You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hookworm Disease atau penyakit cacing tambang adalah infeksi cacing
umum yang didominasi oleh parasit nematoda Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale. Infeksi cacing tambang diperoleh melalui paparan kulit
terhadap larva di tanah yang terkontaminasi oleh kotoran manusia. Di seluruh
dunia, cacing tambang menginfeksi sekitar 440 juta orang.1,2 Menurut data World
Health Organisation (WHO) tahun 2005, memperkirakan 198 juta orang
dikawasan Sub Sahara, Afrika terinfeksi, 149 juta orang terinfeksi di kawasan
Asia Timur dan Pasifik, 71 juta di India, 59 juta di Asia Selatan, 50 juta di
Amerika Latin dan Karbia, 39 juta di Cina, dan 10 juta di Timur Tengah dan
Afrika Utara. Infeksi cacing tambang berhubungan erat dengan sanitasi yang
buruk, kemiskinan, konstruksi rumah yang buruk, dan kurangnya akses untuk
mendapat pelayananan kesehatan.3
Prevalensi infeksi cacing pada anak lebih tinggi karena mereka belum
mengerti benar arti kesehatan dan kebersihan. Hasil survey infeksi cacing
tambang sekolah dasar di 27 provinsi Indonesia pada tahun 2002 sebanyak 2,4%,
tahun 2003 sebanyak 0,6%, pada tahun 2004 sebanyak 5,1%, tahun 2005
sebanyak 1,6%, dan pada tahun 2006 sebanyak 1,0%.4
Prevalensi infeksi cacing tambang terbanyak pada daerah perkebunan,
seperti di perkebunan karet di Sukabumi, Jawa Barat sebanyak 93,1% dan pada
perkebunan kopi di Jawa Timur 80,69%.5 Sedangkan pada Desa Rejoso
Kecamatan Karang Kabupaten Damai pada sekolah dasar (SDN) dengan 173
siswa, data tahun kemarin menunjukkan bahwa infeksi cacing tambang pada siswa
SDN Rejoso 20,5%. Hal tersebut dikarenakan masih adanya perilaku buang air
besar disekitar rumah, dan perilaku anak-anak yang biasa bermain dengan tanah.
Di Desa Rejoso, memiliki wilayah perkebunan seluas 5000 hektar berupa
tanah kering yang merupakan tanah yang sesuai dengan perkembangan cacing
tambang. Namun di desa tersebut, kepala keluarga (KK) umumnya berpendidikan
sekolah menengah dan dasar dengan profesi tani atau buruh. Penghasilan orang

1
tua siswa sebagian besar masih dibawah upah minimum kota (UMK). Dalam
kegiatan pekerjaan mereka KK umumnya tidak menggunakan alas kaki.
Berdasarkan kasus pada Desa Rejoso Kecamatan Karang Kabupaten
Damai terdapat beberapa kesamaan penyebab terjadinya infeksi cacing tambang
dengan daerah lain. Jadi perlu adanya penanggulangan terhadap terjadinya infeksi
cacing tambang terutama pada Desa Rejoso Kecamatan Karang Kabupaten
Damai. Karena apabila tidak ditangani dengan baik maka dapat terjadi prevalensi
infeksi cacing tambang meningkat, anemia, dan intoksikasi pada penderita.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara menanggulangi terjadinya infeksi cacing tambang di Desa
Rejoso Kecamatan Karang Kabupaten Damai ?
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Menanggulangi terjadinya Infeksi cacing tambang di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.
2. Tujuan khusus
a. Perbaikan dan pembangunan fasilitas sanitasi MCK di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.
b. Penyuluhan tentang pencegahan infeksi cacing tambang di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.
c. Pemberian pengobatan pada masyarakat yang terinfeksi cacing tambang di
Desa Rejoso Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.

