You are on page 1of 44

PROPOSAL USAHA

INDUSTRI & TOKO GRC BOARD


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Usaha adalah sesuatu bentuk yang dapat menghasilkan uang dan dapat meningkatkan
taraf hidup seseorang untuk lebih baik. Suatu badan usaha yang kita jalankan dapat
menghasilkan laba, atau pendapatan yang semaksimal mungkin, kita menyelenggarakan usaha
yang bermanfaat dan menguntungkan dalam kesejahteraan hidup. Selain itu, dalam menjalankan
usaha harus mengikuti hukum-hukum ekonomi yang rasional serta norma-norma kebiasaan
dalam dunia usaha sehingga dapat membantu pembangunan yang sedang dilaksakan oleh
pemerintah.
Manusia yang selalu membutuhkan makan, pakaian dan perumahan, ternyata dapat
menciptakan berbagai peluang usaha yang menjanjikan. Bisnis makanan, bisnis pakaian serta
bisnis properti menjadi contoh peluang usaha yang muncul seiring dengan permintaan
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Salah satu bisnis yang saat ini berkembang pesat yaitu bisnis properti, kebutuhan
masyarakat akan tempat tinggal menjadikan peluang usaha ini dicari masyarakat. Harga yang
terjangkau serta waktu pengerjaan yang cepat juga menjadi prioritas masyarakat pada umumnya

Visi Misi
Visi
Menjadikan usaha pembuatan dan penjualan GRC Board ini dikenal orang secara luas.
Misi
1. Memberikan pelayanan yang berkualitas, handal dan memuaskan pelanggan.
2. Menjalankan usaha secara efektif, efisien dan memiliki daya saing tinggi
3. Selalu meningkatkan pendapatan usaha dan pendapatan lainnya dengan mendayagunakan
potensi yang ada

Tujuan
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
1. Mendapatkan keuntungan yang besar dengan memanfaatkan kondisi yang ada serta
mengefektifkan penggunaan modal usaha, namun tetap mengutamakan kualitas dan
kepuasan pelanggan.
2. Membuka lahan pekerjaan bagi yang membutuhkan.
3. Memberikan layanan dalam mewujudkan impian atau keinginan pelanggan dalam bidang
jasa konstruksi, baik perencanaan dan pelaksanaannya yang meliputi, perumahan,
gedung, desain interior dan pengembangan.

Gambaran Usaha
Niken_GRC adalah sebuah industri pembuatan dan penjualan papan GRC. Papan GRC
adalah material yang terbuat dari campuran semen dan pasir (agregat halus) yang diperkuat
dengan glassfibre alkali resistent. GRC Board biasa diaplikasikan pada dinding gedung dan
perumahan, renovasi bangunan lama tanpa merubah struktur, talang dan lisplank, dinding
peredam suara. GRC ini kami buat sendiri di pabrik. Kami menyediakan berbagai macam varian
warna GRC dan untuk designnya konsumen bebas mendesign sesuai keinginan atau design
bawaan pabrik. Untuk sistem penjualannya kami berkerja sama dengan para kontraktor. Kami
juga bekerja sama dengan toko baja ringan sebagai tempat usaha dagang perumahan. Papan GRC
yang akan kami jual memiliki berbagai macam varian warna sehingga konsumen tidak perlu
melakukan pengecatan terhadap papan GRC tersebut.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD

BAB II
PROFIL PERUSAHAAN

Jenis Usaha
Usaha yang kami jalani bergerak di bidang pembuatan dan penjualan GRC_Board.
Seiring berjalannya waktu dan permintaan akan pemenuhan kebutuhan perumahan serta gedung
maka kami membuat inovasi papan GRC dengan berbagai varian warna, agar konsumen yang
membeli produk kami dapat langsung memasang papan GRC tanpa harus melakukan
pengecatan. Selain itu konsumen juga dapat terlibat dalam mendesign produk yang akan mereka
beli sehingga bisa sesuai dengan yang diinginkan.

Nama Perusahaan

Logo Perusahaan

Lokasi
Terkait masalah pemilihan lokasi bisnis, tentunya aspek kestrategisan suatu lokasi
merupakan syarat mutlak dalam pertimbangan. Dalam hal ini, lokasi Jalan Raya Kampung
Sawah Bekasi Jawa Barat sebagai tempat penjualan papan GRC, daerah ini memenuhi syarat
tersebut karena banyak terdapat pusat kegiatan perekonomian, perindustrian, pabrik, dan wilayah
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
perumahan serta dekat dengan jalan tol JOR sehingga memudahkan dalam pengiriman barang.
Selain itu, di sepanjang jalan tidak ada toko penjualan GRC Board. Ini merupakan keuntungan
dalam membuka usaha yang baru.

Untuk lokasi pembuatan papan GRC, kami membuatnya di daerah Citereup Bogor.
Denah Lokasi
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
BAB III
STRUKTUR ORGANISASI PERUSAHAAN

Struktur Organisasi Toko GRC Board

Pimpinan

Manager

Koordinator Lapangan
Bagian Keuangan Bagian Administrasi
1 dan 2

Koordinator Koordinator
Lapangan 1 Lapangan 2

Mandor Mandor

Tukang Tukang Tukang Tukang Tukang Tukang


PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Struktur Organisasi Perusahaan
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
BAB IV
PRODUK PERUSAHAAN

Jenis Produk
Dalam penjualannya, kami memproduksi papan GRC dengan berbagai macam varian warna dan
bentuk.

