You are on page 1of 14

AKUNTANSI PERHOTELAN

(PEMBELIAN BAHAN DAN PENGGENDALIAN BIAYA HOTEL &


PENGGUNAAN PERSEDIAAN DAN REKONSILIASI KOS DI HOTEL)

KELOMPOK 7

Zaini Danu Brata (1515351016)


I Putu Indra Wijaya (1515351019)
Ni Km Yulan Surmadewi (1415351075)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
NON REGULER
2018
8.1 PENGERTIAN BIAYA

Biaya (expense) adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam
rangka memperoleh penghasilan (revenues) dan akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.
Sedangkan harga pokok (cost) adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang dalam
bentuk kas yang dibayarkan atau nilai aktiva lainnya yang diserahkan/dikorbankan atau nilai
jasa yang diserahkan/dikorbankan atau hutang yang timbul atau tambahan modal, dalam
rangka kepemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan baik pada masa lalu maupun
masa yang akan datang.

Pengendalian merupakan proses untuk memeriksa kembali, menilai dan selalu


memonitor laporan-laporan apakah pelaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan yang
sudah ditentukan. Jadi dapat dikatakan bahwa pengendalian biaya adalah proses untuk
memeriksa kembali, menilai dan selalu memonitor laporan atas jumlah yang dapat diukur
dalam satuan uang dalam rangka pemilikan barang dan jasa yang diperlukan perusahaan baik
pada masa lalu maupun masa yang akan datang.

8.2 PENGENDALIAN BIAYA

Proses pengendalian biaya mempunyai tujuan untuk meningkatkan efisiensi operasi


perusahaan. Pengendalian biaya dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:

1. Aliran Biaya
Jika dilihat dari aliran biaya, maka proses pengendalian biaya dari produk yang akan
dijual, diperoleh dari proses pengadaan bahan dan proses pengolahan bahan mentah
menjadi barang yang siap dijual, dengan aliran biaya produksi sebagai berikut:
a. Pencatatan biaya sebagai pembelian bahan baku dalam persediaan bahan baku.
b. Pengolahan bahan baku dan dikombinasikan dengan biaya tenaga kerja langsung
serta bahan penolong, menjadi barang dalam proses.
c. Merubah barang dalam proses menjadi barang yang siap dijual.
- Unexpired product cost merupakan biaya yang dikeluarkan sampai bahan baku
menjadi bahan jadi, selama belum terjual maka belum merupakan biaya tapi
merupakan aktiva.
- Expired cost, setelah barang tersebut dijual atau sering disebut juga dengan
harga pokok penjualan makanan dan minuman (cost of food and beverage sold).

2. Aliran Dokumen
Dokumen dalam suatu perusahaan dipakai sebagai alat komunikasi antar bagian dan
sebagai bukti transaksi yang mendukung dalam penyiapan laporan biaya (cost report):
a. Aliran dokumen pengadaan bahan/barang
Untuk melakukan aktivitas harian, hotel memerlukan persediaan barang maupun
bahan untuk melancarkan aktivitas hariannya. Barang atau bahan yang diperlukan
biasanya digunakan untuk kepentingan room, POMEC maupun penyediaan food &
beverage.

b. Aliran dokumen pengambilan bahan untuk operasional hotel


Setelah barang tersedia di general store maupun di daily store, barang akan
dikeluarkan sesuai permintaan dari masing-masing departemen yang ada di hotel.
8.3 PEMBELIAN PERSEDIAN

Persedian barang di hotel bisa berupa makanan, minuman, material supplies dan
barang-barang lain, dimana barang-barang tersebut tersedia untuk dijual maupun untuk
membantu kelancaran operasional perusahaan. Besar kecilnya persediaan (inventory) sangat
tergantung pada fasilitas yang dimiliki, jumlah kamar dan tingkat perputaran persediaan.

Penyimpanan barang persediaan sangat besar pengaruhnya bagi ketahanan dan


keawetan barang tersebut, (terutama untuk barang dairy product) sehingga beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam proses penyimpanan adalah:

- temperatur ruangan
- kebersihan dan kerapian penyusunan barang
- metode penyimpanan barang
- sistem ventilasi

Ada beberapa tujuan diadakannya persedian di hotel, antara lain:

- menjaga kontinuitas usaha


- mencegah over investment dan barang yang busuk/rusak
- menghindari kerugian akibat waktu penyerahan dan menghemat biaya pemesanan
- membuat perencanaan pembelian yang optimal
- menjaga kebutuhan barang dapat seimbang antara pembelian dengan gudang
- mencegah slow moving item

Barang-barang yang tahan lama seperti material supplies, disimpan di General Store,
sedangkan barang-barang yang mudah rusak dan minuman di simpan di Daily Store.