2
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Skenario
Hookworm disease
Desa Rejoso adalah salah satu desa di kecamatan Karang Kabupaten
Damai. Di desa tersebut terdapat Sekolah Dasar (SDN) dengan 173 siswa.
Data tahun kemarin menunjukan bahwa kejadian Infeksi Cacing tambang pada
siswa SDN rejoso 20,5%. Perilaku buang air besar di sekitar rumah 44,2%,
Perilaku anak anak yang biasa bermain dengan Tanah sebesar 54,2%. Kota
Damai Khususnya Kecamatan Karang Memiliki wilayah perkebunan seluas
5000 hektar berupa tanah kering yang merupakan tanah yg sesuai dengan
perkembangan Cacing tambang. Kepala keluarga umumnya 65% Rendah
dengan pekerjaan umumnya tani atau buruh tani (67%), Pemghasilan orang
tua siswa sebagian besar masih di bawah upah minimum (66%), sebanyak
83% rumah mereka memiliki perkarangan atau lahan pertanian dan dalam
menjalani pekerjaan 76% kepala keluarga tidak menggunakan alas kaki.
Bagaimana cara penanggulangan penyakit yang terdapat di desa tersebut.
B. Analisis
Dari kasus yang terjadi di Desa Rejoso Kecamatan Karang Kabupaten
Damai, data tahun kemarin menunjukkan bahwa infeksi cacing tambang pada
siswa SDN Rejoso sebanyak 20,5%. Hasil inventarisasi masalah terhadap
terjadinya infeksi cacing tambang di Desa Rejoso Kecamatan Karang Kabupaten
Damai antara lain sebagai berikut :
1. Perilaku buang air besar disekitar rumah.
Perilaku defekasi (buang air besar) yang kurang baik dan di sembarang
tempat diduga menjadi faktor risiko dalam infeksi cacing tambang. Cacing
dewasa hidup di dalam intestinum tenue (usus halus). Cacing betina dewasa
mengeluarkan telur dan telur akan keluar bersama dengan tinja.6 Pada waktu
keluar bersama feses biasanya masih berupa unsegment ovum atau berisis 2-8
blastomere yang akan berkembang lebih lanjut. Pada keadaan obstipasi kadang-
kadang didapatkan telur yang berisi morula atau bahkan larva.7 Adanya telur
cacing tambang pada tinja penderita yang melakukan aktifitas defekasi di tanah

3
terbuka semakin memperbesar peluang penularan larva cacing tambang pada
masyarakat di sekitarnya. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan
pencemaran tanah. Hal inilah yang menjadikan resiko kecacingan tinggi.
2. Perilaku anak anak yang biasa bermain dengan tanah.
Dari data yang di dapatkan, diketahui bahwa Desa Rejoso memiliki
perkebunan seluas 5000 hektar, berupa tanah kering yang merupakan tanah
yang sesuai dengan perkembangan cacing tambang. Apabila infektif larva dapat
bertahan 3 sampai 4 minggu dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan.
Pada kontak dengan inang manusia, larva menembus kulit dan dibawa melalui
pembuluh darah ke jantung dan kemudian ke paru-paru.7 Jadi perilaku pada
anak di Desa Rejoso yang biasa bermain dengan anak dapat menyebabkan
masuknya larva filariform masuk menembus ke kulit dan menyebabkan
terjadinya infeksi cacing tambang. Sehingga sangat dianjurkan untuk memakai
alas kaki ketika beraktivitas di luar rumah dan tidak bermain yang berhubungan
dengan tanah.
3. Wilayah perkebunan berupa tanah kering sesuai dengan perkembangan cacing
tambang.
Prevalensi infeksi cacing tambang terbanyak pada daerah perkebunan.5
Cacing tambang dan Strongyloides stercoralis memerlukan tanah pasir yang
gembur, bercampur humus dan terlindung dari sinar matahari langsung. Oleh
karena itu, tanah pada Desa Rejoso yang merupakan perkebunan dengan kondisi
tanah yang kering merupakan tempat yang mendukung untuk
berkembangbiaknya cacing tambang. Hal tersebut juga salah satu faktor risiko
terjadinya infeksi cacing tambang.
4. Kepala Keluarga umumnya bependidikan rendah
Rendahnya Pendidikan kepala keluarga merupakan faktor yang
mendukung kurangnya pemahamanan tentang resiko-resiko penyakit yang dapat
timbul akibat kurangnya menjaga kebersihan lingkungan peribadi, sekitar dan
terutama terhadap lingkungan keluarga, dan juga sulitnya untuk
mengaplikasikan kebiasan hidup bersih kepada diri sendiri dan lingkungan
keluarga.
5. Penghasilan KK yang minimum.
Penghasilan Kepala keluarga yang minimum ditambah dengan latar
belakang perkerjaan yang umumnya petani atau buruh tani , Bisa menjadi salah