GRC Board untuk design Masjid


GRC Deco Panel

GRC Deco Panel

GRC Deco Panel


PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD

GRC Deco Panel dapat diaplikasikan untuk


Plafon, Partisi, Dinding, ataupun sketsel.

Varian untuk warna – warna GRC Varian untuk warna – warna GRC
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD

Design GRC Board kreatif konsumen

Design GRC Board kreatif konsumen

GRC Deco Panel untuk sketsel.

Design GRC Board untuk masjid

GRC untuk plafon

GRC untuk plafon


PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD

GRC untuk penyekat ruang kantor GRC untuk penyekat ruang kantor

Partisi Toilet
Rumah berbahan grc

Keunggulan Produk
Produk langsung dibuat sendiri di pabrik, jadi harga yang dijual bisa lebih murah
dibandingkan dengan produk lain. GRC yang kami jual beragam bentuk dan warna tergantung
selera konsumen.

Keunggulan produk
 Waktu mengerjakannya lebih cepat dan lebih rapi daripada pengerjaan dinding
konvensional
 GRC board lebih tahan lapuk, rayap serta jamur
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
 Mudah dalam pemasangan dan juga pemeliharaan sewaktu mengganti material apabila
terjadi kerusakan
 Pada saat pelaksanaan pekerjaan, lokasi kerja bisa lebih bersih dibandingkan pengerjaan
dinding konvensional
 Lebih hemat biaya konstruksi jika pengerjaan bisa dilakukan dengan waktu yang cepat.
 Usia dari pemakaian bisa mencapai 25 tahunan
 Bisa dimanfaatkan untuk elemen luar, untuk kubah misalnya
 Tahan terhadap cuaca
 Massa lebih ringan daripada anda memanfaatkan beton
 Tidak perlu perawatan yang sering

BAB V
TARGET PASAR

Segmentasi Pasar Produk


Segementasi pasar merupakan upaya untuk mengidentifikasi kelompok konsumen dengan
cara mengelompokan konsumen ke dalam kelompok-kelompok yang kebutuhan dan keinginanya
serupa.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Segmen pasar yang dituju tidak terbatas pada golongan tertentu karena kebutuhan akan
bahan bangunan adalah untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal atau papan yang
merupakan kebutuhan primer manusia.

Target Pemasaran Produk


Bangunan merupakan salah satu kebutuhan yang penting untuk mewujudkan kebutuhan
penting lainnya, yaitu kebutuhan akan tempat tinggal maupun tempat usaha. Karena jika kita
akan mendirikan sebuah bangunan, kualitas bahan, waktu pengerjaan dan harga yang terjangkau
menjadi prioritas masyarakat pada umumnya.
Bisnis papan GRC ini pasarannya sangat luas bahkan tidak terbatas. Hal ini disebabkan
karena kebutuhan akan dinding untuk bangunan dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat,
tidak hanya untuk kalangan pengusaha saja. Kebutuhan akan papan untuk sebuah bangunan
merupakan salah satu kebutuhan yang penting untuk mewujudkan kebutuhan penting lainnya,
yaitu kebutuhan akan tempat tinggal maupun tempat usaha. Selain menjual papan GRC, kami
juga akan membantu jasa pembuatan design suatu bangunan baru, renovasi bangunan, serta
lanscape taman. Membantu konsumen untuk mendesign bentuk – bentuk GRC sesuai keinginan
dan fungsinya.
Selain masyarakat umum, target pasar yang lebih luas seperti kontraktor proyek
bangunan serta beberapa pelaku bisnis properti dapat dijadikan sebagai jaringan untuk
memperoleh konsumen yang memerlukan papan GRC. Karena pelaku bisnis properti
membutuhkan papan GRC untuk memenuhi permintaan perumahan dari konsumennya.

BAB VI
PROMOSI DAN PEMASARAN

Untuk memasarkan papan GRC kami dapat menjalin kerjasama dengan beberapa pihak
yang menjalankan bisnis properti maupun kontraktor yang menjalankan proyek bangunan.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Sehingga kebutuhan bahan bangunan yang mereka butuhkan dapat dipenuhi. Selain itu sistem
penjualan secara online juga menjadi prioritas kami.
Disamping itu untuk menarik minat pelanggan, kita dapat memberikan potongan harga
untuk pembelian diatas nominal tertentu. Atau bisa juga memberikan bonus produk tertentu, jika
sudah membeli lebih dari nominal rata – rata yang telah ditentukan.
Bagian dari promosi, kami juga akan membagikan kaos-kaos yang dibelakangnya
terdapat nama, nomor telepon, dan alamat lengkap NIK3N_GRC Board, sehingga memberikan
nilai tersendiri untuk menambah minat pelanggan untuk terus menjadi customer dari toko ini.

BAB VII
RENCANA KEUANGAN

Terlampir
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD

BAB VII
PENUTUP
Kesimpulan
Industri “NIK3N_GRC Board” adalah usaha yang Insya Allah akan didirikan oleh Niken
Ayu Hapsari. GRC yang akan kami buat designnya bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
pasar, selain itu untuk design konsumen bisa ikut langsung mendesign jika mereka
menginginkan. Untuk varian warna kami menjual bermacam-macam warna sesuai kebutuhan
konsumen. Kami juga membantu dalam memberikan masukan untuk fungsi dan design ruang
yang mereka butuhkan.