Berkaitan dengan transaksi pembelian barang untuk keperluan operasional hotel,


pencatatannya bisa dilakukan dengan menggunakan metode phisik atau metode perpetual,
sebagian besar menggunakan metode perpetual dalam pencatatan persediaannya sebagai
berikut:

11101 Inventory Food xxx

20101 Trade Creditor xxx

8.4 BAGIAN YANG TERLIBAT

Bagian yang terlibat dalam proses pengadaan bahan adalah:

1. Departemen yang memerlukan barang


2. Gudang (general store/storeroom)
3. Pembelian (purchasing)
4. Penerimaan (receiving)
5. Cost control
6. Account payable (hutang usaha)

8.5 DOKUMEN YANG DIGUNAKAN


1. Purchase Requisition (PR), formulir yang mencatat pembelian barang yang biasanya
disiapkan gudang atau departemen outlet atas dasar persediaan minimum.
2. Purchase Order (PO), formulir yang mencatat pemesanan barang untuk kebutuhan
operasional hotel.
3. Memorandum Invoice (MI), pencatatan pembelian barang yang diterima dari supplier
sebagai tanda bukti bahwa barang tersebut sudah diterima dengan baik.
4. Daily Receiving Report (DRR), adalah rekapitulasi pencatatan penerimaan barang untuk
kebutuhan operasional hotel.
5. Quotation Analysis Price, merupakan daftar harga dari barang-barang yang akan dibeli
yang digunakan sebagai pembanding.
6. Bincard, merupakan kartu barang yang menyebutkan nama barang, barang masuk,
barang keluar serta sisa barang.
7. Cardex, adalah kartu barang yang menyebutkan nama barang, ukurannya, harga satuan,
barang masuk, barang keluar, dan sisa barang. Cardex digunakan sebagai alat kontrol
oleh cost control.
8.6 PROSEDUR PEMBELIAN PERSEDIAAN
1. PR dibuat oleh departemen yang memerlukan barang, jika barang yang diperlukan tidak
tersedia di gudang, atau PR bisa juga dibuat oleh bagian gudang jika barang yang
tersedia di gudang sudah mencapai persediaan minimum. PR pada umumnya dibuat
dalam 3 rangkap yang kemudian didistribusikan pada:
- cost control, sebagai alat kontrol
- purchasing, sebagai dasar membuat PO
- gudang atau departemen yang memerlukan
2. Berdasarkan PR yang dibuat, bagian pembelian akan membuatkan PO di mana harus
mendapatkan persetujuan dari Accounting Department Head dan General Manajer, dan
didukung dengan quotation analysis price. PO pada umumnya dibuat dalam 5 rangkap
yang didistribusikan pada:
- supplier yang ditunjuk
- cost control, sebagai kontrol
- gudang, sebagai informasi pembelian
- account payable, sebagai dasar untuk mencatat hutang
- purchasing, sebagai arsip
3. Supplier menyiapkan barang yang diminta berdasarkan PO yang diterima, setelah barang
siap dan disertai dengan invoice, dikirim ke hotel.
4. Penerimaan barang di hotel dilakukan oleh bagian penerimaan barang, setelah barang
yang datang dicek, bagian penerimaan menyiapkan MI dan memintakan persetujuan
(approval) dari:
- bagian gudang untuk persetujuan tentang jumlah dan kuantitasnya
- cost control untuk persetujuan harga
- bagian penerimaan barang untuk tanda terima barang
MI pada umumya dibuat dalam beberapa rangkap sesuai kebutuhan, tapi ada yang
membuat dalam 5 rangkap dengan distribusi sebagai berikut:
- cost control, sebagai kontrol
- gudang, sebagai informasi
- purchasing, sebagai arsip
- account payable, sebagai dasar mencatat hutang
- supplier, sebagai pendukung penagihan
5. Bagian gudang setelah menerima barang dari bagian penerimaan, kemudian menyimpan
barang dan mencatatnya pada bincard berdasarkan MI.
6. Sedangkan cost control berdasarkan salinan PR, PO, MI akan mencatat pembelian
tersebut dalam cardex, dan account payable akan mencatatnya pada hutang usaha.
7. MI setiap hari dipilah per jenis barang (food, beverage, material supplies) oleh bagian
penerimaan barang, untuk digunakan sebagai dasar membuat daily receiving report.