4
satu alasan kurangnya ketersediaan alat-alat pelindung diri saat melakukan
pekerjaan atau aktifitas di perkebunan, itulah mengapa kepala keluarga di Desa
rejoso memiliki kebiasaan tidak menggunakan alas kaki tertutup saat
berada/berkontak dengan tanah saat lahan pertanian. Minimalnya ketersedian
dana juga berdampak penggunaannya tinja sebagai pupuk, dimana tinja
merupakan sumber infeksi cacing tambang.
6. Dalam kegiatan pekerjaan, kepala keluarga umumnya tidak menggunakan alas
kaki
Kaki merupakan bagian dari tubuh kita pertama yang melakukan kontak
langsung dengan tanah. Seperti yang telah dijelaskan bahwa apabila infektif
larva dapat bertahan 3 sampai 4 minggu dalam kondisi lingkungan yang
menguntungkan. Pada kontak dengan inang manusia, larva menembus kulit dan
dibawa melalui pembuluh darah ke jantung dan kemudian ke paru-paru.7 Maka
untuk menghindari masuknya telur atau larva cacing melalui perantaraan kulit
kaki perlu di lakukan upaya penggunaan alas kaki bagi para petani.

5
Dari hasil analisis data diatas, dapat disimpulkan dengan diagram fish bone sebagai berikut :

Input

PROSES

Penghasilan Kepala Keluarga yang


minimum
Tidak menggunakan alas Kaki
saat bekerja di sawah Kepala keluarga berpendidikan
rendah

Infeksi Cacing
Tambang/
Hookworm
Perilaku anak-anak yang biasa bermain dengan tanah disease
Wilayah perkebunan berupa tanah kering
yang sesuai dengan perkembangan cacing
tambang Perilaku buang air besar disekitar
rumah

LINGKUNGAN

Gambar 2.1 : Diagram Fish bone Kejadian Cacing Tambang di Desa Rejoso, Kecamatan Karang Kabupaten Damai

6
C. Pembahasan
1. Perbaikan dan pembangunan fasilitas sanitasi MCK di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.
a. Peran MCK dalam mencegah penularan cacing tambang

Ketersediaan WC sangat di perlukan sebagai sarana tempat


pembuangan tinja. Pembuangan tinja yang kurang memenuhi syarat kesehatan,
misalnya : tanah tergolong hospes perantara atau tuan rumah sementara,
tempat berkembangnya telur-telur atau larva cacing sebelum dapat menular
dari seseorang ke orang lain, yaitu larvanya yang ada di tinja menembus kulit
memasuki tubuh. Pembuangan tinja yang memenuhi persyaratan akan
mengurangi jumlah infeksi dan jumlah cacing. Hal ini penting di perhatikan
terutama bila berhubungan dengan anak-anak yang melakukan defekasi di
tanah (Ascaris & Trichuris). Ada hubungan signifikan antara ketersediaan
jamban SPAL dengan faktor risiko infeksi kecacingan pada anak.

b. Perbaikan dan pengadaan MCK


Dari data yang didapatkan , diketahui bahwa masih tingginya perilaku
buang air besar sekitar rumah, perilaku ini adalah salah satu faktor yang
berperan besar dalam penyebaran penyakit, disamping itu peranan tinja
dalam penyebaran penyakit dapat langsung mengkontaminasi makanan,
minuman, sayuran, air,tanah serangga (lalat,kecoa dan sebagainya).
Maka pentingnya untuk pengadaan dan perbaikan fasilitas MCK
sebagai upaya preventif penyebaran penyakit yang di oleh kotoran manusia,
Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan cepatnya
pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran penyakit-penyakit
yang ditularkan lewat tinja. Penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja
manusia antara lain: tipus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing (cacing
gelang, cacing kremi, cacing tambang, cacing pita) .
2. Penyuluhan tentang pencegahan infeksi cacing tambang di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.

Penyuluhan adalah suatu ilmu social yang mempelajari system dan proses
perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang
lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Dalam kasus ini penyuluhan tetang