Saran
Perluas jaringan kerjasama dengan pelaku bisnis lain yang dapat mendukung bisnis bahan
bangunan. Sehingga pemasaran produk bahan bangunan lebih luas. Selain itu usahakan untuk
mengikuti perkembangan pasar bahan bangunan yang paling banyak dicari saat ini, sehingga
pelanggan tidak akan berpindah ke tempat lain. Kualitas produk juga harus dijaga, karena
konsumen biasanya mencari bahan bangunan yang berkualitas.

Perluas jaringan kerjasama dengan pelaku bisnis lain yang dapat mendukung bisnis bahan
bangunan. Sehingga pemasaran produk bahan bangunan lebih luas. Selain itu usahakan untuk
mengikuti perkembangan pasar bahan bangunan yang paling banyak dicari saat ini, sehingga
pelanggan tidak akan berpindah ke tempat lain. Kualitas produk juga harus dijaga, karena
konsumen biasanya mencari bahan bangunan yang berkualitas.

BAB VIII
LAMPIRAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
NOMOR 107 TAHUN 2015

TENTANG

IZIN USAHA INDUSTRI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 108 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian,
Perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Izin Usaha Industri.

Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5492).

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
1. Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau
memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai
nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri.
2. Jasa Industri adalah usaha jasa yang terkait dengan kegiatan Industri.
3. Bahan Baku adalah bahan mentah, barang setengah jadi, atau barang jadi yang dapat
diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang mempunyai nilai ekonomi
yang lebih tinggi.
4. Izin Usaha Industri yang selanjutnya disingkat dengan IUI adalah izin yang diberikan
kepada setiap orang untuk melakukan kegiatan usaha Industri.
5. Perusahaan Industri adalah setiap orang yang melakukan kegiatan di bidang usaha
Industri yang berkedudukan di Indonesia.
6. Perluasan Industri yang selanjutnya disebut dengan Perluasan adalah penambahan
kapasitas produksi untuk Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 5 (lima) digit yang
sama sebagaimana tercantum dalam IUI.
7. Izin Perluasan adalah izin yang diberikan kepada Perusahaan Industri untuk melakukan
Perluasan.
8. Kawasan Industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan Industri yang dilengkapi
dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh
perusahaan kawasan industri.
9. Kawasan Peruntukan Industri adalah bentangan lahan yang diperuntukkan bagi kegiatan
Industri berdasarkan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan.
10. Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia yang selanjutnya disingkat dengan KBLI
adalah klasifikasi kegiatan ekonomi di Indonesia yang ditetapkan oleh kepala lembaga
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang statistik.
11. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perindustrian.

BAB II
KLASIFIKASI IZIN USAHA INDUSTRI
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Pasal 2
(1) Setiap kegiatan usaha Industri wajib memiliki IUI.
(2) Kegiatan usaha Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan mengolah
Bahan Baku dan/atau memanfaatkan sumber daya Industri untuk:
a. menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi; dan/ atau
b. menyediakan Jasa Industri.
(3) Kegiatan usaha Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan sebagai
berikut:
a. Industri kecil;
b. Industri menengah; dan
c. Industri besar.
(4) Industri kecil, Industri menengah, dan Industri besar sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditetapkan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan/atau nilai investasi.

Pasal 3
(1) IUI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:
a. IUI kecil untuk Industri kecil;
b. IUI menengah untuk Industri menengah; dan
c. IUI besar untuk Industri besar.
(2) IUI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat:monline.com
a. identitas perusahaan;
b. nomor pokok wajib pajak;
c. jumlah tenaga kerja;
d. nilai investasi;
e. luas lahan lokasi Industri;
f. kelompok Industri sesuai dengan KBLI; dan
g. kapasitas produksi terpasang untuk Industri yang menghasilkan barang atau kapasitas jasa
untuk Jasa Industri.
(3) IUI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Pasal 4
(1) IUI diberikan kepada perusahaan yang akan menjalankan kegiatan usaha Industri.
(2) Perusahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib berlokasi di Kawasan Industri.
(3) IUI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan kepada perusahaan yang akan
menjalankan kegiatan usaha Industri dan berlokasi di luar Kawasan Industri, dengan
ketentuan:
a. berlokasi di daerah Kabupaten/Kota yang:
1. belum memiliki Kawasan Industri; atau
2. telah memiliki Kawasan Industri tetapi seluruh kaveling Industri dalam Kawasan Industrinya
telah habis;
b. termasuk klasifikasi Industri kecil dan Industri menengah yang tidak berpotensi
menimbulkan pencemaran lingkungan hidup yang berdampak luas; atau
c. Industri yang menggunakan Bahan Baku khusus dan/atau proses produksinya
memerlukan lokasi khusus.
(4) Perusahaan yang akan menjalankan kegiatan usaha Industri dan berlokasi di luar Kawasan
Industri dengan ketentuan:
a. berlokasi di daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a;
dan/atau
b. termasuk klasifikasi Industri menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b,
wajib berlokasi di Kawasan Peruntukan Industri sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah nasional, rencana tata ruang wilayah provinsi, atau rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota.
(5) Industri kecil dan Industri menengah yang tidak berpotensi menimbulkan pencemaran
lingkungan hidup yang berdampak luas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dan
Industri yang menggunakan Bahan Baku khusus dan/ atau proses produksinya memerlukan
lokasi khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 5
(1) Perusahaan Industri yang melakukan penambahan atau pengurangan jumlah tenaga kerja
dan/atau nilai investasi yang mengakibatkan perubahan klasifikasi kegiatan usaha Industri
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
harus mengganti IUI yang dimilikinya sesuai dengan ketentuan IUI sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (1).www.hukumonline.com
(2) Perusahaan Industri yang melakukan perubahan klasifikasi usaha Industri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi ketentuan lokasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4.
(3) Perusahaan Industri yang tidak melakukan penggantian IUI sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) melakukan pelanggaran terhadap ketentuan kewajiban memiliki IUI sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).
(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikecualikan bagi Perusahaan Industri yang
melakukan perubahan klasifikasi kegiatan usaha Industri tanpa menambah lahan lokasi
industri atau pindah lokasi industri.

