You are on page 1of 14

KONSTRUKSI DIAFRAGMA WALL

2.1.PENGERTIAN DIAFRAGMA WALL
Diafragma Wall sebenarnya adalah merupakan konstruksi dinding penahan tanah
(retaining wall ), yang membedakan dengan konvensional retaining wall adalah pada metoda
pelaksanaan dan kelebihan lain yang tidak diperoleh pada dinding penahan tanah sistem
konvensional. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan yang harus diperhatikan sehingga
tidak mengakibatkan terjadinya gangguan pada saat bangunan dioperasikan. Pada umumnya
dinding penahan tanah dipakai untuk kontruksi bangunan dibawah permukaan tanah (basement )
atau penahan tebing supaya tidak longsor atas beban diatasnya dan mungkin bangunan khusus
misalnya bunker

. 2.2. METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI DIAFRAGMA WALL

A.PERSIAPAN 1.

1. Melakukan marking area yang akan dikerjakan diafragma wall.

2. Jika pada proses marking sudah benar dan mendapat persetujuan pihak yang terkait pada
proyek tersebut, maka dilanjutkan dengan membuat guide line, yaitu mengali pada area
marking dengan kedalam sekitar 100 cm dan memberikan perkuatan dengan beton mutu
rendah ( K125) dengan tebal 20 -30 cm. Guide line ini diperlukan agar alat pengali (
yaitu mesin Grab ) dapat mudah mengikuti alur galian yang ditentukan .Seperti pada
gambar dibawah ini.

3. Menentukan tempat pembuatan pembesian jika diafragma wall dilakukan metoda cor in
situ, atau menentukan tempat perletakan untuk pemakaian precast sistem.

4. Menentukan tempat pencampuran antara air dan bentonite. Campuran ini akan dialirkan
pada galian diafragma wall untuk menghindari terjadinya keruntuhan galian.

5. Karena pekerjaan diaframa wall ini biasanya diikuti dengan pondasi yang memakai bor
pile maka harus ditentukan juga urutan kerja antara pekerjaan diafragma wall dan bor pile
agar selalu silmultan.
6. Peralatan terkait harus sudah tersedia dilapangan. Alat tersebut seperti : Mobil Crane
minimal 2 buah (1 untuk pengalian diafragma wall dan 1 untuk bor pile), Mesin Grab,
Mesin Bor , Casing bor pile, pompa air untuk sirkulasi campuran bentonite , ultra sonic
sonding dan peralatan lain yang terkait pekerjaan pembesian.

B.PELAKSANAAN
Seperti halnya pekerjaan dinding penahan pada umumnya maka step pertama adalah
melakukan penggalian. Penggalian dengan mengunakan mesin grab.Lebar galian adalah setebal
dinding diafragma antara 30 – 50 cm sedangkan panjang galian adalah sekitar 5 meter.
Kedalaman galian disesuaikan dengan kebutuhan kedalaman basement.Misalnya untuk 2
basement maka kedalaman minimal adalah 10 meter.Bersamaan dengan melakukan pengalian ini
harus juga dialirkan campuran air + bentonite secara continue, agar tidak terjadi
keruntuhan.Sebelum rangkaian pembesian dimasukkan ( untuk cor insitu ) atau panel precast
masuk, harus dicek dulu dengan ultrasonic sonding untuk diketahui adanya keruntuhan atau
tidak.Sistem pengalian dilakukan secara selang-seling. (misalnya galian diberi nomor 1,2, 3 dst
maka pengalian pertama adalah nomor 1, pengalian kedua adalah nomor 3 dst ).Hal ini
dilakukan untuk meminimalkan terjadinya keruntuhan pada dinding galian.
Pekerjaan rangkaian pembesian harus disiapkan secara simultan dengan penggalian,
sehingga saat galian sudah siap maka rangkaian pembesian juga sudah siap.( Karena galian
hanya boleh dibiarkan maximal 2 x 24 ).Model rangkaian pembesian adalah double reinforced (
tulangan rangkap ) yang berfungsi menahan gaya geser dan momen lentur pada diafragma
wall.Rangkaian pembesian ini pada sisi-sisi tebalnya diberi end plate yang berfungsi
untuk penyambung antar diafragma wall. Setelah pengecekan dengan ultrasonic dilakukan dan
menunjukan tidak ada keruntuhan pada dinding galian maka melangkah pada tahap berikutnya
yaitu: Untuk Cor In Situ.
- Memasukkan rangkaian pembesian.Rangkaian pembesian pada sisi yang nantinya menjadi
dinding dalam basement dipasang juga terpal supaya tampilan diafragma wallnya bisa
bagus/rata.

