You are on page 1of 26

1

Long Case

EPISKLERITIS

Oleh:

Edwin Hidayat 04084821719191
M. Kokoh Saputra 04084821719189
Nyayu Firda 04054821820047
Naufal Karyna Putri 04054821820049
Afkara Husna Firdanisa 04054821820146
Vejitha Raja Kumar 04084821820050

Pembimbing:

dr. Linda Trisna, Sp.M(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

2018

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Long Case

EPISKLERITIS

Oleh:
Edwin Hidayat 04084821719191
M. Kokoh Saputra 04084821719189
Nyayu Firda 04054821820047
Naufal Karyna Putri 04054821820049
Afkara Husna Firdanisa 04054821820146
Vejitha Raja Kumar 04084821820050

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian
kepaniteraan klinik senior di Departemen Ilmu Kesehatan Mata Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Periode 26 Maret – 30 April 2018.

Palembang, 11 April 2018

dr. Linda Trisna, Sp.M(K)

Penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada dr.M(K) selaku pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan. motivasi. 11 April 2018 Penulis . Mohammad Hoesin Palembang. Sp. dapat penulis selesaikan sebagai salah satu syarat guna mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr. Palembang. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan karya di masa yang akan datang. masukan. Long Case yang berjudul “Episkleritis”. kemudahan dan perbaikan sehingga long case ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Semoga long case ini dengan segala keterbatasannya masih dapat memberikan manfaat bagi pembaca. iii KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya. Linda Trisna.

...... iii DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….6........... 10 3.... Penegakkan Diagnosis……………………………………………………… 11 3. 9 3. 15 3.. ii KATA PENGANTAR………………………………………………………………….2... Definisi…………………………………………………………………….2..………………………………………….8........2.......3.... Terapi………………………………………………………………………..……………………………………………………………. 10 3....2.2.2..2.... 10 3. 17 18 BAB IV PENUTUP 4.........1..2.. Klasifikasi…….... 13 3..1. Latar Belakang……………………………………………………………………....5. 3..1. i HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………………………. Komplikasi…………………………………………………………………. iv BAB I PENDAHULUAN 1..2........4.2. Prognosis…………………………………………………………………… 17 3.... iv DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………….7.……………………………………………....... Patofisiologi……………....... Episkleritis………………………….......... Diagnosis Banding…………………………………………………………. 19 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………… 21 . Anatomi Episklera.…………………………………………………...... Epidemiologi ……………….... Kesimpulan…………………………………………………………………………..2...1.9. 10 3...... 1 BAB II STATUS PASIEN……………………………………………………………… 3 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.

Episklera mempunyai dua cabang pembuluh darah. tatalaksana serta prinsip pemilihan pembedahan yang sesuai . penyakit inflamasi saluran cerna. dan vaskulitis. 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Pada dewasa. Penyakit sistemik biasanya jarang pada anak-anak.3 Tujuan long case ini disusun untuk mengetahui dan mempelajari serta menambah pemahaman lebih lanjut mengenai episkleritis baik dalam hal etiologi. SLE. Merupakan suatu reaksi toksik. glukosa dan protein.2. Tidak ada perbedaan jenis kelamin. dan yang satunya lagi yang lebih di dalam. patogenesis.1. Dapat saja kelainan ini terjadi secara spontan dan idiopatik. infeksi herpes. lues. yang pertama pada permukaan dimana pembuluh darah tersusun melingkar. 30 % kasus berhubungan dengan penyakit jaringan ikat penyertanya. Radang episklera dan sklera mungkin disebabkan reaksi hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik seperti tuberkulosis. Episklera mengandung banyak pembuluh darah yang menyediakan nutrisi untuk sklera dan permeabel terhadap air. Pada anak-anak episkleritis biasanya menghilang dalam 7-10 hari dan jarang rekuren. Episklera juga berfungsi sebagai lapisan pelicin bagi jaringan kolagen dan elastis dari sklera dan akan bereaksi hebat jika terjadi inflamasi pada sklera.1 Episkleritis merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskuler yang terletak antara konjungtiva dan permukaan sklera. dan lainnya. rheumatoid artritis.2 Angka kejadian pasti tidak diketahui karena banyaknya pasien yang tidak berobat. Latar Belakang Episklera merupakan jaringan elastik halus yang membungkus permukaan luas sklera anterior. terdapat pembuluh darah yang melekat pada sklera. namun terdapat laporan 74 % kasus terjadi pada perempuan dan sering terjadi pada usia ≥40 tahun. alergik atau merupakan bagian daripada infeksi. gout. pemeriksaan diagnostic.