Pasal 6
(1) Dalam 1 (satu) IUI hanya berlaku bagi 1 (satu) Perusahaan Industri yang:
a. memiliki usaha Industri dengan 1 (satu) kelompok usaha sesuai dengan KBLI 5 (lima)
digit dan berada dalam 1 (satu) lokasi Industri;
b. memiliki beberapa usaha Industri yang merupakan 1 (satu) unit produksi terpadu dengan
KBLI 5 (lima) digit yang berbeda dalam 1 (satu) Kawasan Industri; atau
c. memiliki beberapa usaha Industri dengan 1 (satu) kelompok usaha sesuai dengan KBLI 5
(lima) digit yang sama dan berada di beberapa lokasi dalam 1 (satu) Kawasan Industri.
(2) Dalam hal Perusahaan Industri memiliki usaha Industri di luar ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Perusahaan Industri wajib memiliki IUI baru.

Pasal 7
(1) Perusahaan Industri wajib:
a. melaksanakan kegiatan usaha Industri sesuai dengan IUI yang dimiliki; dan
b. menjamin keamanan dan keselamatan alat, proses, hasil produksi, penyimpanan, serta
pengangkutan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai jaminan keamanan dan keselamatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b diatur dalam Peraturan Menteri.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Pasal 8
(1) IUI berlaku selama Perusahaan Industri yang bersangkutan melakukan kegiatan usaha
Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) sesuai dengan IUI yang dimiliki.
(2) Perusahaan Industri yang tidak melakukan kegiatan usaha Industri selama jangka waktu 3
(tiga) tahun berturut-turut diberikan peringatan tertulis sebanyak 2 (dua) kali dengan jangka
waktu masing-masing 1 (satu) tahun.
(3) Perusahaan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang telah diberikan peringatan
tertulis sebanyak 2 (dua) kali dan tidak melakukan kegiatan usaha Industri, IUI yang dimiliki
Perusahaan Industri dicabut dan dinyatakan tidak berlaku oleh Menteri, gubernur,
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 9
IUI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berlaku juga sebagai izin tempat penyimpanan
mesin/peralatan, Bahan Baku, dan/atau hasil produksi dengan ketentuan:
a. tempat penyimpanan dimaksud terkait dengan kegiatan dan/atau kepentingan produksi
Perusahaan Industri bersangkutan yang tidak terpisahkan dari kegiatan Industrinya dan
berada dalam 1 (satu) lokasi usaha Industri; dan
b. tempat penyimpanan dimaksud tidak disewakan atau dikomersialkan.

BAB III
KEWENANGAN PEMBERIAN IUI

Pasal 10
(1) Menteri berwenang memberikan IUI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) untuk:
a. Industri strategis;
b. Industri teknologi tinggi;
c. Industri minuman beralkohol;
d. Industri yang terkait langsung dengan pertahanan dan keamanan;
e. Industri yang berdampak penting pada lingkungan; dan
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
f. Industri yang merupakan penanaman modal asing dan penanam modal yang
menggunakan modal asing, yang berasal dari pemerintah negara lain, yang didasarkan
perjanjian yang dibuat oleh Pemerintah Pusat dan pemerintah negara lain.
(2) Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan Peraturan Presiden.
(3) Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf d, dan huruf e ditetapkan dengan
Peraturan Menteri.
(4) Menteri dapat mendelegasikan kewenangan pemberian IUI kepada kepala instansi
Pemerintah Pusat yang menyelenggarakan pelayanan terpadu satu pintu untuk Industri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 11
(1) Gubernur berwenang memberikan IUI besar untuk Industri selain yang menjadi kewenangan
Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.
(2) Gubernur memberikan pendelegasian wewenang pemberian IUI sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) kepada kepala instansi pemerintah provinsi yang menyelenggarakan pelayanan
terpadu satu pintu.

Pasal 12
(1) Bupati/walikota berwenang memberikan IUI menengah dan IUI kecil yang lokasi Industrinya
berada pada kabupaten/kota untuk Industri selain yang menjadi kewenangan Menteri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10.
(2) Bupati/walikota memberikan pendelegasian wewenang pemberian IUI sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) kepada kepala instansi pemerintah kabupaten/kota yang
menyelenggarakan pelayanan terpadu satu pintu.
www.hukumonline.com
Pasal 13
Kepala instansi Pemerintah Pusat yang menyelenggarakan pelayanan terpadu satu pintu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4), kepala instansi pemerintah provinsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2), dan kepala instansi pemerintah kabupaten/kota
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dalam memberikan IUI kepada Perusahaan
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Industri wajib mengacu pada norma, standar, prosedur, dan kriteria pemberian IUI yang
ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 14
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pembinaan
pelaksanaan pemberian IUI oleh kepala instansi pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan
terpadu satu pintu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.