7
pencegahan infeksi cacing tambang di Desa Rejoso Kecamatan Karang
Kabupaten Damai sebaiknya dilaksanakan.
Dalam penyuluhan ini penjelasan tentang cacing tambang yang paling sering
disebabkan oleh Cacing Ancylostoma duodenale dan Necator americanus, yaitu
Cacing dewasa yang tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan
dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Kemudian telurnya akan menetas
menjadi larva di luar tubuh manusia, yang kemudian masuk kembali ke tubuh
korban menembus kulit telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki. Larva akan
berjalan jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru
paru lalu dibatukan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau
seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen. Hospes parasit ini adalah manusia,
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus dengan giginya melekat pada mucosa
usus.
a. Sasaran (obyek) penyuluhan
1) Kepala keluarga
Rendahnya pendidikan formal masyarakat terutama kepala keluarga
yang sebagian besar(65%) adalah tamatan sekolah dasar dan sekolah
lanjutan pertama bisa saja menjadi salah satu alasan kurangnya
pengetahuan tentang penularan penyakit yang dapat terjadi akibat
kurangnya menjaga sanitasi lingkungan , terutama lingkungan rumah atau
keluarga. Mengingat sebagian besar pekerjaan kepala keluarga di Desa
Rejoso adalah Tani atau Buruh Tani yang sehari-hari nya bekerja di sawah
berhubungan dan sering berkontak langsung dengan tanah yang merupakan
tempat perkembanganya cacing tambang. Dari Data yang didapatkan juga
disebutkan bahwa sebagian besar kepala keluarga yang bekerja di
pekarangan/lahan pertanian masih sering tidak menggunakan alas kaki.
Maka penting dilakukannya penyuluhan terhadap kepala keluarga untuk
menghindari perilaku/kebiasaan yang dapat memicu terjadinya Infeksi
Cacing Tambang.
2) Murid-murid SDN Rejoso
Dari data yang di dapatkan diketahui bahwa terjadinya sejumlah
kasus Infeksi Cacing Tambang yang diaalami oleh murid -murid di SDN
Rejoso hal ini bisa saja dipicu oleh kebiasaan/perilaku anak anak yang
masih buang air besar di sekitar rumah dan perilaku sering bermain di

8
sekitar tanah ,mengingat dari data yang di dapatkan bahwa Desa Rejoso
Kecamatan Karang ,Kabupaten Damai memiliki perkebunan seluas 5000
hektar, berupa tanah kering yang merupakan tanah yang sesuai dengan
perkembangan Cacing Tambang. Maka pentingnya dilakukan penyuluhan
kepada anak-anak SD Rejoso untuk membiasakan mejaga kebersihan diri
sendiri dengan menghindari bermain di tanah dan mejaga kebersihan
jajanan/makanan dikonsumsi untuk mencegah terjadinya Infeksi Cacing
Tambang.
b. Tujuan penyuluhan
1) Meningkatkan pengetahuan tentang pengenalan tanda-tanda penderita
cacing tambang dan kemana mencari pertolongan pengobatan.

Secara umum, tanda yang terlihat pada anak yang terkena


kecacingan adalah :
a. Badan terasa lemah, neusea, sakit perut, lesu, anemia, penurunan berat
badan dan kadang-kadang diare dengan tinja berwarna hitam.
b. Pada infeksi ringan gangguan Gastro Intestinal ringan.
c. Menimbulkan anemia pada penderita.
d. Pada infeksi berat dapat meyebabkan gejala mual, muntah, anoreksia
bahkan ileus
e. Menimbulkan penyakit ”Ground itch” (cotaneous larva migrans)
dengan gejala :gatal-gatal, erythema, papula, erupsi dan vesicula pada
kulit.
Bila di dapatkan kecurigaan akan timbulnya gejala gejala tersebut
hal yang pertama kali harus di lakukan adalah segera membapenderita ke
rumah sakit atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan
segera apabila terlalu lama tidak ditangani dapat menimbulkan resiko
terjadinya komplikasi berupa Anemia, jika menimbulkan pendarahan.
2) Meningkatkan pemahaman bagaimana mencegah penularan cacing
tambang.
Langkah penting yang harus dilakukan dan dipahami untuk
mencegah terjadinya penularan Infeksi Cacing Tambang antara lain:

9
a. Meningkatkan pengetahuan tentang bahaya akan terjadinya penyakit
tesebut dan penularanya, dan penting juga untuk selalu menjaga
kebersihan diri sendiri dan lingkungan sekitar.
b. Pengadaan Fasilitas MCK keluarga, sehingga kotoran manusia tidak
menyebabkan pencemaran pada tanah disekitar lingkungan tempat
tinggal kita.
c. Menggunakan sarung tangan dan alas kaki yang tertutup saat berkontak
dengan tanah, terutama tanah yang dicurigai sudah tercemar dengan
kotoran manusia.
d. Menghindari penggunaan tinja sebagai Pupuk.
e. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan Aktifitas dengan
menggunakan sabun dan air mengalir.
c. Metode penyuluhan
1) Memanfaatkan waktu pertemuan warga sebagai media penyuluhan.
Pertemuan dengan warga sangat penting sebagai media untuk
menyampaikan informasi tentang tentang pentingnya sanitasi lingkungan
,pengadaan fasilitas MCK, penambahan pengetahuan tentang proses
terjadinya infeksi cacing tambang beserta faktor resiko terjadinya infeksi
dan pengobatanya ,serta pentingnya tindakan preventive dengan
menggunakan alat-alat pelindung diri saat bekerja di perkebunan dan di
lahan pertanian. Maka perlunya dilakukan penyususnan program.-program
khusus untuk kegiatan penyuluhan di puskesmas.
2) Menyusun program khusus untuk kegiatan penyuluhan di Puskesmas.
 Penghimbauan tentang pentingnya Sanitasi lingkungan
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup
bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan
kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha
ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
 Pengadaan dan perbaikan fasilitas MCK
MCK singkatan dari Mandi, Cuci, Kakus adalah salah satu
sarana fasilitas umum yang digunakan bersama oleh beberapa keluarga
untuk keperluan mandi, mencuci, dan buang air di lokasi permukiman
tertentu yang dinilai berpenduduk cukup padat dan tingkat kemampuan

