antara lain :
a. Ditemukan tema pameran untuk membatasi bendabenda yang
termasuk dalam kategori yang dipamerkan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 15


b. Merencanakan sistematika penyajian sesuai dengan tema yang
terpilih, jenis penyajian tersebut terdiri dari :
 Sistem menurut kronologis
 Sistem menurut fungsi
 Sistem menurut jenis koleksi
 Sistem menurut bahan koleksi
 Sistem menurut asal daerah
c. memilih metoda penyajian agar dapat tercapai maksud penyajian
berdasarkan tema yang dipilih
 Metoda pendekatan esteis
 Metoda pendekatan romantik/tematik
 Metoda pendekatan intelektual ( susilo tedjo, 1988 )

D. Standar Luas Ruang Objek Pamer

Dalam hal luas objek pamer akan memerlukan ruang dinding


yang lebih banyak (dalam kaitannya dengan luas lantai)dibandingkan
dengan penyediaan ruang yang besar, hal ini sangat diperlukan untuk
lukisan-lukisan besar dimana ukuran ruangtergantung pada ukuran
lukisan. Sudut pandang manusia biasanya (54° atau 27° dari
ketinggian) dapat disesuaika terhadap lukisan yang diberi cahaya
pada jarak 10m, artinya tinggi gantungan lukisan 4900 diatas
ketinggian mata dan kira – kira 700 di bawahnya.

E. Standar Visual Objek Pamer

Galeri dan ruang pameran harus merupakan sebuah lingkungan


visual yang murni, tanpa kekacauan visual (termostat,alat pengukur
suhu/ kelembaban, alat pemadam kebakaran, akses panel, signage,
dll). Bahan permukaan display tidak boleh dapat teridentifikasi
(secara pola atau tekstur). Permukaannya harus dapat dengan mudah
di cat, sehingga warna dapat diatur menyesuaikan setiap pameran.

Dinding display dengan tinggi minimal 12 kaki diperlukan bagi


sebagian besar galeri museum seni baru, namun museum yang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 16


didedikasikan untuk seni kontemporer harus memiliki langit-langit
lebih tinggi, 20 kaki adalah ketinggian yang cukup fleksibel.

Gambar 2. 3 Jarak Pengamatan


Sumber: Time Saver Standart

F. Tata Letak Ruang

Tidak selamanya denah jalur sirkulasi yang sinambung di mana


bentuk sayap bangunan dari ruang masuk menuju keluar.Ruang –
ruang samping biasanya digunakan untuk ruang pengepakan,
pengiriman, bagian untuk bahan – bahan tembus pandang
(transparan), bengkel kerja untuk pemugaran, serta ruang kuliah.

Gambar 2. 4 Ruang Penyimpanan Koleksi


Sumber: Ernst Neufert

Ruang pameran dengan pencahayaan dari samping; tinggi tempat


gantung yang baik antara 30° dan 60°, dengan ketinggia ruang 6700

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 17


dan tinggi ambang 2130 untuk lukisan atau 3040 – 3650 untuk
meletakkan patung, hitungan ini berdasarkan di Boston

Gambar 2. 5Ruang Pameran Dengan Pencahayaan Dari Samping


Sumber: Ernst Neufert

Ruang pameran dengan penggunaan ruang yang sangat tepat


penyekat ruang di antara tiang tengah dapat diatur kembali misalnya
diletakkan di antara penyangga jika dinding bagian luar terbuat kaca,
maka penataan jendela pada dinding dalam ga dapat bervariasi.

Gambar 2. 6Ruang Pameran


Sumber: Ernst Neufert

G. Persyaratan Ruang
 Ruang untuk memperagakan hasil karya seni, benda-benda
budaya dan ilmu pengetahuan harus memenuhi persyaratan
berikut :
 Benar – benar terlindung dari pengrusakan, pencurian,kebakaran,
kelembaban, kekeringan, cahaya matahari langsung dan debut

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 18


 Setiap peragaan harus mendapat pencahayaan yang baik (untuk
kedua bidang tersebut) biasanya dengan membagi ruang sesuai
dengan koleksi yang ada menurut :
 Benda koleksi untuk studi (mis: mengukir,menggambar)
diletakkan dalam kantong – kantongnyadan disimpan di dalam
lemari (dilengkapi laci-laci) kira-kira berukuran dalam 800 dan
tinggi 1600.
 Benda koleksi untuik pajangan mis : lukisan, lukisan dinding,
patung, keramik, furniture. ( Ernst Neufert, hlm.135 )

H. Teknik Perletakan

Teknik perletakan koleksi museum ada 2 jenis, yaitu :

A. Diaroma, yang mampu menggambarkan suatu peristiwa tertentu


dilengkapi dengan penunjang suasana serta background berupa
lukisan atau poster
B. Sistem ruang terbuka

I. Metode Penyajian

Standard teknis penyajian sangat mengikat sehingga tidak


tergantung pada selera atau orang saja. Standard teknik penyajian ini
meliputi : Ukuran minimal Vitrin dan Panil, tata cahaya, tata warna,
tata letak, tata pengamanan, tata suara, lebeling dan foto penunjang.

Pemeran dalam museum harus mempunya daya tarik tertentu


untuk sedikitnya dalam jangka waktu 5 tahun, maka sebuah pameran
harus di buat dengan menggunakan suatu metode. Metode yang
dianggap baik sampai saat ini adal metode berdasarkan motivasi
pengunjung museum. Metode ini merupakan hasil penelitian
beberapa museum di eropa dan sampai sekarang digunakan.
Penelitian ini memakan waktu beberapa tahun, sehingga dapat
diketahui ada 3 kelompok besar motivasi pengunjung museum,
yaitu:

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 19


a. Motivasi pengunjung untuk melihat keindahan koleksikoleksi
yang dipamerkan
b. Motivasi pengunjung untuk menambah pengetahuan setelah
meliahat koleksi-koleksi yang dipamerkan
c. Motivasi pengunjung untuk melihat serta merasakan suatu
suasana tertentu pada pameran tertentu.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka untuk dapat memuaskan ke


3 motivasi tersebut, metode-metode yang dimaksud adalah :

a. Metode penyajian artistik, yaitu memamerkan koleksikoleksi


terutama yang mengandung unsur keindahan
b. Metode penyajian intelektual atau edukatif, yaitu tidak hanya
memamerkan koleksi bendanya saja, tetapi juga semua hal yang
berkaitan dengan benda tersebut, misalnya : cerita mengenai asal
usulnya, cara pembuatannya sampai fungsinya.
c. Metode penyajian Romantik atau evokatif, yaitu memamerkan
koleksi-koleksi disertai semua unsur lingkungan dan koleksi
tersebut berada.

J. Persyaratan Pencahayaan pada Museum

Kebutuhan dan sistem pencahayaan akan berbeda menyesuaikan


fungsi ruang dan jenis display. Sebagai contoh, sebuah museum sejarah
alam mungkin hanya perlu distribusi umum minimal sementara pada
kasus eksibisi diberikan pencahayaan pada display. Pada ruang eksterior,
pencahayaan dan pencahayaan ruang luar dapat digunakan untuk
mendramatisir dan memperlihatkan tampilan museum.

Kerusakan akibat cahaya bersifat kumulatif dan tak terhindarkan.


Energi dari cahaya mempercepat kerusakan. Energi ini dapat menaikkan
suhu permukaan benda dan dengan demikian menciptakan iklim-mikro
dengan berbagai tingkat kelembaban relatif dan reaktivitas kimia.
Pencahayaan dapat menyebabkan koleksi memudar, gelap, dan
mempercepat penuaan.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 20


Cahaya yang terlihat adalah kombinasi dari berkas cahaya merah,
jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu. Panjang gelombang cahaya ini
adalah 400-700 nanometer (nm). Rentang ultraviolet adalah 300-400 nm.
Cahaya di kisaran biru hingga akhir dari spektrum ultraviolet memiliki
energi lebih dan dapat lebih merusak objek.

Karena tidak satupun sinar ultraviolet (UV) atau inframerah (IR) yang
boleh mempengaruhi tampilan, keduanya harus dihilangkan sepenuhnya
dari area pameran, area penyimpanan koleksi, dan area penanganan. Dua
sumber utama sinar UV adalah sinar matahari (pencahayaan alami) dan
lampu neon (pencahayaan buatan).

a. Pencahayaan Buatan

Pencahayaan buatan lebih baik dari pada pencahayaan alami


supaya tidak merusak, cahaya buatan harus tetap dimodifikasi pada
iluminasi (tingkat keterangan cahaya) tertentu, untuk mengurangi
radiasi sinar ultraviolet. Pada sebagian besar museum, perlengkapan
pencahayaan di semua daerah pameran dan daerah koleksi lain harus
berpelindung UV hingga kurang dari 75 microwatts per lumen dan
tertutup untuk mencegah kerusakan terhadap objek jika terjadi
kerusakan lampu.
Secara umum, berdasarkan ketentuan nilai iluminasi yang
dikeluarkan Illumination Engineers Society Of North Amerika
(Lighthing Handbook For General Use). Pada area pameran, tingkat
pencahayaan paling dominan di permukaan barang koleksi itu
sendiri. Diatas permukaan benda paling senditif, termasuk benda dari
bahan kertas (seperti hasil print dan foto), tingkat pancahayaan tidak
boleh lebih dari 5 Footcandles (Fc).
Kebutuhan pencahayaan eksibisi akan berbeda sesuai jenis
pameran, ukuran karya, dan tata letak setiap pameran . Tujuannya
mungkin untuk menerangi objek individu, bukan seluruh ruang.
Ruang pameran biasanya memiliki susunan track lighting
berkualitas tinggi yang fleksibel. Tata letak akhir harus
mempertimbangkan lokasi dinding non-permanen. Tata letak track

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 21


lighting harus mengakomodasi letak dinding permanen dan dinding
non-permanen :

a. Sudut yang diukur mulai dari titik di dinding dan 5 inci di atas
lantai (yang merupakan rata-rata orang dewasa) harus antara 45
dan 75 derajat (ke atas) dari bidang horizontal ke posisi lampu
b. Untuk dinding permanen, sudut yang ideal biasanya antara 65-
75 derajat. Semakin sensitif material koleksi, semakin sedikit
pencahayaan yang perlu disediakan

Gambar 2. 7Teknik untuk Pencahayaan Buatan


Sumber:Time Saver Standart

b. Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami dapat digunakan sebagai pengaruh besar


untuk mendramatisir dan meramaikan desain dari sebuah
bangunan.Beberapa arsitek menggunakan cahaya alami sebagai
pembentuk desain bangunan.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 22


Gambar 2. 8Teknik untuk Pencahayaan Alami
Sumber:Time Saver Standart

Pencahayaan alami dapat mengakibatkan kerusakan pada


berbagai bahan koleksi, batu, logam, keramik pada umumnya tidak
peka terhadap cahaya, tetapi bahan organik lainnya, seperti tekstil,
kertas, koleksi ilmu hayati adalah bahan yang peka terhadap cahaya.

Perancang museum harus memahami dan menerima bahwa


museum yang paling profesional lebih menghargai penyajian dan
pelestarian koleksi mereka diatas segala manfaat arsitektural
pencahayaan alami yang melimpah pada area koleksi. Terlalu
banyak cahaya dan panjang gelombang tertentu mampu
menyebabkan kerusakan yang nyata pada koleksi-koleksi yang tidak
dapat tergantikan.

K. Persyaratan Elemen Pendukung Museum Lainnya


a. Temperatur dan Kelembapan

Kondisi tempat yang terlalu kering atau terlalu lembab dapat


berpengaruh buruk dan merusak benda koleksi. Oleh karena itu,
beberapa benda koleksi harus diperhitungkan dan dijaga
kelembabannya, bahkan perlu juga diperhitungkan intensitas panas
yang ditimbulkan dari pencahayaan buatan (lighting). Suhu dan
kelembaban yang optimum tidak hanya diterapkan pada ruang pamer

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 23


saja, melainkan juga pada ruang Storage (penyimpanan koleksi) dan
ruang konservasi ( New Metric Hand Book, Museum and Galleries ).

b. Penghawaan

Museum yang baik sebaiknya tetap menerapkan penghawaan


alami. Perwujudannya bias melalui perletakkan jendela yang tinggi
pada satu sisi dan rendah pada sisi lainnya (Cross Ventilation).
Sedangkan untuk tujuan pemeliharaan objek benda pameran,
sebaiknya menggunakan AC karena dapat mengatur temperature dan
kelembaban yang diinginkan. Hal ini tentunya tergantung oleh bahan
objek pameran tersebut, apakah peka terhadap kelembaban atau tidak
( Smita J. Baxi Vinod p. Dwivedi, modern museum, Organization
and partice in india, New Delhi, Abinar publications, hal 34.)

c. Akustik

Akustik bervariasi pada setiap museum. Akustik pada tiap ruang


haruslah nyaman bagi perorangan maupun kelompok. Sangat penting
bagi pembimbing tur agar dapat didengar oleh kelompoknya tanpa
menggangu pengunjung lainnya. Beberpa ruangan untuk fungsi
tertentu seperti ruang pertemuan, orientasi, auditorium (atau teater)
harus dirancang oleh ahlinya.
Ruang lainnya, seperti area sirkulasi utama dan ruang pameran
memerlukan penataan akustik tertentu untuk mencegahnyamenjadi
telalu “hidup“ sehingga merusak pengalaman yang ingin diciptakan
museum.

d. Keamanan

Operasi museum harus dibuat aman seluruhnya, bukan hanya oleh


sistem para penjaga aktif dan sistem elektronik, tetapi juga oleh
rancangan dan tata letak yang sesuai. Semua aspek dari museum
harus di rancang untuk menjaga keamanan koleksi. Koleksi harus
dilindungi dari kerusakan, pencurian, dan penyalahgunaan. Ini
berlaku bagi pengunjung, staf penanganan, dan staf keamanan.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 24


Museum hanya boleh memiliki satu pintu masuk umum dan
biasanya pintu masuk staf yang terpisah (meskipun hal ini tergantung
pada ukuran museum). Prioritasnya adalah koleksi keamanan, yang
berbeda dari standar keamanan gedung-gedung pada umumnya.
Lima zona keamanan yang harus dipikirkan:

 Zona 1 : Keamanan Tertinggi Penyimpanan Koleksi


 Zona 2 : Keamanan Tinggi Koleksi tanpa akses publik
 Zona 3 : Keamanan Tinggi Koleksi dengan akses publik
 Zona 4 : Aman Tanpa koleksi /akses publik
 Zona 5 : Aman Akses publik tanpa koleksi

Rancangan arsitektur harus menyediakan sebuah organisasi yang


mengabungkan zona-zona keamanan ini dan operasi yang efisien.
Berbagai aspek dari desain bangunan dan konstruksi juga terlibat
dalam memuaskan kebutuhan keamanan. Ini termasuk desain
HVAC, pintu, dan perangkat keras, konstruksi dinding, dan
konstruksi atap dan skylight.

e. Fire Protection

Pelestarian dan pengelolaan koleksi museum dari bahaya api


memerlukan sistem deteksi kebakaran dan sistem penekanan yang
memanfaatkan alat deteksi peringatan dini untuk perlindungan
yang maksimal. Perlindungan dan pelestarian tersebut sangat
penting untuk misi museum.
Sistem ini harus diintegrasikan dengan sistem keamanan untuk
melaporan alarm serta kondisi yang dapat menyebabkan alarm pada
waktunya untuk tindakan korektif oleh staf terlatih. Perlindungan
paling efektif adalah proteksi kebakaran otomatis
(sprinkler) di seluruh sistem. Namun, banyak profesional
museum yang tidak menggunakan sistem seperti itu, karena takut
kerusakan akibat air yang disebabkan oleh mesin digerakkan,
kebocoran, dan alarm palsu.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 25


2.1.2.8. Tinjauan Pameran Museum
Pengertian pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa
untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat
luas.Pameran diMuseum terdiri dari beberapa jenis, yaitu:

A. Pameran Permanen (Tetap)


Diadakan di ruang pameran utama museum dan berlangsung lama,
baru kemudian dapat diadakan perubahan dan renovasi, pameran yang
diselenggarakan dalam jangka waktu sekurang-kurangnya 5 tahun.
B. Pameran Temporer
Pameran yang diselenggarakan dalam jangka waktu tertentu dan
dalam variasi waktu yang singkat dari satu minggu sampai satu tahun
dengan meng ambil tema khusus mengenai aspekaspek tertentu dalam
sejarah, alam dan budaya. Pameran temporer merupakan penunjang
pemeran tetap yang ada di museum untuk mengundang lebih banyak
pengunjung.
C. Pameran Khusus
Pameran yang diselenggarakan secara khusus pada saat-saat
tertentu, misalnya untuk memperingati peristiwa atau tokoh - tokoh
penting.
D. Pameran Keliling
Pameran yang diselenggarakan diluar museum pemilik koleksi,
dalam jangka waktu tertentu, dalam variasi waktu yang singkat
dengan tema khusus dengan jenis koleksi yang dimiliki oleh museum
tersebut dipamerkan/dikelilingkan dari satu tempat ketempat yang
lain.

2.1.3. Aksesibilitas Difabel


Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi semua orang
termasuk penyandang disabilitas dan lansia guna mewujudkan kesamaan
kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Standar
aksesibilitas bangunan gedung, fasilitas dan lingkungan termasuk detil
ukuran dan penerapannya diatur melalui Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum (Permen PU) Nomor 60 Tahun 2006.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 26


2.1.3.1. Asas Fasilitas dan Aksesibilitas
 Keselamatan, yaitu setiap bangunan yang bersifat umum dalam suatu
lingkungan terbangun, harus memperhatikan keselamatan bagi semua
orang.
 Kemudahan, yaitu setiap orang dapat mencapai semua tempat atau
bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.
 Kegunaan, yaitu setiap orang harus dapat mempergunakan semua
tempat atau bangunan yang bersifat umum dalam suatu lingkungan.
 Kemandirian, yaitu setiap orang harus bisa mencapai, masuk dan
mempergunakan semua tempat atau bangunan yang bersifat umum
dalam suatu lingkungan dengan tanpa membutuhkan bantuan orang
lain.

2.1.3.2. Persyaratan Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas


A. Ukuran Dasar Ruang
Ukuran dasar ruang tiga dimensi (panjang, lebar, tinggi) mengacu
kepada ukuran tubuh manusia dewasa, peralatan yang digunakan, dan
ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi pergerakan penggunanya.

Gambar 2. 9 Ruang Gerak Bagi Pemakai "Kruk"


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 27


Gambar 2. 10 Ukuran Kursi Roda Rumah Sakit
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

B. Jalur Pedestrian
Jalur yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda bagi
penyandang cacat secara mandiri yang dirancang berdasarkan
kebutuhan orang untuk bergerak aman, mudah, nyaman dan tanpa
hambatan.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 28


Gambar 2. 11 Prinsip Perencanaan Jalur Pedestrian
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

C. Jalur Pemadu
Jalur yang memandu penyandang cacat untuk berjalan dengan
memanfaatkan tekstur ubin pengarah dan ubin peringatan.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 29


Gambar 2. 12 Prinsip Perencanaan Jalur Pemandu
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

D. Ram
Ram adalah jalur sirkulasi yang memiliki bidang dengan
kemiringan tertentu, sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat
menggunakan tangga.