Pasal 15
Dalam rangka pendalaman struktur dan peningkatan daya saing Industri, kepala instansi
pemerintah yang menyelenggarakan pelayanan terpadu satu pintu dalam menerbitkan IUI
mengacu pada kebijakan penanaman modal bidang Industri yang ditetapkan oleh Menteri.

BAB IV
TATA CARA PEMBERIAN IUI
Bagian Kesatu
IUI Kecil

Pasal 16
(1) IUI kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a diberikan kepada Industri
kecil yang memenuhi ketentuan:
a. seluruh modal usahanya harus dimiliki oleh Warga Negara Indonesia; dan
b. bidang usaha Industri yang dinyatakan terbuka dan terbuka dengan persyaratan untuk
penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau
kebijakan penanaman modal di bidang Industri yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Permohonan IUI kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada:
a. Menteri; atau
b. bupati/walikota melalui pelayanan terpadu satu pintu.
(3) Permohonan IUI kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melampirkan paling sedikit:
a. fotokopi identitas pemilik dan pelaku usaha/perusahaan;
b. fotokopi nomor pokok wajib pajak; dan
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
c. fotokopi dokumen yang dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.w.hukumonline.com
(4) Permohonan IUI kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan dari perizinan yang
menyangkut gangguan.

Pasal 17
Menteri dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam jangka waktu paling lama 5
(lima) hari kerja sejak permohonan diterima:
a. menerbitkan IUI kecil dalam hal persyaratan dipenuhi dengan lengkap dan benar; atau
b. menolak permohonan dalam hal tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16.

Bagian Kedua
IUI Menengah dan IUI Besar

Pasal 18
(1) IUI menengah dan IUI besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b dan huruf
c diberikan kepada Industri menengah dan Industri besar yang memenuhi ketentuan bidang
usaha Industri yang dinyatakan terbuka dan terbuka dengan persyaratan untuk penanaman
modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan/ atau kebijakan
penanaman modal di bidang Industri yang ditetapkan oleh Menteri.
(2) Selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk:
a. Industri yang memiliki keunikan dan merupakan warisan budaya bangsa; dan
b. Industri menengah tertentu yang dicadangkan untuk dimiliki oleh warga negara
Indonesia, seluruh modal usahanya harus dimiliki oleh Warga Negara Indonesia.
(3) Permohonan IUI menengah dan IUI besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
kepada:
a. Menteri;
b. gubernur melalui pelayanan terpadu satu pintu; atau
c. bupati/walikota melalui pelayanan terpadu satu pintu.
(4) Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Presiden.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Pasal 19
Sebelum mengajukan permohonan IUI menengah dan IUI besar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (3), perusahaan yang akan melakukan kegiatan usaha Industri harus:
a. telah selesai melaksanakan persiapan dan kegiatan pembangunan, pengadaan,
pemasangan/instalasi peralatan dan kesiapan lain;
b. siap melakukan kegiatan usaha Industri; dan
c. memenuhi ketentuan lokasi Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

Pasal 20.hukumonline.com
(1) Permohonan IUI menengah dan IUI besar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3)
melampirkan paling sedikit:
a. fotokopi identitas diri pemohon;
b. fotokopi nomor pokok wajib pajak perusahaan;
c. fotokopi akta pendirian perusahaan dan/atau perubahannya yang telah
disahkan/ditetapkan oleh pejabat yang berwenang;
d. fotokopi izin lingkungan atau fotokopi izin lingkungan Kawasan Industri; dan
e. fotokopi dokumen yang dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Permohonan IUI menengah dan IUI besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan
dari perizinan yang menyangkut gangguan.

Pasal 21
(1) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya sejak permohonan IUI
diterima dengan lengkap dan benar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja
melakukan pemeriksaan lokasi Industri yang hasilnya dituangkan dalam berita acara
pemeriksaan.
(2) Berdasarkan hasil berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. Menteri;
b. gubernur melalui pelayanan terpadu satu pintu; atau
c. bupati/walikota melalui pelayanan terpadu satu pintu, menerbitkan atau menolak
permohonan IUI paling lama 5 (lima) hari kerja sejak berita acara pemeriksaan diterima.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
(3) Permohonan ditolak apabila berdasarkan hasil pemeriksaan lokasi Industri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
dan/atau terdapat ketidaksesuaian dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20.

Pasal 22
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16,
Pasal 18, dan Pasal 19 diatur dalam Peraturan Menteri.

BAB V
IZIN PERLUASAN

Pasal 23
(1) Setiap Perusahaan Industri yang memiliki IUI dapat melakukan Perluasan.
(2) Perusahaan Industri yang melakukan perluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
wajib memiliki Izin Perluasan.
(3) Perusahaan Industri yang Perluasannya berpengaruh terhadap lingkungan hidup wajib
melakukan perubahan terhadap dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya
pemantauan lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
.com
Pasal 24
(1) Dalam hal diperlukan, Perusahaan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
mengajukan permohonan Izin Perluasan.
(2) Dalam hal Perluasan menggunakan sumber daya alam yang diwajibkan memiliki analisis
mengenai dampak lingkungan hidup, Perusahaan Industri wajib memiliki Izin Perluasan.
(3) Industri yang wajib memiliki Izin Perluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan
oleh Menteri.