10
ekonomi rendah. MCK komunal/umum adalah sarana umum yang
digunakan bersama oleh beberapa keluarga untuk mandi, mencuci dan
buang air di lokasi pemukiman yang berpenduduk dengan kepadatan
sedang sampai tinggi (300-500 orang/Ha).
Jenis MCK Komunal dibagi menjadi 2 (dua) terkait dengan
fungsinya pelayanannya yaitu: (Proyek REKOMPAK – JRF, 2008)
a. MCK lapangan evakuasi/penampungan pengungsi. MCK ini berfungsi
untuk melayani para pengungsi yang mengungsi akibat terjadi bencana,
sehingga lokasinya harus berada tidak jauh dari lokasi pengungsian
(dalam radius +/- 50 m dari lapangan evakuasi).
b. MCK untuk penyehatan lingkungan pemukiman. MCK ini berfungsi
untuk melayani masyarakat kurang mampu yang tidak memiliki tempat
mandi, cuci dan kakus pribadi, sehingga memiliki kebiasaan yang
dianggap kurang sehat dalam melakukan kebutuhan mandi, cuci dan
buang airnya. Lokasi MCK jenis ini idealnya harus ditengah para
penggunanya/ pemanfaatnya dengan radius 50 – 100m dari rumah .
 Pengelolahan Limbah
Septic tank (tangki septik) adalah suatu bak berbentuk empat
persegi panjang yang biasanya terletak di bawah muka tanah dan
menerima atau menampung kotoran dan air penggelontor yang berasal
dari toilet glontor, termasuk juga segala buangan limbah rumah tangga.
Periode tinggal (detention time) di dalam tangki adalah 1-3 hari. Zat
padat akan diendapkan pada bagian tangki dan akan dicernakan secara
anaerobik (digested anaerobically) dan suatu lapisan busa tebal akan
terbentuk dipermukaan.
Walaupun proses pencernaan zat padat yang terendap
berlangsung secara efektif, namun pengambilan lumpur yang
terakumumlasi perlu dilakukan secara periodik antara 1-5 tahun sekali.
Dan bila ditinjau dari kesehatan, efluen yang berasal dari tangki septik
masih berbahaya sehingga perlu di alirkan ke tangki peresapan
(soakaways) atau bidang peresapan (leaching/ drain fields).
Efluen tersebut tidak boleh langsung disalurkan pada saluran
drainase ataupun badan-badan air tanpa mengolah efluen tersebut
terlebih dahulu. Walaupun pada umumnya tangki septik digunakan

11
untuk mengolah air limbah rumah tangga secara individual, namun
tangki septik juga dapat digunakan sebagai fasilitas sanitasi
komunal/umum untuk suatu lingkungan dengan penduduk sampai 300
jiwa.
 Pentingnya Alat-alat Pelindung diri saat melakukan pekerjaan di
perkebunan/saat berkontak langsung dengan tanah.
Pentingnya alat pelindung diri saat melakukan pekerjaan di
daerah perkebunan atau lahan pertanian harus terus di himbau kepada
masyarakat di Desa Rejoso karena tindakan preventif yang palig
penting dilakukan adalah selalu menggunakan alas kaki yang tetutup
dan menggunakan sarung tangan mengingat penularan Infeksi cacing
tambang melaui kotoran (yang dijadikan pupuk) dan tanah
perkebunan/lahn pertanian.
d. Meteri penyuluhan
1) Infeksi cacing tambang dan tanda-tandanya.
Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan
tinja secara langsung. Adanya telur memastikan diagnosis askariasis.
Diagnosis juga dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui
hidung, mulut, maupun tinja. Dari gejala klinis sering kali susah untuk
menegakkan diagnosis, karena tidak ada gejala klinis yang spesifik
sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis ascariasis
ditegakkan berdasarkan menemukan telur cacing dalam tinja (melalui
pemeriksaan langsung atau metode konsenntrasi), larva dalam sputum,
cacing dewasa keluar dari mulut, anus, atau dari hidung. Tingkat infeksi
ascariasis dapat ditentukan dengan memeriksa jumlah telur per gram tinja
atau jumlah cacing betina yang ada dalam tubuh penderita. Satu ekor cacing
betina per-hari menghasilkan lebih kurang 200.000 telur, atau 2.000-3.000
telur per-gram tinja. Jika infeksi hanya oleh cacing jantan atau cacing yang
belum dewasa sehingga tidak ditemukan telur dalam tinja penderita, untuk
diagnosis dianjurkan dilakukan pemeriksaan foto thorax.