8.7 LAPORAN YANG DIHASILKAN

Daily receveing report, yang dihasilkan oleh bagian penerimaan barang (receiving), di
mana menjelaskan tentang penerimaan barang harian.
9.1 Penggunaan Persediaan Hotel

Penggunaan persediaan untuk operasional perusahaan harus diadministrasikan dengan


baik, karena penggunaan sama artinya dengan pemakaian yang merupakan biaya bagi
departemen yang meminta. Pada setiap akhir periode (akhir bulan) cost control akan
melakukan inventarisasi atas persediaan (stock opname), dimana inventarisasi pada
departemen operasi biasanya dilakukan malam hari saat kegiatan hotel berkurang, sedangkan
inventarisasi di daily store dan general store dilakukan setelah kegiatan keluar masuknya
barang di gudang dihentikan untuk hari itu. Sebelum inventarisasi dilakukan biasanya
diberitahukan terlebih dahulu bagi departemen yang akan meminta barang.

9.2 Bagan Alur Prosedur Pembelian Pada Hotel


1. Bagian yang Terlibat
Bagian yang terlibat dalam proses pengadaan bahan adalah:
1. Departemen yang memerlukan barang
2. Gudang (general store/storeroom)
3. Pembelian (purchasing)
4. Penerimaan (receiving)
5. Cost control
6. Account payable (hutang usaha)
9.3 Dokumen yang Digunakan
1. Purchase requisition (PR), formulir yang mencatat permintaan pembelian barang
yang biasanya disiapkan gudang atau departemen outlet atas dasar persediaan
minimum.
2. Purchase order (PO), formulir yang mencatat pemesanan pemesanan barang untuk
kebutuhan operasional hotel.
3. Memorandum invoice (MI), pencatatan pembelian barang yang diterima dari supplier
sebagai tanda bukti barang tersebut sudah diterima dengan baik.
4. Daily receiving report (DDR), adalah rekapitulasi pencatatan penerimaan barang
untuk kebutuhan operasional hotel.
5. Quotation analysis price, merupakan daftar harga dari barang-barang yang akan dibeli
yang digunakan sebagai pembanding.
6. Bincard, merupakan kartu barang yang menyebutkan nama barang., barang masuk,
barang keluar, serta sisa barang.
7. Cardex, adalah kartu barang yang menyebutkan nama barang, ukurannya, harga
satuan, barang masuk, barang keluar, dan sisa barang. Cardex digunakan sebagai alat
kontrol oleh cost control.

9.4 Laporan yang Dihasilkan Prosedur Penggunaan persediaan di Hotel


1. General food/beverage cost, yang berisi perhitungan biaya makanan dan
minuman
2. Stock Opname Report, Laporan yang menjelaskan tentang hasil Inventarisasi
Persediaan akhir periode, yang dipakai untuk dasar mencocokan saldo akhir
pada cordex/bincard
3. Cost Reqonsiliation, merupakan merekonsiliasi atas penggeluaran biaya
makanan dan minuman
4. Flash cost/daily food cost, merupakan laporan yang menunjukan perbandingan
antara total sales dengan total cost
9.5 Prosedur Penggunaan Persediaan Hotel
1. Departemen yang memerlukan barang menyiapkan SR yang berisi tentang jenis dan
jumlah satuan barang yang diperlukan, dimana SR tersebut harus disetujui oleh head
departemen, yang kemudian diserahkan ke bagian gudang
2. Gudang akan mengecek dan menyiapkan barang yang diminta, dan kemudian
meyerahkan barang dan meminta tanda tangan terima dari petugas yang menerima
barang tersebut, setelah itu bagain gudang akan menandatangani SR tersebut. SR
pada umumnya dibuat dalam rangkap 3 dengan distribusi sebagai berikut:
 Cost control, sebagai dasar untuk mencatat pada cardex
 Gudang
 Departemen yang memerlukan barang sebagai arsip

3. Gudang akan memcatat pengambilan barang tersebut pada bincard sebagai


pengurang berdasarkan SR

8.3 Bagan Alur-Pembelian Persediaan

9.6 Potensial Kos di Hotel


Potensial kos merupakan pengembangan dari system point of sale dalam
mengkalkulasi penjualan makan dan minuman. Potensial kos ini merupakan konsep
tertua dalam prosedur pengendalian makan dan minuman. Potensial kos
menghitung potensi atau kemampuan antara penjualan dan kos yang dikelurakan.
Potensial kos dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Beverage potentials, dikalkulasi berdasarkan penjualan (sales basis), karena


kos minuman sudah bisa dipastikan, akan bisa mendatangkan penjualan
yang diharapkan
2. Food potentials, dikalkulasi berdasarkan kos (cost basis) kos makan per hari
belum bisa diketahui sampai penjualan terjadi, sehingga potensial kos
makan baru bisa dihitung setelah terjadi penjualan atas menu makan yang
disediakan