Gambar 2. 13 Tipikal RAM

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 30


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Gambar 2. 14 Kemiringan RAM


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Gambar 2. 15 Handrail
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 31


Gambar 2. 16 Bentuk RAM yang Direkomendasikan
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

E. Tangga
Tangga adalah fasilitas bagi pergerakan vertikal yang dirancang
dengan mempertimbangkan ukuran dan kemiringan pijakan dan
tanjakan dengan lebar yang memadai.

Gambar 2. 17 Tipikal Tangga


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Gambar 2. 18 Handrail pada Tangga


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 32


F. Toilet
Toilet yaitu fasilitas sanitasi yang aksesibel untuk semua orang,
termasuk penyandang disabilitas dan lansia pada bangunan atau
fasilitas umum lainnya.

Gambar 2. 19Analisa Ruang Gerak Pada Ruang Toilet


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Gambar 2. 20 Tinggi Perletakan Closet


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 33


Gambar 2. 21Ruang Gerak Dalam Kloset
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

Gambar 2. 22Kran Wudhu Bagi Penyandang Cacat


Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

G. Wastafel
Wastafel yaitu fasilitas cuci tangan, cuci muka, berkumur atau
gosok gigi yang bisa digunakan untuk semua orang.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 34


Gambar 2. 23Ruang Bebas Area Wastafel
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum

2.1.4. Budaya Sunda


2.1.4.1. Alur Sejarah Sunda
Setiap budaya memiliki alur sejarah masing masing, suatu
kebudayaan dapat terus bertambah dan berkembang pada kehidupan
manusia. Namun budaya juga dapat punah pada kehidupan manusia
seiring berjalannya waktu dan tidak adanya kesadaran masyarakat untuk
mempertahankan kebudayaan tersebut. Salah satu faktor terbesar
punahnya kebudayaan adalah pengaruh kebudayan luar yang lebih
disukai masyarakat daripada kebudayaan lokal yang dimiliki.

Menurut Koentjaraningrat (2002:37) suku bangsa Sunda adalah


orang-orang yang secara turun temurun menggunakan bahasa ibu
bahasa Sunda serta dialeknya dalam kehidupan sehari-hari dan berasal
serta bertempat tinggal di daerah Jawab Barat atau Tatar Sunda atau
Tanah PaSundan. Menurut Rouffaer (1905:16) menyatakan bahwa kata
Sunda berasal dari akar kata ‘sund’ atau kata ‘suddha’ dalam bahasa
Sansekerta yanng mempunyai pengertian bersih, terang, putih
(Williams, 1872:1128,Eringa, 1949:289). Budaya Sunda sudah
terbentuk beratus-ratus tahun yang lalu, dimulai dari masa prasejarah
hingga zaman modern saat ini. Budaya Sunda berkembang di daerah
Jawa Barat, dengan kota Bandung yang menjadi pusat budaya Sunda
dibandingkan kota-kota lain. Fakta yang menunjukan budaya

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 35


Sundabertahan beratus tahun dapat terlihat dari masih adanya kesenian,
bahasa, alat musik, batik dan ragam hias Sundayang masih hidup
ditengah tengah masyarakat Sunda khusunya di kota Bandung. Dengan
mengkaji alur budaya Sunda kita dapat memahami bagaimana budaya
Sunda masih hidup ditengah tengah masyarakat modern, sehingga
budaya Sunda dapat terus bertahan dan berkembang hingga generasi
selanjutnya.

A. Masa Pra Sejarah

Berdasarkan data dan penelitian arkeologis, masyarakat Sunda


telah menghuni Tanah Sunda secara sosial sejak lama sebelum Tarikh
Masehi. Bukti dan informasi bahwa terdapat kehidupan masyarakat
Sunda dapat ditemui pada lokasi situs purbakala di Ciampe’a (Bogor),
Klapa Dua (Jakarta), dataran tinggi Bandung dan Cangkuang (Garut).
Kelompok masyarakat memiliki sistem kepercayaan, organisasi sosial,
sistem mata pencaharian, pola pemukiman.Temuan arkeologi yang
berlokasi di Anyer menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan
besi sejak sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah
zaman Buni (Bekasi kuno) dapat ditemukan merentang dari Anyer
sampai Cirebon.

Gambar 2. 24Masyarakat asli suku Sunda


Sumber : http://edwin.ilearning.me/wp-content/uploads/sites/332/2013/04/Sunda4.jpg

B. Masa Sejarah

Zaman sejarah Sunda dimulai dengan adanya batu bertulis di


sungai Ciaeuruten, Bogor yang menyatakan adanya suatu kerajaan hidu
bernama Tarumanegara pada abad ke-5. Prasasti peninggalan kerajaan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 36


Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat, terdapat tujuh prasasti
yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa
India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para
raja Tarumanagara. Prasasti-prasasti tersebut ditemukan di daerah
Bogor, Bekasi dan Pandeglang yang dibuat pada zaman Kerajaan
Tarumanagara dengan salah seorang rajanya bernama Purnawarman.

C. Masa Kolonial

Periode selanjutnya, sejak abad ke-17 sejarah Sunda mengalami


babak baru, sebab mulai masuknya kekuasaan Kompeni Belanda dari
arah pesisir utara Jayakarta (Batavia) sejak 1610 dan dari arah
pedalaman sebelah timur masuk melalui kekuasaan Mataram sejak
1625. Sejak abad ke-19, secara perlahan-lahan tapi pasti seluruh Tanah
Sunda jatuh ke genggaman kekuasaan Belanda, dari sanalah dimulai
zaman kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Pada masa ini masyarakat
dan Tanah Sunda dieksploitasi oleh kaum kolonial, mula-mula dengan
menggunakan cara penyerahan wajib hasil bumi tanaman ekspor berupa
lada, nila, kopi dan kerja paksa yang dikenal dengan sebutan Sistem
Priangan (Preanger Stelsel).

D. Masa Kemerdekaan

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari


Republik Indonesia. Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah suku
Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Perkembangan
sejarah menunjukan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi
yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (Staatblad Nomer : 378).
Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No. 11 Tahun 1950,
tentang pembentukan Provinsi Jawa Barat. Pemerintahan Provinsi Jawa
Barat dipimpin oleh seorang gubernur hingga saat ini. Secara
administratif sejak tahun 2008, kabupaten dan kota di Provinsi Jawa
Barat berjumlah 26 kabupaten/kota terdiri atas 17 kabupaten dan 9 kota
dengan 625 kecamatan dan 5.877 desa/kelurahan. Tatanan kehidupan
lebih mengedepankan keharmonisan seperti tergambar pada pepatah; "

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 37


Herang Caina Beunang Laukna" yang berarti penyelesaian masalah
tanpa menimbulkan masalah baru atau prinsip saling menguntungkan.
Kekayaan warisan budaya dan nilai-nilai luhur tradisional Sunda tetap
dipertahankan masyarakat Jawa Barat dalam tatanan kehidupan.

Gambar 2. 25 Logo Provinsi Jawa Barat


Sumber:http http://www1.jabarprov.go.id/index.php/pages/id/1093

2.1.4.2. Wujud Budaya Sunda


Kebudayaan Sunda dikenal sangat kaya yang hidup dan berkembang
di Provinsi Jawa Barat dan menjadi ciri khas dan indentitas Provinsi Jawa
Barat hingga saat ini. Menurut Koentjonroningrat, seorang pakar
Antropologi, kebudayaan adalah seluruh kelakuan dan hasil dari
kelakuan manusia yang teratur, yang didapatkan dengan belajar, dan
semuanya tersusun dalam kehidupan manusia. Perwujudan kebudayaan
dapat berupa:

A. Ide dan Gagasan


Merupakan wujud kebudayaan dari perilaku manusia yang tidak
dapat diperagakan, sebab terdapat dalam suatu pemikiran masing
masing orang. Jika pemikiran tersebut dituangkan dalam bentuk
berupa tulisan, maka ide atau gagasan tersebut dituangkan dala,
bentuk literatur. Jika pemikiran tersebut dituangkan dalam bentuk
lisan, wujud dari kebudayaan tersebut merupakan diskusi/ ceramah.
Contoh wujud budaya ide dan gagasan adalah berupa larangan-
larangan. Bagi masyarakat Suku Sunda, orangtua sering memberikan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 38


nasihat berupa larangan - larangan kepada anaknya, tujuannya agar
mereka tidak sembarangan melakukan kesalahan atau melanggar
sesuatu hal yang dilarang. Hal ini mereka anggap efektif karena
anak-anak akan patuh apabila diceritakan sesuatu yang membuat
mereka takut. Bentuk larangan tersebut berupa perkataan salah satu
contohnya seperti : “Tidak boleh melangkahi padi, akibatnya
mendapat penyakit yang disebabkan oleh setan”. (Maryati
Sastrawijaya, 1985:6-7).

B. Aktivitas dan Tindakan


Wujud kebudayaan sebagai suatu bentuk aktivitas serta pola yang
berasal dari manusia dan masyarakat dalam aspek material yang
dapat diperagakan. Dalam hal ini aktivitas kebudayaan merupakan
proses yang dapat diwujudkan dalam bentuk pertunjukan
kebudayaan, atau perilaku hidup sehari-hari.
Sebagai contoh aktivitas dan tindakan dalam wujud budaya Sunda
ialah bahasa Sunda. Menurut Ayip Rosidi, dalam Kongres Bahasa
Sunda tahun 1926 diputuskan bahasa Sunda dialek Bandung sebagai
bahasa Sunda umum. Tetapi apabila diteliti bahasa Sunda umum
tersebut bukanlah bahasa Sunda dialek Bandung melainkan bahasa
yang dikembangkan dari bahasa tulisan para ahli dan guru besar,
seperti: D.K.Ardiwinata, R.Suriadiraja dan lainlain.“undak-usuk
basa yang terbagi dalam tingkat-tingkat: kasar pisan (sangat kasar),
kasar (kasar), sedeng (sedang), lemes (halus), dan lemes pisan
(sangat halus) itu, merupakan usaha feodalisasi masyarakat Sunda
setelah Tanah PaSundan di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram
(Rosidi, 1984: 137-139)

C. Artefak dan Karya Seni


Sebagai wujud kebudayaan berupa benda hasil karya manusia
yang dapat diperagakan dalam bentuk pameran hasil budaya. Benda
tersebut dapat berupa hasil karya kesenian maupun dari sisi
arsitektur tradisional Sunda.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 39


Ragam hias Sunda sebagai salah satu contoh artefak dari wujud
kebudayaan Sunda yaitu Ragam Hias Pajajaran.Suku Sunda
memiliki peninggalan berupa ukiran dengan motif Pajajaran. Motif
ini berasal dari kerajaan Pajajaran, kerajaan Sunda tertua. Menurut
Muhammad Azrorry (20112) peninggalan yang masih sampai
sekarang banyak terdapat di Makam Sunan Gunung Jati. Dalam
ragam hias ini kelihatan bentuk-bentuk yang bulat karena semua
bentuk ukiran di ekspresikan bulatan atau cembung.

Gambar 2. 26 Motif Pajajaran


Sumber : http://bloggazrorry.blogspot.co.id

2.1.5. Museum di Bandung


DiBandungterdapat beberapamuseum diantaranya,Museum
Geologiyang terdapatberbagaikoleksigeologidanpertambangan
terlengkap di Indonesia.MuseumPosIndonesiayang mengoleksi
sejumlahbendayang memiliki nilaisejarahdalam perjalanan perusahaan
Pos Indonesia. MuseumKonferensi Asia Afrika yaitu museum yang
mengkoleksi foto–foto dan benda–benda tiga dimensiyang
berhubungandengankonferensiAsiaAfrika1955. MuseumMandala
Wangsitmempunyaibendakoleksiyangbernilai sejarahdari
kurunwaktuantaramasa perjuangankemerdekaan, masa perang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 40


kemerdekaan, dan masaselanjutnyayang berhubungandengan
perjuanganDivisi Siliwangi danRakyatJawa
Baratpadaumumnya.MuseumSriBaduga adalahmuseumumum yang
mengoleksibenda–bendabersejarahyang ada diJawaBarat
danperkembangankehidupanmasyarakatJawa Barat.

2.1.5.1. Museum Sri Baduga


JawaBaratmerupakanwilayahyang sebagianbesar ditinggali oleh
masyarakatSunda.Olehsebabitusering disebut TanahPasundan atau
TatarSunda.Dalamperjalanansejarah danlingkupgeografi
budaya,wilayahJawaBaratsecaraumumberada padalingkungan
kebudayaanSunda dansebagaikebudayaan daerahyang
menunjangpembangunankebudayaanNasional.
Peninggalan budaya yang bernilai tinggi banyak tersebar
dikawasan Jawa Barat, baik yang hampir punah maupun yang
masihberkembang hinggakini.PerkembanganbudayaJawaBarat
berlangsung sepanjang masasesuaidenganpasang surut
kehidupan.Dalamgaris perkembangannyatidaksedikit pengaruh luar yang
masuk. Hal ini disebabkan wilayah Jawa Barat pada
posisiyangstrategisdariberbagaiaspekmobilitaspendudukyang cukup
tinggi. Pengaruh budaya luar cenderung mempercepat proseskepunahan
budayaasli JawaBarat. kehawatiranterhadap ancamanerosi budaya
diJawaBarat,maka pemerintahmengambil
kebijakanuntukmendirikanMuseumSri Baduga di Jawa Barat.
Pembangunangedung museumdirintissejaktahun1947 dengan
mengambil model bangunantradisional JawaBarat,berbentuk
bangunansuhunanpanjang danrumahpanggungyangdipadukan
dengangayaarsitekturmodern.Gedungdibangun diatas tanah yang dahulu
merupakan areal kantor Kewedanaan Tegallega seluas
8.415,5m.Bangunan bekaskantor Kewedanaantetap dipertahankan,
sebagaibangunancagarbudayadan difungsikan sebagaisalahsaturuang
perkantoran.Gedung museuminiterletak di jalanB.K.R
no.185bandung.Pembangunantahappertama
selesaipadatahun1980diresmikanpadatanggal5Juni1980 oleh

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 41


MentriPendidikan danKebudayaanDr.Daoed Yoesoef. Sepuluh
tahunkemudianterdapatpenambahannamabagi MuseumNegri
PropinsiJawaBaratyaitu“SriBaduga”, diambildarigelarseorang
rajaPajajaranyang memerintah padatahun1482-1521Masehi. Dengan
demikian nama lengkap Museumwaktu itu adalah Museum Negeri
PropinsiJawaBarat“Sri Baduga”. Sri Badugamemiliki beberapa
fasilitasseperti auditorium,perpustakaan,sertaruang seminar danpameran.

A. Klasifikasi Koleksi Museum


HinggasaatiniBalai PengelolaMuseumSriBadugatelah berhasil
mengumpulkan6704buah,235set, 23stel, 11pasang koleksi. Koleksi
tersebut dipilah-pilah menjadi 10klasifikasi dengankode01 sampai
dengan10.

Kode NamaKlasifikasi KriteriaKlasifikasi


01 Geologika/geograf Koleksi dari disiplin ilmu geologi:
ika Meliputi batuan,mineral, fosil, dan benda
bentukanalam lainnya (granit, andesit).

02 Biologika Koleksi yang menjadi objek


Penelitian/ dipelajari oleh disiplin ilmu
biologi, diantaranyatengkorak atau rangka
manusia, tumbuhan,
danhewan,baikposilataubukan.

03 Etnografi Koleksi dari objek penelitian


Antropologi.Merupakanbenda hasil
budayaatau menggambarkan identitas suatu
04 Arkeologika Kkoleksi hasiletnis.
budaya manusia
Masalampauyang menjadikajian
ilmuarkeologi, merupakan peninggalan
budaya dari kurun waktuprasejarahsampai
dengan masuknya pengaruhbarat.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 42


05 Historika Koleksi yangmemilikinilai sejarah dan
menjadi objek penelitian ilmu
sejarah.Meliputi kurunwaktusejak
masuknyapengaruh barat sampai sekarang
(sejarahbaru).Pernah digunakanuntuk
halyang berhubungandengan suatu
peristiwa (sejarah),berkaitan dengansuatu
organisasi masyarakat (misalnya: negara,
kelompok, tokoh, danlain sebagainya).
06 Numisamatika / Koleksi mata uang atau alat tukar
heraldika (token)yang sah. Sedangkan heraldika
adalahtanda jasa lambang,dantanda
pangkatremi (termasukcap/stampel).
07 Filologika Koleksi yang menjadi objek
Penelitianilmufilologi, berupa naskah kuno
yang ditulis tangan, menguraikansuatu
halatau peristiwa.
08 Keramologika Koleksiyangdibuatdaritanah liat
yangdibakar(backedclay)berupa barang
pecahbelah.

09 Seni rupa Koleksiyang mengekspresikan


pengalamanartistikmanusia melalui objek-
objek duaatautiga dimensi.
10 Teknologika Koleksi yang menggambarkan
Perkembanganteknologitradisional
sampaimodern.

Tabel 2.1 Klasifikasi koleksi di Museum Umum


(sumber: Ditmus, 1990)

B. Data Koleksi Museum Sri Baduga

(Terlampir)

2.2. Analisa Study Banding


2.2.1. Museum Ullen Sentalu yogyakarta
2.2.1.1. Profil Museum Ullen Sentalu
A. Profil Museum Ullen Sentalu

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 43


a. Definisi

Museum Ullen Sentalu memilikiarea seluas 1,2 hektar yang


dikembangkan secara bertahap tersebut bernama nDalem Kaswargan
atau Rumah Surga, dimana Museum Ullen Sentalu berada. Jalan
masuk menuju ruang pamer museum maupun artshop dan restoran
berupa kelokan, undakan, serta labirin akan memberikan nuansa
nostalgia, perenungan dan keindahan. Beberapa bagian bangunan dan
unsur yang melengkapinya, seperti gapura, dinding tembok, taman,
kolam, mencerminkan keagungan budaya leluhur yang sudah ada
sejak masa silam. Berbagai jenis unsur bangunan Jawa terlihat pada
layout dan struktur bangunan bergaya Indis dan post-mo yang bersatu-
padu menciptakan harmoni secara menakjubkan. Koleksi berupa
lukisan dan foto foto tokoh sejarah budaya Mataram Islam, kain batik
vorstenlanden, karya sastra, arca arca kebudayaan Hindu Buddha, dan
koleksi etnografi era Mataram Islam. Itu membingkai kisah sosial
ekonomi politik seni sejarah dan budaya Jawa, terutama kisah para
putri di kraton Mataram yang tidak banyak dikisahkan kepada
masyarakat awam.

b. Lokasi

Lokasi Museum Ullen Sentalu terletak di Kota Yogyakarta


tepatnya di Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Sleman,
Yogyakarta.

c. Sejarah

Seribu enam ratus atau bahkan lebih dari dua ribu tahun. Selama
itulah rentang waktu yang telah membentuk budaya Jawa yang eksis
dan kita kenal hingga sekarang. Evolusinya melalui berbagai zaman :
Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak,
Pajang, juga Mataram beserta empat cabang sempalannya, yakni
Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 44


Hasil proses peradaban berusia panjang itu pun tak kurang
jumlahnya yang bermutu sangat tinggi. Sebut saja dalam hal ini kitab
kitab kuno yang berisikan mitologi, epos, sejarah, ketatanegaraan,
pengetahuan dan petuah-petuah berfaedah, hingga ramalan :
Bharatayudha, Negarakertagama, Pararaton, Babad Tanah Jawi, Serat
Centhini, Serat Wedhatama,dan Serat Kalathida. Di samping itu ada
pula sejumlah adikarya berupa bangunan bangunan berarsitektur
megah serta kaya ornamen elok: Candi Borobudur, Percandian
Prambanan, Candi Sewu, Candi Penataran, Pasareyan Raja-raja
Mataram di Imogiri, juga Istana Air Taman Sari. Patut disyukuri
bahwa banyak dari warisan budaya yang bersifat tangible (bendawi)
tersebut sejauh ini terkonservasi dengan cukup baik.