- Melakukan pengecoran dengan concrete pump sampai selesai.

Untuk pemakaian dengan sistem precast maka setelah galian siap langsung memasukan
panel Precast diafgrama wall. Gambar yang diambil dari Brasfond dibawah ini mungkin dapat
memperjelas uraian diatas.

KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN DIAFRAGMA WALL

1. Biasanya pada lokasi bangunan yang sangat padat ( pemukiman atau gedung lainnya),
kendala untuk membuat basement adalah pada pekerjaan galiannya.Dengan diafragma
wall ini maka hal ini dapat diatasi, karena metoda penggalian dengan mesin grab ini tidak
akan terlalu menggangu terhadap lingkungan sekitar ( dari kebisingan, kerawanan
longsor, MAT yang turun dll ).Pekerjaan pemasangan sheet pile dari baja yang berisik
dan rawan terjadi pergeseran lapisan tanah tidak ada pada pekerjaan difragma wall ini.
Begitu juga dewatering, belum diperlukan pada pelaksaanaan awal diafragma wall
ini.Dengan demikian maka akan “ reliable” pengunaan konstruksi diafragma wall untuk
bangunan basement pada lingkungan yang padat. 2.

2. Memungkinkan tercapainya penyelesaian yang lebih cepat dibandingkan dengan metoda
konvesional karena dapat diterapkan sistem “ top-down construction”, yaitu pekerjaan
struktur ke atas dan ke bawah bisa dilaksanakan secara bersamaan.

3. Tingkat untuk basement bisa lebih banyak, karena dengan diafragma wall ini kedalaman
galian bisa lebih dalam dibandingkan dengan dinding penahan tanah konvensional. 2.4.
KEKURANGAN MENGGUNAKAN DIAFRAGMA WALL

1. Biaya konstruksi “ relative “ lebih mahal dibandingkan metoda konvensional.

2. Untuk diafragma wall dengan metoda cor in situ, jika pekerjaan galian tidak hati-hati
rawan terjadi ketidak rataan permukaan dinding sisi dalam.

3. Masih diperlukan pekerjaan injection grouting pada sambungan untuk mengatasi
kebocoran ( sistem cor in situ maupun precast ).

4. Tidak bisa diterapkan untuk pekerjaan dinding penahan tanah pada tepi tebing.

5. Diperlukan tim lapangan yang handal, untuk menjaga simultan dengan
pekerjaan pondasi bore pile dan pemasangan “king post” serta “ strutting” sebagai
penahan diafragma wall ini saat dilakukan pengalian tanah untuk sisi dalam ( yang
dipakai untuk basement).

(GAMBAR DIAFRAGMA WALL)

KONSTRUKSI BASEMENT

3.1.PENGERTIAN BASEMENT
Basement adalah sebuah tingkat atau beberapa tingkat dari bangunan yang keseluruhan
atau sebagian terletak di bawah tanah. Basement adalah ruang bawah tanah yang merupakan
bagian dari bangunan gedung. Pada masa ini basement dibuat sebagai usaha untuk
mengoptimalkan penggunaan lahan yang semakin padat dan mahal. Tidak semua bangunan
memiliki basement. Untuk bangunan yang memilikinya, tungku perapian ( Furnace ), alat
pemanas air (water heater ), pelataran mobil dan sistem pengaturan suhu dari satu rumah atau
bangunan secara khas terlokasi pada tingkatan terbawah bangunan ini; sehingga menjadi suatu
kenyamanan tersendiri untuk pemasangan dan aplikasi bagian seperti sistem distribusi elektrik,
dan titik distribusi televisi kabel .
Basement memberikan satu kesempatan untuk ahli bangunan untuk mencapai suatu titik
balik dalam pengeluarannya, dan customer/klien untuk mendapatkan keuntungan dengan
membangun sebuah bagunan yang bernilai potensi lebih. Dalam pelaksanaan konstruksi
basement, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yakni metode konstruksi, retaining
wall dan dewatering.