12
2) Siklus hidup cacing tambang.

Gambar 2.2 : Siklus hidup cacing tambang


Tahap-tahap dari siklus hidup cacing ini7 adalah :
1. Telur dikeluarkan dalam tinja,
2. Dalam kondisi yang menguntungkan (kelembaban , kehangatan, temaram),
larva menetas dalam 1 sampai 2 hari. Larva rhabditiform ini tumbuh dalam
tinja dan/atau tanah,
3. Setelah 5 sampai 10 hari (mengalami dua kali molting) menjadi filariform
larva (L3/tahap ketiga) yang infektif.
4. Infektif larva dapat bertahan 3 sampai 4 minggu dalam kondisi lingkungan
yang menguntungkan. Pada kontak dengan inang manusia, larva
menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah ke jantung dan
kemudian ke paru-paru. Mereka menembus ke dalam alveoli paru , naik
cabang bronkial menuju faring , dan tertelan.
5. Larva mencapai usus kecil, tinggal dan tumbuh menjadi dewasa. Cacing
dewasa hidup di lumen usus kecil, menempel pada dinding usus. Sebagian
besar cacing dewasa dieliminasi dalam 1 sampai 2 tahun, tapi umur
panjang bisa mencapai beberapa tahun.

13
Beberapa larva A. duodenale, setelah penetrasi kulit host, dapat
menjadi dorman (di usus atau otot). Selain itu, infeksi oleh A. duodenale
mungkin juga terjadi melalui oral dan transmammary route. Untuk N.
americanus, bagaimanapun, memerlukan fase migrasi transpulmonary.
3) Cara mencegah penularan.

 Pencegahan Primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan mengadakan
penyuluhan kesehatan oleh petugas kesehatan tentang kecacingan dan
sanitasi lingkungan atau menggalakkan program UKS, meningkatkan
perilaku higiene perorangan dan pembuatan MCK (Mandi, Cuci, Kakus)
yang sehat dan teratur.
 Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan memeriksakan diri


ke Puskesmas atau Rumah Sakit dan memakan obat cacing tiap 6 bulan
sekali .

 Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier dapat dilakukan dengan melakukan tindakan


medis berupa operasi.

3. Pengobatan pada Infeksi cacing tambang


Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan berbagai
macam anthelmintic, antara lain befenium hidroksinafloat, tetraldoretilen,
pirantel pamoat, dan mebendazole. Bila cacing tambang telah dikeluarkan,
perdarahan akan berhenti, tetapi pengobatan dengan preparat besi (sulfas
ferrosus) per os dalam jangka waktu panjang dibutuhkan untuk memulihkan
kekurangan zat besinya.
Berikut merupakan cara dan dosis penggunaan obat-obatan anthelmintic :
1. Pemberian pirantel pamoat selama 3 hari, atau
2. Mebendazole 500 mg dosis tunggal atau 100 mg, 2x sehari, selama 3 hari,
atau
3. Albendazole 400 mg, dosis tunggal, tidak diberikan pada wanita hamil.
4.Sulfasfer

14
BAB III
RENCANA PROGRAM

Seperti yang telah dijelaskan bahwa masalah yang terjadi di desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai adalah penanggualangan terjadinya infeksi
cacing tambang. Dari masalah tersebut terdapat beberaa alternative kegiatan yang
diperlukan, yaitu sebagai berikut:
1. Perbaikan dan pembangunan fasilitas sanitasi MCK di Desa Rejoso Kecamatan
Karang, Kabupaten Damai.
2. Penyuluhan tentang pencegahan infeksi cacing tambang di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.
3. Pemberian pengobatan pada masyarakat yang terinfeksi cacing tambang di Desa
Rejoso Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.