Namun, selain warisan budaya yang bersifat tangible ada pula


warisan budaya yang bersifat intangible. Warisan budaya intangible
mencakup keseluruhan ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek,
dan ketrampilan. Datangnya era globalisasi yang tak terelakkan serta
banjir budaya pop yang dibawanya mendatangkan ancaman bagi
warisan budaya Jawa yang bersifat intangible. Menjadi pudar dan
terabaikan adalah awalnya. Selanjutnya, jika tiada perhatian serta
tindakan nyata, bukan tak mungkin itu akan memusnahkan warisan
budaya intangible, membuatnya terlupakan sama sekali.

Keprihatinan atas hal semacam itu, berpadu dengan pemikiran


bahwa kebanggaan dan martabat suatu bangsa, termasuk kebanggaan
atas segenap hasil proses peradaban dan budayanya, tidaklah dapat
dipisahkan dengan adanya kehendak kuat untuk menjaga
kesinambungannya, lantas memantik inspirasi para pendiri Museum
Ullen Sentalu. Mereka lantas bertekad untuk mampu menjelmakan
warisan budaya intangible dalam wujud karya karya seni. Harapannya,
itu akan mampu menjadi jendela peradaban seni dan budaya Jawa,

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 45


sekaligus jembatan komunikasi bagi generasi masa kini.

Gambar 2. 27 Museum Ullen Sentalu Yogyakarta


Sumber : https://ullensentalu.com/konten/10/0/tentang-kami#d=sekilas-pandang

d. Visi dan Misi

Museum Ullen Sentalu didirikan oleh keluarga Haryono yang


mewarisi kebudayaan Jawa secara turun-temurun dari keluarga dan
lingkungan tempat tinggalnya. Museum Ullen Sentalu, sesuai dengan
makna semantiknya memiliki makna nyala blencong yang menerangi.
Museum Ullen Sentalu merupakan sebuah konsep dari misi
pelestarian nilai dan martabat budaya Jawa. Merupakan suatu
komunikator dari suatu kekayaan warisan tangible dan khususnya
intangible, sehingga terjadi pertemuan antara pewaris dan warisan
budaya.

Visi

Museum merupakan 'dreamspace' yang mampu mengakomodasi


kenangan, emosi, perasaan, khayal dan menghubungkannya dengan
faktor sejarah kemudian menuangkannya dalam sebuah lukisan yang
merupakan diorama dwimatra dalam sebuah eksibisi. Lukisan, telah
terbukti, merupakan medium yang lebih efektif untuk menghidupkan
memori, karena diatas canvas dapat dituangkan semua daya kognitif
yang dimiliki manusia, baik daya ingat, daya khayal, daya interpretasi,

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 46


daya cipta dan lainnya. Sebagaimana dikatakan oleh Eco (2009 : 40)
lewat Tamasya dalam Hiperrealitas bahwa otensitas yang ditawarkan
bukan historical lagi tapi visual. Segala sesuatunya tampak nyata,
karena ia nyata, seperti halnya Alice in Wonderland yang tidak pernah
ada, tapi tampak begitu nyata. Jadi yang terpenting dalam Museum
Baru bukan sekedar keesotikan benda yang dipamerkan, sebagaimana
yang terjadi pada era wunderkammer dan cabinet of curiosity, tapi
makna yang terkandung didalamnya dan bukan sekedar makna yang
dijabarkan seperti pada periode object oriented tapi makna yang
bermanfaat bagi masyarakat pada people oriented. Dalam
perkembangan terakhir, bukan lagi sekedar manfaat yang harus dibaca
ulang berdasarkan artefaktual tapi manfaat yang disajikan secara
thematic dan informatif yang bersifat menghibur dan mendidik serta
memberi kenyamanan dan kemudahan dalam mendapatkannya.

Museum seni dan budaya Jawa Ullen Sentalu yang terletak di


Kaliurang, Yogyakarta telah membuktikannya, bahwa penerapan
Museologi Baru berdasarkan informasi jauh lebih dibutuhkan oleh
masyarakat sekarang dibandingkan masa-masa sebelumnya. Pendapat
senada yang mendukung kenyataan ini dikemukakan oleh para
musolog dalam Corsane (2005: 41 - 48):

 Museums had begun to realize that they must present ideas


amd not just collection (Anonim dalam Corsane 41)
 Rationale for new museology was social subjects and
concerns replaced objects as its focus (Stevenson, 1987,
Weil, 1990 dalam Corsane: 43)
 Museums fundamentally (and finally) are to be about ideas
and not objects (Weil, 1990 dalam Corsane 48).

Demikian pula yang dikemukakan oleh Hooper – Greenhill (2000:


152): The great collecting phase of museum is over…the post-

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 47


museum will be equally interested in intangible heritage. Where the
tangible material objects of a cultural group have largely been
destroyed, it is the memories, songs and cultural traditions that
embody that culture’s past and future

Misi

Bentuk museum berbasis pada intangible heritage dan berorientasi


pada informasi seperti itulah yang dimaksudkan Hooper – Greenhill
(2000) sebagai post – museum dan oleh Magetsari (2009)
diidentifikasikan sebagai critical museology. Mungkin masih
membutuhkan satu atau dua periode lagi hingga nantinya bukan lagi
sekedar informasi biasa yang dibutuhkan oleh masyarakat tapi
information super-highway yang bisa diakses kapan saja lewat portal
museum virtual. Bila hal itu terjadi, bukan berarti tidak ada lagi
pengunjung museum fisik, karena kunjungan seperti itu akan tetap ada
bahkan akan sama besarnya dengan pengunjung museum maya,
karena kemajuan tehnologi tidak hanya merambah bidang komunikasi
tapi juga transportasi, sehingga bepergian kemanapun akan sama
cepatnya dan nyaman seperti pesiar ke dunia maya.

e. Fasilitas
Pengelola museum melengkapi fasilitas bagipengunjung musuem
dengan seorang pemandu yang cerdas dan santun dalam bertutur kata.
Ullen Sentalu menyediakan pemandu yang fasih berbahasa Inggris,
Jepang, dan Perancis.
Di sekitas lokasi terdapat restoran Beukenhof bagi pengunjung
yang ingin menyantap masakan dengan suasana Eropa dan nuansa
istana. Selain itum terdapat Putri Malu Souvenir Shop sebagai tempat
wisatawan membeli buah tangan berupa paernik - -pernik hasil
kerajinan lokal maupun kain – kain batik gaya Jogja dan Solo.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 48


Fasilitas umum lainnya disediakan museum ini di anteranya berupa
toilet, taman, Djagat Academic Modern Art Galery sebagai ruang
pameran para artis (pelukis atau perupa) muda, dan mushola.

2.2.1.2. Sirkulasi dan Aktivitas Museum Ullen Sentalu


A. Sirkulasi

Pada Museum Ullen Sentalu menggunakan 1 pintu untuk masuk


dan menggunakan pintu keluar yang berbeda.

B. Aktivitas

Ruang lingkup kegiatan Museum Ullen Sentalu


yaitu,melaksanakan pameran, melaksanakan preservasi (konservasi,
restorasi), akuisisi dan dokumentasi , seminar, diskusi, performance
art, , festival, lomba, dan lain-lain yang berkenan dengan peningkatan
pemahaman, keterampilan dan apresiasi seni rupa.

2.2.1.3. Elemen Pembentuk Ruang


A. Ceiling

Pada ceiling dari museum Ullen Sentalu langsung mengekspose


rangka dari bangungan itu sendiri terlihat jelas balok – balok
penopang dari dak untuk atap yang di finishing sesuai dengan
materialnya, seperti kayu menggunakan finishinr natural sedangkan
yan menggunakan batuan mengekspose

Gambar 2. 28Ceiling ekspose Museum Geologi

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 49


B. Flooring

Museum Ullen Sentalumenggunakan berbagai macam jenis floring


dari terakota,kayu,batuan dan ekpose concreta yang membedakan tiap
ruangnya.

Gambar 2. 29Flooring Marmer

C. Wall

Dinding pada Museum Ullen Sentalu tidak terlalu banyak di olah


karena pada dinding dari museum Ullen Sentalu sebagian besar
mengekspose dari material bata yang di susun dan mendominan pada
museum ini ada beberapa ruang di finishing menggunakan cat dinding
berwarna putih.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 50


Gambar 2. 30Dinding menggukan Partisi untuk menempelkan objek yang di
pamerkan

2.2.1.4. Karakter Ruang


A. Tema

Yoshio Taniguchi, arsitektur MoMA (Museum of Modern Art)


membuktikan bahwa museum sebagai karya seni tertinggi tidak
tampil sebagai rancangan sendiri yang terpisah, tapi menyatu
dengan koleksi museum yang berada didalamnya dalam sebuah
habitat. Itulah yang dilakukan museum Ullen Sentalu yang dirancang
mulai dari ruang tata pamer, struktur ruangan dan lay out bermacam
bangunan, bukan untuk tampil sendiri-sendiri tidak terintegrasi tapi
menyatu dengan koleksi didalamnya sehingga dapat mengingatkan
kembali (mnemonic) memori kolektif sebuah peradaban yang sudah
berlangsung ribuan tahun.

B. Warna

Mataram Kuno yang diwakili dengan bermacam bangunan candi


terbuat dari batu andesit yang tersebar di ‘bhumi mataram’
ditampilkan dalam tata ruang pameran tetap: Guwo Selo Giri (Gua
Batu Gunung) yang terletak tiga meter dibawah permukaan tanah
menyerupai gua masa silam atau bunker bangunan modern dengan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 51


struktur seluruhnya mirip bangunan candi, yaitu terdiri dari batu
andesit yang dibiarkan terbelah tanpa polesan..

C. Material

Unsur arsitektur vernacular yang menyatu dengan alam sekitarnya


muncul secara penuh dengan penggunaan batu andesit yang
ditambang dari area sekitar lokasi museum, kemudian dibangun
dengan tehnologi lokal dan dikerjakan oleh pekerja dari desa
Kaliurang yang ahli dalam membelah batu dan menyusunnya
menjadi bangunan. Kesan menyatu dengan alam disekitarnya dan
kenangan (mnemonic) akan kebesaran mahakarya arsitektur Hindu-
Budha milik dinasti Mataram Kuno dikembangkan lebih jauh
menjadi bangunan yang akan mengingatkan siapapun yang pernah
berkunjung ke permandian Tamansari akan lorong Sumur Gumuling
menuju masjid bawah tanah di Taman Sari yang dibangun oleh
dinasti Mataram Kini. Keluar dari lorong Guwo Selo Giri terhampar
tangga ‘stairway to heaven’ menuju Taman Kaswargan (Heavenly
Hills) dengan struktur punden berundak yang akan mengingatkan
kebudayaan megalitikum yang pernah ada ratusan ribu tahun silam
atau mengingatkan tangga Hastonorenggo di bukit Imogiri, menuju
ke persemayaman raja-raja Mataram Kini.

D. Gaya

Bangunan Museum Ullen Sentalu menggunakan gaya eropa pada


seluruh bangunannya dan mempertahankan bentuk – bentuk material
aslinya.

E. Suasana

Kotagede dengan jalanan sempit menyerupai gang dan dibuat


berkelak-kelok menyerupai struktur labirin Minoan. Pengunjung
yang tidak ditemani oleh educator tour akan mudah tersesat, karena
sesuai namanya labirin yang berfungsi untuk menyesatkan orang tapi

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 52


dalam rancangan museum dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa
keingin-tahuan (curiousity) yang ditumbuh-kembangkan, setelah
curiousity rangkaian tour pertama atas Guwo Selo Giri dibawah
permukaan tanah. Konon menurut legenda yang masih hidup hingga
saat ini, labirin adalah ruang bawah tanah istana Minoan yang
didalamnya dipelihara monster Minotaur berujud kepala banteng
dengan tubuh manusia.. Bentuk labirin di Kampung Kambang,
selain membuat pengunjung curious, dimaksudkan untuk
mengingatkan (mnemonic) akan kampung warga Kalang di
Kotagede. Dimana diantara jalanan di kampung sempit itu terdapat
rumah saudagar yang menyimpan bermacam benda berharga mirip
koleksi dalam sebuah museum..

2.2.1.5. Pengisi Ruang


Furnitur pada Museum Ullen Sentalu menggukanan bahal multiplek
pada umumnya dan di lapisi HPL dan menggunakan kayu solid dan kaca
sebagai storage dari benda benda kecil yang kemungkinan bisa si ambil
oleh pengunjung.

2.2.1.6. Pengkondisian Ruang


A. Pencahayaan
Pencahayaan pada museum Ullen Sentalu menggunakan
pencahayaan buatan hampir di seuma objek yang di pamerkan
menggunakan pencahayaan buatan.
B. Penghawaan

Penghawaan menggunakan ac pada benda – benda koleksi untuk


meminimalisir kerusakan pada benda koleksi karena udara dinginin
dan kelembaban pada udara alami yang ada di museum Ullen Sentalu.
Karena Museum Ullen Sentalu terletak pada daerah dengan daratan
tinggi yang memiliki suhu redah dan kelembaban yang cukup tinggi.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 53


2.2.1.7. Mechanical Electrical
A. Utilitas

Pada museum Ullen Sentalu menggunakan AC split yang di letakkan


pada beberapa sudut untuk mengatur suhu pada benda pamer agar benda
koleksi tidak rusak akibat dingin dan lembab. Sedangan untuk lighting
pada museum ini menggunakan sistem hanging lamp dengan arah cahaya
down light dan menggukan warna warm white.

B. Sound System
Sound system pada museum Ullen Sentalu di bagi beberapa bagian,
untuk speaker keseluruhan di letakan pada beberapa sudut ruang agar
semua pengunjung dapat mendengarkan pemberitahuan maupun musik
yang sedang di putar agar pengunjung merasa nyamas saat mengelilingi
museum.

2.2.2. Museum Sri Baduga


2.2.2.1. Profile Museum Sri Baduga
A. Definisi Museum Sri Baduga

Museum Negeri Sri Baduga yang terletak di ruas Jalan B.K.R.


185 Tegallega dan berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan
Api, dirintis sejak tahun 1974 dengan memanfaatkan lahan dan
bangunan bekas kewedanaan Tegallega. Bangunan Museum
berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas
Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern; adapun
bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang
perkantoran. Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun
1980, diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Dr. Daud Yusuf dan diberi nama Museum Negeri
Propinsi Jawa Barat. Areal museum yang luasnya mencapai 8.415,5
m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area),
mencakup gedung pameran dan auditorium dan wilayah bukan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 54


publik (non public area), mencakup ruang perkantoran Kepala
Museum, Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan
Edukasi, Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok
Kerja Koleksi.

B. Lokasi

Museum Sribaduga bertempat di kota Bandung dengan alamat


lengka Jl. BKR No.185, Bandung, Jawa Barat 40243.

Gambar 2. 31 Lokasi Museum Sri Baduga

C. Sejarah

Museum Negeri Sri Baduga yang terletak di ruas Jalan B.K.R.


185 Tegallega dan berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan
Api, dirintis sejak tahun 1974 dengan memanfaatkan lahan dan
bangunan bekas kewedanaan Tegallega. Bangunan Museum
berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas
Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern; adapun
bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang
perkantoran. Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun
1980, diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Dr. Daud Yusuf dan diberi nama Museum Negeri
Propinsi Jawa Barat. Areal museum yang luasnya mencapai 8.415,5

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 55


m2 dibagi menjadi dua bagian; wilayah publik (public area),
mencakup gedung pameran dan auditorium dan wilayah buka publik
(non public area), mencakup ruang perkantoran Kepala Museum,
Sub Bagian Tata Usaha, Kelompok Kerja Bimbingan dan Edukasi,
Kelompok Kerja Konservasi dan Preparasi serta Kelompok Kerja
Koleksi (termasuk di dalamnya Gedung Penyimpanan Koleksi).

Sepuluh tahun kemudian, nama museum dilengkapi dengan nama


Sri Baduga diambil dari nama raja Sunda yang bertahta di Pakwan
Pajajaran sekitar abad ke-16 Masehi. Nama ini tertuang dalam
prasasti Batutulis (Bogor) secara lengkap tertulis SRI BADUGA
MAHARAJA RATU HAJI I PAKWAN PAJAJARAN SRI RATU
DEWATA. Sebagai Museum umum yang memiliki koleksi dari jenis
koleksi Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika,
Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramik, Seni Rupa dan
Teknologi ini, tercatat tidak kurang sebanyak 5.367 buah koleksi;
terbanyak adalah koleksi rumpun Etnografika yang berhubungan
dengan benda-benda budaya daerah. Jumlah koleksi tersebut tidak
terbatas pada bentuk realia (asli), tapi dilengkapi dengan koleksi
replika, miniatur, foto, dan maket. Benda-benda koleksi tersebut
selain dipamerkan dalam pameran tetap, juga didokumentasikan
dengan sistem komputerisasi dan disimpan di gudang penyimpanan
koleksi.

Untuk lebih meningkatkan daya apresiasi masyarakat terhadap


museum, berbagai kegiatan telah dijalankan, baik yang bersifat
kegiatan mandiri ataupun kerjasama kegiatan yang bersifat lintas
sektoral dengan berbagai instansi pemerintah, swasta, maupun
lembaga asing; diantaranya berupa penyelenggaraan pameran
temporer, pameran keliling, pameran bersama dengan museum dari
berbagai propinsi, berbagai macam lomba untuk tingkat pelajar,
ceramah, seminar, lokakarya, dan sebagainya. Karena perkembangan
peran dan fungsinya sebagai tempat atau wahana dalam menunjang
pendidikan, menambah pengetahuan, dan rekreasi; Museum Negeri

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 56


Sri Baduga Porpinsi Jawa Barat melaksanakan renovasi terhadap tata
pameran tetapnya secara bertahap mulai tahun 1989 sampai dengan
tahun 1992, berikut perluasan ruang pameran baru di lantai tiga.

Selanjutnya penyajian koleksi ditata sedemikian rupa dan


diupayakan agar pengunjung dapat memperoleh gambaran tentang
perjalanan sejarah alam dan budaya Jawa barat, corak dan ragamnya,
serta fase-fase perkembangan serta perubahannya.
Pengelompokannya dibagi menjadi; lantai satu merupakan tampilan
perkembangan awal dari sejarah alam dan budaya Jawa Barat.
Dalam tata pameran ini digambarkan sejarah alam yang
melatarbelakangi sejarah Jawa Barat, antara lain dengan
menampilkan benda-benda peninggalan buatan tangan dari masa
Prasejarah hingga jaman Hindu-Buddha. Selanjutnya di lantai kedua
meliputi materi pameran budaya tradisional berupa pola kehidupan
masyarakat, mata pencaharian hidup, perdagangan, dan transportasi;
pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah perjuangan bangsa,dan
lambang-lambang daerah kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Adapun
lantai tiga, memamerkan koleksi etnografi berupa ragam bentuk dan
fungsi wadah, kesenian, dan keramik asing.