Potensial kos minuman bisa dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Kuantitas minuman yang dikonsumsi (dijual) dikalikan dengan kos


persatuan, diperoleh total kos
2. Kuantitas minuman yang dikonsumsi (dijual) dikalikan dengan harga jual
persatuan, diperoleh penjualan potensial (potential sales)
3. Bandingkan antara total kos dengan penjualan potensial, dikalikan 100%,
maka akan diperoleh persentase potensial kos minuman per item

Perhitungan potensial kos makan lebih kompleks dari pada penghitungan kos
minuman, dimana kos yang digunakan harus dipilah untuk masing-masing itrm menu
dan harus disesuaikan dengan konsumsi makanan untuk keperluan lain yang tidak
terkait dengan penjualan potensial, seperti makanan karyawan, transfer makanan
antar outlet, dan penyesuaian lainnya. Menu yang dibuatkan resep, besarnya kos
bisa ditentukan berdasarkan kos standar.
(Contoh)

Penjualan minuman vodka dan scotch pada 20 November 2004 masing-masing


10 dan 20 gelas, dimana kos masing-masing per gelasnya adalah Rp 25.000 dan
Rp 30.000. Harga jual per gelas adalah Rp 50.000 dan Rp 45.000. Hitung
potensial kos dari masing-masing minuman pada tanggal tersebut.

• Vodka
Total kos = 10 x 25.000 = 250.000
Penjualan potensial = 10 x 50.000 = 500.000
Potensial kos = 250.000/500.000 x 100% = 50%
• Scotch
Total kos = 20 x 30.000 = 600.000
Penjualan potensial = 20 x 45.000 = 900.000
Potensial kos = 600.000/900.000 x 100% = 66,67%
9.7 Rekonsiliasi Kos Pada Hotel

Pengendalian atas biaya yang dikeluarkan dalam suatu operasional usaha sangat penting.
Dalam usaha perhotelan, pengeluaran biaya khususnya untuk makanan dan minuman sangat
besar, hal tersebut dikarenakan adanya fasilitas penjualan makanan dan minuman, serta
adanya beban atas makanan dan minuman yang dikeluarkan yang tidak menghasilkan
pendapatan, seperti makanan karyawan, pemberian komplimen untuk menjamu rekan usaha
atau pihak-pihak yang akan memberikan manfaat kelangsungan usaha dan lain-lain.
Pengendalian atas makanan dan minuman dilakukan dengan menghitung kos atau penjualan
makanan dan minuman, hal tersebut bisa dilakukan setiap hari atau pada tiap akhir periode,
yaitu dengan membuat rekonsiliasi kos untuk makanan dan minuman.

Rekonsiliasi kos untuk makanan dan minuman dibuat untuk mendapatkan besarnya kos
yang dikeluarkan untuk makanan dan minuman pada suatu waktu, yang nantinya
dibandingkan dengan besarnya penjualan untuk periode tersebut, tentunya setelah disesuaikan
dengan pengeluaran-pengeluaran lain untuk makanan dan minuman yang tidak menghasilkan
pendapatan.

Rekonsiliasi kos yang dibuat terdiri :

 Rekonsiliasi kos makanan


 Rekonsiliasi kos minuman

Rekonsiliasi kos disamping untuk mengetahui besarnya harga pokok makanan dan
minuman, juga membantu dalam pencatatan khususnya jika ada transfer barang antar outlet
yang terkait dengan makanan dan minuman, misalnya transfer makanan ke bar, transfer
minuman ke restoran, dan lain-lain. Kos untuk akhir periode biasanya memerlukan hasil yang
diperoleh dari stock opname persediaan.

Beberapa contoh jurnal terkait masalah di atas :


Kos makanan xxx
Kos minuman xxx
(untuk mencatat transfer minuman ke restoran)

Entertainment-sales xxx
Makanan karyawan-departemen xxx
Kos makanan xxx
(untum mencatat keperluan makanan untuk keperluan lain)

Persediaan makanan xxx


Harga Pokok Penjualan-Makanan xxx
(untuk mencatat penyesuaian hasil stock opname, dimana nilai persediaan lebih besar dari
jumlah tercatat
DAFTAR PUSTAKA

Widanaputra, A.A G.P; Suprasto, herkulanus Bambang; Aryanto, Dodik; Sari, MM. Ratna.
2009. “Akuntansi Perhotelan (Pendekatan Sistem Informasi), Yogyakarta: Graha Ilmu.