Pasal 25
Izin Perluasan diberikan oleh:
a. Menteri;
b. gubernur melalui pelayanan terpadu satu pintu; atau
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
c. bupati/walikota melalui pelayanan terpadu satu pintu, sesuai dengan kewenangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12.

Pasal 26
Izin Perluasan diberikan kepada Perusahaan Industri yang telah selesai melaksanakan persiapan
dan kegiatan pembangunan, pengadaan, pemasangan/instalasi peralatan, dan kesiapan lain dalam
rangka Perluasan.

Pasal 27
(1) Perusahaan Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (3) dan Pasal 24 ayat (1)
mengajukan permohonan Izin Perluasan kepada:
a. Menteri;
b. gubernur melalui pelayanan terpadu satu pintu; atau
c. bupati/walikota melalui pelayanan terpadu satu pintu.
(2) Permohonan Izin Perluasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
melampirkan paling sedikit:
a. fotokopi IUI;
b. dokumen rencana Perluasan;
c. data Industri 2 (dua) tahun terakhir yang disampaikan melalui Sistem Informasi Industri
Nasional;
d. perubahan izin lingkungan; dan
e. dokumen lain yang dipersyaratkan peraturan perundang-undangan.

Pasal 28
(1) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya sejak permohonan
Izin Perluasan diterima dengan lengkap dan benar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima)
hari kerja melakukan pemeriksaan lokasi Industri yang hasilnya dituangkan dalam berita
acara pemeriksaan.www.hukumonline.com
(2) Berdasarkan hasil berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. Menteri;
b. gubernur melalui pelayanan terpadu satu pintu; atau
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
c. bupati/walikota melalui pelayanan terpadu satu pintu, menerbitkan atau menolak
permohonan Izin Perluasan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak berita acara pemeriksaan
diterima.
(3) Permohonan ditolak apabila berdasarkan hasil pemeriksaan lokasi Industri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
dan/atau terdapat ketidaksesuaian dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27.

Pasal 29
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian Izin Perluasan diatur dalam Peraturan
Menteri.