D. Struktur Organisasi

Adapun susunan organisasi dari Museum Geologi sebagai


berikut:

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 57


Gambar 2. 32 Struktur Organisasi Museum Sri Baduga

 Kepala Museum : Memimpin mengkoodinasikan dan


mengendalikan pelaksanaan kegiatan pengetahuan museum.
 Sub Bagian Tata Usaha : Melaksanakan penyusunan rencana
kerja pengelolaan administrasi kepegawaian, keuangan,
perlengkapan, umum dan pelaporan.
 Rumpun Jabatan Fungsional : Adalah pegawai museum yang
diberi tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh
pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan
pembinaan kebudayaan.
 Seksi Perlindungan : Menyusun rencana pelaksanaan
kegiatan pemeliharaan, penyimpanan dan pengamanan koleksi.
 Seksi Pemanfaatan : Melaksanakan penyusunan rencana
peningkatan promosi museum.

E. Fasilitas
b. Auditorium

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 58


Digunakan sebagi ruang audio visual, dan pertunjukan berbagai
kesenian Jawa Barat baik tradisional maupun yang sedang
berkembang sekarang. Selain itu ,pada ruangan ini digunakan pula
sebagai tempat untuk penerimaan rombongan pengunjung yang
datang ke museum untuk mendapatkan informasi pendahuluan
sebelum masuk ke ruang pameran.

Gambar 2. 33 Panggung Terbuka

c. Perpustakaan

Selain mengunjungi ruang pameran museum pengunjung dapat


pula melihat koleksi buku perpustakaan. Perpustakaan dibuka pada
hari Senin Sampai dengan jumat pukul 08.00 - 15.30 WIB.

Gambar 2. 34 Perpustakaan Museum Sri Baduga

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 59


d. Ruang Pameran Khusus

Digunakan sebagai tempat penyelenggaraan kegiata pameran


khusus yang diselenggarakan oleh museum sendiri maupun
disewakan untuk umum,biasanya dari sekolah ataupun pemerintah.

Gambar 2. 35 Ruang Pameran Khusus

e. Ruang Seminar

Digunakan sebagai tempat untuk pelaksanaan kegiatan seminar,


saresehan ceramah dan kegiatan rapat yang diselenggarakan oleh
museum maupun untuk disewakan.

Gambar 2. 36 Ruang Seminar

f. Mushola

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 60


Pada Museum Sribaduga terdapat mushola yang dapet di gunakan
untuk umat muslim yg dapat menampung hingga kurang lebih 35
orang jamaah yang hendak menunaikan ibadah shalat. Mushola ini
terletak di tengah laham museum sribaduga sehingga dapat di akses
oleh semua pengguna museum baik dari pegawai maupun dari
pengunjung museum.

g. Tempat Parkir

Halaman museum yang dapat digunakan sebagai tempat parkir


dengan daya tampung sampai dengan 20 buah bus dan sering
digunakan untuk pertunjukan ataupun latihan anak sekolahan seperti
pencak silat dan biasanya diadakan perlombaan kaulinan zamah
baheula.

Gambar 2. 37 Tempat Parkir

2.2.2.2. Sirkulasi dan Aktivitas di Museum Sri Baduga


A. Sirkulasi

Pada Museum Sribaduga menggunakan 1 pintu masuk dan ada


beberapa pintu keluar untuk mengakses pameran yang berada di luar.

B. Aktivitas

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 61


Ruang lingkup kegiatan Museum Sri Baduga yaitu,melaksanakan
pameran, melaksanakan preservasi (konservasi, restorasi), akuisisi
dan dokumentasi , seminar, diskusi, workshop, festival, lomba, dan
lain-lain yang berkenan dengan peningkatan pemahaman,
keterampilan dan apresiasi seni rupa. Museum Sri baduga juga
memberikan pelayanan riset koleksi dan pemanduan untuk pelajar,
mahasiswa dan masyarakat umum.

2.2.2.3. Element Pembentuk Ruang


A. Ceiling

Ceiling pada museum Sri Baduga menggunakan kayu solid yang


diwarna putih sehingga ruangn terkesan tinggi dan luas.

Gambar 2. 38 Ceiling Putih yang Memberi Kesan Tinggi pada Ruangan

B. Flooring

Museum Sri Baduga menggunakan lantai keramik yang


berukuran besar dan berwarna putih dengan aksen keramik hitam
agar tidak terkesan monoton.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 62


Gambar 2. 39 Keramik besar dan berwana putih flooring yang digunakan oleh
museum Sri Baduga.

C. Wall

Dinding pada museum Sri Baduga tidak terlalu banyak di olah


karena pada dinding dari museum Sri Baduga sebagian besar tertutup
oleh barang yang di pamerkan pada beberapa ruangan menggunakan
partisi untuk menempelkan dari objek yang di pamerkan.

Gambar 2. 40 Dinding yang sebagian besar digunakan untuk memaerkan objek.

2.2.3. Museum Fatahillah


2.2.3.1. Profile Museum Fatahillah
A. Deskripsi Museum Fatahillah

Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah


Jakarta, gedung ini dahulu merupakan Balai Kota Batavia VOC yang
dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur
Jendral Johan van Hoorn. Bangunan itu menyerupai Istana
Dam diAmsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 63


bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan
sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah
yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung
ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Gambar 2. 41 Tampak Depan Gedung Museum Fatahillah

B. Lokasi

Museum fatahillah terletak di Jakarta Barat tepatnya di Jalan


Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300
meter persegi.

Gambar 2. 42 Lokasi Museum Fatahillah

C. Sejarah Museum

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 64


Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana
untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia,
yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry
& Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu
Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya
kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini
dibuka untuk umum pada tahun 1939.

Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum


Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan
Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta
Lama'’ diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI
Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini
menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum


Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini
bukan sekadar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang
berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat
bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak,
orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah
pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat
rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan
informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak
masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif.
Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha
menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari
berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia
dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga
selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga
dapat merangsang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan
meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

D. Sejarah Gedung

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 65


Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun
1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung
balai kota kedua pada tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada
tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah,
gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua
dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk.
Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan
bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang
dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi
yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm).
Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung
dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar
dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan
Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung
stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga menjadi
bentuk yang kita lihat sekarang ini.

Gambar 2. 43 Museum Fatahillah Zaman Dahulu

Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga digunakan


sebagai ‘’Raad van Justitie'’ (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-
1942 setelah aktivitas Balai Kota dipindahkan ke Koningsplein
Zuid (Sekarang Jl. Medan Merdeka No. 8-9, Jakarta Pusat), gedung
ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa
Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan
logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi markas

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 66


Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi
KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan
kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum
Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan


lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein'’. Menurut sebuah lukisan
uang dibuat oleh pegawai VOC ‘'’Johannes Rach”’ yang berasal dari
‘'’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air
mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat
setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan
dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan
penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air
mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu
dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu
terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973
Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan
memberi nama baru yaitu ‘'’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang
panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

Gambar 2. 44 Area Depan Museum Fatahillah

E. Aktivitas

Sejak tahun 2001 sampai dengan 2002 Museum Sejarah Jakarta


menyelenggarakan Program Kesenian Nusantara setiap minggu ke-II
dan ke-IV untuk tahun 2003 Museum Sejarah Jakarta memfokuskan
kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi yang dikaitkan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 67


dengan kegiatan wisata kampung tua setian minggu ke III setiap
bulannya.

Gambar 2. 45 Aktivitas di Museum Fatahillah

Selain itu, sejak tahun 2001 Museum Sejarah Jakarta setiap


tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum
Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional.
Seminar yang telah diselenggarakan antara lain adalah seminar
tentang keberadaan museum ditinjau dari berbagai aspek dan
seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum.

Untuk merekonstruksi sejarah masa lampau khususnya peristiwa


pengadilan atas masyarakat yang dinyatakan bersalah, ditampilkan
teater pengadilan di mana masyarakat dapat berimprovisasi tentang
pelaksanaan pengadilan sekaligus memahami jiwa zaman pada abad
ke-17.

F. Fasilitas
a. Perpustakaan

Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta mempunyai koleksi buku


1200 judul. Bagi para pengunjung dapat memanfaatkan
perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja Museum. Buku-buku
tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai
bahasa diantaranya bahasa Belanda, Melayu, Inggris dan Arab.
Yang tertua adalah Alkitab/Bible tahun 1702.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 68


Gambar 2. 46 Perpustakaan Museum Fatahillah

b. Kantin Museum

Dengan suasana nyaman Taman menawarkan makanan dan


minuman khas betawi yang khas.

Gambar 2. 47 Kantin Museum Fatahillah

c. Souvenir Shop

Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan


para pengunjung yang dapat diperoleh di "souvenir shop" dengan
harga terjangkau.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 69


Gambar 2. 48 Toko Souvenir Museum Fatahillah

d. Cinema Fatahillah

Menampilkan Film-film Dokumenter Zaman Batavia dan Film


Populer Dalam Dan Luar Negeri.

e. Musholla

Museum ini menyediakan musholla dengan perlengkapannya


sehingga pengunjung tidak perlu khawatir kehilangan waktu salat.

Gambar 2. 49 Mushola Museum Fatahillah

f. Ruang Pertemuan dan Pameran

Menyediakan ruangan yang representatif untuk kegiatan


pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan daya tampung
lebih dari 150 orang.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 70


Gambar 2. 50 Ruang Pertemuan dan Pameran Museum Fatahillah

g. Taman Dalam

Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat
dimanfaatkan untuk Gathering, resepsi pernikahan, Pentas Seni.

Gambar 2. 51 Taman Belakang Museum Fatahillah

2.2.4. Tabel Perbandingan


MUSEUM
MUSEUM GELOGI MUSEUM SRI
KASUS FATAHILLAH
BANDUNG BADUGA BANDUNG
JAKARTA
Aktivitas Melaksanakan pameran, melaksanakan pada kesenian yang
pameran, preservasi (konservasi, bernuansa Betawi yang
melaksanakan restorasi), akuisisi dan dikaitkan dengan
preservasi (konservasi, dokumentasi , seminar, kegiatan wisata kampung
restorasi), akuisisi dan diskusi, workshop, tua setian minggu ke III
dokumentasi , seminar, festival, lomba, dan lain- setiap bulannya.
diskusi, performance lain yang berkenan dengan
art, , festival, lomba, peningkatan pemahaman,

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 71


dan lain-lain yang keterampilan dan apresiasi
berkenan dengan seni rupa. Museum Sri
peningkatan baduga juga memberikan
pemahaman, pelayanan riset koleksi dan
keterampilan dan pemanduan untuk pelajar,
apresiasi seni rupa. mahasiswa dan masyarakat
umum.
Fasilitas Pemandu dengan Auditorium, perpustakaan, Perpustakaan, kantin,
berbagai bahasa yg ruang pameran khusus, took souvenir, seinema
dikuasai, restoran, ruang seminar, mushola, Fatahillah, mushola,
souvenir shop, toilet, tempaat parkir. ruang pameran dan
taman, Art Galery, pertemuan, taman dalam.
Mushola.
Organisasi publik, private dan Public, private dan service. publik dan service
Ruang service
Tinggi = 250 Tinggi = 400 Tinggi = 450
Ceilling Beton dan kayu material gypsum dan material kayu ekspose
ekspose. bentuk ceiling tanpa dan menggunakan
adanya down atau up finishing doff.
ceiling.

Dinding Dinding hampir semua Bahan finishing pada Bahan finishing pada
area menggunakan batu dinding adalah cat dinding dinding ialah hanya
bata ekspose di berwarna putih dan adanya menggunakan cat
finishing clear dan panel display sebagai dinding berwarna putih.
beberapa dinding di cat walltreatmentnya.
putih

Setiap ruangnya Secara kesuluruhan Kesuluruhan ruang


Flooring memiliki pola lantai ruangan menggunakan menggunakan lantai
yang berbeda, ada yg lantai dengan material kayu dengan finishing
menggunakan terakota, keramik putih polos doff.
conrete dan beberapa dengan aksen kramik
parquet. hitam.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 72


Tema Tema dengan Tidak menerapkan suatu Tidak menerapkan suatu
penggayaan Eropa. tema khusus. tema khusus.
Furniture & Display yang di Display yang di gunakan Tidak menggunakan
pengisi gunakan pada museum pada museum ini hampir display secara khusus
ruang ini menggunakan semuanya menggunaka pda museum ini.
material yang berbeda material dan finishing yang
setiap object yang di sama dengan penambahan
pamerkan dan tempat duduk di beberapa
menggukanan finishing sisi.
berbeda pula.

Cahaya Cahaya yang Cahaya yang digunakan Cahaya yang digunakan


digunakan menggunakan menggunakan 2
menggunakan pencahayaan buatan. pencahayaan yaitu alami
pencahayaan buatan. Dengan menggunakan dan buatan. Alami
Dengan jenis lampu lampu yang sama pada didapatkan dari pintu
rata-rata menggunakan seluruh ruangan masuk dan dari jendela
lampu CFL downlight menggunakan lampu CFL yang selalu di buka pada
(daylight) dan terdapat downlight (daylight) jam oprasional museum
satu ruangan yang ini. Sedangkan buatan
menggunakan lampu seluruh ruangan
CFL downlight (warm menggunakan lampu
white) CFL downlight
(daylight)

Penghawaan Penghawaan yang Penghawaan yang berada Penghawaan yang berada


berada pada museum pada museum ini adalah pada museum ini adalah
ini adalah penghawaan penghawaan buatan dan penghawaan alami.Alami

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 73


alami pada setiap alami. Alami berasal dari berasal dari jendela dan
ruangnya dan terdapat jendela dan ventilasi. Dan ventilasi.
AC pada display benda buatan terdapat AC pada
pamer. beberapa ruangan.

Utilitas instalasi listrik ditata instalasi listrik yang instalasi listrik ditata
rapih sesuai dengan tersembunyi sehingga rapih sesuai dengan dak
dak ekposenya. Yang terlihat rapih. Serta saluran ekposenya. Yang
membuat tetap bersih air yang memiliki ruangan membuat tetap bersih
ketika di lihat. untuk pengaturan ketika di lihat.
kesterilannya.
Keamanan Keamanan seperti fire Keamanan seperti fire Keamanan seperti fire
detector dan detector, springkler, dan detector, springkler, dan
tersedianya APAR lainnya tidak ada pada lainnya tidak ada pada
pada titik” tertentu. museum ini. museum ini.
Difabel/ Tidak ada Tidak ada Tidak ada
inklusi

2.3. Data dan Analisa Proyek


2.3.1. Deskripsi Proyek
Deskripsi proyek Museum Sri Baduga di Bandung sebagai berikut :

 Nama : Museum Sri Baduga


 Lokasi : Jl. BKR No.185, Bandung, Jawa Barat 40243.
 Jam Operasional :
- Senin : Tutup
- Selasa – Jumat : 08.00 – 16.00
- Sabtu – Minggu : 08.00 – 13.00
- Libur Nasional : Tutup
 Statur Proyek : Nyata
 Pengelola : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota
Bandung
 Sasaran : Semua kalangan
 Ekonomi : Semua kalangan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 74


2.3.2. Struktur Organisasi

Gambar 2. 52Bagan Struktur Organisasi


Sumber: http://museumsribaduga.jabarprov.go.id/struktur-organisasi

Stuktur organisasi pengelolaan museum Sribaduga terdiri atas:

 Kepala Museum yang mempunyai tugas pokok dan fungsi mengendalikan


penyelenggaraan museum dengan tertib, aman, lancar serta dapat
dipertanggungjawabkan, menyusun dan menyampaikan program dan
rencana kerja kegiatan serta anggaran museum.
 Sub bagian tata usaha yang mempunyai tugas pokok dan fungsi
melaksanakan penyusunan rencana kerja pengelolaan administrasi
kepegawaian, keuangan, perlengkapan, umum dan pelaporan.
 Kelompok jabatan fungsional adalah pegawai museum yang diberi
tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang
berwenang untuk melaksanakan kegiatan pembinaan kebudayaan.
 Seksi perlindungan mempunyai tugas menyusun rencana pelaksanaan
kegiatan pemeliharaan, penyimpanan dan pengamanan koleksi.
 Seksi permanfaatan bertugas melaksanakan penyusunan rencana
peningkatan promosi museum.

2.3.3. Tugas Pokok dan Visi Misi Museum Sri Baduga


Tugas pokok dan fungsi museum Sribaduga adalah melaksanakan
pengumpulan, perawatan, penelitian, penyajian, dan bimbingan edukatif.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 75


Visi dari museum Sribaduga adalah sebagai pusat dokumentasi,
informasi dan media pembelajaran serta objek wisata unggulan Jawa
Barat. Adapun misi dari museum Sribaduga antara lain:

 Mengumpulkan, meneliti, melestarikan dan mengkomunikasikan


benda tinggalan budaya Jawa Barat kepada masyarakat.
 Mengembangkan dan memanfaatkan hasil penelitian untuk
meningkatkan kualitas apresiasi masyarakat terhadap nilai nilai luhur
budaya daerah.
 Meningkatkan fungsi museum sebagai laboratorium budaya daerah
dan filter terhadap pengaruh buruk budaya global serta Menanamkan
nilai nilai luhur budaya daerah.

2.3.4. Analisa Aktivitas Pengguna


2.3.4.1. Alur Sirkulasi Pengunjung Umum

Gambar 2. 53 Alur Sirkulasi Pengunjung Umum


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 76


2.3.4.2. Alur Sirkulasi Pengunjung Workshop dan Seminar

Gambar 2. 54 Alur Sirkulasi Pengunjung Workshop dan Seminar


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 77


2.3.4.3. Alur Sirkulasi Petugas Operasional Museum

Gambar 2. 55 Alur Sirkulasi Petugas Operasional Museum


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 78


2.3.4.4. Alur Sirkulasi Pimpinan dan Pegawai Museum

Gambar 2. 56 Alur Sirkulasi Pimpinan dan Pegawai Museum


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 79


2.3.4.5. Alur Sirkulasi Barang dan Benda Pameran

Gambar 2. 57 Alur Sirkulasi Barang dan Benda Pamer


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

2.3.5. Matrix
Matrix ruang yang dibuat berdasarkan analisis penulis memiliki
keterangan sebagai berikut :

2.3.5.1. Master Plan

Gambar 2. 58 Matrix Master Plan


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 80


2.3.5.2. Bangunan Kantor Lantai 1

Gambar 2. 59 Matrix Bangunan Kantor Lantai 1


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

2.3.5.3. Bangunan Kantor Lantai 2

Gambar 2. 60 Matrix Bangunan Kantor Lantai 2


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

2.3.5.4. Bangunan Auditorium Lantai 1

Gambar 2. 61 Matrix Bangunan Auditorium Lantai 1


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 81


2.3.5.5. Bangunan Auditorium Lantai 2

Gambar 2. 62 Matrix Bangunan Auditorim Lantai 2


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

2.3.5.6. Bangunan Pameran Tetap

Gambar 2. 63 Matrix Bangunan Pameran Tetap


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 82


BAB III
KONSEP PERANCANGAN DESAIN INTERIOR

3.