Tabel 3.1 : Skoring untuk menentukan urutan prioritas kegiatan hasil skoring kelompok
diperoleh urutan prioritas sebagai berikut:

Efektivitas Efisiensi Hasil


No Alternatif Kegiatan
M I V C

1 4 4 4 2 32
Perbaikan dan pembagunan fasilitas dan
sanitasi MCK di Desa Rejoso Kecamatan
Karang, Kabupaten Damai.

2 3 3 3 3 9
Penyuluhan tentang pencegahan infeksi
cacing tambang di Desa Rejoso
Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.

3 4 3 4 3 16
Pemberian pengobatan pada masyarakat
yang terinfeksi cacing tambang di Desa
Rejoso Kecamatan Karang, Kabupaten
Damai.

15
P : Prioritas jalan keluar
M : Maknitude, besarnya masalah yang bias diatasi apabila solusi ini
dilaksanakan (turunnya prevalensi dan besarnya masalah ini)
I : Implementasi, kelanggengan selesainya masalah.
V : Valiability, sensitifnya dalam mengatasi masalah
C : Cost, biaya yang diperlukan
Dengan demikian prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan untuk
memecahkan masalah kejadian cacing tambang di Desa Rejoso Kecamatan Karang,
Kabupaten Damai, adalah Perbaikan dan pembangunan fasilitas sanitasi MCK di Desa
Rejoso Kecamatan Karang, Kabupaten Damai.
Yang lebih lanjut dirinci sebagaimana dapat dilihat pada Tabel Rencana
Kegiatan sebagai berikut:

16
Tabel 3.2 : Rencana Kegiatan Perbaikan dan Pembangunan Fasilitas MCK di Desa Rejoso Kecamatan Karang, Kabupaten Damai

Volume Rincian Lokasi Tenaga Kebutuhan


No Kegiatan Sasaran Target Jadwal
kegiatan kegiatan pelaksana pelaksana pelaksanaan
1 Pendataan Rumah di 100 % 1 tim yang Mendata rumah Desa rejoso, Petugas Minggu 1 ATK dan
MCK kawasan rumah telah dengan sanitasi kecamatan puskesmas Transportasi
desa dengan ditunjuk yang kurang karang
Rejoso sanitasi baik dan tidak kabupaten
kurang memiliki damai
baik dan fasilitas mck
tidak ada
fasilitas
mck

2 Sosialisasi Warga 100 % 1 tim Memberikan Balai desa Tenaga Minggu 2 Ruang
perbaikan dan desa warga sosialisasi sosialisasi Rejoso puskesmas pertemuan
pembangunan Rejoso desa yang yang telah tentang rencana dan tenaga lengkap dengan
fasilitas MCK memiliki ditunjuk perbaikan dan pembanguna audio visual dan
rumah pembangunan n desa snack
dengan fasilitas mck di
sanitasi
rumah warga
kurang
desa
baik dan
tidak ada
fasilitas
mck

17
3 Menyiapkan Petugas 100% 1 tim yang 1. Memilih Di kantor desa Petugas Minggu 3 Bahan material
tenaga Menyia kesehatan tenaga dan telah tenaga yang siap Rejoso kesehatan pembangunan
pkan alat dan puskesmas alat siap ditunjuk melaksanakan puskesmas sarana mck
bahan dan tugas
pembuatan pembangun 2.Inventarisasi
MCK an desa kebutuhan
bahan dan alat Petugas
Alat dan 3.Check and pembanguna
bahan recheck n desa
pembuatan
mck

4 pembuatan Rumah di 80 % 1 Tahun 1. Membangun Desa Rejoso Tenaga Minggu 4 4. Dana


MCK (Mandi, Desa Rumah di saluran air pembanguna 5. Sarana
Cuci, Kakus) Rejoso Desa bersih n , Warga bangunan
yang sehat dan dengan Rejoso 2. Membangun Desa rejoso 6. Sarana
teratur. sanitasi dengan toilet kebersihan
kurang sanitasi 3. Membangun
baik dan sarana
kurang
tidak ada kebersihan
baik dan
fasilitas lainnya yang
mck tidak ada layak
fasilitas digunakan
mck