BAB II STATUS PASIEN . Mohammad Hoesin Palembang. 2 dan memenuhi persyaratan kelulusan dalam kepaniteraan klinik ilmu penyakit mata di RSUP Dr.

reumatoid artritis. silau. systemic lupus erythematosus (SLE) disangkal  Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal  Riwayat trauma pada area mata disangkal  Riwayat penggunaan kacamata disangkal  Riwayat konsumsi obat-obatan jangka panjang disangkal  Riwayat operasi disangkal  Riwayat alergi disangkal d. Riwayat Perjalanan Penyakit : Sejak + 1 minggu yang lalu. 3 1. Riwayat Penyakit Keluarga :  Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal . Pasien juga mengeluh mata kanan sering berair. Kemudian pasien berobat ke Rumah Sakit Khusus Mata Palembang. Keluhan Utama : Mata merah pada mata sebelah kanan b. Anamnesis (Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 3 april 2018) a. SR Umur : 25 tahun Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Bangsa : Indonesia Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Palembang No. pasien mengeluh mata kanan merah pada bagian kanan bawah putih mata dan dekat dengan kornea. gatal tidak ada. Riwayat Penyakit Dahulu :  Riwayat penyakit sistemik seperti tuberkulosis. terasa ada yang mengganjal dan merasa tidak nyaman. Identitas Pasien Nama : Ny. Keluhan mata terdapat sekret tebal dan kental serta darah juga tidak ada. RM : 205118 Tanggal Pemeriksaan : 3 April 2018 2. sulit membuka mata. Keluhan pandangan mata kabur. c.

isi dan tegangan cukup Frekuensi napas : 24 kali/menit Suhu : 36. Pemeriksaan Fisik a. Status Generalisata Keadaan umum : pasien tampak sakit ringan Kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 83 kali/menit regular. 4 3.8o C Berat badan : 50 kg Tinggi badan : 160 cm IMT : 19.53 (normal weight) .

5 b. Status Oftalmologis .

3x3 mm Kornea Jernih Jernih BMD Sedang Sedang Iris Gambaran baik Gambaran baik Pupil Bulat. diameter 3 mm cahaya (+). Central. diameter 3 mm Lensa Jernih Jernih Refleks Fundus RFOD (+) RFOS (+) Papil Bulat. c/d : 0.3 merah (N). Refleks Bulat. Refleks cahaya (+). batas tegas. Central. warna Bulat. c/d : 0. 6 Okuli Dekstra Okuli Sinistra Visus 6/6 6/6 Tekanan intra- P= N+0 P = N+0 okular KBM Ortoforia GBM Palpebra Tenang Tenang Konjungtiva Injeksi episklera superfisial Tenang (+) Terdapat nodul kemerahan berbatas tegas. warna merah (N).3 a:v = 2:3 a:v = 2:3 Makula Refleks Fovea (+) N Refleks Fovea (+) N Retina Kontur pembuluh darah Kontur pembuluh darah baik baik . batas tegas.

Tatalaksana .  Bila curiga adanya penyakit yang mendasari episkleritis maka sebaiknya di konsultasikan ke bagian masing-masing.5 % (tetes mata): kemerahan berkurang (blanching/memucat) 4. 7  Tes  Tes Fenilefrin 2. penggunaan kacamata hitam dapat membantu. Farmakologi  Artificial tears  Anti-inflamasi non-steroid (NSAID). Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan darah lengkap  Pemeriksaan histopatologi 5.  Bila terdapat gejala sensitifitas terhadap cahaya. Non-Farmakologi  Bila terdapat riwayat yang jelas mengenai paparan zat eksogen. . . KIE  Menjelaskan kepada pasien bahwa keluhan yang dialami akan hilang sendiri dan bias terjadi kembali sewaktu-waktu. Diagnosis Kerja Episkleritis noduler okuli dextra 7. Diagnosis Banding  Episkleritis noduler okuli dextra  Skleritis noduler okuli dextra  Konjungtivitis flikten okuli dextra 6. seperti alergen atau iritan.  Menjelaskan kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan rutin mata ataupun jika keluhan bertambah. seperti ibuprofen . maka perlu dilakukan avoidance untuk mengurangi progresifitas gejala dan mencegah kekambuhan.