3.1. Konsep Perancangan


3.1.1. Tema Umum
Museum Sri Baduga merupakan salah satu dari ikon museum di kota
Bandung, benda koleksi yang dipamerkan di museum Sri Baduga
merupakan benda bersejarah bagi masyarakat Sunda. Museum Sri
Baduga banyak menyimpan berbagai kekayaan sejarah, pengetahuan,
seni, dan budaya dari daerah Jawa Barat atau Ranah Sunda. Museum ini
merupakan satu-satunnya museum di Bandung yang memiliki koleksi-
koleksi khas Jawa Barat dan menjadi jendela informasi bagi kebudayaan
Sunda. Namun sering perkembangan zaman, masyarakat kurang tertarik
untuk datang ke museum.

Kebudayaan Sunda yang dikenal saat ini terbentuk dari perkembangan


sejarah di Jawa Barat sejak masa prasejarah hingga saat ini. Kini bukti
dari adanya sejarah tersebut dapat ditemui pada museum daerah Jawa
Barat yaitu museum Sri Baduga, melalui bendakoleksi yang dipamerkan.
Dalam memahami sejarah budaya Sunda perlu diterapkan sirkulasi
kronologis pada museum Sri Baduga berdasarkan alur sejarah. “Timeline
of Sundanese History” merupakan konsep yang diusung pada redesain
museum Sri Baduga. Pada konsep ini, layouting interior berdasarkan dari
rentan waktu dan klasifikasi benda koleksi, sehingga akan memunculkan
sirkulasi yang berdasarkan kronologis dari awal sejarah Sunda dimulai
hingga saat ini. Tema umum yang dipilih diharapkan dapat menjadi daya
tarik melalui tampilan sejarah masyarakat sunda pada alur koleksi
museum, sehingga pengunjung dapat memahami sejarah masyarakat
Sunda dari masa prasejarah hingga saat ini. Tujuan utama tema umum ini
adalah menarik minat masyarakat untuk mengenal kebudayaan yang
dimiliki dan memahami bagaimana budaya Sunda terbentuk, sehingga
masyarakat memiliki ketertarikan untuk mengunjungi Museum Sri
Baduga.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 83


Gambar 3. 1 Analisis Tema Umum dan Penggayaan
Sumber : Analisis Pribadi

3.1.2. Suasana Yang Diharapkan


Pada perancangan redesain museum Sri Baduga suasana yang
diharapkan pada interior museum merupakan suasana dengan gaya
kontemporer yang lebih simple, bentuk-bentuk yang dihadirkan adalah
bentuk tradisional Sunda yang ditransformasikan ke bentuk yang lebih

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 84


sederhana untuk memperkuat bentuk kontemporer, tetapi identitas
budaya Sunda tetap melekat pada interior museum Sri Baduga. Material
tradisional Sunda diaplikasikan pada interior museum yaitu berupa
material alam seperti kayu, batu, dan bambu. Hal ini bertujuan agar
menarik minta masyarakat sekitar termasuk para wisatawan dari luar kota
Bandung untuk tertarik mengunjungi museum Sri Baduga. Museum Sri
Baduga dapat menjadi identitas masyarakat Sunda dan kota Bandung,
dimana suasana interior museum Sri Baduga diharapkan dapat
mencerminkan gaya kontemporer yang mengikuti perkembangan zaman,
tetapi tetap memiliki identitas budaya tradisional Sunda. Sehingga
pengunjung tertarik untuk mempelajari sejarah, pengetahuan, seni, dan
budaya Sunda dalam tampilan kontemporer.

Gambar 3. 2 Tampilan Kontemporer pada Bangunan Interior Museum


Sumber : http://www.archdaily.com

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 85


Gambar 3. 3 Interior Bangunan Museum dengan Void
Sumber : https://www.e-architect.co.uk

Gambar 3. 4 Pengaplikasian Material Alam pada Interior


Sumber :http://www.superpotato.jp/en/works/shunkan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 86


Gambar 3. 5 Pengaplikasian Material Alam pada interior
Sumber : http://www.maltesercampus-wilhelmsburg.de/wie-soll-es-weitergehen/ergebnis-des-
architektenwettbewerbs.html

3.2. Konsep Visual


3.2.1. Penggayaan pada Perancangan
Mengadirkan penggayaan “Contemporary Ethnic” pada interior
museum, dengan memunculkan desain interior yang lebih sederhana,
tetapi tetap menghadirkan ragam hias Sunda yang nantinya akan ada
proses transformasi bentuk. Diharapkan interior museum tetap memiliki
identitas budaya Sunda namun dengan tampilan yang dapat mengikuti
minat masyarakat saat ini.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 87


3.2.2. Zoning Blocking
3.2.2.1. Zoning Blocking Pameran Tetap Lantai 1 dan 2

Gambar 3. 6 Zoning Blocking Pameran Tetap Lantai 1 dan 2


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

3.2.2.2. Zoning Blocking Pameran Tetap Lantai 3

Gambar 3. 7 Zoning Blocking Pameran Tetap Lantai 3


Sumber : Analisis Pribadi, 2017

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 88


3.3. Konsep Perancangan
3.3.1. Konsep Bentuk
Sebagai museum yang menampilkan koleksi sejarah serta budaya
Sunda, tentunya bentuk yang dipilih merupakan bentuk yang berasal dari
kebudayaan Sunda sehingga dapat merepresentasikan identitas dari
masyarakat Sunda. Untuk memperkuat konsep kontemporer pada
perancangan kali ini, perlu adanya proses transformasi pada bentuk-
bentuk dasar yang menjadi ciri khas dari budaya Sunda. Proses
transformasi ini akan memunculkan bentuk yang lebih sederhana untuk
diimplementasikan pada penggayaan interior yang kontemporer dengan
sentuhan etnik Sunda.

Bentuk Awal Pengolahan Bentuk

Gambar 3. 8 Batik Tasik


Sumber : https://ardikaryautama.
wordpress.com

Gambar 3. 9 Calung
Sumber : http://jualrebana.com/wp-
content/uploads/2014/01/calung2.jp
g

Gambar 3. 10 Kujang
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kujang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 89


Gambar 3. 11 Penari Jaipong
Sumber
:http://awoxparawalie.blogspot.co.id

3.3.2. Konsep Material


Penggunaan material untuk element interior cenderung memilih
material alam, seperti kayu, batu dan bambu. Material tersebut dipilih
untuk memperkuat konsep dan tema perancangan redesain Museum Sri
Baduga, material yang dipilih merupakan material yang umum digunakan
oleh masyarakat Sunda dalam kehidupan sehari-hari khususnya pada
tempat tinggal.

3.3.2.1. Tabel Konsep Material Element Interior

Bangunan Ceiling Wall Flooring


Pameran Menggunakan material Pada area dinding Kombinasi material

Tetap gypsum sebagai material yang merupakan konsep


penutup ceiling dengan diaplikasikan material yang akan
finishing cat. berupadinding plester diterapkan pada area
Sebagai kesan dekoratif semen finishing cat, flooring, terdapat 2 jenis
material kayu juga adapun material lain material yang berbeda
dapat diaplikasikan yang diaplikasikan untuk yang akan
pada ceiling. dekoratif menggunakan dikombinasikan dalam
material kayu dan area display pameran.
bambu. Hal ini bertujuan sebagai
pembatas atau pembeda
antara area sirkulasi dan
area display pameran.
Gambar 3. 12 Ceiling Material yang digunakan
Gypsum
Sumber : dapat berupa carpet dan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 90


http://www.rockarchite epoxy coating
cts.com/cultural_and_e
ntertainment.html

Gambar 3. 16 Kombinasi
Material Lantai
Sumber :
http://travelblog.id/muse
um-pendidikan-nasional-
Gambar 3. 14 Dinding upi/
Finishing Cat
Sumber :
http://www.archdaily.co
Gambar 3. 13 Ceiling m
Kayu
Sumber :
http://www.archdaily.c
om

Gambar 3. 17 Lantai
Epoxy
Gambar 3. 15 Dinding Sumber :
Kayu sensofloors.co.uk
Sumber :
javiercallejas.com

Kantor Pada bangunan Dinding area kantor Konsep flooring area


kantor material mengaplikasikan kantor sama seperti
ceiling yang wallpaper untuk flooring area pameran
digunakan tidak beda finishing dinding dan yaitu dengan
jauh dengan yang dinding semen dengan mengkombinasikan 2
diaplikasikan pada finishing cat. material yang berbeda.
bangunan lain. Yaitu Untuk fungsi sirkulasi
dengan dan zoning area. Jenis
mengaplikasikan material yang dipilih
material gypsum yaitu carpet dan
dengan finishing cat keramik.
dan untuk dekoratif
mengaplikasikan
material kayu

Gambar 3. 18Wallpapers

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 91


Sumber : Gambar 3. 19 Kombinasi
goodrichglobal.com Material Lantai
Sumber :
http://www.artfixdaily.c
om

3.3.2.2. Tabel Konsep Material Furniture


Dalam pengadaan furniture untuk interior museum perlu ditentukan
material yang sesuai. Penyesuain material dapat didasari dari tema umum
interior museum maupun kebutuhan benda pamer untuk display furniture.
Material tersebut meliputi material konstruksi maupun finishing. Material
yang digunakan untuk furniture museum, diantaranya :

Gambar 3. 20 Kayu Solid Gambar 3. 21 Multiplex


Sumber : Sumber :
https://arsitekturvaastustudio.w http://www.cypers.be/en/con
ordpress.com structive/multiplex/

Gambar 3. 22 HPL
Gambar 3. 23 Kaca Bening
Sumber :
Sumber :
http://www.rumahmaterial.co
http://kacamurah.net/kaca-
m
bening/

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 92


Gambar 3. 25 Kain
Sumber :
Gambar 3. 24 Hollow Steel http://blog.guilfordofmaine.c
Sumber : om
https://dir.indiamart.com/

3.3.3. Konsep Warna


Pemilihan warna pada interior museum dipengaruhi oleh warna
material yang akan diterapkan pada interior museum, yang mana material
tersebut merupakan material khas masyarakat Sunda dalam kehidupan
sehari-hari yaitu material kayu, batu dan bambu. Dari material kayu tone
warna yang diambil ialah turunan dari warna cokelat, warna turunan abu-
abu dan monochrome dari material batu dan turunan warna orange dari
material bambu. Dari ketiga warna tersebut yaitu cokelat, abu-abu dan
kuning memiliki arti warna sebagai berikut :

 Cokelat :Bersifat kalem, hangat, teduh dan natural. Secara


psikologis cokelat membuat suasana terlihat natural dan eksotis.
 Abu-abu :Bersifat kontemporer, merupakan warna alam yang
menenangkan dan tentram, serta memberi kesan luas.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 93


 Orange :Warna oranye memberi kesan hangat dan
bersemangat. Warna ini merupakan symbol dari petualangan,
optimisme, percaya diri dan kemampuan dalam bersosialisasi.

Gambar 3. 26 Colour Scheme


Sumber : http://color.romanuke.com/tsvetovaya-palitra-2423/

Gambar 3. 27 Colour Scheme


Sumber : colorpalettes.net

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 94


Gambar 3. 28 Colour Scheme
Sumber : http://color.romanuke.com/page/151/

3.3.4. Konsep Pencahayaan


Sistem pencahayaan yang diterapkan pada museum Sri Baduga ialah
pencahayaan alami dan buatan. Pemanfaatan cahaya alami terdapat pada
area lobby bangunan pameran tetap dan audiorium, sebab pada area
tersebut terdapat jendela kaca sehingga area tersebut dapat menerima
cahaya alami secara maksimal.

Adapan pada bangunan museum terdapat area void yang dapat


difungsikan sebagai sumber penghawan alami pada museum, dengan
mengurangi sekat dinding pada ruang area sekitar void, sehingga cahaya
dari area void dapat menyebar ke lorong lorong ruang di sekeliling area
void.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 95


Gambar 3. 29 Pencahayaa Alami dari Void
Sumber : http://www.archdaily.com

Pada area pameran pencahayaan pada setiap benda koleksi berbeda-


beda, tergantung pada kebutuhan masing masing benda koleksi.
Pencahayaan dengan suhu yang terlalu tinggi sangat tidak disarankan
untuk benda koleksi karena dapat merusak benda koleksi. Namun
pencahayaan yang telalu redup tidak baik untuk psikologi pengunjung
mengingat benda koleksi banyak yang berbentuk manusia dengan skala
1:1, hal ini berdasarkan pengakuan beberapa pengunjung yang merasa
kurang nyaman saat berada di ruang pamer.

Gambar 3. 30 Suasana Ruang Pamer dengan Pencahayaan Day Light


Sumber : http://bwm.at/projekte/archaologie-eggenberg-neubau/

Gambar 3. 31 Suasana Ruang Pamer dengan Pencahayaan Day Light


Sumber : https://segd.org/natural-history-museum-utah
-environmental-graphics-and-exhibits

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 96


Namun untuk memunculkan kesan dramatis pada beberapa benda
koleksi berupa benda mati seperti bebatuan, pencahayaan yang redup
dengan sorotan lampu spot light dapat diterapkan pada benda koleksi
tersebut.

Gambar 3. 32 Suasana Ruang Pamer dengan Pencahayaan Warm Light


Sumber : wangdashowcases.com

Sistem pencahayaan yang dipakai dalam ruangan pamer menggunakan


spotlight, downlight dan track light.

Gambar 3. 33 Spotlight Gambar 3. 34 Downlight Gambar 3. 35 Tracklight


Sumber: Sumber : Sumber :
https://www.amazon.co http://www.crompton.com. http://www.nuvolighting.com
m/ au

Dalam penggunaan spotlight untuk pencahayaan disply dapat


memberi kesan dramatis melalui sorotan spotlight yang terfokus pada
benda koleksi. Downlight sebagai menerangan untuk area sirkulasi yang
dilewati oleh pengunjung. Tracklinght digunakan untuk benda koleksi 2
dimensi berupa gambar, perletakan tracklight antara 45 sampai 75 derajat
(ke atas) dari bidang horizontal ke posisi lampu.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 97


3.3.5. Konsep Penghawaan
Penggunaan penghawaan pada perancangan museum Sri Baduga
menggunakan kedua jenis penghawaan, alami dan buatan, dengan
penjelasan sebagai berikut:

3.3.5.1. Penghawaan Alami


Penghawaan alami yang digunakan melalui adanya area void yang
cukup luas pada bangunan museum, serta meminimalisir adanya sekat
dinding sehingga penghawaan alami pada museum dapat mengalir ke
ruang ruang pameran yang ada di sekeliling area void. Akan tetapi tidak
semua ruangan cukup dengan menggunakan penghawaan alami saja,
dibutuhkan pula penghawaan buatan untuk ruang yang kurang
mendapatkan penghawaan alami.

Gambar 3. 36 Penghawaan Alami pada Void


Sumber : http://www.archdaily.com

3.3.5.2. Penghawaan Buatan


Penerapan penghawaan buatan digunakan untuk ruang ruang yang
minim penghawaan alami dan kondisi ruang yang cenderung tertutup
dengan kurang mendapatkan akses penghawaan dari area void. Sistem
penghawaan buatan yang mungkin digunakan, antara lain:

 Penggunaan Standing Floor AC pada ruangan yang luas dan


memiliki banyak bukaan, seperti pada area lobby dan area
masterpiece.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 98


 Penggunaan AC Split pada ruang yang berukuran kecil
seperti ruang kantor.

Gambar 3. 37 Standing Floor Gambar 3. 38 AC Split


Sumber : Sumber : http://www.serviceac.net/ac-split.php
http://www.supplyhouse.com

3.3.6. Konsep Keamanan


Pengamanan pada Museum Sri Baduga terbagi berdasarkan jenisnya,
yaitu:

3.3.6.1. Pengamanan terhadap Kebakaran


Pengamanan terhadap kebakaran dapat diatasi dengan beberapa hal,
diantaranya penggunaan alarm, smoke detector, dan heat detector untuk
mendeteksi adanya pemicu kebakaran. Untuk penanggulangannya dapat
disediakan tabung pemadam, dan fire hose.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 99


Gambar 3. 41 Sprinkler
Gambar 3. 39 APAR Gambar 3. 40 Smoke
Sumber :
Sumber : Ditector
http://projectmedias.blogspo
http://www.alatpemadama Sumber :
t.co.id
pi.xyz https://thoroughlyreviewe
d.com

3.3.6.2. Keamanan terhadap Manusia


Pengadaan petugas security serta sistem CCTV dapat diterapkan
untuk kemanan terhadap manusia, untuk menghindari terjadinya
pencurian dan tindak pengrusakan benda koleksi pada museum Sri
Baduga.

Gambar 3. 42 Camera CCTV


Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Closed-circuit_television_camera

3.3.7. Konsep Display


Dalam menyajikan benda koleksi museum diperlukan media display,
setiap benda koleksi memiliki jenis dan dimensi yang berbeda-beda
sehingga jenis display untuk menempatkan benda koleksi berbeda-beda
pula tergantung pada jenis koleksi yang ada pada museum. Berdasarkan
dari benda koleksi yang terdapat di museum Sri baduga, jenis display dan
aksesoris pelengkap yang diperlukan antara lain :

 Vitrin Lepas Terbuka

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 100


Gambar 3. 43 Vitrin Lepas terbuka
Sumber : https://www.dezeen.com

 Vitrin Lepas Tertutup Transparant

Gambar 3. 44 Vitrin Lepas Tertutup Transparant


Sumber : http://divisare.com

 Vitrin Dinding Terbuka

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 101


Gambar 3. 45 Vintrin Dinding Terbuka
Sumber : http://www.archdaily.com.br

 Vitrin Dinding Tertutup Transparant

Gambar 3. 46 Vitrin Dinding Tertutup Transparant


Sumber : coordination.asia

 Panel Display

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 102


Gambar 3. 47 Panel Display
Sumber : http://retaildesignblog.net

 Aksesoris Display

Gambar 3. 50 Barriers
Gambar 3. 48 Museum Gambar 3. 49 Info Stand Sumber
Label Holder Sumber :http://museumdisplay.c
Sumber :http://museumdisplay.c om
:http://museumdisplay.com om

3.3.8. Konsep Sirkulasi


Museum Sri Baduga merupakan museum yang menampilkan koleksi
budaya Sunda berdasarkan alur sejarah Sunda, sehingga penataan koleksi
disajikan secara kronologis, yaitu penyajian benda koleksi disusun
menurut rentan waktu dari yang tertua hingga termuda.

Menurut (Dean, 1996) ada tiga alternatif pendekatan dalam mengatur


sirkulasi alur pengunjung dalam penataan ruang pameran sebuah
museum, yaitu Alur yang Disarankan, Alur yang Tidak Berstruktur
(Unstructured), Alur yang Diarahkan (Directed). Dari ketiga alternatif

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 103


tersebut alur yang akan diterapkan pada perancangan redesain museum
Sri Baduga ialah Alur yang Disarankan (Suggested). Alur tersebut dirasa
cocok karena tetap dapat mengatur alur sirkulasi pengunjung berdasarkan
kronologis tetapi pengunjung masih bisa leluasa dalam mengikuti alur
benda koleksi.