18
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Peran MCK sangat penting dalam mencegah penularan cacing tambang oleh
karena itu diadakannya perbaikan MCK di desa tersebut akan mempengaruhi
terhadap prevalensi infeksi cacing tambang.
2. Penyuluhan tentang pencegahan infeksi cacing tambang adalah bertujuan
untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat akan pentingnya kebersihan
diri dan lingkungan, antara lain dengan asing-masing keluarga memiliki
jamban keluarga sehingga kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran
pada tanah, tidak menggunakan tinja sebagai pupuk, menggunakan alas kaki
saat berkontak dengan tanah, menghindari kontak dengan tanah yang tercemar
oleh tinja, menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola limbah/sampah,
dan mencuci tangan sebelum dan setelah melakukkan aktifitas dengan
menggunakan sabun.
3. Pengobatan penyakit cacing tambang dapat dilakukan dengan anthelmintic.
Bila cacing tambang telah dikeluarkan, perdarahan akan berhenti, tetapi
pengobatan dengan preparat besi (sulfas ferrosus) untuk memulihkan
kekurangan zat besinya.
B. Saran
1. Perlu adanya perilaku tanggap dari masyarakat Desa Rejoso Kecamatan
Karang Kabupaten Damai untuk memperhatikan sanitasi MCK yang baik
dan memadai dan menggunakannya. Jika sudah ada perlu adanya
peningkatan sanitasi MCK.
2. Dalam hal penyuluhan terhadap pencegahan infeksi cacing tambang perlu
adanya anjuran pengobatan 6 bulan sekali untuk mengonsumsi obat cacing
(anthelmintic).
3. Disamping pengobatan dengan anthelmintic dan tablet besi, perlu adanya
diit tinggi protein.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. de Silva NR, Brooker S, Hotez PJ, Montresor A, Engels D, Savioli L. Soil-


transmitted helminth infections: updating the global picture. Trends Parasitol.
2003 Dec. 19(12):547-51.
2. Stoltzfus RJ, Dreyfuss ML, Chwaya HM, Albonico M. Hookworm control as a
strategy to prevent iron deficiency. Nutr Rev. 1997 Jun. 55(6):223-32.
3. World Health Organization. Parasitic Diseases. Available
at http://www.who.int/vaccine_research/diseases/soa_parasitic/en/index2.html.
Accessed: April 22, 2012.
4. Brooker S, Bundy DAP. Soil-transmitted Helminths (Geohelminths). Cook GC,
Zumla AI, eds. Manson’s Tropical Diseases. 22nd ed. Philadelphia, PA: WB
Saunders; 2009. 1515-48.
5. Pullan RL, Smith JL, Jasrasaria R, Brooker SJ. Global numbers of infection and
disease burden of soil transmitted helminth infections in 2010. Parasit Vectors.
2014 Jan 21. 7:37.
6. Hotez PJ, Bethony J, Bottazzi ME, Brooker S, Buss P. Hookworm: "the great
infection of mankind". PLoS Med. 2005 Mar. 2(3):e67.
7. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No: 424/MENKES/SK/VI, 2006:11).
8. KARYADI, D., TARWOTJO, 1., BASTA, S., SUKIRMAN, HUSAINI,
ENOCH, H., MARGONO, S.S. and SALIM, A., : Nutritionand Health Status of
Construcrion Workers at Three Selected Sitesin West Java, Indonesia. Bull.
Penel. Keseh. (Bull. Hlth. Studies in Indon.) No. 2, 1: 47 77, 1974.
9. Gracia , Lynne S, Bruckner, David A. 1996. Diagnostik Parasitologi
Kedokteran, Jakarta : EGC.
10. Brooker S, Bundy DAP. Soil-transmitted Helminths (Geohelminths). Cook GC,
Zumla AI, eds. Manson’s Tropical Diseases. 22nd ed. Philadelphia, PA: WB
Saunders; 2009. 1515-48.
11. enters for Disease Control and Prevention. Hookworm. CDC DPDx: Laboratory
Identification of Parasites of Public Health Concern. Available at
http://www.dpd.cdc.gov/DPDx/HTML/Hookworm.htm.
12. Craig, C.F., et al. 1970. Craig and Faust’s Clinical Parasitology. Michigan : Lea
& Febiger CDC. Ascariasis. http://www.cdc.gov/parasites/ascariasis/
13. Sumber : https://medlab.id/ascaris-lumbricoides/).
14. Darmawan, A. (2016). Hubungan infeksi parasit usus dengan anemia ibu hamil
di wilayah kerja puskesmas 1 Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
15. Faridan, K., Marlinae, L., & Audhah, N. A. (2013). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian kecacingan pada siswa Sekolah Dasar Negeri
Cempaka 1 Kota Banjarbaru. Jurnal Buski, 4(3).
16. Adiantoro, H. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jombang : STIKES.

20