Prognosis • Quo ad vitam : bonam • Quo ad functionam : bonam • Quo ad sanationam : dubia ad bonam LAMPIRAN Gambar 1. Orbikularis okuli dekstra et sinistra . 8 8.

9 (A) (B) Gambar 2.Terdapat nodul kemerahan. . 3x3 mm. batas tegas. Hasil: tampak Kongesti pleksus episklera superfisial (+). (B) Orbikularis okuli sinistra Gambar 3. (A) Orbikularis okuli dextra. Pemeriksaan menggunakan Slit Lamp pada okuli dextra.

sementara itu di episklera anterior berhubungan dengan pleksus konjungtiva. 10 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.12 Gambar 4. pleksus episklera superfisial dan pleksus episkera profunda.1 Jaringan fibroelastis dari episklera mempunyai dua lapisan yaitu lapisan viseral yang lebih dekat ke sklera dan lapisan parietal yang bergabung dengan fasia dari otot dan konjungtiva dekat limbus. Episklera juga berfungsi sebagai lapisan pelicin bagi jaringan kolagen dan elastis dari sklera dan akan bereaksi hebat jika terjadi inflamasi pada sklera. Episklera mengandung banyak pembuluh darah yang menyediakan nutrisi untuk sklera dan permeabel terhadap air. glukosa dan protein. Anatomi Mata Pleksus episklera posterior berasal dari siliari posterior .11 .1 ANATOMI EPISKLERA Episklera merupakan jaringan elastik halus yang membungkus permukaan luas sklera anterior.

1.2.3. 30% kasus berhubungan dengan penyakit jaringan ikat penyertanya.2 EPISKLERITIS 3. EPIDEMIOLOGI Angka kejadian pasti tidak diketahui karena banyaknya pasien yang tidak berobat. bersifat ringan. 11 3. Tidak ada perbedaan jenis kelamin.2. ringan. namun terdapat laporan 74% kasus terjadi pada perempuan dan sering terjadi pada usia dekade 4-5. infeksi herpes. Pada anak-anak episkleritis biasanya menghilang dalam 7-10 hari dan jarang rekuren. Penyakit sistemik biasanya jarang pada anak-anak.10 3.11 3.2. penyakit inflamasi saluran cerna. Pada dewasa. Penyakit-penyakit sistemik tertentu misalnya a. DEFINISI Episkleritis adalah suatu reaksi inflamasi pada jaringan episklera yang terletak di antara konjungtiva dan sklera. gout. dan vaskulitis. . dan bersifat rekurensi Episkleritis adalah penyakit pada episklera yang sering. paling banyak bersifat idiopatik namun sepertiga kasus berhubungan dengan penyakit sistemik dan reaksi hipersensitivitas mungkin berperan. dapat sembuh sendiri. Penyebab tidak diketahui. PATOFISIOLOGI Patofisiologi belum diketahui secara pasti namun ditemukan respon inflamasi yang terlokalisir pada superficial episcleral vascular network.2. dapat sembuh sendiri dan biasanya mengenai orang dewasa dan berhubungan dengan penyakit sistemik penyertanya tetapi tidak dapat berkembang menjadi skleritis. Collagen vascular disease. patologinya menunjukkan inflamasi nongranulomatous dengan dilatasi vaskuler dan infiltrasi perivaskuler.