.

3.2.PEMILIHAN TIPE BASEMENT
Sebelum menentukan tipe basement seperti apa yang akan dibangun, terdapat beberapa
faktor yang harus diperhatikan demi kesempurnaan bangunan. Faktor – faktor tersebut antara
lain:
Ketinggian air tanah di lokasi
Kemungkinan kontaminasi dari air tanah
Drainase alami
Jenis tanah
Akses ke lokasi 3.3. TIPE-TIPE BASEMENT

1.Tipe A – Perlindungan Tanki (Tanked Protection)
Struktur tidak memiliki perlindungan integral untuk melawan penetrasi air tanah dan
selanjutnya sangat bergantung pada lapisan membran kedap air (waterproofing membrane).
Sistem struktur anti air yang dipilih harus dapat mengatasi tekanan hidrostatik dari air bawah
tanah, bersama dengan lapisan yang ada sesuai dengan beban yang ditumpu.
Struktur tembok dapat menggunakan pratekan ( prestressed ), beton yang dikuatkan atau
beton polos ataupun batuan keras dengan sistem struktural kedap air digabungkan secara
eksternal selama konstruksi. Atau dapat diterapkan secara internal pada basement yang telah
selesai dibangun. Tembok batuan keras (masonry) bisa jadi memerlukan penambahan semen
untuk menghasilkan permukaan yang cukup bagus untuk mendapatkan sistem kedap air yang
diharapkan. Bentuk konstruksi ini cukup mumpuni tergantung dari sistem kedap air
(waterproofing ) yang dipakai, juga menghasilkan ketahanan yang tingggi dari pergerakan air
tanah
2.Tipe B – Perlindungan integral terstruktrur (structurally integral protection)
Struktur membutuhkan pembangunan struktur itu sendiri untuk dibangun sebagai kulit
integral tahan air. Pembangunan beton yang dikuatkan atau pratekan yang tanpa alternatif lain,
struktur basement haruslah dirancang dengan parameter yang pasti dan ketat untuk memastikan
ketahanan airnya. Kebanyakan rancangan harus dibangun sesuai dengan rekomendasi BS 8007
atau BS 8110, yang memberikan petunjuk kwalitas beton dan jarak antar tulangan. Tanpa adanya
tambahan membran yang terpisah, bentuk konstruksi ini bisa dikatakan tidak sama tahannya
terhadap air dan pergerakan uap air seperti tipe A atau C.

3.Tipe C – Perlindungan dengan pengaliran (drained protection)
Struktur menggabungkan rongga alir di antara struktur basement.
Ketergantungan permanen daripada rongga ini untuk mengumpulkan air tanah sepanjang palung
rembesan struktur dan langsung meneruskan air tersebut ke pembuangan air dari drainase atau
dengan pemompaan.
Struktur tembok dapat menggunakan pratekan (prestressed ), beton yang dikuatkan atau
beton polos ataupun batuan keras. Tembok basement bagian luar harus memiliki ketahanan yang
cukup terhadap air untuk memastikan rongga air yang ada hanya mendapatkan limpahan air yang
terkontrol. Jika tidak, sistem rongga ini tidak dapat mengatasi air bah melewati batas limpahan
air terutama selama kondisi badai/banjir.

Bentuk konstruksi ini cukup mumpuni tergantung dari sistem kedap air (waterproofing )
yang dipakai, juga menghasilkan ketahanan yang tingggi dari pergerakan air tanah.