BAB VI
TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 30
(1) Perusahaan Industri yang tidak memiliki IUI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
dikenai sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif; dan
c. penutupan sementara.
(2) Perusahaan Industri yang tidak berlokasi di Kawasan Industri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2), dan/atau Perusahaan Industri yang dikecualikan yang tidak berlokasi di
Kawasan Peruntukan Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4) dikenai sanksi
administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif;
c. penutupan sementara;
d. pembekuan IUI; dan/atau
e. pencabutan IUI.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
(3) Perusahaan Industri yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (1) atau Perusahaan Industri yang tidak memiliki Izin Perluasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 24 ayat (1) dikenai sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. denda administratif;
c. penutupan sementara;
d. pembekuan IUI; dan/atau
10 / 23
www.hukumonline.com
e. pencabutan IUI.
(4) Pengenaan sanksi administratif berupa pencabutan lUI sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf e
dapat langsung dikenakan sepanjang diatur dalam undang-undang.
Pasal 31
Peringatan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) huruf a, ayat (2) huruf a, dan
ayat (3) huruf a
diberikan paling banyak 3 (tiga) kali berturut-turut dengan jangka waktu masing-masing 30 (tiga
puluh) hari.
Pasal 32
(1) Perusahaan Industri yang telah dikenakan sanksi administratif berupa peringatan tertulis dan
tidak
melakukan perbaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dikenai sanksi
administratif berupa denda administratif.
(2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling banyak 1% (satu
persen) dari
nilai investasi.
(3) Pembayaran denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama
30 (tiga
puluh) hari sejak surat pengenaan denda administratif diterima.
Pasal 33
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
(1) Perusahaan Industri yang tidak memenuhi kewajibannya dan tidak membayar denda
administratif dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dikenai sanksi administratif berupa
penutupan sementara.
(2) Dalam hal Perusahaan Industri telah membayar denda administratif tetapi dalam jangka
waktu 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal batas waktu pembayaran denda administratif tidak memenuhi
kewajibannya
dikenai sanksi administratif berupa penutupan sementara.
(3) Sanksi administratif berupa penutupan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2)
bagi:
a. Perusahaan Industri yang tidak memiliki IUI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
dikenakan sampai dengan perusahaan yang bersangkutan memperoleh IUI sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. Perusahaan Industri yang tidak berlokasi di Kawasan Industri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal
4 ayat (2), Perusahaan Industri yang dikecualikan yang tidak berlokasi di Kawasan Peruntukan
Industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4), Perusahaan Industri yang tidak
memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), atau Perusahaan Industri yang tidak
memiliki Izin Perluasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) dikenakan untuk jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal surat penutupan sementara diterima.
Pasal 34
(1) Dalam hal sejak tanggal berakhirnya sanksi administratif berupa penutupan sementara
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 ayat (3) huruf b Perusahaan Industri tidak memenuhi kewajibannya
dan/atau
tidak membayar denda administratif dikenai sanksi administratif berupa pembekuan IUI.
(2) Pembekuan IUI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku paling lama 3 (tiga) bulan sejak
tanggal
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
diterbitkan surat penetapan pembekuan.
11 / 23
www.hukumonline.com
Pasal 35
Perusahaan Industri yang telah memenuhi kewajibannya dan membayar denda administratif
dalam jangka
waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) dapat mengajukan permohonan pemulihan
status
pembekuan IUI.
Pasal 36
Dalam hal Perusahaan Industri sejak tanggal berakhirnya sanksi administratif berupa pembekuan
IUI
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) tidak memenuhi kewajibannya dan/atau tidak
membayar denda
administratif dikenai sanksi administratif berupa pencabutan IUI.
Pasal 37
(1) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mengenakan sanksi
administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 kepada Perusahaan Industri.
(2) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan berdasarkan
hasil
pemeriksaan atas laporan yang berasal dari:
a. pengaduan; dan/atau
b. tindak lanjut hasil pengawasan.
(3) Gubernur dan bupati/walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam memberikan
sanksi
administratif wajib mengacu pada norma, standar, prosedur, dan kriteria pemberian sanksi
administratif
yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 38
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan laporan pembekuan, pemulihan status
pembekuan, dan
pencabutan IUI kepada Menteri.
Pasal 39
Denda administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) merupakan penerimaan
negara bukan
pajak atau penerimaan daerah.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 40
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
a. Perusahaan yang telah mengajukan permohonan perizinan berupa Tanda Daftar Industri, IUI,
dan Izin
Perluasan dan masih dalam proses permohonan perizinan harus menyesuaikan dengan ketentuan
dalam
Peraturan Pemerintah ini;
b. Perusahaan Industri yang telah memiliki izin yang menyangkut gangguan sebagai persyaratan
12 / 23
www.hukumonline.com
permohonan IUI yang diterbitkan sebelum Peraturan Pemerintah ini berlaku, izin tersebut tidak
perlu
dilakukan pembaharuan atau perpanjangan.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 41
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Industri (Lembaran Negara
Republik
Indonesia Tahun 1995 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3596) dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
b. Semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan
Pemerintah Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin Usaha Industri (Lembaran Negara Republik
Indonesia
Tahun 1995 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3596)
dinyatakan masih
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diatur dengan peraturan pelaksanaan yang
baru
berdasarkan Peraturan Pemerintah ini; dan
c. Perusahaan Industri yang telah memiliki izin berupa Tanda Daftar Industri, IUI, atau izin
sejenis untuk
kegiatan Industri yang telah dikeluarkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984
tentang
Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan
Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3274) dan peraturan pelaksanaannya dinyatakan tetap berlaku
sepanjang Perusahaan Industri yang bersangkutan masih beroperasi sesuai dengan izin yang
diberikan.
Pasal 42
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini
dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 23 Desember 2015
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
JOKO WIDODO
Diundangkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 28 Desember 2015
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
YASONNA H. LAOLY
13 / 23
www.hukumonline.com
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 NOMOR 329
14 / 23
www.hukumonline.com
PENJELASAN
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 107 TAHUN 2015
TENTANG
IZIN USAHA INDUSTRI
I. UMUM
Pembangunan Industri sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang
Perindustrian dilaksanakan dengan berdasarkan asas kepentingan nasional, demokrasi ekonomi,
kepastian berusaha, pemerataan persebaran, persaingan usaha yang sehat, dan keterkaitan
Industri.