Gambar 3. 51 Alur yang Disarankan (Suggested)


Sumber : Jurnal Persyaratan Perancangan Interior Museum

Menurut Ernest dan Peter (2012), faktor yang mempengaruhi


keputusan tata letak ruang display di museum berhubungan dengan
koleksi yang ingin ditampilkan dengan cara menampilkan koleksi
tersebut. Berdasarkan benda koleksi Museum Sri Baduga, tipe dasar tata
letak ruang yang sesuai ialah Linear Chaining (Urutan Linear), Urutan
linear dari ruangan , sirkulasi terkontrol , orientasi yang jelas , pintu
masuk dan keluar yang terpisah. Pemilihan ini didasari dari bentukan
ruang pada bangunan museum dan benda koleksi museum yang disusun
secara kronologis

Gambar 3. 52 Liner Chaining


Sumber : Jurnal Persyaratan Perancangan Interior Museum

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 104


BAB IV
KONSEP PERANCANGAN VISUAL DENAH KHUSUS

4.

4.1. Pemilihan Denah Khusus


Dalam redesain interior museum Sri Baduga dengan tema “Timeline of
Sundanese History”, denah khusus yang dipilih terdapat pada bangunan
pameran tetap pada area lantai 1 dengan mencakup ruang tiket, receptionist,
ruang tunggu, area void, jembatan kaca, area photobooth dan toko souvenir.
Pada denah khusus terdapat goa purba sebagai ciri khas dari museum Sri
Baduga, adanya goa purba digambarkan sebagai titik awal dimulainya sejarah
dari kebudayaan Sunda.

Gambar 4. 1 Area Denah Khusus


Sumber : Penulis (2017)

Pada denah khusus menampilkan alur awal dan akhir museum, dimana pada
alur awal terdapat goa purba sebagai ikon dari museum sri baduga yang terletak
pada area void. Area void merupakan area utama pada bangunan pameran tetap
museum Sri Baduga, selain terdapat ikon museum Sri Baduga yaitu goa purba,
hal lain karena setiap lantai pada bangunan pameran tetap mengelilingi area void

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 105


sehingga pengunjung dapat selalu melihat keberadaan area void tersebut.
Sedangkan pada alur akhir, terdapat fasilitas bagi pengunjung setelah
mengelilingi museum berupa photobooth dan toko souvenir, berkunjung ke
museum terasa lengkap jika sudah melakukan kegiatan berfoto dan membeli
souvenir. Pada area tersebut terdapat beberapa benda koleksi museum yang
berukuran cukup besar, sehingga pengunjung dapat berfoto pada benda koleksi
tersebut.

4.2. Konsep Tata Ruang


Area denah khusus terdapat dua karakter area yang berbeda sehingga
memiliki fokus perancangan untuk aktivitas dan fasilitas yang cukup berbeda
namun tetap terikat dalam satu tema dan penggayaan yang sama. Area awal yang
meliputi entrance dan area void terfokus untuk memfasilitasi aktivitas
kedatangan pengunjung dengan adanya receptionist dan ruang tunggu.
Selanjutnya untuk permulaan dalam menjelajahi museum, pengunjung diarahkan
langsung memasuki goa purba. Penataan benda koleksi museum Sri Baduga
disusun berdasarkan kronologis sejarah budaya Sunda sehingga aktivitas dalam
menjelajahi museum dimulai dari masa pra sejarah. Setelah melalui goa purba
diikuti dengan suasana alam berupa adanya pohon-pohon artifisial yang
mendukung benda koleksi dari jenis flora dan fauna. Area void memiliki
karakteristik yang sesuai untuk benda koleksi yang dalam menampilkannya
memerlukan pensuasanaan yang alami. Sebab pada area void terdapat
pencahayaan dan penghawaan alami yang maksimal dengan adanya skyroof
dengan memiliki ketinggian area kurang lebih 10 meter. Dengan menghadirkan
penggayaan “Contemporary Ethnic” yang tentunya etnik yang dihadirkan
adalah etnik Sunda dimana masyarakat Sunda dikenal dengan masyarakat yang
dekat dengan alam, sehingga nuansa alam sangat terasa pada area void.
Sedangkan gaya kontemporer dihadirkan untuk mengikuti trend dan selera
masyarakat terhadap desain interior museum saat ini.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 106


Gambar 4. 2 Denah Khusus Area Void dan Receptionist
Sumber : Penulis (2017)

Pada denah khusus terdapat area yang merupakan alur akhir penjelajahan
pada bangunan museum. Meski bersebelahan, kedua area alur awal dan alur
akhir tidak memiliki akses langsung. Dari alur awal ke alur akhir mengunjung
perlu mengikuti alur benda koleksi yang sudah disusun secara kronologis. Area
alur akhir terfokus dalam merancang fasilitas bagi aktivitas pengunjung setelah
selesai menjelajahi museum. Mengabadikan moment dalam bentuk foto,
merupakan aktivitas wajib masyarakat saat ini, sehingga perlu adanya fasilitas
photobooth. Pada alur akhir museum, dilengkapi pula fasilitas toko souvenir
yang menjual cindera mata sebagai kenang-kenangan setelah mengunjungi
museum. Penggayaan pada area ini tetap mengusung gaya “Contemporary
Ethnic”, masih terdapatnya material alam seperti kayu, batu dan tone warna
kontemporer seperti warna turunan hitam, putih, abu-abu dan cokelat. Meski
didominasi bentuk simple dari penggayaan kontemporer, area ini tetap
menghadirkan ragam hias etnik Sunda yang bentuknya sudah melalui proses
transformasi.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 107


Gambar 4. 3 Denah Khusus Photobooth, Area Pamer dan Toko Souvenir
Sumber : Penulis (2017)

4.3. Persyaratan Teknis Ruang


4.3.1. Sistem Penghawaan
Pada area denah khusus memiliki karakter ruang dan aktivitas ruang
yang berbeda-beda, sehingga sistem penghawaannya pun berbeda.
Namun dengan karakter bangunan museum yang memiliki banyak
bukaan sehingga dapat meminimalisir penggunaan penghawaan buatan
dan lebih memaksimalkan penghawaan alami. Namun pada area yang
memiliki banyak aktivitas dan karakter ruang yang lebih minim
penghawaan alami tetap membutuhkan adanya penghawaan buatan.

Dengan penghawaan alami yang cukup, receptionist dan ruang tunggu


hanya mengandalkan penghawaan alami sebab ruang tersebut terletak di
bagian depan bangunan, sehingga penghawaan alami didapat dari bukaan
pada entrance yang cukup besar. Begitu pula dengan area void, seluruh
area menggunakan penghawaan alami, dengan perancangan interior

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 108


museum yang mengurangi sekat pada interior bangunan musuem
sehingga sirkulasi udara pada area void sangat baik. Memaksimalkan
penghawaan alami pada area void juga didukung dengan adanya skylight
roof dengan jarak ke flooring kurang lebih 10 meter.

Dengan mempertimbangkan faktor aktivitas dan kondisi ruang pada


area alur akhir museum, penghawaan buatan perlu diterapkan pada area
ini. Dengan aktivitas pengunjung yang cukup beragam seperti, berfoto,
menunggu antrean photobooth hingga berbelanjan souvenir, ditambah
dengan kondisi ruang yang memberikan kesan sempit dengan jarak floor
to ceiling hanya 3 meter sehingga dirasa perlu adanya penggunaan
penghawaan buatan. Meski pada samping ruang tersebut memilki kisi-
kisi kayu yang menjadi partisi dengan area void dan dekat dengan bukaan
yang mengarah ke area luar museum, namun pertimbangan aktivitas yang
cukup padat di area tersebut dirasa perlu adanya penambahan
penghawaan buatan berupa Standing Floor.

Gambar 4. 4 Standing Floor


Sumber : http://www.supplyhouse.com

4.3.2. Sistem Pencahayaan


Seperti sistem penghawaan, sistem pencahayaan alami juga cukup
banyak dapat pada denah khusus dengan memaksimalkan adanya void
dan skylight roof, serta karakter bangunan yang meminimalisir adanya
sekat. Selain itu pencahayaan alami juga didapat dari jendela kaca pada

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 109


sisi ruang yang berbatasan langsung dengan area luar museum. Namun
pencahayaan buat juga diperlukan baik untuk fungsi dekoratif dan
penerangan secara umum.

Pencahayaan berupa spotlight tentunya akan sangat mendominasi


pada interior sebuah museum, begitu pula dimulai pada area receptionist
dan ruang tunggu, pada area tersebut terdapat spotlight yang berfungsi
untuk mempertegas backdrop museum Sri Baduga, selain itu penggunaan
downlight tetap masih diperlukan meski pada kondisi tertentu, saat
kondisi cahaya diluar ruangan kurang. Goa purba yang tertutup
membutuhkan pencahayaan buatan berupa spotlight baik sebagai unsur
dekoratif maupun pencahayaan umum. Area void yang merupakan area
dengan pencahayaan alami yang maksimal, sangat minim penggunaan
pencahayaan buatan, adanya pencahayaan buatan difungsikan sebagai
unsur dekoratif. Meski area void terdapat pencahayaan alami yang cukup
banyak, namun cahaya yang masuk tidak terlalu menyilaukan dan
berpengaruh besar pada benda koleksi, hal ini dapat disebabkan dengan
jarak floor to roof yang tinggi sekitar 10 meter. Desain vitrine benda
koleksi juga disesuaikan dengan kondisi area void, dibuat agar cahaya
alami tidak langsung menyoroti benda koleksi.

Pada area alur akhir museum, terdapat pencahayaan alami dari tiap
sisi-sisi ruang yang berbatasan langsung dengan area luar museum dan
area void, dengan adanya kisi kisi kayu, sehingga cahaya yang masuk
tidak terlalu menyilaukan, hal ini diperlukan sebab area tersebut masih
terdapat benda koleksi museum yang cukup besar. Pencahayaan buatan
tentunya diperlukan baik untuk tujuan dekorasi dan pencahayaan umum.
Khususnya di area photobooth, pencahayaan buatan sangat dibutuhkan
disini, hal ini dikarnakan posisi ruang yang memang minim pencahayaan
buatan serta untuk keperluan pengambilan foto. Pada toko souvenir
masih didominasi pencahayaan alami sebab dikelilingi oleh kisi-kisi kayu
yang mendapatkan pencahayaan alami dari luar bangunan, area void dan
area ruang tunggu. Tetapi pencahayaan buatan tetap diperlukan untuk
mengatasi kondisi apabila kondisi cahaya alami berkurang.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 110


Gambar 4. 6 Downlight Gambar 4. 7 Tracklight
Gambar 4. 5 Spotlight Sumber : Sumber :
Sumber: http://www.crompton.com. http://www.nuvolighting.com
https://www.amazon.co au
m/

4.3.3. Sistem Pengamanan


Dalam upaya pengamanan museum, banyak hal yang dapat
diterapkan dalam sistem pengaman museum, yaitu penjagaan aktif
museum, sistem elektronik, rancangan display koleksi, hingga peletakkan
display yang sesuai. Perlindungan terhadap koleksi benda museum dari
kerusakan, pencurian dan penyalahgunaan harus dirancang dengan sebaik
mungkin dari berbagai aspek sistem pengamanan.

4.3.3.1. Keamanan Umum


Untuk pengamanan museum secara umum dapat dilakukan melalui
pengadaan sistem keamanan berupa CCTV yang berfungsi untuk
memantau gerak-gerik dan aktivitas pengunjung selama berada di dalam
museum serta di area luar sekitar museum. Pengamanan terhadap asap
dan api melalui smoke detector yang dapat mendeteksi adanya asap dan
potensi kebakaran, lalu secara otomatis sprinkler akan mengeluarkan air
bila terjadi kebakaran. Pengamanan terhadap benda tajam dan benda
logam dengan menggunakan sistem pengamanan metal detector.

4.3.3.2. Keamanan Interior


Pengamanan benda koleksi melalui perancangan interior dapat
meliputi desain display atau vitrine. Desain vitrine yang dibuat dengan
material kaca dapat menjaga benda koleksi dari kerusakan akibat
sentuhan maupun debu yang dapat berpotensi merusak benda koleksi.
Sedangkan untuk sebagian benda koleksi yang menggunakan desain

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 111


terbuka tanpa material kaca, mengamanan dapat dilakukan dengan
penggunaan barriers untuk memberikan jarak antara pengunjung dan
benda koleksi. Selain itu perbedaan tinggi lantai juga dapat diterapkan
untuk pengamanan benda koleksi agar memberikan jarak benda koleksi
dari jangkuan pengunjung.

4.4. Penyelesaian Elemen Interior


4.4.1. Penyelesaian Lantai
Menyesuaikan pada penggayaan interior museum yaitu
“Contemporary Ethnic”, sehingga pemilihan material lantai mengarah
pada material alam dengan tone warna bumi dan pola lantai yang simple
untuk memunculkan gaya kontemporer yang lebih sederhana. Material
yang diterapkan antara lain, lantai epoxy dengan warna abu-abu finishing
matt, melalui penerapan lantai epoxy desain lantai terlihat lebih clean
tanpa pola lantai. Pada area void, material lantai dipengaruhi pula dengan
adanya goa purba, sehingga material alam yang dipilih untuk lantai area
void adalah batu alam. Material kayu mendominasi area pameran, dengan
pola chevron parquette, pola parket didapat dari proses transformasi
bentuk. Pola ceramics tile juga diterapkan pada beberapa area
perancangan dengan warna keramik abu-abu, pola keramik yang simple
cocok diterapkan untuk penggayaan kontemporer pada museum.

4.4.2. Penyelesaian Plafon


Dalam penyelesaian plafon material yang diterapkan yaitu gypsum
board dengan rangka besi hollow dan finishing cat tembok berwarna
putih. Element dekoratif dan pencahayaan juga ditambahkan pada bagian
plafon dengan adanya hangging lamp dan down light.

Sedangkan pada area void, terdapat skylight roof dengan material


konstruksi berupa rangka besi dan kaca.

4.4.3. Penyelesaian Dinding


Pada element dinding didominasi oleh kisi-kisi kayu yang terbuat
dari rangka besi hollow dengan finishing hpl motif kayu jati. Pemilihan
kisi-kisi kayu baik sebagai partisi maupun treatment dinding memiliki

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 112


kelebihan yaitu dapat memberikan sirkulasi yang baik dalam
penghawaan dan pencahayaan kesetiap ruang yang dibatasi oleh kisi-
kisi kayu.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 113


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. A

5.1. Kesimpulan
Dalam redesain suatu public space, khususnya museum sangat diperlukan
analisa mendalam serta kemampuan untuk menemukan dan memecahkan
masalah yang terdapat pada desain terdahulu, sehingga menghasilkan desain
baru yang dapat menjawab permasalah dari desain sebelumnya, dengan tetap
menjaga esensi yang sudah terkandung dari desain terdahulu. Museum Sri
Baduga merupakan objek public space yang dipilih pada perancangan tugas
akhir ini, museum Sri Baduga berlokasi di kota Bandung dan merupakan bagian
dari 3 besar museum di Bandung bersamaan dengan museum Asia-Afrika dan
museum Geologi. Diantara ketiga museum tersebut, museum Sri Baduga
memiliki banyak permasalahan sehingga perlu adanya redesain interior museum.

Permasalahan utama pada museum Sri Baduga disimpulkan menjadi 3 aspek


permasalahan yang meliputi; daya tarik, identitas dan alur koleksi. Permasalahan
tersebut didapat dari analisis, survey dan pengamatan secara langsung lokasi
museum. Urutan permasalahan dimulai dari daya tarik, perkembangan desain
interior khususnya museum akan selalu ada perubahan yang dipengaruhi oleh
aktivitas pengunjung dan trend desain museum saat ini, dengan menjawab
permasalahan tersebut diharapkan pada redesain museum Sri Baduga dapat
menampilkam interior yang mengikuti minat masyarakat saat ini melalui
penggayaan kontemporer, serta yang tak kalah penting dengan pengadaan
fasilitas dan tampilan museum untuk aktivitas wajib masyarakat saat ini yaitu
memotret.

Berikutnya permasalahan yang diangkat yaitu identitas museum, museum


Sri Baduga merupakan museum daerah Jawa Barat yang menampilkan berbagai
benda koleksi yang mengandung nilai-nilai budaya serta sejarah dari Masyarakat
Sunda dari masa pra sejarah hingga saat ini. Tetapi kondisi desain interior
museum Sri Baduga kurang mencirikan identitas dari budaya Sunda, identitas

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 114


budaya Sunda hanya didukung dari benda koleksi itu sendiri. Sehingga
dibutuhkan tampilan interior museum yang mencirikan identitas budaya Sunda
dan menjadikan keterkaitan antara benda koleksi museum dengan tampilan
interior museum Sri Baduga.

Museum Sri Baduga merupakan museum yang memiliki benda koleksi


dengan runutan waktu sejarah dari yang tertua hingga yang termuda, hal ini
mempengaruhi alur sirkulasi museum yang semestinya disusun secara
kronologis. Alur sirkulasi merupakan permasalahan yang sangat penting dalam
perancangan museum, sebab hal ini yang menentukan apakah pengunjung dapat
memahami info yang terdapat pada museum tersebut. Permasalahan desain
interior museum Sri Baduga juga terdapat pada alur sirkulasi yang belum sesuai
dengan runutan sejarah masyarakat Sunda, sehingga pada redesain ini akan
menampilkan alur sirkulasi yang sesuai dengan kronologis sejarah budaya Sunda
dan klasifikasi benda koleksi yang lebih jelas.

Dengan mengusung tema umum “Timeline of Sundanese History”,


diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang terdapat pada museum Sri
Baduga saat ini khususnya pada alur sirkulasi dan tercapainya tujuan redesain
interior museum, dengan didukung pemilihan penggayaan “Contemporary
Ethnic” untuk menampilkan interior museum yang dapat mengikuti minat
pengunjung saat ini dengan tetap mempertahankan identitas budaya Sunda.

5.2. Saran
5.2.1. Saran untuk Penulis
Dalam proses redesain interior museum Sri Baduga ini, menambah
pengetahuan penulis baik dalam segi desain interior tetapi juga dalam
ilmu pengetahuan sejarah khusus budaya Sunda, serta melatih kepekaan
penulis dalam mengamati dan menganalisis desain yang sudah ada, untuk
menemukan permasalahan pada desain interior yang sudah ada dan
berusaha untuk memecahkan permasalahannya melalui beberapa metoda
perancangan interior. Penulis sadari karya ini belum sempurna dan masih
memiliki kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar dapat lebih baik lagi untuk karya-karya
selanjutnya.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 115


5.2.2. Saran untuk Pembaca
Redesain interior Museum Sri Baduga diharapkan dapat memberikan
manfaat berupa informasi dan ilmu dalam redesain sebuah museum.
Serta memberikan informasi dari analisis yang telah penulis tampilkan
pada laporan ini.