3.4.STRUKTUR BASEMENT

Struktur basement gedung bertingkat (tidak termasuk pondasi tiang), secara garis besar
terdiri dari :

1. Raft foundation Raft foundation adalah salah satu tipe pondasi bangunan gedung bertingkat.
Jika pada umumnya, pondasi gedung merupakan gabungan antara tiang pancang/ bored
pile, pile cap/ poor dan tie beam, maka sistem raft foundation menghilangkan pile cap dan
tie beam diganti dengan sebuah pondasi masif yang menyatukan seluruh pile cap atau bored
pile yang ada. Jika disederhanakan, raft foundation bisa juga disebut sebagai pile cap
raksasa, yang menggabungkan bukan hanya 4/5 tiang pancang/ bored pile, melainkan semua
bagian gedung.
2. Kolom Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari
balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang peranan penting dari
suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total
collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom
adalah komponen struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan
vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral
terkecil. Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila
diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan
berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain
seperti beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom
berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.
3. Dinding Basement Dinding pada basement harus dirancang agar kokoh dan kuat, mengingat
fungsinya sebagai retaining wall (penahan beban tekanan tanah dan air). Ketebalan dinding
betonnya berkisar antara 15-17.5 cm, bergantung pada kedalaman lantai basement-nya.
Sementara untuk mengantisipasi adanya rembesan air, dinding mutlak diberi lapisan
waterproofing

4. Balok dan Plat Lantai Balok dan pelat adalah elemen dari sebuah bangunan. Kegagalan
dalam merencanakan dimensi dan penulangan dapat menyebabkan keruntuhan
dari bangunan tersebut.
3.5.METODE PELAKASANAAN KONSTRUKSI BASEMENT 3.5.1.

SISTEM KONVENSIONAL (BOTTOM UP) 1.

1. Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan setelah seluruh pekerjaan galian selesai
mencapai elevasi rencana

2. Raft foundation dicor dengan metode papan catur, kemudian basement diselesaikan dari
bawah ke atas dengan menggunakan scafolding

3. Kolom, balok dan slab dicor di tempat

4. Pada sistem ini sering tidak menggunakan dewatering cut off, tetapi menggunakan
dewatering sitem predrainage dan struktur dinding penahan tanahnya menggunakan steel
sheet pile

5. Bila pekerjaan dewatering akan diberhentikan, harus dihitung lebih dulu apakah struktur
basement yang telah selesai dibangun mampu menahan tekanan ke atas dari air tanah
yang ada, agar tidak terjadi deformasi dari bangunan yang dapat menyebabkan keretakan
struktur

6. Kebocoran yang terjadi pada basement merupakan masalah yang tidak mudah
mengatasinya dan bahkan memakan biaya yang besar. Oleh karena itu proses pengecoran
pada struktur basement harus dilakukan dengan teliti dalam mencegah terjadinya
kebocoran pada dinding atau lantai.

7. Proses pengecoran, baik lantai maupun dinding basement biasanya tidak mungkin
dilakukan sekaligus, disamping luas arealnya juga volumenya cukup besar. Disini
masalah kebocoran yang sering timbul sebagai akibat tidak rapatnya hubungan antara
permukaan beton tahap pengecoran sebelumnya dengan permukaan beton tahap
pengecoran berikutnya

8. Semakin banyak tahapan pengecorannya, maka semakin banyak titik lemah terhadap
kemungkinan kebocoran Untuk mengatasi kebocoran biasanya dilakukan 2 hal yaitu :
1.Penggunaan water stop pada setiap sambungan tahap pengecoran 2.Menggunakan
additive beton untuk waterproofing

9. Posisi water stop biasanya ada 2 jenis yaitu dipasang ditengah ketebalan beton (central),
dan dipasang rata dengan permukaan beton (external)

10. Material water stop terbuat dari karet/pvc, dan mudah disambung di lapangan dengan
menggunakan alat pemanas saja

11. Fungsi water stop ada 2 yaitu untuk expansion joint dan construction joint
12. Sistem pemasangan water stop harus direncanakan dengan baik agar dapat berfungsi
sebagaimana yang diharapkan. Water stop harus dipasang pada tempat yang
direncanakan sebelum proses pengecoran beton dimulai. Oleh karena itu, letak water
stop harus dikaitkan dengan kemampuan pengecoran yang ada, dan selama proses
pengecoran letak water stop harus senantiasa dijaga.