parasites. Bacteria including tuberculosis. following transscleral fixation of posterior chamber intraocular lens. 12 Polyarteritis nodosa. terdapat kemerahan yang bersifat sektoral atau dapat bersifat diffuse (jarang). dermatomyositis. Reiter syndrome. Foreign bodies. KLASIFIKASI Terdapat dua tipe klinik dari episkleritis yaitu episkleritis sederhana dan episkleritis noduler. Tiap serangan berlangsung 7-10 hari dan paling banyak sembuh spontan dalam 1-2 atau 2-3 minggu. Wiskott-Aldrich syndrome. Miscellaneous .11 . Insect bite granuloma. Malpositioned Jones tube. T-cell leukemia.9 Hubungan yang paling signifikan adalah dengan hiperurisemia dan gout. Progressive hemifacial atrophy.2. Atopy. 1. Lyme disease dan syphilis. Pada anak kecil jarang kambuh dan jarang berhubungan dengan penyakit sistemik. Chemicals d.4. Paraneoplastic syndromes-Sweet syndrome. psoriatic arthritis. c. inflamatory bowel disease.10. Dapat lebih lama terjadi pada pasien dengan penyakit sistemik. Gout. Necrobiotic xanthogranuloma. dan edema episklera. artritis rematoid b. Infectious disease. fungi. Episkleritis sederhana (Simple episcleritis) Tipe yang paling sering dijumpai adalah episkleritis sederhana (80%). seronegative spondyloarthropathies-Ankylosing spondylitis. Paraproteinemia. Beberapa pasien melaporkan serangan lebih sering terjadi saat musim hujan atau semi. Adrenal cortical insufficiency. merupakan penyakit inflamasi moderate hingga severe yang sering berulang dengan interval 1-3 bulan. Penyebab lain/yang berhubungan (jarang). Faktor presipitasi jarang ditemukan namun serangan dapat dihubungkan dengan stress dan perubahan hormonal.9 3. viruses termasuk herpes.

11 .10. membentuk nodul dengan injeksi sekelilingnya. 5% berhubungan dengan artritis rematoid. 13 Gambar 5. 7% berhubungan dengan herpes zoster ophthalmicus atau herpes simplex dan 3% dengan gout atau atopy) dan lebih nyeri dibandingkan tipe sederhana. Episkleritis Sederhana 2. Episkleritis noduler (20%) terlokalisasi pada satu area. berhubungan dengan penyakit sistemik (30% kasus. Episkleritis noduler (Nodular episcleritis) Pasien dengan episkleritis noduler mengalami serangan yang lebih lama.

Mata merah merupakan gejala utama atau satu-satunya 2. Tidak ada gangguan dalam ketajaman penglihatan 3. 14 Gambar 6.5.2. Keluhan penyerta lain. mengganjal. nyeri. namun dapat pula berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan 6. Keluhan biasanya bersifat akut. Keluhan. Dapat ditemukan gejala-gejala terkait penyakit dasar di antaranya: tuberculosis. Hasil Anamnesis( Subjective) 1. Bila keluhan dirasakan amat parah.keluhan tersebut bersifat ringan dan tidak mengganggu aktifitas sehari-hari. atau berair. SLE. maka perlu dipikirkan diagnosis lain 4. . PENEGAKAN DIAGNOSIS 7 Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Episkleritis Noduler 3. rheumatoid arthritis. misalnya: rasa kering. alergi (missal: eritema nodosum) atau dermatitis kontak. Keluhan biasanya mengenai satu mata dan dapat berulang pada mata yang sama atau bergantian 5.

Pada episkleritis. sedangkan pada skleritis kemerahan menetap. Dapat ditemukan mata yang berair. Pada episkleritis nodular. Kemerahan hanya melibatkan satu bagian dari area episklera. kental dan berair. Cara membedakan episkleritis dengan skleritis adalah dengan melakukan tes Fenil Efrin 2. dengan secret yang jernih dan encer. Keluhan sistemik umumnya lebih sering menimbulan episkleritis nodular daripada simple. ditemukan nodul kemerahan berbatas tegas di bawah konjungtiva. Pada penyinaran dengan senter. Nodul dapat digerakkan. SLE. yang letaknya di atas dan terpisah dari lapisan sklera dan pleksus episklera profunda di dalamnya.5% akan mengecilkan kongesti dan mengurangi kemerahan (blanching/ memucat). penetesan Fenil Efrin 2. Bila secret tebal. Bila nodul ditekan dengan kapas atau melalui kelopak mata yang dipejamkan di atasnya. tanda dari episkleritis adalah: 1. penetesan Fenil Efedrin 2. akan timbul rasa sakit yang menjalar ke sekitar mata 4.5% (tetes mata). tampak warna pink sedangkan pada skleritis warnanya lebih gelap dan keunguan 2. sesuatu yang tidak terjadi pada skleritis 3. perlu dipikirkan diagnosis lain 6. 7. Pemeriksaan status generalis harus dilakukan untuk memastikan tanda-tanda penyakit sistemik yang mungkin mendasari timbulnya episkleritis seperti tuberculosis. Dengan demikian. rheumatoid arthritis. 15 Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana ( Objective). yang merupakan vasokonstriktor. Kemerahanpada episkleritis disebabkan oleh kongesti pleksus episklera superfisial dan konjungtival. Hasil pemeriksaan visus dalam batas normal 5. Secara umum.5% akan mengecilkan kongesti dan mengurangi kemerahan. yaitu nodular dan simple. dermatitis kontak. Pemeriksaan penunjang8 . eritema nodosum. Episkleritis terbagi menjadi dua tipe. pada episkleritis.