5.2.3. Saran untuk Pemerintah


Dari hasil analisis dan permasalah yang penulis utarakan pada
laporan redesain interior museum Sri Baduga diharapkan dapat menjadi
pertimbangan pemerintah dalam mengelola museum Sri Baduga yang
kaya akan sejarah dan benda koleksi budaya khas Sunda. Sehingga
masyarakat bisa lebih sadar dan memiliki minat yang tinggi untuk
mempelajari sejarah dan budaya yang terdapat pada museum Sri
Baduga.

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 116


DAFTAR LAMPIRAN

A. Daftar Benda Koleksi Museum

Koleksi Lantai 1

No. Nama Bidang Jenis Nama Dimensi Dokumentasi Kode


Kasifikasi Dimensi Display Koleksi Koleksi
KOLEKSI PRASASTI
1 Geologika/ 3 Standing Prasasti 60x40x100 GPR1
Geografika Dimensi Display Kawali V
Keterang
an
penamaa
n kode

G:
Geologi
PR :
Prasasti

2 Geologika/ 3 Standing Prasasti 70x50x12 GPR2


Geografika Dimensi Display Kawali
VI

3 Geologika/ 3 Wall Prasasti 65x80x20 GPR3


Geografika Dimensi Display Kwali I

KOLEKSI POSTER
4 Geologika/ 2 Wall Peta 170x125 GPO1
Geografika Dimensi Display Wilayah
Jawa Keterang
Barat an
dari penamaa
Masa ke n kode
Masa
G:
Geologi
PO :
POSTER

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 117


5 Geologika/ 2 Wall Peta 170x125 GPO2
Geografika Dimensi Display Evolusi
Paleogeo
grafis
Daratan
Jawa
Barat
6 Geologika/ 2 Wall Geo 100x125 GPO3
Geografika Dimensi Display Termal
Kamojan
g

7 Geologika/ 2 Wall Proses 100x125 GPO4


Geografika Dimensi Display Pembuat
an
Logam
Mulia

8 Geologika/ 2 Wall Perkemb 170x125 GPO5


Geografika Dimensi Display angan
Paleogeo
grafi
Cekunga
n
Bandung
9 Geologika/ 2 Wall Peta 170x125 GPO6
Geografika Dimensi Display Potensi
Wilayan
g Jawa
Barat

10 Geologika/ 2 Wall Zona 420x125 GPO7


Geografika Dimensi Display Jawa
Barat

11 Biologika 2 Wall Tumbuha 75x245 GPO8


Dimensi Display n
Dataran
Tinggi
12 Biologika 2 Wall Tumbuha 75x245 GPO9
Dimensi Display n
Dataran
Rendah
13 Biologika 2 Wall Tumbuha 7x245 GPO10
Dimensi Display n
Dataran
Berair
14 Geologika/ 2 Wall Peta 170x125 GPO11
Geografika Dimensi Display Migrasi
Manusia
dan
Satwa

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 118


15 Geologika/ 2 Wall Suaka 170x125 GPO12
Geografika Dimensi Display Alam

16 Geologika/ 2 Standing Peta 100x90 GPO13


Geografika Dimensi Display Sebaran
Mineral
Logam
dan Non
Logam
Di Jawa
Barat
17 Geologika/ 2 Wall Mamalia GPO14
Geografika Dimensi Display

KOLEKSI FOSIL
18 Biologika 3 Wall Fosil 110x50x30 GFO1
Dimensi Display Tanduk
Kerbau
Purba

19 Biologika 3 Wall Fosil 30x30x35 GFO2


Dimensi Display Rahang
Stegodon

20 Biologika 3 Wall Fosil 130x30x30 GFO3


Dimensi Display Ruas
Tulang
Ikan
Paus
21 Biologika 3 Standing Fosil 18x8x3 GFO4
Dimensi Display Ikan
22 Geologika/ 3 Standing Cula 15x17x15 GFO5
Geografika Dimensi Display Badak
Jawa

23 Geologika/ 3 Standing Fosil 12x12x4 GFO6


Geografika Dimensi Display Bintang
Laut
24 Biologika 3 Wall Fosil 7x8x5 GFO7
Dimensi Display Keong

25 Biologika 3 Wall Fosil 6x3x3 GFO8


Dimensi Display Siput

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 119


26 Biologika 3 Wall Fosil 8x4x4 GFO9
Dimensi Display Kerang

27 Biologika 3 Wall Fosil 3x3x3 GFO10


Dimensi Display Siput

28 Biologika 3 Wall Fosil 12x12x10 GFO11


Dimensi Display Kerang

29 Biologika 3 Wall Fosil 5x3x3 GFO12


Dimensi Display Siput

30 Biologika 3 Wall Fosil 6x3x3 GFO13


Dimensi Display Siput

31 Geologika/ 3 Wall Fosil 12x12x12 GFO14


Geografika Dimensi Display Bunga
Karang

KOLEKSI BEBATUAN
32 Geologika/ 3 Standing Batuan 14x10x6 GBA1
Geografika Dimensi Display Malihan
Batu
Sabak

33 Geologika/ 3 Standing Batuan 14x10x6 GBA2


Geografika Dimensi Display Malihan
Marmer

34 Geologika/ 3 Standing Batuan 12x6x7 GBA3


Geografika Dimensi Display Malihan
Genes

35 Geologika/ 3 Standing Batuan 16x14x3 GBA4


Geografika Dimensi Display Malihan
Sekis-
mika
36 Geologika/ 3 Standing Batuan 10x7x7 GBA5
Geografika Dimensi Display Bekuan
Andesit

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 120


37 Geologika/ 3 Standing Batuan 9x9x6 GBA6
Geografika Dimensi Display Bekuan
Batu
Apung

38 Geologika/ 3 Standing Batuan 8x8x5 GBA7


Geografika Dimensi Display Bekuan
Batu
Basal

39 Geologika/ 3 Standing Batuan 14x18x20 GBA8


Geografika Dimensi Display Bekuan
Perlit

40 Geologika/ 3 Wall GBA9


Geografika Dimensi Display

41 Geologika/ 3 Wall Batuan GBA10


Geografika Dimensi Display Bekuan
Perlit

Koleksi Replika
42 Biologika 3 Wall Replika GRE1
Dimensi Display Satwa
langka

43 Biologika 3 Wall Penyu 60x90x40 GRE2


Dimensi Display

44 Biologika 3 Wall Buaya 50x120x40 GRE3


Dimensi Display

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 121


Koleksi Lantai 2

Nama Bidang Jenis Nama Dimensi


No. Dokumentasi Kode
Kasifikasi Dimensi Display Koleksi (cm)

KOLEKSI BAJU ADAT


1 Etnografi 3 Wall Busana 300 X450 EBA1
Dimensi Display Santana

2 Etnografi 3 Wall Busana 300 X450 EBA2


Dimensi Display Menak

3 Etnografi 3 Wall Busana 300x450 EBA3


Dimensi Display Penganti
n
Sukapura
4 Etnografi 3 Wall Busana 200x200 EBA4
Dimensi Display Penganti
n
Cirebon

5 Etnografi 3 Wall Busana 300x450 EBA5


Dimensi Display Penganti
n
Leluhur
Sumedan
g
6 Etnografi 3 Wall Busana 200x200 EBA6
Dimensi Display Penganti
n
7Karawa
ng

7 Etnografi 3 Wall Model 200x200 EBA2


Dimensi Display Busana 7
Penganti
n Abah-
Abah
KOLEKSI MAHKOTA

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 122


8 Etnografi 3 Wall Mahkota 120x60 EMA
Dimensi Display Ibu Padi 1
:
1.Raja
2.Permai
suri
3.Prajurit
KOLEKSI RUMAH ADAT
9 Etnografi 3 Standing Suhunan 45x45x40 ERA1
Dimensi Display Limasan

10 Etnografi 3 Standing Suhunan 45x45x40 ERA2


Dimensi Display Julang
Ngapak

11 Etnografi 3 Standing Suhunan 45x45x40 ERA3


Dimensi Display Jubleg
Nangkub

12 Etnografi 3 Standing Suhunan 45x45x40 ERA4


Dimensi Display Parahu
Kumureb

13 Etnografi 3 Standing Suhunan 45x45x40 ERA5


Dimensi Display Badak
Heuay

14 Etnografi 3 Standing Suhunan 45x45x40 ERA6


Dimensi Display Jolopong

KOLEKSI RELIGI
15 Etnografi 2 Poster Agama 240x125 ERI1
Dimensi Display Islam

16 Etnografi 3 Diorama Bale 330x550 ERI2


Dimensi

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 123


17 Etnografi 2 Poster Tanpa 75x75 ERI3
Dimensi Display Nama

18 Etnografi 2 Poster Kaligrafi 50x40 ERI4


Dimensi Display Arab
Macan
Ngali

19 Etnografi 2 Poster Kaligrafi 37x47 ERI5


Dimensi Display Arab
Gedung
Jinem

20 Etnografi 2 Poster Momolo 35x35x50 ERI6


Dimensi Display (Hindu)

21 Etnografi 3 Standing Kong Hu 45x35x35 ERI7


Dimensi Display Chu dan
Taoisme

22 Etnografi 3 Standing Tutup 70x12x12 ERI8


Dimensi Display Nisan 0

KOLEKSI TAMPILAN RUANG


23 Etnografi 3 Diorama/ Ruang 300x450 ETR1
Dimensi Replika Kelas
Ruang

24 Etnografi 3 Diorama/ Dapur 300x300x ETR2


Dimensi Replika 40
Ruang

25 Etnografi 3 Diorama/ Tanpa 300x300x ETR3


Dimensi Replika Nama 40
Ruang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 124


26 Etnografi 3 Diorama/ Tata 500x300x ETR4
Dimensi Replika Ruang 40
Ruang Rumah
Bangsaw
an
27 Etnografi 3 Diorama/ Tempat 300x350 ETR5
Dimensi Replika Tidur
Ruang Perunggu

28 Etnografi 2 Poster Rumah 90x100 ETR6


Dimensi Display Tinggala
n
Kolonial
KOLEKSI NASKAH
29 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA1
Dimensi Display Al-Quran

30 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA2


Dimensi Display Babulhak
Babad
Cirebon

31 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA3


Dimensi Display Babad
Banten

32 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA4


Dimensi Display Hikayat
Syeh
Abdul
Qadir
Jaelani
(SAQJ)
33 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA5
Dimensi Display Wawaca
n Buhaer

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 125


34 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA6
Dimensi Display Nitisruti

35 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA7


Dimensi Display Riwayat
Nabi
Muham
mad
SAW
36 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA8
Dimensi Display Wawaca
n
Ciungwa
nara
37 Filologika 3 Wall Naskah 35x25x10 FNA9
Dimensi Display Pustaka
Rajya-
Rajya
38 Filologika 3 Wall Naskah 22x35 FNA1
Dimensi Display Kisah 0
Nabi
Yusuf
AS
KOLEKSI PERLENGKAPAN RUMAH TANGGA
39 Keramologi 3 Wall Kendi 20x20x35 KPR1
Dimensi Display Leher
Panjang

40 Keramologi 3 Wall Buli-buli 10x10x10 KPR2


Dimensi Display

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 126


41 Keramologi 3 Wall Kowi 10x10x10 KPR3
Dimensi Display

42 Keramologi 3 Wall Tanpa 10x10x10 KPR4


Dimensi Display Nama

43 Keramologi 3 Wall Keren 12x12x15 KPR5


Dimensi Display

44 Keramologi 3 Wall Keren 12x12x25 KPR6


Dimensi Display

45 Keramologi 3 Wall Keren 30x25x15 KPR7


Dimensi Display

46 Keramologi 3 Wall Piring 18x18x10 KPR8


Dimensi Display

47 Keramologi 3 Wall Periuk 20x20x30 KPR9


Dimensi Display

48 Keramologi 3 Wall Periuk 20x20x30 KPR


Dimensi Display 10

Koleksi Mata Pencaharian (Berladang, Nelayan dan Bersawah)

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 127


49 Teknologika 3 Standing Menangk 180x180x TMP1
Dimensi Display ap Ikan 120

50 Teknologika 3 Standing Naya 200x60x1 TMP2


Dimensi Display 00

51 Teknologika 3 Standing Singkal 300x100x TMP3


Dimensi Display 60

52 Teknologika 3 Standing Gintiran 50x50x70 TMP4


Dimensi Display

53 Teknologika 3 Standing Caplak 200x150x TMP5


Dimensi Display 10

54 Teknologika 3 Standing Lalandak 250x35x3 TMP6


Dimensi Display an dan 5
Kukuyaa
n
55 Teknologika 3 Standing Pasangan 130x40x1 TMP7
Dimensi Display 5

56 Teknologika 3 Standing Garu 300x120x TMP8


Dimensi Display 80

57 Teknologika 3 Standing Tanpa 90x90x10 TMP9


Dimensi Display Nama 0

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 128


58 Teknologika 3 Wall Etem 100x40x5 TMP
Dimensi Display 0 10

59 Teknologika 3 Wall Timba 60x40x40 TMP


Dimensi Display Pring 11

60 Teknologika 3 Wall Aseuk/T 5x5x120 TMP


Dimensi Display ugal 12

61 Teknologika 3 Wall Kolotok 25x10x20 TMP


Dimensi Display 13

62 Teknologika 3 Wall Parang 12x40x5 TMP


Dimensi Display 14

63 Teknologika 3 Wall Congkra 12x40x5 TMP


Dimensi Display ng 15

64 Teknologika 3 Wall Pacul 25x30x80 TMP


Dimensi Display 16

65 Teknologika 3 Wall Kored 10x15x20 TMP


Dimensi Display 17

Koleksi Sistem Pengetahuan


66 Teknologika 3 Wall Batu 35x40x40 TST1
Dimensi Display Pipisan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 129


67 Teknologika 3 Wall Kalung 50x40x3 TST2
Dimensi Display Tamiang

68 Teknologika 3 Wall Sastra 5x30x15 TST3


Dimensi Display

69 Teknologika 3 Wall Waroge 5x5x20 TST5


Dimensi Display

70 Teknologika 3 Wall Tunduk 10x20x2 TST6


Dimensi Display

71 Teknologika 3 Wall Kolenjer 6x8x2 TST7


Dimensi Display

72 Etnografi 3 Wall Upacara 200x120x TST8


Dimensi Display Mapang 80
Sri

73 Etnografi 2 Poster Peta 240x125 TST9


Dimensi Display Kampun
g Naga

Koleksi Lantai 3

No. Nama Bidang Jenis Nama Dimensi (cm) Dokumentasi Kode


Kasifikasi Dimensi Display Koleksi P L T Kole
ksi
KOLEKSI MATA UANG
1 Numisama 2 Wall Masa 80 30 TST6
tika Dimensi Display Prasejara
h
(Barter)
2 Numisama 2 Wall Mata 40 70
tika Dimensi Display Uang
Kerajaan
Islam

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 130


3 Numisama 2 Wall Sejarah 40 60
tika Dimensi Display Mata
Uang
Kerajaan
Hindu-
Budha

4 Numisama 2 Wall Sejarah 80 40


tika Dimensi Display Mata
Uang
Hindia
Belanda
5 Numisama 2 Wall Contoh 40 70
tika Dimensi Display Alat
Tukar
pada
Masa
Lampau
6 Numisama 2 Wall Sejarah 80 40
tika Dimensi Display Mata
Uang
Pendudu
k Jepang
7 Numisama 2 Wall Sejarah 80 40
tika Dimensi Display Mata
Uang
Republik
Indonesi
a
8 Numisama 2 Poster Numism 40 60
tika Dimensi Display atika

KOLEKSI ALAT UKUR


10 Heraldika 3 Wall Timbang 40 40 30
Dimensi Dislay an
Gantung

11 Heraldika 3 Wall Timbang 20 20 50


Dimensi Dislay an
Duduk

12 Heraldika 3 Wall Neraca 10 15 3


Dimensi Dislay Penimba
ng Emas

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 131


13 Heraldika 3 Wall Dacin 120 60 80
Dimensi Dislay

14 Heraldika 3 Wall Timbang 20 30 40


Dimensi Dislay an Kipas

15 Heraldika 3 Wall Timbang 40 20 30


Dimensi Dislay an
Viktoria

16 Heraldika 3 Wall Timanga 20 15 20


Dimensi Dislay n Perahu

17 Heraldika 3 Wall Timbang 20 15 15


Dimensi Dislay an Entog

Koleksi Alat Musik


18 Seni Rupa 3 Wall Angklun 60 60 70
Dimensi Dislay g Buhun

19 Seni Rupa 3 Wall Nama 150 20 150


Dimensi Dislay Tidak
Terlihat

20 Seni Rupa 3 Wall Angklun 80 60 120


Dimensi Dislay g Gubrag

21 Seni Rupa 3 Wall Terebang 30 30 30


Dimensi Dislay

22 Seni Rupa 3 Wall Goong 25 25 40


Dimensi Dislay Buyung

23 Seni Rupa 3 Wall Celempu 40 10 10


Dimensi Dislay ng
Bambu

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 132


24 Seni Rupa 3 Wall Calung 60 20 5
Dimensi Dislay Renteng

25 Seni Rupa 3 Wall Celempu 15 15 30


Dimensi Dislay ng Kayu

26 Seni Rupa 3 Wall Kacapi 60 40 15


Dimensi Dislay Rincik

27 Seni Rupa 3 Wall Rebab 70 40 15


Dimensi Dislay

28 Seni Rupa 3 Wall Kacapi 50 40 15


Dimensi Dislay Siter

29 Seni Rupa 3 Wall Kacapi 60 30 15


Dimensi Dislay Indung

30 Seni Rupa 3 Wall Tarawan 20 20 40


Dimensi Dislay gsa

31 Seni Rupa 3 Wall Karindin 40 5 5


Dimensi Dislay g
32 Seni Rupa 3 Wall Terompe 40 5 5
Dimensi Dislay t

34 Seni Rupa 3 Wall Taleot 20 5 5


Dimensi Dislay

KOLEKSI WAYANG
35 Seni Rupa 3 Wall Wayang 150 40 70
Dimensi Dislay Golek

36 Seni Rupa 3 Wall Wayang 150 40 70


Dimensi Dislay Golek

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 133


37 Seni Rupa 3 Wall Wayang 150 40 70
Dimensi Dislay Golek

38 Seni Rupa 3 Wall Wayang 300 120


Dimensi Dislay Beber

KOLEKSI GAMELAN
39 Seni Rupa 3 Diorama Gendang 100 40 60
Dimensi

40 Seni Rupa 3 Diorama Gong 200 80 150


Dimensi

41 Seni Rupa 3 Diorama Gamelan 500 400 30


Dimensi

KOLEKSI MUSISI SUNDA


42 Seni Rupa 2 Wall 25 40
Dimensi Display

43 Seni Rupa 3 Wall 60 30 120


Dimensi Display

44 Seni Rupa 3 Wall 60 30 120


Dimensi Display

45 Seni Rupa 2 Wall 25 40


Dimensi Display

Koleksi Hasil Bumi


46 Historika 3 Wall 300 400
Dimensi Display

47 Historika 3 Wall 300 400


Dimensi Display

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 134


48 Historika 3 Wall 300 400
Dimensi Display

49 Historika 3 Wall 300 400


Dimensi Display

50 Historika 3 Wall 300 400


Dimensi Display

51 Historika 3 Wall 300 400


Dimensi Display

52 Historika 3 Wall 300 400


Dimensi Display

53 Historika 3 Wall 300 400


Dimensi Display

54 Historika 3 Diorama 600 150


Dimensi

55 Historika 3 Diorama 150 300


Dimensi

56 Historika 3 Diorama 720 200


Dimensi

57 Historika 3 Diorama 150 300


Dimensi

58 Historika 3 Diorama 200 50 120


Dimensi

59 Historika 3 Diorama 120 250 120


Dimensi

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 135


60 Historika 3 Diorama 120 50 120
Dimensi

Koleksi Void

No. Nama Bidang Jenis Nama Dimensi Dokumentasi Kode


Kasifikasi Dimensi Display Koleksi Koleksi
KOLEKSI ARCA
1 Geologika/ 3 Standing Arca GAR1
Geografika Dimensi Display Nenek
Moyang Keterang
an
penamaa
n kode