SISTEM TOP DOWN

1. Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan galian basement
2. Urutan penyelesaian balok dan plat lantainya dimulai dari atas ke bawah, dan selama proses
pelaksanaan, struktur pelat dan balok tersebut didukung oleh tiang baja yang disebut King Post
(yang dipasang bersamaan dengan bored pile)
3. Sedang dinding basement dicor lebih dulu dengan sistem diaphragm wall, dan sekaligus
diaphragm wall tersebut berfungsi sebagai cut off dewatering.

4.Pada tahap 1 :
•Pengecoran bored pile dan pemasangan king post
•Pengecoran diaphragm wal

5.Pada tahap 2 dan seterusnya :
•Lantai basement 1 dicor di atas tanah dengan lantai kerja
•Galian basement 1 dilaksanakan setelah lantai basement 1 cukup kekuatannya, menggunakan
excavator kecil. Disediakan lubang lantai dan ramp sementara untuk pembuangan tanah galian
•Lantai basement 2 dicor di atas tanah dengan lantai kerja
•Galian basement 2 dilaksanakan seperti galian basement 1, begitu seterusnya
•Terakhir mengecor raft foundation •King post dicor sebagai kolom struktur
•Bila diperlukan, pada saat pelaksanaan basement dapat dimulai struktur atas, sesuai dengan
kemampuan dari king post yang ada (sistem up & down)

6. Biasanya untuk penggalian basement digunakan alat khusus, seperti excavator ukuran kecil.
7.Bila jumlah lantai basement banyak, misal 5 lantai, maka untuk kelancaran pekerjaan, galian
dilakukan langsung untuk 2 lantai sekaligus, sehingga space cukup tinggi untuk kebebasan
proses penggalian
8.Lantai yang dilalui, nantinya dilaksanakan dengan cara biasa, menggunakan scafolding
(seperti pada sistem bottom up)
9.Bila struktur basement telah selesai, maka tiang king post di cor beton dan bila diperlukan
dapat ditambah penulangannya.
10.Lubang-lubang lantai basement yang dipergunakan untuk pengangkutan tanah galian ditutup
kembali.
11.Pengecoran struktur atas dilaksanakan seperti biasa yaitu dari bawah ke atas

12.Salah satu detail king post dapat dijelaskan sbb :
•Lantai pertama dan sebagian kolom dicor, dengan memasang starter
bar untuk kolom
•Lantai berikutnya juga dicor dengan cara yang sama. Kemudian starter
bar kolom bawah dan atasnya disambung, kemudian kolom yang bersangkutan dicor
SLOOF

 Biasanya berukuran kecil dan banyak digunakan pada konstruksi rumah-rumah
sederhana.
 Biasanya menumpu pada pondasi batu kali, atau tidak langsung mengenai tanah.
 Biasanya hanya digunakan sebagai penguat dan pengaku dinding, bukan sebagai pengaku
seluruh bangunan.
 Biasanya menggunakan besi tulangan yang kecil jadi tidak terlalu mahal.
T-BEAM

 Ukuran T-beam lebih besar dari pada sloof. Biasanya mengikuti ukuran pondasi atau
ukuran kolom.
 Penggunaan besi tulangan pada T-beam lebih variatif karena menyesuaikan dengan
struktur bangunannya. Biasanya ukuran dan bentuk penulangannya disesuaikan oleh
konsultan bangunan.
 Dapat bertumpu langsung pada tanah, biasanya berfungsi sebagai penghubung antar pile
cap.
 Berfungsi sebagai pengkaku seluruh bangunan diatasnya, karena merupakan satu
kesatuan.
 Bisanya digunakan untuk bangunan yang berukuran besar
 Penggunaannya bisanya sebagai penopang plat lantai dari bangunan tersebut