DIAGNOSIS BANDING4  Konjungtivitis Disingkirkan dengan sifat episkleritis yang lokal dan tidak adanya keterlibatan konjungtiva palpebra.2. kecepatan sedimentasi eritrosit (ESR). Tabel 1. rheumatoid factor.  Skleritis 5 Dalam hal ini misalnya noduler episklerits dengan sklerits noduler . pemeriksaan asam urat serum. dan episkleritis sederhana yang persisten atau rekuren. diperlukan hitung jenis sel darah (diff count).Pada konjungtivitis ditandai dengan adanya sekret dan tampak adanya folikel atau papil pada konjungtiva tarsal inferior. rekuren. 3. Diagnosis Banding Episkleritis dan Skleritis4 . pemeriksaan dilakukan di bawah sinar matahari (jangan pencahayaan artifisial) disertai penetesan epinefrin 1:1000 atau fenilefrin 10% yang menimbulkan konstriksi pleksus vaskuler episklera superfisial dan konjungtiva. konjungtivitis. pemeriksaan antibodi antinuklea. 16  Pada kebanyakan pasien dengan episkleritis yang “self limited” pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan. tes VDRL (Venereal Disease Research Laborator)) dan tes FTA-ABS (Fluorescent Treponemal Antibody Absorption).6.  Pada beberapa pasien dengan episkleritis noduler atau pada kasus yang berat. foto thoraks. dan injeksi siliar.untuk mendeteksi keterlibatan sklera dalam dan membedakannya dengan episkleritis.

17 EPISKLERITIS SKLERITIS Gejala Onset Akut Perlahan-lahan Nyeri Ringan (tidak nyaman) Severe boring eye pain yang menjalar hingga ke dahi.  Keratokonjungtivitis limbic superior. Terdapat gejala lainnya seperti mata berair. Scleritis. TB dll)  Iritis Pada iritis ditemukan adanya sel dan ”flare” pada kamera okuli anterior. Pada skleromalasia perforans dapat menunjukkan gejala minimal atau tanpa gejala. Gambar 7. Engorged scleral vessels do not blanch with application of topical phenylephrine 2. (SLE. . Riwayat Episode rekuren Episode rekuren Dapat berhubungan dengan Biasanya berhubungan dengan penyakit sistemik namun penyakit sistemik yang parah kebanykan idiopatik. visus normal.5 percent. PAN. fotofobia dan visus menurun perlahan. alis Lokasi Terlokalisir atau mata merah dan rahang Mata yang merata Terlokalisir atau mata merah terkena Uni atau bilateral merata Gejala lainnya Gejala lainnya seperti mata Uni atau bilateral berair.

KOMPLIKASI Komplikasi episkleritis yang mungkin terjadi adalah iritis. seperti flurbiprofen untuk membantu meredakan nyeri dan bengkak dan mengurangi peradangan. Steroid eye drops. Sekitar 1 dari 10 orang dengan episkleritis akan berkembang kearah iritis ringan. Non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID). PROGNOSIS Prognosis akhirnya baik karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu dan tidak akan mempengaruhi visus. Blanching of the vessels occurs with application of topical phenylephrine 2. 3. 2.8. TATALAKSANA5. 3.7.5 percent. seperti dexamethasone untuk membantu mengurangi peradangan dan mempercepat pemulihan. dokter mungkin akan meresepkan beberapa obat berikut: 1.5 3. Jika gejala semakin parah atau bertahan lama. Episcleritis. Air mata buatan dapat berguna dalam menghilangkan gejala mata kering. 5 Namun kekambuhan dapat .6 Episkleritis biasanya akan hilang sendiri dalam waktu sekitar 10 hari dan biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun.9.2.2. 18 Gambar 8. Engorged episcleral vessels give the eye a bright red appearance.2.

19 terjadi selama bertahun-tahun. Pada kebanyakan kasus perjalanan penyakit dipersingkat 7 dengan pengobatan yang baik .