G:
Geologi
AR :
Arca

2 Geologika/ 3 Standing Arca GAR2


Geografika Dimensi Display Tipe
Polinesia

3 Geologika/ 3 Standing Replika GAR3


Geografika Dimensi Display Arca
Megaliti
k
4 Geologika/ 3 Standing Arca GAR4
Geografika Dimensi Display Nenek
Moyang

5 Geologika/ 3 Standing Replika GAR5


Geografika Dimensi Display Arca
Megaliti
k
6 Geologika/ 3 Standing Arca GAR6
Geografika Dimensi Display Nenek
Moyang

7 Geologika/ 3 Standing Arca GAR7


Geografika Dimensi Display Gajah
Tipe
Megaliti
k
8 Geologika/ 3 Standing GAR8
Geografika Dimensi Display

9 Geologika/ 3 Standing Arca GAR9


Geografika Dimensi Display Ganesha

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 136


10 Geologika/ 3 Standing Replika GAR10
Geografika Dimensi Display Arca
Tipe
Pajajaran
11 Geologika/ 3 Standing Arca GAR11
Geografika Dimensi Display Wisnu
Cibuaya

12 Geologika/ 3 Standing GAR12


Geografika Dimensi Display

13 Geologika/ 3 Standing GAR13


Geografika Dimensi Display

14 Geologika/ 3 Standing Arca GAR14


Geografika Dimensi Display Gajah

15 Geologika/ 3 Standing Arca GAR15


Geografika Dimensi Display Gajah

16 Geologika/ 3 Standing Arca GAR16


Geografika Dimensi Display Padmapa
ni

17 Geologika/ 3 Standing Arca GAR17


Geografika Dimensi Display Parwati

18 Geologika/ 3 Standing Patung GAR18


Geografika Dimensi Display Ganesha

19 Geologika/ 3 Standing Arca GAR19


Geografika Dimensi Display Siwa
Mahade
wa
20 Geologika/ 3 Standing Arca GAR20
Geografika Dimensi Display Siwa

21 Geologika/ 3 Standing Arca GAR21


Geografika Dimensi Display Agastya

22 Geologika/ 3 Standing Arca GAR22


Geografika Dimensi Display Siwa
Mahade
wa
23 Geologika/ 3 Standing Arca GAR23
Geografika Dimensi Display Brahma

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 137


24 Geologika/ 3 Standing Arca GAR24
Geografika Dimensi Display Nandi
dan
Lingga
dan Yoni
25 Geologika/ 3 Standing Arca GAR25
Geografika Dimensi Display Kepala
Budha

KOLEKSI BATUAN PURBA


26 Geologika/ 3 Standing Batu GBP1
Geografika Dimensi Display Dakon

27 Geologika/ 3 Standing Menhir GBP2


Geografika Dimensi Display dan Altar

28 Geologika/ 3 Standing Batu GBP3


Geografika Dimensi Display Candi
Karawan
g

29 Geologika/ 3 Standing Batu GBP4


Geografika Dimensi Display Candi
Karawan
g

30 Geologika/ 3 Standing Batu GBP5


Geografika Dimensi Display Candi
Karawan
g
31 Geologika/ 3 Standing Yantra GBP6
Geografika Dimensi Display

32 Geologika/ 3 Standing Yantra GBP7


Geografika Dimensi Display

33 Geologika/ 3 Standing Votif GBP8


Geografika Dimensi Display Tablet

34 Geologika/ 3 Standing Votif GBP9


Geografika Dimensi Display Tablet

35 Geologika/ 3 Standing Votif GBP10


Geografika Dimensi Display Tablet

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 138


36 Geologika/ 3 Standing GBP11
Geografika Dimensi Display

37 Geologika/ 3 Standing GBP12


Geografika Dimensi Display

38 Geologika/ 3 Standing GBP13


Geografika Dimensi Display

39 Geologika/ 3 Standing GBP14


Geografika Dimensi Display

40 Geologika/ 3 Standing GBP15


Geografika Dimensi Display

41 Geologika/ 3 Standing GBP16


Geografika Dimensi Display

KOLEKSI PERKAKAS PURBA


42 Geologika/ 3 Standing Periuk GPP1
Geografika Dimensi Display

43 Geologika/ 3 Standing Belincun GPP2


Geografika Dimensi Display g

44 Geologika/ 3 Standing Kalung GPP3


Geografika Dimensi Display dan
Gelang

45 Geologika/ 3 Standing Kapan GPP4


Geografika Dimensi Display Sepatu

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 139


46 Geologika/ 3 Standing Lampu GPP5
Geografika Dimensi Display Delepak

47 Geologika/ 3 Standing GPP6


Geografika Dimensi Display

48 Geologika/ 3 Standing GPP7


Geografika Dimensi Display

49 Geologika/ 3 Standing Lampu GPP8


Geografika Dimensi Display Delepak

KOLEKSI FOSIL MANUSIA PURBA


50 Geologika/ 3 Standing Atap GFM1
Geografika Dimensi Display Tengkora
k

51 Geologika/ 3 Standing Atap GFM2


Geografika Dimensi Display tengkora
k dan
Rahang
bawah
52 Geologika/ 3 Standing Atap GFM3
Geografika Dimensi Display Tengkora
k

53 Geologika/ 3 Standing Tengkora GFM4


Geografika Dimensi Display k

54 Geologika/ 3 Standing Tulang GFM5


Geografika Dimensi Display belulang

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 140


B. Tabel Kebutuhan Ruang
Tabel Kebutuhan Ruang Pameran Tetap

No KEDU RUANG PENGGUNA AKTIVITAS FASILITAS DIMENSI UNIT KEBU KEBUTU SIRKUL TOTAL
DUKA P L T TUHA HAN ASI
N N PENGGU
RUAN FURNI NA
G TURE
1 Publik Ruang Karyawan Menjual Tiket Meja 2 0,6 0,8 1 1,2 1,2 m²/org 40% x 21.85
Tiket Kursi 0.45 0,45 0,4 2 0,405 X 10 = 15.605
Lemari 2 0,5 1,8 2 2 12m² = 6.24
Pengunjung m²
2 Publik Receptio Karyawan Memberikan Meja 2 0,7 0,8 1 1,4 1,2 m²/org 40% x 17.09
nist informasi X7 12.207
Mendata Kursi 0,45 0,45 0,4 3 0,607 = 8,4m² = 4.88
lemari 1,5 0,6 1,8 2 1,8 m²
Pengunjung Wawancara
Mencari
Informasi
3 Publik Ruang Pengunjung Keluar Bench 2 0,4 0,45 3 2.4 Pengguna 50% x 122.11
Tunggu Masuk Screen 1 0,3 1,5 2 0.6 normal 81.405
display 1,2 m²/org = 40.7
Menunggu X 50 = 60 m²

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 142


Berkumpul m²
Melihat Pengunjun
koleksi g
Istirahat Disabilitas
Scurity Pengecekan Meja 2 0,7 0,8 1 1,4 0,91
pengamanan Kursi 0,45 0,45 0,4 2 0,405 m²/org x
10 = 9,1

4 Publik Area Pengunjung Melihat Objek Pengguna
Void Mengamati normal
Melakukan 1,2 m²/org
interaksi X 80 =
Berkeliling 96m²
Pengunjun
g
Disabilitas
0,91
m²/org x
15=
13,65m²
Karyawan Menjelaskan Vitrin Besar Jarak
1:1 Pandang
Mengawasi Vitrin Kecil 1,5 X 0,75
1:5 X 25 =
Touch 28,125m²

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 143


screen
Information
Panel
5 Publik Area Pengunjung Melihat Objek Pengguna 70% x 242.37
Pameran Mengamati normal 142.57
Lantai 1 Melakukan 1,2 m²/org = 99.8
interaksi X 80 = m²
Berkeliling 96m²
Pengunjun
g
Disabilitas
0,91
m²/org x
15=
13,65m²
Karyawan Menjelaskan Total 4.6576 Jarak
kebutuhan Pandang
objek 1,5 X 0,75
pameran X 25 =
Mengawasi Touch 0.2 0.4 1 0.08 28,125m²
screen
Information
Panel 0.2 0.3 0.06
6 Publik Area Pengunjung Melihat Objek Pengguna 70% x 521.18
Pameran Mengamati normal 306.58

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 144


Lantai 2 Melakukan 1,2 m²/org = 214.6
interaksi X 80 = m²
Berkeliling 96m²
Pengunjun
g
Disabilitas
0,91
m²/org x
15=
13,65m²
Karyawan Menjelaskan Total 166.55 Jarak
kebutuhan 2 Pandang
objek 1,5 X 0,75
pameran X 25 =
Mengawasi Touch 0.2 0.4 1 10 0.8 28,125m²
screen
Information
Panel 0.2 0.3 25 1.5
7 Publik Area Pengunjung Melihat Objek Pengguna 70% x 518.39
Pameran Mengamati normal 304.93
Lantai 3 Melakukan 1,2 m²/org = 213.45
interaksi X 80 = m²
Berkeliling 96m²
Pengunjun
g

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 145


Disabilitas
0,91
m²/org x
15=
13,65m²
Karyawan Menjelaskan Total 165.06 Jarak
kebutuhan Pandang
objek 1,5 X 0,75
pameran X 25 =
Mengawasi Touch 0.2 0.4 1 15 1.2 28,125m²
screen
Information
Panel 0.2 0.3 15 0.9
8 Publik Area Pengunjung Melihat Objek Pengguna
Masterpi Mengamati normal
ece Melakukan 1,2 m²/org
interaksi X 40 =
Berkeliling 48m²
Pengunjun
g
Disabilitas
0,91
m²/org x
5=
4.55m²

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 146


Karyawan Menjelaskan Touch Jarak
screen Pandang
Information 1,5 X 0,75
Mengawasi Panel X 15 =
16.875m²
9 Service Toilet Pengunjung Berkaca Wastafel 0,5 0,4 0,8 2 0,4 1,2 m²/org 40% x 16.24
Pria Karyawan Mencuci muka Closet 0,75 0,53 0,5 3 1,193 X 6 = 11.598
Mencuci Urinoir 0,45 0,3 0,8 3 0,405 7,2m² = 4.64
tangan m²
BAB/BAK Cermin 2 1,2 0,8 1 2,4
10 Service Toilet Pengunjung Berkaca Wastafel 0,5 0,4 0,8 3 0,6 1,2 m²/org 40% x 19.87
Wanita Karyawan Mencuci muka Closet 0,75 0,53 0,5 4 1,59 X 8 = 14.19
Mencuci Cermin 2 1,2 0,8 1 2,4 9,6m² = 5.68
tangan m²
BAB/BAK
MakeUp
1479.1

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 147


Tabel Kebutuhan Ruang Kantor

No KEDU RUANG PENGGUNA AKTIVITAS FASILITAS DIMENSI UNIT KEBU KEBUTU SIRKUL TOTAL
DUKA P L T TUHA HAN ASI
N N PENGGU
RUAN FURNI NA
G TURE
LANTAI 1
1 Private Loading- Karyawan Menurunkan Rak 2 0,6 1,5 20 24 1,2 m²/org 100% x 69.21
dock Barang Penyimpana X 8 34.605
n =9,6m² =
Menaikan Meja 1 0,6 0,8 1 0,6 34.605m²
Barang
Memindahkan Kursi 0,45 0,45 0,5 2 0,405
Barang
2 Service Mushola Pengeunjung Ibadah Lemari 1,5 0,6 1,8 1 0,9 1,2 m²/org 30% x 36.686
Karyawan Rak Buku 0,8 0,4 0,8 1 0,32 X 20 28.22
Tempat 2 1,5 1 3 =24m² = 8.47m²
Wudhu
3 Service Toilet Pengunjung Berkaca Wastafel 0,5 0,4 0,8 2 0,4 1,2 m²/org 40% x 16.24
Pria Karyawan Mencuci muka Closet 0,75 0,53 0,5 3 1,193 X 6 = 11.598
Mencuci Urinoir 0,45 0,3 0,8 3 0,405 7,2m² = 4.64
tangan m²
BAB/BAK Cermin 2 1,2 0,8 1 2,4

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 148


4 Service Toilet Pengunjung Berkaca Wastafel 0,5 0,4 0,8 3 0,6 1,2 m²/org 40% x 19.87
Wanita Karyawan Mencuci muka Closet 0,75 0,53 0,5 4 1,59 X 8 = 14.19
Mencuci Cermin 2 1,2 0,8 1 2,4 9,6m² = 5.68
tangan m²
BAB/BAK
MakeUp
5 Private Ruang Tamu Menerima Meja 1,5 0,6 0,8 2 1,8 1,2 m²/org 40% x 14.58
Tamu tamu X 5 = 6m² 10.4125
Karyawan Berbincang Kursi 0,45 0,45 0,5 5 1,0125 = 4.16
Melakukan Rak Buku 2 0,4 1,5 2 1,6 m²
Administrasi
6 Private Ruang OB Berkumpul Meja 2 0,8 0,8 2 3,2 1,2 m²/org 60% x 53.7
Karyawa Cleaning Istirahat Kursi 0,4 0,4 0,5 15 2,4 X 15 = 33.56
n Service Pantry 2,5 0,6 0,9 1 1,5 18m² = 20.14
Rak 0,8 0,6 1,8 2 0,96 m²
Penyimpana
n
Locker 3 0,5 1,8 5 7,5
7 Private Ruang Karyawan Memindahkan Meja 1,2 0,6 0,8 1 0,72 1,2 m²/org 100% x 34.25
Gudang barang X 5 = 6m² 17,125
Menyimpan Kursi 0,45 0,45 0,5 2 0,405 = 17.125
Barang m²
Mendata Rak 2 0,5 1,8 10 10
Barang Penyimpana

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 149


n
1 Private Ruang Karyawan Memindahkan Meja 2 0,8 0,8 4 6,4 1,2 m²/org 70% x 47.74
Isolasi barang X 8 = 28.08
Merawat Kursi 0,4 0,4 0,6 8 1,28 9,6m² = 19.66
barang m²
Menyimpan Lemari 2 0,6 1,8 3 3,6
barang
Rak 1,5 0,6 1,5 4 3,6
Penyimpana
n
Rak Buku 2 0,4 1,8 2 1,6
Rak 2 0,5 1,5 2 2
Peralatan
2 Private Ruang Karyawan Melakukan Meja 2 0,8 0,8 2 3,2 1,2 m²/org 70% x 20.81
Isolasi & Pengasapan X 4 = 12.24
Fumigasi Memindahkan Kursi 0,4 0,4 0,5 4 0,64 4,8m² =8.57 m²
barang
Merawat Rak 2 0,5 1,8 3 3
barang Penyimpana
n
Rak 1,2 0,5 1,5 1 0,6
Peralatan
3 Private Ruang Karyawan Pengasaman Meja 2 0,8 0,8 2 3,2 1,2 m²/org 70% x 17.07
Asam Memindahan Kursi 0,4 0,4 0,5 4 0,64 X 4 = 10.04
Barang 4,8m² = 7.03

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 150


Merawat Rak 1 0,5 1,5 1 0,5 m²
Barang Peralatan
Rak 1,5 0,6 1,8 1 0,9
Penyimpana
n
4 Private Ruang Karyawan Menyimpan Rak 3 0,8 1,5 2 4,8 1,2 m²/org 100% x 14.4
Guci Guci Penyimpana X 2 = 7.2
n 2,4m² = 7.2 m²
Memindahakn
Guci
Membersihkan
Guci
Mendata Guci
5 Private Bengkel Karyawan Memindahkan Meja 2 0,8 0,8 6 9,6 1,2 m²/org 70% x 62.05
Kerja barang X 15= 36.5
Memperbaiki Kursi 0,4 0,4 0,5 15 2,4 18m² = 25.55
koleksi m²
Mendata Rak 1 0,5 1,5 4 2
koleksi Peralatan
Membersihkan Rak 1,5 0,6 1,8 5 4,5
koleksi Penyimpana
n
Memindai
koleksi
Pemilihan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 151


Koleksi
6 Private Ruang Karyawan Memindahkan Meja 2 0,8 0,8 8 12,8 1,2 m²/org 70% x 51 86.7
Study barang X 20= = 35.7
Koleksi Mendata Kursi 0,4 0,4 0,5 20 3,2 24m² m²
Barang
Menyimpan Rak Buku 1 0,5 1,5 10 5
Barang
Lemari 1,5 0,5 1,8 8 6
7 Private Ruang Petugas Berkumpul Meja 2 0,8 0,8 15 24 1,2 m²/org 60% x 123.36
Karyawa Karyawan Istirahat Kursi 0,4 0,4 0,5 30 4,8 X 30 = 77.1
n Rak 0,8 0,6 1,8 10 4,8 36m² = 46.26
Penyimpana m²
n
Locker 3 0,5 1,8 5 7,5
8 Private Gudang Karyawan Memindahkan Rak 2 0,6 1,8 10 12 1,2 m²/org 100% x 33.6
barang Penyimpana X 4 = 16.8
n 4,8m² = 16.8
OB Meletakan
Barang
Cleaning Menyimpan
Service Barang
650.266

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 152


C. Bubble Diagram Museum Sri Baduga
Bubble Diagram Master Plan

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 159


Bubble Diagram Bangunan Ruang Pameran Tetap

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 160


DAFTAR PUSTAKA

Maryati Sastrawijaya. 1985. Adat Istiadat Orang Sunda. Bandung: Alumni

Koentjaraningrat. (1990). Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.

Idat A. Djayasudarma. “Studi Kasus Undak-Unduk Basa Sunda: Pangrewong Kana


sabagian makalah Ajip Rosidi”, terhimpun dalam Majalah Basa Sunda: Mangle,
No.1055/Th.XXIX, 7-13 Agustus 1986:22-214

Nuefert, Ernst(1996), Data Arsitek Jilid 1. Terjemahan oleh Sunarto Tjahjadi. Jakarta :
Erlangga

Callender, Chiara (1983), Time-Saver Standards for Building Types, Second Edition.
Singapore: McGraw-Hill Publiching Company

Muhammad Azrorry. 2012. Motif-Motif Ukir Tradisional. Diakses dari


http://bloggazrorry.blogspot.co.id/2012/12/motif-motif-ukirtradisional.html pada tanggal
17 Maret 2017 23.03 WIB

PERANCANGAN REDESAIN MUSEUM SRI BADUGA BANDUNG | 161