Untuk itu, Pemerintah berkewajiban memberikan pembinaan dan pengembangan terhadap
pertumbuhan
Industri serta menciptakan iklim usaha yang sehat bagi perkembangan dunia usaha. Di sisi lain,
dunia
usaha perlu memberikan respon positif dengan mengembangkan Industri yang inovatif, efisien,
ramah
lingkungan dan berkelanjutan sehingga memiliki daya saing di tingkat global.
Melalui pembinaan, pengembangan, dan pengaturan Industri yang dilakukan, Pemerintah
mengupayakan
untuk menciptakan iklim usaha Industri secara sehat dan mantap. Dengan iklim usaha Industri
tersebut,
diharapkan Industri dapat memberikan umpan balik dalam menciptakan lapangan kerja yang
luas,
menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan dan kekuatan sendiri dalam
membangun
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Industri.
Pencapaian pertumbuhan Industri membutuhkan kepastian berusaha melalui pengaturan
perizinan usaha
Industri. Menyadari peran tersebut, perizinan harus mampu memberikan motivasi yang dapat
mendorong
dan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya di sektor Industri.
Perizinan merupakan salah satu kebijakan Pemerintah yang dapat menjadi alat untuk
menggerakkan
perkembangan dunia usaha ke bidang yang mendukung pembangunan Industri. Oleh karena itu,
sistem
perizinan dapat dimanfaatkan antara lain untuk pemerataan persebaran Industri, pendayagunaan
potensi
sumber daya Industri secara efisien dan optimal, dan pendataan Industri.
Untuk mencapai hal tersebut, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian
mengamanatkan untuk melakukan pengaturan lebih lanjut tentang IUI. Pokok-pokok pengaturan
dalam
Peraturan Pemerintah ini meliputi klasifikasi IUI, kewenangan pemberian IUI, tata cara
pemberian IUI, Izin
Perluasan, serta tata cara pengenaan sanksi administratif.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
15 / 23
www.hukumonline.com
Yang dimaksud dengan "Bahan Baku dan/ atau memanfaatkan sumber daya Industri termasuk
kegiatan
mengolah Bahan Baku atau sumber daya Industri milik orang lain untuk menghasilkan barang
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
berdasarkan pesanan orang tersebut (maklun).
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "identitas perusahaan" antara lain nama perusahaan, alamat perusahaan,
lokasi Industri, nama pemilik perusahaan.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Yang dimaksud dengan "kapasitas produksi terpasang" adalah kemampuan berproduksi
maksimal
per tahun.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Ayat (2)
Cukup jelas.
16 / 23
www.hukumonline.com
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "Industri yang menggunakan Bahan Baku khusus" adalah Industri yang
menggunakan Bahan Baku yang karena karakteristik Bahan Bakunya memerlukan lokasi yang
terintegrasi dengan sumber Bahan Baku.
Yang dimaksud dengan "Industri yang proses produksinya memerlukan lokasi khusus" adalah
Industri yang memerlukan lokasi tertentu dengan pertimbangan antara lain faktor/kondisi
produksi,
keamanan, geografis, dan sosial budaya.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "1 (satu) lokasi Industri" adalah lokasi pelaksanaan kegiatan Industri
(pabrik) yang terletak dalam 1 (satu) bentangan lahan yang tidak dipisahkan oleh suatu pemisah,
misalnya jalan atau sungai.
Huruf b
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Yang dimaksud dengan "satu unit produksi terpadu" adalah rangkaian proses produksi yang
terdiri
dari beberapa simpul produksi yang setiap simpulnya menghasilkan satu produk dan/atau jasa
yang digunakan untuk menghasilkan satu produk akhir.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 7
Cukup jelas.
17 / 23
www.hukumonline.com
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Yang dimaksud dengan "izin tempat penyimpanan" adalah izin gudang atau tanda daftar gudang
sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf a
Yang dimaksud dengan "lokasi" adalah tempat Perusahaan Industri melakukan kegiatan usaha
Industri.
Huruf b
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "Industri strategis" adalah Industri yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak, meningkatkan atau menghasilkan nilai tambah sumber
daya
alam strategis, atau mempunyai kaitan dengan kepentingan pertahanan serta keamanan negara
dalam rangka pemenuhan tugas pemerintah negara.
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "Industri yang terkait langsung dengan pertahanan dan keamanan" antara
lain Industri kertas berharga dan Industri senjata, amunisi, dan bahan peledak.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "Industri yang merupakan penanaman modal asing" adalah termasuk
penanaman modal untuk melakukan usaha Industri di wilayah Negara Republik Indonesia yang
dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun
yang berpatungan dengan penanaman modal dalam negeri.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
18 / 23
www.hukumonline.com
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "dokumen yang dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan" misalnya Peraturan Presiden mengenai daftar bidang usaha yang tertutup
dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan bagi penanaman modal mempersyaratkan
bukti kemitraan bagi Industri tertentu, dan Undang-Undang mengenai perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup mempersyaratkan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan
dan
Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL).
Ayat (4)
19 / 23
www.hukumonline.com
Yang dimaksud dengan "gangguan" sebagaimana tercantum dalam Hinderordonnantie,
Staatsblad
1926:226.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Huruf a
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "siap melakukan kegiatan usaha Industri" ditunjukkan paling sedikit
dengan data
dan/atau bukti-bukti terkait dengan:
a. pelaksanaan uji coba produksi;
b. pengadaan Bahan Baku dan/atau bahan penolong dalam proses produksi; dan
c. rencana penggunaan tenaga kerja termasuk kualifikasinya.
Huruf c
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Fotokopi izin lingkungan dipersyaratkan untuk Industri yang berada di luar Kawasan Industri
dan
fotokopi izin lingkungan Kawasan Industri dipersyaratkan untuk Industri yang berada di
Kawasan
Industri.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "dokumen yang dipersyaratkan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan" misalnya Peraturan Presiden mengenai daftar bidang usaha yang tertutup
dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan bagi penanaman modal mempersyaratkan
izin
20 / 23
www.hukumonline.com
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
operasional dari BIN untuk Industri kertas berharga dan dokumen keterangan asal bahan baku
untuk Industri kertas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "gangguan" sebagaimana tercantum dalam Hinderordonnantie,
Staatsblad
1926:226.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pada prinsipnya Izin Perluasan tidak diwajibkan namun dimungkinkan untuk dimiliki apabila
diperlukan,
mengingat sering dibutuhkan antara lain untuk mendapatkan fasilitas fiskal, kredit perbankan/
pembiayaan.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
21 / 23
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
www.hukumonline.com
Pasal 29
Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "nilai investasi" adalah nilai investasi yang tercantum dalam IUI yang
dimiliki.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 33
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "penutupan sementara" adalah menghentikan kegiatan produksi yang
tidak
sesuai dengan IUI.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Cukup jelas.
22 / 23
PROPOSAL USAHA
INDUSTRI & TOKO GRC BOARD
www.hukumonline.com
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Cukup jelas.
Pasal 40
Cukup jelas.
Pasal 41
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "gangguan" sebagaimana tercantum dalam Hinderordonnantie,
Staatsblad
1926:226.
Pasal 42
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5797
23 / 23