NSAID berfungsi sebagai inhibitor enzim cyclooksigenase (COX) yang berfungsi sebagai katalisator pembentukan prostalglandin. maka bisa jadi vasodilatasi akibat inflamasi terjadi di bagian yang lebih dalam. sehingga . Episkleritis merupakan self-limiting disease yang biasanya akan hilang sendiri dalam waktu sekitar 10 hari dan biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun. Pada pemeriksaan inspeksi mata kanan di dapatkan adanya kongesti pleksus episklera superfisial dan terdapat nodul kemerahan berbatas tegas ukuran 3x3 mm yang menunjukkan tanda episkleritis.5% didapatkan kemerahan berkurang karena tetes fenilefrin 2. Rasa nyeri pada mata kanan . Jika penyakit bertahan lama. Terasa mengganjal da tidak nyaman di mata kanan . Pada konjungtiva terdapat kongesti pleksus episklera superfisial dan terdapat nodul kemerahan berbatas tegas ukuran 3x3 mm . Tes fenilefrin 2. seperti rasa perih dan kemerahan. dan pemeriksaan penunjang.5% dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah mata perifer atau episklera. Mata kanan sering berair . Jika tidak didapatkan vasokonstriksi. seperti skleritis. VOD 6/6 VOS 6/6 . Untuk pengobatan dapat diberikan tetes mata yang bersifat sebagai lubrikan untuk mengurangi gejala. 20 BAB IV ANALISIS KASUS Dari anamnesis di dapatkan keluhan : . dapat dipikirkan untuk pemberian NSAID. Sering menggosok-gosok mata Dari pemeriksaan fisik didapatkan : . Mata kanan merah sejak 1 minggu lalu . Pasien ini didiagnosa episkleritis berdasarkan anamnesis. Prostalglandin berfungsi sebagai penyandi proses inflamasi. pemeriksaan fisik.

21 berguna dalam menekan proses inflamasi pada mata dan etiologi inflamasi penyebab episkleritis pasien. quo ad fungtionam pada kasus ini bonam karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu dan tidak akan mempengaruhi visus. dan quo ad sanationam pada kasus ini adalah dubia ad bonam karena pada episkleritis bisa rekuren seiring dengan keberadaan faktor resiko pasien. DAFTAR PUSTAKA . Prognosis pasien ini berdasarkan quo ad vitam adalah bonam.

htm 9. Cleveland Clinic Journal ofMedicine.A & Jeng. 2012. Edisi ketiga. Galor. 2. 2002.emedicine.nlm. Episcleritis in The Wills Eye Manual 3 rd Edition pp133-134. 10. Balai Penerbit FKUI Jakarta. Jack. ButterworthHeinemann. pp. 151-2. 52.gov/pubmed/18290357.P. Riordan Paul-Eva. Episcleritis in Http://www.713-8 6. Lippincott Williams & Wilkins 11... Red Eye for the Internist: When to treat. 125-126. when to refer.nih. pp. Watson.278-279 7. J. Great Britain. Jack.. 4. 1994. Episcleritis and Scleritis. Widya Medika 3. Kanski J. B. S& Awdry. Disorders of the Cornea and Sclera in Clinical Ophthalmology 5th Edition pp. Kanski J. Episkleritis dalam Oftalmologi Umum edisi 14 hal. 1999. United States of America. Available at: http://www. Widya Medika Jakarta 1995 : 136-38 . Postgraduate Medical Journal. Lippincott Williams & Wilkins 12. Cornea and External Disease in Manual of Ocular Diagnosis and Therapy 5th Edition pp. Vaugan Daniel G. 151-2. Maza MS. Pavan-Langston. 2003. Sims. 75(2).Hayreh. Riordan Paul-Eva. 2003. 5. Ilyas. pp.137-44. 2008. 2000. Jakarta. 22 1. Rhee Douglas and Pyfer Mark. British Journal Ophthalmolgy.com/oph/topic641. Disorders of the Cornea and Sclera in Clinical Ophthalmology 5th Edition pp. 2005 : 147-58.170- 171. Springer-Verlag. Great Britain. Sidarta Ilmu Penyakit Mata. Roy Hampton. Philadelphia. Disease Associations and Management. Butterworth-Heinemann.1968. Scleritis: Presentations. .96-102 8. Oftalmologi umum edisi 14 : Kornea. The Sclera.H. Foster CS. Asbury Taylor.ncbi.88(10460.